You are on page 1of 13

MAKALAH

PENGANTAR MIKOLOGI TUMBUHAN

PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI (Capsicum annuum L.) AKIBAT
SERANGAN JAMUR Colletotrichum capsici

OLEH

KELOMPOK 2

SRI MULYANI 1610252014

REFVA DIAKASMA 1610253003

MARIA JUNITA N. 1610252026

YUNITA PEBRIANI 1610252002

SUCI RAMADANA P. 1610251012

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018

Cercospora capsici penyebab penyakit bercak daun. Oidium sp. Protein 1 g.3 g.05 mg.3 g. Beberapa jamur patogen yang penting pada tanaman cabai antara lain. kacang-kacangansayuran. Vitamin A 470 SI.(Direktorat Pengembangan Ekonomi Daerah. Tanaman cabai termasuk kedalam kelompok volatile food atau komoditas dengan harga bergejolak. Produktivitas tanaman cabai di Sumatera Barat berkisar 3. Colletotrichumsp adalah salah satu patogen tanaman yang paling penting di seluruh dunia karena menyebabkan penyakit antraknosa pada berbagai tanaman termasuk serealia. Kalsium 29 mg. Air 90. Besi 0.sp.capsici) penyebab penyakit layu dan Colletotrichum gloeosporioidespenyebab antraknosa (Setiadi. 2008). sehingga mengurangi insentif untuk menanam.5 ton perhektar (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat.1.9gdan bagian yang dapat dimakan 85% (Setiadi. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi cabai merah adalah karena serangan berbagai jenis organisme pengganggu tanaman (OPT). 2015). Phytopthhora capsici penyebab penyakit busuk daun. Vitamin B1 0.Lemak 0.penyebab penyakit gugur daun.5 mg. BAB I PENDAHULUAN 1.. 2008). Fosfor 24 mg. Kelompok jamur tergolong dominan dalam menyebabkan penyakit pada tanaman cabai.Fusariumoxysporum (Schlecht. gejolak harga disebabkan kurangnya pasokan karena petani tidak menanam akibat kerugian pada panen sebelumnya. dan buah- . serta adanya gangguan hama dan penyakit tanaman.2009). Latar Belakang Cabai merupakan tanaman hortikultura yang memiliki arti ekonomi penting dan menduduki tempat kedua setelah sayuran dan kacang-kacangan. Produksi ini masih rendah dibandingkan dengan potensi hasil tanaman ini yaitu 12 ton perhektar (Syukuret al.5-4. tanaman tahunan.Kandungan gizi buah cabai segar setiap 100 gram bahan yaitu: kalori 31kal. Vitamin C 18 mg. 2012). Karbohidrat 7.) f.

buahan.20 hektar. Bagaimana Mekanisme terjadinya penyakit antraknosa pada tanaman cabai ? d.. Apa Penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar? b. (2008).2. siklus hidup sampai cara pengendaliannya. seperti padabunga.? e. Selanjutnya patogen dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman.) 2.135..Hasyim et al. Tujuan Mengetahui tentang Jamur penyebab Antraknosa pada tanaman cabai mulai dari penyebab penyakit. Thanet al.Serangan pada buah dapat menyebabkan biji terinfeksi(Robertset al. dan tingkat serangan yang paling berbahaya adalah mulai fase generatif. buah. (2014) menyatakan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. Rumusan Masalah 1.dapat mengurangi hasil panen dari 10sampai 80% di beberapa negara berkembang khususnya di Indonesia.3. Di Sumatera Barat pada tahun 2008 luas kerusakan akibat penyakit ini adalah 35% (luas tanam cabai 3. dengan luas serangan 1.Than et al. gejala serangan. Bagaimana Cara Pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar? 1. . 2009. 2008). 1. Bagaimana Siklus hidup jamur Colletotrichum spp. Mendeskripsikan Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.Penyakit ini bisa ditemukanpada semua jenis tanaman cabai baik yang ditanam didaerah dataran rendah maupun didataran tinggi.2008. 2012). Apa itu Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai Besar? a. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat.12 hektar) dan penurunan hasil 35% (BPS.243. Bagaimana Gejala penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar? c. mekanisme penyerangan..

dan oval dengan ujung meruncing. BAB II PEMBAHASAN 2. dengan klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Sub Class : Asteridae Ordo : Solanales . lonjong. tergantung pada jenis dan varietasnya. 2003). Gambar : Tanaman cabai besar (Capsicum annuum L. Daun cabai pada umumnya berwarna hijau muda sampai hijau gelap. Tinggi tanaman cabai bisa mencapai 120 cm dengan lebar tajuk tanaman sampai 90 cm (Cahyono. tergantung pada varietasnya.) Tanaman cabai merupakan tanaman semusim yang tumbuh tegak dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Daun cabai yang ditopang oleh tangkai daun mempunyai pertulangan daun menyirip. Bentuk daun umumnya bulat telur.1 Deskripsi Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L. 2013) Menurut Tjitrosoepomo (2010) cabai besar termasuk dalam Famili Solanaceae.) (Sumber : Koleksi pribadi.

Sebagian besar cabai ditanam pada lahan tanpa irigasi sehingga menyebabkan penurunan produksi selama musim kemarau mencapai 50%. Penyakit antraknosa tersebar luas di Jawa. sementara potensi produksi cabai dapat mencapai 10 ton/ha. 2007). 1990. Madura. 2004). Hannden and Black (1989) menyebutkan jenis jamur Colletotrichum yang umum menyebabkan penyakit antraknosa pada buah cabai . pada tanaman cabai besar mempunyai arti ekonomi yang sangat penting.1 Penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar Penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. 2. Bali dan Lombok (Duriat. 2013).Family : Solanaceae Genus : Capsicum Species : Capsicum annuum L. Kendala biologis yang diakibatkan oleh serangan patogen pada cabai masih merupakan penyebab utama kegagalan panen.2. terutama penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. Cabai ditanam secara luas di Bali untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Menurut Suhardi (1989) penyakit antraknosa di Kabupaten Demak menyebabkan kerugian sebesar 50. 2. Kultivar cabai yang banyak ditanam di Bali adalah cabai besar (Capsicum annum L) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L).1996). Rataan produksi cabai nasional baru mencapai 6.19 ton/ha. karena dapat menurunkan hasil produksi cabai dan merugikan para petani sampai 50% (Semangun.2 Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai Besar Salah satu jenis penyakit pada tanaman cabai besar adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. 1990).. Selain akibat penanaman tanpa irigasi penurunan produksi lebih banyak disebabkan oleh penyakit. Sulandari. Produksi cabai di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan cabai nasional sehingga pemerintah harus mengimpor cabai yang mencapai lebih dari 16. maka usaha untuk mengatasi penyakit pada tanaman cabai akibat hama dan penyakit sangat perlu mendapat perhatian (Suryaningsih et al. (Duriat.65%. Adanya serangan jamur Colletotrichum spp.000 ton per tahun (DJBPH.

terdiri atas empat spesies yaitu : C. (1996) jamur Genus Colletotrichum termasuk dalam Family Melanconiaceae. dan C. Menurut hasil penelitian Sudiarta dan Sumiartha (2012) penyakit antraknosa pada tanaman cabai di Bali kebanyakan disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum. C. dan C.. gloeosporioides. capsici. Class Deuteromycetes dengan klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Fungi Phylum : Deuteromycota Class : Deuteromycetes Subclass : Coelomycetidae Ordo : Melanconiales Family : Melanconiaceae Genus : Colletotrichum Species : Colletotrichum spp. C. Menurut Kim et al. gloeosporioides. acutatum. C. merupakan jamur parasit fakultatif dari Ordo Melanconiales dengan ciri-ciri konidia (spora) tersusun dalam aservulus (struktur aseksual pada jamur parasit. Jamur dari Genus Colletotrichum termasuk dalam Class Deuteromycetes yang merupakan bentuk anamorfik (bentuk aseksual). (1999) penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh jamur Colletotrichum terdiri atas lima spesies yaitu : C. C. Jamur Colletotrichum spp. 1996). Disajikan pada Gambar . coccodes. C. dan pada saat jamur tersebut dalam telemorfik (bentuk seksual) masuk dalam Class Ascomycetes yang dikenal dengan jamur dalam Genus Glomerella (Alexopoulos et al.2). coccodes. Gambar 2. capsici. Struktur aservulus jamur Colletotrichum spp. dematium. acutatum. Menurut Alexopoulos et al.

Jamur Colletotrichum acutatum mempunyai bentuk spora silendris. Gejala diawali dengan adanya bintik-bintik kecil berwarna kehitam- hitaman dan sedikit melekuk pada permukaan buah. ukuran spora 16. tersaji dalam Gambar 2. ujung spora runcing. Gejala lebih lanjut buah mengkerut. Ciri-ciri umum jamur dari Genus Colletotrichum yaitu memiliki hifa bersekat dan menghasilkan konidia yang transparan dan memanjang dengan ujung membulat atau meruncing panjangnya antara 10-16 μm dan lebarnya 5-7 μm.5 mm per hari.1 x 5. Jamur Colletotrichum coccodes mempunyai bentuk spora silendris.3 x 4.8 mm per hari (AVRDC.8 mm per hari.4 μm dengan kecepatan tumbuh 9. ukuran spora 14.2 Gejala penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar Jamur Colletotrichum dapat menginfeksi cabang. Jamur Colletotrichum gloeosporioides mempunyai bentuk spora silendris. Massa dari konidia berwarna hitam dan hifanya berwarna abu-abu (Dickman. ujung spora runcing.6 μm dengan kecepatan tumbuh 12. ukuran spora 24. daun dan buah cabai. 2010). . ranting. membusuk dan jatuh (Rusli dan Zulpadli. Bentuk spora beberapa jenis jamur Colletorichum spp.3 μm dengan kecepatan tumbuh 6. ujung spora tumpul.1 x 5.2 μm dengan kecepatan tumbuh 8. 1997). kering. ujung spora meruncing.4 mm per hari. Sedangkan jamur Colletotrichum capsici mempunyai bentuk spora seperti bulan sabit. ukuran spora 16. 1993). Infeksi pada buah cabai besar terjadi biasanya pada buah menjelang tua dan sesudah tua.9 x 4.2.

Spora terbentuk dan memencar secara cepat pada buah cabai. Bercak berbentuk bundar atau cekung dan berkembang pada buah yang belum dewasa/matang dari berbagai ukuran. diikuti dengan pelunakan jaringan. sehingga mengakibatkan kehilangan hasil sampai 100%. Biasanya bentuk bercak beragam pada satu buah cabai dan ketika penyakit semakin parah. Permukaan buah cabai yang terserang penyakit antraknosa akan berair dan aservulus jamur Colletotrichum spp. terlihat seperti bercak kehitaman yang kemudian meluas dan membusuk. (1984) gejala penyakit antraknosa pada buah cabai besar dimulai dengan kulit buah akan tampak mengkilap.. 2010). Menurut Kim et al. Gejala pada buah cabai yang sudah menua tampak seperti pada Gambar 2. kemudian permukaan buah akan menjadi cekung dan berwarna kecoklatan. Pada buah cabai dengan gejala penyakit antraknosa berat buah mengering dan keriput. Lesio muncul sedikit demi sedikit kemudian pada akhirnya dapat menutupi sebagian besar permukaan buah.4. sehingga terlihat adanya seperti luka atau lebih dikenal dengan sebutan lesio. bercak akan bersatu. . Penyakit dapat menginfeksi sampai ke tangkai buah cabai dan menimbulkan bercak seperti bintik yang tidak beraturan berwarna merah tua (Damm et al. sehingga buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami.

Kolonisasi merupakan proses kelanjutan dari infeksi yaitu patogen melanjutkan pertumbuhan dan perluasan aktivitas patogen melalui jaringan inang. faktor fisik seperti angin. infeksi. dan diseminasi. maka akan terjadi proses perkecambahan spora (Sinaga. kolonisasi. 2004). Proses penetrasi yaitu proses masuknya organisme patogen ke dalam tubuh inang. dan penetrasi langsung. Lubang alami yang biasa digunakan oleh pathogen untuk masuk ke dalam tubuh tanaman inang antara lain.2. Proses perkecambahan spora pada tubuh inang dapat digambarkan sebagai berikut : pada mulanya spora patogen membentuk tabung kecambah (germ tube). lubang alami. kemudian diikuti dengan proses penetrasi. penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai besar secara umum hampir sama dengan gejala serangan jamur patogen lainnya. Sedangkan proses diseminasi merupakan proses penyebaran inokulum sekunder yang dihasilkan oleh patogen melalui agen penyebar seperti angin. Bila gejala penyakit telah timbul berarti patogen telah melakukan reproduksi inokulum sekunder. Sedangkan . Luka yang ada pada tanaman dapat disebabkan oleh manusia. Periode inkubasi merupakan waktu yang dibutuhkan pathogen sejak mulai inokulasi sampai timbul gejala penyakit. Terdapat tiga jalan atau cara yang digunakan oleh patogen dalam melakukan penetrasi yaitu. 2007). Inokulasi merupakan proses deposisi atau kontaknya inokulum (spora) pada permukaan jaringan inang. Kemudian setelah organisme patogen tersebut masuk ke dalam tubuh inang. Bagian spora yang memproduksi germ tube bertambah panjang dan menembus dinding sel inang. Proses kolonisasi tersebut akan merusak seluruh jaringan pada tubuh inang (Wharton dan Uribeondo. 2006). pada buah cabai. Proses infeksi terjadi setelah proses penetrasi yaitu pathogen sudah berada pada jaringan inang dan memproleh makanan dari inangnya.2. diawali dengan adanya inokulasi jamur Colletotrichum spp. atau serangan dari hama. stomata. air dan serangga (Sinaga. 2006). air hujan.3 Mekanisme terjadinya penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar Gejala serangan jamur Colletotrichum spp. Kemudian germ tube akan termodifikasi menjadi apresorium yang berfungsi untuk melekat dengan kuat pada permukaan jaringan inang (Yudiarti. hidatoda dan lenti sel. luka. Gejala serangan jamur Colletotrichum spp.

2. Setelah penetrasi maka akan terbentuk jaringan hifa.. 1997). 1993). Tahap awal infeksi Colletotrichum umumnya dimulai dari perkecambahan spora pada permukaan jaringan tanaman. Pertumbuhan awal jamur Colletotrichum spp. Spora jamur Colletotrichum spp. dapat disebarkan oleh angin dan percikan air hujan dan pada inang yang cocok akan berkembang dengan cepat (Dickman. hifa intra dan interseluler menyebar melalui jaringan tanaman (Yudiarti. disajikan pada Gambar . Aservulus berwarna merah muda sampai coklat muda merupakan kumpulan massa konidia (Rusli dan Zulpadli. 2. 2007).untuk cara penetrasi langsung. Siklus penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. menghasilkan tabung kecambah. membentuk koloni miselium yang berwarna putih dengan miselium yang timbul di permukaan. dibutuhkan usaha dari pathogen antara lain dengan memproduksi zat kimia berupa enzim atau toksin yang berfungsi untuk mendegradasi dinding sel dan atau merubah permeabilitas membran sel tanaman. 2009). Keadaan cuaca yang lembab sangat cocok untuk pembentukan spora dan terjadinya infeksi sehingga diameter lesio akan cepat membesar (Martinez et al.4 Siklus hidup jamur Colletotrichum spp. Kemudian perlahan- lahan berubah menjadi hitam dan akhirnya berbentuk aservulus.

Hal ini terjadi karena matinya sel yang berdampingan secara meluas. 1995). Jika kelembaban tinggi atau pertumbuhan tanaman cepat. Dalam label fungisida memberikan petunjuk pengaplikasian.. Infeksi terjadi setelah apresorium dihasilkan.2. hifa masuk ke pembuluh sklerenkim dan langsung tumbuh menembus dinding sklerenkim (Pring et al. 2007). 2000). Prinsip penggunaan fungisida didasarkan pada prinsip antibiotik terhadap tanaman. apresorium mempenetrasi kutikula dan tumbuh dibawah dinding kutikula dan dinding periklinal dari sel epidermis. 2. Kemudian. Ketika jaringan membusuk. Cara lainnya yang digunakan untuk mengendalikan penyakit yaitu penggunaan bahan kimia sintetik yang mampu memicu ketahanan tanaman (Suhendro et al.. karena sampai saat ini belum ada tanaman cabai merah yang tahan terhadap penyakit antraknosa. informasi spesifik tentang siklus penyakit sangat dibutuhkan dalam aplikasi fungisida yang tepat untuk melindungi tanaman. dan jika kelembaban rendah maka digunakan interval tertinggi (Suryaningsih dan Suhardi.5 Pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar Pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang sering dilakukan oleh petani adalah dengan menggunakan fungisida. Dalam banyak kasus. umumnya fungisida tidak efektif dalam pengendalian penyakit. biasanya dengan jarak interval 7-14 hari. maka interval terendah antar aplikasi yang sering digunakan. . hifa tumbuh dan menghancurkan dinding sel utama. 1993). Bila patogen sudah menginfeksi jaringan tanaman. Jenis fungisida yang digunakan seperti Dithane M-45 80 WP merupakan jenis fungisida bersifat sistemik karena cara kerjanya ditranslokasikan ke dalam jaringan tanaman dan fungisida Dakonil 500 F merupakan jenis fungisida kontak atau non sistemik (Semangun.

BAB III PENUTUP 3. yaitu sebaiknya pengendalian penyakit tanaman Antraknosa ataupun penyakit lainnya di lakukan saat gejala mulai terlihat. karena merk yang terkenal harganya cenderung mahal. Untuk mencegah terjadinya penyebaran suatu penyakit. Disisi yang lain merk yang kurang terkenal. sedikit terbenam dan berair. saat anda ke toko pertanian anda cukup menanyakan fungisida bahan aktif mana yang anda inginkan. Untuk hasil yang efektif. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit tanaman cabai ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap. hasilnya efektif walau harganya jauh lebih murah. Dan jangan terpacu pada merk.2 Saran Adapun saran dari kami. Dan salah satu penyakit pentingnya adalah penyakit antraknosa. Bahan aktif di atas merk nya bermacam-macam. misal mankozeb+propineb. yaitu penyakit yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. 3. lakukan mixing antara fungisida kontak dan sistemik . Kesimpulan Kesimpulan Dari pembahasan materi mengenai penyakit antraknosa pada cabai dapat disimpulkan bahwa Cabai (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia..Untuk pengendaliannya ada beberapa saran : Jangan mencampur fungisida yang cara kerja nya sama. hal ini selain efektifitasnya tidak bertambah justru boros biaya.1.

Hariati N. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Murti Handayani. Efektifitas pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Produksi cabai besar. 6:158-164. Hughes B. Bailey JA. St Paul (US):APS Pr.) berdasarkan penampakan fenotipik serta ketahanannya terhadap penyakit antraknosa (Colletotrichum sp. Agrios GN. Pathology and Host-Pathogen Interaction. Wilia W. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. Potensi cendawan endofit dan khamir untuk mengendalikan penyakit antraknosa (Colletotrichum acutatum L. Dissecting the cell biology of Colletotrichum infection processes. Perfect S.) [disertasi]. Analisis keragaman 23 genotipe cabai (Capsicum sp. J Floratek.) [skripsi]. DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. Riana. . Bogor (ID): Intitut Pertanian Bogor. O’Connell RJ. Potensi cendawan endofit untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai (Capsicum annuum L. Istikorini Y. et al. 2007. Plant Pathology 5th Ed. Carzaniga R. Rossiana SS. Pewarisan karakter ketahanan pada cabai (Capsicum annuum x Capsicum chinense) terhadap penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides Penz. 2005. Nurahmi E. Oxford (GB) : Elsevier Academic Pr. Freeman S. 2011. cabai rawit. 2000. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor. hlm 57-77. Prusky D. Mahmud T.) Pada Tanaman Cabai [tesis]. Host Specificity. 2004. [KEMENTAN] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015.) [tesis]. 2015. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Berita Resmi Statistik: 71/08/XVIII. editor. 2010. dan bawang merah tahun 2014. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Di dalam: Colletotrichum. 2016. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019. Tesis “Potensi Cendawan Endofit dalam Upaya Pengendalian Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici) pada Tanaman Cabai Merah” Bogor : Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Wusani M. 2008. Dickman MB.