You are on page 1of 17

MAKALAH

PENYAKIT KULIT YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR
Guna memenuhi nilai tugas mata kuliah Praktek FT Komprehensif
Integument

Dosen Pengampu:

Muhammad Wahyu Hidayat, S.Fis

Disusun oleh:

1. Asri Primastuti (15.0012.T)
2. Dian Ardiningrum (15.0017.T)
3. Dinyoga Bima Waskito (15.0019.T)
4. Dwi Dyan Ramadhanti (15.0020.T)
5. Luthfi Fitriana Herman (15.0022.T)
6. Farochatun Nisa (15.0024.T)
7. M.Yoga Kurniawan (15.0029.T)

PRODI S1 FISIOTERAPI

STIKES MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat limpahan rahmat,
taufiq dan hidyah-Nya jualah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“PENYAKIT KULIT YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR” ini dapat terselesaikan.
Dalam penulisan makalah ini kami tidak henti-hentinya mengucapkan banyak terima kasih
kepada pihak-pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulisan makalah ini bertujuan memberikan informasi tentang penyakit kulit yang
disebabkan oleh jamur dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktek FT Komprehensif
Integument . Kami sadar sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan sebagaimana pepatah “Tak ada gading yang tak retak”. Oleh karena itu kami
membuka tangan selebar-lebarnya guna menerima saran dan kritik membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami mengharapkan agar makalah ini dapat berguna
bagi para mahasiswa khususnya di jurusan Fisioterapi

Pekalongan, 25 April 2018

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Jamur memang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sedemikian
eratnya sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Jenis fungi-fungian ini bisa hidup dan
tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri.
Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi manusia. Penyakit tersebut
antara lain mikosis yang menyerang langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat
mengonsumsi toksin dari jamur yang ada dalam produk makanan, dan misetismus yang
disebabkan oleh konsumsi jamur beracun.
Pada manusia jamur hidup pada lapisan tanduk. Jamur itu kemudian melepaskan
toksin yang bisa menimbulkan peradangan dan iritasi berwarna merah dan gatal.
Infeksinya bisa berupa bercak-bercak warna putih, merah, atau hitam di kulit dengan
bentuk simetris. Ada pula infeksi yang berbentuk lapisan-lapisan sisik pada kulit. Itu
tergantung pada jenis jamur yang menyerang.
Menurut Jimmy Sutomo dari perusahaan Janssen-Cilag, sebagai negara tropis
Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya jamur. Karena itu, penyakit-penyakit akibat
jamur sering kali menjangkiti masyarakat. ''Kita lihat, banyak masyarakat tak menyadari
bahwa dirinya terinfeksi oleh jamur. Bahkan, jamur bisa mengenai manusia dari kepala
hingga ujung kaki, dari bayi hingga orang dewasa dan orang lanjut usia,'' ujar Jimmy.
Janssen-Cilag merupakan perusahaan farmasi yang memimpin pasaran dengan obat
antijamur yang mengandung miconazole nitrate dua persen. Jimmy menjelaskan, banyak
orang meremehkan penyakit karena jamur, seperti panu atau kurap. Padahal, penyakit ini
bisa menular lewat persentuhan kulit, atau juga dari pakaian yang terkontaminasi spora
jamur. Banyak anggapan, katanya, penyakit panu atau kurap sekadar masalah kosmetik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian jamur pada kulit ?
2. Apa pengertian penyakit jamur kulit pada manusia ?
3. Apa penyebab dari jamur kulit ?
4. Apa saja penyakit yang disebabkan oleh jamur ?
5. Bagaimana pembahasan mengenai panu/pitiriasis versikolor ?
6. Bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada penyakit yang disebabkan oleh jamur ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian jamur pada kulit
2. Untuk mengetahui pengertian penyakit jamur kulit pada manusia
3. Untuk mengetahui penyebab dari jamur kulit
4. Untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh jamur
5. Untuk mengetahui pembahasan mengenai panu/pitiriasis versikolor
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada penyakit yang disebabkan oleh
jamur
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Jamur pada Kulit
Jamur kulit merupakan istilah yang sering digunakan untuk infeksi jamur pada kulit.
Dalam keadaan normal, ada jamur tertentu yang ditemukan di kulit manusia. Namun jika
jumlahnya berlebihan, terdapat keretakan kulit, atau bila daya tahan tubuh yang lemah,
jamur dapat menyebabkan infeksi.

2.2 Penyakit Jamur Kulit Pada Manusia
Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia disebut mikosis, yaitu mikosis
superficial dan mikosis sistemik. Mikosis superficial merupakan mikosis yang menyerang
kulit, kuku, dan rambut terutama disebabkan oleh genera jamur, yaitu orichophyton,
licrosporum, dan epidermophyton, sedangkan mikosis sistemik merupakan mikosis yang
menyerang alat-alat dalam seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa
mulut, usus dan vagina.

2.3 Penyebab Jamur Kulit
Ada berbagai jenis jamur yang dapat menginfeksi manusia dan memicu jamur kulit.
Secara umum, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Golongan dermatofita, seperti spesies Tricophyton, Microsporum, dan
Epidermophyton
2. Golongan non dermatofita, misalnya Candida
Golongan dermatofita dapat menimbulkan infeksi kulit dari kulit kepala hingga kulit
kaki dan kuku. Sementara itu, spesies Candida lebih sering menginfeksi daerah
lipatan kulit seperti lipat paha atau lipat payudara.
Tidak semua orang rentan mengalami infeksi jamur kulit. Kondisi berikut
menyebabkan seseorang lebih rentan mengalaminya:
- Tinggal di daerah dengan iklim lembap, seperti di Indonesia
- Mudah berkeringat
- Mengenakan pakaian ketat yang tidak mudah menyerap keringat
- Adanya gangguan daya tahan tubuh, misalnya pada penderita HIV atau penderita
diabetes yang gula darahnya tidak terkontrol
- Orang serumah mengalami infeksi jamur kulit
2.4 Penyakit yang disebabkan oleh Jamur
1. Tinea capitis

Gambaran tinea capitis

Tinea capitis merupakan infeksi jamur yang umumnya menyerang bagian kulit kepala
serta rambut. Tinea capitis disebabkan oleh adanya serangan jamur Mycrosporum
serta Trichophyton. Gejala dari tinea capitis, meliputi kulit kepala terasa gatal, rambut
tampak kusam serta mudah patah. Penyakit ini ditularkan melalui pemakaian sisir
serta gunting rambut. Infeksi yang berat dapat menyebabkan edematous serta
bernanah.

2. Maduromycosis

Maduromycosis dikenal dengan nama penyakit kaki atlet, karena penyakit ini
umumnya terjadi pada bagian kaki seorang atlet atau olahragawan yang sering dalam
keadaan lembab. Maduromycosis disebabkan oleh jamur Allescheris boydii,
Cephalosporium falciforme, Madurella mycetomi serta Madurella grisea. Gejalanya
akan timbul rasa gatal yang panas, kulit mengelupas, mudah lecet dan luka serta
menimbulkan bau yang tidak sedap. Penyakit ini dapat menular jika anda berjalan
tanpa alas kaki di daerah yang telah terkontaminasi jamur penyebab penyakit.
3. Panu

Panu ditandai dengan adanya bercak-bercak pada bagian kulit yang disertai dengan
rasa gatal ketika sedang berkeringat. Bercak-bercak dikulit bisa berwarna merah, putih
maupun coklat, tergantung dari warna kulit si pengidap. Panu disebabkan oleh jamur
Malassezia furfur. Penyakit panu ditularkan belalui sentuhan atau kontak langsung
dengan si pengidap maupun penggunaan pakaian atau handuk yang sudah dipakai si
pengidap.

4. Tinea favosa

Penyakit ini ditandai dengan adanya bintik-bintik putih pada bagian kulit kepala yang
nantinya akan membesar dan membentuk kerak yang berwarna kekuningan. Kerak ini
lengket sekali dan bila diangkat akan menimbulkan luka basah maupun bernanah.
Tinea favosa disebabkan oleh jamur Tricophyton schoenleinii. Penyakit ini dapat
menginfeksi kulit kepala, kulit tubuh yang tidak berambut serta kuku. Penularan dari
penyakit ini melalui penggunaan pakaian maupun handuk dari si pengidap.

5. Tinea barbae

Penyakit ini merupakan infeksi jamur yang biasanya menyerang daerah kulit yang
ditutupi oleh jenggot, kulit leher, rambut serta folikel rambut. Penyakit ini disebabkan
oleh jamur Tricophyton mentagrophytes, Tricophyton violaceum, serta Microsporum
cranis.

6. Tinea cruris

Merupakan infeksi jamur superficial yang sering kali terjadi di paha bagian atas
sebelah dalam. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Epidermophyton floccosum atau
Trichophyton sp. Pada kasus yang berat, jamur dapat menyerang bagian kulit di
sekitar paha.

7. Infeksi candida

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Candida albicans. Penyakit ini merupakan mikosis
yang menyerang kulit, kuku maupun organ tubuh, seperti jantung, paru-paru, selaput
lendir serta vagina. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit di
pengidap.

8. Tinea circinata atau tinea corporis

Penyakit ini disebut juga dengan nama kurap. Disebabkan oleh jamur Corporis
trichopyton. Penyakit ini perupakan mikosis superficial yang berbentuk bulat seperti
cincin, disertai dengan rasa gatal pada bagian tersebut.
Penyakit ini ditularkan melalui kontak secara langsung maupun tidak langsung.
Hewan, pakaian maupun furniture juga dapat menularkan penyakit ini.

2.5 Pembahasan Penyakit Panu/Pitiriasis versikolor

1. Definisi
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial kronik ringan yang
disebabkan oleh jamur malassezia dengan ciri klinis discrete atau Confluent.
Memiliki ciri-ciri bersisik, tidak berwarna atau tidak berpigmen dan tanpa
peradangan. Pitiriasis versikolor paling dominan mengenai badan bagian atas,
tetapi sering juga ditemukan di ketiak, sela paha, tungkai atas, leher, muka dan
kulit kepala.
2. Epidemologi
Pitiriasis versikolor merupakan infeksi jamur superfisial yang paling sering
ditemukan. Prevalensi pitiriasis versikolor di Amerika Serikat diperkirakan 2-8%
dari semua penduduk. Prevalensi pitiriasis versikolor lebih tinggi di daerah tropis
yang bersuhu panas dan kelembapan relatif. Di dunia prevalensi angka pitiriasis
versikolor mencapai 50% di daerah yang panas dan lembab dan 1,1% di daerah
yang dingin.3, Penyakit ini sering ditemukan pada usia 13-24 tahun5. Di
Indonesia penyakit ini sering disebut panu dan angka kejadian di Indonesia belum
diketahui tetapi di Asia dan Australia pernah dilakukan secara umum percobaan
pada tahun 2008 didapatkan angka yang cukup tinggi karena didukungnya iklim
di daerah Asia.
3. Etiologi
Flora normal pada kulit ada beberapa termasuk jamur lopopilik. Bisa berupa
jamur polimorpik single spesies seperti Pityrosporum ovale atau Pityrosporum
oblicular, namun sekarang diakui bahwa nama genus tersebut tidak valid, dan
jamur ini sudah di klasifikasikan ulang dalam genus malassezia sebagai spesies
tunggal, Malassezia furfur. Namun, analisa genetik mendemonstrasikan bahwa
sekarang jauh lebih komplek. Saat ini setidaknya sudah 12 spesies terpisah dari
jamur lofilik yang dapat dijelaskan, dan hanya 8 yang dapat menginfeksi kulit
manusia. Spesies yang tergantug pada lemak adalah M. sympodialis, M. globosa,
M. restricta, M. slooffiae, M. fufur, M. obtusa, dan yang terbaru ditemukan M.
dermatis, M. japonica, M. yamotoensis, M. nana, M. carpae, dan M. equina. Ada
satu lipofilik yang tidak sepenuhnya bergantung pada lemak yaitu M.
pachydermatis ini sering ditemukan pada kulit hewan. Yang sebelumnya kita
kenal sebagai M. fufur sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. Beberapa
penelitian pada kulit normal dan kulit yang terdapat lesi khususnya kulit yang
dicurigai malassezia beberapa percobaan ada yang menggunakan mikroskopis dan
kultur, karena teknik sampling yang berbeda-beda maka sangat sedikit sekali yang
bisa dibandingkan. Beberapa peneliti menemukan bahwa M. globosa adalah
spesies yang paling sering ditemukan pada pitiriasis versikolor, tetapi para peneliti
lain menemukan bahwa M. furfur dan M. sympodialis dalah spesies predominan
dan M. sympodialis sering ditemukan pada kulit normal.
Dari pemeriksaan mikroskopis sisik jamur pitiriasis versikolor hampir selalu
berdinding tebal, bentuk bulat dan tunas dari dasarnya berbentuk sempit sesuai
gambaran M. globosa dan mycelium bersepta dan tersusun atas filamen filamen
tipis. Di daerah tropis mycelium muncul bersama jamur berbentuk oval yang
bertunas dari dasarnya secara morfologi mirip dengan M. furfur atau M. obtusa.
Pada awalanya sangat tidak mungkin untuk menggambarkan fase mycelial.dari
spesies malassezia di dalam makhluk hidup. Tetapi pada tahun 1977 tiga
kelompok peneliti sukses menunjukkan jamur dan bentuk mycelial dengan
beberapa media. Kasus terkait M. furfur terjadi karena flora yang ada di host tapi
juga dapat dikarenakan transmisi dari orang lain.
Pitiriasis versikolor dalam beberapa kasus terjadi karena tidak seimbangnya
atara host dan flora jamur tersebut. Ada beberapa faktor yang berkontribusi
menganggu keseimbangan tersebut. Diketahui beberapa spesies malassezia
berubah menjadi mycelial dan memeliki tingkat yang lebih besar. Beberapa
keluarga dengan riwayat positif terkena pitiriasis versikolor lebih sering terkena
penyakit tersebut, hal ini belum diketahui karena genetik atau disebabkan faktor
resiko paparan yang semakin besar dari M. furfur.
Faktor predesposisi yang mempengaruhi perkembangan pitiriasis versikolor
bervariasi, yang perlu diperhatikan adalah faktor lingkungan dan faktor host
tersebut. Pada lingkungan beriklim hangat ditemukan hifa yang berhubugan
dengan jamur malassezia pada kulit normal. Jenis kelamin adalah faktor yang
tidak berpengaruh tetapi terdapat perbedaan pada usia yang berbeda. Di zona
dengan temperatur hangat sangat jarang pada anak-anak, tetapi paling sering pada
remaja dan dewasa muda.
Pitiriasis versikolor diklaim sebagai penyakit yang serius, sangat rentan terjadi
pada orang yang malnutrisi. Kehamilan dan kontrasepsi oral juga salah satu faktor
dari timbulnya Pitiriasis versikolor.
Koloni dari M. furfur sendiri biasanya ditemukan di kulit kepala, tungkai atas,
dan daerah lipatan, area yang kaya akan kelenjar sebasea dan sekresinya dalam
kondisi tertentu, malassezia akan berkembang dari bentuk jamur sporofit menjadi
bentuk miselial dan bersifat patogen. Keadaan yang mempengaruhi keseimbangan
antara hospes dan jamur tersebut adalah faktor endogen dan eksogen. Faktor
endogen antara lain produksi kelenjar sebasea dan keringat, genetik, malnutrisi,
faktor immunologi dan pemakaian obat-obatan, sedangankan faktor eksogen yang
terpenting adalah suhu dan kelembapan kulit.
a. Produksi sebum
Peningkatan sekresi sebum oleh kelenjar sebasea akan mempengaruhi
pertumbuhan berlebihan dari organisme bersifat lipofilik ini.14 Produksi
sebum berbeda pada tiap usianya. Isidensi terjadi pada saat kelenjar
sebasea paling aktif yaitu masa pubertas dan dewasa awal.15 Organisme
yang biasanya ditemukan adalah M. furfur.
b. Produksi Keringat
Orang dengan hiperhidrosis mempunyai kecenderugan untuk terjadi
pertumbuhan jamur ini. Startum korneum akan melunak pada keadaan
yang basah dan lembab sehingga mudah dimasuki M. furfur. Genetik
Predesposisi genetik terjadi pada keluarga yang rentan terhadap infeksi
jamur.
c. Malnutrisi
Kekurangan beberapa zat gizi akan memudahkan pertumbuhan jamur
oportunis. Faktor immunologi Insiden infeksi jamur meningkat pada
sejumlah penderita dengan penekanan sistem imun misalnya pada
penderita kanker, transplantasi ginjal dan HIV/AIDS serta dapat terjadi
pada penderita penyakit cushing.
d. Bahan topikal dan sistemik
Pemakaian bahan topikal yang mengandung minyak dapat menyebabkan
oklusi terhadap saluran kelenjar sebum sehingga memudahkan
pertumbuhan M. furfur pada tempat tersebut. Beberapa obat-obatan
sistemik seperti antibiotika, steroid kontrasepsi oral dan obat-obatan
immunosupresan merupakan faktor yang mempermudah pertumbuhan
berlebih dari jamur peyebab.
e. Suhu dan kelembapan
Daerah tropis dengan suhu panas dan kelembapan yang tinggi akan
meningkatkan produksi kelenjar sebum dan keringat sehingga
pertumbuhan M. furfur meningkat.
4. Gambaran Klinis
Kelainan pitiriasis versikolor sering ditemukan di bagian atas dada dan meluas ke
lengan atas, leher, punggung, dan tungkai atas atau bawah. Penderita pada
umumnya. Keluhan yang dirasakan penderita umumnya gatal ringan saat
berkeringat. Makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi, berbentuk teratur
sampai tidak teratur, berbatas tegas maupun difus.
Beberapa bentuk yang tersering yaitu:
A. Berupa bercak-bercak yang melebar dengan skuama halus diatasnya dengan
tepi tidak meninggi, ini merupakan jenis makuler.
B. Berupa bercak seperti tetesan air yang sering timbul disekitar folikel rambut,
ini merupakan jenis folikuler.
Pitiriasis versikolor pada umumya tidak memberikan keluhan pada penderita
atau sering disebut asimtomatis. Penderita lebih sering merasakan gatal-gatal
ringan tetapi biasanya penderita berobat karena alasan kosmetik19 yang
disebabkan oleh bercak hipopigmentasi.10 Hipopigmentasi pada lesi tersebut
terjadi karena asam dekarboksilat yang diproduksi oleh malassezia yang
bersifat sebagai inhibitor kompetitif terhadap enzim tirosinase dan mempunyai
efek sitotoksik terhadap melanosit, sedangkan pada lesi hiperpigmentasi belum
bisa dijelaskan.
5. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskopis, dan
pemeriksaan menggunakan lampu wood. Gambaran khas berupa bercak
hipopigmenasi sampai hiperpigmentasi dengan penyebaran yang luas beserta batas
tegas.
A. Pemeriksaan dengan lampu wood
Pemeriksaan ini dilakukan dikamar atau ruangan yang gelap sehigga metode
ini klinisi harus mempersiapkan ruangan yang sesuai beserta lampu wood
yang akan digunakan untuk mendiagnosis pasien. Hasil dari pemeriksaan ini
kulit yang terkena pitiriasis versikolor akan berfluoresensi menjadi kuning
keemasan. Fluoresensi ini dapat menunjukkan batas lesi yang terlihat jelas,
sehingga kita bisa mengetahui luas lesi, selain itu dapat juga dipakai untuk
evaluasi pegobatan yang sebelumnya.
B. Pemeriksaan sediaan langsung degan mikroskop cahaya
Preparat sediaan dibuat dari kerokan skuama pada lesi yang diletakkan pada
objek glass yang ditetesi dengan larutan KOH 20% sebanyak 1-2 tetes,
kemudian ditutup dengan gelas penutup dan didiamkan selama 15-20 menit
agar epitel kulit melarut. Setelah sediaan siap, kemudian dilaksanakan
pemeriksaan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 10x10,
dilanjutkan pembesaran 10x40. Pemeriksaan menggunakan KOH 10-20%
ditemukan hifa pendek tebal 2-5µ dan bersepta, dikelilingi spora berukuran 1-
2µ gambaran ini khas sphageti and meatball atau banana and grapes.

2.6 PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI
Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang fisioterapis dalam menangani kasus
jamur kulit. Ini dikarenakan masyarakat memeriksakan penyakitnya ke dokter atau
langsung membeli obat-obatan yang beredar di pasaran, sehingga fisioterapis jarang
menemui kasus-kasus ini. Walaupun demikian tidak berarti seorang fisioterapis tidak
dapat dan mengabaikan penanganan terhadap kasus-kasus ini.
Penanganan yang dapat seorang fisioterapis berikan kepada seorang dengan keluhan
dan kasus yang diakibatkan oleh jamur kulit diantaranya adalah:
1. Edukasi
Seorang fisioterapis dapat memberikan edukasi kepada pasien apa penyebab
jamur kulit dan bagaimana cara mencegah terkena atau terserang kembali jamur
kulit.
Penyebab jamur kulit:
- Lingkungan tertentu yang menguntungkannya akan tumbuh menginvasi
jaringan kulit, rambut, atau kuku. Kondisi demikian, atau disebut faktor
predisposisi, antara lain adalah kelembaban, suhu panas, trauma.
- Faktor pencetus panuan dapat berupa udara panas dan lembab, kehamilan, pil
KB, Faktor genetik.
Pencegahan jamur kulit:
- Menghilangkan faktor predisposisi
- Menggunakan pakaian longgar dan sedapat mungkin terbuat dari bahan katun
- Menggunakan kaos kaki dari bahan katun dan menghindari memakai kaos kaki
yang lembab.
- Mengganti pakaian setiap hari dengan pakaian kering. Menggunakan sepatu yang
tidak lembab dan jangan lupa menjemur sepatu
- Mengeringkan handuk setelah setiap kali digunakan.
- Menghindari memakai pakaian orang lain yang sedang menderita infeksi jamur
kulit.
- Mandi dengan air bersih segera setelah mandi di tempat-tempat umum.
- Jika perlu, menaburkan bedak atau bedak anti jamur terutama di sela-sela jari kaki
dan pelipatan kulit.
2. Hidroterapi
Hidroterapi adalah bentuk pelayanan medis yaitu terapi menggunakan air sebagai
media. Disini fisioterapi dapat memadukan air hangat dan bubuk sulfur atau
belerang yang digunakan pasien untuk berendam. Berendam dengan air hangat
yang mengandung belerang atau sulfur dapat memberikan efek menghaluskan
kulit, memperlancar aliran darah dan membunuh jamur dan kuman yang ada pada
tubuh. Terapi ini dapat dilakukan dua kali sehari selama 3-4 minggu.
3. Terapi Ultraviolet
Ultraviolet adalah panacaran gelombang elektromagnetik yang mempunyai
panjang gelombang sekitar 100 nm hingga 380 nm, sedangkan sinar ultra violet
dengan panjang gelombang dibawah 290 nm sering dikenal sebagai abiotic rays
karena dapat membunuh jamur dan bakteri yang berada di permukaan kulit,
sebelum melakukan terapi ini perlu dilakukan tes dosis agar terapi yang diberikan
tepat dan tidak membahayakan pasien. Setelah melakukan tes dosis akan
ditemukan waktu E1 dan dilanjutkan pada kriteria aplikasi lokal untuk ukuran
jamur yang masih kecil dan kriteria aplikasi general untuk ukuran jamur yang
besar.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia disebut mikosis, yaitu mikosis
superficial dan mikosis sistemik. Mikosis superficial merupakan mikosis yang
menyerang kulit, kuku, dan rambut terutama disebabkan oleh genera jamur, yaitu
orichophyton, licrosporum, dan epidermophyton, sedangkan mikosis sistemik
merupakan mikosis yang menyerang alat-alat dalam seperti jaringan sub-cutan,
paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus dan vagina.
Ada berbagai jenis jamur yang dapat menginfeksi manusia dan memicu jamur
kulit. Secara umum, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: Golongan dermatofita, seperti
spesies Tricophyton, Microsporum, dan Epidermophyton, Golongan non
dermatofita, misalnya Candida.
Salah satu penyakit karena jamur adalah Pitiriasis versikolor adalah infeksi
jamur superfisial kronik ringan yang disebabkan oleh jamur malassezia dengan
ciri klinis discrete atau Confluent. Memiliki ciri-ciri bersisik, tidak berwarna atau
tidak berpigmen dan tanpa peradangan. Pitiriasis versikolor paling dominan
mengenai badan bagian atas, tetapi sering juga ditemukan di ketiak, sela paha,
tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala. Penatalaksanaan fisioterapi pada
penyakit akibat jamur adalah dengan melakukan edukasi, hidroterapi serta terapi
ultraviolet.

3.2 Saran
Agar terhidar dari penyakit jamur pada kehidupan sehari-hari, sebaiknya bila
udara terasa panas kita harus rajin mencegah keringat yang menempel dibadan.
Baju yang dikenakan juga seharusnya menyerap keringat, bila terpaksa harus
mengenakan baju yang tidak menyerap keringat kita harus sesering mungkin
mengganti baju tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Bramono, K. 2004. Pemaparan tentang jamur. Jakarta: FKUI.
Mawar Pratiwi. 2012. Penyakit yang disebabkan oleh Jamur.
Nadesul, H. 2004. Infeksi Jamur Kulit. Jakarta; EGC.
Siregar. 2005. Penyakit Jamur Kulit. Palembang: Buku Kedokteran.