You are on page 1of 10

Jurnal Permukiman Vol. 11 No.

2 November 2016 : 100-109

PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PENGELOLAAN PERSAMPAHAN


DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH KOTA BANDUNG

Waste Management Infrastructure Provision in Urban Slum


of Bandung City
1VeronicaKusumawardhani, 2Surjono Hadi Sutjahjo, 3Indarti Komala Dewi,
4Naomi Fransiska Panjaitan
1, 2, 3 Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Darmaga, Kampus IPB, Bogor 16680


4 Balai Penerapan Teknologi Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12210


Surel : 1vkusumawardhani@gmail.com, 2naomifp44@yahoo.com
Diterima : 11 September 2016; Disetujui : 3 Oktober 2016

Abstrak
Pertumbuhan permukiman kumuh merupakan tantangan urbanisasi dewasa ini. Permukiman kumuh
ditandai dengan keterbatasan infrastruktur dasar permukiman, salah satunya adalah tidak tersedianya
infrastruktur pengelolaan persampahan yang memadai. Kota Bandung sebagai bagian dari kota
metropolitan tidak luput dari tantangan ini, sehingga dipilih tiga daerah sebagai perwakilan kawasan
kumuh sebagai objek penelitian. Ketiga daerah tersebut adalah Kelurahan Tamansari (kumuh berat),
Kelurahan Babakan Ciamis (kumuh sedang), dan Kelurahan Cihaurgeulis (kumuh ringan). Analisis kondisi
pengelolaan persampahan eksisting dilakukan dengan perhitungan Indeks Kualitas Tanah (IKT)
permukiman. Penelusuran kemungkinan perbaikan kondisi infrastruktur pengelolaan persampahan
dilakukan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang membantu pengambilan keputusan
dengan perbandingan prioritas dari para pakar di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Hasil perhitungan
IKT menunjukkan bahwa kualitas tanah Kelurahan Tamansari adalah yang terburuk dengan nilai IKT 18,5,
Kelurahan Babakan Ciamis bernilai IKT 47,5, dan Kelurahan Cihaurgeulis yang terbaik dengan nilai IKT
73,5. Analisis AHP menghasilkan alternatif solusi infrastruktur pengelolaan persampahan terbaik untuk
ketiga kelurahan adalah dengan komposting untuk mengelola sampah organik dan bank sampah untuk
mengelola sampah anorganik. Masing-masing jumlah unit yang dibutuhkan adalah 20 unit untuk Kelurahan
Tamansari, 8 unit untuk Kelurahan Babakan Ciamis, dan 11 unit untuk Kelurahan Cihaurgeulis.
Kata Kunci : Permukiman kumuh, pengelolaan persampahan, Kota Bandung, Analytic Hierarchy Process,
Indeks Kualitas Tanah

Abstract
Growth today of slums is a challenge of urbanization. The slums characterized by limited basic housing
infrastructure, including the lack of adequate waste management infrastructure. Bandung also faces the
challenge, so that three areas are selected as representatives of slum areas as research objects. There are the
areas with three typologies of slums: Tamansari (heavy), Babakan Ciamis (medium), and Cihaurgeulis
(light). Analysis of the existing condition of waste management is done by calculating the Soil Quality Index
or Indeks Kualitas Tanah (IKT). The possibility of waste management infrastructure improvement is done by
using Analytic Hierarchy Process (AHP), which helps decision making by priorities comparison from experts
in the field of environmental management. IKT calculation results show that the worst soil quality is
Tamansari with IKT value of 18.5, the IKT of Babakan Ciamis value 47.5, and Cihaurgeulis best at IKT value
of 73.5. The analysis with AHP shows that the best waste management infrastructure for all three areas is by
providing composting unit to manage organic waste and waste bank to manage the inorganic. A respective
number of units required is 20 units for Tamansari, 8 units for Babakan Ciamis, and 11 units for Cihaurgeulis.
Keywords: Slums, waste management, Bandung City, Analytic Hierarchy Process, Soil Quality Index

PENDAHULUAN perkotaan untuk meningkatkan taraf kehidupan.


Urbanisasi merupakan fenomena perpindahan Fenomena ini berkembang pesat di berbagai kota
masyarakat dari wilayah perdesaan ke wilayah besar di seluruh belahan dunia, seperti halnya yang

100
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan … (Veronica Kusumawardhani, Surjono Hadi Sutjahjo, Indarti Komala
Dewi, Naomi Fransiska Panjaitan)

terjadi di Indonesia. Pesatnya perkembangan serta meningkatkan kesehatan masyarakat.


industri perkotaan menjadi daya tarik urbanisasi, Pengelolaan sampah perlu dilakukan untuk
selain kemudahan fasilitas bermasyarakat seperti meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas
pekerjaan dan pendidikan yang lebih baik di lingkungan serta menjadikan sampah menjadi
perkotaan. Namun demikian, pertumbuhan sumber daya.
penduduk perkotaan yang pesat tidak diiringi
dengan kemampuan pemerintah kota dalam Penelitian ini berfokus pada kondisi eksisting
menyediakan fasilitas bermasyarakat. Fasilitas ini infrastruktur pengelolaan persampahan di
termasuk infrastruktur dasar permukiman kawasan kumuh Kota Bandung, perbandingan
masyarakat. Hal ini kemudian menyebabkan kondisi eksisting dengan kondisi harapan, dan
tumbuhnya permukiman kumuh. Permukiman saran infrastruktur pengelolaan persampahan
kumuh ibarat wilayah investasi yang tertekan, baik permukiman yang sesuai dengan kondisi harapan.
dalam sektor publik maupun swasta, karena
pemerintah maupun masyarakat luas tidak Terkait dengan latar belakang dan kerangka
mengelola penyediaan dan pemeliharaan layanan pemikiran tersebut, dirumuskan sejumlah
publik seperti air bersih, sanitasi, pengelolaan pertanyaan yang akan dibahas sebagai berikut.
persampahan, keamanan sosial, dan hak milik 1. Bagaimana kondisi infrastruktur pengelolaan
bangunan (Marx, 2013). persampahan di kawasan kumuh Kota Bandung
saat ini?
Salah satu kota dengan permasalahan ini adalah 2. Bagaimana bentuk penyediaan infrastruktur
Kota Bandung sebagai bagian dari Metropolitan pengelolaan persampahan yang memenuhi
Bandung. Sejumlah kendala dalam hal ketersediaan kuantitas dan kualitas harapan?
TPA (Tempat Pemrosesan Akhir), operasional
drainase, integrasi limbah kota dengan IPAL, Penelitian ini diselenggarakan dengan tujuan
layanan air bersih, serta ketersediaan air baku sebagai berikut.
menjadi perhatian. Kelompok Kerja Revitalisasi 1. Menganalisis kualitas infrastruktur pengelolaan
Kawasan Kumuh dibentuk dengan melibatkan sampah yang ada berdasarkan standar.
masyarakat sebagai mitra dalam pemecahan 2. Menentukan bentuk penyediaan infrasturuktur
masalah permukiman kumuh yang sementara pengelolaan sampah yang tepat.
diusahakan pemerintah. Adalah kondisi terbaik
untuk melibatkan penduduk dalam tanggung jawab Dalam mencapai tujuan, penelitian ini diharapkan
ini (Guerrero dkk., 2013). Pengelolaan dapat memberi manfaat untuk hal-hal sebagai
persampahan merupakan salah satu tinjauan berikut.
kriteria perumahan kumuh dan permukiman 1. Memberi gambaran mengenai kualitas
kumuh, selain bangunan gedung, jalan lingkungan, infrastruktur pengelolaan sampah di sejumlah
penyediaan air minum, drainase lingkungan, permukiman kumuh di Kota Bandung saat ini.
pengolahan air limbah, dan proteksi kebakaran. 2. Memberi saran bentuk penyediaan
Suatu wilayah dikategorikan sebagai permukiman infrastruktur pengelolaan sampah yang sesuai.
kumuh ketika elemen pengelolaan persampahan di
wilayah tersebut tidak sesuai dengan persyaratan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
teknis. Elemen-elemen ini mencakup prasarana Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan
dan sarana persampahan beserta pemelihara- Perumahan Rakyat Nomor 02/PRT/M/2016
annya, serta sistem pengelolaan persampahan. tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan
Kumuh dan Permukiman Kumuh mendefinisikan
Ketika urbanisasi tidak sejalan dengan permukiman kumuh sebagai permukiman yang
industrialisasi, masyarakat berpendapatan rendah tidak layak huni karena ketidakteraturan
terdorong untuk mengisi lokasi-lokasi tidak layak bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang
huni sebagai tempat tinggal seperti di bantaran tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan
sungai, di pinggir rel kereta api, atau di lokasi prasarana yang tidak memenuhi syarat. Kondisi
pembuangan sampah. Hal ini diperburuk dengan kekumuhan ditinjau dari sejumlah kriteria, yaitu :
minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga a. bangunan gedung
kualitas lingkungan huniannya (Soemarwoto, b. jalan lingkungan
1997), contohnya dengan tidak adanya instalasi c. penyediaan air minum
pembuangan dan pengolahan sampah di d. drainase lingkungan
lingkungan tersebut. e. pengelolaan air limbah
f. pengelolaan persampahan
Salah satu pendekatan solusi untuk hal ini adalah g. proteksi kebakaran
dengan penyediaan infrastruktur dasar
permukiman untuk meningkatkan kesejahteraan Peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa
sosial, meningkatkan kelayakan huni permukiman, peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh

101
Jurnal Permukiman Vol. 11 No. 2 November 2016 : 100-109

dan permukiman kumuh adalah upaya untuk Kumuh dan Permukiman Kumuh, definisi elemen
meningkatkan kualitas bangunan, serta prasarana, perumahan dan permukiman adalah sebagai
sarana dan utilitas umum. Upaya peningkatan ini berikut: Prasarana perumahan dan permukiman
dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian
dengan menetapkan kebijakan, strategi, serta pola- yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan
pola penanganan yang meliputi pemugaran, bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan
peremajaan, atau pemukiman kembali. Kamal nyaman; Sarana perumahan dan permukiman
(2005) menyampaikan bahwa pendekatan tridaya adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang
oleh pemerintah, yaitu peningkatan kepada berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan
masyarakat, fisik lingkungan, dan kegiatan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan
ekonomi masyarakat mampu meningkatkan satu ekonomi; dan Utilitas umum adalah kelengkapan
tingkat kekumuhan wilayah, seperti dari tingkat penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian.
kumuh berat ke kumuh sedang.
Pengolahan sampah memiliki tujuan untuk
Martinez dkk. (2008) menyampaikan bahwa mengatasi masalah pencemaran air dan lahan,
menurut UN – Habitat (2003), rumah tangga sehingga bentuk pengolahan dibuat untuk
kumuh adalah sekelompok pribadi yang tinggal di mengurangi sampah mulai dari sumbernya yaitu
bawah satu atap dengan keadaan kekurangan dari rumah tangga. Dengan demikian kini, bentuk
akses terhadap air yang layak, akses terhadap pengolahan didorong untuk diwujudkan dalam 3R
sanitasi yang layak, tempat hidup yang memadai, (Reduce-Reuse-Recycle) yaitu pengurangan volume
daya tahan rumah, dan keamanan dalam sampah yang diangkut ke tempat pembuangan
kepemilikan. Chowdhury dkk. (2006) (Reduce), pemanfaatan ulang sampah untuk fungsi
menyebutkan bahwa pertumbuhan kota-kota di yang sama atau berbeda (Reuse), maupun
negara berkembang selalu disertai dengan pengolahan kembali sampah menjadi barang yang
pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggal di berdayaguna (Recycle). Penerapan prinsip 3R,
permukiman kumuh. Hal ini ditandai dengan dewasa ini, diwujudkan dalam bentuk komposting
kondisi kehidupan masyarakat yang berada di sampah untuk sampah dari bahan organik, seperti
bawah standar pelayanan. Secara luas, sayur maupun kulit buah, juga bentuk bank
permukiman kumuh merupakan manifestasi sampah untuk sampah anorganik, seperti plastik,
kemiskinan sehingga sulit mengatasi permukiman kaca, dan lain-lain. Terapan ini dibuat pada skala
kumuh di negara berkembang. Penduduk miskin lingkungan ataupun skala kawasan.
secara umum dan penghuni permukiman kumuh
secara khusus mendapatkan imbas negatif akibat Pada skala kota, bentuk pengolahan sampah
defisiensi pelayanan perkotaan ini. Lingkungan dilakukan secara konvensional dalam bentuk
permukiman kumuh pun dapat dikatakan tidak sistem sepanjang rumah tangga sampai tempat
higienis karena berlokasi di tempat pembuangan pengolahan sampah akhir atau yang disebut
sampah, bantaran sungai, juga tepi rel kereta api dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Undang-
(UN – Habitat, 2003; BBS, 1998; CUS, 1976, dalam undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Chowdhury, 2006). Kemiskinan, kepadatan tinggi, Pengelolaan Sampah menyebutkan bahwa
ketiadaan sarana utilitas, dan kurangnya pengolahan sampah di TPA tidak hanya dilakukan
infrastruktur merupakan hal umum pada dengan penimbunan karena dapat mencemari air
permukiman kumuh (UN – Habitat, 2003; Islam, dan lahan serta memiliki potensi kebencanaan.
1996; Miah dkk., 1988, dalam Chowdhury, 2006). Pengolahan di TPA harus didukung distribusi yang
Hal ini disoroti pula di dalam United Nations baik, mulai dari sumber sampah yaitu rumah
Millennium Summit yang diselenggarakan di tangga sampai ke tempat pengolahan sampah.
Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2000. Bentuk pengolahan sampah lainnya adalah
Dari pertemuan tersebut, lahirlah Millennium pembakaran sampah dengan alat khusus yang
Development Goals (MDG) yang salah satu sasaran disebut Incinerator. Incinerator membakar sampah
dalam targetnya adalah untuk mencapai pada suhu ekstrim tinggi dengan tujuan agar residu
signifikansi perbaikan kehidupan bagi setidaknya sampah yang dihasilkan tidak menjadi polutan.
100 juta penghuni kawasan kumuh pada tahun Semakin besar skala pengolahan Incinerator, maka
2020. Hal ini dilakukan melalui pengentasan semakin kompleks prasyarat operasi Incinerator
kemiskinan dan perbaikan infrastruktur air minum agar mesin efektif dalam membakar sampah.
dan sanitasi. Prasyarat ini mencakup hal-hal seperti unit
pengelola, jenis sampah, sistem operasi, juga
Infrastruktur Pengelolaan Persampahan pemeliharaannya. Dalam hal ini, sistem
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum pengelolaan persampahan yang terintegrasi
dan Perumahan Rakyat Nomor 02/PRT/M/2016 dibutuhkan guna mencapai pengelolaan yang
tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan efektif dan produktif (White dkk., 2012).

102
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan … (Veronica Kusumawardhani, Surjono Hadi Sutjahjo, Indarti Komala
Dewi, Naomi Fransiska Panjaitan)

Indeks Kualitas Tanah Dalam proses perbandingan, dibutuhkan sebuah


Indeks Kualitas Tanah (IKT) permukiman adalah skala untuk menunjukkan intensitas kepentingan
nilai yang menggambarkan kondisi tanah di suatu antara satu elemen terhadap elemen lainnya.
wilayah dari segi kualitas. Terdapat dua indikator
IKT, yaitu volume sampah (m3) yang tidak Tabel 2 Skala Prioritas AHP
terangkut per km2 dalam satu hari dan persentase
Intensitas Definisi Kepentingan
rumah tangga dengan penampungan akhir limbah
Kepentingan Kegiatan i terhadap Kegiatan j
yang layak berupa tangki atau Saluran
Pembuangan Akhir Limbah (SPAL) dalam wilayah 1 Kepentingan sama
tersebut. Indikator pertama dinyatakan melalui 2 Kepentingan lemah
nilai IKT sampah, sementara indikator kedua 3 Kepentingan menengah
disebutkan dalam bentuk nilai IKT tangki. Rata- 4 Kepentingan menengah plus
rata dari kedua komponen nilai IKT tersebut
5 Kepentingan kuat
menjadi nilai IKT. Nilai IKT dengan kualitas tanah
terbaik adalah 100, sementara yang terburuk 6 Kepentingan kuat plus
adalah 0. 7 Kepentingan sangat kuat atau terbukti
penting
� �� ℎ = 100 − 3
=1 (� × � ) ............................ (1) 8 Kepentingan sangat sangat kuat
9 Kepentingan ekstrim
Tabel 1 Klasifikasi Nilai IKT Sampah
Keterangan: intensitas kepentingan juga dapat
Klasifikasi Y ai xi Nilai IKT dibuat dalam desimal 1,1–1,9 dengan kepentingan
1 0 Y 10 X1 = Y – 0 100 – 90 relatif yang tidak terlalu kentara
2 1<Y 15 X1 = 1 89,9 – 30
X2 = Y – 1 Dalam mendefinisikan intensitas kepentingan
3 Y > 5l 20 X1 = 1 < 30 kegiatan yang satu (kegiatan i) terhadap kegiatan
X2 = 4 lainnya (kegiatan j), i dibandingkan dengan j
X3 = Y – 5 dimana j memiliki nilai resiprokal ketika
dibandingkan dengan i.
Keterangan: Y adalah volume sampah per hari (m3)
yang tidak terangkut per km2; ai adalah bobot untuk Sejumlah keunggulan AHP dalam pengambilan
kelas ke-i; xi adalah rentang Y untuk kelas ke-i; i keputusan adalah mampu memprediksikan dengan
adalah klasifikasi Y tepat prioritas dan alternatif yang telah
�ℎ �� � � � ℎ� �
dipertimbangkan, menguji kerentanan hasil
� � = x100 .... (2) keputusan, dan memahami para pengambil
�ℎ � ℎ � ��� ( )
keputusan dalam proses terkait (Tabar, 2013).
� �� ℎ + � �
= ........................................... (3)
2 Standar Pelayanan Minimal
Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan
Analytic Hierarchy Process ukuran kemampuan daya dukung terhadap standar
Untuk merumuskan jenis infrastruktur pelayanan perkotaan (Joardar, 1998). Peraturan
persampahan yang tepat digunakan metode Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang
Analytic Hierarchy Process (AHP) yang dicetuskan Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar
oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1980. AHP adalah Pelayanan Minimal menjelaskan bahwa definisi
alat bantu pengambilan keputusan berdasarkan dari SPM adalah ketentuan mengenai jenis dan
prioritas. Metode ini tepat digunakan untuk mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan
pengambilan keputusan yang kompleks karena wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga
dapat menyeimbangkan sudut pandang subjektif secara minimal. Pelayanan dasar adalah jenis
dan objektif pihak pengambil keputusan. pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
Untuk membuat keputusan melalui metode AHP, kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan,
diperlukan sejumlah langkah sebagai berikut : seperti infrastruktur dasar permukiman.
1. menjabarkan masalah dan menentukan
pengetahuan yang digali Di Indonesia, SPM bidang pekerjaan umum dan
2. menyusun hierarki pengambilan keputusan penataan ruang diatur dalam Peraturan Menteri
dengan susunan tujuan, kriteria, hingga Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2014 tentang
sejumlah alternatif solusi masalah Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan
3. membuat matriks perbandingan berpasangan Umum dan Penataan Ruang. Peraturan tersebut
(pairwise comparison) menyebutkan bahwa SPM pengelolaan
4. menimbang prioritas dari perbandingan yang persampahan dilihat dari tersedianya fasilitas
dilakukan sebelumnya pada setiap elemen
103
Jurnal Permukiman Vol. 11 No. 2 November 2016 : 100-109

pengurangan sampah di perkotaan dan tersedianya berbeda. Ketiga wilayah tersebut adalah Kelurahan
sistem penanganan sampah di perkotaan. Standar Tamansari dengan tingkat kekumuhan berat,
ini menjadi indikator minimal infrastruktur Kelurahan Babakan Ciamis dengan tingkat
pengelolaan persampahan. kekumuhan sedang, dan Kelurahan Cihaurgeulis
dengan tingkat kekumuhan ringan. Tingkat
kekumuhan ketiga wilayah ini dikategorikan
METODE berdasarkan Salinan Keputusan Walikota Bandung
Penelitian dilakukan selama bulan Januari hingga Nomor 648/Kep.455-DisTarCip/2010 tentang
Februari 2015 di tiga kelurahan di Kota Bandung Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan
yang menggambarkan tiga kondisi kekumuhan Permukiman Kumuh di Kota Bandung.

KOTA BANDUNG

Gambar 1 Peta lokasi penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari dilakukan oleh lima pakar yang berpengalaman
dua macam yaitu data primer dan data sekunder. dalam bidang infrastruktur permukiman sebagai
Data primer yaitu data kondisi infrastruktur responden. Kelima responden tersebut antara lain
persampahan eksisting. Sementara itu, data Ir. Hadi Sucahyono, M.Sc.. M.P.P., Ph.D., Ir. Edward
sekunder yang digunakan terdiri dari data Abdurrahman, M.Sc.., Ir. Atang, Afriyani Amran,
monografi penduduk, data Rencana Tata Ruang S.T., dan Farida Hayati, S.T.
dan Wilayah Kota Bandung tahun 2011–2031,
serta data kuantitas dan kualitas lahan. Dalam penelitian ini, ditentukan lima tingkatan
dalam hierarki yang disusun. Kelima tingkat
Kualitas pengelolaan persampahan dianalisis tersebut yaitu fokus, stakeholder, tujuan, kriteria,
melalui formulasi Indeks Kualitas Tanah (IKT) dan bentuk penyediaan infrastruktur. Fokus
permukiman, sehingga dapat diketahui kondisi merupakan tolok ukur penyediaan infrastruktur
eksisting. Sementara itu, penentuan jenis pengelolaan persampahan dalam penelitian ini.
infrastruktur persampahan dilakukan melalui Stakeholders menyebutkan pihak–pihak yang
teknik Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan terlibat dalam penyediaan infrastruktur
piranti lunak Expert Choice versi 11. Pertimbangan pengelolaan persampahan. Tujuan adalah
penentuan prioritas dengan perbandingan penjabaran dari fokus. Kriteria merupakan kondisi
104
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan … (Veronica Kusumawardhani, Surjono Hadi Sutjahjo, Indarti Komala
Dewi, Naomi Fransiska Panjaitan)

tercapainya tujuan. Bentuk penyediaan jenis infrastruktur pengelolaan persampahan


infrastruktur merupakan alternatif solusi yang untuk ketiga lokasi penelitian.
akan dipilih. Berikut adalah hierarki perumusan

Tabel 3 Data Responden


No. Nama Data kepakaran
1. Ir. Hadi Sucahyono, M.Sc. M.P.P., Ph.D. Direktur Pengembangan Permukiman,
Dirjen Cipta Karya PUPR
Pengalaman: 27 tahun
2. Ir. Edward Abdurrahman, M.Sc. Kasubdit Kebijakan dan Strategi, Direktorat Bina Program,
Dirjen Cipta Karya PUPR
Pengalaman: 18 tahun
3. Ir. Atang Kabid Strategi Perencanaan, Pusat Kajian Kebijakan Strategis,
Sekretariat Jenderal PUPR
Pengalaman: 25 tahun
4. Afriyani Amran, S.T. Staf Satker Perencanaan dan Pengendalian Pengembangan
Infrastruktur Permukiman,
Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat
Pengalaman: 5 tahun
5. Farida Hayati, S.T. Fasilitator PNPM Perkotaan Kota Bandung Tahun 2011
Pengalaman: 8 tahun

Gambar 2 Hierarki Perumusan Jenis Infrastruktur Persampahan

105
Jurnal Permukiman Vol. 11 No. 2 November 2016 : 100-109

HASIL DAN PEMBAHASAN kualitas sanitasi yang sedikit lebih buruk dari
Kelurahan Tamansari dengan nilai IKT tangki 35.
Analisis Kondisi Eksisting
Analisis kondisi infrastruktur persampahan Meskipun tergolong dalam kategori wilayah
eksisting di ketiga wilayah permukiman kumuh kumuh berat, kualitas sanitasi di Kelurahan
dilakukan berdasarkan nilai IKT (Indeks Kualitas Tamansari sedikit lebih baik dibandingkan dengan
Tanah). Nilai IKT merupakan rata-rata dari nilai Kelurahan Babakan Ciamis. Hal ini dapat dilihat
IKT sampah dan IKT tangki. IKT sampah diperoleh dari nilai IKT tangki Kelurahan Tamansari yaitu 37
dari formulasi volume sampah dihasilkan dan yang berarti bahwa sebanyak 37% rumah di
volume sampah yang tidak terangkut dalam satu wilayah ini memiliki tempat pembuangan akhir
hari di wilayah tersebut. Sementara itu, nilai IKT tinja berupa tangki atau Saluran Pembuangan
tangki merupakan persentase rumah yang Akhir Limbah (SPAL).
memiliki pembuangan akhir tinja berupa tangki
atau Saluran Pembuangan Akhir Limbah (SPAL) di Sementara itu, Kelurahan Cihaurgeulis sebagai
dalam wilayah yang bersangkutan. wilayah berkategori kumuh ringan memiliki
kualitas pengelolaan persampahan dan kualitas
Pengelolaan sampah eksisting di ketiga wilayah, sanitasi terbaik di antara ketiga lokasi penelitian
baik di Kelurahan Tamansari, Babakan Ciamis, dengan nilai IKT sampah 97, namun demikian nilai
maupun Cihaurgeulis, dilakukan oleh Dinas IKT tangki kelurahan ini menunjukkan kualitas
Kebersihan Kota Bandung. Sampah dari masing- yang belum optimal yaitu 50. Hal ini berarti bahwa
masing wilayah ini diangkut oleh para petugas hanya 50% rumah di wilayah tersebut yang
kebersihan secara berkala. Sementara itu, sampah memiliki tempat pembuangan akhir tinja berupa
yang tidak terangkut dibiarkan tercecer. Ketika tangki SPAL.
telah cukup mengganggu, biasanya sampah yang
tercecer tersebut dibuang ke sungai atau dibakar Nilai IKT sampah dan IKT tangki kemudian
atas inisiatif masyarakat. menjadi bahan pertimbangan kualitas
infrastruktur pengelolaan persampahan di ketiga
Tabel 4 Nilai IKT Sampah lokasi penelitian. Kualitas ini diukur dari nilai IKT
total yang adalah hasil rata-rata nilai IKT Sampah
Jumlah sampah Jumlah sampah
IKT dan IKT Tangki.
Kelurahan dihasilkan tidak terangkut
3 3 2 Sampah
(m /hari) (m /km /hari)
Tamansari 17,31 6,70 0 Tabel 6 Kondisi Eksisting Infrastruktur
Babakan 12,41 3,10 60 Pengelolaan Persampahan
Ciamis IKT IKT IKT
Kelurahan
Cihaurgeulis 31,12 0,32 97 Sampah Tangki Total
Tamansari 0 37 18,5
Tabel 5 Nilai IKT Tangki Babakan Ciamis 60 35 47,5
Cihaurgeulis 97 50 73,5
Persentase rumah dengan IKT
Kelurahan
tangki akhir tinja (%) Tangki
Tamansari 37 37 Dari hasil perhitungan nilai IKT, diketahui bahwa
Babakan Ciamis 35 35 Kelurahan Tamansari memiliki kualitas tanah
Cihaurgeulis 50 50 paling buruk dengan nilai IKT 18,5 jika
dibandingkan dengan kedua kelurahan lainnya.
Dari hasil perhitungan nilai IKT Sampah dan IKT Kelurahan Babakan Ciamis memiliki kualitas tanah
Tangki, dapat diketahui bahwa Kelurahan yang lebih baik dari Kelurahan Tamansari dengan
Tamansari memiliki kualitas pengelolaan nilai IKT 47,5. Dari ketiga lokasi penelitian,
persampahan yang sangat buruk dengan nilai IKT Kelurahan Cihaurgeulis memiliki kualitas tanah
sampah 0 dan kualitas sanitasi yang rendah dengan terbaik dengan nilai IKT 73,5. Hasil IKT ini sejalan
nilai IKT tangki 37. Hal ini sejalan dengan kondisi dengan data tingkat kekumuhan wilayah.
Tamansari sebagai wilayah dengan kategori kumuh Kelurahan Tamansari yang adalah wilayah kategori
berat. Sementara itu, Kelurahan Babakan Ciamis kumuh berat memiliki nilai kualitas tanah terburuk
sebagai wilayah kumuh sedang memiliki kualitas dengan nilai IKT terrendah, sementara Kelurahan
pengelolaan persampahan yang lebih baik secara Cihaurgeulis yang termasuk ke dalam wilayah
wilayah dilihat dari nilai IKT sampah 60, namun kategori kumuh ringan memiliki kualitas tanah
terbaik dengan nilai IKT tertinggi di antara ketiga
kelurahan.

106
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan … (Veronica Kusumawardhani, Surjono Hadi Sutjahjo, Indarti Komala
Dewi, Naomi Fransiska Panjaitan)

100 97
73.5
75 60
50 47.5
50 37 35
25 18.5
0
0
IKT Sampah IKT Tangki IKT Total

Tamansari Babakan Ciamis Cihaurgeulis

Gambar 3 Perbandingan Nilai IKT Masing–masing Kelurahan

Analisis Penyediaan Infrastruktur Tabel 9 Matriks Pairwise Comparison Cihaurgeulis


Dengan prosedur Analytic Hierarchy Process (AHP), Cihaurgeulis K+BS Incinerator TPA
kelima responden diminta menentukan mulai dari K+BS 1,00 5,83 5,03
nilai prioritas antar elemen kriteria hingga kepada Incinerator 0,17 1,00 0,45
alternatif infrastruktur. Perbandingan masing- TPA 0,20 2,21 1,00
masing alternatif solusi disusun dengan nilai Keterangan: K+BS adalah alternatif infrastruktur
prioritas. Perbandingan dengan prioritas ini persampahan dengan Komposting (K) untuk
dinyatakan dalam bentuk matriks pairwise sampah organik dan Bank Sampah (BS) untuk
comparison. Matriks digunakan di dalam analisis sampah anorganik; TPA adalah Tempat Pemrosesan
penyediaan infrastruktur persampahan untuk Akhir sampah
masing-masing lokasi penelitian.
Masing-masing matriks kemudian diolah dengan
Tabel 7 Matriks Pairwise Comparison Tamansari piranti lunak Expert Choice versi 11 berdasarkan
TAMANSARI K+BS Incinerator TPA metode AHP. Dari analisis tersebut, diperoleh hasil
K+BS 1,00 4,76 4,76 pembobotan masing-masing alternatif solusi.
Incinerator 0,21 1,00 0,50
TPA 0,21 2,00 1,00 Tabel 10 Hasil Pembobotan Penyediaan
Infrastruktur Pengelolaan Persampahan
Tabel 8 Matriks Pairwise Comparison Babakan Kompos- Nilai
Ciamis Incine-
Kelurahan ting + Bank TPA Inkonsis-
rator
BBK. CIAMIS K+BS Incinerator TPA Sampah tensi
K+BS 1,00 4,76 4,60 Tamansari 0,702 0,118 0,180 0,040
Incinerator 0,21 1,00 0,45 Babakan 0,688 0,119 0,193 0,020
TPA 0,22 0,21 1,00 Ciamis
Cihaurgeulis 0,709 0,107 0,184 0,020

Tamansari Cihaurgeulis Babakan Ciamis


0,040 0,020 0,020

0,180 0,184 0.193


0.118 0.702 0.107 0.709 0.119 0.688

Komposting + Bank Sampah Komposting + Bank Sampah Komposting + Bank Sampah


Incinerator Incinerator Incinerator
TPA TPA TPA
Inkonsistensi Inkonsistensi Inkonsistensi

(a) (b) (c)


Gambar 4 Bobot Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan Persampahan
107
Jurnal Permukiman Vol. 11 No. 2 November 2016 : 100-109

Dari bobot nilai masing-masing alternatif solusi di Cihaurgeulis sebagai kawasan kumuh ringan justru
atas, diketahui bahwa bentuk infrastruktur lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan unit
pengelolaan persampahan yang terbaik untuk infrastruktur persampahan di Kelurahan Babakan
Kelurahan Tamansari sebagai kawasan kumuh Ciamis yang berstatus kumuh sedang, yaitu 8 unit
berat adalah komposting untuk sampah organik komposting dan bank sampah.
dan bank sampah untuk sampah anorganik dengan
bobot 0,702. Alternatif terbaik untuk Kelurahan
Babakan Ciamis sebagai kawasan kumuh sedang KESIMPULAN
juga adalah komposting untuk sampah organik dan Pertumbuhan permukiman kumuh merupakan
bank sampah untuk sampah anorganik namun fenomena yang sulit dihindari di negara
dengan bobot yang sedikit lebih rendah yaitu berkembang sebagai salah satu akibat dari
0,688. Hal yang sama juga berlaku bagi alternatif maraknya urbanisasi. Permukiman kumuh
infrastruktur persampahan di Kelurahan ditandai, salah satunya, dengan kurangnya
Cihaurgeulis sebagai kawasan kumuh ringan yaitu ketersediaan infrastruktur dasar permukiman yang
komposting untuk sampah organik dan bank mendukung kelangsungan hidup masyarakat. Tiga
sampah untuk sampah anorganik dengan bobot kawasan kumuh di Kota Bandung dengan tingkat
yang tidak jauh dari bobot Kecamatan Cihaurgeulis kekumuhan berbeda dianalisis untuk mengetahui
yaitu 0,709. Alternatif infrastruktur komposting kondisi kualitas lingkungan hidupnya dari segi
dan bank sampah merupakan infrastruktur pengelolaan persampahan sebagai salah satu
pengelolaan persampahan dengan skala layanan di infrastruktur dasar permukiman dan untuk
lingkungan RT/RW. menemukan solusi infrastruktur pengelolaan
sampah yang tepat. Dengan menghitung kualitas
Nilai inkosistensi dari matriks setiap lokasi lingkungan permukiman dengan Indeks Kualitas
penelitian berada dalam kisaran 0,00–0,05 yang Tanah (IKT), diketahui bahwa Kelurahan
berada di bawah batas nilai inkonsistensi 0,10. Tamansari sebagai kawasan kumuh berat memiliki
Dengan demikian, hasil pembobotan dapat kualitas terburuk dengan IKT 18,5; Kelurahan
diterima dan tidak memerlukan pengulangan lagi. Babakan Ciamis sebagai kawasan kumuh sedang
memiliki kualitas lebih baik dengan nilai IKT 47,5;
Idealnya, setiap RT/RW di suatu wilayah memiliki dan Kelurahan Cihaurgeulis sebagai kawasan
atau membangun unit pengolahan sampah. Di kumuh ringan memiliki kualitas terbaik dengan
Kelurahan Tamansari, terdapat bank sampah di nilai IKT 73,5. Dari analisis menggunakan metode
RW 14, RW 15, RW 16, dan RW 20. Namun Analytic Hierarchy Process (AHP), diperoleh
demikian, masih diperlukan penambahan unit alternatif solusi infrastruktur pengelolaan
bank sampah dan unit komposting yang belum ada persampahan terbaik untuk ketiga kelurahan
di Kelurahan Tamansari. Hal serupa juga berlaku adalah komposting untuk mengelola sampah
bagi Kelurahan Babakan Ciamis dan Kelurahan organik dan bank sampah untuk mengelola
Cihaurgeulis, sehingga dirumuskan jumlah sampah anorganik. Setiap kelurahan
kebutuhan unit komposting untuk sampah organik membutuhkan jumlah unit berbeda yaitu 20 unit
dan unit bank sampah untuk sampah anorganik di untuk Kelurahan Tamansari, 8 unit untuk
masing-masing kelurahan lokasi penelitian. Kelurahan Babakan Ciamis, dan 11 unit untuk
Kelurahan Cihaurgeulis.
Peran pengelolaan persampahan di tingkat RT/RW
merupakan wujud perubahan paradigma dari
membuang sampah menjadi memanfaatkan UCAPAN TERIMA KASIH
sampah (Faizah, 2008). Terima kasih kepada Veronica Kusumawardhani
sebagai peneliti utama karya tulis ini, Surjono Hadi
Tabel 11 Jumlah Penyediaan Infrastruktur Sutjahjo dan Indarti Komala Dewi sebagai Pembina
Pengelolaan Persampahan penelitian, dan Cakra Nagara sebagai mediator
Kelurahan Bentuk Unit dalam penulisan materi ini. Segala puji dan syukur
Tamansari Komposting + Bank Sampah 20 untuk ALLAH Yang Maha Kuasa dan nyata melalui
Babakan Ciamis Komposting + Bank Sampah 8 Isa Al-Masih dan Ruh Kudus.
Cihaurgeulis Komposting + Bank Sampah 11

Dari jumlah kebutuhan unit komposting dan bank DAFTAR PUSTAKA


sampah di ketiga kelurahan dengan tingkat [BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Indeks Kualitas
kekumuhan berbeda, diketahui bahwa kebutuhan Tanah. Dapat diakses di:
terbanyak ditunjukkan oleh Kelurahan Tamansari https://sirusa.bps.go.id/index.php?r=indikator
sebagai kawasan kumuh tingkat berat dengan total /view&id=110 (diakses 28 Oktober 2016)
20 unit. Sementara itu, kebutuhan 11 unit Chowdhury, Farhat Jahan dan A. T. M. Nurul Amin.
komposting dan bank sampah Kelurahan 2006. Environmental Assessment In Slum
108
Penyediaan Infrastruktur Pengelolaan … (Veronica Kusumawardhani, Surjono Hadi Sutjahjo, Indarti Komala
Dewi, Naomi Fransiska Panjaitan)

Improvement Programs: Some Evidence from tentang Peningkatan Kualitas terhadap


Study On Infrastructure Projects In Two Dhaka Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh.
Slums. Environmetal Impact Assesment Review, [Permen] Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
26(6), Agustus 2006: 530-552. Nomor 1/PRT/2014 tentang Standar
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum
Pekerjaan Umum. 2010. Strategi Pembangunan dan Penataan Ruang.
Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kota [Permen] Peraturan Menteri Negara Perumahan
Bandung. Rakyat Republik Indonesia Nomor
Faizah. 2008. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga 22/Permen/M/2008 tentang Standar
Berbasis Masyarakat. [Tesis]. Universitas Pelayanan Minimal Bidang Perumahan Rakyat
Diponegoro. Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
Guerrero, L. A., Ger Maas, dan William Hogland. [PP] Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
2013. Solid Waste Management Challenges for tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Cities in Developing Countries. Waste Pengendalian Pencemaran Air.
Management, 33(1), Januari 2013: 220–232. Saaty, R.W. 1987. The Analytic Hierarchy Process –
http://www.sciencedirect.com/ What It Is and How It Is Used. Mathematical
Joardar, Souro D. 1998. Carrying Capacities and Modelling, 9(3-5), 1987: 161-176.
Standards as Bases Towards Urban http://www.sciencedirect.com/
Infrastructure Planning in India: A Case of Saaty, Thomas L. 2008. Decision Making with the
Urban Supply and Sanitation. Habitat Analytic Hierarchy Process. Int. J. Services
International, 22(3), September 1998: 327- Sciences, 1(1), 2008: 83-98.
337. https://www.researchgate.net/ http://www.colorado.edu/geography/leyk/ge
Kamal, Mustofa. 2005. Manfaat Penataan og_5113/readings/saaty_2008.pdf (diakses 31
Permukiman Kumuh terhadap Masyarakat Oktober 2016)
Nelayan di Kawasan Bandengan Kabupaten [SK] Salinan Keputusan Walikota Bandung Nomor
Kendal. [Tesis]. Universitas Diponegoro. 648/Kep.455-DisTaRCip/2010 tentang
Martinez J., Gora Mboup, Richard Sliuzas, Alfred Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan
Stein. 2008. Trends In Urban and Slum Permukiman Kumuh di Kota Bandung.
Indicators Across Developing World Cities, https://www.scribd.com/doc/298526502/Ke
1990-2003. Habitat International. 32(1), Maret pWal-No-648-Kep-455-Distarcip-Tahun-2010-
2008: 86-108. http://www.sciencedirect.com/ pdf (diakses tanggal 3 November 2016)
Marx B., Thomas Stoker, dan Tavneet Suri. 2013. Soemarwoto, O. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup
The Economics of Slums in the Developing dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.
World. Journal of Economic Perspectives. 27(4), Tabar, Matthew J. 2013. Analysis of Decisions Made
November 2013: 187–210. Using The Analytic Hierarchy Process. [Thesis].
https://dspace.mit.edu/openaccess- Naval Postgraduate School.
disseminate/1721.1/88128/ (diakses 7 [UU] Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
November 2016) Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Mocenni, Chiara. The Analytic Hierarchy Process. White, P. R., M. Dranke, dan P. Hindle. 2012.
http://www.dii.unisi.it/~mocenni/Note_AHP.p Integrated Solid Waste Management: A Lifecycle
df (diakses 2 November 2016) Inventory. New York : Springer Science &
[Permen] Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Business Media.
Perumahan Rakyat Nomor 02/PRT/M/2016

109