You are on page 1of 4

1.

Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf
Pada ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf menjadi tiga bagian.
Pertamatasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki dan ketiga tasawuf amali. Ketiga tasawuf ini
tujuannya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari
perbuatan tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Ketiga macam tasawuf ini
memiliki perbedaan dalam hal pendekatan yang digunakan.[4]
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf yaitu ketika mempelajari Tasawuf ternyata
pula bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan Hadits menekankan
kejujuran, persaudaraan, keadilan, tolong menolong, murah hati, pemaaaf, sabar, baik sangka,
menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berfikiran lurus, nila-nilai ini yang harus dimiliki
oleh seorang muslim dan dimasukkan kedalam dirinya sejak kecil.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah amat menonjol, karena
tasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, haji, dzikir, dan
lain sebagainya. Yang semuanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan Akhlak.
2. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid
Ilmu tauhid adalah ilmu ushuluddin, ilmu pokok-pokok agama, yakni menyangkut aqidah
dan keimanan, ilmu tauhid dapat disebut juga dengan Ilmu kalam, yang merupakan disiplin ilmu
ke Islaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya,
serta kemunafikan dan batasannya.[5] sedangkan ahlak yang baik menurut pandangan Islam
haruslah berpijak pada keimanan. Iman tidak sekedar cukup disimpan dalam hati. Melainkan
harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal shaleh, barulah dikatakan
iman itu sempurna, karena telah dapat direalisir.[6]
Jelaslah bahwa akhlaqul karimah adalah mata rantai iman. Sebagai contoh, malu (berbuat
kejahatan) adalah salah satu dari akhlakul mahmudah. Nabi dalam salah satu hadits menegaskan
bahwa “malu adalah salah satu cabang dari keimanan”.[7]
Sebaliknya akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip
iman. Seterusnya sekalipun manusia perbuatan pada lahirnya baik, tetapi titik tolaknya bukan
karena iman maka hal itu tidak mendapatkan penilaian disisi Allah. Demikianlah adanya
perbedaan nilai amal-amal baiknya orang beriman denganamal baiknya orang yang tidak
beriman.[8]
Hubungan antara Aqidah dan Akhlak tercermin dalam pernyataan Rosulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a :
‫سنُ ُه ْم ُخلُقًا‬
َ ْ‫ا َ ْك َم ُل اْال ٌمؤْ ِمنِيْنَ اِ ْي َمانًااَح‬
“orang mu’min yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya”[9]
3. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu jiwa (psikologi)
Berbicara dalam hal relevansi dan hubungan ilmu akhlak dengan ilmu psikologi
sebenarnya merupakan bahasan yang sangat strategis. Karena antara akhlak dengan ilmu
psikologi memiliki hubungan yang sangat kuat dimana, objek sasaran penyidikan psikologi
adalah terletak pada domain perasaan, khayal, paham, kamauan, ingatan, cinta dan
kenikmatan.[10] Sedangkan akhlak sangat menghajatkan apa yang dibicarakan oleh ilmu jiwa,
bahkan ilmu jiwa adalah pendahuluan tertentu bagi akhlak.[11]
Dengan lain perkataan, ilmu jiwa sasarannya meneliti paranan yang dimainkan dalam
perilaku manusia, karenanya dia meneliti suara hati (dhamir), kamauan (iradah), daya ingatan,
hafalan dan pengertian, sangkaan yang ringan (waham) dan kecenderungan-kecenderungan
(wathif) manusia. Itu semua menjadi lapangan kerja jiwa, yang menggerakan manusia untuk
berbuat dan berkata. Oleh karena itu ilmu jiwa merupakan muqaddimah yang pokok sebelum
mengdakan kajian ilmu ahlak.[12]
Akhlak akan mempersoalkan apakah jiwa mereka tersebut termasuk jiwa yang baik atau
buruk. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa ahlak mempunyai hubungan dengan ilmu jiwa.

Dan bagi cabang ini memberi bekas yang langsung pada akhlak. adat kebiasaan suatu bangsa yang mundur dan bagaimana susunan masyarakat. Masyarakat dalam arti sempit ini tidak mempunyai arti tertentu. Hubungan ilmu ahlak dengan ilmu sosiologi (kemasyarakatan) Secara etimologis sosiologi berasal dari kata socius yang berarti ilmu pengetahuan. Masyarakat dalam arti luas ialah kebulatan dari semua perhubungan didalam hidup masyarakat.[19] 5. sedangkan ilmu jiwa meneropong dri segia apakah yang menyebabkan terjadi perbuatan itu.[17] Mempersoalkan hubungan antara ahlak dengan ilmu sosiologi agaknya sangat signifikan karena ilmu ahlak membahas tentang berbagai perilaku manusia yang ditimbulkan oleh kehendak. dan lain-lain. Ilmu ini menyelidiki akal manusia dari jurusan masyarakat. dunia pendidikan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan perilaku. Jadi sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang berkawan atau di dalam arti luas adalah “ilmu pengetahuan yang berobjek pada masalah hidup bermasyarakat”. Hubungan ilmu ahlak dengan ilmu filsafat . inilah suatu keburukan dalam pendidikan dan begitu pula sebaliknya. Dan akan diarahkan kemana anak didik dan perkembangan kepribadian. bisa dipahami dalam dimensi sempit. sebab. Dimana ilmu ahlak melihat dari segi apa yang sepatutnya dikerjakan manusia. masyarakat mana yang dapat membantu keutamaan atau merintanginya. Hubungan ilmu ahlak dengan ilmu pendidikan Antara ahlak dengan ilmu pendidikan mempunyai hubungan yang sangat mendasar dalam hal teoritik dan pada tatanan praktisnya. misalnya masyarakat mahasiswa. masyarakat tani. masyarakat pedagang.[15] Mempelajari masyarakat manusia yang pertama. juga menyelidiki tentang bahasa. Kondisi anak yang sedemikian rupa dalam interaksi antara anak satu dengan yang lainnya akan saling mempengaruhi juga pada kepribadian anak. Apabila siswa diberi pelajaran “Ahlak”. Perilaku dari masing-masing anak yang berlainan. adat kebiasaan suatu bangsa yang mudur dan bagaimana bekasnya terhadap akal. ahlak seseorang. Dari tenaga pendidik (pengajar) misalnya. Dengan demikian. melebihi dari ilmu jiwa perseorangan. agar siswa memahaminya dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya. Bukan menjadi kekuasaan kita untuk mengetahui keutamaan seseorang dengan tidak mengetahui masyarakatnya.[21] Dengan demikian lingkungan pendidikan mempengaruhi jiwa anak didik. Yakni menyelidiki soal bahasa dan bagaimana bekasnya terhadap akal. Apabila materi pengajaran yang disampaikan oleh pendidik menyimpang dan mengarah keperubahan perilaku yang menyimpang. posisi ilmu pendidikan strategis sekali jika dijadikan pusat perubahan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju perilaku yang baik. tidak semua aspeknya tetapi dalam berbagai aspek yang bentuknya tidak tertentu.[14] 4. agama. bersikap terhadap sesamanya dan penciptanya (Tuhan). dan bagaimana membentuk undang-undang dan pemerintahan dan sebagainya. terdapat dalam ilmu jiwa suatu cabang yang disebut “ilmu jiwa masyarakat” (social psychology).[16] Hidup memasyarakat dapat dipahami dalam pengertian yang luas.[13] Pada masa akhir-akhir ini. pendidikan mengajarkan bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku. Mempelajari semua ini menolong untuk memberi pengertian akan perbuatan manusia dan cara menentukan hukum baik dan buruk. Berbagai ilmu diperkenalkan. perlu memiliki kemampuan profesionalitas dalam bidangnya. Sedangkan dalam arti sempit ialah suatu kelompok manusia yang menjadi tempat hidup bermasyarakat. oleh karena itu.[22] 6. yang tidak dapat terlepas dari kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian ilmu sosiologi. dibutuhkan beberapa unsur dalam pendidikan untuk bisa dijadikan agen perubahan sikap dan perilaku manusia.[18] Demikianlah karena manusia tidak dapat hidup kecuali bermasyarakat dan ia tetap menjadi anggota masyarakat.[20] Lingkungan sekolah dalam dunia pendidikan merupakan tempat bertemunya semua watak. Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah materi pengajaran. dan keluarga. dan bagaimana meningkat keatas.

Ahlak Tasawuf pengenalan. Maka itu tidak dapat jatuh dibawah kekerasan undang-undang. 18 [7] Hamzah Ya’qub. Demikian juga etika. seperti berbuat baik kepada fakir miskin dan perlakuan baik antara suami istri. cit. ( Jakarta : Rajawali Press. Logika : pembahasan tentang cara berfikir cepat dan tepat d. umpamanya dusta dan dengki. Etika (ilmu ahlak). Op. Ilmu hukum tidak mencampuri urusan ini karena ilmu hukum tidak memerintahkan dan tidak melarang kecuali dalam hal menjatuhkan hukuman kepada orang yang menyalahi perintah dan larangannya. 1988) Hal. Akhlak dapat mendorong manusia untuk “jangan berfikir dalam keburukan”. (Jakarta : Raja Grafindo Persada.”jangan mengkhayalkan yang tidak berguna”. cit. bersamaan dengan hukum mencegah pencurian dan pembunuhan. tetapi tidak dapat berkata sesuatu tentang kelanjutannya. 18 .[25] Ilmu hukum dapat berkata : “jangan mencuri. Ibid. Adapun yang memerintahkan untuk berbuat kebaikan adalah akhlak. Perbedaan lainnya adalah bahwa ilmu hukum melihat segala perbuatan dari jurusan buah dan akibatnya yang lahir. dari apa yang diperintahkan atau dicegah olh undang- undang. kini telah merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri. Filsafat memiliki bidang-bidng kajiannya mencakup berbagai diiplin ilmu antara lain : a. (Jakarta : Bulan Bintang. Metafisika : penyelidikan dibalik alam yang nyata b.[26] [1] Zahrudin Ar. Pengantar Studi Ahlak. Hal. karena banyak perbuatan yang baik dan berguna tudak diperintahkan oleh hukum. 15 [3] Asmaran AS. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan pikiran. Etika : pembahsan tentang tingah laku manusia e. 2004) Hal. (Jakarta : Raja Grafindo Persada. Antropologia : pembahasan tentang manusia Dengan demikian jelaslah bahwa etika termasuk salah satu komponen dalam filsafat.. 30-34 [5] Ahmad Bangun Nasution. Rayani Hanum Siregar. sedang ilmu hukum tidak. Demikian pula ada keburukan-keburukan yang samar-samar. Hal. 18 [8]Hamzah Ya’qub. 1985). Rayani Hanum Siregar. Demikian juga beberapa perbuatan yang mendatangkan kemadlaratan tidak dicegah oleh hukum. Sedangkan ahlak. dan keadaanya dalam hal itu bukan seperti pencurian dan pembunuhan. Tujuannya mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaanya. tetapi tidak dapat memerintahkan kepada sipemilik agar mempergunakan miliknya untuk kebaikan. Banyak ilmu-ilmu yang pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang dan akhirnya membentuk disiplin ilmu itu sendiri dan terlepas dari filsafat. Hal. Ilmu hukum dpat menjaga hak milik manusia dan mencegah orang untuk melanggarnya. Pengantar Studi Akhlak. 4 [2] Ahmad amin. (Bandung : Diponegoro.[24] Terkadang untuk melaksanakan undang-undang itu hajat mempergunakan cara-cara yang lebih membahayakan kepada ummat.[23] 7. Op. Hasanuddin Sinaga. Etika Islam Pembinaan Ahlaqulkarimah. seperti mengingkari nikmat dan berkhianat. pemahaman dan pengaplikasiannya. 24 [6] Hamzah Ya’qub. membunuh”. 2013) Hal. 1992). dan ini undang-undang tidak sampai untuk menjatuhkan siksaan kepada pelakunya. Hal. Kosmologi : penyelidikan tentang alam (filsafat alam) c. dalam proses perkembangannya sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam pembahasan filsafat. Theodica : pembahasan tentang ke-Tuhanan f. Hal. Hubungan ilmu ahlak dengan ilmu hukum Pokok pembicaraan mengenai hubungan akhlak dengan ilmu hukum adalah perbuatan manusia. Akhlak memerintahkan untuk berbuat apa yang berguna dan melarang berbuat segala apa yang mudlarat. sedang akhlak menyelami gerak jiwa manusia yang atin (walaupun tidak menimbulkan perbuatan yang lahir) dan juga menelidiki perbuatan yang lahir. 7 [4] Ahmad Bangun Nasution.

Hasanuddin Sinaga. Soetirto. Ibid. (Gajah Mada). Jakarta : Pustaka Panjimas. 1996) Hal. 1997) Hal. Ahmad Bangun. Ibid. 20 [12]Ahmad Musthofa. Hal. Ibid. Asmaran. 1996. Gajah Mada. 1985 Mustofa. Ahmad. Hasanuddin Sinaga. 51-59 [13] Zahrudin Ar. 57-58 [18] Zahrudin Ar. Ibid.60 [22] Ahmad Musthofa. Rahmat. Ya’qub. Ibid. (Jakarta : Pustaka Panjimas. 1985. Jakarta : Rajawali Press. As. Hal. pemahaman dan pengaplikasiannya. Hal. Ibid. Etika (ilmu ahlak). 58 [19] Ahmad amin. 2004. 20 [20] Zahrudin Ar. Ahlak Tasawuf pengenalan. Hal. Ibid. 20 [15] Solardja Ponco Soetirto. Rayani Hanum Siregar. 20-21 [17] Zahrudin Ar. Amin. Ahlak Tasawuf. Hasanuddin Sinaga. 62. 5 [16] Ahmad amin. 60-61 [24] Zahrudin Ar. Hal. Hal. Hal. 61-62 [25] Ahmad amin. Hal. Ibid. Hasanuddin Sinaga. Azas-Azas Sosiologi. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Hamzah. Hal. Bandung : Diponegoro. Hasanuddin Sinaga. Hasanuddin Sinaga.[9]Hamzah Ya’qub. Ibid. Hal. 18 [10] Zahrudin Ar. 22 Rahmat Djatmika. Etika Islam Pembinaan Ahlaqulkarimah. 59-60 [21] Zahrudin Ar. Pengantar Studi Ahlak. . Op. Hal. DAFTAR PUSTAKA Ar. Solardja Ponco. Bandung : Pustaka Setia. Ibid. Zahrudin. 109-110 [23] Zahrudin Ar. 1988. Pengantar Studi Akhlak. 1992. Sistem Ethika Islam (Akhlak Mulia. Hal. Hal. Ibid. Djatmika. Hasanuddin Sinaga. Ahlak Tasawuf. Hasanuddin Sinaga. (Bandung : Pustaka Setia. 57 [14] Ahmad amin. 2004) Hal. Hal. Ahmad. Azas-Azas Sosiologi. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Ibid. 2013. Ibid. 56 [11] Ahmad amin. cit Hal. Hasanuddin Sinaga. Hasanuddin Sinaga. Ibid. 21-22 [26] Zahrudin Ar. Hal. Ibid. 1997. Jakarta : Bulan Bintang Nasution. Sistem Ethika Islam (Akhlak Mulia).