You are on page 1of 1

Balada SBMPTN dan SIMAK

Kata orang untuk bisa mensyukuri hidup, kita harus mengalami yang namanya fase kehilangan,
kesukaran, ataupun keputusasaan. Ini berlaku pula pada keadaan gua waktu itu. Yakni sebelum gua
menemui sebuah kepastian bahwa gua akan diterima di jurusan favorit, atau bahkan untuk sekadar
berharap bisa belajar di perguruan tinggi negeri.

Gua baru sadar betapa ruginya enggan memaksimalkan nilai rapot 5 semester terakhir. Sungguh,
bagaimana tidak? Jalur undangan merupakan jalur yang hanya menegangkan ketika membuka hasil
seleksinya, sedangkan bagi siswa yang memiliki nilai rapor yang tidak memenuhi kriteria, maka mereka
harus juga melalui sebuah jalur keras yang bernama SBMPTN. Tegang saat mengikuti tesnya, dan juga
tegang ketika membuka hasilnya, dan setiap peserta SBMPTN pun pasti telah melalui ketegangan
pengumuman jalur undangan pula, betapa beratnya.

Ada yang bilang bukan orang pintar yang akan lolos di jalur keras bernama SBMPTN, tetapi orang yang
penuh strategi, dan orang tersebut pun juga masih bisa dikalahkan oleh mereka yang selalu beruntung
dalam hidupnya. Keputusan lolos atau tidak lolos hanya ditentukan oleh hasil pengerjaan sedikit soal
selama dua hari. Jelas berbeda dengan seleksi undangan yang berdasarkan pada progress siswa selama
3 tahun. Jika undangan kita hanya perlu menyiapkan rapot, SBMPTN justru menuntut kita
mempersiapkan mental, doa, strategi, materi teknis, fisik, dan otak yang hanya ditentukan selama dua
hari!!

Ada cerita pula tentang seorang kakak kelas yang selalu mendapatkan nilai TO terbaik di bimbelnya.
Namun, ketika hasil ujian tulis keluar, ia dinyatakan tidak lulus. Begitu pula dengan ujian-ujian saringan
lainnya, ia tidak pernah lulus. Padahal ia sudah diprediksi akan lolos mengingat jawabannya yang
acapkali cocok dengan kunci jawaban. Rupanya masalahnya satu, Lembar Kunci Jawabannya ternyata
cacat, sedangkan untuk menukar stoknya sangat terbatas. See? Sepintar apapun orang apabila ia
ditakdirkan untuk gagal maka ia akan mengalami kendala pada hari H, ataupun ketika lembar
jawabannya diperiksa. Untuk itu, doa sangat diperlukan agar kita dilindungi oleh-Nya dari faktor X yang
tidak menguntungkan.

Teknis SBMPTN akhirnya menjadi kendala yang paling gua khawatirkan. Salah menulis kode naskah soal
saja, maka skor akan menjadi sangat kecil, atau bahkan minus banyak karena jawaban kita dipasangkan
dengan kunci yang salah. Hari pertama usai mengikuti tes potensi akademik, gua merasa was-was
andaikata ternyata gua salah menulis kode soal. Yah mungkin kata orang itu tidak mungkin, tetapi entah
kenapa intuisi berkata bahwa gua salah membulatkan nomor kode soal. Berkali-kali gua mencoba
negosisasi dengan panitia agar berkenan memberi izin agar gua bisa membenarkan kode naskah di LJK
yang ada di ruang pengawas, tetapi sayang mereka bergeming tidak membolehkan. Hampir saja gua
merasa gada harapan lagi bakal lolos di SBMPTN ini karena kalau TPA nilainya minus maka nilai nasional
gua otomatis akan menjadi sangat kecil sekali dan tidak akan diterima baik di ITB maupun IPB. Namun,
gua sadar gua ga boleh menjudje sesuatu yang belum pasti. Gua harus maksimalin apa yang masih bisa
dilakukan: Memaksimalkan diri dalam tes Kemampuan dasar dan kemampuan Saintek.

Tes pun usai, gua mencocokan jawaban dengan yang ada di Nurul Fikri, Alhamdulillah mencapai 48% ,
tetapi itu kalo TPA nya ga salah kode, kalau salah? Ah gua terlalu ngeri untuk memikirannya.