You are on page 1of 10

POLITEKNIK KESEHATAN RS dr.

SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

LABORATORIUM KETERAMPILAN KEPERAWATAN (SKILL LAB)

JENIS
NamaKETRAMPILAN:
Mahasiswa Pemberian
: Imunisasi Polio
Nim :
Kelas :

NASOPHARYNGEAL DAN ORAL SUCTIONING PADA ANAK

STANDAR NILAI
OPERASIONAL ASPEK YANG DINILAI 0 1 2
PROSEDUR
Melakukan pembersihan saluran pernapasan lebih
PENGERTIAN ke dalam menggunakan alat penghisap lendir
(suction) melalui hidung dan mulut anak
Membebaskan saluran pernapasan dari sekret
berlebihan, menstimulasi batuk, menjaga kepatenan
TUJUAN
jalan napas, meningkatkan oksigenasi dan ventilasi
pada anak
Dilakukan pada anak dengan kondisi:
1. Adanya sekret pada hidung atau mulut
2. Diduga adanya sekret berlebihan yang ditandai
oleh peningkatan kerja pernapasan (RR
meningkat)
3. Pada pemeriksaan auskultasi paru terdapat
ronchi
KEBIJAKAN 4. Butuh bantuan mengeluarkan sekret karena tidak
mampu batuk, ketidakmampuan menelan sekret

Kotraindikasi:
1. Fraktur nasal, fasial dan basis cranii
2. Mendapatkan terapi antikoagulan
3. Gangguan perdarahan/ trombositopenia (platelet
hitung <50.000)
PETUGAS Perawat
1. Mesin penghisap lendir (suction)
2. Selang penghisap lendir (soft/rigid suction
catheter) sesuai kebutuhan (*)
PERALATAN 3. Lubrikan
4. Gaun pelindung
(Skor 5) 5. Masker
6. Sarung tangan bersih
7. Handuk kecil
8. Air matang pada tempatnya untuk membilas
9. Cairan desinfektan (Savlon 1%) pada tempatnya
untuk merendam slang
10. Oksigen untuk tindakan pertolongan bila terjadi
komplikasi saat tindakan

(*) Pemilihan ukuran selang: sekitar 1/3 dari lebar


lubang hidung
A. Tahap Pre Interaksi
1. Baca catatan keperawatan
2. Siapkan alat-alat dan privasi ruangan
3. Cuci tangan
B. Tahap Orientasi
1. Berikan salam, panggil anak dengan namanya
2. Beritahukan keluarga tentang maksud, tujuan
dan prosedur yang akan dilaksanakan
3. Atur lingkungan yang nyaman dan jaga privasi
klien
4. Pasang tabir sekeliling tempat tidur
C. Tahap Kerja
1. Pakai sarung tangan dan masker
2. Siapkan anak untuk dilakukan tindakan
dengan posisi kepala lebih tinggi 30°
3. Pasang handuk kecil di area dada anak
4. Buka selang dari bungkusnya dan pertahankan
agar ujung selang tidak terkontaminasi
kotoran
5. Pasang selang pada mesin penghisap lendir
PROSEDUR 6. Hidupkan mesin penghisap lendir.
PELAKSANAAN 7. Atur tekanan pada mesin sesuai kebutuhan
bayi/anak.
(Skor 26) -Vakum dinding: 60-100mmHg
-Vakum portabel:3-5 mmHg
8. Test suction terlebih dahulu dengan
menghisap air matang pada tempatnya
9. a. Oropharingeal suction
1) Ukur hidung sampai ke telinga anak
menggunakan selang dan tandai
panjangnya

2) Berikan lubrikasi pada ujung selang


sepanjang ukuran yang telah diukur
sebelumnya
3) Pegang kepala anak dengan tangan non
dominan atau meminta bantuan keluarga
agar kepala anak tidak bergerak
4) Masukkan selang ke dalam salah satu
lubang hidung sampai ke panjang yang
telah diukur sebelumnya. Selang sedikit
diputar agar mudah masuk

5) Bila terasa ada tahanan, jangan paksa


selang untuk terus masuk. Tarik selang
dan coba masukkan selang kembali
6) Setelah selang masuk, lakukan
penghisapan dengan cara menempatkan
dan melepaskan jempol tangan non
dominan diatas lubang selang. Lakukan
penghisapan selama 3-6 detik saja

7) Tarik selang dengan gerakan memutar


8) Amati warna, konsistensi dan bau sekret
9) Bilas selang dengan air yang tersedia
10)Monitor kondisi anak (TTV termasuk
saturasi oksigen, auskultasi suara paru,
amati kerja pernapasan dan ada tidaknya
ketidaknyamanan pada anak)
11)Bila anak tidak batuk, coba lubang
hidung lainnya atau masukkan selang
lebih dalam untuk menstimulasi batuk
12)Sebelum melakukan penghisapan lagi,
tunggu selama 30 detik untuk
memberikan kesempatan klien ventilasi
dan oksigenasi
b. Oral suction
1) Pegang kepala anak dengan tangan non
dominan atau meminta bantuan keluarga
agar kepala tidak bergerak
2) Masukkan selang ke salah satu sisi mulut
anak. Selang sedikit diputar agar mudah
masuk

3) Setelah selang masuk, lakukan


penghisapan dengan cara menempatkan
dan melepaskan jempol tangan non
dominan diatas lubang selang. Lakukan
penghisapan selama 3-6 detik saja

4) Tarik selang dengan gerakan memutar


5) Masukkan selang ke sisi mulut anak yang
lainnya. Selang sedikit diputar agar
mudah masuk
6) Setelah selang masuk, lakukan
penghisapan dengan cara menempatkan
dan melepaskan jempol tangan non
dominan diatas lubang selang. Lakukan
penghisapan selama 3-6 detik saja
7) Tarik selang dengan gerakan memutar
8) Amati warna, konsistensi dan bau sekret
9) Bilas selang dengan air yang tersedia
10. Bila penghisapan lendir selesai, matikan mesin
11. Rendam selang dengan larutan desinfektan
12. Observasi adanya komplikasi:
a. Laryngospasme
b. Bronkospasme
c. Perubahan TTV termasuk penurunan
saturasi oksigen
d. Trauma atau edema pada mukosa oral
atau nasal
e. Batuk berlebihan
f. Reflek gag dengan risiko muntah dan
aspirasi
g. Anak kesakitan dan tidak nyaman

D. Tahap Terminasi
1. Evaluasi perasaan anak dan keluarga
2. Simpulkan hasil kegiatan
3. Rapikan alat
4. Lepas sarung tangan
5. Cuci tangan

E. Dokumentasi
Catat hasil perawatan di dalam catatan
keperawatan:
1. Indikasi prosedur
2. Tanggal dan waktu prosedur
3. Karakteristik sekret (jumlah, warna,
konsistensi, bau)
4. TTV sebelum, selama dan sesudah prosedur
5. Ketidaknyamanan anak selama tindakan
6. Komplikasi yang terjadi

Keterangan:
0 = Tidak dilakukan sama sekali
1 = Dilakukan tetapi tidak sempurna
2 = Dilakukan dengan sempurna

Nilai batas lulus =75


Malang, - - 2017
Pembimbing

(...........................)
POLITEKNIK KESEHATAN RS dr.SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

LABORATORIUM KETERAMPILAN KEPERAWATAN (SKILL LAB)

NamaKETRAMPILAN:
JENIS Mahasiswa Pemberian
: Imunisasi Polio
Nim :
Kelas :

PEMBERIAN CPT (CHEST PHYSICAL THERAPY) PADA ANAK

STANDAR NILAI
OPERASIONAL ASPEK YANG DINILAI 0 1 2
PROSEDUR
Memberikan postural drainase, perkusi dan vibrasi
PENGERTIAN pada anak untuk mendapatkan gravitasi maksimal
yang akan mempermudah pengeluaran sekret
Membantu mengeluarkan sekret (cairan / mukus)
TUJUAN yang berlebihan di dalam bronkus yang tidak dapat
dikeluarkan oleh aktifitas silia normal dan batuk
Diberikan pada anak dengan kondisi:
1. Mengalami gangguan dalam produksi sekret
seperti: pneumonia, atelektasis akut, bronkiolitis,
cystic fibrosis
2. Sulit mengeluarkan atau membatukkan sekret yang
terdapat dalam saluran napas

Kontraindikasi:
KEBIJAKAN 1. Hemoptosis aktif
2. Koagulopati
3. Fraktur costae
4. Metastase
5. Embolisme pulmonar aktif
6. Pneumothorax yang tidak ditangani
7. Defisiensi densitas tulang
8. Baru saja mengalami cedera atau pembedahan
pada tulang belakang
PETUGAS Perawat
1. Bantal
2. Sputum pot/kom bertutup
3. Air hangat dengan sedotan di dalam gelas
4. Handuk kecil
PERALATAN
5. Stetoskop
6. Sarung tangan bersih
(Skor 7)
7. Alat penghisap lendir (suction) dan peralatan
suction lainnya
Pembagian lobus dan segmen paru

Paru kanan: 3 lobus


Paru kiri: 2 lobus

A.Tahap Pre Interaksi


1. Baca catatan keperawatan
2. Siapkan alat-alat dan privasi ruangan
3. Cuci tangan
B. Tahap Orientasi
1. Berikan salam, panggil anak dengan namanya
2. Beritahukan keluarga anak tentang maksud, tujuan
dan prosedur yang akan dilaksanakan
3. Auskultasi area paru anak, cek apakah ada suara
wheezing, ronchi, rales
4. Kaji kemampuan berpindah posisi pada anak
termasuk ada tidaknya pemasangan IV line, urin
PROSEDUR
kateter dll
PELAKSANAA
5. Pastikan tidak ada nyeri dada pada anak
N
6. Berikan anak minum hangat
7. Lepas baju bagian atas anak
(Skor 23)
8. Atur lingkungan nyaman dan jaga privasi anak

C. Tahap Kerja
1. Pasang sarung tangan
2. Lakukan postural drainase pada anak. Bila anak
tidak mampu berpindah posisi, buat modifikasi
posisi atau tetap posisikan anak mendatar atau
dengan sedikit elevasi.
3. Setiap dilakukan satu tindakan posisi postural
drainase, diikuti tindakan perkusi dan vibrasi
4. Ada enam posisi dasar dalam postural drainase
a. Segmen anterior lobus atas (anterior segments
of upper lobes)

b. Segmen posterior lobus atas (posterior


segments of upper lobes)

c. Anterior lobus tengah (anterior mid- lung)


Posisikan anak 10° menurun dengan
memberikan bantal di area dada

d. Anterior basal lobus bawah (anterior bases of


lower lobes)

e. Lateral basal lobus bawah (lateral bases of


lower lobes)
f. Posterior basal lobus bawah (posterior bases of
lower lobes)
 Anak diposisikan prone (tengkurap)
 Hindari area ginjal saat perkusi

5. Lakukan perkusi setiap posisi postural drainase


a. Posisi tangan perawat berbentuk C

b. Tepuk-tepukkan tangan pada area yang diberi


lingkaran pada nomor 4, pada area sebelah
kanan. Lakukan secara berirama selama 1-2
menit
6. Setelah perkusi, lakukan vibrasi setiap posisi
postural drainase
a. Posisi tangan perawat

b. Getarkan tangan untuk membantu pergerakan


sekret. Lakukan hanya saat anak ekshalasi
(menghembuskan napas) sebanyak 3-4 kali
7. Lakukan perkusi dan vibrasi di area sebelah kiri
sebelum berpindah ke posisi postural drainase
yang lainnya
8. Bila keluar sekret, lap dengan handuk atau
tampung dengan sputum pot
9. Bila anak tidak mampu mengeluarkan sekret,
perawat bisa melakukan oropharyngeal dan oral
suction
10. Amati keadaan umum anak khususnya oksigenasi,
toleransi posisi, batuk, ketidaknyamanan selama
tindakan
11. Observasi adanya komplikasi:
a. Desaturasi oksigen
b. Nyeri atau cedera pada costae, muskulus
ataupun tulang belakang
c. Vomit
d. Aspirasi sekret oral ke paru
e. Peningkatan tekanan intrakranial
f. Hipotensi
g. Perdarahan di paru
12. Atur kembali posisi anak, berikan rasa nyaman

D. Tahap Terminasi
1. Evaluasi perasaan anak dan keluarga
2. Simpulkan hasil kegiatan
3. Rapikan alat
4. Lepaskan sarung tangan
5. Cuci tangan

E. Dokumentasi
Catat hasil perawatan di dalam catatan keperawatan
1. Indikasi tindakan
2. Tanggal dan waktu tindakan
3. Karakteristik sekret (jumlah, warna,
konsistensi, bau)
4. Kemampuan batuk
5. TTV sebelum, selama dan sesudah prosedur
6. Ketidaknyamanan anak selama tindakan
7. Komplikasi yang terjadi

Keterangan:
0 = Tidak dilakukan sama sekali
1 = Dilakukan tetapi tidak sempurna
2 = Dilakukan dengan sempurna

Nilai batas lulus =75


Malang, - - 2017
Pembimbing

(...........................)