You are on page 1of 43

2.

1 Definisi Fraktur

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial.

2.2 Proses Terjadinya Fraktur

Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, harus


mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah.
Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir
(shearing).

Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama


tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.

Trauma bisa bersifat :

 Trauma langsung  menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur
pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan
lunak ikut mengalami kerusakan.
 Trauma tidak langsung  apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur
pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.

Tekanan pada tulang dapat berupa :

 Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik


 Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
 Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi
atau fraktur dislokasi
 Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah misalnya
pada badan vertebra, talus atau fraktur buckle pada anak-anak
 Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan
menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z
 Fraktur oleh karena remuk
 Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang

1
Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan seseorang mempunyai

keterbatasan gerak dan ketidakseimbangan berat badan. Fraktur yang terjadi dapat berupa

fraktur tertutup ataupun fraktur terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan

lunak disekitarnya sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai kerusakan jarigan lunak

seperti otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah.

Tekanan yang kuat atau berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat

menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka terbuka

dan akan menyebabkan peradangan dan memungkinkan untuk terjadinya infeksi. Keluarnya

darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Tertariknya segmen tulang

disebabkan karena adanya kejang otot pada daerah fraktur menyebabkan disposisi pada

tulang, sebab tulang berada pada posisi yang kaku.

2.3 Etiologi Fraktur

Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut

kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Dua faktor mempengaruhi terjadinya fraktur:

 Ekstrinsik  meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan

kekuatan trauma.

 Intrinsik  meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan,

kekuatan, dan densitas tulang.

Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk
menghadapi stress dengan kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari: (1) cedera; (2) stress
berulang; (3) fraktur patologis.1

A. Fraktur yang disebabkan oleh cedera1

Sebagian besar fraktur disebabkan oeh tenaga berlebihan yang tiba-tiba, dapat secara
langsung ataupun tidak langsung.

2
Dengan tenaga langsung tulang patah pada titik kejadian; jaringan lunak juga rusak.
Pukulan langsung biasanya mematahkan tulang secara transversal atau
membengkokkan tulang melebihi titik tupunya sehingga terjadi patahan dengan
fragmen “butterfly”. Kerusakan pada kulit diluarnya sering terjadi; jika crush injury
terjadi, pola faktur dapat kominutif dengan kerusakan jaringan lunak ekstensif.

Dengan tenaga tidak langsung, tulang patah jauh dari dimana tenaga dierikan;
kerusakan jaringan lunak pada tempat fraktur jarang terjadi. Walaupun sebagian besar
fraktur disebabkan oleh kombinasi tenaga (perputaran, pembengkokkan, kompresi, atau
tekanan), pola x-ray menunjukkan mekanisme yang dominan:

 Terpelintir mengakibatkan fraktur spiral;


 Kompresi mengakibatkan fraktur oblique pendek;
 Pembengkokan mengakibatkan fraktur dengan fragmen triangular “butterfly”;
 Tekanan cenderung mematahkan tulang kearah transversal; pada beberapa situasi
tulang dapat avulse menjadi fragmen kecil pada titik insersi ligament atau tendon.

Deskripsi diatas merupakan deskripsi untuk tulang panjang. Tulang kecil jika terkena
gaya yang cukup, akan terbelah atau hancur menjadi bentuk yang abnormal.

B. Fatigue atau stress fracture1

Fraktur ini terjadi pada tulang normal yang menjadi subjek tumpuan berat berulang,
seperti pada atlet, penari, atau anggota militer yang menjalani program berat. Beban ini

3
menciptakan perubahan bentuk yang memicu proses normal remodeling—kombinasi
dari esorpsi tulang dan pembentukan tulang baru menurut hukum Wolff. Ketika pajanan
terjadap stress dan perubahan bentuk terjadi berulang dan dalam jangka panjang,
resorpsi terjadi lebih cepat dari pergantian tulang, mengakibatkan daerah tersebut rentan
terjadi fraktur. Masalah yang sama terjadi pada individu dengan pengobatan yang
mengganggu keseimbangan normal resorpsi dan pergantian tulang; stress fracture
meningkat pada penyakit inflamasi kronik dan pasien dengan pengobatan steroid atau
methotrexate.

C. Fraktur patologis1

Fraktur dapat terjadi pada tekanan normal jika tulang telah lemah karena perubahan
strukturnya (seperti pada osteoporosis, osteogenesis imperfekta, atau Paget’s disease)
atau melalui lesi litik (contoh: kista tulang, atau metastasis).

Fraktur dapat disebabkan oleh trauma minor berulang dibawah ambang batas cedera
yang menyebabkan fraktur, mengakibatkan fraktur stress (fatigue fracture).3 Fraktur juga
dapat disebabkan oleh trauma langsung bertenaga tinggi seperti pada kecelakaan sepeda
motor. Fraktur dapat disebabkan oleh trauma tidak langsung dimana gaya ditransmisikan
melalui tulang dengan terpuntir atau tertekuk.2

Cedera bertenaga rendah mengakibatkan cedera jaringan lunak yang terbatas dan pola
fraktur sederhana. Tenaga yang besar mengakibatkan absorpsi energi yang lebih besar
sehingga menyebabkan trauma jaringan lunak yang lebih berat dan kominutif yang berat.
Kombinasi kedua mekanisme ini dapat terjadi.4

Prognosisnya ditentukan oleh derajat keparahan cedera jaringan lunak, jenis fraktur,
yang keduanya bergantung pada jumlah tenaga yang ditangkap ekstrimitas saat cedera.1

2.4 Tipe Fraktur

Fraktur untuk alasan praktis dibagi menjadi beberapa kelompok.1

A. Fraktur komplit
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Pola fraktur pada rontgen dapat
membantu memprediksi tindakan setelah reduksi: jika fraktur transversal patahan
biasanya akan tetap pada tempatnya setelah reduksi; jika fraktu oblique atau spiral,
tulang cenderung memendek dan kembali berubah posisi walaupun tulang dibidai. Jia

4
terjadi fraktur impaksi, fragmen terhimpit bersama dan garis fraktur tidak jelas.
Fraktur kominutif dimana terdapat lebih dari 2 fragmen tulang; karena jeleknya
hubungan antara permukaan tulang, cenderung tidak stabil.
B. Faktur inkomplit
Disini tulang tidak secara total terbagi dan periosteum tetap intak. Pada fraktur
greenstick tulang membengkok; hal ini terjadi pada anak-anak yang tulangnya lebih
lentur dibandingkan dewasa. Anak-anak juga dapat bertahan terhadap cedera dimana
tulang berubah bentuk tanpa terlihat retakan jelas pada foto rontgen.

2.5 Klasifikasi Fraktur3

 Klasifikasi etiologis
o Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba
o Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat
kelainan patologis di dalam tulang
o Fraktur stres : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu
tempat tertentu
 Klasifikasi klinis
o Fraktur tertutup (simple fracture) : suatu fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar
o Fraktur terbuka (compound fracture) : fraktur yang mempunyai hubungan
dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk
from within (dari dalam) atau from without (dari luar).
Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi Gustilo-Anderson, yang
pertama kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun 1984.5

5
o Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) : fraktur yang disertai
dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, atau infeksi
tulang
 Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :
o Lokalisasi
 Diafisial
 Metafisial
 Intra-artikuler
 Fraktur dengan dislokasi
o Konfigurasi
 Fraktur transversal
 Fraktur oblik
 Fraktur spiral
 Fraktur Z
 Fraktur segmental
 Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
 Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
 Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya
fraktur epikondilus humeri, fraktur trochanter major, fraktur patella
 Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang
tengkorak
 Fraktur impaksi

6
 Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah
misalnya pada fraktur vertebra, patella, talus, kalkaneus
 Fraktur epifisis

o Menurut eksistensi
 Fraktur total
 Fraktur tidak total (fraktur crack)
 Fraktur buckle atau torus
 Fraktur garis rambut
 Fraktur green stick
o Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
 Tidak bergeser (undisplaced)
 Bergeser (displaced) dapat terjadi dalam 6 cara :
 Bersampingan
 Angulasi
 Rotasi
 Distraksi
 Over-riding
 Impaksi

7
 Klasifikasi Nicol

Klasifikasi The American Society of Internal Fixation, yang dikembangkan oleh


Muller et al telah diterima di seluruh dunia; klasifikasi ini kemudian dimodifikasi oleh Johner
dan Wruhs dengan menambahkan mekanisme cedera, patahan, dan derajat keparahan cedera
jaringan lunak. Klasifikasi ini digunakan untuk reduksi terbuka dengan fiksasi plate and
screw.2

2.6 Gambaran Klinis Fraktur3

 Anamnesis
Biasanya pasien datang dengan suatu trauma, baik yang hebat maupun trauma ringan
dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Pasien
biasanya datang karena adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut
bertambah bila digerakkan, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak,
deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau dengan gejala-gejala lain.
 Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal pasien, perlu diperhatikan adanya :
1. Syok, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau
organ-organ dalam rongga toraks, panggul, dan abdomen
3. Faktor predisposisi misalnya pada fraktur patologis
 Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (Look)
- Ekspresi wajah karena nyeri

8
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan kependekan
- Perhatikan adanya pembengkakan
- Perhatikan adanya gerakan yang abnormal
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau terbuka
- Ekstravasasi darah subkutan (ekimosis) dalam beberapa jam sampai beberapa
hari
- Perhatikan keadaan vaskular
2. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati dikarenakan pasien biasanya mengeluh sangat
nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan  nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang
- Krepitasi  dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-
hati
- Pemeriksaan vaskular pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis,
arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang
terkena. Dinilai juga refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada
bagian distal daerah trauma, dan temperatur kulit.
- Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai
3. Pergerakan (Move)
Dilakukan dengan cara mengajak pasien untuk menggerakan secara aktif dan pasif
sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pasien
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji
pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris
serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis, atau
neurotmesis.

9
5. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi, serta
ekstensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak
sebelumnya, maka sebaiknya mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen
untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :
- Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
- Untuk konfirmasi adanya fraktur
- Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
- Untuk menentukan teknik pengobatan
- Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
- Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
- Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
- Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan yakni foto polos, CT-Scan, MRI,
tomografi, dan radioisotop scanning. Umumnya dengan foto polos kita dapat
mendiagnosis fraktur.

2.7 Tatalaksana Fraktur1,3,5

 Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan :
1. Pertolongan pertama
Pada pasien dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan
nafas, menutup luka dengan verban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada
anggota gerak yang terkena agar pasien merasa nyaman dan mengurangi nyeri
sebelum diangkut dengan ambulans. Bila terdapat pendarahan dapat dilakukan
pertolongan dengan penekanan setempat.
2. Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah luka
itu luka tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/ saraf ataukah ada trauma
alat-alat dalam yang lain.

10
3. Resusitasi
Kebanyakan pasien dengan fraktur multipel tiba di rumah sakit dengan syok,
sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.

 Prinsip Umum Tatalaksana Fraktur


1. First, do no harm
Yakni dengan mencegah terjadinya komplikasi iatrogenik. Hal ini bisa dilakukan
dengan pertolongan pertama yang hati-hati, transportasi pasien ke rumah sakit
yang baik, dan mencegah terjadinya infeksi dan kerusakan jaringan yang lebih
parah.
2. Tatalaksana dasar berdasarkan diagnosis dan prognosis yang akurat
Keputusan pertama adalah menentukan apakah fraktur tersebut membutuhkan
reduksi dan bila iya maka tentukan tipe reduksi terbaik apakah terbuka atau
tertutup. Kemudian keputusan kedua yakni mengenai tipe imobilisasi, apakah
eksternal atau internal.
3. Pemilihan tatalaksana dengan tujuan yang spesifik
Tujuan spesifik dalam tatalaksana fraktur yaitu :
 Untuk mengurangi rasa nyeri
Dikarenakan tulang bersifat relatif tidak sensitif, rasa nyeri pada fraktur
berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak termasuk periosteum dan
endosteum. Rasa nyeri ini dapat diperberat dengan pergerakan fragmen
fraktur yang berhubungan dengan spasme otot dan pembengkakan yang
progresif. Rasa nyeri pada fraktur dapat berkurang dengan imobilisasi dan
menghindari pembalutan yang terlalu ketat. Beberapa hari pertama setelah
terjadinya fraktur dapat diberikan analgesik untuk mengurangi nyeri.
 Untuk memelihara posisi yang baik dari fragmen fraktur
Reduksi fraktur untuk mendapatkan posisi yang baik, yakni diindikasikan
hanya untuk memperbaiki fungsi dan mencegah terjadinya artritis
degeneratif. Pemeliharan posisi fragmen fraktur biasanya membutuhkan
beberapa derajat imobilisasi, dengan beberapa metode, termasuk
continuous traction, plaster-of-Paris cast, fiksasi skeletal eksterna, dan

11
fiksasi skeletal interna, berdasarkan derajat dari kestabilan atau
ketidakstabilan reduksi.
 Untuk mengusahakan terjadinya penyatuan tulang (union)
Pada kebanyakan fraktur, proses penyatuan tulang merupakan proses
penyembuhan yang terjadi secara alami. Namun pada beberapa kasus,
misalnya dengan robekan periosteum berat dan jaringan lunak atau dengan
nekrosis avaskular pada satu atau dua fragmen, proses penyatuan tulang
harus dengan autogenous bone grafts, pada tahap penyembuhan awal atau
lanjut.
 Untuk mengembalikan fungsi secara optimal
Saat periode imobilisasi dalam penyembuhan fraktur, diuse atrophy pada
otot regional harus dicegah dengan latihan aktif statik (isometrik) pada otot
tersebut dengan mengkontrol imobilisasi sendi dan latihan aktif dinamik
(isotonik) pada seluruh otot lainnya di tubuh. Setelah periode imobilisasi,
latihan aktif sebaiknya tetap dilanjutkan.
4. Mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami

Jaringan muskuloskeletal bereaksi terhadap suatu fraktur sesuai dengan hukum


alami yang ada.

5. Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan


Dalam memilih pengobatan harus dipertimbangkan pengobatan yang realistik dan
praktis.
6. Seleksi pengobatan sesuai dengan pasien secara individual
Setiap fraktur memerlukan penilaian pengobatan yang sesuai, yaitu dengan
mempertimbangkan faktor umur, jenis fraktur, komplikasi yang terjadi, dan perlu
pula dipertimbangkan keadaan ekonomi pasien secara individual.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif, prinsip pengobatan


ada empat (4R), yaitu :

 Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai

12
untuk pengobatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah
pengobatan.
 Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktur klavikula, iga, dan fraktur impaksi dari humerus tidak
memerlukan reduksi. Angulasi <5º pada tulang panjang anggota gerak bawah
dan lengan atas dan angulasi sampai 10º pada humerus dapat diterima.
Terdapat kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5
inchi pada fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun
lokalisasi fraktur.
 Retention; imobilisasi fraktur
 Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Penatalaksanaan fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status
neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah
reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multipel trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan
definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan “ORIF”
maupun “OREF”.

Tujuan pengobatan fraktur yaitu :

a. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi. Teknik reposisi


terdiri dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau traksi kulit dan skeletal. Cara lain yaitu dengan reposisi terbuka yang dilakukan
pada pasien yang telah mengalami gagal reposisi tertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini,
fraktur multipel, dan fraktur patologis.

b. IMOBILISASI / FIKSASI dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi


sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan (shortening), fraktur
unstable serta kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar.

13
Jenis Fiksasi :

a. Eksternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

• Gips (plester cast)

• Traksi

Jenis traksi :

• Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus

• Skin traksi

Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali
ke posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas

• Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.

Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur,
lutut), pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris). Adapun komplikasi yang dapat
terjadi pada pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12
kg, trauma saraf peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat
masuknya pin.

- Indikasi OREF :

• Fraktur terbuka derajat III

• Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

• Fraktur dengan gangguan neurovaskuler

• Fraktur Kominutif

• Fraktur Pelvis

• Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

14
• Non Union

• Trauma multipel

b. Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini
adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.

- Indikasi ORIF :

• Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya fraktur
talus dan fraktur collum femur.

• Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulsi dan fraktur
dislokasi.

• Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur Monteggia,
fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.

• Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur.

2.8Penyembuhan Fraktur

Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :1,3

1. Fase hematoma

Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan
membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh
periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan
hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.

Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan
kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang
yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.

15
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal

Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan.
Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari
periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus
interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat
pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang
tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini
terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat
pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan
seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah
beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan
osteogenik. Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga
merupakan suatu daerah radiolusen.

3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)

Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang
berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat
osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh
garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut
sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan
merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.

4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)

Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi tulang
yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus
akan diresorpsi secara bertahap.

5. Fase remodelling

Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang menyerupai
bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodelling ini,
perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada
tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah

16
menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan
mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

 Penilaian Penyembuhan Fraktur

Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara klinis dan union
secara radiologis. Penilaian secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan daerah fraktur
dengan melakukan pembengkokan pada daerah fraktur, pemutaran dan kompresi untuk
mengetahui adanya gerakan atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat dirasakan
oleh pemeriksa atau oleh penderita sendiri. Apabila tidak ditemukan adanya gerakan, maka
secara klinis telah terjadi union dari fraktur.

17
Union secara radiologis dinilai dengan pemeriksaan rontgen pada daerah fraktur dan
dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan adanya trabekulasi yang
sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat lanjut dapat dilihat adanya medulla
atau ruangan dalam daerah fraktur.

Salah satu tanda proses penyembuhan fraktur adalah dengan terbentuknya kalus yang
menyeberangi celah fraktur (bridging callus) untuk menyatukan kembali fragmen-fragmen
tulang yang fraktur). Pembentukan bridging callus dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
jarak antara fragmen, stabilitas fraktur, vaskularisasi, keadaan umum penderita, umur, lokasi
fraktur, infeksi dan lain-lain. Vaskularisasi daerah fraktur dapat berasal dari periosteum,
endosteum dan medulla.

Penelitian tentang perubahan densitas kalus pernah dilakukan oleh Siregar (1998,
Bandung) dengan membandingkan pertumbuhan kalus pada penderita paska operasi internal
fiksasi dengan menggunakan plate dan screw dengan K-nail pada pasien fraktur femur dan
peneliti ini melakukan kriteria penilaian gambaran radiologi serta membaginya menjadi:
Grade 0 : Kalus belum / tidak terbentuk / non union

Grade 1+: Bintik-bintik radioopak pada daerah fraktur

18
Grade 2+ : Bintik-bintik atau garis radioopak dengan lusensi sama dengan lusensi
medulla.

Grade 3+: Bintik-bintik atau garis radioopak dengan lusensi antara medulla dengan
korteks.

Grade 4+: Densitas kalus sama dengan atau lebih radioopak dari pada korteks.

Pada penelitian berikut ini diamati proses pertumbuhan kalus pada penderita fraktur
tulang panjang Humerus, Radius, Ulna, Femur, Tibia, dan Fibula. Sampai saat ini belum
ditemukan data awal tentang pertumbuhan kalus pada masing – masing tulang panjang
tersebut.6

2.9Komplikasi Fraktur

Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat penanganan fraktur
yang disebut komplikasi iatrogenik.

a. Komplikasi umum1,2

Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan gangguan fungsi
pernafasan.

Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam pertama pasca trauma
dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan metabolisme, berupa
peningkatan katabolisme. Komplikasi umum lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena
dalam (DVT), tetanus atau gas gangren.

b. Komplikasi Lokal1

 Komplikasi dini

Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma, sedangkan
apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.

• Pada Tulang

1. Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.

19
2. Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada
fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non union

Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi pada fraktur
terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi
dan berakhir dengan degenerasi.

• Pada Jaringan lunak

1. Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena edema.
Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan pemasangan elastik.

2. Dekubitus. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh karena itu
perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol.

• Pada Otot

Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu. Hal ini
terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan
tulang. Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan
menimbulkan sindroma crush atau thrombus.

• Pada pembuluh darah

Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan pada
robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti
spontan.

Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis. Trauma atau
manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan tarikan mendadak pada
pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah
tersebut terlepas dan terjadi trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan
torniquet dapat terjadi sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair
untuk mencegah kongesti bagian distal lesi.

Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas
maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini
disebut Iskhemi Volkmann. Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat
sehingga dapat menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.

20
Apabila iskemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat menimbulkan
kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibrus yang secara
periahan-lahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya
adalah 5 P yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan
Paralisis

• Pada saraf

Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis (kerusakan akson).


Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi nervus.1

 Komplikasi lanjut1,2

Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada pemeriksaan terlihat
deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan.

• Delayed union

Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada pemeriksaan
radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur.

Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila lebih 20 minggu
dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)

• Non union

Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.

Tipe I (hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan diantara
fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union dengan
melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.

Tipe II (atrophic non union) disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan
sinovial sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union tidak
akan dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.

Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang luas,
hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang tidak memadai,
implant atau gips yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang
(fraktur patologis)

21
• Mal union

Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas. Tindakan refraktur


atau osteotomi koreksi.

• Osteomielitis

Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur
tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union (infected non union).
Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi
tulang berupa osteoporosis dan atropi otot.

• Kekakuan sendi

Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama, sehingga
terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan
tendon. Pencegahannya berupa memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif
dan pasif pada sendi. Pembebasan periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
penderita dengan kekakuan sendi menetap.

22
FRAKTUR PADA TULANG PANJANG EKSTREMITAS ATAS

3.1 Fraktur Humerus

Fraktur humerus dapat terjadi mulai dari proksimal (kaput) sampai bagian distal
(kondilus) humerus, berupa :

1. Fraktur leher
2. Fraktur tuberkulum mayus
3. Fraktur diafisis
4. Fraktur suprakondiler
5. Fraktur kondiler
6. Fraktur epikondilus medialis

 Fraktur leher humerus


Fraktur leher humerus umumnya terjadi pada wanita tua yang telah mengalami
osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang.
- Mekanisme trauma
Biasanya pasien jatuh dan terjadi trauma pada anggota gerak atas
- Klasifikasi
Fraktur impaksi dan fraktur tanpa impaksi dengan atau tanpa pergeseran

23
- Pengobatan
Pada fraktur impaksi atau tanpa impaksi yang tidak disertai pergeseran dapat
dilakukan terapi konservatif saja dengan memasang mitela dan mobilisasi segera
pada gerakan sendi bahu. Bila fraktur disertai dengan pergeseran mungkin dapat
dipertimbangkan tindakan operasi.
- Komplikasi
Kekakuan pada sendi, trauma saraf yaitu nervus aksilaris, dan dislokasi sendi
bahu.
 Fraktur tuberkulum mayus humerus
Fraktur dapat terjadi bersama dengan dislokasi humerus atau merupakan fraktur
tersendiri akibat trauma langsung di daerah sendi bahu. Biasanya terjadi pada orang
tua dan umumnya tidak mengalami pergeseran.
- Pengobatan
Fraktur dengan dislokasi humerus yang telah direposisi, biasanya fraktur juga
tereposisi dengan sendirinya. Pengobatan fraktur tanpa pergeseran fragmen
dengan cara konservatif. Pada fraktur yang disertai pergeseran fragmen sebaiknya
dilakukan operasi dengan memasang screw.
- Komplikasi
Painful arc syndrome
 Fraktur diafisis humerus
Fraktur diafisis humerus biasanya terjadi pada 1/3 tengah humerus dimana trauma
dapat bersifat memuntir yang menyebabkan fraktur spiral dan bila trauma bersifat
langsung dapat menyebabkan fraktur transversal, oblik pendek, atau komunitif.
Fraktur patologis biasanya terjadi pada 1/3 proksimal humerus.
- Gambaran klinis
Pada fraktur humerus ditemukan pembengkakan, nyeri tekan serta deformitas
pada daerah humerus. Pada setiap fraktur humerus harus diperiksa adanya lesi
nervus radialis terutama pada daerah 1/3 tengah humerus.
- Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi dan konfigurasi
fraktur.

24
- Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah konservatif karena angulasi dapat tertutup oleh otot
dan secara fungsional tidak terjadi gangguan, disamping itu 1/3 kontak cukup
memadai untuk terjadinya union.

Pengobatan konservatif dibagi atas :

 Pemasangan U slab
 Pemasangan gips tergantung (hanging cast)

Pengobatan operatif dengan pemasangan plate dan screw atau pin dari Rush atau
pada fraktur terbuka dengan fiksasi eksterna.

Indikasi operasi yaitu :

 Fraktur terbuka
 Terjadi lesi nervus radialis setelah dilakukan reposisi (jepitan nervus radialis)
 Nonunion
 Pasien yang segera ingin kembali bekerja secara aktif
 Fraktur suprakondiler humerus
Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Pengobatannya
seperti pada fraktur diafisis humerus.
 Fraktur kondilus humerus
Fraktur ini jarang terjadi pada orang dewasa dan lebih sering pada anak-anak.
- Mekanisme trauma
Biasanya terjadi pada saat tangan dalam posisi out stretched dan sendi siku dalam
posisi fleksi dengan trauma pada bagian lateral atau medial. Fraktur kondilus
lateralis lebih sering terjadi daripada kondilus medialis humerus.
- Klasifikasi dan pemeriksaan radiologis

25
1. Fraktur pada satu kondilus
2. Fraktur interkondiler (fraktur Y atau T)
3. Fraktur komunitif
Fraktur kondiler sering bersama-sama dengan fraktur suprakondiler.
- Gambaran klinis
Nyeri dan pembengkakan serta pendarahan subkutan pada daerah sendi siku.
Ditemukan nyeri tekan, gangguan pergerakan serta krepitasi pada daerah tersebut.
- Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran fragmen tidak memerlukan reposisi, cukup dengan
pemasangan gips sirkuler selama 6 minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi
secara hati-hati.
Fraktur kondiler adalah fraktur yang mengenai permukaan sendi sehingga
memerlukan reduksi dengan operasi segera, akurat dan rigid sehingga mobilisasi
dapat dilakukan secepatnya.

3.2 Fraktur lengan bawah


 Fraktur kepala dan leher radius

Fraktur ini terjadi pada saat seseorang jatuh dengan posisi tangan dalam out stretched.
Klasifikasi dibagi dalam :

o Tipe 1, terbelah vertikal


o Tipe 2, fraktur disertai dengan kemiringan
26
o Tipe 3, fraktur shearing (terbelah)
o Tipe 4, remuk/ hancur

Untuk tatalaksananya, pada fraktur tipe 1 dan 2 dengan sudut kemiringan yang tidak
terlalu besar diatasi dengan mengistirahatkan sendi siku menggunakan mitela. Fraktur
yang pecah sebaiknya dilakukan eksisi. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu kekauan
sendi dan osteoartritis.

 Fraktur Monteggia

Fraktur Monteggia sering ditemukan pada orang dewasa dan merupakan fraktur 1/3
proksimal ulna disertai dislokasi radius proksimal.
Pada orang dewasa sebaiknya dilakukan operasi dengan fiksasi interna yang rigid dan
mobilisasi segera sendi siku.

Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:

27
- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi
anterior kaput radius
- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai
dislokasiposterior kaput radii dan fraktur kaput radii
- Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio
- Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii
dan fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis

 Fraktur diafisis radius dan ulna

Fraktur radius sendiri biasanya terjadi karena trauma langsung. Untuk tatalaksananya,
fraktur yang tidak bergeser diatasi dengan gips di atas siku dan fleksi pada siku,
sedangkan yang bergeser sebaiknya dengan memasang fiksasi interna.
Fraktur ulna sering terjadi pada seseorang yang menangkis benda keras. Untuk
tatalaksananya, sama seperti fraktur radius.
Fraktur diafisis radius dan ulna terjadi karena trauma memuntir yang mengakibatkan
fraktur oblik atau spiral pada daerah ulna dan radius dengan ketinggian yang berbeda,
sedangkan trauma langsung menyebabkan fraktur dengan garis transversal. Karena
adanya hubungan yang erat pada posisi supinasi dan pronasi, maka fraktur kedua
tulang harus direposisi secara akurat baik rotasi maupun kesejajarannya.
Gambaran klinisnya yakni terdapat pembengkakan dan nyeri tekan serta deformitas
pada lengan bawah.

28
- Pengobatan
Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan gips di atas siku
dengan meletakkan lengan bawah dalam posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal,
posisi netral pada fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan
pemasangan gips di atas siku dalam posisi supinasi. Apabila ada kelainan
perlekatan otot pronator dan supinator tulang radius dan ulna, reduksi serta
imobilisasi yang baik sulit dilakukan. Reduksi yang akurat sangat diperlukan
karena tangan mempunyai fungsi untuk pronasi dan supinasi. Pengobatan yang
paling baik adalah dengan pemasangan fiksasi rigid dengan operasi yang
mempergunakan plate dan screw pada kedua tulang.
- Komplikasi
 Malunion termasuk cross union akan memberikan gangguan dalam
pronasi dan supinasi
 Delayed union
 Nonunion
 Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3
distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal.
- Pengobatan

29
Pada fraktur ini harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera
karena bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat
maka dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila
reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-wire.
Operasi terbuka dengan fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw.
 Fraktur distal radius
Fraktur distal radius dapat dibagi dalam fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur
Barton.
o Fraktur Colles
Pertama kali diutarakan oleh Abraham Colles. Merupakan jenis fraktur yang
paling sering ditemukan pada orang dewasa di atas usia 50 tahun dan lebih
sering pada wanita daripada pria.

- Mekanisme trauma
Fraktur terjadi bila terjatuh dalam posisi tangan out stretched pada orang
tua dengan tulang yang sudah osteoporosis.
Fraktur Colles terdiri atas fraktur radius 1 inci di atas pergelangan tangan,
angulasi dorsal fragmen distal, pergeseran ke dorsal dari fragmen distal, dan
fraktur prosesus stiloid ulna.

30
- Gambaran klinis
Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada
orang yang berumur lebih dari 50 tahun, nyeri dan deformitas berbentuk
garpu. Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke
dorsal, deviasi radial, supinasi, dan impaksi ke arah proksimal.
- Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips sirkuler di bawah
siku, lengan bawah dalam keadaan pronasi, deviasi ulna, serta fleksi. Pada
fraktur dengan pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan pembiusan
umum atau lokal. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama enam minggu
dan dilanjutkan dengan fisioterapi yang intensif.

31
o Fraktur Smith

Biasa disebut juga sebagai fraktur Colles terbalik. Fraktur jenis ini lebih sering
ditemukan pada pria daripada wanita. Fraktur Smith pertama kali
dikemukakan oleh R.W. Smith. Ditemukan deformitas dengan fragmen distal
mengalami pergeseran ke volar dimana garis fraktur tidak melalui persendian.
- Pengobatan
Fraktur Smith biasanya bersifat tidak stabil sehingga sebaiknya difiksasi
dengan plate buttress.
o Fraktur Barton

Merupakan fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan
terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi ke arah volar. Untuk
tatalaksananya, seperti pada fraktur Smith.

32
FRAKTUR PADA TULANG PANJANG EKSTREMITAS BAWAH

4.1 Fraktur Femur

Fraktur Proksimal Femur7

 Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan leher femur


 Capital : uncommon
 Subcapital : common
 Transcervical : uncommon
 Basicervical : uncommon
 Entracapsular fraktur termasuk trochanters
 Intertrochanteric
 Subtrochanteric

Fraktur Leher Femur8

 Tingkat kejadian yang tinngi karena faktor usia yang merupakan akibat dari
berkurangnya kepadatan tulang
 Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan
extra- (suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya.
Intracapsular dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular
tergantung dari fraktur pertrochanteric

 Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai macam obat seperti
corticosteroids, thyroxine, phenytoin and furosemid
 Kebanyakan hanya berkaitan dengan trauma kecil
 Fraktur Intracapsular diklasifikasikan

33
o Grade I : Incomplete, korteks inferior tidak sepenuhnya rusak
o Grade II : Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak
angulasi
o Grade III : Slightly displaced, pola trabekular angulasi
o Grade IV : Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada
kontinuitas tulang

Fraktur Pada Batang Femur

Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas dan besar
sehingga dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja
karena nyeri, tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah
terotasi ke luar, terlihat lebih pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat
pendarahan ke dalam jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara
tertutup, dan normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.9

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu
lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan
daerah yang patah.

34
Fraktur ini dibagi menjadi : 1

1. Tertutup

2. Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;

 Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.

 Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari
luar.

 Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak
yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

- Gambaran Klinis

Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan


deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan
mungkin datang dalam keadaan syok.

- Penatalaksanaan

A. Terapi konservatif

- Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif


untuk mengurangi spasme otot

- Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi
terutama yang bersifat kominutif dan segmental.

- Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara klinis

B. Terapi operatif

- Pemasangan plate and screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur

35
- Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi tertutup
ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur diafisis.

- Fiksasi eksternal terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected


pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. 1

Gambar Gambar
Comminuted mid-femoral shaft fracture Femoral shaft fracture postinternal
fixation.

Fraktur Distal Femur1

 Supracondylar
 Nondisplaced
 Displaced
 Impacted
 Continuited

 Condylar
 Intercondylar

36
4.2 Fraktur Tibia dan Fibula1,3

Fraktur tibia dan fibula dapat terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau
persendian pergelangan kaki.

 Fraktur Kondilus Tibia

Fraktur kondilus tibia lebih sering mengenai kondilus lateralis daripada medialis serta fraktur
pada kedua kondilus

- Mekanisme trauma

Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya abduksi tibia terhadap femur dimana
kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil

- Klasifikasi Sederhana (Adam)

1. Fraktur kompresi komunitif

2. Tipe depresi plateau

3. Fraktur oblik

- Klasifikasi kompleks (Rockwod)

1. Fraktur yang tidak bergeser

2. Kompresi lokal

3. Kompresi split

4. Depresi total kondiler

5. Fraktur aplit

6. Fraktur komunitif

Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4mm, sedangkan yang bergeser
apabila depresi melebihi 4mm

37
- Gambaran Klinis

Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri
serta hemartosi. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut.

- Pemeriksaan radiologis

Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur, tetapi
kadang-kadang diperlukan pula foto oblik dan pemeriksaan laminagram.

- Pengobatan

1. Konservatif

Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4mm dapat
dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain:

- Verban elastis
- Traksi
- Gips sirkuler

Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi, tidak menahan


beban dan segera mobilisasi pada sendi lutus agar tidak terjadi kekauan sendi

2. Operatif

Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi mengangkat bagian depresi


dan ditopang dengan bone graft. Pada fraktur split dapat dilakukan
pemasangan screw atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian
fragmen terhadap tibia.

- Komplikasi

1. Genu valgium ; terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik

2. Kekakuan lutut ; terjadi karena tidak dilakukan latihan lebih awal

3. Osteoartritis ; terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi


sehingga bersifat ireguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut

38
 Fraktur Kondilus Medialis

Sama seperti fraktur kondilus lateralis tetapi lebih jarang ditemukan

 Fraktur Diafisis Tibia dan atau Fibula

Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat
juga terjadi hanya pada tibia atau fibula saja.

- Mekanisme trauma

Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi
akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas
antara 1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal sedangkan fraktur fibula pada batas
1/3 bagian tengah dengan 1/3 bagian proksimal, sehingga fraktur tidak terjadi
pada ketinggian yang sama. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi
otot sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama
terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

- Gambaran klinis

Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan


penonjolan tulang keluar kulut

- Pemeriksaan radiologis

Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokasi fraktur, jenis fraktur,


apakah fraktur pada tibia dan fibula atau hanya pada tibia saja atau fibula saja.
Juga dapat ditentukan apakah fraktur bersifat segmental.

- Pengobatan

1. Konservatif

Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan


manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
imobilisasi, dipasang sampai di atas lutut.

39
Prinsip reposisi:

o Fraktur tertutup
o Ada kontak 70% atau lebih
o Tidak ada angulasi
o Tidak ada rotasi

Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara
fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral imobilisasi dengan gips biasanya sulit
dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi.

Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo
patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah pembengkakan
mereda atau telah terjadi union secara fibrosa.

2. Operatif

Terapi operatif dilakukan pada:

o Fraktur terbuka
o Kegagalan dalam terapi konservatif
o Fraktur tidak stabil
o Adanya malunion

Metode pengobatan operatif:

o Pemasangan plate and screw


o Nail intermeduker
o Pemasangan screw semata-mata
o Pemasangan fiksasi eksterna
- Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terbuka kerusakan
jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang
o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
 Komplikasi

1. Infeksi

2. Delayed union atau nonunion

40
3. Malunion

4. Kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartemen anterior)

5. Trauma saraf terutama pada nervous peroneal komunis

6. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan ini biasanya


disebabkan karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.

 Fraktur Tibia Semata-mata atau Fibula Semata-mata

Fraktur tibia dan fibula semata-mata perlu diwaspadai sebab sering mengganggu
terjadinya union hingga diperlukan osteotomi pada salah satu tulang.

41
KESIMPULAN

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial.

Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk
menghadapi stress dengan kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari: (1) cedera; (2) stress
berulang; (3) fraktur patologis.

Diagnosis fraktur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang. Pasien biasanya datang karena adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri
tersebut bertambah bila digerakkan, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak,
deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau dengan gejala-gejala lain. Pada pemeriksaan fisik,
perlu diperhatikan adanya syok, anemia atau pendarahan, kerusakan pada organ-organ lain,
misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul, dan
abdomen, dan faktor predisposisi misalnya pada fraktur patologis. Pada pemeriksaan lokal
dilakukan inspeksi (Look), palpasi (Feel), pergerakan (Move), pemeriksaan neurologis , dan
dilakukan pemeriksaan radiologis.

Prinsip Umum Tatalaksana Fraktur yaitu First, do no harm, tatalaksana dasar


berdasarkan diagnosis dan prognosis yang akurat, pemilihan tatalaksana dengan tujuan yang
spesifik yakni untuk mengurangi rasa nyeri, untuk memelihara posisi yang baik dari fragmen
fraktur, untuk mengusahakan terjadinya penyatuan tulang (union), untuk mengembalikan
fungsi secara optimal, mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami, bersifat realistik
dan praktis dalam memilih jenis pengobatan, dan seleksi pengobatan sesuai dengan pasien
secara individual.Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif,
prinsip pengobatan ada empat (4R), yaitu :Recognition, Reduction, Retention, dan
Rehabilitation.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon L, et al (eds). Apley’s system of orthopaedics and fractures. 9th ed. London:
Hodder Arnold; 2010.
2. Chapman MW. Chapman’s orthopaedic surgery. 3rd ed. Boston: Lippincott
Williams&wilkins; 2001. p 756-804.
3. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone; 2009. p. 325-6;
355-420.
4. Konowalchuk BK, editor. Tibia shaft fractures [online]. 2012. [cited 2012 Feb 28].
Available from: http://www.emedicine.medscape.com/article/1249984
5. Salter RB. Textbook of disorders and injuries of the muesculoskeletal system. USA:
Williams & Wilkins; 1999. p. 436-8.
6. Universitas sumatera utara. Fraktur. Available at:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33107/5/Chapter%20I.pdf. Accessed
on January 4th, 2014.
7. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Musculoskeletal Imaging in
Primer of Diagnostic Imaging.4th Edition. United States: Mosby Elsevier; 2007.
8. Holmes, Erskin J., A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University; 2004.
9. Sjamsuhidat. R., De Jong., Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran; 2003.

43