You are on page 1of 38

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI

DI SURFACTANT AND BIOENERGY RESEARCH CENTER
(SBRC) LPPM IPB BOGOR

oleh

Farhan Abdurrahman

NIS 14.60.07774

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri

Sekolah Menengah Kejuruan – SMAK

Bogor

2018

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI DI SURFACTANT
AND BIOENERGY RESEARCH CENTER (SBRC) LPPM IPB
BOGOR

(Delignifikasi Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Asam
Perasetat)

Laporan Praktik Kerja Industri sebagai Syarat Mengikuti Ujian Lisan Semester
Genap Tahun Pelajaran 2017/2018

oleh

Farhan Abdurrahman

NIS 14.60.07774

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri

Sekolah Menengah Kejuruan – SMAK

Bogor

2018

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Disetujui dan disahkan oleh:

Disetujui oleh,

Ari Imam Sutanto S.TP. M.Si. Nina Marliana

NIK 20060626 008 NIP 196109092006042005

PembimbingInstitusi PembimbingSekolah

Agtha Maria Gadi

NIK 20060626 015

PembimbingInstitusi

Disahkan oleh,

Dwikariandari,M.Si

NIP.19660726 200212 2001

KepalaSekolahSMK-SMAK Bogor

i

berbagai permasalahan telah penulis alami. Kak Miranti. Mas arif. serta seluruh karyawan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IPB Dengan segala kerendahan hati.TP. Ibu Ririn Mulyani. Tim Hubungan Kerjasama Industri SMK – SMAK Bogor.Januari 2018 ii . Bapak Ari Imam Sutanto S. Prof. KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT. 6. M. 4. Mas Feri. Mba Agatha. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya.dan Mba Agatha Maria Gadi selaku pembimbing instansi di Pusat Penelitian Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IPB.M. Bogor. Oleh karena itu.Si. Kak Devita. Ayah Andi Ariadinata. Ibu Nina Marliana selaku pembimbing dari sekolah yang telah memberikan bimbingan. oleh karena itu. Namun karena adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak terkait. Erliza Hambali selaku Kepala Pusat Penelitian Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IPB.serta kakaku Faiz dan juga adik ku tersayang Faras Muhammad selaku pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi. nasehat. 2. Mas syarif selaku kaka kelas sekaligus teman yang baik. dorongan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Pada penulisan laporan ini. kritik dan saran sangat saya harapkan dari pembaca guna memperbaiki pembuatan laporan pada waktu mendatang. Ibu Neli Muna selaku pembimbing pada divisi bioenergy 5.Si selaku Kepala sekolah SMK-SMAK Bogor 3. 8. Adapun penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan untuk mengikuti ujian lisan prakerin. saran. Ibu Dwika riandari. Bogor. Mas Ari. terselesaikannya laporan prakerin ini tentu saja bukan karena kerja keras penulis semata-mata. 7. Bogor. koreksi. pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. arahan. 9. sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Industri(prakerin) yang diberi judul “Delignifikasi Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Asam Perasetat”.

Penyusun iii .

............ 7 K......................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA............. Kepegawaian ................................................................................................................................................................ Delignifikasi Pulp ..................................................................................... 22 B................................................ 8 L................................................................................................................................ 22 A............................................................................................................... Kebijakan Mutu .......... 3 E............... 23 iv ....................................................................................................................................... Saran ............................................. i KATA PENGANTAR ........................ 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................................................................................ viii BAB I PENDAHULUAN ....................................... 5 H................... 12 2.......... 5 I....................................... 16 B.. Kedisiplinan Kerja ......................................................................... DAFTARISI LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN ...........................................................................vi DAFTAR TABEL .................................... 9 BAB III KEGIATAN DI LABORATORIUM... 12 A.... 12 1......................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN ....... 4 G................................ 4 F.................................................................................................................................................................. 6 J.................... 1 A................... Status Praktik Kerja Industri ............. Ruang Lingkup Kegiatan......................................................... METODE ANALISIS......................... 1 B.................................................................. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) .................................................................. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri........................... Simpulan.....................................................ii DAFTAR GAMBAR ........................ Tujuan Penyusunan Laporan Praktik Kerja Industri .. 3 BAB II INSTITUSI TEMPAT PRAKTIK KERJA INDUSTRI ...................................... 2 C............................................................. 2 D......... TINJAUAN PUSTAKA .......................... Materi Praktik Kerja Industri ......... 20 BAB V SIMPULAN DAN SARAN . Tinjauan Umum Perusahaan ...... Fasilitas Operasional............................................................... Struktur Organisasi SBRC ................................................ Maksud dan Tujuan Praktik Kerja Industri .....

................LAMPIRAN ...... 25 v ...................................................................................

. STRUKTUR ORGANISASI LABORATORIUM SBRC..... 12 GAMBAR 4.................................................. TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT ....... 15 GAMBAR 7.................................. 13 GAMBAR 5....................................... 16 GAMBAR 8.................................... STRUKTUR SELULOSA ............................................................. STRUKTUR HEMISELULOSA ............................................................. 9 GAMBAR 3...... 21 vi .............................................................. 15 GAMBAR 6................................ 4 GAMBAR 2............................................................... UNIT DASAR PENYUSUN LIGNIN ................. DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1 LOGO INSTITUSI .................. DEGRADASI LIGNIN .................................................................................................................................................. STRUKTUR KIMIA LIGNIN ..........

........................ DAFTAR TABEL TABEL 1..................................... HASIL ANALISIS ....................................... 13 TABEL 2... KOMPOSISI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT ............................... 20 vii ...........................

........................ 25 LAMPIRAN 2.......................... PENETAPAN KADAR HEMISELULOSA ................. 28 viii ......... DATA ANALISIS ............................................................................................ 26 LAMPIRAN 3................................. DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1.... 27 LAMPIRAN 4................................................................................................. PENETAPAN KADAR SELULOSA ....................................................................... PENETAPAN KADAR LIGNIN .....................

Alasan utama mengapa para siswa harus memiliki bekal ilmu pengetahuan dasar sesuai bidangnya agar dalam pelaksanaannya praktik kerja industri tidak ada kendala dalam penerapan ilmu pengetahuan dasar yang kemungkinan besar dalam praktik kerja industri mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak diajarkan di lembaga kejuruan terkait. Maksud dan Tujuan Praktik Kerja Industri Praktik kerja industri adalah kegiatan pendidikan pelatihan dan pembelajaran yang di laksanakan di dunia usaha atau dunia Industri dalam upaya pendekatan atau untuk meningkatkan mutu para siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kopetensi siswa sesuai bidangnya dan untuk menambah bekal untuk masa-masa mendatang guna memasuki dunia kerja yang semakin banyak serta ketat dalam persaingan seperti masa sekarang. Dalam pelaksanaannya dilakukan dengan prosedur tertentu bagai siswa yang bertujuan untuk magang di suatu tempat kerja baik dunia usaha maupun dunia industri setidaknya sudah memiliki kemampuan dasar sesuai bidang yang digelutinya atau sudah mendapatkan bekal dari guru pembimbing disekolah untuk memiliki ilmu-ilmu dasar yang akan diterapkan dalam dunia usaha atau dunia industri.BAB I PENDAHULUAN A. Dalam proses pelaksanaan prakerinini diharapkan setiap siswa mampu mengikuti kegiatan kerja serta memahami kegiatan kerja yang dilakukan didunia usaha maupun dunia industri. Tujuan diadakanya prakerin: 1. Membentukpola pikir yang membangun bagi siswa prakerin 1 . Mengimplementasikanmateri yang didapatkandisekolah 2.agar siswa tersebut dapat mencapai serta mendapatkan sesuatu yang lebih baik danberguna bagi dirinya serta agar siswa tersebut mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal apa yang telah dilakukannya selama berada di dunia usaha atau duna industri sehingga mampu membuat dirinya diperhitungkan didunia usaha atau dunia industri.

Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas 4. keterampilan dan semangatkerja yang sesuaituntutankerja 2. C. Menambahjenisketerampilan yang dimiliki oleh siswa agar dapatdikembangkan dan diimplementasikan di kehidupansehari-hari 6. Mengembangkanilmupengetahuandasar yang dimilikioleh siswasesuaibidangmasing-masing 5. . fungsi organisasi. Materi Praktik Kerja Industri Salah satu misi SMK-SMAK Bogor adalah menghasilkan sumberdaya manusia dalam bidang kimia analisis tingkat menengah yang terampil dan produktif. Menghasilkantenagakerjayangmemilikikeahlianprofesionalyaitutenagakerja yang memilikipengetahuan. Status Praktik Kerja Industri Praktik Kerja Industri merupakan kegiatan intrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas XIII sesuai dengan struktur program kurikulum yang berlaku di sekolah menengah analis kimia. baik secara teoritis maupun praktis. Pengetahuan tentang komoditi yang dianalisis. Oleh karena itu materi yang diberikan meliputi: 1. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan 5. 2 3. Struktur organisasi. disiplin kerja. Menyiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai tuntutan zaman di era teknologi informasi dan komunikasi B. 2. Menjalinkerjasama yang baikantarasekolah dan dunia industrimaupun dunia usaha Manfaat Prakerin : 1. Memperkokoh hubungan sekolah dengan dunia industri maupun dunia usaha 3. dan administrasi (terutama administrasi laboratorium) institusi dimana siswa melaksanakan Prakerin. Melatihsisiwauntukberkomunikasi/berinteraksisecaraprofesionaldiduniakerj a yang sebenarnya 4.

Tujuan Penyusunan Laporan Praktik Kerja Industri Selama melaksanakan prakerin siswa/i mencatat segala kegiatan praktiknya. Materi yang diberikan dititikberatkan pada latihan analisis kimia yang merupakan pekerjaan sehari-hari. E. Konduktometer. dan bukan penelitian seperti halnya pada program diploma atau sarjana. bertempat di Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IPB Bogor yang beralamatkan di Kampus IPB Baranangsiang. kemudian mengumpulkannya dalam bentuk laporan. Flamefotometer. 3. Pengetahuan tentang metoda analisis kimia yang dilaksanakan secara teoritis maupun praktis. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri Praktik Kerja Industri ini dimulai pada tanggal 3 Januari 2018 hingga 30 April 2018. Menambah perbendaharaan perpustakaan sekolah sehingga dapat menunjang peningkatan pengetahuan bagi siswa/i juga peminat lain. titrimetri. Siswa dapat membuat laporan kerja dan mempertanggungjawabkannya. HPLC dan jenis analisis konvensional lainnya. 3 3. Pengetahuan tentang proses pengendalian mutu (terutama bagi yang melaksanakan prakerin di perusahaan industri).Quality Control yang dilakukan di laboratorium tersebut merupakan materi utama bagi prakerin. pH-meter. 2. Perlu disampaikan bahwa sebelum melaksanakan prakerin. 5. AAS. Memantapkan siswa/i dalam pengembangan dan penerapan pelajaran dari sekolah di institusi tempat prakerin. Laporan ini merupakan dokumen dan tanggung jawab yang diemban selama selama melaksanakan tugas. Khromatografi Gas. Siswa mampu mencari alternatif lain dalam pemecahan masalah analisis kimia secara lebih rinci dan mendalam. D. Laporan tersebut disahkan oleh pembimbing dan diketahui oleh kepala sekolah sebagai syarat dapat mengikuti ujian lisan. Pengetahuan tentang instrumen analisis kimia yang digunakan secara teoritis maupun praktis. . siswa SMAKBO telah melakukan praktik gravimetri.1 Bogor. Tujuan penyusunan laporan prakerin ini dimaksudkan agar siswa/i dapat: 1. analisis instrumental meliputi Spektrofotometer. Jl Raya Pajajaran No. 4. 4.

SRDC berubah nama menjadi SBRC. proses dan teknologi. diikuti dengan pengaplikasian produk pada berbagai macam industri. isu-isu tentang krisis energi dan perubahan iklim meningkat dan dipicu menjadi pusat perhatian dari penelitian serta pengembangan yang berhubungan dengan bioenergi. akan difokuskan pada konversi biomassa dari limbah pertanian. dengan kegiatan utamanya adalah penelitian dan pengembangan surfaktan dan bioenergi. teknik kultivasi. Pada tahun 2006.BAB II INSTITUSI TEMPAT PRAKTIK KERJA INDUSTRI F. Pengembangan dan aplikasi dari surfaktan difokuskan pada Enhanced Oil Recovery (EOR). untuk biodiesel. Penelitian dan pengembangan 4 . sosialisasi dan promosi. Improved Oil Recovery (IOR). model untuk pengembangan kelembagaan pada bisnis bioenergi. diseminasi. singkong unedible untuk bioetanol. Tanaman utama yang dikembangkan adalah Jatropha curcas. mikroalga ataupun makroalga sebagai bahan baku biofuel alternatif yang ramah lingkungan. Pada penelitian bioenergi yang akan datang. Tinjauan Umum Perusahaan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi atau Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) adalah salah satu lembaga/pusat penelitian yang berada Gambar 1 logo institusi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB). Pengembangan penelitian bioenergi terdiri dari kegiatan penelitian terpadukan dari hulu hingga ke hilir. Personal Care Product dan juga formulasi untuk herbisida. Setelah diresmikan sebagai SRDC. Kegiatan penelitian di sini meliputi teknik pembenihan. Pusat penelitian ini diresmikan pada Juni 2004 dengan nama Surfactant Research and Development Center (SRDC) berfokus pada surfaktan yang berasal mahluk hidup (biobased). dan kelapa sawit untuk pembuatan surfaktan. Penelitian pengembangan surfaktan terdiri dari proses dan teknologi pengembangan penelitian.

2. Kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan meliputi studi kelayakan. . namun sebagian besar dilakukan atas permintaan dan kerjasama dengan perorangan atau institusi lainnya. G. sosial. maka dalam penjaminan mutu jasa layanan yang diberikan terutama mutu pengujian dan hasil analisis laboratorium. 5 untuk aspek bisnis dan manajemen dilakukan untuk mendukung kelayakan dan keberlanjutan dari industri biofuel hulu dan hilir. Kepegawaian Kepegawaian di Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi ini terdiri dari PNS yang berjumlah 6 orang tenaga kontrak dan tenaga honorer yang berjumlah 32 orang. dengan latar belakang pendidikan seluruh pegawai mulai dari lulusan SLTP hingga S3. dan ekonomi. Misi Surfactant and Bioenergy Research Center LPPM IPB 1. Kebijakan Mutu Penelitian dan jasa yang diberikan oleh SBRC LPPM IPB tidak semuanya dilakukan atas inisiatif sendiri. Diversifikasi pemanfaatan surfaktan pada berbagai industri. Visi Surfactant and Bioenergy Research Center LPPM IPB Visi SBRC adalah menjadi pusat penelitian surfaktan dan bioenergi terkemuka yang melibatkan multidisiplin keilmuan dan mampu memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan industri baik nasional maupun global. 3. Meningkatkan nilai tambah sumber daya alam tropis. dan penilaian berkelanjutan dari pengembangan bioenergi di Indonesia yang meliputi lingkungan. H. Revitalisasi potensi sumber daya alam berbasis pemanfaatan surfaktan dan bioenergi. rantai suplai (pasokan) dan manajemen resiko. diterapkan akreditasi untuk Laboratorium Pengujian yang sesuai dengan ISO 17025:2008. Dalam meningkatkan kepercayaan pelanggan perorangan maupun institusi lain di luar IPB sebagai pengguna jasa/layanan dari SBRC LPPM IPB.

2. Jika menemukan alat dalam keadaan rusak. atau alat lain. Pengguna laboratorium dilarang melakukan aktivitas makan. maka harus menggunakan alas kertas. 4. 7. dan cuti dituangkan dalam tata tertib. Pengguna dapat menggunakan alat-alat gelas yang ada di rak alat dengan memastikan terlebih dahulu bahwa alat tersebut akan dipakai oleh pengguna laboratorium yang lain. Pengguna laboratorium dianjurkan menggunakan baju/jas laboratorium terutama bagi yang bekerja dengan bahan-bahan berbahaya atau yang dapat merusak atau mengotori pakaian. 8. Hari kerja dimulai hari Senin hingga Jumat. ataupun merokok. 6 I. Check clock tidak dapat diwakilkan. Jam kerja dimulai pada pukul 08:00 sampai pukul 17:00. pecah. Setiap staf dan pegawai SBRC wajib mengisi daftar hadir harian (check clock) yang telah disediakan pada saat datang dan jam pulang. sistem lembur. 9. . Bagi pengguna yang bekerja dengan bahan yang dapat mengotori meja kerja dan sulit dibersihkan. pastikan terlebih dahulu bahwa alat tersebut dalam keadaan baik. minimal harus ditemani. 3. 6. yaitu: 1. 5. 12. Pengguna dapat bekerja di meja kerja dengan tetap menjaga kebersihan daerah kerjanya. minum. 11. Bagi staf yang sudah melakukan check clock. dan lain-lainlaporkan terlebih dahulu untuk mencegah adanya sanksi penggantian alat bagi pemakai. Kedisiplinan Kerja Untuk kedisiplinan kerja. Bagi pengguna yang menggunakan bahan-bahan berbahaya. 10. Segala peraturan mengenai kehadiran/jam kerja. Pengguna laboratorium dilarang mengoperasikan alat sebelum ada penjelasan cara mengoperasikannya atau harus didampingi oleh teknisi atau pengguna laboratorium yang telah terbiasa menggunakan alat tersebut. secara otomatis harus melaksanakan tugasnya. Sebelum menggunakan alat gelas. Laboratorium Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi memiliki petunjuk pelaksanaan dalam bekerja. retak. 13. tidak diperkenankan bekerja seorang diri. 14.

18. Cara pencucian alat dapat dilihat pada prosedur pencucian alat. Kegiatan pengembangan bioenergi merupakan kegiatan yang terpadukan dari upstream ke downstream. serta kegiatan sosialisasi dan promosi pada bidang bioenergi. harus dipastikan semua alat yang terhubung dengan listrik diputus untuk menghindari terjadinya arus pendek. 19. dan aplikasi dari produk surfaktan pada berbagai macam industri. Aktivitas ini meliputi penelitian pada teknik pembenihan dan penanaman untuk berbagai tanaman yang dapat digunakan sebagai penghasil bioenergi. bisnis dan manajemen. Alat-alat yang sudah kering harus segera dikembalikan ke rak peralatan yang ada. teknologi dan pemrosesan. Untuk bahan penelitian yang pengerjaannya tidak selesai dalam hari yang sama dan ditinggalkan. Kegiatan pengembangan dari surfaktan meliputi eksplorasi bahan baku. maka perendaman tidak boleh lebih dari 24 jam. teknologi dan pemrosesan surfaktan. kecuali alat yang memang masih digunakan. semua alat dirapihkan dan meja kerja dibersihkan atau dilap. Setelah selesai bekerja. maka harus diberi label dan kepemilikan. atau harus segera dicuci keesokan harinya. Sebelum meninggalkan laboratorium. Demikian diharapkan petunjuk pelaksanaan budaya kerja ini dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab J. 16. Pada Divisi Bioenergi berbagai macam kegiatan penelitian yang dilakukan antara lain: . Alat-alat yang telah selesai digunakan harus segera dicuci dan ditempatkan dalam tempat pengeringan. Kegiatan pengembangan dari surfaktan dan bioenergi dilakukan dengan optimalisasi strategi pemanfaatan sumber daya hayati untuk menghasilkan produk yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. 7 15. Ruang Lingkup Kegiatan Riset SBRC LPPM IPB difokuskan pada riset surfaktan dan bioenergi sesuai dengan roadmap yang telah disusun. Bagi alat yang memerlukan waktu perendaman terlebih dahulu. agar tempat pengeringan dapat digunakan untuk alat lain yang baru dicuci. 17.

Reaktor Biodiesel . Laboratorium Polimer 3. Laboratorium Uji Core Flood 4. Rantai suplai. Laboratorium Bioetanol 9. Laboratorium Uji Filtrasi 6. 5. zat pembersih. 2. dan produk perawatan tubuh. Biodiesel. isolasi. Pemrosesan pengembangan dan aplikasinya untuk industri. Pemrosesan pengembangan surfaktan dan aplikasinya untuk EOR (Enhanced Oil Recovery). yang meliputi: a. 8 1. manajemen dan keberlanjutan penelitian 4. Pengumpulan. Pemrosesan b. bioetanol. Pemrosesan pengembangan dan aplikasinya untuk herbisida. Laboratorium Bioproses 8. dan biomassa. Sistem dan teknik pengambilan hasil panen 2. Kultivasi mikroalga dan makroalga Pada divisi Surfaktan berbagai macam kegiatan penelitian yang dilakukan antara lain: 1. Fasilitas Operasional Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IPB memiliki fasilitas yang permanen berupa: 1. Pemanfaatan hasil samping dan produk turunannya 3. Pengembangan tanaman bioenergi. Kultivasi c. yang meliputi : a. 4. Pembenihan b. Laboratorium Preparasi Core 7. Laboratorium Phase Behavior 5. 3. K. Laboratorium pengujian IFT dan Formulasi 2. yang meliputi: a. dan karakterisasi dari mikroalga dan makroalga b. Pemrosesan pengembangan dan aplikasinya sebagai Dispersant agent. Pemrosesan pengembangan dan aplikasinya untuk produk perawatan tubuh (Personal Care Products). Pengembangan mikroalga dan makroalga. screening.

pH meter. Musholla 20. Fasilitas Injeksi CO2 untuk Kultivasi Mikroalga 13. 9 10. Ruang Rapat 19. Green House 16. Ruang Timbang 18. Fasilitas Kultivasi Makroalga 14. Kromatografi Gas. Laboratorium Kultur Jaringan 15. Struktur Organisasi SBRC Organisasi merupakan alat bagi manajemen agar tujuan perusahaan semakin tercapai. StrukturOrganisasiLaboratorium SBRC . Viskometer. Kolam Kultivasi Mikroalga 12. Densitymeter. adapun struktur organisasi di Laboratorium Uji Surfaktan dan Bioenergi adalah sebagai berikut: Kepala Laboratorium Manager Mutu Manager Internal Auditor Teknis (MT) (MM) Deputi MM Deputi MT Staff Administrasi Staff Keuangan Supervisor Supervisor Bioenergi Surfaktan Teknisi/Analis Teknisi/Analis Gambar 2. Laboratorium Instrumen (Spinning Drop Tensionmeter. Dapur L. Laboratorium Kultivasi dan Isolasi Mikroalga 11. Spektrofotometer) 17.

persediaan material laboratorium. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. anggaran operasional ataupun investasi. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. 5. Deputi Manager Mutu Membantu melakukan pengawasan terhadap kegiatan sistem manajemen mutu laboratorium secara efektif dan efisien. . persediaan material laboratorium. Manager Teknis Mengelola kegiatan teknis di laboratorium secara efektif dan efisien. 2. anggaran operasional ataupun investasi. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. 10 1. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. 4. 6. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. persediaan material laboratorium. anggaran operasional ataupun investasi. anggaran operasional ataupun investasi. persediaan material laboratorium. anggaran operasional ataupun investasi. persediaan material laboratorium. anggaran operasional ataupun investasi. persediaan material laboratorium. Kepala Laboratorium Mengelola kegiatan laboratorium secara efektif dan efisien meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. Staff Administrasi Melakukan pengawasan dam memberikan pelayanan terhadap kegiatan dokumentasi dan pengarsipan secara efektif dan efisien. Deputi Manager Teknis Membantu melakukan pengawasan terhadap kegiatan teknis secara efektif dan efisien. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. Manager Mutu Mengelola kegiatan sistem manajemen mutu laboratorium secara efektif dan efisien. 3. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium.

anggaran operasional ataupun investasi. 9. Teknisi / Analis Melakukan pengujian terhadap sampel uji. 8. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. meliputi pengelolaan terhadap aspek sumber daya manusia. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. dan melaksanakan segala kegiatan analisis maupun teknis dilakukan di laboratorium. persediaan material laboratorium. Supervisor Laboratorium Bioenergi dan Surfaktan Melakukan koordinasi dan pengawasan kegiatan teknis pengujian di laboratorium secara efektif dan efisien. 11 7. Staff Keuangan Melakukan pengawasan dan memberikan pelayanan terhadap kegiatan keuangan secara efektif dan efisien. pemeliharaan sarana dan fasilitas kerja serta sistem manajemen mutu di laboratorium. persediaan material laboratorium. anggaran operasional ataupun investasi. .

. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu jenis limbah padat yang paling banyak dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit. Dengan produksi puncak kelapa sawit per hektar sebesar 20-24 ton tandan buah segar per tahun berarti akan menghasilkan 2.05 ton (5%).23%.5-3. dari satu ton tandan buah segar (TBS) yang diolah akan dihasilkan minyak sawit kasar (CPO) sebanyak 0.18% dari luas areal kelapa sawit dunia.21 ton (21%) serta minyak inti sawit (PKO) sebanyak 0. TKKS termasuk biomassa lignoselulosa. Menurut Darnoko (1992). hemiselulosa 26. 13.76%. yang kandungan utamanya adalah selulosa 38. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Gambar 3. Tandan kosong kelapa sawit yang merupakan 23 persen dari tandan buah segar. Sisanya merupakan limbah dalam bentuk tandan buah kosong. 2012).69% dan lignin 22. 12 BAB III KEGIATAN DI LABORATORIUM A.5% dan 5.26% dari total produksi kelapa sawit dunia (Fauzi. serat dan cangkang biji yang jumlahnya masing-masing sekitar 23%. yaitu sebesar 34. Pencapaian produksi rata-rata Indonesia tahun 2004-2008 sebesar 40. Tandan Kosong Kelapa Sawit Indonesia adalah negara dengan luas areal kelapa sawit terbesar di dunia. mengandung bahan lignoselulosa sebesar 55-60 persen berat kering.5% dari tandan buah segar.3 ton bahan lignoselulosa. TINJAUAN PUSTAKA 1.

69 5 Kadar Abu 6. Struktur kimia selulosa terdiri dari unsur C.47 Tabel 1. Struktur Selulosa . 13 Kandungan selulosa yang cukup tinggi pada TKKS dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas. 1997). No. .76 3 Holoselulosa 65.000 nm. Selulosa memiliki kekuatan tarik yang tinggi dan tidak larut dalam kebanyakan pelarut.45 4 Pentosan 26. Komposisi dari TKKS dapat dilihat pada Tabel 1. pektin. Hal ini berkaitan dengan struktur serat dan kuatnya ikatan hydrogen (Pikukuh. 2011). dan protein membentuk struktur jaringan yang memperkuat dinding sel tanaman (Winarno. Parameter Kandungan(%) 1 Lignin 22.000 dan panjang molekulnya lebih kurang 5.23 2 Selulosa 38. O. Gambar 4.59 6 Zat Ekstraktif 6. n merupakan derajat polimerisasi yang jumlahnya antara 1.200-10. Komposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit Kandungan Utama Tandan Kosong Kelapa Sawit a) Selulosa Selulosa merupakan serat-serat panjang yang bersama-sama hemiselulosa. H yang membentuk rumus molekul (C6H10O5)n.

b) Hemiselulosa Hemiselulosa merupakan senyawa prekursor (pembentuk) selulosa. menurut Simanjuntak (1994) degradasi terhadap selulosa pada saat proses pulping diusahakan seminimal mungkin. hemiselulosa adalah semua polisakarida yang dapat diekstraksi adalah larutan basa (alkalis). alkohol benzena. dan pentosa-pentosa seperti D-xilosa dan L- arabinosa (Anonim. 2008). karena hemiselulosa bertindak sebagai perekat dalam setiap serat tunggal. D-frukosa. dan cupri etilen diamin. Hemiselulosa merupakan polisakarida yang mengisi ruang antara serat-serat selulosa dalam dinding sel tumbuhan. asam fosfat 85%. Selulosa tidak larut dalam air dingin atau panas. D- galaktosa. Tingginya kadar selulosa dalam bahan akan menguntungkan dalam pembuatan pulp antara lain akan membentuk serat yang kuat. relatif tahan dengan beberapa jenis bahan kimia dalam pemisahan dan pemurniannya (Clark. 14 Sifat-sifat selulosa terhadap berbagai pelarut berbeda-beda. Selulosa hampir tidak larut dalam larutan asam mineral atau alkali encer. eter dan lain-lain. ditambah dengan berbagai bentuk monosakarida yang terikat pada rantai. Kandungan hemiselulosa yang tinggi memberikan kontribusi pada ikatan antar serat. Monomer penyusun hemiselulosa biasanya adalah rantai D- glukosa. . tidak larut dalam air dan pelarut organik netral. . baik sebagai cabang atau mata rantai. cupri amonium hidroksida. bahan baku yang mengandung kadar selulosa yang tinggi lebih disukai sebab dapat menghasilkan rendemen yang tinggi serta memiliki fungsi membentuk jalinan antar serat dengan ikatan H antara gugus hidroksil pada selulosa. Hemiselulosa bersifat non-kristalin dan tidak bersifat serat. asam sulfat 72- 75%. seperti D-mannosa. Secara biokimiawi. Asam asetat yang bereaksi dengan selulosa akan melarutkan gamma-selulosa. pelarut organik seperti benzena. namun larut dalam asam klorida 45%. 1960). daya serap air yang tinggi. secara alami berwarna putih. mudah mengembang karena itu hemiselulosa sangat berpengaruh terhadap bentuknya jalinan antara serat pada saat pembentukan lembaran. Oleh sebab itu. 1985). lebih mudah larut dalam pelarut alkali dan lebih mudah dihidrolisis dengan asam (Casey. Pada pengolahan pulp dan kertas.

Hemiselulosa juga dapat mempengaruhi tingkat keputihan kertas. Gambar 6. Rendahnya kadar hemiselulosa menjadikan penggilingan membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak serta menurunkan kecerahan lembaran. Namun demikian. atau pengerutan pada permukaan dan opasitas yang rendah. dapat melunak pada suhu tinggi (120°C). 2005). dan ketahanan lipat kertas. . Struktur Kimia Lignin . Lignin bersifat termoplastik. Lignin merupakan bahan adesif yang sangat efektif dan ekonomis. c) Lignin Lignin merupakan senyawa turunan alkohol kompleks yang menyebabkan dinding sel tanaman menjadi keras. ketahanan retak. 15 Gambar 5. yang berperan sebagai bahan pengikat. Struktur Hemiselulosa Libby (1962) menjelaskan hemiselulosa memberikan konstribusi yang besar terhadap ketahanan tarik. serta mencegah logam untuk bereaksi dengan komponen lain dan menjadikannya tidak larut dalam air (Indrainy. kadar hemiselulosa yang terlampau tinggi menjadikan hidratasi terlalu cepat sehingga menghasilkan kertas yang memiliki kekuatan rendah. Lignin juga dikenal sebagai bahan baku yang mampu mengikat ion logam.

Hal ini dikarenakan dalam proses pulping keberadaan lignin tidak dapat sepenuhnya dihilangkan sehingga pulp yang dihasilkan masih terdapat sisa lignin yang berwarna coklat atau gelap dimana pada masing-masing metode pulping berbeda derajatnya. berwarna kuning dan memiliki mutu yang rendah. Hal ini disebabkan terhambatnya aktivitas selulosa dan hemiselulosa dalam pembentukan ikatan antar serat (Casey. Tujuan dari proses delignifikasi yaitu untuk menghilangkan lignin dari bahan berselulosa agar pulp yang dihasilkan lebih cerah sehingga meningkatkan mutu pulp yang dihasilkan. 2. Keberadaan lignin menyebabkan pulp menjadi kaku. 1980). Selain itu keberadaan lignin juga akan mempertinggi konsumsi bahan kimia pemasak yang digunakan sehingga kurang efisien dan menyulitkan dalam proses penggilingan dan memberikan sifat kaku pada pulp. Unit Dasar Penyusun Lignin pemasakan pulp yang masih menyisakan lignin memberi pengaruh yang kurang baik terhadap warna maupun sifat fisik pulp. Gambar 7. . koniferil alkohol. . Delignifikasi Pulp Proses delignifikasi ialah penghilangan lignin dan zat-zat warna untuk memperoleh pulp putih. dan sinapil alkohol. Oleh karena itu hilangnya lignin dalam proses pembuatan pulp sangat diharapkan karena menyebabkan mutu pulp menjadi rendah terutama terhadap tingkat kecerahan dari pulp yang dihasilkan. 16 Menurut Fengel dan Wegener (1995) lignin dibangun oleh tiga komponen utama yaitu p-kumarilalkohol. yaitu mereaksikan pulp yang belum diputihkan dengan zat kimia sebagai zat pemutih. Penghilangan lignin dan zat warna ini biasanya dilakukan dengan cara oksidasi.

Oksidasi dengan senyawa yang mengandung khlor bisa membentuk campuran yang berbahaya seperti khloroform. hipoklorit. dan lain-lain) dan alkali (biasanya NaOH). Reaksi yang terjadi pada H2O2 dalam media asam asetat sebagai berikut : H2O2 + CH3COOH CH3COOOH + H2O Hidrogen peroksida (H2O2) dalam media asam asetat termasuk dalam peroksida organik dan merupakan oksidator kuat. H2O2 dalam media asam asetat mempunyai bilangan oksidasi yang tinggi dan kuat pada deretan asam peroksikarbon dan juga asam asetat. zat pemutih oksidator bisa digolongkan menjadi dua golongan yaitu yang mengandung khlor dan yang tidak mengandung khlor. Ditinjau dari dampak terhadap lingkungan. . 17 Selain lignin terdapat juga zat non selulosa lain seperti zat ekstraktif. Zat pemutih yang bersifat oksidator pada umumnya digunakan untuk serat-serat selulosa dan beberapa di antaranya bisa digunakan untuk serat binatang dan serat sintetis. waktu reaksi. Salah satu senyawa yang ramah lingkungan sebagai bahan pemutih pada proses delignifikasi pulp yaitu H2O2 dalam media asam asetat(Asam perasetat). Hasil halogenasi ini banyak mengandung racun dan sulit terdegradasi di lingkungan berair. Bila dibandingkan dengan oksidasi dari hidrogen peroksida. terutama di industri tekstil dan kertas. Dengan digunakannya H2O2 dalam media asam asetat diharapkan akan meningkatkan tingkat keputihan dan kualitas pulp. haloacetic acid haloacetonitriles dan chloronitrometan. Saat ini proses delignifikasi dengan menggunakan senyawa yang mengandung khlor paling banyak digunakan. peroksida. tanin dan resin yang melekat kuat pada selulosa. suhu pemutihan dan pH. Asam Perasetat Proses delignifikasi menggunakan senyawa yang ramah lingkungan untuk menggantikan proses pemutihan menggunakan klor telah banyak dilakukan. yaitu oksidator kuat (klor. Faktor – faktor yang mempengaruhi proses delignifikasi pulp diantaranya konsentrasi bahan pemutih yang digunakan. . Batubara (2006) menjelaskan bahwa pada proses delignifikasi terdapat 2 macam bahan kimia yang digunakan.

Pulp yang sudah didelignifikasi dengan NaOH ditimbangsebanyak10 gram dimasukkankedalamlabu leher tiga dan ditambahkan 150mlasamperasetatsesuaikonsentrasiperlakuan.menurunkan kristalinitas. delignifikasi juga dapat menggunakan basa seperti NaOH. kemudian hidrolisis hemiselulosa dengan menggunakan asam kuat tanpa pemanasan. B. NaOH merupakan bahan kimia yang dapat digunakan untuk mendelignifikasi bahan berlignoselulosa hal inidisebabkan karena NaOH dapat meningkatkan luas permukaan bahan. . Bagian terakhir yang tidak larut adalah lignin. dilanjutkan dengan hidrolisis menggunakan asam encer pada suhu tinggi. 18 NaOH Selain menggunakan oksidator kuat.5%. memutuskan ikatan antar lignin dan karbohidrat serta melonggarkan struktur lignin. Proses delignifikasi pulp dilakukandenganpemanasan pada suhu100oC di dalamwaterbathselama 4 jam kemudiandilakukanpencuciandengan air hingga netral.Lalu pulp hasil delignifikasi dengan asam perasetat dan pulp hasil delignifikasi dengan NaOH dianalisis kadar lignoselulosanya. Prosedur Analisis kadar lignoselulosa dengan Metode Chesson-Datta (Datta 1981) Metode analisis Chesson merupakan analisis komposisi kimia dari lignoselulosa dilakukan mengikuti referensi dari Datta. mengilangkan kandungan ekstraktif (dalam metode ini disebut Hot Water Soluble (HWS)). Metode ini adalah analisis gravimetri setiap komponen setelah dihidrolisis atau dilarutkan.menurunkan derajat polimerisasi. METODE ANALISIS Penelitian ini diawali dengan pembuatan pulp dari tandan kosong kelapa sawit yang sudah didelignifikasi menggunakan alkali(NaOH)yang kemudiandidelignifikasi kembalimenggunakanasam perasetat dengan konsentrasi 2. Tahapan langkahnya adalah: pertama. Pulp basahterdelignifikasihasilpencuciankemudiandikeringkan menggunakan oven dengan suhu 60oC selama 1 hari. tahun 1981. . Kandungan lignin dikoreksi dengan kandungan abu.

Residu dikeringkan hingga beratnya konstan dan ditimbang (berat c). satu gram TKKS yang sudah di haluskan (berat a) ditambahkan 150 ml H2O dan refluks pada suhu 100 °C dengan waterbath selama 2 jam. 19 Metode analisa Chesson adalah. Hemiselulosa. Cara mengetahui kadar Selulosa. Kemudian diencerkan menjadi 1N dan direfluks pada suhu 100 °C selama 2 jam pada pendingin balik kemudian residu disaring dengan kertas saring. Residu kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 60 °C sampai beratnya konstan dan ditimbang (berat b). Selanjutnya residu diabukan dan ditimbang (berat e). Residu kering ditambahkan 10 ml H2SO4 72% dan dibiarkan pada suhu kamar selama 4 jam. . Kemudian residu ditambahkan 150 H2SO4 1 N dan direfluks selama 2 jam pada suhu 100 °C. dengan menggunakan persamaan berikut. dan Lignin. Kemudian hasilnya disaring dengan kain monel. [b-c] Kadar Hemiselulosa = X 100% a [c-d] Kadar Selulosa = X 100% a [d-e] Kadar Lignin = X 100% a . Setelah itu residu dipanaskan dengan oven pada suhu 60°C sampai beratnya konstan dan ditimbang (berat d).

58% Selulosa 69. pengerutan pada permukaan dan opasitas yang rendah.73% menjadi 9. 20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis delignifikasi terhadap biomassa tkks didapatkan hasil sebagai berikut. Fengel dan Wegener (1995) menyatakan bahwa hemiselulosa mudah didegradasi menjadi unit-unit yang lebih sederhana dan mudah larut air karena berbentuk non kristal.58%. .65% Lignin 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar hemiselulosasetelah dilakukan delignifikasi menggunakan asam perasetat yaitu dari 20.16 83.29 1. karena itu degradasi selulosa dalam proses pembuatan maupun delignifikasi pulp harus ditekan seminimal mungkin. Hasil Analisis Hemiselulosa Hemiselulosa merupakan komponen yang berpengaruh dalam proses pulping. Menurut Sjostrom (1995) hemiselulosa memiliki ikatan-ikatan glikosida yang sangat sensitif terhadap hidrolisis asam dan memiliki derajat polimerisasi yang lebih rendah dibandingkan selulosa. . Pulp Hasil Treatment Pulp Hasil Treatment Parameter Dengan NaOH Dengan Asam Perasetat Hemiselulosa 20. 1962). Hemiselulosa yang terlalu tinggi menyebabkan kertas memiliki kekuatan rendah.16% Tabel 2.73% 9. Sululosa Selulosa merupakan salah satu komponen penting pada tumbuhan yang bermanfaat sebagai bahan baku pembuatan pulp. Sebaliknya hemiselulosa yang rendah menyebabkan waktu dan energi delignifikasi yang lebih banyak serta menurunkan kecerahan kertas (Libby. Hal ini diduga karena H2O2 dalam media asam asetat mampu memecah ikatan glikosida pada hemiselulosa.

29% menjadi 1.65%. Achmadi (1990) menyatakan bahwa pada suasana asam lignin cendrung melakukan kondensasi. Hasil penilitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan kadar selulosa setelah didelignifikasi menggunakan asam perasetat yaitu dari 69. dan dalam keadaan sangat asam lignin yang terkondensasi ini mengendap. pembukaan cincin oksidatif. Hasil penilitian menunjukan bahwa terjadi penurunan kadar lignin setelah didelignifikasi dengan menggunakan asam perasetat yaitu dari 2.16% menjadi 83. pemecahan ikatan β- arileter dan epoksidasi struktur olefinik. Lignin yang mengendap ini akhirnya larut dalam air pada proses pencucian pulp. Degradasi Lignin Lignin Nilai lignin yang diharapkan pada delignifikasi pulp dari Tandan Kosong Kelapa Sawit menggunakan asam peraasetat yaitu pulp dengan kandungan lignin yang rendah. . dimetilisasi oksidatif. penggantian rantai samping. 21 Menurut Casey (1980) dalam proses delignifikasi perlu diperhatikan tingkat delignifikasi yang dilakukan karena dapat terjadi reaksi oksidasi yang menyebabkan kerusakan selulosa. Gambar 8. . Selain itu. sehingga terjadi pengurangan lignin pada proses delignifikasi. .Hal ini dikarenakan sifat H2O2 dalam media asam asetat yang selektif dalam mendegradasi lignin dari dalam bahan. hal ini disebabkan karena asam perasetat dapat mendegradasi lignin sehingga semakin banyak selulosa yang terlepas dari lignin yang melindunginya.12% . Peristiwa ini menyebabkan bobot molekul lignin bertambah. Sebablignin dapat memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap warna dan sifat fisik pulp. Fengel dan Wegener (1995) menyatakan terdapat beberapa jenis reaksi utama lignin dengan asam perasetat yaitu adisi gugus hidroksil pada cincin.

B. Simpulan Berdasarkan hasil analisis delignifikasi terhadap biomassa tandan kosong kelapa sawit dengan menggunakan asam perasetat.Hal ini dibuktikan dengan turunnya konsentrasi lignin dari 2.58%.29% menjadi 1.dapat disimpulkan bahwa asam perasetat dapat digunakan sebagai bahan pendelignifikasi.12%.73% menjadi 9. Saran Melihat hal tersebut penyusun menyarankan untuk perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk mencari kondisi optimal dari delignifikasi menggunakan asam perasetat ini. 22 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. . . Yang diikuti dengan meningkatnya konsentrasi selulosa dari 69% menjadi 82% dan turunnya konsentrasi hemiselulosa dari 20. Penyusun berharap semoga kerjasama antara Surfactant and Bioenergy Research Center dan SMK-SMAK Bogor tetap berjalan dengan baik.

120 hlm. Casey.id/supat/2011/03/14/hello-world/. 1992. Institut pertanian Bogor.E. Penebar Swadaya. J. Bahan Pengajaran Universitas Ilmu Hayati. 1980. (Skripsi). Berita Pen.ub. Gajah Mada University Press. D. Sugiharto dan S. Bogor. Perkeb. Potensi Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa Kelapa Sawit Melalui Biokonversi. P. A. 729 hlm. Graw-Hill Book Company. New York.ac. Mc. Pulping and paper science technology. Inc. Penelitian Kelapa Sawit. Kimia Kayu. Kajian pulping semimekanis dan pembuatan handmade paper berbahan dasar pelepah Ppsang. Wegener. 1962. 2012. dan G. Jakarta. J. 3(1): 75 – 87. Y. Diakses 20 April 2018 Darnoko. Indrainy. 2011. 1985. Sugesty. Pikukuh. 2nd edition. Yogyakarta. 2 : 85-95. Clark. J. Selulosa. Interscience Publisher Inc. Reaksi- reaksi. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology and Paper Chemistry and Chemical Technology VI : Pulping and Bleaching. M. Pulp technology and treatment for paper.P. Pembuatan pulp dari tandan kosong sawit dengan penambahan surfaktan. San Fransisco. 56 hlm Libby. Ultrastruktur. Darnoko. 1995. P Guritno. Diakses pada 20 April 2018 . 1990. 23 DAFTAR PUSTAKA Achmadi. Kayu : Kimia. 1995. Komponen yang Paling Banyak ditemukan di Alam. C. 2005. Fengel. New York. Fauzi. http://blog. Miller Freeman Publication inc.D. Institut Pertanian Bogor. Diterjemahkan oleh Hardjonosastro Hamidjojo. Kelapa Sawit. Bogor. 229 hlm.

Mempelajari pengaruh komposisi larutan pemasak dan suhu pemasakan pada pengolahan pulp acetosolv Kayu Eucalyptus Deglupta.G. (Skripsi) Institut Pertanian Bogor. DasarDasar dan Penggunaan. 253 hlm.M. Bogor. Kimia Kayu . Gramedia Pustak Utama. F. Sjostrom. Yogyakarta. Kimia Pangan dan Gizi. 1997. hlm 68-78 dan 182. E. H. Diterjemah oleh Hardjonosastro Hamidjojo. . 69 hlm. Winarno. 24 Simanjuntak. 1981. Jakarta. Gajah Mada University Press. 1994. PT.

7682 1.0786 28. Data Analisis Pulp Hasil Pulp Hasil Delignifikasi Keterangan Delignifikasi dengan dengan Asam NaOH (g) Perasetat (g) 1.5861 Bobot Cawan + Sampel Pemanasan 1 22.0141 0.0262 Bobot Cawan Porselin Kosong 22.0806 28.0208 Bobot Sampel Kering(d) 0.068 Bobot Kain Monel Kosong 0.868 1.0388 1.9219 Bobot Sampel + Kain Monel Kering 1.8854 0.0017 .0020 0.5878 Bobot Abu(e) 0.9946 Bobot Sampel + Kain Monel Kering 1.9225 Bobot Sampel + Kain Monel Kering 1.9863 Bobot Kain Monel Kosong 0.5878 Bobot Cawan + Sampel Pemanasan 2 22.0247 0.9826 0.0387 1. 25 LAMPIRAN Lampiran 1.8852 0.9088 Bobot Sampel Kering(b) 0.7649 Bobot Kertas Saring Kosong 1.0807 28.883 0.6868 Bobot Sampel Kering(c) 0.

9863 gram Bobot Sampel setelah direfluk dengan H2SO4 1 N (c) = 0.7649 gram [0.0387 . Penetapan Kadar Hemiselulosa [b − c] % 𝐻𝑒𝑚𝑖𝑠𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% 𝑎 1.7649] % 𝐻𝑒𝑚𝑖𝑠𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% = 20. 26 Lampiran 2.0387 gram Bobot Sampel setelah setelah direfluk dengan air panas(b) = 0. Pulp Hasil delignifikasi dengan Asam Perasetat Bobot Sampel(a) = 1.0680 2.8830] % 𝐻𝑒𝑚𝑖𝑠𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% = 9.9826 gram Bobot Sampel setelah direfluk dengan H2SO4 1 N (c) = 0.8830 gram [0.9863 − 0.73% 1. Pulp Hasil delignifikasi dengan NaOH Bobot Sampel(a) = 1.59% 1.0680 gram Bobot Sampel setelah setelah direfluk dengan air panas(b) = 0.9826 − 0.

Pulp Hasil delignifikasi dengan NaOH Bobot Sampel(a) = 1.8830 gram Bobot Sampel setelah ditambahkan H2SO4 72% (d) = 0. Penetapan Kadar Selulosa [c − d] % 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% 𝑎 1.7649 gram Bobot Sampel setelah ditambahkan H2SO4 72% (d) = 0. Pulp Hasil delignifikasi dengan Asam Perasetat Bobot Sampel(a) = 1.7649 − 0.0262] % 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% = 69.0387 . 27 Lampiran 3.65% 1.0262 gram [0.0387 gram Bobot Sampel setelah direfluk dengan H2SO4 1 N (c) = 0.8830 − 0.0680 2.0141 gram [0.0680 gram Bobot Sampel setelah direfluk dengan H2SO4 1 N (c) = 0.0141] % 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑙𝑜𝑠𝑎 = 𝑥 100% = 83.17% 1.

0017] % 𝐿𝑖𝑔𝑛𝑖𝑛 = 𝑥 100% = 2. Pulp Hasil delignifikasi dengan Asam Perasetat Bobot Sampel(a) = 1.0680 gram Bobot Sampel setelah ditambahkan H2SO4 72% (d) = 0. Penetapan Kadar Lignin [d − e] % 𝐿𝑖𝑔𝑛𝑖𝑛 = 𝑥 100% 𝑎 1.0680 2.0141 gram Bobot Abu (e) = 0.29% 1. Pulp Hasil delignifikasi dengan NaOH Bobot Sampel(a) = 1.0020 gram [0.0262 − 0.0141 − 0.0017 gram [0.16% 1.0387 .0262 gram Bobot Abu (e) = 0. 28 Lampiran 4.0020] % 𝐿𝑖𝑔𝑛𝑖𝑛 = 𝑥 100% = 1.0387 gram Bobot Sampel setelah ditambahkan H2SO4 72% (d) = 0.