You are on page 1of 23

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah matakuliah anthropologi kesehatan
dengan judul “Impementasi Sosial Budaya Masyarakat dan Kesehatan dalam Asuhan
Keperawatan” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya
berterima kasih pada ibu. Ni Wayan Dwi Ri, APP M.Kes selaku Dosen mata kuliah
Anthropologi Kesehatan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang yang telah memberikan
tugas ini kepada Kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan tentang implementasi sosial budaya masyarakat dan kesehatan dalam asuhan
keperawatan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, Kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah Kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi Kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan Kami juga memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Lawang, 17 April 2018

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Transkultural Keperawatan atau Transcultural Nursing...... 3
2.2 Paradigma Transkultural Keperawatan ................................................. 4
2.3 Implikasi Transkulturan Keperawatan .................................................. 6
2.4 Aspek Sosial Budaya Terhadap Status Kesehatan .............................. 14
2.5 Aspek Sosial Budaya Dalam Program KB ........................................... 17

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 20

DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................................... 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Dr. Madeline Leininger, seorang perawat yang ahli antropologi, mempunyai andil
besar dalam meningkatkan riset dalam perawatan trans-kultural dan dalam merangsang
program-program studi yang erat kaitannya. Ia adalah pelopor keperawatan transkultural dan
seorang pemimpin dalam mengembangkan keperawatan transkultural serta teori asuhan
keperawatan yang berfokus pada manusia. Leininger juga adalah seorang perawat professional
pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan budaya.

Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari pengetahuan dan penelitian


antara perawatan dan anthropologi: formulasi konsep keperawatan transkultural, praktek dan
prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two Words to Blend ; yang
merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar untuk
pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari perawatan
kesehatan. Buku yang berikutnya, ”Transcultural Nursing : Concepts, theories, research, and
practise (1978 )” , mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam
keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek
perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural
dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda.

Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari 14


kebudayaan mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan berbagai
kebudayaan. Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai fokus
utama , bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan
komparatif, teori-teori keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan
kesehatan, metoda riset kualitatif, masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta
kepemimpinan keperawatan. Theory of Culture Care saat ini digunakan secara luas dan
tumbuh secara relevan serta penting untuk memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari
kebudayaan yang berbeda.

1
1.2 Rumusan masalah

1. Apa definisi dari transkultural keperawatan atau transcultural nursing?


2. Bagaimana paradigma transkultural keperawatan?
3. Bagaimana implikasi transkultural keperawatan?
4. Bagaimana implementasi aspek sosial budaya yang mempengaruhi status kesehatan
masyarakat?
5. Bagaimana implementasi aspek sosial budaya dalam program KB?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui tentang definisi dari transkultural keperawatan atau transcultural


nursing.
2. Untuk mengetahui tentang paradigma transkultural keperawatan.
3. Untuk mengetahui tentang implikasi transkultural keperawatan.
4. Untuk mengetahui tentang implementasi aspek sosial budaya yang mempengaruhi
status kesehatan masyarakat.
5. Untuk mengetahui tentang implementasi aspek sosial budaya dalam program KB.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Transkultural Keperawatan atau Transcultural Nursing

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada


proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan
diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya
manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan
keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budayakepada manusia” (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan,
membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caring
dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu
secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam
perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal.

Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan
dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan
tempat lainnya.

Konsep dan definisi dari transkultural keperawatan adalah sebagai berikut :


1) Budaya (Kultur) adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil
keputusan.
2) Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau
sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi
tindakan dan keputusan.
3) Cultur care diversity (Perbedaan budayadalam asuhan keperawatan)merupakan bentuk
yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang
menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan
terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali
lagi (Leininger, 1985).

3
4) Cultural care universality (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu
pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman yang paling dominan,
pola-pola, nilai-nilai, gaya hidup atau simbol-simbol yang dimanifestasikan diantara
banyak kebudayaan serta mereflesikan pemberian bantuan, dukungan, fasilitas atau
memperoleh suatu cara yang memungkinkan untuk menolong orang lain (Terminlogy
universality) tidak digunakan pada suatu cara yang absolut atau suatu temuan statistik
yang signifikan.
5) Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
6) Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
7) Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal
muasal manusia.
8) Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada
penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang
tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk
mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik
diantara keduanya.
9) Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan
perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi
kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas
kehidupan manusia.
10) Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang
nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
11) Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau
memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan
kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan
mencapai kematian dengan damai.
12) Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya
bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.

4
2.2 Paradigma Transkultural Keperawatan

Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara


pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang
sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu :
manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995).

1) Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-
norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan.
Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan
budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
2) Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya,
terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola
kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan
seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat
mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang
sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3) Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu
totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga
bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan
alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman
padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak
pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur
sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur
dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah
keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa
bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4) Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.

5
Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.
Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan
budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien
(Leininger, 1991).
a. Cara I : Mempertahankan Budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan
kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-
nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Cara II : Negosiasi Budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat
membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung
peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani lain.
c. Cara III : Restrukturisasi Budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status
kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok
menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih
menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.

2.3 Implikasi Transkulturan Keperawatan

Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan


keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (sunrise
model) seperti yang terlihat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses
keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi
terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi.

2.3.1The Sunrise Model ( Model matahari terbit)

Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Matahari terbit sebagai lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada
puncak dari model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk

6
mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi
kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada
keperawatan profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah
berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-
putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa
tubuh manusia tidak terpisahkan/ tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.

Model Sunrise

Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak
tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah
agar seluruh terminologi tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya.
Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang
akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak
selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat
yang produktif untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan
dengan kebudayan serta penelitian ilmiah.

7
2.3.2 Proses Keperawatan

A. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and
Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada
"Sunrise Model" yaitu :

1) Faktor Teknologi (Tecnological Factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.

2) Faktor Agama Dan Falsafah Hidup (Religious And Philosophical Factors)


Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat
untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya
sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang
dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara
pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.

3) Faktor Sosial Dan Keterikatan Keluarga (Kinship And Social Factors)


Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala
keluarga.

4) Nilai-Nilai Budaya Dan Gaya Hidup (Cultural Value And Life Ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh
penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah
suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya
terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang
dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan,

8
makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan
aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.

5) Faktor Kebijakan Dan Peraturan Yang Berlaku (Political And Legal Factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya
(Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan
dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga
yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

6) Faktor Ekonomi (Economical Factors)


Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material
yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi
yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya
pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain
misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota
keluarga.

7) Faktor Pendidikan (Educational Factors)


Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh
jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien
maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional
dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah :
tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar
secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang
kembali.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya


yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and
Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam
asuhan keperawatan transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan
dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi
sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai
yang diyakini.

9
C. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu
proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses
memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang
sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga
pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995)
yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak
bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien
kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang
dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
1) Cultural Care Preservation/Maintenance
a. Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses
melahirkan dan perawatan bayi.
b. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
c. Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2) Cultural Care Accomodation/Negotiation
a. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien.
b. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan.
c. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik.
3) Cultual Care Repartening/Reconstruction
a. Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya.
b. Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok.
c. Gunakan pihak ketiga bila perlu.
d. Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat
dipahami oleh klien dan orang tua.
e. Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.

10
Proses akulturasi menurut McCloskey & Grace

Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing


melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan
budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak
memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan
terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat
mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang
bersifat terapeutik.

D. Evaluasi

Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan


klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi
budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru
yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui
evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang
budaya klien.

Globalisasi menyebabkan masyarakat hidup dalam suasana multikultural yang


disebabkan karena migrasi antar daerah dan negara menjadi lebih mudah.
Keperawatan transkultural menjadi komponen utama dalam kesehatan dan menjadi
konstituen penting dari perawatan, yang mengharapkan para perawat kompeten secara
budaya dalam praktek sehari-hari. Perawat yang kompeten dalam budaya memiliki
pengetahuan tentang budaya lain dan terampil dalam mengidentifikasi pola-pola
budaya tertentu sehingga dirumuskan rencana perawatan yang akan membantu
memenuhi tujuan yang telah ditetapkan untuk kesehatan pasien (Gustafson, 2005).

11
Selain itu, praktik keperawatan memberikan perawatan yang holistik.
Pendekatan holistik ini meliputi perawatan fisik, psikologi , emosional, dan kebutuhan
rohani pasien. Penting untuk menekankan bahwa perawat harus mengidentifikasi dan
memenuhi kebutuhan tersebut agar dapat memberikan perawatan individual, yang
telah ditetapkan sebagai hak pasien dan merupakan ciri praktek keperawatan
profesional (Locsin, 2001). Dalam rangka untuk memberikan perawatan holistik,
perawat juga harus harus mempertimbangkan perbedaan budaya dalam membuat
rencana keperawatan.

Dengan demikian, perawat harus mempunyai kompetensi budaya dalam


praktek sehari-hari mereka agar pasien merasa dikenal dan diperhatikan sebagai
individu dalam suatu sistem kesehatan yang sangat kompleks dan beragam secara
budaya. Pekerja sosial menggambarkan kompetensi budaya sebagai suatu proses terus-
menerus berusaha untuk menyadari, menghargai keragaman, dan meningkatkan
pengetahuan tentang pengaruh budaya (Bonecutter & Gleeson, 1997). Dan perawat
telah mengadopsi konsep ini. Perawat menggambarkan kompetensi budaya adalah
kemampuan untuk memahami perbedaan budaya dalam rangka untuk memberikan
layanan berkualitas kepada pasien dengan berbagai keanekaragaman budaya
(Leininger, 2002). Perawat yang mempunyai kompetensi budaya mempunyai
kepekaan terhadap isu-isu yang berkaitan dengan budaya, ras, etnis, gender, dan
orientasi seksual.

Dengan memiliki pengetahuan tentang perspektif budaya pasien


memungkinkan perawat untuk memberikan perawatan yang tepat dan efektif. Sebagai
contoh, pada kasus pasien yang menolak untuk diberikan tranfusi darah dengan alasan
agama, perawat yang mempunyai kompetensi budaya akan memahami dan mengatasi
masalah pasien tersebut dengan masalah keanekaragaman budaya.

Perawat mungkin menghadapi pasien dari berbagai budaya dalam praktek


sehari-hari dan tidak mungkin perawat dapat memahami seluruh keanekaragaman
budaya. Namun, perawat dapat memperoleh pengetahuan dan skill dalam komunikasi
transkultural untuk membantu memfasilitasi perawatan individual yang didasarkan
pada praktek-praktek budaya. Perawat yang terampil dalam komunikasi transkultural
akan lebih siap untuk memberikan perawatan yang kompeten secara budaya untuk
pasien mereka.

12
Baru-baru ini penelitian kualitatif menunjukkan bahwa masalah komunikasi
adalah alasan utama perawat tidak dapat memberikan perawatan yang kompeten dalam
budaya (Boi, 2000, Cioffi, 2003). Perawat menyampaikan bahwa mereka tidak
nyaman dengan pasien dari budaya lain selain mereka sendiri karena hambatan
bahasa. Lebih penting lagi, para perawat menjelaskan bahwa mereka tidak dapat
memahami isyarat-isyarat lain yang digunakan oleh para pasien untuk berkomunikasi.
Perawat menyampaikan memerlukan pendidikan dan pelatihan untuk memahami arti
isyarat-isyarat komunikasi nonverbal tertentu yang digunakan oleh kebudayaan yang
berbeda, misalnya kontak mata, sentuhan, diam, ruang dan jarak serta keyakinan
terhadap kesehatan.

Kontak mata adalah alat komunikasi yang penting, juga merupakan variabel
yang paling berbeda diantara banyak budaya (Canadian Nurses Association, 2000).
Perawat Amerika diajarkan untuk mempertahankan kontak mata ketika berbicara
dengan pasien mereka. Berbeda dengan orang-orang Arab, yang menganggap kontak
mata langsung tidak sopan dan agresif. Demikian pula, penduduk asli Amerika Utara
juga menganggap kontak mata langsung hal yang tidak benar dalam budaya mereka,
menatap lantai selama percakapan menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dengan
hati-hati dengan pembicara. Hispanik menggunakan kontak mata hanya bila dianggap
tepat. Hal ini didasarkan pada usia, jenis kelamin, kedudukan sosial, status ekonomi,
dan posisi kekuasaan. Misalnya, tetua Hispanik berbicara dengan anak-anak
menggunakan kontak mata, tapi dianggap tidak pantas bagi anak-anak Hispanik untuk
melihat secara langsung pada tetua mereka ketika berbicara.

Dalam lingkungan perawatan kesehatan, pasien Hispanik berharap bahwa


perawat dan penyedia layanan kesehatan lainnya langsung memberikan kontak mata
saat berinteraksi dengan mereka, tetapi tidak diharapkan bahwa pasien Hispanik
membalas dengan kontak mata langsung ketika menerima perawatan medis dan
keperawatan. Ini hanya beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa orang-orang dari
berbagai budaya kontak mata memandang berbeda. Sangat penting bahwa perawat
harus sadar bahwa beberapa makna yang dapat disertakan pada kontak mata langsung
agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan pasien.

13
2.4 Aspek Sosial Budaya Terhadap Status Kesehatan

2.4.1 Aspek Sosial Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan


Selanjutnya dijelaskan beberapa aspek sosial budaya yang mempengaruhi status
kesehatan dan perilaku kesehatan.yang pertama yaitu:
1) Umur
Jika dilihat dari aspek umur, maka ada perbedaan golongan penyakit berdasarkan
golongan umur.misalnya dikalangan balita banyak yang menderita penyakit
infeksi, sedangkan pada golongan dewasa atau usia lanjut lebih banyak menderita
penyakit kronis.
2) Jenis kelamin
Demikian juga dengan aspek golongan menurut jenis kelamin, dikalangan wanita
lebih banyak menderit kanker payudara, sedangkan pada pria, lebih banyak
menderita kanker prosat.
3) Pekerjaan.
Begitu juga dengan jenis pekerjaan, dikalangan petani lebih banyak menderita
penyakit cacingan, karena aktifiasnya banyak dilakukan disawah, sedangkan pada
buruh tekstil lebih banyak menderita penyakit salura pernafasan kaena banyak
terpapar debu.
4) Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga mempengaruhi pada pola penyakit, bahkan juga
berpengaruh pada kematian, misalnya angka kematian lebih tinggi pada golonga
yang status ekonominya rendah dibandingkan dengan status ekonominya tinggi.

Demikian juga obesitas lebih ditemukan pada kalangan masyarakat dengan


status ekonoinya tinggi. Menurut H Ray Elling (1970) ada beberapa faktor sosial
yang berpengaruh pada perilaku kesehatan.Antara lain :
1 . Self concept
Pengaruh self concept kita ditentukan oleh tingkat kepuasan atau tidak kepuasan
yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin
memperlihatkan diri kita kepada orang lain, oleh karena itu, secara tidak langsung
self concept kita cenderung mementukan, apakah kita akan menerima keadaan diri
kita seperti adanya atau berusaha untuk mengubahnya. Self concept adalah faktor

14
yang penting dalam kesehatan, karena mempengaruhi perilaku masyarakat dan
juga perilaku petugas kesehatan.
2 . Image kelompok
Image seseorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai
contoh, seorang anak dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan
orangorang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak petani tidak terpapar
dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan juga tidak becita-cita untuk
menjadi dokter.
G.M foster menambahkan, bahwa identifikasi individu kepada kelompoknya
juga berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Identifikasi kelompok kecilnya
sangat penting untuk memberikan keamanan psikologis dan kepuasan dalam
pekerjaan mereka.

2.4.2 Aspek Budaya Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan

Menurut G.M foster(1973) Aspek budaya yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang
antaa lain adalah:
1. Tradisi
2. Sikap Fatalism
3. Nilai
4. Ethnocentrisme
5. Unsur budaya dipelajari pada tingkat awal dalam proses sosialisasi

A. Pengaruh Tradisi Terhadap Perilau Kesehatan Dan Status Kesehatan.


Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap
kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi wabah penyakit kuru.
Penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan penyebabnya adalah virus. Penderita
hamya terbatas pada anak-anak dan wanita. Setelah dilakukan penelitaian ternyata
penyakit ini menyebar karena adanya tadisi kanibalisme.
B. Pengaruh Sikap Fatalism Terhadap Perilaku Dan Status Kesehatan
Hal ini adalah sikap fatalism yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan, beberapa
anggota masyarakat di kalangan kelompok yang beragama Islam percaya bahwa anak
adalah ttipan Tuhan, dan sakit atau mati itu adalah takdir, sehingga masyarakat kurang
berusaha untuk mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit, atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.

15
C. Pengaruh Sikap Ethnosentris Terhadap Perilaku Dan Status Kesehatan
Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa kebudayaan sendiri yang
paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Misalnya orang-orang
barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya, dan
selalu beranggapan bahwa kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior
terhadap budaya dari masyarakat yang sedang berkembang. Tetapi dari sisi lain, semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar alamiah adalah
yang terbaik.
Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatan kita harus menghindari sikap yang
menganggap bahwa petugas adalah orang yang paling pandai, paling mengetahui
tentang masalah kesehatan karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan
masyarakat setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan masyarakat tersebut
dalam masalah kesehatan masyarakat. Dalam hal ini memang petugas lebih menguasai
tentang masalah kesehatan, tetapi masyarakat dimana mereka bekerja lebih
mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
D. Pengaruh Perasaan Bangga Pada Statusnya Terhadap Perilaku Kesehatan.
Suatu perasaan bangga terhadap budayannya berlaku bagi setiap orang. Hal tersebut
berkaitan dengan sikap ethnosentrisme.
E. Pengaruh Norma Terhadap Perilaku Kesehatan.
Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya, norma dimasyarakat sangat
mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota masyarakatnya yang mendukung
norma tersebut. Sebagai contoh, untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi
banyak mengalami hambatan karena adanya norma yang melarang hubungan antara
dokter sebagai pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan.
F. Pengaruh Nilai Terhadap Perilaku Kesehatan
Nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan.nilai-
nilai tersebut ada yang menunjang dan ada yang merugikan kesehata. Beberapa nilai
yang merugikan kesehatan misalnya adalah penilaian yang tinggi terhadap beras putih
meskipun masyarakat mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung
vitamin B1 jika dibandingkan dengan beras putih, masyarakat ini memberikan nilai
bahwa beras putih lebih enak dan lebih bersih. Contoh lain adalah masih banyak
petugas kesehatan yang merokok meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya
merokok terhadap kesehatan.

16
G. Pengaruh Unsur Budaya Yang Dipelajari Pada Tingkat Awal Dari Proses Sosialisasi
Terhadap Perilaku Kesehatan
Pada tingkat awal proses sosialisasi, seorang anak diajakan antara lain bagaimana cara
makan, bahan makanan apa yang dimakan, buang air kecil dan besar, dan lain-lain.
kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi
tua. Kebiasaan tersebut sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit
untuk diubah.
H. Pengaruh Konsekuensi Dari Inovasi Terhadap Perilaku Kesehatan
Tidak ada perubahan yang terjadi dalam isolasi, atau dengan perkataan lain, suatu
perubahan akan menghasilkan perubahan yang kedua dan perubahan yang
ketiga.apabila seorang pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku
kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan
terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang
terlibat/berpengaruh terhadap perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa
yang akan terjadi dengan perubahan tersebutapabila ia tahu budaya masyarakat
setempat dan apabila ia tahu tentang proses perubahan kebudayaan, maka ia harus
dapat mengantisipasi reaksi yang muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan
yang telah direncanakan.

2.5 Aspek Sosial Budaya Dalam Program KB

Program keluarga brencana ini memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum kecil dan sejahtera adalah secara bertahap dalam rangka perkembangan
dan pembudayaan norma keluarga kecil keluarga bahagia dan sejahtera (BKKBN). Adapun
tujuan khususnya adalah :
1 . Penurunan tingkat kelahiran.
2 . Meningkatkan jumlah peserta KB.
3 . Mengembangkan usaha-usaha untuk membantu peningkatan kesejahteraan ibu dan
anak, memperpanjang tingkat harapan hidup, menurunkan kematian bayi.
4 . Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat terhadap masalah kependudukan dalam
melembagakan NKKBS.
5 . Meningkatkan dan memantapkan peran dan tanggungjawab pasangan usia subur dan
generasi muda dalam penanggulangan masalah kependudukan.

2.5.1 Faktor-Faktor Yang Mempengarui Pemakai Alat Kontrasepsi

17
Sebagai seorang tenaga kesehatan, apakah perawat atau bidan, kita tentu nya memiliki
kepentingan untuk membantu masyarakat mencapai tingkat kesehatan yang baik, salah
satunya adalah membantu masyarakat menggunakan alat kontrsepsi untuk mengontrol
memiliki anak. Hal yang penting perlu disadarioleh para tenaga kesehatan adalah bahwa
penggunaan alat kontrasepsi pada masyarakat tidak hanya ditentukan oleh faktor
kesehatan itu sendiri, akan tetapi terdapat faktor lain seperti sosial budaya, serta program
KB itu sendiri. Seringkali program kesehatan mengalami banyak kegagalan karena tidak
memperhatikan faktor luar tersebut yang memilki pengaruh yang besar.
A. Faktor Sosial Budaya
Faktor pertama yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat kontrasepsi
adalah faktor sosial budaya, aspek sosial budaya yang mempengaruhi adalah:
1) Alasan pribadi , misal nya kurang dari 20 tahun, atau lebih dari 35 tahun.
2) Ingin menjarangkan kehamilan
3) Ingin membatasi anak
4) Pendidikan meningkat
B. Faktor Kesehatan
Faktor kedua yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat kontrasepsi adalah
faktor kesehatan. Alasan kesehatan yang mempengaruhi adalah :
1) Terlalu sering hamil tidak baik untuk kesehatan ibu.
C. Faktor Program KB
Faktor ketiga yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat kontrasepsi
adalah faktor program KB itu sendiri, aspek program yang mempengaruhi adalah :
Pemahaman masyarakat yang baik akan program KB
D. Kemudahan Untuk Memperoleh
E. Jarak Rumah Mereka Dengan Lembaga Yang Bertanggungjawab Terhadap
Program

2.5.2 Faktor-Faktor Yang Menghambat Pemakaian Alat

Selain memahami faktor yang mempengarui masyarakat menggunakan alat


kontrasepsi, disisi lain kita juga perlu memahami mengapa masyarakat masih enggan
untuk menggunakan alat kontrasepsi. Beberapa factor yang menghambat penggunaan
alat kontrasepsi adaalah faktor sosial budaya, adat istiadat, agama, pilihan jenis kelamin,
pandangan nilai anak, pendidikan yang rendah, serta ekonomi.

18
1. Faktor Sosial Budaya
Tidak dapat kita hindari bahwasanya faktor sosial budaya memegang peranan penting
dalam perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat untuk tidak menggunakan alat
kontrasepsi ternyata dipengarui oleh adat istiadat dan atau kepercayaan dalam budaya
tertentu. Misalkan saja:
a) Senang banyak anak sebagai aset.
b) Mengawinkan anak pada usia muda untuk memperoleh keturunan
c) Kurangnya pendidikan
d) Ekonomi yang sulit(tidak punya uang)
e) Pilihan jenis kelamin(laki/perempuan)
Contoh pada masyarakat bugis, harus ada anak perempuan, sehingga jika belum
memiliki anak perempuan,mereka mencoba terus memiliki anak sampai mendapatkan
anak perempuan.
2. Agama
Berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi, terdapat kelompok masyarakat agama
yang menerima dan menolak program tersebut. Dalam konteks ini tentunya sebagai
tenaga kesehatan, kita perlu memahami pandangan kepercayaanatau agama pada
masyarakat yang menjadi sasaran program KB. Tentunya kepercayaan agama
bukanlah suatu yang dapat kita paksakan, tetapi yang terpenting adalah kita
memahaminya. Sebagai seorang tenaga kesehatan yang memiliki tugas mensukseskan
program ini, tentunya kita menjadi paham bahwa kesuksesan suatu program kesehatan
masyarakat tidak hanya di pengarui oleh program itu sendiri, akan tetapi oleh faktor
lain. Seperti sosial budaya tersebut ditemukan oleh LIPSET dalam penelitiannya yang
menunjukkan bahwa pendapatan, pendidikan, dan status sosial merupakan factor yang
penting dalam partisipasi dalam program keluarga berencana (KB)

19
BAB III
PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan
Prospek social budaya terhadap Keperawatan adalah suatu proses pemberian asuhan
keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya dan menerapakan
pelayanan keperawatan sesuai dengan latar belakang budaya tanpa merugikan kesehatan atau
melanggar prosedur asuhan keperawatan.
Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks social budaya sangat diperlukan untuk
menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien. Diagnosa
keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi tindakan yang dibutuhkan
untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, membentuk budaya baru yang
sesuai dengan kesehatan atau bahkan mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan
dengan budaya baru. Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak
dapat begitu saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien. Evaluasi asuhan
keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan pelaksanaan proses asuhan
keperawatan transkultural.

20
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Makalah Implikasi Penggunaan Antropologi Pada Praktik Keperawatan,


(online), (https://faizalibnu.blogspot.co.id/2014/10/makalah-implikasi-
penggunaan.htm?m=1) diakses 17 April 2018.
Cultural Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and Case
Studies, Ditelusuri tanggal 17 desember 2010
Foster/Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan, Jakarta, Grafiti.
Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,Theories,
Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies Understanding The
Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care. Ditelusuri tanggal 17 desember 2010
dari “http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing
[http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing] ”
Sarwono, S. 1993. Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep Beserta Apli kasinya, Yogyakarta,
Gadjah Mada Press.
Transcultural NursingModels ; Theory and Practice, Ditelusuri tanggal 17 september 2006
dari “http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing
[http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing] ”

21