You are on page 1of 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Nilai perusahaan merupakan konsep penting bagi investor karena nilai

perusahaan merupakan indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara

keseluruhan. Menurut Brigham (2007:11) nilai perusahaan merupakan persepsi

yang dimiliki investor pada tingkat keberhasilan perusahaan dan harga yang

bersedia dibayar ketika perusahaan akan dijual. Nilai perusahaan sering dikaitkan

dengan harga saham. Tujuan utama sebagian besar perusahaan, terutama

perusahaan yang berorientasi bisnis adalah mengoptimalkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan yang meningkat merupakan harapan bagi para pemegang saham

karena peningkatan nilai perusahaan menunjukkan peningkatan kemakmuran

pemegang saham (Warapsari, 2016).

Naik turunnya harga saham merupakan fenomena yang menarik untuk

dibahas. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk menyatakan tantangan

terbesar adalah menjaga momentum positif pada perdagangan saham. Kapitalisasi

pasar menunjukkan nilai dari satu perusahaan yang ditunjukkan dari harga saham

dikali jumlah saham beredar di bursa. Nilai kapitalisasi pasar BUMN sektor

telekomunikasi pada penutupan perdagangan menembus angka Rp300 triliun

(Okezone, 2015). Pada perdagangan saham PT Telekomunikasi Indonesia

(Persero) Tbk yang sedang melemah bisa dibeli pada harga Rp2.900 - Rp2.950

per lembar dan dengan harga jual di Rp3.050 - Rp3.150 per lembar. PT

1
Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk sedang mengalami fase uptrend dimana

harga saham naik disertai volume. Melihat pada penutupan harga saham,

kapitalisasi pasar dari PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk sudah

mencapai Rp300,4 triliun. Angka ini melesat dari posisi medio Oktober 2014

dimana kapitalisasi pasar dari emiten telekomunikasi ini sekitar Rp280 triliun.

Meskipun PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk mengalami fase uptrend,

tetapi perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar paling besar untuk emiten

telekomunikasi. Pesaingnya, PT Indosat Tbk hanya memiliki kapitalisasi pasar

Rp21,2 triliun dan PT XL Axiata Tbk sebesar Rp44,4 triliun. Kondisi tersebut

mempengaruhi nilai perusahaan, karena nilai perusahaan tercermin dari harga

saham.

Peningkatan nilai perusahaan dapat tercapai apabila ada kerja sama antara

manajemen perusahaan dengan pihak lain yang meliputi shareholder maupun

stakeholder dalam membuat keputusan-keputusan keuangan dengan tujuan

memaksimumkan modal kerja yang dimiliki. Kepentingan antara manajemen

perusahaan dengan shareholder maupun stakeholder harus diselaraskan karena

penyatuan kepentingan kedua pihak tersebut sering kali menimbulkan masalah.

Masalah diantara manajer dan pemegang saham disebut masalah keagenan

(Warapsari, 2016).

Menurut Jensen dan Meckling (1976) adanya masalah keagenan akan

menimbulkan biaya agensi, biaya tersebut merupakan biaya yang digunakan untuk

memonitor perilaku agen dan biaya yang dikeluarkan untuk menjamin bahwa

agen tidak bertindak merugikan principal. Ada beberapa alternatif untuk

2
meminimalkan biaya tersebut, diantaranya dengan adanya kepemilikan saham

oleh manajemen dan kepemilikan saham oleh institusional (Tendi Haruman,

2008).

Pihak pemegang saham dalam tugasnya sebagai principal, akan

melimpahkan tugas untuk mengelola perusahaan pada manajer sebagai pihak agen

yang nantinya diharapkan manajer akan bertindak atas nama pemilik untuk

mencapai tujuan perusahaan. Namun dalam praktiknya, pihak manajemen lebih

cenderung bertindak untuk kepentingan pribadi dan hal tersebut mengakibatkan

terciptanya masalah agensi (Damayanti, 2014). Oleh karena itu, perusahaan

meningkatkan kepemilikan manajerial untuk menyejajarkan kepentingan antara

principal dan agen, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan

manajer merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya.

Rachman (2012) dalam Hartana (2017), menyatakan bahwa meningkatnya

kepemilikan manajerial akan berdampak positif pada nilai perusahaan karena

dengan bertambahnya kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan

maka kontrol pada aktivitas manajemen akan meningkat, sehingga setiap aktivitas

dan keputusan perusahaan akan maksimal. Hasil penelitian ini konsisten dengan

hasil penelitian Nurania (2012) dan Junadi (2013) yang menemukan bahwa

variabel kepemilikan manajerial juga berpengaruh positif pada nilai perusahaan.

Hasil yang tidak konsisten ditunjukkan oleh beberapa penelitian lainnya

terkait penelitian kepemilikan manajerial pada nilai perusahaan tersebut. Reyna

(2012) dengan 83 perusahaan yang terdaftar Meksiko selama periode 2005-2011

menemukan adanya pengaruh negatif kepemilikan manajerial pada nilai

3
perusahaan. Penelitian lainnya, yaitu Welim (2014) menunjukkan bahwa variabel

kepemilikan manajerial berpengaruh negatif secara parsial terhadap nilai

perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian lainnya Rahmawati (2015) yang

menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Kepemilkan institusional dipercaya akan dapat menekan biaya agensi

dalam perusahaan. Dengan tingginya kepemilikan institusional, maka akan

mengakibatkan efektifnya pengawasan pemegang saham pada perusahaan yang

nantinya mengurangi biaya agensi dan meningkatkan nilai perusahaan. Admati et.

al. (1994) serta Shleifer dan Vishny (1997) menunjukkan bahwa besarnya

kepemilikan saham oleh pihak institusional dapat mengurangi tindakan

opportunistic manajer melalui mekanisme monitoring.

Dalam penelitian sebelumnya, yaitu Adnantara (2013) dan Alfaraih et al.

(2012) mendapatkan hasil kepemilikan institusional berpengaruh pada nilai

perusahaan perusahaan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Uwuigbe dan

Olusanmi (2012), yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh

signifikan pada nilai perusahaan di Nigeria.

Sementara Puja Wijaya (2014) menemukan hasil yang berbeda pada

penelitiannya, yaitu kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan tidak

signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Welim

(2014) memperoleh temuan bahwa tidak terdapat hubungan antara kepemilikan

institusional dengan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan

4
penelitian Sinarmayarani (2016) yang menemukan bahwa kepemilikan

institusional memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan nilai perusahaan.

Selain kepemilikan manajerial dan institusional, nilai perusahaan juga

dapat ditingkatkan melalui profitabilitas. Wiagustini (2010:76) memaparkan

bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh

keuntungan (laba) atau ukuran efektifitas dalam pengelolaan manajemen

perusahaan. Jika manajer mampu mengelola perusahaan dengan baik maka biaya

yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan menjadi lebih kecil sehingga laba

yang dihasilkan menjadi lebih besar. Besar atau kecilnya laba ini yang akan

mempengaruhi nilai perusahaan.

Penelitian sebelumnya oleh Rika (2010) sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Damayanti (2014) menunjukkan hasil nilai perusahaan

dipengaruhi oleh profitabilitas. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh

Lifessy (2011) menunjukkan hasil bahwa nilai perusahaan dipengaruhi oleh

profitabilitas dengan arah hubungan yang negatif. Ketidakkonsistenan hasil ini

kemungkinan diakibatkan adanya faktor yang mampu mempengaruhi hubungan

kepemilikan manajerial, kepemilikan intitusional dan profitabilitas pada nilai

perusahaan. Menurut McWilliams dan Siegel (2000) nilai perusahaan akan

mengalami keberlanjutan jika perusahaan memperhatikan tidak hanya kondisi

keuangan perusahaan melainkan juga perlu memperhatikan dimensi lingkungan

dan sosial.

Verrecchia (1983) dalam Hartana (2017) menunjukkan untuk alasan

strategi, manajemen melakukan pelaporan tanggung jawab sosial atau corporate

5
social responsibility guna meningkatkan nilai perusahaannya. Perusahaan yang

menerapkan corporate social responsibility berharap akan mendapat sikap positif

dari para investor atau pun kreditor yang nantinya secara tidak langsung akan

meningkatkan nilai perusahaan.

Corporate social responsibility menjadi hal yang penting bagi para pelaku

bisnis di seluruh dunia, karena di dalamnya menyangkut semua kegiatan perusahaan

serta hubungan mereka dengan para pemangku kepentingan (Fiori et al., 2007).

Pentingnya corporate social responsibility telah diatur dalam Undang-Undang

No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang No. 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan Hackston dan Milne (1996)

mengenai corporate social responsibility dengan nilai perusahaan menemukan

hasil bahwa corporate social responsibility berpengaruh pada nilai perusahaan.

Penelitian lainnya Adnantara (2013) juga menyatakan bahwa pengungkapan

corporate social responsibility berpengaruh pada nilai perusahaan. Hasil yang

sama ditunjukkan Latupono (2015) menyatakan dalam penelitiannya bahwa

corporate social responsibility memiliki pengaruh secara signifikan pada nilai

perusahaan. Oleh karena itu, corporate social responsibility ditambahkan sebagai

variabel pemoderasi yang diduga mampu memengaruhi hubungan antara

kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan profitabilitas dengan nilai

perusahaan. Berdasarkan uraian di aras maka penelitian ini berjudul “Pengaruh

Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Profitabilitas pada

6
Nilai Perusahaan dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility

sebagai Variabel Pemoderasi”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan

pokok permasalahan sebagai berikut:

1) Apakah kepemilikan manajerial memengaruhi nilai perusahaan?

2) Apakah kepemilikan institusional memengaruhi nilai perusahaan?

3) Apakah profitabilitas memngaruhi nilai perusahaan?

4) Apakah corporate social responsibility memengaruhi hubungan

kepemilikan manajerial pada nilai perusahaan?

5) Apakah corporate social responsibility memengaruhi hubungan

kepemilikan institusional pada nilai perusahaan?

6) Apakah corporate social responsibility memengaruhi hubungan

profitabilitas pada nilai perusahaan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian berdasarkan permasalahan

yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial pada nilai

perusahaan.

7
2) Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional pada nilai

perusahaan.

3) Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas pada nilai perusahaan.

4) Untuk mengetahui pengaruh corporate social responsibility terhadap

hubungan kepemilikan manajerial pada nilai perusahaan.

5) Untuk mengetahui pengaruh corporate social responsibility terhadap

hubungan kepemilikan institusional pada nilai perusahaan.

6) Untuk mengetahui pengaruh corporate social responsibility terhadap

hubungan profitabilitas pada nilai perusahaan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara

teoritis maupun praktis bagi semua pihak yang mempunyai kaitan dengan

penelitian ini, antara lain:

1) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan akan menambahkan pengetahuan, wawasan,

dan memberikan bukti empiris mengenai teori yang menyatakan pengaruh

dari corporate social responsibility terhadap kepemilikan manajerial,

kepemilikan institusional dan profitabilitas pada nilai perusahaan di Bursa

Efek Indonesia.

2) Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak-

pihak yang berkepentingan dalam organisasi dan di luar organisasi sebagai

8
bahan pertimbangan terhadap organisasi mengenai pengaruh dari

corporate social responsibility terhadap kepemilikan manajerial,

kepemilikan institusional dan profitabilitas pada nilai perusahaan di Bursa

Efek Indonesia.

9
BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA KONSPEPTUAL


DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori Keagenan

Teori keagenan (agency theory) mengungkapkan adanya hubungan antara

principal (pemilik perusahaan atau pihak yang memberikan mandat) dan agen

(manajer perusahaan atau pihak yang menerima mandat) yang dilandasi dengan

adanya pemisahan kepemilikan dan pengendalian perusahaan, pemisahan

penanggung risiko, pembuatan keputusan dan pengendalian fungsi-fungsi (Jensen

and Meckling, 1976).

Pihak principal juga dapat membatasi divergensi kepentingannya dengan

memberikan tingkat insentif yang layak kepada agen dan bersedia mengeluarkan

biaya pengawasan untuk mencegah kecurangan yang dilakukan oleh agen.

Adanya pemisahan antara fungsi kepemilikan (ownership) dan fungsi

pengendalian (control) dalam hubungan keagenan sering menimbulkan masalah-

masalah keagenan (agency problems). Masalah-masalah keagenan tersebut timbul

karena adanya konflik atau perbedaan kepentingan antara principal dan agen.

Teori keagenan (agency theory) berusaha menjelaskan penentuan kontrak yang

paling efisien yang bisa mengatasi konflik atau masalah keagenan. Teori keagenan

juga berperan dalam menyediakan informasi sehingga akuntansi memberikan

umpan balik (feedback) selain prediktifnya. Teori keagenan menyatakan bahwa

perusahaan yang menghadapi biaya kontrak dan biaya pengawasan yang rendah

10
cenderung akan melaporkan laba lebih rendah atau dengan kata lain akan

mengeluarkan biaya-biaya untuk kepentingan manajemen. Salah satu biaya yang

dapat meningkatkan reputasi perusahaan di mata masyarakat adalah biaya-biaya

yang terkait dengan corporate social responsibility.

2.1.2 Teori Stakeholder

Stakeholder theory mengungkapkan bahwa perusahaan bukanlah entitas

yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan

manfaat bagi stakeholder (Ghozali dan Chariri, 2007: 76). Keberadaan suatu

perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh para

stakeholder. Kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada seberapa banyak

dukungan stakeholder pada perusahaan tersebut. Robert (1992) mendefinisikan

stakeholder seperti sebuah kelompok atau individual yang dapat memberi dampak

atau terkena dampak oleh hasil tujuan perusahaan.

Pengungkapan corporate social responsibility merupakan bagian dari

komunikasi antara perusahaan dengan stakeholdernya. Teori stakeholder secara

eksplisit mempertimbangkan akan dampak kebijakan pengungkapan perusahaan

ketika terdapat perbedaan kelompok stakeholder dalam sebuah perusahaan.

Pengungkapan informasi oleh perusahaan dijadikan alat manajemen untuk

mengelola kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh berbagai kelompok

(stakeholders). Oleh karena itu, manajemen mengungkapkan informasi corporate

social responsibility ini dalam rangka mengelola stakeholder agar perusahaan

mendapatkan dukungan dari mereka. Dukungan tersebut dapat berpengaruh

11
terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan tentunya dapat meningkatkan nilai

perusahaan (Gray et al., 1990 dalam Ghozali dan Chariri, 2007: 77).

2.1.3 Teori Legitimasi

Legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi

pada keberpihakan terhadap masyarakat, pemerintah individu dan kelompok

masyarakat (Gray et al., 1996). Untuk itu, sebagai suatu sistem yang

mengedepankan keberpihakan kepada masyarakat, operasi perusahaan harus

sesuai dengan harapan masyarakat.

Teori legitimasi mengungkapkan bahwa perusahaan secara berkelanjutan

berusaha untuk bertindak sesuai dengan batas-batas dan norma-norma dalarn

masyarakat. Berdasarkan usaha tersebut perusahaan berusaha agar aktivitasnya

diterima menurut persepsi pihak eksternal (Deegan, 2012). Perusahaan berusaha

untuk menjustifikasi keberadaannya dalam masyarakat dengan legitimasi

aktivitasnya (Naser et al., 2006).

Legitimasi organisasi dapat dipandang sebagai sesuatu yang diberikan oleh

masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari

perusahaan dari masyarakat. Gray et al. (1996) dalam Ghozali dan Chariri (2007:

79) menyatakan bahwa organisasi atau perusahaan akan berlanjut keberadaannya

jika masyarakat menyadari bahwa organisasi beroperasi untuk sistem nilai yang

seiring dengan sistem nilai masyarakat itu sendiri. Teori legitimasi menganjurkan

perusahaan untuk meyakinkan bahwa aktivitas dan kinerjanya dapat diterima oleh

masyarakat. Perusahaan menggunakan laporan tahunannya untuk menggambarkan

12
akuntabilitas atau tanggungjawab manajemen terhadap perusahaan, sehingga

perusahaan yang bersangkutan diterima oleh masyarakat. Dengan adanya

penerimaan dari masyarakat tersebut maka akan menambah nilai perusahaan.

2.1.4 Teori Sinyal

Suatu informasi yang dipublikasikan sebagai sebuah pengumuman

memberikan sinyal bagi investor untuk mengambil keputusan investasi

(Jogiyanto, 2013: 517). Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana

seharusnya perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan.

Sinyal tersebut berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh

manajemen perusahaan untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat

berupa promosi maupun informasi yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut

lebih baik dari perusahaan lain. Teori sinyal menekankan pada pentingnya

informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak

diluar perusahaan.

Salah satu informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat

menjadi sinyal bagi pihak di luar perusahaan terutama bagi pihak investor adalah

laporan tahunan. Laporan tahunan hendaknya memuat informasi yang relevan dan

mengungkapkan informasi yang dianggap penting untuk diketahui oleh pengguna

laporan baik pihak dalam maupun pihak luar. Teori sinyal membahas mengenai

dorongan perusahaan untuk memberikan informasi kepada pihak eksternal.

Dorongan tersebut disebabkan karena terjadinya asimetri informasi antara pihak

manajemen dan pihak eksternal. Untuk mengurangi asimetri informasi maka

13
perusahaan harus mengungkapkan informasi yang dimiliki, baik informasi

keuangan maupun non keuangan. Salah satu informasi yang wajib untuk

diungkapkan oleh perusahaan adalah informasi tentang corporate social

responsibility. Informasi ini dapat dimuat dalam laporan tahunan atau laporan

sosial perusahaan terpisah. Perusahaan melakukan pengungkapan corporate social

responsibility dengan harapan dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan

(Rustiarini, 2011).

2.1.5 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon

pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Berbagai kebijakan diambil oleh

manajemen dalam upaya meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan

kemakmuran pemilik dan pemegang saham yang tercermin pada harga saham

(Husnan, 2012). Nilai perusahaan dibentuk melalui indikator nilai pasar yang

dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat

memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan

datang sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat

keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham (Sujoko dan

Soebiantoro, 2007). Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga

tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya

pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa

depan.

2.1.6 Kepemilikan Manajerial

14
Kepemilikan manajerial merupakan persentase jumlah saham yang

dimiliki oleh manajer (Anwar et al., 2013). Kepemilikan saham oleh manajernen

dapat mensejajarkan kepentingan pemegang saham oleh institusi dan manajer,

karena manajer ikut merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil

dan manajer menanggung risiko apabila terdapat kerugian yang timbul sebagai

konsekuensi dan pengambilan keputusan yang kurang baik. Jansen (1986)

menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada

perusahaan akan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang

saham.

Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara manajer dan

pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang disebut agency

conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan pentingnya

suatu mekanisme yang diterapkan guna melindungi kepentingan pemegang

saham. Mekanisme pengawasan terhadap manajernen tersebut menimbulkan suatu

biaya yaitu biaya keagenan (agency cost). Salah satu cara untuk rnengurangi

agency cost adalah dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak manajemen

(Jensen dan Meckling, 1976). Kepemilikan manajemen dalam sebuah perusahaan

akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa nilai perusahaan meningkat

sebagai akibat kepemilikan manajemen yang meningkat. Kepemilikan oleh

manajemen yang besar akan efektif mengawasi aktivitas perusahaan. Menurut

Jensen dan Meckling (1976), ketika kepemilikan saham oleh manajemen rendah

maka terdapat kecenderungan akan terjadinya perilaku opportunistic manajer

yang akan meningkat juga.

15
2.1.7 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang

dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan

investasi dan kepemilikan institusi lain (Nuraina, 2012). Jensen dan Meckling

(1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang

sangat penting dalam meminimalkan konflik keagenan yang terjadi antara manajer

dan pemegang saham. Keberadaan investor institusional dianggap mampu

menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil

oleh manajer. Hal ini disebabkan investor institusional terlibat dalam pengambilan

yang strategis sehingga tidak mudah percaya terhadap tindakan manipulasi laba.

Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor

manajemen karena dengan adanya kepemilikan oleh institusional, akan

mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal sehingga menjamin

kemakmuran pemegang saham. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi

akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor

institusional sehingga dapat menghalangi perilaku opportunistic manajer.

2.1.8 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan kemarnpuan perusahaan memperoleh laba atau

ukuran efektifitas pengelolaan manajemen perusahaan (Wiagustini, 2010).

Menurut Brigham (2007: 11), profitabilitas adalah hasil akhir dari serangkaian

kebijakan dan keputusan manajemen, dimana kebijakan dan keputusan ini

menyangkut pada sumber dan penggunaan dana dalam menjalankan operasional

perusahaan yang terangkum dalam laporan neraca dan unsur dalam neraca. Tujuan

16
didirikannya sebuah perusahaan adalah memperoleh laba (profit), maka wajar

apabila profitabilitas menjadi perhatian utama para analis dan investor. Tingkat

profitabilitas yang konsisten akan mampu bertahan dalam bisnisnya dengan

memperoleh return yang memadai dibanding dengan resikonya (Toto, 2008).

Menurut Saidi (2004), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam

memperoleh laba. Para investor menanamkan saham pada perusahaan untuk

mendapatkan return yang terdiri dari yield dan capital gain. Semakin tinggi

kemampuan memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan

investor, sehingga menjadikan nilai perusahaan menjadi lebih baik.

Rasio pofitabilitas memiliki manfaat tidak hanya bagi pihak pemilik usaha

atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak di luar perusahaan, terutama pihak

pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahan. Sementara

itu, manfaat yang diperoleh dari rasio profitabilitas menurut Kasmir (2015: 198)

yaitu sebagai berikut:.

1) Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun

sekarang.

2) Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.

3) Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan laba sendiri.

4) Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan

baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

2.1.9 Pengungkapan Corporate Social Responsibility

Menurut The World Business Council for Sustainable Development

(WBCSD), corporate social responsibility didefinisikan sebagai komitmen untuk

17
memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja

sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka,

komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas

kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis maupun hagi

pembangunan. Kewajiban perusahaan dalam menerapkan corporate social

responsibility diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas Pasal 74 Nomor

40 Tahun 2007, yaitu sebagai berikut.

1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan

dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawah Sosial dan

Lingkungan.

2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan

sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan

memperhatikan kepatuhan dan kewajaran.

3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang dimaksud

pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -

undangan.

Dengan peraturan ini, perusahaan khususnya perseroan terbatas yang

bergerak di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam diwajibkan

melaksanakan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Konsep pengungkapan tanggungjawab sosial melibatkan tanggungjawab

kemitraan antara pernerintahan, perusahaan, dan komunitas masyarakat setempat

yang bersifat aktif dan dinamis (Ananta, 2009). Kegiatan pengungkapan

18
tanggungjawab sosial telah menyertakan karakteristik sosial atau fitur dalam

produk dan proses manufaktur, misalnya menggunakan teknologi ramah

lingkungan (McWilliams, 2001). Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan

proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi

organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap

masyarakat secara keseluruhan (Sembiring, 2005). Hal tersebut memperluas

tanggungjawab perusahaan, di luar peran konvensionalnya untuk menyajikan

laporan keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Implementasi atas

tanggungjawab tersebut dikomunikasikan dalam laporan tahunan perusahaan.

Pengungkapan tanggungiawab sosial penting untuk dilakukan karena melalui

pengungkapan lingkungan hidup pada laporan tahunan perusahaan, masyarakat

dapat memantau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka

memenuhi tanggungjawab sosialnya. Perusahaan akan memperoleh manfaat

positif yakni perhatian, kepercayaan, dan dukungan dari masyarakat dengan

pengungkapan corporate social responsibility. Perusahaan yang semakin banyak

melakukan corporate social responsibility, akan meningkatkan citra perusahaan di

masyarakat maupun investor dan juga secara langsung dapat meningkatkan

loyalitas konsumen. Pada saat ini, banyak investor menggunakan strategi investasi

yang secara eksplisit mempertimbangkan kinerja corporate social responsibility

selain ukuran finansial (Elliot et al., 2011). Perusahaan akan menikmati penjualan

yang meningkat dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya loyalitas

konsumen dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan.

2.2 Kerangka Konseptual

19
Penelitian ini menggunakan penjelasan teori agensi untuk membantu

memperjelas konflik keagenan antara agen dan prinsipal dengan adanya

kepemilikian manajerial dan kepemilikan institusional. Kepemilikan manajerial

diharapkan dapat meminimumkan konflik keagenan yang terjadi dengan

menyamakan kepentingan antara agen dan prinsipal. Kepentingan institusional

dapat meminumkan tingkat oportunistik yang dilakukan manajer melalui

monitoring dan pengawasan sehingga menjamin kemakmuran pemegang saham.

Terjadinya konflik keagenan dianggap dapat memengaruhi nilai perusahaan dan

berdampak pada penilaian investor nantinya.

Teori stakeholder secara eksplisit mempertimbangkan akan dampak

kebijakan pengungkapan perusahaan ketika terdapat perbedaan kelompok

stakeholder dalam sebuah perusahaan. Pengungkapan corporate social

responsibility merupakan bagian dari komunikasi antara perusahaan dengan

stakeholdernya. Manajemen mengungkapkan informasi corporate social

responsibility dalam rangka mengelola stakeholder agar perusahaan mendapatkan

dukungan dan tentunya dapat meningkatkan nilai perusahaan (Gray et al., 1990

dalam Ghozali dan Chariri, 2007: 77).

Teori legitimasi menjelaskan bahwa adanya kontrak sosial antara

perusahaan dan masyarakat. Setiap perusahaan pada umumnya memiliki kontrak

implisit dengan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan nilai

ataupun norma yang dijunjung di dalam masyarakat. Barkemeyer (2007)

menjelaskan pengungkapan tanggungjawab sosial dalam konteks teori legitimasi

20
dan ketika masyarakat menerima informasi tersebut maka akan meningkatkan

nilai perusahaan.

Teori sinyal menjelaskan bagaimana perusahaan mengungkapakan

informasi kepada pihak eksternal. Perusahaan yang memiliki nilai lebih tentunya

akan menjadi sinyal positif terhadap investor. Investor akan tertarik pada

perusahaan yang memiliki prospek yang menjanjikan. Tingginya profitabilitas

akan menjadi daya tarik tersendiri untuk para investor. Tingginya profitabilitas

menunjukkan bahwa suatu perusahaan memiliki prospek yang baik sehingga

meningkatkan nilai perusahaan. Teori sinyal mengemukakan tentang dorongan

perusahaan memberikan informasi kepada pihak eksternal (Hassan, 2008).

Asimetri informasi yang dimiliki oleh pihak internal dan eksternal perusahaan

mendorong perusahaan untuk mempublikasikan informasi yang dimiliki.

Pengungkapan corporate social responsibility merupakan informasi yang wajib

dipublikasikan.

Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan, maka peneliti

merumuskan kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:

Gambar 2.1

21
Kerangka Konseptual

Teori Teori Teori Teori Sinyal


Keagenan Stakeholder Legitimasi

Pengungkapan
Corporate Social
Responsbility

Kepemilikan
Manajerial

Kepemilikan Nilai
Institusional Perusahaan

Profitabilitas

2.3 Hipotesis Penelitian

2.3.1 Pengaruh Kepemilikan Manajerial pada Nilai Perusahaan

Menurut agency teory, pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan

perusahaan dapat menimbulkan konflik keagenan. Konflik ini terjadi akibat dari

perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen untuk memaksimalkan

kepentingannya masing-masing. Perbedaan kepentingan ini dapat memicu

manajer untuk berperilaku curang dan tidak etis sehingga merugikan pemegang

saham. Kepemilikan saham oleh manajemen dapat menjadi solusi dari

permasalahan tersebut sehingga dapat menyejajarkan kepentingan antara

manajemen dengan pemegang saham. Manajer yang sekaligus pemegang saham

akan melakukan tindakan yang meningkatkan nilai perusahaan, karena apabila

nilai perusahaan meningkat maka kesejahteraannya sebagai pemegang saham juga

22
turut meningkat. Menurut Jensen dan Meckling (1976), jika kepemilikan saham

meningkat, maka manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja

perusahaan dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kemakmuran para

pemegang saham yang secara tidak langsung akan meningkatkan nilai perusahaan.

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Rachman (2012), Ningsih (2013),

Risqia et al., (2013) dan Murni (2015) mendapatkan hasil bahwa kepemilikan

manajerial berpengaruh positif pada nilai perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan

semakin meningkatnya kepemilikan manajerial maka semakin bertambah

kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan sehingga kontrol pada

aktivitas manajemen akan meningkat dan mengakibatkan setiap aktivitas dan

keputusan perusahaan akan maksimal. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu

maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

H1: Kepemilikan manajerial berpengaruh positif pada nilai perusahaan.

2.3.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional pada Nilai Perusahaan

Kepemilikan institusional merupakan salah satu alat yang dapat digunakan

untuk mengurangi agency conflict (Nuraina 2012). Semakin tinggi tingkat

kepemilikan institusional maka semakin kuat tingkat pengendalian yang dilakukan

oleh pihak ekstemal terhadap perusahaan sehingga agency cost yang terjadi di

dalam perusahaan semakin berkurang dan nilai perusahaan juga dapat semakin

meningkat. Kepemilikan institusional mempunyai arti penting dalam memonitor

manajemen dalam mengelola perusahaan. Menurut Sofyaningsih dan Pancawati

(2011), meningkatkan kepemilikan institusional menjadikan fungsi pengawasan

akan berjalan secara efektif dan menjadikan manajemen semakin berhati-hati

23
dalam memperoleh dan mengelola pinjaman (hutang), karena jumlah hutang yang

semakin meningkat akan menimbulkan financial distress. Oleh karena itu,

semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva

perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai pencegahan terhadap

pemborosan dan manipulasi laba yang dilakukan oleh manajemen sehingga dapat

meningkatkan nilai perusahaan

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Adnantara (2013), Mokhtari dan

Khosro (2013), Thanatawee (2014), Pratiwi dkk. (2016) mendapatkan hasil bahwa

kepemilikan institusional memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap

nilai perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya kepemilikan

institusional dapat menarik minat investor untuk melakukan investasi kepada

perusahaan tersebut karena mereka berspekulasi bahwa dana yang mereka tanam

akan berkembang dengan cepat. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu maka

hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut

H2: Kepemilikan institusional berpengaruh positif pada nilai perusahaan.

2.3.3 Pengaruh Profitabilitas pada Nilai Perusahaan

Pengungkapan profitabilitas yang dikeluarkan oleh perusahaan menjadi

salah satu pertimbangan utama yang bisa memengaruhi minat investor pada suatu

perusahaan, untuk memberikan sinyal positif. Semakin tinggi profitabilitas yang

diungkapkan oleh perusahaan maka akan memberikan sinyal bahwa perusahaan

dapat menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Investor akan tertarik

untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan yang dianggap memberikan

keuntungan pada para pemegang sahamnya.

24
Berbagai kebijakan yang diambil manajemen dalam upaya untuk

meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik dan

para pemegang saham yang tercermin pada harga saham. Sehingga, dari kondisi

tersebut investor akan berkepentingan dengan menganalisis nilai perusahaan,

sebab analisis nilai perusahaan akan memberikan manfaat informasi kepada

investor dalam menilai prospek perusahaan di masa mendatang dalam

menghasilkan laba. Sehingga, profitabilitas memiliki pengaruh positif terhadap

nilai sebuah perusahaan.

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Hermuningsih (2013), Dewa dan

Utaminingsih (2014), Sabrin et al., (2016), Yanuar dan Wirawati (2017)

mendapatkan hasil bahwa profitabilitias memiliki pengaruh positif signifikan

terhadap nilai perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan profitabilitas yang tinggi

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang

tinggi bagi pemegang saham. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin

besar pula kemampuan perusahaan untuk membayarkan devidennya dan hal ini

berdampak pada kenaikan nilai perusahaan. Berdasarkan teori dan penelitian

terdahulu maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

H3: Profitabilitas berpengaruh positif pada nilai perusahaan.

2.3.4 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap

Kepemilikan Manajerial pada Nilai Perusahaan

Kepemilikan manajerial dimaksudkan untuk memungkinkan manajer ikut

serta dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan. Manajer yang memiliki

saham dalam perusahaan akan dianggap tidak hanya sebagai pihak eksternal yang

25
hanya demi kepentingan pihak shareholder (pemegang saham) akan tetapi juga

sebagai pihak yang memiliki kesejajaran dengan pihak shareholder. Semakin

besar kepemilikan rnanajer di dalam perusahaan, manajer perusahaan akan

semakin banyak rnengungkapkan informasi sosial dari kegiatan-kegiatan yang

telah dilakukan di dalarn program corporate social responsibility (Putri, 2013).

Di sisi lain, dengan adanya corporate social responsibility maka

perusahaan juga akan dilihat memiliki kinerja keuangan yang baik (Arsoy et al.,

2012). Teori legitimasi adalah salah satu teori yang mendasari pengungkapan

corporate social responsibility. Pada dasarnya pengungkapan corporate social

responsibility bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat aktivitas sosial

yang dilakukan oleh perusahaan dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Tujuan

dari adanya pengungkapan sosial perusahaan adalah untuk menunjang tujuan

utama perusahaan dalam usaha mendapatkan profit maksimum. Legitimasi ini

akan meningkatkan reputasi perusahaan yang pada akhirnya akan berpengaruh

pada nilai perusahaan tersebut.

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Adnantara (2013), Latupono (2015)

mendapatkan hasil bahwa pengungkapan corporate social responsibility

berpengaruh pada nilai perusahaan. Penelitian lainnya Ainullia (2013), Ratih

(2015), Hartana dan Putra (2017) menyatakan bahwa corporate social

responsibility mampu memoderasi kepemilikan manajerial pada nilai perusahaan.

Hal ini ditunjukkan dengan pelaksanaan corporate social responsibility oleh

perusahaan yang memiliki kepemilikan manajerial yang tinggi akan menjamin

nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan dengan menciptakan produk baru,

26
penggantian mesin yang lebih efisien, pengembangan research dan development.

Perusahaan yang memiliki kepemilikan manajerial yang tinggi cenderung

meningkatkan nilai perusahaan melalui pengungkapan corporate social

responsibility oleh perusahaan. Hal ini sesuai dengan stakeholder theory bahwa

perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri

namun harus memberikan manfaat bagi stakeholders. Oleh karena itu dengan

adanya kepemilikan manajerial dan penerapan CSR akan meningkatkan minat

investor juga kepuasan stakeholder yang nantinya meningkatkan nilai perusahaan.

Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu maka hipotesis yang dapat dirumuskan

adalah sebagai berikut.

H4: Corporate social responsibility memperkuat hubungan kepemilikan

manajerial pada nilai perusahaan.

2.3.5 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap

Kepemilikan Institusional pada Nilai Perusahaan

Kepemilikan institusional merupakan pemegang saham terbesar sehingga

merupakan sarana untuk memonitor manajemen (Djakman dan Machmud, 2008).

Investor institusional dapat meminta manajemen perusahaan mengungkapkan

informasi sosial dalam laporan tahunannya untuk transparansi kepada

stakeholders agar memperoleh legitimasi dan menaikkan nilai perusahaan melalui

mekanisme pasar modal sehingga memengaruhi harga saham perusahaan. Adanya

pengungkapan corporate social responsibility akan dapat meningkatkan reputasi

perusahaan yang merupakan kunci untuk menarik investor, mempertahankan

legitimasi sosial perusahaan, dan memotivasi karyawan, di sisi lain juga akan

27
meningkatkan nilai merek dan reputasi perusahaan di mata investor. Pengelolaan

corporate social responsibility yang benar, akan menjadikan nama perusahaan

akan semakin baik sehingga loyalitas konsumen pun akan semakin tinggi.

Meningkatkan loyalitas konsumen akan berdampak pada meningkatnya penjualan

perusahaan dan keuntungan perusahaan yang juga berdampak pada peningkatan

nilai perusahaan.

Penelitian Ali et al. (2007) menyatakan bahwa kepemilikan perusahaan

oleh institusi akan mendorong pengawasan yang lebih efektif, karena institusi

memiliki kemampuan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. Hal itu berarti

dengan adanya kepemilikan institusional segala tindakan manajer akan diawasi

oleh kepemilikan institusional dan dapat mendorong kualitas dan kuantitas

pengungkapan corporate social responsibility. Sesuai dengan signalling theory

yang menyatakan bahwa pengungkapan corporate social responsibility

merupakan sinyal positif bagi investor dalam melakukan investasi, karena

penciptaan nilai pemangku kepentingan dapat dipandang sama dengan

menciptakan nilai pemegang saham (Warsono, 2009). Perusahaan yang

menerapkan corporate social responsibility dalam hal ini mengharapkan sikap

positif dari para investor atau pun kreditor yang nantinya secara tidak langsung

akan meningkatkan nilai perusahaan. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu

maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

H5: Corporate social responsibility memperkuat hubungan kepemilikan

institusional pada nilai perusahaan.

28
2.3.6 Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap

Profitabilitas pada Nilai Perusahaan

Profitabilitas dapat menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam

keputusan investasinya, karena semakin besar dividen (dividend payout) akan

semakin menghemat biaya modal, di sisi lain para manajer (insider) menjadi

meningkat powernya bahkan bisa meningkatkan kepemilikannya akibat

penerimaan dividen sebagai hasil keuntungan yang tinggi. Dengan tawaran

mendapatkan hasil keuntungan yang tinggi, diharapkan dapat menarik minat

investor di dalam berinvestasi. Teori legitimasi dalam bentuk umum memberikan

pandangan yang penting terhadap praktik pengungkapan sosial perusahaan.

Perusahaan akan berusaha untuk memperoleh legitimasi dari masyarakat dengan

melaksanakan program-program yang sesuai dengan keinginan ataupun harapan

masyarakat. Perusahaan akan menjadikan corporate social responsibility sebagai

salah satu bentuk legitimasi perusahaan agar memperoleh legitimasi dari

masyarakat. Hal ini berarti selain melihat kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba, pasar juga memberikan respon terhadap pengungkapan

corporate social responsibility yang dilakukan perusahaan. Pengungkapan sosial

perusahaan diwujudkan melalui kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial. Semakin

baik kinerja yang dilakukan perusahaan di dalam memperbaiki lingkungannya

(kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial), maka nilai perusahaan semakin

meningkat sebagai akibat dari para investor yang menanamkan sahamnya pada

perusahaan. Hal tersebut dikarenakan para investor lebih tertarik untuk

menginvestasikan modalnya pada korporasi yang ramah lingkungan. Menurut

29
Bowman dan Haire (1976), semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka

semakin besar pengungkapan informasi sosial yang dilakukan perusahaan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa corporate social responsibility akan

meningkatkan nilai perusahaan pada saat profitabilitas perusahaan meningkat.

Hasil penelitian Dahli dan Siregar (2008) juga mengindikasikan bahwa perilaku

etis perusahaan berupa tanggungjawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya

memberikan dampak positif, yang dalam jangka panjang akan tercermin pada

keuntungan perusahaan dan peningkatan kinerja keuangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Yuniasih and Wirakusuma (2007),

Munawaroh and Maswar (2014), Malino dan Wirawati (2017) mendapatkan hasil

bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan corporate

social responsibility mampu memoderasi hubungan antara profitabilitas dengan

nilai perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya tingkat profitabilitas dan

besarnya pengungkapan corporate social responsibility yang dilakukan

perusahaan dapat menjadi nilai tambah bagi calon investor. Variabel moderasi

corporate social responsibility akan turut menginteraksi hubungan antara

profitabilitas dan nilai perusahaan pada suatu kondisi tertentu. Desakan

lingkungan perusahaan menuntut perusahaan agar menerapkan strategi untuk

memaksimalkan nilai perusahaan. Strategi perusahaan seperti corporate social

responsibility dapat dilakukan untuk memberikan image perusahaan yang baik

kepada pihak eksternal. Perusahaan dapat memaksimalkan modal pemegang

saham, reputasi perusahaan, dan kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan

dengan menerapkan corporate social responsibility. Dengan mendapatkan

30
legitimasi dari masyarakat maka citra perusahaan akan bertambah. Investor

menyukai perusahaan yang memiliki citra yang baik, hal tersebut dapat

memengaruhi nilai perusahaan. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu maka

hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

H6: Corporate social responsibility memperkuat hubungan profitabilitas pada nilai

perusahaan.

31
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif berbentuk asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui

pengaruh ataupun hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini akan

menjelaskan permasalahan yang akan diteliti yaitu pengaruh variabel kepemilikan

manajerial, kepemilikan institusional dan profitabilitas pada nilai perusahaan

dengan corporate social responsibility sebagai variabel moderasi.

Corporate Social
Responsibility (M1)

Kepemilikan
Manajerial (X1)

Kepemilikan Nilai Perusahaan

Institusional (X2) (Y)

Profitabilitas
(X3)

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan mengakses

data-data sekunder berupa laporan tahunan pada seluruh perusahaan yang

tergabung di Bursa Efek Indonesia yang memenuhi kriteria pada periode 2015-

32
2017. Data-data yang diperlukan tersebut diakses melalui situs website

www.idx.co.id

3.3 Obyek Penelitian

Menurut Sugiyono (2014:13), objek penelitian adalah sasaran ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal

objektif, valid dan reliabel tentang suatu hal atau variabel tertentu. Obyek

penelitian pada penelitian ini adalah laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia dan memenuhi kriteria pada periode 2015-2017.

3.4 Identifikasi Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau nilai dari orang, objek atau

kegiatan yang berbentuk apa saja yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari

sehingga diperoleh informasi, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014).

Variabel dalam penelitian ini yaitu:

1) Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi

atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel dependen

dalam penelitian ini yaitu nilai perusahaan (Y1).

2) Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang memengaruhi

atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen atau

terikat. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu kepemilikan

manajerial (X1), kepemilikan institusional (X2) dan profitabilitas (X3).

3) Variabel moderasi adalah variabel yang memengaruhi (memperkuat atau

memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

33
Variabel moderasi dalam penelitian ini yaitu corporate social responsibility

(M)

3.5 Definisi Operasional Variabel

1) Nilai Perusahaan (Y)

Penelitian ini menggunakan rasio Tobin’s Q untuk memproksikan nilai

perusahaan. Rasio ini ditemukan oleh James Tobin (1997). Dalam

menghitung nilai perusahaan, rasio ini menunjukan estimasi pasar keuangan

saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi

incremental. Tobin’s Q dihitung dengan memperhatikan nilai pasar ekuitas,

unsur hutang maupun total ekuitas perusahaan. Jika rasio Q diatas satu,

maka menunjukkan investasi dalam aktiva menghasilkan laba yang

memberikan lebih tinggi dan pada pengeluaran investasi, hal ini akan

merangsang investasi baru. Jika rasio Q dibawah satu, investasi dalam aktiva

tidaklah menarik (Rachman, 2012). Rasio Tobin’s Q merupakan salah satu

proksi yang dapat digunakan untuk menghitung nilai perusahaan. Nilai

perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan rasio Tobin’s Q. Rasio

ini digunakan sebagai proksi karena rasio ini memasukkan semua unsur

hutang, modal saham perusahaan dan seluruh aset perusahaan (Agustina,

2013).

(𝐸𝑀𝑉+𝐷)
𝑄= ………………….……………………………(1)
(𝐸𝐵𝑉+𝐷)

Keterangan:
Q : nilai perusahaan
EMV : closing price x jumlah saham yang beredar (nilai pasar ekuitas)

34
D : nilai buku dari total hutang
EBV : total aktiva - total hutang (nilai buku dari total ekuitas)

2) Kepemilikan Manajerial (X1)

Kepemilikan manajerial merupakan persentase jumlah saham yang

dimiliki oleh manajer (Anwar et al., 2013). Kepemilikan manajerial dihitung

dengan persentase jumlah saham dari anggota direksi maupun dewan

komisaris dari seluruh saham perusahaan yang beredar di pasar (Rachmad,

2012).
Saham dewan direksi dan komisaris
Kepemilikan manajerial = Total saham beredar
×100% …. (2)

3) Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang

dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi, bank,

perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain (Nuraina, 2012).

Kepemilikan institusional dirumuskan sebagai berikut (Haruman, 2008):

Jumlah saham yang dimiliki institusi lain


Kepemilikan Institusional= ×100% ...(3)
Total saham beredar

4) Profitabilitas

Penelitian ini menggunakan proksi return on asset (ROA) sebagai

ukuran profitabilitas perusahaan. ROA menggambarkan sejauh mana tingkat

pengembalian dari seluruh aset yang dimiliki perusahaan. Syahyunan (2008)

menyatakan bahwa ROA menunjukkan kemampuan perusahaan

menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Besarnya perhitungan

35
pengembalian atas aktiva menunjukkan seberapa besar kemampuan

perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi para pemegang saham

biasa dengan seluruh aktiva yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk

mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan

aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh investor. Hasil

perhitungan rasio ini menunjukkan efektivitas dari manajemen dalam

menghasilkan keuntungan yang berkaitan dengan ketersediaan aset

perusahaan. Return on Assets (ROA) dihitung dengan rumus sebagai

berikut:

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 = ….……………………………… (5)
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

5) Corporate Social Responsibility

Pengungkapan corporate social responsibility diukur dengan proksi

Corporate Social Responsibility Indeks (CSRI) berdasarkan indikator Global

Reporting Initiative (GRI). CSRI di nilai dengan membandingkan jumlah

pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan dengan jumlah

pengungkapan yang disyaratkan dalam GRI G3 yang meliputi 79 item

pengungkapan. Pengungkapan corporate social responsibility dalam

penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

∑ 𝑋𝑖𝑗
𝐶𝑆𝑅𝐷𝐼𝐽 = …………..…………..………………………… (5)
𝑛

Keterangan:
CSRDIj : corporate social responsibility
∑ Xij : jumlah item yang diungkapkan perusahaan
N : seluruh item pengungkapan CSRDI

36
3.6 Populasi, Sampel, dan Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI) tahun 2015-2017 yang berjumlah 570 perusahaan. Sedangkan

sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode purposive

sampling dengan kriteria sebagai berikut:

1) Perusahaan yang tetap aktif beroperasi periode 2015-2017, serta

mempublikasikan laporan keuangan audited secara rutin di Bursa Efek

Indonesia.

2) Perusahaan yang mengungkapkan laporan pada tahun 2015-2017

menggunakan mata uang Rupiah.

3) Perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh manajerial dan institusional pada

tahun 2015-2017.

4) Perusahan yang memperoleh profitabilitas positif dalam periode waktu

2015-2017.

5) Perusahaan yang mengungkapkan laporan corporate social responsibily

pada tahun 2015-2017.

3.7 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data kuantitatif berupa

laporan keuangan tahunan perusahaan yang berupa angka-angka. Sumber data

yang digunakan yaitu data sekunder berupa laporan keuangan lengkap perusahaan

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017 yang diterbitkan oleh

37
perusahaan atau dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia atau website

www.idx.co.id.

3.8 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode dokumentasi yaitu dengan cara mengumpulkan dan mencatat laporan

keuangan yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia atau melalui website

www.idx.co.id.

3.9 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis

data statistik.

3.9.1 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan

data model regresi. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini, antara

lain:

1) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak.

Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau

mendekati normal. Metode yang digunakan adalah menggunakan uji statistik

non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Jika nilai signifikansi < 0,05

maka distribusi data residual tidak normal, sedangkan jika nilai signifikansi

> 0,05 maka data residual berdistribusi normal.

38
2) Uji Multikolinearitas

Uji multikolonieritas dilakukan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi

yang baik seharusnya tidak terjadi multikolonieritas. Cara mendeteksinya

adalah dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai

toleransi > 0,10 atau sama dengan nilai VIF < 10, tidak ada korelasi antar

variabel bebas atau tidak terjadi multikolinieritas antar variabel bebas.

3) Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah

model regresi linier berganda terjadi ketidaksamaan varian residual dari satu

pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah tidak

mengandung gejala heterokedastisitas atau mempunyai varian yang

homogen.

Salah satu cara untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dapat

dilakukan dengan uji glejser. Uji glejser mempertimbangkan untuk

meregresi nilai absolut residual terhadap variabel bebas (Gujarati, 2007).

Jika variabel bebas signifikan secara statistik memengaruhi variabel terikat,

maka indikasi terjadinya heteroskedastisitas. Jika variabel bebas tidak

signifikan (sig > 0,05), berarti model terbebas dari heteroskedastisitas.

4) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi

antara anggota sampel yang diurut berdasarkan waktu yang mengakibatkan

model regresi tidak dapat digunakan sebagai penaksir variabel terikat

39
(profitabilitas) pada nilai variabel bebas (likuiditas dan kepemilikan

institusional). Untuk mendeteksi autokorelasi digunakan Uji Durbin-Watson,

dimana hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan

adanya konstanta dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara

variabel independen. Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan cara uji

Durbin-Watson (DW test). Pengambilan keputusan ada tidaknya

autokorelasi adalah sebagai berikut:

(1) Bila nilai DW terletak antara batas atas (du) dan (4-du), maka koefisien

autokorelasi sama dengan nol berarti tidak ada autokorelasi.

(2) Bila nilai DW lebih rendah dari pada batas bawah (di), maka koefisien

autokorelasi lebih dari nol berarti ada autokorelasi positif.

(3) Bila nilai DW lebih dari pada (4-dl), maka maka koefisien autokorelasi

lebih kecil dari nol berarti ada autokorelasi negatif.

(4) Bila nilai DW terletak antara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau

DW terletak antara (4-du) dan (dl), maka hasilnya tidak dapat

disimpulkan.

3.9.2 Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda adalah hubungan secara linear antara dua

variabel atau lebih variabel bebas (X1, X2, X3, ….Xn) dengan variabel tergantung

(Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel bebas dengan

variabel tergantung apakah nilai dari variabel bebas mengalami kenaikan atau

penurunan.

40
3.9.3 Analisis Regresi Moderasi

Analisis regresi moderasi merupakan model regresi dengan melakukan uji

interaksi antar variabel (Ghozali, 2012:30). Analisis ini digunakan untuk menguji

pengaruh corporate social responsibility dalam memoderasi kepemilikan

manajerial, kepemilikan institusional dan profitabilitas pada nilai perusahaan.

3.9.4 Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t dan uji F. Langkah-

langkah uji t dan F menurut Wirawan (2011:15) antara lain:

1) Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model

dalam menjelaskan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi

berada diantara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel

independen dalam menjelaskan variabel dependen terbatas. Nilai yang

mendekati 1 berarti variabel independen memberikan hampir semua

informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen

Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam

menerangkan variabel independen, tapi karena R2 mengandung kelemahan

mendasar yaitu bias terhadap jumlah variabel independen yng dimasukkan

model, maka penelitian ini menggunakan adjusted R2 berkisar antara 0 dan

1. Jika nilai adjusted R2 semakin mendekati 1 maka semakin baik

kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen dan

sebaliknya. (Ghozali, 2011).

2) Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)

41
Uji statistik t dilakukan untuk menguji signifikansi pengaruh dari

variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji hipotesis dilakukan melalui uji t

dengan cara membandingkan antara thitung dengan ttabel dari koefisien regresi

setiap variabel independen. Pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai

probabilitas signifikan (Sig.) t yang dibandingkan dengan batas signifikan

yang ditetapkan yaitu sebesar 0,05. Penerimaan atau penolakan hipotesis

diakukan dengan kriteria sebagai berikut:

(1) Jika nilai probabilitas signifikan ≤ 0,05 maka hipotesis diterima.

Hipotesis diterima mempunyai arti bahwa secara parsial masing-

masing variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.

(2) Sebaliknya jika nilai probabilitas signifikan > 0,05 maka hipotesis

ditolak. Hipotesis ditolak mempunyai arti bahwa secara parsial

masing-masing variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel

terikat.

42
DAFTAR RUJUKAN

Adnantara, Komang Fridagustina. 2013. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham


dan Corporate Social Responsibility pada Nilai Perusahaan. Jurnal Buletin
Studi Ekonomi Universitas Udayana, 18 (2), h: 107-113.
Ainullia, Arfatun Uffun. 2013. Analisis Pengaruh Kepemilikan Manajemen,
Kepemilikan Institusi, Leverage, Ukuran Perusahaan Terhadap
Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Dampaknya Terhadap
Kinerja Keuangan. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Muhammadiyah
Surakarta.
Ananta, Lina. 2009. “Corporate Social Responsibility (CSR)”. Jurnal Manajemen,
8 (2) ,pp: 139-149.
Admati, R., P. Pfleiderer, and J. Zechner. 1994. Large Shareholder activism, risk
sharing and financial market equilibrium. Journal of Political Economy,
102: 1097-1130.
Alfaraih, Mishari., Faisal Alanezi, dan Hesham Almujamed. 2012. The Influence
of Institutional and Government Ownership on Firm Performance: evidence
from kuwait. International Business Research, 5(10), pp: 192-200.
Brigham, Eugene dan Houston Joel. 2007. Manajemen Keuangan. Jakarta:
Erlangga. Damayanti, Ni Putu Wida Putri, and I. Wayan Suartana.
2014.Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Institusional pada
Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 9 (3), h: 575-590.
Deegan, Bahtiar.,Uzliawati, Lia., Yulianto, Agus Sholikhan. 2012. Pengaruh
Dewan Komisaris Terhadap Environmental Disclosure pada Perusahaan
Manufaktur yang Listing Di BEI Tahun 2008-2011. Simposium nasional
Akuntansi XV. Banjarmasin.
Dewa, Gatot Putra, Utaminingsih, dan Nanik Sri. 2014. Pengaruh Profitabilitas
Terhadap Nilai Perusahaan dengan Sebagai Variabel Moderasi. Accounting
Analysis Journal, 3 (1), hal. 62-69.
Fiori G., Donato, F., Izzo, M.F., 2007. Corporate Social Responsibility and Firms
Performance. An Analysis on Italian Listed Companies, available at:
http://ssrn.com/abstract=1032851.
Ghozali, Imam dan A. Chariri. 2007. Teori Akuntansi (Edisi 3). Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Hackston, D. dan M. J. Milne, 1996, Some Determintants of Social and
Enviromental Disclosures in New Zealand Companies. Accounting,
Auditing and Accountability Journal, 9 (1), pp:77-108.

43
Hartana, I.B. Putu Rudy. 2017. Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan
Kepemilikan Institusional Pada Nilai Perusahaan dengan Corporate Social
Responsibility sebagai Pemoderasi. Jurnal Akuntansi Universitas Udayana,
21(3), h: 1903-1932.
Haruman, Tendi. 2008. Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Keputusan
Keuangan dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XI,
Pontianak.
Hermuningsih, Sri. 2013. Profitability, Growth Opportunity, Capital Structure and
The Firm Value. Bulletin of Monetary, Economics and Banking.
Husnan, Suad. 2004. Dasar Dasar Portofolio Akuntansi Sekuritas. Yogyakarta:
UPP AMP YKPN.
Jensen, Michael C., dan William H. Meckling. 1976. Theory of the firm:
Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of
financial economics, 3 (4), pp: 305-360.
Jogiyanto. 2013. Teori Portofolio dan Analisis Investasi (Edisi Ketujuh).
Yogyakarta : BPFE.
Juhadi, Nendi. 2013. The Effects of Internal Factors and Stock Ownership
Structure on Dividend Policy on Company`s Value (A Study on
Manufacturing Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX)).
International Juornal of Business and Management Invention, 2 (11), pp: 6-
18.
Latupono, S. S. 2015. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai
Perusahaan: Good Corporate Governance Variabel Moderating. Jurnal Ilmu
dan Riset Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, 4 (8), h:1-14.
Lifessy Martalina. 2011. Pengaruh Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap
Nilai Perusahaan dengan Struktur Modal sebagai Variabel Intervening pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI periode 2006-2009.Skripsi.
Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Padang.
Malino, Muhammad Ryan Yanuar Daeng dan Ni Gusti Putu Wirawati. 2017.
Pengaruh Profitabilitas dan Kepemilikan Manajerial Pada Nilai Perusahaan
dengan Pengungkapan CSR Sebagai Variabel Pemoderasi . E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana , 21 (3), hal. 2052-2080.
McWilliams, A. and D. Siegel. 2000, Corporate Social Responsibility and
Financial Performance: Correlation or Misspecification, Strategic
Management.
Mokhtari, Zobeidah dan Khosro Faghani. 2013. Relationship of Institusional
Ownership with Firm Value and Earning Quality: Evidence from Ttebran

44
Stock Exchange. International Journal of Economy, Management and
Social Sciences, pp: 495-502.
Munawaroh, Aisyatul, and Patuh Priyadi Maswar. 2014. Pengaruh Profitabilitas
Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Corporate Social Responsibility Sebagai
Variabel Moderating. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 3 (4), hal.1–17.
Murni, Yetty, and S E Mm. 2015. The Influence of Managerial Ownership,
Institutional Ownership and Voluntarydisclosure on Financial Performance
and Its Implication on The Corporate Value. 4 (5), hal. 52–64.
Naser, K., Al-Hussaini, A., Al-Kwari, D., dan Nuseibeh,R. 2006. “Determinans of
Corporate Social Dislosure in Developing Countries: The Case of Qatar”.
Advance in International Accounting, 19, pp: 1-23.
Ningsih, Hana Ratna. 2013. Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan Rasio
Pengembalian Aktiva terhadap Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI). Jurnal Universitas Komputer
Indonesia.
Nuraina, Elva. 2012. Pengaruh Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Kebijakan Hutang dan Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI). Jurnal Bisnis dan Ekonomi Universitas
Surabaya, 19 (2), h: 110-125.
Puja Wijaya, I. B. N., dan Purnawati, N. K. 2014. Pengaruh Likuiditas dan
Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan Dimoderasi oleh
Kebijakan Dividen. Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 3 (12),
h:3768-3780.
Rahmawati, A., Nurdin, D., Bidin, C.K. 2015. Pengaruh Kepemilikan Manajerial
dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan pada Industri
Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Fakultas
Ekonomi Universitas Tadulako.3 (1), h: 1-6.
Reyna, Juan M. San Martin. 2012. Ownership Structure, Firm Value and
Investment Opportunities Set: Evidence from Mexican Firms. Journal of
Entrepreneurship, Management and Innovation (JEMI), 8 (13), pp: 35-57.
Rika Susanti. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Nilai
Perusahaan pada Perusahaan Go Public yang Listed Tahun 2005-2008.
Skripsi.Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.
Rizqia, Dwita Ayu, Siti Aisjah, and Sumiati. 2013. Effect of Managerial
Ownership, Financial Leverage, Profitability, Firm Size, and Investment
Opportunity on Dividend Policy and Firm Value. Research Journal of
Finance and Accounting, 4 (11), hal. 120–30.

45
Rustiarini, Ni Wayan. 2011. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham pada
Pengungkapan Corporate Social Responsibility. AUDI Jurnal Akuntansi dan
Bisnis.
Sabrin, Buyung Sarita, Dedy Takdir S, and Sujono. 2016. The Effect of
Profitability on Firm Value in Manufacturing Company at Indonesia Stock
Exchange. The International Journal Of Engineering And Science (IJES), 5
(10), pp. 52-64
Saidi, Zaim dan Hamid Abidin. 2004. Menjadi Bangsa Pemurah : Wacana dan
Praktek Kedermawanan Sosial di Indonesia. Jakarta: Piramedia.
Sembiring, E. R. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung
Jawab Sosial : Studi Empiris pada Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek
Jakarta. Paper Presented at the Seminar Nasional Akuntansi, Solo.Shleifer,
A. and Vishny, R.W. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of
Finance, 52: 737—783
Sinarmayarani, A. 2016. Pengaruh Kepemilikan Institusional dan Profitabilitas
terhadap Nilai Perusahaan melalui Kebijakan Dividen. Jurnal Ilmu & Riset
Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, 5 (5), h:1-18.
Thanatawee, Yordying. 2013. Life-Cycle Theory and Free Cash Flow Hypothesis:
Evidence From Dividend Policy in Thailand. pp. 1-11.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas Pasal 74, Ayat 1-4. http://bapepam.go.id .
Uwuigbe, Uwalomwa dan Olamide Olusanmi. 2012. An Empirical Examination
of the Relationship between Ownership Structure and the Performance of
Firms in Nigeria. International Business Research, 5(1), pp: 208-215.
Warapsari, A.A Ayu Uccahati. 2016. Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan
Institusional Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Utang sebagai
Variabel Intervening. Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 16(3),
h:2288-2315.
Welim, Michelle Freshilia. 2014. Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan
Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada
Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di BEI). Jurnal Ekonomi Akuntansi
Universitas Atmajaya Yogyakarta, h: 1-14.
Wiagustini, Ni Luh Putu. 2010. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Denpasar:
Udayana University Press.
Yuniasih, and Wirakusuma. 2007. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai
Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan
Good Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal
Akuntansi Dan Bisnis Media Audit, 4 (1), hal. 1–10.

46