You are on page 1of 53

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit hepatitis A merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang di dunia, termasuk di Indonesia (Kemenkes RI, 2014).

Menurut data WHO (2013) sebanyak 1,4 juta pasien di dunia mengalami
penyakit hepatitis A tiap tahunnya.

Hepatitis A di Indonesia muncul dalam kejadian luar biasa (KLB). Pada
tahun 2010 tercatat 6 kejadian luar biasa dengan jumlah penderita 279,
sedangkan tahun 2011 tercatat 9 kejadian luar biasa dengan jumlah penderita
550. Tahun 2012 bulan Juni, telah terjadi 4 kejadian luar biasa dengan jumlah
penderita 204 (Kemenkes, 2012).

Tahun 2012, hepatitis A juga ditemukan di Kabupaten Banyumas
sebanyak 30 kasus, dengan sebagian besar penderita adalah pelajar dan
mahasiswa (Marantika, 2013).

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2014) pada
Tahun 2011–2012 terdapat beberapa daerah yang melaporkan kejadian luar
biasa (KLB) hepatitis A antara lain Jember, Sidoarjo, Tasikmalaya, Depok,
Lampung Timur, Bogor, dan Bandung. Kelompok masyarakat yang terkena
KLB hepatitis A mayoritas terjadi pada pelajar dan mahasiswa.

Data dari klinik asrama dan Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB
menyebutkan sebanyak 28 orang diduga menderita penyakit Hepatitis A.
Penderita adalah mahasiswa yang tinggal di asrama dan rumah kost di sekitar
kampus IPB Dramaga Bogor. Adapun gejala terbanyak yang diderita adalah
demam, mual, muntah, dan air kencing berwarna kuning seperti teh
(Kemenkes RI, 2015).

2

Peningkatan prevalensi dan distribusi kasus hepatitis A selama tahun
2010–2012 di Indonesia, mengakibatkan Indonesia termasuk negara dengan
status Endemis Hepatitis (Kemenkes RI, 2014).

Jika Hepatitis A ini tidak segera ditangani dan diobati, maka dapat
menyebabkan peradangan pada hati yang bisa berujung pada kematian. Selain
itu Hepatitis A juga dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), status
kesehatan dan tingkat prestasi belajar menurun terutama dikalangan remaja
atau pelajar (Wijayanti, 2014).
Penerapan pola hidup bersih dan sehat di kalangan pelajar sangatlah sulit,
terkadang walaupun mengetahui arti hidup bersih dan sehat, tetapi mereka
tetap mengabaikannya, dan seolah-olah tidak tahu tentang arti hidup bersih
dan sehat. Misalnya, walaupun mereka tahu jajanan yang menurut kriteria
bersih tetapi mereka tetap membeli jajanan sembarang yang dainggap mereka
bahwa jajanan itu enak untuk dimakan. Padahal hal tersebut merupakan salah
satu faktor risiko untuk tertularnya penyakit Hepatitis A. Fakta tersebut
menggambarkan bahwa remaja di Indonesia kurang peduli terhadap perilaku
hidup bersih dan sehat sebagai cara pencegahan Hepatitis A (Wijayanti, 2014).

Hepatitis A mulai diidentifikasi pada tahun 1973 sebagai penyakit infeksi
karena sifatnya yang sangat menular. Sumber penularan umumnya terjadi
karena pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang
tercemar, sanitasi yang buruk dan personal hygiene yang rendah (Pusat Data
dan Informasi Kemenkes RI, 2014).

Hepatitis A dalam tindakan pencegahannya, dapat melalui kebersihan
lingkungan terutama terhadap makanan dan minuman serta melakukan
perilaku hidup bersih dan sehat (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI,
2014).

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus atau
objek yang berkaitan dengan sakit penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
lingkungan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

3

Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007) ada 3 faktor
yang mempengaruhi perilaku individu maupun kelompok yaitu faktor
presdisposing factor, enabling factor, dan reinforcing factor.

Faktor yang mempermudah (presdisposing factor) mencakup
pengetahuan, sikap, nilai-nilai budaya, persepsi, beberapa karakteristik
individu, misalnya umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan.
Faktor pendukung (enabling factor) mencakup ketersediaan sarana dan
prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Faktor pendorong
(reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan mencakup
orang tua, tokoh masyarakat dan petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Yanti tahun 2012 dengan judul
“Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Pencegahan Hepatitis B
Pada Mahasiswa Keperawatan Fikkes Di Unimus” dengan menggunakan
metode cross sectional dan teknik pengambilan sampel adalah accidental
sampling, serta uji statistik yang di gunakan adalah uji Spearman Rank.

Hasil penelitian diperoleh lebih dari 50% memiliki perilaku yang baik
dalam upaya pencegahan hepatitis B. Hal tersebut dapat dikarenakan faktor-
faktor yang mendukung terjadinya perilaku tersebut. Faktor tersebut dapat
berupa pengetahuan tentang perilaku pencegahan hepatitis B yang mereka
peroleh saat perkuliahan atau informasi dari luar seperti buku-buku atau
internet dan pengalaman praktik yang sudah pernah dilakukan (Yanti, 2012).

Selain itu sikap juga merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku
seseorang. Dalam hal ini lingkungan juga dapat mempengaruhi sikap
seseorang, dimana lingkungan mahasiswa yang mendukung akan
mengarahkan sikap yang positif dan perwujudan perilaku yang baik, begitu
pula sebaliknya. Lingkungan yang ada pada mahasiswa Keperawatan Fikkes
di Unimus khususnya, sangat mendukung terjadinya perilaku baik dalam
upaya pencegahan hepatitis B (Yanti, 2012).

4

Penelitian sebelumnya juga dilakukan Ratnajuwita tahun 2013 dengan
judul “Pengetahuan, Sikap Terhadap Perilaku Pencegahan Transmisi Hepatitis
B Saat Melayani Kontrasepsi Implan Pada Bidan Desa Di Puskesmas
Kabupaten Puworejo 2013” dengan metode cross sectional dan teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, serta uji statistik
yang digunakan adalah uji chi square.

Hasil penelitian dengan variabel independen mencakup faktor
pengetahuan, sikap dan karakteristik responden (pendidikan, umur dan lama
kerja) adalah tidak ada hubungan antara umur dengan perilaku pencegahan,
tidak ada hubungan pendidikan dengan perilaku pencegahan, tidak ada
hubungan antara lama kerja dengan perilaku pencegahan, tidak ada hubungan
antara lama kerja dengan perilaku pencegahan, ada hubungan antara
pengetahuan dengan perilaku pencegahan, serta tidak ada hubungan antara
sikap dengan perilaku pencegahan (Ratnajuwita, 2013).

Berdasarkan permasalahan perilaku pencegahan hepatitis dari hasil
penelitian sebelumnya, peneliti melakukan survei awal pada tanggal 19 Mei
2017 di Puskesmas Moch Ramdhan. Dari hasil pendataan, ditemukannya
kasus hepatitis A pada salah satu wilayah kerja Puskesmas Moch Ramdhan
yaitu pada kelurahan Ciaeteul Kecamatan Regol.

Terdapat 9 penderita hepatitis A yang masing-masing tersebar pada RW
01 yaitu 4 orang (usia 7 tahun-23 tahun), RW 02 yaitu 3 orang (usia 15 tahun-
52 tahun), RW 04 yaitu 1 orang (usia 5 tahun) dan RW 05 yaitu 1 orang (usia
16 tahun). Dan pada tanggal 8 Juni 2017, status penderita hepatitis A menjadi
15 orang dengan ditemukannya penambahan 6 penderita hepatitis A di RW 09
(usia 16-22 tahun) Ciateul Kecamatan Regol Bandung (Laporan Bulanan
2017, Puskesmas Moch Ramdhan).

Dari hasil laporan, kejadian hepatitis A belum pernah terjadi selama 2
tahun terakhir ini di wilayah Puskesmas Moch Ramdhan (Laporan Tahun
2015-2016, Puskesmas Moch Ramdhan).

5

Puskesmas Moch Ramdhan adalah salah satu Puskesmas Jejaring dari
UPT Puskesmas Pasundan sejak tahun 2008 yang terletak di Kelurahan
Ciateul Kecamatan Regol. Memiliki 3 wilayah kerja yaitu Kelurahan Ciateul,
Kelurahan Cigereleng dan Kelurahan Ciseureuh dengan batasan wilayah kerja
sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Pungkur dan Balong Gede,
sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Nyengseret dan Kelurahan
Karasak, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Wates dan sebelah
Timur berbatasan dengan Kelurahan Ancol dan Kelurahan Pasirluyu. Adapun
kelurahan Ciateul terdiri dari 9 RW yang memiliki 2084 KK yang
sebagiannya memiliki mata pencaharian sebagai pedagang (Laporan Tahun
2016, Puskesmas Moch Ramdhan).

Penyakit hepatitis A dapat memberikan kerugian ekonomi dan sosial
karena lamanya masa penyembuhan dengan rasa lelah yang dapat
berlangsung selama beberapa bulan seiring dengan penyembuhan di dalam
hati. Penyakit ini juga tidak memiliki pengobatan spesifik yang dapat
mengurangi lama penyakit, sehingga dalam penatalaksana hepatitis A,
tindakan pencegahan adalah yang paling diutamakan (Kemenkes, 2012).

Pencegahan termasuk ke dalam bentuk perilaku, dengan melakukan
perilaku pencegahan hepatitis A seperti imunisasi, tidak mengkonsumsi
makanan dan minuman secara bersama dan mencuci tangan pakai sabun,
maka seseorang dapat terhindar dari penyakit hepatitis A (Sakti, 2012).

Pengetahuan menjadi titik awal dalam membangun sebuah kesadaran,
pelajar dan mahasiswa menjadi agen yang efektif untuk membantu
menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran akan hepatitis A.
Pelajar dan mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan karena usia,
kualifikasi pendidikan dan budaya mempunyai pengaruh dalam pengetahuan
dan kesadaran hepatitis subjek (Pathmanathan dkk, 2014).

Jumlah kasus hepatitis A di Kelurahan Ciateul terbanyak ditemukan di
RW 09 pada kelompok usia remaja sebagai pelajar dan mahasiswa dengan
usia 12 tahun-22 tahun (Laporan Bulanan Puskesmas Moch Ramdhan, 2017).

Higiene perseorangan dalam rangka mencegah agar tidak tertular hepatitis A antara lain seperti perilaku cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar menggunakan sabun. Berdasarkan hal tersebut maka tema penelitian ini ingin mengindentifikasi faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku remaja (predisposing factor) dalam pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul Kecamatan Regol. 6 Menurut sasoka. sering bergantian menggunakan botol minum atau gelas dengan teman serta memiliki teman sekamar atau sekelas yang lebih dulu menderita hepatitis A. dan kebiasaan minum air tanpa dimasak. dkk (2012) dalam penelitiannya tentang “Hubungan Antara Higiene Perseorangan Dengan Kejadian Hepatitis A Pada Pelajar/Mahasiswa Di Kecamatan Sumbersari” menyatakan bahwa. Sikap mahasiswa dalam menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya dinilai kurang terutama untuk pencegahan terhadap hepatitis A. . Perilaku ini dapat menjadi penyebab pelajar/mahasiswa terkena hepatitis A. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas. diharapkan hasil penelitian ini dapat menemukan faktor faktor yang mungkin bisa dijadikan bahan masukan untuk melakukan promosi kesehatan terhadap upaya pencegahan penyakit hepatitis A. maka rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut: “adakah pengaruh faktor predisposisi terhadap perilaku remaja dalam pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul kecamatan Regol Bandung ?”. B. perilaku sering bertukar alat makan dengan teman. pelajar/mahasiswa yang menderita hepatitis A mayoritas memiliki higyene perseorangan yang buruk.

Mengetahui pengaruh pengetahuan dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Mengetahui pengaruh sikap dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. d. Manfaat untuk peneliti selanjutnya . b. Tujuan Penelitian 1. e. c. Mengetahui pengaruh pendidikan dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Mengetahui pengaruh usia dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. c. Manfaat penelitian bagi STIK Immanuel Bandung Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi tentang pengetahuan kesehatan terutama tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku terhadap pencegahan hepatitis A. 2. Manfaat Praktis a. Tujuan Khusus a. Manfaat Penelitian 1. D. 7 C. Manfaat penelitian bagi puskesmas Moch Ramdhan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk meningkatkan kebijakan dalam mencegah terjadinya hepatitis A. Mengetahui gambaran karakteristik remaja mencakup usia dan pendidikan di RW 09 Ciateul. Tujuan Umum Mengetahui pengaruh faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul Kecamatan Regol Bandung. b.

Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan sebagai pengembangan studi kesehatan masyarakat dalam tema. 8 Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan sebagai data awal dalam melakukan penelitian selanjutnya serta dapat digunakan untuk pengembangan dalam mengaplikasikan penelitian tentang faktor- faktor yang memepengaruhi perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A. faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A. 2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . serta menjadi pembelajaran dalam upaya meningkatkan pelayanan promosi kesehatan di masyarakat.

2013). 2013). 2014). 3. yaitu: a. 2.Terdapat gejala demam ringan. Hepatitis A merupakan infeksi virus hepatitis A (VHA) yang bersifat akut. Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium. 9 A. Diikuti urine berwarna9 gelap yang mengandung bilirubin (biasanya tidak ada dalam urine). Hepatitis 1. mual-mual. Fase ikterik . hepatitis A merupakan penyakit hati paling banyak dilaporkan (Kapita Selekta Kedokteran. penyakit kuning (kulit dan mata menjadi kuning). ikterus yang semakin meningkat dan pembesaran hati ringan dan sering terasa nyeri. muntah. tinja pucat. sembuh spontan tanpa gejala sisa dan tidak menyebabkan infeksi kronik ( Patogenis. hilang napsu makan. Secara global dan di Indonesia. gastritis maupun arthtitis. nafsu makan hilang. Hepatitis A merupakan jenis hepatitis yang ringan. 4. Fase pre-ikterik Dengan keluhan yang tidak khas ini. 2013). Cara penularan Penyakit hepatitis A menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A (fecal-oral) (Patofisiologi. Pengertian hepatitis A Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatis A dan merupakan penyakit endemis di beberapa negara berkembang. Penyebab hepatitis A Penyebab penyakit hepatitis A adalah virus hepatitis A (Patofisiologi. b. mual. air kencing (urin) berwarna tua. bersifat akut. nyeri dan rasa tidak enak di perut. sering terjadi diduga sebagai penderita influenza. Gejala penyakit hepatitis A Gejala dapat berupa demam tiba-tiba.

. kemudian menurun secara perlahan-lahan. hal ini bisa berlangsung sekitar 10-14 hari. ataupun tanpa disadari orang lain yang melihat sklera dan kulit berwarna kekuning-kuningan. Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. menetap. Pencegahan hepatitis A Beberapah cara yang dilakukan untuk mencegah penyakit hepatitis A. c. 5. yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian. Selama 2 minggu setelah gejala pertama atau 1 minggu setelah penyakit kuning muncul. sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan. Pada fase ini (ikterik) kuningnya akan meningkat. 10 Fase ini pada awalnya disadari oleh penderita. ikterus mulai menghilang. oenderita meras segar kembali walupun mungkin masih terasa cepat lelah. penderita disarankan untuk di isolasi. Umumnya masa penyembuhan secara klinis dan biokimiawi memerlukan waktu sekitar 6 bulan. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan ddilakukan dua kali. Fase penyembuhan Fase penyembuhan dimulai dengan menghilangya sisa gejala. 2012): a. biasanya setelah demam turun penderita menyadari bahwa urine berwarna kuning pekat seperti air teh. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri (Havrix) atau bentuk kombinasi dengan waksin hepatitis B (Twinrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B (Twinrix). Pada stadium ini keluhan sudah mulai berkurang dan pasien merasa lebih baik. Orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi seperti penghuni asarama dan mereka yang sering jajan di luar rumah. yaitu (Sakti.

d. Hal ini penting diketahui masyarakat agar dapat meningkatkan kesadaran untuk melakukan praktk cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan sehari-hari. Tidak menggunakan alat makan atau minum seperti sedotan. diare. punggung tangan. Waktu cuci tangan pakai sabun yang harus diperhatikan yaitu (Kemenkes. dan piring secara bersama atau bergantian. 2011): 1) Sebelum makan 2) Sebelum menghidangkan makanan 3) Sebelum memberikan makanan bayi/balita 4) Sesudah buang air besar/kecil 5) Sesudah memegang hewan Pada kondisi tertentu misalnya di sekolah. 11 b. Cuci tangan pakai sabun Cuci tangan pakai sabun merupakan salah satu cara untuk menurunkan penyebaran penyakit seperti ISPA. yaitu (Kemenkes. cuci tangan pakai sabun dapat saja dilakukan pada saat (Kemenkes. . gelas. d) Bilas sampai bersih dan keringkan dengan lap bersih. Menggunakan air minum dan makanan yang bebas dari kontaminasi. Flu burung dan hepatitis A. c. 2011): a) Mulailah mencuci tangan dengan air mengalir b) Gunakan sabun dan gosok sampai berbusa c) Lakukan tujuh langkah mencuci tangan dengan benar (menggosok telapak tangan. anatar jari dan bawah kuku) selama 20 detik. 2011): a) Setelah bermain/berolahraga b) Setelah bersin c) Setelah mengucek mata d) Setelah membuang ingus e) Setalah memegang alat tulis f) Setalah gotong royong/ bekerja Cara cuci tangan yang benar.

2. bentuk respons terhadap stimulus dalam perilaku dapat dibedakan menjadi 2 (Dua) bentuk. baik lingkungan fisik . Perilaku tertutup (Covert Behavior) Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. ekonomi. pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian. maupun non fisik dalam bentuk sosial budaya. Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan. b. 12 B. Perilaku terbuka (Overt Behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan. yaitu : a. minuman. Pengertian Dari aspek biologis. Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2005). atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau Observable Behavior. perasaan. Bentuk Unobservable Behavior atau atau Covert Behavior yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap. Dari batasan ini. Perilaku itu terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni : stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal). politik. perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Skinner dalam Notoatmodjo (2005). dan respons merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). makanan. yakni : . persepsi. Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan. dan pelayanan kesehatan. dan sebagainya. perilaku kesehatan pada garis besarnya dikelompokkan menjadi 2 (Dua) kelompok. Perilaku 1.

Domain Perilaku Menurut Notoatmodjo (2007). yang mencakup hak-haknya (Rights). Hal ini berarti . 3. b. 13 a. yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit (The sick role). meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang atau anaknya bila sakit atauterkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan atau terlepasnya dari masalah kesehatan tersebut (Notoatmodjo. Hakdan kewajiban ini harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya). Perilaku orang yang sakit atau telah terkena masalah kesehatan. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat dan meningkat adalah perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit dan penyebab penyakit atau masalah atau penyebab masalah kesehatan (perilaku preventif/pencegahan). untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatannya. dan kewajiban sebagai orang sakit (Obligation). Becker dalam Notoatmodjo (2010) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan yaitu : a. Perilaku sakit (Ilness Behavior) adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit atau terkena masalah kesehatan untuk mencari penyembuhan atau untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. 2010). namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. c. dan perilaku dalam mengupayakan meningkatnya kesehatan (perilaku promotif) (Notoatmodjo. 2010). orang yang sedang sakit mempunyai peran (Roles). Perilaku peran orang sakit dari segi sosiologi. Perilaku sehat (Healthy Behavior) adalah Perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan b.

namun respons tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. keinginan. Determinan atau faktor eksternal. yakni faktor perilaku dan faktor di luar perilaku. Determinan Perilaku Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan resultansi dari berbagai faktor. 4. . Faktor determinan perilaku itu ditentukan atau dipengaruhi oleh perilaku (individu. sikap dan sebagainya (Notoatmodjo. yakni : a. politik. persepsi. Faktor-faktor predisposisi (Predisposing Faktors). Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. dan sebagainya. tingkat emosional. yakni karakteristik orang yang bersangkutan. baik internal ataupun eksternal (lingkungan). Determinan atau faktor internal. yaitu: a. Teori Lawrence Green Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor. motivasi. persepsi. misalnya : tingkat kecerdasan. antara lain teori Lawrence Green dan WHO (World Health Organization). kehendak. yakni lingkungan fisik. Secara lebih terperinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan. Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Notoatmodjo (2007) membaginya menjadi 2 (Dua) bagian. beberapa karakteristik individu. b. Untuk membedakan determinan perilaku. jenis kelamin. misalnya umur. kelompok atau masyarakat) itu sendiri. 2003). 5. minat. sikap. ekonomi. tingkat pendidikan. keluarga. sosial budaya. nilai-nilai budaya. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 (tiga) faktor. jenis kelamin dan sebagainya. seperti pengetahuan. 14 meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang. pekerjaan dan sebagainya. Faktor predisposisi mencakup pengetahuan. yang bersifat given atau bawaan.

Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit sesuai dengan tingkatan-tingkatan pemberian pelayanan kesehatan yang menyeluruh atau sesuai dengan tingkatan pencegahan penyakit. 2007). 6. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior) c. persepsi. dan sikap). Perilaku peningkatan dan pemeliharan kesehatan (health promotion behavior) b. Pada manusia khususnya dan pada berbagai spesies hewan umumnya memang terdapat bentuk – bentuk perilaku instinktif (species–specific behavior)yang didasari oleh kodrat untuk mempertahankan kehidupan. Maksudnya. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) d. Perilaku pemulihankesehatan (health rehabilitation behavior) 7. maupun aktif (praktik) yang dilakukan sehubungan dengan sakit dan penyakit. Salah satu karakteristik reaksi perilaku manusia yang menarik adalah sifat diferensialnya. satu stimulus dapatmenimbulkan lebih dari . yaitu: a. Perilaku terhadap sakit dan penyakit Perilaku tentang bagaimana seseorang menanggapi rasa sakit dan penyakit yang bersifat respons internal (berasal dari dalam dirinya) maupun eksternal (dari luar dirinya). c. 15 b. Faktor-faktor pendukung (Enabling Faktors) Faktor pendukung mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Faktor-faktor pendorong (Reinforcing Factors) Faktor pendorong (reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan mencakup orang tua. tokoh masyarakat dan petugas kesehatanlingkungan (Notoatmodjo. baik respons pasif (pengetahuan. Perilaku Pencegahan Penyakit Psikologi memandang perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupunbersifat kompleks.

Lewin (1951. 2007). Teori tindakan beralasan mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan dan dampaknya terbatas hanya pada 3 hal yaitu : a. 2007) merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. pada norma–norma subjektif dan pada kontrol perilaku yang dia hayati. Perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma – norma subjektif (subjective norms)yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks. b. Dalam teori perilaku terencana keyakinan–keyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku. nilai – nilai.dalam buku Azwar. teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya. Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determinan bagi intensi yang pada gilirannya akan menentukan apakahperilaku yang bersangkutandilakukan atau tidak (Azwar. Menurut Leavel dan Clark yang disebut pencegahan adalah segala kegiatan yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung untuk . Sikap terhadapsuatu perilaku bersama norma–norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif. Perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. 16 satu respon yang berbeda dan beberapa stimulusyang berbeda dapat saja menimbulkan satu respon yang sama. c. Secara sederhana. sifat kpribadian dan sikap yang saling berinteraksi pula dengan faktor – faktor lingkung dalam menentukan perilaku. bahkan kadang – kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu.

2) Isolasi terhadap penyakit menular. yang terkena penyakit infeksi akibat seks bebas dan Pelayanan Keluarga Berencana. 1) Mencari kasus sedini mungkin. bahan-bahan racun maupun alergi. 2007): a. b. 3) Pengawasan selektif terhadap penyakit tertentu misalnya kusta. 1) Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah terhadap penyakit – penyakit tertentu. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit tertentu (Spesific Protection). c. 2) Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan. 3) Perlindungan terhadap keamanan kecelakaan di tempat-tempat umum dan ditempat kerja. 2) Melakukan pemeriksaan umum secara rutin. kanker serviks. 4) Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita. 2007). Peningkatan kesehatan (Health Promotion) 1) Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitas. Menggunakan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (Early Diagnosis and Promotion). . Pencegahan berhubungan dengan masalah kesehatan atau penyakityang spesifik dan meliputi perilaku menghindar (Notoatmodjo. 5) Mencari orang-orang yang pernah berhubungan dengan penderita berpenyakit menular.TBC. 4) Perlindungan terhadap bahan–bahan yang bersifat karsinogenik. Tingkatan pencegahan penyakit menurut Leavel dan Clark ada 5 tingkatan yaitu (Notoatmodjo. 17 mencegah suatu masalah kesehatan atau penyakit. 3) Peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat antara lain pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja yang hamil diluar nikah.

Pemulihan kesehatan (Rehabilitation) 1) Mengembangkan lembaga – lembaga rehablitasi dengan mengikutsertakan masyarakat. 2008). d. 8. observasi merupakan prosedur yang berencana. 3) Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat mampu mempertahankan diri. Terstruktur . e. 2012) Jenis pengukuran observasi dibedakan menjdai dua. 4) Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutannya harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit. 2007). a. yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telahdilakukan beberapa jam. Pengukuran perilaku Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tindakan. 2) Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan. yaitu terstruktur dan tidak terstruktur (Nursalam. mendengar dan mencatat sejumlah aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti (Notoatmotdjo. Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden (Notoatmodjo. Dalam penelitian. 18 6) Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus. 2) Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberi dukungan moral. 3) Perbaikan fasilitas kesehatan bagi pengunjung untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif. yang antar lain meliputi melihat. setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan. Pembatasan kecacatan (Dissability Limitation) 1) Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjut agar terarah dan tidak menimbulkan komplikasi. hari atau belan yang lalu (recall).

Dalam melakukan pengamatan penelitian tidakmenggunakan instrumen yang telah baku. Umur seseorangdemikian besarnya dalam mempengaruhi pengetahuan. 2012). Dalam melaukan pengamatan penelitian menggunakan istrumen peneliti yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Sugiyono. Tidak terstruktur Observasi tidak terstruktut adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. b. 2012) yaitu: a. 19 Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis. Baik : jika skor jawaban x ≥ (µ+1. Pengukuran perilaku manusia dapat dikategorikan menjadi tiga (Azwar.0σ) c.0σ) Keterangan : µ : 1/2 (X maks+Xmin) x total item petanyaan σ : 1/6 (Imaks-Imin) Xmaks : skor tertinggi pada 1 item pertanyaan Xmin : skor terendah pada 1 item pertanyaan Imaks : jumlah total skor tertinggi Imin : jumlah total skor terendah C. Pengertian Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai dengan tahun terakhir seseorang melakukan aktifitas. tentang apa yang akan diamati. Semakin lanjut . Usia 1. Cukup : jika skor jawaban (µ+1. kapan dan dimana tempatnya.0σ) ≤x<(µ+1.0σ) b. Kurang: jika skor jawaban x < (µ+1. sikap danperilaku. 2012). tapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan (Sugiyono.

Masa dewasa Akhir = 36. 2003).45 tahun g. Masa Lansia Awal = 46. 2. Masa balita = 0 – 5 tahun b. 20 umurnya semakin lebih bertanggung jawab. kepribadian. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. lebih tertib. Pendidikan 1. serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Notoatmodjo. lebih bermoral dan lebih berbakti dari pada usia muda (Notoatmodjo. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2007) pendidikan adalah ilmu yang mempelajari serta memproses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang. Pengertian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Masa remaja Akhir = 17 – 25 tahun e.35 tahun f.55 tahun h. masyarakat. Kategori Umur Menurut Depkes RI (2009): a. Masa kanak-kanak = 5 – 11 tahun c. Masa Lansia Akhir = 56 – 65 tahun i. akhlak mulia. pengendalian diri. . bangsa dan Negara (UU No 20 Tahun 2003). Usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan proses dan cara. Masa Manula = 65 – sampai atas D. kecerdasan. akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Masa dewasa Awal = 26. kecerdasan. 2003). pengendalian diri. kepribadian. Masa remaja Awal = 12 – 1 6 tahun d.

2009. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi bila seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 21 2. Pendidikan Tinggi: 1) Akademi 2) Institut 3) Sekolah Tinggi 4) Universitas Pendidikan yang tinggi dipandang perlu karena tingkat pendidikan yang tinggi dapat meningkatkan taraf hidup dan membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan. Semakin tinggi pendidikan akan mudah menerima hal – hal yang baru dan mudah menyesuaikan diri dengan masalah – masalah baru (Widyastuti. Semakin tinggi pendidikan seorang maka ia semakin mampu mandiri dengan sesuatu yang menyangkut diri mereka sendiri. p. Pengetahuan 1. Menurut UU RI no 20 tahun 2003.161). Seseorang yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berperilaku hidup sehat bila dibandingkan dengan yang memiliki pendidikan rendah. Pendidikan Menengah: 1) SMU dan Kejuruan 2) Madrasah Aliyah c. Penginderaan . ditinjau dari sudut tingkatannya jalur pendidikan terdiri dari : a. E. Pendidikan Dasar: 1) SD / MI 2) SMP / MTS b.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo S. 22 terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan. perabaan dan pengecapan. pendengaran. c. Sintesis . menyebutkan contoh. Proses Tingkat Pengetahuan Menurut Kholid (2014). Memahami Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. 2. Tahu Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. rumus. tingkat pengetahuan seseorang secara rinci terdiri dari: a. d. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. b. 2011). prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lainnya. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. e. Analisa Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. mengumpulkan. tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. penciuman. metode. Aplikasi Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum.

Cara tradisional atau non-ilmiah 1) Cara coba salah Coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil. berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokan menjadi dua. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang dikemukakan adalah benar. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Kholid (2014). 3. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah di masa lalu. yaitu: a. 3) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. baik melalui induksi maupun . 2) Cara kekuasaan atau otoritas Prinsip dari cara ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai aktivitas tanpa terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenaran baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. maka akan dicoba dengan kemungkinan lain. Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau suatu objek. 4) Melalui jalan pikiran Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan. manusia telah menggunakan jalan pikirannya. 23 Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun simulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

berulang dan banyak tantangan. Faktor eksternal 1) Faktor lingkungan . Deduksi adalah proses pembuatan kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus. Faktor internal 1) Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Cara modern atau ilmiah Dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan cara mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek penelitiannya. Faktor. 2) Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya. 3) Usia Usia adalah umur individu yang terhitung saat lahir sampai berulang tahun. 4. Semakin cukup umur. 24 deduksi. tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Wawan & Dwi (2012). Pada umunya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin muda menerima informasi. b. menyita waktu. b. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan akan tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah. Induksi adalah proses pembuatan kesimpulan melaului pernyataan-pernyataan khusus pada umumnya. yakni: a.

2011). a. 25 Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. 5. Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi indivdual. pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. 2) Sosial budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat dipengaruhi dari sikap dalam menerima informasi. 2011). jika menjawab 56%-75% c. dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kurang. Cukup. jika menjawab benar >75% b. F. Baik. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pengetahuan telinga (Notoatmodjo. Respon evaluatif . Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo. tetapi hanya dapat ditafsir terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. jika menjawab benar <56% (Riyanto. Sikap adalah keteraturan dalam hal perasaan (afeksi). Sikap 1. Pengertian sikap Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat. 2011) . Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan.

3. pikiran. sikap juga mempunyai tingkatan-tingkatan berdasarkan intensitasnya. dalam Notoatmodjo.negatif. Komponen pokok sikap Dalam bagian lain Allport (1954. menyenangkan . 2. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. c) Menghargai (valuing) .tidak menyenangkan. 2014) bahwa sikap tidaklah sama dengan perilaku. b) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar. pengetahuan. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu. 26 berarti bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap timbulnya didasari oleh proses evaluasi alam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai buruk-baik. 2013) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok yaitu: a) Kepercayaan (keyakinan). Dalam penentuan sikap yang utuh. 2015). Tingkatan-tingkatan sikap Seperti halnya pengetahuan. ide dan konsep terhadap suatu objek b) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek c) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave) Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. positif . Menurut Sarwono (1993. dalam Kholid. yakni: a) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). sebab sering kali terjadi bahwa seseorang memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. keyakinanan emosi memegang peranan penting.

pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali terhadap suatu objek. atau seseorang yang berarti khusus bagi kita. yakni: a) Pengalaman pribadi Untuk menjadi dasar pembentuk sikap. Seseorang yang dianggap penting yaitu seseorang yang diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita. akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap. kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoatmodjo. Middlebrook (1974. Pembentuk sikap Dalam interaksi sosial. Karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (2015). Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis. individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikoligis yang dihadapi. 4. b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting Pada umunya. d) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. seseorang yang tidak ingin dikecewakan. c) Pengaruh kebudayaan . 27 Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 2015). 2010). individu cenderung untuk memiliki sikap yang konfirmis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. alam Azwar.

28 Kebudayaan telah menanamkan gaaris pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah. diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. 2015). akan memebrikan dasar afektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. f) Pengaruh faktor emosional Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. karena kebudayaan pula yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal yang memeberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang mengarahkan opini seseorang. apabila cukup kuat. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya. Sikap demikian dapat merupakan sikap sementara dan segera berlalu setelah frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. Pesan-pesan sugesti yang membawa informasi tersebut. Pemahaman akan baik dan buruk. Pengukuran sikap Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku manusia adalah masalah pengungkapan (assesment) atau pengukuran (measurement) sikap (Azwar. 5. d) Media massa Penyampaian informasi sebagai tugas pokok. e) Lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan oleh keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai suatu penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. .

Orang yang setuju. 29 Sax (1980. Metode pengungkapan sikap secara hirostorik menurut Azwar (2015). sebaliknya mereka yang tidak mendukung dikatakan sebagai sikap yang arahnya negatif. yaitu menyangkut sejauh mana kesiapan individu untuk menyatakan sikap secara spontan. artinya kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arah mungkin tidak berbeda. dalam azwar. mendukung atau memihak terhadap suatu objek sikap berarti memiliki sikap yang arahnya positif. maksudnya kesetujuan atau ketidak setujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat mencakup banyak aspek yang ada pada objek sikap. e) Spontanitas Karakteristik sikap yang terakhir adalah spontanitas. yakni: a) Arah Sikap mempunyai arah. Konsistensi sikap diperlihatkan oleh kesesuaian sikap antar waktu. yakni: a) Observasi perilaku . b) Intensitas Sikap memiliki intensitas. 2015) menunjukan beberapa karakteristik (dimensi) sikap. apakah mendukung atau tidak mendukung terhadap suatu objek. d) Konsistensi Sikap juga memiliki konsistensi. maksudnya adalah kesesuaian antara pernyataan sikap yag dikemukakan dengan responnya terhadap suatu objek sikap. artinya sikap terpilih pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak. c) Keluasan Sikap juga memiliki keluasan.

b) Penanyaan langsung Asusmsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna pengungkapan sikap. Item tunggal terlalu terbuka terhadap sumber eror pengukuran. Dari respon subjek pada setiap pernyataan kemudian dapat disimpulkan mengenai arah dan intensitas sikap seseorang. d) Skala sikap Metode pengungkapan sikap dalam bentuk self-report yang hingga kini yang dapat paling diandalkan adalah dengan menggunakan daftar pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh individu yang disebut sebagai skala sikap. Beberapa bentuk . Cara pengungkapan sikap dengan penanyaan langsung memiliki keterbatasan dan kelemahan yang mendasar. sebab perilaku merupakan salah satu indikator sikap individu. skala Likert digunakan untuk mengukur sikap. pendapat. Menurut Hidayat (2009). 30 Untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu kita dapat memeperhatikan perilakunya. Masalah utama dalam pengukuran dengan item tunggal adalah masalah relibialitas hasilnya. yakni: 1) Asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tau mengenai dirinya sendiri. Metode ini menghasilkan ukuran yang valid hanya apabila situasi dan kondisinya memungkinkan kebebebasan berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik. 2) Asumsi keterus terangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya. persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang ada di masyarakat atau yang dialaminya. c) Pengungkapan langsung Suatu revisi metode penanyaan langsung adalah pengungkapan langsung secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item ganda.

Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai Sangat puas : SP 4 Sangat puas : SP 1 Puas :P 3 Puas :P 2 Tidak puas : TP 2 Tidak puas : TP 3 Sangat tidak puas : STP 1 Sangat tidak puas : STP 4 Cara interpretasi dapat berdasarkan persentasi sebagai berikut (Hidayat. tidak penting dan sangat tidak penting. Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai Sangat penting : SP 4 Sangat penting : SP 1 Penting :P 3 Penting :P 2 Tidak penting : TP 2 Tidak penting : TP 3 Sangat tidak penting : 1 Sangat tidak penting : 4 STP STP c) Pernyataan sangat puas. puas. tidak puas dan sangat tidak puas. 31 jawaban pertanyaan atau pernyataan yang masuk dalam kategori skala Likert adalah sebagai berikut: a) Pernyataan sangat setuju. penting. 2009): a) Angka : 0 – 25 % : Sangat tidak setuju (sangat tidak baik). b) Angka : 26 – 50% : Tidak setuju (tidak baik) . tidak setuju dan sangat tidak setuju. setuju. Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai Sangat setuju : SS 4 Sangat setuju : SS 1 Setuju :S 3 Setuju :S 2 Tidak setuju : TS 2 Tidak setuju : TS 3 Sangat tidak setuju: STS 1 Sangat tidak setuju: STS 4 b) Pernyataan sangat penting.

akan tetapi sebagai objek pengamatan bukan lagi perilaku tampak yang disadari atau sengaja dilakukan oleh seseorang melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi diluar kendali orang yang bersangkutan. 32 c) Angka : 51 – 75% : Setuju (baik) d) Angka : 76 – 100% : Sangat setuju (sangat baik). Pengertian Remaja Remaja berasal dari kata latin yaitu adolescentia yang berarti remaja primitif. Selain itu. terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menuju keadaan yang relatif lebih mandiri. berdasarkan kematangan psikososial dan seksual (Ardayani. G. Konsep Remaja 1. Usia dan tahap-tahap remaja . atau paling tidak sejajar. Di samping itu. Masa remaja adalah masa yang baik untuk mengembangkan potensi positif yang mereka miliki seperti bakat. masa ini adalah masa pencarian nilai- nilai hidup (Willis. Menurut WHO dalam Sarwono (2012). mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak mantap. masa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif. remaja adalah suatu usia ketika individu mulai menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai mencapai kematangan seksual. 2. serta individu tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama. 1) Pengukuran terselubung Meteode pengukuran terselubung sebenarnya berorientasi kembali ke metode observasi perilaku. Istilah adolescense merupakan sebuah perkembangan menuju dewasa. 2012). 2014). kemampuan dan minat. menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa.

Menurut Sa’id. sehingga fisiknya sudah menyerupai orang dewasa. dalam bersikap remaja juga sudah menganut nilai-nilai orang dewasa. 3. Remaja juga mulai tertarik kepada lawan jenis dan mudah terangsang secara erotis. Keistimewaan dari fase ini adalah mulai sempurnanya perubahan fisik remaja. Remaja Akhir (late adolescence) Tingkatan usia terakhir pada remaja adalah remaja akhir. remaja telah berusia sekitar 18 hingga 21 tahun. Pada tahap ini. membagi usia remaja menjadi tiga fase sesuai tingkatan umur yang dilalui oleh remaja. atau bagi remaja yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Pada tahap ini. Umumnya remaja awal berada di masa sekolah menengah pertama (SMP). Keistimewaan pada fase ini adalah seorang remaja selain dari segi fisik sudah menjadi orang dewasa. Perubahan tubuh selama masa remaja . remaja berada pada rentang usia 15 hingga 18 tahun. Remaja Pertengahan (middle adolescence) Tingkatan usia remaja selanjutnya yaitu remaja pertengahan. c. Umumnya remaja tengah berada pada masa sekolah menengah atas (SMA). 33 Sa’id (2015). b. Ketiga fase tingkatan umur remaja tersebut antara lain: a. Remaja Awal (early adolescence) Tingkatan usia remaja yang pertama adalah remaja awal. setiap fase memiliki keistimewaannya tersendiri. Remaja yang masuk pada tahap ini sangat mementingkan kehadiran teman dan remaja akan senang jika banyak teman yang menyukainya. mereka bekerja dan mulai membantu menafkahi anggota keluarga. Pada tahap ini. Keistimewaan yang terjadi pada fase ini adalah remaja awal berubah fisiknya dalam kurun waktu yang singkat. atau ada pula yang menyebutnya dengan remaja madya. remaja berada pada rentang usia 12 hingga 15 tahun. Remaja pada usia ini umumnya tengah berada pada usia pendidikan di perguruan tinggi.

b. namun fungsinya belum matang sampai dengan beberapa tahun kemudian. 34 a. lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik misalnya badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang. 2) Berat Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi berat badan sekarang tersebar dibagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali. hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang. . otot-otot di perut dan dinding usus menjadi lebih tebal dan kuat. rata-rata anak laki-laki sesudahnya. 5) Karakteristik seks sekunder Karakteristik seks sekunder utama mengalami perkembangan pada level dewasa pada periode remaja akhir. Perubahan internal 1) Sistem pencernaan Perut lebih panjang dan tidak lagi berbentuk pipa. Perubahan eksternal 1) Tinggi Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia 17 dan 18 tahun. 3) Proporsi tubuh Berbagai anggota tubuh. organ seksual mencapai ukuran dewasa pada periode remaja akhir. 2) Sistem peredaran darah Jantung tubuh pesat selama masa remaja pasa usia 17 – 18 tahun berat 12 kali lipat pada waktu lahir. 4) Organ seksual Pada laki-laki dan perempuan. usus bertambah panjang dan bertambah besar. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.

Belajar berperan sesuai jenis kelamin (sebagai pria dan wanita) c. Tugas-tugas perkembangan remaja Adapun tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut: a. 5) Jaringan tubuh Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. 5. Menerima keadaan dan penampilan diri. serta menggunakan tubuhnya secara efektif b. anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian. Mempersiapkan karir dan kemandirian secara ekonomis g. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat dan untuk masa depan i. Jaringan selain tulang terus berkembang sampai akhir masa remaja atau masa dewasa (Ardayani. Menyiapkan diri (fisik dan psikis) dalam menghadapi perkawinan dan kehidupan keluarga h. Mencapai nilai kedewasaan (Ardayani. 4. baik sejenis maupun lawan jenis d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab e. 35 3) Sistem pernafasan Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia 17 tahun. Mencapai kemandirian secara emosional terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya f. 4) Sistem endokrin Kegiatan gonad yang meningkat pada puber menyebabkan ketidakseimbangan sementara dari seluruh sistem endokrin pada awal masa puber. 2012). 2012). Mencapai relasi yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya. Perkembangan pribadi . Tujuan perkembangan remaja a.

para orang tua beranggapan sudah tiba saatnya bagi anak untuk membuang semua hal yang kekanak-kanakan dan memikul tanggung jawab kedewasaan. kemunduran minat terhadap aktivitas kelompok dan kecenderungan untuk menyendiri. 2013). Perilaku anti sosial bergantung pada faktor lingkungan. Perkembangan sosial 1) Pengalaman bersama pribadi yang berbeda dengan dirinya baik dalam kelas sosial. Pada masa puber kemajuan perubahan meningkat. yaitu penolakan terhadap beberapa karakteristik sosial (Hurlock. tidak hanya ukuran tubuh tetapi juga bentuk tubuh. 2012). 6. subkultural maupun usia 2) Pengalaman dimana tindakannya dapat berpengaruh pada orang lain 3) Kegiatan yang saling tergantung yang diarahkan pada tujuan bersama (Ardayani. Karena anak sudah mulai dewasa. 36 1) Keterampilan kognitif dan nonkognitif yang dibutuhkan agar dapat mandiri secara ekonomi amupun mandiri dalam bidang pekerjaan tertentu 2) Kecakapan dalam mengelola dan mengatasi masalah pribadi secara efektif 3) Kecakapan sebagai seorang pengguna kekayaan kultural dan peradaban bangsa 4) Kecakapan untuk dapat terkait dalam suatu keterlibatan yang intensif pada suatu kegiatan. Masalah sosial pada remaja Dengan dimulainya masa puber terjadilah perubahan-perubahan sikap sosial. Permasalahan remaja a. . b. serta sikap dan perilaku sosial semakin meningkat ke arah anti sosial.

b. merintangi. bullied). Gambaran masalah mental emosional eksternalisasi: 1) Temperamen Sulit 2) Ketidakmampuan memecahkan masalah . menolak. 2014). 2012). Gambaran masalah mental emosional internalisasi: 1) Temperamen bingung atau cemas 2) Khawatir berlebihan 3) Pemikiran pesimistis 4) Perilaku menarik diri 5) Kesulitan menjalin hubungan dengan teman sebaya (terisolasi. Selain itu anak dengan pematangan seksual terlalu cepat juga menunjukan perilaku fase negatif (Hurlock. tugas dan tanggung jawab baru diberikan kepada anak pada saat mereka belum siap memikulnya. Kemungkinan besar hal ini menimbulkan perasaaan tersiksa yang mengakibatkan timbulnya sikap dan perilaku antisosial. Jenis–jenis masalah aktual kesehatan mental remaja saat ini meliputi (IDAI. atau mempersulit seseorang dalam usahanya menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pengalaman– pengalamannya (Soraya. 37 Akibatnya. yaitu internalisasi dan eksternalisasi (Putri dkk. 2013). 2013): 1) Perubahan psikoseksual 2) Pengaruh teman sebaya 3) Perilaku beresiko tinggi 4) Kegagalan pembentukan identitas diri 5) Gangguan perkembangan moral 6) Stres di masa remaja. Masalah mental dan emosional pada remaja Masalah mental emosional dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menghambat. Masalah mental emosional pada anak dan remaja dibagi menjadi dua kategori.

hiperaktifitas 4) Perilaku bertentangan (tidak suka ditegur/diberi masukan positif 5) Tidak mau ikut aturan Perilaku agresif penelitian oleh Kaltiala-Heino. 2. Teori WHO Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu adalah karena adanya empat alasan pokok yaitu. pemikiran dan perasaan seseorang. . Faktor yang mendukung terjadinya perilaku pencegahan hepatitis dapat berupa pengetahuan tentang perilaku pencegahan hepatitis A yang mereka peroleh saat perkuliahan atau informasi dari luar seperti buku-buku atau internet dan pengalaman praktik yang sudah pernah dilakukan. Pemikiran dan perasaan. 2003). Teori faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku pencegahan hepatitis A 1. sikap. dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek (kesehatan) (Notoatmodjo. persepsi. dan sosial yang berkontribusi pada timbulnya masalah mental emosional remaja ( Soraya. adanya orang lain yang dijadikan referensi. kepercayaan. Selain itu sikap juga merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. Hal ini terjadi karena proses pubertas melibatkan perubahan biologis. psikologis. yakni dalam bentuk pengetahuan. 38 3) Gangguan perhatian. H. menemukan bahwa masalah internalisasi dan eksternalisasi lebih tinggi pada remaja yang mengalami pubertas dini dibandingkan dengan mereka yang mengalami pubertas terlambat ( > 15 tahun ). 2012). dan sumber-sumber atau fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku dan kebudayaan masyarakat.

1 Kerangka Teori PenelitianFaktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Remaja Terhadap Pencegahan Hepatitis A Predisposing factor: -Umur -Pendidikan -Pengetahuan -Sikap Enabling factor: Perilaku Remaja Terhadap Pencegahan -Fasilitas kesehatan Hepatitis A . Kerangka Teori Skema 2. 39 I.

Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatis A dan merupakan penyakit endemis di beberapa negara berkembang. IDAI (2013). Defenisi Konseptual 1. Notoadmodjo (2013). 2. 2013). Wawan & Dwi (2012). Ardayani (2012). Kholid (2014). Sakti Aniko (2012). Skinner dalam Notoatmodjo (2005). 40 Reinforcing factor: -Orang tua -Tokoh Masyarakat -Petugas kesehatan Keterangan : = Variabel yang tidak diteliti = Variabel yang akan diteliti Sumber: Notoatmodjo (2007). III (2013). merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan RI (2012). Hidayat BAB Hurlock (2009). dari luar). . Notoatmodjo (2011).Kemenkes (2011). METODE PENELITIAN A. Azwar (2015). bersifat akut. sembuh spontan tanpa gejala sisa dan tidak menyebabkan infeksi kronik ( Patogenis. Hepatitis A merupakan jenis hepatitis yang ringan.

6. B. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. kecerdasan. penciuman. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat. Remaja berasal dari kata latin yaitu adolescentia yang berarti remaja primitif. kepribadian. 4. 2011). perabaan dan pengecapan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Notoatmodjo. Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulus atau objek. pengendalian diri. tetapi hanya dapat ditafsir terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Umur adalah bilangan tahun terhitung sejak lahir sampai dengan tahun terakhir seseorang melakukan aktifitas (Notoatmodjo. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan. 5. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo. berdasarkan kematangan psikososial dan seksual (Ardayani. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi bila seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Istilah adolescense merupakan sebuah perkembangan menuju dewasa. 41 3. akhlak mulia. pendengaran. 41 7. Analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk . Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo S. digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. 2011). Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme. 2012). 2003). 2003).

pengetahuan dan sikap remaja. 2014). dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono. Kerangka Konsep Penelitian Skema 3. Penelitian ini menggunakan pendekatan desain cross sectional. 2017). E. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A.1 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independent Variabel Dependent Predisposing factor: -Umur Perilaku Remaja Terhadap -Pendidikan Pencegahan Hepatitis A -Pengetahuan -Sikap D. variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel terikat (dependent variable) menurut Sugiyono (2014) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Desain cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek dengan cara pendekatan. 42 menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono. pendidikan. 2013). Variabel Penelitian 1. 2. C. karena adanya variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo. Variabel bebas (independent variable) Menurut Sugiyono (2014). Hipotesis dari penelitian ini adalah: .

Hipotesis Alternatif (Ha) a. b. F. Ho : Tidak ada pengaruh umur dengan perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Ha : Ada pengaruh pendidikan dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. d. d. Defenisi Operasional Tabel 3. c. Ho : Tidak ada pengaruh pengetahuan dengan perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Ha : Ada pengaruh pengetahuan dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciatuel. Ha : Ada pengaruh umur dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Ho : Tidak ada pengaruh pendidikan dengan perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. 2. Ha : Ada pengaruh sikap dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 09 Ciateul. Hipotesis Nol (Ho) a. 43 1. merupakan usia responden Remaja dari awal .1 Defenisi Operasional No Variabel Defenisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala Operasional Variabel Independent: 1. Umur Umur Kuesioner Remaja awal: Ordinal responden 12-15 tahun. Ho : Tidak ada pengaruh sikap dalam perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A di RW 0 Ciateul. b. c.

Remaja akhir: 18-21 tahun Pendidikan Tingkat Kuesioner Nominal 2. responden hasilnya lebih dalam dari 75% menjawab 2) Cukup baik pertanyaan bila hasilnya dengan benar. 44 kelahiran pertengahan: 15- sampai pada 18 tahun. saat penelitian ini dilakukan. menangah 3) Pendidikan tinggi. pendidikan 1) Pendidikan yang pernah dasar diikuti oleh responden 2) Pendidikan secara formal. Ordinal Sikap Respon positif Kuesioner 1) Sangat baik 4. hasilnya 51- 75% . 56-75% 3) Kurang baik bila hasilnya kurang dari 56%. Ordinal Pengetahuan Kemampuan Kuesioner 1) Baik bila 3. atau negatif bila hasilnya sebagai 76-100% perilaku yang 2) Baik bila disetujui.

H. Variabel 1) Dependent: 2) 1.0σ) G. 2014). Instrumen Penelitian . Teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling yaitu semua populasi berjumlah 91 orang. Dengan kriteria inklusi yaitu remaja berusia 12-21 tahun. Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo.P Perilaku Respon atau Kuesioner 1) Baik: skor Ordinal remaja reaksi jawaban x≥ terhadap responden (µ+1. 45 3) Tidak baik bila hasilnya 26-50%. (µ+1.0σ)≤x< (µ+1. berdomisili di RW 09 Ciatuel Kecamatan Regol Bandung dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. 2.0σ) 3) Kurang: skor jawaban x< (µ+1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di RW 09 Ciateul yang terbagi dalam 4 RT yaitu berjumlah 91 orang. Populasi dan Sampel Penelitian 1. 2014).0σ) pencegahan terhadap 2) Cukup: skor hepatitis A pencegahan jawaban P hepatitis A.

Pertanyaan yang akan disampaikan dalam kuisioner ini yaitu dengan pertanyaan tertutup karena. Sikap remaja akan diukur melalui kuesioner dengan 15 pernyataan (pernyataan positif dan negatif) dengan menggunakan skala Likert yaitu skala untuk mengukur sikap seorang tentang gejala atau masalah yang ada di masyarakat atau yang dialaminya (Hidayat. 2011). Dalam kuisioner terdapat soal pilihan ganda (multiple choice). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan. setuju (3). Sikap remaja tentang pencegahan terhadap hepatitis A adalah reaksi atau respon positif yaitu sangat setuju (4). Pendidikan remaja diperoleh dari pengisian informed consent kuesioner. tidak setuju (3) sangat tidak setuju (4) tentang pencegahan terhadap kejadian hepatits A. 4. yakni: 1. 2009). 3. Untuk mengukur sikap. 2013). Adapun hasil ukur yaitu baik jika menjawab benar >75%. Pengetahuan remaja dalam pencegahan terhadap hepatitis adalah pengetahuan remaja tentang pengertian hepatitis. setuju (2). mengobservasi atau dokumentasi yang dapat menghasilkan data kuantitatif. 2. Untuk jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk jawaban salah diberi nilai 0. tidak setuju (2) sangat tidak setuju (1) dan respon negatif yaitu sangat setuju (1). cukup jika menjawab 56%-75% dan kurang jika menjawab benar <56% (Riyanto. Responden diminta untuk menjawab pertanyaan dengan memberikan tanda silang (X) terhadap jawaban yang dianggap benar. digunakan kuisioner dengan pernyataan- pernyataan yang akan dijawab oleh responden dengan memberikan tanda . dengan pertanyaan tertutup lebih dapat dengan mudah dinilai pengetahuan dari responden sesuai dengan kriteria hasil pengukuran pengetahuan yang telah ditentukan dan tingkat pengetahuan yang dicapai yaitu tahu dan memahami. Instrumen digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti (Sugiyono. 46 Instrumen merupakan alat untuk mengukur. Umur remaja diperoleh dari pengisian informed consent kuesioner. penyebab terjadinya hepatitis dan pencegahan terhadap hepatitis.

2011). ∑𝑌² − (∑𝑌)²] Keterangan : 𝑟𝑥𝑦 : Koefisien Korelasi ∑𝑋 : Jumlah skor item . Alat ukur atau instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan uji reliabilitas (Hidayat. Rumus Pearson Product Moment : 𝑛 (∑𝑋𝑌) – (∑𝑋). a. Peneliti melakukan uji validitas di RW 08 karena memiliki karakteristik penderita hepatitis A terbanyak yaitu pada remaja. Dikatakan valid apabila r hitung ≥ r tabel (0. sangat setuju (76–100%) (Hidayat. Valid artinya alat tersebut mengukur apa yang ingin diukur. tidak setuju (26 – 50%). Uji validitas pada penelitian ini menggunakan rumus “peason product moment”.Untuk mengetahui apakah nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan tersebut signifikan. (Riyanto. Uji validitas dilakukan pada remaja di RW 08 Ciateul kecamatan Regol Bandung dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Uji validitas Uji validitas adalah ketepatan atau kecermatan pengukuran.361) dengan tingkat kemaknaan 5 % (0. 2009).361) dan dikatakan tidak valid jika r hitung ≤ r tabel (0. 47 ceklis (√) pada kolom yang telah disediakan. Yang termasuk dalam kategori sikap adalah hasil ukur sangat tidak setuju (0 – 25 %). setuju (51 – 75%). (∑𝑌) 𝑟𝑥𝑦 = √[𝑛. maka perlu dilihat r tabel dan r hitung. [𝑛. 2011). ∑𝑋² − (∑𝑋)²].05). Kuisioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada suatu kuisioner mampu mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut (Riyanto. 2009).

2011). Prosedur Pengumpulan Data . 2011).6). Bila terdapat pertanyaan yang tidak reliabilitas maka pertanyaan tersebut akan diedit (diperbaiki) dan dipakai untuk penelitian (Riyanto. 48 ∑𝑌 : jumlah total seluruh pertanyaan n : Jumlah responden uji coba b.6). Rumus uji reliabilitas yaitu dengan menggunakan rumus Cronbah’s Alpha sebagai berikut: Rumus Cronbah’s Alpah: rii= k Ʃσ b 2 1- k–1 σ2 t Keterangan: rii = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal Ʃσ b 2 = Jumlah varian butir σ2 t = Jumlah varian total Uji keputusan Bila nilai Cronbah’s Alpa ≥ konstanta (0. Uji reliabilitas Uji reliabilitas artinya kestabilan pengukuran. I. maka pertanyaan reliabel Bila nilai Cronbah’s Alpa < konstanta (0. maka pertanyaan reliabel (Riyanto. alat yang dilakukan reliable jika digunakan berulang-ulang nilai sama. Sedangkan pertanyaan dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

diantaranya : a. Teknik Pengolahan dan Analisa Data 1. b. d.Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. 2012). Sikap Data pengetahuan diperoleh dari hasil pengukuran kuesioner. J. Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh. Pengetahuan Data pengetahuan diperoleh dari hasil pengukuran kuesioner. 2. Teknik Pengolahan Data Dalam melakukan analisis data terlebih dahulu data harus diolah dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Data sekunder Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data usia remaja yang diperoleh dari RT 1-4 pada RW O9 Ciateul Kecamatan Regol Badung. Usia Data tentang usia diperoleh melalui pengisian informed consent kuesioner. c. . terutama dalam pengujian hipotesis (Notoatmodjo. informasi yang diperoleh dipergunakan untuk peroses pengambilan keputusan. Pendidikan Data tentang pendidikan diperoleh melalui pengisian informed consent kuesioner. Editing data Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Dalam statistik. Data primer a. 49 Data adalah bentuk jamak dari datum yaitu keterangan atau informasi yang 1.

e. Untuk . Analisis dalam penelitian ini adalah variabel independent (bebas) yaitu umur. 50 b. 2.Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Entry data Setelah data terisi penuh dan benar serta sudah melewati pengkodean. kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. ketidaklengkapan dan sebagainya. d. Analisa Data Analisi data ini menggunakan program SPSS 17.0. 2014). c. 2012). pengetahuan dan sikap remaja serta variabel dependent (terikat) yaitu perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A. pendidikan. Pemerosesan dilakukan dengan cara mengentri data dari lembar cheklis ke program komputer. langkah selanjutnya adalah peneliti memperoses data agar yang sudah dientry dapat dianalisis. perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode. Tabulasi data Tabulasi data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalam bentuk tulisan (Notoatmodjo. Analisa univariat Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo. Analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut a.Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. Coding data Merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Cleaning data Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukan.

Analisis dalam penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variabel independent (umur. Mengirimkan surat kepada RW untuk meminta izin mendapatkan data d. peneliti menggunakan rumus mean dalam distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel b. Melakukan studi pendahuluan dengan wawancara e. Tahap Akhir a. pengetahuan dan sikap) terhadap variabel dependent (perilaku remaja terhadap pencegahan hepatitis A). prosedur penelitian dibagi menjadi dua tahap yaitu: 1. Membuat judul berdasarkan masalah c. Melaksanakan pengolahan data dan anilisis data yang terkumpul d. Prosedur Penelitian Menurut Riyanto (2013). Melaksanakan penelitian c. Tahap Persiapan a. Meminta perizinan puskesmas Moch Ramdhan sebagai puskesmas yang memiliki wilayah pelayanan kesehatan terhadap kelurahan Ciateul b. pendidikan. Menemukan tempat dan masalah yang akan diteliti b. Penyajian hasil penelitian . Membuat kesimpulan dan saran 3. 2. peneliti menggunakan uji korelasi spearman rank. Untuk analisis bivariat. 2013). K. Menyusun proposal dan mengikuti bimbingan atau konsultasi. Analisa bivariat Analisis bivariat adalah analisis yan dilakukan untuk mengetahui keterkaitan kedua variabel (Riyanto. 51 analisis univariat. Membuat rancangan terhadap proposal penelitian f. Tahap Pelaksanaan a. Penyusunan laporan penelitian b.

Lembaran tersebut hanya akan diberi nomor atau kode tertentu. 4. Perbaikan penelitian. Kerahasiaan (Confidentiality) Merupakan jaminan kerahasiaan hasil penelitian. M. Provinsi Jawa Barat. 52 c. Tanpa nama (Anonimity) Peneliti menjaga kerahasiaan identitas responden dalam instrument pengumpulan data yang diisi oleh responden. Etika Penelitian 1.masalah lainnya. Perlakuan adil (Fair Treatment) Merupakan jaminan yang diberikan kepada subjek agar diperlakukan secara adil baik sebelum. 2. 2. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. 3. Lokasi penelitian Penelitian ini akan dilakukan di RW 09 Ciateul kecamatan Regol Bandung. hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya. selama dan sesudah keikut sertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia sebagai responden atau responden boleh mengundurkan diri. Waktu penelitian . baik informasi maupun masalah . Persetujuan (Informed Consent) Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan subjek penelitian dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi subjek penelitian yang diberikan sebelum penelitian dilakukan. L. Lokasi dan Waktu Penelitian 1.

.Agustus 2017. 53 Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Juli . Untuk penjelasan waktu penelitian yang lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 3.6.