You are on page 1of 49

A.

BUKU PANDUAN
KETERAMPILAN KLINIS DASAR 2.1
(KKD 2.1)

Disusun oleh:
Maria Belladona
Arinta Puspita Wati
Elta Diah P
Erie BPS Andar
Maharani
Riski Prihatningtias

Editor:
Lusiana Batubara
Ainun Rahmasari Gumay

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018

i

BUKU PANDUAN

KETERAMPILAN KLINIS DASAR 2.1
(KKD 2.1)

Disusun oleh:
Maria Belladona
Arinta Puspita Wati
Elta Diah P
Erie BPS Andar
Maharani
Riski Prihatningtias

Editor:
Lusiana Batubara
Ainun Rahmasari Gumay

Diterbitkan oleh:
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Edisi:
I: Cetakan I: 2018

ISBN :

ii

serta pemeriksaan indera penglihatan.1 ini merupakan buku yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan kuliah dan praktikum keterampilan klinis dasar (KKD) modul 2. Buku ini dapat memberikan petunjuk dan informasi kepada peserta didik agar pelaksanaan KKD 2. reflex batang otak dan fungsi cerebellum. diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dengan demikian.1 yang terdiri dari pemeriksaan saraf kranial dan fungsi sensorik. Perlu diperhatikan bahwa selama kuliah dan praktikum berlangsung diharapkan semua peserta didik dapat melakukan dengan tekun dan teliti. KATA PENGANTAR Buku Panduan Keterampilan Klinis Dasar 2. pemeriksaan refleks batang otak dan fungsi cerebellum. Instruktur pada tiap sesi diharapkan dapat membantu peserta didik untuk melaksanakan keterampilan klinis dengan tepat. 2012) dimana level kompetensi yang diharapkan disesuaikan dengan tingkat kemampuan mahasiswa kedokteran semester 2. langkah-langkah pemeriksaan. Buku ini memuatdasar teori. Keterampilan yang diajarkan didasarkan pada daftar keterampilan klinis dalam SKDI dengan tingkat keterampilan 4A. dan checklist penilaian KKD 2. Pemeriksaan yang dilakukan harus sesuai dengan checklist/urutan yang telah dibuat dengan teknik yang tepat. Januari 2018 Penyusun iii . Semarang. Setelah mengikuti KKD 2.1 dapat berjalan lancar dan bermanfaat di masa yang akan datang.1 ini peserta didik diharapkan mempunyai keterampilan yang cukup tentang pemeriksaan saraf kranial dan fungsi sensorik.1. serta pemeriksaan indera penglihatan. Buku ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum berbasis kompetensi dari Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI.

................22 Materi IV....................... Pemeriksaan Sistem Sensorik ................ iii Daftar Isi .....................................27 Materi III.....................................1 Materi II...................17 Materi III.............................................................................................................................................................. Pemeriksaan Nervus Kranialis ............................................................... Pemeriksaan Refleks Batang Otak ........................................ DAFTAR ISI Kata Pengantar ................... iv Materi I.................................................35 iv .................................................... Pemeriksaan Fungsi Cerebellum .................................................................. Pemeriksaan Indera Penglihatan ....

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sensorik N. PEMERIKSAAN NERVUS KRANIALIS A.V (Nervus Trigeminus) e. Keterampilan yang terkait: 1.I (Nervus Olfaktorius) b. Tujuan Instruksional Umum: Setelah mengikuti latihan ketrampilan klinik Pemeriksaan Nervus Kranialis mahasiswa mampu melakukan Pemeriksaan Nervus Kranialis dan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan normal. Tingkat Keterampilan: 4A B. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan motorik N.VI(Nervus Abducent) f.IV (Nervus Trochlearis) d. Komunikasi Efektif 2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N. Tujuan Pembelajaran: 1.XII (Nervus Hypoglosus) C.X (Nervus Vagus) i. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N. Universal Precaution 1 . Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N. 2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N.Materi I.XI (Nervus Accessorius) j. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N. Tujuan Instruksional Khusus: a. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N.VII (Nervus Facialis) g. Informed Consent 3.IX (Nervus Glossopharyngeus) h. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan N.III(Nervus Occulomotorius) c.

Sebelum mulai diperiksa. Saraf kranial I. diusahakan kerjasama yang baik antara pemeriksa dan pasien selama pemeriksaan. Okulomotorius (III). Optikus (II). Fasialis (VII). Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang dinamakan foramina. cara yang dilakukan dan nyeri yang mungkin timbul dapat membantu memupuk kepercayaan pasien pada pemeriksa. Pasien seringkali diminta kesediaannya untuk melakukan suatu tindakan yang mungkin oleh pasien dianggap tidak masuk akal atau menggelikan. Vagus (X). saraf kranial III. Trigminus (V). Dasar Teori Pemeriksaaan nervus kranialis merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari: 1) Status mental. 6) Koordinasi dan gaya berjalan dan 7) Fungsi sensorik. Hipoglosus (XII). Vestibula koklearis (VIII).Saraf-saraf tersebut adalah Olfaktorius (I).II.VII.D. 5) Refleks. Troklearis (IV). Walaupun terdapat beragam prosedur diagnostik modern tetapi tidak ada yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terdapat 12 pasang saraf cranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka romawi. Glossofaringeus (IX). 2 . Saraf kranial V. IV.VII dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf otonom. saraf kranial III. abdusens (VI). 3) Fungsi saraf kranial. kegelisahan pasien harus dihilangkan dan pasien harus diberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan untuk dapat menegakan diagnosis.VII merupakan saraf sensorik murni. Agar pemeriksaan nervus kranialis dapat memberikan informasi yang diperlukan. XI dan XII merupakan saraf motorik tetapi juga mengandung serabut proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinnya.X merupakan saraf campuran. Pasien diminta untuk menjawab semua pertanyaan sejelas mungkin dan mengikuti semua petunjuk sebaik mungkin. 4) Fungsi motorik. Memberikan penjelasan mengenai lamanya pemeriksaan. Suatu anamnesis lengkap dan teliti ditambah dengan pemeriksaan fisik akan dapat mendiagnosis sekitar 80% kasus. Asesorius (XI). 2) Tingkat Kesadaran.

amonia) tidak dipakai karena akan merangsang N. Subjektif: Tanyakan adakah keluhan pasien dan bagaimana kemampuan menghidu menurut pasien sendiri? Contoh: “Apakah anda merasa mengalami gangguan penciuman/penghidu?” “Apakah hidung terasa tersumbat sehingga sulit mengenali bau?” Objektif: Menggunakan beberapa bahan yang biasanya sudah dikenal oleh penderita. Tembakau  Cara pemeriksaan: Pemeriksaan N. teh. Vanili d. Pemeriksaan N. 3 . biasanya bersifat aromatik dan tidak merangsang seperti: kopi. Bahan yang merangsang mukosa hidung (alkohol.I (Nervus Olfaktorius)  Persiapan: Pasien harus sadar dan kooperatif  Bahan: a.E.I dapat dilakukan secara subjektif dan objektif. vanili. Teknik Pemeriksaan: Persiapan sebelum pemeriksaan:  Mempersiapkan alat dan bahan  Memperkenalkan diri  Memberikan penjelasan kepada pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan  Menempatkan pasien pada tempat pemeriksaan & memberikan suasana nyaman dan rileks pada pasien  Meminta ijin melakukan pemeriksaan  Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan 1. Teh c. Kopi b.V. tembakau dan sebagainya (3 atau 4 macam).

Pemeriksaan N. tanyakan jenisnya. a. b.II (Nervus Optikus) *tidak dilakukan dalam praktikum ini Pemeriksaan nervus optikus meliputi: a. Penglihatan sentral (visual acuity) b. Amati kedua kelopak mata pasien. Tanyakan kepada pasien apakah ia menghidu sesuatu. Kenalkan setiap bau terlebih dahulu sebelum memulai pemeriksaan. f. minta pasien menutup matanya beberapa menit kemudian buka mata pasien dan nilai kembali. Tes warna 3. kiri atau kedua mata. bila ya. d. e. c. Periksa lubang hidung. Refleks pupil d. Pemeriksa dan pasien duduk berhadapan. c. eksoftalmus. 4 . bandingkan kanan dan kiri.III (Nervus Okulomotorius) Pemeriksaan nervus okulomotorius meliputi: Inspeksi : perhatikan sela mata pasien (apakah ada ptosis). Pemeriksaan fundus okuli e. Pemeriksaan N. b. d. Amati bila pasien menengadahkan kepala atau mengangkat alisnya untuk mempertahankan mata tetap terbuka. strabismus/ juling Ptosis: a. Kemudian lakukan prosedur yang sama pada lubang hidung yang lain. Bahan didekatkan satu persatu pada lubang hidung yang terbuka. Minta pasien untuk menutup kedua matanya dan menutup salah satu lubang hidung. Apabila pemeriksa mencurigai adanya ptosis pada mata kanan. 2. Penglihatan perifer (visual field) c. pastikan pasien tidak mengalami sumbatan atau kelainan pada rongga hidung (misalnya ingus atau polip) karena dapat mengurangi ketajaman penciuman.

d. IV : Gerakan bola mata ke arah medial bawah N. b. c. superior. Minta pasien untuk memfiksasi pandangan ke depan. Lakukan pengukuran sela mata dan ukuran pupil (bisa menggunakan penggaris). Lakukan prosedur yang sama pada mata yang lain. VI : Gerakan bola mata ke arah lateral a. Minta pasien untuk mengikuti pergerakan tangan pemeriksa. d. Gerakan bola mata (bersama-sama dengan N. Refleks cahaya: a. c. Tangan pemeriksa yang lain dapat digunakan untuk mengangkat kelopak mata atas pasien agar pupil lebih terlihat. inferior.Pemeriksaan Pupil Pemeriksaan pupil meliputi: (1) Bentuk dan ukuran pupil (2) Perbandingan pupil kanan dan kiri dan (3) Refleks pupil (refleks cahaya langsung.VI) N. refleks cahaya tidak langsung dan refleks pupil akomodatif atau konvergensi). b. Minta pasien untuk memfiksasi kepalanya sehingga hanya bola matanya saja yang bergerak. Inspeksi kedua pupil dan catat bentuk dan ukurannya. pemeriksa secara perlahan mendekatkan jarinya mendekati pasien ke titik antara kedua alis pasien. Bandingkan kanan dan kiri. Minta pasien untuk memfiksasi penglihatan pada jari anda yang berjarak 1 m di depan wajah pasien. Persiapkan pasien dalam posisi duduk. 5 . a. dan medial atas N. Amati reaksi pupil selama pemeriksaan konvergensi ini. b. Sinari salah satumata dari arah tepi (pasien tidak boleh melihat kearah sinar dan sumber cahaya harus cukup terang) c.IV dan N. Catat reaksi pupil baik langsung maupun tidak langsung. III : Gerakan bola mata ke arah medial. Refleks pupil akomodatif atau konvergensi: a. Tempatkan tangan diantara kedua mata. Persiapkan pasien dalam posisi duduk. Sambil memperhatikan ukuran pupil pasien. b.

Bila ya. Sewaktu pasien membuka mata. g. Tanyakan kepada pasien apakah ia merasakan adanya penglihatan ganda pada saat mengikuti gerakan jari f.c. kita tahan dengan jalan memegang / menekan ringan pada kelopak mata  nilai kekuatannya apakah sama kanan dan kiri 6 . Gambar 1. Pemeriksa mengangkat telunjuknya di depan mata pasien dan minta pasien untuk memfiksasi penglihatannya pada ujung jari pemeriksa dan untuk mengikuti pergerakan tangan pemeriksa. Pemeriksa menggerakkan tangannya membentuk huruf "H" atau 8 arah mata angin sambil memperhatikan gerakan bola mata pasien. Arah gerakan jari pemeriksa pada pemeriksaan gerakan bola mata Gambar 2. Gerakan normal bola mata Menilai musculus levator palpebra Pasien diminta memejamkan mata lalu membuka mata. d. tanyakan di arah mana saja. lalu tutup salah satu mata secara bergantian. Kembali periksa arah dimana pasien merasakan adanya penglihatan ganda. e.

c. Persiapkan pasien dalam posisi duduk atau berbaring.4. Kemudian dengan mata tertutup. tanyakan apakah pasien merasakan stimuli sentuhan yang diberikan dan minta ia mengidentifikasi letak stimuli. Minta pasien untuk membuka mulutnya dan perhatikan ada/tidaknya deviasi rahang (dapat dilihat dengan segarisnya pertengahan insisivus bawah dan atas)  m. Pemeriksaan awal pasien dengan mata terbuka sehingga ia dapat melihat stimulus apa yang akan ia identifikasi. d. e.V Penilaian sensasi wajah a. pterigoideus lateralis d. Bandingkan kanan dan kiri. Minta pasien untuk mendeviasikan rahang bawah ke kanan dan kiri dan melawan tahanan yang diberikan pemeriksa. b. perlu ditanyakan apakah ia merasakan adanya perbedaan sensasi dari setiap stimuli yang diberikan. f. Sentuh pasien di daerah wajah dengan kapas di beberapa tempat (daerah dahi. Pemeriksaan fungsi sensorik N. pterigoideus medialis). Perhatikan adanya penurunan fungsi sensoris yang ditandai dengan adanya perbedaan sensasi stimuli pada pasien. Walaupun pasien dapat menyebutkan seluruh letak stimuli dengan benar. Lakukan hal yang sama dengan rangsangan nyeri (tusuk gigi) dan suhu Refleks kornea a. Minta pasien untuk melihat lurus kedepan atau kontralateral dari arah pemeriksa (melirik ke sisi berlawanan dari tempat pemeriksaan). b. bandingkan kanan dan kiri. 7 . kemudian nilai kekuatan tonusnya. Minta pasien untuk menggigit spatel tongue lalu bandingkan bekas gigitan kanan dan kiri (m. Pemeriksaan N. e. Pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter pasien. c. pipi dan rahang bawah). Minta pasien untuk mengatupkan rahangnya sekuat mungkin.V (Nervus Trigeminus) Pemeriksaan nervus trigeminus meliputi: Pemeriksaan fungsi motorik (Penilaian otot temporal dan otot masseter) a.

5. Inspeksi : Perhatikan wajah pasien dalam keadaan istirahat. Lakukan pemeriksaan pada mata lainnya dan bandingkan hasilnya. Frontalis. Orbikularis oris) a.IX (pengecapan 1/3 belakang lidah): a. d. kemudian coba dibuka dengan tangan pemeriksa. Perhatikan adanya refleks mengedip dari pasien. lagoftalmus/tidak. rasakan tahanan kanan dan kiri sama atau tidak)  Memperlihatkan gigi-giginya/ tersenyum (perhatikan sudut nasolabial simetris/tidak)  Mencucu/bersiul (ada deviasi ujung bibir/tidak)  Menggembungkan pipi/ meniup sekuatnya (simetris/tidak. c. m. Pemeriksa memakai handscoon c. Pemeriksa menjelaskan kepada pasien untuk dapat menunjuk tulisan yang telah disediakan (manis/asam/asin/pahit) ketika diminta menyebutkan rasa. Minta pasien untuk menutup kedua matanya dan menjulurkan lidahnya. e. Pemeriksa membersihkan lidah pasien dengan kasa steril. b. Sentuh daerah limbus kornea menggunakan ujung kapas basah tanpa menyentuh bulu mata maupun konjungtiva. d. m. Pertama tanyakan kepada pasien secara subyektif adakah gangguan dalam pengecapannya. adakah udara yang keluar dari sudut mulut/tidak) Pemeriksaan fungsi sensorik khusus (pengecapan 2/3 depan lidah) Pemeriksaan ini dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan fungsi sensorik khusus N. Pemeriksaan N. Orbikularis oculi. b. Minta pasien untuk:  Mengangkat kedua alis (perhatikan kerutan di dahi simetris atau tidak)  Memejamkan kedua mata sekuat-kuatnya (simetris/tidak. nilai simetris/tidak.VII (Nervus Facialis) Pemeriksaan nervus facialis meliputi: Pemeriksaan fungsi motorik (m. b. Pasien dilarang menarik lidah / menelan rasa yang diteteskan 8 .

kesulitan menelan dan disartria. Pasien boleh meminum air putih pada jeda pemeriksaan sebelum mencoba bahan makanan lainnya. karena jika hal ini dilakukan maka bubuk/bahan akan tersebar ke bagian lainnya seperti sisi lidah lainnya atau ke bagian belakang atau depan lidah yang dipersarafi oleh saraf lain. Pemeriksaan N. Nilai apakah arkus pharingeus simetris atau tidak. f. asin yang disentuhkan pada masing-masing area perasa lidah.X (Nervus Vagus) Karena secara klinis pemeriksaan nervus glossopharyngeus dan nervus vagus sulit dipisahkan. a. atau dengan garputala 256 Hz yang digetarkan dekat stetoskop  Ditanyakan kepada pasien : Telinga kanan atau kiri sama atau salah satu lebih keras? 6. b. c. Minta pasien mengenali jenis bahan makanan tersebut dengan menunjuk tulisan yang telah disiapkan sebelumnya. Pasien tidak boleh menarik lidahnya ke dalam mulut. b. Minta pasien untuk membuka mulutnya dan nilai posisi arkus palatum. Tes Lakrimasi Tes Schimer : menggunakan kertas lakmus uk 5x50 mm  Salah satu ujung kertas dilipat & diselipkan pada conjungtival sac di dekat sudut mata medial kiri & kanan biarkan 5 menit dengan mata terpejam Refleks stapedius (stethoscope loudness imbalance test)  Pasang stetoskop pada telinga pasien lalu ketuk lembut diafragma stetoskop. Lanjutkan dengan pemeriksaan refleks muntah dengan lembut. 9 . Pemeriksaan N. Inspeksi palatum dan refleks muntah a. e.IX (Nervus Glossopharyngeus) dan N. maka biasanya dibicarakan bersama-sama. Minta pasien mengatakan "aa". asam. d.VIII (Nervus Vestibulokokhlearis) *Tidak dilakukan dalam praktikum ini 7. Tangan kiri pemeriksa memfiksasi lidah selanjutnya tangan kanan meneteskan perasa manis. Anamnesis meliputi riwayat tersedak/keselek (kelumpuhan palatum). Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spatula lidah.

Nilai kekuatan otot trapezius dan bandingkan kanan dan kiri. Tempatkan kedua tangan pemeriksa diatas bahu pasien dan coba untuk menurunkannya. e. Nilai apakah terdapat massa. Pemeriksaan N. sternokleidomastoideus. 8. nilai kekuatan otot sternocleidomastoideus kiri. d. b. Nilai bentuk dan kedudukan lidah di dalam rongga mulut. sementara tangan kiri pemeriksa meraba m. Minta pasien untuk membuka mulutnya. Dengan cara ini. b. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan minta pasien untuk menengok ke arah kanan. Pemeriksaan N.XII (Nervus Hypoglossus) Pemeriksaan lidah a. Tanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut setiap kali dilakukan. Penilaian otot trapezius a. pasien diminta menjulurkan lidah. atrofi ataupun tremor c. Minta pasien untuk mendorong tangan anda dengan menggerakkan kepala ke sisi kanan. 9. c. dan beri perasa pahit pada bagian dorsal lidah. Pemeriksaan sensorik Pemeriksaan sensibilitas 1/3 dorsal dari lidah. f. Pasien diminta menjawab rasa apa yang dirasakan (dengan lidah yang masih terjulur) dengan menunjuk tulisan berbagai macam rasa. Lakukan prosedur ini terhadap rahang kiri untuk menilai kekuatan ototsternocleidomastoideus kanan.XI (Nervus Accessorius) Penilaian otot sternocleidomastoideus a. kemerahan. Pemeriksa berada di belakang pasien. c. b. d. Letakkan tangan kanan pada rahang bawah kanan pasien. Minta pasien mengangkat kedua bahunya. 10 .

Midriasis adalah ketika pupil membesar kembali. Saat pupil anisokor pada 11 . bentuk (bundar. glaukoma sudut terbuka. Gambar 3. Minta pasien menjulurkan lidah. seperti pada tonic pupil dan paralisis n. ukuran pupil tidak sama kanan dan kiri. proses penuaan.III (Nervus Occulomotorius) Ptosis Ptosis terjadi pada palsy N. Nilai ada tidaknya atrofi (lidah terlihat licin) dan fasikulasi (gelombang pada otot-otot lidah). Pada pupil anisokor yang nyata pada pencahayaan terang. Pemeriksaan N. Saat diberikan rangsangan cahaya pupil mengalami konstriksi (miosis). Kelaianan ini dapat juga bersifat kongenital. dan pengguanaan kokain. deviasi ke arah kanan atau kiri. 2. dan gangguan saraf parasimpatik pada iris. meiosis. d.III. kesimetrisan kanan kiri. Horner’s syndrome (ptosis. Pupil yang berukuran lebih besar tidak dapat berkonstriksi dengan baik. termasuk penyakit pada rongga hidung. Nilai apakah lidah merapat kearah kanan atau kiri. Penyebab kelainan ini antara lain trauma tumpul pada mata. e. Ptosis Pemeriksaan refleks pupil Pemeriksaan meliputi ukuran. trauma kepala. Apakah lurus ditengah. g.okulomotorius. Pemeriksaan N. Analisis Hasil Pemeriksaan 1. f. akibat merokok.I (Nervus Olfactorius) Kehilangan kemampuan menghidu dapat disebabkan oleh beberapa hal. Normalnya ukuran pupil kanan dan kiri sama besar. Nilai bentuk dan posisi lidah saat dijulurkan. F. anhidrosis) dan miastenia gravis. tepi rata).

Obliquus inferior Midriasis pupil : akibat kelumpuhan saraf parasimpatis Gerakan bola mata Berikut ini adalah kelaianan posisi bola mata dan pergerakan mata: Gambar 5. m. Rektus medius/internus.cahaya yang redup. Pupil anisokor Pada pemeriksaan refleks pupil akomodatif atau konvergensi normalnya pupil mengecil (miosis). Normal : baik kelopak mata. Rektus superior. Rektus inferior. gerak bola mata maupun reflex pupil Gangguan N. Hal ini disebabkan oleh gangguan saraf simpatik. m. Gambar 4. seperti pada Horner’s syndrome. Levator palpebra  Paresis m. m. pupil yang lebih kecil tidak dapat berdilatasi dengan baik. Kelainan posisi bola mata (strabismus) 12 .III :  Ptosis : akibat lumpuhnya m.

Gambar 6. Penilaian sensasi wajah Penurunan atau kehilangan sensasi wajah unilateral menunjukkan adanya lesi N. Refleks kornea Pada pemeriksaan ini reaksi normal yang ditimbulkan adalah refleks berkedip. Refleks ini menghilang ada kerusakan atau lesi N. Adanya kelemahan bilateral disebabkan oleh gangguan perifer atau sentral.V (Nervus Trigeminus) Penilaian otot temporal dan otot masseter Kelemahan atau hilangnya kontraksi otot temporal dan masseter pada salah satu sisi dapat menunjukkan adanya lesi N V.VII juga dapat menyebabkan gangguan pada refleks ini. Kelainan gerakan bola mata 3. Lesi pada N.V. Pada pasien yang tidak memiliki gigi. Pemeriksaan motorik N.V atau jalur interkoneksi sensoris yang lebih tinggi. 13 . hasil pemeriksaan ini mungkin sulit dinilai.

VII tipe LMN (perifer) :  Kerutan dahi hilang pada sisi lesi  Tidak bisa menutup mata dengan sempurna (lagophtalmus)  mulut merot Sensorik khusus N.VII tipe UMN (sentral) :  Kerutan dahi normal  Menutup mata normal  Mulut merot Lesi N. Adanya gangguan pada kemampuan mengenali rasa disebabkan oleh lesi pada saraf tersebut atau pada taste bud yang berisi reseptor reseptor untuk fungsi pengecapan.VII. Interpretasi : Lesi N. Fungsi pengecapan lidah 14 . sedangkan lesi sentral hanya mempengaruhi otot wajah bagian bawah. Pemeriksaan N. sudut mulut sisi yang paralisis jatuh ke bawah saat pasien tersenyum atau meringis. Gambar 7. mempengaruhi otot wajah atas dan bawah sisi ipsilateral.4. seperti pada Bell’s palsy.IX pada 1/3 bagian belakang.VII : Penilaian kesimetrisan wajah Lipatan nasolabial yang mendatar dan kelopak mata yang jatuh kebawah menandakan adanya kelemahan fasial.VII dan N.IX Fungsi pengecapan dipersarafi oleh N VII pada 2/3 lidah bagian depan dan oleh N. Pada paralisis wajah unilateral.VII (Nervus Facialis) Motorik N. Cedera perifer N.

maka akan terdorong ke sisi yang sehat. perhatikan pula adanya tremor/fasikulasi ataupun atrofi papil. bahu terkulai dan skapula terjatuh kebawah dan lateral.VII di brain stem) 5. 15 . satu sisi palatum tidak dapat terangkat dan bersama-sama uvula tertarik ke arah sisi yang normal. Saat m.X : Inspeksi palatum Palatum tidak dapat naik pada lesi bilateral dari nervus vagus.XII : Pemeriksaan lidah Pada pasien dengan paralisis N XII. Pemeriksaan N. Interpretasi Tes Lakrimasi  Normal : air mata conjunctival sac membasahi lakmus (biru) sepanjang 20- 30 mm dlm waktu 5 mnt  < 20 mnt atau (-) : produksi berkurang  False + : Conjungtivitis Interpretasi Refleks Stapedius :  Normal : terdengar sama  Hiperakusis : bila suara ketukan terdengar lebih keras di sisi yang sakit (menandakan lesi di dekat tempat keluarnya n. Pemeriksaan N. 6. 7.trapezius mengalami paralisis. Pemeriksaan N. Interpretasi hasil perlu disebutkan apakah paralisis terjadi sentral atau perifer.XI : Penilaian otot sternocleidomastoideus dan otot trapezius Kelemahan yang disertai atrofi dan fasikulasi menunjukkan adanya gangguan saraf perifer. Pada pasien dengan posisi berbaring yang mengalami kelemahan otot strenokleidomastoideus bilateral akan mengalami kesulitan mengangkat kepalanya dari bantal.IX dan N. inspeksi dengan senter saat di dalam rongga mulut dapat terlihat lidah terdorong ke sisi yang sakit dan saat lidah dijulurkan. Pada kelumpuhan unilateral.

........ Menjelaskan kepada pasien hasil pemeriksaan yang telah dilakukan 16...... Pemeriksaan N... Mencuci tangan setelah melakukan pemeriksaan 15..........) 16 ... Pemeriksaan N...I (Nervus Olfaktorius) 5... Pemeriksaan N..V (Nervus Trigeminus) 8.XII (Nervus Hypoglosus) 14...........G. Pemeriksaan N.... Pemeriksaan N... NIM : ... Mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan 4..... Pemeriksaan N..VI (Nervus Abducent) 9........ Skor No.. Pemeriksaan N. Mempersiapkan alat dan bahan 3.............III (Nervus Occulomotorius) 6. menjelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan 2..........XI (Nervus Accessorius) 13..... Pemeriksaan N.... Aspek yang dinilai 0 1 2 1..IV (Nervus Trochlearis) 7.... Memberikan edukasi kepada pasien terkait hasil pemeriksaan yang telah dilakukan Keterangan: Instruktur 0: Tidak melakukan sama sekali 1: Melakukan dengan tidak sempurna 2: Melakukan dengan sempurna (seluruh tahapan dilakukan sesuai urutan) (............IX (Nervus Glossopharyngeus) 11............. Pemeriksaan N... Evaluasi Nama Mahasiswa : ..... Pemeriksaan N.................VII (Nervus Facialis) 10...X (Nervus Vagus) 12............. Memperkenalkan diri.....

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sensasi getar C. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sensasi nyeri c. Pemeriksaan sensasi nyeri: Tusuk gigi/jarum biasa/peniti/jarum pentul atau jarum yang terdapat pada pangkal palu refleks (simulator listrik atau panas tidak dianjurkan). 2. 2. Pemeriksaan sensasi raba halus (taktil) Kuas halus/cotton bud/tissue atau apabila terpaksa dapat menggunakan ujung jari tangan yang disentuhkan ke kulit secara halus sekali. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan rasa posisi (propioseptif) e. Universal Precaution D. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sensasi suhu d. Informed Consent 3. Tingkat Keterampilan : 4A B. PEMERIKSAAN SISTEM SENSORIK A. Alat dan Bahan 1. Tujuan Instruksional Khusus: a. Komunikasi Efektif 2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sensasi raba halus (taktil) b. 17 . Keterampilan yang Terkait: 1. Tujuan Instruksional Umum: Setelah melakukan pelatihan ketrampilan klinik Pemeriksaan Sistem Sensorik mahasiswa mampu melaksanakan Pemeriksaan Sistem Sensorik dan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan normal.Materi II. Tujuan Pembelajaran : 1.

2. Pemeriksaan sensasi getar Memakai garputala yang mempunyai frekuensi 128 Hz (tidak ada literatur khusus yang mengatakan bahwa harus menggunakan garputala frekuansi tertentu. f. GCS 15 1. Air dingin dengan suhu 5-10oC dan air panas dengan suhu 45-50oC (suhu kurang dari 5oC dan lebih dari 50oC akan menimbulkan rasa nyeri) 4. Minta pasien menjawab dengan tegas terasa atau tidak. e. Teknik Pemeriksaan Syarat pemeriksaan sensibilitas: pasien kesadaran composmentis. Pasien dalam keadaan berbaring dengan mata tertutup. 3. E. gunakan kuas halus/ujung cotton bud/tissue atau apabila terpaksa dapat menggunakan ujung jari tangan yang disentuhkan ke kulit secara halus sekali. Minta pasien untuk menyebutkan bila pasien merasakan sensasi yang berbeda saat disentuh. jangan di tekan. Pasien dalam keadaan berbaring dengan mata tertutup. Sentuhkan kapas/cotton bud per dermatomal dan bandingkan antara bagian yang mengalami kelainan dengan yang normal untuk mendapatkan batas yang jelas. Selalu sentuh pasien dengan sentuhan ringan. d. c. Pemeriksaan sesasi raba halus (taktil) a. b. Pemeriksaan sensasi suhu: a. Tabung untuk tempat air dingin dan air panas (Lebih dipilih tabung metal daripada tabung gelas karena bahan gelas merupakan konduktor yang buruk). Untuk pemeriksaan ini. 18 . Minta pasien mengatakan “ya” setiap kali pasien merasakan kontak. Pemeriksaan rasa posisi (propioseptif) : - 5. namun frekuensi 128 Hz dapat menghasilkan getaran lebih lama). Pemeriksaan sensasi nyeri a. b.

jangan sampai menimbulkan perlukaan. prosesus stiloideus radius dan ulna atau klavikula. Pemeriksaan rasa posisi (propioseptif) a. Pasien dalam keadaan berbaring dengan mata tertutup. Biarkan pasien merasakan perbedaan rangsangan suhu yang diberikan pada area dimana pemeriksa yakin tidak terdapat defisit sensorik. c. f. Sentuhkan tusuk gigi/jarum per dermatomal dan bandingkan antara bagian yang mengalami kelainan dengan yang normal untuk mendapatkan batas yang jelas. Catat bagian tubuh mana saja yang mengalami gangguan dalam membedakan rangsangan suhu. b. b. tuberositas tibiae. 4. lalu tempelkan pangkal garputala pada bagian-bagian tulang yang menonjol seperti malleolus. Pasien dalam keadaan berbaring dengan mata tertutup. c. Lakukan juga prosedur ini pada ekstremitas atas. Sentuhkan tabung berisi air panas atau dingin secara bergantian per dermatomal dan bandingkan antara bagian yang mengalami kelainan dengan yang normal untuk mendapatkan batas yang jelas. b. SIAS. 3. Pasien dalam keadaan berbaring dengan mata tertutup. d. Getarkan garputala. Minta pasien menjawab dengan tegas apakah panas atau dingin f. Tekan pada kulit pasien seminimal mungkin. Pemeriksa terlebih dahulu mencoba tusuk gigi/jarum terhadap dirinya sendiri. b. e. siapkan dua buah tabung reaksi yang berisi air dingin dan air panas. Lakukan minimal 3 tempat: Ibu jari 19 . Pegang jempol kaki pasien diantara jempol dan jari telunjuk pemeriksa. e. Minta pasien menjawab dengan tegas apakah terasa nyeri atau tidak. Pada pemeriksaan ini. d. c. sternum. Pemeriksaan sensasi suhu a. Lakukan pula pemeriksaan getar dan posisi dua tempat (two point discrimination). Pastikan bahwa pemeriksa tidak menyentuh jari pasien yang lainnya. 5. Gerakkan jempol kaki pasien dan tanyakan bila pasien merasakan gerakan tersebut dan menyebutkan arahnya (atas atau bawah) e. Pemeriksaan sensasi getar a. d.

Yang lebih penting adalah kemampuan pasien untuk merasakan getaran ketika garpu tala hampir berhenti bergetar. tibia. lesi saraf tepi maupun lesi pada saraf sentral. processus stiloideus radius/ulna dan sendi-sendi jari. 2. kaki. pemeriksa dapat mengetahui adanya kelainan mononeuropathy. spina iliaca anterior superior. Beberapa istilah sehubungan dengan gangguan sensasi nyeri superficial: Hipoalgesia menunjukan sensitifitas yang menurun. Analisis Hasil Pemeriksaan 1. 20 . Kondisi yang melibatkan korda spinalis dapat menyebabkan gangguan pada salah satu fungsi tersebut. dikatakan normal apabila pasien merasakan getaran maksimal. Hilangnya rasa getar disebut palanestesia. Pada pemeriksaan sensasi getar. 3. Berdasarkan lokasi gangguan fungsi sensoris. sternun. meleolus lateralis/medialis. Alganestesia dan analgesia dipergunakan untuk menunjukan daerah yang tidak sensitive terhadap rangsangan nyeri. 7. sacrum. Hiperalgesia menunjukan sensitifitas yang meningkat. 4. Perubahan sensibilitas suhu dikenal dengan istilah termanesia. Apabila pasien dirangsang dingin atau panas keduanya dijawab hangat atau panas maka keadaan ini disebut: isotermognosia. 6. Tanyakan apakah pasien merasakan getaran dari garputala tadi. pemeriksa dapat memperkirakan kemungkinan letak lesi. c. Dengan menandai area yang mengalami defisit neurologis. misanya fungsi sensoris spinothalamikus yang intak namun ada defisit dari fungsi sensoris kolumna dorsalis. 5. klavikula. F. Penilaian sensasi raba dan posisi (propioseptif) merupakan penilaian fungsi sensoris kolumna dorsalis sehingga kelainan pada pemeriksaan ini merupakan tanda adanya gangguan pada fungsi sensoris kolumna dorsalis. Penilaian sensasi nyeri dan suhu merupakan penilaian fungsi sensoris spinothalamikus sehingga kelainan pada pemeriksaan ini merupakan tanda adanya gangguan pada fungsi sensoris spinothalamiskus. termhipestasia dan termhiperestesia baik terhadap rangsang dingin atau panas. 8. processus spinosus vertebrae. polineuropathy.

........ NIM : .... Melakukan pemeriksaan sensasi getar 9.....................) 21 .............. Melakukan pemeriksaan sensasi nyeri 6.... Mencuci tangan setelah melakukan pemeriksaan 10..... Skor No........ Melakukan pemeriksaan rasa posisi (propioseptif) 8........G........ Mempersiapkan alat dan bahan 3.. Melakukan pemeriksaan sensasi suhu 7.................................. Aspek yang dinilai 0 1 2 1.. Menjelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan 2............... Evaluasi Nama Mahasiswa : ..... Melakukan pemeriksaan sensasi raba halus 5....................... Memberikan edukasi kepada pasien terkait hasil pemeriksaan yang telah dilakukan Keterangan: Instruktur 0: Tidak melakukan sama sekali 1: Melakukan dengan tidak sempurna 2: Melakukan dengan sempurna (seluruh tahapan dilakukan sesuai urutan) (... Mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan 4.... Menjelaskan kepada pasien hasil pemeriksaan yang telah dilakukan 11.....

beberapa lemnici dan lintasan cerebellar. Formatio reticularis mengisi tempat-tempat di tegmentum yang tidak diisi serabut panjang dan nuclei.Materi III.Tegmentum terletak antara tectum dan basis. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan refleks pupil b. pons dan mesencephalon dan secara longitudinal terdiri atas tectum. Tingkat Keterampilan: 4A B. tegmentum dan basis. Anatomi Batang otak (truncus encephali) secara transversal terdiri atas tiga bagian yaitu medulla oblongata. 2. Tujuan Instruksional Khusus: a. Tectum terdiri atas corpora quadrigemina di mesencephalon dan vellum medularis di pons dan medulla oblongata. Dasar Teori 1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan refleks gag C. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan refleks kornea c. (2) nuclei nervi craniales dan (3) nuclei motorik tambahan yaitu substantia nigra dan nucleus ruber di mesencephalon. PEMERIKSAAN REFLEKS BATANG OTAK A. 22 . Basis terletak di anterior dan ditempati oleh tractus pyramidalis dan tractus corticopontines. disini ditempati oleh (1) serabut panjang yaitu Fasciculus longitudinalis medialis. Tujuan Instruksional Umum: Setelah melakukan pelatihan ketrampilan klinik Pemeriksaan Refleks Batang Otak mahasiswa mampu melaksanakan Pemeriksaan Refleks Batang Otak dan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan normal. nuclei pontis di pons dan nucleus olivarius inferior di medulla oblongata. Tujuan Pembelajaran: 1.

N. FLM di ke lateral) gravitasi pons dan mesencephalon. VII III Nucleus Nucleus solitarius _ _ _ AVU IX. Reticularis For. N.V Nucleus For. orbicularis oculi reflex) lateral Oculo-cephalic Kepala Gerak bola Tak ada Canalis semi digelengkan (rotasi mata anti gerakan circularis. / hangat N.V Phalicus N. FLM di dengan 50 cc air es pons dan mesencephalon. X Nucleus Nucleus Nucleus di cornu Nucleus Principalis Nucleus Mesence- Tractusspinalis ASU posterior N. Medulla spinalis Medulla Struktur Pons Mesencephalon cervicalisatas oblongata Nucleusoculomotor Nucleus Nucleus motoricus Nucleus Nucleusabduscens ius ESU anterior Hypoglossus Nucleustrochlearis Nucleus Nucleus facialis Nucleus Nucleus ambiguus accessories Nucleus _ EVK (IX.IV & n. Reflex-reflex batang otak antara lain: Hasil pada Reflex Perlakuan Observasi Struktur MBO Pupil/ cahaya Pupil disinari Myosis Reaksi pupil Retina.VIII.N. Pons (Blinking dengan kapas dari dan m. III.VI Otot penggerak bola mata Oro-pharyngeal Menyentuh Muntah atau Tidak IN.N.VIII.R. Nucleus Salivarius _ parasympathicus n. III.V. N. N. N II.VII.X.X.VI Otot penggerak bola mata Oculovestibuler Irigasi Meatus nystagmus Tak ada Canalis semi (Caloric test ) acusticus externus nystagmus circularis. reflex ) sphincter pupilae Cornea Menyentuh cornea Kedip Tidak kedip Cornea. N III. Nucleus ruber Motoric _ Nucleus Olivarius Nuclei pontines Substantia nigra tambahan inferior Penggunaan test reflex batang otak bila dicurigai ada lesi di batang otak atau untuk menentukan apakah penderita mengalami Mati Batang Otak atau tidak. N. (Pupillary light (-) mesencephalon dan m.IX.IV & n. EVU vagi superior n.IX. V N. Nucleus Nucleus solitarius _ _ _ AVK VII. Reticularis F. N. X) spinalis trigeminalis Nucleus Nucleus Nucleus dorsalis n. Medulla (Muntah/ GAG oropharynx atau batuk muntah atau oblongata danbatuk) menggerakkan batuk endo tracheal tube (pada penderita ) 23 .

Rangsang cahaya menyebabkan rasa tidak nyaman khususnya bila penderita photophobia. Tekhnik Pemeriksaan: 1. Miosis direk pada mata yang dirangsang sinar disebut reflex cahaya direk. Bila memakai cotton bud bahaya tercolok bila memeriksa penderita demensia atau dengan penurunan kesadaran. cuci tangan dan tulis apa yang ditemukan dalam lembar laporan (rekam medik) yaitu pupil isokor/ tidak. Pemeriksaan Refleks Kornea  Alat yang digunakan: kapas yang ujungnya ditipiskan. reflex cahaya positif atau tidak untuk masing-masing mata.  Periksa di ruang dengan penerangan ruangan. a. memberi salam dan menerangkan tata cara yang akan dilakukan yaitu “Saya akan menyentuh bola mata saudara secara lembut“.D. Bila perlu kelopak mata ditahan agar tidak merangsang bulu mata. b.  Sinari pupil dari lateral pada kedua mata secara bergantian serta perhatikan apakah kedua pupil segera konstriksi (miosis) akibat penyinaran satu sisi. b.  Bila telah selesai melakukan semua pemeriksaan ucapkan terima kasih pada penderita. Pemeriksaan Refleks Pupil  Alat yang digunakan: lampu senter  Cuci tangan sebelum memeriksa penderita. Merangsang penderita melihat senter sehingga terjadi reflex akomodasi.  Jangan menyinari langsung dari depan mata penderita dengan alasan a. Miosis konsensual pada mata yang tidak disinari langsung disebut reflex cahaya konsensual/ indirek. 2. diameter berapa mm. jangan di cahaya matahari langsung dan penderita diminta melihat jauh agar tidak terjadi myosis karena reflex akomodasi. memberi salam dan menerangkan tata cara yang akan dilakukan.  Cuci tangan sebelum memeriksa penderita.  Sentuhkan kapas yang ditipiskan dari lateral pada bagian lateral kornea/ limbus kornea (bukan sclera) dengan posisi bola mata adduksi (melirik ke nasal) dan 24 . retardasi mental dan demensia.

3. Pemeriksaan Refleks Gag  Alat yang digunakan: Spatula lidah  Cuci tangan sebelum memeriksa penderita. sebagai reaksi terjadi kedip. kemudian disuruh berkata “aaa” perhatikan apakah arcus palatoglossus dan palatopharynx simetris dan terangkat apa tidak kemudian lanjutkan dengan pemeriksaan reflex gag yaitu dengan menyentuhkan spatula lidah pada arcus palatoglossus atau arcus palatopharynx kanan dan kiri  Bila tidak ada keluhan dysartria atau dysphagia sebaiknya pemeriksaan reflex gag tidak dilakukan karena tidak nyaman. Perkecualian pada penderita paska operasi katarak.  Penderita disuruh membuka mulut.  Bila telah selesai melakukan semua pemeriksaan ucapkan terima kasih pada penderita. cuci tangan dan tulis apa yang ditemukan dalam lembar laporan (rekam medik).  Bila telah selesai melakukan semua pemeriksaan ucapkan terima kasih pada penderita. 25 . reflex ini tidak muncul. Bila memakai lensa kontak diminta melepas lebih dahulu. dan seperti reflex superficial lainnya (reflex abdominal dan cremaster). cuci tangan dan tulis apa yang ditemukan dalam lembar laporan (rekam medik ). Kapas disentuhkan dari lateral agar tidak masuk dalam lapangan pandang karena dapat terjadi reflex menghindar (Visually mediated flinch)  Pada penderita normal biasanya positif. memberi salam dan menerangkan tata cara yang akan dilakukan. begitu juga pada kelainan Upper Motor Neuron akut.

............ NIM : ....................... Evaluasi Nama Mahasiswa : .......... Melakukan pemeriksaan gag sesuai prosedur 11 Melaporkan hasil pemeriksaan kepada penderita dan mencatatdalam rekam mediss Keterangan: Instruktur 0: Tidak melakukan sama sekali 1: Melakukan dengan tidak sempurna 2: Melakukan dengan sempurna (seluruh tahapan dilakukan sesuai urutan) (........................ Skor No Aspek yang dinilai 0 1 2 MELAKUKAN PERSIAPAN 1 Memberikan penjelasan kepada penderita/keluarga penderita tentang pemeriksaan & pentingnya pemeriksaan yang akan dilakukan 2 Menempatkan penderita pada tempat pemeriksaan & memberikan suasana nyaman dan rileks pada penderita 3 Mencuci tangan dan proteksi diri sebelum melakukan pemeriksaan MELAKUKAN PEMERIKSAAN REFLEX PUPIL 4 Melakukan pemeriksaan refleks pupil terhadap cahaya langsung (direk) 5 Melakukan pemeriksaan refleks pupil terhadap cahaya tidak langsung (konsensual) 6 Memeriksa dengan arah cahaya dari lateral mata MELAKUKAN PEMERIKSAAN REFLEX KORNEA 7 Mempersiapkan alat berupa kapas dengan ujung di pipihkan/ di pilin 8 Menyentuhkan ujung kapas pada lateral kornea dengan posisi mata melirik ke nasal (adduksi) MELAKUKAN PEMERIKSAAN REFLEX GAG 9 Mempersiapkan alat berupa spatula lidah 10......................................................) 26 ...........................E............

2. menerima serabut aferen dari tractus spinocerebellaris dan berfungsi untuk mempertahankan gait. Keterampilan yang Terkait 1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan dystaxia lengan c. Mahasiswa mampu melakukan overshooting test d. di posterior tuncus encephali. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan hypotonia C. Anatomi Cerebellum Cerebellum terletak di fossa cranii posterior/infratentorial. PEMERIKSAAN FUNGSI CEREBELLUM A. Cerebellum terdiri atas dua hemispherium cerebelli kanan dan kiri serta vermis dibagian tengah. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan ataxia/dystaxia b. Tingkat Keterampilan: 4A B. Tujuan Pembelajaran: 1. Tujuan Instruksional Khusus: a. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan dystaxia tungkai e. Universal Precaution D. Komunikasi Efektif 2. Secara philogenetik terdiri atas:  Lobus anterior (paleocerebellum). Dasar Teori 1. Informed Consent 3.Materi IV. 27 . Tujuan Instruksional Umum: Setelah melakukan pelatihan ketrampilan klinik Pemeriksaan Fungsi Cerebellum mahasiswa mampu melaksanakan Pemeriksaan Fungsi Cerebellum dan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan normal.

2. Tanda Disfungsi Cerebellum a. Gangguan bicara ( dysarthria ) berupa bicara lamban. Tremor berupa tremor ketika extremitas mendekati objek disebut intentional tremor (end-point tremor/ kinetic tremor ) dan tremor ketika mempertahankan posisi tubuh atau kepala disebut tremor postural ( positional / statIc tremor ) c. Gangguan koordinasi gerak volunter berupa ataxia ( dystaxia /dyssynergia) b.  Lobus posterior (neocerebellum). gagap meletup d. menerima serabut aferen dan memproyeksikan serabut eferen dari dan ke cortex motoric. ataksik. menerima serabut aferen dari systema vestibularis sehingga berfungsi mengatur keseimbangan. Nucleus globosus dan Nucleus fastigii. Nystagmus dan deviasi mata e. (4) Tractus olivocerebellaris melalui Pedunculus cerebellaris inferior ke semua lobus dan (5) Semua aferen memberikan kolateral ke nuclei cerebelli. Nucleus emboliformis. Asthenia 28 . Di dalam lapisan Purkinye terdapat sel Purkinye dengan axon keluar dari cortex cerebelli menuju nuclei profundal cerebelli dan nuclei vestibulares. stratum purkinje dan lapisan granulosum. Afferen: berasal dari (1) Tractus spinocerebellaris lewat pedunculus superior dan inferior ke lobus anterior.Di dalam substantia alba cerebellum terdapat empat nuclei cerebelli yaitu Nucleus dentatus. Cortex cerebellum terdiri atas tiga lapis dari luar ke dalam yaitu stratum moleculare. Efferen: Semua axon eferen berasal dari sel Purkinje yang selanjutnya menujunuclei cerebelli dan diteruskan ke truncus encephali atau nuclei vestibulares. Hypotonia f. (2) Tractus corticopontocerebellaris melalui pedunculus medius ke lobus posterior.  Lobus flocculonodularis (archicerebellum). Selanjutnya dari sini ada lintasan balik ke cortex cerebri dan thalamus atau ke medulla spinalis untuk mempengaruhi pengaturan motorik. nuclei basales dan nuclei vestibulares sehingga berfungsi mengatur tonus postural dan keterampilan motorik. (3) Tractus vestibulocerebellaris melalui Pedunculus cerebellaris inferior ke lobus flocculonodularis.

Perhatikan apakah tremor bertambah (intention type of kinetic tremor/ terminal tremor/ end-point tremor) dan meleset tidak ke ujung hidung ( dysmetria )  Penderita disuruh menunjuk hidung penderita kemudian ke telunjuk pemeriksa yang berpindah-pindah. Tandem walking Penderita disuruh berjalan pada garis lurus dengan tumit bertemu ujung jari 2. Pemeriksaan ataxia/dystaxia Observasi: Penderita bergoyang bila berdiri dan untuk mengkompensasi penderita berdiri dengan Broad-base stance atau berjalan dengan broad –base gait Test: a. kemudian mendekatkan telunjuk ke hidung dengan posisi lengan horizontal. b. dilakukan tes telunjuk hidung. Dysdiadochokinesia. Kerusakan struktur di linea mediana (vermis) akan memberikan tanda truncal ataxia sedang gangguan pada hemispherium cerebelli memberikan tanda pada sisi ipsilateral. Tremor postural dan tremor sewaktu test telunjuk hidung  Penderita diminta meluruskan lengan dan perhatikan adanya tremor (tremor postural/tremor posisional). Romberg’s test: Penderita diminta melepas alas kaki. b. Teknik Pemeriksaan 1. Pemeriksaan dystaxia lengan a. Penderita disuruh berdiri dengan tumit rapat mula-mula dengan mata terbuka kemudian dengan menutup mata dan dijaga jangan sampai jatuh. merupakan dystaxia-dysmetria untuk gerak cepat bergantian 29 . Bila tubuh bergoyang atau jatuh dengan membuka mata / menutup mata berarti cerebellar ataxia Bila tubuh bergoyang atau jatuh hanya bila sewaktu menutup mata maka berarti proprioceptive ataxia. penderita tidak dapat tepat sasaran (tidak sampai atau keterusan ) c. E. Dysmetria.

telunjuk mengetuk. lengan yang abnormal akan kadang lebih cepat kadang melambat dibanding yang normal  Tes menepuk paha (thigh patting test) Pemeriksa memberi contoh ke penderita menepuk paha sendiri dengan telapak bergantian dengan punggung tangan secara cepat dan ritmis perhatikan suara ritme yang terdengar jelas. Pemeriksaan dystaxia tungkai a. 30 . Arm pulling test Penderita disuruh memflexikan lengan bawah. kemudian minta penderita menirukan.  Fingger tapping test Penderita memegang kaset dengan ibu jari dan jari tengah. 3. kemudian disuruh menggerakkan tumit tepat pada margo anterior tibiae dan perhatikan ketepatan geraknya. Overshooting Test Prinsip penderita sulit mempertahankan posisi atau postur bila tahanan yang diberikan tiba-tiba ditiadakan a. Penderita sulit mempertahankan ke posisi semula (“kebablasen”) 4. Wrist-tapping test Penderita disuruh meluruskan kedua lengan kedepan dengan menutup mata.  Tes pronasi dan supinasi Penderita meluruskan lengan dan disuruh pronasi-supinasi. bandingkan suara ritme kanan dan diri. Pemeriksa berkata saya akan menekan tangan anda dan tahan. pemeriksa menarik lengan penderita dan tiba-tiba melepas tarikan. Penderita disuruh meletakkan tumit pada lutut dan observasi bila ada tremor. Pemeriksa menekan tangan dan tiba-tiba melepaskan. Heel to sheen test ( tes tumit lutut ) Penderita berbaring atau duduk. Pada lengan penderita akan terjadi gerak osilasi (rebound phenomenon) b.

Pemeriksaan hypotonia Tonus otot adalah tahanan otot yang dirasakan pemeriksa sewaktu menggerakkan extremitas penderita pada kondisi istirahat/ relax.  Pemeriksaan reflex patella (quadriceps femoris) akan terjadi gerak pendulans 31 . Heel tapping test Penderita diminta meletakkan tumitnya pada satu titik tertentu di atas margo anterior tibiae dan disuruh mengetuk secepat mungkin. Inspeksi :  Penderita istirahat terlihat floppy posture atau rag doll posture  Penderita berjalan tampak lunglai (floppy) sendi seakan kendor. Pemeriksa memperhatikan ketepatan tempat ketukan (dysmetria) dan kesamaan ritme (dysdiadochokinesia) 5. b.

................ kemudian mendekatkan telunjuk ke hidung dengan posisi lengan horizontal perhatikan apakah tremor bertambah (intention type of kinetic tremor/ terminal tremor/ end-point tremor) dan meleset tidak ke ujung hidung ( dysmetria ) 11 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar TES TELUNJUK HIDUNG 12 Meminta penderita menunjuk hidung penderita sendiri kemudian ke telunjuk pemeriksa yang berpindah-pindah.. Perhatikan ketepatan gerakannya........................F........ 9 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan Tandem Walking dengan benar TES DISTAXIA LENGAN 10 Meminta penderita meluruskan lengan dan perhatikan adanya tremor (tremor postural/ tremor posisional)... Evaluasi Nama Mahasiswa : .............. Skor No Aspek yang dinilai 0 1 2 1 Memberi penjelasan tentang tujuan dan prosedur pemeriksaan kepada penderita dengan benar dan jelas... 5 Memperhatikan adakah sikap berdiri yang terhuyung-huyung atau cenderung jatuh ke salah satu sisi 6 Mengulangi prosedur dengan mata tertutup 7 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan Tes Romberg dengan benar PEMERIKSAAN TANDEM WALKING 8 Memerintahkan penderita berjalan pelan dengan ibu jari kaki yang satu berada di belakang tumit kaki satunya secara bergantian................... 2 Memberikan instruksi-instruksi pemeriksaan kepada penderita dengan jelas..... PEMERKSAAN DISDIADOKINESIA 32 ...... 3 Mencuci tangan sebelum pemeriksaan dimulai dan melepas alas kaki TES ROMBERG 4 Meminta penderita berdiri dengan sikap kedua tumit bertemu........ NIM : ...

kemudian jari telunjuk mengetuk. kemudian disuruh menggerakkan tumit tepat pada margo anterior tibiae dan perhatikan ketepatan geraknya. Memperhatikan apa yang terjadi 24 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar HEEL TO SHEEN TEST ( TES TUMIT LUTUT ) 25 Penderita berbaring atau duduk. Pemeriksa meminta penderita meletakkan tumit pada lutut dan observasi bila ada tremor. pemeriksa menarik lengan penderita dan tiba-tiba melepas tarikan. Pemeriksa berkata “saya akan menekan tangan anda dan tahan”. 17 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar FINGER TAPPING TEST 18 Meminta penderita untuk memegang kaset/ benda dengan ibu jari dan jari tengah. 26 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar HEEL TAPPING TEST 27 Penderita diminta meletakkan tumitnya pada satu titik tertentu di 33 . kemudian memperhatikan suara dan ritme yang terdengar. Bandingkan suara ritme kanan dan diri.13 Meminta penderita meluruskan kedua tangannya ke depan 14 Meminta penderita mensupinasi dan pronasi tangannya secara bergantian dan cepat 15 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan Disdiadokokinesia dengan benar TES MENEPUK PAHA (THIGH PATTING TEST) 16 Meminta penderita menepuk paha sendiri dengan telapak bergantian dengan punggung tangan secara cepat dan ritmis. 19 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar WRIST-TAPPING TEST 20 Meminta penderita meluruskan kedua lengan ke depan dengan menutup mata. 21 Memperhatikan apakah pada lengan penderita terjadi gerak osilasi (rebound phenomenon) 22 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar ARM PULLING TEST 23 Meminta penderita memflexikan lengan bawah. Pemeriksa menekan tangan penderita dan tiba-tiba melepaskan.

................................. Pemeriksa memperhatikan ketepatan tempat ketukan (dysmetria) dan kesamaan ritme (dysdiadochokinesia) 28 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar TES HYPOTONIA 29 Melakukan inspeksi tonus otot pada keadaan istirahat dan berjalan 30 Melakukan pemeriksaan reflex patella 31 Menyimpulkan dan melaporkan hasil pemeriksaan dengan benar Total Keterangan: Instruktur 0: Tidak melakukan sama sekali 1: Melakukan dengan tidak sempurna 2: Melakukan dengan sempurna (seluruh tahapan dilakukan sesuai urutan) (.....) 34 ..... atas margo anterior tibiae dan disuruh mengetuk secepat mungkin................

Sklera di daerah perifer kadang – kadang berwarna agak kekuningan. PEMERIKSAAN INDERA PENGLIHATAN A. 2. Kelenjar ini mensekresikan material sebaceous yang membasahi mata. yaitu n. oculomotorius dan system saraf simpatis. b.Materi V. tetapi tidak menutupi pupil. Selain kornea. Tujuan Instruksional Khusus: a. Pada orang kulit berwarna kadang terdapat beberapa bercak coklat. konjungtiva beserta pembuluh darahnya melapisi sklera 35 . Tingkat Keterampilan: 4A B. Tujuan Instruksional Umum: Setelah melakukan latihan ketrampilan klinik Pemeriksaan Indera Penglihatan mahasiswa mampu melaksanakan Pemeriksaan Indera Penglihatandan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan normal. C. Di dalam tiap tarsus terdapat barisan kelenjar Meibom yang bermuara di dekat tepi posterior kelopak mata. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Dasar Teori 1. Daerah yang terbuka di antara kelopak atas dan kelopak bawah disebut fisura palpebra. bagian dari bola mata yang tampak dari depan dilapisi konjungtiva. Pada tepi kornea (limbus). Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan lapang pandang secara konfrontasi. yang harus dibedakan dengan warna kuning ikterus. Tujuan Pembelajaran: 1. Perhatikan bahwa kelopak mata atas biasanya menutupi sebagian (kurang lebih 2 mm) dari iris. Anatomi Kelopak mata diberi bentuk oleh suatu pita jaringan pengikat yang tipis dan disebut tarsus. Otot levator palpebra yang bertugas mengangkat kelopak mata atau inervasi oleh dua macam syaraf.

36 . Tekanan bola mata sebagian besar dipengaruhi oleh aliran humor akuos ini. humos akuous. Air mata akan disebarkan ke seluruh permukaan bola mata dan keluar melalui dua buah lubang kecil disebut puncta lakrimalis. 3. Retina di sekitar titik disebut macula. Humor akuos diproduksi korpus siliaris. Pada chiasma serabut nasal atau medial akan saling bersilangan. yaitu fovea sentralis yang merupakan titik pusat penglihatan. Sebagai respon atas rangsangan ini. impuls saraf akan berjalan lewat retina. nervus opticus. kemudian masuk ke suatu kantong (sacus lakrimalis). mengalir dari kamera oculi posterior ke kamera oculi anterior melalui pupil dan kemudian keluar melalui kanalis Schlemm. dan mengalir ke hidung melalui kanalis sakrolakrimalis. Lintasan visual Agar terjadi bayangan yang jelas. (4) Pemeriksaan segmen anterior. dengan longgar dan disebut konjungtiva bulbi.Bayangan yang terbentuk adalah terbalik. lalu difokuskan pada retina. di sebelah atas dan lateral bola mata. Suatu cairan jernih yang disebut humour akuos mengisi kamera oculi anterior dan kamera oculi posterior. Kelenjar air mata terletak di dalam tulang orbita. Nervus opticus bersama dengan pembuluh darah retina masuk bola mata di sebelah medial titik tersebut. permukaan retina mengalami cekungan kecil. 2. Pada polus posterior mata. (3) Pemeriksaan lapang pandang. Kornea dan konjungtiva dibasahi oleh sekresi kelenjar air mata dan dari konjungtiva sendiri. lensa dan vitreus. Cara Pemeriksaan Mata Secara sistematis urutan pemeriksaan mata adalah sebagai berikut: (1)Tajam penglihatan (visus). sinar yang dipantulkan oleh suatu objek harus melewati kornea. Pada praktikum ini hanya dilakukan pemeriksaan visus dan pemeriksaan lapang pandang. Ke atas dan ke bawah konjungtiva bulbi membentuk cekungan yang kemudian melipat ke depan menyatu dengan jaringan pada kelopak mata (konjungtiva palpebra). kemudian ke korteks visualis di lobus oksipitalis. (2) Pemeriksaan otot ekstraokuler. (5) Pemeriksaan segmen posterior.

Optotype snellen dan "E" test chart 37 . 300 m dan tidak terhingga jauhnya. digunakan objek hitungan jari tangan. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus) Visus seseorangditentukan dengan cara membandingkan ketajaman orang tersebut dengan orang normal. Masing-masing tanda tersebut dapat dilihat mata normal pada jarak 60 m.4. Sebagai contoh: huruf terkecil yang masih bisa terbaca jelas adalah pada 10 meter. Untuk pasien yang visusnya sangat buruk. Pada pinggir tiap baris ada kode angka yang menunjukan berapa meter huruf sebesar itu oleh mata normal masih bisa dibaca. Alatini digunakan pada jarak 6 meter dari pasien. Alat yang dipakai untuk memeriksa visus adalah Optotype Snellen. lambaian tangan dan berkas cahaya. maka visus pasien itu adalah 6/10 (artinya pasien tersebut membaca huruf dengan jelas pada jarak 6 meter sedangkan mata normal mampu membaca sejauh 10 meter). Gambar 8.

Kartu Snellen d. c. maka visusnya 6/20. e. maka visusnya menjadi visus baris diatasnya. pasien diminta menutup mata kiri dengan telapak tangan pasien. d. Pada saat memeriksa maka kanan. Penerangan yang cukup c.  Apabila pasien dapat membaca setengah atau lebih dari total huruf pada satu baris maka dinilai sesuai dengan baris tersebut dengan keterangan huruf F (false = salah) contoh: salah satu huruf F1. Pen light 2. 38 . Pemeriksaan Lapang Pandang Secara Konfrontasi: a. Optotype Snellen diletakkan sejajar mata pasien dengan jarak 5-6 m dari pasien. atau bisa dengan menggunakan eye occlude. Pemeriksaan Tajam Penglihatan a.D. Pemeriksaan Tajam Penglihatan: a. Kursi periksa b. Ruangan sepanjang 6 m atau disesuaikan dengan jenis chart b. b. Tajam penglihatan diperiksa satu per satu (monokuler). Bilamana pasien hanya mampu mengenali sampai pada baris 20 m sementara jarak pasien adalah 6 m. Penggaris/alat penunjuk e. Pasien diminta untuk melihat dan mengidentifikasi objek (huruf atau simbol) pada kartu Snellen dari yang terbesar hingga yang terkecil sesuai batas kemampuannya. Alat dan Bahan: 1. Penerangan yang cukup E. tidak ditekan. salah dua huruf F2. Teknik Pemeriksaan: 1. dimulai dari mata kanan.  Bila jumlah kesalahannya lebih dari setengah.

dimulai dari mata kanan. maka dilakukan dengan cara hand movement. Bila pasien tidak dapat melihat arah gerakan tangan. Bila terbaca kemudian pemeriksa mundur setiap 1 meter hingga pasien tidak dapat menghitung jari lagi. Bila pasien dapat mengenali adanya cahaya dan dapat mengetahui arah cahaya. a. kanan-kiri) pada jarak 60-100 cm. Bila pasien tidak dapat melihat huruf yang terbesar. c. 39 . Bila pasien menghitung dengan benar jumlah jari pada jarak 1 m. g. k. Pemeriksaan Lapang Pandang Secara Konfrontasi Pemeriksaan ini merupakan cara pemeriksaan kasar untuk lapang pandang. Bila tidak dapat menghitung jari dari jarak 1 m. Visus 1/300 bila pasien bisa mengenali arah pergerakan tangan. Pemeriksa dan pasien duduk berhadapan dengan lutut pemeriksa hampir bersentuhan dengan lutut pasien. pasien diminta menutup mata kiri dengan telapak tangan pasien tanpa menekannya. selanjutnya dilakukan dengan cara hitung jari/ finger counting. Pemeriksaan dilakukan satu persatu. bila pada 2 m visusnya 2/60 dan seterusnya sampai maksimal 6/60. Tetapi bila pasien tidak dapat mengetahui arah cahaya deskripsi menjadi light perception without light projection. yaitu menghitung jari pemeriksa pada jarak 1-6 m. Pasien dinyatakan buta total (visus 0) bila tidak dapat menentukan ada atau tidak ada sinar (no light perception). dilakukan cara penyinaran dengan penlight pada mata pasien (light perception). h. b. yaitu menentukan arah gerakan tangan pemeriksa (atas- bawah. f. Pasien diminta menentukan arah datangnya sinar (diperiksa dari 6 arah). j. Pada saat memeriksa mata kanan. maka visusnya 1/60. Syarat pemeriksaan ini adalah lapang pandang pemeriksa normal. 2. Tinggi mata pemeriksa sejajar dengan mata pasien. Mulailah hitung jari dari jarak 1 meter. i. tajam penglihatan dideskripsikan sebagai 1/~ dengan proyeksi cahaya baik (light perception with good ligh tprojection).

Bila pasien dapat melihat huruf pada baris tersebut namun ada yang salah. g. Contoh: pasien dapat membaca baris 6/18 tetapi terdapat satu kesalahan maka visus 6/18 f1. Apabila pemeriksa sudah dapat melihat objek sedangkan pasien belum dapat maka dapat dikatakan bahwa lapang pandang pasien menyempit dibandingkan dengan pemeriksa. b. gerakkan pensil atau objek kecil lainnya dari perifer e arah tengah dari ke delapan arah dan mintalah pasien memberi tanda tepat ketika ia mulai melihat objek tersebut. Pemeriksaan Lapang PandangSecara Konfrontasi Kelainan pada pemeriksaan lapang pandang: a. f. 2. anda menutup mata kiri anda) e. Analisis Hasil Pemeriksaan 1. visusnya 3/60. Pemeriksaan Tajam Penglihatan a. e. Bila pasien dapat menentukan arah datangnya sinar (diperiksa dari 6 arah). d. Bila pasien dapat menentukan arah gerakan tangan pemeriksa dari jarak 1 m. Bila pasien tidak dapat menentukan arah datangnya sinar. d. h. maka visusnya 1/~ proyeksi baik. Bila pasien dapat menghitung jari pemeriksa yang berjarak 1 m dari pasien dengan benar. maka visusnya 1/~ proyeksi buruk. maka visus pasien 1/60. f. agar anda dapat membandingkan lapang pandang anda dengan lapang pandang pasien anda. dinyatakan dengan “f” (faltive). Selama pemeriksaan. c. Tutuplah mata anda yang tepat berada di depan mata pasien yang ditutup (bila pasien menutup mata kanannya. dan seterusnya hingga 6/60. F. Dengan perlahan. dapat menghitung jari pada jarak 2 m dengan benar. Visus pasien adalah baris huruf terkecil yang pasien dapat sebutkan dari seluruh huruf/gambar pada kartu Snellen dengan benar. maka visusnya 1/300. Contoh: visus 6/18. jagalah agar objek selalu berjarak sama dari mata anda dan mata pasien. Defek horizontal 40 . Mintalah pasien untuk melihat mata pemeriksa.

Hemianopsia Bitemporal Disebabkan oleh lesi pada kiasma optikum sehingga menyebabkan kehilangan penglihatan pada sisi temporal kedua lapang pandang. Pada gambar disamping terdapat oklusi cabang superior arteri retina sentral. Hemianopsia Homonim Kiri Disebabkan oleh lesi pada traktus optikus di tempat yang sama pada kedua mata. Disebabkan oleh oklusi pada cabang arteri retina sentral. Kebutaan unilateral Disebabkan oleh lesi pada saraf optik unilateral yang menyebabkan kebutaan. d. b. 41 . Hal ini menyebabkan kehilangan penglihatan sisi yang sama pada kedua mata. c.

.... 5 Meminta pasien membaca huruf yang ada di chart......... NIM : . maka notasinya 1/300 atau HM 1 m) 9.... Skor No Aspek yang dinilai 0 1 2 MELAKUKAN PERSIAPAN 1 Memberikan penjelasan kepada pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan 2 Meminta pasien duduk dengan jarak 6 meter dari Optotype Snellen dengan pencahayaan yang cukup.................... meminta pasien mengenali adanya sinar dan dapat mengenali arah datangnya sinar.......... Catat jarak dimana pasien dapat mengenali arah gerakan tangan dengan benar..... Jika dapat mengenali adanya sinar maka notasinya LP (light perception) atau 1/ tak terhingga. 3 Meminta pasien menutup 1 matanya tanpa menekan bola mata MELAKUKAN PEMERIKSAAN 4 Melakukan pemeriksaan pada mata kanan dulu........ Evaluasi 1. maka notasinya 2/60 atau CF 2 m ) 8...G. Jika tidak dapat mengenali adanya sinar visus NLP (no light perception atau visus = 0) 10. dimulai dari yang paling atas (besar) sampai huruf terkecil pada chart yang bisa terbaca (minimal separuh jumlah huruf dalam satu baris) 6 Mencatat hasilnya dengan notasi (contoh : 6/6) 7 Jika pasien tidak dapat membaca huruf yang paling besar... Jika pasien tidak dapat menghitung jari... mata kiri ditutup dengan okluder atau dengan telapak tangan. (contoh: 2 meter . pemeriksameminta pasien mengenali arah gerakan tangan... pemeriksa meminta pasien menghitung jari. Total 42 . Jika dapat menentukan arah datangnya sinar maka notasinya LP with projection (1/-LP baik)......... Jika pasien tidak dapat mengenali arah gerakan tangan.............. Check list keterampilan pemeriksaan tajam penglihatan: Nama Mahasiswa : .... Menjelaskan interprestasi hasil pemeriksaan kepada pasien dan mencatat dalam rekam medis......... kemudian mencatat jarak dimana pasien dapat menghitung jari dengan benar. (contoh : 1 meter .......

................................. mahasiswa menutup mata kanannya dan meminta pasien untuk melihat mata kiri pemeriksa 7 Dengan perlahan.......... gerakan pensil atau objek kecil lainnya dari perifer kearah tengah dari ke delapan arah dan mintalah pasien memberi tanda tepat ketika ia mulai melihat objek tersebut................... Melaporkan hasil pemeriksaan kepada pasien dan mencatat dalam rekam medis Total Keterangan: Instruktur 0: Tidak melakukan sama sekali 1: Melakukan dengan tidak sempurna 2: Melakukan dengan sempurna (seluruh tahapan dilakukan sesuai urutan) (.................................... Skor No Aspek yang dinilai 0 1 2 MELAKUKAN PERSIAPAN : 1 Memberikan penjelasan kepada pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan 2 Set ruangan dalam keadaan terang 3 Mahasiswa duduk berhadapan dengan pasien pada jarak 1 meter 4 Pasien harus dapat melihat jari pemeriksa MELAKUKAN PEMERIKSAAN 5 Melakukan pemeriksaan pada mata kanan dulu 6 Saat memeriksa mata kanan... 2......) 43 ..................... mahasiswa meminta pasien menutup mata kiri dengan telapak tangan kiri. 9. NIM : ... agar anda dapat membandingkan lapang pandang anda dengan lapang pandang pasien anda....... jagalah agar objek selalu berjarak sama dari mata anda dan mata pasien.............. Melakukan pemeriksaan pada sisi mata yang belum diperiksa 10.... Selama pemeriksaan. Chek list keterampilan pemeriksaan lapang pandang secara konfrontasi: Nama Mahasiswa : ........... 8.