You are on page 1of 32

Sumber/ source:

1) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/
silahkan ikuti
blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)

2) Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Edisi 8, Volume 3, EGC, Jakarta, 2002

3) Lukman. Nurna Ningsih.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Muskuloskeletal.Jakarta: Penerbit Salemba.

1 Pengertian
Sekitar 80% dari populasi, seseorang dalam kehidupannya akan mengalami nyeri
punggung bawah. Menurut Jones B yang dikutip oleh Yuliano A, sebanyak 80% populasi
orang dewasa dalam rentang hidupnya akan mengalami cedera punggung bawah.
Keterbatasan yang diakibatkan oleh nyeri punggung bawah pada seseorang sangat berat.
Kehilangan produktivitas akibat nyeri punggung bawah dapat menyebabkan kerugian
ekonomi yang besar. Nyeri punggung bawah merupakan penyebab kedua kunjungan ke
dokter setelah penyakit saluran napas atas. Sekitar 12% orang yang mengalami nyeri
punggung bawah menderita Herniasi Nukleus Pulposus atau HNP. Menurut Idyan, Low Back
Pain atau LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal
yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik. Masalah nyeri puinggang yang
timbul akibat duduk lama menjadi fenomena yang sering terjadi pada mahasiswa.
Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan
sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai sampai kaki.
(Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Peraturan utama dalam
merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun
penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya
pada laporan pasien.
Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis
walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah
kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh
terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan
sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai sampai kaki.
(Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Peraturan utama dalam
merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun
penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya
pada laporan pasien.
Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun
sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan
seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh
terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah
nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya
otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan
otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah
nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya
otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan
otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

2. Patofisiologi
Kontruksi punggung yang unik memungkinkan terjadinya fleksibilitas dan member
perlindungan terhadap sumsum tulang belakang. Otot-otot abdominal berperan pada aktivitas
mengangkat beban dan sarana pendukung tulang belakang. Obesitas, masalah struktur, dan
peregangan perlebihanpada sarana pendukung ini menyebabkan nyeri punggung perubahan
degenerasi diskus intervetebra akibat usia menjadi fibrokorbiasa, L4-L5 DAN L5-S1
mengalami stress mekanis dan menekan sepanjang radiks saraf tersebut.
Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang elastik yang tersusun atas
banyak unit yang kaku atau vertebrae dan unit fleksibel atau diskus intervertebralis yang
diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen, dan otot paravertebralis.
Konstruksi tersebut memungkin fleksibilitas, sementara sisi lain tetap melindungi sumsum
tulang belakang.
Keluhan nyeri punggung bawah dan keterbatasan aktivitas menimbulkan keluhan atau
masalah pada klien yang mengalami nyeri punggung bawah.

3. Etiologi
Umumnya nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah satu dari berbagai masalah
muskoloskeletal. Nyeri terjadi akibat gangguan muskuloskeletal dapat dipengaruhi oleh
aktivitas.
a. Regangan lumbosakral akut
b. Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot.
c. Osteoartritis tulang belakang.
d. Stenosis tulang belakang
e. Masalah diskus intervertebralis
f. Perbedaan panjang tungkai
g. Pada lansia, akibat fraktur tulang belakang, osteoporosis atau metastasis tulang
h. Penyebab lain, seperti gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal, aneurisma
abdominal dan masalah psikosomatik.
Faktor resiko secara fisiologi.
1. Umur ( 20 – 50 tahun ).
2. Kurangnya latihan fisik.
3. Postur yang kurang anatomis.
4. Kegemukan.
5. Scoliosis parah.
6. HNP.
7. Spondilitis.
8. Spinal stenosis ( penyempitan tulang belakang ).
9. Osteoporosis.
10. Merokok.
Faktor resiko dari lingkungan.
1. Duduk terlalu lama.
2. Terlalu lama pada getaran.
3. Keseleo atau terpelintir.
4. Olah raga ( golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).
5. Vibrasi yang lama.
Faktor resiko dari psikososial.
1. Ketidak nyamanan kerja.
2. Depresi.
3. Stress.

4. Manifestasi Klinik
a. Keluhan nyeri punggung akut maupun kronis atau berlangsung lebih dari dua bulan tanpa
perbaikan dan kelemahan.
b. Nyeri bila tungkai ditinggikan dalam keadaan lurus, indikasi iritasi serabut saraf.
c. Adanya spasme otot paravertebralis (peningkatan tonus otot tulang postural belakang yang
berlebihan)
d. Hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal
e. Dapat ditemukan deformitas tulang belakang

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar X vertebra; mungkin memperlihatkan adanya fraktur, dislokasi infeksi, osteoartritis
atau skoliosis
b. Computed tomography atau CT Scan; berguna untuk mengetahui penyakit yang mendasari,
seperti adanya lesi jaringan lunak tersembunyi di sekitar kolumna vertebralis dan masalah
diskus intervertebralis.
c. Ultrasonografi atau USG, dapat membantu mendiagnosis penyempitan kanalis spinalis.
d. Magneting resonance imaging atau MRI, memungkinkan visualisasi sifat dan lokasi patologi
tulang belakang
e. Mielogram dan diskogram, di mana sejumlah kecil bahan kontras disuntukkan ke diskus
intervertebralis untuk dapat melihat visualisasi sinar. Dapat dilakukan untuk diskus yang
mengalami degenaris atau protrusi diskus
f. Venogram epidural, digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis dengan
memperlihatkan adanya pergeseran vena epidural
g. Elektromiogram atau EMG dan pemeriksaan hantaran saraf digunakan untuk mengevaluasi
penyakit serabut saraf tulang belakang atau radikulopati

6. Penatalaksanaan
Sebagian besar nyeri punggung dapat hilang sendiri dan akan sembuh dalam enam
minggu dengan tirah baring, pengurangan stres, dan relaksasi. Klien harus tetap ditempat
tidur dengan matras yang padat/ kayu penyangga dan tidak membal selama dua sampai tiga
hari. Pergi ke kamar mandi boleh dilakukan, namun kegiatan lain seperti menerima telepon,
mengasuh anak, aktivitas umum yang mengakibatkan stres sebaiknya dihindari. Klien
diposisikan sedemikian rupa sehingga fleksi lumbal lebih, yang dapat mengurangi tekanan
pada serabut saraf lumbal. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat dan klien sedikit
menekuk lututnya, atau berbaring miring dengan lutut dan panggul ditekuk atau posisi
melingkar dengan meletakkan bantal di antara lutut dan tungkai sertai menggunakan sebuah
bantalan di bawah kepala. Hindarkan posisi tengkurap karena akan memperberat lordosis.
Kadang klien perlu diberikan penanganan konservatif aktif dan fisioterapi. Traksi
pelvis intermiten dengan beban traksi seberat 7-13 kg memungkinkan penambahan fleksi
lumbal dan relaksasi otot. Fisioterapi ditujukan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot.
Hindari terapi kolam bergolak bagi klien dengan masalah kardiovaskular, karena klien tidak
mampu menoleransi vasodilatasi perifer masif yang timbul. Gelombang ultra akan
menimbulkan panas, yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan akibat pembengkakan pada
stadium akut. Pemberian terapi ini juga perlu dihindari pada klien dengan kanker dan
gangguan perdarahan.
Perlu diberikan obat-obatan untuk menangani nyeri. Analgetik narkotik untuk
memutus lingkaran nyeri, relaksan otot, dan obat penenang membuat klien rileks, serta
mengurangi otot yang mengalami spasme, sehingga nyeri dapat berkurang. Obat
antiinflamasi diberikan untuk mengurangi nyeri. Penggunaan kortikosteroid jangka pendek
dapat mengurangi respons inflamasi dan mencegah timbulnya neurofibrosis, yang terjadi
akibat iskemia. Penyokong punggung bawah dan brace dapat dipakai untuk membatasi
gerakan tulang belakang, mengoreksi postur, dan mengurangi stres pada tulang lumbal
bawah.
Transcutanneous electrical nerve stimulation atau TENS adalah modalitas mengurangi
nyeri noninvasif yang dapat dibawa kemana-mana yang memungkinkan klien berpartisipasi
dalam aktivitas dengan nyaman tanpa obat. Stimulasi saraf elektris transkutan diperkirakan
mengurangi nyeri dengan melampaui input nyeri dan perangsangan endorfin.
Peningkatan mobilitas, kekuatan otot, dan kelenturan dapat dicapai melalui latihan
bila klien telah memungkinkan. Latihan dimulai secara bertahap dan ditingkatkan begitu
klien sembuh. Latihan hiperekstensi akan memperkuat otot paravertebralis, latihan fleksi
meningkatkan kekuatan dan gerakan punggung, sedangkan latihan fleksi isometrik
memperkuat otot batang tubuh. Latihan dilakuakn di bawah pengawasan ahli fisioterapi dan
disesuaikan dengan kemampuan klien, setiap periode latihan selalu dimulai dengan relaksasi.
Teknik terbaik dalam mengangkat adalah pengangkatan secara diagonal. Kaki
memisah atau terbuka, dengan satu kaki yang dominan sedikit ke depan dari kaki yang lain.
Ini memberikan basis penyangga yang lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat.
Tekuk lutut dan berjongkok; jaga punggung tetap lurus dan kepala juga lurus selama
mengangkat. Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot tungkai yang lebih luas
dan menjaga keseimbangan punggung.

Tabel 2 Cara Berdiri, Duduk, Berbaring, Mengangkat Barang, dan Latihan dengan Benar
NO Posisi Cara
1 Berdiri 1. Hindari berdiri dan berjalan lama
2. Bila harus berdiri lama, istirahatkan salah satu kaki pada pijakan kecil
atau kontak untuk mengurangi terjadi lordosis
3. Hindari posisi kerja membungkuk ke arah depan
2 Duduk 1. Stres pada punggung akan lebih besar pada posisi duduk dan pada posisi
berdiri
2. Hindari duduk dalam waktu yang lama
3. Duduk pada kursi dengan posisi punggung tegak dengan dukungan
punggung yang memadai
4. Pergunakan pijakan kaki untuk memposisikan lutut lebih tinggi dari
pinggul bila perlu
5. Hilangkan rongga pada punggung dengan cara duduk dengan posisi
“bokong ke depan”
6. Hindari ekstensi lutut dan pinggul. Ketika mengendarai mobil, dorong
kursi ke depan agar terasa nyaman
7. Pertahankan penyangga punggung
8. Lindungi terhadap regangan ekstensi; meraih, mendorong, duduk
dengan tungkai lurus
9. Duduk dan berjalan secara bergantian
3 Berbaring 1. Istirahat tubuh pada waktu tertentu, karena kelelahan dapat
menyebabkan spasme otot punggung
2. Letakkan papan yang keras di bawah kasur agar dapat mempertahankan
kesejajaran tubuh
3. Hindari tidur tengkurap
4. Ketika berbaring pada salah satu sisi, letakkan sebuah bantal di bawah
kepala dan sebuah lagi antara kedua tungkai, yang harus difleksikan
pada pinggul dan lutut.
5. Ketika terlentang, gunakan sebuah bantal di bawah lutut untuk
mengurang lordosis
4 Mengangkat1. Saat mengangkat barang, jaga agar punggung tetap lurus dan angkat
beban sedekat mungkin dengan tubuh. Angkat dengan otot tungkai
besar, bukan dengan otot punggung.
2. Lindungi punggung dengan korset penyangga punggung ketika
mengangkat barang
3. Jongkok dan pertahankan punggung tetap lurus bila akna mengambil
sesuatu di lantai
4. Hindari memuntir batang tubuh, mengangkat di atas pinggang dan
menjangkau sesuatu untuk waktu lama
5 Latihan 1. Latihan harian sangat penting dalam pencegahan masalah punggung
2. Berjalan di luar rumah dan secara bertahap meningkatkan jarak dan
kecepatan berjalan sangat dianjurkan
3. Lakukan latihan punggung yang dianjurkan dua kali sehari, tingkatkan
latihan secara bertahap
4. Hindari gerakan melompat
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Klien diminta untuk menjelaskan tentang nyeri atau ketidaknyaman yang dirasakan,
misalnya lokasi nyeri, beratnya nyeri, durasi nyeri, sifat nyeri, penjalaran, dan kelemahan
tungkai. Bila nyeri punggung merupakan masalah kambuhan perlu ditanyakan kontrol nyeri
yang berhasil dilakukan. Tanyakan juga, bukti bahwa nyeri punggung memengaruhi gaya
hidup. Nyeri trauma di rasakan sehabis istirahat dari aktivitas.Pada tingkat selanjutnya,terjadi
spasme otot paravertebral (peningkatan tonus otot tulang postural belakang yang
berlebihan)disertai hilangnya lengkung lordotik lumbal.Pada pengkajian lain,perawat
biasanya menemukan adanya hubungan keluarga,lingkungan tempat tinggal,dan kerja dengan
keluhan nyeri punggung bawah.
Bagaimana pekerjaan dan aktivitas rekreasi klien. Informasi mengenai nyeri dapat
menjadi data dasar untuk menentukan intervensi dan pendidikan kesehatan pada klien dan
keluarga.
Evaluasi juga cara berjalan klien, mobilitas tulang belakang, refleks, panjang tungkai,
kekuatan motorik, dan persepsi sensorik, serta ketidaknyamanan yang dialami. Secara umum,
gerakan klien selalu hati-hati, punggung selalu dijaga tetap tidak bergerak, dan kursi yang
dipilih untuk menyokong sebaiknya memiliki lengan dengan ketinggian tempat duduk
standar. Dapat ditemukan klien duduk atau berdiri dengan posisi yang tidak biasa, melenggok
menjauhi sisi yang paling nyeri, dan mungkin meminta bantuan untuk melepas pakaian,
karena gerakan punggung akan mengakibatkan rasa tidak nyaman
Pada pemeriksaan fisik, lakukan pengkajian lengkungan tulang belakang, krista iliaka,
dan simetrisitas bahu. Otot paraspinal dipalpasi, dan catat adanya spasme serta nyeri tekan.
Klien diminta membungkuk ke depan dan ke samping, catat adanya nyeri dan keterbatasan
gerak. Efek keterbatasan gerak terhadap aktivitas sehari-hari harus dicatat. Kaji terhadap
parestesi, kelemahan otot atau paralisis, nyeri punggung dan tungkai dengan pengangkat
tungkai lurus, misal klien terlentang, tungkai klien diangkat ke atas dengan lutut diluruskan.
Perawat perlu memperhatikan tentang pengkajian cara berjalan, kurvatura dan mobilitas
tulang belakang, kesimetrisan panjang tungkai (penindihan tungkai pada satu sisi dalam
keadaan lurus sering menyebabkan nyeri akibat iritasi serabut saraf daerah lumbal).Efek
keterbatasan gerak terhadap aktivitas sehari-hari perlu di tentukan .
Pengkajian psikososial spiritual dilakukan untuk melihat respon emosi klien terhadap
penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya,baik dalam keluarga ataupun dalam
masyarakat.Pengkajian tingkat pengetahuan atau pendidikan klien mengenai perawatan dan
pengobatan lanjutan perlu diperhatikan agar pemenuhan informasi selanjutnya pada klien
dapat terpenuhi
Perlu juga dikaji adanya obesitas karena dapat menimbulkan nyeri punggung bawah.
Demikian pula dengan nutrisi harus dikaji secara lengkap.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengkajian pasien menurut Arif
Mutaqqin (2008 : 352-358) terdiri dari :
Pengumpulan data subjektif dan objektif pada pasien dengan gangguan sistem
persarafan sehubungan dengan HNP bergantung pada bentuk, lokasi, jenis, injuri, dan adanya
komplikasi pada organ vital lainnya. Pengkajian keperawatan HNP meliputi anamnesis
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.
1. Anamnesis
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosis medis. HNP
terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis kelamin pria dan pekerjaan atau
aktivitas berat (mengangkat benda berat atau mendorong benda berat).
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah nyeri punggung bawah.
a. Propocatif/ paliatif
Adanya riwayat trauma (mengangkat atau mendorong benda berat).
b. Quality/ Quantity
Sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat, mendenyut, seperti kena api, nyeri
tumpul yang terus-menerus. Kaji penyebaran nyeri, apakah bersifat radikular atau nyeri acuan
(refered pain). Nyeri bersifat menetap, atau hilang timbul, semakin lama semakin nyeri. Nyeri
bertambah hebat karena adanya faktor pencetus seperti gerakan-gerakan pinggang batuk atau
mengedan, berdiri atau duduk atau jangka waktu yang lama dan nyeri berkurang bila dibuat
istirahat atau berbaring. Sifat nyeri khas dari posisi berbaring ke duduk, nyeri mulai dari
pantat dan menjalar ke bagian belakang lutut, kemudian ketungkai bawah. Nyeri bertambah
bila ditekan didaerah L5-S1 (garis antara dua krista iliaka).
c. Region
Letak atau lokasi nyeri, minta klien menunjukkan nyeri dengan setempat-tempatnya sehingga
letak nyeri dapat diketahuai dengan cermat.
d. Saverity
Pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh, posisi yang
bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri. Aktivitas yang
menimbulkan nyeri seperti berjalan, menuruni tangga, menyapu, dan gerakan yang
mendesak. Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgesik, berapa lama klien
menggunakan obat tersebut.
e. Time
Sifatnya akut, sub akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat menetap, hilang timbul,
semakin lama semakin nyeri. Nyeri pinggang bawah yang intermiten (dalam beberapa
minggu sampai beberapa tahun).
2. Riwayat Penyakit Saat Ini
Kaji adanya riwayat trauma akibat mengangkat atau mendorong benda yang berat, pengkajian
yang dapat meliputi keluhan paraparesis flisid, parestesia, dan retensi urine. Keluhan pada
punggung bawah, ditengah-tengah area pantat dan betis, belakang tumit, dan telapak kaki.
Klien sering mengeluh kesemutan (parastesia) atau baal bahkan kekuatan otot menurun
sesuai dengan distribusi persarafan yang terlibat.
Pengkajian riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, yang juga bisa minimbulkan nyeri
pinggang bawah yang keluhannya hampir mirip dengan keluhan nyeri HNP sangat diperlukan
untuk penegakkan masalah klien lebih komprehensif dan memberikan dampak
terhadapintervensi keperawatan selanjutnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi apakah klien pernah menderita tuberkolosis
tulang, osteomielitis, keganasan (mieloma multipleks), dan metabolik (osteoporosis) yang
semua penyakt ini sering berhubungan dengan kejadian dan meningkatkan resiko terjadinya
herniasi nukleus pulposus (HNP). Pengkajian lainnya adalah menanyakan adanya riwayat
hipertensi, riwayat cidera tulang belakang, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Pengkajian
ini berguna sebagia data untuk melakukan tindakan lainnya dan menghindari komplikasi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes militus.
5. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, perubahan peran klien dalam keluarga dan
masyarakat, dan respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam
keluarga ataupun dalam masyarakat, apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat
penyakit seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ke tidak mampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan
citra tubuh).
Adanya perubahan berupa paralisis anggota gerak bawah memberikan manifestasi berbeda
pada setiap klien yang mengalami gangguan pada tulang belakang. Semakin lama klien
menderita paraparise tersebut, maka makin akan bermanifestasi pada koping yang tidak
efektif.
Adanya perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena klien mengalami kesulitan
dalam beraktivitas mengakibatkan ketidak mampuan dalam aktivitas ekonomi. Pola persepsi
dan konsep diri yang ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah
marah dan tidak kooperatif, karena klien harus menjalani rawat inap maka perawat harus
mengkaji apakah keadaan iniakan memberi dampak pada status ekonomi klien, karena biaya
perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit. Pengobatan HNP yang
memerlukan biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan
keuangan keluarga. Perawat juga melakukan pengkajian terhadap fungsi neurologis dan
dampak ganguan neurologisyang akan terjadi pada gaya hidup individu.
Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas dua masalah, yaitu keterbatasan yang
diakibatkan oleh defisit nurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana
pelayanan yang akan mendukung adaptasi klien dengan gangguan neurologis di dalam sistem
dukungan individu.
6. Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik
sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesa. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan perissitem dan terarah (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada
B3 (Brain)dan B6 (Bone) dan dihubngkan dengan keluhan klien.
a. Keadaan Umum, pada HNP keadaan umum biasanya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan padatanda-tanda vital brakikardi, hipotensi yang berhubungan
dengan penurunan aktivitas karena adanya paraparise.
B1 (Breating) jika tidak mengganggu sistem pernapasan biasanya pada pemeriksaan :
1) Inspeksi, ditemukan klien tidak mengalami batuk, tidak sesak napas , dan frekuensi
pernapasan normal.
2) Palpasi, ditemukan taktil fremitus kiri dan kanan.
3) Perkusi, ditemukan adanya sura resonan pada seluruh lapang paru.
4) Auskultasi, ditemukan tidak terdengar bunyi napas tambahan.
B2 (Blood), bila tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler, biasanya kualitas dan
frekuensi nadi normal, tekanan darah normal. Pada auskultasi, tidak ditemukan bunyi jantung
tambahan.
B3 (Brain), merupakan pemeriksaan fokus yang lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada
sistem yang lain. Inspeksi umum, kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,
adanya anglus, pelvis miring/asimetris, postur tungkai yang abnormal. Hambatan pada
pergerakan punggung, pelvis dan tungkai selama bergerak.
b. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya kompos mentis.
c. Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental, observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan
observasi ekspresi wajah, dan aktivitas motirik. Status mental klien yang telah lama
menderita HNP biasanya mengalami perubahan.
d. Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I, biasanya pada klien HNP tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada
kelainan.
Saraf II, hasil tesketajaman penglihatan biasanya normal.
Saraf III, IV, dan V, klien biasanya mengalami kesulitan mengangkat kelopak mata, pupil
isokor.
Saraf V, pada klien HNP umumnya tidak ditemukan paralisis pada otot wajah dan refleks
kornea biasanya tidak ada kelainan.
Saraf VII, persepsi pengecapan dalam bats normal, wajah simetris.
Saraf VIII, tidak ditemukannya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X, kemampuan menelan baik.
Saraf XI, tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII, lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, indra
pengecapan normal.
e. Sistem motorik
1) Kaji kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki dan ibu jari, dan jari
lainnya dengan memeinta klien untuk melakukan gerak fleksi dan ekstensi lalu menahan
gerakan tersebut.
2) Ditemukan atropi otot pada meleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanan
dan kiri.
3) Fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot tertentu.
f. Pemeriksaan refleks
1) Refleks achilles pada HNP L4-L5 negatif.
2) Reflek lutut/patella pada HNP lateral di L4-L5 negatif.
g. Sistem sensorik
Lakukan pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa getar untuk
menentukan dermatom yang terganggu sehigga dapat ditentukan pula radiks yang terganggu.
Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga tidak
memebingungkan klien. Palapasi dilakukan pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah
yang paling terasa nyeri.
B4 (Bladder), kaji keadaan urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan
dapat terjadi akibat menurunya perfusi pada ginjal.
B5 (Bowel), pemenuhan nutrisi kurang karena adanya mual dan asupan nutrisi yang kurang.
Lakukan pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada
mulut atau perubahan pada lidah. Hal ini dapat menunjukkan adanya dehidrasi.
B6 (Bone), adanya kesulitan dalam beraktivitas dan menggerakkan badan karena danya nyeri,
kelemahan,kehilangan sensori, dan mudah lelah menyebabkan masalah padapola aktivitas
dan istirahat. Inspeksi, karvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya angulus,
pelvis yang miring/asimetris, muskulatur paravertebral atau bokong yang asimetris, postur
tungkai yang abnormal. Adanya kesulitan atau hambatan dalam melakukan pergerakan
punggung, pelvis dan tungkai selama bergerak. Palapasi, ketika meraba kolumna
vertebratalis, cari kemungkinan adanya deviasi kelateral antroposterior. Palapsi pada daerah
yang ringan rasa nyerinya kearah yang paling terasa nyeri.

2. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan pengkajian diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien
yang mengalami nyeri punggung bawah adalah sebagai berikut.
1. Nyeri berhubungan dengan masalah muskuloskeletal
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan berkurangnya
kelenturan
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh melindungi punggung
4. Perubahan peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik
5. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan obesitas

3. Rencana Keperawatan
Diagnosis Keperawatan: Nyeri berhubungan dengan masalah muskuloskeletal
Tindakan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri klien berkurang (skala 0-2)
Kriteria Hasil:
A. Klien mengalami berkurang atau hilangnya nyeri:
1. Istirahat dengan nyaman
2. Mengubah posisi dengan nyaman
3. Nyeri hilang melalui penggunaan modalitas fisik, teknik psikologis dan meditasi
4. Menghindari ketergantungan obat

B. Tanda-tanda vital klien normal


1. Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2. RR:16-24x/menit
3. Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4. Nadi: 60-90x/menit
NO Intervensi Rasional
1 Dorong klien untuk tirah baring dan Memperbaiki posisi lumbal untuk mengurangi
perubahan posisi, untuk memperbaiki rasa nyeri yang dirasakan klien.
posisi lumbal
2 Ajarkan klien teknik relaksasi untuk Dengan teknik relaksasi untuk mengalihkan
mengontrol dan menyesuaikan nyeri perhatian nyeri.
3 Ajarkan dan anjurkan untuk Dengan melakukan pernapasan diafragma
melakukan pernapasan diafragma dapat mengurangi tegangan otot sehingga
untuk mengurangi tegangan otot klien dapat rileks dan nyeri klien berkurang
4 Upayakan untuk mengalihkan Dengan mengalihkan perhatian, nyeri klien
perhatian klien: membaca, bercakap- yang dirasakan dapat berkurang
cakap, menonton TV
5 Berikan masase jaringan lunak dengan Memberikan masase pada jaringan lunak
lembut, untuk mengurangi spasme dengan lembut dapat memberikan rasa rileks,
otot, memperbaiki peredaran darah, untuk mengurangi spasme otot, memperbaiki
mengurangi bendungan, dan peredaran darah, mengurangi bendungan, dan
mengurangi nyeri mengurangi nyeri
Paham, ajarkan, dan bantu klien cara Dengan memberikan pemahaman, pengajaran
penggunaan TENS, karena dapat dan bantu klien dapat mengerti tindakan
menyebabkan distritmia keperawatan yang dilakukan pada klien dank
lien dapat mendemonstrasikan tindakan
keperawatan
7 Catat respons klien terhadap berbagai Dengan mencatat respon klien dapat
modalitas penatalaksanaan nyeri memberikan tindakan klien selanjutnya
Berikan obat sesuai order Dengan memberikan obat sesuai order akan
memberikan ketepatan terapi yang diberikan
oleh klien.

Diagnosis Keperawatan: Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot,
dan berkurangnya kelenturan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mengalami
mobilitas fisik
Kriteria Hasil
A. Klien menunjukkan kembalinya mobilitas fisik:
1) kembali ke aktivitas semula secara bertahap,
2) menghindari posisi yang menyebabkan ketidaknyamanan dan spasme otot
3) merencanakan atau jadwal istirahat baring setiap hari

B. Tanda-tanda vital klien normal


1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

NO INTERVENSI RASIONAL
1 menantau secara kontinu mobilitas Memantau secara kontinu mobilitas akan
fisik klien, bergerak dan berdiri mengetahui aktivitas klien
2 Bantu klien merubah posisi secara Dengan merubah posisi klien secara perlahan
perlahan akan meningkatkan latihan mobilitas fisik
pada klien
3 Ajarkan klien cara yang tepat turun Dengan memberikan cara yang tepat turun
dari tempat tidur, dengan nyeri dari tempat tidur, hal ini untuk mencegah
minimal terjadinya injuri dan nyeri
4 Sampaikan dan ingatkan klien tidak Gerakan memutar dan melenggok akan
boleh melakukan gerakan memutar meningkatkan nyeri pada klien.
dan melenggok
5 Dorong klien melakukan ganti posisi, Dengan terus melakukan pergantian posisi
berbaring, duduk, berjalan. Namun berbaring, duduk, berjalan akan meningkatkan
tidak boleh dalam waktu yang lama/ mobilitas fisik dan mengurangi terjadinya
terus menerus kerusakan integument klien
6 Buat jadwal periode istirahat Dengan membuat jadwal periode istirahat
berbaring di tempat tidur beberapa berbaring akan memaksimalkan pengurangan
kali sehari bersama-sama klien. nyeri pada klien.
7 Dorong klien untuk mematuhi jadwal Dengan mematuhi latihan yang dibuat akan
latihan yang sudah dbuat dan memberikan latihan maksimalkan mobilitas
meningkat latihan secara bertahap klien.

Diagnosis Keperawatan: Kurang pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh


melindungi punggung
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien memahami teknik
mekanika tubuh melindungi punggung
A. Klien menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung:
1) Perbaikan postur
2) Mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stres pada punggung
3) Memperlihatkan penggunaan mekanika tubuh yang baik
4) Berpartisipasi dalam program latihan

B. Tanda-tanda vital klien normal


1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Ajarkan klien cara berdiri, duduk, Dengan mengajarkan klien, klien dapat
berbaring, dan mengangkat barang mendemonstrasikan tindakan keperawatan
dengan benar yang diberikan
2 Menganjurkan atau mengganti sepatu/ Dengan menggunakan bertumit rendah akan
sandal dengan yang bertumit rendah mengurangi terjadinya cedera pada klien.
3 Anjurkan klien untuk Dengan mengistirahatkan salah satu kaki,
mengistirahatkan salah satu kaki, bagi klien dapat mengurangi cedera pada klien
klien yang terpaksa berdiri lama untuk
mengurangi lordosis lumbal
4 Anjurkan klien untuk melihat postur Klien mengetahui mendemonstrasi dalam
yang benar melalui cermin; latih memberikan postur yang benar
postur dada membusung dan perut
mengempis
5 Jelaskan bahwa mengunci lutut saat Mengunci lutut saat berdiri dan membungkuk
berdiri dan membungkuk ke depan ke depan dapat memberikan nyeri pada klien
dalam waktu yang lama harus
dihindari

Diagnosis Keperawatan: Perubahan peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri
kronik
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat kembali ke
peran semula.
Kriteria Hasil:
A. Klien menunjukkan kembali ke peran semula
1) Menggunakan teknik menghadapi masalah untuk menyesuaikan diri dengan stres
2) Memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang lain untuk perawatan diri
3) Kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah sudah sembuh
4) Kembali ke gaya hidup produktif penuh
B. Tanda-tanda vital klien normal
1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Bantu klien menghadapi stresor Klein dapat menghadapi stress dan dapat
spesifik dan belajar bagaimana menyesuaikan diri
menghadapi stres tersebut.
2 Membantu klien dan keluarga dalam Membantu klien dapat memberikan
mengidentifikasi kebutuhan kemudahan kepada klien
ketergantungan yang berkepanjangan
3 Membantu klien dan keluarga Untuk memperlihatkan kekurangan
mengidentifikasi dan menghadapi ketergantungan pada orang lain
alasan yang mendasari ketergantungan
4 Konsultasi ke klinik punggung atau Dengan konsultasi, klien dapat memberikan
klinik nyeri terapi yang tepat
5 Konseling dengan ahli psikoterapi Dengan diberi konseling dapat memberikan
untuk membantu klien kembali ke peningkatan mobilitas yang mandiri
kehidupan yang produktif

Diagnosis Keperawatan: Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan berhubungan dengan


obesitas
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nutrisi klien adekuat
A. Kriteria Hasil:
Klien mencapai berat badan yang diinginkan.
1) Mengidentifikasi perlunya penurunan berat badan
2) Mengatur sasaran yang masuk akal
3) Berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan berat badan
4) Mengikuti program penurunan berat badan
B. Tanda-tanda vital klien normal
1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kolaborasi penyusunan program Memberikan terapi yang tepat kepada klien
penurunan berat badan dan stres pada dalam mengurangi penurunan berat badan
punggung bawah
2 Berikan pengawasan terhadap rencana Memberikan pengawasan dapat
penuruna n berat badan klien memaksimalkan diit kepada klien
3 Lakukan pencatatan setiap pencapaian Memberikan pencatatan untuk
memaksimalkan terapi dan tindakan
keperawatan yang diberikan
4 Berikan semangat dan pujian positif Memberikan motivasi kepada klien agar dapat
untuk mendorong kepatuhan kooperatif dalam memberikan tindakan
keperawatan

5. Evaluasi
Pada Diagnosa: Nyeri berhubungan dengan masalah musculoskeletal
DIAGNOSA EVALUASI
Nyeri S: Klien mengatakan tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang
berhubungan O:
dengan masalah Klien mengalami berkurang atau hilangnya nyeri:
musculoskeletal
1) Klien tampak istirahat denga nyaman
2) Klien dapat mengubah posisi dengan nyaman
3) Nyeri klien hilang melalui penggunaan modalitas fisik, teknik psikologis
dan meditasi
4) Klien dapat Menghindari ketergantungan obat

Tanda-tanda vital klien normal


5. Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
6. RR:16-24x/menit
7. Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
8. Nadi: 60-90x/menit

A:
Hentikan intervensi apabila criteria hasil terpenuhi,
Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil belum terpenuhi,
P:
Lanjutkan intervensi
Hentikan Intervensi
Kerusakan S: Klien mengatakan dapat bergerak
mobilitas fisik O:
berhubungan Klien menunjukkan kembalinya mobilitas fisik:
dengan nyeri, 1) Klien dapat kembali ke aktivitas semula secara bertahap,
spasme otot, 2) Klien menghindari posisi yang menyebabkan ketidaknyamanan dan
dan spasme otot
berkurangnya 3) Klien dapat merencanakan atau jadwal istirahat baring setiap hari
kelenturan
Tanda-tanda vital klien normal
1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

A:
Hentikan intervensi apabila criteria hasil terpenuhi,
Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil belum terpenuhi,

P:
Lanjutkan intervensi
Hentikan Intervensi
Kurang S: Klien mengatakan
pengetahuan O:
berhubungan Klien menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung:
dengan teknik 1) Klien dapat Perbaikan postur
mekanika tubuh 2) Klien dapat mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stres pada
melindungi punggung
punggung 3) Klien dapat mendemonstarikan atau memperlihatkan penggunaan
mekanika tubuh yang baik
4) Klien dapat berpartisipasi dalam program latihan

Tanda-tanda vital klien normal


1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

A:
Hentikan intervensi apabila criteria hasil terpenuhi,
Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil belum terpenuhi,

P:
Lanjutkan intervensi
Hentikan Intervensi
Perubahan S: Klien mengatakan
peran O:
berhubungan Klien menunjukkan kembali ke peran semula
dengan 1) Klien dapat menggunakan teknik menghadapi masalah untuk
gangguan menyesuaikan diri dengan stres
mobilitas dan 2) Klien dapat memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang
nyeri kronik lain untuk perawatan diri
3) Klien dapat kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah sudah
sembuh
4) Klien dapat kembali ke gaya hidup produktif penuh

Tanda-tanda vital klien normal


1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

A:
Hentikan intervensi apabila criteria hasil terpenuhi,
Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil belum terpenuhi,

P:
Lanjutkan intervensi
Hentikan Intervensi
Perubahan S: Klien mengatakan
nutrisi lebih O:
dari kebutuhan Klien mencapai berat badan yang diinginkan.
berhubungan 1) Klien dapat mengidentifikasi perlunya penurunan berat badan
dengan obesitas 2) Klien dapat mengatur sasaran yang masuk akal
3) Klien dapat berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan
berat badan
4) Klien dapat mengikuti program penurunan berat badan

Tanda-tanda vital klien normal


1) Suhu:36,5-37,5 derajat Celsius
2) RR:16-24x/menit
3) Tekanan darah:110-130/70-90mmHg
4) Nadi: 60-90x/menit

A:
Hentikan intervensi apabila criteria hasil terpenuhi,
Lanjutkan intervensi apabila criteria hasil belum terpenuhi,
P:
Lanjutkan intervensi
Hentikan Intervensi
http://ithinkeducation.blogspot.co.id/2015/02/asuhan-keperawatan-askep-nyeri-punggung.html

APORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH


(LOW BACK PAIN / LBP)

A. Pengertian Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan
sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai
sampai kaki. (Harsono, 2000)
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat
dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Peraturan utama dalam
merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun
penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan
hanya pada laporan pasien.
Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis
walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada
masalah kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh
terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus
pulposus,osteoartritis dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain
adalah nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau
terdesaknya otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus
pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

B. Etiologi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


 Perubahan postur tubuh biasanya karena trauma primer dan sekunder.
o Trauma primer seperti : Trauma secara spontan, contohnya kecelakaan.
o Trauma sekunder seperti : Adanya penyakit HNP, osteoporosis, spondilitis, stenosis
spinal, spondilitis,osteoartritis.
 Ketidak stabilan ligamen lumbosacral dan kelemahan otot.
 Prosedur degenerasi pada pasien lansia.
 Penggunaan hak sepatu yang terlalu tinggi.
 Kegemukan.
 Mengangkat beban dengan cara yang salah.
 Keseleo.
 Terlalu lama pada getaran.
 Gaya berjalan.
 Merokok.
 Duduk terlalu lama.
 Kurang latihan (oleh raga).
 Depresi /stress.
 Olahraga (golp,tennis,sepak bola).

LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN / LBP)

C. Faktor Resiko Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


Faktor resiko secara fisiologi.
1. Umur ( 20 – 50 tahun ).
2. Kurangnya latihan fisik.
3. Postur yang kurang anatomis.
4. Kegemukan.
5. Scoliosis parah.
6. HNP.
7. Spondilitis.
8. Spinal stenosis ( penyempitan tulang belakang ).
9. Osteoporosis.
10. Merokok.
Faktor resiko dari lingkungan.
1. Duduk terlalu lama.
2. Terlalu lama pada getaran.
3. Keseleo atau terpelintir.
4. Olah raga ( golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).
5. Vibrasi yang lama.
Faktor resiko dari psikososial.
1. Ketidak nyamanan kerja.
2. Depresi.
3. Stress.

D. ANATOMI DAN FISIOLOGI


 Guna kerangka.
1. Menahan seluruh bagian-bagian badan (Menopang tubuh).
2. Melindungi alat tubuh yang halus seperti otak,jantung dan paru-paru.
3. Tempat melekatnya otot-otot dan pergerakan tubuh dengan perantaraan otot.
4. tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah.
5. Memberi bentuk pada bangunan tubuh.
 Ruas-ruas tulang belakang.
Bentuk dari tiap-tiap ruas tulang belakang pada umumnya sama,hanya ada bedanya
sedikit tergantung pada kerja yang ditanganinya.
Ruas-ruas ini terdiri atas beberapa bagian :
1. badan ruas merupakan bagian yang terbesar,bentuknya tebal dan kuat,terletak
disebelah depan.
2. Lengkung luas.
Bagian yang melingkari dan melindungi lubang luas tulang belakang terletak di sebelah
belang dan pada bagian ini terdapat tonjolan yaitu :
1. Prosesus spinosus / taju duri.
Terdapat ditengah-tengah lengkung luas,menonjol kebelakang.
2. Prosesus tranversum / taju sayap.
Terdapat disamping kiri dan kanan lengkung luas.
3. Prosesus artikulasi / taju penyendi.
Membentuk persendian dengan ruas tulang belakang (vertebralis).
 Fungsi ruas tulang belakang.
1. Menahan kepela dan alat-alat tubuh yang lain..
2. Melindungi alat halus yang ada didalamnya (sum-sum belakang).
3. Tempat melekatnya tulang iga dan tulang pinggul.
4. Menentukan sikap tubuh.
Ruas-ruas tulang belakang ini tersusun dari atas kebawah dan diantara masing-masing
ruas dihubungkan oleh tulang rawan yang disebut cakram antara ruas sehingga tulang
belakang bias tegak dan membungkuk. Disamping itu disebelah depan dan
belakangnya terdapat kumpulan serabut-serabut kenyal yang memperkuat kedudukan
ruas tulang belakang.
Ditengah-tengah bagian ruas-ruas tulang belakang terdapat pula suatu saluran yang
disebut saluran sum-sum belakang (kanalis medulla spinalis) yang didalamnya terdapat
sum-sum tulang belakang.
 Bagian-bagian dari ruas tulang belakang.
1. Vertebra sedrvikalis (tulang leher) 7 ruas mempunyai badan ruas kecil dan lubang
ruasnya besar. Pada tagu sayapnya terdapat lubang tempat lalunya syarap yang
disebutFor Amentuam Versalis (Foramentuan Versorium). Ruas pertama vertebra
servikalis disebut Atlas yang memungkinkan kepala berputar kekiri dan kekanan. Ruas
kedua disebut prosesus ke 7 mempunyai taju yang disebut Prosesus Prominan,taju
ruiasnya agak panjang.
2. Vertebra Torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas,badan ruasnya besar dan
kuat. Taju durinya panjang dan melengkung,pada daerah bagian dataran sendi sebelah
atas,bawah,kiri dan kanan ini membentuk persendian dengan tulang iga.
3. vertebra lumbalis (tulang pinggul) terdiri dari 5 ruas,badan ruasnya besar,tebal dan
kuat. Taju durinya agak picak bagi ruas dari ruas ke 5 agak menonjol disebut
Promontorium.
4. vertebra sakralis (ruas tulang kelangkang) terdiri dari 5, yang membentuk sakrum atau
tulang kelangkang.
5. vertebra Koksigius (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas. Ruas-ruasnya kecil dan menjadi
sebuah tulang yang disebut Os Koksigialis dapat bergerak sedikit karena membentuk
persendian dengan sacrum.
LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN / LBP)

Anatomi Lumbal

E. Patofisiologi Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


1. Mekanisme terjadinya nyeri pada Low Back Pain
Nyeri yang ada pada low Back Pain 2 macam
1 Nyeri Nosiseptif
2 Nyeri Neuropatik
Bangunan peka nyeri yang terdapat di punggung bawah adalah periosteum, 1/3
bangunan luar annulus fibroseptor (bagian fibrosa dari diskus intervertebralis)
ligamentum kapsula artikularis, fasia dan otot. Semua banguan tersebut
mengandung nosiseptor yang peka terhadap berbagai stimulus(mekanik, termal,
kimiawi). Bila reseptor dirangsang oleh sebagian stimulus lokal akan, dijawab
dengan pengeluaran sebagai mediator inflamasi dan substansia lainnya yang
menyebabkan timbulnya persepsinyeri., hiperalgesia maupun alodinia yang
bertujuan mencegah pergerakan untuk memungkinkan berlangsung proses
penyembuhan. Salah satu mekanisme untuk mencegah kerusakan yang lebih berat
adalah spasme otot yang membatasi pergerakan. Spasme otot ini menyebabkan
iskemia dan sekaligus menyebabkan munculnya titik picu (trigger points) yang
merupakan salah satu kondisi nyeri. Pembungkus syaraf juga, kaya akan nosiseptor
yang merupakan akhiran dari nervi nervorum yang juga berperan sebagai sumber
nyeri nosiseptif inflamasi, terutama nyeri yang dalam dan sulit dilokalisir. Berbagai
jenis rangsangan tadi akan mengantisipasi nosiseptor, langsung menyebabkan nyeri
dan sensitisasi menyebabkan hiperalgesia. Nyeri yang diakibatkan oleh aktivitas
nosiseptor ini disebut nyeri nosiseptif.
2. Mekanisme Nyeri Neurepatik Pada LBP
Nyeri neuropatik adalah nyeri yang didahului atau disebabkan oleh lesi atau
disfungsi primer pada system syaraf. Nyeri neuropatik yang sering ditemukan pada LBP
berupa penekanan atau jeratan radiks syaraf oleh karena Hernia Nukleus Pulposus
(HNP, penyempitan kanalis spinalis, pembengkaan artikulasio atau jaringan sekitarnya,
fraktur mikro (misalnya penderita osteoporosis), penekanan oleh tumor dan sebagainya.
Penanganan pada radiks saraf, terdapat 2 kemungkinan:
a. Penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus syaraf yang kaya nosiseptor
dari nervi nervorum, yang menimbulkan inflamasi, nyeri dirasakan distribusi serabut
syaraf tersebut. nyeri bertambah jika terdapat peperangan serabut syarap, misalnya
karena pergerakan.
b. Penekanan sampai mengenai serabut syaraf, sehingga ada kemungkinan terjadi
gangguan keseimbangan neuron sensorik melalui pelabuhan molekuler. Perubahan
molekuler menyebabkan aktivitas SSA menjadi abnormal, timbul aktifitas ektopik
(aktivitas di luar nosiseptor), akumulasi saluran ion Natrium (SI-Na dan saluran ion
baru di daerah lesi). Penumpukan SI-Na naupun saluran ion baru didaerah lesi
menyebabkan timbulnya mechsno-hot-sopt yang sangat peka terhadap rangsangan
mekanikal maupun termal(hiperagesia mekanikal dan termal). Ditemukan juga
pembentukan reseptor adrener menyebabkan stress psikologi yang mampu
memperberat nyeri. Aktivitas ektopik menyebabkan timbulnya nyeri neuropatik baik
yang sepontan seperti parestesia, disestisia, nyeri seperti kesetrum dan sebagainya,
yang membedakan dengan nyeri inflamasi maupun yamg dibangkitkan seperti
hiperal dan alodinia. Terjadinya hiperalgesia dan alodinia pada nyeri ncuropatik juga
disebabkan oleh adanya fenomena wind-up, LTP dan perubahan fenotip AB. Pada
nyeri nosiseptif, inhibisi meningkat sedang pada nyeri neuropatik terutama
disebabkan penurunan reseptor opioid di neuron kornu dorsalis dan peningkatan
cholesystokinin (CCK) yang menghambat kerja reseptor opioid.
LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN / LBP)

Pathway LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN


/ LBP)

F. Manifestasi Klinik Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


 Perubahan dalam gaya berjalan.
1. Berjalan terasa kaku.
2. Tidak bias memutar punggung.
3. Pincang.
 Persyarafan
1. Ketika dites dengan cahaya dan sentuhan dengan peniti,pasien merasakan sensasi
pada kedua anggota badan,tetapi mengalami sensasi yang lebih kuat pada daerah yang
tidak dirangsang.
2. Tidak terkontrol Bab dan Bak.
 Nyeri.
1. Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.
2. Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.
3. Nyeri otot dalam.
4. Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.
5. Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.
6. Nyeri pada pertengahan bokong.
7. Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.

G. Penatalaksanaan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


1. Penata Laksanaan Keperawatan.
- Informasi dan edukasi.
- Pada NPB akut : Imobilisasi (lamanya tergantung kasus), pengaturan berat badan,
posisi tubuh dan aktivitas, modalitas termal (terapi panas dan dingin) masase, traksi
(untuk distraksi tulang belakang), latihan : jalan, naik sepeda, berenang (tergantung
kasus), alat Bantu (antara lain korset, tongkat)
- NPB kronik: psikologik, modulasi nyeri (TENS, akupuntur, modalitas termal), latihan
kondisi otot, rehabilitasi vokasional, pengaturan berat badan posisi tubuh dan
aktivitas.
2. Medis
a. Formakoterapi.
- NPB akut: Asetamenopen, NSAID, muscle relaxant, opioid (nyeri berat), injeksi
epidural (steroid, lidokain, opioid) untuk nyeri radikuler
- NPB kronik : antidepresan trisiklik (amitriptilin) antikonvulsan (gabapentin,
karbamesepin, okskarbasepin, fenitoin), alpha blocker (klonidin, prazosin), opioid
(kalau sangat diperlukan)
b. Invasif non bedah
- Blok saraf dengan anestetik lokal (radikulopati)
- Neurolitik (alcohol 100%, fenol 30 % (nyeri neuropatik punggung bawah yang
intractable)
c. Bedah
HNP (Hernia Nukleus Pulposus), indikasi operasi :
- Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih dari empat minggu: nyeri
berat/intractable / menetap / progresif.
- Defisit neurologik memburuk.
- Sindroma kauda.
Stenosis kanal : setelah terjadi konservatif tidak berhasil
- Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologik dan
radiologik.

H. Pemeriksaan Diagnostik Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


1 Neurofisiologik
- Electromyography (EMG)
- Need EMG dan H-reflex dianjurkan bila dugaan disfungsi radiks lebih dari 3-4
minggu
- Bila diagnosis radikulapati sudah pasti secara pemeriksaan klinis, pemeriksaan
elektrofisiologik tidak dianjurkan.
- Somatosensory Evoked Potensial (SSEP). Berguna untuk stenosis kanal dan
mielopati spinal.
2 Radiologik
- Foto polos.
- Tidak direkomendasikan untuk evaluasi rutin penderita NPB.
- Direkomendasikan untuk menyampingkan adanya kelainan tulang.
- Mielografi, mielo-CT, CT-Scan, Magnetik Resonance Imaging (MRI)
- Diindikasikan untuk mencari penyebab nyeri antara lain tumor, HNP perlengketan
- Discography tidak direkomendasikan pada NPB oleh karena invasive
3 Laboratorium
- Laju endap darah, darah perifer lengkap, C-reactif protein (CRP), faktor rematoid,
fosfatase alkali / asam, kalsium (atas indikasi)
- Urinalisa, berguna untuk penyakit non spesifik seperti infeksi, hematuri
- Likuor serebrospinal (atas indikasi)

LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN / LBP)

I. Asuhan Keperawatan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


1. Pengkajian Keperawatan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)
Data fokus yang perlu dikaji:
a. Riwayat kesehatan
1) Riwayat Penyakit
a) Keluhan Utama (keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian)
b) Riwayat penyakit sekarang
 Diskripsi gejala dan lamanya
 Dampak gejala terhadap aktifitas harian
 Respon terhadap pengobatan sebelumnya
 Riwayat trauma
c) Riwayat Penyakit Sebelumnya
 Immunosupression (supresis imun)
 Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas (kangker)
 Nyeri yang menetap merupakan pertimbangan untuk kangker atau infeksi.
 Pemberatan nyeri di kala terbaraing (tumor instraspinal atau infeksi) atau
pengurangan nyeri (hernia nudeus pulposus / HNP)
 Nyeri yang paling berat di pagi hari (spondiloartropati seronegatif: ankylosing
spondyli-tis, artristis psoriatic, spondiloartropati reaktif, sindroma fibromialgia)
 Nyeri pada saat duduk (HNP, kelainan faset sendi, stenosis kanal, kelahinan otot
paraspinal, kelainan sendi sakroilikal, spondilosis / spondilolisis / spondilolistesis,
NPB-spesifik)
 Adanya demam (infeksi)
 Gangguan normal (dismenore, pasca-monopause /andropause)
 Keluhan visceral (referred pain)
 Gangguan miksi
 Saddle anesthesia
 Kelemahan motorik ekstremitas bawah (kemungkinan lesi kauda ekwina)
 Lokasi dan penjalaran nyeri.

b. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum
2) Pemeriksaan persistem
3) Sistem persepsi dan sensori
(pemeriksaan panca indera : penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap,
perasa)
4) Sistem persarafan (Pemeiksaan neurologik)
 Pemeriksaan motorik
 Pemeriksaan sens sensorik.
 Straight leg Raising (SLR), test laseque (iritasi radisks L5 atau S 1) cross
laseque(HNP median) Reverse Laseque (iritasi radik lumbal atas)
 Sitting knee extension (iritasi lesi iskiadikus)
 Pemeriksaan system otonom
 Tanda Patrick (lasi coxae) dan kontra Patrick (lesi sakroiliaka)
 Tes Naffziger
 Tes valsava.
5) Sistem pernafasan
(Nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan jalan nafas.)
6) Sistem kardiovaskuler
(Nilai tekanan darah, nadi, irama, kualitas, dan frekuensi)
7) Sistem Gastrointestinal
(Nilai kemampuan menelan,nafsu makan, minum, peristaltic dan eliminasi)
8) Sistem Integumen
(Nilai warna, turgor, tekstur dari kulit pasien )
9) Sistem Reproduksi
( Untuk pasien wanita )
10) Sistem Perkemihan
(Nilai Frekuensi Bak, warna, bau, volume )
c. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2) Pola aktifitas dan latihan
(Cara berjalan : pincang, diseret, kaku (merupakan indikasi untuk pemeriksaan
neurologis))
3) Pola nutrisi dan metabolisme
4) Pola tidur dan istirahat
(Pasien LBP sering mengalami gangguan pola tidur dikarenakan menahan nyeri
yang hebat)
5) Pola kognitif dan perceptual
(Prilaku penderita apakah konsisten dengan keluhan nyerinya (kemungkinan
kelainan psikiatrik))
6) Persepsi diri/konsep diri
7) Pola toleransi dan koping stress
((Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal sehingga
penderita berjalan sangat hati-hati untuk mengurangi rasa sakit tersebut
(kemungkinan infeksi. Inflamasi, tumor atau fraktur))
8) Pola seksual reproduksi
9) Pola hubungan dan peran
10) Pola nilai dan keyakinan

2. Diagnosa Keperawatan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain / LBP)


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Low Back Pain
adalah
a. Nyeri akut b.d agen injuri (fisik muskuloskeletal) dan system syaraf vascular)
b. Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri, kerusakan muskula skeletal, kekakuan sendi,
kontraktur)
c. Gangguan pola tidur b.d nyeri, tidak nyaman
d. Defisit self care b.d nyeri
LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN / LBP)

3. Rencana Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Nyeri akut b/d Setelah dilakukan Manajemen nyeri (1400)
agen injuri (fisik, tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
kelainan muskulo selama … x 24 jam kom-prehensif (lokasi, karateristik,
skeletal dan nyeri berkurang / durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor
system syaraf hilang dengan kriteria presipitasi).
vaskuler : 2. Observasi reaksi non verbal dari
ketidaknyamanan.
Batasan Tingkat nyeri (2102)3. Gunakan teknik komunikasi terapetik
karakteristik : - Melaporkan nyeri untuk mengetahui pengalaman nyeri
 Verbal ber-kurang / hilang klien.
Menarik nafas- Frekuensi nyeri
4. Kaji kultur / budaya yang
pan-jang, merintih berku-rang / hilang mempengaruhi respon nyeri.
Mengeluh nyeri - Lama nyeri
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa
 Motorik berkurang lampau.
- Menyeringaikan - Ekspresi oral
6. Evaluasi bersama klien dan tim
wajah. berkurang / hilang kesehatan lain tentang ketidak
- Langkah yang ter- - Ketegangan otot efektifan kontrol nyeri masa lampau.
seok-seok berku-rang / hilang 7. Bantu klien dan keluarga untuk
- Postur yang kaku - Dapat istirahat mencari dan menemukan dukungan.
/ tidak stabil - Skala nyeri
8. Kontrol lingkungan yang dapat
- Gerakan yang berkurang / menurun mempe-ngaruhi nyeri (suhu
amat lambat atau ruangan, pencahayaan, dan
terpaksa Kontrol Nyeri (1605) kebisingan)
 Respon autonom- Mengenal faktor-
9. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
- Perubahan vital faktor penyebab 10. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
sign - Mengenal onset nyeri (farmokologi, non farmakologi dan
- Jarang / tidak pernah inter-personal)
melakukan tindakan 11. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
pertolongan dengan me-nentukan intervensi.
non analgetik 12. Ajarkan tentang teknik non
- Jarang / tidak pernah farmakologi.
menggunakan 13. Berikan analgetik untuk mengurangi
analgetik nyeri.
- Jarang / tidak pernah 14. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
melaporkan nyeri
15. Tingkatkan istirahat
kepa-da tim
16. Kolaborasi dengan dokter jika ada
kesehatan. keluhan dan tindakan nyeri tidak
- Nyeri terkontrol berhasil.
- 17. Monitor penerimaan klien tentang
Tingkat kenyamanan mana-jemen nyeri.
(2100)
- Klien melaporkan Andministrasi Analgetik (2210)
kebu-tuhan istirahat
1. Tentukan lokasi, karateristik kualitas,
tidur tercukupi dan derajat nyeri sebagai pemberian
- Melaporkan kondisi obat.
fisik baik 2. Cek instruksi dokter tentang jenis
- Melaporkan kondisi obat, dosis dan fekkuensi.
psikis baik 3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgenik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgetik ketika
 pemberian lebih dari satu.
- 5. Tentukan pilihan analgesik
- tergantung tipe dan beratnya nyeri.
6. Tentukan analgetik pilihan rute
pemberian dan dosis optimal.
7. Pilih rute pemberian secara iv-im
untuk pengobatan nyeri secara
teratur
8. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
9. Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat.
10. Evaluasi efektifitas analgesik tanda
dan gejala (efek sampingan)
2 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Koreksi tingkat kemampuan
mobilitas fi-sik b.d tindakan keperawatan mobilisasi de-ngan sekala 0-4 :
nyeri, kerusakan selama … X 24 jam  0 : Klien tidak tergantung pada orang
muskuloskeletal, klien mampu lain
keka-kuan sendi mencapai mobilitas  1 : Klien butuh sedikit bantuan
atau kon-traktur fisik dengan kri-teria : 2 : Klien butuh bantuan sederhana
 3 : Klien butuh bantuan banyak
Batasan Mobility Level  4 : Klien sangat tergantung pada
karakteristik : (0208) : pemberian pelayanan
- Postur tubuh kaku- Klien dapat 2. Atur posisi klien
tidak stabil. melakukan mobilitas 3. Bantu klien melakukan perubahan
- Jalan terseok- secara bertahap gerak.
seok dengan tanpa 4. Observasi / kaji terus kemampuan
- Gerak lambat merasakan nyeri. gerak motorik, keseimbangan
- Membatasi - Penampilan 5. Ukur tanda-tanda vital sebelum dan
perubahan ge-rak seimbang sesudah melakukan latihan.
yang mendadak- Menggerakkan otot
6. Anjurkan keluarga klien untuk
atau cepat dan sendi melatih dan memberi motivasi.
- Sakit berbalik - Mampu pindah 7. Kolaborasi dengan tim kesehatan
tempat tanpa bantuan lain (fisioterapi untuk pemasangan
- Berjalan tanpa korset)
bantuan 8. Buat posisi seluruh persendian
dalam letak anatomis dan nyaman
dengan memberikan penyangga
pada lekukan lekukan sendi serta
pastikan posisi punggung lurus.
3. Gangguan pola Setelah dilakukan Peningkatan Tidur / Sleep
tidur b.d nyeri, tindakan keperawatan Enhancement (1850)
tidak nyaman selama … X 24 jam 1. Kaji pola tidur / pola aktivitas
klien dapat terpenuhi 2. Anjurkan klien tidur secara teratur
Batasan kebutuhan tidurnya 3. Jelaskan tentang pentingnya tidur
karakteristik : dengan criteria : yang cukup selama sakit dan terapi.
- Pasien menahan 4. Monitor pola tidur dan catat keadaan
sa-kit (merintih, Tidur (0004) fisik, psykososial yang mengganggu
me-nyeringai) - Jumlah jam tidur tidur
- Pasien cukup 5. Diskusikan pada klien dan keluarga
mengungkapkan - Pola tidur normal tentang tehnik peningkatan pola
tidak bisa tidur - Kualitas tidur cukup tidur
karena nyeri - Tidur secara teratur
- Tidak sering Manajemen lingkungan (6480)
terbangun 1 Batasi pengunjung
- Tanda vital dalam 2 Jaga lingkungan dari bising
batas normal 3 Tidak melakukan tindakan
keperawatan pada saat klien tidur
Rest (0003)
- Istirahat Cukup Anxiety Reduction (5820)
- Kualitas istirahat baik1 Jelaskan semua prosedur termasuk
- Istirahat fisik cukup pera-saan yang mungkin dialami
- Istirahat psikis cukup selama men-jalani prosedur
2 Berikan objek yang dapat
Anxiety control memberikan rasa aman
(1402) 3 Berbicara dengan pelan dan tenang
- Tidur adekuat 4 Membina hubungan saling percaya
- Tidak ada
5 Dengarkan klien dengan penuh
manifestasi fisik perhatian
- Tidak ada
6 Ciptakan suasana saling percaya
manifestasi perilaku 7 Dorong orang tua mengungkapkan
- Mencari informasi pera-saan, persepsi dan cemas
untuk mengurangi secara verbal
cemas 8 Berikan peralatan / aktivitas yang
- Menggunakan teknik meng-hibur untuk mengurangi
re-laksasi untuk ketegangan
mengu-rangi cemas 9 Anjurkan untuk menggunakan teknik
- Berinteraksi sosial re-laksasi
10 Berikan lingkungan yang tenang
11 Batasi pengunjung
4. Defisit srlf care b.d Seteleh dilakukan Self care assistance ;
nyeri tindakan keperawatan 1. Monitor kemampuan
pada pasien selama klien untuk perawatan diri
3 x 24 jam diharapkan yang mandiri
kebutuhan perawatan 2. Monitor kebutuhan
diri pasien dapat klien untuk alat-alat bantu
terpenuhi, dengan 3. Sediakan bantuan
kriteria hasil : sampai klien mampu secara
1. klien terbebas dari utuh untuk memenuhi
bau badan perawatan dirinya
2. Menyatakan 4. Dorong klien untuk
kenyamanan terhadap melakukan aktivitas yang
pemenuhan mandiri sesuai kemampuan
kebutuhan perawatan
diri

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8, Volume 1, EGC, Jakarta, 2002
Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8, Volume 3, EGC, Jakarta, 2002
Ruth F. Craven, EdD, RN, Fundamentals Of Nursing, Edisi II, Lippincot, Philadelphia, 2000
__________. Askep LBP (Low Back Pain). Diakses pada tanggal 12 Februaei
2012.http://nursingbegin.com/askep-lbp/.
__________.Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Low Back Pain. Diakses pada
tanggal 12 Februari 201. http://sedetik.multiply.com/journal

http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-nyeri-punggung-bawah-low-
back-pain-lbp.html