You are on page 1of 28

PATOLOGI SOSIAL DAN KENAKALAN REMAJA

1. Patologi Sosial
Patologi sosial dalah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap sakit. Disebabkan oleh faktor-faktor
sosial. Berasal dari kata Phatos (Yunani) : penderitaan, penyakit. Secara Definisi berarti : Semua tingkah laku yang
bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal. Pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidariatas
kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.
Patologi sosial adalah suatu gejala dimana tidak ada persesuaian antara berbagai unsur dari suatu
keseluruhan, sehingga dapat membahayakan kehidupan kelompok, atau yang sangat merintangi pemuasan
keinginan fundamental dari anggota-anggotanya, akibatnya pengikatan sosial patah sama sekali.
Pelaku patologi sosial dikategorikan dalam tindakannya :
a. Kontak fisik langsung(memukul,menendang,mendorong dan lain-lainnya)
b. Kontak verbal langsung(memaki,mencela,memberi panggilan jelek,dan lain-lainnya)
c. Prilaku non verbal langsung (sinis, mengintimidasi)
d. Prilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan,menjauhi)
e. Pelecehan seksual patologi ini sering dilakukan di dunia pendidikan baik sekolah atau kampus, mungkin yang lebih
terkenal yaitu perpeloncoan.
Pelaku patologi ini kadang melakukannya karena tradisi, balas dendam atau merasa paling kuat dan berkuasa.
Banyak korban yang terkena aksi patologi ini disebabkan beberapa faktor :
a. Penampilan menyolok
b. Tidak berperilaku dengan sesuai
c. Prilaku tidak sopan
d. Tradisi
Dampak bullying untuk korban :
a. Masalah kesehatan fisik
b. Menurunnya keadaan psikologis dan penyesuaian sosial
c. Terganggu prestasi akademiknya
d. Rasa cemas berlebihan, takut, bahkan ingin bunuh diri
Untuk itu janganlah saling menyakiti teman, saudara, atau orangtua, karena bullying ini tidak membawa kebaikan
dan manfaat buat kita semua.
Apa yang dimaksud dengan Gejala Fenomena Patalogi Sosial ?
Gejala fenomena patologi sosial :
a. Hancurnya nilai-nilaidemokrasi dalam masyarakat
b. Memudarnya nilai-nila kekeluargaan dalam komunitas
c. Kemerosotan nilai toleransi dalam masyarakat
d. Memudarnya nilai kejujuran,kesopnan dan rasa tolong menolong
e. Melemahnya nilai dalam keluarga
f. Praktik kolusi,korupsi, dan nepotisme dalam penyelenggaraan pemerintahan
g. Kerusakan sistem dalam budaya ekonomi
h. Pelanggaran terhadap nilai-nilai kebangsaan

2. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku
menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat
penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang
berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan
tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna
bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah
menyimpang.
Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku
menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami
aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku
tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa
seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker
(dalam Soerjono Soekanto,1988,26), mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya
mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian.
Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk
melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang
berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari
penyimpangan.
Masalah sosial perilaku menyimpang dalam “Kenakalan Remaja” bisa melalui pendekatan
individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pAndangan sosialisasi.
Berdasarkan pAndangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak
berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan
remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai
perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan
yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak
benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan”
dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.
Silahkan perhatikan definisi kenakalan remaja yang sudah disebutkan di atas tadi. Sekarang…Kenapa
seorang remaja bisa terjun ke dunia “kenakalan remaja” dan bagaimana kita sebagai remaja bisa
menghadapinya? Berikut penjelasannya, tentunya berdasarkan perspektif seorang remaja. Balik ke definisi awal
kenakalan remaja - suatu tindakan menyimpang/tidak dapat diterima sosial. Pertanyaannya: kenapa remaja
melakukan pemberontakan? Ada 3 hal yang berperan penting dalam hal ini, yaitu: Keluarga,Pergaulan, Remaja itu
sendiri
a. Keluarga
Ketika orang tua otoriter, maka yang kita sebut sebagai kenakalan remaja akan muncul dalam artian ingin
memberontak. Sementara kalau orang tua permisif, remaja malah akan mencari-cari perhatian dengan segala
tingkah lakunya yang kemungkinan besar menjurus ke kenakalan remaja. Bahkan orang tua yang demokratis
sekalipun.
b. Pergaulan
Tekanan teman bahkan sahabat, apakah itu yang namanya rasa solidaritas, ingin diterima, dan sebagai pelarian,
benar-benar ampuh untuk mencuatkan kenakalan remaja yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan
oleh remaja. Kalau di dalam keluarga, remaja memberontak atau mencari perhatian yang menjurus ke tindakan
kenakalan remaja demi orang tua.
c. Remaja Itu Sendiri
Pada hakikatnya apa yang dilakuin oleh seorang remaja ketika mencoba menarik perhatian dari orang tua terlebih
lagi teman, adalah untuk memuaskan diri remaja itu sendiri. Bukankah apa pun yang terjadi kalau memang remaja
tersebut punya ‘hati yang besar’ menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan‘perhatian itu’, pasti dia bisa
untuk tidak terperosok ke dalam jurang kenakalan remaja.
Ahmad Bicara Dunia
Ukhuwah Insaniyah dan Maraknya Kenakalan Remaja
Posted on June 18, 2015 by Ahmad Alhamid • Posted in Ideas • Tagged Agama Islam, Kenakalan Remaja, Tugas Kuliah,Ukhuwah, Ukhuwan Insaniyah • Leave a comment

Ukhuwah Insaniyah/Basariyah adalah persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal
tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Persaudaraan yang diikat oleh
jiwa kemanusiaan (Wahyuddin, 2009). Maksudnya, kita sebagai manusia harus dapat memanusiakan
manusia dan memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu melihat
kebaikannya bukan kejelekannya.

Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah.
Sekalipun Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan
kebebasan pada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan atas pertimbangan rasionya. Jika
Ukhuwah Insaniyah tidak dilandasi dengan ajaran keimanan dan ketakwaan, yang muncul adalah jiwa
kebinatangan yang penuh keserakahan dan tak kenal halal haram, bahkan dapat bersifat kanibal terhadap
sesamanya. Thomas Hobbes pernah mengatakan bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lain
(Wahyuddin, 2009).

Dalam melakukan interaksi di tengah masyarakat, setiap diri manusia dari mana pun latar belakangnya,
budaya, adat istiadat, bangsa dan agama selalu mengharapkan agar terjalin hubungan yang baik dan
saling menguntungkan baik itu secara alamiah maupun batin. Manusia dalam kehidupan di dunia terdiri
dari berbagai ras, bangsa, suku, adat istiadat, dan berbagai kelompok diharapkan agar saling mengenal
dan saling memahami. Dengan demikian, maka akan terwujud kedamaian dunia dan persaudaraan sesama
umat manusia.

Terkait dengan maraknya kenakalan remaja, kita harus pahami dulu definisinya. Menurut Kartono,
ilmuwan sosiologi, kenakalan remaja dikenal dengan istilah juvenile delinquency, merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang (Kartono, 1998). Sedangkan pengertian kenakalan
remaja Menurut Paul Moedikdo, SH adalah :
1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan, bagi anak-anak merupakan
kenakalan, jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan
sebagainya.
2. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran
dalam masyarakat.
3. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa
transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh
dunia luar yang kurang baik (Kartono, 1998).

Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang
bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko
sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang
kehidupan.
Perilaku yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos
sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga
kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan
sebagainya.
Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua
kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
1. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku
yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
2. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman
beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah
atau orang tua (Rice, 2005).
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari
luar (eksternal).

Faktor internal:

1. Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya
dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya.
Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa
integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku
yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’.
Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak
bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:

1. Keluarga dan perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau
perselisihan antar anggota keluarga, bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang
salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama,
atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Kedua faktor tersebut sebenarnya bisa dibentengi jika para remaja dididik dengan baik mengenai
ukhuwah/persaudaraan. Baik itu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Insaniyah.
Khususnya untuk Ukhuwah Insaniyah, para remaja seharusnya bisa memandang orang lain dengan penuh
kasih sayang agar terjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan.

Ukhuwah Insaniyah yang merupakan persaudaraan antar manusia harus berlandaskan pada ajaran Islam
yang membawa misi damai. Sehingga, jika para remaja telah menjalin Ukhuwah Insaniyah dengan baik,
maka kenakalan remaja tidak akan terjadi. Peran keluarga dan orang tua juga sangat penting untuk
menanamkan nilai-nilai persaudaraan tersebut agar terpatri kuat dalam benak dan pikiran para remaja.


Muhamad Rizky Rizaldy
nulisonline.wordpress.com
Muhamad Rizky Rizaldy di Uncategorized April 20, 2013 276 W ords

PATOLOGI SOSIAL DAN


KENAKALAN REMAJA

Patologi Sosial. Patologi sosial dalah ilmu tentang gejala-


gejala sosial yang dianggap sakit. Disebabkan oleh faktor-faktor sosial. Berasal dari kata Phatos (Yunani) :
penderitaan, penyakit. Secara Definisi berarti : Semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma
kebaikan, stabilitas lokal. Pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidariatas kekeluargaan, hidup rukun
bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.

Patologi sosial adalah suatu gejala dimana tidak ada persesuaian antara berbagai unsur dari suatu
keseluruhan, sehingga dapat membahayakan kehidupan kelompok, atau yang sangat merintangi
pemuasan keinginan fundamental dari anggota-anggotanya, akibatnya pengikatan sosial patah sama
sekali.

Pelaku patologi sosial dikategorikan dalam tindakannya :

1. Kontak fisik langsung(memukul,menendang,mendorong dan lain-lainnya)


2. Kontak verbal langsung(memaki,mencela,memberi panggilan jelek,dan lain-lainnya)
3. Prilaku non verbal langsung (sinis, mengintimidasi)
4. Prilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan,menjauhi)
5. Pelecehan seksual patologi ini sering dilakukan di dunia pendidikan baik sekolah atau kampus,
mungkin yang lebih terkenal yaitu perpeloncoan.

Pelaku patologi ini kadang melakukannya karena tradisi, balas dendam atau merasa paling kuat dan
berkuasa. Banyak korban yang terkena aksi patologi ini disebabkan beberapa faktor :
1. Penampilan menyolok
2. Tidak berperilaku dengan sesuai
3. Prilaku tidak sopan
4. Tradisi

Dampak bullying untuk korban :

1. Masalah kesehatan fisik


2. Menurunnya keadaan psikologis dan penyesuaian sosial
3. Terganggu prestasi akademiknya
4. Rasa cemas berlebihan, takut, bahkan ingin bunuh diri

Untuk itu janganlah saling menyakiti teman, saudara, atau orangtua, karenabullying ini tidak membawa
kebaikan dan manfaat buat kita semua.

Apa yang dimaksud dengan Gejala Fenomena Patalogi Sosial ?

Gejala fenomena patologi sosial :

1. Hancurnya nilai-nilaidemokrasi dalam masyarakat


2. Memudarnya nilai-nila kekeluargaan dalam komunitas
3. Kemerosotan nilai toleransi dalam masyarakat
4. Memudarnya nilai kejujuran,kesopnan dan rasa tolong menolong
5. Melemahnya nilai dalam keluarga
6. Praktik kolusi,korupsi, dan nepotisme dalam penyelenggaraan pemerintahan
7. Kerusakan sistem dalam budaya ekonomi
8. Pelanggaran terhadap nilai-nilai kebangsaan
PERPUSTAKAAN FIS
Universitas Negeri Yogyakarta

MENU

 BERANDA DEPAN

 WARTA PERPUSTAKAAN

 INFO PERPUSTAKAAN

 LOKASI PERPUSTAKAAN

 AREA ANGGOTA

 BANTUAN PENCARIAN

 MASUK PUSTAKAWAN

 TENTANG SLIMS

Indonesia
PILIH BAHASA
PENCARIAN
Book:Book

Patologi Sosial 2 : Kenakalan Remaja / Kartini Kartono


Kartini Kartono - Personal Name

“Kejahatan anak remaja makin hari menunjukkan kenaikan jumlah dalam kualitas kejahatan dan
peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang dilakukan dalam aksi-aksi kompak. Gejala ini
akan terus-menerus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi, industrialisasi, dan
urbanisasi.

Apa yang menjadi penyebab terjadinya juvenile delinquency itu ? Karena pewarisan secara genetika,
konflik batin karena tekanan jiwa, internalisasi simbolis yang keliru atau pengaruh keluarga.―

Bagaimana penanggulangannya??

penulis mengupasnya dalam buku ini secara gamblang dengan mengacu kepada teori-teori biologis,
psikogenis, sosiogenis, dan subkultur delikuensi, sehingga akan menjadi pengetahuan berguna bagi para
mahasiswa, akademisi, profesional yang berkecimpung dengan permasalahan kenakalan remaja. Juga
yang tidak kalah pentingnya bagi para orang tua yang tentu saja tidak menginginkan permasalahan anak
remaja ini terjadi pada keluarganya.―

CATATAN ANAK RANTAU

AKU BERPIKIR KARENA AKU ADA, AKU ADA KARENA AKU BERPIKIR

 Home
 Adventure
 Tarbiyatunnafsi
 Shollallahu alaih
 The Leader
 Road Show
 Tholabul Ilmi
 Karya Seni

LENCANA FACEBOOK

PC Ipnu-Ippnu Kab Sorong

Promosikan Halaman Anda Juga

LINKS

 My Facebook

ARSIP BLOG

 ► 2015 (4)

 ► 2014 (1)

 ► 2013 (7)

 ▼ 2012 (15)
o ► Desember (1)

o ► November (3)

o ► Mei (2)

o ▼ Maret (8)

 FILSAFAT DAKWAH : REVOLUSI TEKNOLOGI DAN DAKWAH

 PSIKOLOGI AGAMA : Problema dan Gangguan dalam Perk...

 AGAMA SEBAGAI SISTEM BUDAYA

 Patologi Sosial : KENAKALAN REMAJA

 ISLAM DAN SENI REBANA DI KAMPUNG ARAR

 FIQH MUMALAH : HAK MILIK DAN AKAD

 Optimislah Bersholawat!

 Fiqh Munakahat : Peminangan, Mahar dan Kafaah dala...

o ► Januari (1)

 ► 2011 (8)

 ► 2010 (6)

Pribadi. Diberdayakan oleh Blogger.

KAMERA CCTV

POPULAR POSTS

 KITAB MUWATHTHA’ KARYA IMAM MALIK BIN ANAS

BAB I PENDAHULUAN Hasil kodifikasi hadis yang dilakukan oleh Muhammad ibn Syihab al Zuhri (51-125 H) dan Abu Bakar Muhammad ibn

‘Amr ibn ...

 FIQH MUMALAH : HAK MILIK DAN AKAD

Oleh : Zaenal Arifin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah telah menjadikan manusia sebagai wakilnya (khalifah) di atas bumi. Oleh

kare...

 Fiqh Munakahat : Peminangan, Mahar dan Kafaah dalam Perkawinan

Oleh : Zaenal Arifin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adalah fitrah manusia di alam fana ini, bahwa dalam menjalani kehidupannya

manusi...
 PSIKOLOGI AGAMA : Problema dan Gangguan dalam Perkembangan Jiwa Keagamaan

Oleh : Zaenal Arifin Agama berkaitan erat dengan kehidupan batin manusia. Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun

lahir. ...

 QAIDAH FIQHIYYAH

Qaidah Fiqhiyyah sebagai Dasar Pembentukan Perilaku Nahdliyin Sebelum Nahdlatul Ulama dilahirkan, telah terjadi dialog sangat panjang

an...

 PROPOSAL SKRIPSI : Dakwah Kultural di Kampung Arar (Suatu Pendekatan Dakwah)

PROPOSAL SKRIPSI Dakwah Kultural di Kampung Arar (Suatu Pendekatan Dakwah) A. LATAR BELAKANG Islam adalah agama rahmatan lil

‘alamin. ...

 Mabadi' Khaira Ummah

Mabadi’ Khaira Ummah Sejak berdiri pada 1926, NU mendapatkan kepentingan masyarakat Islam sebagai orientasi besar gerakannya. Cita-

cita ter...

 DAKWAH DISKUSI DAN DAKWAH KARYA TULIS

BAB I PENDAHULUAN Dakwah sebagai sebuah realitas, eksistensinya tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Aktivitas dakwah pada

hakikatnya...

 ISLAM DAN SENI REBANA DI KAMPUNG ARAR

ISLAM DAN SENI REBANA (Sejarah dan Perkembanganya di Kampung Arar) Oleh : Zaenal Arifin Abstract Kampong Arar represent...

 AGAMA SEBAGAI SISTEM BUDAYA

AGAMA SEBAGAI SISTEM BUDAYA Oleh : Zaenal Arifin BAB I PENDAHULUAN Agama mempunyai kedudukan yang amat penting dalam

kehidupan manusia, t...

Patologi Sosial : KENAKALAN REMAJA

KENAKALAN REMAJA (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Aimas Kab. Sorong) Oleh
: Zaenal Arifin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja
merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu
tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh,
minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. Oleh
karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial,
yakni masalah psikis yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan
sosial. Masa remaja merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar
antara 12 atau 13 sampai 19 tahun atau yang biasa disebut dengan usia
belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada
dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial. Pada masa transisi
tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai
dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi
tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang
mengganggu. Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan
yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi
pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-
perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di
masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja. Untuk
mengetahui latar belakang kenakalan remaja perlu membedakan adanya
kenakalan remaja yang tidak disengaja dan disengaja. Kenakalan remaja
yang tidak disengaja diantaranya karena pelaku kurang memahami aturan-
aturan yang ada. Sedangkan kenakalan remaja yang disengaja, bukan
karena pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami
bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seorang remaja melakukan
penyimpangan, padahal ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Tidak
ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang
mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Kehidupan remaja banyak
kita temukan di masa usia sekolah, terutama di sekolah tingkat menengah,
yaitu sekitar usia 12 sampai 19 tahun. Sekolah tingkat menengah
merupakan lembaga pendidikan yang menjadi tempat pendidikan lanjutan
secara formal bagi para remaja selain di lingkungan keluarga. Kehidupan
remaja di sekolah sangat mungkin ditemukan sebagai siswa yang
bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku
yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Perilaku
menyimpang atau disebut sebagai kenakalan remaja, menjadi perhatian
penting hingga saat ini, baik dari keluarga, sekolah maupun masyarakat
untuk saling mendukung dalam mencegah dan mengatasi masalah tersebut.
Maka dari itu, masalah kenakalan remaja menarik untuk dijadikan objek
penelitian oleh para peneliti yang tertarik sebagai karya ilmiah. Para peneliti
ingin melihat kecenderungan kenakalan remaja yang terjadi pada masa anak
usia sekolah. Kenakalan remaja di daerah-daerah mana pun banyak
ditemukan prakteknya oleh para remaja usia sekolah. Hampir setiap
sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah mempunyai masalah tersebut,
dan selalu berupaya untuk mencegah dan mengatasi permasalahan yang
terjadi pada siswa. Seperti Kabupaten Sorong sendiri yang menjadi daerah
transmigran, terdapat beberapa sekolah tingkat menengah yang dihuni oleh
para remaja. Diantaranya di SMK Negeri 1 Aimas ditemukan banyak
komunitas remaja sebagai peserta pendidikan. Namun, menurut informasi
dari masyarakat setempat atau lingkungan sekitar, siswa di sekolah tersebut
terdapat kecenderungan kenakalan remaja yang membutuhkan perhatian
khusus. Maka dari itu, perlu diadakan penelitian lebih mendalam mengenai
masalah penyimpangan perilaku oleh para remaja atau siswa di sekolah
tersebut. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, kenakalan
remaja banyak terjadi pada anak masa usia sekolah tingkat menengah. Hal
ini terjadi karena pelaku kenakalan remaja sendiri banyak ditemukan pada
siswa yang masih aktif di sekolah. Maka dari itu, penulis melakukan
penelitian di SMK Negeri 1 Aimas dengan mencari data semaksimal mungkin
dalam mengetahui wacana praktek kenalan remaja yang terjadi di lembaga
pendidikan tersebut. Sebagai pokok permasalahan adalah mengapa praktek
kenakalan remaja masih terus terjadi di SMK Negeri 1 Aimas? Untuk
menjawab permasalahan tersebut, penulis akan menitikberatkan pembahsan
pada tiga persoalan utama, yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana praktek
kenakalan remaja yang terjadi pada siswa di sekolah? 2. Apa faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadi kenakalan remaja di sekolah? 3. Bagaimana
cara mengatasi kenakalan remaja yang terjadi di sekolah? C. Tujuan dan
Manfaat Tujuan penelitian adalah mengidentifkasi dan memberikan
gambaran praktek perilaku menyimpang atau kenakalan yang dilakukan
siswa di sekolah. Sedangkan manfaat penelitian yang diharapkan dapat
tercapai dalam penelitian ini, maka penelitian diharapkan dapat bermanfaat
untuk : 1. Manfaat Teoritis Dengan tersusunnya penelitian ini diharapkan
dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang kenakalan remaja dan
penanggulannya. 2. Manfaat praktis a. Guru Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberi masukan kepada guru sebagai salah satu bahan dalam
memberikan bimbingan dan pendidikan kepada siswa mengenai proses
belajar mengajar serta mengatasi masalah pribadi siswa, sehingga dapat
mencegah dan mengatasi kenakalan remaja dengan peranan sekolah. b.
Orang Tua Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan tentang
kenakalan remaja, sehingga orang tua dapat memperbaiki bimbingan,
pendidikan dan pengawasan di lingkungan keluarga dalam rangka mencegah
dan mengatasi kenakalan remaja. c. Siswa Bagi siswa akan dapat
memberikan masukan tentang wa BAB II PEMBAHASAN A. Sosiografi SMK
Negeri 1 Aimas SMK Negeri 1 Aimas terletak di jalan Petrochina Kelurahan
Malawili Distrik Aimas yang berada di wilayah pemerintahan Kabupaten
Sorong Provinsi Papua Barat. Lokasi sekolah cukup terjangkau dengan
banyakanya angkutan umum yang beroperasi di wilayah Distrik Aimas,
meskipun jika turun dari angkutan umum masih berjalan kaki sekitar 3 km
dari jalan raya. SMK Negeri ini mempunyai lokasi yang cocok untuk belajar
karena tempatnya yang berada di pinggiran kota memungkinkan siswa
belajar dengan tenang. SMK ini mempunyai kondisi perkembangan peserta
didik cukup pesat karena banyak menjadi pilihan para siswa baru sekolah
lanjutan tingkat menengah. Dengan adanya asumsi bahwa siswa lulusan
SMK ini akan lebih mudah mendapatkan lapangan pekerjaan di banding
lulusan siswa SMA. Hal itu disebabkan karena SMK sebagai sekolah kejuruan
sudah mengacu dan mengarah pada program pendidikan dengan jurusan
tertentu dalam berwirausaha. Sejarah berdirinya SMK Negeri 1 Aimas
dimulai pada tahun 2002 semenjak wilayah Aimas menjadi ibu kota
Kabupaten Sorong, dimana Aimas belum mempunyai lembaga pendidikan
tingkat SMA maupun SMK Negeri, sehingga anak-anak Aimas semua sekolah
ke Kota Sorong, sehingga banyak memakan waktu dan biaya transportasi.
Dengan berdasar itulah pada tahun 2003, atas ide gagasan Sekda
Kabupaten Sorong Bapak Tri Budiarto (Wakil Bupati sekarang) maka langkah
pertama dibukalah SMA Negeri 1 Aimas dan bertempat di SD 40 Malawili.
Giliran selanjutnya pada tahun 2004 dibuka lagi SMK Negeri 1 Aimas yang
sementara menumpang di SD 41 Malawele, dengan menugaskan Bapak H.
Ahmad Sutedjo dan Ibu Nurhaining sebagai penerima siswa baru dan
mengurus segala keperluan tentang SMK Negeri 1 Aimas. Di awal
pembukaannya, telah menerima siswa baru sebanyak 108 siswa dan dibagi
menjadi 3 jurusan, yakni Akuntansi, Administrasi Perkantoran dan
Perdagangan. Untuk program Perdagangan, karena mengikuti petunjuk
Kabid Dikmenjur Provinsi Papua, maka program ini dibubarkan. Pada tahun
2005 karena perkembangan siswa bertambah, lokasi SD 41 tidak mampu
menampung siswa SMK. Atas perintah Kepala Dinas PMLS, maka SMK Negeri
1 Aimas dipindahkan dengan menumpang di SMP Negeri 3 Aimas. Selama
dua tahun di SMP Negeri 3 Aimas, UN pertama pelaksanaannya di SMP
Negeri 3 Aimas. Pada awal tahun 2007 dibangun 4 ruang kelas bertempat di
jalan Petrochina Malawili, sehingga pada awal tahun pelajaran 2007/2008,
SMK Negeri 1 Aimas telah resmi pindah menempati gedung baru. Pada awal
perpindahan sekolah di tempat baru, karena rombongan belajar ada 9
rombel, sedangkan ruang kelas yang ada hanya 3 ruang, maka sekolah
berjalan dengan 3 sip waktu. Selanjutnya pada tahun 2007 dibangun 4
ruang teori dan 3 ruang praktek dan tahun 2008 dibangun lagi 3 ruang teori.
Sesuai dengan perkembangan pada tahun pelajaran 2008/2008 dibuka
program Teknik Gambar Bangunan dan pada tahun pelajaran 2009/2010
telah dibuka program Teknik Informatika dan Komunikasi yang sampai saat
ini telah memasuki tiga tahun ajaran. Pada tahun 2011 ini telai mulai
dibangun kembali 3 ruang teori dan ruang aula sebagai pemenuhan sarana
dan prasarana di sekolah. Dalam usaha peningkatan kesejahteraan di SMK
Negeri 1 Aimasberjalan dengan baik, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya
pembayaran berupa gaji yang diberikan pada guru dan karyawan serta
pembangunan sarana dan prasarana masih berjalan.Secara umum setiap
guru yang bertugas di SMK ini memperoleh fasilitasyang cukup memadai,
misalnya masing-masing guru disediakan meja dan kursi. Begitupun fasilitas
yang diberikankepada siswa cukup baik seperti meja dan kursi yang
lengkap, alat tulis, kantin sekolah, perpustakaan, sarana olah raga dan
kamar mandi. Selain itu siswa mendapatkan fasilitaslaboratorium IPA,
laboratoriumkomputer akuntansi, dan laboratorium komputer perkantoran.
Dengan lingkungan dan sarana prasarana sekolah yangmenunjang
kependidikan, diharapkan siswa dapat dengan nyaman belajar disekolah.
Bagi karyawan yang bertugas sebagai Tata Usaha, disediakan
sebuahruangan khusus TU. Setiap petugas TU memperoleh meja dan kursi
kerja, dilengkapi beberapa komputer beserta printernya, selain itu juga
disediakan beberapa buah mesin ketik. Perlu diketahui sarana dan prasarana
SMK ini masih perlu ditingkatkan lagi. Pertama, belum terpenuhi ruang kelas
belajar bagi para siswa, misalnya 2 kelas rombel digabung menjadi satu
dimana ruang kelas masih proses pembangunan. Sehingga kegiatan belajar
mengajar kurang efektif dalam menyampaikan materi. Kedua, belum
dibangun tempat ibadah bagi siswa sebagai penunjang kegiatan keagamaan
dalam membimbing akhlak maupun moral siswa dengan kesadaran
beragama. Mengenai tata tertib dan peraturan di SMK ini, apabila ditemukan
siswa yang melanggar akan diberi sanksi poin dan skorsing sesuai tingkat
pelanggaran dan berdasar pertimbangan para guru, terutama diberikan
nasehat dan peringatan dahulu oleh guru BP dan Wakasek bidang
kesiswaan. Sehingga peraturan sekolah menjadi kewajiban yang harus
dipenuhi para siswa sebagai kontrol dalam pelaksanaan kegitan belajar
mengajar di sekolah. Tujuan utama berdirinya SMK ini adalah sebagai
lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan lanjutan
dari sekolah tingkat menengah pertama/sederajat untuk dapat menyiapkan
peserta didik yang berkualitas agar memiliki kemampuan dan potensi serta
mempunyai daya saing sebagai respon di era globalisasi dengan berdasar
pada keimanan dan ketakwaan serta mampu mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Disamping itu, lulusan SMK ini diharapkan
memiliki wawasan yang luas yang didapatkan dari sekolah, terutama di
bidang kejuruan yang diarahkan untuk melatih dan menanamkan jiwa
kewirausahaan mulai dini. B. Kenakalan Remaja di SMK Negeri 1 Aimas
Mengapa remaja identik dengan kenakalan remaja? Kerana pada masa
remaja merupakan masa yang labil bagi hidup mereka, tergantung
bagaimana mereka mampu melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan
disekitarnya, baik di sekolah maupun di masyarakat. Kenakalan remaja
merupakan bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah
maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana
maupun hukum perdata. Menurut Sudarsono yang dimaksud dengan
kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang berupa pelanggaran hukum
maupun perbuatan-perbuatan anti sosial seperti berada di tempat-tempat
umum pada jam-jam pelajaran, berperilaku buruk, serta penyalahgunaan
obat-obat terlarang. Hasan Basri berpendapat kenakalan remaja adalah
suatu penyimpangan tingkah laku yang dilakukan oleh remaja hingga
mengganggu ketentraman dirinya sendiri dan orang lain. Singgih D Gunarso
mengemukakan kenakalan remaja merupakan perbuatan atau tingkah laku
yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai
moral, yang dilakukan oleh mereka yang berumur antara 13-17 tahun.
Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat kenakalan remaja adalah tindakan
oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan
yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat
diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Dari pendapat-
pendapat di atas dapat diperoleh pengertian kenakalan remaja adalah
tindakan perbuatan atau tingkah laku remaja yang melanggar dan
bertentangan dengan hukum, agama, norma sosial dan norma masyarakat
serta nilai-nilai moral yang merugikan orang lain, mengganggu ketentraman
umum dan merusak diri sendiri. Dalam kehidupan para remaja, sering kali
dikelilingi hal hal yang negatif dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan
sekitar baik lingkungan dengan guru dan teman-temannya di sekolah
maupun lingkungan pada saat dia di masyarakat. Hal tersebut dapat
berbentuk positif hingga negatif yang sering kita sebut dengan kenakalan
remaja. Di sekolah-sekolah tingkat menengah mulai SMP, SMA, SMK atau
sederajat banyak ditemukan temp wasan kenakalan remaja, sehingga
siswa dapat berusaha menghindari praktek kenakalan remaja. d. Peneliti
Dengan penelitian ini membantu peneliti sebagai wahana latihan
pengembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam usahanya
mencegah dan mengatasi kenakalan remaja sehingga dapat meminimalisir
praktek kenakalan remaja dalam lingkungan sekolah.at berlangsungnya
kehidupan remaja selain kehidupan mereka di lingkungan keluarga dan
masyarakat. Sekolah menjadi habitat yang tak terpisahkan oleh para remaja
sebagai peserta didik yang berada di dalam lingkungan sekolah. Sebagian
remaja atau biasa disebut siswa belum tentu mampu menyesuaikan diri
dengan berada di lingkungan yang baru setelah keluar dari rumah tinggal
masing-masing. Hal itu, tergantung bagaimana kemampuan siswa dalam
beradaptasi dengan keadaan di luar. Maka dari itu, proses pendidikan dalam
keluarga sangat penting diterapkan dalam masa remaja melalui pengalaman
dan pengetahuan pada dirinya sendiri sebagai kontrol terhadap dalam
pergulatan dunia yang baru. Sebagaimana di sekolah-sekolah lain, tidak
dipungkiri bahwa SMK N 1 Aimas juga merupakan bentuk komunitas remaja
dengan latar belakang yang beragam, baik dari suku, agama, warna kulit,
status sosial dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial, mereka akan saling
berinteraksi dan berkomunikasi antara siswa dengan guru, karyawan
maupun siswa yang lain. Hal ini disebabkan oleh adanya motivasi untuk
melakukan interaksi yang dipengaruhi oleh adanya aturan dan harapan di
ruang lingkup sekalah tersebut. Perwujudan dari interaksi ini adalah
pemenuhan kebutuhan dalam segi kehidupan. Pada akhirnya, komunikasi
antara mereka terus berlangsung, diantaranya membawa dampak positif
maupun negatif. Remaja atau siswa dapat mensosialisasikan dirinya
terhadap orang lain, pengalaman dan pengetahuan bertambah, perubahan
sikap dan tingkah laku. Namun juga kita temukan tidak sesuai yang
diharapkan yaitu ada siswa yang berperilaku menyimpang yang disebut
dengan kenalan remaja. Menurut Ibu Saloma Br Sitepu, selakui guru BP di
SMK Negeri 1 Aimas, beliau mengatakan tentang perilaku menyimpang yang
terjadi di sekolah tersebut. Diantaranya yang banyak terjadi pada siswa
adalah bolos atau tidak masuk sekolah tanpa adanya keterangan, terlambat
masuk kelas, merusak fasilitas sekolah, membuat gaduh di ruang belajar
akibatnya kegiatan belajar mengajar terganggu, kurang bertanggungjawab
terhadap tugas yang diberikan oleh para guru. Hal itu yang sangat
disayangkan apabila seorang remaja yang masih dalam usia produktif untuk
belajar dan kurang kesadaran untuk belajar. Selain itu, kasus yang merusak
moral para siswa yaitu terkait video porno. Melalui razia yang dilakukan
pihak sekolah ditemukan beberapa siswa yang menyimpan video porno di
hp. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah disalahgunakan
bagi mereka dan membawa dapak yang negatif. Hal itu dapat merusak
mental siswa dalam masalah seksual, dan mengacu terjadinya sex bebas
diantara siswa. Bahkan, beberapa siswa telah kebobolan keperawanan
mereka atau mengalami kehamilan. Akhirnya, mereka dikeluarkan dari
sekolah atau mengundurkan diri karena malu, baik laki-laki maupun
perempuan sebagai pelaku. Bentuk kenakalan remaja yang lain adalah
penyalahgunaan narkoba dan miras masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Perlu diketahui bahwa banyak terjadinya siswa mempunyai budaya
berpacaran yang dapat berdampak negatif. Hal itu dianggap sebuah hal
yang wajar, atau bahkan sangat diperlukan mengingat gengsi dengan
teman-teman yang lain. Mereka akan mendapat cemooh, ejekan yang
membuat minder, misalnya kata “kamu tak laku-laku” atau “kasian nggak
punya pacar”. Mereka tidak menyadari bahwa dalam berpacaran selalu
diiringi dengan kebohongan, baik kepada orang tua atau teman, tidak taat
aturan, tindakan amoral, asusila dan ujungnya melakukan sex sebelum
menikah. Tanpa berpikir akibat yang ditimbulkan akan banyak timbul
perilaku yang menyimpang yang dilarang agama. C. Faktor-Faktor yang
Menyebabkan Kenakalan Remaja di SMK Negeri 1 Aimas Hasan Basri
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kenakalan pada
umumnya dibagi dua yaitu: a. Faktor yang terdapat dalam diri individu
Faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan
kenakalan remaja adalah perkembangan pribadi yang terganggu, individu
mempunyai cacat tubuh, individu mempunyai kebiasaan yang mudah
terpengaruh, kontrol diri yang lemah, taraf intelegensi yang rendah.
Persepsi dan konsep diri juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan
kenakalan remaja karena dengan persepsi individu dapat menyadari,
mengerti tentang keadaan lingkungan sekitar dan keadaan diri individu yang
bersangkutan. Seluruh apa yang ada dalam individu seperti perasaan,
pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan serta aspek-aspek
lainnya yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi itu.
Jadi dapat disimpulkan kemampuan siswa untuk dapat menyadari dan
mengerti tentang keadaan diri sendiri dan keadaan lingkungan sekitar dapat
menyebabkan kemampuan siswa untuk dapat menghindari perilaku-perilaku
negatif yang sering disebut dengan kenakalan remaja, hal ini disebabkan
siswa akan mencari solusi terbaik dari permasalahan yang sedang dihadapi
baik itu permasalahan yang datangnya dari diri sendiri ataupun dari
lingkungan. b. Faktor yang terdapat di luar diri individu Faktor-faktor yang
terdapat di luar diri individu yang menyebabkan kenakalan remaja adalah
lingkungan pergaulan yang kurang baik, kondisi keluarga yang tidak
mendukung terciptanya perkembangan kepribadian anak yang baik,
pengaruh media masa, kurangnya kasih sayang yang dialami anak-anak dan
karena kecemburuan sosial atau frustasi terhadap keadaan sekitar. Jika
dipandang dari segi psikologi maka penyebab timbulnya kelakuan yang
nakal antara lain disebabkan oleh timbulnya minat terhadap diri sendiri,
timbulnya minat terhadap lawan jenis, timbulnya kesadaran terhadap diri
sendiri dan timbulnya hasrat untuk dikenal oleh orang lain. Dari penjelasan
di atas dapat diperoleh pengertian bahwa kenakalan remaja bukanlah suatu
keadaan yang berdiri sendiri tetapi merupakan perpaduan dari beberapa
kondisi yang dialami anak remaja. Jika dalam pertumbuhan dan
perkembangan remaja kurang mendapat pendidikan dan pengarahan yang
penuh tanggung jawab dari kedua orang tua, maka kenakalan remaja
merupakan akibat yang tidak dapat terhindarkan lagi. Menurut Ibu Martha
Widi Harsanti, selaku Wakil Kepala Sekolah dibidang Kesiswaan SMK Negri 1
Aimas, beliau mengungkap bahwa kenakalan remaja yang terjadi di SMK
Negeri 1 Aimas merupakan persoalan yang diperlukan respon yang aktif dan
ambil tindakan, diantaranya kenakalan remaja dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut : 1. Pembentukan kepribadian siswa
dalam keluarga Pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani
manusia berlangsung dari bayi hingga remaja, tenyata masa kanak-kanak
yaitu rnasa yang paling baik dalam pembentukan kepribadan.Kepribadian
tumbuh dan berkernbang sepanjang hidup manusia.terutama sejak lahir
sampai masa remaja yang selalu berada di lingkungan keluarga, diasuh oleh
orang tua dan bergaul dengan anggota keluarga lainnya. Setiap hari berada
di rumah dan hanya beberapa jam saja berada di sekolah atau tempat
lainnya di luar rumah. Karena itu dapat dipahami cukup besar pengaruh dan
peranan keluarga serta orang tua dalam membentuk/menempa pribadi
seorang anak. Misalnya, setiap bayi buang air kecil atau besar, harus segera
diganti popoknya. Ini bertujuan di samping memelihara kesehatan bayi, juga
berarti membiasakan selalu bersih.Bayi jangan dibiarkan lama-lama
bergelimang kencing atau kotoran lainnya. Jika bayi menangis, jangan terus
digendong, hal itu akan memanjakannya. Bila bayi sudah besar dan pandai
berjalan, perlu penguasan yang lebih intensif agar tidak cedera.Anak perlu
diberi kesempatan bermain dengan atau tanpa benda, sesuai dengan tingkat
perkembangannya.Anak kecil jangan terlalu dicampuri bermain, terlalu
sering ditolong, biarkan dia sendiri bermain, berlatih dan bekerja secara
mandiri.Kita jangan lalai mengawasinya. Pendidikan dalam keluarga
merupakan bekal penting bagi seorang remaja ketika dia sudah ada
kemauan keluar rumah dalam berinteraksi dengan orang selain keluarganya,
baik di sekolah maupun di lingkungan. Dalam hal ini, komunikasi seorang
anak terhadap keluarga jangan sampai terputus, seolah-olah tidak mau tahu
atau merasa tidak tahu tentang keadaan ananknya. Keluarga seharusnya
mendorong atau memotivasi dirinya, menuntun dan mengiringi setiap
langkahnya dan melakukan pengawasan maupun kontrol yang dilakukan
secara kontinu. 2. Pengaruh Teman dan Pergaulan Di kalangan remaja,
memiliki banyak kawan merupakan satu bentuk prestasi tersendiri seperti
pertemanan di sekolah.Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di
mata teman-temannya.Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan
terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat
pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang
terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan
hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada
orangtuanya.Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai
teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut.Padahal, kebanggaan ini
adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu
akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan
tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si
anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun
orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi.
Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa
kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya. 3.
Penggunaan Waktu Luang Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar
pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah,
selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa
kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk
mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja
melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah.
Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat
terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng
saja.Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang
dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya.Perhatian
yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan
sepermainannya.Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng
berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat
membanggakan.Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri,
merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya. Menurut
pengamatan peneliti, selain beberapa faktor yang diuraikan di atas, terdapat
faktor dominan yang sangat mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja,
yaitu kesadaran dam kematangan beragama. Siswa mempunyai jiwa
keagamaan yang tidak matang atau pun lemah, tidak taat dalam menjalan
syariat agamanya, maksiat sudah hal biasa dilakukan. Lemahnya iman atau
bahkan tak mengenal Tuhannya lagi sekehendak mereka, karena mereka
tak mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang berakal dan mempunyai
hati nurani. Hal ini didukung oleh ketiadaan tempat ibadah di sekolah
sebagai media pembelajaran agama dan akhlak atau moral untuk suplay
kerohanian.Sangat disayangkan, penyampaian materi keagamaan sangat
minim dilakukan kepada siswa. Maka dari itu, aplikasi agama hanya menjadi
sebuah teori yang banyak didengar saja oleh para siswa, tanpa pelaksanaan
dan penerapan pengamalan syariat agama. Selain itu, pemberian materi
bimbingan dan konseling kurang atau pun tidak maksimal. Guru BP hanya
diberi kesempatan memakai jam pelajaran yang kosong dari guru bidang
studi yang mungkin berhalangan hadir. Sehingga materi yang diberikan
bersifat spontanitas dan tidak terstruktur dengan baik. Dalam memberi
wawasan moral bagi siswa maupun pengembangan dirimasih terbatas. D.
Peranan Guru BP dan Guru Agama dalam Mengatasi Kenakalan Remaja di
SMK Negeri 1 Aimas Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah
dilaksanakan serta memiliki posisi yang sangat luhur di masyarakat. Semua
orang pasti akanmembenarkan pernyataan ini jika mengerti sejauh mana
peran dan tanggung jawab seorang guru. Peran guru tidak hanya sebatas
tugas yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh hidupnya
memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya
menyampaikan teori-teori akademis saja tetapi suri tauladan yang
digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika menginjak remaja, seorang anak sudah mulai masuk usia belajar
yang aktif, orang tua mencoba melanjutkan pendidikan anak ke tingkat yang
lebih tinggi secara formal. Orang tua menyerahkan anak kepada sekolah
agar dibimbing dan dididik dengan peranan para guru yang tercantum di
dalam struktur lembaga pendidikan. Peranan guru sebagai orang tua di
lingkungan sekolah menjadi pendidik, pembimbing serta pengawas terhadap
perilaku para siswa, sehingga siswa bisa dianggap sebagai tanggung jawab
bagi mereka. Maka dari itu, mereka selalu berharap anak didiknya agar
menjadi lebih baik. Hal apa pun akan dilakukan demi kebaikan mereka.
Motivasi dan kontrol dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi di
sekolah menjadi tanggungan bagi setiap anggota secara struktural maupun
kultural. Semua pihak mempunyai peranan penting dan saling mendukung.
Misalnya, kepala sekolah sebagai instruktor, kepada guru-guru agar serius
dalam kegiatan pembelajaran, apabila tidak tepati akan diberi sanksi. Begitu
juga dengan kenakalan remaja yang terjadi di sekolah. Menghadapi hal
tersebut, ada dua posisiyang mempunyai peranan didalam memecahkan
masalah ini, yakni peranan guru BP dan guru agama. Diperlukan langkah-
langkah yang tepat dan erja sama yang baik agar tidak menimbulkan
masalah-masalah yang baru. Guru BP sebagai guru pembimbing para siswa
dalam bimbingan dan konseling. Dia memegang posisi penting dalam
menatap keadaan para siswa, terutama dalam memberi bimbingan terhadap
potensi, bakat dan minat siswa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan;
melakukan konseling terhadap permasalahan apa pun yang menimpa siswa,
misal dapat sebagai tempat curhat masalah pribadi, mencoba mencari solusi
atau pemecahan masalah siswa, dan sebagainya. Di sekolah sangat mungkin
ditemukan siswa yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai
penyimpangan perilaku atau kenakalan remaja. Terkait dengan pelanggaran
disiplin sekolah merujuk pada aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah
dengan diberikan sanksi pelanggaran dan skor serta diberikan nasehat
maupun peringatan untuk tindak mengulangi, seperti tindakan bolos sekolah
misalnya mendapat skor 10 poin, apabila mencapai angka 100 poin akan
dikeluarkan dari sekolah yang sebelumnya diberi peringatan. Selanjutnya,
ada upaya untuk menyembuhkan atau menyadarkan penyimpangan perilaku
yang terjadi pada siswa dengan melalui bimbingan dan konseling dengan
hubungan interpersonal antara guru BP dengan siswa.Jika diperlukan
melibatkan dialog dengan orang tua siswa mengenai bimbingan dan mencari
solusi yang terbaik. Masalah akan lebih mudah teratasi apabila adanya
keterbukaan dan kesukarelaan menjadi kunci bimbingan konseling, dengan
melalui persepsi dan konsep diri yang tepat agar siswa mau berintrospeksi
terhadap perilaku dirinya sendiri. Salah satu tindakan BK di SMK misalnya,
guru BP dibantu dengan guru perempuan yang lain mengadakan dialog
dengan semua siswi, yang bertujuan untuk memberikan wawasan bagi siswi,
bagaimana mereka agar selalu menjaga perilaku dan sikap, yakni
perempuan harus dapat menjaga dirinya agar terhindar dari kejahilan atau
kejahatan oleh laki-laki. Hal ini disebabkan, banyak peristiwa terjadi asusila
maupun kejahatan perempuan yang dilakukan oleh orang laki-laki, dimulai
dari seorang perempuan menjaga dirinya, dalam arti seperti pakaian yang
ketat, akan mengundang syahwat bagi laki-laki dan akhirnya terjadilah
perkosaan. Seorang perempuan tidak menyadari akan hal itu, dan merasa
bangga akan kemolekan tubuhnya, dipamerkan dan ujungnya kerugianlah
yang mereka dapatkan. Maka dari itu, menjadi pernpuan seyogyanyalah
menjadi perempuan yang terhormat dan akan dihargai orang-orang yang
berada disekitanya. Hal yang sangat urgen sekali yaitu peningkatan
ketakwaan dan keimanan harus terus disyiarkan, dimana peranan guru
agama sangat mendukung. Guru agama dapat menambah wawasan rohani
sebagai pencerahan bagi jiwa keagamaan dan membentuk kesehatan mental
bagi para siswa. Siswa yang berperilaku menyimpang disebabkan oleh tidak
sehat mental atau jiwanya mengalami gangguan. Maka dari DAFTAR
PUSTAKA Basri, Hasan. Remaja Berkualitas, Problematika Remaja dan
Solusinya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1996. Gunarso, Singgih D..Psikologi
Remaja.Jakarta : Rineka Cipta. 2000. Hikmawati, Fenti, Bimbingan
Konseling, Jakarta: Rajawali Press, 2010. Mubin dan Ani Cahyadi, Psikologi
Perkembangan, Ciputat: Ciputat Press Group, 2006. Jalaluddin, Psikologi
Agama, Jakarta : Rajawali Press, 2010. Rahmat, Jalaluddin, Psikologi
Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996. Sudarsono. Kenakalan
Remaja. Jakarta : Rineka Cipta. 1991. Suranto AW, Komunikasi
Interpersonal, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011. Walgito, Bimo. Pengantar
Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Ofset.2001. Wilis, Sofyan S, Konseling
Keluarga, Bandung : Alfabeta, 2008. Wirawan Sarwono, Sarlito. Psikologi
Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1997. Zulkifli, Psikologi
Perkembangan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005. itu, materi
pendidikan agama oleh guru dapat menuntun dan mengarahkan dengan
pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan dan pengamalan syariat
agama bagi para siswa. Selain itu, guru agama memberikan nasehat dalam
hakikat pertemanan dan pergaulan. Siswa harus berhati-hati dalam mencari
teman, dengan alasan bahwa seorang teman merupakan bentuk
pencerminan pada diri mereka sendiri. Apabila teman dapat membawa dan
mengarah pada kegiatan-kegiatan yang positif, sangat baik diterapkan dan
perlu mendapat apresiasi dalam perkembangan peningkatan dalam bentuk
kerja sama yang baik. Namun, apabila seorang teman membawa dan
mengarah pada hal-hal yang negatif, perlu diingatkan dan harus menjadi
perhatian khusus untuk dibenahi dan diarahakan menjadi lebh baik. Hal-hal
yang bisa dilakukan dalan mengatasi kenakalan remaja: 1. Perlunya
ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini. 2. Prinsip
keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur
orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik 3.
Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan
koreksi diri 4. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga
sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi
remaja. 5. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta
orangtua memberi arahan dengan siapa dan di mana remaja harus bergaul.
6. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika
ternyata teman komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan. Dengan
demikian remaja dapat diharapkan menjaga remaja yang handal dan sehat.
Remaja harus mengetahui dirinya memiliki kekhawatiran dan
harapan,dengan kata lain remaja harus mengerti dirinya sendiri. BAB III
PENUTUP A. Kesimpulan Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang
melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan
pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa. Kenakalan
remaja yang terjadi di sekolah dipengaruhi oleh faktor bawaan pendidikan
dan bimbingan yang mereka dapatkan dari keluarga. Sekian banyak orang
tua kurang memperhatikan perkembangan anak yang sedang menginjak
masa remaja yang labil dengan perilaku menyimpang. Maka dari itu,
orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan,
di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala
tindak tanduk si remaja. Meskipun tentu masih banyak ditemukan kenakalan
remaja masih sering terjadi di lingkungan sekolah dengan berbagai macam
perilaku menyimpang. Selain itu, kenakalan remaja dipengaruhi oleh
kepribadian dan konsep diri yang tebentuk pada masing-masing siswa usia
masa remaja dan tentunya mempunyai perbedaan. Pertahanan diri yang
kuat dan filterisasi terhadap pengaruh dari luar dirinya dengan baik. Hal itu
yang perlu diperhatikan kembali dalam pembentukan kepribadian dan
konsep diri yang matang. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya
kenakalan remaja dimulai dengan individu-individu tersebut. Perlu
diperhatikan juga yaitu mengenai pendidikan agama sangat penting, dimana
siswa yang mempunyai kesadaran agama yang matang, yaitu pembentukan
akhlak atau moral yang baik. Sehingga wawasan keagamaan membawa akal
untuk berpikir dan hati nurani dengan perasaan sebagai kontrol yang
kiranya sangat efektif diterapkan bagi siswa. Hal itu akan terwujud apabila
didukung oleh semua pihak, baik keluarga, sekolah dan lingkungan. Remaja
merupakan masa labil dan rentan terhadap perilaku menyimpang. Maka dari
itu, remaja selalu membutuhkan bimbingan dan pengawasan agar tidak
terjerumus dalam pencarian jati dirinya. B. Saran Berdasarkan hasil
penelitian dan kesimpulan yang sudah penulis sampaikan di atas, maka ada
beberapa pandangan yang dapat diangkat sebagai saran, sebagai berikut: 1.
Bagi Orang Tua Siswa Hendaknya orang tua siswa menyadari akan tanggung
jawab yang dimiliki terhadap putra-putrinya, terutama dalam memberikan
bimbingan, arahan serta didikan di rumah, dan mengarhakan dalam
pendalaman pemahaman agama. 2. Bagi Kepala Sekolah Kepala sekolah
hendaknya mampu memberikan dorongan serta kesempatan kepada guru
BPdan guru Agama guna membina pelaksanaan bimbingan dan pembinaan,
secara optimal terutama dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi. 3.
Bagi Guru BP Sekolah Guru BP hendaknya benar-benar menampilkan sifat
profesionalnya dan memanfaatkan kesempatan untuk membina dan
membimbing siswa terutama dalam pelaksanaanbimbingan dan konseling,
yang dapat sebagai penunjuk jalan, pembangkit kekuatan dan pembina
tingkah laku positip yang dikehendaki. 4. Bagi Siswa Siswa hendaknya
berusaha memahami pentingnya pengtahuan tentang kenakalan remaja,
sehingga siswa mampu menghindari praktek perilaku menyimpang yang
banyak terjadi di masa usia anak sekolah.
MODUL ETIKA
DAN HUKUM

2017