You are on page 1of 20

MAKALAH

“Asuhan Keperawatan Infertilitas pada Pria dan


Wanita”

Kelompok 5 :

1. Adien Aprilatharani (161101002)


2. Dicha Wening M (161101010)
3. Irofil Amar (161101018)
4. Khusnul Khofifah (161101019)
5. Maulanna Harviantanto (161101024)
6. Melinda Mega P. (161101026)
7. Nazzuan Jesia E. (161101029)
8. Ria Devi Najibullah (161101034)
9. Sofia Fachroziah (161101042)
10.Yusuf Wiyonno (161101050)

S1 KEPERAWATAN TINGKAT 2A
STIKES PEMKAB JOMBANG
Tahun Ajaran 2017/2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Keperawatan Maternitas.

Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini


tidak lain berkat kerjasama dari satu kelompok, sehingga kendala-kendala yang
kami hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu mengenai


Asuhan Keperawatan Infertilitas pada Pria dan Wanita. Namun dengan penuh
kesabaran, terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.

Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu, kepada Ibu Rodyah, S.Kep, Ns. M.Kes. Selaku dosen
Keperawatan Maternitas, kami meminta masukannya demi kesempurnaan tugas
makalah ini, juga mengharapkan kritik dan saran dari Ibu.

Jombang, 02 Mei 2018

Kelompok V

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 2

1.3 Tujuan Masalah ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 3

2.1 Pengertian Autoregulasi ..................................................................................... 3


2.2 Etiologi Infertilitas ............................................................................................. 3
2.3 Manifestasi Klinis Infertilitas............................................................................. 5
2.4 Patofisiologi Infertilitas ...................................................................................... 6
2.5 Penatalaksanaan Infertilitas ................................................................................ 7
2.6 Etiologi Infertilitas ............................................................................................. 9

BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 16

3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 16


3.2 Saran .................................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Sekalipun gerakan keluarga berencana telah digalakkan dengan gencar, tetapi ada
sebagian kecil masyarakat sangat mendambakan keturunan karena telah cukup waktu
untuk menunggunya namun belum berhasil. Diperkirakan jumlah mereka sekitar 10 %
pasangan usia subur atau kurang sama dengan 7-8 juta orang. Kerisauan mereka
menyebabkan mereka sangat gelisah, dan terus berusaha dan dapat berkali-kali berganti
dokter yang didengarnya telah berhasil dalam menolong mereka yang mendambakan
kehamilan. Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan mengandung setelah 1 tahun
berusaha hamil. Infertil primer menunjuk pada pasien yang belum pernah hamil sama
sekali. Infertil sekunder digunakan untuk pasien yang pernah hamil sebelumnya (Benson,
2008).
Insiden infertilitas meningkat (sekitar 100 % selama 20 tahun terakhir) di negara-
negara maju karena meningkatnya PMS (terutama gonore dan klamidia yang kemudian
menyebabkan kerusakan tuba), meningkatnya jumlah mitra seksual (meningkatnya
kemungkinan mendapat PMS), sengaja menunda kehamilan , penggunaan kontrasepsi dan
merokok ( > 1 bungkus per hari menurunkan kesempatan hamil sebesar > 20 %).
Infertilitas menyebabkan 10 -20 % dari semua kunjungan ke bagian ginekologi.
Angka fertilitas ditentukan dengan menggunakan fekundibilitas (kemungkinan
hamil 1 bulan paparan) hanya 25% pasangan muda sehat yang sering melakukan
hubungan seksual akan hamil perbulan (60% per 6 bulan, 75% per 9 bulan dan 90% per
18 bulan). Fekundibilitas menurun dengan meningkatnya umur dan efeknya kurang jelas
pada wanita dibanding pria. Pada umur 36-37 tahun kemungkinan hamil kurang dari
separuh dibandingkan pada umur 25-27 tahun.
Penanganan pasangan mandul atau kurang subur merupakan masalah medis yang
kompleks dan menyangkut beberapa disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan
konsultasi dan pemeriksaan yang kompleks pula. Penilaian yang cermat harus dapat
mengenali kemungkinan penyebab 85%-90% kasus infertilitas. Yang membahagiakan
meskipun tanpa diberikan terapi, 15-20% pasangan infertil dapat diharapkan hamil

1
sejalan dengan waktu, tetapi selain fertilisasi in vitro (IVF) dapat menyebabkan
kehamilan pada 50%-60% kasus.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian Dari Infertilitas?
2. Apa Etiologi Dari Infertilitas?
3. Bagaimana Manifestasi Klinis Dari Infertilitas?
4. Bagaimana Patofisiologi Dari Infertilitas?
5. Bagaimana Penatalaksanaan Infertilitas?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Dari Infertilitas
2. Mengetahui Etiologi Dari Infertilitas
3. Mengetahui Manifestasi Klinis Dari Infertilitas
4. Mengetahui Patofisiologi Dari Infertilitas
5. Mengetahui Penatalaksanaan Infertilitas

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Infertilitas


Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan
setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung (Keperawatan Medikal Bedah).
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama
satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi,
tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki
keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama
secara teratur 2-3 x / minggu, tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun
Ada 2 jenis infertilitas :
1. Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan sama
sekali.
2. Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun setelah
itu tidak pernah hamil lagi

2.2 Etiologi Infertilitas


Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian
membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-
55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus
anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri.
Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas antara lain :
2.2.1 Pada Wanita
a. Gangguan organ reproduksi:
1) Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan
membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat
transportasi sperma ke vagina
2) Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu
pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks, perjalanan

3
sperma ke dalam rahim terganggu. Selain itu, bekas operasi pada serviks
yang menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga
sperma tidak dapat masuk ke rahim
3) Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang
mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang
menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus
dan akhirnya terjadi abortus berulang
4) Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii
dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu
b. Gangguan ovulasi
Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti
adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh
besar terhadap ovulasi. Hambatan ini dapat terjadi karena adanya tumor kranial,
stress, dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi
hipothalamus dan hipofise. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini,
maka folikel mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gangguan
ovulasi.
c. Kegagalan implantasi
Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam
mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi pembuahan, proses
nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akibatnya fetus tidak dapat
berkembang dan terjadilah abortus.
d. Endometriosis
Kondisi menebalnya lapisan endometrium di tuba falopii atau ovarium. Kondisi
ini sering menimbulkan kista. Kista dapat mengganggupematangan folikel dan
pelepasan sel telur.
e. Abrasi genetis
Translokasi Robertsonian menyebabkan aborsi spontan atau infertilitas primer
f. Faktor immunologis
Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu
memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat
menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.
g. Lingkungan

4
Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan
pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ
reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan.
h. Usia
Usia 35 tahun peluang seorang wanita akan hamil adalah 95% setelah rutin
melakukan hubungan seks selama 3 tahun, pada wanita 38 tahun peluangnya
akan turun menjadi 75%.
2.2.2 Pada Pria
Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu :

a. Abnormalitas sperma; morfologi, motilitas


b. Abnormalitas ejakulasi; ejakulasi retrograde, hipospadia
c. Abnormalitas ereksi
d. Abnormalitas cairan semen; perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi
e. Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi
penyempitan pada obstruksi pada saluran genital
f. Lingkungan; Radiasi, obat-obatan anti kanker
g. Abrasi genetik

2.3 Manifestasi Klinis Infertilitas


2.3.1 Wanita
a. Terjadi kelainan system endokrin
b. Hipomenore dan amenore
c. Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan
d. masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik
e. Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak
f. berkembang,dan gonatnya abnormal
g. Wanita infertil dapat memiliki uterus
h. Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi,
i. adhesi, atau tumor
j. Traktus reproduksi internal yang abnormal
2.3.2 Pria
a. Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas,
b. radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)

5
c. Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
d. Riwayat infeksi genitorurinaria
e. Hipertiroidisme dan hipotiroid
f. Tumor hipofisis atau prolactinoma
g. Disfungsi ereksi berat
h. Ejakulasi retrograt
i. Hypo/epispadia
j. Mikropenis
k. Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
l. Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
m. Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
n. Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
o. Abnormalitas cairan semen

2.4 Patofisiologi Infertilitas


2.4.1 Wanita
Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya
gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH
dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di
ovarium. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada
ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari
infertilitas, diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat
lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus
menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi
fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi pembentukan folikel.
Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Faktor lain yang
mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan kromosom
seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik.
Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga
terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga
menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan
gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus.
2.4.2 Pria

6
Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus
dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup
memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya
merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada
abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi
masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar
areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi
retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke
vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu.

2.5 Penatalaksanaan Infertilitas


2.5.1 Perempuan
a. Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu
yang tepat untuk coital
b. Pemberian terapi obat, seperti;
1) Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi
hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh .
2) Terapi penggantian hormon
3) Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal
4) Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan
infeksi dini yang adekuat
5) GIFT ( gemete intrafallopian transfer )
6) Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas
7) Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate,
8) Pengangkatan tumor atau fibroid
9) Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi
2.5.2 Laki-laki
a. Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun,
diharapkan kualitas sperma meningkat
b. Agen antimikroba
c. Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan
d. HCG secara i.m memperbaiki hipoganadisme
e. FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis
f. Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus
7
g. Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik
h. Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma
i. Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti,
perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan
ketat
j. Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung
spermatisida

8
Asuhan Keperawatan Pada Klien Infertilitas

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama, jenis kelamin, suku bangsa / latar belakang kebudayaan, agama, status sipil,
pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2. Riwayat Kesehatan
- Wanita
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
1) Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di
rumah
2) Riwayat infeksi genitorurinaria
3) Hipertiroidisme dan hipotiroid, hirsutisme
4) Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama
5) Tumor hipofisis atau prolaktinoma
6) Riwayat penyakit menular seksual
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Endometriosis dan endometrits
2) Vaginismus (kejang pada otot vagina)
3) Gangguan ovulasi
4) Abnormalitas tuba falopi, ovarium, uterus, dan servik
5) Autoimun
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic
d. Riwayat Obstetri
1) Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi
2) Mengalami aborsi berulang
3) Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat
kontrasepsi
- Pria
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
1) Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi
(panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)

9
2) Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
3) Riwayat infeksi genitorurinaria
4) Hipertiroidisme dan hipotiroid
5) Tumor hipofisis atau prolactinoma
6) Trauma, kecelakan sehinga testis rusak
7) Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis
8) Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi
contoh : operasi prostat, operasi tumor saluran kemih
9) Riwayat vasektomi
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Disfungsi ereksi berat
2) Ejakulasi retrograt
3) Hypo/epispadia
4) Mikropenis
5) Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha)
6) Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
7) Saluran sperma yang tersumbat
8) Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
9) Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
10) Abnormalitas cairan semen
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic

B. Pemeriksaan Fisik

Terdapat kelainan pada organ genital wanita maupun pria

a. Pemeriksaan wanita
1) Pemeriksaan vagina
Masalah vagina yang dapat mengahambat penyimpanan air mani ke dalam vagina
sekitar serviks ialah adanya sumbatan atau peradangan. Sumbatan psikogen
disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan anatomik dapat karena
bawaan atau perolehan.
2) Pemeriksaan leher rahim

10
Pemeriksaan standar leher rahim yang dikenal sebagai PAP Smear (smear test) ini
perlu dilakukan 3-5 tahun sekali pada setiap wanita dewasa dengan kehidupan
seks yang aktif. Vagina dibuka dengan spekulum dan contoh sel permukaan lehir
rahim diambil dengan alat spatula, lalu dibawa ke lab untuk dianalisa, jangan
melakukan hubungan seksual, Douche / menggunakan produk pembersih vagina
selama 24 jam setelah PAP Smear.
b. Pemeriksaan Pria
1) Mengamati kelainan fisik
Dalam kesempatan pemeriksaan fisik dilihat penyebaran rambut dan lemak yang
tidak rata, atau konsistensi testis, bisa menjadi tanda akibat ketidakseimbangan
hormonal kelainan fisik lain dari alat reproduksi pria yang perlu diperiksa adalah
kemungkinan adanya parut atau varises pada scrotum yang dapat mempengaruhi
jumlah dan kemampuan bergerak (mobilitas) sperma. Salah satu testis tidak turun
(kroptorkismus) berarti memperkecil kemampuan produksi sperma.
2) Penampungan air mani
Air mani ditampung dengan jalam masturbasi langsung kedalam botol gelas yang
bermulut lebar (atau gelas minum), setelah abstensi 3-5 hari. Sebaiknya
penampungan dilakukan dirumah kemudian dibawa kelaboratorium dalam 2 jam
setelah dikeluarkan.

C. Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic


2. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas
3. Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk
4. Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic

D. Rencana Asuhan Keperawatan

1) Dx.1 : Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic


Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan ansietas klien
berkurang
Kriteria Hasil:
1. Klien mampu mengungkapkan tentang infertilitas dan bagaimana treatmentnya
2. Klien memperlihatkan adanya peningkatan kontrol diri terhadap diagnosa infertile
3. Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile

11
RASIONAL
No INTERVENSI

1 Jelaskan tujuan test dan prosedur Menurunkan cemas dan takut


terhadap diagnosis dan prognosis

2 Tingkatkan ekspresi perasaan dan Biarkan pasien / orang terdekat


takut, contoh : menolak, depresi, mengetahui ini sebagai reaksi yang
dan marah. normal Perasaan tidak diekspresikan
dapat menimbulkan kekacauan
internal dan efek gambaran diri
3 Dorong keluarga untuk Meyakinkan bahwa peran dalam
menganggap pasien seperti keluarga dan kerja tidak berubah
sebelumnya

4 Kolaborasi : berikan sedative, Mungkin diperlukan untuk membantu


tranquilizer sesuai indikasi pasien rileks sampai secara fisik
mampu untuk membuat startegi
koping adekuat

2) Dx.2 : Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan
fertilitas
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien mengalami
perubahan harga diri
Kriteria Hasil:
1. Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile
2. Terjalin kontak mata saat berkomunikasi
3. Klien mampu Mengidentifikasi aspek positif diri
INTERVENSI
No RASIONAL

1 Tanyakan dengan nama apa pasien Menunjukan kesopan santunan /


ingin dipanggil penghargaan dan pengakuan personal

2 Identifikasi orang terdekat dari Memungkinkan privasi untuk


siapa pasien memperoleh kenyaman hubungan personal khusus, untuk
dan siapa yang harus mengunjungi atau untuk tetap dekat

12
memberitahuakan jika terjadi dan menyediakan kebutuhan
keadaan bahaya dukungan bagi pasien

3 Dengarkan dengan aktif masalah Menyampaikan perhatian dan dapat


dan ketakutan pasien dengan lebih efektif mengidentifikasi
kebutuhan dan maslah serta strategi
koping pasien dan seberapa efektif
4 Dorong mengungkapkan perasaan, Membantu pasien / orang terdekat
menerima apa yang dikatakannya untuk memulai menerima perubahan
dan mengurangi ansietas mengenai
perubahan fungsi / gaya hidup

5 Diskusikan pandangan pasien Persepsi pasien mengenai perubahan


terhadap citra diri dan efek yang pada citra diri mungkin terjadi secara
ditimbulkan dari penyakit / kondisi tiba- tiba atau kemudian

3) Dx.3 : Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk


Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu
melakukan mekanisme koping yang baik
Kriteria Hasil:
1. Klien Menunjukan rasa pergerakan kearah resolusi dan rasa berduka dan harapan
untuk masa depan
2. Klien menunjukkan fungsi pada tingkat adekuat, ikut serta dalam pekerjaan
RASIONAL
No INTERVENSI

1 Berikan lingkungan yang terbuka kemampuan komunikasi terapeutik


pasien merasa bebas untuk dapat seperti aktif mendengarkan, diam,
mendiskusikan perasaan dan selalu bersedia, dan pemahaman
masalah secara realitas dapat memberikan pasien kesempatan
untuk berbicara secara bebas dan
berhadapan dengan perasaan

2 Identifikasi tingkat rasa duka / Kecermatan akan memberikan pilihan


disfungsi : penyangkalan, marah, intervensi yang sesuai pada waktu

13
tawar - menawar, depresi, induvidu menghadapi rasa berduka
penerimaan dalam berbagai cara yang berbeda

3 Dengarkan dengan aktif pandangan Proses berduka tidak berjalan dalam


pasien dan selalu sedia untuk cara yang teratur, tetapi fluktuasainya
membantu jika diperlukan dengan berbagai aspek dari berbagai
tingkat yang muncul pada suatu
kesempatan yang lain

4 Identifikasi dan solusi pemecahan Mungkin dibutuhkan tambahan


masalah untuk keberadaan respon – bantuan untuk berhadapan dengan
respon fisik, misalnya makan, tidur, aspek – aspek fisik dari rasa berduka
tingkat aktivitas dan hasrat seksual

5 Kaji kebutuhan orang terdekat dan Identifikasi dari masalah – masalah


bantu sesuai petunjuk berduka disfungsional akan
mengidentifikasi intervensi
induvidual

6 Kolaborasi : rujuk sumber – sumber Mungkin dibutuhkan bantuan


lainnya misalnya konseling, tambahan untuk mengatasi rasa
psikoterapi sesuai petunjuk berduka, membuat rencana, dan
menghadapi masa depan

4) Dx.4 :
Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien
berkurang
Kriteria Hasil :
1. Ekspresi klien terlihat tenang
2. Napas klien teratur
3. Skala nyeri 0-3
4. Ttv dalam rentang normal
5. Klien mengetahui penyebab nyeri

14
6. Kliem mampu menggunakan teknik distraksi relaksasi dengan baik
RASIONAL
No INTERVENSI

1 Lakukan komunikasi terapeutik kemampuan komunikasi terapeutik


seperti aktif mendengarkan, diam,
selalu bersedia, dan pemahaman dapat
memberikan pasien kesempatan untuk
berbicara secara bebas dan
berhadapan dengan perasaan

2 Pantau lokasi, lamanya intensitas Perhatikan tanda nonverbal, contoh


dan penyebaran (PQRST) peningkatan TD dan nadi, gelisah,
merintih
Untuk menentukan intervensi
selanjutnya

3 Jelaskan penyebab nyeri dan Memberikan kesempatan untuk


pentingnya melaporkan ke staff pemberian analgesik sesuai waktu
terhadap karakteristik nyeri

4 Berikan tindakan relaksasi, contoh Menurunkan tegangan otot dan


pijatan, lingkungan istirahat meningkatan koping efektif

5 Bantu atau dorong penggunaan Mengarahkan kembali perhatian dan


nafas efektif membantu dalam relaksasi otot

6 Bimbingan imajinasi Mengontrol aktivitas terapeutik

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan
setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung (Keperawatan Medikal Bedah).
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama
satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi,
tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Klasifikasi infertilitas :
3. Infertilitas Primer
4. Infertilitas Skunder
Penanganan pasangan mandul atau kurang subur merupakan masalah medis yang
kompleks dan menyangkut beberapa disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan
konsultasi dan pemeriksaan yang kompleks pula. Penilaian yang cermat harus dapat
mengenali kemungkinan penyebab 85%-90% kasus infertilitas. Yang membahagiakan
meskipun tanpa diberikan terapi, 15-20% pasangan infertil dapat diharapkan hamil
sejalan dengan waktu, tetapi selain fertilisasi in vitro (IVF) dapat menyebabkan
kehamilan pada 50%-60% kasus.

3.2 Saran
Kami yakin makalah ini banyak kekurangan maka dari itu kami sangat
mengharapkan saran dari teman-teman dalam penambahan untuk kelengkapan makalah
ini, karena saran yang kami terima dapat mengkoreksi makalah yang kami buat. Atas
saran dari teman-teman kami ucapkan terima kasih.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://askepinfertilitas.blogspot.sg/2016/10/askep-infertilitas.html?m=1

https://eviesetya.wordpress.com/2012/03/02/asuhan-keperawatan-infertilitas/

https://dieena.wordpress.com/2012/06/23/makalah-infertilitas/

http://www.scribd.com/doc/290840345/jurnal-infertilitas

http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/Askep%20Infertilitas.pdf

17