You are on page 1of 39

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

PENYAKIT DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS SIMPUR
KOTA BANDAR LAMPUNG

Disusun oleh :
Dr. Mona Metiyahuha Ganie
dr. Aini Putri

Pembimbing :
dr. Hj. Evi Mutia Afriyeti

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS SIMPUR KOTA BANDAR LAMPUNG
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, diabetes melitus

merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia

yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.

Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,

dan disfungsi beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan

pembuluh darah. Diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai

adanya hiperglikemia yang disebabkan karena defek sekresi insulin, gangguan kerja

insulin atau keduanya 1 .

Di Indonesia, prevalensi DM mencapai 15,9-32,73%, dimana diperkirakan

sekitar 5 juta lebih penduduk Indonesia menderita DM. Di masa mendatang, diantara

penyakit degeneratif diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang

akan meningkat jumlahnya di masa mendatang. WHO membuat perkiraan bahwa

pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes di atas umur 20 tahun berjumlah 150 juta

orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025 jumlah tersebut

akan membengkak menjadi 300 juta orang2 .

Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecendrungan

peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM Tipe 2 diberbagai penjuru dunia.


WHO memprediksikan kenaikan jumlah penyandang Diabetes mellitus di Indonesian

dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 20303 .

Mengingat bahwa Diabetes Mellitus akan memberikan dampak terhadap

kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar,

maka semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah, sudah seharusnya ikut serta

dalam usaha penanggulangan Diabetes Mellitus, khususnya dalam upaya

pencegahan3. Faktor-faktor yang mempermudah seseorang terkena diabetes mellitus

antara lain keturunan, stress kronis, usia di atas 40 tahun, obesitas, pola aktivitas yang

cenderung jauh dari olahraga, pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat.

Berdasarkan data yang didapatkan, Saat ini Diabetes Mellitus menduduki peringkat

ke-3 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas Simpur. Data

Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung pada bulan Januari-Mei 2017 sebanyak 5.272

pasien rawat jalan dan dari data tersebut didapatkan ada sekitar 595 orang yang mengalami

Diabetes Mellitus. Data ini didapatkan pada saat observasi lapangan yang dilakukan

ketika pelayanan BP.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penelitian

merumuskan permasalahan yakni: “Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit

diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung”


C. Tujuan Penelitian

1.Tujuan Umum

Mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit diabetes

mellitus di wilayah kerja Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit

diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung

b. Mengetahui hubungan antara faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi

(umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan)dengan penyakit DM di

wilayah kerja Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung

c. Mengetahui hubungan antara faktor risiko yang dapat dimodifikasi (obesitas,

aktivitas fisik, dan kurang konsumsi buah dan sayur) dengan penyakit DM di

wilayah kerja Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung

D. Manfaat Penelitian

Ada beberapa aspek manfaat dari penelitian ini diantaranya :

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai sumber bacaan dan memperdalam pengetahuan kegiatan proses

belajar khususnya Diabetes Melitus

b. Hasil penelitian dapat menjadi referensi ilmiah bagi peneliti selanjutnya yang

akan melakukan penelitian sejenis.


2. Aspek Manfaat

a. Bagi Dokter Internship

Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang faktor apa saya yang

berperan terhadap timbulnya DM.

b. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian dapat menambah wawasan tentang faktor apa saya yang

berperan terhadap timbulnya DM, sehingga bias di cegah secara dini.

c. Bagi Tenaga Kesehatan di Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan salah satu masukan tentang
factor apa saja yang berperan terhadapp timbulnya DM, sehingga dapat
menekan tingginya angka prevalensi penyakit Diabetes Mellitus di puskesmas
simpur
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Diabetes Mellitus


Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes Mellitus
merupakan suaatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya 4 .

B. Etiologi Diabetes Mellitus


Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan meningkatnya umur, maka intoleransi
terhadap glukosa juga meningkat. Peningkatan kadar gula darah pada usia lanjut
dapat disebabkan oleh 2 :
a) Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang
b) Resistensi insulin
c) Aktivitas fisik yang berkurang, banyak makan, badan kegemukan.
d) Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress, operasi.
e) Sering menggunakan bermacam-macam obat-obatan.
f) Adanya faktor keturunan

C. Klasifikasi Diabetes Mellitus


American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Medical Care in
Diabetes (2009) memberikan klasifikasi diabetes melitus menjadi 4 tipe yang
disajikan dalam :
1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan oleh
adanya destruksi sel β pankreas yang secara absolut menyebabkan
defisiensi insulin.
2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya
kelainan sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin.
3. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan oleh beberapa
faktor lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel β pankreas, kelainan
genetik pada aktivitas insulin, penyakit eksokrin pankreas (cystic fibrosis),
dan akibat penggunaan obat atau bahan kimia lainnya (terapi pada
penderita AIDS dan terapi setelah transplantasi organ).
4. Diabetes melitus gestasional, yaitu tipe diabetes yang terdiagnosa atau
dialami selama masa kehamilan.

Tabel 1. Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut American Diabetes


Association
D. Patofisiologi Diabetes Mellitus3
1. Diabetes melitus tipe 1

Pada DM tipe I ( DM tergantung insulin (IDDM), sebelumnya disebut diabetes


juvenilis), terdapat kekurangan insulin absolut sehingga pasien membutuhkan
suplai insulin dari luar. Keadaan ini disebabkan oleh lesi pada sel beta pankreas
karena mekanisme autoimun, yang pada keadaan tertentu dipicu oleh infeksi
virus. DM tipe I terjadi lebih sering pada pembawa antigen HLA tertentu
(HLA-DR3 dan HLA-DR4), hal ini terdapat disposisi genetik. Diabetes mellitus
tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile
diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang
terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat defek sel
beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat
diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa, namun lebih sering didapat pada
anak – anak.

2. Diabetes Melitus tipe 2

Pada DM tipe II (DM yang tidak tergantung insulin (NIDDM), sebelumnya


disebut dengan DM tipe dewasa) hingga saat ini merupakan diabetes yang
paling sering terjadi. Pada tipe ini, disposisi genetik juga berperan penting.
Namun terdapat defisiensi insulin relatif; pasien tidak mutlak bergantung pada
suplai insulin dari luar. Pelepasan insulin dapat normal atau bahkan meningkat,
tetapi organ target memiliki sensitifitas yang berkurang terhadap insulin.
Sebagian besar pasien DM tipe II memiliki berat badan berlebih. Obesitas
terjadi karena disposisi genetik, asupan makanan yang terlalu banyak, dan
aktifitas fisik yang terlalu sedikit. Ketidakseimbangan antara suplai dan
pengeluaran energi meningkatkan konsentrasi asam lemak di dalam darah. Hal
ini selanjutnya akan menurunkan penggunaan glukosa di otot dan jaringan
lemak. Akibatnya, terjadi resistensi insulin yang memaksa untuk meningkatan
pelepasan insulin. Akibat regulasi menurun pada reseptor, resistensi insulin
semakin meningkat. Obesitas merupakan pemicu yang penting, namun bukan
merupakan penyebab tunggal diabetes tipe II. Penyebab yang lebih penting
adalah adanya disposisi genetic yang menurunkan sensitifitas insulin. Sering
kali, pelepasan insulin selalu tidak pernah normal. Beberapa gen telah di
identifikasi sebagai gen yang menigkatkan terjadinya obesitas dan DM tipe II.
Diantara beberapa factor, kelaian genetic pada protein yang memisahkan
rangkaian di mitokondria membatasi penggunaan substrat. Jika terdapat
disposisi genetik yang kuat, diabetes tipe II dapat terjadi pada usia muda.
Penurunan sensitifitas insulin terutama mempengaruhi efek insulin pada
metabolisme glukosa, sedangkan pengaruhnya pada metabolisme lemak dan
protein dapat dipertahankan dengan baik. Jadi, diabetes tipe II cenderung
menyebabkan hiperglikemia berat tanpa disertai gangguan metabolisme lemak.

3. Diabetes tipe lain

Defisiensi insulin relative juga dapat disebabkan oleh kelainan yang sangat
jarang pada biosintesis insulin, reseptor insulin atau transmisi intrasel. Bahkan
tanpa ada disposisi genetic, diabetes dapat terjadi pada perjalanan penyakit lain,
seperti pancreatitis dengan kerusakan sel beta atau karena kerusakan toksik di
sel beta. Diabetes mellitus ditingkatkan oleh peningkatan pelepasan hormone
antagonis, diantaranya, somatotropin (pada akromegali), glukokortikoid (pada
penyakit Cushing atau stress), epinefrin (pada stress), progestogen dan
kariomamotropin (pada kehamilan), ACTH, hormone tiroid dan glucagon.
Infeksi yang berat meningkatkan pelepasan beberapa hormone yang telah
disebutkan di atas sehingga meningkatkan pelepasan beberapa hormone yang
telah disebutkan diatas sehingga meningkatkan manifestasi diabetes mellitus.
Somatostatinoma dapat menyebabkan diabetes karena somatostatin yang
diekskresikan akan menghambat pelepasan insulin.
E. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit Diabetes Mellitus (DM)
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
a. Usia

Menurut depkes (2007) umur adalah masa hidup responden dalam tahun
dengan pembulatan kebawah atau umur pada waktu ulang tahun yang
terakhir.5 Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam
penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesaktian maupun
kematian di dalam hamper semua keadaan menunjukkan hubungan dengan
umur.6

Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis


menurun dengan cepat setelah usai 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah
seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun
pada mereka yang berat badannya berlebih, sehingga tubuhnya tidak peka
lagi terhadap insulin. Menurut waspadji tahun 2008 dibandingkan dengan
usia yang lebih muda, usia lanjut mengalami peningkatan produksi insulin
glukosa dari hati (hepatic glucose production), cenderung mengalami
resistensi insulin dan gangguan sekresin insulin akibat penuaan dan
apoptosis sel beta pancreas. Bagi usia lanjut dengan indeks massa timbul
normal, gangguan lebih banyak pada sekresi insulin di sel beta pancreas,
sementara pada usia lanjut dengan obesitas, gangguan lebih banyak pada
resistensi insulin di jaringan perifer seperti sel otot, sel, hati, dan sel lemak
(adiposity).7

Berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh dkk pada tahun 2007-2008


mengenai Prevalence of Diagnosed and Undiagnosed Diabetes Mellitus and
Its Risk Factors in a Population-Based study of Qatar pada populasi orang
dewasa di Qatar menyatakan bahwa kasus DM lebih tinggi ditemukan pada
usia 40-49 tahun sebesar 31.2%.8
Menurut Harding et al dalam jurnal penelitiannya tentang diet Lemak dan
Resiko Klinik Pada Diabetes Tipe 2, bawah umur mempunyai hubungan
yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 dan memberikan resiko kejadian
DM tipe 2 Sebesar 0,84 kali.9

Bedasarkan penelitian yang akan dilakukan oleh adi, dkk dalam Buletin
Kesihatan Masyarakat tentang Prevalens Diabetes Mellitus dan Factor-
Faktor yang Berkaitan Dikalangan Penduduk Bukit Bandong, Kuala
Selangor di malaysia, bahwa umur mempunyai hubungan yang signifikan
dengan kejadian diabetes militus, semakintinggiumurseseorangmaka orang
tersebutberesikountukterkena diabetes militus.10

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh lely S dan Indrawati T dalam


Media Litbang Kesehatan (2004) menyebutkan bahwa penderita diabetes
tertinggi pada usia 61-65 tahun yaitu sebesar 32,5% dan terendah pada usia
kurang dari 40 tahun sebesar 4%

b. Riwayat keluarga diabetes mellitus (DM)

Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap


diabetes, karena kelainan gen yang mengakibatkan tubuhnya tidak dapat
menghasilkan insulin dengan baik. Tetapi resikonya terkena diabetes juga
tergantung pada factor kelebihan berat badan, stress, dan kurang bergerak.
Riwayat keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian
diabetes mellitus.8

c. Jenis kelamin

Jenis kelamin adalah perbedaan seks yang di dapat sejak lahir yang
dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Baik pria maupun wanita
memiliki resiko yang sama besar untuk mengidap diabetes sampai usia
dewasa awal. Setelah usia 30 tahun, wanita memiliki resiko yang lebih
tinggi dibanding pria.5,13

Menurut Damayanti wanita lebih berisiko menginap diabetes karena


secara fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh
yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan (premenstrual syindrom),
pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah
terakumulasi akibat proses hormonal tersebut sehingga wanita beresiko
menderita diabetes mellitus tipe 2. Proporsi DM lebih tinggi pada wanita
sebesar 53.2% dibanding laki-laki sebesar 46.8%.8

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lely S dan Indrawati T


dalam Media Litbang Kesehatan (2004) menyebutkan bahwa penderita
diabetes tertinggi pada perempuan yaitu sebesar 62% dan terendah pada
laki-laki yaitu ebesar 38%. Jenis kelamin mempunyai hubungan yang
signifikan dengan kejadian DM tipe 2 dan memberikan resiko kejadian
DM tipe 2 sebesar 0.87 kali.9

d. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecepatan seseorang secara
intelektual dan emosionl kearah dalam sesama manusia. Pendidikan juga
diartikan sebagai suatu usaha sendiri untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan
tingkah laku, semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih
tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan.6

Menurut Azwar (1983), pendidikan merupakan suatu factor yang


mempengaruhi prilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan
seseorang serta berprilaku baik sehingga dapat memilih dan membuat
keputusan dengan lebih tepat.15 Dengan pendidikan yang tinggi seseorang
dapat diharapkan dapat berprilaku sehat yaitu mencegah penyakit diabetes
mellitus pada dirinya dan menghindari faktor-faktor resiko diabetes
militus. Orang yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai hubungan
yang signifikan untuk tidak mengalami kejadian diabetes militus
dibanding orang yang memiliki pendidikan rendah. Hal ini disebabkan
karena orang yang berpendidikan tinggi lebih mengetahui faktor-faktor
resiko diabetes sehingga dapat berjaga-jaga untuk tidak terkena diabetes
militus.10

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lely S dan Indrawati T


dalam Media Llitbang Kesehatan (2004) menyebutkan bahwa penderita
diabetes tertinggi pada pendidikan SMA yaitu sebesar 29.7% dan
terendah pada pendidikan tidak sekolah yaitu sebesar 1.3%.
e. Pekerjaan

Menurut Arikunto tahun 2000 dalam tawi (2008) pekerjaan adalah


aktifitas yang dilakukan seseorang tiap hari dalam kehidupannya.
Seseorang yang bekerja dapat terjadi sesuatu kesakitan, misalnya dari
situasi lingkungan dan juga dapat menibulkan stress dalam bekerja
sehingga kondisi pekerjaannya pada umumnya diperlukan adanya
hubungan sosial yang baik dengan orang lain, setap orang harus dapat
bergaul dengan teman sejawat.
Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan yakin6 :
1) Adanya faktor-faktor lingkungan dapat menimbulkan kesakitan seperti
bahan-bahan kimia, gas-gas bracun, radiasi, benda-benda fisik yang
dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
2) Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai
faktor yang berperan dalam timbulnya hipertensi, ulcus lambung).
3) Ada tidaknya “gerak badan” di dalam pekerjaan; di Amerika Serikat
ditunjukan bahwa jantung coroner saling ditemukan di kalangan
mereka yang mempunyai pekerjaan di mana kurang adanya “gerak
badan”.
4) Karena berkerumun dalam satu tempat yang relative sempit, makan
dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja.
5) Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan
pekerjaan di tambang.

Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjan dan pola kesakitan banyak


dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya penyakit
jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.Jenis pekerjaan memiliki
hubungan dengan penyakit diabetes militus seperti dalam penelitian yang
dilakukan oleh Nyenwe dkk tahun 2003 di Port Harcount, Nigeria
mendapatkan 44.2% orang yang pekerjaannya berat menderita diabetes
mellitus dan 55.8% orang yang pekerjaannya ringan menerita diabetes
mellitus. Orang yang bekerja menderita diabetes dan 34% orang yang
tidak bekerja menderita diabetes.12
2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
a. Kegemukan/Obesitas

Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu masalah kelebihan gizi yang
penting, masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18
tahun ke atas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko
penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja.15

Indeks Masa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sederhana untuk memantau
status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan, maka memepertahankan berat badan normal
memugkinkan seseorang dapat usia harapan hidup lebih panjang.15

Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut :

IMT = Berat badan (Kg)


Tinggi badan(m) X Tinggi badan(m)

Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat <17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,5
Normal >18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat berat >25,0 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat ringan >27,0
Tabel 2. Kategori Ambang Batas IMT Untuk Indonesia

Untuk menentukan seseorang obesitas atau normal dilakukan dengan cara


menghitung IMT, seseorang disebut normal jika IMT <25 dan disebut obesitas
jika IMT 25.16
Gemuk atau obesitas akan menyebabkan resistensi insulin sehingga insulin
tidak dapat bekerja dengan baik dan kadar gula darah bias naik. Gemuk juga
mempermudah munculya hipertensi dan lemak darah yang tinggi. Hal ini akan
memicu gangguan ginjal, sakit jantung, dan stroke. Orang gemuk yang
menderita diabetes mellitus lebih mudah terkena komplikasi.18
Kegemukan dapat menyebabkan insulin yang beredar didalam darah menjadi
tidak efektif. Insulin yang ada tidak dapat lagi menghantar seluruh glukosa
darah masuk ke dalam sel. Mungkin sebagian lubang kunci pada sel jaringan
berubah, sehingga tidak cocok lagi dengan kunci insulin. Keadaan ini disebut
dengan resistensi insulin. Adanya resistensi insuin menyebabkan kelenjar
pancreas terpacu untuk menghasilkan lebih banyak lagi insulin, dengan
maksud menurunkan kadar glukosa darah. Akibatnya, kadar insulin didalam
darah menjadi berlebih. Keadaan ini disebut hiperinsulinemia, dan ini
berbahaya. Keadaan hiperinsulinemia akan menimbulkan penyakit diabetes
mellitus , kadaran lemak darah (dislipidemia), atau tekanan darah tinggi
(hipertensi), tergantung pada gen yang dimiliki penderita.11

Obesitas mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian diabetes


mellitus, 80-85% penderita diabetes tipe 2 mengidap kegemukan. Tentu saja
tidak semua orang yang kegemukan menderita diabetes, tetapi penyakit ini
mungkin muncul 10-20 tahun kemudian. Dikatakan obesitas jika seseorang
kelebihan 20% dari berat badan normal. Pada usia lebih tua (41-64 tahun),
obesitas ditemukan sebagai factor yang mempercepat peningkatan laju
insidensi DM tipe2.8, 18, 19

b. Aktifitas fisik

Menurut Almatsier aktivitas fisik adalaah gerakan yang dilakukan oleh otot
tubuh dan sistem penunjangnya.21 dan menurut Tandra Aktifitas fisik adalah
semua gerakan tubuh yang membakar kalori, misalnya menyapu, naik turun
tangga, menyetrika, berkebun, dan berolahraga tertentu. Olahraga aerobic yang
mengikuti serangkaian gerak berurutan akan menguatkan dan mengembangkan
otot dan semua bagian tubuh. Termasuk didalamnya adalah jalan, berenang,
bersepeda, jogging, atau senam. Semua aktivitas dan olahraga berguna untuk
kesehatan anda.17
Olahraga teratur akan lebih banyak memberi keuntungan, yaitu :
1. Memperbaiki control glukosa darah, pada saat berolahraga
2. Mengurangi risiko sakit jantung
3. Menurunkan berat badan.17

Aktifitass fisik secara teratur bermanfaat untuk mengukur berat badan dan
menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Segala aktivitas fisik yang
dilakukan terus-menerus selama 10 menit atau lebih dalam setiap kali kegiatan
baik yang berkaitan dengan pekerjaan dan perjalanan. Kategori aktivitas fisik
adalah aktivitas berat dan sedang yang dilakukan dalam 30 menit setiap hari.
Contoh aktivitas berat adalah mengangkut/memukul (kayu, beras, batu, pasir),
mencangkul, angkat besi, tenis tunggal, bulutangkis tunggal, lari cepat,
meraton, mengayuh sepeda, mendaki gunung,dll. Contoh aktivitas sedang
adalah menyapu halaman, mengepel, mencuci baju, menimba air, bercocok
tanam, membersihkan kamar mandi/kolam, tenis ganda, bulutangkis ganda,
senam aerobic, senam tera, renang, basket, bola voli, jogging, sepak bola dll.21

Latihan jasmani pada diabetes akan menimbulkan perubahan metabolik, yang


di pengaruhi lama, berat latihan dan tingkat kebugaran, juga oleh kadar insulin
plasma, kadar glukosa darah, kadar benda keton dan imbangan cairan tubuh.
Pada diabetes dengan gula darah tak terkontrol, latihan jasmani akan
menyebabkan terjadi peningkatan kadar glukosa darah dan benda keton yang
dapat berakibat fatal.22
Prinsip latihan jasmani bagi diabetes, sama persis dengan latihan jasmani
secara umum, yaitu memenuhi beberapa hal, seperti : frekuensi, intensitas,
durasi dan jenis.
1. Frekuensi : jumlah olahraga perminggu sebaiknya di lakukan
dengan teratur 3-5 kali seminggu
2. Intensitas : ringan dan sedang (60-70% Maximum Heart Rate)
3. Durasi : 30-60 menit.
4. Jenis : latihan jasmani aerobic untuk meningkatkan
kemampuan kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang, dan
bersepeda.22

c. Kurang konsumsi buah dan sayur

Sejak tahun 1990, telah di canangkan dalam Dietary for American bahwa
rekomendasi minimal untuk mengkonsumsi buah adalah 2 porsi/hari atau 3
porsi/hari untuk konsumsi sayur atau setara dengan konsumsi buah dan sayur
5 porsi/hari. Menurut WHO/FAO (2003), yang dimaksud dengan 1 porsi
sayur adalah 1 mangkuk sayur segar atau setengah mangkuk sayur segar dan
1 porsi buah adalah 1 potong buah atau 2 potong kecil buah, atau 1 mangkok
buah irisan. Konsumsi buah dan sayur dianggap cukup apabila asupan buah
dan sayur 5 porsi atau lebih per hari. Sedangkan yang dianggap kurang
apabila asupan buah dan sayur kurang dari 5 porsi sehari.

Buah dan sayur banyak mengandung serat yang berguna untuk menurunkan
absobsi lemak dan kolestrol darah. Pada umumnya, makanan serat tinggi
mengandung energi rendah, dengan demikian dapat membantu menurunkan
berat badan. Serat makanan adalah polisakarida nonpati yang terdapat dalam
semua makanan nabati. Serat tidak dapat dicerna oleh enzim cerna tapi
berpengaruh baik untuk kesehatan.20
Menurut Sukardji (2007) mengkonsumsi serat, terutama serah tak larut yang
terdapat pada biji-bijian dan tumbuhan dapat membantu mencegah
terjadinya diabetesdengan cara meningkatkan kerja hormone insulin dalam
mengatur gula darah dalam tubuh.12 Serat terdiri atas 2 golongan yaitu serat
larut air dan tidak larut air, serat tidak larut air adalah selulosa, hemiselulosa,
dan lignin yang banyak terdapat dalamdedak beras, gandum, sayuran dan
buah-buahan. Serat golongan ini dapat melancarkan defekasi sehingga
mencega obtipasi, hemorrhoid, dan diverticulosis. Serat larut air yaitu pectin,
gum, dan mukilase yang banyak terdapat dalam havermout, kacang-
kacangan, sayur dan buah-buahan. Serat golongan ini dapat mengikat
empedu sehingga dapat menurunkan absorbs lemak dan kolestrol darah,
sehingga menurunkan risiko, mencegah, atau meringankan penyakit jantung
koroner dan dislipidemia.20

d. Diagnosis Diabetes Mellitus3

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.


Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna
penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan
adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma
vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena, ataupun kapiler
tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria
diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk
tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer.

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan


adanya diabetes mellitus perlu diperlukan apabila terdapat keluhan klasik
seperti dibawah ini :
a. Keluhan klasik diabetes mellitus berupa :
- Poliuria
- Polidipsia
- Polifagia
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
b. Keluhan lain berupa :
- Lemah badan
- Kesemutan
- Gatal
- Mata Kabur
- Dsifungsi ereksi pada pria
- Pruritus vulvae pada wanita

Diagnosis diabetes mellius dapat ditegakkan melalui tiga cara :


a. Jika ditemukan keluhan klasik dan kadar glukosa darah sewaktu (plasma
vena) > 200mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes
mellitus.
b. Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (plasma vena) > 126 mg/dl disertai
adanya keluhan klasik.
c. Kadar glukosa plasma >= 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75
gram pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
Tabel Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Pemeriksaan
Penyaring dan diagnosis Diabetes Mellitus ( mg/dl)

Belum Pasti
Bukan DM DM
DM
Kadar glukosa Plasma ( vena
< 100 100-199 >200
darah sewaktu )
( mg/dl ) Darah Kapiler <90 90 – 199 >200
Kadar glukosa Plasma (vena) <100 100 – 125 >126
darah puasa Darah Kapiler
<90 90 – 99 >126
( mg /dl )

Tabel 3. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Pemeriksaan
Penyaring dan diagnosis Diabetes Mellitus ( mg/dl) .

Tabel 4. Kriteria Diabetes Mellitus


Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk
menentukan diagnosis diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu dan
glukosa darah puasa tergagnggu. Berikut adalah langkah-langkah penegakkan
diagnosis diabetes melitus, TGT, dan GDPT.

Gambar 1. Alur Pemeriksaan Diabetes Mellitus


G. Komplikasi Diabetes Mellitus4
Komplikasi diabetes mellitus yang dapat ditemukan, antara lain :
a. Komplikasi akut
1. Hipoglikemia
 Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah
< 60 mg/dl.
 Bila terdapat penurunan kesadaran pada penderita diabetes
mellitus harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya
hipoglikemia. Hipoglikemia paling sering diakibatkan oleh
golongan sulfonylurea dan insulin.
 Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergic ( berdebar-
debar, banyak keringat, gemetar dan rasa lapar) dan gejala neuro-
glikopenik ( pusing, gelisah, penurunan kesadaran sampai
koma).

2. Ketoasidosis diabetic

Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan adanya


peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi ( 300-600 mg/dL)
disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosi dan plasma aseton
(+) kuat. Merupakan komplikasi metabolik yang paling serius pada
DM . Hal ini terjadi karena kadar insulin sangat menurun, dan pasien
akan mengalami hal berikut:23
· Hiperglikemia
· Hiperketonemia
· Asidosis metabolic

Hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis


,peningkatan lipolisis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas
disertai pembentukan benda keton (asetoasetat, hidroksibutirat, dan
aseton). Peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis.
Peningkatan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen dan
asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat
mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan
kehilangan elektrolit. Pasien dapat menjadi hipotensi dan mengalami
syok.

Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak, pasien akan


mengalami koma dan meninggal. Koma dan kematian akibat DKA
saat ini jarang terjadi, karena pasien maupun tenaga kesehatan telah
menyadari potensi bahaya komplikasi ini dan pengobatan DKA dapat
dilakukan sedini mungkin.
Tanda dan Gejala ketoasidosis metabolik :

1. Dehidrasi 8. Poliuria
2. Hipotensi (postural 9. Tampak Bingung
atau supine) 10. Kelelahan
3. Ekstremitas 11. Mual – muntah
Dingin/sianosis perifer 12. Pandangan kabur
4. Takikardi 13. Koma ( 10% )
5. Kusmaul breathing
6. Nafas bau aseton
7. Hipotermia

Tabel 5. Terapi penanganan ketoasidosis metabolik


3. Status Hiperglikemia Hiperosmolar (SHH)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan kadar glukosa darah
sangat tinggi (600-1200 mg/dL) tanpa tanda dan gejala asidosis.

b. Komplikasi Kronik
1. Makroangiopati
 Pembuluh darah jantung
 Pembuluh darah tepi
 Pembuluh darah otak
2.Mikroangiopati
 Retinopati diabetic
 Nefropati diabetic
 Neuropati diabetic
H. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus4
Tujuan penatalaksaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup
penderita diabetes.
a. Tujuan Penatalaksanaan
 Jangka pendek
Menghilangkan keluhan dan tanda diabetes, mempertahankan rasa
nyaman, dan mencapai target pengendalian glukosa darah.
 Jangka panjang
mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati,
makroangiopati dan neuropati.
 Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan
mortalitas diabetes.

b. Pilar Penatalaksanaan diabetes mellitus


a. Edukasi, meliputi
pemahaman tentang DM, obat-obatan, olahraga, perencanaan
makan dan masalah yang mungkin dihaapi.
b. Terapi gizi medis
Prinsip pengaturan makan pada penderita diabetes hampir
sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu
makanan yang seimbang. Pada penderita diabetes perlu
diperhatikan pentingnya keteraturan makanan dalam hal jadwal
makan, jenis, dan jumlah makanan terutama bagi penderita
diabetes yang mengkonsumsi obat penurun glukosa darah atau
insulin.
c. Latihan jasmani
3 kali seminggu selama 30 menit disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran jasmani.
d. Farmakologis
apabila tidak berhasil dengan pengaturan makan dan olahraga
Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan dalam bentuk suntikan.
 Obat Hipoglikemik Oral 4,23,24
a. Pemicu sekresi insulin ( insulin secretagogue) : sulfonylurea dan
glinid
 Sulfonilurea
Memiliki efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel
beta pancreas dan merupakan pilihan utama pada pasien
dengan berat badan normal dan kurang.
 Glinid
Golongan ini terdiri dari dua macam obat yaitu Repaglinid dan
nNateglinid. Obat ini diabsorpsi cepat setelah pemberian secara
oral dan dieksresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat
mengatasi hiperglikemia post prandial.
b. Peningkat sensitivitas terhadap insulin ; metformin dan
tiazolidindio
c. Penghambat gluconeogenesis : metformin
Memiliki efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(gluconeogenesis)dan memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama dipakai pada penerita diabetes yang gemuk.
Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan
gangguan fungsi ginjal ( serum kreatinin > 1,5 mg/dl) dan hati.,
serta pasien dengan kecenderungan hipoksemia.
Metformin memberikan efek samping mual. Sehingga untuk
mengurangi keluhan dapat diberikan saat atau sesudah makan.
d. Penghambat absorpsi glukosa : penghambat glukosidase alfa
Bekerja mengurangi absorpsi glukosa di usus halus sehingga
mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah
makan.
Acarbose tidak memberikan efek samping hipoglikemia.
Efek samping yang paling sering adalah kembung dan flatulens.
e. DPP-IV inhibitor
Glucagon like peptide 1 (GLP-1) merupakan perangsang kuat
pelepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi
glucagon.

Cara pemberian obat hiperglikemik oral (OHO) terdiri dari :


 OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai respon kadar glukosa darah. Dapat diberikan
sampai dosis optimal.
 Sulfonilurea : 15 – 30 menit sebelum makan
 Repaglinid : sesaat sebelum makan
 Metformin : sebelum / pada saat / sesudah makan
 DPP-IV Inhibitor : diberikan bersamaan makan dan atau
sebelum makan.

 Suntikan4,25
a. Insulin diperlukan pada keadaan :
 Penurunan berat badan yang cepat
 Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
 Ketoasidosis diabetic
 Hiperglikemia hyperosmolar non ketotik
 Hiperglikemia dengan asidosis laktat
 Gagal dengan kombinasi OHO dois optimal
 Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
 Kontraindikasi atau alergi terhadap OHO
Jenis dan lama kerja insulin
 Insulin kerja cepat ( Rapid acting insulin )
 Insulin kerja pendek ( short acting insulin )
 Insulin kerja menengah ( intermediate acting insulin )
 Insulin kerja panjang ( long acting insulin )
 Insulin campuran tetap (premixed insulin )

Gambar 2. Jenis Insulin berdasarkan durasi

Efek samping terapi insulin


 Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia.
 Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang
dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.
I. Prognosis

Prognosis pada penderita diabetes tipe 2 bervariasi. Namun pada pasien


diatas prognosisnya dapat baik apabila pasien bisa memodifikasi
(meminimalkan) risiko timbulnya komplikasi dengan baik. Serangan jantung ,
stroke, dan kerusakan saraf dapat terjadi. Beberapa orang dengan diabetes
mellitus tipe 2 menjadi tergantung pada hemodialisa akibat kompilkasi gagal
ginjal. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko
komplikasi :
 Makan makanan yang sehat / gizi seimbang (rendah lemak, rendah gula),
perbanyak konsumsi serat (buncis 150gr/hari, pepaya, kedondong, salak,
tomat, semangka, dainjurkan pisang ambon namun dalam jumlah terbatas)
 Gunakan minyak tak jenuh / PUFA (minyak jagung)
 Hindari konsumsi alcohol dan olahraga yang berlebihan
 Pertahankan berat badan ideal
 Kontrol ketat kadar gula darah, HbA1c, tekanan darah, profil lipid
 Konsumsi aspirin untuk cegah ateroskelrosis (pada orang dalam kategori
prediabetes)
J. Kerangka Teori

Faktor risiko yang dapat di Faktor risiko yang tidak


modifikasi dapat di modifikasi

1. Kegemukan/obesitas 1. Usia/Umur

2. Aktifitas fisik 2. Riwayat keluarga


DM
3. Kurang konsumsi
buah dan sayur 3. Jenis kelamin

4. Pendidikan

5. Pekerjaan

Diabetes mellitus

Gambar 3. Kerangka Teori


K. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor risiko yang tidak


dapat dimodifikasi :
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Pendidikan
4. Pekerjaan Penyakit Diabetes
Mellitus

Faktor risiko yang dapat


dimodifikasi :
1. Obesitas
2. Aktivitas fisik
3. Kurang konsumsi
buah dan sayur

Gambar 4. Kerangka Konsep


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan rancangan deskriptif-


analitik dengan metode cross-sectional dan dianalisa secara kuantitatif.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah pasien diabetes mellitus yang datang berobat ke
Puskesmas simpur Bandar Lampung .
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini menggunakan Simple random sampling,
pengambilan sampel ini menurut (Notoatmodjo, 2005) menggunakan rumus :
N
n=
1+ N (d)2

Keterangan :
n : besar sempel
N : Jumlah populasi
d : tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)
Untuk sempel sebagai control berjumlah 1147 pasien dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :

N
n=
1+ N (d)2
595
=
1+ 595 (0,1)2

595
=
1+ 5,95

595
=
6,95

= 85,61

n= 86 Sempel
Jadi sempel dalam penelitian ini adalah sebanyak 86 pasien.

C. Lokasi dan waktu penelitian

1. Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas rawat inap Simpur Bandar Lampung
2. Waktu
Penelitian ini dilakukan selama kurun waktu 30 hari kerja

D. Prosedur Penelitian/Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Langkah dan teknik / prosedur pengumpulan


Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses
pengumpulan karakteristik subyek dan diperlukan dalam suatu penelitian.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
2. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik


wawancara, yaitu pengumpulan data dengan menanyakan hal-hal yang telah
tercantum dilembar kuesioner.

3. Teknik Pengolahan data

Teknik pengolahan data deskriptif berupa :


a. Editing
Kegiatan editing bertujuan untuk meneliti apakah pada kuisioner sudah
cukup baik supaya menjaga kualitas data agar dapat diproses lebih lanjut.
Yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah kelengkapan jawaban,
kesesuaian tulisan, konsistensi jawaban dan keseragaman suatu ukuran.
b. Coding
Coding adalah suatu usaha pengklasifikasi jawaban menurut criteria
tertentu. Klasifikasi ini ditandai dengan memindahkan data dari daftar
yang akan memberikan informasi data yang diubah menjadi bentuk angka
untuk mempermudah perhitungan selanjutnya.
c. Tabulating
Penyusunan data merupakan pengorganisasian data agar mudah dapat
dijumlahkan, disusun dan di tata untuk disajikan dan di analisis. 23

4. Analisis Data

Data yang diperoleh dikumpulkan, diolah dan disajikan dalam bentuk


distribusi frekuensi, kemudian dianalisa secara deskriptif untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes mellitus. Pengolahan data
menggunakan perangkat lunak SPSS static 16.0 dan analisis data dilakukan
dengan uji Chi Square (X2 test) untuk menguji hipotesis dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. Merumuskan Ho dan H1
b. Menentukan df dan taraf signfikasi ( α )
c. Menghitung nilai X2 pada df dan taraf signifikasi yang telah ditentukan
(X2 tabel)
d. Mencari nilai X2
e. Menyimpulkan untuk menolak atau menerima Ho

5. Interpretasi Data
Data diinterpretasikan secara deskriptif asosiatif antara variabel- variabel yang
telah ditentukan.

6. Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian. Selanjutnya akan
dipresentasikan di hadapan Kepala Puskesmas rawat inap simpur Bandar
Lampung
E. Alur Penelitian

Persiapan penelitian

Identifikasi subjek yang sesuai dengan penelitian

Informed consent

Wawancara dan pengisian kuesioner

Pengolahan data

Analisis data

Gambar 5 : Alur Penelitian

F. Etika Penelitian

Responden yang diminta untuk diwawancara pada penelitian ini dijamin


kerahasiannya terhadap data-data yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III Edisi IV. Jakarta : Penerbit FK UI.2006
2. Ikatan Dokter Indonesia. Indonesian Doctor’s Compendium. Jakarta : CV
Matoari Citra Media.2011
3. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Penatalaksanaan Kedaruratan di
Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Penerbit FK UI.2000
4. PERKENI. Konsesus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes mellitus Tipe 2
di Indonesia. Jakarta. 2011
5. ----------,”Pedoman Pengisian Kuesioner RISKESDAS 2007”. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: 2007
6. Notoadmodjo, Soekidjo. “Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-prinsip
Dasar”. PT. Rineka Cipta. Jakarta: 2003
7. Pramono, Laurenties Aswin.”Prevalensi dan Faktor-faktor Prediksi Diabetes
Mellitus Tidak Terdiagnosa pada Penduduk Usia Dewasa di Indonesia”.
Tesis FKMUI. Jakarta: 2010
8. Banner, Abdulbari et al. “ Prevalence of Diagnosed and Undiagnosed
Diabetes Mellitus and Its Risk factors in a Population-Based Study of Qatar”
Vol. 84, Issue 1, Agustus 2017. Diakses dari
http://www.diabetesresearchclinicalpractice.com/article/S0168-
8227%2809%2900067-9/pdf
9. Harding, Anne Helen et al. “Dietary Fat and The Risk of Clinic Type 2
Diabetes”. American Journal Of Epidemiology”. Vol. 159, No. 1. 2003
10. Adi, O dkk. "Prevalens Diabetes Melitus dan Faktor-Faktor yang Berkaitan
Dikalangan penduduk Bukit Badong” Buletin Kesehatan Masyarakat. Jilid 1.
Bil. 1 tahun 1994
11. Dalimartha, Setiawan. “ Ramua Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes
Melitus”. Penebar Swadaya. Jakarta: 2005
12. Irawan, Dedi. “Prevalensi dan Faktor Resiko Kejadian Diabetes MelitusTipe
2 di Daerah Urban di Indonesia”. Tesis FKMUI. Jakarta:2010
13. Ramaiah, Savitri. “Diabetes: Cara Mengetahui Gejala Diabetes dan
Mendeteksinya sejak Dini”. PT. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta: 2008
14. Azwar, Azrul. “Pengantar Pendidikan Kesehatan”. Jakarta, Sastra Hudaya,
1983
15. Supariasa, I Dewa Nyoman. “Penilaian Status Gizi”. EGC. Jakarta: 2001
16. Rahajeng, Ekowati. “Buku Panduan Prediksi Risiko Diabetes Melitus Tipe 2
dengan Sistem Skor”. FKUI. Jakarta: 2003
17. Tandra, Hans. “ Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes:
Panduan Lengkap Mengenal dan Mengatasi Diabetes dengan Cepat dan
Mudah”. PT: Gramedia. Jakarta: 2008
18. Soegondo, Sidartawan. “Hidup Secara Mandiri dengan: Diabetes Mellitus,
Kencing Manis, Sakit Gula”. FKUI. Jakarta: 2008
19. ------------, “Risiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa
Terganggu Terhadap Terjadinya DM tipe 2”. FKMUI. Jakarta: 2004
20. Almatsier, Sunita. “Penuntun Diet”. PT. Ikrar Mandiri Abadi. Jakarta: 2006
21. Departemen Kesehatan R.I. “Kartu Peraga RISKEDAS 2007”. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: 2007
22. Sudoyo, Aru W dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Cet.
II. FKUI, Jakarta: 2007
23. Soegondo, Sidartawan. Soewondo, Pradana. Subekti, Imam. 1995.
Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Cetakan kelima, 2005.
Jakarta:Balai Penerbit FKUI.
24. Fauci, Anthony S. Braunwald, Eugene. Kasper, Dennis L. Hauser, Stephen L.
Harrison’s Principle of Internal Medicine. 17th Edition. The McGraw-Hill
Companies. 2008.
25. Boon, Nicholas A. Walker, Brian. Davidson’s Principles and Practice of
Medicine. 20th Edition. Elsevier. 2006.