You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga mulai dari telur sampai

dewasa. Adapula serangga yang selama hidupnya tidak pernah mengalami

metamorfosis, misal kutu buku (Lepisma saccharina Ordo: Collembola.

Berdasarkan metamorfisnya, serangga dibedakan atas dua kelompok, yaitu:

Hemimetabola dan Holometabola. Metamorfosis dan penempelan merupakan

proses yang amat penting dalam siklus hidup koloni karang. Koloni karang hanya

akan terbentuk jika larva planula berhasil bermetamorfosis dari larva planktonik

menjadi bentik dan menempel pada substrat untuk kemudian bertumbuh menjadi

koloni baru sebagai respon sinyal yang diterima dari lingkungan. Keberhasilan

rekruitmen larva merupakan kunci perbaruan dan pemeliharaan populasi karang.

Metamorfosis Kecoa atau lipas betina bertelur dalam jumlah banyak yang

diletakkan di permukaan tanah atau pada tumpukan sampah. Telur kecoa menetas

menjadi anak kecoa yang disebut nimfa. Nimfa memiliki bentuk yang mirip

dengan induknya. Kemudian nimfa menjadi kecoa dewasa. Karena perubahan

bentuknya tidak mengalami tahap kepompong, maka kecoa disebut mengalami

metamorfosis tidak sempurna. Proses metamorfosis kecoa Kecoa dalam

perkembangbiakannya mengalami metamorfosis tidak sempurna dimana siklus

hidupnya ada tiga fase perkembangan yaitu telur, nimfa. Berdasarkan latar

belakang maka perlu dilakukan praktikum metamorfosis.


B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum metamorfosis yaitu bagaimana

menjelaskan proses metamorfosis dan membuat perbandinngan diantara hewan

coba yang digunakan?

C. Tujuan praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum metamorfosis yatu

menjelaskan proses metamorfosis dan membuat perbandingan diatara hewan

coba yang digunakan.

D. Manfaat praktikum

Manfaat yang diharapkan pada praktikum metamorfosis yaitu agar dapat

menjelaskan proses metamorfosis dengan membuat perandingan diantara

hewan coba yang digunakan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana hewan secara fisik

mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas, melibatkan

perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel.

Metamorphosis berasal dari bahasa Yunani yaitu Greek = meta (diantara, sekitar,

setelah), morphe` ( bentuk), osis (bagian dari), jadi metamorphosis merupakan

perubahan bentuk selama perkembangan post-embrionik. Hewan yang mengalami

metamorfosis cukup banyak, di antaranya adalah katak, kupu-kupu dan serangga

(Nuraini, 2011).

Metamorfosis adalah suatu proses biologi dimana hewan secara fisik

mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas. Proses ini

melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan

diferensiasi sel. Metamorfosis biasanya terjadi pada fase berbeda-beda, dimulai

dari larva atau nimfa, kadang melewati fase pupa, dan berakhir sebagai spesies

dewasa. Ada dua macam metamorfosis utama pada serangga, hemimetabolisme

dan holometabolisme. Hemimetabolisme merupakan metamorfosis tidak

sempurna. Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis biasanya disebut

larva. Tapi pada metamorfosis kompleks pada kebanyakan spesies serangga,

hanya fase pertama yang disebut larva danterkadang memiliki nama yang

berbeda. Holometabolisme merupakan metamorfosis sempurna. Holometabolisme,

larva sangat berbeda dengan dewasanya. Serangga yang melakukan


holometabolisme melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang

disebut pupa, atau chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa (Putra, 2012).

Metamorfosis serangga dalam perkembangannya mengalami proses

metamorfosis. Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga mulai dari telur

sampai dewasa. Adapula serangga yang selama hidupnya tidak pernah mengalami

metamorfosis, misal kutu buku (Lepisma saccharina Ordo: Collembola).

Berdasarkan metamorfisnya, serangga dibedakan atas dua kelompok, yaitu:

Hemimetabola dan Holometabola (Suhara, 2003).

Pengamatan perkembangan larva berupa pembentukan bintik mata,

pigmentasi dan penyusutan kuning telur dilakukan setiap hari mulai hari ke 0

selama tiga hari. Tiga ekor larva yang diambil secara acak untuk diamati di bawah

mikroskop. Untuk mengetahui pertumbuhan larva maka dilakukan pengukuran

terhadap panjang larva setiap tiga hari, bersamaan dengan waktu sampling untuk

mengetahui kelangsungan hidup larva. Larva mulai diberi makanan alami pada

hari kedua, berupa plankton yang didapat dengan cara menyaring air kolam dan

memberikannya kepada larva. Naupli Artemia mulai diberikan setelah larva

berumur sepuluh hari (Hermawan, et al., 2004).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum metamorfosis ini dilaksanakn pada hari Selasa, 2 Juni 2015,

pukul 08.00-09.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Zoologi, jurusan Biologi,

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo,

Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum metamorfosis yaitu dapat dilihat

pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat yang digunakan beserta fungsinya


No. Nama Alat fungsi
1. Botol ampul Untuk menyimpan bahan pengamatan.
2. Kamera Untuk menggambil gambar hasil pengamatan.
3. Alat tulis Untuk menulis hasil pengatan.

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum metamorfosis yaitu dapat dilihat

pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan beserta fungsinya.


No. Nama Bahan Fungsi
1. kecoa Sebagai bahan pengamatan
2. Alkohol 70% Untuk mengawetkan telur
C. Prosedur Kerja

Prsedur kerja pada praktikum metamorfosis yaitu sebagai berikut:

1. Mencari dan mengisolasi telur hewan yang mengalami metamorfosis

(kecoa).

2. Mengamati dan mengikuti siklus perkemabangannya, mengganggap

pada saat menemukan telur adalah hari ke-0.

3. Mencatat waktu yang diperlukan untuk setiap fase perkembangan.

4. Memasukan kedalam tabel pengamatan waktu erubahan yang terjadi.

5. Setiap fase perkembangan harus membuat awettan dalam alkohol 70%

atau formalin 4%.

6. Laporan diserahkan bersamaan dengan awetan setiap perkembangan

yang telah disetting sedemikian rupa menjadi suatu urutan

perkembangan/proses metamorfosis hewan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum metamorfosis dapat dilihat pada

Tabel 3

Tabel 3. Hasil pengamatan metamorfosis pada kecoa.


No Gambar hasil pengamatan Gambar literatur keterangan
1. Telur
1.

Gambar 1. Gambar kecoa


yang bermetamorfosis.

B. Pembahasan

Metamorfosis adalah suatu proses biologi dimana hewan secara fisik

mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas. Proses ini

melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan

diferensiasi sel. Metamorfosis biasanya terjadi pada fase berbeda-beda,

dimulai dari larva atau nimfa, kadang melewati fase pupa, dan berakhir

sebagai spesies dewasa. Ada dua macam metamorfosis utama pada

serangga, hemimetabolisme dan holometabolisme. Hemimetabolisme

merupakan metamorfosis tidak sempurna.


Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis biasanya disebut

larva. Tapi pada metamorfosis kompleks pada kebanyakan spesies

serangga, hanya fase pertama yang disebut larva dan terkadang memiliki

nama yang berbeda. Pada hemimetabolisme, perkembangan larva

berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan ekdisis (pergantian

kulit), fase ini disebut instar. Holometabolisme merupakan metamorfosis

sempurna. Pada holometabolisme, larva sangat berbeda dengan

dewasanya. Serangga yang melakukan holometabolisme melalui fase

larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau

chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu didapatkan hasil

telur kecoa menetas menjadi anak kecoa yang disebut nimfa. Nimfa memiliki

bentuk yang mirip dengan induknya. Kemudian nimfa menjadi kecoa dewasa.

Karena perubahan bentuknya tidak mengalami tahap kepompong, maka kecoa

disebut mengalami metamorfosis tidak sempurna atau tahap hemimetabola.

Tahapan hemimetabola meliputi tiga tahapan yaitu yang pertama telur,yang

kedua nimfa, dimana nimfa ini adalah serangga yang mudah mempunyai sifat

dan bentuk sama dewasanya, dan yang ketiga ialah imago, imago adalah fase

yang telah diandai telah berkembangnya organ tubuh dengan baik.

Metamorfosis dikatakan sempurna apabila apabila melalui tahapan telur-larva-

pupa-imigo. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda

dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak
melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan

pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan.


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat

ditarik kesimpulan bahwa proses metamorfosis ada dua yaitu tahap

metamorfosis sempurna dan tidak sempurna. Metamorfosis sempurna yaitu

meliputi telur-nimpa/larva-imago, contohnya pada kecoa. Metamorfosis

sempurna meliputi telur-larva-pupa-imago.

B. Saran

Saran yang ingin diajukan pada praktikum metamorfosis yaitu agar

pada praktikum selanjutnya lebih ditingkatkan kekompakan antar

praktikan.
DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, M., Zairin Jr., dan Raswin, M, M. 2004, Pengaruh Pemberian Hormon
Tiroksin Pada Induk Terhadap Metamorfosa Dan Kelangsungan Hidup
Larva Ikan Betutu, Oxyeleotris Marmorata (Blkr.), J. Akuakultur
Indonesia, III(3): 5-8

Putra, F, F., Juni N, S., & Rahmat S. 2012, Aplikasi Pembelajaran Metamorfosis
Berbasis Android Augmented Reality J. Teknik Informatika, vol 1

Nuraini S., 2011, Metamorfosis Pheurometabola, Jurusan Agribisnis Fakultas


Pertanian, Universitas Lampung.

Suhara, 2003, Pendidikan Biologi, UPI.