You are on page 1of 22

TERAPI AKTIVITAS BERMAIN

Topik : Terapi Bermain Pada Anak Usia Pra Sekolah

Sasaran : Anak Usia Pra Sekolah di ruang Anak Tulip IIA

Tempat : Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin

Hari/Tanggal :

Waktu :

Jenis : Menyusun Puzzle

A. Latar Belakang

Masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan

pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu ketakutan dan

ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai

faktor diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan control, dan

akibat dari tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri. Akibatnya akan

menimbulkan berbagai aksi seperti menolak makan, menangis, teriak,

memukul, menyepak, tidak kooperatif atau menolak tindakan keperawatan

yang diberikan.

Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah

satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi

menimbulkan krisis dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering

disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan

rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam

1

2

menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan

kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain

tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong,

2009)

Bermain pada anak dapat meningkatkan kecerdasan dalam berfikir dan

mengembangkan imajinasi serta melatih daya motorik halus dan kasar pada

anak. Pada anak pra sekolah umumnya perkembangan motorik kasar dan

motorik halusnya sudah baik (Soetjiningsih, 1995). Pada tahap ini mereka

berminat untuk mendapatkan pengetahuan dan mulai mengalami peningkatan

kompetensi. Dengan mengerti tentang dunia anak terutama usia anak pra

sekolah, maka dengan ini kami bermaksud untuk melaksanakan program

terapi bermain karena dengan bermain membuat anak menjadi lebih rileks.

Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya,

kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh

emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah

kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu

yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk

bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal

sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah

berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa

kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain

Terapi bermain yang akan dilaksanakan yaitu bermain menyusun puzzle.

Alasan memilih terapi bermain menyusun puzzle adalah untuk

c. Tujuan 1. Tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang dapat menghalangi proses terapi bermain. keterampilan kognitif dan kemampuan berbahasa. B. Puzzle merupakan salah satu bentuk permainan yang membutuhkan ketelitian. b. Anak yang dirawat di ruang anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin 3. Anak usia prasekolah (3-5 tahun) 2. Melatih kemampuan sosial personal anak. C. diharapkan dapat: a. Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai. 4. melatih untuk memusatkan pikiran. . Sehingga puzzle merupakan jenis permainan yang memiliki nilai-nilai edukatif. Sasaran 1. karena kita harus berkonstrasi ketika meyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut hingga menjadi sebuah gambar yang utuh dan lengkap. Melatih kemampuan kognitif anak. 2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti terapi bermain menyusun puzzle diharapkan dapat mengurangi dampak stress hospitalisasi pada anak. d. 3 mengembangkan motorik halus. Melatih kemampuan motorik halus anak. Tujuan Instruksional Khusus Dengan mengikuti terapi bermain menyusun puzzle. Melatih kemampuan berbahasa anak.

4. anak diminta untuk mengamati terlebih dahulu gambar yang ada di dalam puzzle. Tempat : Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin E. menyusun kembali kepingan puzzle sesuai gambar semula dengan benar. 2. Puzzle 2. 5. Karpet F. Setelah itu dengan panduan leader. Fasilitator mendampingi dan mengarahkan anak selama bermain puzzle berlangsung. tetapi tidak boleh ikut terlibat dalam kegiatan membentuk mainan. Ibu dapat berperan sebagai fasilitator. Jadwal Pelaksanaan 1. Setelah waktu yang ditentukan untuk terapi bermain habis. 6. lalu diberikan penjelasan mengenai cara bermain puzzle. Anak diberi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi bermain yang meliputi waktu kegiatan. Media 1. 4 5. memencar kepingan puzzle. anak diperkenalkan dengan puzzle. 3. D. Waktu : 3. serta hal-hal lain yang terkait dengan program terapi bermain. Diawal permainan. Hari / Tanggal : 2. Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain menyusun puzzle. anak . cara membuat. Metode 1.

10 menit Pembukaan : 1. H-1 kegiatan Persiapan : Ruangan. dan diberikan pujian atas keterlibatan anak selama terapi bermain berlangsung. Menyiapkan anak dan membagi kelompok 2. Pada akhir kegiatan diberikan pengumuman hasil bangun terbaik dan memberikan bangun tersebut sebagai reward. Mendengarkan 3. Waktu Kegiatan Respon Anak 1. anak dan H-1 kegiatan 1. Menyiapkan alat-alat 4. Observer melakukan pengamatan dan memberikan evaluasi terhadap perilaku anak dan proses jalannya terapi bermain. 7. Menyiapkan ruangan keluarga siap 5 menit 2. G. Setelah anak selesai menyusun puzzle. waktu dan mekanisme 4. Mendengarkan tujuan 2. Menyampaikan tujuan dan dari penyuluhan maksud dari kegiatan 3. Mendengarkan kegiatan bermain. 5 dipersilahkan untuk berhenti. Menjelaskan kontrak kontrak. Mengundang anak dan keluarga 3. 9. Kegiatan Permainan No. alat. 10. Mendengarkan 1. instruksi . anak diharapkan untuk bercerita tentang gambar yang ada di dalam puzzle sesuai dengan imajinasi anak. Kemudian fasilitator mengembalikan hasil karya mereka dan memberikan pujian kepada semua peserta sebagai reward. Mengucapkan salam dan kontrak memperkenalkan diri 2. 8.

5 Menit Evaluasi : Anak mendengarkan dan 1. 10 Menit Pelaksanaan : Bermain bersama dengan 1. Memberitahu anak bahwa waktu yang diberikan telah selesai. Mengajak anak bermain antusias. 5. Memberikan pujian terhadap anak yang mampu menyusun sampai selesai. Menanyakan kepada anak apakah sudah selesai dalam menyusun puzzle. Mengidentifiasi kejadian bermain ular tangga yang berkesan selama bermain 3. Fasilitator mendampingi anak dan memberikan motivasi kepada anak. Melakukan review merespon dengan pengalaman bermain menjawab kesan dan menyusun puzzle pengalamannya selama 2. 4. 3. menyusun puzzle. Menyimpulkan kegiatan acara . Menganalisis kesan yang didapat oleh anak 4. 3. 4. 6 4. 2. Menjelaskan cara bermain menyusun puzzle.

MKes Leader : Novita Elisa Wulandari Co Leader : Erma Baina Fasilitator : 1.M Preseptor Klinik : Ria Anggara Hamba. Mengawasi jalannya permainan. Suphia Erwida Yanti Observer : Yadi Setiawan I.Kep. Job Description 1. Membimbing anak bermain. Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya.Aqram 2. 3. S. Fasilitator a. 4. Ns. M. Mutia Nurul Ummah 3. Pengorganisasian Preseptor Akademik : Hj. S. Observer a. 2. d. yaitu membuka dan menutup kegiatan ini. Ernie Aprilia. M. Leader Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain. c. Memfasilitasi anak untuk bermain. 7 H.Kep. Memperhatikan respon anak saat bermain. M. .Ns. b. Co Leader Menjelaskan pelaksanaan dan mendemonstrasikan aturan dan cara bermain dalam terapi bermain.

Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain. c. Setting Tempat Terapi bermain ini dilakukan di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin dengan setting tempat sebagai berikut : Keterangan: Leader Pasien Orang tua Co Leader Fasilitator Meja Observer . Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan Leader dan fasilitator. J. 8 b. d. Mencatat proses permainan disesuaikan dengan rencana.

Kesiapan media dan tempat b. Peserta memahami permainan yang telah dimainkan. 2. Co. komunikasi dan belajar untuk sabar dan saling menghargai. Anak dapat mengembangkan hubungan social. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum terapi bermain dilaksanakan. Evaluasi Hasil a. Anak telah belajar memecahkan masalah melalui eksplorasi alat mainannya c. Kriteria Evaluasi 1. b. 100% anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal sampai akhir. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin. dilakukan dengan tertib dan teratur. 9 K. Evaluasi proses a. Leader dapat membantu tugas Leader dengan baik. c. b. Leader dapat memimpin jalannya permainan. Evaluasi struktur a. d. Anak merasa terlepas dari ketegangan dan stress selama hospitalisasi. 3. anak dapat mengalihkan rasa sakitnya pada . Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan. c. d.

Jumlah peserta orang. 10 permainannya (distraksi dan relaksasi) e. f. Anak dapat berintraksi dengan anak lain dan perawat. .

Pengertian Bermain Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling universal. dan mengenal waktu. Bermain adalah cerminan kemampuan fisik. 2007). melakukan apa yang dapat dilakukan. 2000). belajar memnyesuaikan diri dengan lingkungan. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan rangsangan taktil. emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain. jarak. serta suara (Wong. Menurut Groos (Schaefer et al. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari kemampuan visualnya 11 . 1991) bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk berlatih peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup (Nuryanti. Melalui bermain. intelektual. LAMPIRAN MATERI KONSEP BERMAIN A. B. meskipun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuan bahasa yang ada di dunia. anak akan berkata-kata. Fungsi Bermain 1.audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat. anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang mereka inginkan.

Membantu Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan. apabila sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran di kemudian hari anak lebih cepat berkembang. menjadi seorang bapak.sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya. mampu belajar warna. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain. kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura menjadi seorang guru. pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain. 3. 12 akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu yang baru dilihatnya. mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat tinggal. Meningkatkan Sosialisasi Anak Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan. jadi seorang anak. kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan . 2. mampu membedakan khayalan dan kenyataan. sebagai contoh dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama. Demikian juga pendengaran. menjadi seorang ibu dan lain- lain. maka anak akan mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak.

7. . Meningkatkan Kesadaran Diri Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan. Meningkatkan Kreatifitas Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas. Mempunyai Nilai Terapeutik Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan. 5. hal ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah. seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan. anak mau belajar mengatur perilaku. dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini. 4. di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya. membandingkan dengan perilaku orang lain. 13 keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang. 6. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak. dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar. mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.

pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai berikut : 1. sehingga ia tidak merasa gelisah. 3. Walaupun demikian. Manfaat Bermain Bermain merupakan aktivitas penting pada masa anak-anak. Perkembangan aspek fisik. 2. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah. selama anak dirawat di rumah sakit. kebiasaan-kebiasaan dan standar moral yang dianut oleh masyarakat. kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya. 4. 14 C. dan fantasi serta ide-idenya. 2. perasaan . Perkembangan aspek sosial. Perkembangan aspek emosi atau kepribadian. keinginan. 3. D. Mengekspresikan perasaan. Anak mendapat kesempatan untuk melepaskan ketegangan yang dialami. Perkembangan aspek motorik kasar dan halus. Berikut ini adalah bererapa manfaat bermain pada anak-anak : 1. 4. anak dapat menyalurkan tenaga (energi) yang berlebihan. Tujuan Bermain Melalui fungsi yang terurai diatas. Anggota tubuh mendapat kesempatan untuk digerakkan. Ia akan belajar tentang sistem nilai.

Mengasah ketajaman penginderaan. selama bermain perilaku anak-anak akan tampil bebas dan bermain adalah sesuatu yang secara alamiah sudah dimiliki oleh seorang anak. Sebagai media terapi. E. untuk melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan sering digunakan untuk melatih konsentrasi pada tugas tertentu. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play) Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut. menjadikan anak kreatif. Anak belajar konsep dasar. kritis dan bukan anak yang acuh tak acuh terhadap kejadian disekelilingnya. mengocok-ocok apakah ada bunyi. 5. memperhatikan. meraba. melatih konsep dasar. Bermain aktif Pada permainan ini anak berperan secara aktif. Bermain aktif meliputi : a. Sebagai media intervensi. 8. menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar. 15 tertekan dan menyalurkan dorongan-dorongan yang muncul dalam dirinya. mencium. . Macam . Perkembangan aspek kognisi. 7. mengembangkan daya cipta. kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. 6.Macam Bermain 1. memahami kata-kata yang diucapkan oleh teman-temannya.

2. Tidak ada variasi dari alat permainan. bermain tali dan lain-lain. 16 b. d. Tidak mempunyai teman bermain. Bermain drama (Dramatic Play) Misalnya adalah bermain sandiwara boneka. Prinsip dalam Aktivitas Bermain Menurut Soetjiningsih (1995). Bermain fisik Misalnya bermain bola. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. c. Bermain pasif Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan mendengar. b. maka diperlukan hal-hal seperti: . d. yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini : a. Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya. Kesehatan anak menurun. Bermain konstruksi (Construction Play) Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan. agar anak-anak dapat bermain dengan maksimal. main rumah- rumahan dengan teman-temannya. c. F.

dengan mengetahui cara bermain maka anak akan lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam menggunakan alat permainan tersebut. 17 1. untuk bermain alat permainan harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif bagi anak. aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. teman bermain diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi anak dan membantu anak dalam menghadapi perbedaan. 6. Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain Menurut Supartini (2004). Ekstra energi. 2. 4. di ruang tamu. maka hubungan orangtua dan anak menjadi lebih akrab. untuk bermain diperlukan energi ekstra. G. karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ruang untuk bermain. ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak dalam bermain yaitu: 1. . Alat permainan. anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal. bermain dapat dilakukan di mana saja. 3. Anak-anak yang sakit kecil kemungkinan untuk melakukan permainan. halaman. Teman bermain. Tahap perkembangan anak. Pengetahuan cara bermain. 5. bahkan di tempat tidur. Waktu. Bila permainan dilakukan bersama dengan orangtua.

Jenis kelamin anak. imajinasi. H. untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang sakit. Puzzle konstruksi Puzzle rakitan (construction puzzle) merupakan kumpulan potongan- potongan yang terpisah. Akan tetapi. semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir. maka dapat disimpulkan bahwa media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak. 18 2. Status kesehatan anak. permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri. antara lain: 1. dapat menstimulasi imajinasi anak dan kreativitas anak dalam bermain. media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang. 3. yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya. Lingkungan yang mendukung. Konsep Puzzle Puzzle berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang. Alat dan jenis permainan yang cocok. yang dapat digabungkan kembali menjadi . kreativitas dan kemampuan sosial anak. harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. 4. 5. Ada beberapa jenis puzzle. Berdasarkan pengertian tentang media puzzle.

Juga dapat merangsang kreativitas dan melatih kemampuan berpikir anak. melatih motorik halus serta menstimulasi kerja otak. Puzzle angka Mainan ini bermanfaat untuk mengenalkan angka. Mainan rakitan ini sesuai untuk anak yang suka bekerja dengan tangan. . dan suka berimajinasi. Puzzle batang (stick) Puzzle batang merupakan permainan teka-teki matematika sederhana namun memerlukan pemikiran kritis dan penalaran yang baik untuk menyelesaikannya. 2. Selain itu. 19 beberapa model. Selain itu anak dapat melatih kemampuan berpikir logisnya dengan menyusun angka sesuai urutannya. Puzzle batang ada yang dimainkan dengan cara membuat bentuk sesuai yang kita inginkan ataupun menyusun gambar yang terdapat pada batang puzzle. Mainan rakitan yang paling umum adalah blok-blok kayu sederhana berwarna-warni. Puzzle lantai memiliki desain yang sangat menarik dan tersedia banyak pilihan warna yang cemerlang. Puzzle lantai sangat mudah dibersihkan dan tahan lama. 4. suka memecahkan puzzle. puzzle angka bermanfaat untuk melatih koordinasi mata dengan tangan. Puzzle lantai Puzzle lantai terbuat dari bahan sponge (karet/busa) sehingga baik untuk alas bermain anak dibandingkan harus bermain di atas keramik. 3.

Anak akan lebih mengetahui macam-macam kendaraan. Puzzle ini dimainkan dengan cara menyusun kepingan puzzle hingga membentuk suatu gambar yang utuh. selain itu anak akan dilatih untuk mencocokkan kepingan puzzle geometri sesuai dengan papan puzzlenya. Permainan puzzle berfungsi untuk: 1. Fungsinya selain untuk melatih motorik anak. lingkaran. Puzzle Penjumlahan dan Pengurangan Puzzle penjumlahan dan pengurangan merupakan puzzle yang dapat mengembangkan kemampuan logika matematika anak. Puzzle transportasi Transportasi merupakan permainan bongkar pasang yang memiliki gambar berbagai macam kendaraan darat. 20 5. ketelitian dan kesabaran . juga untuk stimulasi otak kanan dan otak kiri. persegi dan lain-lain). Dengan puzzle penjumlahan dan pengurangan anak memasangkan kepingan puzzle sesuai dengan gambar pasangannya. 8. laut dan udara. 6. 7. Puzzle geometri Puzzle geometri merupakan puzzle yang dapat mengembangkan keterampilan mengenali bentuk geometri (segitiga. Melatih konsentrasi. Puzzle logika Puzzle logika merupakan puzzle gambar yang dapat mengembangkan keterampilan serta anak akan berlatih untuk memecahkan masalah.

Anak belajar mencocokkan keping- keping puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar. Memperkuat daya ingat 4. Melatih koordinasi mata dan tangan. Dengan memilih gambar/bentuk. 3. 21 2. . Mengenalkan anak pada konsep hubungan 5. dapat melatih anak untuk berfikir matematis (menggunakan otak kiri).

2003. DAFTAR PUSTAKA Soetjiningsih. Jakarta : EGC. . 1995. Donna L. Tumbuh Kembang Anak. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC Wong.