You are on page 1of 4

1.

N Olfaktorius
Uji penciuman atau sensasi bau dilakukan pada anak yang berumur lebih dari 5-6
tahun dengan melakukan uji pada setiap lubang hidung secara terpisah. Caranya salah
satu lubang hidung ditutup dan mata tertutup, bahan uji yang digunakan bahan yang
tidak menimbulkan bau tidak merangsang dan sudah dikenal oleh pasien. Fungsi
nervus ini hilang pada trauma cribriform atau tumor di daerah bulbus olfaktorius.

2. N optikus
Uji saraf otak II terdiri atas uji ketajaman penglihatan, perimetri, dan pemeriksaan
funduskopi. Uji ketajaman penglihatan dilakukan dengan cara memperhatikan
kemampuan pasien mengikuti muka seseorang, respon terhadap mimik seseorang,
serta kemampuannya mengambil mainan dan mengikuti benda yang bergerak.
Refleks kedip dan memejamkan mata bila ada benda yang mendadak bergerak ke arah
mata menunjukkan visus baik. Reaksi ini tidak timbul pada bayi berusia 4 bulan
kebawah, dan timbul kira-kira pada 50% bayi normal berusia 5 bulan. Uji penglihatan
yang canggih dilakukan dengan alat evoked potential yaitu visual evoked response
(VER)
Pemeriksaan funduskopi memerlukan oftalmoskop yang baik dan ruang yang dapat
dibuat gelap. Untuk mengalihkan perhatian pasien terhadap sinar, pasien diminta
melihat gambar di dinding yang berlawanan dengan pasien. Pemeriksan dilakukan
tanpa midratikum untuk melihat reaksi pupil. Dipergunakan sinar redup pada
oftalmoskop setelah itu dipergunakan lensa + 20 untuk memeriksa kornea dan lensa
apakah terdapat ulserasi, opasitas, dan katarak. Kemudian gunakan lensa 0 untuk
memeriksa retina dan papil N optikus. Perhatikan fokus pada makula dan kelainan-
kelainan makula sekitarnya. Perhatikan ukuran, pulsasi dan distribusi pembuluh darah
retina, terdapatnya deposit abnormal, pigmentasi abnormal dan adanya perdarahan.

3. N Okulomotor, N Troklearis dan N Abdusen


Uji gerakan kedua mata, uji akomodasi dan refleks cahaya. Pemeriksaan dilakukan
dengan cara mengerakan mainan, baterai atau alat pengukur lingkaran kepala yang
digoyang-goyangkan ke atas, ke samping dan ke bawah digaris tengah kemudian
diagonal. Hal ini dilakukan pada masing-masing mata dengan menutup mata yang
lain.
Uji akomodasi dilakukan dengan menyuruh pasien melihat benda yang digerakkan
mendekat dan menjauh, diperhatikan pupil pasien pakah mengecil bila melihat benda
dekat dan membesar bila melihat benda menjauh. Uji diplopia dilakukan dengan cara
menanyakan kepada pasien apakah melihat satu atau lebih mainan yang digerakkan di
depan pasien ke atas kiri, atas kanan, bawah kiri dan bawah kanan.
4. N Trigeminus
Saraf memiliki fungsi motor dan sensori. Bagian motor mempersyarafi pengunyah,
yaitu maseter, pterigoid dan temporalis. Pemeriksaan untuk kelainan saraf ini ialah uji
perasaan dengan mengusap kapas, menggoreskan jarum dan benda-benda hangat atau
dingin di daerah wajah kuadran atas, tengah dan bawah.
Uji lainnya adalah uji refleks kornea dan rahang. Dilakukan dengan cara kain kasa
atau kapas yang bersih yang disentuhkan pada kornea pasien, bila baik maka mata
akan berkedip. Refleks rahang dilakukan dengan cara menyuruh pasien membuka
mulut sedikit kemudian letakkan jari di tengah-tengah dagu pasien. Ketuk jari dengan
jari tangan lainnyaatau dengan pengetuk refleks, normal dagu akan terangkat. Lesi
saraf otak V unilateral akan menyebabkan rahang miring ke sisi yang paretik oleh
karena kelemahan ipsilateral otot pterigoid. Uji perasaan sulit dilakukan pada anak,
yang mudah dilakukan adalah refleks kornea.

5. N Fasialis
Pemeriksaan dilakukan dengan menyuruh pasien tersenyum, meringis, bersiul,
membuka dan memejamkan mata, serta refleks kornea dan uji pengecap. Bila terdapat
paresis N. VII akan terlihat mulut mencong ke sisi yang sehat dan mata pada sisi lesi
tidak dapat menutup dengan rapat. Uji pengecap dilakukan dengan cara pasien
menjulurkan lidah, pemeriksa memgang ujung lidah dengan kain kasa dan meletakkan
gula, asam atau kina. Pasien diminta menyebutkan bahan uji yang digunakan dengan
mata tertutup.

6. N Akustikus
Uji pendengaran sudah dapat dilakukan pada saat wawancara dengan menilai reaksi
pasien terhadap suara. Pada anak kecil dapat dilakukan dengan menggunakan bel,
anak besar dengan diminta menirukan bisikan, bunyi jam atau garpu tala. Uji
pendengaran dilakukan bergantian pada kedua telinga.
Uji keseimbangan dilakukan dngan cara pasien dibaringkan telentang, kepala
difleksikan 30 derajat, kemudian semprotkan air es ke dalam liang telinga selama 30
detik maka pada anak sadar akan terjadi nistagmus ke arah telinga yang diuji tanpa
deviasi mata. Pada pasien dengan kesadaran menurun akan terjadi nistagmus ke
kontralateral. Pada pasien dengan koma akan terjadi eviasi tonik ke sisi sama tnpa
nistagmus atau tidak ada perubahan pada mata sama sekali. Tidak boleh dilakukan uji
ini pada pasien dengan perforasi membran timpani, dan pada telinga dengan sumbatan
serumen harus dibersihkan terlebih dahulu. Uji dilakukan bergantian pada kedua
telinga.

7. N Glosofaringeus
Pemeriksaan saraf otak ini ditujukan untuk menilai kelainan yang timbul, berupa
hilangnya refleks muntah, disfagia rinan, hilangnya sensori pengecap, deviasi uvula
ke sisi yang baik, hilangnya konstriksi dinding postrior faring saat bersuara ‘ah’,
hipersalivasi.

8. N Vagus
Gangguan saraf otak berupa gangguan motor, sensori dan vegetatif. Gangguan motor
berupa afonia, disfonia, disfagia, spasme esofagus, paralisis palatum mole. Gangguan
sensori berupa nyeri dan parestesia pada faring dan laring, batuk, sesak napas dan
pseudoasma. Gangguan vegetatif berupa bradikardi, takikardi dan dilatasi lambung.
9. N Aksesoris
Pemeriksaan ialah uji kemampuan untuk mengangkat bahu dan memutar kepala
melawan tahanan pemeriksa. Pasien tidak dapat mengangkat bahu yang terkena dan
tidak mampu memutar kepala ke sisi yang sehat.

10. N Hipoglosus
Uji untuk menilai kekuatan lidah dengan menyuruh pasien menyorongkan ujung lidah
ke tepi pipi kanan dan kiri melawan tahanan jari tangan pemeriksa. Perhatikan deviasi
pada saat lidah dijulurkan lidah akan deviasi ke sisi lesi dan lidah juga tampak atrofi
disertai tremor.