You are on page 1of 3

Hubungan antara menonton film kekerasan di televisi tingkat agresivitas penonton

Banyaknya program siaran yang ditawarkan kirannya telah membuka peluang bagi permisa untuk memilih

acara acara yang mereka senangi, termasuk film film kekerasan. Tudingan kepada pihak pengelola televisi sebagai

penyebab maraknya aksi kekerasan bukanlah tudingan tanpa alasan. Namun, tudingan itu tidaklah bijaksana tanpa

melalui suatu penelitian.

Ada berbagai pendapat tentang pengaruh menonton film kekerasan. Pendapat pertama mengatakan

menonton film kekerasan merupakan katarsis, sedangkan pendapat lain mengatakan hal ini meningkatkan

agresivitas penonton karena menampilkan model untuk dicontoh. National Institute of Mental Health menemukan

bahwa dampak film kekerasan terhadap agresivitas janganlah hanya dilihat sebagai hasil menonton televisi,

tetapi juga prosesnya. "Proses" ini dikenal dengan "konsep variabel ketiga" yang dibagi menjadi variabel

antecendent, intervening, dan contingent. Di samping itu, lamanya menonton dan jenis film yang ditonton diduga

berhubungan dengan perilaku penontonnya, khususnya perilaku agresif.

Penelitian ini dilakukan terhadap 150 pelajar SLTA di Jakarta untuk mengetahui faktor faktor apa saja dari

menonton film kekerasan yang berhubungan dengan agresivitas penontonnya. Kondisi contingent (kesempatan

menonton untuk menerapkan adegan di televisi dalam perilaku nyata) tidak berhubungan secara signifikan dengan

agresivitas penontonnya. Jika dilihat dari lamanya menonton dan jenis film yang ditonton, ternyata hanya jenis

film yang ditonton saja yang memperlihatkan efek yang signifikan terhadap agresivitas penonton

Berkaitan dengan temuan ini, beberapa saran yang dikemukakan adalah:

1. Hendaknya orang tua tidak menciptakan kondisi yang memungkinkan anak mencontoh perilaku buruk orang

tuanya karena orang tua merupakan "model" yang cukup menarik bagi anak anak untuk ditiru.

2. Pihak pengelola program televisi hendaknya lebih bijaksana dalam menyeleksi film film yang akan diputar

dengan memperhatikan jam tayang, khususnya untuk film anak anak dan remaja.

3. Perlunya penelitian lanjutan untuk menemukan variabel variabel lain yang diduga berpengaruh terhadap

hubungan menonton film kekerasan di televisi dengan agresivitas penontonnya

Sumber: Tesis oleh Widiastuti Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI Tahun 1996

Hal yang perlu diingat bahwa kondisi sesaat yang merupakan perwujudan dari afeksi, kognisi dan

keterangsangan memberikan kesempatan bagi individu untuk memutuskan melakukan tindakan agresif atau tidak.

Kemudian, perwujudan dari setiap keputusan berbeda penerapannya dalam interaksi sosial. Dan ini merupakan

bagian yang penting. Kesalahan dalam mengambil keputusan, akan menimbulkan aksi yang dapat memicu siklus dari

agresi yang berkepanjangan.

Untuk memperingatinya sempat dibuat film layar lebarnya. tetangga dan pengasuhnya. Kasus Bosnia-Herzegovina (Leksono. anak yang tewas akibat kekerasan rumah tangga oleh ayahnya. anak juga menjadi korban (seperti Ari Hanggara). oleh karena itu. Pelecehan seksual 2. Sebuah kasus KDRT yang terkenal adalah kasus Ari Hanggara. kekerasan seksual terhadap anak umumnya dilakukan oleh saudara saudarannya. Kekerasan seksual 3. sementara pelaku yang paling umun adalah suami atau ayah. Kasus tewasnya Ari Hanggara (1984). Tidak mengherankan jika kasus kasus kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh kerabat dekatnya. 1. Bocah lelaki yang tewas di tahun 1984 oleh ayah kandungnya sendiri. 1999 dalam Irianto 1999) . Sementara itu. Kasus kekerasan terhadap perempuan secara masif yang tercatat dalam sejarah. Pemerkosaan tentara Jerman NAZI terhadap perempuan Rusia 3. Tiga golongan itu adalah 1. Rumah rumah singgah untuk anak jalanan. Jugun Ianfu (perempuan perempuan Asia Tenggara termasuk dari Indonesia yang dikirim untuk menjadi penghibur tentara Jepang) 2. 2008). 4. dan sebagainya (Fahrurazi. Kasus KDRT pertama Indonesia yang mencuat di media massa. Korban KDRT paling umum adalah istri dan anak anak. Dalam kasus berlatar kemiskinan. (2005 dalam Matlin. Oleh karenanya. setidaknya. Mereka dieksploitasi untuk menjaga ekonomi keluarga. kekerasan terhadap perempuan. Sarana pendidikan (pembebasan uang sekolah) 3. ketika menyeruak di masyarakat dianggap sebagai kasus KDRT pertama yang masuk media.Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terjadinya kekerasan tidak melulu jauh dari diri kita. antara lain 1. 2008). Adapun latar belakang dari kejadian itu adalah perceraian dan masalah ekonomi. dibagi menjadi tiga golongan (Matlin. Anak anak menjadi rentan terhadap kekerasan karena posisi sosialnya dalam masyarakat. yakni Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komnas Anak. Mulai dari hukum 2. Bahkan di Indonesia telah berdiri lembaga perlindungan anak. Pemerkosaan. tidak mengherankan jika pemerintah membuat berbagai batuan. 2006). Kejadian yang umum terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga atau yang lebih dikenal dengan KDRT. Kasus ini dapat dikatakan nyaris tak terdeteksi. Temuan Freyd. dkk. Mereka amat bergantung pada perlindungan orang tua.

menurunnya gairah untuk menjalani kehidupan sehari hari. menemukan hasil yang memprihatinkan. Aspek fisik. KDRT pada perempuan menurut penelitian Komnas Perempuan. 1996). 2005. khususnya tentang KDRT patut diperhatikan. dan bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.020 kekerasan terhadao perempuan. Penelitian lebih lanjut di Indonesia. terjadi 14. sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Aspek sosial. putus asa. ruang pelayanan khusus kepolisian. para istri mengalami memar. Tak jarang korban harus meminta bantuan ekonomi dari keluarga khususnya orang tua. sedih. merasa tidak berdaya dan kehilangan harapan untuk mempertahankan pernikahannya. Aspek ekonominya adalah korban harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan fisik dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dikarenakan suami jarang memberikan nafkah. 3. dan kejaksaan tinggi (Yayasan Mitra Inti. penurunan nafsu makan. yakni para suami. khususnya perempuan. tetapi diterapkan dalam kerangka pikir hukum dan kebudayaan (Irianto. Suminar (2004) yang melakukan penelitiannya terhadap enam orang istri korban KDRT menemukan beberapa aspek dan bentuk KDRT. Menariknya hasil penelitian Suminar tadi didukung oleh temuan Gomes (2004) yang meneliti pelaku KDRT. dan enggan melakukan hubungan seksual 2. kulit panas. Setidaknya terdapat empat aspek akibat KDRT. Ternyata para suami memang membuat istri tak berdaya dalam banyak aspek kehidupan. terjadi perubahan pola menstruasi. 1999: Ribka. pengadilan agama. 4. . Kasus Daerah Operasi Militer di NAD dan tragedi Mei 1998 (Irianto. gatal gatal. rumah sakit. yaitu: 1. Tak hanya sekedar jelas. 4. 1999). timbul perasaan malu terhadap orang lain dan terbatasnya interaksi dengan orang lain.) Secara khusus. Selama 2001-2004. Aspek psikologis. muncul gejala depresi (harga diri rendah). dampak kekerasan pada istri telah diteliti lebih lanjut. Untuk melindungi para korban KDRT. Hal ini dapat dilihat dengan lemahnya posisi hukum jika sebatas pada kekerasan itu sendiri tanpa memperhatikan kondisi perempuan atau anak sebagai kornan. berupa perasaan ketakutan. perlu dibuat perangkat perlindungan yang jelas. kurang tidir. Data ini terungkap dari 28 provinsi di seluruh Indonesia melalui beragam institusinya seperti pengadilan negeri.