You are on page 1of 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, saat ini merupakan
masalah utama bagi kesehatan jiwa terutama pada anak. Gangguan pemusatan
perhatian/hiperaktivitas dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari anak usia
sekolah sampai remaja, bahkan berlanjut sampai dewasa. Namun demikian, bagi
sebagian masyarakat di Indonesia adanya gangguan ini belum disadari, baik di
lingkungan sekolah, keluarga ataupun klinik. Anak yang mengalami gangguan
hiperaktivitas, pada kehidupan sehari-hari tidak disadari oleh guru dan orangtua
sebagai anak yang harus segera ditolong untuk mengatasi gangguan tersebut
(Saputro, 2009).
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders – IV) pada GPP/H terdapat pola yang menetap tentang kurangnya
perhatian dan atau hiperaktivitas yang lebih sering dan lebih berat bila
dibandingkan dengan anak lain pada taraf perkembangan yang sama. GPP/H
merupakan gangguan perilaku yang mempunyai variasi klinik yang cukup luas,
namun sindrom ini memiliki gejala inti yang sama yaitu ketidakmampuan
memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang tidak sesuai dengan
usia perkembangan (Arnold, L.E. 2005).

Prevalensi gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas bervariasi
tergantung dari instrumen dan kriteria diagnosis yang digunakan, serta
karakteristik populasi yang diteliti. Pada penelitian dengan menggunakan DSM-
IV dilaporkan bahwa prevalensi GPP/H pada usia sekolah sekitar 3%-7%
(Greenhill dan Waslick, 2004). Prevalensi paling rendah adalah 1,3 % pada
populasi remaja berusia 13-18 tahun di Belanda dan tertinggi 29% yaitu pada
anak usia 11-12 tahun di India. Di Indonesia prevalensi GPP/H usia sekolah
bervariasi sekitar 2-20% (Saputro, 2009).

Penelitian neuropsikologi, neuroanatomi, neurokimia, dan biologi
molekuler menunjukkan bahwa GPP/H disebabkan oleh berbagai faktor yang
tidak berdiri sendiri tetapi bersama-sama, yaitu faktor genetik dan nongenetik,

LBM III “Si Pengganggu”Page 1

lingkungan, psikososial, fisik (trauma kelahiran), prematuritas, asfiksia, BBLR,
toksin dan bahan pengawet (Saputro, 2009).

1.2 Tujuan
1.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami penyebab terjadinya
keluhan pada pasien di skenario.
1.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa yang dimaksud
dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak.
1.2.3 Mahasiswa mengetahui dan memahami diagnosa kerja pada skenario.
1.2.4 Mahasiswa mengetahui dan memahami faktor penyebab, ciri-ciri, dan
cara penanganan anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas.

1.3 Manfaat
Mahasiswa / Mahasiswi dapat memahami tentang gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas dari definisi, etiologi, diagnosis, hingga
penatalaksanaannya.

LBM III “Si Pengganggu”Page 2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Data Tutorial
Hari / tanggal sesi 1 : Senin, 5 Maret 2018
Hari / tanggal sesi 2 : Rabu, 7 Maret 2018
Tutor : dr. Alfian Muhajir
Ketua : Lalu Wisnu Aditiya Wardana
Sekretaris : Willy Gusnanda

2.2. Skenario LBM
“Si Pengganggu”

Seorang anak berusia 7 tahun dibawa oleh ibunya ke Klinik FK UNIZAR
karena guru sekolah mengeluhkan pasien sering mengganggu teman sekelasnya
saat jam pelajaran berlangsung. Selain itu pasien juga sering terlihat tidak
memperhatikan pelajaran. Sering tidak menyelesaikan tugas yang diberikan.
Teman-temannya juga sering mengeluh karena sikap pasien yang usil dan sering
mengganggu saat belajar maupun saat bermain. Dirumah pasien sering menolak
untuk belajar dan lebih tertarik untuk menjalani aktifitas yang menarik
perhatiannya.

2.3 Pembahasan LBM

2.3.1 Identifikasi Masalah
2.3.1.1 Adakah hubungan umur dan jenis kelamin terhadap keluhan di
skenario?
2.3.1.2 Mengapa pasien sering mengganggu teman-teman sekelasnya saat
jam pelajaran berlangsung?
2.3.1.3 Mengapa pasien sering tidak memperhatikan pelajaran dan sering
tidak menyelesaikan tugas yang diberikan?
2.3.1.4 Mengapa pasien usil dan mengganggu temannya saat belajar maupun
bermain?
2.3.1.5 Mengapa pasien menolak untuk belajar dan lebih tertarik untuk
menjalani aktivitas yang menarik perhatiannya?
2.3.2 Pembahasan Masalah

LBM III “Si Pengganggu”Page 3

2.3.2.1 Adakah hubungan umur dan jenis kelamin terhadap keluhan di
skenario?
Ada hubungannya, karena gejala seperti keluhan di scenario biasanya
akan terlihat ketika anak sudah memasuki usia sekolah dan mulai belajar di
sekolah yaitu usia 6-12 tahun. Masa anak-anak adalah masa tumbuh kembang
yang paling cepat, bukan hanya dari segi fisik tapi psikologis juga
mempengaruhi tumbuh kembang anak. Jika pada masa anak-anak terjadi
ganguan pada proses tumbuh kembangnya seperti tekanan psikologis, stress
kurangnya kasih saying orang tua, memiliki riwayat lahir prematur, dll, maka
besar resiko anak tersebut akan menimbulkan gejala-gejala seperti di
scenario, terutama gejala-gejala tersebut lebih sering muncul pada anak usia 7
tahun seperti di scenario.
2.3.2.2 Mengapa pasien sering mengganggu teman-teman sekelasnya saat
jam pelajaran berlangsung?
Karena adanya hiperaktivitas atau gangguan perilaku pada anak
tersebut. Gangguan tersebut berupa tindakan yang tidak disertai pemikiran.
Anak yang memiliki gangguan tersebut sangat dikuasai oleh perasaannya
sehingga mereka sangat cepat bereaksi. Mereka akan sulit untuk
mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan
dilakukan. Adanya hiperaktivitas tersebut, anak tidak dapat mengontrol dan
melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya sehingga tidak dapat
membedakan gerakan atau sikap yang penting atau tidak (Hamidi, 2005).
2.3.2.3 Mengapa pasien sering tidak memperhatikan pelajaran dan sering
tidak menyelesaikan tugas yang diberikan?
Sering tidak memperhatikan pelajarn dan tidak menyelesaikan tugas
yang diberikan merupakan tanda bahwa pasien mengalami gangguan
pemusatan perhatian (Inatensi). Pasien mengalami kesulitan untuk
memusatkan perhatiannya, dan sangat mudah teralihkan oleh rangsangan
yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya. Dengan demikian pasien hanya
mampu mempertahankn suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang
pendek, sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari
lingkungannya. (Baihaqi, dkk, 2006)
2.3.2.4 Mengapa pasien usil dan mengganggu temannya saat belajar maupun
bermain?
Sebagaimana yang diketahui bahwa lobus frontal berfungsi untuk
mengatur agar pusat perhatian pada perintah, konsentrasi yang terfokus,
LBM III “Si Pengganggu”Page 4

2.5 Mengapa pasien menolak untuk belajar dan lebih tertarik untuk menjalani aktivitas yang menarik perhatiannya? Karna pasien mengalami gejala ADHD dimana termasuk ke dalam ganguan inantensi (ganguan pemusatan perhatian) dimana anak sangat mudah teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba yang diterima oleh alat indra atau perasaan yang timbul (Hartanto F. temperamen yang meledak-ledak.3.3. L. 2018).3.3. memiliki kewaspadaan yang berlebihan (Montaus SL.3. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH).3.2 Bagaimana kriteria Autisme menurut DSM? 2. J Child Adolesc Psychopharmacol. DiSilvestro. membuat keputusan yang baik.4. Mekanisme inhibisi di korteks berfungsi untuk mencegah agar kita tidak hiperaktif. Surabaya: FK Unair. 2.3.3 Learning Issues 2. Zinc in Attention- Devicit/Hyperactivity Disorder. 2005.3. 2005. Ketika mekanisme inhibitor dari otak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya maka hasilnya adalah apa yang disebut dengan “dis-inhibitor disorder” seperti perilaku impulsif. R. membuat keputusan yang buruk.3. membuat suatu rencana. belajar dan mengingat apa yang telah kita pelajari. Zainuddin. Semarang: FK Undip. 2009. 2.4.4. menjadi mudah terkejut. Sedangkan system limbik mengatur emosi dan kewaspadaan seseorang.E.4 Referensi 2.2 Hamidi.3.1 Arnold. F. serta dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang tepat.A.3 Apakah diagnosa kerja dari pasien di skenario? 2. hiperaktif.3. Deteksi Dini Gejala-gejala Hiperaktivitas Pada Anak.3. maka seseorang memiliki mood yang labil. selalu menyentuh apapun yang ada di sekitarnya. dll. 15:4.3.3.4 Apakah diagnosis banding pasien di skenario? 2. Bila system limbik teraktivasi secara berlebihan.. LBM III “Si Pengganggu”Page 5 . quick temper.3 Hartanto. berbicara sesuatu yang tidak terkontrol.1 Bagaimana kriteria ADHD menurut DSM? 2.2. serta marah pada keadaan yang tidak tepat. 2009) 2.

3.5 Montauk SL.com. 2006. Sugiarmin.3.4 MIF Baihaqi. Memahami dan Membantu Anak ADHD. LBM III “Si Pengganggu”Page 6 . Bandung: Refika Aditama. D. 2. Accessed: 10 Maret 2018 2. 2. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. http://www. dan M. Sagung Seto. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder.4.3. 2009.4.emedicine.4.6 Saputro. Jakarta.

 Tidak bisa duduk lama dengan tenang. sebagai berikut: 1.  Tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugasnya di sekolah. Meliputi gejala pada nomor a atau b. LBM III “Si Pengganggu”Page 7 . 2000) adalah sebagai berikut : A.  Sulit mengorganisasikan tugas dan aktivitas. 2. Adapun ciri-ciri inattention tersebut adalah:  Sulit berkonsentrasi terhadap detail atau melakukan kesalahan akibat kecerobohan baik di sekolah atau aktivitas lain.  Perhatian mudah terpecah bila ada rangsangan lain.  Selalu bergerak sehingga terkesan tidak kenal lelah. ADHD dengan ciri-ciri dominan pada hyperactivity- impulsivity adalah jika 6 atau lebih gejala hyperactivity-impulsivity terjadi sedikitnya selama 6 bulan yang bersifat maladaptive dan tidak sesuai dengan taraf kemampuannya.  Bicara berlebihan. 2.5 Pembahasan Learning Issues 2.3. Adapun ciri-ciri hyperactivity adalah:  Bermain terus dengan tangannya seperti mengetuk-ngetuk jari tangan di meja atau kaki saat duduk.1 Bagaimana Kriteria ADHD menurut DSM? Adapun kriteria diagnostik Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) menurut DSM IV-TR (dalam APA.3. ADHD dengan ciri-ciri dominan inattention adalah jika terdapat 6 atau lebih gejala-gejala inattention yang sedikitnya terjadi selama 6 bulan yang bersifat maladaptive dan tidak sesuai dengan taraf kemampuannya.5.

misalnya sulit berteman hingga tidak tertarik pada individu lain. yang ditunjukkan dengan minimal 2 dari:  Pergerakan stereotipik. bahasa tubuh. aktivitas dan minat.  Defisit pada komunikasi nonverbal misalnya gangguan kontak mata. maupun penggunaan kata kata yang tidak dapat dimengerti. Adanya keterbatasan perilaku.2 Bagaimana kriteria Autisme menurut DSM? Saat ini untuk diagnose Autisme. Secara signifikan menghambat fungsi sosial. di rumah atau lingkungan sosial. Psikotik. B. Kriteria diagnosa tersebut adalah: 1. dapat digunakan kriteria diagnosa yang dikeluarkan oleh DSM-V.  Sering menganggu atau menginterupsi orang lain.  Sulit menunggu giliran. Beberapa gejala hyperactivity-impulsivity atau inattention sudah terjadi sebelum usia 7 tahun C. 2. ditunjukkan dengan:  Defisit sosial emosional misalnya sulit mengeluarkan respon dalam interaksi sosial. misalnya di sekolah. seperti menjawab pertanyaan saat pertanyaan belum selesai disampaikan.5. gangguan kecemasan. gerakan motorik berulang. Adanya defisit komunikasi dan interaksi sosial yang persisten. hingga ekspresi wajah. tidak fleksibel dan keharusan mengikuti suatu pola kegiatan yang sudah ada misalnya urutan makan yang LBM III “Si Pengganggu”Page 8 . E. Gejala-gejala di atas tersebut terjadi dalam 1 atau lebih situasi. Adapun ciri-ciri impulsivity adalah sebagai berikut:  Terlalu cepat menjawab. D.  Perilaku yang tetap. sulit mempertahankan komunikasi 2 arah. 2. Skizophrenia dan bukan gangguan mental lainnya.3. Gejala yang terjadi bukan karena Pervasive Developmental Disorder. seperti menganggu dengan ikut campur kegiatan orang lain tanpa diminta. seperti gangguan mood. akademis dan pekerjaan.  Defisit dalam membangun serta mempertahankan hubungan. gangguan disosiatif atau gangguan kepribadian.

Atau dalam bahasa Indonesia.3 Apakah diagnosa kerja dari pasien di skenario? Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) 1. secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak-anak yang memperlihatkan simtom-simtom (ciri atau gejala) kurang konsentrasi.  Reaksi berlebihan ataupun kurangnya reaksi terhadap suatu masukan sensorik misalnya pada nyeri. Gejala tersebut timbul pada masa perkembangan awal yang akan makin jelas gejalanya seiring dengan berjalannya waktu. sama. 5. 2007). ritual dalam melakukan sesuatu dan apabila ritual ini terganggu dapat menyebabkan stress pada penderita. Definisi ADHD merupakan kependekan dari attention deficit hyperactivity disorder.mengait. kesulitan sosial.5. jika didefinisikan. 2. ADHD berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. dimana individu mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls. Deficit = berkurang. Istilah ini merupakan istilah yang sering muncul pada dunia medis yang belakangan ini gencar pula diperbincangkan dalam dunia pendidikan dan psikologi. menghambat perilaku. Jadi. dan kesulitan-kesulitan lain yang kait. 4. Hyperactivity = hiperaktif. 3.3. Gejala ini tidak dapat dijelaskan dengan adanya disabilitas intelektual. dan tidak mendukung rentang perhatian atau rentang perhatian mudah teralihkan. okupasional. perubahan suhu daln lainnya. dan Disorder = gangguan). dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka (Sugiarmin. (Attention = perhatian.  Adanya ketertarikan ataupun fokus yang abnormal pada suatu objek yang berlebihan. kesulitan berperilaku. Jika hal ini terjadi pada seorang anak dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar. lstilah ini memberikan gambaran tentang suatu kondisi medis yang disahkan secara internasional mencakup disfungsi otak. dan fungsi lainnya secara signifikan. Gejala ini menyebabkan gangguan sosial. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan aktivitas dan perhatian (gangguan hiperkinetik) adalah suatu gangguan LBM III “Si Pengganggu”Page 9 . hiperaktif.

Dari 34 juta kasus ADHD di USA. seperti pengaruh alkohol pada kehamilan. Penelitian longitudinal telah membuktikan bahwa sebanyak 2/3 dari anak-anak ADHD memiliki gejala ADHD yang mengganggu ketika mereka menjadi dewasa. diperkirakan 31% menjadi kasus ADHD dewasa (usia > 19 tahun) dan 69% kasus ADHD pada usia 3-19 tahun. 2013). 2007). alergi terhadap suatu makanan (Doengoes. Epidemiologi Sampai saat ini Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) masih merupakan masalah yang serius pada anak-anak dikarenakan ADHD masih mempunyai angka prevalensi yang tinggi pada anak-anak di seluruh dunia..3 % (Medscape. Biasanya pada waktu anak ADHD mencapai remaja atau dewasa. 2013). remaja.32 %. gejala hiperaktivitas dan impulsivitas cenderung menurun meskipun gejala inatensinya kadang. hiperaktivitas. Eropa dan Jepang. Pada penelitian yang dilakukan oleh Jyothsna pada tahun 2013 di India yang melibatkan 770 anak dengan umur antara 6 tahun dan 11 tahun tercatat prevalensi ADHD adalah sebesar 11. Etiologi LBM III “Si Pengganggu”Page 10 . kekurangan omega 3. 3.7%. 2013).kadang masih tetap ada (Aviva. atau orang dewasa (American Psychologican. Hasil penelitian ini ditemukan tertinggi pada anak dengan umur 9 dan 10 tahun dan ditemukan mayoritas pada anak-anak dengan keadaan sosio ekonomi yang rendah (Akam. sedangkan pada anak perempuan adalah sebesar 33. tidak bisa berpikir sebelum bertindak. membuat rencana realistik. psikiatrik yang cukup banyak ditemukan dengan gejala utama inatensi (gangguan pemusatan dan susah untuk fokus dalam 1 hal). Presentase yang ditemukan pada anak laki-laki sebesar 66. Peningkatan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti genetik ataupun pengaruh lingkungan yang lain. impulsivitas yang tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak. 2009). 2. Di Indonesia prevalensi anak ADHD di Indonesia semakin meningkat menjadi sekitar 5% yang berarti 1 dari 20 anak menderita ADHD.

Sampai saat ini memang belum ada teori yang menyebutkan penyebab pasti dari ADHD. orang tua. 2009). namun beberapa teori menyebutkan adanya berbagai faktor yang ikut berperan. Bila ada gangguan di bagian otak yang terkait dengan fungsi atensi. Angka kejadian saudara kembar satu telur (monozygot) anak ADHD (79%) lebih tinggi daripada saudara kembar dua telur (dizygot) (32%). makanan. Itulah sebabnya pemahaman aspek neurologis terhadap ADHD diperlukan agar dapat dilakukan penanganan sedini dan seholistik mungkin sehingga bisa mengurangi berbagai dampak negatif yang lebih buruk pada anak ADHD. 2008). maupun masyarakat (Akinbami. namun demikian tidaklah diragukan lagi bahwa faktor neurobiologi memiliki peran dan pengaruh yang cukup besar terhadap timbulnya ADHD tersebut (Vassileva. 2009). Faktor Genetik ADHD lebih sering didapatkan pada keluarga yang menderita ADHD. maka hal tersebut akan menimbulkan gangguan dalam pemusatan perhatiannya. dan karenanya hanya berbagi 50% dari gen mereka. Saudara kandung dari anak ADHD didapatkan 2-3 kali lebih banyak menderita ADHD daripada saudara anak normal (Carmen. Angka kejadian orangtua kandung dari anak ADHD lebih banyak menderita ADHD daripada orangtua angkat (Sadock. minimal brain damage. neurobiologi. diantaranya adalah : genetik. neurokimiawi. Usaha-usaha untuk mencari penyebab yang pasti dari gangguan ini memang belum menghasilkan kesepakatan yang jelas. sekolah. Kembar identik atau monozigot memiliki kemiripan gen 100%. psikososial. Hal ini bisa dimengerti mengingat atensi atau perhatian yang merupakan aktifitas mental dalam memilah berbagai macam rangsangan sensorik yang masuk untuk diberi respon. dan lain sebagainya. Jika sebuah penyakit dipengaruhi oleh faktor LBM III “Si Pengganggu”Page 11 . kembar fraternal atau dizigotik tidak lebih mirip secara genetik dengan saudara kandung. dalam prosesnya melibatkan berbagai sistim yang ada dalam otak. Sebaliknya. Keluarga keturunan pertama dari anak ADHD didapatkan lima kali lebih banyak menderita ADHD daripada keluarga anak normal. 2008).

cerebellum. biasanya menunjukkan pertumbuhan secara cepat terjadi pada usia 3-10 bulan. Studi-studi pada keluarga secara konsisten mendukung pernyataan bahwa ADHD diwariskan dalam keluarga. perencanaan. 2-4 tahun. dan pengaturan tugas individu. maka resiko penyakit kembar akan menjadi paling besar ketika saudara kembar adalah monozigot. Resiko kembar dizigotik seharusnya melebihi resiko terhadap kontrol tetapi seharusnya tidak lebih besar daripada resiko pada saudara kandung. mereka menegaskan adanya faktor genetik pada ADHD dan sekaligus menyediakan bukti-bukti untuk validitas diagnosisnya pada orang dewasa (Akam. Hasil pemeriksaan dengan menggunakan MRI didapatkan bahwa ada penurunan aktivitas metabolik di daerah. corpus callosum dan dua daerah ganglia basalis yakni globus pallidus dan nucleus caudatus. Sehingga. Beberapa anak menunjukkan kelambatan perkembangan otak (maturational delay) pada anak ADHD yang biasanya tampak gejalanya pada usia 5 tahun. 2013). Cerebellum mempunyai fungsi eksekutif yakni mengatasi masalah. 6-8 tahun. genetik. Penelitian lain menyebutkan bahwa adanya pengaruh gangguan perkembangan neurologis yang mempengaruhi timbulnya gejala ADHD. 10. Salah satunya adalah bahwa pengaruh glukosa dengan terjadinya ADHD. “reasioning”. Demikian juga dari hasil pemeriksaan PET Scan (Positron EmissionTomography) pada anak-anak ADHD didapatkan penurunan metabolisme glukose di korteks prefrontal dan frontal terutama sebelah kanan (Akinbami. Patogenesis Patofisiologi terjadinya ADHD masih sepenuhnya belum jelas.daerah di atas pada individu dengan ADHD. cortex frontalis. Penelitian dengan CT Scan dan MRI telah membuktikan bahwa ada beberapa tempat di otak yang berfungsi abnormal pada individu dengan ADHD yakni meliputi regio cortex prefrontalis. 2009). Para peneliti LBM III “Si Pengganggu”Page 12 . perhatian. dan banyak teori yang bermunculan. Studi-studi ini menemukan bahwa orang tua dengan anak- anak ADHD memiliki peningkatan dua hingga delapan kali lipat untuk resiko ADHD. Perkembangan otak yang normal.12 tahun dan 14-16 tahun. 4.

2013). Faktor-faktor yang mungkin berperan dalam terjadinya ADHD. yaitu: 1. Noradrenalin berperan penting pada fungsi kognitif yakni pada tuntutan proses yang tinggi (temporal discrimination dan timed choice reaction). memengaruhi produksi. perhatian dan keberhasilan belajar seseorang (Akam. ganglia basal. Noradrenalin diperkirakan mempunyai efek pada fungsi kognitif individu melalui “postsinaptic alpha 2A adrenergic receptor” pada neuron kortikal. Faktor genetik : Mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p memegang LBM III “Si Pengganggu”Page 13 . Pada anak ADHD terjadi hipofungsi dopamin dan noradrenalin. termasuk dopamin dan norepinefrin. Penekanan pada fungsi noradrenalin menyebabkan kesukaran melakukan tugas-tugas yang berbeda-beda (timed choice reaction) dimana tugas-tugas tampak terganggu bila dibutuhkan ketekunan khusus untuk menyelesaikan tugas tersebut. pemakaian. menyatakan bahwa ada permasalahan dalam pengaturan transmisi saraf (regulatory circuits) antara korteks prefrontal. 2013). Penyebab ADHD dipahami sebagai disregulasi neurotransmiter tertentu di dalam otak yang membuat seseorang lebih sulit untuk memiliki atau mengatur stimulus internal dan eksternal. 2010). Neurotransmiter catecholamine yakni dopamine dan norepinephrine berperan besar dalam hal atensi. pengaturan neurotransmiter lain serta beberapa struktur otak (Wiguna. Beberapa neurotransmiter. Fungsi hemisphere kanan terutama untuk mempertahankan attensi pada stimulasi baru dan fungsi hemisphere kiri terutama untuk memusatkan perhatian pada stimulasi selektif (Medscape. dan cerebellum yang diduga merupakan penyebab terjadinya gejala ADHD. konsentrasi yang dihubungkan dengan fungsi kognitif misalnya motivasi. Komunikasi dalam otak dalam area di atas menggunakan neurotransmiter dopamin dan noradrenalin.

Tanda tersebut terjadi akibat adanya pemutusan hubungan emosional yang lama. seperti melalui adopsi atau penempatan di rumah penitipan (American Psychiatric Association. suatu agonis norepinefrin. Stimulan dan beberapa obat trisiklik. 2013). palidum. berguna dalam mengobati hiperaktivitas. 2013). nukleus kaudatus kanan. LBM III “Si Pengganggu”Page 14 . peranan terjadinya ADHD. 4. 2009).kan dengan anak tanpa ADHD (American Psychiatric Association. 2. 2013). sebagai contoh. Faktor neurokimiawi : Banyak neurotransmiter telah dihubungkan dengan gejala defisit-atensi dan hiperaktivitas. dan serebelum (Antshel. Struktur anatomi : Pemeriksaan brain imaging yang dilakukan pada anak dengan ADHD menunjukkan pengecilan volume otak yang bermakna pada korteks prefrontal dorsolateral. korpus kalosum. Rapport et al. Faktor psikososial : Anak-anak dalam institusi seringkali hiperaktif dan memiliki rentan atensi rendah. Cedera otak: Telah lama diperkirakan bahwa anak yang terkena ADHD mendapat cedera otak yang minimal dan samar-samar pada sistem saraf pusatnya selama periode janin dan perinatalnya (American Psychiatric Association. serta vermis dibanding. dalam hal ini reseptor D2 dan D4 (Roger. Sebagian temuan berasal dari pemakaian banyak medikasi yang menimbulkan efek positif pada gangguan. dari National Institute of Mental Health meneliti anak dengan ADHD menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI). 3. Obat yang paling banyak diteliti dalam terapi gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas ialah stimulan yang memengaruhi dopamin maupun norepinefrin. dan gejala menghilang jika faktor pemutus dihilangkan. 2013). globus palidus kanan. kaudatus. menyatakan adanya pengecilan lobus prefrontal kanan. Stimulan meningkatkan katekolamin dengan mempermudah pelepasannya dan menghambat ambilannya. Clonidine (Catapres). desipramine (Norpramine) menurunkan 3–methoxy-4- hidroxyphenilglycol urin (MHPG) yang merupakan metabolit dari norepinefrin. 2002). Obat lain yang menurunkan hiperaktivitas ialah obat trisiklik dan dan inhibitor monoamin oksidase (MAOI) (American Psychiatric Association. 5.

yaitu (American Psychiatric Association. Orang tua mungkin tidak memperhatikan simtom ADHD 3) Kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatensi : ≥6 simtom inatensi dan ≥6 simtom hiperaktif-impulsif. dan gangguan dengan aktivitas yang berlebihan (hiperactivity). Ciri utama individu dengan gangguan pemusatan perhatian meliputi: gangguan pemusatan perhatian (inattention). Anak dengan subtipe ini kurang berperan atau mempunyai kesulitan bersama dengan anak lain. <6 simtom inatensi. gangguan pengendalian diri (impulsivity). dan tidak diakibatkan oleh kelainan fisik yang lain. Kebanyakan anak dengan ADHD mempunyai tipe kombinasi. Tidak ada tes untuk mendiagnosis secara pasti jenis gangguan ini. 4th edition tahun 2005) sebagai berikut: Sering kali tangan atau kaki tidak dapat diam atau duduknya mengeliat. Hal ini menunjukkan ADHD merupakan suatu gangguan yang kompleks berkaitan dengan pengendalian diri dalam berbagai variasi gangguan tingkah laku (Sugiarmin. 2007).geliat. Terdapat 3 subtipe ADHD. maupun emosional. tetapi tidak memberikan perhatian kepada apa yang dilakukan. 2) Predominan inatensi: Simtom terbanyak (≥6) ialah kategori inatensi dan <6 simptom dari hiperaktif-impulsif. bersifat menahun. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada anak dengan ADHD antara lain mengacu kepada DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Ciri-ciri ADHD muncul pada masa kanak-kanak awal. Mereka duduk tenang. situasi. Mengalami kesulitan untuk tetap duduk apabila diperlukan Mudah bingung oleh dorongan-dorongan asing LBM III “Si Pengganggu”Page 15 . mengingat gejalanya bervariasi tergantung pada usia. Klasifikasi dan Manifestasi Klinis Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa tidak mudah untuk membedakan penyandang ADHD terutama yang tergolong ringan dengan anak normal yang sedikit lebih aktif dibanding anak yang lainnya. dan lingkungan. 5. mental. 2013) : 1) Predominan hiperaktif-impulsif (ADHD/ HI) : Simtom terbanyak (≥6) ialah kategori hiperaktif-impulsif.

Gejala-gejala ini ada minimal selama 6 bulan dan dimulai sebelum usia 7 tahun serta gejala-gejala ini tetap ada pada saat di sekolah dan di rumah (Medscape. Diagnosis ADHD tipe inatensi (menurut DSM IV) ditegakkan bila minimal ada 6 (enam) gejala inatensi untuk waktu minimal selama 6 bulan dan didapat kurang dari 6 gejala hiperaktivitas serta dimulai sebelum usia 7 (tujuh) tahun. dimulai sebelum usia 7 tahun serta gejala-gejala ini tetap ada saat di sekolah dan di rumah (Akinbami. Gejala-gejala ini tetap ada pada saat di sekolah dan di rumah bersifat maladaptif dan tak sesuai dengan tahap perkembangan anak. 2013). LBM III “Si Pengganggu”Page 16 . Diagnosis ADHD tipe campuran (combined type) (menurut DSM IV) ditegakkan bila didapatkan 6 (enam) atau lebih gejala inatensi dan 6 (enam) atau lebih gejala hiperaktivitas impulsivitas yang tetap ada selama paling sedikit selama 6 (enam) bulan. 2009). Mempunyai kesulitan untuk menunggu giliran dalam suatu permainan atau keadaan di dalam suatu kelompok Seringkali menjawab dengan kata-kata yang tidak dipikirkan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai disampaikan Mengalami kesulitan untuk mengikuti instruksi-instruksi dari orang lain Mengalami kesulitan untuk tetap bertahan memperhatikan tugas-tugas atau aktivitas-aktivitas bermain Sering berpindah-pindah dari satu kegiatan yang belum selesai ke kegiatan lainnya Mengalami kesulitan untuk bermain dengan tenang Sering berbicara secara berlebihan. bersifat maladaptif dan tak sesuai dengan tahap perkembangan anak serta didapat kurang dari 6 (enam) gejala inatensi. Diagnosis ADHD tipe hiperaktivitas dan impulsivitas (menurut DSM IV) juga ditegakkan bila minimal ada 6 (enam) gejala hiperaktivitas dan impulsivitas. Sering menyela atau mengganggu orang lain Sering tampaknya tidak mendengarkan terhadap apa yang sedang dikatakan kepadanya Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan-kegiatan yang berbahaya secara fisik tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan akibatnya (misalnya berlari-lari di jalan raya tanpa melihat-lihat).

sering tidak mengikuti perintah secara sungguh-sungguh dan gagal menyelesaikan pekerjaan sekolah. pekerjaan rumah tangga atau kewajiban di tempat e. sering cepat menjawab sebelum pertanyaan selesai diutarakan b. sering meninggalkan tempat duduk saat di dalam kelas atau situasi lain dimana duduk diam diperlukan atau diharapkan sering lari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak sesuai c. sering interupsi saat diskusi atau mengganggu permainan saat pertandingan (menyela pembicaraan. pekerjaan (hal ini bukan disebabkan karena sikap menentang atau kurang memahami isi perintah) f. sering sukar menunggu giliran bermain c. sering tidak mendengarkan bila diajak bicara secara langsung kepadanya d. sering mengalami kesukaran dalam mengatur tugas-tugasnya dan aktivitasnya g. sering berbicara berlebihan (DSM IV). 6. mengacau permainan anak lain) d. tidak bisa diam d. Komplikasi (Sadock. sering gelisah dengan tangan atau kaki atau sering bergerak- gerak saat duduk b. sering gagal memberikan perhatian penuh sampai terperinci atau selalu berbuat kesalahan saat melakukan aktivitas pekerjaan di sekolah. sering bicara berlebihan yang tak tak sesuai dengan respon tatanan sosial (ICD X).) e. sering mengalami kesukaran mengikuti permainan atau aktivitas yang membutuhkan ketenangan (main catur. sering mengalami kesukaran dalam mempertahankan perhatian dalam tugas tertentu atau aktivitas bermain (mudah bosan) c. tempat pekerjaan atau aktivitas lain b. selalu dalam keadaan bergerak atau sering melakukan aktivitas seolah-olah mengendarai motor f. tidak menyenangi atau segan melakukan tugas-tugas yang membutuhkan perhatian mental yang cukup lama (misalnya pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah) Hiperaktivitas a. sering menghindar. halma dsb. Adapun gejala-gejala tersebut adalah sebagai berikut : Inatensi berupa a. 2008) LBM III “Si Pengganggu”Page 17 . Impulsivitas a.

Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh stimulasi dari luar. a. a. c. e. Sering lupa dalam aktivitas sehari. Sering menghilangkan atau ketinggalan hal-hal yang perlu untuk tugas atau aktivitas (misalnya tugas sekolah. gagal di sekolah. i. b. sulit membaca dan mengerjakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi).hari. f. Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali perilaku agresif dan kata. 1994) : 1) Gangguan pemusatan perhatian (inatensi) : ≥6 gejala inatensi berikut telah menetap selama sekurang. Diagnosis Kriteria diagnostik ADHD berdasarkan DSM-IV ialah satu dari kriteria (1) atau (2) berikut (American Psychiatric Association. Percaya diri rendah dan penolakan teman-teman sebaya (perilakunya membuat anak-anak lainnya marah). Sering tampak tidak mendengarkan apabila berbicara langsung. 7. e. Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain. Resiko kecelakaan (karena impulsivitas). b. Sering menghindari. IQ rendah / kesulitan belajar (anak tidak duduk tenang dan belajar). g. d. c. membenci atau enggan untuk terlibat dalam tugas yang memiliki usaha mental yang lama (seperti tugas di sekolah dan pekerjaan rumah).kurangnya 6 bulan bahkan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan. Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal yang detail dan tidak teliti dalam mengerjakan tugas sekolah. pensil. buku ataupun peralatan) h.kata yang diungkapkan). 2) Hiperaktivitas-impulsivitas : ≥6 gejala hiperaktivitas- impulsivitas berikut ini telah menetap selama sekurang. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah. Pencapaian akademik kurang. Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas dan aktivitas. atau tugas di tempat kerja (bukan karena perilaku menentang atau tidak dapat mengikuti instruksi). pekerjaan atau aktivitas lainnya. pekerjaan sehari-hari.kurangnya LBM III “Si Pengganggu”Page 18 . d.

Gejala impulsivitas ialah sebagai berikut: a.00 ADHD predominan tipe inatensi : jika kriteria A1 ditemukan tetapi kriteria A2 tidak ditemukan selama 6 bulan yang lalu. Beberapa gangguan akibat gejala ada selama dua atau lebih situasi. Sering sulit menunggu giliran. LBM III “Si Pengganggu”Page 19 . dan pekerjaan. skizofrenia. Gejala tidak semata-mata selama perjalanan gangguan perkembangan pervasif. f.01 ADHD predominan tipe hiperaktif-impulsif : jika kriteria A2 ditemukan tetapi kriteria A1 tidak ditemukan selama 6 bulan yang lalu. b. d. Tidak sabar. akademik. Sering bicara berlebihan.  314. b. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau di dalam situasi yang diharapkan anak tetap duduk. Harus terdapat bukti jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial. Sering gelisah dengan tangan dan kaki atau sering menggeliat- geliat di tempat duduk. Sering dalam keadaan “siap bergerak/ pergi” (atau bertindak seperti digerakkan oleh mesin). c. enam bulan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan. pendidikan. atau gangguan psikotik lain. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan telah ada sebelum usia 7 tahun.  314. Kode berdasarkan tipe ialah sebagai berikut:  314. Sering menyela atau mengganggu orang lain sehingga menyebabkan hambatan dalam lingkungan sosial. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya. atau fungsi pekerjaan. dan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain. e. c. sering menjawab pertanyaan tanpa berpikir lebih dahulu sebelum pertanyaan selesai.01 ADHD tipe kombinasi : jika kriteria A1 dan A2 ditemukan selama 6 bulan yang lalu. Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara tenang. Gejala hiperaktivitas ialah sebagai berikut: a.

latihan. Meskipun disebut stimulan. pada dasarnya obat ini memiliki efek yang menenangkan pada penderita ADHD (Sugiarmin. LBM III “Si Pengganggu”Page 20 . 1. 8. serta organisasi profesi lainnya di dunia seperti American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). 2013). 1994). Daftar gejala pada DSM V tidak berbeda dengan DSM IV dan IV-TR. penanganan anak dengan ADHD dilakukan dengan pendekatan komprehensif berdasarkan prinsip pendekatan yang multidisiplin dan multimodal (Wiguna. Sampai saat ini belum ada satu jenis terapi yang dapat diakui untuk menyembuhkan anak dengan ADHD secara total.  Memperbaiki pola adaptasi dan penyesuaian sosial anak sehingga terbentuk kemampuan adaptasi yang lebih baik dan matang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. 2010):  Memperbaiki pola perilaku dan sikap anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari terutama dengan memperbaiki fungsi pengendalian diri. Berdasarkan prinsip pendekatan yang multidisiplin dan multimodal ini maka terapi yang diberikan dapat berupa obat. Penatalaksanaan ADHD merupakan gangguan yang bersifat heterogen dengan manifestasi klinis beragam. Medikamentosis : Cara ini dapat mengontrol ADHD sampai 70-80%. Berdasarkan National Institute of Mental Health. juga psikoedukasi kepada orang tua. terapi kognitif dan latihan keterampilan sosial. diet. Kriteria diagnosis ADHD menurut DSM IV dan DSM IV-TR ini telah mengalami revisi melalui DSM V. 2010). pengasuh serta guru yang sehari-hari berhadapan dengan anak tersebut (Medscape. terapi perilaku. Tujuan utama penanganan anak dengan ADHD ialah (Wiguna. Obat yang merupakan pilihan pertama ialah obat golongan psikostimulan. Perbedaan yang tampak ialah pada DSM V setelah dituliskan gejala akan diberikan beberapa contoh yang dapat muncul pada penderita ADHD. termasuk contoh gejala yang timbul pada masa remaja dan dewasa (American Psychiatric Association.

Penanganan rehabilitasi medik pada anak dengan ADHD Terapi okupasi Terapi okupasi terdiri dari terapi relaksasi. Keseimbangan diet karbohidrat dan asam amino (triptophan sebagai serotonin substrate) juga dapat menjadi upaya lain. iritabel.  Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang dengan mengubah pemikiran dan persepsi terutama pola berpikirnya. Yang termasuk stimulan antara lain: amphetamine. fokus yang berlebih. 2007). serta munculnya tic (Bahtera. meningkatkan kontrol inhibisi dan memperlambat potensiasi antara stimulasi dan respon. sakit kepala. sehingga mengurangi gejala impulsif dan tidak dapat menyelesaikan tugas (Shaywitz. 2010). hilang nafsu makan. terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy). Obat ini memengaruhi sistem dopaminergik atau sirkuit noradrenergik korteks lobus frontalis-subkortikal. Efek sampingnya ialah penarikan diri dari lingkungan sosial. Belum ada bukti bahwa pemanis buatan seperti aspartam memperburuk ADHD (Mental help. 2007).. 1999). ketakutan dan ketegangan. Terapi perilaku berfokus untuk mengurangi respon kebiasaan (seperti LBM III “Si Pengganggu”Page 21 . dan terapi musik (Chu S.  Terapi relaksasi adalah terapi yang menggunakan kekuatan pikiran dan tubuh untuk mencapai suatu perasaan rileks. 2007). memperbaiki konsentrasi. meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri. 2007). Diet : Meta-analisis menemukan bahwa menghindari pewarna makanan buatan dan bahan pengawet sintetik secara statistik bermanfaat mencegah terjadinya gejala ADHD. stres. terapi snoezellen. 3. Pemberian obat psikostimulan dikatakan cukup efektif mengurangi gejala-gejala ADHD (Wiguna. serta meningkatkan kreativitas (Wiguna. sulit tidur. 2. terapi sensori integrasi. cemas. sindrom Tourette. meningkatkan kontrol diri. dextroamphetamine dan derivatnya. Terapi relaksasi bertujuan untuk dapat mengontrol ansietas. 2007). Rehabilitasi medik : Mengembangkan kemampuan fungsional dan psikologis seorang individu dan mekanismenya sehingga dapat mencapai kemandirian dan menjalani hidup secara aktif (Bahtera. 2007).

role play. perasa lidah. dan sebagainya) dengan cara mengenal situasi atau stimulus. menggunakan bahasa menarik sesuai usianya. 2013):  Anak mampu konsentrasi dan atensi terhadap satu stimulus LBM III “Si Pengganggu”Page 22 . Bentuk lain dari intervensi ini dapat juga berupa metode self recording (Hersen.  Terapi snoezellen dilakukan untuk memengaruhi sistem saraf pusat melalui pemberian rangsangan yang cukup pada sistem sensori primer (penglihatan. 2008). takut. dengan fokus memperbaiki defisit memori. Terapi sensori integrasi memberikan stimulasi sensori dan interaksi fisik untuk dapat meningkatkan integrasi sensori dan peningkatan kemampuan belajar dan perilaku. penciuman) dan juga pada sistem sensori internal (vestibular dan proprioseptif). persepsi. Terapi ini melatih kemampuan berpikir. interaksi sosial dan kemandirian fungsional. media latihan yang menyenangkan dan penuh warna. proses belajar. Intervensi pada terapi ini juga harus menarik seperti menggunakan media gambar kartun. konsentrasi dan atensi. Dalam bahasa Belanda kata snoezellen merupakan gabungan dari 2 kata.  Terapi sensori integrasi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan proses sensoris dengan cara:  Mengembangkan modulasi sensoris yang berhubungan dengan atensi dan kontrol perilaku  Mengintegrasikan informasi sensoris untuk membentuk skema persepsi baik sebagai dasar ketrampilan akademis. Tujuan terapi snoezellen pada anak ADHD ialah (Perdosri. Terapi ini merupakan terapi modalitas yang kompleks dan memerlukan partisipasi aktif pasien dan bersifat individual melalui aktivitas yang bertujuan melibatkan stimulasi sensorik untuk perbaikan organisasi dan proses neurologis. terapi ini memerlukan dukungan penuh dari orang tua atau anggota keluarga lain. serta pertimbangan. Pada anak-anak. marah. peraba. yaitu: “snufflen” yang berarti eksplorasi aktif dan “doezelen” yang berarti relaksasi atau pasif. pendengaran. membuat rencana. menggunakan pendapat dan membuat keputusan.  Fokus terapi diarahkan untuk memunculkan motivasi intrinsik anak untuk bermain interaktif dan bermakna.

suara. musik.  Rangsangan proprioseptif dan vestibular (gerakan): kursi goyang. warna. wangi-wangian dan sebagainya. dan pada lantai disesuaikan untuk merangsang sensasi keseimbangan. atmosfer.  Stimulasi pendengaran (suara): kaset relaksasi. rocking horses. secara sederhana melalui adaptasi terhadap lampu/cahaya. getaran suara dari peralatan musik. 1996) :  Stimulasi visual: serat optik semprot. Lingkungan snoezellen memberikan stimulasi langsung dan tidak langsung dari modalitas sensorik dan dapat digunakan secara individu atau berkelompok untuk memberikan pendekatan sensorik. dan tekstur kepada kebutuhan spesifik pasien. Kombinasi dari bahan berbeda pada dinding dieksplorasi menggunakan sensasi taktil. kain bertekstur. menggunakan efek lampu/cahaya. proyektor dengan gambar.  Gustatori (rasa): setiap zat makanan menyediakan rasa yang berbeda atau tekstur. Idealnya. snoezellen merupakan terapi yang tidak diarahkan dan dapat bertahap memberikan pengalaman multi sensorik atau fokus pada 1 sensorik saja.  Anak mampu rileks secara psikis sehingga mengurangi perilaku impulsif  Anak mampu memberikan reaksi yang tepat terhadap lingkungan  Anak mampu melakukan kontak dengan orang lain  Anak punya rasa percaya diri  Anak mampu mengeksplorasi lingkungan  Anak mampu rileks secara fisik yang ditandai dengan penurunan muscle tension Ruangan snoezellen khusus dirancang untuk memberi stimulasi pada berbagai sensasi.  Stimulasi taktil (sentuhan): bantal dan kasur dengan vibrasi. Peralatannya disesuaikan dengan tiap-tiap anak ADHD (Challenor.  Olfaktori (bau): aroma terapi dapat mengurangi tingkat kecemasan. LBM III “Si Pengganggu”Page 23 .

yaitu (Choleman. 1996) :  Keterampilan kognitif: Musik dapat menstimulasi dan memfokuskan atensi dan terutama untuk orang yang tidak respon dengan intervensi lain. dan alat.  Keterampilan komunikasi : Efektif untuk menstimulasi dan memotivasi bicara. Keinginan untuk berpartisipasi pada musik dapat membantu untuk mengontrol emosi yang meledak-ledak. terdapat pasir. stimulasi visual yang dinamis. lagu-lagu lembut atau musik relaksasi. Terapi musik mencakup beberapa hal. kolam ikan / akuarium. serta dapat mencapai efek positif dari harga diri. Terapi psikologi (Mental help. Terdapat beberapa macam ruang snoezellen yang ditata dengan tujuan yang berbeda contohnya (Perdosri. serta memberi ruang untuk komunikasi non-verbal. musik yang dinamis. untuk mempertahankan atensi.alat permainan aktif  Ruang natural : Ruangan alami seperti kebun bunga/taman. dan air Terapi musik merupakan terapi efektif dan alat edukasi untuk anak dengan ADHD sehingga dapat mempengaruhi perubahan keterampilan yang penting pada gangguan belajar atau perilaku. pemberian aroma ruangan dengan aroma yang lembut.  Keterampilan fisik: Terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ritme teratur dapat menstimulasi dan mengorganisasikan respon otot untuk menimbulkan rasa rileks. Seluruh intervensi terapeutik akan terstruktur dengan musik.  Keterampilan sosial : Memberi kesempatan untuk orang dengan disabilitas perkembangan untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. 2007) : LBM III “Si Pengganggu”Page 24 . tanah. mengubah mood. lampu penerangan yang lembut  Ruang aktivitas/adventure: Ruangan ini dipenuhi dengan warna-warna yang mencolok.  Keterampilan emosional : Musik memberi kesempatan untuk mengekspresikan dan merasakan berbagai emosi. 2013) :  Ruang relaksasi: Ruang ini dipenuhi dengan warna yang lembut dan tidak mencolok.

Intervensi pendidikan yang berbeda untuk orang tua disebut sebagai parent management training. penyembuhan. sehingga mereka tidak dapat cukup membantu anaknya dengan kesulitannya. penggunaannya tergantung kepada pasien dan simptomnya yang meliputi support groups. pemberian bantuan rehabilitasi dan perlindungan sosial. Terdapat berbagai pendekatan psikoterapi yang dapat dilakukan oleh seorang psikolog . serta pemberian informasi dan nasehat (Angliadi. Teknik ini meliputi operant conditioning yaitu sebuah aplikasi rewards untuk suatu perilaku yang baik dan hukuman untuk perilaku yang buruk. 2006). dan social skills training. namun kendalanya ialah orang tua dari anak ADHD memperlihatkan kekurangan yang sama terhadap diri mereka sendiri. Memperbaiki lingkungan di sekitar rumah dan sekolah dapat memperbaiki perilaku anak dengan ADHD.kondisi yang disfungsi. Manajemen di dalam kelas (edukasi kepada guru) dilakukan sama dengan parent management training yaitu guru diajari tentang ADHD dan teknik untuk memperbaiki perilaku yang diaplikasikan di ruangan kelas. 2007) : LBM III “Si Pengganggu”Page 25 . Terapi sosial medik Penanganan ADHD dalam peran sosial medik difokuskan pada bantuan perorangan dan keluarga yang kesulitan dalam penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi-fungsi sosial diakibatkan oleh kondisi. Terapi ini berkaitan dengan usaha untuk menjangkau dan memanfaatkan sumber dalam pemecahan masalah social dengan tujuan pelayanan untuk sosialisasi dan pengembangan. Strategi yang digunakan meliputi peningkatan penyusunan aktivitas di kelas atau daily feedback. Psikoterapi yang diberikan pada penderita ADHD termasuk dalam pelatihan kepada orang tua untuk memperbaiki lingkungan di sekitar rumah dan sekolah. Terapi perilaku Strategi spesifik yang dapat dilakukan untuk terapi perilaku ini ialah (Bahtera. parent training.

Saran dari psikiater. Keluarga harus menghindari keramaian. 2007). Jumlah bintang menentukan reward yang diterima). supermarket. 2007). dan pusat perbelanjaan besar yang dapat memberikan terlalu banyak stimulasi bagi anak. mereka harus ditempatkan di barisan depan sehingga mereka dapat lebih memperhatikan guru. Modifikasi lingkungan Anak-anak dengan ADHD tidak beradaptasi dengan baik untuk mengubah dan tidak berfungsi dengan baik dalam lingkungan yang sangat memberikan banyak stimulasi.  Token economy (anak mendapatkan ‘bintang’ bila menyelesaikan tugas dan kehilangan ‘bintang’ bila berjalan-jalan di kelas. Penting pula ditekankan bahwa dukungan orang tua sangat menentukan suksesnya terapi sehingga terapi perilaku ini disertai dengan edukasi dan pelatihan pasien serta keluarganya. Prognosis LBM III “Si Pengganggu”Page 26 . Seringkali. anak dengan ADHD mendapatkan keuntungan lebih dari metode mengajar satu-satu atau pengajaran dalam kelompok kecil. Obat jarang diindikasikan kecuali terdapt indikasi tertentu seperti hiperaktif atau ketidakstabilan suasana hati (Tamin. dokter anak dan social worker diperlukan dalam kasus-kasus individual karena mungkin ada kebutuhan untuk penempatan sekolah khusus atau program khusus untuk modifikasi perilaku. Di sekolah.  Response cost (misal: anak dilarang nonton TV bila tidak menyelesaikan PR). Rutinitas kelas harus diprediksi dan hanya satu tugas yang diberikan kepada anak pada suatu waktu.  Reward system (anak diberikan ‘hadiah’ bila dapat menyelesaikan tugas atau berperilaku baik). 9. Kelelahan juga harus dihindari ketika anak menjadi tak terkontrol dan hiperaktivitas meningkat ketika anak menjadi lelah (Tamin.  Time out (misal: anak yang memukul adiknya dihukum duduk di pojok ruangan selama 5 menit). Anak yang cerdas juga dapat ditempatkan dalam program sekolah normal. Rutinitas di rumah juga harus terstruktur dengan baik dan teratur.

ada yang mengalami remisi. kegagalan di sekolah.5. dan menyalahgunakan alkohol serta narkoba. a. 2. hiperaktivitas akan menghilang.3. anak dengan remisi parsial mudah menjadi antisosial. depresi dan gangguan cemas. Gejala akan lebih cenderung menetap jika terdapat riwayat keluarga. komorbiditas dengan gejala-gejala perilaku. Gejala yang pertama kali memudar ialah hiperaktivitas dan yang paling terakhir ialah distractibility. Remisi total : Anak yang mengalami remisi total akan memiliki masa remaja dan dewasa yang produktif. tetapi tetap mengalami inatensi dan kesulitan mengontrol impuls (tidak hiperaktif. mengalami kegagalan disekolah. 1.4 Apakah diagnosis banding pasien di skenario? A. b. LBM III “Si Pengganggu”Page 27 . Autisme 1. Perjalanan anak dengan ADHD bervariasi. Persisten atau menetap : Pada 40-50% kasus. dkk. sulit mempertahankan pekerjaan. Biasanya remisi terjadi antara usia 12 hingga 20 tahun. tetapi impulsif dan ceroboh). melanggar hukum. Remisi : Pada 50% kasus. dan memiliki gejala sisa yang sedikit. 2013). sulit mempertahankan pekerjaan. gejala akan persisten hingga masa remaja atau dewasa. hubungan interpersonal yang memuaskan. Definisi Kata autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ‘aut’yang berarti ‘diri sendiri’ dan ‘ism’ yang secara tidak langsung menyatakan ‘orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat didefinisikan sebagai kondisiseseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber. Pada beberapa kasus. 1985 dalam Trevarthen. mengalami gangguan mood. 1998). Remisi parsial : Pada masa dewasanya. 2. tetapi ada juga yang menetap (American Psychiatric Association. Anak ini rentan dengan penyalahgunaan alkohol dan narkoba. gejalanya akan meringan atau menghilang pada masa remaja atau dewasa muda. serta cenderung melakukan pelanggaran hukum. peristiwa negatif dalam hidupnya.

megalami kesulitan menggunakan bahasa. Dengan gejala tidak mampu bersosialisasi. tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka.untuk menghormatinya autisme juga disebut dengan sindroma keanner. dan stereotip. Etiologi Penyebab atuisme mesih terus dicari dan masih dalam penelitian parah ahli. Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika (keturunan memegang peranan penting dalam proses terjadinya autisme. Disebut fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) X 4. Leo Keanner (seorang dokter spesialispenyakit jiwa)melaporkan bahwa dia telah mendiagnosa dan mengobati pasien dengan sindroma autisme yang dia sebut infantile autisme. jarang mencari orang lain untuk memperoleh kenyamanan atau afeksi. Ketidakmampuan sosial meliputi suatu kegagalan untuk menggunakan kontak mata langsung untuk membangun interaksi sosial. Pola penurunannya tidak umum. Faktor Genetik Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. ketidaknormalan dalam berkomunikasi. berperilaku berulang-ulang.Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome X. sebenarnya dr. 1989). serta bereaksi tidak biasa terhadap rangsangan sekitar.Ini. 2. dan pola perilaku yang terbatas. Sudah sejak tahun 1938. tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindakdengan minat pada orang lain. Sedangkan menurut Dawson Autisme adalah gangguan perkembangan yang parah yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial. yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya. berulang-ulang. (Davison. a. karena LBM III “Si Pengganggu”Page 28 . jarang memprakarsai permainan dengan orang lain dan tidak memiliki relasi dengan teman sebaya untuk berbagi minat dan emosi secara timbal balik.Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%).

tepung gandum. (Dr.D. juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Sultana MH Faradz. LBM III “Si Pengganggu”Page 29 . Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. seperti opioid. Ph. Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal. seperti bahan-bahan yang mengandung susu. (Dr. bahan pewarna. dan setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi.33%) menderita alergi susu sapi. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Alergi terhadap makanan tertentu. penyedap rasa. c. dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM IV. dan ragi. 2003). tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi. 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain.66 %) alergi terhadap gluten dan makanan lain. Ketidakseimbangan Kimiawi Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Ganguan pada Sistem Syaraf Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Rentang umur antara 1 – 10 tahun. Melly Budiman. laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier). bahan pengawet. seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku. 2 orang anak (1. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat. peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak. yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi. 2003) b. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks. SpKJ. Untuk memastikan pernyataan tersebut. dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik. daging. gula. gluten dan makanan lain. ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa: 100 anak (83.

karena kesibukan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Masalah/gangguan di bidang komunikasi dengan karakteristiknya sebagai berikut: a. 3. anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau meghindari tatapan muka atau mata orang lain. b. Masalah/gangguan di bidang interaksi sosial dengan karakteristik berupa: a. atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis. misalnya bila ingin meminta sesuatu. Anak tampak seperti tuli. LBM III “Si Pengganggu”Page 30 . anak autistic lebih suka menyendiri b. c. Perkembangan bahasa anak autistic lambat atau sama sekali tidak ada. pendarahan dan keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertuimbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman komunikasi dan interaksi (Depdiknas. dan sulit bicara. nutrisi yang buruk. d. dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain. 2. Manifestasi klinis Menurut Depdiknas (2002) mendeskripsikan anak dengan autisme berdasarkan jenis masalah gangguan yang dialami anak dengan autisme. Kemungkinan Lain Autisme juga diduga dapat disebabkan oleh virus. herpes. seperti rubella. d. toxo. jamur. Karakteristik dari masing-masing masalah/gangguan itu di deskripsikan sebagai berikut: 1. Kadang-kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya. itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme. Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang. 2002). Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi senang meniru atau membeo (echolalia) e. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan.

Anak autistik kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri LBM III “Si Pengganggu”Page 31 . Anak autistik duduk bengong dengan tatapan kosong. Anak autistic sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Anak autistik tidak peka terhadap sentuhan. 6. c. Tidak tertarik bermain bersama dengan teman. Anak autistik bila mendengar suara keras langsung menutup telinga. Anak autistik tidak suka kepada perubahan d. c. Anak autistik tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan. Anak autistik tidak suka bermain dengan teman sebayanya c. Masalah/gangguan di bidang perilaku karakteristiknya berupa: a. Anak autistic tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya. baik yang sebaya maupun yang lebih tua. Anak autistik dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif). Masalah/gangguan di bidang pola bermain karakteristiknya berupa: a. d. Anak autistik kadang agresif dan merusak c. b. Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut 4. b. Masalah/gangguan di bidang emosi karakteristiknya berupa: a. seperti tidak suka dipeluk. 5. b. d. tertawa-tawa dan menangis tanpa alasan b. Anak autistic senang mencium-cium atau menjilat-jilat mainan atau benda-benda yang ada disekitarnya. anak autistik itu tidak mau dan menjauh. Anak autistik memperlihatkan stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang-goyang mengepakan tangan seperti burung. c. Masalah/gangguan di bidang sensoris degan karakteristiknya berupa: a. misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar. 3. Bila diajak bermain.

4. Terapi Tingkah laku Berbagai jenis terapi tingkahlaku telah dikembangkan untuk mendidik penyandang autisme. 2. tenaga medis antara lain dokter saraf dan dokter anak. d. Anak autistik tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada di sekitarnya. 2007) a. Cara ini paling efektif karena anak sulit memusatkan perhatiannya LBM III “Si Pengganggu”Page 32 . (Adriana Soekandar Ginanjar. meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya terutama dalam penguasaan bahasa dan keterampilan menolong diri. Penatalaksanaan Penanganan pada anak autisme ditujukan terutama untuk mengurangi atau menghilangkan masalah gangguan tingkah laku. mengurangi tingkahlaku yang tidak lazim dan menggantinya dengan tingkahlaku yang bisa diterima dalam masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang cukup mendalam tentang gangguan bicara pada anak autisme. 1. Supaya tujuan tercapai dengan baik diperlukan suatu program penanganan menyeluruh dan terpadu dalam suatu tim yang terdiri dari. Terapi wicara Terapi wicara seringkali masih tetap dibutuhkan untuk memperlancar bahasa anak. Terapi ini juga sangat penting untuk membantu penyandang autisme untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Pendidikan kebutuhan khusus Pendidikan pada tahap awal diterapkan satu guru untuk satu anak. Menerapkan terapi wicara pasda anak autisme berbeda daripada anak lain. Non Medikamentosa Beberapa penanganan yang telah dikembangan untuk membantu anak autisme antara lain. 3. tenaga terapis seperti ahli terapi wicara dan ahli terapi okupasi. tenaga pendidik.

Terapi medikamentosa ini dilakukan LBM III “Si Pengganggu”Page 33 . Mereka harus dilatih untuk mandiri. perlu bantuan keluarga baik perlindungan. b. pengasuhan. terutama soal bantu diri. 5. tanpa dukungan keluarga rasanya sulit sekali kita dapat melaksanakan terapi apapun pada individu dengan gangguan autisme. Pada dasarnya hidup dalam keluarga. dalam suatu kelas yang besar. pendidikan. Secara bertahap anak dimasukan dalam kelompok kelas untuk dapat mengikuti pembelajaran secara klasikal. mandiri. Untuk itu dibutuhkan keluarga yang dapat berinteraksi positif antar anggota keluarga dan saling mendukung. Terapi okupasi Sebagian individu dengan gangguan autisme mempunyai perkembangan motorik terutama motorik halus yang kurang baik. Penggunaan guru pendamping sebaiknya tidak terlalu dominan. dan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot halus seperti tangan. yang diharapkan adalah anak dengan gangguan autisme dapat secara terus menerus belajar dengan anak-anak lainnya dalam satu pembelajaran bersama. Dengan Medikamentosa Selain dengan terapi seperti diatas manajemen dari gangguan autisme dilakukan dengan medikamentosa. Maka seluruh keluarga di rumah harus memakai pola yang sama Agar tidak membingungkan anak. maupun dorongan untuk dapat tercapainya perkembangan yang optimal dari seorang anak. Terapi okupasi diberikan untuk membantu menguatkan. namun dapat pula ditambah anggota keluarga lain yang mempunyai pengaruh pada pengasuhan seorang anak. 4. Pola pendidikan yang terstruktur baik di sekolah maupun di rumah sangat diperlukan bagi anak ini. Otot jari tangan penting dilatih terutama untuk persiapan menulis dan melakukan segala pekerjaan yang membutuhkan keterampilan motorik halus. Oleh karena itu pengolahan keluarga dalam kaitannya dengan manajemen terapi menjadi sangat penting. Intervensi keluarga Yang dimaksud keluarga disini bisa hanya keluarga inti.

olanzapine – rizperidone bila dipakai dalam dosis yang direkomendasikan: 0. impulsivitas.25 mg setiap 3-5 hari sampai dosis inisial tercapai 1-2 mg/hari dalam 4-6 minggu.5-3 mg/hari dibagi dalam 2-3 kali/hari. Kondisi ini seringkali memerlukan medikasi dengan medikamentosa yang mempunyai potensi untuk mengatasi susana tersebut. Dosis 1-5 mg/kgBB/hari atau lebih. Dosis: 0. karena individu dengan gangguan autisme ini mempunyai variasi perilaku yang mengganggu yang seringkali menimbulkan suasana yang tegang bagi keluarganya. tapi dapat juga dengan agonis reseptor alfa adrenergik dan antagonis reseptor beta sebagai alternatif. Mulai dengan dosis rendah: 0.3 mg/hari dapat menurunkan agresivitas. temper tantrum.05 mg 2 kali sehari dinaikkan secara bertahap sampai dosis maksimum 0. Manajemen terbaik dari perilaku tersebut adalah dengan dosis rendah antipsikotik/neuroleptik.  Selain dengan terapi diatas manajemen pada anak dengan gangguan autisme juga ditangani dengan terapi perkembangan terpadu. yang dapat dinaikkan 0. temper tantrum dan hiperaktivitas. masih ditambah lagi dengan LBM III “Si Pengganggu”Page 34 .6 mg/hari dalam 3-4 kali/hari.  Agonis reseptor alfa adrenergic Clonidine (catapres) dilaporkan dapat menurunkan agresivitas.025-0.5-3 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 kali/hari  Neuroleptik tipikal potensi tinggi – haloperidol dan pimozide – dalam dosis kecil 0. atensi. hiperaktivitas.  Neuroleptik:  Neuroleptik tipikal potensi rendah – thioridazine – dapat menurunkan agresivitas dan agitasi. dan stereotipik. Perilaku yang mengganggu dan disruptive tersebut misalnya: agresi. Terapi tersebut terdiri dari terapi okupasi dengan penekanan pada terapi sensory integration yang dipadu dengan metode floor time. akan tampak perbaikan pada hubungan social.  Antagonis reseptor beta Propanolol dipakai dalam mengatasi agresivitas terutama yang disertai dengan agitasi dan ansietas.3-0.25. clozapine. iritabilitas.  Neuroleptik atipikal – rizperidone. dan gejala obsesif. dan hiperaktivitas. Namun bila anak memerlukannya.

Agar bisa melakukan floor time dengan baik. Floor time bertujuan membentuk komunikasi dua arah anatara anak dan lawan bicaranya. dan mengintepretasi input-input sensoris. orang tua perlu bimbingan psikolog yang paham dan berpengalaman dengan metode tersebut. seperti autisme. Anak yang mengalami gangguan perilaku. akan diperbaiki. Strategi visual dipilih agar sikecil lebih mudah memahami berbagai hal yang ingin anda LBM III “Si Pengganggu”Page 35 . mengatur. dan indera otot. Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. dia dapat lebih baik dalam bereaksi terhadap lingkungannya. otak tidak dapat memproses input sensoris dengan baik. Terapi sensory integration dan floor time diberikan setelah anak diketahui menyandang gangguan semua spektrum autisme. penyandang gangguan spektrum autisme lebih mampu berpikir secara visual. memproses. Akibatnya. Melalui terapi sensory integration. serta mendorong munculnya ide dan membantu anak mampu berpikir logis. terapi sensory integration harus dipadukan dengan metode floor time. dan memproses semua input sensoris yang diterima oleh panca indera. baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Terapi sensory integration adalah terapi untuk memperbaiki cara otak menerima. Sedangkan strategi visual baru diberikan bila anak sudah benar-benar siap menerima terapi ini. Dengan begitu. strategi visual. Kesiapan tersebut akan dinilai oleh terapis. dokter atau psikolog yang menangani si anak. indera keseimbangan. akan mengalami kesulitan dalam menerima dan mengintegrasikan beragam input yang disampaikan otak melalui inderanya. otak juga tidak dapat mengatur perilaku anak agar sesuai dengan lingkungannya. Terapi diet pada anak autisme adalah pemberian makanan yang bebas glutein dan kasein. Dengan begitu. Jadi mereka lebih mudah mengerti apa yang dilihat daripada apa yang didengar. kemampuan sikecil dalam menerima. Pada strategi visual umumnya. Metode bermain interaktif yang spontan dan menyenangkan bagi anak bertujuan untuk mengembangkan interaksi dan komunikasi si kecil.

dan sebagainya. Hasilnya anak tersebut terlihat seperti orang yang baru saja mengonsumsi obat-obatan yang bersifat opioid seperti morfin atau heroin. mencuci tangan. Yaitu. Melalui aliran darah tersebut. alergi. coklat dan keju. Prognosis Walaupun sebagian besar anak autisme menunjukkan perbaikan dalam hubungan social dan kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya usia. Reaksi ini biasanya muncul jika anak mengalami kebocoran usus. makanan yang mengandung glutein dan casein. perilaku hiperaktif. Kedua. Misalnya gambar urutan dari cara menggosok gigi. larangan atau aturan. ada tiga reaksi negatif yang bisa muncul jika penderita autisme mengkonsumsi glutein dan casein. aturan. sensitif pada suara tertentu. mie. dan agresif. seperti sakit perut. Reaksi alergi ini dapat termanifestasi dalam misalnya. 5. Di sisi lain terdapat makanan yang mesti dipantang anak autis. Mayoritas dari mereka tidak dapat hidup LBM III “Si Pengganggu”Page 36 . jadwal dan sebagainya lewat gambar- gambar. Misalnya roti. Dengan strategi visual diharapkan anak bisa memahami situasi. Ketiga. Terapi makanan tambahan menurut Hembing. reaksi opioid. es krim. yoghurt. intoleran atau sensitive terhadap makanan. spaghetti. Manifestasinya mirip dengan reaksi alergi. serta mengantisipasi kondisi yang akan terjadi. sampaikan. Menurut Hembing. Padahal 50% anak autis mengalami bocor usus yang disebabkan kondisi flora usus yang tak seimbang. gangguan autisme tetap meninggalkan ketidakmampuan yang menetap. Biasanya. menangis berlebihan. peptide masuk ke otak dan kemudian ditangkap reseptor opioid. bahkan depresi. susu hewan. Pertama. Reaksi ini paling merusak karena gluten dan casein akan terpecah menjadi protein tak sempurna (peptide). diprioritaskan pada upaya pemenuhan makanan tinggi protein yang menyehatkan. menurut Hembing reaksi ini adalah yang paling merusak. sakit kepala. ia akan diperkenalkan pada berbagai aktivitas keseharian. mengatasi rasa cemas.

terdapat kemajuan dibidang sosial dan pendidikan walaupun ada problem perilaku.  Seperempat dari anak autisme mempunyai prognosis yang sedang .  Sepersepuluh dari anak autisme mempunyai prognosis yang baik . kehidupan sosial yang atau hampir normal dan berfungsi dengan baik disekolah maupun tempat kerja. Hasil penelitian menemukan bahwa:  Dua per tiga dari anak autisme mempunyai prognosis yang buruk . tidak dapat mandiri. LBM III “Si Pengganggu”Page 37 . mandiri dan memerlukan perawatan di institusi ataupun membutuhkan supervise terus.

1 Kesimpulan LBM III “Si Pengganggu”Page 38 . BAB III PENUTUP 3.

2007. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (4th ed. 2007. Tanggal diakses : 7 Juni 2013. Macias MM.Tamin TZ. Symposium dan Workshop Early Detection on Neurodevelopmental Disorders. DC : American Psychiatric Publishing. penyunting. 2009. American Psychiatric Association. 2007. Washington. editor. FKUI. 2007. Bahtera T. Occupational therapy for children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Relaxation Therapy. Wistiani. Challenor YB. Jyothsna. Chu S. Jakarta. 1996. Manajemen penderita gangguan perhatian dan hiperaktivitas. The Child with Attention Deficit Hyperactivity Disorder.). Manado: Perdosri. LBM III “Si Pengganggu”Page 39 . Mexitalia. Br J Occup Ther . Boston: Butterworth Heinemann. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed. 2013. New York : Demos Medical. Antshel KM. Mellyana O. Washington. 2013. Institute of Medical Science and Research : India. Part 1: a delineation model of practice. Clinical Pediatric Neurology. Barkley RA. In : David RB. 1994. Semarang: Badan Penerbit UNDIP. Prevalence of Attention Deficit Hyperactivity Disorder in Primary School in Children.70(9):372-83.Department of Psychiatry. Memahami Spectrum Autistik Secara Holistik. Borkow RB. DC : American Psychiatric Publishing. DAFTAR PUSTAKA Adriana Soekandar Ginanjar. American Psychiatric Association.et al. In: Workshop Relaxation Therapy. Central nervous system plasticity and cognitive remediation. In : Purwanti A. Reynolds F.). Akam.

Handbook of Clinical Psychology. 4th Ed. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Depdiknas. 2002. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2008: pp 1223-1230. com/dd. In : Howlin P. Di akses tanggal 11 Maret 2018.preludemusic therapy. Children and Adolescents. Gross AM. Udwin O. Diakses tanggal 11 Maret 2018. New York: Cambridge University Press. 2008. Roger WJ.E. Lippincott Williams & Wilkins USA. Penerbit Erlangga.html.Coleman K. Townsend. Rencana asuhan keperawatan Psikiatri (terjemahan). Dictionary Of Pshycology. M. 2006. M. 2007. 2007. Jeffrey S dkk. pp: 399-411. Davison. editors. Moorhouse.php? type=doc&id=13871&cn=3. M. Psikologi Abnormal. New Jersey: John Wiley and Son. Jakarta : PB Perdosri. Synopsis of Psychiatry 9th Ed. Available from: http://www. Available from: http: //www. Doengoes. USA.net/poc/view_doc. King B. Mental help.mentalhelp.C. Gerald C dkk. Hersen M. Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar. London: Pinguin Book. 2013. ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Music therapy and developmental disabilities. 1985. Layanan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Diakes tanggal 11 Maret 2018. Blackwell Science Ltd. 1996. Nevid. Attention deficit hyperactivity disorder. Sadock BJ and Sadock VA: Attention Deficit Disorders. Outcomes in neuro. LBM III “Si Pengganggu”Page 40 . Edisi 3. 2002. Schachar R & Tannock R: Syndromes of Hyperactivity and Attention Deficit Disorder in Child and Adolescent Psychiatry by Rutter M and Taylor E. 2006. Reber Arthur S.F. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.developmental and genetic disorders. Psikologi Abnormal. Jakarta Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia.

Fletcher J. latar belakang permasalahan dan kebutuhan anak dengan GPPH dan spektrum autistik.1995. Jakarta. Wiguna T. editors. Jakarta Wiguna T. Buku Ajar Psikiatri. Gejala. Jakarta : IDI.T. 2007. Tatalaksan Perlaku pada Penyandang Autisme. H. 1999. p. 585-94. Bahan ajar anak dengan attention defisit hyperactivity disorder. 2010. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p. In : Elvira SD. LBM III “Si Pengganggu”Page 41 . In: Buku Prosiding Simposium Sehari Kesehatan Jiwa. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). 1-5. Hadisukanto G. Depdikbud. Penatalaksanaan Holistik Autisme. Pediatric Neurology Principles and Practice (3rd ed). Attention deficit hyperactivity disorder. 1997. Sutadi. Sugiarmin M.Shaywitz B. Pusat Informasi dan Penerbitan UI. editors. Jakarta Sutadi. Soemantri. 2003. Ashwal S. Shaywitz S. PBL. Psikologi Anak Luar Biasa.S. St Louis: Mosby. 2007. Makalah pada Simposium Tatalaksana Autisme WTC. In: Swiman K.