You are on page 1of 2

INSTRUMEN KEUANGAN

( PSAK 50,55,60-2)

Instrumen keuangan adalah suatu kontrak yang menambah nilai aset keuangan suatu entitas
dan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas dari entitas lain (IAI, 2012). Ada beberapa
instrumen keuangan banyak digunakan oleh perusahaan seperti perdagangan piutang dagang,
obligasi, saham biasa dan saham preferen. Tetapi ada beberapa instrumen lain yang sangat
kompleks dan penggunaan instrumen tersebut digunakan oleh manajer untuk kepentingan
pajak, untuk melakukan lindung nilai aset atau liabilitas dari suatu entitas terhadap risiko
pasar seperti suku bunga, dan lindung nilai valuta asing dan digunakan untuk membuat
laporan keuangan agar terlihat baik (Wolk et al.,2013).
Pasar global telah berubah secara pesat yang mengakibatkan perkembangan perdagangan
internasional seperti impor, ekspor, dan aktivitas pasar modal semakin dinamis sehingga
dapat meningkatkan tingkat risiko pada perusahaan dan investor. Salah satu risiko yang
paling penting yang terkait dengan perdagangan internasional dan investasi adalah
ketidakpastian tentang masa depan nilai tukar mata uang asing dan tingkat suku bunga.
Perubahan di pasar keuangan global dan terkait inovasi keuangan telah menyebabkan
meningkatnya penggunaan instrumen keuangan untuk mengurangi risiko dengan cara lindung
nilai yang timbul dari perubahan kedua nilai tukar dan suku bunga. Masalah utama dengan
instrumen ini adalah standar akuntansi tidak terus berpacu dengan perubahan. Bagaimanapun
sangat penting untuk meningkatkan informasi keuangan tentang derivatif dan kegiatan terkait
(Wilson et al., 1997).
Terdapat penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan harus sesuai dengan 3 standar-
standar akuntansi yang berlaku yaitu
 PSAK No.50 tentang penyajian instrumen keuangan
 PSAK No.55 tentang pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan
 PSAK No. 60 tentang pengungkapan instrumen keuangan.
Akuntansi untuk instrumen keuangan diatur dalam IAS 39 (Instrumen Keuangan: Pengakuan
and Pengukuran), IAS 32 (Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan) dan IFRS
(Instrumen Keuangan : Pengungkapan) (Oktavia dkk, 2014). Sedangkan di Indonesia
akuntansi untuk instrumen keuangan diatur dalam PSAK 50 (revisi 2010) yang merupakan
turunan dari IAS 32, PSAK 55 (revisi 2011) yang merupakan turunan dari IAS 39 dan PSAK
60 merupakan adopsi dari IFRS 7. Pada Januari 2010, peraturan mengenai instrumen ini
efektif diterapkan setelah sebelumnya ditunda. Tanggal efektif tersebut tertuang dalam surat
dari Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) surat No.1705/DSAK/IAI/12/2008 tentang
Pengumuman Perubahan Tanggal Efektif PSAK No. 50 (revisi 2006) dan PSAK No. 55
(revisi 2006) tertanggal 30 Desember 2008. Namun selanjutnya PSAK ini direvisi kembali
yang akhirnya diterbitkan PSAK No. 50 (revisi 2010) telah disahkan pada tanggal 26
November 2010, PSAK No. 55 (revisi 2011) telah disahkan pada tanggal 26 Januari 2011 dan
PSAK No.60 yang disahkan pada tanggal 26 November 2010 (Oktavia dkk, 2014).
Karena adanya perubahan terhadap Pernyataan Standar Akuntansi yang mengatur tentang
instrumen keuangan. Sehingga menyebabkan terdapat beberapa perbedaan antara PSAK No.
50 dan PSAK No. 55 (revisi 2006) dengan PSAK No. 50 (revisi 2010), PSAK No. 55 (revisi
2011) dan PSAK No. 60 yaitu tentang reklasifikasi dari 4

diukur pada nilai wajar melalui laba rugi ke pinjaman yang diberikan dan piutang dan
reklasifikasi dari tersedia untuk dijual ke pinjaman yang diberikan dan piutang. Tetapi di
dalam penelitian ini juga menyoroti tentang perubahan terkait dengan pengungkapan aset
atau liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar, pengungkapkan jumlah reklasifikasi ke
dan dari setiap kategori dan alasan reklasifikasi serta pengungkapan pengukuran nilai wajar
(IAI, 2012).
Di dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK 55 (revisi 2011) mengenai
pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan pada paragraf PA 87 yang menyatakan
bahwa harga penawaran terkini berlaku biasanya merupakan harga yang sesuai untuk
digunakan dalam pengukuran nilai wajar aset yang dimiliki. Menurut Kornel (2014)
mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir mengalami pergeseran dalam pengukuran
akuntansi yang didorong oleh langkah-langkah berbasis pasar, terutama dalam hal instrumen
keuangan. Penggunaan akuntansi nilai wajar telah tumbuh berkembang dalam pelaporan
keuangan dalam dekade terakhir. Gerakan menuju konvergensi akuntansi global telah
menjadi kekuatan pendorong di belakang peningkatan penggunaan nilai wajar instrumen
keuangan seperti derivatif keuangan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang ada pada penelitian
Rayman (2007), penggunaan pengukuran nilai wajar dalam instrumen keuangan supaya dapat
meningkatkan kerangka konseptual untuk pelaporan keuangan yang lebih baik pada sistem
akuntansi konvensional dapat melalui penggunaan pengukuran nilai wajar.