You are on page 1of 10

D.

Asuhan keperawatan pada perilaku kekerasan


Perawat psikiatri memberikan perawatan sepanjang rentang asuhan. Perawatan
ini termasuk intervensi yang berhubungan dengan pencegahan primer, sekunder
dan tersier.
1. Pencegahan primer
a. Pengkajian kebutuhan keperawatan preventif
Pengkajian kebutuhan pasien akan tindakan keperawatan preventif
termasuk identifikasi :
1) Stressor yang mempercepat respon maladaptive
2) Target atau kelompok populasi yang rentan beresiko tinggi
sehubungan denngan stressor, termasuk anak-anak, remaja baru,
keluarga yang mengalami perceraian atau penyakit wanita, dan
lanjut usia.
b. Perencanaan dan implementasi
Intervensi keperawatan yang spesifik dalam pencegahan primer
termasuk penyuluhan kesehatan, pengubahan linkungan, dan dukungan
sosial.
1) Penyuluhan kesehatan
Mencakup memperkuat individu dan kelompok melalui
pembentukkan kompetensi. Asumsinya adlah bahwa banyak
respon maladaptive terjadi sebagai akibat dari kurangnya
kompetensi.termasuk kurangnya kontrol yang dirasakan terhadap
kehidupan seseorang, kurang efektifnya strategi koping, dan
keadaan ini menimbulkan harga diri rendah. Penyuluhan kesehatan
mempunyai 4 tingkat intervensi :
a) Meningkatkan kesadaran individu atau kelompok tentang
masalah dan peristiwa yang berhubungan dengan sehat dan
sakit, seperti tugas perkembangan normal.
b) Meningkatkan pemahaman seseorang tentang dimensi
stressor yang potensia, kemungkinan hasil( baik adaptif
maupun maladaptive), dan alternative respon koping.
c) Meningkatkan pengetahuan seseorang tentang dimana dan
bagaimana memperoleh sumber yang diperlukan.
d) Meningkatkan keterampilan penyelesaian masalah individu
atau kelompok, keterampilan penyelesaian masalah
individu atau kelompok, keterampilan interpersonal,
toleransi terhadap stress dan frustasi, motivasi, harapan, dan
harga diri.
2) Pengubahan lingkungan
Pengubahan lingkungan dapat termasuk jenis berikut ini :
a) Ekonomi ; Mengalokasikan sumber untuk bantuan financial
atau bantuan anggaran dan penghasilan.
b) Pekerjaan ; Menerima tes pekerjaan, bimbingan dan
penyuluhan atau pelatihan kembali yang memungkinkan
pekerjaan atsu karir yang baru.
c) Perumahan ; pindah ke tempat baru, yang mungkin saja
berarti meninggalkan atau kembali pada keluarga dan
teman.
d) Keluarga ; memasukkan anak pada fasilitas perawatan,
taman kanak-kanak, menapatkan pelayanan rekreasi, sosial,
keagaman, atau komunitas.
e) Politik ; Mempengaruhi struktur pelayanan dan prosedur
kesehatan.
3) Dukungan system sosial
Adalah cara menahan atau menghancurkan pengaruh dari
peristiwa yang potensial menimbulkan keadaan stress. Ada 4 jenis
intervensi preventif yang mungkin :
a) Mengkaji tetangga dan komunitas untuk mengidentifikasi
area masalah dan kelompok beresiko tinggi.
b) Meningkatkan hubungan antaara system dukungan
komunitas dan pelayanan kesehatan jiwa formal.
c) Menguatkan jaringan pemberian pelayanan yang sudah ada,
d) Membantu seseorang atau kelompok dalam
mengembangkan, memelihara, memperluas, dan
menggunakan jaringan sosial yang tersedia.
4) Evaluasi
Perawat harus menimbang hal berikut ini dalam mengevaluasi
intervensi prevensi primer atau program :
a) Kemanjuran,
b) Keefektifan,
c) Efisiensi,
d) Jangka waktu
e) Akibat yang membahayakan
f) Program skrining
g) Kemungkinan kelompok resiko tinggi
h) Analisa ekonomi

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder termasuk menurunkan angka kelainan. Aktivitas
pencegahan sekunder meliputi penemuan kasus dini, skrining dan tindakan
efektif yang cepat. Intervensi krisis merupakan suatu modalitas tindakan
pencegahan sekunder yang penting.
a. Krisis
Adalah gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiawa yang
ditimbulkan oleh peristiwa yang menegangkan atau ancaman yang
dirasakanpada diri seseorang. Mekanisme koping yang yang biasa
digunakan seseorang sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi ancaman
dan orang tersebut mengalamim suatu keadaan tidak seimbang serta
penungkatan ansietas.Tujuan intervensi krisis adalah agar individu
kembali pada tingkat fungsi prekrisis.
Jenis krisis
1) Krisis maturasi, krisis maturasi merupakan masa
perkembangan atau transisi dalam kehidupan seseorang pada
saat keseimbangan psikologis sedang terganggu. Sifat dan
besarnya krisis maturasi dapat dipengaruhi oleh model peran,
sumber interpersonal yang memadai, dan kesediaan orang lain
dalam menerima peran baru.
2) Krisis situasi, terjadi ketika peristiwa eksternal tertentu
menganggu keseimbangan psikologik individu atau
keseimbangan kelompok. Sebagai contoh kehilangan
pekerjaan, perceraian, kematian, masalah sekolah dan penyakit.
3) Krisis tak terduga, krisis terjadi tanppa disengaja, tidak umum
dan tidak terduga yang dapat mengakibatkan banyak
kehilangan dan perubahan lingkungan, seperti karena
kebakaran dan kebanjiran. Krisis ini tidak terjadi dalam
kehidupan tiap orang tetapi bila ini terjadi dapat mengakibatkan
stress yang hebat dan menantang semua kemampuan koping
individu.

Pengkajian
Pengkajian spesifik ini harus dilakukan:
1. Identifikasi peristiwa pemicu, termasuk kebutuhan-kebutuhan
yang terancam oleh peristiwa dan saat dimana gejala-gejala yang
tampak.
2. Identifikasi persepsi individu terhadap kejadian, termasuk tema
yang mendasari dan ingatan yang berhubungan dengan peristiwa
tersebut.
3. Identifikasi sifat dan kekuatan system pendukung individu dan
sumber koping, termasuk keluarga, teman, dan orang terdekat
yang mungkin dapat menolong.
4. Identifikasi kekuatan dan mekanisme koping yang lalu, termasuk
strategi koping yang berhasil dan tidak berhasil.

Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan NANDA yang berhubungan dengan intervensi
krisis:
1. Penyesuaian, kerusakan
2. Ansietas
3. Koping komunitas, inefektif
4. Koping komunitas, potensial untuk ditingkatkan
5. Koping, keluarga inefektif: perlemahan
6. Koping, individu inefektif
7. Proses keluarga, perubahan
8. Ketakutan
9. Berduka, antisipatori
10. Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan
11. Pemeliharaan kesehatan, perubahan
12. Deficit pengetahuan
13. Kedekatan orang tua/bayi/anak, risiko terhadap perubahan
14. Peran asuh orangtua, perubahan
15. Respon pascatrauma
16. Sindrom trauma perkosaan
17. Gangguan harga diri
18. Isolasi sosial
19. Distress spiritual

Perencanaan dan implementasi


Ada 4 tingkat intervensi krisis yang menunjukkan hierarki yang
paling dalam sampai yang paling permukaan:
1. Manipulasi lingkungan. Ini merupakan intervensi yang secara
langsung mengubah situasi fisik dan interpersonal individu yang
bertujuan memberikan dukungan situasional atau menghilangkan
stress.
2. Dukungan umum. Member individu perasaan bahwa perawat
berada di pihaknya dan akan membantu mereka. Perawat
menunjukkan kehangatan, penerimaan, empati dan perhatian
dalam dukungan jenis ini.
3. Pendekatan generic. Intervensi krisis jenis ini dirancang untuk
mencapai individu dengan resiko tinggi dan sejumlah besar
masyarakat sesegera mungkin.
4. Pendekatan individual. Pendekatan ini termasuk menegakkan
diagnose dan melakukan tindakan masalah spesifik pasien
tertentu. Pendekatan individual efektif untuk semua jenis krisis
dan kombinasi krisis atau ketika terdapat resiko bunuh diri atau
resiko membunuh orang lain

Evaluasi
1. Apakah individu telah kembali pada tingkat kunci sebelum terjadi
krisis?
2. Apakah kebutuhan individu sebenarnya, yang telah terancam oleh
peristiwa pencetus atau yang menegangkan, telah dipenuhi?
3. Apakah perilaku maladaptive individu atau gejala telah
berkurang?
4. Apakah mekanisme koping adaptif individu telah berfungsi
kembali?
5. Apakah individu mempunyai system pendukung yang kuat untuk
diandalkan?
6. Apa yang telah dipelajari individu dari pengalaman ini yang
mungkin membantu untuk koping terhadap krisis yang akan
datang ?
3. Pencegahan tersier
Aktivitas pencegahan tertier mencoba untuk mengurangi keparahan
kelainan dan ketidakmampuan yang berkaitan.
a. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah suatu proses yang memungkinkan individu untuk
kembali pada tingkat setinggi mungkin. Biasanya bertujuan untuk
mengembalikan pada tingkat fungsi yang sama atau lebih tinggi dari
tingkat fungsi ketika belum sakit.

b. Pengkajian Kebutuhan Asuhan Keperawatan Rehabilitatif


1) Individu
a) Identifikasi sifat dan intensitas stressor.
b) Ekspolarasi keuntungan lain yang dialami pasien karena
ketidakmampuannya.
c) Indentifikasi sumber koping
d) Pengkajian keterampilan komunitas

2) Keluarga
a) Analisis struktur keluarga , termaksuk perkembangan, tahap, peran,
tanggung jawab, norma – norma, dan nilai-nilai.
b) Ekspolarasi sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit
jiwa
c) Analisis iklim emosional keluarga
d) Indentifikasi dukungan social yang tersedia bagi keluarga
e) Indentifikasi pemahaman keluarga tentang masalah pasien dan
rencana asuhan.

3) Komunitas
a) Pengkajian tentang badan masyarakat yang ada dan dapat
memberikan pelayanan kepada pelayanan kepada pasien sakit jiwa
serta kelurgannya
b) Indentifikasi kesenjangan dalam layanan tersedia atau dalam
keefektifan layanan yang sudah ada.

c. Perencanaan dan Implementasi


1) Individu
a) Tetapkan bersama tujuan perawat yang realistic berdasarkan
diagnose keperawatn pasien
b) Fokuskan pada peningkatan kemandirian dengan
memaksimalkan kekuatan individu
c) Fasilitasi rujukan pada program pelayan alternative yang
membantu pasien berinteraksi secara mandiri
d) Bantu pasien untuk ikut serta dalam kelompok swa bantu
e) Indentifikasi keengganan terhadap perubahan, jika ada bantu
pasien untuk mengatasi keengganannya.
f) Ajar pasien mengenai kebutuhan perawatan kesehatan yang
relevan , yang termaksuk kesehatan fisik, kesehatan mental, dan
keterampilan social.
g) Bertindak sebagai pelindung pasien dalam berhubungan dengan
pihak dan badan masyarakat penting lainnya
h) Bantu pasien mengembangkan suatu jaringan kerja dukungan
social yang dapat diandalkan.

2) Keluarga
a) Bina kemitraan dengan kelurga yang bertujuan membantu
pasien
b) Berikan keluarga informasi, rujuk mereka pada anggota tim
kesehatan lain untuk informasi lebih lanjut
c) Berikan umpan balik pada keluarga tentang keberhasilan
interaksi mereka
d) Rujuk keluarga untuk terapi kelurga , jika diperlukan
e) Rujuk kelurga pada kelompok swa bantu
f) Bantu kelurga untuk menemukan pelayanan untuk bersantai/
beristirahat
g) Berikankelurga informasi mengenai pelayanan intervensi krisis
yang tersedia.

3) Komunitas
a) Berikan penyuluhan mengenai kesehatan jiwa dan dan penyakit
jiwa kepada kelompok masyrakat
b) Berperan serta dalam kelompok perlindungan terhadap
komunitas untuk menggalakkan perkembangan pelayanan
kesehatan jiwa yang komperehensif
c) Tingkatkan pengembangan jaringan kerja kolaboratif antar
kelompok komunitas yang terkait dalam pelayanan kesehatan
jiwa
d) Waspada dan terlibat dalam proses politik di tingkat local,
Negara bagian, dan nasional.

4) Evaluasi
a) Evaluasi Program
i) Evaluasi program individu termaksuk berikut ini :
- Hasil guna biaya
- Status perizinan
- Pencapain tujuan
- Hasil pasien
- Kepuasan pasien dan staf
ii) Kesaman antara kelompok program juga dapat dikaji
iii)Program mungkin di evaluasi pada tingkat system untuk
memastikan relevansinya terhadap kebutuhan komunitas dan
pendayagunaan.
b) Evaluasi Pasien
i) Kebutuhan di tingkat fungsi tiap individu pasien mungkin
berubah setiap saat
ii) kriteria evaluasi untuk tiap individu pasien harus berdasarkan
prilaku individu dan tujuan tindakan
penanggulangan.kriteriah yang sudah di indentifikasi untuk
mengevaluasi respon klien terhadap program rehabilitasi
termasuk :
 keterlibatan dalam aktivitas masyarakat termasuk
program rehabilitasi
 angka rawat inap residivisme
 kemampuan mencari dan mempertahankan pekerjaan