You are on page 1of 11

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Magnetic Particle
Nanopartikel magnetik merupakan suatu material yang memiliki berbagai
keunggulan, antara lain : bersifat superparamagnetic, kejenuhan magnet yang
tinggi, kontribusi anisotropi yang bagus dan bikompetibel. Fenomena ini terus
meningkat seiring pengaruh ukuran dan permukaan yang didominasi oleh sifat
magnetic dari masing-masing nanopartikel (Korna, 2005). Partikel magnetik yang
sering digunakan pada aplikasi biomedical yaitu Fe3O4 yang sering dikenal dengan
istilah magnetite. Magnetite merupakan biji besi magnetik yang tersusun atas
72.36% besi dan 27.64% oksigen yang menghasilkan konduktivitas tinggi (Tan
dan Bakar, 2006).
Fe3O4 merupakan partikel magnetic yang memiliki struktur kubik inverse
spinel. Selain itu, Fe3O4 ini memiliki sifat listrik dan magnet yang unik
berdasarkan transfer elektron diantara molekul Fe2+ dadn Fe3+ pada octahedral
sites (Abilash dkk, 2011). Magnetite atau Fe3O4 yang sering digunakan dalam
bentuk bubuk dan diproduksi secara komersial pada industri Berikut ini adalah
gambar dari bubuk Fe3O4 dapat dilihat pada Gambar 2.4 dibawah ini :

Gambar 2.4 Bubuk Fe3O4 (Mamani dkk, 2014)


9

Magnetite (Fe3O4) menjadi bahan yang dipilih untuk pengembangan


dalam bidang biomedis, hal ini dikarenakan keunggulan dari 3 sifat utama
magnetite berupa kadar racun yang rendah (low toxic), biodegradable dan
biokompatibilitas yang baik. Selain itu, magnetite juga memiliki sifat stabilitas
yang tinggi dalam respon magnet. Sifat unggul ini menyebabkan Fe3O4 layak dan
sering digunakan pada aplikasi biomedical in vitro (Mamani dkk, 2014). serta sifat
fisik dan magnetik dari Fe3O4 dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Magnetik Senyawa Oksida Besi

Jenis nanomagnetit
Sifat Fisik
I II III
3
Densitas (g/cm ) 5,25 5,18 4,87
Titik leleh (˚C) 1350 1583-1597 -
PH 6,5 5.5 5
Ferromagnetik
lemah atau Ferromagne Ferrimagnet
Sifat kemagnetan
antiferromagneti tik ik
k
Ms pada 300 K
0,3 92-100 60-80
(A.m2/kg)
Energi pembentukan
-742,7 -1012,6 -711,1
bebas ∆Gf˚ (kJ/mol)
Rombohedral, Kubus atau
Struktur Kristal Kubus
Heksagonal tetrahendral
Spinel
Tipe struktur Corundum Spinel cacat
terbalik
P43 32
R3c (kubus),
Gugus ruang Fd3m
(Heksagonal) P41212
(tetragonal)
a = 0,5034,
a = 0,83474
c = 1,375
(kubus),
(Heksagonal),
Parameter kisi (nm) a = 0,8396 a = 0,8347,
agb = 0,5427,
c = 2,501
a = 55,3˚
(tetragonal)
(rombohedral)

Struktur nanomagnetit adalah spinel dengan sel unit kubik yang terdiri
dari 32 ion oksigen, di mana celah-celahnya ditempati oleh ion Fe 2+ dan Fe3+.
Dalam struktur kristal tersebut, ion Fe (II) dan setengah dari ion Fe (III)
10

menempati lokasi oktahedral dan setengah lainnya dari Fe (III) menempati lokasi
tetrahedral (Gambar 2.3 a dan b).
Tiap-tiap unit sel berisi sejumlah ion dimana satu sel terbagi menjadi 8
oktan (kubus spinel), masing-masing berukuran ½ a (Gambar 2.3 c), empat oktan
yang berarsir memiliki ukuran isi yang sama, begitu pula dengan cara yang sama,
tetrahedral dioktan terarsir dan octahedral tidak terarsir (Cullity,1972).

   
   
 
   

(b) (c)
(a)

  

Gambar 2.1 Struktur magnet, (a) posisi ion logam dalam kristal
tetrahedral, (b) posisi ion logam dalam octahedral,(c)
magnet bentuk kubik
Fe3O4 merupakan senyawa oksida dengan struktur spinel yang tidak
normal yang tidak hanya digunakan dalam industri pelapisan, pewarnaan, dan
light-resistance, tetapi juga digunakan untuk industri konstruksi dikarenakan
sifatnya yang tahan terhadap asam. Pada saat ini,Fe 3O4 digunakan pada berbagai
bidang termasuk teknologi preparasi dari serbuk nanopartikel (Meng et al., 2005).

Magnetite dapat disintesis dengan menggunakan beberapa metode yaitu


metode ko-presipitasi (Sneha dkk, 2015), hidrotermal (Lei dkk, 2016) dan sol-gel
(Lemine dkk,2012).
Sintesis magnetite dengan metode co-precipitation (ko-presipitasi)
dilakukan dengan mencampurkan 16.25 gram FeCl3, 6.35 gram FeCl2 yang
masing-masing dilarutkan pada 200 ml deionized water. Pada sintesis magnetite
11

hal terpenting harus dilakukan pencampuran larutan basa. Pada metode ini
dilakukan penambahan NaOH 2 M selama 5 jam pada suhu 70ºC. Pencucian
presipitat dilakukan untuk menghilangkan pengotor dan dioven pada suhu 70ºC
hingga dihasilkan bubuk magnetite.
Metode kopresipitasi merupakan metode dengan prinsip kerja pengendapan
lebih dari satu substansi secara bersama-sama melewati titik jenuhnya dengan
menggunakan agen pengendap seperti hidroksida, karbonat, sulfat dan oksalat.
Keunggulan dari metode kopresipitasi ialah dalam pengontrolan ukuran dari
partikel, tidak menggunakan suhu reaksi yang tinggi (suhu kamar), dengan waktu
reaksi yang lebih singkat (Velmurugan dkk, 2010).
Pembuatan magnetite dengan menggunakan metode hidrotermal menurut
Sukoco (2018) dengan menggunakan bahan utama 0.328 gram FeSO4.7H2O yang
dilarutkan dalam 10 ml akuades dan ditambahkan 22 ml Polipropilen glikol.
Nanomagnetit disintesis dengan menggunakan metode hidrotermal dengan waktu
sintesis 3,5 jam, 5, 7, 9 dan 12 jam pada temperatur 210 °C dengan konsentrasi
0,05 M, 0,1 M dan 0,15 M. Sintesis yang optimal untuk pertumbuhan kristal
nanomagnetit adalah pada temperatur 210 °C dengan waktu 9 jam 0,05 M.
 
Pembuatan magnetite menggunakan metode Sol-Gel menurut Lemine et al
(2012), menggunakan campuran bahan utama 6 gram C15H12FeO6 dengan 36 ml
methanol pada kondisi stirring. Kondisi proses superkritikal dikendalikan dengan
menggunakan autoclave pada suhu 300ºC dan pengeringan pada kondisi
superkritikal Etilen Alkohol.
Disamping itu, partikel nanomagnetit telah menjadi material menarik yang
dikembangkan karena sifatnya yang terkenal sangat potensial dalam aplikasinya
pada berbagai bidang, seperti dalam bidang medis digunakan sebagai drug
delivery, tissue repair, cancer treatment, penyembuhan tumor dan terapi
hyperthermia, dan Magnetic Resonance Imageing (MRI). Dalam bidang industri
digunakan sebagai katalis, sensor, penyimpan data dalam bentuk CD atau hard
disk dan pigmen warna. Nanomagnetit digunakan sebagai inti dari agen yang
digunakan untuk memisahkan jaringan yang sehat dan yang terkena penyakit.
12

Nanomagnetit dengan polimer terlapisi digunakan untuk pemisahan sel,


pemurnian protein, analisis bidang pangan dan lingkungan, sintesis biokimia dan
organik, pengelolaan limbah industri dan biosains (Teja, 2009).

2.2 Hidroksiapatit
Material yang banyak diperlukan untuk memperbaiki dan meregenerasi
tulang adalah senyawa dari garam kalsium fosfat seperti hidroksiapatit.
Hidroksiapatit, Ca10(PO4)6(OH)2 adalah mineral utama penyusun tulang dan
gigi. Material pengganti tulang yang tersusun atas hidroksiapatit, telah digunakan
secara luas untuk aplikasi biomedis seperti di bidang periodontologi dan ortopedi.
Hidroksiapatit digunakan karena memiliki sifat biokompatibilitas, bioaktivitas,
osteokonduktif, non toksik dan non imunogenik (Warastuti, 2017).
Hidroksiapatit merupakan bahan biomaterial yang jarang bisa kita jumpai
dalam keadaan murni di alam. Biasanya mineral ini bercampur dengan mineral
apatit fluor yang disebut fluorapatit. Hidroksiapatit dapat terbentuk karena gugus
hidroksi (OH) menggantikan ion fluor (F) pada fluorapatit. Selain terdapat dalam
wujud mineral di bebatuan alami, keberadaan apatit juga bisa kita jumpai pada
makhluk hidup. Tulang dan gigi adalah contoh jaringan yang memiliki kandungan
hidroksiapatit. Senyawa apatit merupakan jenis keramik yang dapat disintesis dan
diimplankan ke dalam tubuh manusia. Untuk dapat diimplankan ke dalam tubuh
manusia harus memenuhi syarat medis yaitu, bersifat bioaktif, biokompatibel dan
bioresorbable (Suryadi, 2011).
Bioaktif adalah material akan membantu pembentukan sebuah lapisan
permukaan apatit biologis yang mengakibatkan pembentukan sebuah ikatan kimia
langsung ketulang. Biokompatibel adalah material tersebut tidak menyebabkan
reaksi penolakan dari sistem kekebalan tubuh manusia karena dianggap sebagai
benda asing. Material yang bioresorbable berperan dalam proses pembentukan
dan reabsorbsi yang terjadi dalam jaringan tulang (Suryadi, 2011).
Kelebihan dari hidroksiapatit sehingga cukup aman di gunakan sebagai
bahan implant adalah karena sifatnya yang non toxic, cepat membangun ikatan
dengan tulang (bioaktif), memiliki biokompatibilitas dengan jaringan sekitar dan
dapat mendorong pertumbuhan tulang baru dalam strukturnya yang berpori. Sifat
13

fiska hidroksiapatit terdiri densitas dan rasio kandungan kalsium dan pospor.
Selain itu sifat mekanik seperti kekuatan bengkok dan modulus elastis, kekuatan
tekan juga menjadi pengaruh terhadap fisika hidroksiapatit seperti yang dapat
dilihat pada
Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Sifat fisika hidroksiapatit (Grenoble dkk, 1972)
Sifat Kadar
Modulus Elastisitas (GPa) 40 - 117
Kekuatan Tekan (MPa) 294
Kekuatan Bengkok (MPa) 147
Rasio Ca/P 1,67
Densitas (g/cm3) 3,16

Hidroksiapatit banyak diaplikasikan dalam dunia medis karena sifatnya yang


sangat mirip dengan komponen pada organ – organ tertentu dari tubuh manusia
seperti tulang dan gigi. dari Email gigi mengandung senyawa hidroksiapatit
hingaa 95 % dan kandungan hidroksiapatit pada tulang manusia ada sekitar 70%.
Kekuatan mekanik HAp yang kurang baik dalam menahan beban menyebabkan
aplikasinya terbatas hanya untuk implan yang tidak sepenuhnya menahan beban,
seperti : implan untuk operasi telinga bagian tengah, pengisi tulang yang rusak
pada operasi ortopedik, serta pelapis (coating) pada implan untuk dental (Suryadi,
2011).
Adanya keterbatasan dalam setiap material, memicu perkembangan riset
dibidang biomaterial. Hingga saat ini studi mengenai biomaterial terus
berkembang, terutama material hidroksiapatit. Hidroksiapatit dapat diperoleh dari
sumber alami atau melalui sintesis kimia. (Sulistioso dkk, 2011). Hidroksiapatit
dapat disintesis menggunakan bahan sintetis dan dapat pula diekstraksi dari bahan
biologi seperti tulang sapi, sisik ikan, cangkang telur, maupun sumber dari hewan
laut atau disebut juga sumber biogenik. Biogenik antara lain bersumber dari koral,
sponges, moluska, dan tulang ikan. Sumber biogenik merupakan pilihan yang baik
untuk menyintesis biomaterial karena menyerupai jaringan keras pada manusia
(Warastuti, 2017).
14

Penelitian tentang hidroksiapatit sudah banyak dilakukan karena


aplikasinya yang sangat luas baik sebagai biomaterial untuk impan tulang, filler,
sebagai katalis, penukar ion atau adsorben. Selain itu hidroksiapatit dapat
mengadsorpsi logam timbal, kobalt, nikel, tembaga, timah, cadmium, dan uranium
dengan efisien. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk sintesis hidroksiapatit
diantaranya adalah metode kering, metode basah, reaksi hidrotermal dan sol gel.
Berbagai sumber bahan dasar sintesis hidroksiapatit telah digunakan diantaranya
sumber Ca berasal
) dari tulang sapi, batu gamping dan cangkang telur (Yelmida
dkk, 2015) .
Dalam aplikasi biomedical, hidroksiapatit dapat dimodifikasi menjadi
bentuk yang beragam, seperti bentuk bubuk, bentuk scaffold, bentuk pori, maupun
bentuk busa. Bentuk yang digunakan untuk aplikasi implant juga disesuaikan
dengan kebutuhan dari implant (Deville dkk, 2006).

Gambar 2.5 Hidroksiapatit Scaffold (Deville dkk, 2006)

2.3 Metode Sintesis Fe3O4


Beberapa dekade terakhir, banyak penelitian telah dikhususkan untuk
sintesis partikel nanomagnetit, banyak publikasi telah menggambarkan sintesis
15

yang efisien untuk membentuk rute yang terkendali dan sangat stabil. Beberapa
metode populer diantaranya kopresipitasi, dekomposisi termal, misel, hidrotermal,
dan teknik pirolisis laser dimana semua bisa diarahkan pada sintesis nanopartikel
berkualitas tinggi (Mohapatra dan Anand, 2010).

2.3.1 Metode Ko-presipitasi


Teknik ko-presipitasi adalah teknik yang paling sederhana dan efisien
untuk mendapatkan partikel nanomagnetit. Reaksi kopresipitasi dilakukan
menggunakan oksida besi yaitu besi (II) oksida (Fe2O3) dan besi (III) oksida
(Fe3O4) yang dalam campuran stoikiometrik dari garam Fero dan Feri dalam
medium berair. Berdasarkan stoikiometri reaksi ko-presipitasi sempurna Fe3O4
rasio Fe3+ dibandingkan Fe2+ adalah 2 berbanding 1, reaksi dilakukan dalam
lingkungan bebas oksigen dan pada pH 8 dan 14, (Laurent et al., 2008).

Reaksi kimia pembentukan Fe3O4 diperlihatkan pada persamaan reaksi (1).

Fe2+ + 2Fe3+ + 8OH- Fe3O4 + 4H2O (1)

Keuntungan utama dari proses kopresipitasi adalah jumlah nanopartikel yang


dihasilkan cukup banyak. Namun, kontrol distribusi partikel sangat terbatas
karena hanya faktor kinetika yang mengontrol pertumbuhan kristal.
Pada proses kopresipitasi, terdapat 2 tahap yaitu:
1. Nukleasi yang singkat terjadi ketika konsentrasi senyawa mencapai
supersaturasi yang kritis
2. Pertumbuhan inti yang lambat oleh difusi pelarut ke permukaan kristal.
Untuk memperoleh nanopartikel oksida besi monodispersi, 2 tahap ini harus
terpisah, misalnya nukleasi harus dihindari selama periode pertumbuhan (Tartaj,
dkk, 2003).

2.3.2 Metode Sol-Gel


Proses sol-gel merupakan proses kimia basah untuk mensintesis dispersi
koloidal material anorganik maupun hibrida organik dan anorganik. Sintesis
oksida logam dengan sol-gel telah terbukti efektif, dimana memungkinkan
pembentukan oksida logam dengan variasi yang sangat luas pada temperatur
16

rendah melalui proses garam logam atau prekursor logam alkoksida. Struktur dan
komposisi nanomagnetit oksida yang terbentuk dengan metode sol-gel bergantung
pada kondisi preparasi, sifat prekursor, sumber ion, dan pH.
Metode sol gel memiliki beberapa kelebihan yaitu kontrol proses yang
baik, sistem multi komponen yang homogen dan memerlukan temperatur rendah.
Proses sol gel ini berdasarkan hidroksilasi dan kondensasi prekursor molekular
dalam larutan. Kondensasi dan polimerisasi anorganik menghasilkan jaringan tiga
dimensi oksida logam yang didominasi oleh gel basah. Sintesis oksida besi
dengan metode sol-gel diperoleh dari gel feri oksida terkondensasi, yang
diperoleh dari larutan FeCl3 dalam NaOH. Setelah pemanasan gel pada 100 °C
selama 8 hari, diperoleh partikel α-Fe2O3. Kristalisasi besi oksida dipengaruhi
oleh anion dan kation yang terjerap oleh ligan, pH, dan temperatur (Lu et al.
2007).

2.5 Komposit Hidroksiapatit/Magnetic Particle


Dalam meningkatkan kualitas dari hidroksiapatit, modifikasi dengan
mencampurkan bahan lain dapat menjadi solusi utama. Modifikasi Hidroksiapatit
dapat meningkatkan sifat mekanis hidroksiapatit. Para peneliti internasional mulai
mengembangkan formulasi komposit berbasis hidroksiapatit dengan berbagai
bahan pendukung kualitas. Adapun beberapa bahan yang biasanya digunakan
sebagai komposit seperti Agarose (Kolanthai dkk, 2016), Alumina (Fadli dan
Sopyan, 2010), Fe3O4 (Sneha dkk, 2016).
Kolanthai dkk (2016) mengembangkan komposit berbasis hidroksiapatit
dengan mencampurkan agarose sebagai agent penguat dan pengatur ukuran dari
partikel bubuk komposit yang dihasilkan. Bahan baku utama pembentuk
hidroksiapatit yaitu Ca(NO3)2.4H2O 0.5 M dan (NH4)2HPO4 0.3 M, pencampuran
dilakukan dengan penambahan agarose sebanyak 1 %wt dalam keadaan stirring
selama 3 jam dengan pengontrolan suhu pada 70ºC. Kemudian dilakukan
pengontrolan pH campuran pada pH 12 dengan penambahan NH 4OH. Campuran
kemudian di cuci hingga pH netral dan dilakukan proses kalsinasi pada suhu
17

900ºC selama 2 jam. Hasil ukuran partikel bubuk komposit yang diperoleh yaitu
800 nm.
Fadli dan Sopyan (2010) mengembangkan komposit berbasis
hidroksiapatit dengan menggunakan campuran bahan alumina. Penggunaan
alumina diperuntukkan untuk meningkatkan kualitas mekanis dari hidroksiapatit.
Metode yang dikembangkan pada penelitian ini yaitu protein foaming
consolidation dengan menggunakan bahan baku Alumina, Kuning Telur dan
Dispersant. Rasio Alumina dengan kuning telur adalah 1 : 1, dan dispersant yang
digunakan yaitu 0.01 %wt. Pencampuran diiringi dengan stirring selama 3 jam
dan dituang ke cetakan stainless steel. Komposit kemudian dikeringkan di oven
selama 1 jam pada suhu 180ºC dan dikalsinasi pada suhu 600ºC selama 2 jam.
Bentuk komposit yang diperoleh berupa microcarrier berbentuk body.
Sintesis komposit juga dilakukan dengan beragam bentuk seperti bubuk
(Kolanthai dkk, 2016), scaffold (Fadli dan Sopyan, 2010), Bola (Sriprapha dkk,
2011), dan tubes (Sneha dkk, 2015).
Sintesis komposit hidroksiapatit dengan partikel magnetik telah dilakukan
oleh Sneha dkk (2017). Bahan baku pembentuk partikel magnetik yang digunakan
berupa FeCl3 dan FeCl2 dengan rasio 2 : 1. Bahan baku pembentuk hidroksiapatit
yaitu Ca(NO3)2 dan (NH4)2HPO4 dengan rasio 1 : 0.6. Hidroksiapatit yang
diperoleh berupa bubuk. Pembuatan komposit menggunakan metode presipitasi
diawali dengan pencampuran FeCl3 dengan Bubuk Hidroksiapatit, yang kemudian
dicampurkan dengan larutan FeCl2 dalam keadaan stirring selama 1 jam.
Pengontrolan pH campuran pada pH 12 dilakukan dengan penambahan NaOH.
Campuran kemudian di aging selama 24 jam dan dilakukan pengeringan pada
suhu 70ºC selama 1 hari. Presipitat kemudian dikalsinasi pada suhu 900ºC selama
2 jam hingga dihasilkan komposit hidroksiapatit/magnetik partikel dalam bentuk
bubuk.
Pembuatan Komposit hidroksiapatit/magnetik partikel akan mencegah
terjadinya aglomerasi partikel, meningkatkan kestabilan, kekokohan struktur dan
sifat mekanik dengan adanya sifat magnet yang berperan sebagai agen pengantar
obat ke targeting area pada organ kerusakan.
18

Komposit dengan bentuk tubes memiliki keunggulan dibandingkan bentuk


lainnya yakni struktur tubular dengan kedua ujung yang terbuka sebagai tempat
masuknya obat pada komposit, kedua ujung ini akan berfungsi sebagai tempat
kontak antara komposit dengan obat yang akan dihantar kedalam tubuh yang
mengalami penyakit dan kerusakan. Luas kontak permukaan yang besar
disebabkan dari bentuk tubes yang panjang. Oleh karena itu, komposit dalam
bentuk tube sedang dipelajari dan diteliti untuk drug delivery pada aplikasi
penyembuhan penyakit kanker dan hyperthermia (Iwasaki dkk, 2013).

2.6 Aplikasi Komposit Hidroksiapatit/Magnetic Particle


Dalam aplikasi drug delivery, sifat superparamagnetik pada Fe3O4
berperan besar dalam menyembuhkan penyakit pada tubuh, dengan disertai
loading berupa obat pencegah kanker seperti Doxorubicin, partikel magnetik
komposit tersebut akan tertarik oleh magnet yang berada di dekat permukaan
kulit, gaya tarik magnet tersebut juga akan menarik sel kanker pada tubuh
bersamaan dengan tertariknya magnetik komposit tersebut. maka dari itu, sifat
dari partikel magnet Fe3O4 lebih disarankan pada sifat superparmagnetik. Hal ini
didasarkan atas arah dari tarikan magnet yang lebih teratur (Wang et al, 2011).
Penggunaan komposit magnetik hidroksiapatit lebih kepada aplikasi secara
biomedis, yakni menghilangkan tumor, penyembuhan kanker dengan injeksi obat
Doxorubicin (Aval et al, 2016), penyembuhan hyperthermia (Iwasaki et al, 2013).