You are on page 1of 2

PANDUAN PRAKTIK KLINIS Disahkan oleh

(PPK) Direktur Utama


TATA LAKSANA KASUS
BEDAH DIGESTIF
RSUD JAYAPURA
2017 JOSEF RINTA R

Nomor Dokumen : Tanggal :

Revisi ke : Nomor revisi : Tanggal :


Akalasia ICD-10-CM K22.0
 Merupakan penyebab paling umum dari kelainan motilitas esophagus
 Disebabkan karena tidak adanya peristaltik dari otot polos, yang akan
meningkatkan tekanan istirahat dari spinter esophagus bawah dan
menyebabkan spinter tersebut gagal untuk beristirahat sebagai respon
1. Pengertian terhadap bolus makanan
(Definisi)  Terjadi obstruksi fungsional dengan dilatasi dari esophagus (esophagus
akan melebar dan akan memanjang secara abnormal)
 Etiologinya belum jelas ( kemungkinan dari kelainan neurodegeneratif)
 Biasanya terjadi pada usia 20 – 40 tahun tetapi dapat pula terlihat pada
masa kanak – kanak
 Disphagia yang progresif (padat dan cair) adalah simptom yang paling
umum
 Nyeri dada substernal
 Regurgitasi dari makanan
2. Anamnesis
 Penurunan berat badan
 Simptom aspirasi dan respiratory sekunder karena retensi dari
esophagus, regurgitasi dan overflow ke dalam trachea
 Aspirasi pneumonia yag berulang
3. Pemeriksaan Fisik  Tidak spesifik
 Disphagia yang progresif (padat dan cair) adalah simptom yang paling
umum
 Nyeri dada substernal
 Regurgitasi dari makanan
4. Kriteria Diagnosis
 Penurunan berat badan
 Simptom aspirasi dan respiratory sekunder karena retensi dari
esophagus, regurgitasi dan overflow ke dalam trachea
 Aspirasi pneumonia yag berulang
5. Diagnosis Kerja Akalasia ICD-10-CM K22.0
 Spasme esophagus difus
 Strikture
 Hipertensi dari spinter esophagus bawah
6. Diagnosis Banding
 Penyakit Chagas
 Scleroderma
 Disfungsi primer dari otot (miotonik distropi)
 Pemeriksaan penunjang :
 Esophagogram
 tes manometri
7. Pemeriksaan  CT-scan Abdomen
Penunjang  Endoskopi
 Laboratorium:
 Darah perifer Lengkap,
 Test, Fungsi hati, ginjal,
 Medikamentosa (Ca chanel bloker, nitrat) dapat diberikan untuk
mengurangi simptom
 Dilatasi pneumatik dari Spinter esophagus bawah.
 Terapi bedah : meliputi esophagomyotomi (Heller myotomi) dengan
8. Terapi
diseksi dari Spinter esophagus
 Laparoskopi adalah terpilih untuk torakotomi atau laparotomi
 Hasil terbaik diperoleh dengan laparaskopik abdominal myotomi debgan
prosedur anti refluks.
1. penderita / keluarga mengerti tentang keadaan penyakitnya
9. Edukasi
2. rencana tindakan yang akan dilakukan,
(Hospital Health
3. penyulit yang mungkin timbul dan komplikasinya
Promotion)
4. prognosisnya
Ad vitam : dubia ad bonam
10. Prognosis Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens IV
12. Tingkat
C
Rekomendasi
Bila operasi dilakukan secara laparoskopi, pasien bila pulang untuk rawat
13. Indikator Medis
jalan setealah 7 hari pasca operasi
1. Maingot Abdominal Operations edisi 11
2. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery, edisi 17
14. Kepustakaan
3. Schwartz’s Manual of Surgery. Edisi 9. New York: The McGraw Hill
Companies; 2010