You are on page 1of 29

SIMPLE VIBRATION APPARATUS

BAB V
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

5.1 Dasar Teori
5.1.1 Getaran
Getaran adalah gerakan bolak – balik yang di sekitar daerah kesetimbangan dalam suatu
interval waktu. Kesetimbangan disini adalah keadaan dimana suatu benda berada pada posisi
diam jika tidak ada gaya yang bekerja. Getaran berhubungan dengan gerak osilasi benda dan
gaya yang berhubungan dengan gerak tersebut. Semua benda yang mempunyai massa dan
elastisitas mampu bergetar. Macam–macam getaran terdiri dari:
1. Getaran bebas
Getaran bebas terjadi jika sistem mekanis dimulai dengan gaya awal, lalu dibiarkan
bergetar secara bebas. Semua system yang memiliki massa dan elastisitas dapat
mengalami getaran bebas. Contoh getaran bebas adalah memukul garputala dan
membiarkannya bergetar, atau bandul yang ditarik dari keadaan setimbang lalu
dilepaskan.
2. Getaran paksa
Getaran paksa adalah getaran yang terjadi karena rangsangan gaya luar yang
diterapkan pada sistem mekanis.

5.1.2 Degree of Freedom
Degree of freedom (Derajat kebebasan) adalah derajat independensi yang diperlukan
untuk menyatakan posisi suatu sistem pada setiap saat. Menurut jumlahnya derajat
kebebasan terdiri dari 3, yaitu:
1. Single degree of freedom system
Pada masalah dinamika, setiap titik atau massa pada umumnya hanya diperhitungkan
berpindah tempat dalam satu arah saja yaitu arah horizontal. Karena simpangan yang
terjadi hanya terjadi dalam satu bidang atau dua dimensi, maka simpangan suatu massa
pada setiap saat hanya mempunyai posisi atau ordinat tertentu baik bertanda negatif
ataupun bertanda positif. Pada kondisi dua dimensi tersebut, simpangan suatu massa pada
saat t dapat dinyatakan dalam koordinat tunggal yaitu Y(t). struktur seperti itu dinamakan
derajat kebebasan tunggal / single degree of freedom system.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

Gambar 5.1 Sistem Getaran Satu Derajat Kebebasan
Sumber: Hutahean (2012,p.1)

Contoh aplikasinya:

Gambar 5.2 Sistem Getaran Satu Derajat Kebebasan (Piston)
Sumber: Tungga (2011,p.35)

2. Double degree of freedom system
Dalam sistem massa pegas seperti terlihat dalam Gambar 5.3 di bawah ini, bila
gerakan massa ml dan m2 secara vertikal dibatasi maka paling sedikit dibutuhkan satu
koordinat x(t) guna menentukan kedudukan massa pada berbagai waktu. Berarti sistem
membutuhkan dua buah koordinat bersama-sama untuk menentukan kedudukan massa,
sistem ini adalah sistem dua-derajat-kebebasan.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

Gambar 5.3 Sistem Getaran Dua Derajat Kebebasan
Sumber: Tungga (2011,p.174)

Contoh Aplikasinya

Gambar 5.4 Aplikasi Sistem Getaran Dua Derajat Kebebasan
Sumber: Hutahean (2012,p.168)

3. Multi degree of freedom system
Sistem banyak derajat kebebasan adalah sebuah system yang mempunyai koordinat
bebas untuk mengetahui kedudukan massa lebih dari dua buah. Pada dasarnya, analisa
system banyak derajat kebebasan adalah sama dengan sistem satu atau dua derajat
kebebasan. Tetapi karena banyaknya langkah yang harus dilewati untuk mencari
frekuensi pribadi melalui perhitungan matematis, maka sistem digolongkan menjadi
banyak derajat kebebasan.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

Gambar 5.5 Sistem Getaran Berderajat Kebebasan Banyak
Sumber: Kelly (2012,p.460)

Contoh Aplikasi

Gambar 5.6 Aplikasi Sistem Getaran Berderajat Kebebasan Banyak
Sumber: Kelly (2000,p.76)

5.1.3 Sistem Getaran Bebas
Sistem getaran bebas terjadi dalam suatu sistem karena tidak adanya eksitasi luar
sebagai hasil dari energi kinetik atau energi potensial yang ada pada sistem. Sistem getaran
bebas berawal dari transfer energi kinetik ke potensial secara kontinu, begitupula sebaliknya.
Sistem getaran bebas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
1. Sistem getaran bebas tak teredam

Gambar 5.7 Model sistem getaran bebas tak teredam
Sumber: Hutahean (2012,p.32)

Sebuah massa m disangga oleh pegas dengan kekakuan k dan inersia yang diabaikan.
Massa m lalu ditarik ke arah atas dari posisi setimbang, kemudian dilepas. Pada selang
waktu t, massa akan berbeda pada jarak x dari posisi setimbang dan gaya pegas F = –kx
yang bekerja ada benda akan cenderung menahannya pada posisi setimbang.
Persamaan dari gerakan:

𝑑2 π‘₯
βˆ’π‘˜π‘₯ = π‘š ........................................................................................................(5-1)
𝑑𝑑 2

Atau

𝑑2 π‘₯
+ πœ”π‘›2 = 0
𝑑𝑑 2
π‘˜
πœ”π‘›2 = .................................................................................................................. (5-2)
π‘š

Gerakanya adalah gerakan harmonis sederhana dan periode T diberikandengan
persamaan:

π‘˜ βˆ†π‘ 
𝑇 = 2πœ‹βˆšπ‘š atau 𝑇 = 2πœ‹βˆš 𝑔 .............................................................................. (5-3)

π‘šπ‘”
Dengan βˆ†π‘  = defleksi statis = π‘˜

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

1 π‘˜ 1 𝑔
𝑓 = 2πœ‹ βˆšπ‘š atau 𝑓 = 2πœ‹ βˆšβˆ†π‘  ............................................................................... (5-4)

Dimana:
k = Konstanta pegas (N/m)
x = jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya (m)
Ζ’ = Frekuensi (Hz)
Ο‰n = Frekuensi Pribadi (Hz)
T = Periode (s)

2. Sistem getaran bebas teredam

Gambar 5.8 Model sistem getaran bebas teredam
Sumber: Hutahean (2012,p.43)

Perhatikan massa benda m disangga oleh pegas dengan kekakuan k, inertia diabaikan
dan dihubungkan dengan sebuah dashpot oli yang mempunyai hambatan yang dapat
dianggap sebanding dengan kecepatan relatif. Massa m ditarik ke atas dari posisi
seimbang, kemudian dilepaskan.
Pada selang waktu t, massa akan berada pada jarak x dari posisi setimbang. Gaya
pegas –kx yang bekerja pada benda akan cenderung menahannya pada keadaanseimbang
dan gaya peredaman yang cenderung untuk melawan gerakan adalah:

𝑑π‘₯
βˆ’π‘ 𝑑𝑑 ...................................................................................................................... (5-5)

Dimana c adalah konstanta peredaman. Persamaan dari gerakan tersebut adalah:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

𝑑π‘₯ 𝑑2 π‘₯
βˆ’π‘˜π‘₯ βˆ’ 𝑐 𝑑𝑑 = π‘š ............................................................................................. (5-6)
𝑑𝑑 2

Bentuk standar dari sistem ini adalah:

𝑑2 π‘₯ 𝑑π‘₯
+ 2πœ”π‘›πœ‰ 𝑑𝑑 + πœ”π‘›2 π‘₯ = 0 ................................................................................... (5-7)
𝑑𝑑 2

Maka untuk kasus ini

π‘˜ 𝑐
πœ”π‘›2 π‘₯ = π‘š dan 2πœ”π‘›πœ = π‘š ................................................................................... (5-8)

Dimana:
k = Konstanta pegas (N/m)
x = jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya (m)
Ζ’ = Frekuensi (Hz)
Ο‰n = Frekuensi Pribadi (Hz)
T = Periode (s)
𝜁 = damping ratio

Jenis – jenis peredaman pada system getaran bebas adalah sebagai berikut:
β€’ Underdamped
Sistem yang mengalami underdamped biasanya melakukan beberapa getaran
sebelum berhenti. Sistem masih melakukan beberapa getaran sebelum berhenti karena
redaman yang dialami tidak terlalu besar. Contoh sebuah benda yang digantung dalam
ujung pegas.
β€’ Critical damping
Sistem yang mengalami critical damping biasanya langsung berhenti bergetar
(benda langsung kembali ke posisi setimbang). Sistem langsung berhenti
karenaredaman yang dialami cukup besar. Contoh bola yang digantung pada ujung
pegas kemudian tercelup ke dalam air.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
β€’ Over damping
Over damping mirip seperti critical damping. Bedanya pada critical damping benda
tiba lebih cepat di posisi setimbangnya, sedangkan pada over damping benda lama sekali
di posisi setimbangnya. Hal ini disebabkan karenaredaman yang dialami oleh sistem
sangat besar. Contoh sebuah benda yang digantungkan pada ujung pegas kemudian bola
masuk ke dalam wadah yang berisi minyak kental. Adanya minyak kental menyebabkan
bola sulit kembali ke posisi setimbang

5.1.4 Hukum Hooke
Hukum hooke adalah hukum atau ketentuan mengenai gaya dalam bidang ilmu fisika
yang terjadi karena sifat elastisitas dar sebuah pir atau pegas besaranya gaya hooke ini secara
proporsional akan berbanding lurus dengan jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya,
atau lewat rumus matematis dapat di gambarkan sebagai berikut:

F = k . x ........................................................................................................ (5-9)

Dimana:
F = gaya (N)
k = Konstanta pegas (N/m)
x = jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya (m)

5.1.5 Frekuensi, Periode, Amplitudo dan Damping ratio
ο‚·ο€ Frekuensi
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi pada suatu sistem pada satu detik.
Frekuensi dalam suatu sistem dapat ditentukan dengan cara membandingkan antara
banyaknya getaran yang terjadi dengan waktu getaran yang terjadi (dalam detik). Satuan
untuk frekuensi adalah Hertz (Hz).
Frekuensi pada sistem satu derajat kebebasan tanpa peredeman:

1 π‘˜
𝑓 = 2πœ‹ βˆšπ‘š ...........................................................................................................(5-10)

Keterangan:
f = frekuensi (Hz)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
k = konstanta pegas (N/m)
m = massa (kg)

Frekuensi pada sistem satu derajat kebebasan dengan peredeman:

𝑓 = 2πœ‹πœ”π‘› √1 βˆ’ 𝜁 2 ..............................................................................................(5-11)

Keterangan:
f = frekuensi (Hz)
πœ”π‘› = frekuensi natural (Hz)
𝜁 = damping ratio

ο‚·ο€ Periode
Periode adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan satu getaran.

1
𝑇 = 𝑓 ...................................................................................................................(5-12)

Keterangan:
T = periode (s)
f = frekuensi (Hz)

ο‚·ο€ Amplitudo
Secara sederhana amplitudo dapat diartikan sebagai simpangan terbesar yang dihitung
dari kedudukan setimbang. Osilasi merupakan variasi periodik terhadap waktu yang
didapat dari hasil pengukuran.

π‘Œ = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 πœƒ
π‘Œ = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 πœ”π‘‘ ......................................................................................................(5-12)

Dimana:

πœ”π‘‘ = 2πœ‹π‘“π‘‘
π‘Œ = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 2πœ‹π‘“π‘‘

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
1
π‘Œ = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 2πœ‹ 𝑇 𝑑 .................................................................................................(5-13)

Hubungan antara frekuensi dengan panjang gelombang dapat dilihat pada persamaan
dibawah ini:

πœ”π‘‘ = 2πœ‹π‘“π‘‘
πœ†
𝑣 = 𝑓. πœ† atau 𝑣 = 𝑇 ............................................................................................(5-14)

Nilai cepat rambat gelombang (v) dan waktu (t) dapat dicari dengan simple vibration
apparatus, sehingga panjang gelombang (πœ†) dapat diketahui.
ο‚·ο€ Damping ratio
Damping ratio adalah perbandingan antara peredaman sebenarnya terhadap jumlah
peredaman yang diperlukan untuk mencapai titik redaman kritis.

𝒄
𝝃= ..............................................................................................................(5-15)
βˆšπŸπ’Œπ’Ž

Dimana:
𝝃 : Damping ratio (k/m)
c : Konstanta peredaman (Ns/m)
k : Konstanta pegas (N/m)
m : Massa (Kg)

Kondisi-kondisi yang dipengaruhi oleh besarnya damping ratio pada suatusistem
adalah sebagai berikut:
1. Under damped
Pada kondisi peredaman under damped, damping ratio yang dimiliki oleh sistem
kurang dari satu (ΞΆ < 1).
2. Critically damped
Pada kondisi peredaman critically damped, damping ratio yang dimiliki oleh sistem
sama dengan satu (ΞΆ = 1).
3. Over damped
Pada kondisi peredaman over damped, damping ratio yang dimiliki oleh sistem
lebih dari satu (ΞΆ > 1).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

Gambar 5.9 Diagram perbandingan respon getaran pada tiap kondisi damping ratio
Sumber: Kelly (2000,p.98)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.2 Tujuan Pengujian
1. Untuk memahami hubungan antara massa benda, kekakuan dari pegas dan periode atau
frekuiensi dari osilasi untuk sistem pegas dan periode atau frekuensi dari osilasi untuk
sistem pegas massa sederhana yang mempunyai satu derajat kebebasan.
2. Untuk memahami hubungan antara gaya, viskositas dari oli dan kecepatan untuk
bermacam – macam keadaan dari dashpot yang dapat diatur.
3. Untuk memahami konstanta peredaman terhadap putaran katup dengan variasi massa.
4. Untuk memahami hubungan konstanta peredaman terhadap putaran katup dengan variasi
konstanta pegas.

5.3 Spesifikasi Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Sanderson Simple Vibration Apparatus.

Gambar 5.10 Simple Vibration Apparatus
Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Teknik Mesin FT – UB (2017)

Rangka dapat bergerak secara vertikal pada roller guides dengan membawa central stud
ke massa yang dapat dipasangkan.
Massa frame adalah 1,7 kg

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Massa tiap piringan 1,0 kg

Tiga buah pegas masing-masing:
Pegas No. 1 k = 3,30 kN/m
Pegas No. 2 k = 1,22 kN/m
Pegas No. 3 k = 0,47 kN/m

5.4 Cara Pengambilan Data
Step 1
1. Aturlah paper strip pada roller sehingga siap digunakan.
2. Pasanglah pena pada penjempit pena.
3. Pasang pegas sesuai dengan konstanta yang akan dicoba.
4. Tekan pegas sampai pada dasar, sebelum dilepas pastikan motor dalam posisi on sehingga
roller berputar, kemudian lepaskan pegas.
5. Kemudian perubahan yang terjadi dicatat. Beban ditambahkan sambil mencatat
perubahan yang terjadi.
6. Catat hasil osilasi sesuai tabel.
Step 2
1. Pasang peralatan damper.
2. Aturlah putaran sesuai dengan bukaan yang dikehendaki.
3. Ulagi percobaan seperti nomor 4 step 1.
4. Tambahkan beban dan ulangi percobaan.
5. Lakukan percobaan dengan teliti dan benar.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.5 Hasil Pengujian
5.5.1 Data Hasil Pengujian
Massa frame : 1,7 kg
Massa tiap piringan : 1,0 kg
Berikut hasil osilasi untuk hubungan antara massa dengan frekuensi pada konstanta
pegas (k) = 0,47 kN/m; 1,22 kN/m; 3,30 kN/m dan pada massa (m) m1 = 2,7 kg; m2 = 3,7
kg; m3 = 4,7 kg.

Tabel 5.1
Data hasil pengujian pada saat k = 0,47 kN/m
M = 2,7 kg M = 3,7 kg M = 4,7 kg

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.2
Data hasil pengujian pada saat k = 1,22kN/m
M = 2,7 kg M = 3,7 kg M = 4,7 kg

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Tabel 5.3
Data hasil pengujian pada saat k = 3,30 kN/m
M = 2,7 kg M = 3,7 kg M = 4,7 kg

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Berikut hasil osilasi untuk hubungan putaran katup dengan konstanta peredaman pada
konstanta pegas 0,47 kN/m, putaran katup 0, 4, 8, 12, 16 dan pada massa m1 = 2,7 kg, m2 =
3,7 kg, dan m3 = 4,7 kg dengan variasi oli (peredaman) yaitu SAE 50:

Tabel 5.4
Data hasil pengujian pada saat Putaran Katup (N) dengan massa 2,7 kg dan k = 0,47 kN/m
pada SAE 50
N=0 N=4 N=8 N = 12 N = 16

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.5
Data hasil pengujian pada saat Putaran Katup (N) dengan massa 3,7 kg dan k = 0,47 kN/m
pada SAE 50
N=0 N=4 N=8 N = 12 N = 16

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Tabel 5.6
Data hasil pengujian pada saat Putaran Katup (N) dengan massa 4,7 kg dan k = 0,47 kN/m
pada SAE 50
N=0 N=4 N=8 N = 12 N = 16

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.7
Hubungan Antara Massa Dengan Frekuensi Pada Konstanta Pegas 0,47 kN/m
No m(kg) Ξ» (m) f (Hz) f' (Hz)
1 2.7 0.0098 2.09984 2.04082
2 3.7 0.01185 1.79378 1.68776
3 4.7 0.01281 1.59155 1.56128
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.8
Hubungan Antara Massa Dengan Frekuensi Pada Konstanta Pegas 1,22 kN/m
No m(kg) Ξ» (m) f (Hz) f' (Hz)
1 2.7 0.00679 3.38313 2.94551
2 3.7 0.00753 2.89001 2.65604
3 4.7 0.00874 2.5642 2.28833
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.9
Hubungan Antara Massa Dengan Frekuensi Pada Konstanta Pegas 3,30 kN/m
No m(kg) Ξ» (m) f (Hz) f' (Hz)
1 2.7 0.00392 5.5641 5.10204
2 3.7 0.00457 4.75309 4.37637
3 4.7 0.00522 4.21724 3.83142
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Tabel 5.10
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman Dengan Massa 2,7 kg Pada k =
0.47 kN/m
No n Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 0.01128 0.01035 0.00158 13.1937 0.29914 21.3127
2 4 0.01148 0.01016 0.00146 13.1937 0.30876 21.9982
3 8 0.01152 0.00863 0.00094 13.1937 0.35287 25.1403
4 12 0.01172 0.00746 0.00088 13.1937 0.34018 24.2362
5 16 0.01197 0.00713 0.00048 13.1937 0.42944 30.5962
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.11
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman Dengan Massa 3,7 kg pada k =
0.47 kN/m
No n Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 0.01288 0.01336 0.00313 11.2706 0.23097 19.2636
2 4 0.01292 0.01194 0.002 11.2706 0.28437 23.7172
3 8 0.01309 0.01058 0.00169 11.2706 0.29193 24.3476
4 12 0.01319 0.00981 0.00134 11.2706 0.31683 26.4249
5 16 0.01352 0.00889 0.00119 11.2706 0.32006 26.6935
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.12
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman Dengan Massa 4,7 kg Pada k =
0.47 kN/m
No n Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 0.01415 0.01067 0.00217 10 0.25349 23.8278
2 4 0.0143 0.00961 0.0016 10 0.28533 26.8213
3 8 0.01493 0.00883 0.00133 10 0.30128 28.32
4 12 0.01509 0.00865 0.00126 10 0.3066 28.8207
5 16 0.01513 0.0079 0.00086 10 0.35296 33.1778
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.13
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman dengan SAE 40 pada massa 3,7
kg dan k = 0,47 kN/m
No n Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 - 0,014 0,0036 11,2706 0,21198 15,10274
2 4 - 0,0127 0,0022 11,2706 0,293695 20,92459
3 8 - 0,0115 0,0018 11,2706 0,332706 23,70397
4 12 - 0,0102 0,0012 11,2706 0,38363 27,33211
5 16 - 0,00975 0,001 11,2706 0,457574 32,60034
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Tabel 5.14
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman dengan SAE 90 pada massa 3,7
kg dan k = 0,47 kN/m
No n Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 0.01269 - - 11.2706 0.160674 13.4007
2 4 0.01326 - - 11.2706 0.167891 14.0026
3 8 0.01417 - - 11.2706 0.179413 14.9635
4 12 0.01475 - - 11.2706 0.186757 15.576
5 16 0.01485 - - 11.2706 0.188023 15.6816
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.15
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman dengan SAE 50 pada massa 3,7
kg dan k = 1,22 kN/m
No N Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 - 0,01766 0,00673 18,1585 0,15362 20,6422
2 4 - 0,01641 0,00512 18,1585 0,18547 24,9218
3 8 - 0,0153 0,00406 18,1585 0,21125 28,3866
4 12 - 0,01265 0,00315 18,1585 0,22138 29,7472
5 16 - 0,01216 0,0031 18,1585 0,21764 29,2442
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

Tabel 5.16
Hubungan Putaran Katup Terhadap Konstanta Peredaman dengan SAE 50 pada massa 3,7
kg dan k = 3,30 kN/m
No N Ξ» (m) x1 (m) x2 (m) Ο‰n (Hz) ΞΎ c (kg/s)
1 0 - 0,02017 0,01238 29,8646 0,07773 17,1771
2 4 - 0,0198 0,01118 29,8646 0.167891 20,1134
3 8 - 0,01806 0,00961 29,8646 0,10046 22,2017
4 12 - 0,01715 0,00834 29,8646 0,1148 25,3702
5 16 - 0,01577 0,00834 29,8646 0,1307 28,8848
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2017)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.5.2 Contoh Perhitungan
a. Tanpa Peredaman
ο‚· Frekuensi Teoritis (f)
1 π‘˜
f= √
2πœ‹ π‘š

1 0,47 Γ— 1000
f= √
2πœ‹ 2,7

f = 2.09984 𝐻𝑧
ο‚· Frekuensi Aktual (f’)
𝑣
𝑓′ =
πœ†
0,02
𝑓′ =
0.0098
𝑓′ = 2.04082 𝐻𝑧
b. Dengan Peredaman
ο‚· Frekuensi Natural (πœ”π‘›)

π‘˜
πœ”π‘› = √
π‘š

0.47 Γ— 1000
πœ”π‘› = √
2,7

πœ”π‘› = 13.1937 Hz
ο‚· Damping ratio (πœ‰)
1 π‘₯1
πœ‰= π‘™π‘œπ‘”π‘’
2πœ‹ π‘₯2

1 0.01035
πœ‰= π‘™π‘œπ‘”π‘’
2πœ‹ 0.00158
πœ‰ = 0.29914
ο‚· Konstanta Peredaman (c)
𝑐 = 2 πœ”π‘› πœ‰ π‘š
𝑐 = 2 Γ— 13.1937 Γ— 0.29914 Γ— 2,7
𝑐 = 21.3127 kg/s

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Dimana :
Ξ» : panjang satu gelombang (m)
k : konstanta pegas (N/m)
m : massa (Kg)
x1 : tinggi bukit pertama (m)
x2 : tinggi bukit kedua ( m )
f : frekuensi teoritis (Hz)
f’ : frekuensi aktual (Hz)
Ο‰n : frekuensi natural (Hz)
c : konstanta peredaman (kg/s

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.5.3 Grafik dan Pembahasan
5.5.3.1 Grafik Hubungan Frekuensi Terhadap Massa dengan Variasi Konstanta Pegas

Grafik 5.1 Grafik Hubungan Frekuensi Terhadap Massa dengan Variasi Konstanta Pegas

Analisa Grafik:
Grafik diatas adalah grafik hubungan antara Massa dengan Frekuensi pada konstanta
pegas (k) dengan variasi konstanta pegasnya adalah 0,47 kN/m; 1,22 kN/m dan 3,3 kN/m.
Pada grafik dapat dilihat bahwa semakin besar massa maka frekuensinya turun. Dari
grafik diketahui bahwa frekuensi tertinggi adalah pada frekuensi teoritis dengan k = 3.3
kN/m kemudian frekuensi aktual dengan dengan k = 3.3 kN/m, selanjutnya teoritis dengan
k = 1,22 kN/m setelah itu frekuensi aktual dengan dengan k = 1,22 kN/m, selanjutnya
frekuensi teoritis dengan k = 0,47 kN/m dan nilai frekuensi terendah pada frekuensi aktual
k = 0,47 kN/m. Bila massa semakin besar maka maka panjang gelombang yang akan
dibentuk semakin besar sehingga frekuensinya akan turun. Panjang gelombang adalah jarak
titik awal dan titik akhir setelah mengalami getaran. Pegas yang konstantanya besar akan
lebih mudah kembali ke posisi semula daripada yang kecil. Dengan pegas yang konstantanya
kecil maka akan menghasilkan panjang gelombang yang besar karena waktu yang
dibutuhkan kembali ke titik awal semakin lama.
Dengan konstanta pegas yang berbeda - beda dihasilkan grafik penggunaan konstanta k
= 3,3 kN/m lebih besar atau berada di atas dari pada konstanta pegas yang lainnya. Hal ini
dikarenakan dengan nilai k yang semakin besar maka pegas akan semakin kaku. Hal ini
sesuai dengan perhitungan rumus frekuensi teoritis, yaitu :

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS

1 π‘˜
𝑓 = 2πœ‹ βˆšπ‘š

Sedangkan rumus frekuensi aktual dituliskan sebagai berikut :

𝑣
𝑓′ =
πœ†

keterangan :
f = frekuensi (Hz)
k = konstanta pegas (N/m)
m = massa (kg)
f’ = frekuensi aktual (Hz)
v = kecepatan kertas (0,02 m/s) πœ†
= panjang gelombang (m)

Secara teori, nilai aktual dan teoritis harusnya sama. Namun pada grafik dapat dilihat
terdapat perbedaan yang disebabkan kesalahan pengukuran. Pengukuran panjang gelombang
aktual menggunakan jangka sorong. Hal ini sangat sulit dilakukan karena jangka sorong
biasa digunakan untuk mengukur benda dengan cara menjepitnya sehingga dalam mengukur
grafik di kertas sangat rawan terjadi penyimpangan.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.5.3.2 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan
Variasi Massa Pada Konstanta Pegas Dan Viskositas Oli Sama

Grafik 5.2 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi
Massa Pada Konstanta Pegas Dan Viskositas Oli Sama

Analisa Grafik :
Grafik diatas adalah grafik hubungan putaran katup dengan konstanta peredam k = 3,30
kN/m SAE 50 dengan variasi massa. Putaran katup adalah pengatur jarak antara lempeng
peredaman. Konstanta pegas adalah konstanta yang menentukan besar/gaya hambat yang
arahnya berlawanan dari pegas.
Pada grafik hubungan antara putaran katup dengan massa yang berbeda dapat di lihat
bahwa nilai konstanta peredaman yang paling tinggi adalah dengan massa 4,7 kg. Semakin
besar massa dengan konstanta yang tetap maka nilai konstanta peredaman lebih besar. Hal
ini juga dipengaruhi oleh faktor peredaman yang diatur oleh putaran katup. Semakin banyak
putaran katup pada peredaman mengakibatkan semakin mendekatnya lempeng peredaman
sehingga semakin sulit bagi fluida peredaman (oli) untuk melewati lubang - lubang pada
lempeng peredam bagian bawah. Karena volume di antara kedua lempeng semakin kecil
mengakibatkan nilai perbandingan x1 dan x2 semakin kecil.
Pada putaran katup yang sama tapi massanya berbeda didapatkan konstanta peredaman
naik. Hal ini karena dengan naiknya massa pegas akan menempuh jarak yang lebih lama
untuk membuat satu panjang gelombang sehingga menyebabkan konstanta peredaman naik

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
sesuai rumus dimana massa pembebanan pegas berbanding lurus dengan konstanta
peredaman. Hal ini juga dapat dilihat pada rumus:

𝐢 = 2 Γ— πœ”π‘› Γ— ΞΆ Γ— m

Keterangan :
C = konstanta peredaman πœ”
n = frekuensi natural (Hz)
m = massa beban (kg)
ΞΆ = damping ratio

Grafik di atas sesuai dengan dasar teori karena semakin naik nilai massanya,
kecenderungan grafik juga semakin naik. Sehingga dapat disimpulkan grafik tersebut benar.

5.5.3.3 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan
Variasi Viskositas Oli Pada Massa 3,7 Kg Dan Konstanta Pegas Sama

Grafik 5.3 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi
Viskositas Oli Pada Massa 3,7 Kg dan Konstanta Pegas Sama

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
Analisa Grafik :
Grafik di atas adalah grafik hubungan putaran katup terhadap konstanta peredaman
dengan variasi viskositas oli pada massa 3,7 kg. Putaran katup adalah pengatur jarak antara
lempeng peredaman. Konstanta pegas adalah konstanta yang menentukan besar/gaya hambat
yang arahnya berlawanan dari pegas. Pada grafik di atas dapat di lihat bahwa nilai konstanta
peredaman dari yang paling tinggi adalah putaran katup dengan viskositas SAE 50, SAE 40,
SAE 90.
Pada grafik di atas dapat di lihat bahwa nilai konstanta peredaman yang paling tinggi
adalah putaran katup dengan viskositas SAE 40. Semakin besar viskositas dengan konstanta
yang tetap maka nilai konstanta peredaman lebih besar. Hal ini dipengaruhi oleh faktor
peredaman yang diatur oleh putaran katup. Semakin banyak putaran katup pada peredaman
mengakibatkan semakin mendekatnya lempeng peredaman sehingga semakin sulit bagi
fluida peredaman (oli) untuk melewati lubang - lubang pada lempeng peredam bagian
bawah. Karena volume di antara kedua lempeng semakin kecil mengakibatkan nilai
perbandingan x1 dan x2 semakin kecil. Semakin tinggi nilai viskositas fluida peredaman
maka akan semakin tinggi pula konstanta peredaman. Hal tersebut disebabkan oleh
kekentalan yang tinggi menyebabkan fluida mempunyai hambatan yang besar, dengan kata
lain nilai gesek yang ditimbulkan semakin besar dan akan menghambat pergerakan dashpot.
Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar putaran katup maka
semakin besar pula konstanta peredamannya dan semakin besar viskositas oli pada putaran
katup yang sama maka konstanta peredamannya juga semakin besar.
Penyimpangan pada grafik di atas dapat disebabkan karena dua faktor, yang pertama
takaran oli yang berbeda beda pada tiap percobaan dan yang kedua karena pemasangan
dashpot yang kurang kencang menyebabkan dashpot bergoyang dan sehingga lempeng
peredam bergesekan dengan dashpot. Selain itu, konstanta peredaman dengan SAE 90
harusnya menjadi paling tinggi. Penyimpangan terjadi karena SAE 90 tercampur dengan
SAE lain.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.5.3.4 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman terhadap Putaran Katup dengan
Variasi Konstanta Pegas pada Massa 3.7 kg dan Viskositas Oli Sama.

Grafik 5.4 Grafik Hubungan Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi
Konstanta Pegas Pada Massa 3,7 Kg dan Viskositas Oli Sama

Analisa Grafik:
Grafik diatas adalah grafik hubungan putaran katup dan konstanta peredaman SAE 50
dengan variasi konstanta pegas pada massa 3,7 kg. Putaran katup adalah pengatur jarak
antara lempeng peredaman. Konstanta pegas adalah konstanta yang menentukan besar/gaya
hambat yang arahnya berlawanan dari pegas.
Pada grafik hubungan antara putaran katup dengan massa yang berbeda dapat di lihat
bahwa nilai konstanta peredaman yang paling tinggi adalah pada konstanta pegas 1,22 kN/m
dan terjadi penyimpangan. Seharusnya, semakin besar konstanta pegas dengan massa yang
tetap maka nilai konstanta peredaman lebih besar. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor
peredaman yang diatur oleh putaran katup. Semakin banyak putaran katup pada peredaman
mengakibatkan semakin mendekatnya lempeng peredaman sehingga semakin sulit bagi
fluida peredaman (oli) untuk melewati lubang - lubang pada lempeng peredam bagian
bawah. Karena volume di antara kedua lempeng semakin kecil menga
kibatkan nilai perbandingan x1 dan x2 semakin kecil.
Pada putaran katup yang sama tapi konstanta pegas berbeda didapatkan konstanta
peredaman naik. Hal ini karena dengan naiknya konstanta pegas akan menempuh jarak yang

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
lebih lama untuk membuat satu panjang gelombang sehingga menyebabkan konstanta
peredaman naik. Hal ini juga dapat dilihat pada rumus :

π‘˜
πœ”π‘› = √
π‘š

Konstanta peredaman :

𝐢 = 2 Γ— π‘Šπ‘› Γ— ΞΆ Γ— m

Keterangan :
C = konstanta peredaman πœ”
n = frekuensi natural (Hz)
k = konstanta pegas (N/m)
m = massa beban (kg)
ΞΆ = damping ratio

Penyimpangan pada grafik di atas dapat disebabkan karena dua faktor, yang pertama
takaran oli yang berbeda beda pada tiap percobaan dan yang kedua karena pemasangan
dashpot yang kurang kencang menyebabkan dashpot bergoyang dan sehingga lempeng
peredam bergesekan dengan dashpot. Selain itu, penyimpangan terjadi karena baut sudah
aus sehingga putaran yang diinginkan tidak sesuai dengan yang terjadi aslinya ketika
praktikum.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
5.6 Kesimpulan dan Saran
5.6.1 Kesimpulan
1. Frekuensi berbanding terbalik dengan massa benda yang diberikan pada suatu pegas.
Apabila massa bertambah maka frekuensi menurun, begitu juga sebaliknya. Frekuensi
berbanding lurus dengan nilai konstanta pegas, yaitu apabila nilai k semakin besar, maka
frekuensi yang dihasilkan juga akan semakin besar
2. Jumlah putaran katup berpengaruh pada konstanta peredaman yang dihasilkan semakin
banyak jumlah putaran katup maka semakin tinggi nilai konstanta peredaman yang
dihasilkan.
3. Nilai konstanta pegas berpengaruh pada konstanta peredaman yang dihasilkan. Semakin
tinggi konstanta pegas maka semakin tinggi pula konstanta peredaman.
4. Viskositas oli yang berbeda berpengaruh terhadap nilai konstanta peredaman yang
dihasilkan. Semakin tinggi nilai viskositas pada oli atau semakin tinggi angka SAE dari
suatu oli, maka. Mengakibatkan perbandingan nilai x1 dan x2 semakin kecil dan semakin
tinggi nilai konstanta peredaman yang dihasilkan. Pada grafik 5.5.3.3 terdapat
penyimpangan pada SAE 90 karena pada SAE tersebut tercampur dengan SAE yang lain
tanpa sengaja.
5. Penyimpangan yang terjadi pada grafik, disebabkan karena beberapa hal. Keausan baut
adalah suatu penyebab terjadinya penyimpangan, karena putaran baut menjadi tidak tepat
dengan jumlah putaran yang diiinginkan sehingga hasil data menjadi tidak sesuai dengan
dasar teori. Selain itu pengaruh berlebihnya volume oli yang dimasukkan saat percobaan
juga mempengaruhi hasil data. Hal ini dikarenakan oli yang terlalu banyak akan
menyebabkan perbandingan nilai x1 dan x2 yang meningkat sehingga nilai damping ratio
dan membuat nilai c semakin tinggi pula. Selain itu, pemasangan dashpot yang kurang
kencang menyebabkan dashpot bergoyang dan sehingga lempeng peredam bergesekan
dengan dashpot

5.6.2 Saran
1. pertanyaan yang di ajukan pada saat acc lebih dipermudah
2. Sebaiknya alat – alat di laboratorium diperbaiki apabila terjadi keusangan dengan cara
para asisten mencoba(testing) mengoperasikan sebelum pelaksanaan praktikum,
sehingga kemungkinan peyimpangan kecil terhadap dasar teori.
3. Sebaiknya asisten lebih komunikatif dalam penyampaian perjanjian jadwal

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
4. Sebaiknya praktikan lebih memahami dasar teori agar pada saat pembahasan tidak
mengalami kesulitan.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2017/2018
KELOMPOK 04