You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kata Pengantar
Dalam perjalananya, pers dikendalikan oleh sebuah aturan atau undang-undang
disetiap negara. Tidak jarang ketika kita menyaksikan pers dari tiap-tiap negara akan
berbeda antara negara A dengan negara B, tergantung negara tersebut menganut sistem
pers apa?, apakah itu otoriter, liberal, komunis, atau bebas bertanggung jawab.
Pers di indonesia sendiri mengalami beberapa perubahan dari berbagai zaman,
mulai dari masa penjajahan belanda sampai zamanya reformasi. Pers di indonesa
mengalami pergantian-pergantian aliran. Hal ini justru menimbulkan pemahaman dan
pengalaman yang lebih tentang peers di indonesia.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini. kami menyusun rumusan masalah sebagai berikut
1. Apa yang dimaksud dengan analisis institusional ?
2. Bagaimana sejarah perundang-undangan pers di indonesia ?

C. Tujuan Pembahasan
1. Memahami tentang pendekatan analisis institusional
2. Memahami tentang mengetahui sejarah perundang-undangan pers indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis Institusional
Analisis institusional adalah pendekatan yang berfokus pada aspek kelembagaan
atau institusi komunikasi massa. Aspek ini dianggap penting karena secara langsung
mencerminkan sistem yang dianut oleh suatu masyarakat. Pendekatan institusional ini
berpandang bahwa kelembagaan yang mewadahi aktivitas komunikasi massa ditentukan
oleh sistem komunikasi massa yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan. Dalam
bidang pers, dikenal adanya empat jenis sistem pers: otoriter, liberal, komunis, dan bebas
bertanggung jawab.
Lembaga komunikasi massa dalam sistem liberal berbeda dengan yang berlaku di
negara yang melaksanakan sistem komunis. Studi mengenai media massa, menurut
Gerbner, berkisar di seputar permasalahan analisis dan teori tentang sistem-sistem pesan
dan teori serta analisis proses institusional, serta penyelidikan tentang hubungan-hubungan
antara sistem-sistem pesan, struktur sosial dan organisasional, pembentukan citra, dan
kebijakan publik. Pokok-pokok permasalahan yang berkenaan dengan hal itu diantaranya
sebagai berikut :
1. Bagaimana media menyusun dan menstrukturkan sistem-sistem pesan mereka pada
waktu yang berbeda dan pada masyarakat yang berlainan.
2. Bagaimana sistem-sistem produksi pesan dan distribusi massa diorganisasikan,
dikelola, dan dikendalikan.
3. Perspektif dan pola pilihan-pilihan apa yang oleh sistem-sistem tersebut tadi yang
disediakan bagi public tertentu.
4. Dalam proporsi apa dan dengan jenis serta tingkat perhatian, penekanan
(emphasizing), dan daya tarik yang bagaimana mereka menimbang pilihan-pilihan
tersebut.
5. Bagaimana sistem umum dari citra publik (public image), dan apa perspektif bersama
mengenai eksistensi, prioritas, nilai-nilai, dan hubungan yang oleh masing-masing
struktur pilihan tadi cenderung untuk ditanamkan.
Komunikasi massa merupakan salah satu cara yang menjadikan komunikasi sosial
yang melembaga. Berkat adanya tata cara, prosedur, dan aturan-aturan yang telah
mengikat komunikasi massa, dengan sendirinya komunikasi sosial ditengah masyarakat
pun diikuti oleh ketentuan-ketentuan tersebut. Sebagai missal, masyarakat mengharapkan
agar berita-berita tertentu secara rutin seyogyanya disiarkan melalui media massa,
sehingga dapat menjangkau orang banyak secara publik dan cepat. Sedangkan berita-berita
tertentu yang bersifat pribadi, oleh masyarakat diharapkan untuk tidak disampaikan
melalui media massa, melainkan harus melalui jalur-jalur antar pribadi, dan dilindungi
untuk terbatas hanya dikalangan sendiri. Disinilah aturan-aturan dan perlindungan
masalah-masalah yang bersifat pribadi diselesaikan dengan semacam pembagian wilayah
antara komunikasi massa dan saluran komunikasi terbatas khusus di kalangan antar pribadi
tertentu saja.
Dengan demikian analisis mengenai bentuk-bentuk kelembagaan (instutisional)
komunikasi massa adalah menyangkut mengenai deteksi, deskripsi dan analisis tentang
ekspektasi sosial dan preskripsi yang melingkupi produksi, isi (conten) distribusi, ekshibisi
dan penerimaan (reception), serta penggunaan komunikasi massa.
Sosiolog menyelidiki preskripsi kultural mengenai siapa yang bertugas untuk
diproduksi, distribusi ekshibisi, dan resepsi dalam komunikasi massa, dan bagaimana
jumlah kegiatan ini harus dilaksanakan, isi apa yang harus dan jangan di komunikasikan,
sesuai dengan norma-norma suatu masyarakat.
Selanjutnya, apresiasi dan pemahaman yang lebih lengkap mengenai bentuk-
bentuk komunikasi massa sebagai institusi sosial memerlukan pertimbangan tentang
hubungan antara lembaga-lembaga komunikasi massa dengan institusi sosial yang lain
(pemerintah, struktur ekonomi, keluarga, dll), dan suatu analisis komparatif tentang-
tentang institusi komunikasi massa di tengah masyarakat lain.

B. Sejarah perundang-undangan pers dalam Analisis pendekatan Institusional,

1. Hukum Pers Era Hindia Belanda dan Era Pergerakan Nasional (1816-1942)
Pers di Indonesia pertama kali hadir di era pemerintahan Hindia Belanda. Hal
tersebut seiring dengan munculnya surat kabar Bataviasche Nouvellespada Agustus
1744. Surat kabar ini hanya berumur dua tahun setelah ditutup sendiri oleh pemerintah
Hindia Belanda karena dianggap dapat menjadi alat bagi para pesaing VOC di Eropa
untuk mengetahui kondisi perdagangan di Hindia Belanda.
Diakhirinya Bataviasche Nouvelles tidak berarti kematian surat kabar. Di akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20, orang-orang Belanda dan Tionghoa di Hindia
Belanda telah menerbitkan pers dan memanfaatkannya untuk membela kepentingan
poltik dan sosialnya.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah tokoh terdidik Indonesia untuk ikut
menerbitkan pers sebagai alat untuk menyampaikan ide, cita-cita, serta kepentingan
politiknya, terutama dalam upaya memajukan penduduk Bumiputera. Seorang dari
mereka adalah Raden Mas Djokomono atau RM Tirto Adhi Soerjo. Pada tahun 1906
dia mempelopori berdirinya Sarekat Priyayi yang salah satu tujuannya adalah
memajukan Bumiputera dengan cara memberi pendidikan serta beasiswa. Supaya
terjalin komunikasi di antara anggota sarekat itulah, pada 1907, Tirto Adhi Soerjo
menerbitkan surat kabar Medan Prijaji yang dianggap sebagai pers pribumi pertama di
Indonesia1
Kemunculan Medan Prijaji mendorong munculnya surat-surat kabar lain oleh para
tokoh terdidik Indonesia lain. Di antaranya adalah surat kabar Retnodhoemilah,
Darmokondo, dan Goeroe Desa yang dibuat oleh organisasi Boedi Oetomo (1908).
Ada pula surat kabar Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Pantjaran Warta, Sinar
Djawa, Medan Moeslimin, dan Sarotomo yang dibuat oleh Sarekat Islam (1912), dan
lain sebagainya

1
Suwirta, Andi, 1999, Zaman Pergerakan, Pers, dan Nasionalisme di Indonesia, Jurnal Mimbar
Pendidikan no.4, Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia
Kehadiran pers yang banyak menyuarakan kepentingan Bumiputera mendorong
pemerintah Hindia Belanda memberlakukan kebijakan yang salah satunya adalah
untuk mengatur pers dalam delik pers. Hal tersebut diwujudkan dengan
memberlakukan Wetboek van Stafrecht voor Nederlandsch-Indie pada 1914 yang
beberapa pasalnya mengatur sanksi pidana untuk pelanggaran-pelanggaran yang
sifatnya menyebarkan permusuhan dan kebencian terhadap pemimpin kerajaan. Pasal-
pasal yang diberi nama Hatzaai Artikelen ini, dalam Wetboek van Stafrecht voor
Nederlandsch-Indie tertuang dalam beberapa pasal 154, pasal 155, serta pasal 156.
Salah satu surat kabar yang terkena Persbreidel Ordonnantie adalah Soeara
Oemoem (Suara Umum) di Surabaya yang dilarang terbit selama delapan hari.
Larangan terbit ini dilakukan berdasarkan keputusan gubernur De Jonge tanggal 23
Juni 1933 karena memuat sebuah tulisan tentang pemberontakan di atas kapal De
Zeven Provincien yang isinya dianggap menghasut dan bisa mengganggu kepentingan
umum. 2
Sikap represif pemerintah Hindia Belanda terhadap pers yang dituangkan dalam
berbagai peraturan itu memperlihatkan bahwa tindakan represif dan otoriter yang
dilakukan pemerintah Hindia Belanda terharap pers melalui Persbreidel Ordonnantie,
juga telah menyebabkan media masa di era 1930-an tidak berani menulis terlalu keras.
Hal ini terlihat dari sekitar 33 surat kabar pribumi yang tersisa di kala itu, sebanyak 20
di antaranya cenderung bersikap netral dan moderat. Sedangkan sisanya cenderung
bersikap kooperatif. 3

2. Hukum Pers Era Pendudukan Jepang (1942-1945)
Setelah berkuasa selama ratusan tahun, pemerintah Hindia Belanda akhirnya terusir
dari Indonesia oleh kedatangan Jepang. Meski hanya bisa menduduki Indonesia selama
kurun waktu sekitar tiga tahun, namun Jepang sempat membuat sejumlah kebijakan
untuk mengontrol pers yang telah tumbuh cukup subur di Indonesia. Dikontrolnya pers
oleh Jepang ini bertujuan agar upaya propaganda yang dilakukan, berhasil. Jepang
sadar bahwa surat kabar dan lembaga-lembaga penerbitan memiliki peran vital untuk
melancarkan propaganda demi menguasai Asia
Salah satu kebijakan yang dibuat Jepang untuk mengontrol pers adalah Osamu
Seirei atau UU Pemerintah nomor 16 tahun 1942[10]. Osamu Seirei tersebut, pada
intinya adalah melarang beredarnya surat kabar yang berbahasa Belanda
dan Tionghoa.Pada 3 Februari 1944, Jepang mengganti Osamu Seirei no.16 tahun
1942 tersebut dengan Osamu Seirei nomor 6 tahun 1944 yang sifatnya lebih
represif[11]. Dalam ketentuan ini, Jepang memberlakukan sensor yang sangat ketat
terhadap produk-produk jurnalistik. Sensor yang sangat ketat ini juga dibarengi dengan
sanksi penjara dan pidana bagi setiap pelanggarannya.

2
Ada Pembredelan Koran di Surabaya, diakses darihttp://bsuhariyadi.blogspot.co.id/2008/12/ada-
pemberedelan-koran-di-surabaya.html,
3
Suwirta, Andi, 1999, Pers: Suara dan Senjata Golongan Nasionalis dalam Zaman Pergerakan, Pers, dan
Nasionalisme di Indonesia, Jurnal Mimbar Pendidikan no.4, Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia
Berikut adalah isi dari Osamu Seirei nomor 6 tahun 1944 yang dikutip dari
(Yuliati,2012) :
Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa surat, gambar, lukisan, yang dapat menghambat
usaha perang tentara jepang, atau mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum
serta mengganggu pemerintahan militer, tidak boleh diumumkan
Dibandingkan dengan hukum yang mengatur pers di era pemerintahan Hindia
Belanda, tidak banyak perbedaan yang prinsipil. Kedua aturan yang ditetapkan, sama-
sama menekankan pada sensor ketat dan sanksi pidana. Selain itu, di era pemerintahan
Jepang juga tidak lagi berlaku pasal-pasal penyebaran kebencian atau permusuhan
terhadap penguasa seperti yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda melalui Hatzaai
Artikelen. Penguasa Jepang tampaknya tidak perlu khawatir surat kabar yang beredar
di Indonesia akan merugikan kepentingan propagandanya karena seluruh konten
penerbitan yang akan diedarkan memang harus terlebih dahulu mendapat persetujuan
dari penguasa.

3. Hukum Pers di Era Orde Lama (1945-1965)
Masa orde lama bisa dibagi menjadi dua, yakni masa demokrasi liberal (1950-
1959) dan masa demokrasi terpimpin (1959-1965). Selama kedua fase tersebut, situasi
Indonesia masih berada dalam pergolakan fisik. Pada berlangsungnya dua fase itu pula,
pers di Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Pers dikontrol secara ketat melalui
beberapa peraturan dan diwajibkan menjadi pendukung, pembela, serta alat penyebar
Manifesto Politik (Manipol) Soekarno. Kontrol ini dilakukan dengan adanya
kewajiban untuk memiliki izin terbit, yang untuk mendapatkannya, pers harus
menyetujui 19 pasal yang intinya menyebutkan bahwa pers wajib tunduk pada
Manifesto Politik4
Pada 14 September 1956, Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Militer
mengeluarkan Peraturan No.PKM/001/0/1956[15]. Peraturan ini kemudian dicabut
pada 4 Desember 1957 setelah mendapat protes keras dari kalangan pers[16]. Berikut
adalah isi dari peraturan tersebut :
Dilarang mencetak, menerbitkan, menyajikan, mengedarkan, menempelkan,
membacakan atau memiliki tulisan-tulisan atau gambaran-gambaran atau foto-foto
yang berisi atau mengklasifikasikan atau bermaksud mengecam, menuduh dan
menghina presiden, wakil presiden, suatu persidangan pengadilan, pejabat
pemerintah yang masih berfungsi atau sebagai akibat dari pembebasan tugasnya, atau
apa saja yang mengandung pernyataan-pernyataan yang bersifat permusuhan,
kebencian ataupun penghinaan yang ditujukan kepada pemerintah atau golongan
orang tertentu, ataupun apa saja yang mengandung berita atau pengumuman yang
dapat menimbulkan kekacauan di kalangan rakyat.
Pada 14 September 1956, Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Militer
mengeluarkan Peraturan No.PKM/001/0/1956[15]. Peraturan ini kemudian dicabut

4
Putra, Afdal Makkuraga, 2009, Fenomena Pers Politik di Indonesia (Perbandingan Antara Orde Lama, Orde
Baru, dan Reformasi) Jakarta, Jurnal Visi Komunikasi
pada 4 Desember 1957 setelah mendapat protes keras dari kalangan pers[16]. Berikut
adalah isi dari peraturan tersebut :
Dilarang mencetak, menerbitkan, menyajikan, mengedarkan, menempelkan,
membacakan atau memiliki tulisan-tulisan atau gambaran-gambaran atau foto-foto
yang berisi atau mengklasifikasikan atau bermaksud mengecam, menuduh dan
menghina presiden, wakil presiden, suatu persidangan pengadilan, pejabat
pemerintah yang masih berfungsi atau sebagai akibat dari pembebasan tugasnya, atau
apa saja yang mengandung pernyataan-pernyataan yang bersifat permusuhan,
kebencian ataupun penghinaan yang ditujukan kepada pemerintah atau golongan
orang tertentu, ataupun apa saja yang mengandung berita atau pengumuman yang
dapat menimbulkan kekacauan di kalangan rakyat.
Setelah kebijakan tersebut, pemerintah Orde Lama kembali mengeluarkan
peraturan baru, UU no.23/Prp/1959 yang mengatur tiga tingkat keadaan bahaya, yaitu
keadaan darurat sipil, darurat militer, dan darurat perang. UU tersebut menyatakan
bahwa walam keadaan darurat sipl, penguasa darurat sipil diperkenankan membuat
peraturan untuk membatasi pers.5
Berikut adalah isi dari peraturan tersebut :
Penguasa Darurat Sipil berhak mengadakan peraturan-peraturan untuk
membatasi pertunjukan-pertunjukan, percetakan, penerbitan, pengumuman,
penyampaian, penyimpanan, penyebaran, perdagangan, dan penempelan tulisan-
tulisan berupa apapun juga, lukisan-lukisan, klise-klise dan gambar-gambar.
Ketentuan-ketentuan hukum pers yang dijalankan sepanjang masa Orde Lama
memperlihatkan bahwa pemerintahan di kala itu sangat terinspirasi oleh hukum pers
yang berlaku di era kolonialisme Belanda. Hal ini ditunjukkan dengan diterapkannya
kebijakan bredel terhadap surat-surat kabar yang mengkritik pemerintah dan membuat
pemberitaan yang dianggap bisa meresahkan publik. Dalam mengontrol pers tersebut,
pemerintah juga melibatkan kekuatan angkatan bersenjata dengan dalih untuk
mempertahankan keamanan dan ketertiban nasional.

4. Hukum Pers di Era Orde Baru (1966-1998)

Di era orde baru, pers Indonesia menghadapi babak baru dengan dikeluarkannya
UU no.11 tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers. Kehadiran UU ini
sekaligus meniadakan Penpres nomor 6 tahun 1963 tentang Pembinaan Pers.
Berdasarkan UU no 11 tahun 1966 tersebut, kebijakan melakukan bredel terhadap
media massa ditiadakan. Hal ini terlihat dari pasal 4 UU tersebut yang menyatakan
bahwa Terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan.

Selain itu, meski dalam pasal 8 ayat 1 dan 2 UU tersebut menyatakan bahwa setiap
warga negara memiliki hak penerbitan pers yang bersifat kolektif sesuai dengan
hakekat demokrasi Pancasila dan untuk itu tidak diperlukan Surat Izin Terbit (SIT),
namun hal tersebut tidak serta merta membuat setiap orang bebas membangun usaha

5
Hapsari, Sinung Utami Hasri. 2012, Hukum Media, Dulu, Kini dan Esok, Jurnal Riptek Vol 6 no.1
penerbitan pers. Sebab di pasal 20 ayat 1 UU yang sama, dinyatakan bahwa selama
masa peralihan, keharusan mendapat surat izin terbit masih berlaku sampai ada
keputusan pencabutan oleh pemerintah dan DPR Gotong Royong (DPR GR).
Sedangkan keputusan pencabutan itu sendiri tidak pernah dilakukan.

Pada tahapan berikutnya, UU no.11 tahun 1966 ini mengalami dua kali perubahan.
Perubahan pertama adalah melalui UU nomor 4 tahun 1967. Setelah berlakunya UU
ini, pemerintah orde baru sempat melakukan pembredelan terhadap sejumlah surat
kabar. Pembredelan itu setidaknya dilakukan pada 1974 setelah meletusnya peristiwa
Malapetaka Lima Belas Januari (Malari). Sebanyak 12 penerbitan per dicabut Surat
Izin Terbitnya karena dianggap telah menjurus ke arah usaha-usaha melemahkan
sendi-sendi kehidupan nasional, dengan mengobarkan isu-isu seperti modal asing,
korupsi, dwifungsi, kebobrokan aparat pemerintah, merusak kepercayaan masyarakat
pada pemimpin nasional, dan sejumlah tuduhan lainnya.6

Pencabutan Surat Ijin Terbit itu berhasil membuat pers menjadi lemah dan tidak
berani mengkritik pemerintah. Pemerintah sendiri, pada tahun 1982 melakukan
perubahan pada UU no.4 tahun 1967 melalui UU nomor 21 tahun 1982. Di UU
tersebut, ditetapkan aturan bahwa usaha penerbitan pers harus mendapatkan Surat Izin
Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Peraturan mengenai SIUPP ini juga menjadi semacam
penyamaran dari aksi pembredelan. Setiap perusahaan penerbitan pers yang dianggap
memberitakan hal yang tidak selaras dengan kepentingan pemerintah, bisa sewaktu-
waktu dicabut SIUPP-nya. Sedangkan penanggungjawab perusahaan, bisa pula dikenai
sanksi pidana, baik berupa kurungan dan atau denda. Dengan pencabutan SIUPP
itulah, maka perusahaan pers tidak bisa lagi melakukan kegiatan-kegiatan penerbitan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa selama masa pemerintahan Orde Baru,
produk hukum yang dibuat pemerintah untuk mengatur pers masih bersifat represif dan
tidak jauh berbeda dengan UU pers yang ada selama pemerintahan Orde Lama. Hanya
saja, ketentuan mengenai pembredelan ini disamarkan melalui pencabutan Surat Ijin
Terbit (SIT) yang kemudian istilahnya diganti menjadi SIUPP

5. Hukum Pers di Era Reformasi (1998 – sekarang)
Mundurnya Soeharto dari jabatan Presiden RI pada 2008 menjadi tonggak sejarah
yang baru bagi perjalanan pers di Indonesia. Setahun setelah Soeharto lengser, UU
Pers nomor 40 tahun 1999 diterbitkan sebagai pengganti UU nomor 21 tahun 1982.
Dalam UU Pers nomor 40 tahun 1999, kemerdekaan pers ditempatkan sebagai
sebuah upaya untuk melindungi hak asasi warga negara dalam memperoleh informasi.
Kemerdekaan pers ini diwujudkan dengan menegaskan bahwa pers sebagai sebagai
wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat
melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya

6
Triwardhani, Reni, 2010, Pembreidelan Pers di Indonesia dalam Perspektif Politik Media, Jurnal Ilmu
Komunikasi Vol 7 No.2
berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan
dan perlindungan hukum serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun.7
Jaminan serta perlindungan hukum ini setidaknya terlihat dari pasal 4 ayat 2 di UU
tersebut yang menyatakan bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran,
pembredelan atau pelanggaran penyiaran.
Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hukum pers yang pernah
berlaku di Indonesia, UU nomor 40 tahun 1999 tidak dikenakan pengawasan ketat
seperti penyerahan salinan surat kabar setelah dicetak. Namun pers tetap diberi batasan
untuk memberitakan peristiwa maupun opini dengan menghormati norma agama dan
kesusilaan serta asas praduga tak bersalah. Dalam kaitannya dengan penghargaan
terhadap asas praduga tak bersalah, pers diberi ruang untuk memberitakan kejahatan
pidana yang dilakukan siapa saja—termasuk pemerintah dan pejabat negara—dengan
keyakinan bahwa yang bersangkutan belum bersalah sebelum diputuskan oleh hakim
dengan hukum yang berkekuatan tetap atau inkracht.
Walau di era ini pers diberi ruang gerak yang sangat leluasa, namun para jurnalis
yang melakukan pekerjaan mengumpulkan informasi dan membuat berita tetap diberi
batasan berupa kode etik jurnalistik yang pelaksanaannya diawasi oleh dewan pers.
Dengan ditempatkannya kode etik dalam UU, maka ini dapat dimaknai bahwa kode
etik telah menjadi bagian dari hukum positif. Untuk sanksi pidananya sendiri, apabila
seseorang dirugikan nama baiknya, maka yang bersangkutan berhak elakukan koreksi
dan mempunyai hak jawab. Maka inilah yang bisa dikategorikan sebagai sanksi pidana,
yakni ketika pers tidak melayani hak jawa tersebut, maka sesuai pasal 18 ayat 2,
perusahaan pers tersebut akan dipidana dengan denda paling banyak Rp 500 juta.8
Akan tetapi perlu diperhatikan pula bahwa kebebasan pers yang dilindungi melalui
UU Pers nomor 40 tahun 1999 tidak serta merta memberikan kebebasan terhadap
jurnalis dan perusahaan pers untuk menyampaikan informasi secara sembarangan.
Sebab dalam UU yang sama dinyatakan bahwa dalam mengumpulkan informasi dan
melakukan pemberitaan, jurnalis harus tetap berada dalam koridor kode etik
jurnalistik.

7
Undang-Undang Pers no.40 tahun 1999
8
Siregar, Amir Effendi, 2014, “Kemerdekaan Pers Terancam” dalam Mengawal Demokratisasi Media : Menolak
Konsentrasi, Membangun Keberagaman, Kompas Gramedia, Jakarta.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Analisis institusional adalah pendekatan yang berfokus pada aspek kelembagaan atau
institusi komunikasi massa. Aspek ini dianggap penting karena secara langsung mencerminkan
sistem yang dianut oleh suatu masyarakat. Pendekatan institusional ini berpandang bahwa
kelembagaan yang mewadahi aktivitas komunikasi massa ditentukan oleh sistem komunikasi
massa yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.
Dengan ini intitusi pemerintah sebagai gerbang keluar masuknya pesan yang hendak akan
menyebar kepada khalayak masyarakat, selain itu juga pemerintah yang mengatur bagai mana
tata aturan terhadap pers, memberikan perlindungan dan menjungjung tinggi akan keadilan.
Dalam pendekatan intitusional ini pemakalah membongkar dari mula munculnya pers di
nusantara, diawali pada masa hindia belanda yang menegakan peraturan pers yang bersifat
otoriter. Dilanjut pada masa jepang yang bersifat bebas akan tetapi lagi lagi media didasari oleh
kepentingan satu pihak, sifat undang undang pada masa ini tidak jaub berbeda dengan pada
masa hindia belanda.
Masuk pada masa dimana Indonesia merdeka, undang undang pers di tegakan oleh presiden
sukarno, akan tetapi pers pada masa itu tidak begitu bebas, semua diatas kendali pemerintah.di
jaman orde baru pers sedikit ada kelonggaran, akan tetapi lagi lagi pers di ikat oleh Negara
yang bersifat otoriter. Masuk masa reformasi pers Indonesia semakin Berjaya , dengan sifat
pers yang bebas bertanggung jawabnya, hingga saat ini pers di Indonesia semakin marak
meluas.

DAFTAR PUSTAKA

Hapsari, Sinung Utami Hasri. 2012, Hukum Media, Dulu, Kini dan Esok, Jurnal Riptek Vol
6.
http://bsuhariyadi.blogspot.co.id/2008/12/ada-pemberedelan-koran-di-surabaya.html,
Modul UT
Pers, dan Nasionalisme di Indonesia, Jurnal Mimbar Pendidikan no.4, Bandung, Universitas
Pendidikan Indonesia
Putra, Afdal Makkuraga, 2009, Fenomena Pers Politik di Indonesia (Perbandingan Antara
Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi) Jakarta, Jurnal Visi Komunikasi
Suwirta, Andi, 1999, Zaman Pergerakan, Pers, dan Nasionalisme di Indonesia, Jurnal Mimbar
Pendidikan no.4, Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia
Suwirta, Andi, 1999, Pers: Suara dan Senjata Golongan Nasionalis dalam Zaman Pergerakan,
Siregar, Amir Effendi, 2014, “Kemerdekaan Pers Terancam” dalam Mengawal Demokratisasi
Media : Menolak Konsentrasi, Membangun Keberagaman, Kompas Gramedia, Jakarta.
no.1

Triwardhani, Reni, 2010, Pembreidelan Pers di Indonesia dalam Perspektif Politik Media,
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7 No.2

Undang-Undang Pers no.40 tahun 1999

Undang-undang pers no 32 tahun 2000
SOSIOLOGI KOMUNIKASI MASSA
Pendekatan Analisis Intitusional

Kelompok 2:
Pudin (111505010000137)
Nida Arafat (11150510000022 )
M Arif Kurniawan (11150510000 )

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2017