You are on page 1of 8

1.

Pengertian

Rasionalitas penggunaan obat (ketepatan pengobatan) adalah pemakaian


obat yang rasional dimana pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan
kebutuhan klinis (Saraswati, 2010). Kriteria penggunaan obat rasional meliputi
tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat pemilihan obat, tepat dosis, tepat penilaian
kondisi pasien, waspada terhadap efek samping, efektif, tepat tindak lanjut, tepat
penyerahan obat dan pasien patuh (Depkes, 2008).

Tepat dosis meliputi tepat jumlah, tepat cara pemberian, tepat frekuensi
waktu pemberian, tepat takaran dosis dan tepat lama pemberian obat. Apabila
salah satu dari lima hal tersebut tidak dipenuhi menyebabkan efek terapi tidak
tercapai (Depkes, 2008).

2. Kriteria Penggunaan Obat Rasional.

a) Tepat Diagnosis Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk


diagnosis yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka
pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru
tersebut. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan
indikasi yang seharusnya.
b) Tepat Indikasi Penyakit
Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifi k. Antibiotik, misalnya
diindikasikan untuk infeksi bakteri. Dengan demikian, pemberian obat ini
hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala adanya infeksi
bakteri.
c) Tepat Pemilihan Obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit. Contoh: Gejala
demam terjadi pada hampir semua kasus infeksi dan infl amasi. Untuk
sebagian besar demam, pemberian parasetamol lebih dianjurkan, karena
disamping efek antipiretiknya, obat ini relatif paling aman dibandingkan
dengan antipiretik yang lain. Pemberian antiinfl amasi non steroid

1
(misalnya ibuprofen) hanya dianjurkan untuk demam yang terjadi akibat
proses peradangan atau inflamasi.
d) Tepat Dosis Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh
terhadap efek terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya
untuk obat yang dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko
timbulnya efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan
menjamin tercapainya kadar terapi yang diharapkan.
e) Tepat Cara Pemberian Obat
Antasida seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik
tidak boleh dicampur dengan susu, karena akan membentuk ikatan,
sehingga menjadi tidak dapat diabsorpsi dan menurunkan efektivtasnya.
f) Tepat Interval Waktu Pemberian
Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis,
agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian obat per
hari (misalnya 4 kali sehari), semakin rendah tingkat ketaatan minum obat.
Obat yang harus diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat tersebut
harus diminum dengan interval setiap 8 jam.
g) Tepat lama pemberian
Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masingmasing.
Untuk Tuberkulosis dan Kusta, lama pemberian paling singkat adalah 6
bulan. Lama pemberian kloramfenikol pada demam tifoid adalah 10-14
hari. Pemberian obat yang terlalu singkat atau terlalu lama dari yang
seharusnya akan berpengaruh terhadap hasil pengobatan.
h) Waspada terhadap efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak
diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, karena
itu muka merah setelah pemberian atropin bukan alergi, tetapi efek
samping sehubungan vasodilatasi pembuluh darah di wajah. Pemberian
tetrasiklin tidak boleh dilakukan pada anak kurang dari 12 tahun, karena
menimbulkan kelainan pada gigi dan tulang yang sedang tumbuh.
i) Tepat penilaian kondisi pasien

2
Respon individu terhadap efek obat sangat beragam. Hal ini lebih jelas
terlihat pada beberapa jenis obat seperti teofi lin dan aminoglikosida. Pada
penderita dengan kelainan ginjal, pemberian aminoglikosida sebaiknya
dihindarkan, karena resiko terjadinya nefrotoksisitas pada kelompok ini
meningkat secara bermakna.
j) Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin, serta
tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau Untuk efektif dan aman
serta terjangkau, digunakan obat-obat dalam daftar obat esensial.
Pemilihan obat dalam daftar obat esensial didahulukan dengan
mempertimbangkan efektivitas, keamanan dan harganya oleh para pakar di
bidang pengobatan dan klinis. Untuk jaminan mutu, obat perlu diproduksi
oleh produsen yang menerapkan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik)
dan dibeli melalui jalur resmi. Semua produsen obat di Indonesia harus
dan telah menerapkan CPOB.
k) Tepat informasi Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat
sangat penting dalam menunjang keberhasilan terapi.
l) Tepat tindak lanjut (follow-up)
Pada saat memutuskan pemberian terapi, harus sudah dipertimbangkan
upaya tindak lanjut yang diperlukan, misalnya jika pasien tidak sembuh
atau mengalami efek samping. Sebagai contoh, terapi dengan teofi lin
sering memberikan gejala takikardi. Jika hal ini terjadi, maka dosis obat
perlu ditinjau ulang atau bisa saja obatnya diganti. Demikian pula dalam
penatalaksanaan syok anafi laksis, pemberian injeksi adrenalin yang kedua
perlu segera dilakukan, jika pada pemberian pertama respons sirkulasi
kardiovaskuler belum seperti yang diharapkan.
m) Tepat penyerahan obat (dispensing)
Penggunaan obat rasional melibatkan juga dispenser sebagai penyerah
obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Pada saat resep dibawa ke
apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas, apoteker/asisten
apoteker menyiapkan obat yang dituliskan peresep pada lembar resep
untuk kemudian diberikan kepada pasien. Proses penyiapan dan
penyerahan harus dilakukan secara tepat, agar pasien mendapatkan obat

3
sebagaimana harusnya. Dalam menyerahkan obat juga petugas harus
memberikan informasi yang tepat kepada pasien.
n) Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan, ketidaktaatan
minum obat umumnya terjadi pada keadaan berikut:
- Jenis dan/atau jumlah obat yang diberikan terlalu banyak
- Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering
- Jenis sediaan obat terlalu beragam
- Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi
- Pasien tidak mendapatkan informasi/penjelasan yang cukup
mengenai cara minum/menggunakan obat
- Timbulnya efek samping (misalnya ruam kulit dan nyeri lambung),
atau efek ikutan (urine menjadi merah karena minum rifampisin)
tanpa diberikan penjelasan terlebih dahulu.

3. Penggunaan Obat Tidak Rasional.

Secara singkat, pemakaian obat (lebih sempit lagi adalah peresepan obat
atau prescribing), dikatakan tidak rasional apabila kemungkinan untuk
memberikan manfaat kecil atau tidak ada sama sekali, sedangkan kemungkinan
manfaatnya tidak sebanding dengan kemungkinan efek samping atau biayanya
(Vance & Millington, 1986).

Hampir setengah dari semua obat di dunia digunakan secara tidak rasional.
Hal ini dinyatakan ahli kesehatan di WHO dapat mengakibatkan konsekuensi
yang berat: reaksi yang tidak diinginkan, resistensi obat, penyakit yang
berlangsung lebih lama dari semestinya bahkan kematian. Biaya yang dikeluarkan
oleh individu dan pemerintah akibat pengobatan yang tidak rasional seharusnya
tidak terjadi dan seringkali sangat tinggi: terutama di negara-negara berkembang
yang pasiennya mengeluarkan biaya kesehatan dari anggaran pribadi.

Termasuk dalam pemberian obat tidak rasional adalah pengobatan yang


kurang tepat (misalnya : pemilihan obat, bentuk sediaan, dosis, rute, interval
dosis, lama pemakaian), pemberian obat yang tidak diperlukan, penyerahan obat
yang tidak tepat, obat tidak tersedia saat dibutuhkan, kesalahan dipensing,

4
perilaku pasien yang tidak mendukung, idiosinkrasi pasien,
pelaksanaan/penggunaan obat yang tidak sesuai dengan perintah pengobatan (non
compliance), respon aneh individu terhadap obat, pemantauan yang tidak tepat,
gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak
tepat (Medisina, 2007).

Menurut Departemen Kesehatan (2007) Penggunaan obat yang tidak


rasional dapat dikategorikan sebagai berikut :

Peresepan berlebih (over prescribing), yaitu jika memberikan obat yang


sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan, misalnya
memberikan vitamin sementara pasien tidak menunjukkan gejala defisiensi
vitamin.

Peresepan kurang (under prescribing), yaitu jika pemberian obat kurang


dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam dosis, jumlah maupun lama
pemberian. Tidak diresepkan obat yang diperlukan untuk penyakit yang diderita
juga termasuk dalam kategori ini. Kasus yang banyak ditemukan dalam kategori
ini adalah pemberian antibiotik oleh petugas hanya untuk tiga hari, padahal
seharusnya diberikan minimal lima hari.

Peresepan majemuk (multiple prescribing), mencakup pemberian obat


untuk indikasi yang keliru, pada kondisi yang sebenarnya merupakan
kontraindikasi pemberian obat, meberikan kemungkinan resiko efek samping yang
lebih, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan pada
pasien, dan sebagainya.

Peresepan salah (incorrect prescribing), mencakup pemberian obat untuk


indikasi yang keliru, pada kondisi yang sebenarnya kontraindikasi pemberian
obat, memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih, pemberian
informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan pada pasien, dan sebagainya.

Pengobatan yang tidak rasional termasuk: pengobatan yang berlebihan dari


penyakit ringan; pengobatan yang tidak adekuat dari penyakit yang serius;
penggunaan yang tidak tepat dari obat anti infeksi; penggunaan yang berlebihan

5
obat injeksi; pengobatan/penggunaan sendiri dari obat-obat yang harus melalui
resep; penghentian lebih awal dari terapi. Data dari beberapa negara menyatakan
hal-hal tersebut sering terjadi dan tidak eksklusif terjadi di negara
berkembang.(WHO,2004)

4. Dampak dari Kesalahan Penggunaan Obat.

Berikut adalah beberapa contoh dampak dari kesalahan dalam penggunaan


obat :

a. Dampak kesehatan

Kesalahan penggunaan obat dapat menyebabkan timbulnya efek samping


hingga memperparah penyakit yang diderita pasien. Penelitian Suh et al
(2000) memperoleh data bahwa pasien lebih lama dirawat di rumah sakit
tanpa adanya perhatian untuk mencegah timbulnya efek samping obat.
Selain itu, pasien juga menghabiskan lebih banyak biaya untuk mengatasi
efek samping yang timbul (Suh, et al., 2000).

b. Dampak ekonomi

Biaya yang dihabiskan untuk pengobatan infeksi diperkirakan sebesar 4-5


juta dolar Amerika/tahun akibat resistensi antibiotik (Mcgowan, 2009).
Rata-rata biaya yang dihabiskan akibat kegagalan terapi yang berujung
pada masalah kesehatan yang baru adalah $1.488 (Ernst & Grizzle, 2001).

c. Dampak kematian

Jumlah kematian akibat kesalahan pengobatan pada tahun 2005 meningkat


tiga kali lipat di Amerika menjadi 15.000 orang/tahun (Institute of
Medicine of the National Academies, 2006). Selain itu, penelitian lain
menyebutkan bahwa adanya perbedaan sampai 195 kematian/tahun antara
rumah sakit yang menjalankan aktivitas pelayanan kefarmasian dengan
yang tidak menjalankannya (Bond, Raehl, & Franke, 1999).

Pada tahun 1985, konferensi WHO di Kenya melahirkan gagasan


mengenai penggunaan obat yang rasional (Hogerzeil, et al., 1993).

6
Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien diberikan obat
sesuai dengan kebutuhan klinisnya. Obat yang diberikan kepada pasien
harus sesuai dari segi pemilihan, indikasi, cara pemberian, dosis, lama
pemberian, informasi yang diberikan kepada pasien, evaluasi serta
biayanya (World Health Organization, 1985). Tujuan dari penggunaan
obat yang rasional adalah meminimalisasi masalah yang timbul akibat
penggunaan obat yang tidak tepat (World Health Organization, 1993).

Banyak faktor yang mempengaruhi kerasionalan penggunaan obat. Akan


tetapi, WHO menyimpulkan tiga faktor utama adalah pola peresepan,
pelayanan yang diberikan bagi pasien, dan tersedianya fasilitas untuk
merasionalkan penggunaan obat (World Health Organization, 1993).
Faktor peresepan berpengaruh langsung pada ketepatan pemberian obat
yang akan dikonsumsi oleh pasien. Faktor pelayanan pasien berpengaruh
pada ketepatan diagnosis dan terapi untuk pasien, serta informasi yang
seharusnya diterima oleh pasien agar pasien mengerti akan tujuan
terapinya dan paham tentang penggunaan obatnya. Faktor fasilitas yaitu
ketersediaan obat esensial dan daftarnya menjadi penunjang bagi tenaga
kesehatan untuk dapat menjalankan penggunaan obat yang rasional (World
Health Organization, 1993). Ketiga faktor tersebut berperan penting pada
tercapainya kerasionalan penggunaan obat.

5. Kesimpulan

Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu terapi obat
terpenting terhadap pasien. obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter
untuk mengobati pasien yang memiliki masalah kesehatan, walaupun obat
menguntungkan pasien dalam banyak hal, beberapa obat yang menimbulkan efek
yang berbahaya akibat efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan
tepat, memantau respon dan membantu pasien menggunakannya dengar benar dan
berdasarkan pengetahuan akan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
pada pasien.

7
DAFTAR PUSTAKA

1. Jurnal Universitas Indonesia

http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20294954-S1514-
Evaluasi%20rasionalitas.pdf

2. repository.akfar-isfibjm.ac.id/12/2/bab%20I.pdf
3. http://binfar.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=MTcwLmhvdGxpbms
=