You are on page 1of 32

Alang-alang

(Imperata cylindrica)

I.SISTEMATIKA BAHAN

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Imperata
Spesies : Imperata cylindrica (Nama Latin)
Alang alang (Nama Daerah)

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
a. Akar

Akarnya memiliki tunas yang merayap di dalam tanah, panjang dan bersisik.
Biasanya sistem perakarannya serabut dan banyak memiliki rambut akar yang
lebat dan ujungnya meruncing. Pada setiap ujungnya terdapat kaliptra yang
berfungsi untuk menembus tanah dan melakukan banyak percabangan.

b. Batang

Batang alang-alang ini memiliki tinggi 1,2-1,5 m. Permukaan batang


alang-alang ini beruas-ruas. Ruas tersebut sebagai tempat duduknya daun. Arah
tumbuhnyya batang alang-alang ini ke atas. Batang menjulang berbunga naik
keatas tanah.

c. Daun
Daun alang-alang berbentuk garis lanset dengan pangkal menjepit dan
berbentuk talang. Panjangnya sekitar 15-80 cm. Tepi daunnya juga sangat kasar,
pada pangkal berambut panjang, dengnan tulang daun tengah yang lebar dan
pucat. Alang-alang juga memiliki malai yang panjangnya 10-20cm.

d. Bunga

Bunga alang-alang ini memiliki benag sari yang kerap kali dengan 2
kepala sari putih atau ungu. Tangkai putik 2 dengan kepala putik yang panjang
berwarna ungu dan muncul dari anak bulir yang panjangnya 4 mm, putih ataupun
keunguan.

e. Buah

Buah alang-alang ini tidak begitu terlihat tetapi ketika masak buah alang-
alangberfungsi sebagai alat untuk melayang. Berbentuk bulat panjang dengan
ujung buah yang runcing. Buahnya di tutupi oleh daun pelindung dan apabila sudah
masak buahnya akan rontok.
III. PENGENDALIAN

a.Secara Manual
Bagi atau bisa juga dikatakan untuk area perkebunan kelapa sawit yang
dengannya ukuran yng tak terlalu luas, upaya pengentasan ilalang secara manual
mampu menjadi solusi yng bisa diandalkan. Kelebihan dari metode ini yakni
bersifat ramah lingkungan serta tak memakan biaya yng cukup besar

b.Secara Mekanis
Secara mekanis, pemberantasan alang-alang mempergunakan bantuan
traktor. Pengganti lain mampu pula mempergunakan serta memanfaatkan bajak
yng digerakkan oleh tenaga hewan ternak. Meskipun teknik gampang serta cepat,
akan tetapi tak memakan waktu yng lama alang-alang bakal tumbuh kembali.

c.Secara Biologis
Alang-alang tak akan tumbuh di tempat yng tak memperoleh cahaya
matahari yng cukup. Menjadikan Kamu mampu memelihara tanaman penutup
tanah semisal kacang-kacangan. Keuntungan lain-lainnya tanaman kacang-
kacangan pula bisa memperbaiki struktur tanah, menaikan kandungan nitrogen,
mencegah erosi, serta melindungi kelembaban tanah.

d.Secara Kimiawi
Lantaran bisa memicu dampak yng serius bagi lahan budidaya,
pengendalian gulma mempergunakan metode kimiawi sebaiknya dipilih menjadi
opsi yang terakhir bila cara-cara lain tak cukup efektif. Bahan kimia yng dipakai
berupa herbisida.

IV. HABITAT HIDUP


Tanaman ini sangat mudah tumbuh dan terdapat dimana-mana disekitar
kita. Merupakan tumbuhan liar dan menjurus sebagai gulma. Tumbuh liar di
pinggir jalan, di ladang dan di hutan. Tumbuhan ini termasuk terna menahun,
tinggi dapat mencapai 180 cm. Batang padat, buku berambut jarang. Daun
berbentuk pita, berwarna hijau, permukaan daun kasar. Perbungaan berupa bulir,
warna putih, bunga yang terletak di bagian atas adalah bunga sempurna dan yang
terletak di bawah adalah bunga mandul. Bunga mudah diterbangkan oleh angin.

V. DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. 1985. Pengendalian Terpadu Terhadap Gulma pada Padi. Bhratara


Karya Aksara, Jakarta.

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera


dan Aceh.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa
(P4TM), Tanjung Morawa.
Diperiksa oleh
Steenis, C. G. G. J. Van. 2003. Flora. Pradnya Pramitha, Jakarta.
Asisten Korektor

(Sari Hanna Br Gultom)


NIM : 140301005
GANDA RUSA (Asystasia intrusa Bl.)
I. SISTEMATIKA BAHAN

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Scrophulariales
Famili : Acanthaceae
Genus :Asystasia
Spesies : Asystasia intrusa Bl.

II. BOTANI TANAMAN


Akar
Akar Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.) melekat pada cabang.
Akarnya berakar tunggang. Akarnya memiliki bulu-bulu akar. Akarnya
mempunyai cabang-cabang kecil. Akarnya memiliki serabut-serabut akar.

Daun
Daun berhadapan, berupa daun tunggal, lanset dengan panjang 5-20 cm,
lebar 1-3,5 cm, tepi rata, ujung daun meruncing, pangkal berbentuk biji bertangkai
pendek antara 5-7,5 mm, hijau gelap.

Batang
Tumbuh tegak, tinggi mencapai 2 m, percabangan banyak, dimulai dari
dekat pangkal batang. Cabang masih muda ungu gelap, bila sudah tua menjadi
cokelat mengkilat.

Bunga
Bunga kecil, putih atau dadu tersusun dalam rangkaian berupa malai bulir
yang menguncup, berambut menyebar dan keluar dari ketiak daun atau ujung
tangkai.

Buah
Buah bulat panjang

Biji
Biji ganda rusa (Justicia gendarussa) memiliki sepasang kotiledon.
Bijinya mempunyai embrio. Bijinya berkeping dua. Bijinya berwarna kehijauan.
Bijinya mengaandung endosperm.
III. CARA PENGENDALIAN
Gulma ini tidak menggunakan sistem pengendalian melainkan sistem
pemberantasan. Dengan demikian kita mengusahakan untuk memutuskan rantai
kehidupan gulma tersebut. Untuk mengusahakan agar rantai kehidupan gulma ini
dapat terputus, maka pemberantasan gulma ini harus berkelanjutan sama halnya
dengan pemberantasan Imperata cylindrica dengan meracuni atau mendongkel
gulma sebelum gulma tersebt berbunga kembali. Hal ini memerlukan menejemen
pengendalian gulma yang baik agar tujuan pemberantasaan gulma ini dapat
tercapai.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Minamas. 2009. Vademicum Minamas. Minamas Plantation. Jakarta

Sukman, Yernelis. 2002. Gulma dan teknik pengendaliannnya. Rajawali Press,


Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.
Rumput Belulang
(Eleusine indica L.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae
Divio : Spermatophyta
Sub Divisio: Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Poales/Gramineales/Glumiflorae
Famili : Poaceae
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica (L.) Gaertn.

II. MORFOLOGI TUMBUHAN


a. Akar
Akar Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) memiliki system
perakaran serabut. Akar rumput membentuk tali halus. Akar serabut yang kecil-
kecil memiliki percabangan yang sangat banyak, selain itu juga memiliki bulu
yang halus.

b. Batang
Batang Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) membentuk
rumpun yang kokoh dengan perakaran yang lebat. Tumbuh tegak atau ada kalanya
merambat. Membentuk cabang. Sering membentuk akar pada buku terbawah.
Tingginya 12-85 cm.

c. Daun
Daun Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) memiliki helai
daun panjang. Bentuk garis. Bagian pangkal tidak menyempit. Ujungnya runcing
atau tegak tumpul. Pada pangkalnya selalu terdapat beberapa rambut panjang.

d. Bunga
Bunga Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) tegak atau
condong ke samping. Dengan dua sampai tujuh bulir yang tumbuh menjari
(digitatus) pada ujung batang. Bulir lainnya (nol sampai tujuh) tumbuh di bawah
atau tersebar atau rapat satu sama lain. Sumbu bulir lurus dan rata-rata 2,5-15 cm
panjangnya. Muncul di ujung batang.

e. Buah
Buah Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) berbentuk elips
meruncing. Benang sarinya berwarna kekunung-kuningan. Mempunyai rambut-
rambut papus putih menyerupai perak. Buah sangat ringan. Memiliki putik.

f. Biji
Biji Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) berwarna putih. Biji
berbentuk bulat seperti telur. Biji tidak keras. Biji ringan. Biji tua berwarna
kuning kecoklatan.
III. PENGENDALIAN
A.Teknik Bioekologi
Gulma rumput Belulang/Eleusine indica/ disebut juga dengan nama rumput
Jukut- Jambang, Jukut-carulang, Suket-lulangan, Suket-welulang. Gulma ini
masuk dalam golongan rumput yang mempunyai perakaran serabut yang kuat,
sering kali tajuk berseling. Kelopak daun halus, lebar, rata atau melipat dengan
lebar 3-8 mm. Bunga berbentuk seperti payung, warna hijau muda atau keputihan
terdiri atas 2-12 spikes yang tegak hingga agak mendatar.

b.Secara Mekanis
Secara mekanis, pemberantasan alang-alang mempergunakan bantuan
traktor. Pengganti lain mampu pula mempergunakan serta memanfaatkan bajak
yng digerakkan oleh tenaga hewan ternak. Meskipun teknik gampang serta cepat,
akan tetapi tak memakan waktu yng lama alang-alang bakal tumbuh kembali.

c.Secara Biologis
Alang-alang tak akan tumbuh di tempat yng tak memperoleh cahaya
matahari yng cukup. Menjadikan Kamu mampu memelihara tanaman penutup
tanah semisal kacang-kacangan. Keuntungan lain-lainnya tanaman kacang-
kacangan pula bisa memperbaiki struktur tanah, menaikan kandungan nitrogen,
mencegah erosi, serta melindungi kelembaban tanah.

d.Secara Kimiawi
Lantaran bisa memicu dampak yng serius bagi lahan budidaya,
pengendalian gulma mempergunakan metode kimiawi sebaiknya dipilih menjadi
opsi yang terakhir bila cara-cara lain tak cukup efektif. Bahan kimia yng dipakai
berupa herbisida.

IV. Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet


Sumatera Utara dan Aceh.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tanjung Morawa (PATM), Tanjung Morawa.

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V.


Poesaka Aseli, Jakarta.
Diperiksa oleh
Asisten Korektor

(Sari Hanna Br Gultom)


NIM : 140301005
Tumbuhan Bandotan
(Ageratum conyzoides L.)

I.SISTEMATIKA BAHAN

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Asterales
Suku : Asteraceae
Marga : Ageratum
Species : Ageratum conyzoides L
Nama umum: Bandotan, wedusan, babadotan

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
A.Batang
Batang tumbuhan bandotan berbentuk bulat dan berambut panjang, jika
batang menyentuh tanah akan mengeluarkan akar.

B.Daun
Daun berwarna hijau, bertangkai, letaknya saling berhadapan dan ada pula
yang bersilang, bentuk daun bulat telur dengan pangkal membulat dan ujung
meruncing, tepi daun bergerigi, panjang daun kurang lebih 1-10 cm, lebar 0,5-6
cm, terdapat rambut pada permukaan daun dan kelenjar yang berada di permukaan
bawah daun.

C.Bunga
Bunga pada tumbuhan bandotan tergolong ke dalam bunga majemuk
berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata yang keluar dari ujung tangkai,
berwarna putih, panjang bonggol bunga kurang lebih 6-8 mm, tangkai bunga
terdapat rambut-rambut pendek.

D.Buah
Buah berwarna hitam, bentuknya kecil dan mengandung banyak biji.

III. TEKNIK PENGENDALIAN

a.Teknik mekanisme
Pengendalian gulma ini dengan metode mekanis adalah dengan mencabut
atau membabat. Dengan tujuan untuk merusak sistem perakaran dengan alat-alat
pertanian sehingga gulma mati. Melalui metode fisis dengan membakar gulma
dan melalui metode kimia dengan herbisida, misalnya : glyphosate, dalapon, dll.

b.Teknik Kimiawi
Dengan cara kimiawi yaitu secara umum dapat diberantas dengan
menggunakan Dalapon, Gliturat dan Paraquat tapi bila terasosiasi dengan jagung,
kacang tanah dan kedelai dapat digunakan Alacho.
IV.HABITAT HIDUP
Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan
hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah
menyebar luas di Indonesia Di Amerika Selatan, tumbuhan ini malah
dibudidayakan; menurut catatan sejarah, bandotan memang didatangkan
dari Meksiko.
Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-
sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan
wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini
berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu
tumbuhan.
Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan.Di luar
Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan
di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.
Pada daerah tropis berada pada tempat yang tak tergenang air dan pada
daerah subtropis berada pada ketinggian 1-1200 m dpl. Suhu optimal untuk
tumbuh 16-24 ˚C. intensitas cahaya tinggi yang dibituhkan gulma ini sehingga
pertumbuhan direduksi bila dan cengkeh. ternaungi. Dapat tumbuh berasosiasi
dengan padi gogo, palawija, kopi, tembakau, kelapa sawit

V.DAFTAR PUSTAKA :
Moernadis, J. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali, Jakarta.
Nasution, U. 1985. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh.Pusat penelitian dan Pengembangan perkebunan Tanjung
Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.
Sundaru, M. 1976. Beberapa Jenis Gulma. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian,
Bogor.

Diperiksa oleh
Asisten Korektor

(Sari Hanna Br Gultom)


NIM : 140301005
RUMPUT TEKI
(Cyperus rotundus L.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Famili : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
a. Akar
Akar Rumput teki(Cyperus rotundus L.) merupakan sistem perakaran serabut,
akar rumput teki memiliki banyak percabangan dan akar rumput teki memiliki
banyak anak cabang akar, akar rumput teki memiliki rambut-rambut halus. Akar
rumput teki tumbuh memanjang dan menyebar di dalam tanah.
b. Batang
Batang Rumput teki(Cyperus rotundus L.) tumbuh tegak, berbentuk segitiga,
berongga kecil dan agak lunak, tingginya 10-30 cm dan penampangnya 1-2 mm.
membentuk umbi di pangkal batang, membentuk rimpang panang yang dapat
membentuk tunas baru, daun-daun terdapat di pangkal batang.
c. Daun
Daun Rumput teki(Cyperus rotundus L.) berbangun daun garis, licin, tidak
berambut, warna permukaan atas hijau tua sedangkan permukaan bawah hijau
muda, mempunyai parit yang membujur di bagian tengah, ujungnya agak runcing,
lebih pendek dari batang yang membawa bunga, lebarnya 2-6 mm.
d. Bunga
Bunga Rumput teki(Cyperus rotundus L.) memiliki bulir longgar terbentuk di
ujung batang, braktea dua sampai empat, tidak rontok, panjangnya lebih
kurangnsama atau melebihi panjang perbungaan, bercabang utama tiga sampai
Sembilan yang menyebar, satu bulir berbunga sepuluh sampai empat puluh.
e. Buah
Buah Rumput teki(Cyperus rotundus L.) berbentuk bulat telur berisi tiga,
panjangnya kurang lebih 1,5 mm, buah rumput teki memiliki warna coklat
kehitam-hitaman. Buah rumput teki tersusun berselang-seling sedikit bertumpang-
tindih dan merapat ke sumbu, buah rumput teki berbentuk bulat telur dan lepes.
f. Biji
Biji Rumput teki(Cyperus rotundus L.) terdiri dari sepuluh sampai empat puluh
buliran yang tersusun berselang-seling sedikit bertumpang-tindih dan merapat ke
sumbu, biji berbentuk bulat telur dan lepes, panjangnya kurang lebih 3 mm,
berwarna coklat kemerah-merahan, benang sari dan putik tersembul keluar.
III.TEKNIK PENGENDALIAN
A.Pengendalian secara Biologis
Pada dasarnya, prinsip kerja mengendalikan gulma secara biologis
dilakukan dengan memanfaatkan agen pengendali berupa organisme. Yap,
makhluk hidup yang dapat menyerang rumput teki namun tidak merusak pohon
kelapa sawit dikondisikan sedemikian rupa agar mau tinggal dan berkembang biak
di lingkungan perkebunan. Jadi area kebun harus dibuat aman dan nyaman bagi
agen pengendali tersebut.

B.Pengendalian secara Mekanis


Pengendalian pertumbuhan rumput teki secara mekanis berarti membuat
kehidupannya terganggu memakai peralatan. Hal ini mencakup upaya-upaya
untuk mencabut dan membabat tanaman gulma sehingga area perkebunan menjadi
bersih. Upaya pengolahan tanah dengan mencangkulnya juga bisa mematikan
rumput teki sekaligus memperbaiki kualitas dan struktur tanah.

C.Pengendalian secara Kimiawi


Secara kimiawi, pengendalian rumput teki dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Bahan yang paling sering diterapkan
tidak lain adalah herbisida. Pada jumlah tertentu, herbisida ampuh sekali
memberantas rumput teki hingga ke umbi-umbinya.

V. Daftar Pustaka
Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung
Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.

Steenis, C. G. G. J. Van. 2003. Flora. Cet. 9. PT Pradnya Paramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.
Tumbuhan Putri Malu
(Mimosa pudica)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae ( Tumbuhan )
Subkingdom : Trachebionta ( Tumbuhan berpembuluh )
Super Divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan biji )
Divisi : Magnoliopsida ( berkeping dua/ dikotil )
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae ( suku polong – polongan )
Genus : Mimosa
Spesies : Mimosa pudica Duchass. & Walp

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
1. Daun
Daun putri malu berupa daun majemuk yang menyirip ganda dua
sempurna. Jumlah anak daun sirip berkisar 5 – 26 pasanga, helaian dain anak
berbentuk memanjang sampai lanset, ujung meruncing, pangkal memundar,
bagian tepi merata. Jika di raba bagian permukaan atas dan bawah halus dan
terasa licin, panjang daun 6 – 16 mm, lebar 1-3 mm.
2. Batang
Batang tumbuhan putri malu berbentuk bulat, sleuruh batang di selimuti
oleh duri yang menempel, dengan panjang yang beragam tergantung dengan
pertumbuhan putri malu. Batang tumbuhan ini lunak, tidak terlalu kuat,
permukaan kasar dan juga berwarna kehijauan ungguan. Biasanya batang juga
akan tumbuh mring kepermukaan tanah atau mengarah kebawah.
3. Akar
Perakaran tumbuhan putri malu sangat berbeda dengan jenis tumbuhan
lainnya, perakaran tumbuhan putri malu berserabut, berwarna kecoklatan, tumbuh
menyebar di permukaan media tanah, dan mencapai kedalaman 30 – 60 cm
bahkan lebih. Perakaran tumbuhan putri malu ini jika dilakukan pencabutan akan
berbeda dengan jenis tumbuhan lainnya, yaitu tidak terangkat semua melainkan
satu persatu akan terangkat kepermukaan tanah.
4. Bunga
Bunga tumbuhan putri malu berbentuk bulat, hampir menyerupao bola dan
tidak memiliki mahkota atau kelopak bunga besar seperti bunga pada jenis
tumbuhan lainnya. Akan tetapi kelopak pada tumbuhan ini jauh lebih kecil, dan
bergerigi seperti selaput putih, serta memiliki tabung mahkota yang berukuran
kecil juga dan bertajuk empat.
5. Buah
Buah tumbuhan putri malu bentuk polong, pipih, bergaris dan berukuran
sangat kecil jika dibandingkan dengan jenis tumbuhan lainnya. Buah ini berwarna
kehijauan jika masih muda dan sudah tua berwarna kecoklatan.
6. Biji
Biji tumbuhan putri malu berbentuk bulat, pipih dan berukuran sangat
kecil. Dalam satu buah biji yang ada di dalamnya ada sekitar beberapa saja, yang
berwarna kehitaman atau kecoklatan. Biji pada tumbuhan ini juga merupakan biji
tertutup dan dapat berkembangbiak melalui biji.

III.TEKNIK PENGENDALIAN
1. Secara mekanik (Mechanical)
Pengendalian secara mekanik pada area luas dan populasi gulma yang
padat biasanya menggunakan bulldozers dan mesin pemotong. Cara ini memiliki
keterbatasan karena umumnya sulit memasuki area yang yang padat dengan putri
malu raksasa yang juga sering tergenang air.
2. Menggunakan api/membakar populasi gulma (Burning)
Keberhasilan pengendalian dengan membakar populasi gulma ini juga
sangat kecil. Beberapa faktor penyebab kecilnya keberhasilan adalah karena sulit
membakar tumbuhan putri malu hingga benar-benar mati. Sangat sering terjadi
tumbuhan tumbuh kembali yang berasal dari tunas-tunas baru sisa tumbuhan dan
juga biji-biji pada tanah.
3. Menggunakan senyawa kimia (Chemical )
Penggunaan herbisida dalam pengendalian putri malu raksasa pada area
yang luas membutuhkan biaya yang cukup mahal, selain itu tidak mampu benar-
benar membunuh populasi gulma ini. Penyemprotan herbisida tidak akan merusak
biji pada tanah, dan sebagian tumbuhan yang terkena herbisida juga bisa pulih
kembali (recovery)..
4. Pengendalian dengan menggunakan agen biologi (Biological control)
Banyak negara termasuk Indonesia percaya bahwa penggunaan
organisme (biokontrol) dalam mengendalikan putri malu raksasa memperlihatkan
hasil yang menjanjikan jika dibandingkan dengan cara lainnya baik dalam hal
biaya maupun efektifitas.

IV.DAFTAR PUSTAKA
Nasution, U. 1985. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh.Pusat penelitian dan Pengembangan perkebunan Tanjung
Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.
Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V.
Poesaka Aseli, Jakarta.
Tanaman Bayam Duri
(Amaranthus spinosus L.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Hamamelidae
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus spinosus L.

II.MORFOLOGI TANAMAN
A.Akar
Akar tanaman bayam duri sama seperti akar tanaman bayam pada
umumnya, yaitu memiliki sistem perakaran tunggang.

B.Batang
Batang tanaman bayam duri ini kecil berbentuk bulat, lunak dan berair.
Batang tumbuh tegak bisa mencapai satu meter dan percabangannya monopodial.
Batangnya berwarna merah kecoklatan. Yang menjadi ciri khas pada tanaman ini
adalah adanya duri yang terdapat pada pangkal batang tanaman ini.

C.Daun
Memiliki daun tunggal. Berwarna kehijauan, bentuk bundar telur
memanjang (ovalis). Panjang daun 1,5 cm sampai 6,0 cm. Lebar daun 0,5 sampai
3,2 cm. Ujung daun obtusus dan pangkal daun acutus. Tangkai daun berbentuk
bulat dan permukaannya opacus. Panjang tangkai daun 0,5 sampai 9,0 cm. Bentuk
tulang daun bayam duri penninervis dan tepi daunnya repandus.

D.Bunga
Bunga terdapat di axilaar batang. Merupakan bunga berkelamin tunggal,
yang berwarna hijau. Setiap bunga memiliki 5 mahkota. panjangnya 1,5-2,5 mm.
Kumpulan bunganya berbentuk bulir untuk bunga jantannya. Sedangkan bunga
betina berbentuk bulat yang terdapat pada ketiak batang. Bunga ini termasuk
bunga inflorencia.

E.Buah
Buahnya berbentuk lonjong berwarna hijau dengan panjang 1,5 mm.

F.Biji
Bijinya berwarna hitam mengkilat dengan panjang antara 0,8 – 1 mm.
III.TEKNIK PENGENDALIAN
1. Preventif
Pengendalian gulma secara preventif dapat dilakukan melalui mencegah
invasi gulma , mencegah menetapnya gulma, dan/atau mencegah menyebarnya
suatu species gulma ke suatu daerah yang sebelumnya tidak perbah ditumbuhi
gulma tersebut
Tindakan preventif:Menanam benih bebas dari biji gulma
2. Mekanis
Cara ini telah dilaksanakan jauh sebelum penemuan herbisida
1. Hand-weeding (pencabutan)
Paling efektif untuk gulma yg baru tumbuh, gulma yg masih muda, terutama
gulma semusimTidak efektif dlm mengendalikan gulma tahunan yg telah kuat
tumbuhnya dimana organ perbanyakan vegetatifnya yg terdapat di bawah
permukaan tanah tdk akan terganggu oleh pencabutan
3. Mowing (Pembabatan)
Terbatas penggunaannya, terutama dilakukan untuk mengurangi produksi
biji gulma dan untuk membatasi pertumbuhan gulma tertentu pada pekarangan,
lapangan golf, dan sepanjang tepi jalan.

4. Mulching (Pemulsaan)
Mulsa dapat mengurangi perkecambahan biji-biji gulma dan mengurangi
terbentuknya “seed-bank”, melaluiMenyekat/membatasi tanah dari variasi t°
harian agar dapat mengurangi perkecambahan banyak species gulma.Mencegah
cahaya mencapai biji gulma di permukaan tanah, sehingga
mencegahperkecambahan bij gulma yg butuh cahaya dlm perkecambahan.

V.DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Gulma. [online] http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma. Diakses


pada tanggal 28 April 2013 pukul 19.15 WIB.
Buhman, R dkk. 1999. Gulma dan Teknik pengendaliannya.
Yogyakarta: Konisius.
Noor, E. Sutisna. 1997. Pengendalian Gulma di Lahan Pasang
Surut. [online] http://pustaka.litbang.deptan.go.id/agritek/isdp0102.pdf.
Diakses pada tanggal 28
Tanaman talas
(Colocasia esculenta L.)
I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Alismatelas
Famili : Araceae
Genus : Colocasia
Spesies : Colocasia esculenta L.

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
1. Akar
Akar tanaman talas serabut, yang tersusun dari perakaran adventif, dengan
tumbuh tegak mencapai kedalam 10-20 cm bahkan lebih.

2. Batang
Batang tanaman talas berbentuk bulat memanjang, dengan panjang
mencapai 50- 60 cm bahkan lebih, batang tanaman ini berwarna keungguan,
kehitaman hingga kecoklatan, dan memiliki bulu halus. Batang tanaman ini
tumbuh dengan tegak, dan juga memiliki percabangan daun tunggal.

3. Daun
Daun tanaman talas ini adalah daun sempurna atau lengkap, dengan
bentuk melebar mencapai 50-60 cm bahkan lebih, dengan warna daun hijau muda
hingga tua. Daun talas merupakan daun tunggal, dengan tangkai panjang berwarna
keungguan atau keccoklatan, dan pangkal daun meruncing. Selain itu, daun talas
ini juga memiliki bagian tepi rata, dengan pertulangan daun yang besar atau
menonjol yang berbentuk menjari yang berwarna keputihan kotor.

4. Bunga
Bunga tanaman talas ini berukuran 10-30 cm, dengan ukuran seludang 10 –
30 cm, berwarna hijau hingga kemerahan, dan juga bunga ini terdiri dari beberapa
tongkol yaitu tangkai dan seludang. Bunga tanaman ini terspisah dengan bunga
jantan dan betina yang terletak pada bagian bawah dan atas. Penyerbukaan bakal
buah ini akan di lakukan dengan dua cara yaitu dengan cara melakukan
penyerbukan sendiri dengan bantuan angin, dan dengan cara bantuan hewan
sekitar dengan melekatkan bunga jantan dan betina.

III.TEKNIKPENGENDALIAN
A.Pengendalian dengan upaya preventif (pembuatan peraturan/perundangan,
karantina, sanitasi dan peniadaan sumber invasi).
Tindakan paling dini dalam upaya menghindari kerugian akibat invasi
gulma adalah pencegahan (preventif). Pencegahan dimaksud untuk mengurangi
pertumbuhan gulma agar usaha pengendalian sedapat mungkin dikurangi atau
ditiadakan.Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat karena
kerugian yang sesungguhnya pada tanaman budidaya belum terjadi.

B. Kultur Teknis
Implementasi kultur teknis dilakukan dengan penanganan kacangan untuk
menyaingi pertumbuhan gulma pada tanaman kelapa sawit fase Tanaman Belum
Menghasilkan (TBM).Pengendalian kultur teknis merupakan cara pengendalian
gulma dengan menggunakan praktek-praktek budidaya, antara lain :Penanaman
jenis tanaman yang cocok dengan kondisi tanah.Penanaman rapat agar tajuk
tanaman segera menutup ruang kosong.Pemupukan yang tepat untuk
mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing tanaman
terhadap gulma.

C. Rotasi Tanaman (Crop Rotation)


Rotasi tanaman atau pergiliran tanaman sebenarnya bertujuan
memanfaatkan tanah, air, sinar matahari dan waktu secara optimum sehingga
diperoleh hasil yang memadai. Dengan pergiliran tanaman maka pada umumnya
permukaan tanah akan selalu tertutup oleh naungan daun tanaman, sehingga
gulma tertekan.

D.Biologis
Pengendalian secara biologi dilakukan dengan mengembangkan tumbuhan
liar berguna serta introduksi dan eksplorasi musuh alami gulma. Tumbuhan liar
berperan sebagai inang dari predator/parasitoid terhadap ulat pemakan daun
kelapa sawit (UPDKS). Pengendalian gulma terpadu dilakukan untuk
menghindari ketergantungan dari bahan kimia yaitu melalui eksplorasi musuh
alami gulma.

E.Pengendalian kimiawi secara selektif dan spesifik


Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia tanpa
mengganggu tanaman pokok dikenal dengan nama “Herbisida“.Herbisida dapat
mengendalikan gulma yang tumbuh bersama tanaman budidaya yang sulit
disaingi.Herbisida pre-emergence mampu mengendalikan gulma sejak
awal.Pemakaian herbisida dapat mengurangi kerusakan akar dibandingkan
pengerjaan tanah waktu menyiangi secara mekanis.

IV.DAFTAR PUSTAKA
Achmad Soedarsan, Basuki, Soemantri Wirjahardja, Mien Rifai. 1984. Pedoman
Pengenalan Berbagai Jenis Gulma Penting Pada Tanaman Perkebunan.
Jakarta.

Rambe,T.D., Lasiman Pane, Sudharto Ps., Caliman, J.P. 2010. Pengelolaan Gulma
Pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Smart Tbk. Jakarta.

Ditjenbun. 2008. Pendataan Kelapa Sawit Tahun 2008 secara Komprehensif dan
Objektif. http://ditjenbun.deptan.go.id. [17 Mei 2013].
TUMBUHAN JUKUT PAHIT
(Axonopus compressus)
I. Sistematika Bahan
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Axonopus
Spesies : Axonopus compressus (Swartz) Beauv ( nama latin )
Jukut pahit (nama daerah)

II.Morfologi Tumbuhan
Akar
Sistem perakarannya tunggang, memiliki banyak cabang, berwarna coklat
keputihan. Akar muncul dari pangkal batang yang tegak dan juga terbaring.

Batang
Bentuk batang agak pipih, tidak berbulu, tumbunya tegak dan berumpun,
memiliki beberapa ruas. Setiap ruas batang dapat memuculkan akar dan tunas
baru.

Daun
Daun tumbuhan Axonopus compressus berbangun daun lanset, pangkal
daun meluas dan melengkung, ujung daun tumpul, terdapat bulu-bulu halus pada
permukaan daun atas sedangkan bagian permukaan bawah daun tidak berbulu,
ukuran panjangnya kurang lebih 2,5-3,5 cm dan lebar kurang lebih 6-16 mm.

Bunga
Memiliki 2-3 tangkai, bentuknya ramping dan semua tergabung secara
simpodial, bunga muncul dari upih daun paling atas berkembang secara berturut-
turut, tangkai bunga tidak berbulu, pada bagian ujung (apex) terbentuk dua cabang
bunga atau bulir (spica) yang saling berhadapan membentuk pola huruf V.

Buah
Buah bewarna hijau muda, berukuran kecil. Buah jukut pahit
kedudukannya tidak tumpang tindih dan tersusun secara berselang-seling pada
kedua sisi sumbu yang rata.

III.TEKNIK PENGENDALIAN
1) Pengendalian mekanis

Pengendalian gulma secara mekanik mengandalkan kekuatan fisik atau


mekanik dan alat sederhana berupa alat berat, parang, mesin pemotong rumput,
cangkul dan lain-lain. Pengendalian mekanis menggunakan usaha menekan
pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut
mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian ini hanya
mengandalkan kekuatan fisik dan mekanik.

2) Pengendalian Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi ialah pengendalian gulma dengan


menggunakan bahan kimia yang dapat menekan atau bahkan mematikan gulma.
Bahan kimiawi itu disebut herbisida: herba = gulma dan sida = membunuh; jadi
zat herbisida ialah zat kimiawi yang dapat mematikan gulma.

3) Pengendalian secara kultur-teknis


(penggunaan jenis unggul terhadap gulma, pemilihan saat tanam, cara
tanam-perapatan jarak tanam, tanaman sela, dan penggunaan mulsa).

4) Pegendalian secara hayati


(pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengolahan musuh
alami yang ada disuatu tempat).

5) Pengendalian secara
(herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aplikasi dan lain-
lain).

6) Pengendalian dengan upaya memanfaatkannya


(untuk keperluan seperti sayur, bumbu, bahan obat, pupuk, makanan
ternak, dan lain-lain) (Sukman dan Yakup, 1991).

IV.DAFTAR PUSTAKA

Moenandir, jody. 1988. Fisiologi Herbisida. Rajawali Pers: Jakarta.


Moenandir, jody. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Pers:
Jakarta.
Sukman, Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali
Pers: Jakarta
TANAMAN SINTRONG
( Crassocephalum crepidioides (Benth.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae
Supdivision: Spermatophyta
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Subclass : Asteridae
Order : Asterales
Family : Asteraceae
Genus : Crassocephalum
Species : Crassocephalum crepidioides (Benth.)

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
A.Akar :
Berupa akar yang lunak, pendek dan tidak kuat, sehingga mudah dicabut.
Dengan demikian walaupun Crassocephalum crepidioides / Junggul merupakan
gulma tapi dengan mudah dapat diatasi.
B.Batang ;
Batang Crassocephalum crepidioides lunak dan berair, Permukaan batang
beralur dan berambut pendek. Batang memiliki banyak percabangan. Batang
.yang sudah tua rongga di tengahnya.
C Daun :
Daun Crassocephalum crepidioides tipis , lebar, lunak dengan permukaan
sedikit berambut pendek; memiliki bentuk yang bervariasi, tapi secara umum
berbentuk lonjong Pertumbuhan daun tersusun secara spiral. Ukuran daun lebar ±
8 cm , dengan panjang ± 12 cm. Tepi daun bergigi yang tidak teratur. Tidak
memiliki tangkai daun.
D. Bunga :
Bunga Crassocephalum crepidioides berupa bunga majemuk yang tersusun
dalam bentukan seperti cawan , yaitu bentukan semacam kelopak yang berwarna
hijau dengan ukuran panjang ± 1,5 cm dan Ø ± 0,5. cm. Tangkai bunga majemuk
mengangguk, dan akan menjadi tegak setelah terjadi penyerbukan dan buahnya
mulai tumbuh.
E.Buah ;
Buah Crassocephalum crepidioides tersusun dalam bentukan seperti bola yang
tersusun dari rambut-rambut halus berwarna putih. Buah tunggal berbentuk
silindris; keras; berwarna coklat tua; bagian permukaannya berusuk banyak;
berukuran panjang ± 2 3 mm dan Ø ± 0,5 mm.
III. TEKNIK PENGENDALIAN
.1. PENGENDALIAN SECARA PREVENTIF
Tindakan paling dini dalam upaya menghindari kerugian akibat invasi
gulma adalah pencegahan (preventif). Pencegahan dimaksud untuk mengurangi
pertumbuhan gulma agar usaha pengendalian sedapat mungkin dikurangi atau
ditiadakan.Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat karena
kerugian yang sesungguhnya pada tanaman budidaya belum terjadi.

2.PENGENDALIAN MEKANIS
Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma
dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau
pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian mekanis hanya mengandalkan
kekuatan fisik atau mekanik.

3. PENGENDALIAN KULTUR TEKNIS


Pengendalian kultur teknis merupakan cara pengendalian gulma dengan
menggunakan praktek-praktek budidaya, antara lain :Penanaman jenis tanaman
yang cocok dengan kondisi tanah.Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera
menutup ruang kosong.Pemupukan yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan
tanaman sehingga mempertinggi daya saing tanaman terhadap gulma.

4. PENGENDALIAN HAYATI
Pengendalian hayati (biological control) adalah penggunaan biota untuk
melawan biota. Pengendalian hayati dalam arti luas mencakup setiap usaha
pengendalian organisme pengganggu dengan tindakan yang didasarkan ilmu hayat
(biologi). Berdasarkan hal ini maka penggunaan Legum Cover Crops (LCC)
kadang-kadang juga dimasukkan sebagai pengendalian hayati.

IV. DAFTAR PUSTAKA


Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice.
3rd Ed. John Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p.
Eprim, Yeheskiel Sah. 2006. Periode Kritis Tanaman Kedelai (Glycine max (L.)
Merr.) Terhadap Kompetisi Gulma Pada Beberapa Jarak Tanam di
Lahan Alang-alang (Imprata cylindrica (L.) Beauv.). Skripsi. Program Studi
Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Fadhly, A.F. dan Tabri, F. 2004. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung.
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Goldsworthy, P. R. dan
N.M. Fischer. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah
Mada University Press: Yogyakarta. 874 hal.
PAKU SARANG BURUNG
(Asplenium nidus )

I.SISTEMATIKA BAHAN :
Kingdom : Plantae
Divisi : Pteridophyta
Class : Polipodiopsida
Ordo : Polypodiales
Family : Aspleniaceae
Genus : Asplenium
Spesies : Asplenium nidus L.

II. MORFOLOGI TUMBUHAN


A.Daun
Daun tunggal tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk
keranjang. Daun yang kecil berukuran panjang 7 -150 cm, lebar 3 – 30 cm.
perlahan-lahan menyempit sampai bagian ujung. Ujung meruncing atau
membulat, tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkilat. Daun
bagian bawah warnanya lebih pucat dengan garis-garis coklat sepanjang anak
tulang, daun bentuk lanset, tersusun melingkar, ujung meruncing, warna daun
bagian atas hijau terang, bagian bawah hijau pucat. Peruratan daun menyirip
tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya
matahari langsung.

B.Batang

Rhizome yang pendek ditutupi oleh sisik yang halus dan lebat, sisik
berwarna coklat.

C.Akar

Paku epifit dengan akar rimpang kokoh, tegak, bagian ujung mendukung
daun-daun yang tersusun roset, di bagian bawahnya terdapat kumpulan akar yang
besar dan rambut berwarna coklat, bagian ujung ditutupi sisik-sisik sepanjang
sampai 2 cm, berwarna coklat hitam.

D.Sorus/Sori

Sorus terletak di permukaan bawah daun, tersusun mengikuti venasi atau


tulang daun, bentuk garis, warna coklat tua. Sori sempit, terdapat di atas tiap urat
daun dan cabang-cabangnya mulai dari dekat bagian tengah daun sampai bagian
tepi, hanya sampai bagian tengah lebar daun. dengan sori tertutup semacam
kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).
III.TEKNIK PENGENDALIAN

A.Pengendalian secara Biologis


Pada dasarnya, prinsip kerja mengendalikan gulma secara biologis
dilakukan dengan memanfaatkan agen pengendali berupa organisme. Yap,
makhluk hidup yang dapat menyerang rumput teki namun tidak merusak pohon
kelapa sawit dikondisikan sedemikian rupa agar mau tinggal dan berkembang biak
di lingkungan perkebunan. Jadi area kebun harus dibuat aman dan nyaman bagi
agen pengendali tersebut.

B.Pengendalian secara Mekanis


Pengendalian pertumbuhan rumput teki secara mekanis berarti membuat
kehidupannya terganggu memakai peralatan. Hal ini mencakup upaya-upaya
untuk mencabut dan membabat tanaman gulma sehingga area perkebunan menjadi
bersih. Upaya pengolahan tanah dengan mencangkulnya juga bisa mematikan
rumput teki sekaligus memperbaiki kualitas dan struktur tanah.

C.Pengendalian secara Kimiawi


Secara kimiawi, pengendalian rumput teki dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Bahan yang paling sering diterapkan
tidak lain adalah herbisida. Pada jumlah tertentu, herbisida ampuh sekali
memberantas rumput teki hingga ke umbi-umbinya.

IV.DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahim, Dudun. 2006. Tugas Tanaman dan Sistem Ruang Terbuka Hijau:
Paku-pakuan. Bandung: IPB.
Alvyanto. 2009 (http://alvyanto.blogspot.com davallia_) diakses tanggal 01 April
2012.
Aththorick , Alief. 2007. Kekayaan Jenis Makroepifit di Hutan Telaga Taman
Nasional Gunung leuser (tngl) Kabupaten Langkat. Jurnal Biologi
Sumatera. Vol. 2, No. 1.
Paku Sisik Naga
(Drymoglossum piloselloides (L.) Presl.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Polypodiaceae
Genus: Drymoglossum
Spesies: Drymoglossum piloselloides (L.) Presl.

II.MORFOLOGI TUMBUHAN

A.Akar
Akar rimpang tanaman paku sisik naga ini ukurannya memanjang dan
diamerternya kecil. Tanaman paku sisik naga ini pertumbuhannya merayap,
dengan panjang 5-22 cm. Akar tanaman paku sisik naga ini melekat kuat pada
batang dan tangkai pohon lain.

B.Daun
Daun tanaman paku sisik naga jarak antara daun yang satu dengan yang
lain dekat. Daun paku sisik naga ini bertangkai pendek, dengan tekstur yang tebal
berdaging. Daun tanaman paku sisik naga berbentuk bulat, dengan ujung yang
tumpul atau membundar, pangkal daun meruncing, tepi daun rata. Permukaan
daun tanaman paku sisik naga yang muda terdapat rambut-rambut kecil pada
permukaan bawah sedangkan yang sudah tua rambut pada permukaan bawah
daunnya akan menghilang. Daun tanaman paku sisik naga berwarna hijay
kecoklatan.

III.HABITAT HIDUP
Tumbuhan ini sering sekali kita jumpai tumbuh liar di perkarangan rumah,
taman, ladang maupun hutan pada keadaan agak lembab. Tumbuhan ini tumbuh
dengan menumpang pada tumbuhan lain. Sisik naga, itulah nama dari tumbuhan
ini. Namun, di kota-kota besar kita mungkin kesulitan untuk menemukan
tumbuhan ini dikarenakan keadaan udara dikota-kota besar biasanya panas
sehingga tidak cocok untuk tumbuhan ini hidup. Sisik naga termasuk tumbuhan
epifit karena hidup menumpang pada tumbuhan lain. Tetapi, Tumbuhan ini bukan
termasuk tumbuhan parasit karena tumbuhan ini tidak sepenuhnya
menggantungkan kelangsungan hidupnya pada tumbuhan yang ia tumpangi.

IV.TEKNIK PENGENDALIAN
1. Preventif
Pengendalian gulma secara preventif dapat dilakukan melalui mencegah
invasi gulma , mencegah menetapnya gulma, dan/atau mencegah menyebarnya
suatu species gulma ke suatu daerah yang sebelumnya tidak perbah ditumbuhi
gulma tersebut
Tindakan preventif:Menanam benih bebas dari biji gulma
2. Mekanis
Cara ini telah dilaksanakan jauh sebelum penemuan herbisida
1. Hand-weeding (pencabutan)
Paling efektif untuk gulma yg baru tumbuh, gulma yg masih muda, terutama
gulma semusimTidak efektif dlm mengendalikan gulma tahunan yg telah kuat
tumbuhnya dimana organ perbanyakan vegetatifnya yg terdapat di bawah
permukaan tanah tdk akan terganggu oleh pencabutan
3. Mowing (Pembabatan)
Terbatas penggunaannya, terutama dilakukan untuk mengurangi produksi
biji gulma dan untuk membatasi pertumbuhan gulma tertentu pada pekarangan,
lapangan golf, dan sepanjang tepi jalan.

4. Mulching (Pemulsaan)
Mulsa dapat mengurangi perkecambahan biji-biji gulma dan mengurangi
terbentuknya “seed-bank”, melaluiMenyekat/membatasi tanah dari variasi t°
harian agar dapat mengurangi perkecambahan banyak species gulma.Mencegah
cahaya mencapai biji gulma di permukaan tanah, sehingga
mencegahperkecambahan bij gulma yg butuh cahaya dlm perkecambahan.

V.DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Gulma. [online] http://id.wikipedia.org/wiki/Gulma. Diakses


pada tanggal 28 April 2013 pukul 19.15 WIB.
Buhman, R dkk. 1999. Gulma dan Teknik pengendaliannya.
Yogyakarta: Konisius.
Noor, E. Sutisna. 1997. Pengendalian Gulma di Lahan Pasang
Surut. [online] http://pustaka.litbang.deptan.go.id/agritek/isdp0102.pdf.
Diakses pada tanggal 28
PAKIS
(Cyathea sp.)

I.SISTEMATIKA BAHAN

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Cyatheatae
Ordo: Cyatheales
Famili: Cyatheaceae
Genus: Cyathea
Spesies: Cyathea sp.

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
a. Struktur Akar
Akar tumbuhan paku berbentuk serabut dengan kaliptra pada ujungnya.
Jaringan akarnya terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat.
b. Struktur Batang
Serupa halnya dengan jaringan akarnya, struktur batang tumbuhan paku
juga terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat. Pada silinder pusat tersebut
terdapat berkas pembuluh angkut, yaitu xilem dan floem. Berkas pembuluh ini
berperan dalam proses fotosintesis dan mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh
bagian tubuh tumbuhan.
c. Struktur Daun
Struktur daun tumbuhan paku terdiri atas jaringan epidermis, mesofil, dan
pembuluh angkut. Sedangkan jenis tumbuhan paku sendiri terdiri atas berbagai
macam, meliputi:Jika ditinjau dari ukuran daun, maka daun tumbuhan paku ada
yang berukuran kecil (mikrofil) dan berukuran besar (makrofil). Daun mikrofil
tidak bertangkai dan tidak bertulang, serta bebentuk rambut atau sisik. Sedangkan
daun makrofil bertangkai, bertulang daun, jarngan tiang, bunga karang, dan juga
memiliki mesofil dengan stomata, serta bebentuk.
III.TEKNIK PENGENDALIAN
1) Pengendalian mekanis

Pengendalian gulma secara mekanik mengandalkan kekuatan fisik atau


mekanik dan alat sederhana berupa alat berat, parang, mesin pemotong rumput,
cangkul dan lain-lain. Pengendalian mekanis menggunakan usaha menekan
pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut
mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian ini hanya
mengandalkan kekuatan fisik dan mekanik.

2) Pengendalian Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi ialah pengendalian gulma dengan


menggunakan bahan kimia yang dapat menekan atau bahkan mematikan gulma.
Bahan kimiawi itu disebut herbisida: herba = gulma dan sida = membunuh; jadi
zat herbisida ialah zat kimiawi yang dapat mematikan gulma.

3) Pengendalian secara kultur-teknis


(penggunaan jenis unggul terhadap gulma, pemilihan saat tanam, cara
tanam-perapatan jarak tanam, tanaman sela, dan penggunaan mulsa).

4) Pegendalian secara hayati


(pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengolahan musuh
alami yang ada disuatu tempat).

5) Pengendalian secara
(herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aplikasi dan lain-
lain).

6) Pengendalian dengan upaya memanfaatkannya


(untuk keperluan seperti sayur, bumbu, bahan obat, pupuk, makanan
ternak, dan lain-lain) (Sukman dan Yakup, 1991).

IV.DAFTAR PUSTAKA

Moenandir, jody. 1988. Fisiologi Herbisida. Rajawali Pers: Jakarta.


Moenandir, jody. 1990. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Pers:
Jakarta.
Sukman, Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali
Pers: Jakarta
MENIRAN
(Phyllanthus niruri L.)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom : Plantae
Subkingdm : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Phyllanthus
Spesies : Phyllanthus niruri L.

II. MORFOLOGI TUMBUHAN


1. Batang
Tanaman meniran (Phyllanthus niruri) ini memiliki batang yang berbentuk
bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50cm, berwarna hijau,
diameternya ± 3 mm.
2. Daun
Tanaman ini memiliki daun majemuk, tata letak daunnya berseling (
Deccussate ), bentuk daun bulat telur (ovale), ujung daunnya tumpul, pangkalnya
membulat, memiliki tepi daun yang rata ( Entire ), memiliki anak daun 15-24,
memiliki panjang ± 1,5 cm, lebar ± 7 mm, dan berwarna hijau. Daun meniran ini
termasuk pada tipe daun yang tidak lengkap yaitu pada bagian daun bertangkai
karena tanaman ini hanya memiliki tangkai dan beberapa heliaan daun.
3. Bunga
Tanaman ini memiliki bunga tunggal yang terdapat pada ketiak daun
menghadap ke arah bawah, menggantung dan berwarna putih. Memiliki daun
kelopak yang berbentuk bintang, benang sari dan putik tidak terlihat jelas,
mahkota bunga kecil dan berwarna putih.
4. Buah
Tanaman ini memiliki buah yang berbentuk kotak, bulat pipih dan licin,
diameter ± 2mm dan berwarna hijau.
5. Biji
Tanaman ini memiliki biji yang kecil, keras dan berbentuk ginjal serta
berwarna coklat.
6. Akar
Tanaman ini memiliki akar tunggang yang berwarna putih.

III.TEKNIK PENGENDALIAN
a.Secara Manual
Bagi atau bisa juga dikatakan untuk area perkebunan kelapa sawit yang
dengannya ukuran yng tak terlalu luas, upaya pengentasan ilalang secara manual
mampu menjadi solusi yng bisa diandalkan. Kelebihan dari metode ini yakni
bersifat ramah lingkungan serta tak memakan biaya yng cukup besar

b.Secara Mekanis
Secara mekanis, pemberantasan alang-alang mempergunakan bantuan
traktor. Pengganti lain mampu pula mempergunakan serta memanfaatkan bajak
yng digerakkan oleh tenaga hewan ternak. Meskipun teknik gampang serta cepat,
akan tetapi tak memakan waktu yng lama alang-alang bakal tumbuh kembali.

c.Secara Biologis
Alang-alang tak akan tumbuh di tempat yng tak memperoleh cahaya
matahari yng cukup. Menjadikan Kamu mampu memelihara tanaman penutup
tanah semisal kacang-kacangan. Keuntungan lain-lainnya tanaman kacang-
kacangan pula bisa memperbaiki struktur tanah, menaikan kandungan nitrogen,
mencegah erosi, serta melindungi kelembaban tanah.

d.Secara Kimiawi
Lantaran bisa memicu dampak yng serius bagi lahan budidaya,
pengendalian gulma mempergunakan metode kimiawi sebaiknya dipilih menjadi
opsi yang terakhir bila cara-cara lain tak cukup efektif. Bahan kimia yng dipakai
berupa herbisida.

V. DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. 1985. Pengendalian Terpadu Terhadap Gulma pada Padi. Bhratara


Karya Aksara, Jakarta.

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera


dan Aceh.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa
(P4TM), Tanjung Morawa.

Steenis, C. G. G. J. Van. 2003. Flora. Pradnya Pramitha, Jakarta.


Kara benguk
(Mucuna pruriens)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kingdom :Plantae
Phylum :Tracheophyta
Class :Magnoliopsida
Order :Fabales
Family :Fabaceae
Genus :Mucuna
Spesies :Mucuna pruriens (L.)DC.

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
A.Daun
Daun tunggal tersusun pada batang sangat pendek melingkar membentuk
keranjang. Daun yang kecil berukuran panjang 7 -150 cm, lebar 3 – 30 cm.
perlahan-lahan menyempit sampai bagian ujung. Ujung meruncing atau
membulat, tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkilat. Daun
bagian bawah warnanya lebih pucat dengan garis-garis coklat sepanjang anak
tulang, daun bentuk lanset, tersusun melingkar, ujung meruncing, warna daun
bagian atas hijau terang, bagian bawah hijau pucat. Peruratan daun menyirip
tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya
matahari langsung.

B.Batang

Rhizome yang pendek ditutupi oleh sisik yang halus dan lebat, sisik
berwarna coklat.

C.Akar

Paku epifit dengan akar rimpang kokoh, tegak, bagian ujung mendukung
daun-daun yang tersusun roset, di bagian bawahnya terdapat kumpulan akar yang
besar dan rambut berwarna coklat, bagian ujung ditutupi sisik-sisik sepanjang
sampai 2 cm, berwarna coklat hitam.

D.Sorus/Sori

Sorus terletak di permukaan bawah daun, tersusun mengikuti venasi atau


tulang daun, bentuk garis, warna coklat tua. Sori sempit, terdapat di atas tiap urat
daun dan cabang-cabangnya mulai dari dekat bagian tengah daun sampai bagian
tepi, hanya sampai bagian tengah lebar daun. dengan sori tertutup semacam
kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).
III.TEKNIK PENGENDALIAN

A.Pengendalian secara Biologis


Pada dasarnya, prinsip kerja mengendalikan gulma secara biologis
dilakukan dengan memanfaatkan agen pengendali berupa organisme. Yap,
makhluk hidup yang dapat menyerang rumput teki namun tidak merusak pohon
kelapa sawit dikondisikan sedemikian rupa agar mau tinggal dan berkembang biak
di lingkungan perkebunan. Jadi area kebun harus dibuat aman dan nyaman bagi
agen pengendali tersebut.

B.Pengendalian secara Mekanis


Pengendalian pertumbuhan rumput teki secara mekanis berarti membuat
kehidupannya terganggu memakai peralatan. Hal ini mencakup upaya-upaya
untuk mencabut dan membabat tanaman gulma sehingga area perkebunan menjadi
bersih. Upaya pengolahan tanah dengan mencangkulnya juga bisa mematikan
rumput teki sekaligus memperbaiki kualitas dan struktur tanah.

C.Pengendalian secara Kimiawi


Secara kimiawi, pengendalian rumput teki dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Bahan yang paling sering diterapkan
tidak lain adalah herbisida. Pada jumlah tertentu, herbisida ampuh sekali
memberantas rumput teki hingga ke umbi-umbinya.

IV.DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahim, Dudun. 2006. Tugas Tanaman dan Sistem Ruang Terbuka Hijau:
Paku-pakuan. Bandung: IPB.
Alvyanto. 2009 (http://alvyanto.blogspot.com davallia_) diakses tanggal 01 April
2012.
Aththorick , Alief. 2007. Kekayaan Jenis Makroepifit di Hutan Telaga Taman
Nasional Gunung leuser (tngl) Kabupaten Langkat. Jurnal Biologi
Sumatera. Vol. 2, No. 1.
KANGKUNG LIAR
(Ipomoea aquatica)

I.SISTEMATIKA BAHAN
Kindom : Plantae ( Tumbuhan )
Subkingdom : Tracheobionta ( Berpembuluh )
Superdivisio :Spermatophyta ( Menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta ( Berbunga )
Kelas : Magnoliapsida ( Berkeping dua / dikotil )
Sub kelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Convovulceae
Genus : Ipomea
Spesies : Ipomea aquatica

II.MORFOLOGI TUMBUHAN
Kangkung merupakan tanaman yang sangat tergolong lama tumbuh,
tanaman ini memiliki akar tunggang dan bercabang-cabang. Perakaran ini
menembus dengan kedalam 60 – 100 cm, dan menyebar luas secara mendatar 150
cm hingga lebih, terutamanya tanaman kangkung pada air.
A.Batang
Batang pada tanaman kangkung bult dan berlubang, berbuku-buku, dan banyak
mengandung air. Terkadang buku-buku tersebut mengeluarkan akar tanaman yang
serabut dan juga berwarna putih dan ada juga berwrana kecoklatan tua.
B.Daun
Kangkung juga memiliki tangkai dauan melekat pada buku-buku batang dan di
keiak batang terdapat mata tunas yang dapat tumbuh cabang baru. Bentuk dauan
memiliki ujung runcing dan juga tumpul, permukaan dauan berwarna hijau tua ,
dan juga berwarna hijau muda.
C.Bunga
Bunga pada tanaman kangkung memiliki bentuk terompet dan memiliki dauan
mahkota yang berwara putih atau kemerahan. Dan jika menghasilkan buah
berbentuk bulat atau oval yang di dalamnya memiliki tiga butit biji. Warna biji
tanaman kangkung berwran
hitam jika sudah tua dan hijau ketika mudah.

III.TEKNIK PENGENDALIAN
a.Secara Manual
Bagi atau bisa juga dikatakan untuk area perkebunan kelapa sawit yang
dengannya ukuran yng tak terlalu luas, upaya pengentasan ilalang secara manual
mampu menjadi solusi yng bisa diandalkan. Kelebihan dari metode ini yakni
bersifat ramah lingkungan serta tak memakan biaya yng cukup besar

b.Secara Mekanis
Secara mekanis, pemberantasan alang-alang mempergunakan bantuan
traktor. Pengganti lain mampu pula mempergunakan serta memanfaatkan bajak
yng digerakkan oleh tenaga hewan ternak. Meskipun teknik gampang serta cepat,
akan tetapi tak memakan waktu yng lama alang-alang bakal tumbuh kembali.
c.Secara Biologis
Alang-alang tak akan tumbuh di tempat yng tak memperoleh cahaya
matahari yng cukup. Menjadikan Kamu mampu memelihara tanaman penutup
tanah semisal kacang-kacangan. Keuntungan lain-lainnya tanaman kacang-
kacangan pula bisa memperbaiki struktur tanah, menaikan kandungan nitrogen,
mencegah erosi, serta melindungi kelembaban tanah.

d.Secara Kimiawi
Lantaran bisa memicu dampak yng serius bagi lahan budidaya,
pengendalian gulma mempergunakan metode kimiawi sebaiknya dipilih menjadi
opsi yang terakhir bila cara-cara lain tak cukup efektif. Bahan kimia yng dipakai
berupa herbisida.

V. DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. 1985. Pengendalian Terpadu Terhadap Gulma pada Padi. Bhratara


Karya Aksara, Jakarta.

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera


dan Aceh.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa
(P4TM), Tanjung Morawa.

Steenis, C. G. G. J. Van. 2003. Flora. Pradnya Pramitha, Jakarta.