You are on page 1of 65

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan : Mini Project “Upaya dalam Meningkatkan Cakupan Lansia


Terbina di RW 04 Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Kota Jakarta
Timur”

Penulis : Dr. Arina Rizki Mujahid


Periode Internsip : 13 Mei 2017 – 13 September 2017
Diajukan : 24 Agustus 2017
Pendamping : Dr. Santi Rosamarlia

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS INTERNSIP


DI PUSKESMAS KELURAHAN CAKUNG BARAT

Jakarta, 24 Agustus 2017


Dokter Pendamping

Dr. Santi Rosamarlia


NIP. 197208072006042024

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan kasih karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan mini
project “Upaya dalam meningkatkan cakupan lansia terbina di Posyandu Lansia di
Wilayah RW 04 Kelurahan Cakung Barat Jakarta Timur, DKI Jakarta.”
Melalui kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih kepada
kedua orangtua yang senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan, juga pada
semua pihak yang telah banyak berjasa dalam memberikan bantuan baik ilmu,
pengalaman dan pelajaran, teristimewa kepada :
1. Pendamping dokter internsip, dr. Santi Rosamarlia
2. Kepala Puskesmas Kelurahan Cakung Barat, dr Istika Rahma
3. Pemegang program posyandu, Ns. Fitri Hidayati S.kep
4. Para staf pegawai Puskesmas Kecamatan Cakung dan
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat
5. Dokter-Dokter KPLDH : dr. Siswati, dr. Natalie, dr. Agty.
6. Ibu Asanih dan kader posyandu lansia RW 04 lainnya
7. Dokter-dokter internsip : dr. Adit, dr. Alit, dr.Arif, dr. Elisa, dr.
Juli dan dr. Kartika
Penulis menyadari bahwa miniproject ini masih jauh dari sempurna, dan
memiliki kelemahan dan keterbatasan. Oleh karena itu kritik dan saran yang
sifatnya membangun dalam rangka penyempurnaan miniproject ini.
Semoga miniproject ini dapat bermanfaat bagi kita semua

Jakarta, 24 Agustus 2017

Dr. Arina Rizki Mujahid

2
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ........................................................................................... 1


Kata Pengantar .................................................................................................. 2
Daftar Isi ............................................................................................................ 3
Daftar Tabel ....................................................................................................... 4
Daftar Gambar ................................................................................................... 5
Daftar Lampiran ................................................................................................ 6
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 7
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 7
1.2 Pernyataan Masalah .................................................................... 9
1.3 Tujuan ......................................................................................... 9
1.4 Manfaat ....................................................................................... 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 11
2.1 Lanjut Usia (Lansia)..................................................................... 11
2.2 Posyandu Lansia........................................................................... 27
BAB 3 IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH ...................................... 36
3.1 Analisis Situasi ............................................................................ 36
3.2 Teknik Penentuan Penyebab Masalah.......................................... 44
BAB 4 INTERVENSI ................................................................................... 47
4.1 Metode Intervensi ........................................................................ 47
4.2 Hasil Intervensi ............................................................................ 48
BAB 5 EVALUASI ....................................................................................... 51
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 55
6.1 Kesimpulan ................................................................................. 55
6.2 Saran ........................................................................................... 56
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 57
LAMPIRAN ...................................................................................................... 60

3
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII .......................... 15


Tabel 2.2 Kadar Asam Urat Normal ......................................................... 17
Tabel 2.3 Kadar Kolesterol Normal ......................................................... 18
Tabel 3.1 Jumlah Penduduk per RW Kelurahan Cakung Barat ............... 39
Tabel 3.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan di Wilayah Kerja
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat ....................................... 39
Tabel 3.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Kerja
Kelurahan Cakung Barat .......................................................... 40
Tabel 3.4 Data Posyandu per RW Kelurahan Cakung Barat .................... 41
Tabel 3.5 Data Kader Posyandu per RW Kelurahan Cakung Barat ......... 42
Tabel 3.6 Jumlah Penduduk Lansia Kelurahan Cakung Barat ................. 43
Tabel 3.7 Hasil Kuesioner RW 04 ............................................................ 46
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Posyandu Lansia RW 04 ............................ 50

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagnosa Diabetes Melitus ...................................................... 16


Gambar 3.1 Peta Wilayah Provinsi DKI Jakarta .......................................... 36
Gambar 3.2 Peta Wilayan Kecamatan Cakung ............................................ 37
Gambar 3.3 Peta Wilayah Kelurahan Cakung Barat .................................... 38
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Cakupan Lansia Terbina RW 04................. 49

5
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Kuisoner


Lampiran 2. Poster “AYO DATANG ! ke Posyandu Lanjut Usia”
Lampiran 3. Leaflet “LANSIA SEHAT”
Lampiran 4. Brosur “POSYANDU LANSIA”
Lampiran 5. Lembar pemeriksaan skrining MMSE
Lampiran 6. Foto selama intervensi dan kegiatan posyandu
Lampiran 7. Foto selama UKM

6
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia, seseorang dikatakan lanjut
usia saat sudah berumur 60 tahun ke atas. Keberhasilan pembangunan di
Indonesia menyebabkan peningkatan usia harapan hidup (UHH). Namun seiring
dengan peningkatan UHH, muncullah masalah lain yaitu peningkatan angka
kelahiran dan penyakit (Infodatin Lansia, 2014). Sejak tahun 2004 - 2015
memperlihatkan adanya peningkatan Usia Harapan Hidup di Indonesia dari 68,6
tahun menjadi 70,8 tahun dan proyeksi tahun 2030-2035 mencapai 72,2 tahun
(Kemenkes, 2016).
Menurut world population ageing, satu dari empat orang yang berusia 60
tahun ke atas terdapat di negara Cina. Ada 5 negara yang memiliki penduduk
berusia 60 tahun ke atas hampir separuhnya dari seluruh populasi di seluruh
dunia, yaitu Cina, India, Amerika, Jepang dan Rusia. Populasi dunia yang berusia
80 tahun ke atas, yaitu sekitar 48 persen dari seluruh populasi dunia terdapat di
Cina, Inggris, India, Jepang, dan Jerman. Indonesia termasuk urutan ke 13 pada
populasi yang berusia 60 tahun ke atas di seluruh dunia setelah Turki, Korea,
Vietnam, Ukraina, Thailand, Bangladesh, Spanyol, Meksiko, Pakistan, Inggris,
Perancis, Italia. Indonesia masuk ke dalam urutan ke 6 pada populasi yang berusia
80 tahun ke atas di seluruh dunia setelah Thailand, Kanada, Ukraina, Bangladesh,
Polandia (World Population Ageing, 2015).
Jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03
persen dari seluruh penduduk Indonesia tahun 2014. Jumlah lansia perempuan
lebih besar daripada laki-laki, yaitu 10,77 juta lansia perempuan dibandingkan
9,47 juta lansia laki-laki. Adapun lansia yang tinggal di perdesaan sebanyak 10,87
juta jiwa, lebih banyak daripada lansia yang tinggal di perkotaan sebanyak 9,37
juta jiwa. Sebanyak 26,80 persen lansia tinggal bersama keluarga inti, sementara
yang tinggal hanya bersama pasangannya sebesar 17,48 persen. Hal yang patut

7
mendapat perhatian adalah mereka yang tinggal sendirian dalam satu rumah,atau
rumah tangga tunggal lansia. Sebanyak 9,66 persen lansia tinggal sendirian dan
harus memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan sosialnya secara mandiri
(Badan Pusat Statistik, 2015).
Jumlah lansia di Jakarta sebanyak 441.031 orang, terdiri dari 208.948 pria
dan 232.083 wanita. Jumlah lansia di Jakarta timur sebanyak 115.134 orang,
terdiri dari 56.347 orang laki-laki dan 58.787 orang wanita. Lansia di Cakung
terdiri dari 6.893 pria dan 5.725 wanita. Jumlah lansia di Cakung Barat sebanyak
1.252 orang, terdiri dari 649 pria dan 603 wanita (Dinas kependudukan, 2016).
Indonesia termasuk negara berstruktur tua, hal ini dapat dilihat dari
persentase penduduk lansia tahun 2008, 2009 dan 2012 telah mencapai di atas 7%
dari keseluruhan penduduk. Struktur penduduk yang menua tersebut merupakan
salah satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan manusia secara global
dan nasional (Kemenkes, 2016)
Pusat Pelayanan Terpadu (Posyandu) lansia adalah wadah pelayanan
kesehatan masyarakat untuk melayani lansiadengan fokus utama upaya preventif
dan promotif. Posyandu Lansia juga memberikan pelayanan sosial, agama,
pendidikan, keterampilan, olah raga, seni budaya, dan pelayanan lain yang
dibutuhkan lansia untuk meningkatkan kesejahteraan hidup (Kemenkes, 2014).
Tantangan yang dihadapi dalam peningkatan kesejahteraan lansia adalah
penyakit degeneratif yang semakin banyak dan perlu biaya banyak, masih
kurangnya generasi muda untuk menjadi lansia sehat dan anggapan masyarakat
bahwa lansia identik dengan penyakit dan ketidaberdayaan (Kemenkes, 2014).
Menurut Permenkes no 43 tentang standar pelayanan, target capaian
kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya skrining kesehatan
sesuai standar pada warga negara usia 60 tahun ke atas di wilayah kerjanya adalah
100 persen. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus mempunyai strategi untuk
menjangkau seluruh warga negara usia 60 tahun ke atas agar seluruhnya dapat
memperoleh pelayanan skrining sesuai standar setahun sekali (Permenkes no 43
tahun 2016).

8
Namun, dalam kenyataannya, lansia yang datang ke posyandu hanya
sedikit sehingga tidak seluruhnya dapat dicek kesehatannya dan dilakukan
screening. Melalui kuisioner yang disebar, beberapa alasan tidak datangnya lansia
ke posyandu lansia karena ingin diadakan pengobatan, lokasi posyandu yang jauh
dari rumah, lebih sering berobat ke puskesmas atau dokter terdekat dan tidak ada
yang mengantar.

1.2 Pernyataan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang yang dikemukakan di atas, maka
dapat dirumuskan beberapa penyataan masalah, yaitu:
1. Apa saja yang menyebabkan rendahnya kunjungan lansia ke posyandu
lansia di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cakung Barat?
2. Bagaimana meningkatkan kesehatan lansia melalui posyandu lansia di
wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cakung Barat?

1.3 Tujuan
1. Melakukan identifikasi masalah yang mempengaruhi rendahnya
kunjungan posyandu lansia.
2. Meningkatkan kemandirian lansia melalui deteksi dini penyakit yang
dimiliki.
3. Mencetuskan dibentuknya prolanis di tiap RW sehingga bisa diadakan
pengobatan.

1.4 Manfaat
 Manfaat untuk Puskesmas
1. Meningkatkan optimalisasi dan cakupan lansia di wiayah kerja
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat.
2. Mayoritas lanjut usia dapat ter-screening di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat.
3. Laporan ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pembelajaran
dan memberi masukan kepada pihak Puskesmas Kelurahan Cakung
Barat.

 Manfaat untuk Masyarakat

9
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
posyandu lansia
2. Merubah stigma lansia yang hanya menjadi beban dan
ketidakberdayaan sedikit demi sedikit.
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli pada
lansia.
4. Meningkatkan kemandiran lansia melalui peningkatan kesehatan.

 Manfaat untuk Dokter Internsip


1. Terlibat aktif dalam penanggulangan kesehatan di masyarakat
2. Melatih keterampilan komunikasi kepada masyarakat
3. Sebagai awal bahan pembelajaran untuk membuat sebuah
penelitian
4. Meningkatkan kemampuan berpikir analisa dalam mengidentifikasi
dan menyelesaikan masalah kesehatan.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lanjut Usia (Lansia)


2.1.1 Pengertian Lansia
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia
adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas.
Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah
memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok
yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang
disebut Aging Process atau proses penuaan.
Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai
dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ
tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh
terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan
kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh
darah, pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain sebagainya.
Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga
terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta
sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh
pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada
akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia.
Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of
daily living (Fatmah, 2010).
2.1.2 Batasan-batasan Usia Lanjut
Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu
berbeda. Menurut World Health Organitation (WHO)
lansia meliputi :
a. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
b. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun

11
c. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun

Berbeda dengan WHO, menurut Departemen Kesehatan RI


(2006), pengelompokkan lansia menjadi :
a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang
menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun)
b. Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai
memasuki masa usia lanjut dini (usia 60-64 tahun)
c. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit
degeneratif (usia >65 tahun)
2.1.3 Klasifikasi Lansia
a. Pralansia (Presenilis) :
Adalah seseorang yang berusia antara 45 sampai dengan 59
tahun.
b. Lansia :
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi :
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang yang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
d. Lansia potensial :
Lansia yang mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan
yang dapat menghasilkan barang atau jasa
e. Lansia tidak potensial :
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI,
dalam buku Rosidawati, 2008).
2.1.4 Masalah – masalah Kesehatan yang Terjadi pada Lansia
a. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pernafasan,
antara lain:
i. penyakit paru obstruktif kronik,
ii. tuberkulosis paru, dan
iii. pneumonia.
b. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem
kardiovaskuler, antara lain:
i. hipertensi,

12
ii. penyakit jantung koroner,
iii. gagal jantung
c. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem neurologi,
antara lain:
i. parese,
ii. cerebral palsy
d. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem
muskuloskeletal, antara lain:
i. fraktur,
ii. dislokasi,
iii. osteoarthritis,
iv. rheumatoid arthritis,
v. gout arthritis,
vi. osteoporosis,
e. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem endokrin,
antara lain: diabetes mellitus
f. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pancaindera,
antara lain:
i. katarak,
ii. glaukoma,
iii. presbiakusis
g. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pencernaan,
antara lain:
i. gingivitis,
ii. gastritis,
iii. hemoroid,
iv. konstipasi
h. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan
saluran urinarius, antara lain:
i. menepouse,
ii. benign prostate hyperplasia,
iii. inkontinensia uri,
iv. inkontinensia alvi
i. Lansia dengan masalah kesehatan jiwa, antara lain: demensia.

2.1.4.1 Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan di
pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat
terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah
untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika

13
dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ-organ
lain, terutama organ-organ vital seperti jantung dan ginjal.
Hipertensi sering dihubungkan dengan pengerasan dan
hilangnya elastisitas dinding arteri. Tahanan vaskular perifer
meningkat dalam pembuluh darah yang keras dan tidak elastis.
Hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor umur. Pada lanjut usia
terjadi perubahan struktur dan fungsi pembuluh darah, yaitu
sifat elastisitas pembuluh darah menjadi berkurang dan
terjadinya kekakuan pada dinding pembuluh darah arteri,
sehingga pengembangan pembuluh darah menjadi terganggu
(Potter&Perry, 2005).
Didefinisikan sebagai hipertensi apabila pernah
didiagnosis menderita hipertensi/penyakit tekanan darah tinggi
oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan) atau belum
pernah didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat
diwawancara sedang minum obat medis untuk tekaan darah
tinggi (Riskesdas, 2013). Kriteria hipertensi yang digunakan
merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII, yaitu hasil
pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan
darah diastolik ≥90 mmHg. Kriteria JNC VII berlaku untuk
umur ≥18 tahun. Adapun klasifikasi JNC VII adalah sebagai
berikut :

Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah

Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal <120 dan <80


Prehipertensi 120 – 139 atau 80 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 atau 90 – 99

14
Hipertensi derajat 2 ≥160 atau ≥100

2.1.4.2 Diabetes Melitus


Diabetes (diabetes melitus) adalah penyakit jangka panjang
atau kronis yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang
jauh di atas normal. Glukosa sangat penting bagi kesehatan kita
karena merupakan sumber energi utama bagi otak maupun sel-sel
yang membentuk otot serta jaringan pada tubuh kita. Indonesia
sendiri termasuk dalam 10 negara terbesar penderita diabetes. Pada
tahun 2013, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai
sekitar 8,5 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari
Federasi Diabetes Internasional). Tetapi kurang dari 50% dari
mereka yang menyadarinya.

15
Gambar 2.1. Diagnosa Diabetes Melitus

2.1.4.3 Hiperurisemia
Hiperurisemia adalah keadaan di mana terjadi peningkatan
kadar asam urat darah di atas normal. Hiperurisemia dapat terjadi
karena peningkatan metabolisme asam urat, penurunan pengeluaran
asam urat urin atau gabungan dari keduanya (Sudoyo,2009).

16
Peningkatan kadar asam urat (hiperurisemia) dapat mengakibatkan
gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan linu-linu di daerah
persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri (Andry,2009).
Hiperurisemia yang berkepanjangan dapat menyebabkan
terjadinya gout. Gout merupakan penyakit akibat adanya
penumpukan kristal monosodium urat pada jaringan akibat
peningkatan kadar asam urat (Sudoyo,2009).
Tabel 2.2. Kadar Asam Urat Normal

2.1.4.4 Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia adalah suatu kondisi dimana
meningkatnya konsentrasi kolesterol dalam darah yang melebihi
nilai normal (Guyton & Hall, 2008). Kolesterol telah terbukti
mengganggu dan mengubah struktur pembuluh darah yang
mengakibatkan gangguan fungsi endotel yang menyebabkan lesi,
plak, oklusi, dan emboli. Selain itu juga kolesterol diduga
bertanggung jawab atas peningkatan stress oksidatif (Stapleton et
al., 2010).
Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita
makan akan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah yang
berakibat hiperkolesterolemia (Soeharto, 2004). Salah satu penyakit
tersering yang disebabkan oleh meningkatnya kadar kolesterol
dalam darah adalah aterosklerosis (Guyton & Hall, 2008).

17
Tabel 2.3. Kadar Kolesterol Normal

2.1.4.5 Demensia
Definisi demensia menurut WHO adalah sindrom
neurodegeneratif yang timbul karena adanya kelainan yang bersifat
kronis dan progesifitas disertai dengan gangguan fungsi luhur
multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan mengambil
keputusan. Kesadaran pada demensia tidak terganggu. Gangguan
fungsi kognitif biasanya disertai dengan perburukan kontrol emosi,
perilaku, dan motivasi (WHO, 2012).
Menurut International Classification of Diseases 10 ( ICD
10 ). Penurunan memori yang paling jelas terjadi pada saat belajar
informasi baru, meskipun dalam. Pada kasus yang lebih parah
memori tentang informasi yang pernah dipelajari juga mengalami
penurun. Penurunan terjadi pada materi verbal dan non verbal.
Penurunan ini juga harus didapatkan secara objektif dengan
mendapatkan informasi dari orang – orang yang sering
bersamanya, atau pun dari tes neuropsikologi atau pengukuran

18
status kognitif. Tingkat keparahan penurunan dinilai sebagai
berikut (WHO, 2013) :
Mild, tingkat kehilangan memori yang cukup mengganggu
aktivitas sehari-hari, meskipun tidak begitu parah, tapi tidak dapat
hidup mandiri. Fungsi utama yang terkena adalah sulit untuk
mempelajari hal baru.
Moderat, derajat kehilangan memori merupakan hambatan
serius untuk hidup mandiri. Hanya hal – hal yang sangat penting
yang masih dapat diingat. Informasi baru disimpan hanya sesekali
dan sangat singkat. Individu tidak dapat mengingat informasi dasar
tentang di mana dia tinggal, apa telah dilakukan belakangan ini,
atau nama-nama orang yang akrab.
Severe, derajat kehilangan memori ditandai oleh
ketidakmampuan lengkap untuk menyimpan informasi baru. Hanya
beberapa informasi yang dipelajari sebelumnya yang menetetap.
Individu tersebut gagal untuk mengenali bahkan kerabat dekatnya.
Penurunan kemampuan kognitif lain ditandai dengan
penurunan penilaian dan berpikir, seperti perencanaan dan
pengorganisasian, dan dalam pengolahan informasi secara umum.
Tingkat keparahan penurunan, harus dinilai sebagai berikut.
Mild, penurunan kemampuan kognitif menyebabkan
penurunan kinerja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak pada
tingkat ketergantungan individu tersebut pada orang lain. Tidak dapat
melakukan tugas sehari-hari yang lebih rumit atau kegiatan rekreasi.
Moderat, penurunan kemampuan kognitif membuat individu
tidak dapat melakukan aktivitasnya tanpa bantuan orang lain dalam
kehidupan sehari-hari, termasuk belanja dan penanganan kebutuhan
sehari - hari. Dalam rumah, hanya tugas – tugas sederhana yang
dipertahankan. Kegiatan semakin terbatas dan keadaan buruk
dipertahankan.

19
Severe, penurunan ini ditandai dengan ada atau tidak adanya
pemikiran yang dapat dimenerti. Hal – hal tersebut tadi ada minimal 6
bulan baru dapat dikatakan dementia.
Tingkat keparahan keseluruhan demensia dinyatakan melalui
tingkat penurunan memori atau kemampuan kognitif lainnya, dan
bagian mana yang mengalami penurunan yang lebih parah (misalnya
ringan pada memori dan penurunan moderat dalam kemampuan
kognitif menunjukkan demensia keparahan moderat) (WHO, 2013).
Mini Mental State Examination (MMSE) adalah salah satu
alat yang paling umum untuk pemeriksaan penurunan kognitif pada
dewasa tua dan lanjut usia. MMSE dikembangkan untuk
membedakan antara lanjut usia dengan atau tanpa gangguan
neuropsikiatri awal dalam proses penyakit. Dengan mengetahui lebih
awal gangguan neuropsikiatri orang tersebut maka dapat
meningkatkan waktu pengobatan farmakologis dan non farmakologis
untuk menunda terjadinya gangguan neuropsikiatri tersebut terutama
gangguan kognitif. Hal ini juga digunakan selama masa tindakan
pada pasien yang menderita gangguan kognitif untuk menilai
perkembangan penyakit (WHO, 2013).
Nilai maksimal untuk MMSE adalah 30. Sedangkan untuk
range penilaian MMSE sebagai berikut (WHO, 2013) :
 Baik / normal : 25 – 30,
 Gangguan kognitif ringan : 21 – 24,
 Gangguan kognitif sedang : 10 – 20,
 Gangguan kognitif berat : < 10 .

2.1.4.6 Sindrom Geriatri


Dalam bidang geriatri dikenal beberapa masalah
kesehatan yang sering dijumpai baik mengenai fisik atau psikis
pasien usia lanjut. Menurut Solomon dkk: The “13 i” yang terdiri
dari Immobility (imobilisasi), Instability (instabilitas dan jatuh),
Intelectual impairement (gangguan intelektual seperti demensia dan

20
delirium), Incontinence (inkontinensia urin dan alvi), Isolation
(depresi), Impotence (impotensi), Immuno-deficiency (penurunan
imunitas), Infection (infeksi), Inanition (malnutrisi),
Impaction(konstipasi), Insomnia (gangguan tidur), Iatrogenic
disorder (gangguan iatrogenic) dan Impairement of hearing, vision
and smell (gangguan pendengaran, penglihatan dan penciuman)
(Setiati dkk., 2006).
a.Imobilisasi
Didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak/tirah baring selama 3
hari atau lebih, dengan gerak anatomi tubuh menghilang akibat
perubahan fungsi fisiologis. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan
lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut.
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah,
kekakuan otot, ketidak seimbangan, dan masalah psikologis.
Beberapa informasi penting meliputi lamanya menderita disabilitas
yang menyebabkan imobilisasi, penyakit yang mempengaruhi
kemampuan mobilisasi, dan pemakaian obat-obatan untuk
mengeliminasi masalah iatrogenesis yang menyebabkan imobilisasi.
b. Instability (Instabilitas dan Jatuh)
Terdapat banyak faktor yang berperan untuk terjadinya instabilitas
dan jatuh pada orang usia lanjut. Berbagai faktor tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai factor intrinsik (faktor risiko yang ada pada
pasien) dan faktor risiko ekstrinsik (faktor yang terdapat di
lingkungan). Prinsip dasar tatalaksana usia lanjut dengan masalah
instabilitas dan riwayat jatuh adalah: mengobati berbagai kondisi
yang mendasari instabilitas dan jatuh, memberikan terapi fisik dan
penyuluhan berupa latihan cara berjalan, penguatan otot, alat bantu,
sepatu atau sandal yang sesuai, serta mengubah lingkungan agar
lebih aman seperti pencahayaan yang cukup, pegangan, lantai yang
tidak licin (Kane et al., 2008; Cigolle et al., 2007).
c.Incontinence (Inkontinensia Urin dan Alvi)

21
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak
dikehendaki dalam jumlah dan frekuensi tertentu sehingga
menimbulkan masalah sosial dan atau kesehatan. Inkontinensia urin
merupakan salah satu sindroma geriatrik yang sering dijumpai pada
usia lanjut. Diperkirakan satu dari tiga wanita dan 15-20% pria di
atas 65 tahun mengalami inkontinensia urin. Inkontinensia urin
merupakan fenomena yang tersembunyi, disebabkan oleh
keengganan pasien menyampaikannya kepada dokter dan di lain
pihak dokter jarang mendiskusikan hal ini kepada pasien (Kane et
al., 2008; Cigolle et al., 2007). International Consultation on
Incontinence , WHO mendefinisikan Faecal Incontinence sebagai
hilangnya tak sadar feses cair atau padat yang merupakan masalah
sosial atau higienis. Definisi lain menyatakan, Inkontinensia
alvi/fekal sebagai perjalanan spontan atau ketidakmampuan untuk
mengendalikan pembuangan feses melalui anus. Kejadian
inkontinensia alvi/fekal lebih jarang dibandingkan inkontinensia urin
(Kane et al., 2008).
d. Intelectual Impairement (Gangguan Intelektual Seperti
Demensia dan Delirium)
Keadaan yang terutama menyebabkan gangguan intelektual pada
pasien lanjut usia adalah delirium dan demensia. Demensia adalah
gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang disebabkan
oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan
tingkat kesadaran. Demensia tidak hanya masalah pada memori.
Demensia mencakup berkurangnya kemampuan untuk mengenal,
berpikir, menyimpan atau mengingat pengalaman yang lalu dan juga
kehilangan pola sentuh, pasien menjadi perasa, dan terganggunya
aktivitas (Geddes et al.,2005; Blazer et al., 2009).
e.Infection (infeksi)
Infeksi pada usia lanjut (usila) merupakan penyebab kesakitan dan
kematian no. 2 setelah penyakit kardiovaskular di dunia. Hal ini

22
terjadi akibat beberapa hal antara lain: adanya penyakit komorbid
kronik yang cukup banyak, menurunnya daya tahan/imunitas
terhadap infeksi, menurunnya daya komunikasi usia sehingga
sulit/jarang mengeluh, sulitnya mengenal tanda infeksi secara dini.
Ciri utama pada semua penyakit infeksi biasanya ditandai dengan
meningkatnya temperatur badan, dan hal ini sering tidak dijumpai
pada usia lanjut, 30-65% usia lanjut yang terinfeksi sering tidak
disertai peningkatan suhu badan, malah suhu badan dibawah 36 O C
lebih sering dijumpai. Keluhan dan gejala infeksi semakin tidak khas
antara lain berupa konfusi/delirium sampai koma, adanya penurunan
nafsu makan tiba-tiba, badan menjadi lemas, dan adanya perubahan
tingkah laku sering terjadi pada pasien usia lanjut (Kane et al .,
2008).
f. Impairement of hearing, vision and smell (gangguan pendengaran,
penglihatan dan penciuman)
Gangguan pendengaran sangat umum ditemui pada geriatri.
Prevalensi gangguan pendengaran sedang atau berat meningkat dari
21% pada kelompok usia 70 tahun sampai 39% pada kelompok usia
85 tahun. Pada dasarnya, etiologi gangguan pendengaran sama untuk
semua umur, kecuali ditambah presbikusis untuk kelompok geriatri.
Otosklerosis biasanya ditemui pada usia dewasa muda, ditandai
dengan terjadinya remodeling tulang di kapsul otik menyebabkan
gangguan pendengaran konduktif, dan jika penyakit menyebar ke
telinga bagian dalam, juga dapat menimbulkan gangguan
sensorineural. Penyakit Ménière adalah penyakit telinga bagian
dalam yang menyebabkan gangguan pendengaran berfluktuasi,
tinnitus dan pusing. Gangguan pendengaran karena bising yang
disebabkan oleh energi akustik yang berlebihan yang menyebabkan
trauma permanen pada sel-sel rambut. Presbikusis sensorik yang
sering sekali ditemukan pada geriatri disebabkan oleh degenerasi dari
organ korti, dan ditandai gangguan pendengaran dengan frekuensi

23
tinggi. Pada pasien juga ditemui adanya gangguan pendengaran
sehingga sulit untuk diajak berkomunikasi. Penatalaksanaan untuk
gangguan pendengaran pada geriatric adalah dengan cara
memasangkan alat bantu dengar atau dengan tindakan bedah
berupa implantasi koklea (Salonen, 2013). Terapi pengobatan pada
pasien usia lanjut secara signifikan berbeda dari pasien pada usia
muda, karena adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan oleh
usia, dan dampak yang timbul dari penggunaan obat-obatan yang
digunakan sebelumnya. Masalah polifarmasi pada pasien geriatri
sulit dihindari dikarenakan oleh berbagai hal yaitu penyakit yang
diderita banyak dan biasanya kronis, obat diresepkan oleh beberapa
dokter, kurang koordinasi dalam pengelolaan, gejala yang dirasakan
pasien tidak jelas, pasien meminta resep, dan untuk menghilangkan
efek samping obat justru ditambah obat baru. Karena itu diusulkan
prinsip pemberian obat yang benar pada pasien geriatri dengan cara
mengetahui riwayat pengobatan lengkap, jangan memberikan obat
sebelum waktunya, jangan menggunakan obat terlalu lama, kenali
obat yang digunakan, mulai dengan dosis rendah, naikkan perlahan-
lahan, obati sesuai patokan, beri dorongan supaya patuh berobat dan
hati- hati mengguakan obat baru (Setiati dkk.,2006).
g. Isolation (Depression)
Isolation (terisolasi) dan depresi, penyebab utama depresi pada usia
lanjut adalah kehilangan seseorang yan disayangi, pasangan hidup,
anak, bahkan binatang peliharaan. Selain itu kecenderungan untuk
menarik diri dari lingkungan, menyebabkan dirinya terisolasi dan
menjadi depresi. Keluarga yang mulai mengacuhkan karena merasa
direpotkan menyebabkan pasien akan merasa hidup sendiri dan
menjadi depresi. Beberapa orang dapat melakukan usaha bunuh diri
akibat depresi yang berkepajangan
h. Inanition (malnutrisi)

24
Kelemahan nutrisi merujuk pada hendaya yang terjadi pada usia
lanjut karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang
tidak disengaja. Anoreksia pada usia lanjut merupakan penurunan
fisiologis nafsu makan dan asupan makan yang menyebabkan
kehilangan berat badan yang tidak diinginkan (Kane et al ., 2008).
Pada pasien, kekurangan nutrisi disebabkan oleh keadaan pasien
dengan gangguan menelan, sehingga menurunkan nafsu makan
pasien.
i. Impecunity (kemiskinan)
Impecunity (kemiskinan), usia lansia dimana seseorang menjadi
kurang produktif (bukan tidak produktif) akibat penurunan
kemampuan fisik untuk beraktivitas. Usia pensiun dimana sebagian
dari lansia hanya mengandalkan hidup dari tunjangan hari tuanya.
Pada dasarnya seorang lansia masih dapat bekerja, hanya saja
intensitas dan beban kerjanya yang harus dikurangi sesuai dengan
kemampuannya, terbukti bahwa seseorang yang tetap menggunakan
otaknya hingga usia lanjut dengan bekerja, membaca, dsb., tidak
mudah menjadi “pikun” . Selain masalah finansial, pensiun juga
berarti kehilangan teman sejawat, berarti interaksi sosialpun
berkurang memudahakan seorang lansia mengalami depresi.
j. Iatrogenic
Iatrogenics (iatrogenesis), karakteristik yang khas dari pasien geriatri
yaitu multipatologik, seringkali menyebabkan pasien tersebut perlu
mengkonsumsi obat yang tidak sedikit jumlahnya. Akibat yang
ditimbulkan antara lain efek samping dan efek dari interaksi obat-
obat tersebut yang dapat mengancam jiwa. Pemberian obat pada
lansia haruslah sangat hati-hati dan rasional karena obat akan
dimetabolisme di hati sedangkan pada lansia terjadi penurunan
fungsi faal hati sehingga terkadang terjadi ikterus (kuning) akibat
obat. Selain penurunan faal hati juga terjadi penurunan faal ginjal
(jumlah glomerulus berkurang), dimana sebagaian besar obat

25
dikeluarkan melalui ginjal sehingga pada lansia sisa metabolisme
obat tidak dapat dikeluarkan dengan baik dan dapat berefek toksik.
k. Insomnia
Insomnia, dapat terjadi karena masalah-masalah dalam hidup yang
menyebabkan seorang lansia menjadi depresi. Selain itu beberapa
penyakit juga dapat menyebabkan insomnia seperti diabetes melitus
dan hiperaktivitas kelenjar thyroid, gangguan neurotransmitter di
otak juga dapat menyebabkan insomnia. Jam tidur yang sudah
berubah juga dapat menjadi penyebabnya.
l. Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh)
Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh) banyak hal
yang mempengaruhi penurunan sistem kekebalan tubuh pada usia
lanjut seperti atrofi thymus (kelenjar yang memproduksi sel-sel
limfosit T) meskipun tidak begitu bermakna (tampak bermakna pada
limfosit T CD8) karena limfosit T tetap terbentuk di jaringan limfoid
lainnya. Begitu juga dengan barrier infeksi pertama pada tubuh
seperti kulit dan mukosa yang menipis, refleks batuk dan bersin
-yang berfungsi mengeluarkan zat asing yang masuk ke saluran
nafas- yang melemah. Hal yang sama terjadi pada respon imun
terhadap antigen, penurunan jumlah antibodi. Segala mekanisme
tersebut berakibat terhadap rentannya seseorang terhadap agen-agen
penyebab infeksi, sehingga penyakit infeksi menempati porsi besar
pada pasien lansia.
m. Impotence
Impotency (Impotensi), ketidakmampuan melakukan aktivitas
seksual pada usia lanjut terutama disebabkan oleh gangguan organik
seperti gangguan hormon, syaraf, dan pembuluh darah. Ereksi terjadi
karena terisinya penis dengan darah sehingga membesar, pada
gangguan vaskuler seperti sumbatan plak aterosklerosis (juga terjadi
pada perokok) dapat menyumbat aliran darah sehingga penis tidak
dapat ereksi. Penyebab lainnya adalah depresi.

26
n. Irritable bowel
Irritable bowel (usus besar yang sensitif -mudah terangsang-)
sehingga menyebabkan diare atau konstipasi/ impaksi (sembelit).
Penyebabnya tidak jelas, tetapi pada beberapa kasus ditemukan
gangguan pada otot polos usus besar, penyeab lain yang mungkin
adalah gangguan syaraf sensorik usus, gangguan system syaraf pusat,
gangguan psikologis, stres, fermentasi gas yang dapat merangsang
syaraf, kolitis.

2.2. Posyandu Lansia


2.1.1 Pengertian Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu utuk
masyarakat lansia di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati,
yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu Lansia atau
Kelompok Usia Lanjut di masyarakat, pelaksanaannya diproses
oleh masyarakat bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
lintas sektor pemerintah maupun non pemerintah, swasta,
organisasi sosial, dan lain-lain dengan menitikberatkan pelayanan
pada upaya promotif dan preventif (Notoatmodjo, 2007). Posyandu
lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah
melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya
melalui program Puskesmas, dengan melibatkan peran serta para
lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam
penyelenggaraannya.

2.1.2 Tujuan Posyandu Lansia


Tujuan umum dari Posyandu Lansia adalah meningkatkan
kesejahteraan Lansia melalui kegiatan Posyandu Lansia yang
mandiri dalam masyarakat. Tujuan khsusus Posyandu Lansia
adalah :
1. Meningkatnya kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

27
2. Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan lansia, khususnya
aspek peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan aspek
pengobatan dan pemulihan
3. Perkembangan Posyandu Lansia yang aktif melaksanakan
kegiatan dengan kualitas yang baik secara berkesinambungan
(Depkes RI, 2003).

2.1.3 Manfaat Posyandu Lansia


Faktor-faktor yang mempermudah atau predisposisi
terjadinya perilaku pada diri seseorang atau masyarakat, adalah
pengetahuan dan sikap seseorang atau masyarakat tersebut
terhadap apa yang akan dilakukan. Misalnya perilaku lansia ke
kunjungan posyandu lansia akan dipermudah apabila lansia
tersebut tahu apa manfaatkunjungan ke posyandu lansia ke
kesehatannya, tahu siapa dan bagaimana cara menjaga
kesehatannya (Depkes RI, 2003).
Demikian juga, perilaku tersebut akan dipermudah bila
lansia yang bersangkutan mempunyai sikap yang positif tehadap
kesehatannya. Disamping itu Universitas Sumatera Utara
kepercayaan, tradisi, sistem, nilai dimasyarakat setempat juga
mempermudah (positif) atau mempersulit (negatif) terjadinya
perilaku seseorang atau masyarakat (Depkes RI, 2003).

Manfaat dari posyandu lansia adalah pengetahuan lansia


menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan
dapat medorong minat atau motivasi mereka untuk selalu
mengikuti kegaiatan posyandu lansia sehingga lebih percaya diri
dihari tuanya (Depkes RI, 2003).

2.1.4 Sasaran Posyandu Lansia (Permenkes no 25 tahun 2015)


1. Sasaran Langsung :
a. Kelompok pra lansia (45-59 tahun),
b. Kelompok lansia (60 tahun keatas)
c. Kelompok lansia dengan risiko tinggi (70 tahun keatas)
2. Sasaran Tidak Langsung :

28
a. Keluarga dimana lansia berada,
b. Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan lansia
dan masyarakat luas

2.1.5 Tingkat Perkembangan Kelompok Lansia (Depkes RI,


2003)
Tingkat Perkembangan Kelompok Lansia dapat
digolongkan menjadi 4 tingkatan yaitu : Penentuan tingkat
perkembangan kelompok Lansia didasarkanindikator terendah
yang terdiri dari pratama, madya, purnama dan mandiri.
1. Kelompok lansia pratama adalah kelompok yang belum mantap,
kegiatan yang terbatas dan tidak rutin setiap bulan dengan
frekuensi < 8 kali, jumlah kader aktif terbatas, serta masih
memerlukan dukungan dan dari pemerintah.
2. Kelompok lansia madya adalah kelompok yang telah
berkembang dan melaksanakan kegiatan hampir setiap bulan
paling sedikit 8 kali setahun, jumlah kader aktif lebih dari 3 dengan
cakupan program ≤ 50% serta masih memerlukan dukungan dana
dari pemerintah.
3. Kelompok lansia purnama adalah kelompok yang sudah mantap
dan melaksanakan kegiatan secara lengkap paling sedikit 10 kali
stahun dengan beberapa kegiatan tambahan diluar kesehatan dan
cakupan lebih tinggi (≥60%).
4. Kelompok lansia mandiri adalah kelompok purnama dengan
kegiatan tambahan yang beragam dan telah mampu membiayai
kegiatannya dengan dana sendiri (Depkes RI, 2003).

2.1.6 Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia


Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima
terhadap lansia dikelompokkan, mekanisme pelaksanaan kegiatan
yang sebaiknya digunakan adalah sistem 5 tahapan (5 meja)
sebagai berikut (Depkes RI, 2006):

1. Meja 1 : Pencatatan/registrasi data demografi dan data


kesehatan lansia :

29
a) Lansia menuju meja 1 untuk dilakukan
pencatatan/registrasi
b) Registrasi dilakukan oleh kader, bagian dari registrasi
antara lain : nomor urut, nomor register, nama, jenis kelamin,
umur, alamat lansia, lansia diberikan kartu status kesehatan yang
sudah berisi identitas lansia. Lansia menuju meja 2 untuk
dilakukan pemeriksaan

2. Meja 2 : Pemeriksaan status kesehtan dan indeks massa


tubuh lansia
a) Lansia membawa kartu status kesehatan menuju meja 2
untuk dilakukan pemeriksaan oleh kader kesehatan anggota
Pokjakes.Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
1. Pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat
badan, sekaligus ditentukan IMT lansia
2. Pemeriksaan tekanan darah,denyut nadi dan suhu
3. Pemeriksaan fisik yang lain, misalnya gigi, mulut, paru,
jantung dll
4. Anamnese keluhan kesehatan lansia
b) Semua hasil pemeriksaan ditulis ke dalam kartu status kesehatan lansia
di ikuti pembubuhan tanda tangan pemeriksa
c) Dilakukan pengisian KMS oleh petugas
d) Lansia menuju meja 3 untuk dilakukan penilaian kemandiriannya
dengan tetap membawa kartu status kesehatan dan KMS.

3. Meja 3 : Penilaian indeks katz/kemandirian lansia


a) Lansia menuju meja 3 untuk dilakukan penilaian tingkat
kemandiriannya Universitas Sumatera Utara
b) Dilakukan pencatatan tingkat kemandirian di kartu status kesehatan
lansia

30
c) Di informasikan kepada lansia akan ketidakmandiriannya di bidang
tertentu untuk selanjutnya diberikan HE(Health Education) untuk
memenuhi kebutuhan tersebut
d) Lansia menuju meja ke 4 untuk dilakukan penyuluhan dan pemberian
makanan tambahan sambil tetap membawa kartu status kesehatan dan
KMS.

4. Meja 4 : Penyuluhan dan Pemberian Makananan Tambahan Lansia


a) Lansia menuju meja 4 untuk dilakukan penyuluhan dan pemberian
makanan tambahan oleh kader kesehatan anggota Pojakes.
b) Penyuluhan atau Health Education yang dilakukan secara individual
sesuai dengan permasalahan lansia secara umum, khususnya dan
merujuk padatingakat kemandirian lansia.
c) Lansia menuju meja 5 untuk diberikan pelayanan kesehatan yaitu
pengobatan.

31
5. Meja 5 : Pelayanan Kesehatan (Pengobatan) lansia
a) Lansia menuju meja 5 untuk diberikan pengobatan dengan
menunjukkan kartu status kesehatannya kepada dokter/petugas
b) Dokter/petugas memberikan obat sesuai dengan keluhan lansia
c) Kartu status kesehatan lansia disimpan oleh petugas sebagai data
simpanan, sedangkan KMS dibawa oleh lansia.
2.1.7 Pengorganisasian Posyandu Lansia
Kedudukan posyandu sebagai suatu bentuk peran serta
masyarakat yang diselenggarakan oleh swadaya masyarakat
lainnya dengan bantuan teknis dari puskesmas, pemerintah daerah,
organisasi sosial, dinas pendidikan, pertanianan, agama dan
Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Sebagai kegiatan
swadaya masyarakat yang semula dikenal kegiatan Pembangunan
Masyarakat Desa (Depkes RI, 2003).
Mengingat kegiatan posyandu merupakan kegiatan warga
masyarakat setempat, maka yang menjadi tugas dari kader,
pemimpin kader dan pemuka masyarakat untuk menumbuhkan
kesadaran semua warga agar menyadari bahwa posyandu adalah
milik warga, pemerintah khususnya petugas kesehatan hanya
berperan membantu, di Indonesia dana digunakan untuk
pelaksanaan posyandu lansia dari dan oleh masyarakat (Azwar,
2002). Penyelenggaraan kegiatan posyandu itu sendiri adalah kader
dan koordinator kader yang telah mendapatkan pelatihan
tehnis.Pada prinsipnya pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap individu, tim dan organisasi
(Depkes RI, 2005).

2.1.8 Indikator Keberhasilan Posyandu Lansia


Penilaian keberhasilan upaya pembinaan lansia melalui
kegiatan pelayanan kesehatan digunakan dengan menggunakan
data pencatatan danpelaporan, pengamatan khsusus dan penilaian.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari (Depkes, 2005):

32
a. Meningkatkan sosialisasi masyarakat lansia dengan
berkembangnya jumlah organisasi masyarakat lansia
dengan berbagai aktivitas pengembangannya.
b. Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah/swasta
yang memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia
c. Berkembangnya jenis pelayanan kesehatan pada
lembaga
d. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi
lansia
e. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat
penyakit pada lansia antara lain : hipertensi, diabetes
mellitus, penyakit jantung dan lain-lain baik dirumah
maupun di puskesmas.

2.1.9 Upaya Kegiatan Posyandu Lansia


Faktor pemungkin atau pendukung (enabling factor)
perilaku kunjungan lansia ke posyandu adalah fasilitas, sarana atau
prasarana yang mendukung terjadinya perilaku seseorang atau
masyarakat. Pengetahuan dan sikap saja belum menjamin
terjadinya perilaku, disamping itu diperlukan adanya sarana atau
fasilitas untuk memungkinkan atau mendukung perilaku tersebut.
Segi kesehatan masyarakat, agar masyarakat mempunyai perilaku
sehat harus terjangkau sarana dan prasarana atau fasilitas
kesehatan, misalnya untuk terjadinya perilaku lansia yang selalu
menjaga agar tetap sehat, maka perlu dilakukan kunjungan ke
posyandu lansia (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Notoatmodjo (2007), hambatan yang paling besar


dirasakan dalam mewujudkan perilaku hidup sehat yaitu faktor
pendukung. Menurut Bank Dunia hambatan utama yang dihadapi
oleh masyarakat sosial ekonomi rendah untuk memperoleh
pelayanan kesehatan adalah kurangnya infrastruktur fisik. Hal ini
masih dialami di negara yang sedang berkembang, yang
menunjukkan ketidakadilan yang besar dalam distribusi petugas

33
dan fasilitas kesehatan yng memadai, serta infrastrusktur
komunikasi dan transportasi yang belum dikembangkan secara
memadai (Notoatmodjo, 2007).

Sumber kesehatan secara tidak proporsional lebih banyak


dimanfaatkan untuk daerah perkotaan dibandingkan pelayanan
primer di pedesaan, sehingga yang terjadi adalah ketidakadilan
pelayanan di daerah perkotaan dan pedesaan. Jarak membatasi
kemampuan dan kemauan lansia untuk mencari pelayanan,
terutama jika sarana transportasi yang tersedia terbatas, komunikasi
sulit dan didaerah tersebut tidak tersedia tempat pelayanan
(Notoatmodjo, 2007).

Adapun kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan


pelayanan kesehatan terhadap lansia adalah (Maryam dkk, 2010):
a. Kegiatan Promotif : Memberikan penyuluhan tentang
perilaku hidup sehat, gizi, penyakit degeneratif,
kebugaran jasmani, pemeliharaan kemandirian serta
produktivitas lanjut usia.
b. Kegiatan Preventif : Kegiatan yng bertujuan untuk
mencegah sendini mungkin terjadinya penyakit dan
komplikasi melalui deteksi dini dan pemantauan
kesehatan lansia. Kegiatan ini dapat dilakukan
dikelompok lansia/posbindu dengan menggunakan kartu
menuju sehat (KMS) lanjut usia
c. Kegiatan kuratif : Kegiatan pengobatan ringan bagi
lansia yang sakit dapat dilakukan di Puskesmas serta
bagi yang membutuhkan penanganan dengan fasilitas
lebih lengkap dapat dirujuk ke Rumah Sakit.
d. Kegiatan Rehabilitatif : Kegiatan ini dapat berupa upaya
medis, psikososial, edukatif maupun upaya lain yang
dapat semaksimal mungkin mengembalikan kemampuan
fungsional dan kepercayaan diri lansia.

34
BAB III

IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH

3.1. Analisis Situasi


3.1.1. Data Geografis
Jakarta Timur adalah salah satu kota administratif di provinsi DKI
Jakarta selain Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
Secara administratif Jakarta Timur terbagi menjadi 10 kecamatan, 65
kelurahan, 673 RW dan 7.513 RT serta memiliki penduduk sebanyak lebih
kurang 1.959.022 jiwa atau sekitar 10% dari jumlah penduduk DKI Jakarta
dengan kepadatan mencapai 10.445 jiwa per Km2. Pertumbuhan penduduk
2,4 persen per tahun dengan pendapatan per kapita sebesar Rp. 5.057.040,00.
Kecamatan yang berada di wilayah Jakarta Timur antara lain, Kecamatan
Matraman, Pulogadung, Jatinegara, Kramat Jati, Duren Sawit, Pasar Rebo,
Makasar, Cakung, Ciracas dan Cipayung.

Gambar 3.1. Peta Wilayah Provinsi DKI Jakarta

Kecamatan Cakung termasuk wilayah Kota Administrasi Jakarta


Timur memiliki luas wilayah 4.247 ha. Menurut data statistik 2004,
peruntukan luas tanah tersebut terdiri dari perumahan 1.923 ha; industri 1.033

35
ha; lain-lain 1.291 ha. Secara administratif Kecamatan Cakung terdiri 7
Kelurahan, 84 RW, 951 RT, 532.589 jiwa penduduk, dan 130.554 KK (Kepala
Keluarga). Kecamatan Cakung terdiri dari 7 Kelurahan, diantaranya
Kelurahan Jatinegara (660 ha), Kelurahan Penggilingan (448 ha), Kelurahan
Pulo Gebang (686 ha), Kelurahan Ujung Menteng (443 ha), Kelurahan
Cakung Timur (981 ha), Kelurahan Cakung Barat (619 ha), dan Kelurahan
Rawa Terate (410 ha).

Gambar 3.2. Peta Wilayah Kecamatan Cakung

Kelurahan Cakung Barat merupakan salah satu dari ketujuh


Kelurahan di Kecamatan Cakung, Kota Administrasi Jakarta Timur, dengan
batas-batas sebagai berikut:
 Batas Utara : Jl. Tipar Cakung, Kelurahan Sukapura Jakarta
Utara
 Batas Timur : Outer Ring Road Cakung Cikunir, Kelurahan
Cakung Timur
 Batas Selatan : Kali Cakung, Kelurahan Penggilingan
 Batas Barat : Kali Sunter, Kelurahan Rawa Terate

36
Kelurahan Cakung Barat memiliki luas wilayah + 612,43 Ha, yang
terbagi menjadi 10 Rukun Warga (RW) dan 104 Rukun Tetangga (RT),
dengan peta wilayah sebagai berikut :

Gambar 3.3. Peta Wilayah Kelurahan Cakung Barat

3.1.2. Data Demografi


Puskesmas Kelurahan Cakung Barat memiliki jumlah penduduk ±
65411 jiwa yang tersebar hampir merata diseluruh Rukun Warga yang berada
dalam wilayah kerja Puskesmas, ada pun jumlah penduduk ini dapat dilihat
dalam tabel berikut.

37
Tabel 3.1. Jumlah Penduduk per RW Kelurahan Cakung Barat
Jumlah Penduduk Tetap
No RW Jumlah
RT KK Pria Wanita
1 01 8 592 1031 984 2015
2 02 7 786 1477 1395 2872
3 03 5 707 969 976 1945
4 04 18 4019 3389 3447 6836
5 05 9 1354 2133 1960 4093
6 06 4 316 563 581 1144
7 07 18 4062 5516 5760 11276
8 08 16 3610 5955 5747 11702
9 09 9 1590 2516 2513 5029
10 10 10 975 1504 1503 3007
JUMLAH 104 18011 25053 24866 49919
Sumber : Data Kelurahan Cakung Barat, 2015

Adapun distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan masyarakat di


wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cakung Barat dapat di lihat dari tabel berikut.
Tabel 3.2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan
di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Cakung Barat

No Pendidikan Jumlah
1. SMA/SMU/SLTA/SMKK/STM 11702
2. SMP/SLTP 8316
3. TK dan SD 6202
4. Tidak Tamat Pendidikan 4309
5. Tidak Pernah Sekolah 2121
6. Akademi (D1-D3) 1202
7. Sarjana (S1-S3) 533
8. SLB 1
JUMLAH 34386

Penduduk yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cakung


Barat mayoritas memiliki pekerjaan sebagai Karyawan Swasta dan Pengusaha.
Adapun distribusi jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan di gambar dalam
tabel berikut.

38
Tabel 3.3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
di Wilayah Kerja Kelurahan Cakung Barat

No Pendidikan Jumlah
1. Karyawan Swasta 11438
2. Pengusaha 575
3. Pegawai Negeri 395
4. Pedagang 356
5. Buruh 293
6. Pensiunan 142
7. Jasa dan Lainnya 89
8. Dokter/Bidan/Perawat 86
9. Pekerjaan Lain 50
10. Tani 16
11 Peternak dan Nelayan 13
JUMLAH 13453

39
Kelurahan Cakung Barat memiliki sejumlah Posyandu yang dikelola oleh kader-
kader yang tersebar merata di sejumlah Posyandu Kelurahan Cakung Barat,
dengan data sebagai berikut:
Tabel 3.4. Data Posyandu per RW Kelurahan Cakung Barat

No RW Jumlah Posyandu Jumlah Posyandu Lansia

1 001 1 1

2 002 1 1

3 003 1 1

4 004 2 1

5 005 2 1

6 006 1 1

7 007 3 1

8 008 4 1

9 009 2 1

10 010 1 1
Jumlah 18 10

40
Tabel 3.5. Data Kader Posyandu per RW Kelurahan Cakung Barat
Jumlah Kader Jumlah Kader

No RW Jml Kader Aktif Tdk Aktif Ditatar Blm Ditatar

1 1 10 9 1 10 0
2 2 10 9 1 10 0
3 3 10 7 3 10 0
4 4 18 16 2 0 18
5 5 10 10 0 10 0
6 6 6 5 1 6 0
7 7 20 16 4 20 0
8 8 20 20 0 10 0
9 9 10 10 0 10 0
10 10 10 8 2 10 0
Jumlah 124 100 14 96 18

41
Menurut data Puskesmas Kelurahan Cakung Barat per Januari tahun 2017,
jumlah penduduk lanjut usia (Lansia, usia >= 60 tahun) di Kelurahan Cakung
Barat adalah 1223 jiwa, dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 3.6. Jumlah Penduduk Lansia Kelurahan Cakung Barat

No RW Jumlah Penduduk Lansia (orang)

1 001 107

2 002 105

3 003 103

4 004 186

5 005 119

6 006 121

7 007 214

8 008 169

9 009 154

10 010 123
Jumlah 1223

3.1.3. Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Berikut adalah sumber daya kesehatan yang ada di wilayah kerja


Puskesmas Kelurahan Cakung Barat.
 Dokter Umum : 3 orang
 Dokter Gigi : 1 orang
 Bidan : 2 orang
 Perawat : 3 orang
 Farmasi : 1 orang
 Kesehatan Lingkungan : 1 orang

42
 Gizi : 1 orang
 Administrasi : 2 orang
 Keamanan : 2 orang
 Cleaning Service : 2 orang

3.1.4. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Ada


Berikut adalah sumber daya kesehatan yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat.
 Jumlah Rumah Sakit :0
 Jumlah klinik kesehatan : 11
 Praktek dokter :4
 Dokter Gigi :1
 Bidan praktek :9
 Apotik :2

3.2. Teknik Penentuan Penyebab Masalah


Dalam pelaksanaan mini project ini, dilakukan dengan beberapa
langkah untuk mengidentifikasi dan menentukan topik masalah berdasarkan
program-program dari Puskesmas Kelurahan Cakung Barat yang masih belum
mencapai target. Dari suatu topik masalah ini kemudian dilakukan
pengumpulan data yang diperlukan. Data yang diambil merupakan data primer
maupun sekunder untuk menentukan penyebab masalah dan didapatkanlah
alternatif pemecahan masalah.
3.2.1. Penentuan Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan mudah.
Instrumen sebagai alat bantu dalam metode pengumpulan data
merupakan sarana yang dapat diwujudkan berupa benda atau alat, seperti cek
list, kuesioner, perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, skala,

43
kamera foto dan sebagainya. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan
data adalah kuesioner dan wawancara.
3.2.2. Teknik Pengumpulan Data
Data yang didapatkan merupakan Data Primer dari masing-masing
kader lansia tiap RW cakupan dalam mini project dan kuesioner yang
dibagikan kepada 30 orang lansia di RW 04. Data Sekunder berdasarkan data
dari Puskesmas, kemenkes 2016 dan Badan Pusat Statistik 2015.
3.2.3. Populasi Pengumpulan Data
Dalam kegiatan baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat
sosial, perlu dilakukan pembatasan populasi dan cara pengambilan sampel.
Populasi adalah keseluruhan objek/subjek pengumpulan data. Dalam hal
ini yang menjadi populasi adalah lansia di RW 04, Kelurahan Cakung
Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
3.2.4. Sampel Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah simple
random sampling yatu teknik penarikan sampel dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata pada populasi tersebut.
3.2.5. Jenis Data
a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data untuk mencari penyebab masalah yang
didapatkan dari wawancara. Wawancara dilakukan terhadap beberapa
warga di RW 04, Kader, Penanggung jawab program posyandu lansia di
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat, dan dokter-dokter yang bekerja di
Puskesmas Kelurahan Cakung Barat. Data kualitatif yang kami dapatkan
adalah sebagai berikut :
 Masih banyak dari para lansia yang tidak tahu mengenai jadwal
posyandu dikarenakan ketidakpastian jadwal posyandu lansia setiap
bulannya
 Tidak ada pengobatan di posyandu menjadi salah satu alasan para
lansia tidak tertarik untuk datang ke posyandu

44
 Lansia merasa perlu diadakan kegiatan seperti keterampilan tangan,
senam, dll untuk meningkatkan partisipasi aktif lansia di tingkat
RW serta mencegah kepikunan pada lansia
 Lansia merasa perlu dibentuk forum komunikasi untuk para lansia
untuk penjaringan komunikasi yang lebih luas dan terjalannya
kegiatan-kegiatan untuk lansia yang lebih efektif
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan,
yang dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan
matematika atau statistika. Data kuantitatif yang didapatkan yaitu hasil
kuesioner yang ditujukan kepada 30 orang lansia di RW 04 Kelurahan
Cakung Barat. Kuesioner terdiri dari 5 pertanyaan, dan ditemukan hasil
sebagai berikut.

Tabel 3.7. Hasil Kuesioner RW 04

Jawaban
Nomor Pertanyaan
Ya Tidak
1 Lokasi posyandu sulit dijangkau? 12 (40%) 18 (60%)
2 Perlu ada pengobatan saat posyandu? 25 (83%) 5 (17%)
3 Tahu jadwal posyandu? 29 (96%) 1 (4%)
4 Perlu ada kegiatan untuk lansia? 14 (47%) 16 (53%)
5 Perlu ada forum komunikasi lansia? 17 (57%) 13 (43%)

45
BAB IV

INTERVENSI

4.1. Intervensi

Dalam rangka meningkatkan cakupan lansia terbina di Posyandu Lansia


RW 04 Kelurahan Cakung Barat, penulis melakukan beberapa langkah intervensi.
Intervensi dilakukan selama bulan Agustus 2017 yang tidak lepas dari peranan
para kader di RW 04 Kelurahan Cakung Barat, dokter-dokter Internsip, dan
dokter-dokter KPLDH Kelurahan Cakung Barat. Adapun beberapa langkah
intervensi yang penulis lakukan, antara lain :
1. Sosialisasi Posyandu Lansia
2. Home Visit
3. Gebyar Posyandu Lansia
4.1.1. Sosialisasi Posyandu Lansia
Sosialisasi dilaksanakan sebagai tahap pertama dalam intervensi ini.
Sosialisasi ini dilaksanakan di posyandu lansia RW 04 kepada warga setempat dan
para kader. Sosialisasi dilaksanakan dengan menggunakan instrumen-instrumen
untuk memperlancar kegiatan ini, di antaranya, poster, leaflet, dan brosur yang
dibagikan kepada para kader dan warga RW 04. Poster ditempelkan di posyandu
lansia, sedangkan leaflet dan brosur dibagikan ke masing-masing lansia atau ke
anggota keluarga yang memiliki lansia di rumahnya. Dengan kegiatan ini, penulis
berharap kegiatan posyandu lansia yang sebelumnya kurang diketahui oleh warga,
dapat diketahui baik dari segi jadwal, lokasi, maupun manfaat diadakannya
posyandu lansia ini.
4.1.2. Home Visit
Home visit atau dalam bahasa Indonesia artinya kunjungan rumah,
dilaksanakan sebagai bentuk upaya dalam meningkatkan cakupan lansia terbina di
RW 04 Kelurahan Cakung Barat. Kegiatan ini melibatkan dokter-dokter internsip,
dokter-dokter KPLDH dan kader-kader RW 04. Sasaran utama dari kegiatan ini
yaitu para lansia yang tidak pernah menghadiri posyandu lansia. Memahami
bahwa penduduk lansia memiliki keterbatasan secara mobilitas, penulis merasa

46
perlu untuk melakukan kegiatan ini. Selain itu, penulis berharap melalui
kunjungan rumah ini, penulis dapat mengetahui alasan-alasan mengapa para lansia
tersebut tidak pernah datang ke posyandu lansia.
4.1.3. Gebyar Posyandu Lansia
Sebagai puncak kegiatan dari intervensi yang dilakukan penulis, evaluasi
dari kegiatan-kegiatan sebelumnya (sosialisasi dan home visit) perlu dilakukan,
yaitu dengan cara melaksanakan kembali Gebyar Posyandu Lansia. Kegiatan ini
melibatkan para dokter internsip dan para kader RW 04 Kelurahan Cakung Barat.
Apabila sebelumnya di Posyandu Lansia hanya dilakukan pemeriksaan
darah tinggi dan konsultasi kesehatan, pada kegiatan kali ini, penulis
melaksanakan beberapa kegiatan yang sudah seharusnya dilaksanakan di
posyandu lansia, berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES).
Kegiatan itu antara lain, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan Gula Darah
Sewaktu, Kolesterol Darah, Asam Urat Darah, dan Mini Mental State
Examination (MMSE). Menurut PERMENKES, setiap lansia harus dilakukan
skrining kesehatan berupa tekanan darah, gula darah sewaktu, kolesterol, dan
MMSE. Namun, adapun keterbatasan pada kegiatan ini, yaitu keterbatasan stik
darah gula dan kolesterol, para lansia yang seharusnya mendapat pemeriksaan
GDS dan kolesterol, tidak dapat diperiksa semuanya. Penulis menyaring para
lansia yang dapat diperiksa adalah para lansia yang memiliki faktor resiko, yaitu
memiliki riwayat penyakit sebelumnya atau memiliki gejala-gejala klasik yang
dikeluhkan.

4.2. Hasil Intervensi


Setelah dilakukan intervensi, didapatkan adanya peningkatan kunjungan lansia
di posyandu dari sebelumnya yang datang sejumlah 15 orang (8,06%) menjadi
sejumlah 56 orang (30,7%).

47
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Cakupan Lansia Terbina RW 04

Adapun dari lansia yang hadir, penulis melakukan beberapa pemeriksaan,


sehingga didapatkan diagnosa seperti yang tertera dalam tabel 4.1. Metode yang
digunakan dalam diagnosa ini adalah sebagai berikut.
a. Hipertensi : seluruh lansia yang hadir di posyandu diperiksa tekanan
darahnya dengan menggunakan tensimeter. Lansia yang digolongkan
sebagai hipertensi menurut JNC VIII apabila memiliki tekanan darah
>= 150/90 mmHg bila tidak memiliki faktor resiko (DM dan/atau
CKD), atau memiliki tekanan darah >=140/90 mmHg bila memiliki
faktor resiko.
b. Diabetes Mellitus : lansia yang digolongkan memiliki DM yaitu,
apabila memiliki riwayat DM / pengobatan DM, atau memiliki gejala
klasik DM disertai GDS >=200 mg/dL.
c. Hiperurisemia : lansia yang digolongkan hiperurisemia apabila
memiliki kadar asam urat darah >=6 mg/dL (wanita), atau >=7 mg/dL
(pria)
d. Hiperkolesterolemia : lansia yang digolongkan hiperkolesterolemia
apabila memiliki kadar kolesterol darah >= 200 mg/dL
e. MMSE <25 : setiap lansia yang hadir di posyandu, dilakukan
pemeriksaan MMSE untuk mengetahui resiko demensia.

48
Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Posyandu Lansia RW 04
Persentase per
Nomor Nama Pemeriksaan Jumlah (orang)
Lansia yang hadir
1 Hipertensi 33 59%
2 Diabetes Mellitus 10 42%
3 Hiperurisemia 15 35%
4 Hiperkolesterolemia 2 29%
5 MMSE <25 25 45%

BAB V

EVALUASI

49
Kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu), selama ini lebih banyak
dikenal untuk melayani kesehatan ibu dan anak. Padahal dalam pelayanan
kesehatan di puskemas, juga terdapat program posyandu lansia yang dikhususkan
untuk para lanjut usia lebih dari 60 tahun.
Pemerintah telah merumuskan berbagai peraturan dan perundang-
undangan, yang diantaranya seperti tercantum dalam UU No.23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, dimana pada pasal 19 disebutkan bahwa kesehatan manusia
usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan
kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah membantu
penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan kualitas
hidupnya secara optimal. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia,
pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut
ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk
mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat sesuai dengan keberadaannya
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia
lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh
masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu
Lansia atau Kelompok Usia Lanjut di masyarakat, pelaksanaannya diproses oleh
masyarakat bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lintas sektor
pemerintah maupun non pemerintah, swasta, organisasi sosial, dan lain-lain
dengan menitikberatkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif
(Notoatmodjo, 2007). Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan
pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya
melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga,
tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

Tujuan umum dari posyandu lansia adalah meningkatkan kesejahteraan


Lansia melalui kegiatan Posyandu Lansia mandiri dalam masyarakat. Tujuan
lainnya adalah meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan lansia dan

50
meningkatkan kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan.
Indonesia termasuk negara berstruktur tua, hal ini dapat dilihat dari
persentase penduduk lansia tahun 2008, 2009 dan 2012 telah mencapai di atas 7%
dari keseluruhan penduduk. Struktur penduduk yang menua tersebut merupakan
salah satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan manusia secara global
dan nasional (Kemenkes, 2016)
Jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa. Jumlah lansia
perempuan lebih besar daripada laki-laki, yaitu 10,77 juta lansia perempuan
dibandingkan 9,47 juta lansia laki-laki. Adapun lansia yang tinggal di perdesaan
sebanyak 10,87 juta jiwa, lebih banyak daripada lansia yang tinggal di perkotaan
sebanyak 9,37 juta jiwa. Sebanyak 26,80 persen lansiatinggal bersama keluarga
inti, sementara yang tinggal hanya bersama pasangannya sebesar 17,48 persen.
Hal yang patut mendapat perhatian adalah mereka yang tinggal sendirian dalam
satu rumah,atau rumah tangga tunggal lansia. Sebanyak 9,66 persen lansia tinggal
sendirian dan harus memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan sosialnya secara
mandiri (Badan Pusat Statistik, 2015)
Di Jakarta Timur, Kecamatan Cakung, Kelurahan Cakung Barat jumlah
lansia mencapai 1252 jiwa dari 10 RW, 104 RT. Berdasarkan dari hasil tinjauan
data, lansia yang datang ke posyandu lansia setiap bulannya 8.06 % dari jumlah
186 orang lansia di RW 04. Karena itu, penulis melakukan mini project yang
bertujuan untuk meningkatkan cakupan lansia terbina di posyandu lansia RW 04.
Intervensi yang penulis lakukan selama bulan Agustus adalah sosialisasi, Home
Visit, dan Gebyar Posyandu Lansia. Sebelum melakukan intervensi penulis
menyebarkan kuesioner ke 30 warga lansia di RW 04. Dari lansia yang penulis
tanyakan mengenai posyandu lansia, masih banyak yang tidak mengetahui tentang
posyandu lansia. Sejumlah 60 persen dari kuisoner yang kami bagikan para lansia
tidak mengetahui jadwal posyandu lansia dikarenakan jadwal tidak menetap dan
83 persen membutuhkan adanya pengobatan di posyandu lansia. Sebanyak 53
persen tidak menginginkan adanya kegiatan di posyandu lansia seperti
keterampilan yang bertujuan mendayagunakan mereka serta mencegah mereka

51
dari kepikunan. Sebanyak 57 persen lainnya menginginkan adanya forum untuk
para lansia. Sebelum intervensi dilakukan, jumlah lansia yang datang ke posyandu
adalah 8 persen dari 186 lansia di RW 04 dan setelah dilakukan intervensi jumlah
lansia yang datang meningkat menjadi 30 persen. Peningkatan cakupan lansia
terbina setelah dilakukan intervensi di RW 04 mencapai 22 persen.
Demi meningkatan cakupan lansia terbina, kami melakukan pemeriksaan
tekanan darah dan skrining MMSE pada semua lansia serta pemeriksaan gula
darah, asam urat dan kolesterol pada lansia yang memiliki resiko. Dari 56 lansia
yang terskrining sebanyak 33 lansia memiliki hipertensi dan hasil MMSE di
bawah 25 ditemukan sebanyak 45 persen. Sebanyak 10 lansia memiliki penyakit
diabetes mellitus, 15 lansia memiliki kadar asam urat yang tinggi (laki – laki > 7,0
mg/dL ; perempuan > 6,0 mg/dL) dan sebanyak 2 lansia memiliki kadar kolesterol
lebih dari 200 mg/dL.
Adapun beberapa kekurangan atau kendala yang dialami penulis selama
pengerjaan intervensi ini, diantaranya :
a. Minimnya waktu yang tersedia dalam melakukan intervensi, sehingga
tidak didapatkannya hasil maksimal yang dicapai. Penulis berharap
tercapainya cakupan lansia terbina di posyandu RW 04 sebanyak 100
persen dengan cara melakukan kunjungan rumah lebih banyak lagi,
melakukan kegiatan posyandu di beberapa tempat, tidak hanya di satu
lokasi, serta pemberdayaan kader posyandu yang lebih efisien.
Dikarenakan minimnya waktu yang tersedia, membuat penulis juga tidak
dapat membuat kegiatan-kegiatan yang seharusnya dapat dilaksanakan di
posyandu, seperti permainan-permainan melatih memori, keterampilan
tangan, dll.
b. Sebagian besar lansia yang hadir mengharapkan adanya pengobatan yang
diadakan pada saat posyandu, karena para lansia merasa kesulitan untuk
dapat berobat rutin untuk penyakit kronisnya ke puskesmas setiap bulan.
Kendala yang dialami para lansia ini, seperti lokasi puskesmas yang relatif
jauh dari tempat tinggalnya dan tidak ada anggota keluarga yang dapat
mengantarnya ke puskesmas.

52
c. Beberapa lansia kesulitan/ tidak mengerti dalam hal mengurus BPJS, yang
kemudian menyulitkan mereka untuk memeriksakan diri di posyandu
lansia (yang diperkenankan untuk memeriksa hanya yang memiliki kartu
BPJS).
d. Strip pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat yang terbatas,
sehingga tidak semua lansia yang hadir bisa diperiksa lengkap. Dari 56
lansia yang hadir, pemeriksaan gula darah hanya dapat dilakukan pada 24
orang, 43 orang untuk asam urat, dan 7 orang untuk pemeriksaan
kolesterol.

53
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
 Lansia yang datang ke posyandu (sebelum intervensi) hanya sebesar
8,06% persen dari jumlah lansia di RW 04
 Masih ada lansia yang tidak tahu (4%) mengenai jadwal posyandu
dikarenakan ketidakpastian jadwal posyandu lansia setiap bulannya
 Tidak ada pengobatan di posyandu menjadi salah satu alasan para
lansia tidak tertarik untuk datang ke posyandu
 Lansia merasa perlu diadakan kegiatan seperti keterampilan tangan,
senam, dll untuk meningkatkan partisipasi aktif lansia di tingkat RW
serta mencegah kepikunan pada lansia
 Lansia merasa perlu dibentuk forum komunikasi untuk para lansia
untuk penjaringan komunikasi yang lebih luas dan terjalannya
kegiatan-kegiatan untuk lansia yang lebih efektif
 Setelah dilakukan intervensi terjadi peningkatan cakupan lansia terbina
di RW 04 sebesar 22 persen
 Dari 56 lansia yang terskrining, sebanyak 59 persen lansia memiliki
hipertensi dan sebanyak 45 persen lansia mendapatkan nilai hasil
MMSE kurang dari 25
 Dari 56 lansia ditemukan sedikitnya 42 persen dengan penyakit
diabetes mellitus, 35 persen dengan asam urat tinggi dan 29 persen
dengan kolesterol tinggi
 Adanya kendala yang dialami penulis seperti kurangnya waktu dalam
mengintervensi, terbatasnya strip pemeriksaan darah yang tersedia, dan
beberapa lansia yang hadir tidak memiliki kartu BPJS karena tidak
mengerti cara mengurus kartu BPJS.

6.2 Saran
 Meningkatkan promosi mengenai posyandu lansia
 Ditetapkan dan dirutinkan jadwal tetap setiap bulannya untuk
posyandu lansia

54
 Posyandu lansia diadakan di lokasi yang strategis untuk dijangkau para
lansia atau membuat beberapa posyandu lansia agar jangkauan di RW
04 lebih luas
 Diadakan prolanis setiap bulan di posyandu RW 04
 Menambahkan jumlah stik untuk pemeriksaan gula darah, asam urat
dan kolesterol agar dapat dilakukan deteksi dini diabetes melitus,
hiperurisemia dan hiperkolesterolemia pada semua lansia
 Memberikan penyuluhan mengenai pengertian serta pencegahan dan
pengobatan tentang penyakit – penyakit yang sering ditemukan pada
lansia seperti alzheimer, diabetes mellitus, hipertensi, hiperurisemia,
hiperkolesterolemia
 Membuat acara kegiatan seperti keterampilan tangan, senam, dan lain
lain dalam acara posyandu lansia
 Membentuk Forum Komunikasi untuk para lansia.

55
DAFTAR PUSTAKA

Andry, Saryono dan Arif Setyo Upoyo. 2009. Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kadar Asam Urat Pada Pekerja Kantor di Desa Karang
Turi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Jurnal Keperawatan
Soedirman (The Soedirman Journal of Nurshing). 4 (1: 26-31)
Aru W, Sudoyo. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing
Azwar 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta Barat : Binarupa Aksara
Badan Pusat Statistik 2015. Statistik Penduduk Lanjut Usia. Jakarta : Badan Pusat
Statistik Indonesia
CT Cigolle et al. J Gen Intern Med 26 (3), 272-279. 2010 Sep 29
Depkes RI 2003. Pedoman Pengelolaan Kesehatan di Kelompok Usia Lanjut
------------- 2005. Rencana strategi departemen kesehatan.
------------- 2006. Pedoman pelatihan kader kelompok usia lanjut bagi petugas
kesehatan.
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil 2016. Data jumlah penduduk lansia DKI
Jakarta. Available at : http://data.jakarta.go.id/dataset/jumlah-penduduk-
lansia-provinsi-dki-jakarta (diakses pada 22 Agustus 2017)
Fatmah, 2010. Gizi Usia Lanjut. Erlangga : Jakarta.
Gijsman, H. J., Geddes, J. R., Rendell, J. M., Nolen, W. A., Goodwin, G. M.,
2004, Antidepressant for Bipolar Disorder Depression: A Systematic
Review of Randomized Controlled Trial, The American J , 161:1537 -
1547 .
Guyton, A.C., Hall, J.E 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. EGC. hlm
891-892.

56
International Diabetes Federation 2013. IDF Diabetes Atlas, 6th edition.
Available at : https://www.google.co.id/search?
q=international+diabetes+federation+in+2013%2C+20-
79+years&oq=international+diabetes+federation+in+2013%2C+20-
79+years&gs_l=psy-
ab.3...20237.53896.0.54026.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1.1.64.psy-
ab..0.0.0.XtD_2njemNI (diakses pada 27 Agustus 2017)
Kane, J., G. Lloyd, G. McCluskey, S. Riddell, J. Stead, and E. Weedon.
2007.Restorative practices in Scottish schools. Edinburgh: Scottish
Executive.
Kemenkes RI 2013. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Jakarta :
Departemen Kesehatan
---------------- 2014. Infodatin Lansia : situasi lanjut usia di Indonesia. Jakarta :
Kementerian Kesehatan
---------------- 2016. Infodatin Lansia : Situasi Lanjut usia di Indonesia. Jakarta :
Kementerian Kesehatan
Maryam, S Fatma., Rosidawati. (2008). Mengenal usia lanjut dan perawatannya,
Salemba Medika, Jakarta
Maryam, Siti dkk 2010. Asuhan Keperawatan Pada Lansia. Jakarta : Trans Info
Medika
Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni dan Pendidikan dan
Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 25 tahun 2016 tentang
Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia Tahun 2016-2019. Available
at :
http://www.kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/P
MK-No.-25-Tahun-2016-ttg-Rencana-Aksi-Nasional-Kesehatan-Lanjut-
Usia-Tahun-2016-2019_867.pdf (diakses pada 27 Agustus 2017)
Peraturan Menteri Kesehatan no 67 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia Di Pusat Kesehatan Masyarakat .

57
Available at :
http://hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._67_ttg_Penyel
enggaraan_Pelayanan_Kesehatan_Lanjut_Usia_di_PUSKESMAS_.pdf
Permenkes nomor 43 tahun 2016
Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Siti Setiati, 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Penerbit FKUI :
Jakarta
Soeharto, Iman 2004. Penyakit jantung koroner & serangan jantung. Jakarta :
Gramedia pustaka utama. hlm 63-81
Stapleton, P.A., Goodwill, A.G., James, M.E., Brock, R.W., Frisbee, J 2010.
Hypercholesterolemia and microvascular dysfunction: interventional
strategies. Journal of Inflammation. 7:54
United Nations Department of Economic and Social Affairs 2015. World
Population Ageing. New York : United Nations. Available at :
http://www.un.org/en/development/desa/population/publications/pdf/ageing/
WPA2015_Report.pdf (27 Agustus 2017)
World Health Organization 2012. Dementia. Available at :
www.who.int/mediacentre/factsheets/fs362/en/
World Health Organization 2013. The ICD – 10 Classification of Mental and
Behavioural Disorders. Diagnostic Criteria for Research. Available at :
www.who.int/classifications/icd/en/GRNBOOK.pdf
World Health Organization 2013. Definition of older or elderly person. Available
at : https://www.scribd.com/document/190077600/WHO-Definition-of-an-
Older-or-Elderly-Person

58
LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar kuesioner

Lampiran 2. Brosur ‘POSYANDU LANSIA”

59
Lampiran 3. Leaflet “LANSIA SEHAT”

Ayo datang! LANSIA SEHAT


kePosyanduLansia

Apa saja yang bisa didapatkan


disana?
Cek tekanan darah, asam urat dan
gula darah, serta konsultasi
penyakit GRATIS!
Apa itu Lansia ?
Lansia (lanjut usia) adalah
seseorang yang telah memasuki
Kapandiadakanposyandulansia? usia 60 tahun keatas. Kelompok
Posyandu lansia hampir diadakan 1 yang dikategorikan lansia ini akan
kali setiap bulannya di setiap RW. memasuki suatu proses yang
disebut proses penuaan.
Proses penuaan ditandai dengan
menurunnya berbagai fungsi
organ tubuh sehingga semakin
rentan terhadap berbagai
serangan penyakit.

Puskesmas Kelurahan Cakung Barat

Dokter Internsip Provinsi DKI Jakarta


J angan lupa bawa kartu BPJ S anda
2017

1
2

Apa itu Hipertensi dan Diabetes ?


Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada lansia adalah hipertensi (atau yang lebih sering
dikenal dengan tekanan darah tinggi) dan diabetes (yang sering disebut dengan sakit gula).

Hipertensi dan Diabetes Melitus


Hipertensi DiabetesMelitus
Hipertensi di masyarakat dikenal dengan Diabetes melitus (DM) sering disebut
tekanan darah tinggi. Seseorang penyakit gula. DM adalah suatu penyakit
dikatakan hipertensi jika tekanan darah ≥ dimana kadar gula tinggi disebabkan
karena tubuh tidak dapat menhasilkan atau
140/90 mm Hg.
menggunakan insulin secara efektif. Gula
Gejala yang sering dirasakan adalah sakit darah dikatakan tinggi apabila gula darah
kepala. Hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu > 200 mg/dL atau gula darah
bisa menyebabkan gangguan pada organ puasa > 126 mg/dL.
lain seperti jantung, otak (stroke), mata, Gejala yang sering dirasakan adalah cepat
ginjal dan pembuluh darah. lapar, mudah haus dan sering kencing..
Faktor keturunan juga berperan pada DM.
Pencegahan dapat dilakukan dengan
melakukan cek tekanan darah, kurangi DM dapat dicegah sejak dini dengan rajin
asupan garam / makanan asin dan rajin berolahraga, cek gula darah teratur,
olahraga. konsumsi makanan sehat dan menjaga
berat badan ideal. DM yang tidak
Hipertensi dapat dikontrol dengan
terkontrol dapat merusak organ lain seperti
perubahan gaya hidup dan obat – obatan.
mata, ginjal, jantung dan saraf.
Pasien hipertensi harus diingatkan bahwa
Maka dari itu mari kita
obat harus diminum setiap hari agar
Kenali dan cegah penyakitnya
tekanan darah terkontrol.

60
Lampiran 4. Poster “AYO DATANG ! ke Posyandu Lanjut Usia”

61
Lampiran 5. Lembar pemeriksaan skrining MMSE

62
Lampiran 6. Foto selama intervensi dan kegiatan posyandu RW 04

63
64
Lampiran 7. FOTO KEGIATAN UKM

65