You are on page 1of 8

Jika Injil telah Dipalsukan, dimanakah Injil yang Asli?

Masalah keaslian Injil merupakan salah satu topik utama perdebatan Kristen & Islam selain
masalah keilahian Yesus. Namun jika dicermati gugatan terhadap keaslian Injil lebih banyak
mengangkat persoalan penafsiran tekstual & ayat-ayat yang dianggap bermasalah atau
kontradiktif. Namun sangat jarang yang membahasnya melalui kajian sejarah.

Jika memang benar Injil telah dipalsukan, konsekuensi logisnya telah terjadi peristiwa pemalsuan
Injil yang dilakukan oleh orang-orang tertentu pada waktu & tempat tertentu. Dan seharusnya
bisa ditunjukan Injil yang masih asli dari ribuan manuscript Injil yang ada. Saat ini terdapat
sekitar 5.800 manuscript Injil dalam bahasa Yunani yang telah dikatalogkan belum termasuk
yang berbahasa Latin, Mesir, Armenia dll. Selain itu ada banyak Injil apokriph (non kanonik)
seperti Injil Petrus, Injil Thomas dsb terutama dari dari dokumen-dokumen Nag Hammadi,
dimanakah diantaranya Injil yang asli.

Dalam artikel ini, penulis menuliskan salah satu upaya muslim untuk menjawab hal ini dengan
merujuk pada Injil apokriph tertentu yang dianggap selaras dengan Quran. Upaya sebelumnya
yang cukup populer dari pihak muslim yaitu mengajukan Injil Barnabas yang ternyata adalah
produk abad pertengahan. Tulisan singkat penulis mendapat tanggapan dari rekan-rekan muslim:
Amir Al Qodry, Febri Ardian Pangestu & Arda Chandra yang pada intinya mencoba mengelak
menjawab pertanyaan tentang dimanakah Injil yang asli? Dialog dengan rekan-rekan muslim
mungkin bisa berlanjut terutama dengan rekan Arda Chandra.

TULISAN AWAL: JIMMY JEFFRY

Jika para penuduh mengenai kepalsuan Bible, ditanyakan mana injil yang asli? maka ada yang
mencoba merujuk pada injil apokrif yang dianggap kalah bersaing dengan injil kanonik, salah
satu alasannya injil kanonik sudah tidak murni karena telah diubah gereja dengan menambahkan
ayat-ayat keilahian Yesus. Maka logikanya injil apokrif dianggap masih murni karena tidak
ditambahi "pengajaran Gereja" tsb.

Padahal sebaliknya, justru dalam injil-injil apokrif, Yesus umumnya digambarkan sebagai figur
ilahi (khas gnosticism) dan menyangkal hakekat kemanusiaannya, sangat bertolakbelakang
dengan Quran yang mengingkari keilahian Yesus dan menekankan kemanusiannya. Sebagai
contoh The Apocalypse of Peter, salah satu dokumen gnostik abad 2 M (Nag Hammadi, Kodeks
VII). Dokumen ini malah menjadi salah satu rujukan muslim pendukung "Substitution theory"
dalam kisah Penyaliban Yesus, yaitu orang lain yang disalibkan bukan Yesus. Padahal The
Apocalypse of Peter menyuarakan pemahaman docetism yang menganggap Yesus sebagai figur
ilahi dan kehadirannya di dunia bersifat semu (tidak real). Sehingga mereka menolak Yesus bisa
menderita/mati dan yang disalibkan bukan Yesus yang sesungguhnya. Hal yang sama mengenai
konsep "penyaliban semu" ini bisa dijumpai dalam dokumen gnostik lainnya seperti Treatise of
the Great Seth, Basilides dll.

So.. point tentang injil apokrif sebagai injil alternatif yang dianggap lebih "murni" dari injil
kanonik, justru bertentangan dengan Quran & konsep teologi Islam. Injil asli yang selaras
dengan quran hanyalah sebuah imajinasi iman yang ahistoris dan konsep ini semata-mata
dibangun di atas dasar argument from silence.

TANGGAPAN 1: AMIR AL QODRY

Pak Jimmy Jeffry, Bible tidak dipalsukan, tapi pada titik tertentu mengalami pentahrifan
(perubahan) yang disengaja sehingga merubah arti dan makna yang dilakukan justru oleh
kalangan gereja itu sendiri. Contohnya sederhana saja: Dalam konteks Indonesia, anda akan
menemukan perbedaan the proper name sesembahan di Bibel. Manakah yang benar, Yahweh?
YHWH? TUHAN? Atau justru Yesus?

Perbedaan the proper name sesembahan dalam Bibel adalah sebuah fakta pak Jimmy.
Kekristenan tidak bisa mengelak dari itu semua. Sola Scriptura dalam kekristenan hanya berlaku
dalam praktek keimanan, tapi tidak dalam konteks tekstual dan intelektual.

Jimmy Jeffry:
Pak Amir Al Qodry dari pernyataan anda bahwa Bible tidak dipalsukan tetapi pada titik tertentu
mengalami tahrif sehingga merubah arti & makna, kelihatannya posisi anda memandang tahrif
bible dalam pengertian tahrif al-mana (perubahaan makna) bukan tahrif al-nass/al-lafs
(perubahan tekstual), koreksi jika saya keliru terhadap posisi anda. Lalu bagaimana anda
menjelaskan berbagai perbedaan tekstual dalam Bible dan Quran, misalnya dalam narasi
kelahiran Yesus, yang kelihatannya Quran cenderung mirip dengan injil apokriph? Serta banyak
perbedaan lainnya antara Bible & Quran, yang pada prinsipnya bukan hanya sekedar perubahan
makna semata.

Mengenai contoh anda tentang perbedaan penulisan Divine Name dalam Bible, saya kira bukan
hal yang relevan berkaitan perbedaan mendasar antara Bible & Quran. Dalam Perjanjian Lama
(PL) yang berbahasa Ibrani untuk Divine Name tertulis YHWH yang merupakan the proper
name, namun dalam PL juga pada beberapa ayat digunakan nama pengganti untuk YHWH yaitu
Adonai. Dalam LXX/Septuagint versi Yunani dari PL Ibrani terdapat variasi penggunaan nama
pengganti untuk YHWH seperti IAO & KURIOS. Demikian pula dalam PB yang ditulis dalam
bahasa Yunani digunakan nama pengganti KURIOS, selanjutnya dalam bahasa lain; LORD
(Inggris), TUHAN (Indonesia) dll. Karena YHWH hanya terdiri konsonan, maka ditambahkan
vokal menjadi Yahweh, Yehovah, Yehuwah dan beberapa variasi lainnya. Untuk Divine Name
lainnya seperti Elohim (Ibrani), Alaha (Aramaik), Allah (Arab) dll.

Bagi Islam, justru Allah adalah the proper name yang berbeda dengan PL/Tanakh. Kalau
masalah ini dibawa ke ranah polemik Kristen-Islam, justru Quran yang telah berbeda dengan
PL/Tanakh berbahasa Ibrani itu, karena menurut PL/Tanakh, the proper name adalah YWHH
bukan Allah, sedangkan kata Allah yang telah digunakan umat Kristen di Arab pra Islam sejajar
dengan kata Elohim (Ibrani) & Alaha (Aramaik).

Saya kira pembahasan detail untuk masalah ini, sebaiknya pada topik tersendiri. Sekali lagi, ada
begitu banyak perbedaan antara Bible & Quran, jika dalam Bible ada yang berbeda dengan
Quran, maka bagian itu akan dianggap palsu atau mengalami "tahrif", bukankah seperti itu pak
Amir? smile emoticon. Nah.. dapatkan anda menunjuk manuscript Bible yang "asli" sesuai
dengan Quran dan yang belum mengalami tahrif tsb? Atau setidak-tidaknya rujukan tidak
langsung dari catatan sejarah /dokumen extrabiblikal yang mendukung tesis tsb.

TANGGAPAN 2: FEBRI ARDIAN PANGESTU

Mengenai merujuk pada tulisan apokrifa bisa jadi memang salah alamat jika menganggap itu
adalah firman tuhan. Jika "penuduh" yang dimaksud adalah Islam, maka sebenarnya yang
dinyatakan adalah bahwa bible tidak sepenuhnya firman Allah, melainkan tercampur dengan
perkataan-perkataan manusia, sejarah dll yang kemudian diklaim sebagai firman Allah. Dan
ternyata tidak banyak disanggah karena definisi "firman" antara keduanya berbeda. Begitu kan ...
Dan juga pertanyaan sia-sia menanyakan dimana injil "asli" karena memang menurut akidah
islam, yang namanya injil itu adalah firman tuhan yang turun melalui lisan Isa alayhissalam. Dan
karena Isa tidak menuliskannya dalam sebuah "buku" dan Isa as. tidak bersama kita di dunia ini,
bagaimana bisa muncul pertanyaan dimana injil (yang asli)?
Saya hanya berusaha menjembatani 2 sudut pandang yang berbeda.

Jimmy Jeffry
Point tanggapan saya ke pak Amir, saya kira relevan dengan tanggapan anda. saya menyatakan
ada pihak Islam yang mencoba merujuk pada injil apokrif tanpa mengerti isi dari injil Apokrif,
tentu tidak semua muslim berpendapat demikian.

Anda memberikan definisi apa itu firman Tuhan yang menurut anda hanya sebatas apa yang
difirmankan/dikatakan oleh Tuhan, jelas anda merujuk pada Quran. Namun dalam pengertian
yang lebih luas, menurut versi kekristenan, ini berkaitan dgn "pengilhaman" dari Tuhan.
Sehingga secara tidak langsung Bible yang berisi juga narasi2 sejarah bisa disebutkan sebagai
firman Allah dalam pengertian ditulis oleh penulis yang diilhami Tuhan. Dalam konteks Kristen-
Islam, mungkin analoginya, Bible = Quran+hadist. Dengan adanya firman Tuhan yang
disampaikan oleh nabi-nabi atau perkataan Yesus yang menurut teologi kristen adalah Firman
yang menjadi manusia, yang tercatat dalam sebuah kerangka narasi yang jelas, maka akan
memudahkan dalam memahami konteks dari ayat-ayat pengajaran tsb. Berbeda dengan Quran
yang perlu mencari rujukan hadist untuk memahami asbabun nuzul-nya dari teks Quran yang
dimaksud.

Persoalan sebenarnya dalam kaitan hubungan Krisen-Islam, yaitu klaim dari Islam bahwa Quran
sebagai al-furqan (pembeda) atau hakim atas bagian Bible yang mana masih "asli" atau telah
mengalami "tahrif". Karena adanya klaim tahrif inilah, maka logikanya ada Bible atau injil yang
tidak mengalami tahrif. Ini bisa berarti ada kitab injil lain di luar injil anonik atau injil kanonik
itu sendiri yang belum ada penambahan, pengurangan atau perubahan. Maka pertanyaan pihak
Kristen terhadap Islam untuk menunjuk injil yang asli itu, saya kira masih relevan.

Maka silahkan menunjukan manuscript2 injil kanonik yang masih "asli" tsb yang belum
mengalami perubahan? atau menunjukan injil non kanonik yang selaras dengan Quran? saya kira
anda tentu tidak akan mengajukan "injil Barnabas" smile emoticon

Febri A. Pangestu
Pertama, firman Allah dalam definisi kami tidak terbatas pada quran melainkan juga meliputi
hadits qudsi dan yang terkandung pada kitab2 yang diturunkan sebelumnya. Hadits qudsi pun
pengilhaman. Secara maknawi dari Allah, secara lafzhi (redaksi) dari Muhammad pbuh. Tapi
tidak semua ilham dianggap firman. Bahkan ada bedanya antara hadits qudsi dan hadits nabawi
meskipun sama-sama dari Muhammad pbuh.

Kedua, mungkin kurang tepat anda merefer quran sebagai furqan (pembeda) terkait kitab
sebelumnya. Quran sebagai furqan lebih kepada pembeda antara haq dan batil, pemutus hukum
dan yang semakna. Adapun terkait kitab-kitab sebelumnya, quran sebagai mushaddiqan
(pembenar), membenarkan kitab2 yang diturunkan kepada Musa, Daud, Isa dst, dan
muhayminan (penguji), memverifikasi terhadap kitab2 tersebut yang telah berlalu apa2 yang
datang dari Allah dan mana yang bukan. Terkait tahrif, saya tetap menganggap pertanyaan
"mana yang asli" kurang relevan. Seharusnya pertanyaan yang pertama diajukan (dan mungkin
sudah anda antisipasi) adalah apakah terjadi tahrif.

Sebenarnya tanpa saya harus bersusah payah berargumen, saya yakin anda mungkin akan setuju
sejarah penulisan alkitab itu mengandung tahrif. Meskipun menurut pak shem tov, dari diskusi
terdahulu dan juga mungkin anda amini, tahrif alkitab merujuk ke sebagian ulama hanya terjadi
tahrif ma'na bukan lafzhi. Dan pendapat tahrif lafzhi dianggap hanya pendapat ulama
belakangan. Saya sebenarnya bisa menyanggah mispersepsi tersebut, hanya saja saya pandang
tidak perlu karena saya yakin anda juga akan membenarkan bahwa dalam pewarisan teks alkitab
ada sejarah tahrif secara redaksi meskipun nanti akan kita lihat ada pemakluman bahwa,
misalnya, itu human error, faktor eksternal (alam, bahan manuskrip dsb). Apakah tahrif alkitab
hanya sebatas itu? Tentu saja tidak. Kalau kita menelaah studi alkitab tentang hal ini tentu kita
juga akan menemukan tahrif secara sengaja dengan motif teologi.

Jimmy Jeffry
Tanggapan saya sebelumnya merujuk pada pernyataan anda sebelumnya "...sebenarnya yang
dinyatakan adalah bahwa bible tidak sepenuhnya firman Allah, melainkan tercampur dengan
perkataan2 manusia, sejarah dll yang kemudian di klaim sebagai firman Allah...". Saya lalu
mengangkat point tentang "pengilhaman" sehingga narasi yang ada dalam Bible bisa dikatakan
firman Allah dalam arti luas karena ditulis oleh penulis Bible yang diilhamkan Allah. Berbeda
dengan anda yang mengartikannya secara sempit yaitu apa yang disabdakan Allah itulah firman
Allah, makanya saya menyebut Quran sesuai dengan konsep anda tsb. Hadist qudsi yang juga
berisi sabda Allah menurut teologi Islam, itu juga dikategorikan firman Allah. Saya kira titik
persoalan bukan di sini, perlu pembahasan tersendiri tentang konsep firman Allah &
pengilhaman menurut Bible & Quran

Titik persoalan sebenarnya yaitu terdapat perbedaan signifikan antara Bible & Quran, baik dalam
bangunan teologis maupun detail sejarah. Penyebutan saya bahwa Quran sebagai furqan
(pembeda) bagi Islam, saya kira tidak perlu dipersoalkan dengan term muhaymin (penguji) &
mushaddiqan (pembenar), bukankah juga dalam surah al-Furqan mengajarkan tentangg keesaan
Allah yang dikontraskan dengan pihak musyrik, misalnya kekristenan smile emoticon. Lepas
dari term yang mana tepat, hal yang substansi yaitu adanya perbedaan signifikan antara Bible &
Quran, dan dalam perspektif Islam, Bible yang dianggap salah, sehingga logikanya hal yang
"salah" dalam Bible itu, menurut Islam adalah "tahrif".
Anda mencoba menggeser persoalan ke masalah internal dalam Bible. Namun perbandingan
yang anda ajukan ini tidak apple to apple dengan Bible vs Quran. Dalam Bible terdapat
Tanakh/PL yang diterima oleh Yudaisme & Kekristenan serta PB yang hanya diterima
kekristenan. Seperti yang anda tebak, bahwa pihak kristen akan berapologi dengan mengajukan
point human error, bahan manuscript dll. Ini sudah masuk ranah kajian Textual Criticism, kita
bisa saja membahasnya termasuk menerapkan Textual Criticism terhadap Quran. Misalnya teks-
teks tentang keilahian Yesus dalam manuscript Injil, apakah original atau sisipan pihak Kristen
pasca Nicea.

Namun jika kita mencermati masalah "tahrif" yang terjadi dalam Bible baik itu tahrif manaa atau
an nass/lafs sangat berbeda secara substantial jika dibandingkan antara Bible vs Quran.
Kekristenan & Yudaisme begitu keras memperdebatkan ayat-ayat nubuatan mesianik dalam
Tanakh/PL yang oleh kekristenan dianggap merujuk pada Yesus sebagai Sang Mesias. Namun
secara textual tidak ada perbedaan signifikan antara Tanakh & PL, karena memang sumber
rujukannya sama pada naskah Masoret dan sebagai pembandingnya naskah LXX/Septuagint,
bahkan akurasi tekstual dikoroborasi dengan dokumen Qumran (Dead Sea Scrolls). Namun
berbeda antara Bible & Quran yang bukan saja berbeda dalam maknanya (manaa) tetapi dalam
narasi sejarah yang ada. Banyak contoh, salah satunya tidak ada nubuatan yang merujuk pada
Muhammad dalam PL/Tanakh atau tidak ada keterangan yang bisa menghubungkan antara
sejarah Israel connect dengan sejarah Arab. Terjadi sebuah lompatan alur sejarah pewahyuan
dari Israel ke Arab yang tidak didukung data secara biblikal.

Maka teologi Islam mencoba menulis kembali sejarah dengan menjadikan Quran/hadist sebagai
pijakannya. Klaim logis yang muncul dari pihak Islam bahwa sejarah Israel & ayat-ayat dalam
Tanakh/PL telah dimanipulasi (tahrif). Demikian pula dalam PB, yang bangunan teologisnya
bertolak belakang dengan Islam. Bukan saja dalam hal keilahian Yesus, tetapi berbagai acuan
sejarah seperti kisah penyaliban, kebangkitan & penampakan Yesus setelah bangkit yang
berbeda dengan Quran. Serta tidak ada sebuah konsep yang bisa ditarik dari Injil bahwa akan
muncul sebuah ajaran baru dari luar bangsa Israel yang memiliki kesinambungan dengan Yesus.
Acuan pada janji datangnya "Parakletos" jelas sebuah upaya eisegese dari pihak muslim untuk
mencari "missing link" tsb. Karena hal-hal ini terlalu berbeda dengan Quran, tuduhan dari pihak
Islam bahwa Bible telah dipalsukan adalah konsekuensi logis yang terjadi, tentu saja berdasarkan
perspektif Islam bahwa Quran adalah firman Allah yang benar.

Berdasarkan uraian ini, saya kira anda tidak bisa lagi menghindar terhadap pertanyaan untuk
menunjukan "injil yang asli"? smile emoticon

TANGGAPAN 3: ARDA CHANDRA

Kalau dilihat isi ayat Al-Qur'an tentang penyangkalan keilahian Isa Almasih semuanya
mengarahkan kita untuk berpikir bahwa beliau hanyalah manusia biasa, rasul utusan Allah yang
diberikan beberapa mukjizat, sama kedudukannya dengan nabi dan rasul yang lain. Sumber-
sumber Islam baik Al-Qur'an maupun hadits tidak ada yang merujuk kepada kitab sebelumnya,
baik Injil kanonik maupun apokripa, maka saya agak heran kalau dalam status ini pak Jimmy
Jeffry berusaha untuk mengkaitkan kedua sumber tersebut.
Memang ada beberapa pemikir Islam yang mencoba mencari rujukan pernyataan Al-Qur'an dan
hadits tentang Isa Almasih, namun itu bukanlah dalil-dalil yang wajib untuk dipakai dan
diterima, misalnya tentang teori substitusi penyaliban, isinya bisa saja diabaikan atau dilihat
bagaimana perkembangan pembuktiannya layaknya suatu kajian ilmiah biasa.

Keberadaan sumber apokripa merupakan masalah internal ajaran Kristen sendiri yang merupakan
bukti, bahwa sepeninggal Yesus ajaran tersebut bersifat cair dan memiliki banyak penafsiran,
termasuk tentang keilahian Yesus. Terdapat puluhan catatan tentang Yesus sebagai hasil
penafsiran penulisnya dan pada akhirnya sejarah menunjukkan yang memenangkan pertarungan
teologis dan dipakai secara mayoritas adalah menyatakan Yesus sebagai Tuhan dan kesatuan
trinitas. Pernyataan bahwa Yesus baru dilantik sebagai Tuhan dalam konsili Nicea tidak diartikan
bahwa sebelum itu konsep keilahiannya belum terwujud, namun konsili tersebut merupakan
tonggak tertinggi dari kemenangan konsep yang memeangkan pertarungan teologis tersebut,
termasuk karena adanya dukungan kekuasaan Romawi waktu itu.

600 tahun kemudian Islam datang untuk memberian pernyataan yang sederhana tanpa harus
repot-repot memuat alasan mengapa menyatakan Isa Almasih bukan Tuhan, bahwa kelahirannya
tidak ada bedanya dengan kelahiran Adam, mukjizat yang dilakukan semata-mata atas kekuasaan
Allah seperti halnya mukjizat nabi dan rasul yang lain, dll. Dalam penolakan soal kematian Isa
Almasih pada persitiwa penyalibanpun Al-Qur'an hanya memberikan pernyataan bahwa beliau
tidak mati disalib tanpa harus memberikan penjelasan bagaimana detail cara Allah
menyelamatkannya. Umat Islam sudah cukup 'enjoy' dengan berita tersebut karena sudah sejalan
dengan konsep ketuhanan mereka yang sangat konsisten menyatakan 'Tidak ada Tuhan selain
Allah'.

Jimmy Jeffry
Justru saya heran mengapa Quran/hadist tidak merujuk pada kitab-kitab sebelumnya. Bukankah
dalam Quran bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab sebelumnya yang juga firman Allah.
Bukankah Islam mencoba membangun sebuah kesinambungan antara nabi-nabi sebelumnya
seperti Abraham, Musa, Isa (Yesus) yang kemudian puncaknya pada Muhammad. Karena tidak
ada rujukan pada kitab-kitab sebelumnya dalam Quran/hadist, maka konsekuensi logis kitab-
kitab sebelumnya dianggap tidak "murni" lagi atau telah dipalsukan. smile emoticon

Saya kira semua muslim punya pemahaman bahwa kitab-kitab sebelumnya itu ada bagian
"dipalsukan", berarti ada bagian2 yang masih asli menurut Quran bukan? Lalu mengapa tidak
ada rujukan dalam Quran/hadist mengenai kitab atau bagian yang masih asli tsb?. Bukankah
pada sekitar abad ke-7 ada begitu banyak kitab-kitab yang beredar bahkan naskah PB yang
lengkap telah dibukukan seperti dalam Codex Sinaiticus dllc. Dokumen gnostik telah ada sejak
abad kedua seperti yang ditunjukan dalam naskah-naskah Nag Hammadi..

[[[Arda: Memang ada beberapa pemikir Islam yang mencoba mencari rujukan pernyataan Al-
Qur'an dan hadits tentang Isa Almasih, namun itu bukanlah dalil-dalil yang wajib untuk dipakai
dan diterima, misalnya tentang teori substitusi penyaliban, isinya bisa saja diabaikan atau
dilihat bagaimana perkembangan pembuktiannya layaknya suatu kajian ilmiah biasa]]]]
Maka tidak heran banyak moslem scholars yang mencoba membangun "missing link" antara
Yudaisme/kekristenan dengan Islam. Seperti mengajukan teori tentang kekristenan yang "asli"
misalnya kelompok Nazarene (Nasrani) & Ebionit, merujuk kitab apokrif yang pada detail
tertentu yang selaras dengan Quran, bahkan sampai memunculkan "injil Barnabas". Anda
menolak upaya pendekatan seperti ini, namun justru anda menciptakan kondisi bangunan Islam
yang terisolasi atau disconnected dengan ajaran sebelumnya, padahal Islam mengklaim sebagai
pelanjut ajaran sebelumnya.

[[[Arda: Keberadaan sumber apokripa merupakan masalah internal ajaran Kristen sendiri yang
merupakan bukti, bahwa sepeninggal Yesus ajaran tersebut bersifat cair dan memiliki banyak
penafsiran, termasuk tentang keilahian Yesus. Terdapat puluhan catatan tentang Yesus sebagai
hasil penafsiran penulisnya dan pada akhirnya sejarah menunjukkan yang memenangkan
pertarungan teologis dan dipakai secara mayoritas adalah menyatakan Yesus sebagai Tuhan
dan kesatuan trinitas. Pernyataan bahwa Yesus baru dilantik sebagai Tuhan dalam konsili Nicea
tidak diartikan bahwa sebelum itu konsep keilahiannya belum terwujud, namun konsili tersebut
merupakan tonggak tertinggi dari kemenangan konsep yang memeangkan pertarungan teologis
tersebut, termasuk karena adanya dukungan kekuasaan Romawi waktu itu]]]]]]

Saya kira pernyataan anda bertentangan dengan data sejarah yang ada. Sesudah Yesus, para rasul
telah meneruskan pengajaran Yesus ke murid-murid para rasul dan seterusnya. Hal yang prinsip
seperti keilahian Yesus telah dipahami & diterima oleh jemaat mula-mula, sebagaimana bisa
terlihat dalam catatan bapa gereja awal seperti Ignatius, Justin Martyr, Ireneus dll. Demikian pula
dengan penyembahan yang dilakukan mereka terhadap Yesus sebagai Tuhan. Bahkan catatan
dari tulisan/pernyataan musuh kekristenan (Trypho, Celsus, Lucian of Samosata, Pliny the
younger dll) yang menyajikan fakta bahwa jemaat mula-mula memang telah menyembah &
mengimani Yesus sebagai Tuhan. Bahkan injil apokrif (non kanonik) yang anda anggap kalah
dalam pertarungan teologis justru memahami Yesus sebagai figur yang ilahi tetapi menolak
hakekat kemanusiaan Yesus. Nanti abad belakangan baru muncul penolakan yang cukup
signifikan terhadap keilahian Yesus yaitu melalui Arius. Tetapi jika anda mempelajari tulisan
Arius, dia tetap memberlakukan Yesus sebagai figur yang ilahi, hanya bedanya dia menganggap
Yesus sebagai makhluk. Ajaran Arius ini juga bertentangan dengan Quran, lalu dimana model
pengajaran tentag "keesaan Tuhan" (Tauhid) yang sesuai dengan versi Islam pada masa pra Islam
yang juga membawa risalah nubuatan kenabian Muhammad?

Pemahaman anda terhadap konsili Nicea jelas hanya klaim yang ahistoris, karena pada
kenyataannya konsili Nicea hanya bersifat peneguhan secara formal saja apa yang telah diimani
oleh kekristenan awal. Rumusan formal ini diperlukan agar jemaat memiliki pegangan yang jelas
menghadapi berbagai bidat yang ada. Posisi Konstantin sebagai kaisar Romawi hanyalah
memfasilitasi pertemuan para uskup itu saja, tetapi tidak ada campur tangan kekuasaan yang bisa
mendikte para uskup itu mengambil keputusan.

[[[Arda: 600 tahun kemudian Islam datang untuk memberian pernyataan yang sederhana tanpa
harus repot-repot memuat alasan mengapa menyatakan Isa Almasih bukan Tuhan, bahwa
kelahirannya tidak ada bedanya dengan kelahiran Adam, mukjizat yang dilakukan semata-mata
atas kekuasaan Allah seperti halnya mukjizat nabi dan rasul yang lain, dll. Dalam penolakan
soal kematian Isa Almasih pada peritiwa penyaliban pun Al-Qur'an hanya memberikan
pernyataan bahwa beliau tidak mati disalib tanpa harus memberikan penjelasan bagaimana
detail cara Allah menyelamatkannya. Umat Islam sudah cukup 'enjoy' dengan berita tersebut
karena sudah sejalan dengan konsep ketuhanan mereka yang sangat konsisten menyatakan
'Tidak ada Tuhan selain Allah']]]]

Dalam sistem teologi Islam, bahwa Islam datang untuk meluruskan ajaran kekristenan yang salah
& jika ditarik lagi ke belakang mengacu pada konsep ini, kekristenan datang untuk meluruskan
ajaran Musa/Taurat yang telah diselewangkan oleh orang Farisi/Sadiki. Ini tesis yang diajukan
Sanihu Munir yang mungkin sejalan dgn konsep anda. Tetapi bagi kekristenan, Yesus datang
bukan meluruskan ajaran Musa yang diselewangkan tetapi justru Yesus menggenapi inti dari
ajaran Musa & para nabi yaitu tentang janji akan datangnya Sang Mesias. Yesus meneguhkan
kitab PL/Tanakh misalnya dengan mengutip atau merujuk pada ayat dalam PL/Tanakh dan
Yesus memberi makna baru pada hal-hal sifatnya bayangan (type) dalam PL/Tanakh menjadi
jelas makna sesungguhnya (anti-type). Lalu dimana kutipan atau rujukan dari Muhammad pada
kitab sebelumnya?

Demikian pula tidak ada ajaran Yesus yang diselewangkan oleh Paulus seperti yang sering
dituduhkan pihak muslim. Pengajaran Yesus telah diteruskan oleh para rasul dan berlanjut ke
generasi berikutnya (paradosis katakete). Sehingga bagi kekristenan, klaim tentang akan datang
nabi yang akan meluruskan ajaran kekristenan, jelas tidak lagi relevan, karena memang secara
prinsip tidak ada hal yang perlu diluruskan.

SELESAI