You are on page 1of 67

SAMPUL

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN


TANGUNGJAWAB SOSIAL PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI
BURSA EFEK INDONESIA

OLEH :
MUSDALIPA
02320140151

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN
TANGUNGJAWAB SOSIAL PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI
BURSA EFEK INDONESIA

Proposal Skripsi

Diajukan Oleh

MUSDALIPA

02320140151

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Judul Proposal : Analisis Faktor yang mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI

Nama : Musdalipa

NIM : 02320140151

Fakultas : Ekonomi

Jurusan/Program : Akuntansi

Konsentrasi : Akuntansi Keuangan

Menyetujui :

Pembimbing I

Dr. Asriana Junaid, SE., MSA.,AK.,CA Tanggal ……………………………

Pembimbing II

Nurfadila, SE., M. Si Tanggal ……………………………

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….. i
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Masalah Pokok ..................................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian................................................................................ 7
II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 9
A. Tinjauan Teori Dan Konsep ................................................................. 9
B. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 39
C. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 47
III. METODE PENELITIAN ........................................................................... 49
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian............................................................. 49
B. Populasi dan Sampel Penelitian ......................................................... 49
C. Jenis dan Sumber Data ....................................................................... 50
D. Metode Pengumplan Data .................................................................. 50
E. Metode Analisis Data ......................................................................... 51
F. Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ................................... 55
IV. PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................................. 59
A. Rencana Jadwal .................................................................................. 59
B. Perkiraan Biaya .................................................................................. 59
C. Rencana Sistematika .......................................................................... 60
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 62

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai konsep akuntansi yang

baru merupakan transparasi pengungkapan sosial atas kegiatan atau aktivitas

sosial yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak hanya berfokus pada single

bottom lines yaitu tanggung jawab perusahaan hanya berfokus pada kondisi

keuangan saja, akan tetapi harus berfokus pada triple bottom lines yaitu

tanggung jawab perusahaan pada aspek sosial, lingkungan dan keuangan.

Karena kondisi keuangan saja tidak dapat menjamin nilai perusahaan

tumbuh secara berkelanjutan.

Di Indonesia, Corporate Social Responsibility (CSR) sekarang

dinyatakan tegas dalam UU Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007 pasal 74

yang menyatakan bahwa (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha di

bidang atau yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. (2) Tanggung Jawab Sosial dan

Lingkungan merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan

diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan

dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. (3) Peseroan yang tidak

melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab

Sosial dan Lingkungan diatur dalam peraturan pemerintah. Peraturan lain yang

menyinggung CSR adalah UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Pasal 15 (b) menyatakan bahwa setiap penanaman modal berkewajiban

melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.


2

Pertanggungjawaban sosial perusahaan dapat berbentuk yayasan, akan

tetapi terpisah dari organisasi, sebagian besar perusahaan di Indonesia lebih

memilih menjalankan pertanggungjawaban sosialnya melalui kerja sama mitra,

seperti LSM, perguruan tinggi dan lembaga konsultan. Dalam era modern ini,

pertanggungjawaban sosial dapat dimanfaatkan untuk menambah pendapatan

atau modal sebuah perusahaan, dalam hal ini biasanya perusahaan menerapkan

program yang di sebut sosial marketing untuk kegiatan yang meningkatkan

pendapatan dari perusahaan tersebut. (Achmad, 2012:34)

Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan

yang menekankan bahwa perusahaan harus mengembangkan etika bisnis dan

praktik bisnis yang berkesinambungan (sustainable) secara ekonomi, sosial

dan lingkungan. Konsep ini berkaitan dengan perlakuan terhadap

stakeholder baik yang berada di dalam dan di luar perusahaan dengan

bertanggungjawab baik secara etika maupun sosial. Corporate Social

Responsibility (CSR) juga mengandung pengertian bahwa seperti halnya

individu, perusahaan memiliki tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi

hukum, menjunjung integritas, dan tidak korup. Tanggung jawab sosial

perusahaan telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara

pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan

kerjasama (Departemen Sosial, 2007).

Saat ini seluruh perusahaan di Indonesia semakin dituntut untuk

memberikan informasi yang transparan atasaktivitassosialnya,sehingga

pengungkapan terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) diperlukan

peran dari akuntansi pertanggungjawaban sosial (Reni, 2013). Akuntansi


pertanggungjawaban sosial berperan menjalankan fungsinya sebagai bahasa

bisnis yang mengakomodasi masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh

perusahaan, sehingga pos-pos biaya sosial yang dikeluarkan kepada masyarakat

dapat menunjang operasional dan pencapaian tujuan jangka panjang perusahaan

Utomo ( Eka, 2011).

Beberapa perusahaan yang menerapkan hal tersebut, salah satunya yaitu

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI menerapkan sosial marketing

dimana keuntungan dari setiap pembelian atas produk tertentu mereka beberapa

persen disisihkan untuk bantuan bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Bentuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan

saat ini juga sudah mulai beragam disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

setempat berdasarkan need assessment. Mulai dari pembangunan fasilitas

pendidikan dan kesehatan, program pencegahan penyakit melalui pendidikan

kesehatan masyarakat, membangun fasilitas MCK untuk masyarakat sekitar,

memberikan kesempatan bekerja secara produktif bagi penyandang cacat,

pelatihan untuk penyandang cacat, pemberian bantuan pinjaman/modal bagi

UKM, social forestry, pemberian beasiswa, bantuan sosial, penyuluhan dan

pencegahan HIV/AIDS, penguatan kearifan lokal, pengembangan skema

perlindungan sosial berbasis masyarakat, pengobatan gratis bagi masyarakat,

dan sebagainya. CSR pada tataran ini tidak sekedar do good to look good,

melainkan pula to make good, menciptakan kebaikan atau meningkatkan

kesejahteraan masyarakat. (Marlia, 2008)

Bentuk kearifan lokal dalam pelaksanaan Corporate Social

Responsibility (CSR) adalah perusahaan tetap melakukan kegiatan

3
perusahaannya dengan tetap mengijinkan dan mengembangkan budaya, adat

istiadat serta kebiasaan masyarakat setempat. Sebagai bentuk komunitas lokal

yaitu upaya untuk menciptakan social value yang bermakna bagi masyarakat

dan perusahaan demi tercapainya pelaksanaan Corporate Social Responsibility

(CSR).

Namun meskipun telah diterapkan masih terdapat permasalahan-

permasalahan sosial yang dihadapi oleh perusahaan di Indonesia termasuk

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI karena lemahnya penegakan

peraturan tentang tanggung jawab sosial perusahaan, misalnya tentang aturan

ketenagakerjaan, pencemaran lingkungan, perimbangan bagi hasil suatu

industri dalam era otonomi daerah (Eka, 2011).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan Corporate Social

Responsibility (CSR) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI

ditinjau dari ukuran dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, ukuran

komite audit, jumlah rapat komite audit, profitabilitas perusahaan, leverage

perusahaan, dan size ukuran perusahaan merupakan ukuran mengenai besar

kecilnya suatu perusahaan. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan

untuk mengukur tingkat ukuran perusahaan adalah total aktiva yang telah

digunakan secara luas oleh peneliti terdahulu dalam area penelitian tentang

Corporate Social Responsibility (CSR) reporting.

Menurut Reni (2006), perusahaan akan mempertimbangkan biaya dan

manfaat yang akan diperoleh ketika mereka memutuskan untuk

mengungkapkan informasi sosial. Untuk itu pemerintah juga mengeluarkan

peraturan yang mengenai tanggung jawab sosial, yang diatur dalam Undang-

4
Undang R.I. No. 40 tahun 2007 pasal 74 tentang “Tanggung Jawab Sosial

dan Lingkungan.

Peraturan di atas menunjukkan bentuk kepedulian pemerintah terhadap

masalah-masalah sosial, yang dalam hal ini adalah pertanggung jawaban sosial

perusahaan. Dengan adanya Undang-Undang R.I. No. 40 tahun 2007 pasal 74

tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran perusahaan terhadap

lingkungan. Namun belum ada standar mengenai seberapa banyak tanggung

jawab sosial yang harus diungkap.

Penyampaian informasi pengungkapan Corporate Social Responsibility

(CSR) yang relevan kepada publik akan meningkatkan kepercayaan publik dan

investor terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah

dilaksanakan oleh seluruh perusahaan di Indonesia.

Berdasarkan uraian latar belakang, dan dengan melihat pemaparan

penelitian-penelitian terdahulu, terdapat perbedaan hasil yang diperoleh

dari penelitian-penelitian sebelumnya. Hal ini mendorong kembali untuk

penelitian tentang Corporate Social Responsibility (CSR) dengan judul

“Analisis Faktor yang mempengaruhi Pengungkapan Tanggungjawab

Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di

BEI”.

B. Masalah Pokok

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penelitian

yang hendak dibahas yaitu:

5
1. Apakah ukuran dewan komisaris mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI?

2. Apakah jumlah rapat dewan komisaris mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI?

3. Apakah ukuran komite audit mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI?

4. Apakah jumlah rapat komite audit mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI?

5. Apakah profitabilitas perusahaan mempengaruhi Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi Pengungkapan Tanggungjawab Sosial

dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI.

1. Untuk mengetahui ukuran dewan komisaris dalam Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI.

6
2. Untuk mengetahui jumlah rapat dewan komisaris dalam Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI.

3. Untuk mengetahui ukuran komite audit dalam Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI.

4. Untuk mengetahui jumlah rapat komite audit dalam Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI.

5. Untuk mengetahui profitabilitas perusahaan dalam Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal pada Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di BEI.

6. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat yang diharapkan dari

penelitian ini untuk:

1. Manfaat Akademik

a. Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan terutama

mengenai Pengungkapan Tanggungjawab Sosial.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran untuk

penelitian selanjutnya, serta memberikan sumbangan gagasan sebagai

pertimbangan dalam memberikan informasi tentang Pengungkapan

Tanggungjawab Sosial dan Kearifan Lokal.

7
2. Manfaat Praktik

a. Bagi pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang laporan

keuangan tahunan sehingga dijadikan sebagai acuan untuk pembuatan

keputusan investasi. Penelitian ini diharapkan akan memberikan wacana

baru dalam mempertimbangkan aspek-aspek yang perlu diperhitungkan

dalam investasi yang tidak terpaku pada ukuran-ukuran moneter.

b. Bagi perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi

untuk pengambilan kebijakan oleh manajemen perusahaan mengenai

pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan dalam laporan keuangan

yang disajikan.

8
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Dan Konsep

1. Teori Stakeholders

Pemangku kepentingan adalah terjemahan dari kata stakeholder dapat

diartikan sebagai segenap pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan

yang sedang diangkat. Misalnya bilamana isu perikanan, maka stakeholder

dalam hal ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan isu perikanan, seperti

nelayan, masyarakat pesisir, pemilik kapal, anak buah kapal, pedagang ikan,

pengolah ikan, pembudidaya ikan, pemerintah, pihak swasta di bidang

perikanan, dan sebagainya. Stakeholder dalam hal ini dapat juga dinamakan

pemangku kepentingan.

Stakeholder sudah sangat populer. Kata ini telah dipakai oleh banyak

pihak dan hubungannnya dengan berbagi ilmu atau konteks, misalnya

manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam,

sosiologi, dan lain-lain.Lembaga-lembaga publik telah menggunakan istilah

stakeholder ini secara luas ke dalam proses-proses pengambilan dan

implementasi keputusan. Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan

sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan

suatu issu atau suatu rencana.

Ramirez mengidentifikasi berbagai pendapat mengenai stakekholder

ini. Beberapa defenisi yang penting dikemukakan seperti Freeman yang

mendefenisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat

memengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.

Sedangkan Biset secara singkat mendefenisikan stakeholder merupakan


9
orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan.

Stakeholder ini sering diidentifikasi dengan suatu dasar tertentu sebagimana

dikemukakan Freeman, yaitu dari segi kekuatan dan kepentingan relatif

stakeholder terhadap issu, Grimble and Wellard, dari segi posisi penting dan

pengaruh yang dimiliki mereka. Pandangan-pandangan di atas menunjukkan

bahwa pengenalan stakeholder tidak sekedar menjawab pertanyaan siapa

stakeholder suatu issu tapi juga sifat hubungan stakeholder dengan issu,

sikap, pandangan, dan pengaruh stakeholder itu. Aspek-aspek ini sangat

penting dianalisis untuk mengenal stakeholder.

Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder

terhadap suatu isu stakeholder dapat diketegorikan kedalam beberapa

kelompok, the British Overseas Development Administration (ODA) (1995)

mengelompokkan stakeholder kedalam yaitu stakeholder primer, sekunder

dan stakeholder kunci. Sebagai gambaran pengelompokan tersebut pada

berbagai kebijakan, program, dan proyek pemerintah (publik) dapat

kemukakan kelompok stakeholder seperti berikut:

a. Stakeholder Utama (primer)

Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan

kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program, dan

proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai penentu utama dalam proses

pengambilan keputusan.

1) Masyarakat dan tokoh masyarakat : Masyarakat yang terkait dengan

proyek, yakni masyarakat yang di identifkasi akan memperoleh

manfaat dan yang akan terkena dampak (kehilangan tanah dan

10
kemungkinan kehilangan mata pencaharian) dari proyek ini. Tokoh

masyarakat: Anggota masyarakat yang oleh masyarakat ditokohkan di

wilayah itu sekaligus dianggap dapat mewakili aspirasi masyarakat.

2) Pihak Manajer publik: lembaga/badan publik yang bertanggung jawab

dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan.

b. Stakeholder Pendukung (sekunder)

Stakeholder pendukung (sekunder) adalah stakeholder yang tidak

memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan,

program, dan proyek, tetapi memiliki kepedulian (consern) dan

keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap

sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah.

1) Lembaga (Aparat) pemerintah dalam suatu wilayah tetapi tidak

memiliki tanggung jawab langsung.

2) Lembaga pemerintah yang terkait dengan issu tetapi tidak memiliki

kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan.

3) Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) setempat : LSM yang bergerak

di bidang yang bersesuai dengan rencana, manfaat, dampak yang

muncul yang memiliki “concern” (termasuk organisasi massa yang

terkait).

4) PerguruanTinggi: Kelompok akademisi ini memiliki pengaruh

penting dalam pengambilan keputusan pemerintah.

5) Pengusaha (Badan usaha) yang terkait.

11
c. Stakeholder Kunci

Stakeholder kunci merupakan stakeholder yang memiliki kewenangan

secara legal dalam hal pengambilan keputusan. Stakeholder kunci yang

dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya, legisltif, dan instansi.

Misalnya, stakeholder kunci untuk suatu keputusan untuk suatu proyek

level daerah kabupaten.

1) Pemerintah Kabupaten

2) DPR Kabupaten

3) Dinas yang membawahi langsung proyek yang bersangkutan.

Definisi stakeholders menurut Freeman merupakan individu atau

kelompok yang bisa mempengaruhi dan/ atau dipengaruhi oleh organisasi

sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya. Sedangkan Chariri dan Ghazali

(2013, h.32) mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya

beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat

bagi stakeholders-nya shareholders, kreditor, konsumen, supplier,

pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain). Sedangkan Rudito (2014)

mengemukakan bahwa perusahaan dianggap sebagai stakeholders, jika

mempunyai tiga atribut, yaitu: kekuasaan, legitimasi dan kepentingan.

Mengacu pada pengertian stakeholders diatas, maka dapat ditarik

suatu penjelasan bahwa dalam suatu aktivitas perusahaan dipengaruhi

oleh faktor-faktor dari luar dan dari dalam, yang kesemuanya dapat disebut

sebagai stakeholders. Kelangsungan hidup perusahaan bergantung pada

dukungan stakeholdersdan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas

perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful

12
stakeholders, makin besar usaha perusahaan untuk beradaptasi.

Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog antara perusahaan

dengan stakehoders-nya (Chariri dan Ghazali, 2013).

Menurut Utama (2010), bahwa tanggung sosial jawab perusahaan

tidak hanya terhadap pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi juga

terhadap para stakeholdersyang terkait dan/atau terkena dampak dari

keberadaan perusahaan. Dalam menetapkan dan menjalankan strategi

bisnisnya, perusahaan yang menjalankan Corporate Social Responsibility

(CSR) akan memperhatikan dampaknya terhadap kondisi sosial dan

lingkungan, dan berupaya agar memberikan dampak positif.

Utama (2013) menyatakan bahwa pemerintah beserta segenap

jajarannya perlu memahami konteks Corporate Social Responsibility

(CSR), karena ada keterpaduan dengan program pemerintah. Bukan tidak

mungkin bila pemahaman terhadap konsep ini tidak sejajar, maka kebijakan

yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak akan pernah sejalan dengan

kebijakan dunia usaha.

Perlunya pemerintah duduk bersama dengan pelaku usaha, untuk

mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan masyarakat secara bersama,

memberikan gambaran rencana kerja pemerintah yang terkait dengan

kepentingan publik. Dengan demikian ada komunikasi dua arah, sehingga

kemungkinan adanya kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan

menjadi terbuka semakin lebar, sehingga tidak terjadi overlapping program

antara pemerintah dan perusahaan.

13
Konsep tanggung jawab sosial perusahaan telah mulai dikenal sejak

awal 1970-an, yang secara umum dikenal dengan stakeholder theory artinya

sebagai kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan

stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan

masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk

berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. Wibisono dalam

Kirana (2014) mengartikan Stakeholder sebagai pemangku kepentingan

yaitu pihak atau kelompok yang berkepentingan, baik langsung maupun

tidak langsung, terhadap eksistensi atau aktivitas perusahaan, dan

karenanya kelompok tersebut mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh

perusahaan.

Definisi lain oleh Rhenald dalam Kirana (2014), yang menyatakan

bahwa yang dimaksud para pihak adalah setiap kelompok yang berada di

dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam

menentukan keberhasilan perusahaan. Rhenald Kasali membagi

stakeholders menjadi sebagai berikut:

a. Stakeholders internal dan stakeholders eksternal. Stakeholders internal

adalah stakeholders yang berada di dalam lingkungan organisasi.

Misalnya karyawan, manajer, dan pemegang saham, sedangkan

stakeholders eksternal adalah stakeholders yang berada di luar

lingkungan organisasi seperti penyalur atau pemasok, konsumen atau

pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers, dan sebagainya;

b. Stakeholders primer, stakeholders sekunder dan stakeholders marjinal.

Dalam hal ini stakeholders yang paling penting disebut stakeholders

14
primer dan stakeholders yang kurang penting disebut stakeholders

sekunder, sedangkan yang biasa diabaikan disebut stakeholders marjinal;

c. Stakeholders tradisonal dan stakeholders masa depan.

Karyawan dan konsumen dapat disebut sebagai stakeholders tradisional

karena berhubungan dengan organisasi, sedangkan stakeholders masa

depan adalah stakeholders pada masa yang akan datang diperkirakan

akan memberikan pengaruhnya pada organisasi seperti mahasiswa,

peneliti, dan konsumen potensial;

d. Proponents, opponents, dan uncomitted (pendukung, penentang, dan

yang tidak peduli). Di antara stakeholders ada kelompok yang memihak

organisasi (proponents), yang menentang organisasi (opponents) dan

yang tidak peduli (uncomitted); dan

e. Silent majority dan vocal minority (pasif dan aktif).

Dilihat dari aktivitas stakeholders dalam melakukan komplain atau

mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan penentangan atau

dukungannya secara vokal (aktif) namun ada pula yang menyatakan

secara silent (pasif).

2. Teori Legitimasi

Legitimasi masyarakat merupakan faktor strategis bagi perusahaan

dalam rangka mengembangkan perusahaan kedepan.Hal itu dapat dijadikan

sebagai wahana untuk mengkonstruksikan strategi perusahaan, terutama

terkait dengan upaya memposisikan diri ditengah lingkungan masyarakat

yang semakin maju (Nor Hadi. 2011:87).

15
Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diinginkan

atau dicari perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi

merupakan manfaat atau sumber daya potensial bagi perusahaan untuk

bertahan hidup (going concern). Sejalan dengan karakternya yang

berdekatan dengan ruang dan waktu, legitimasi mengalami pergeseran

bersamaan dengan perubahan dan perkembangan lingkungan dan

masyarakat dimana perusahaan berada.

Perubahan nilai dan norma sosial dalam masyarakatsebagai

konsekuensi perkembangan peradaban manusia, juga menjadi motovator

perubahan legitimasi perusahaan di samping juga dapat menjadi tekanan

bagi legitimasi perusahaan.

Gray et.al (1996) berpendapat bahwa legitimasi merupakan sistem

pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap

masyarakat (society), pemerintah, individu, dan kelompok masyarakat.

Untuk itu, sebagai suatu sistem yang mengedepankan keberpihakan kepada

society, operasi perusahaan harus kongruen dengan harapan masyarakat.

Lindblom dalam Achmad (2012) menyatakan bahwa suatu organisasi

mungkin menerapkan empat strategi legitimasi ketika menghadapi berbagai

ancaman legitimasi. Oleh karena itu, untuk menghadapi kegagalan kinerja

perusahaan (seperti kecelakaan yang serius atau skandal keuangan

organisasi mungkin:

1) Mencoba untuk mendidik stakeholdernya tentang tujuan organisasi untuk

meningkatkan kinerjanya.

16
2) Mencoba untuk merubah persepsi stakeholder terhadap suatu kejadian

(tetapi tidak merubah kinerja aktual organisasi).

3) Mengalihkan (memanipulasi) perhatian dari masalah yang menjadi

perhatian (mengkonsentrasikan terhadap beberapa aktivitas positif yang

tidak berhubungan dengan kegagalan - kegagalan).

4) Mencoba untuk merubah ekspektasi eksternal tentang kinerjanya.

Teori legitimasi didasarkan pada pengertian kontrak sosial yang

diimplikasikan antara institusi sosial dan masyarakat. Teori tersebut

dibutuhkan oleh institusi-institusi untuk mencapai tujuan agar kongruen

dengan masyarakatluas. Teori legitimasi menganjurkan perusahaan untuk

meyakinkan bahwaaktivitas dan kinerjanya dapat diterima oleh masyarakat.

Perusahaan menggunakan laporan tahunan mereka untuk menggambarkan

kesan tanggungjawab lingkungan, sehingga mereka diterima oleh

masyarakat. Pengertian teori legitimasi dapat dipahami dari pernyataan

Lindblom dalam Sinaga (2011:15) sebagai berikut:

“…..a condition or status which exists when an entityis value systemis

congruent with the value system of the larger social system ofwhich the

entity is a part. When a disparity, actual or potential, existsbetween the two

value systems, there is a threat to the entityislegitimacy”.

Menurut Suchman, legitimasi dapat dianggap Sebagai menyamakan

persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas

adalah merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan

sistem norma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan

secarasosial.

17
Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan dikarenakan legitimasi

masyarakat kepada perusahaan menjadi faktor yang strategis bagi

perkembangan perusahaan ke depan. O‟Donovan (2000) berpendapat

legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan

masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari

perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian legitimasi memiliki manfaat

untuk mendukung keberlangsungan hidup (going concern) suatu perusahaan

(Febriyanti, 2010: 12).

Teori legitimasi dalam bentuk umum memberikan pandanganyang

penting terhadap praktek pengungkapan sosial perusahaan. Kebanyakan

inisiatif utama pengungkapan sosial perusahaan bias ditelusuri pada satu

atau lebih strategi legitimasi yang disarankan oleh Lindblom. Sebagai misal,

kecenderungan umum bagi pengungkapan sosial perusahaan untuk

menekankan pada poin positif bagi perilaku organisasi dibandingkan dengan

elemen yang negatif.

Salah satu tujuan pelaporan keuangan dalam SFAC No.1 adalah

untuk pertanggungjawaban sosial dan lingkungan atas penggunaan sumber

daya. Dilihat dari definisinya, pengungkapan sosial perusahaan sesuai

dengan paling tidak salah satu dari strategi di atas sebagai implementasi dari

strategi legitimasi yang harus melibatkan komunikasi (pengungkapan) dari

organisasi.

Organisasi dapat mengimplementasikan salah satu dari strategi

tersebut atau kombinasi dari masing-masing strategi melalui pengungkapan

laporan keuangan dengan berbagai media. Karenanya pengungkapan

18
informasi perusahaan dapat dipandang sebagai suatu strategi untuk

mengkomunikasikan aktivitas sosial yang dapat dipergunakan oleh

organisasi untuk mempertahankan legitimasinya. Perusahaan akan

menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi kontrak sosial dengan

masyarakat di sekitarnya.

Teori legitimasi menjelaskan bahwa pengungkapan tanggungjawab

sosial dilakukan perusahaan dalam upayanya untuk mendapatkan legitimasi

dari komunitas dimana perusahaan itu berada. Legitimasi ini pada tahapan

berikutnya akan mengamankan perusahaan dari hal-hal yang tidak

diinginkan. Lebih jauh lagi legitimasi ini akan meningkatkan reputasi

perusahaan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada nilai perusahaan

tersebut (Harsanti, 2011: 9-10).

3. Corporate Social Responsibility

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan konsep

yang sulit diartikan. Hal inilah yang membuat definisi CSR sangatlah luas

dan bervariasi. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) menurut

Lord Holme dan Richard Watt,: “CSR adalah komitmen berkelanjutan dari

perusahaan yang berjalan secara etis dan memiliki kontribusi terhadap

pembangunan untuk meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarga

mereka, dan juga komunitas lokal serta masyarakat luas”

Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Johnson

dan Johnson menyatakan bahwa : CSR is about how companies manage

the business processes to produce an overall positive impact to society“.

Definisi ini pada dasarnya berangkat dari filosofi bagaimana mengelola

19
perusahaan baik sebagian maupun keseluruhan memiliki dampak positif

bagi dirinya dan lingkungannya. Untuk itu perusahaan harus mampu

mengelola operasi bisnisnya dengan menghasilkan produk yang berorientasi

secara positif terhadap masyarakat dan lingkungan.

Ghana dalam Elvinaro dan Dindin (2011:37) mendefinisikan

CSRsebagai berikut “CSR is about capacity building for sustainable like

lihood. It respect cultural differences and finds the bussines opportunities in

building the skill of employees, the community and thegovernment”. Definisi

ini memberikan penjelasan secara lebih dalam bahwa sesungguhnya CSR

membangun kapasitas yang kemungkinan berkelanjutan. CSR menghargai

perbedaan budaya dan menemukan peluang-peluang bisnis dalam

membangun keterampilan, komunitas dan pemerintah.

Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Steiner

dan Steiner (2009) dalam Andreas Lako 2011:212) “CSR adalah

tanggungjawab dari suatu korporasi untuk menghasilkan kekayaan dengan

cara-cara yang tidak membahayakan, melindungi atau meningkatkan aset-

aset social (societal assets). Sedangkan pengertian CSR menurut Anne dan

James (2011:45) “Corporate social responsibility is the idea that

businessesinteract with the organization’s stakeholders for social good

whilethey pursue economic goals”.

Sebuah definisi yang lebih luas oleh World Bussines Council

forSustainable Development (WBCSD) yaitu suatu asosiasi global

yangterdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak

dibidang “pembangunan bekelanjutan” (sustainable development)

20
menyatakan bahwa “Corporate Social Responsibility (CSR) adalah

merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak

etis dan memberikan kontrubusi kepada pengembangan ekonomi dari

komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan

peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya”.

Dalam Draft ISO 26000, 2007, Guidance on Social Responsibility,

dalam Waryanto (2013) Corporate Social Responsibility (CSR)

didefinisikan sebagai tanggung jawab dari organisasi untuk dampak-

dampak dari keputusan-keputusan dan aktivitas di masyarakat dan

lingkungan melalui transparansi dan perilaku etis yang konsisten dengan

perkembangan berkelanjutan dan kesejahteraan dari masyarakat,

pertimbangan harapan stakeholders, sesuai dengan ketentuan hukum yang

bisa diterapkan dari norma-norma internasional yang konsisten dari

perilaku dan terintegrasi sepanjang organisasi.

Definisi CSR menurut The World Business Council for Sustainable

Development (WBCSD) merupakan suatu komitmen bisnis yang

berkelanjutan dari perusahaan dengan bertindak sesuai etika dan

berkontribusi bagi pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kualitas

kehidupan karyawan, keluarga mereka, dan juga masyarakat sekitar dan

masyarakat lainnya yang lebih luas, bersamaan dengan peningkatan taraf

hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.

Sedangkan, menurut ISO 2600 mengenai pedoman tanggung jawab

sosial, Corporate Social Responsibility (CSR) adalah Tanggung jawab

sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan

21
kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan

dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan

pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;

mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum

yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional, serta integritas

dengan organisasi secara menyeluruh.

Perusahaan selain berorientasi terhadap laba, perusahaan juga

bertanggungjawab terhadap masalah sosial yang ditimbulkan oleh aktivitas

operasional yang dilakukan perusahaan dengan manajemen lingkungan

sehingga tidak hanya terbatas kepada orientasi kinerja keuangan perusahaan.

Dengan menjalankan tanggung jawab sosial, perusahaan di mata para

investor dan analisis keuangan. Dengan menjalankan Tanggung jawab

sosial, perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan jangka

pendek, namun juga turut memberikan kontribusi bagi peningkatan

kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat serta lingkungan sekitar dalam

jangka panjang akan menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat

terhadap kehadiran perusahaan.

Di sinilah letak pentingnya pengaturan Corporate Social

Responsibility (CSR) di Indonesia, agar memiliki daya atur, daya ikat dan

daya dorong. Corporate Social Responsibility (CSR) yang semulanya

bersifat voluntary perlu ditingkatkan menjadi Corporate Social

Responsibility (CSR) yang lebih bersifat mandotory. Dengan demikian

dapat diharapkan kontribusi dunia usaha yang terukur dan sistematis dalam

ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan yang pro-

22
masyarakat dan lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan ditengah arus

neoliberalisme seperti sekarang ini. Sebaliknya disisi lain, masyarakat juga

akan tidak bisa seenaknya melakukan tuntutan kepada perusahaan. Apabila

harapannya itu berada diluar batas aturan yang berlaku.

Dauman dan Hargreaves dalam Hasibuan (2001) menyatakan bahwa

tanggung jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai

berikut :

a. Basic Responsibility (BR)

Pada level pertama, menghubungkan tanggung jawab yang pertama dari

suatu perusahaan, yang muncul karena keberadaan perusahaan tersebut

seperti; perusahaan harus membayar pajak, memenuhi hukum, memenuhi

standar pekerjaan, dan memuaskan pemegang saham. Bila tanggung

jawab pada level ini tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak yang

sangat serius.

b. Organization Responsibility (OR)

Pada level kedua ini menunjukan tanggung jawab perusahaan untuk

memenuhi perubahan kebutuhan ”Stakeholder” seperti pekerja,

pemegang saham, dan masyarakat di sekitarnya.

c. Sociental Responses (SR)

Pada level ketiga, menunjukan tahapan ketika interaksi antara bisnis dan

kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga

perusahaan dapat tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan,

terlibat dengan apa yang terjadi dalam lingkungannya secara

keseluruhan.

23
Dari tiga pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab

perusahaan bukan hanya terhadap para pemegang saham perusahaan,

akan tetapi juga meliputi stakeholder lainnya seperti; para pekerja,

masyarakat sekitar dan juga lingkungan. Karena setiap dampak positif dan

negative aktivitas perusahaan akan berpengaruh terhadap stakeholder dan

lingkungannya.

Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan

saat ini juga sudah mulai beragam disesuaikan dengan kebutuhan

masyarakat setempat berdasarkan need assessment. Mulai dari

pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, program pencegahan

penyakit melalui pendidikan kesehatan masyarakat, membangun fasilitas

MCK untuk masyarakat sekitar, memberikan kesempatan bekerja secara

produktif bagi penyandang cacat, pelatihan untuk penyandang cacat,

pemberian bantuan pinjaman/modal bagi UKM, social forestry, pemberian

beasiswa, bantuan sosial, penyuluhan dan pencegahan HIV/AIDS,

penguatan kearifan lokal, pengembangan skema perlindungan social

berbasis masyarakat, pengobatan gratis bagi masyarakat, dan sebagainya.

Corporate Social Responsibility (CSR) pada tataran ini tidak sekedar do

good to look good, melainkan pula to make good, menciptakan

ebaikan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Marlia, 2008)

Terdapat beberapa pendekatan dalam memandang pelaksanaan CSR,

hal ini tidaklah mengherankan mengingat masih terjadi perbedaan sudut

pandang dalam melihat CSR. Sebagaimana yang diilustrasikan oleh Griffin

dan Ebert (2013 : 131), bahwa setidaknya ada empat sikap (pendirian) yang

24
dapat diambil oleh suatu organisasi berkaitan dengan kewajiban kepada

masyarakat, berkisaran dari tingkatan rendah sampai tertinggi dalam

praktek-praktek Corporate Social Responsibility (CSR), sebagaimana yang

dikemukakan : (1) sikap obstruktif (obstructionist stance), (2) sikap defensif

(defensive stance), (3) sikap akomodatif, dan (4) sikap pro aktif. Harahap

(2013: 363), mengemukakan beberapa bentuk keterlibatan langsung atau

kegiatan sosial perusahaan yaitu:

a. Lingkungan hidup. Mencakup di dalamnya (a) pengawasan terhadap efek

polusi, (b) perbaikan kerusakan alam, konservasi alam, (c) keindahan

lingkungan, (d) pengurangan suara bising, (e) penggunaan tanah, (f)

pengelolaan sampah dan air limbah, (g) riset dan pengembangan

lingkungan, (h) kerjasama dengan pemerintah dan universitas,

(i)pembangunan lokasi rekreasi, (j) dan lain-lain.

b. Sumber daya manusia dan pendidikan

Mencakup di dalamnya (a) keamanan dan kesehatan karyawan, (b)

pendidikan karyawan, (c) kebutuhan karyawan dan rekreasi karyawan,

(d) menambah dan memperluas hak-hak karyawan, (e) usaha untuk

mendorong partisipasi, (f) perbaikan pensiun, (g) beasiswa, (h) bantuan

pada sekolah, (i) pendirian sekolah, (j) membantu pendidikan tinggi,

(k) riset dan pengembangan, (l) pengembangan pegawai, kelompok

miskin dan minoritas, (m) ppeningkatan karir karyawan, (n) dan lain-lain.

c. Energi. Mencakup di dalamnya (a) konservasi energi yang dilakukan

oleh perusahaan, (b) penghematan energi dalam proses produksi, (c) dan

lain-lain.

25
d. Praktek bisnis yang jujur

Mencakup di dalamnya (a) memperhatikan hak-hak karyawan, (b)

wanita, (c) jujur dalam iklan (d) kredit, (e) servis, (f) produk, (g) jaminan,

(h) selalu mengontrol mutu produk (i) dan lain-lain.

e. Kegiatan seni dan kebudayaan.

Mencakup di dalamnya (a) membantu lembaga seni dan budaya, (b)

sponsor kegiatan seni dan buadaya, (c) penggunaan seni dan budaya

dalam iklan, (d) merekrut tenaga yang berbakat seni dan olahraga, (e) dan

lain-lain.

f. Membantu masyarakat lingkungan

Mencakup di dalamnya (a) memanfaatkan tenaga ahli perusahaan dalam

mengatasi masalah sosial di lingkungannya, (b) tidak campur tangan

dalam struktur masyarakat, (c) membangun klinik perusahaan, (d)

sekolah, (e) rumah ibadah, (f) perbaikan desa/kota, (g) membantu

kegiatan sosial masyarakat, (h) perbaikan perumahan desa, (i) bantuan

dana, (j) perbaikan sarana pengangkutan atau pasar, (k) dan lain lain.

g. Hubungan dengan pemegang saham

Mencakup di dalamnya (a) sifat keterbukaan direkse kepada semua

persero, (b) peningkatan pengungkapan informasi dalam laporan

keuangan, (c) mengungkapkan keterlibatan perusahaan dalam kegiatan

sosial, (d) dan lain lain.

h. Hubungan dengan pemerintah

Mencakup di dalamnya (a) menaati peraturan pemerintah, (b) membatasi

kegiatan lobbying, (c) mengontrol kegiatan politik perusahaan, (d)

26
membantu lembaga pemerintah sesuai dengan kemampuan perusahaan,

membantu secara umum usaha peningkatan kesejahteraan sosial

masyarakat, (e) membantu proyek dan kebijaksanaan pemerintah, (f)

meningkatkan produktivitas sektor informasi, (g) pengembangan dan

inovasi manajemen, (h) dan lain-lain.

4. Definisi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Menurut Boone dan Kurtz (2015), pengertian tanggung jawab sosial

(social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap

kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan

kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja

perusahaan. Runhar dan Lafferty (2009) dalam Dilling (2009) mengartikan

tanggung jawab sosial perusahan secara sederhana sebagai cara untuk

mempertahankan legitimasi dan mengindari publisitas yang buruk.

The World Bussiness Council on Sustainable Development (WBCSD,

2000) mengartikan Tanggung jawab sosial perusahaan sebagai suatu

komitmen dari perusahaan untuk melaksanakan etika keperilakuan

(behavioural ethics) dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi

yang berkelanjutan (sustainable economic development).

Tanggung jawab ekonomi yang membentuk dasar dari tanggung

jawab lainnya. Di saat tanggung jawab ekonomi (economic responsibilities)

terbentuk, maka ada tuntutan untuk bertanggung jawab terhadap kepatuhan

hukum (legal responsibilities) sebagai kodifikasi yang dapat diterima

masyarakat atas perbuatan yang dapat diterima dan tidak diterima

masyarakat. Selanjutnya tangung jawab etis (ethical responsibilities) yang


27
menciptakan kewajiban perusahaan untuk memenuhi hak dan keadilan

serta menghindari dampak yang dapat membahayakan masyarakat dan

lingkungan sekitar. Dengan ketiga landasan tanggung jawab tersebut

diharapkan perusahaan dapat menjadi warga yang baik dengan tanggung

jawab kedermawanan (philanthropic responsibilities).

Keempat tanggung jawab yang diungkapkan oleh Caroll (1991)

dapat membentuk konsep tanggung jawab sosial perusahaan yang dilihat

dari dua sudut pandang yang berbeda. Konsep pertama menyatakan bahwa

tujuan perusahaan adalah mencari laba, sehingga tanggung jawab sosial

perusahaan merupakan sebuah strategi dalam operasi bisnis dimana

perusahaan melakukan tanggung jawab sosial perusahaan dengan maksud

lebih kepada untuk menarik simpati customer sekaligus mengiklankan

bahwa perusahaan telah melakukan kegiatan tanggung jawab sosial

perusahaan. Customer yang tertarik akan memberikan nilai plus kepada

perusahaan.

Hal ini akan berujung kepada bertambahnya pendapatan yang

dicapai perusahaan. Sedangkan konsep yang kedua menyatakan bahwa

tujuan dari perusahaan mencari laba (profit), menyejahterakan orang

(people) dan menjamin keberlanjutan hidup dari planet (planet).

Dauman dan Hargraves (1992) dalam Rawi (2014) membagi areal

tanggung jawab perusahaan dalam tiga level, yaitu :

a. Basic Responsibility merupakan tanggung jawab yang muncul karena

keberadaan perusahaan tersebut, misalnya kewajiban membayar pajak,

28
mematuhi aturan hukum, memenuhi standar pekerjaan, dan memuaskan

pemegang saham.

b. Organizational Responsibility menunjukkan tanggung jawab perusahaan

untuk memenuhi perubahan pemangku kepentingan seperti : pekerja,

konsumen, pemegang saham, dan masyarakat sekitarnya.

c. Societal Responsibility menjelaskan tahapan ketika interkasi antar bisnis

dan kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat, sehingga

perusahaan dapat tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan.

Dengan adanya pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan

diharapkan perusahaan dapat melakukan pemberdayaan masyarakat secara

positif sehingga operasional perusahaan dapat berjalan lancar tanpa

gangguan. Jika hubungan antara masyarakat dan perusahaan tidak berjalan

harmonis menjadi hambatan dan masalah perusahaan dalam kegiatannya.

Berdasarkan pengelompokkan, terdapat empat manfaat tanggung jawab

sosial perusahaan terhadap perusahaan (Edi, 2013) :

a. Brand Differentation. Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif,

tanggung jawab sosial perusahaan bisa memberikan citra perusahaan

yang khas, baik, dan etis dimata publik yang pada gilirannya

menciptakan customer loyalty.

b. Human Resources. Program tanggung jawab sosial perusahaan dapat

membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki

kualifikasi tinggi. Saat interview, calon karyawan yang memiliki

pendidikan dan pengalaman tinggi sering bertanya tentang tanggung

jawab sosial perusahaan dan etika bisnis perusahaan, sebelum mereka

29
memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, tanggung jawab sosial

perusahaan juga dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi

dalam bekerja.

c. License to operate. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab

sosial perusahaan dapat mendorong pemerintah dan publik memberi

ijin menjalankan bisnis atau usaha karena dianggap telah memenuhi

standar operasi dan kepedulian dan masyarakat luas.

d. Risk Management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap

perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa

runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau

kerusakan lingkungan. Membangun budaya “doing right tihing’’ berguna

dalam mengelola resiko-resiko bisnis.

5. Pengungkapan (Disclosure)

Pada prinsip yang kelima OECD (2004) menyebutkan bahwa

kerangka tata kelola perusahaan harus memastikan pengungkapan

dilakukan dengan akurat dan tepat waktu serta dibuat berdasarkan seluruh

hal yang material tentang perusahaan, termasuk situasi keuangan

perusahaan, performa perusahaan, kepemilikan, dan pengelolaan dari

perusahaan.

Prinsip OECD ini mendukung pengungkapan yang tepat waktu

terhadap hal yang timbul selama periode pelaporan. Selain itu prinsip

OECD ini juga mendukung secara simultan atas pelaporan informasi

kepada seluruh pemegang saham dan memastikan seluruh pemegang

saham tersebut mendapat perlakuan yang sama.

30
Fakta yang ditemukan oleh OECD (2004) dalam Farida (2012)

menunjukkan bahwa negara-negara yang memiliki pasar modal yang besar

dan aktif menggunakan pengungkapan sebagai alat yang powerful untuk

mempengaruhi perilaku perusahaan guna melindungi investor. Selain itu,

pengungkapan informasi dalam laporan keuangan berguna untuk

melindungi hak pemegang saham untuk menghindari asimetri informasi

dari pihak manajemen perusahaan. Maka dari itu informasi dalam

pengungkapan harus transparan dan dapat mewakili, guna memprediksi

kondisi keuangan, arus kas, dan profitabilitas di masa depan.

Apabila perusahaan tidak melakukan pengungkapan dengan baik

(tidak lengkap, transparan, relevan) maka pemegang saham akan

mengalami kerugian karena pengungkapan informasi tersebut yang

nantinya perusahaan juga akan mengalami kerugian berupa kehilangan

investornya. Lebih jauh lagi hal tersebut akan berdampak pada perkonomian

secara keseluruhan. Sebaliknya jika perusahaan melakukan pengungkapan

yang lengkap, transparan dan relevan akan memberikan pengaruh positif

baik terhadap perusahaan, pemegang saham, maupun dampak tidak

langsung lainnya.

Namun, tidak semua informasi perusahaan harus diungkapkan, akan

tetapi disesuaikan dengan kebijakan perusahaan dan kebutuhan pengguna

laporan keuangan tersebut. Menurut Hendriksen dan Breda (1991), terdapat

tiga konsep yang umum dalam pengungkapan, yaitu :

a. Pengungkapan yang cukup (adequate disclosure), merupakan

pengungkapan informasi yang bertujuan untuk memenuhi kewajiban

31
dalam menyampaikan informasi yang sejalan dengan tujuan penyajian

laporan guna mencegah kesalahan interpretasi informasi.

b. Pengungkapan yang wajar (fair disclosure), merupakan pengungkapan

informasi dengan menyajikan sejumlah informasi yang menurut

perusahaan dapat memuaskan pengguna laporan keuangan yang

potensial.

c. Pengungkapan yang lengkap (full disclosure), merupakan pengungkapan

informasi yang relevan secara keseluruhan. Informasi yang diungkapkan

adalah informasi minimum yang diwajibkan ditambah dengan informasi

lain yang diungkapkan secara sukarela. Full disclosure dapat membantu

mengurangi terjadinya kesalahan akibat informasi asimetris, namun

seringkali dinilai berlebihan.

Peraturan pasar modal di berbagai negara mewajibkan perusahaan

dalam pasar modal untuk melakukan pengungkapan. Namun kebijakan

perusahaan yang berbeda pada tiap negara akan membuat pengungkapan

menjadi beragam. Oleh sebab itu, Choi dan Meek dalam Farida (2012)

membagi perngungkapan ke dalam dua tipe, yaitu

a. Regulatory Disclosure Requirements.

Regulatory Disclosure Requirements merupakan pengungkapan yang

telah disyaratkan oleh otoritas pasar modal kepada perusahaan dalam

pasar modal tersebut.

b. Voluntary Disclosure

Voluntary Dsiclosure merupakan pengungkapan secara sukarela yang

dilakukan oleh manajemen perusahaan. Umumnya manajer mengetahui

32
kondisi perusahaan bila dibandingkan dengan pihak eksternal. Sehingga

manajemen lebih mengetahui informasi apa yang seharusnya

diungkapkan kepada pihak eksternal.

Pendapat Choi dan Meek (2008) tersebut hampir serupa dengan

pendapat Darrough (1993) yang membagi dua jenis pengungkapan

berkaitan dengan persyaratan yang ditetapkan standar, yaitu :

a. Pengungkapan wajib (mandated disclosure), merupakan pengungkapan

yang wajib dilakukan perusahaan karena telah disyaratkan oleh standar

akuntansi yang berlaku dan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.

b. Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), merupakan

pengungkapan yang dilakukan perusahaan secara sukarela, tanpa paksaan

atau tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku.

6. Pengungkapan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan

Corporate Social Reporting adalah proses pengkomunikasian efek-

efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan

pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat

secara keseluruhan (Gray, et al.,dalam Rosmasita, 2013). Ikhsan (2008; 131)

Pengungkapan (disclosure) “tidak menutupi atau tidak menyembunyikan.

Apabila dikaitkan dengan data, pengungkapan berarti memberikan data

yang bermanfaat kepada pihak yang memerlukan. Jadi data tersebut harus

benar-benar bermanfaat. Pengungkapan dibagi menjadi dua karakter, yaitu;

pengungkapan wajib (mandatory) dan sukarela (voluntary).”

Dalam FASB, FASC nomor 1 menyatakan bahwa keputusan pemakai

laporan keuangan adalah pihak investor dan kreditur yang tidak lain
33
merupakan pihak ekstern. Pihak investor berkepentingan atas laporan

keuangan perusahaan dalam rangka penentuan kebijaksanaan penanaman

modalnya, sedangkan pihak kreditur yang berkepentingan atas laporan

keuangan untuk memutuskan kredit kepada perusahaan.

Berbagai alasan perusahaan dalam melakukan pengungkapan

informasi CSR secara sukarela telah diteliti dalam penelitian sebelumnya,

diantaranya adalah karena untuk mentaati peraturan yang ada, untuk

memperoleh keunggulan kompetitif melalui penerapan CSR, untuk

memenuhi ketentuan kontrak pinjaman dan memenuhi ekspektasi

masyarakat, untuk melegitimasi tindakan perusahaan, dan untuk menarik

investasor

Menurut Pedoman CSR Bidang Lingkungan Kementrian Lingkungan

Hidup, CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha

untuk bertindak secara etis dan memberikan kontribusi kepada

pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat

secara luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya

beserta seluruh keluarganya.

Sedangkan menurut ISO 26000 mengenai pedoman tanggung jawab

sosial yang segera akan diresmikan November 2011, CSR adalah tanggung

jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-

keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan

yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan

dengan pem-bangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;

mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum

34
yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional, serta terintegrasi

dengan organisasi secara menyeluruh.

Perusahaan selain berorientasi terhadap laba, perusahaan juga

bertanggungjawab terhadap masalah sosial yang ditimbulkan oleh aktivitas

operasional yang dilakukan perusahaan dengan manajemen lingkungan

sehingga tidak hanya terbatas pada orientasi kinerja keuangan perusahaan.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh atas aktivitas CSR antara

lain: meningkatkan penjualan dan market share, memperkuat brand

positioning, meningkatkan citra perusahaan, menurunkan biaya operasi,

dan meningkatkan daya tarik perusahaan di mata para investor dan

analisis keuangan. Dengan menjalankan tanggung jawab sosial, perusahaan

diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, namun

juga turut memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan dan

kualitas hidup masyarakat serta lingkungan sekitar dalam jangka panjang.

Dengan melak-sanakan CSR secara konsisten dalam jangka panjang akan

menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat terhadap kehadiran

perusahaan.

Konsep pelaporan CSR yang digagas oleh GRI adalah konsep

sustainability report yang muncul sebagai akibat adanya konsep

sustainability report. Dalam sustaainability report digunakan metode

triple bottom line, yang tidak hanya melaporkan sesuatu yang diukur

dari sudut pandang ekonomi saja, melainkan dari sudut pandang

ekonomi, sosial dan lingkungan.

35
Gagasan ini merupakan akibat dari adanya tiga dampak operasi

perusahaan yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. GRI Guidelines

menyebutkan bahwa, perusahaan harus menjelaskan dampak aktivitas

perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan dan sosial pada bagian standard

disclosures. Yang kemudian ketiga dimensi tersebut diperluas menjadi 6

dimensi yaitu: ekonomi, lingkungan, praktek tenaga kerja, hak asasi

manusia, masyarakat dan tanggungjawab produk. Perusahaan akan

mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut dapat meningkatkan

nilai perusahaan.

Ada berbagai motivasi yang mendorong manajer secara sukarela

mengungkapkan informasi sosial dan lingkungan, dengan alasan yaitu:

a. Keinginan untuk mematuhi persyaratan yang terdapat dalam undang-

undang.

b. Pertimbangan rasionalitas ekonomi atas dasar alasan ini, praktik

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan memberikan

keuntungan bisnis karena perusahaan melakukan hal yang benar dan

alasan ini dipandang sebagai motivasi utama.

c. keyakinan dalam proses akuntabilitas untuk melaporkan, yaitu manajer

berkeyakinan bahwa orang memiliki hak yang tidak dapat dihindari

dalam memperoleh informasi dan manajer tidak peduli akan biaya yang

dibutuhkan untuk menyajikan informasi tersebut.

d. Keinginan untuk memenuhi persyaratan pinjaman lembaga pemberi

pinjaman sebagai bagian dari kebijakan manajemen resiko,

36
menginginkan agar manajer memberikan informasi tentang kinerja

dan kebijakan sosial serta lingkungan secara periodik.

e. Pemenuhan kebutuhan masyarakat atas refleksi dari kontrak sosial

tergantung pada penyediaan informasi yang berkaitan dengan kinerja

sosial dan lingkungan.

f. Sebagai konsekuensi atas ancaman terhadap legitimasi perusahaan.

g. Untuk dapat mengatur kelompok stakeholder yang mempunyai pengaruh

yang kuat.

h. Untuk mematuhi persyaratan industri tersebut

i. Untuk mendapatkan penghargaan pelapran tertentu.

7. Kerangka Pikir

Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan

yang menekankan bahwa perusahaan harus mengembangkan etika bisnis

dan praktik bisnis yang berkesinambungan (sustainable) secara ekonomi,

sosial dan lingkungan. Konsep ini berkaitan dengan perlakuan terhadap

stakeholder baik yang berada di dalam dan di luar perusahaan dengan

bertanggungjawab baik secara etika maupun sosial. Hal terpenting dari

pelaksanaan tanggung jawab sosial adalah memperkuat keberlanjutan

perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerjasama antar

stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun

program-program pengembangan masyarakat di sekitarnya.

Corporate Social Responsibility (CSR) juga mengandung pengertian

bahwa seperti halnya individu, perusahaan memiliki tugas moral untuk

berlaku jujur, mematuhi hukum, menjunjung integritas, dan tidak korup.


37
Tanggung jawab sosial perusahaan telah menjadi suatu kebutuhan yang

dirasakan bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha

berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama.

Permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi oleh perusahaan di

Indonesia juga terjadi karena lemahnya penegakan peraturan tentang

tanggung jawab sosial perusahaan, misalnya tentang aturan ketenagakerjaan,

pencemaran lingkungan, perimbangan bagi hasil suatu industri dalam era

otonomi daerah (Eka, 2011). Selain itu, dalam Pernyataan Standar

Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (revisi 2009) paragraf 12 perusahaan

masih bersifat sukarela dalam mengungkapkan CSR kepada publik melalui

laporan tahunan perusahaan. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

(PSAK) No.1 (revisi 2009).

Berdasar pada Standar Akuntansi Keuangan di atas dapat dijelaskan

bahwa perusahaan belum diwajibkan untuk mengungkapkan informasi

sosial terutama informasi mengenai bentuk tanggung jawab perusahaan

terhadap lingkungan sekitar perusahaan. Dampak dari belum diwajibkan

PSAK untuk mengungkapkan informasi social menimbulkan praktik

pengungkapkan informasi yang dilakukan oleh perusahaan umumnya

bersifat voluntary (sukarela), unaudited (belum diaudit), dan unregulated

(tidak dipengaruhi oleh peraturan tertentu).

Laporan tahunan pada umumnya merupakan tempat pengungkapan

tanggung jawab sosial perusahaan yakni 1) laporan tahunan adalah sumber

utama alat komunikasi kepada investor dan secara luas digunakan

perusahaan untuk pengungkapan aktivitas sosialnya, 2)Penyajian keuangan

38
dan sosial informasi yang tergabung dalam satu dokumen dapat mengurangi

biaya pengungkapan, 3) laporan tahunan merupakan tipe informasi yang

paling aktif dicari oleh pihak yang berkepentingan, 4)pengungkapan

melalui media lain seperti melalui media terkenal sangat beresiko pada

interpretasi jurnalistik dan distorsi jika dibandingkan dengan pengungkapan

melalui laporan tahunan yang benar-benar dikendalikan oleh manajemen.

B. Penelitian Terdahulu

1. Fathia Vivie Lamia (2014)

Penelitian pertama yang menjadi acuan adalah penelitian yang

dilakukan Fathia Vivie Lamia pada 2014 yang berjudul “Pengaruh

Profitabilitas, Leverage, Porsi Kepemilikan Saham Publik Dan Ukuran

Dewan Komisaris terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility

dalam Laporan Tahunan Perusahaan Food & Beverages Yang Listing Di

Bursa Efek Indonesia”. Peneliti membahas tentang apakah variabel

profitabilitas, leverage, porsi kepemilikan saham publik dan ukuran dewan

komisaris memiliki pengaruh terhadap pengungkapan Corporate Social

Responsibility.

Variabel yang terdapat di dalam penelitian ini yaitu variabel

independen yang terdiri dari variabel profitabilitas, leverage, porsi

kepemilikan saham publik dan ukuran dewan komisaris dengan variabel

dependennya adalah pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Kemudian teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi

berganda. Periode penelitian yang digunakan yaitu selama periode 2009-

2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
39
Sampel yang digunakan yaitu perusahaan Food & Beverages yang Listing

di Bursa Efek ndonesia. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini

adalah variabel profitabilitas, leverage, porsi kepemilikan saham, dan

ukuran dewan komisaris memiliki pengaruh signifikan terhadap

pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Hasil lain juga menunjukkan bahwa variable profitabilitas, leverage,

porsi kepemilikan saham publik, ukuran dewan komisaris secara

simultan memberikan pengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social

Responsibility. Persamaan: Penggunaan variabel independen yaitu leverage

dan profitabilitas, sedangkan variabel dependennya Corporate Social

Responsibilty. Sampel perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia. Teknik purposive sampling. Menggunakan alat uji

analisis regresi linier berganda.

Perbedaan : Periode penelitian yang dilakukan oleh Vathia Vivie

yaitu tahun 2009-2012 , sedangkan penelitian saat ini periode penelitiannya

yaitu tahun 2010-2014. Penelitian Vathia Vivie menggunakan proporsi

kepemilikan saham dan ukuran dewan komisaris, namun untuk penelitian

saat ini tidak menggunakan variable tersebut.

Penelitian saat ini profitabilitas diukur dengan Net Profit Margin

(NPM), sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Vathia Vivie

profitabilitas diukur dengan rasio Return On Investment (ROI). Perbedaan

pada pengukuran variabel independen juga terletak pada pengukuran

variabel leverage, dimana pada penelitian saat ini menggunakan rumus

rasio hutang dimana total aktiva dibagi dengan total hutang, sedangkan

40
penelitian yang dilakukan oleh Vathia Vivie menggunakan rasio DER dalam

mengukur kebijakan hutang, yaitu total Liabilities dibagi dengan total

Shareholders Equity.

2. Vic Naiker (2013)

Penelitian kedua yang menjadi acuan adalah penelitian yang dilakukan

Vic Naikerpada 2013 yang berjudul “Diskusi Pengungkapan Sukarela

Corporate Social Responsibility (CSR)”. Peneliti membahas tentang apakah

variabel ukuran perusahaan, kepentingan stakeholder, respon investor,

dan kepentingan politik memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR.

Variabel yang terdapat di dalam penelitian ini yaitu variabel independen

yang terdiri dari variabel ukuran perusahaan, kepentingan stakeholder,

respon investor, dan kepentingan politik dengan variabel dependennya

adalah pengungkapan Corporate Social Responsibility. Kemudian teknik

analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda.

Periode penelitian yang digunakan yaitu selama periode 2000-2011.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sampel

yang digunakan yaitu perusahaan yang terdaftar Bursa Efek Australia.

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah variabel ukuran

perusahaan, kepentingan stakeholder, dan respon investor memiliki

pengaruh terhadap pengungkapan sukarela CSR, sedangkan kepentingan

politik tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan sukarela CSR.

Persamaan: Variabel independennya yaitu ukuran perusahaan

sedangkan variabel dependennya menggunakan Corporate Social

41
Responsibilty. Teknik purposive sampling. Menggunakan alat uji analisis

regresi linier berganda.

Perbedaan : Periode penelitian yang dilakukan oleh Vic Naiker yaitu

tahun 2000-2011, sedangkan penelitian saat ini periode penelitiannya yaitu

tahun 2010-2014. Penelitian yang dilakukan oleh Vic Naiker menggunakan

sampel perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Australia, sedangkan pada

penelitian saat ini menggunakan sampel perusahaan Food and Beverages

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Azwir Nasir (2013)

Penelitian yang dijadikan acuan ketiga adalah penelitian yang

dilakukan oleh Azwir Nasir yang berjudul “Pengaruh Kepemilikan

Manajerial, Leverage, Profitabilitas, Ukuran, dan Umur Perusahaan

terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada Perusahaan

Food And Beverage yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.

Peneliti membahas tentang apakah variabel kepemilikan manajerial,

leverage, profitabilitas, ukuran, dan umur perusahaan memiliki pengaruh

terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Variabel yang terdapat di dalam penelitian ini yaitu variabel

independen yang terdiri dari kepemilikan manajerial, leverage,

profitabilitas, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan dengan variabel

terikatnya adalah Pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi

linier berganda. Periode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu selama tahun 2008-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini

42
adalah data sekunder yang menggunakan sampel Perusahaan Food And

Beverage Yang Terdaftar diBursa Efek Indonesia (BEI).

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yaitu variabel leverage

dan umur perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan

Corporate Social Responsibility. Sedangkan variabel kepemilikan

manajerial, profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap pengungkapan informasi pertanggungjawaban

perusahaan.

Persamaan : Variabel independennya yaitu leverage, profitabilitas,

ukuran, dan umur perusahaan, sedangkan variabel dependennya Corporate

Social Responsibilty. Teknik purposive sampling. Menggunakan uji regresi

linier berganda Sampel perusahaan Food and Beverages yang trerdaftar di

Bursa Efek Indonesia. Menggunakan rumus logaritma natural dari jumlah

seluruh asset yang dimiliki oleh perusahaan dalam mengukur variabel

ukuran perusahaan.

Perbedaan: Periode penelitian yang dilakukan oleh azwir Nasir yaitu

tahun 2008-2010, sedangkan penelitian saat ini periode penelitiannya yaitu

tahun 2010-2014. Peneliti saat ini menggunakan rasio hutang, dengan rumus

total aktiva dibagi total hutang, sedangkan pada penelitian yang dilakukan

oleh Azwir Nasir menggunakan deb to equity ratio (DER) atau rasio

hutang terhadap modal, dimana menggunakan rumus total hutang dibagi

dengan total modal. Peneliti saaat ini menggunakan rumus Net Profit

Margin (NPM), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Azwir Nasir

menggunakan rumus ROA (return On Asset) yang merupakan

43
perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan aktiva untuk

mengukur tingkat pengembalian investasi total.

4. Maria Wijaya (2012)

Penelitian yang dijadikan acuan keempat adalah penelitian yang

dilakukan oleh Maria Wijayayang berjudul “Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial pada Perusahaan

Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Peneliti membahas

tentang apakah variabel ukuran dewan komisaris, leverage, ukuran

perusahaan, profitabilitas, dan kinerja lingkungan memiliki pengaruh

terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Variabel yang terdapat di dalam penelitian ini yaitu variabel

independen yang terdiri dari variabel ukuran dewan komisaris, leverage,

ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kinerja lingkungandengan variabel

terikatnya adalah Pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Kemudian teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi

linier berganda.

Periode penelitian yang dialkuan oleh Maria Wijaya ini adalah

tahun 2008-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

sekunder yang menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kesimpulan yang didapat dari penelitian

ini yaitu ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif yang signifikan

terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility. Sedangkan

ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, dan kinerja lingkungan

44
memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap pengungkapan

Corporate Social Responsibility.

Persamaan: Variabel independennya adalah leverage, ukuran

perusahaan dan profitabilitas, dan variabel dependennya Corporate Social

Responsibilty. Teknik purposive sampling. Menggunakan analisis regresi

linier berganda

Perbedaan: Periode penelitian yang dilakukan oleh Maria Wijaya

yaitu tahun 2008-2010 , sedangkan penelitian saat ini periode penelitiannya

yaitu tahun 2010-2014. Maria Wijaya menggunakan kinerja lingkungan dan

ukuran dewan komisaris, sedangkan penelitian saat tidak menggunakan

variabel tersebut. Penelitian saat ini menggunakan umur perusahaan,

sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Maria Wijaya tidak

menggunakan variable tersebut. Maria Wijaya menggunakan sampel

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI, sedangkan penelitian saat ini

menggunakan perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI.

5. Ahmad Kamil (2012)

Penelitian yang dijadikan acuan kelima adalah penelitian yang

dilakukan oleh Ahmad Kamil yang berjudul “Pengaruh Karakteristik

Perusahaan terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility”.

Peneliti membahas tentang apakah variabel ukuran perusahaan,

profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas memiliki pengaruh terhadap

pengungkapan Corporate Social Responsibility. Variabel yang terdapat di

dalam penelitian ini yaitu variabel independen yang terdiri dari ukuran

45
perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas dengan variabel

dependennya adalah Pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi

berganda. Dan periode penelitian yang digunakan yaitu selama periode

2008-2009. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

yang menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI). Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yaitu

variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan

Corporate Social Responsibility pada pelaporan keuangan perusahaan

publik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan variabel

profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Persamaan: Variabel independennya yaitu ukuran perusahaan dan

profitabilitas, sedangkan variabel dependennya Corporate Social

Responsibilty. Menggunakan teknik purposive sampling. Menggunakan

analisis regresi berganda. Menggunakan log natural dari total aset untuk

mengukur variable ukuran perusahaan.

Perbedaan: Periode penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Kamil

yaitu tahun 2008-2009 , sedangkan penelitian saat ini periode penelitiannya

yaitu tahun 2010-2014. Ahmad Kamil menggunakan sampel perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI, sedangkan penelitian saat ini

menggunakan perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI.

Perbedaan lain yaitu terletak pada pengukuran variabel, yaitu pada variabel

profitabilitas, dimana untuk penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Kamil

46
menggunakan Return On Assets (ROA) sebagai pengukur variabel

profitabilitas, sedangkan pada penelitian saat ini menggunakan Net Profit

Margin (NPM) sebagai pengukur variabel profitabilitas.

C. Hipotesis Penelitian

Sembiring (2005), Andre Christian Sitepu dan Hasan Sakti Siregar

(2007) serta Sari dan Kholisoh (2009) meneliti tentang pengaruh ukuran dewan

komisaris terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Penelitian tersebut

menemukan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan uraian di atas,

maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

H 1 : Ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

Hasil penelitian Tsoutsoura (2004), mengindikasikan bahwa hubungan

CSR dengan kinerja keuangan (yang dilihat dari rasio profitabilitas ROA,

ROE, dan ROI) adalah positif signifikan secara statistik. Untuk pengukuran,

ROA dan ROI menunjukkan hubungan yang positif terhadap CSR. Dari

penelitian tersebut, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :

H 2 : Profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

Perusahaan dengan struktur kepemilikan terdispersi atau menyebar

cenderung mengungkapkan informasi CSR lebih dari perusahaan dengan

perusahaan dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi dalam rangka mengurangi

asimetri informasi antara organisasi dan perusahaan pemegang saham (Prencipe,

2004 dalam Reverte, 2008). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Anggraini (2006) serta Novita dan Djakman (2008). Maka dapat diajukan

hipotesis sebagai berikut :


47
H 3 : Struktur kepemilikan berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

Menurut Febrina dan IGN Agung Suaryana (2011), hanya ukuran

perusahaan saja yang menjadi satu – satunya variabel yang berpengaruh signifikan

pada kebijakan pengungkapan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dari

penelitian tersebut, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :

H 4 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.

48
III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2014-2016, dan

pengambilan data dilakukan pada kantor IDX Makassar (indonesia stock

Exchange) yang terletak di Jl. Ratulangi No. 124 Makassar. Sedangkan waktu

penelitian, dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan, yang dimulai dari

bulan februari sampai dengan bulan April 2018.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Ferdinand (2006) menyatakan bahwa populasi adalah gabungan dari

seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal atau orang yang memiliki

karakteristik yang serupa yang menjadi pusat perhatian seorang karena itu

dipandang sebagai sebuah semesta penelitian. Populasi dalam penelitian ini

adalah Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode

pengamatan tahun 2014-2016.

2. Sampel Penelitian

Menurut Sugiyono, sampel adalah sebagian dari karakteristik yang

dimiliki oleh populasi. Metode pemilihan sampel dalam penelitian adalah

metode purporsive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan

kriteria tertentu. Kriteria pengambilan sampel yang ditetapkan oleh peneliti

adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2014-2016

49
2. Perusahaan yang mempublikasikan laporan tahunan di BEI maupun

website perusahaannya.

3. Perusahaan yang mengungkapkan informasi CSR dalam laporan tahunan

perusahaan yang bersangkutan.

4. Perusahaan yang tidak mengalami kerugian selama periode pengamatan.

C. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis data yang digunakan adalah Data Kuantitatif, yaitu data yang

diperoleh dalam bentuk angka-angka, berupa laporan keuangan, laporan

laba/rugi, neraca dan laporan pendukung lainnya.

2. Sumber data yang digunakan adalah Data Sekunder merupakan data yang

sudah tersedia sehingga peneliti tinggal mencari dan mengumpulkan data.

Data sekunder dapat diperoleh dari pihak lain melalui laporan keuangan

yang dipublikasi BEI melalu website www.idx.co.id.

D. Metode Pengumplan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi,

yaitu kegiatan yang dilakukan dengan pencatatan terhadap dokumen yang

dibutuhkan atau bukti tertulis yang resmi dan dapat dipertanggung jawabkan yang

ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.Teknik dokumtasi yang digunakan

dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data laporan keuangan perusahaan

selama periode penelitian.

50
E. Metode Analisis Data

Metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah dengan

menggunakan regresi berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS for

windows, setelah semua data-data dalam penelitian ini terkumpul, maka

selanjutnya dilakukan analisis data yang terdiri dari:

1. Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu regresi

yang digunakan sebagai alat analisis, diuji dengan uji asumsi klasik.

Pengujian asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, uji

multikoloniearitas, dan uji heteroskedastisitas dengan menggunakan

program SPSS.

a. Uji Normalitas

Ghozali (2009) uji normalitas bertujuan apakah dalam model

regresi variabel dependen (terikat) dan variabel independen (bebas)

mempunyai kontribusi atau tidak. Penelitian yang menggunakan metode

yang lebih handal untuk menguji data mempunyai distribusi normal atau

tidak yaitu dengan melihat Normal Probability Plot. Model Regresi yang

baik adalah data distribusi normal atau mendekati normal, untuk

mendeteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran data

(titik) pada sumbu diagonal grafik. (Ghozali, 2009).

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya

variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel

independen lain dalam satu model. Kemiripan antar variabel independen

51
dalam satu model akan menyebabkan terjadinya korelasi yang sangat

kuat antara suatu variabel independen dengan variabel independen yang

lain. Selain itu, deteksi terhadap multikolinieritas juga bertujuan untuk

menghindari kebiasaan dalam proses pengambilan kesimpulan mengenai

pengaruh pada uji parsial masing - masing variabel terhadap variabel

dependen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi

diantara variabel independen. Uji multikolinieritas dilakukan menghitung

nilai variance inflation factor (VIF) dari tiap - tiap variabel independen.

Nilai VIF kurang dari 10 menunjukkan bahwa korelasi antar variabel

independen masih bisa ditolerir (Ghozali, 2009).

c. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak konstan pada

regresi sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan. Uji

heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu observasi ke observasi

lain.

Heteroskedastisitas menggambarkan nilai hubungan antara nilai

yang diprediksi dengan Studentized Delete Residual nilai tersebut. Cara

memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada satu model dapat

dilhat dari pola gambar Scatterplot model. Analisis pada gambar

Scatterplot yang menyatakan model regresi linier berganda tidak terdapat

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas

atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).

52
2. Uji Hipotesis

a. Uji Persamaan Regresi Linier Berganda

Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan metode

analisis regresi linier berganda yang bertujuan untuk menguji hubungan

pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lain. Variabel yang

dipengaruhi disebut variabel tergantung atau dependen, sedangkan

variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau independen.

Model persamaannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + β6X6 + ε

Keterangan :
Y : Pengungkapan CSR
X1 : ukuran dewan komisaris
X2 : jumlah rapat dewan komisaris
X3 : ukuran komite audit
X4 : profitabilitas perusahaan
X5 : leverage perusahaan
X6 : Size
α : Konstanta
β x : Koefisien regresi
ε : Error
Linearitas hanya dapat diterapkan pada regresi berganda karena

memiliki variabel independen lebih dari satu, suatu model regresi

berganda dikatakan linier jika memenuhi syarat-syarat linieritas, seperti

normalitas data (baik secara individu maupun model), bebas dari asumsi

klasik statistik multikolineritas, autokorelasi, heteroskedastisitas. Model

53
regresi linear berganda dikatakan model yang baik jika memenuhi asumsi

normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik statistik.

b. Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh

kemampuan model dapat menjelaskan variasi variabel dependen. Dalam

pengujian hipotesis pertama koefisien determinasi dilihat dari besarnya

nilai R Square (R2) untuk mengetahui seberapa jauh variabel bebas yaitu,

profitabilitas, growth opportunities dan struktur modalterhadap nilai

perusahaan. Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1 (0 ≤ R2 ≤ 1).

Jika nilai R2 bernilai besar (mendekati 1) berarti variabel bebas dapat

memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variabel dependen. Sedangkan jika R2 bernilai kecil berarti

kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel dependen sangat

terbatas (Ghozali, 2009).

Dalam pengujian hipotesis kedua koefisien determinasi dilihat dari

besarnya nilai Adjusted R - Square. Kelemahaan mendasar penggunaan

R2 adalah bisa terhadap jumlah variabel bebas yang dimasukan ke dalam

model. Setiap tambahan satu variabel bebas maka R2 pasti meningkat

tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan

terhadap variabel terikat. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R - square

dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke

dalam model (Ghozali, 2009:87). Oleh karena itu, digunakanlah Adjusted

R – Square pada saat mengevaluasi model regresi linier berganda.

c. Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

54
Uji statistik F pada dasarnya menunjukan apakah semua variabel

independen yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama

terhadap variabel dependen (Ghozali,2011). Apabila derajat kepercayaan 5% nilai

F hitung < F tabel atau nilai signifikan <0,05 maka dapat dinyatakan bahwa semua

variabel independen secara serentak dan signifikan mempunyai variabel

dependen. Proses pengujian hipotesis untuk uji F adalah sebagai berikut :

1). Taraf signifikan (a) 5% atau 0,05

2). Kriteria pengujian sebagai berikut :

a). Jika F hitung<F tabel, maka H0 diterima atau H1 ditolak.

b). Jika F hitung >F tabel, maka H1 diteriama atau H0 ditolak.

F. Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian

Untuk menghindari ketidakjelasan makna dari variabel yang digunakan

dalam penelitian, maka sebagai berikut ini akan diberikan definisi operasional dari

variabel-variabel tersebut.

1. Variabel Dependen

Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan tingkat

pengungkapan CSR dalam sustainability report yang dinyatakan dalam

corporate sustainability disclosure (CSD).Pengungkapan tanggungjawab

social diukur dengan proksi CSD (Corporate Sustainability Disclosure)

berdasarkan indikator GRI (Global Reporting Initiatives). Indikator GRI

terdiri dari 3 fokus pengungkapan, yaitu ekonomi, lingkungan, dan social

sebagai dasar sustainability reporting.

Pengukuran CSD yang menggunakan content analysis, yaitu sebuah

metode pengkodifikasian sebuah teks (isi) dari sebagian tulisan kedalam


55
berbagai kelompok atau kategori berdasarkan pada criteria tertentu

(Webber, Weber, 1988 dalam Said, et al., 2009).Metode ini telah dia

dopsi secara luas dalam penelitian-penelitian terdahulu mengenai

pengungkapan tanggung jawab social dan lingkungan (Abbot dan Monsen,

1979; Guthrie dan Parker, 1990; Hackstondan Milne, 1996 dalam Michelon

dan Parbonetti, 2010).

Analisis isi didasarkan padapedoman GRI yang berfokus pada triple

bottom line (pengungkapan kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan). Metode

ini pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi yaitu setiap item

CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai

0 jika tidak diungkapkan.Selanjutnya, skor dari setiap item dijumlahkan

untuk memperoleh keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus

perhitungan CSRD adalah sebagai berikut:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑢𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛


CSRD =
78 𝑖𝑡𝑒𝑚 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛

2. Variabel Independen

a. Ukuran dewan komisaris

Ukuran Dewan Komisaris adalah jumlah anggota yang duduk dalam

dewan komisaris yang bertugas, mengawasi, dan member nasihat pada

direksi. Variabel ini diukur dengan menghitung jumlah anggota dewan

komisaris yang dilihat dari annual report masing-masing perusahaan.

b. Jumlah rapat dewan komisaris

Ukuran komite audit merupakan jumlah seluruh anggota Komite Audit

dalam suatu perusahaan. Ukuran Komite Audit diukur dengan menghitung

56
jumlah anggota Komite Audit dalam suatu perusahaan yang terdapat

dalam laporan tahunan perusahaan.

c. Ukuran komite audit

Ukuran komite audit merupakan jumlah seluruh anggota Komite Audit

dalam suatu perusahaan. Ukuran Komite Audit diukur dengan menghitung

jumlah anggota Komite Audit dalam suatu perusahaan yang terdapat

dalam laporan tahunan perusahaan.

d. Jumlah rapat komite audit

Jumlah rapat komite audit adalah jumlah pertemuan atau rapat yang

dilakukan oleh Komite Audit dalam waktu satu tahun. Jumlah rapat Komite

Audit diukur dengan melihat jumlah rapat yang dilakukan oleh Komite

Audit pada laporan tahunan atau sustainability report perusahaan.

e. Profitabilitas perusahaan

Profitabilitas dalam penelitian ini akan menggunakan proksi return on

equity (ROE). ROE dipilih karena merupakan alat yang dapat

menggambarkan kemampuan profitabilitas perusahaan.

f. Leverage perusahaan

Profitabilitas dalam penelitian ini akan menggunakan proksi return on

equity (ROE). ROE dipilih karena merupakan alat yang dapat

menggambarkan kemampuan profitabilitas perusahaan.

g. Size

Ukuran perusahaan merupakan ukuran mengenai besar kecilnya suatu

perusahaan. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk

mengukur tingkat ukuran perusahaan adalah total aktiva yang telah

57
digunakan secara luas oleh peneliti terdahulu dalam area penelitian tentang

CSR reporting.

58
IV. PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Rencana Jadwal

Adapun rencana jadwal penelitian diuraikan pada table rencana berikut:

No Pelaksanaan 2018
Februari Maret April
1 Tahap Persiapan
2 Pengumpulan data
3 Persiapan Seminar
Proposal
4 Pengelolahan dan
analisis data
5 Konsultasi
6 Ujian Komprehensif
7 Penggandaan
8 Ujian Skripsi

B. Perkiraan Biaya

Adapun estimasi perkiraan biaya penelitian diuraikan pada table rencana

berikut:

No Nama Banyaknya Jumlah


1 Kertas 3 rim Rp 90.000
2 Tinta 3 buah Rp 120.000
3 Akomodasi Penelitian RP 200.000
4 Daftar Seminar Proposal RP 800.000
5 Konsumsi Seminar RP 400.000
Proposal
6 Daftar Ujian Skripsi RP 1.000.000
Jumlah RP 2.610.000

59
C. Rencana Sistematika

Untuk memberikan gambaran pembahasan yang lebih jelas dalam

penelitian ini, penulis penelitian dibagi dalam enam bab sebagai berikut:

1. Bab I:

Pendahuluan yang berisi latar belakang, masalah pokok, tujuan penelitian dan

manfaat penelitian.

2. Bab II:

Tinjauan pustaka yang menguraikan kajian teori yang berkenaan dengan

variabel yang diteliti, landasan teori dari penelitian yang dilaksanakan,

penelitian terdahulu, yang mendasari kerangka pemikiran dan analisis data

penelitian.

3. Bab III :

4. Metode penelitian yang akan menjelaskan tentang kapan dan dimana penelitian

akan dilaksanakan, menjelaskan mengenai populasi, sampel, jenis dan sumber

data yang digunakan dalam penelitian, menguraikan secara jelas metode

pengumpulan data dan metode analisis data serta definisi operasional variabel

penelitian sehingga hipotesis yang telah disebutkan dalam Bab II dapat

dibuktikan hasilnya.

5. Bab IV:

Kerangka Konseptual penelitian, mengemukakan kerangka konseptual dan

pemikiran mengenai teori dan penelitian terdahulu yang mendasari konseptual

penelitian. Konseptual ini berguna untuk merumuskan hipotesis penelitian dan

model analisis.

6. Bab V:

60
Hasil penelitian dan Pembahasan

7. Bab VI:

Simpulan dan Saran

61
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Nurkhin. 2012. Corporate Governance dan Profitabilitas; Pengaruhnya


Terhadap Pengungkapan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan.
Jurnal Magister Akuntansi: Universitas Diponogoro.

Chariri dan Ghazali. 2013. Teori Akuntansi. Semarang; Badan Penerbit


Universitas Diponogoro.

Edi. Sembiring. 2013. Kinerja Keuangan, Political Visibility, Ketergantungan


Pada Hutang, dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.
Makalah disampaikan pada Simposium Nasional VI.

Eka, Diyah. 2011. Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan


: Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Ekonomi
Bisnis & Akuntansi Ventura.Vol 12, No 1, hal 71-86.

Elvinaro dan Dindin. 2011. Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan


Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Pelaporan Tahunan
Perusahaan. Universitas Diponegoro.

Farida, Sitti. 2012. Analisis Pengaruh Pengungkapan Sustainability Report


Terhadap Cost of Equity Capital : Studi Empiris Pada Perusahaan Publik
di Indonesia Yang Menerbitkan Sustainability Report Tahun 2006-2010.
Skripsi S1. Universitas Indonesia.

Febriyanti. 2010. Teori Akuntansi. Penerbit Universitas Diponegoro.Semarang.

Griffin dan Ebert. 2013. Canibals With Forks : The Triple Bottom Line of 21st
century business. Capstone : Oxford

Harahap, Henny. 2013. Analisis Pengungkapan Sosial pada Laporan Tahunan.


Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, Vol. 1, no. 2: 21-48.

Harsanti, 2011. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Pengungkapan


Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan Pada Perusahaan Manufaktur
di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi XIV, Aceh.

Kirana, R.S. 2014. Studi Perbandingan Pengaturan Tentang Corporate Social


Responsibility Di Beberapa Negara Dalam Upaya Perwujudan Prinsip
Good Corporate Governance. Tesis Program Studi Magister Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

Nor Hadi. 2011. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta : Graha Ilmu.

62
Rawi. 2014. Pengaruh Kepemilikan Manajemen, Institusi, dan Leverage
terhadap Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Manufaktur
Yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Tesis S2. Universitas Diponegoro.

Reni Retno. 2013. Pengungkapan informasi sosial dan faktor-faktor yang


mempengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan
tahunan (studi empiris pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar
Bursa Efek Jakarta). Padang. Makalah disampaikan pada Simposium
Nasional Akuntansi IX.

Rosmasita, Hardhina. 2013. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan


Sosial (Sosial Disclosure) Dalam Laporan keuangan Tahunan
Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta. Jakarta: Program Studi
Akuntansi Universitas Islam Indonesia.

Rudito. Sifa. 2014. Pengembangan CSR untuk Perusahaan. Program Studi


Akuntansi Universitas Islam Indonesia.

Sinaga. 2011. Good Corporate Governance. Jakarta: SinarGrafika.

Utama Sidharta. 2013. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan


Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia. Yogyakarta.
Universitas Gajah Mada.

Waryanto. 2013. Pengaruh Karakteristik Good Corporete Governance (GCG)


Terhadap Luas Pengungkapan Corporate Sosial responsibility (CSR) di
Indonesia. Universitas Diponegoro Semarang.

63