You are on page 1of 2

Dapus kadar serat

AACC. 2001. The Definition of Dietary Fiber.
Anna Poedjiadi, 1994.Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta

Setiasih, 2009 Pengantar Teknologi Pangan. PT Bumi Akasa. Jakarta

Sudarmadji,Slamet dkk. 2010. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty Yogyakarta.
Yogyakarta

Andarwulan, N., Feri K., dan Dian H. 2011. Analisis Pangan. PT. Dian Rakyat : Jakarta
Winarno, F.G. 1997. Kima Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.
Clara M. Kusharto. 2006. Serat makanan dan peranannya bagi kesehatan (Dietary Fiber and Its Role
for Health). Jurnal Gizi dan Pangan, November 2006 1(2): 45-54.

Hardinsyah & Tambunan V. 2004. Angka Kecukupan Energi, Protein dan Serat
Makanan. Dalam Soekirman et al. (Eds.), Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi
Daerah dan Globalisasi. Pro- siding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (hlm. 317-
330), 17-19 Mei. LIPI, Jakarta.
MANFAAT SERAT MAKANAN BAGI KESEHATAN KITA
Piliang dan Djojosoebagio (2002), mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan
serat kasar ialah sisa bahan makanan yang telah mengalami proses pemanasan dengan asam
kuat dan basa kuat selama 30 menit yang dilakukan di laboratorium. Dengan proses seperti
ini dapat merusak beberapa macam serat yang tidak dapat dicerna oleh manusia dan tidak
dapat diketahui komposisi kimia tiap-tiap bahan yang membentuk dinding sel. Oleh karena
itu serat kasar merendahkan perkiraan jumlah kandungan serat sebesar 80% untuk
hemisellulosa, 50-90% untuk lignin dan 20-50% untuk sellulosa.
Dapus inter

Yadav, S.P. 2002.
Performance of Effective
Microorganisms (EM) on Growth and
Yields of Selected
Vegetables.
J.
NFE
.
3(1): 35
-
38

Akasiska, R.; Somekto, R.; dan Siswandi,
The Effect Of Nutriens Concentration
And Growing Media Of Pakcoy Mustard Growth

a nd Yield in Vertical Hydroponi c System . 13(2). Journ al Of Agricultural . 47 . 2014.