You are on page 1of 126

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS

PENETAPAN KADAR VITAMIN A DALAM MINYAK GORENG
SAWIT SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

SLAMET SUKARNO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir ”Pengembangan dan Validasi
Metode Analisis Penetapan Kadar Vitamin A dalam Minyak Goreng Sawit
Secara Kromatografi Cair kinerja Tinggi” adalah karya saya sendiri dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tugas akhir ini.

Bogor, September 2011

Slamet Sukarno
F 252070025

ABSTRACT
SLAMET SUKARNO. The Development and Validation of Method Analysis for
Vitamin A Determination in Palm Oil by High Performance Liquid
Chromatography. Under Direction of FERI KUSNANDAR and HANIFAH
NURYANI LIOE.

The fortification of vitamin A in cooking palm oil is being mandatorily
regulated in 2013. To control the implementation this standard, the laboratory
capacity to analyze vitamin A is required. The vitamin A analysis must be valid,
selective, rapid, easy and practical. The objective of this study was to validate a
modified standardized method of vitamin A analysis by a High Performance
Liquid Chromatography (HPLC).
All validation parameters (liniearity, accuracy, precision, selectivity,
robustness, LOD, and LOQ) met the requirement. Vitamin A in palm oil matrix
could be analyzed by HPLC method by using a mobile phase of acetonitrile:water
(80:20) with flux rate of 1,75 mL/min, and ultraviolet detector at 325 nm. This
condition used a C-18 column.

Keywords: method analysis, vitamin A, HPLC, optimal condition, validation

0. cepat. diameter 4. Dibimbing oleh FERI KUSNANDAR dan HANIFAH NURYANI LIOE. Metode analisis yang dikembangkan oleh peneliti ini berbasis kromatografi. Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dilakukan dengan menggunakan teknik isokratik menggunakan kolom C18 (Waters Xbridge®. Menurut Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang persyaratan mutu minyak goreng sawit. Salah satu kebijakan pemerintah yang ditempuh untuk menanggulangi masalah KVA adalah fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng sawit. distributor dan konsumen. Pengembangan dan Validasi Metode Analisis Penetapan Kadar Vitamin A dalam Minyak Goreng Sawit secara Kromatografi Cair kinerja Tinggi. namun memberikan hasil yang valid. tanpa ekstrasi dan tanpa penguapan pelarut organik. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kondisi optimum untuk analisis vitamin A dalam minyak goreng sawit. Penyakit akibat kurang vitamin A (KVA) merupakan masalah global yang menimpa sebagian besar penduduk di dunia termasuk juga di Indonesia. Tahun 2013 pemerintah akan mengimplementasikan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib minyak goreng sawit yang difortifikasi dengan vitamin A. melakukan validasi metode analisis yang sudah dipilih pada optimasi metode dan melakukan uji coba penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran menggunakan metode yang telah dikembangkan. Namun kelemahan dari metode yang ada adalah kerumitan dalam penyiapan sampel (saponifikasi.0 µm). dengan panjang 250 mm. baik pada tingkat industri. KVA disebabkan oleh kurangnya vitamin A di dalam jaringan yang dapat menimbulkan gangguan secara subklinis atau klinis.8. Teknik penyiapan sampel dilakukan dengan cara melarutkan sampel meng- gunakan campuran n-pentana dan 2-propanol. Parameter kondisi KCKT yang dioptimasi adalah: komposisi fase gerak metanol 100 % dengan laju alir: 0. Oleh karena itu. . perlu dilakukan pengembangan metode analisis penetapan kadar vitamin A minyak goreng sawit yang mudah dan praktis.6 mm ukur an partikel 5. Metode analisis vitamin A dalam minyak goreng sawit masih sulit didapat. ditambahkan larutan butil hidroksi toluena sebagai antioksidan dan tetra-n-butil amonium hidroksida untuk melaku- kan reaksi subsitusi retinil palmitat menjadi retinol. RINGKASAN SLAMET SUKARNO. ekstraksi dan pemekatan atau penguapan pelarut organik yang digunakan). selektif. diantaranya dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sudah banyak yang dikembangkan oleh peneliti terdahulu. Seiring dengan peraturan dan kondisi diatas maka perlu dilakukan pengawasan atau monitoring terhadap kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit. Untuk itu dibutuhkan suatu metode analisis yang valid. mudah dan praktis untuk identifikasi dan penetapan kadar vitamin A. jumlah vitamin A yang harus ditambahkan ke dalam produk tersebut minimal 45 IU/g. namun metode analisis vitamin A dalam produk pangan dengan menggunakan peralatan moderen.6. tanpa proses saponifikasi. khususnya vitamin A dalam minyak goreng sawit. yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi.

99997 dan standar deviasi relatif regresi linier (Vxo) 2.89 IU/g.07 dan 66. 50:50.0 mL/menit.35 IU/g. laju alir 1. asetonitril dan air (100:0.5 dan 1. vitamin A.54 %. 95:5. metanol dan air (97.75. 80:20 dan 75:25) dengan laju alir: 1. Hasil analisis terhadap 4 merek sampel minyak goreng sawit yang beredar di pasaran menggunakan metode analisis hasil pengembangan diperoleh kadar vitamin A berturut-turut adalah: 16.0 mL/menit.5233 IU/mL dengan koefesien regresi (r) 0. dan 25:75) dengan laju alir 1. Hasil pemilihan kondisi optimum yang memberikan skor tertinggi adalah: komposisi fase gerak asetonitril dan air (80:20).87 sampai 1. Metode ini valid yang ditunjukkan dengan kurva kalibrasi dan linieritas pada rentang konsentrasi 0. Kata kunci: metode analisis.1. 90:10.5 mL/menit. validasi. dan 85:15) dengan laju alir 1.75 mL/menit menggunakan detektor ultraviolet pada panjang gelombang 325 nm.4443 IU/mL sampai dengan 13. asetonitril dan metanol (75:25. presisi dengan 3 tingkat konsentrasi dengan nilai % RSD antara 1. 90:10.97. KCKT. Matriks sampel yang terkandung dalam berbagai merek minyak goreng sawit yang beredar di pasaran tidak mengganggu dalam analisis penetapan kadar vitamin A. 29.102.39 %.39. resolusi (Rs).5. 85:15.66 IU/g dan batas kuantisasi (LOQ) 5. 28. 95:5. Kromatogram yang dihasilkan dievaluasi berdasarkan waktu retensi (Rt).5:2.75 mL/menit dan detektor yang digunakan detektor ultraviolet dan detektor fluoresens.84 . selektivitas dan robustness bila diban- dingkan dengan hasil uji presisi yang memberikan nilai yang tidak berbeda bermakna. kondisi optimal. batas deteksi (LOD) 1. jumlah lempeng teoritis (N) dan faktor ikutan (Tf). akurasi dengan 3 tingkat konsentrasi yang memberikan nilai persen pero- lehan kembali antara 96. .

tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. . dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. atau tinjauan suatu masalah. penulisan karya ilmiah. ©Hak Cipta milik IPB. penyusunan laporan. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. penulisan kritik. penelitian.

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR VITAMIN A DALAM MINYAK GORENG SAWIT SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI SLAMET SUKARNO Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi Pada Program Studi Teknologi Pangan SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR .

Nuri Andarwulan. . Ir.Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir: Dr. MSi.

... Lilis Nuraida... Ir....Sc Dr. . Dahrul Syah. Ir... Komisi Pembimbing Dr.Judul Tugas Akhir : Pengembangan dan Validasi Metode Analisis Penetapan Kadar Vitamin A dalam Minyak Goreng Sawit secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Nama Mahasiswa : Slamet Sukarno Nomor Pokok : F252070025 Program Studi : Magister Profesi Teknologi Pangan Menyetujui.. Agr Tanggal ujian: 13 September 2011 Tanggal lulus: .Sc Dr.... Ferif Kusnandar. M. Ir.. Ir. Hanifah Nuryani Lioe.....Sc.... M. MSi (Ketua) (Anggota) Mengetahui Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Magister Profesi Teknologi Pangan Dr.. M...

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen pengajar di Program Studi Teknologi Pangan yang telah mencurahkan pengetahuan kepada penulis selama menjalani kuliah di sekolah pascasarjana Magister Profesi Teknologi Pangan. IPB. MSc selaku Koordinator Program Studi Magister Profesi Teknologi Pangan yang telah membantu. Tak lupa kepada Dra.. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Dr. PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. terima kasih semua. Apt. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Drs. selaku komisi pembimbing yang telah membimbing penulis dengan sabar dalam menyusun tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini belum sempurna. dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan di Indonesia mengenai validasi metode analisis untuk pengujian kimia pangan dan bagi pemerintah dalam rangka pengawasan program fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng sawit. Bogor. orang tua dan keluarga tercinta atas dukungan dan doanya.. Apt. September 2011 Slamet Sukarno . Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Feri Kusnandar. MSi. ibu Yuli dan pak Yanto. Tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Hanifah Nuryani Lioe. MSc. Penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada istri. selaku penguji luar komisi yang telah banyak memberikan masukan dalam penyusunan tesis ini. dan Dr. Tugas akhir ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi pada Program Magister Profesional Teknologi Pangan. Niza Nemara. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di kampus tercinta. Terima kasih yang mendalam penulis ucapkan kepada Dr. Ir. MSi. Lilis Nuraida. memberikan dorongan dan kesempatan yang begitu banyak kepada penulis. MSi selaku Kepala Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional. Tidak lupa terima kasih juga kepada ibu Tika dan ibu Mar yang telah banyak membantu dalam masalah administrasi. penulis ucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya atas dukungannya selama ini. MSi selaku Kepala Bidang Pangan. Terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sejawat di Bidang Pangan Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional terutama kepada ibu Herni. Tema penelitian ini diangkat dari masalah yang dijumpai oleh peneliti dalam pekerjaan sehari-hari. Ir. anak. Siam Subagyo. Juga kepada teman-teman MPTP batch 4. sehingga penulis lain dapat melanjutkan untuk penyempurnaannya. mulai dari awal hingga akhir. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberikan motivasi kepada penulis. Nuri Andarwulan. Ir.

seminar dan tugas-tugas kantor tentang laboratorium kimia pangan dan keamanan pangan telah diikuti oleh penulis selama bekerja di Badan POM RI. Penulis melanjutkan ke program profesi apoteker pada perguruan tinggi yang sama dan menamatkannya pada tahun 1993. Mulai tahun 1993 penulis bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Sintang Kalimantan Barat sampai dengan tahun 1996. Selanjutnya pada tahun 1996 penulis mutasi kerja ke Balai Pengawas Obat dan Makanan di Pontianak hingga tahun 2003. Berbagai pelatihan. Tahun 1985 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Jakarta dan pada tahun yang sama penulis diterima di Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia Depok dan mendapatkan gelar sarjana Farmasi pada tahun 1991. Sejak tahun 2003 hingga sekarang penulis mutasi kerja ke Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional. . RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 3 Oktober 1965 sebagai anak kedua dari ayah Musnindar (almarhum) dan Ibu Hartini. Badan POM RI di Jakarta dan ditempatkan pada Laboratorium Pangan.

.............. 69 5.............. 13 2...................................... 4 II TINJAUAN PUSTAKA 2......................................................2 Alat dan Bahan ........ 71 LAMPIRAN : ……………………………………………………………………….......... 11 2.........3 Metode Penelitian ......................................2 Saran ……...........................................1 Waktu dan Tempat ..................... 2 1.......................................1 Latar Belakang ....................3 Fortifikasi Pangan .................................................................1 Kesimpulan ……………................................... 27 3......................................................................................................................5 Ruang Lingkup Penelitian .......................................... 28 IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………………................ 1 1....................... xv I PENDAHULUAN 1...................4 Metode Analisis Penetapan Kadar Vitamin A ................5 Instrumentasi KCKT ........................... 18 2............................................................................................................................................................ 5 2..........................................................................................................................................................................................2 Perumusan Masalah ..2 Minyak Goreng Sawit ……............................................................ 75 xi ......................................3 Tujuan ......................................................... 4 1..................................................................... 69 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….................................... 27 3...................6 Validasi Metode Analisis ........................................ 3 1..................................................................4 Manfaat .............................. 22 III BAHAN DAN METODE 3......... 41 V KESIMPULAN DAN SARAN 5...................... 8 2.................................................... xi DAFTAR TABEL .............. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ............... xii DAFTAR GAMBAR ....................................................1 Vitamin A ……………..................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .............

...5:2.. Tabel 13 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 48 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril :metanol dengan perbandingan: 75:25........... 8 Tabel 4 RSNI 3 Persyaratan mutu minyak goreng sawit ……………………… 11 Tabel 5 Keberterimaan akurasi berdasarkan persen rekoveri .5 pada kecepatan laju alir 1.. 6 Tabel 3 Angka kecukupan gizi (AKG) vitamin A …………………………….... 80:20 dan 75:25 pada kecepatan laju alir 1....6 mL/menit dan detektor fluoresens ………………………………….5 mL/menit dan detektor dengan xii ... 90:10....... 85:15...... 95:5 dan 97..... 50:50 dan 25:75 pada kecepatan laju alir 1.8 mL/menit dan 0...5 mL/menit dan detektor UV ………………………………................5 mL/menit dan detektor dengan detektor UV …………………………………………………………… Tabel 16 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 50 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan perbandingan: 100:0... 0......0 mL/menit dan detektor UV …………………… Tabel 14 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 49 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril: metanol dengan perbandingan 75:25....0 mL/menit....... 5 Tabel 2 Sifat-sifat kimia fisika retinol dan retinil palmitat ... 95:5.. 50:50 dan 25:75 pada kecepatan laju alir 1......... Tabel 15 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 49 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan perbandingan: 100:0.. 32 Tabel 8 Data hasil uji penetapan aktivitas baku vitamin A ...............6 mL menit dan detektor UV………………………………………………… Tabel 10 Data pengamatan kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks 47 minyak goreng sawit) menggunakan komposisi fase gerak metanol 100 % kecepatan laju alir 1.....0 mL/menit............. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Rumus empiris dan bobot molekul dari vitamin A alkohol (retinol) dan ester vitamin A (ester retinil) ...5 mL/menit dan detektor fluoresens ………………………. 85:15... 25 Tabel 6 Kondisi parameter KCKT untuk optimasi metode …………………… 31 Tabel 7 Penentuan skor untuk penilaian kromatogram ....... 90:10.. 0..8 mL/menit dan 0....... 95:5 dan 97..................... Tabel 11 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 47 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak methanol:air dengan perbandingan: 85:15. 80:20 dan 75:25 pada kecepatan laju alir 1................5:2. 41 Tabel 9 Data pengamatan kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks 47 minyak goreng sawit) menggunakan komposisi fase gerak metanol 100 % kecepatan laju alir 1........... Tabel 12 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 48 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak methanol:air dengan perbandingan: 85:15.. 95:5..0 mL/menit dan detektor fluoresens ………………………....5 pada kecepatan laju alir 1. 90:10..... 90:10...........

.. Jepang: panjang 250 mm.......46 mm dan ukuran partikel 5 µm) ……………... larutan antioksi dan butil hidroksi toluena 2 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 9.. Tabel 19 Data hasil uji kesesuaian sistem (UKS) baku vitamin A ..... 85:15................. 85:15... Tabel 25 Data hasil uji robustness dengan perubahan komposisi fase gerak 63 asetonitril:air (81:19) dan kecepatan laju alir 1... 80:20 dan 75:25 pada kecepatan laju alir 1. Tabel 22 Data uji selektivitas (spesifisitas) vitamin A dalam matriks minyak 61 goreng sawit …………………………………………………………..... Tabel 23 Data hasil uji robustness dengan perubahan penambahan jumlah 62 pereaksi menjadi: n-pentana 3 mL...74 mL/menit …….......... diameter dalam 1.….... Tabel 17 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 50 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan perbandingan: 100:0. 95:5........75 mL/menit dan detektor dengan detektor fluoresens …………………………………………………….. Tabel 21 Data uji akurasi penetapan kadar vitamin A dalam matriks minyak 58 goreng sawit ………………………………………………………….. 90:10...75 mL/menit dan detektor dengan detektor UV …………………………………………………………… Tabel 18 Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak 51 goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan perbandingan: 100:0.......…….5 mL ……………........ Tabel 27 Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit 64 dengan perubahan metode penggunakan kolom C 18 yang mereknya berbeda (kolom merek Shimadzu Shim-pack..................... Tabel 28 Data hasil analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng 67 sawit yang beredar di pasaran ………………………………………… xiii . detektor asetonitril dan air dengan detektor fluoresens ……………….... 95:5....... 52 Tabel 20 Data uji presisi penetapan kadar vitamin A dalam matriks minyak 57 goreng sawit .. larutan antioksidan butil hidroksi toluena 3 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 10.....76 mL/menit …..... Tabel 24 Data hasil uji robustness dengan perubahan pengurangan jumlah 62 pereaksi n-pentana 2 mL......5 mL . 90:10. Tabel 26 Data hasil uji robustness dengan perubahan komposisi fase gerak 63 asetonitril:air (79:21) dan kecepatan laju alir 1.... 80:20 dan 75:25 pada kecepatan laju alir 1.

........................................ butil hidroksi toluena... ester vitamin A (ester retinil) ………………………………………………………………. vitamin E dan beta karoten) dan kromatogram B (baku vitamin A) dalam matriks sampel minyak goreng sawit yang dianalisis menggunakan KCKT kolom C18 pada kondisi optimum dengan komposisi fase gerak yang terdiri dari campuran asetonitril:air (80:20).............. 19 Gambar 3 Reaksi antara vitamin A palmitat dengan tetra-n-butil ammonium 42 hidroksida .............. 5 Gambar 2 Diagram blok sistem KCKT ....................................... Gambar 7 Hubungan antara konsentrasi vitamin A terhadap residual …………. xiv ....................................... laju alir 1.............. Gambar 5 Kurva kalibrasi baku vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit 53 Gambar 6 Hubungan antara konsentrasi vitamin A dengan faktor respon detektor ............................ vitamin D. laju alir 1.... propil galat............................75 mL/menit dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………………………………………………......................................................7 mL/menit dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm………………………………………………….. yang dianalisis menggunakan KCKT kolom C18 pada kondisi optimum dengan komposisi fase gerak yang terdiri dari campuran asetonitril:air (80:20).... Gambar 4 Kromatogram A (blanko minyak goreng sawit yang tidak 46 mengandung vitamin A) dan kromatogram B (baku vitamin A palmitat dalam matriks minyak goreng sawit).. 54 Gambar 8 Kromatogram A (campuran senyawa kimia yang sedang dilakukan 59 uji selektivitasnya: butil hidroksi anisol............. tersier butil hidrokuinon... Gambar 9 Kurva regresi kadar vitamin A terhadap tinggi noise dengan sinyal 60 (S/N) ................................................................ DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Struktur molekul vitamin A alkohol (retinol)....

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Contoh menghitung aktivitas baku vitamin A .. 76 Lampiran 2 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.5 mL/menit (memberikan tekanan 200 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….8 mL/menit (memberikan tekanan 64 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….8 mL/menit (memberikan tekanan 64 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………………. laju alir 0... 79 Lampiran 8 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (85:15) laju alir 1.. 78 Lampiran 6 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak methanol 100 %... 77 Lampiran 3 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.0 mL/menit (memberikan tekanan 78 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………..... laju alir 0... 80 Lampiran 9 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (85:15) laju alir 1... laju alir 0.. 77 Lampiran 4 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.5 mL/menit (memberikan tekanan 176 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………….6 mL/menit (memberikan tekanan 45 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………....5 mL/menit (memberikan tekanan 200 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………....6 mL/menit (memberikan tekanan 45 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………………………….... 79 Lampiran 7 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %. 78 Lampiran 5 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak methanol 100 %.0 mL/menit (memberikan tekanan 78 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………………………….. 80 Lampiran 10 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (90:10) laju alir 1. laju alir 1.. 81 xv .. laju alir 0.... laju alir 1....

5:2. 82 Lampiran 14 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (97.0 mL/menit (memberikan tekanan 49 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….0 mL/menit (memberikan tekanan 54 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………………………….5 mL/menit (memberikan tekanan 132 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………….. 85 Lampiran 19 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (50:50) laju alir 1.5) laju alir 1. 83 Lampiran 16 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (75:25) laju alir 1..5 mL/menit (memberikan tekanan 132 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….5:2. 84 Lampiran 18 KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (50:50) laju alir 1. 84 Lampiran 17 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (75:25) laju alir 1. 86 xvi . 82 Lampiran 13 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (95:5) laju alir 1. 85 Lampiran 20 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (25:75) laju alir 1.0 mL/menit (memberikan tekanan 63 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………….5 mL/menit (memberikan tekanan 147 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………. 81 Lampiran 12 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (95:5) laju alir 1.5) laju alir 1.0 mL/menit (memberikan tekanan 49 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………….0 mL/menit (memberikan tekanan 54 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………. 83 Lampiran 15 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (97.Lampiran 11 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (90:10) laju alir 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 176 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….5 mL/menit (memberikan tekanan 147 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….

5 mL/menit (memberikan tekanan 71 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………………………….5 mL/menit (memberikan tekanan 75 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………………..... 90 Lampiran 29 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1.. 88 Lampiran 25 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1.. 86 Lampiran 22 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1.....5 mL/menit (memberikan tekanan 94 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………………. 91 xvii . 88 Lampiran 26 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1... 89 Lampiran 27 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1.... 89 Lampiran 28 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 75 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………. 87 Lampiran 24 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1.. 90 Lampiran 30 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril : air (80:20) laju alir 1..0 mL/menit (memberikan tekanan 63 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………...5 mL/menit (memberikan tekanan 85 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………....5 mL/menit (memberikan tekanan 71 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………………………….5 mL/menit (memberikan tekanan 103 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………...5 mL/menit (memberikan tekanan 94 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm …………………………………………...5 mL/menit (memberikan tekanan 85 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………………. 87 Lampiran 23 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1.Lampiran 21 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (25:75) laju alir 1...

.......75 mL/menit (memberikan tekanan 100 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ……………………….75 mL/menit (memberikan tekanan 83 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………..... 94 Lampiran 38 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1..... 95 Lampiran 40 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1.......75 mL/menit (memberikan tekanan 90 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………………………….......75 mL/menit (memberikan tekanan 83 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………….........75 mL/menit (memberikan tekanan 90 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ……………………….... 93 Lampiran 35 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1.....5 mL/menit (memberikan tekanan 113 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ……………………….............5 mL/menit (memberikan tekanan 113 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………...75 mL/menit (memberikan tekanan 111 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ………………………………… 96 xviii .. 94 Lampiran 37 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1.Lampiran 31 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1.. 95 Lampiran 39 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1.75 mL/menit (memberikan tekanan 100 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………............5 mL/menit (memberikan tekanan 103 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………........... 93 Lampiran 36 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1........ 92 Lampiran 33 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1....... 92 Lampiran 34 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril : air (100:0) laju alir 1...... 91 Lampiran 32 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1..................

..75 mL/menit (memberikan tekanan 130 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………..Lampiran 41 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1... 106 xix ..............................75 mL/menit (memberikan tekanan 130 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm ……………………....... 98 Lampiran 45 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1........ 105 Lampiran 54 Data hubungan antara konsentrasi vitamin A terhadap tinggi noise dengan tinggi sinyal (S/N) dan perhitungan batas deteksi (LOD) dan batas kuantisasi (LOQ) ………………………………………........ 96 Lampiran 42 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1...... 98 Lampiran 46 Data kurva kalibrasi baku vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit .......... 99 Lampiran 48 Data hubungan antara konsentrasi vitamin A dengan faktor respon detektor ……………………………………………………………........... 97 Lampiran 43 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air asetonitril:air (80:20) laju alir 1................ 99 Lampiran 47 Contoh menghitung faktor respon detektor ……………………….......................…………. 102 Lampiran 51 Contoh menghitung RSD Horwitz ……………………………….................. 104 Lampiran 53 Contoh cara menghitung uji t …………………………………….75 mL/menit (memberikan tekanan 111 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………....................75 mL/menit (memberikan tekanan 123 kgf) dengan detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm ………………………...75 mL/menit (memberikan tekanan 123 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm …………………………………................... 101 Lampiran 50 Contoh menghitung kadar vitamin A dalam sampel (pada uji presi- si) ………………………………………………………………….. 100 Lampiran 49 Data hubungan antara konsentrasi vitamin A dengan residual ..... 97 Lampiran 44 Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1.............................. 103 Lampiran 52 Contoh menghitung akurasi vitamin A ........

70 µmol/L (10 -20 µg/dL).6 % anak di atas usia satu tahun mengalami kekurangan vitamin A. sedangkan di Indonesia sekitar 14. Tercatat pula 25 - 30 % kematian bayi dan balita di dunia disebabkan oleh kekurangan vitamin A.1 LATAR BELAKANG Kesehatan masyarakat dunia dewasa ini bukan dihadapkan pada masalah defisiensi gizi makro. kurang vitamin A subklinis ditandai dengan nilai retinol serum 0. 2010) Penyakit akibat kurang vitamin A (KVA) disebabkan oleh kurangnya vitamin A di dalam jaringan yang dapat menimbulkan gangguan secara subklinis maupun klinis. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2009 menunjukkan lebih dari sembilan juta anak-anak Indonesia dan satu juta perempuan menderita kekurangan vitamin A. 2011). Sampai saat ini. KVA klinis terjadi bila retinol serum kurang dari 0. tetapi pada masalah defisiensi gizi mikro.35 – 0. sehingga dapat merusak kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program penanggulangan kekurangan vitamin A di Indonesia dilakukan dengan 3 cara yaitu: diversifikasi konsumsi pangan.35 µmol/L (kurang dari 10 µg/dL) dengan gejala antara lain buta senja. Menurut WHO. gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) dan kekurangan vitamin A (KVA) (Martianto. 2011). masih banyak yang mengalami masalah kekurangan zat gizi mikro. terutama yang berpenghasilan rendah baik di perkotaan dan pedesaan. Gejala KVA subklinis ditandai dengan gangguan diferensiasi sel dan gangguan pada sistem imunitas. suplementasi vitamin A dosis tinggi dan fortifikasi pangan (Martianto. penduduk Indonesia. gangguan pertumbuhan dan xeroptalmia (Smith.05 µmol/L masih dijumpai gejala sub- klinis. PENDAHULUAN 1. Kekurangan zat gizi mikro berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Subdit Bina Gizi Mikro Direktorat Bina Gizi Masyarakat juga mengemukakan bahwa masalah kekurangan gizi di kalangan masyarakat Indonesia terjadi pada setiap siklus kehidupan (World Bank 2006). (Krisnamurthi. Strategi yang digunakan . meskipun pada kadar retinol serum sampai 1. I. Masalah defisiensi gizi mikro yang yang utama dihadapi adalah anemia gizi besi. 2000).

2. Tahun 2004-2011 : dilaksanakan studi konsumsi (intake minyak goreng). fortifikasi pangan dan suple- mentasi. dan (4) pemerintah akan menetapkan standar yang mewajibkan kepada seluruh produsen minyak goreng sawit untuk melakukan fortifikasi vitamin A ke dalam produknya. Tahun 2011-2012 SNI wajib untuk minyak goreng sudah selesai disiapkan. (3) salah satu kebijakan yang ditempuh adalah fortifikasi vitamin A dalam minyak goring. cepat. stabilitas. Tahun 2013-2014 dilaksanakan monitoring dan evaluasi dampak forti- fikasi wajib. (2) untuk mengurangi penyakit akibat KVA. effectiveness. maka perlu dilakukan pengawasan atau monitoring terhadap pemenuhan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit. mudah .2 PERUMUSAN MASALAH Seiring dengan peraturan dan kondisi di atas. 4. 2 untuk menanggulangi masalah kekurangan vitamin A harus tepat untuk menjawab kebutuhan dan harus menggunakan sistem dan teknologi yang tersedia. Tahun 2011-2012 selesai dilaksanakan capacity building. Tahun 2013 diimplementasikan SNI Wajib minyak goreng yang difortifikasi. 5. distributor dan konsumen. Fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng sawit perlu dilakukan dengan alasan (1) produk pangan di Indonesia sebagian besar menggunakan minyak goring. efficacy. Target pencapaian persiapan program fortifikasi minyak goreng sawit dengan vitamin A adalah sebagai berikut: 1. Tahun 2011-2013 dilaksanakan pilot project di beberapa wilayah (dimulai di Jawa Timur dan Jawa Barat). 1. 6. maka perlu adanya kebijakan yang tepat untuk menanggulangi masalah KVA. Kombinasi beberapa intervensi mencakup promosi pemberian air susu ibu (ASI). baik pada tingkat industri. 3. Untuk itu dibutuhkan suatu metode analisis yang valid. modifikasi makanan (misalnya meningkatkan ketersediaan pangan dan meningkatkan konsumsi pangan). selektif.

yaitu menentukan komposisi fase gerak dan laju alir yang cocok dalam pemisahan vitamin A dari komponen-komponen yang lain menggunakan KCKT. Melakukan pengembangan metode analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit menggunakan KCKT menggunakan kolom C 18. 1. perlu dikembangkan metode analisis untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit dengan menggunakan KCKT tanpa proses saponifikasi. meskipun metode yang akan digunakan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal. Namun analisis vitamin A dalam produk pangan sulit dilakukan dengan metode yang tersedia. dapat dipercaya dan dapat digunakan untuk analisis rutin. Suatu metode baru atau metode yang dimodifikasi dapat digunakan bila telah dilakukan validasi yang kondisinya disesuaikan dengan kondisi labora- torium dan peralatan yang tersedia.3 TUJUAN PENELITIAN 1. Oleh karena itu. buku teks atau buku resmi (Indra- yanto. Panjangnya proses persiapan tersebut menyebab- kan hasil diperoleh kurang baik. maka metode ini dianggap valid. ekstraksi dan pemekatan atau penguapan pelarut organik yang digunakan untuk ekstraksi. Di antara metode resmi atau metode standar pengujian vitamin A yang ada saat menggunakan metode analisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode yang ada tersebut adalah dalam tahap persiapan sampel yang harus melewati tahapan saponifikasi. Apabila dari hasil validasi metode tersebut sudah memberikan hasil yang baik. ekstraksi dan penguapan pelarut organik. karena matriks pangan yang kompleks dan adanya bahan tambahan yang ditam- bahkan dalam produk pangan. 1994). 3 dan praktis untuk mengidentifikasi dan menetapkan kadar vitamin A. khususnya vitamin A dalam minyak goreng sawit. pereaksi atau kondisi lain yang menyebabkan metode tersebut tidak dapat diterapkan secara keseluruhan. dan detektor yang cocok (detektor ultra violet atau . Validasi metode juga perlu dilakukan bila dilakukan penyeder- hanaan atau perbaikan metode oleh karena ada perbedaan dan keterbatasan alat.

1. selektivitas. 2. dan uji coba metode tersebut untuk penetapan kadar vitamin A dalam berbagai merek minyak goreng sawit yang beredar di pasaran. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan baru bagi peneliti dan memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan di Indonesia mengenai validasi metode analisis pangan. . 4 detektor fluoresens) pada penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit. selektif. sehingga dapat dijadikan kontrol yang lebih baik terhadap industri pangan dalam mensukseskan fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng sawit. akurasi.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian laboratorium yang dilakukan dengan cara: mencari komposisi fase gerak. Melakukan uji coba metode yang telah dikembangkan dan telah divali- dasi untuk membuktikan bahwa metode tersebut dapat digunakan untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran tanpa adanya gangguan matriks sampel yang ada di dalam berbagai merek minyak goreng sawit. batas deteksi dan batas kuantisasi. sehingga didapatkan suatu metode untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit. 3. presisi. maka dilakukan validasi terhadap metode tersebut dengan parameter validasi meliputi: linieritas. 1. cepat. mudah dan praktis) untuk analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng. Melakukan validasi metode analisis hasil pengembangan untuk membuk- tikan bahwa metode yang telah dikembangkan tersebut valid. robustness. laju alir. dan detektor yang digunakan dalam pemisahan vitamin A dengan komponen-komponen lainnya menggunakan KCKT. Untuk membuktikan kehan- dalan metode yang didapat.4 MANFAAT PENELITIAN Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan metode analisis yang handal (valid.

CH3 CH3 H3C CH3 R O CH3 Gambar 1. 2007). vitamin A merupakan terminologi nama generik yang menyatakan semua senyawa retinoid dan karotenoid (prekursor/ pro vitamin A) yang mempunyai aktivitas biologis seperti retinol. Menurut Almatsier (2009). (2008) sifat-sifat kimia-fisika dari retinol dan retinil palmitat dapat dilihat pada Tabel 2. Menurut CE (2007) struktur kimia. TINJAUAN PUSTAKA 2. ester retinil dan asam retinoat. Struktur molekul vitamin A alkohol (retinol) dan ester vitamin A (ester retinil) Tabel 1. Bentuk kimiawi senyawa retinoid berupa retinol (vitamin A bentuk alkohol). retinal (aldehida). II. Menurut Eitenmiller dkk. retinil asetat.5 Retinil propionat CO-C2H5 C23H34O2 342. Rumus empiris dan bobot molekul dari vitamin A alkohol (retinol) dan ester vitamin A (ester retinil) Nama zat R Rumus empiris Bobot Molekul Retinol H C20H30O 286.5 Retinil palmitat CO-C15H31 C30H40O2 524. rumus empiris dan bobot molekul dari: retinol. retinil propionat dan retinil palmitat dapat dilihat pada Gambar 1 dan Tabel 1.5 Retinil asetat CO-CH3 C22H32O2 328.1 VITAMIN A Vitamin A merujuk pada semua senyawa isoprenoid dari produk- produk hewani yang mempunyai aktivitas all trans-retinol ( Rohman dan Ibnu.9 Sumber: CE (2007) .

.E.E. propanol. kloroform. vitamin A sebanding dengan: 1. asam.300 μg All- trans retinol.E. namun mempunyai sifat yang mudah teroksidasi oleh udara dan akan rusak bila dipanaskan pada suhu tinggi bersama udara. hidrokarbon. minyak. Aktifitas ester retinol lain dihitung secara stoikiometris. sehingga didapat 1 IU vitamin A sebanding dengan aktifitas: 0. (etanol) 325 nm 325 nm E (1%. sehingga didapat 1 mg R. 1. sebanding dengan aktifitas 1 mg All-trans retinol. Larut dalam: metanol. dan alkali. Aktifitas retinol ester lain dihitung secara stoikiometris. sinar. minyak Absorbsi UV: λ maks.1 mg R. 0. Sifat-sifat Kimia Fisika Retinol dan Retinil Palmitat Sifat Kimia Fisika Retinol Retinil Palmitat Bentuk Kristal kuning Kristal.359 μg all-trans-retinyl propionate. eter. Menurut CE (2007). Unit Internasional atau International Units (IU) juga digunakan untuk menyatakan aktifitas vitamin A. 6 Tabel 2. (1991) di dalam Hariyadi (2011) vitamin A yang difortifikasikan ke dalam minyak goreng stabil selama 6-9 bulan jika disimpan dalam wadah tertutup dan terlindung dari cahaya.195 mg all-trans-retinyl propionate dan 1. dan 0. etanol. eter. Menurut Favaro dkk. 1 mg R.550 μg all- trans palmitate.88 Kelarutan Larut dalam: metanol.). hidrokarbon.46 524. etanol.E. 1cm) 1845 940 Flourosensi: λ eksitasi 325 nm 325 nm λ emisi 470 nm 470 nm Sumber: Eitenmiller dkk (2008) Vitamin A pada umumnya stabil terhadap panas. propanol. sebanding dengan 3333 IU. vitamin A relatif stabil setelah proses penggorengan. amorf atau cairan kental berwarna kuning Rumus Kimia C20H30O C36H60O2 Bobot Molekul 286.832 mg all-trans palmitate. kloroform. 2008). dan lemak yang sudah tengik (Winarno.147 mg all-trans-retinyl acetate. 1 IU Vitamin A ekivalen dengan aktivitas 0. aktifitas vitamin A dinyatakan dalam Retinol Ekivalen (R.334 μg all- trans-retinyl acetate.

sehingga harus dipenuhi dari luar. karena zat gizi ini tidak dapat disintesa oleh tubuh. Fungsi vitamin A didalam tubuh adalah untuk diferen- siasi sel penglihatan. mempengaruhi indra perasa. dilarutkan dengan menggunakan 5 mL pentana dan diencerkan dengan 2-propanol hingga diperolah konsentrasi 10 - 15 IU/mL. Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan dan yang lebih penting lagi vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh. nafsu makan. Vitamin A merupakan zat gizi yang penting (esensial) bagi manusia. Pengukuran absorbansi dilakukan pada panjang gelombang yang menghasilkan serapan maksimum pada 326 nm. spermatogenesis. Aktivitas vitamin A dihitung dalam satuan internasional unit (IU) per gram dengan persamaan: A326 = Absorbansi pada panjang gelombang 326 nm V = total volume pengenceran untuk mendapatkan kadar 10 – 15 IU/mL 1900 = faktor untuk mengkonversi absorbansi spesifik ester retinol menjadi IU per gram m = bobot substansi yang di uji (dalam gram). perkembangan embrio. campak atau penyakit infeksi lainnya maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah men- jadi parah. kesehatan dan pertumbuhan anak (Depkes. aktivitas vitamin A palmitat ditetapkan dengan cara menimbang 25-100 mg vitamin A dengan akurasi 0. imunitas. 7 Aktifitas vitamin A ditentukan dengan tujuan untuk menghitung jumlah yang dibutuhkan pada pembuatan konsentrat. pentingnya vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup. dibutuhkan dalam pertumbuhan tulang dan . untuk pertumbuhan. pendengaran. 1998). Menurut BP Commision (2009). Dengan adanya bukti- bukti yang menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan angka kematian. 2009a).1 %. Anak- anak yang cukup mendapatkan vitamin A. sehingga tidak membahayakan jiwa anak. serta pertumbuhan (Bagriansky dan Ranum. bila terkena diare. maka selain untuk mencegah kebutaan. Fungsi lain dari vitamin A adalah membantu memelihara penglihatan di dalam gelap dan mencegah rabun senja serta xeropthalmia.

5-1 400 Anak-anak 1-2 400 2-6 450 6-10 500 Pria 10-12 500 12-70 600 Wanita 10-70 500 Wanita Hamil 800 Wanita Menyusui 0-6 bulan 850 > 6 bulan 850 Sumber: FAO/WHO (2001) dalam Muhilal dan Sulae- man (2004) 2. Jalal dan Hardiansyah. 8 perkembangan gigi. diperlukan untuk pembentukan tiroksin dan pencegahan goiter.2 MINYAK GORENG SAWIT Menurut Badan POM (2006). Penggunaan setiap harinya adalah sekitar 0. 2002). Karakteristik dasar minyak goreng meliputi: . Angka kecukupan gizi untuk vitamin A biasanya dinyatakan dalam satuan retinol ekivalen (RE).5 375 0. Konsumsi vitamin A yang baik adalah jika setengahnya bisa disimpan didalam tubuh (Muhilal. sebagai koenzim dalam sintesis glikoprotein. Angka kecukupan gizi vitamin A rata-rata yang dianjurkan perhari dapat dilihat pada Tabel 3.5% dari persediaan tersebut. Tabel 3. Angka Kecukupan Gizi Vitamin A Kelompok Usia (tahun) Angka Kecukupan (RE) Bayi 0-0. memiliki fungsi seperti hormon steroid. 1998). serta sintesis normal dari glikogen (Berdarnier dkk. Status vitamin A dikatakan baik jika konsentrasi vitamin A dalam hati sebesar 20 mikrogram/gram. minyak goreng (frying oil atau frying fat) adalah: minyak dan lemak yang digunakan untuk menggoreng yang diperoleh dari proses rafinasi/pemurnian (refining/purifying) minyak nabati dalam bentuk tunggal atau campuran. Satu RE setara dengan 1 mikrogram retinol atau 6 mikrogram beta karoten atau 12 mikrogram beta karoten campuran. sintesis protein dan sintesis kortikosteron dari kolesterol.

titik leleh 33 oC hingga 39 oC dan bilangan peroksida tidak lebih dari 10 mek O2/kg (Badan POM.\ Minyak sawit (palm oil) berbeda dengan minyak inti sawit (palm kernel oil). kadar asam lemak bebas tidak lebih dari 0. Secara umum minyak kelapa sawit mempunyai karakteristik warna kuning pucat sampai jingga tua. 2006). Minyak olein kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Oilein) adalah fraksi cair minyak kelapa sawit berwarna kekuningan yang diperoleh dari hasil proses rafinasi/pemurniaan minyak olein kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) atau fraksinasi minyak kelapa sawit yang sudah dirafi- nasi (RBD palm oil). 9 kadar air tidak lebih dari 0. . bilangan iod 50 Wijs hingga 55 Wijs. bilangan penyabunan 194 mg KOH/g hingga 202 mg KOH/g dan bilangan peroksida tidak lebih dari 10 mek O2/kg (Badan POM. Minyak kelapa sawit diperoleh melalui proses ekstraksi secara rendering atau penge- presan dan proses pemurnian yang terdiri atas pengendapan dan pemisahan gum. netralisasi. bilangan iod tidak kurang dari 56 Wijs. 2006). 2006). Karakteristik dasar minyak kelapa sawit meliputi: bilangan penyabunan 190 mg KOH/g.15 %. Minyak stearin kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Stearin) adalah fraksi padat minyak kelapa sawit yang berwarna kekuningan yang diperoleh dari hasil proses rafinasi/pemurnian stearin kelapa sawit mentah (Crude Palm Stearin) atau fraksinasi minyak kelapa sawit yang sudah dirafinasi (RBD palm oil). Minyak kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/RBDPO) adalah: minyak yang diperoleh dari hasil proses rafinasi/pemurniaan minyak kelapa sawit mentah. Karakteristik dasar minyak olein kelapa sawit meliputi titik leleh/lebur tidak lebih dari 30oC. Minyak sawit diperoleh dari daging buah kelapa sawit bagian mesokarp. Karakteristik dasar minyak olein kelapa sawit meliputi: titik leleh/lebur tidak kurang dari 44oC dan bilangan iod tidak lebih dari 48 Wijs (Badan POM. sedangkan minyak inti sawit diperoleh dari biji buah kelapa sawit. pemucatan dan deodorisasi.3 %. kadar asam lemak linoleat tidak lebih dari 2 % dan bilangan peroksida tidak lebih dari 10 mek O2/kg.

Kehilangan beta karoten yang terkandung dalam minyak kelapa sawit banyak terjadi selama proses-proses tersebut berlangsung (Muchtadi. 10 memiliki aroma yang sedap dan stabil atau tahan terhadap ketengikan (Winarno. minyak kelapa sawit dapat diubah menjadi produk yang bernilai tinggi. Menurut Kemperin (2010). dengan atau tanpa pengubahan kimiawi. 1996). minyak kelapa sawit yang tidak mengalami proses penjernihan dan bleaching memiliki warna merah karena banyak mengandung karoten (α dan β karoten) dalam jumlah yang banyak. Menurut Martianto. Proses rafinasi dan fraksinasi menghasilkan minyak yang tidak berwarna. Komposisi minyak goreng sawit terdiri atas bahan baku minyak sawit dan bahan tambahan pangan (BTP) yang penggunaannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku untuk diizinkan penggunaannya pada minyak goreng sawit. walaupun memiliki kandungan karotenoid yang tinggi. Marliyati dan Komari (2007). Melalui proses rafinasi. pendinginan dan telah melalui proses pemurnian dengan penambahan vitamin A. minyak kelapa sawit merah tidak dapat diterima dalam banyak penggunaan karena warna merah yang kuat dan rasanya yang sangat khas. 2008).5 mg/mL minyak kelapa sawit. minyak goreng sawit adalah: bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida berasal dari minyak sawit. Menurut Olson (1990). termasuk hidrogenasi. jernih dan bersih dari kotoran yang dikenal dengan RBD oil. Deodorized). Adapun persyaratan mutu minyak goreng sawit sesuai dengan RSNI 3 Minyak goreng sawit 2010 dapat dilihat pada Tabel 4 . Bleached. pemucatan dan penghilangan bau atau disingkat RBD (Refined. Kandungan karotenoid sebanyak 0. Kebutuhan vitamin A pada anak usia pra-sekolah dapat dicukupi dari konsumsi 7 mL minyak kelapa sawit merah per hari.

Fortifikasi yang dilakukan secara sukarela adalah fortifikasi yang dilakukan oleh produsen untuk meningkatkan nilai tambah produknya. 5. 0. 0. Bahan pangan harus dikonsumsi secara rutin dalam jumlah yang tetap. kekurangan zat gizi mikro dapat diatasi dengan berbagai pendekatan seperti diversifikasi pangan. suplementasi dan fortifikasi pangan.2 Timbal (Pb) mg/kg maks.3 Warna (merah/kuning) (Lovibond 5.2 Rasa . 0.05 8 Cemaran arsen (As) mg/kg maks. zat besi. . 0. 10* 5 Vitamin A IU/g min.3 Timah (Sn) mg/kg maks. 0. 45* 6 Minyak pelikan .1 Kadmium (Cd) mg/kg maks.1 Catatan: * pengambilan contoh di pabrik ** dalam kemasan kaleng 2.4 Raksa (Hg) mg/kg maks.0/50 cell) 2 Kadar air dan bahan menguap % (b/b) maks. Fortifikasi dapat bersifat sukarela maupun wajib.3 FORTIFIKASI PANGAN Menurut Soekirman (2003). 2. Bahan pangan harus dikonsumsi oleh semua atau sebagian besar populasi sasaran. negatif 7 Cemaran logam 7. Normal 1. Normal 1. dan vitamin A. 11 Tabel 4 RSNI 3 Persyaratan Mutu Minyak Goreng Sawit No.0** 7.1 7.1 Bau . 40.3 sebagai asam palmitat) 4 Bilangan peroksida mek O2/kg maks. Kriteria Uji Satuan Persyaratan 1 Keadaan 1. Fortifikasi adalah penambahan satu atau lebih zat gizi mikro tertentu ke dalam bahan pangan dengan tujuan utama adalah mening- katkan mutu gizi makanan.1 3 Asam lemak bebas (dihitung % maks. sedangkan fortifikasi wajib merupakan fortifikasi yang diharuskan dan terdapat dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah dengan tujuan melindungi rakyat dari kurang gizi.25 maks. 0. Bahan pangan yang dapat dilakukan fortifikasi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu: 1.2 7. Target utama dari fortifikasi wajib ini adalah masyarakat miskin yang umumnya menderita kekurangan gizi mikro seperti kekurangan yodium.0/250.

Rasa. tersedianya teknologi fortifikasi untuk bahan pangan yang dipilih dan bahan pangan tersebut tetap aman untuk dikonsumsi dan dan tidak membahayakan kesehatan. (2) Untuk mengurangi penyakit akibat KVA. (3) Minyak goreng (lipida) membantu proses absorbsi dan pemanfaatan vitamin A. fortifikasi vitamin A pada minyak goreng dapat dilakukan dengan alasan: (1) Vitamin A dan pro-vitamin A sangat mudah larut dalam minyak goreng. . Harga bahan pangan hasil fortifikasi tidak naik secara berarti. Menurut Hariyadi (2011). dan (4) Pemerintah akan menetapkan standar yang mewajibkan kepada seluruh produsen minyak goreng sawit untuk melakukan fortifikasi vitamin A ke dalam produknya. sehingga dapat dipakai sebagai alternatif bahan pangan untuk difortifikasi. penampakan dan bau bahan pangan yang difortifikasi tidak boleh berubah. maka perlu adanya kebijakan yang tepat untuk menanggulangi masalah KVA. (3) Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng. dan (6) Biaya fortifikasi terjangkau. minyak goreng merupakan bahan pangan yang diproduksi secara terpusat dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng sawit perlu dilakukan dengan alasan: (1) Produk makanan Indonesia sebagian besar menggunakan minyak goreng. pengangkutan dan penyimpanan 5. pemrosesan. 12 3. (5) Teknologinya tersedia dan sederhana. (4) Minyak goreng digunakan oleh masyarakat luas. 4. (2) Vitamin A umumnya lebih stabil dalam minyak goreng dari pada dalam bahan pangan lainnya. Menurut Martianto (2011). Menurut Soekirman (2003) syarat-syarat bahan pangan yang akan dilakukan fortifikasi adalah produsen yang memproduksi dan mengolah bahan pangan tersebut terbatas jumlahnya. Zat yang digunakan untuk fortifikasi harus stabil pada kondisi yang ekstrim seperti pemasakan.

eter.4. 2008). lalu dilarutkan kembali dengan pelarut lainnya seperti metanol atau etanol dan selanjutnya siap untuk ditetapkan kadarnya menggunakan instrumen seperti: spektrofotometri atau kromatografi cair kinerja tinggi. Beberapa pengganggu terutama pada minyak ikan adalah vitamin A2. campuran etanol dengan tetra hidrofuran (USP Convention 2008). kitol.4. 2008).4 METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR VITAMIN A Secara umum pengujian vitamin A dalam bahan pangan terdiri atas 3 tahap yaitu: tahap saponifikasi. tahap pemekatan atau penguapan pelarut organik dan tahap pengukuran menggunakan instrumen.1 Metode Spektrofotometri 2. Saponifikasi dilakukan dengan menggunakan kalium hidroksida dengan pelarut campuran etanol dan air. Tahap ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut organik seperti petroleum eter (Eitenmiller.1 Pengukuran secara langsung. tahap ektraksi. butil hidroksi toluena) dan pemanasan pada suhu 60–80oC (Eitenmiller. anhidro vitamin A dan asam polien. penambahan zat anti oksidan (asam askorbat. 2007). Pada vitamin A sintetik senyawa pengganggunya adalah senyawa-senyawa antara (Rohman dan Sumantri. Spektrum absorbsi ultraviolet vitamin A dan vitamin A asetat mempunyai absorbsi maksimal pada panjang gelombang antara 325 sampai 328 nm dalam berbagai pelarut. yaitu satu disebelah kanan λmaks dan satunya pada sebelah kiri λmaks. Absorbansi pada λmaks dikoreksi terhadap senyawa pengganggu dengan menggunakan formula koreksi karena senyawa-senyawa ini akan ikut menyerap pada daerah UV.1. Metode penetapan kadar vitamin A menggunakan instrumen akan dijelaskan sebagai berikut: 2. Selanjutnya dilakukan pemekatan atau penguapan terhadap pelarut organik yang digunakan. . Larutan vitamin A dalam isopropanol absorbansinya diukur pada panjang gelombang maksimal (λmaks) dan pada dua titik. 13 2. pirogalol.

4 Penentuan secara simultan retinol (vitamin A1) dan dehidro- retinol (vitamin A2) Prinsip dari metode ini adalah perbedaan panjang gelombang maksimum dan nilai ekstinsi dari masing-masing vitamin A1 dan A2.4. Potensi kehilangan terhadap all-trans dan 9-cis isomer dapat terjadi. Vitamin A1 mempunyai panjang gelombang maksimum pada 326 nm sedangkan vitamin A2 mempunyai panjang gelombang maksimum pada 351 nm. sehingga perlu dilakukan dua kali pengukuran nilai antimon (III) klorida.1.4. Pengukuran absorbansi pada 358 nm. 377 nm dan 399 nm dalam benzen merupakan cara yang baik untuk mengetahui kemurnian akseroftol yakni dengan melihat bahwa A399 nm/A377 nm sebesar 0.4.3 Metode Maleat anhidrat untuk isomer vitamin A Maleat anhidrat bereaksi dengan all-trans dan 9-cis isomer vitamin A menghasilkan senyawa yang tidak memberikan warna biru ketika diuji dengan menggunakan antimon (III) klorida. 2. pertama untuk isomer campuran dan setelah penghilangan kedua isomer tersebut. Metode Budowski dan Bondi. akseroftol diubah menjadi anhidroakseroftol dalam pelarut benzen dengan katalisator asam toluen-p-sulfonat pada temperatur kamar.868 dan A358 nm/A377 nm sebesar 0. 2007).1. maka komposisi isomer dalam campuran dan potensi biologisnya dapat ditentukan. Dari perbedaan nilai pengukuran ini.2 Pengubahan retinol atau akseroftol menjadi anhidroakseroftol Akseroftol mudah diubah menjadi anhidroakseroftol dengan bantuan sejumlah kecil asam mineral atau asam organik kuat. . 14 2.1. Reaksi ini dapat dihentikan dengan penambahan alkali. Kenaikan absorbansi pada 399 nm merupakan hasil dehidrasi yang berbanding langsung dengan jumlah akseroftol yang terkandung. 2.692 (Rohman dan Sumantri.

Intensitas warna yang timbul 1/3 jika dibandingkan dengan intensitas warna biru dari metode Carr-Pierce yang menggunakan antimon (III) klorida. 15 2. Warna biru yang timbul sangat tidak stabil dan pengukuran absorbansi harus dilakukan antara 5-10 detik dari penambahan reagen (Rohman dan Sumantri.4. dan membutuhkan penanganan secara khusus dan kadang-kadang menyebabkan kerusakan terhadap peralatan spektrofotometer. .4.2.2 Metode kolorimetri 2. 2007). 2.2. 2. Reaksi warna yang terjadi mematuhi hukum Lambert-Beer pada kisaran yang lebar. Antimon (III) klorida yang digunakan sebagai reagen penghasil warna bersifat korosif. zat ini sulit untuk untuk dibersihkan dari kuvet dan juga peralatan preparasi.4. 1966).3 Pengukuran secara spektrofotometri dengan menggunakan gliserol diklorohidrin aktif Gliserol diklorohidrin aktif bereaksi dengan vitamin A dalam kloroform untuk menghasilkan warna ungu yang stabil dan mem- punyai serapan maksimum pada panjang gelombang 555 nm. 1966). Dilihat dari formasi antimon (III) klorida. Reaksi bergantung pada suhu pengujian dan disarankan pembuatan kurva kalibrasi dan analisis sampel dilakukan pada suhu yang sama (Libman. warna biru yang timbul memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 620 nm dan mematuhi hukum Lambert-Beer. Reaksi warna yang terjadi mematuhi hukum Lambert-Beer pada kisaran konsentrasi vitamin A sebesar 10-6 dan 10-5 M (Libman.4.2 Pengukuran secara spektrofotometri dengan menggunakan Asam trifluoro asetat Asam trifluoro asetat bereaksi dengan vitamin A dan turunannya sehingga mengasilkan warna biru yang memberikan serapan maksi- mum pada panjang gelombang 616 nm.2.1 Metode Carr-Price Metode Carr-Pierce mencakup perlakuan vitamin A dengan antimon (III) klorida.

Warna merah yang timbul juga mematuhi hukum Lambert-Beer dan cocok untuk pengujian vitamin A.4.3 Metode Spektrofluorometri Berdasarkan sifat vitamin A yang dapat memberikan flourosensi. dan akhirnya menjadi merah dan mempunyai serapan maksimum pada 530 nm. Pengukuran dengan metode spektro- fluorometri lebih spesifik dibandingkan cara spektrofotometri. Reaksinya mematuhi hukum Lambert-Beer.2. warna biru yang ada akan berubah menjadi biru keunguan. 2.5 Pengukuran secara kolorimetri dengan aluminium klorida Metode ini mencakup reaksi larutan jenuh aluminium klorida dalam kloroform anhidrat dengan vitamin A. namun tidak memberikan sifat flourosensi (Angustin dkk 1985). karena banyak senyawa yang memberikan serapan pada daerah UV.4 Pengukuran dengan menggunakan Asam fosfotungstat Vitamin A dalam kloroform bereaksi dengan asam fosfotungstat dalam etil asetat dengan adanya asetat anhidrat maka menghasilkan warna biru dan memberikan serapan maksimum pada panjang gelom- bang 620 nm. 1966).4. maka vitamin A dalam bahan pangan yang telah diekstrasi dapat diu- kur menggunakan spektrofluorometer pada panjang gelombang eksi- tasi 330 nm dan emisi 480 nm. 2. . 1966). warna biru yang timbul memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 700 serta mematuhi hukum Lambert-Beer (Libman. akan tetapi metode ini kurang sensitif untuk bahan dengan kadar vitamin A rendah (Libman. Pada pema- nasan dengan suhu 50°C menggunakan penangas air.4. 16 2. ungu.6 Pengukuran menggunakan asam fosfomolibdat Metode ini melibatkan reaksi vitamin A dengan asam fosfo- molibdat.2.2. 1966). Warna yang timbul mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang 618 nm dan mematuhi hukum Lambert-Beer (Libman.4. 2.

90:10 atau campuran metanol dengan air. Untuk mendeteksi noda vitamin A dapat juga digunakan larutan antimon (III) klorida yang akan memberikan warna biru (Depkes 1979) atau menggunakan UV pada pada panjang gelombang 254 nm (CE 2007).7 (Depkes 1995). Sebagai fase gerak dapat juga digunakan campuran asetonitril dengan air 90:10 (Eitenmiller. Perkiraan harga Rf vitamin A dalam bentuk alkohol.2 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Vitamin A dapat ditetapkan kadarnya menggunakan KCKT menggunakan kolom fase normal atau kolom fase terbalik. heksana dan dietil eter 98:2.4 Metode Kromatografi 2. 2005). 1-5 % 2-propanol dalam heptana. Sebagai fase gerak dapat juga digunakan campuran heptana dan diisopropil eter. 17 2. Dengan kolom fase terbalk.4. campuran asetonitril dengan air. 80:20 (Augustin dkk 1985).45 dan 0. Sebagai fase gerak selain menggunakan campuran siklo heksana dan eter.4. Dengan menggunakan kolom fase normal. 90:10 (Nollet 2000). fase gerak n-heksana dan dideteksi menggunakan UV 325-nm (USP Convention 2008). 0. 2008). Persiapan sampelnya terdiri atas .1 Pengukuran dengan kromatografi lapis tipis Vitamin A dapat dipisahkan dengan komponen lainnya secara kromatografi lapis tipis menggunakan fase diam silika gel F254 dan fase gerak campuran siklo heksana dan eter dengan perbandingan 4:1.4. fase gerak campuran metanol dan air dengan perbandingan 860:140 dan dideteksi menggunakan UV 328-nm atau 313-nm (AOAC International. vitamin A ditetapkan kadarnya menggunakan fase diam kolom silika.4.1. 95:5. vitamin A ditetapkan kadarnya menggunakan fase diam kolom C18. juga dapat digunakan campuran siklo heksana dan etil asetat dengan perbandingan 9:1 (Libman 1966).4. 2. asetat dan palmitat berturut-turut adalah 0. heksana dan metil etil keton. noda yang telah terpisah dideteksi menggunakan asam fosfomolibdat dan bercak biru hijau yang terjadi menunjukkan adanya vitamin A.

2. detektor. ekstraksi. anorganik. partisi. . kelarutan. Diagram blok untuk sistem kromatografi cair kinerja tinggi ditunjukkan pada Gambar 2. sistem penghantaran fase gerak. salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalam zat tersebut menunjukkan perbedaan morbilitas disebab- kan adanya perbedaan dalam adsorbsi.5 INTRUMENTASI KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau KCKT atau biasa juga disebut dengan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel. wadah penampung buangan fase gerak. pemekatan dan melarutkan kembali menggunakan pelarut yang sesuai. alat untuk memasukkan sampel kolom. Kegunaan umum KCKT adalah untuk pemisahan senyawa organik. ukuran molekul atau kerapatan muatan ion (Depkes 2009b) Instrumentasi KCKT pada dasarnya terdiri atas komponen pokok yaitu wadah fase gerak. 1991). 18 proses saponifikasi. tekanan uap. Kromatografi adalah suatu prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses migrasi difrensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih. maupun senyawa biologis. KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis kuali- tatif maupun kuantitatif (Rohman 2007). tabung peng- hubung dan suatu komputer atau integrator atau perekam (Johnson.

5. Diagram Blok Sistem KCKT 2. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase .1 Wadah Fase Gerak pada KCKT Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Fase gerak sebelum digunakan harus dilakukan degassing (penghilang gas) yang ada pada fase gerak. 19 Gambar 2.5. 2. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut.2 Fase Gerak Pada KCKT Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis. polaritas fase diam dan sifat komponen-kompo- nen sampel. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut.

Untuk pemisahan dengan fase normal. katup diputar sehingga fase gerak mengalir melewati keluk sampel dan . pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/menit.5. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 1-3 mL/menit. 20 gerak).3 Pompa pada KCKT Pompa yang digunakan untuk KCKT adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni pompa harus inert terhadap fase gerak. kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. konstan dan bebas dari gangguan. Untuk tujuan prepa- ratif. reproduksibel.5. fase gerak yang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pada saat penyuntikan. 2. Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran larutan buffer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. 2. Pada saat pengisian sampel digelontor melewati keluk sampel dan kelebihannya dikeluarkan ke pembuang. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar dari- pada fase gerak). kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut.4 Injektor/Penyuntikan Sampel Pada KCKT Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sampel loop) internal atau eksternal. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat.

0 mm.7 Komputer. silika yang tidak dimodifikasi. dihubungkan dengan detektor. Kolom untuk pemisahan analitik umumnya mempunyai diameter dalam 2-4 mm. Presisi penyuntikan dengan keluk sampel ini dapat mencapai nilai RSD 0. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). 21 menggelontor sampel ke kolom. Fase diam pada KCKT berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi. Fase diam eksklusi dan penukar ion dapat menggunakan silika atau polimer. Alat pengumpul data seperti komputer. seperti detector UV-VIS.5. dan (2) Detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif. atau polimer-polimer stiren dan divinil benzene. 2. Kolom dapat dipanaskan sampai 60oC agar dihasilkan pemisahan yang lebih efisien. tidak bersifat spesifik dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa. Oktadesil silan (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah.5. 2. sedang. Kolom diisi dengan yang sesuai untuk pemisahan sampel tertentu. 2.1%. integrator atau rekorder.6 Detektor KCKT Detektor pada KCKT ada 2 yaitu (1) Detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum. Panjang kolom antara 10-30 cm dengan diameter dalam 4. Integrator atau Rekorder.5.5-5. detektor fluoresensi dan elektro kimia.5 Kolom Pada KCKT Kolom KCKT pada umumnya terbuat dari pipa baja tahan karat. kolom dipertahankan pada suhu kamar. . maupun tinggi. Alat ini akan mengukur sinyal elektro- nik yang dihasilkan oleh detektor lalu memplotkannya sebagai suatu kromatogram. Jika tidak dinyatakan lain.

6. biaya yang dibutuhkan. ketepatan dan ketelitian yang diinginkan untuk analisis kuantitatif. senyawa baku. Kasar (rugged) artinya ada perubahan komposisi pelarut atau variasi lingkungan tidak menyebabkan perubahan hasil analisis. Menurut Rohman dan Ibnu (2007). 22 2. jumlah sampel yang dianalisis. dan pelarut yang dibutuhkan. kemungkinan adanya gangguan pada saat deteksi atau pada saat pengukuran sampel. metode tersebut tidak banyak terpengaruh oleh adanya senyawa lain. . macam sampel yang akan dianalisis serta pra-perlakuan sampel yang dibutuhkan. peralatan yang tersedia. Praktis artinya metode tersebut mudah dikerjakan serta tidak banyak memerlukan waktu dan biaya.6 VALIDASI METODE ANALISIS Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti untuk tujuan analisis kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teknik tertentu. ketersediaan bahan rujukan. Pada tahap pengembangan metode. 3. artinya untuk penetapan kadar senyawa tertentu. kriteria yang harus dipenuhi suatu metode analisis yang baik adalah: 1. Peka (sensitive) artinya metode harus dapat digunakan untuk mene- tapkan kadar senyawa dalam konsentrasi yang kecil. bahan-bahan kimia. serta waktu yang diperlukan. 5. Pengembangan metode analisis biasanya didasarkan pada metode yang sudah ada menggunakan instrumen yang sama atau hampir sama. Selektif. 2. Pengem- bangan metode analisis biasanya membutuhkan syarat-syarat metode tertentu dan memutuskan jenis alat yang akan digunakan. keputusan yang terkait dengan pemilihan kolom. 4. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan pemilihan metode analisis adalah: tujuan analisis. level analit yang diharapkan dan batas deteksi yang diperlukan. Teliti (accurate) artinya metode dapat menghasilkan nilai rata-rata (mean) yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya (true value). Tepat (precise) artinya metode tersebut menghasilkan suatu hasil analisis yang sama atau hampir sama dalam satu seri pengukuran (penetapan).

ekstraksi dan penguapan pelarut organik yang digunakan sehingga waktu analisinya relatif lebih cepat. 5. 2. sehingga metode tersebut dapat menjamin bahwa analisis yang dilakukan dapat dipercaya dan sesuai dengan tujuan penggunaanya serta dapat diandalkan untuk mengambil keputusan. Ada beberapa alasan tertentu untuk pengembangan metode analisis yang baru. membutuhkan waktu dan energi yang besar atau tidak dapat diotomatisasikan. ekstraksi dan pemekatan atau penguapan pelarut organik yang digunakan). Menurut Gunzler (1996). Metode yang sudah ada terlalu mahal. Adanya kebutuhan untuk pengembangan metode alternatif. diantaranya dengan menggunakan KCKT sudah banyak yang dikembangkan oleh peneliti terdahulu. Walaupun metode analisis vitamin A dalam minyak goreng sawit masih sulit didapat. terlalu banyak tahap perlakuan yang dapat menimbulkan kesalahan atau metode yang sudah ada tidak reliabel (presisi dan akurasinya rendah). yaitu: 1. detektor dan metode kuantisasi harus diperhatikan. Metode analisis yang akan digunakan harus disesuaikan dengan kondisi laboratorium. baik untuk alasan legal atau alasan saintifik. peralatan dan pereaksi yang tersedia. namun metode analisis vitamin A dalam produk pangan dengan meng- gunakan peralatan moderen. 4. Metode yang sudah ada tidak memberikan sensitivitas atau spesifisitas yang mencukupi pada sampel yang dituju. Metode analisis yang dikembangkan oleh peneliti ini dipilih karena memiliki banyak kelebihan. pemenuhan karakteristik unjuk kerja metode terhadap spesifikasi yang dikaitkan dengan penggunaan hasil . Belum ada metode yang sesuai untuk analit tertentu dalam suatu matriks sampel tertentu. 23 fase gerak. Metode yang sudah ada terlalu rumit. Suatu metode perlu divalidasi terlebih dahulu sebelum metode tersebut digunakan untuk penggunaan lebih lanjut. 3. Namun kelemahanya dari metode yang ada adalah kerumitan dalam penyiapan sampel (saponi- fikasi. validasi metode adalah menetapkan dengan percobaan laboratorium yang sistimatik. yaitu metodenya tanpa proses saponi- fikasi.

selektivitas dan spesifisitas. 2007) Menurut USP Convention (2009). Presisi hendaknya dilakukan pada tiga tingkat berbeda yaitu: ripitabilitas. akurasi. Ripitabilitas adalah penggunaan metode pengujian di dalam satu laboratorium dalam satu periode waktu yang singkat menggu- nakan personel penguji yang sama. Presisi biasanya dinyatakan sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi) dari serangkaian pengukuran. selektivitas (spesifisitas). Sebuah metode harus divalidasi bila kinerja parameter metode uji tersebut belum valid atau belum dibuktikan valid untuk penggunaan analisis khusus (BSN 2005). seperti pada hari yang berbeda atau personil penguji yang berbeda atau alat yang berbeda dalam laboratorium yang sama. sensitivitas dan kekasaran (ruggedness). linieritas. tingkat kepercayaan yang dihasilkan oleh suatu metode pengujian dapat diperkirakan dengan pasti ( Hadi. presisi adalah derajat kesesuaian diantara hasil uji individu (berdiri sendiri) jika metode uji dilakukan berulang-ulang terhadap multi sampling dari suatu sampel yang homogen. Tujuan memvalidasi metode adalah untuk mengetahui sejauh mana penyimpangan suatu metode tidak dapat dihindari pada kondisi normal. Karakreristik unjuk kerja (parameter) yang ditetapkan mencakup: presisi. presisi intermediat dan reprodusibilitas. Reprodusibilitas atau disebut juga ruggedness adalah penggunaan metode . Menurut Harmita (2004). 24 pengujian yang dimaksudkan. Presisi intermediat dilakukan dengan berbagai variasi di dalam laboratorium. dimana seluruh elemen terkait telah dilaksanakan dengan baik dan benar. Validasi metode adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu tujuan khusus dipenuhi. batas deteksi dan batas kuantitasi. Proses validasi suatu metode biasanya sangat dekat dengan proses pengembangan suatu metode. batas kuantisasi. dengan peralatan yang sama di bawah kondisi sekonstan mungkin. rentang. Dengan memvalidasi metode. ketangguhan metode (ruggedness) dan kekuatan metode (robustness). keseksamaan (presisi). batas deteksi. linearitas dan rentang. beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode analisis yaitu kecermatan (akurasi).

membandingkan hasil yang benar-benar telah dikarakterisasi dan akurasinya telah ditetapkan atau dengan cara menghitung persen perolehan kembali terhadap sampel yang sudah dispike (Wood R 1998). hasil urai. Akurasi dari suatu metode dapat dilakukan dengan cara: mengguna- kan bahan acuan bersertifikat.001 10 -5 10 ppm 80 – 110 7 0. Akurasi adalah ukuran ketepatan dari suatu metode pengujian. 25 pengujian dalam berbagai laboratorium yang berbeda seperti dalam uji kolaborasi.00001 10 -7 100 ppb 80 – 110 9 0. dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan (Oktavia.1 10 -3 1000 ppm 95 – 105 5 0. Selektivitas menunjukkan kemampuan suatu metode membedakan antara analit yang dituju dan komponen lain / bentuk-bentuk analit lain yang mungkin ada dalam matrik untuk mengukur secara akurat dan spesifik analit dalam matriks sampel dengan adanya zat pengganggu. atau nilai nilai konvensional atau nilai acuan yang dapat diterima (USP Convention 2009). senyawa asing lainnya.0000001 10 -9 1 ppb 40 – 120 . Persen rekoveri rata-rata untuk tiap level konsentrasi dinilai terhadap rentang % rekoveri pada Tabel 5. Kriteria kecermatan dalam persen perolehan kembali sangat tergan- tung kepada konsentrasi analit dalam matriks sampel dan pada keseksamaan metode (RSD) (Oktavia. Selektivitas sering- kali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran.000001 10 -8 10 ppb 60 – 115 10 0.0001 10 -6 1 ppm 80 – 110 8 0. Tabel 5. atau kedekatan antara nilai hasil uji yang diukur dengan nilai benar. 2006). 2006). Keberterimaan akurasi berdasarkan % rekoveri Rentang No % Analit Rasio Analit Satuan keberterimaan (% Rekoveri) 1 100 1 100 % 98 – 102 2 10 10 -1 10 % 98 – 102 3 1 10 -2 1% 97 – 103 4 0.01 10 -4 100 ppm 90 – 107 6 0. senyawa sejenis.

26 Linieritas adalah kemampuan untuk menghasilkan hasil uji yang sebanding/berbanding lurus terhadap konsentrasi analit dalam sampel pada kisaran konsentrasi tertentu. Ditetapkan bersamaan dengan penetapan linieritas dengan melakukan peng- ujian terhadap sampel yang kadarnya dibawah dan diatas normal. . 2006). akurasi (trueness) dan linieritas (Oktavia. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. 2006). Rentang yaitu kemampuan untuk memperoleh hasil uji yang kadar analitnya masih linier dengan presisi dan akurasi yang masih dapat diterima. Rentang metoda menjelaskan rentang konsentrasi dimana metode uji diaplikasikan yang dinyatakan dalam presisi. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blanko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blanko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. Menentukan kemampuan suatu metode untuk mendapatkan respon yang proporsional terhadap konsentrasi analit (Oktavia. Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi (Oktavia. 2006). Batas Deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingan dengan blanko.

2-propanol (Merck. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelarut (fase gerak) berderajat KCKT yaitu metanol (Merck. Jerman). 3. Indonesia). Jepang). Jerman). tersier butil hidro kinon (BPFI. penyaring 0. Jepang). Jerman).2 ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat KCKT yang terdiri dari pompa (Shimadzu.2 µm (Millipore). Indonesia). penyaring 0. asetonitril (JT Beaker. vitamin E (BASF. Jerman). n-pentana (Merck. Jepang). III. BAHAN DAN METODE 3. Jerman). detektor fluoresens (Shimadzu. USA) dan air demineral. USA dan Shimadzu Shim-pack. detektor ultraviolet (Shimadzu.45 µm (Millipore). sampel minyak goreng sawit yang tidak mengandung vitamin A dan beberapa merek minyak goreng sawit yang mengandung vitamin A. timbangan analitik (Precisa. auto sampler (Shimadzu. tetra-n-butil ammonium hidroksida 0.0 µm (Waters Xbridge.1 WAKTU DAN TEMPAT Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juli 2011. Switzerland) dan peralatan gelas. diameter 4. bertempat di Laboratorium Pangan Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional Badan POM RI. Jerman). propil galat (BPFI. Indonesia). vitamin D (BASF. 23 Jakarta. Indonesia). USA). beta karoten (BASF. seperangkat alat spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu. Jepang). Jerman). butil hidroksi toluena (BPFI. Jepang). Pereaksi dan pelarut organik berkualitas pro analis: butil hidroksi toluena (Merck. ultrasonik (Branson. kolom C18 dengan panjang 250 mm.6 mm ukuran partikel 5. Jerman). Jepang).1 M dalam 2-propanol (Merck. . Jerman). Bahan baku pembanding yaitu: vitamin A palmitat 1700000 IU/g (BASF. Jalan Percetakan Negara No. butil hidroksi anisol (BPFI.

aktivitas baku vitamin A dalam satuan unit internasional (IU) per gram dihitung dengan rumus: A26 = absorbansi pada panjang gelombang 326 nm V = total volume pengenceran untuk mendapatkan kadar 10-15 IU/mL 1900 = faktor untuk mengkonversi absorbansi spesifik ester retinol menjadi menjadi IU per gram m = bobot substansi yang di uji (dalam gram). yaitu dengan cara menimbang dengan saksama sejum- lah baku vitamin A palmitat. 28 3. batas deteksi dan batas kuantisasi metode. Penelitian tahap III merupakan uji coba metode analisis yang telah dikembangkan dan telah divalidasi untuk analisis vitamin A dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran. akurasi. Parameter validasi yang akan dilakukan adalah: kurva baku dan linieritas. selektivitas. laju alir dan detektor) yang akan digunakan dalam penetapan kadar vitamin A menggunakan KCKT. waktu retensi (Rt).3. presisi. resolusi (Rs). Parameter yang diuji adalah penga- matan kromatogram dan penetapan kadar vitamin A. Penelitian tahap II merupakan validasi metode analisis penetapan kadar vitamin A menggunakan KCKT. 3. dilarutkan dengan n-pentana dan diencer- kan dengan 2-propanol hingga konsentrasinya 10 -15 IU/mL.3 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan percobaan laboratorium yang terdiri dari (3) tiga tahap. robustness.1 Penetapan Aktivitas Baku Vitamin A Aktivitas baku vitamin A ditetapkan sesuai metode Farmakope Inggris (2009). Pengu- kuran absorbansi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum (326 nm). jumlah lempeng teoritis (N) dan tailing faktor (Tf). . Parameter yang dievaluasi meliputi: bentuk kromatogram. Penelitian tahap I merupakan penelitian pemilihan kondisi optimum (komposisi fase gerak.

perubahan konsentrasi baku yang digunakan dan pada proses penyiapan sampel tanpa pemanasan larutan uji.3. maka setiap parameter kromatogram diberi nilai skor antara 1 .2 Penetapan kondisi optimum KCKT Larutan baku vitamin A yang akan disuntikkan ke dalam sistem KCKT disiapkan sesuai metode Farmakope Inggris (2009).5. yaitu penambahan matriks minyak goreng sawit.3. Kondisi percobaan memenuhi kriteria apabila: waktu retensi (Rt) < 15 menit. sehingga untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit oleh peneliti dilakukan modifi- asi. Dari hasil tersebut kemudian ditentukan jumlah skor tertinggi yang merupakan kondisi optimum dan selanjutnya digunakan pada penelitian selanjutnya. resolusi (Rs). Larutan dianalisis menggunakan KCKT dengan berbagai kondisi percobaan seperti pada Tabel 6 dan analisis untuk setiap kondisi percobaan dilakukan masing-masing dengan 3 kali pengu- angan. jumlah lempeng teoritis (N) dan faktor ikutan atau tailing faktor (Tf) untuk masing- masing hasil pada berbagai kondisi percobaan. resolusi (Rs) > 1. Penentuan nilai skor untuk penilaian kromatogram dapat dilihat pada Tabel 7. jumlah lempeng teoritis (N) > 3000 dan faktor ikutan atau tailing faktor (Tf) mendekati 1. Untuk mempermudah dalam mengam- bil keputusan pada pemilihan kondisi optimum. . Kromatogram yang dihasilkan dievaluasi dengan cara mencatat atau menghitung: waktu retensi (Rt). 29 3. Metode ini digunakan untuk penetapan kadar vitamin A dalam bentuk baku atau konsentrat vitamin A.

30 .

fase gerak asetonitril dan metanol.5 mL/menit. fase gerak asetonitril dan air. dan 85:15) panjang gelombang emisi 470 nm. 80:20 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm. 95:5. dan 75:25) 31 . 50:50.0 mL/menit gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.8 dan 1. 90:10. 5 Kolom C 18. 95:5. detektor fluoresens panjang gelombang eksitasi dan air (100:0. laju alir Perbanding komposisi fase gerak asetonitril 1. dan 75:25) 9 Kolom C 18. Perbanding komposisi fase gerak asetonitril detektor UV 325 nm dan air (100:0. dan 25:75) nm dan panjang gelombang emisi 470 nm. 0. fase gerak asetonitril dan metanol. fase gerak asetonitril dan air. Perbanding komposisi fase gerak metanol detektor fluoresens panjang gelombang eksitasi 325 nm dan dan air (97. 95:5. laju alir 1.0 Perbanding komposisi fase gerak metanol mL/menit. laju alir 1. detektor fluoresens panjang Laju alir: 0. 85:15. laju alir Perbanding komposisi fase gerak asetonitril 1.6. 95:5. 95:5.5 mL/menit. detektor UV 325 nm Laju alir: 0. fase gerak metanol dan air. 50:50. 85:15. fase gerak metanol. laju alir 1. dan 25:75) 6 Kolom C 18. 8 Kolom C 18. dan 85:15) 4 Kolom C 18. 0. fase gerak asetonitril dan air.0 mL/menit 2 Kolom C 18.75mL/menit. laju alir 1.75mL/menit.8 dan 1.5. fase gerak metanol dan air.5mL/menit.5:2.5. Tabel 6. 95:5. 85:15. Kondisi parameter KCKT untuk optimasi metode Kondisi Parameter Tetap Parameter Berubah 1 Kolom C 18.0 Perbanding komposisi fase gerak metanol mL/menit. Perbanding komposisi fase gerak metanol detektor UV 325 nm dan air (97. 80:20 dan 75:25). 90:10. 7 Kolom C 18. laju alir 1.5mL/menit. 80:20 panjang ge-lombang emisi 470 nm. laju alir 1.6. 85:15. detektor UV 325 nm dan air (100:0. 80:20 dan 75:25) 10 Kolom C 18. detektor fluoresens panjang gelombang eksitasi 325 dan air (75:25. 90:10. 90:10. 90:10. fase gerak asetonitril dan air. 90:10. Perbanding komposisi fase gerak asetonitril detektor fluoresens panjang gelombang eksitasi 325 nm dan dan air (100:0. detektor UV 325nm dan air (75:25. 3 Kolom C 18.5:2. fase gerak metanol.

25 2 > 10 dan < 15 > 1.5 dan < 2.5 ≥ 3000 dan < 6000 ≤ 0. Tabel 7.5 ≥ 9000 32 .5 ≥ 6000 dan < 9000 > 0.25 3 ≤ 10 ≥ 2. Penentuan skor untuk penilaian kromatogram Pengamatan Skor Rt Rs N Tf 1 ≥ 15 ≤ 1.75 atau ≥ 1.75 atau < 1.

sebelumnya dibuat larutan baku seri vitamin A dengan konsentrasi 0. Selanjutnya ditetapkan kurva linier: y = bx + a. dimana a adalah intersept (perpotongan dengan garis dengan sumbu y) dan b adalah slope (kemiringan garis regresi). Larutan baku dibuat dengan cara menimbang dan memasukkan 2.0 mL larutan baku vitamin A 50 IU/mL dan dimasukkan ke dalamnya. Kondisi KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi. Selanjutnya dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan larutan uji pada penetapan kondisi optimum KCKT.5 mL n-pentana ke dalam labu takar berwarna coklat 25 mL lalu dikocok sehingga minyak goreng sawit larut.4 Pembuatan kurva baku dan uji linieritas Untuk pembuatan kurva baku dan uji linieritas. SD dan RSD dihitung dengan menggunakan rumus: UKS diterima bila memenuhi kriteria apabila % RSD dari waktu retensi dan luas area dari vitamin A kurang atau sama dengan 1.3.3 Uji kesesuaian sistem (UKS) Uji kesesuaian sistem dilakukan sesuai metode Farmakope Indonesia (1995) dengan cara menyuntikkan salah satu larutan baku seri ke dalam sistem KCKT minimal 5 kali pengulangan. apakah linier atau tidak.5 g minyak goreng sawit yang tidak mengandung vitamin A dan 2. Linieritas . 3. 33 3. kemudian dihitung % RSD dari waktu retensi dan luas area dari vitamin A. kemudian ditambahkan baku vitamin A dengan cara memipet 0. kelinieran kurva ditentukan dengan cara menghitung koefesien korelasi (r) dan standar deviasi relatif regresi linier (Vxo). Larutan baku seri disuntikan ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi dan masing-masing larutan baku seri disuntikan dengan 3 kali pengulangan. kemudian dibuat kurva antara konsentrasi analit yang berbeda-beda (x) terhadap respon instrumen atau luas area (y) dan dikaji secara visual.5– 4 IU/mL.3.5–7.

34 diterima apabila nilai r > 0. Faktor respon detektor dihitung dengan menggunakan rumus: Residual dihitung menggunakan rumus: Residual = (Y^ .995 dan Vxo ≤ 5. Untuk menentukan nilai a. r dan Vxo digunakan rumus sebagai berikut: Selanjutnya dibuat kurva konsentrasi versus faktor respon detektor dan kurva konsentrasi versus residual.Y) Y^ = Luas area vitamin A secara teoritis (dari persamaan garis regresi). Y = Luas area vitamin A yang diamati. jika terjadi penyebaran titik-titik secara random antara konsentrasi vitamin A dengan faktor respon detektor dan konsentrasi vitamin A dengan residual yang mendekati garis tengah menunjukkan linieritas yang baik. b. Masing-masing kurva tersebut diamati secara visual. .

35 3. RS D Horwitz dihitung menggunakan rumus: 3. kemudian ditambahkan 2. kadar menengah 45 IU/g dan kadar tinggi 67. Masing-masing sampel dengan 3 tingkat konsentrasi yang berbeda dianalisis sebanyak 6 kali pengulangan. lalu dikocok sehingga minyak goreng sawit larut.4.6 Uji akurasi Untuk pembuatan larutan uji akurasi. Presisi diterima bila memenuhi kriteria: untuk satu penguji (repeatabilitas): % RSD sampel ≤ ⅔ x % RSD Horwitz dan untuk intralab (intra reprodubilitas): % RSD sampel≤ % RSD Horwitz.25 gram. Untuk akurasi pada tingkat kadar rendah ditambahkan baku vitamin A 50 IU/mL . lalu dikocok sehingga minyak goreng sawit larut. digunakan sampel minyak goreng sawit yang sama pada uji presisi. Perhitungan kadar sampel dilakukan menggunakan persamaan kurva kalibrasi dengan menggunakan rumus: Kemudian kadar dari masing-masing uji presisi dihitung dan ditentukan nilai rata-ratanya.5 IU/g.5 IU/g. Selanjutnya dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan larutan uji pada penetapan kondisi optimum KCKT.5 Uji presisi Untuk pembuatan larutan uji presisi. standar deviasi (SD) dan standar deviasi relatif (RSD). Uji presisi dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan uji ke dalam sistem KCKT menggunakan prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi. sebelumnya disiapkan terlebih dahulu sampel minyak goreng sawit yang mengandung vitamin A dengan 3 tingkat konsentrasi yang berbeda yaitu: kadar rendah 22. kemudian ditambahkan 2. dimasukkan ke dalam labu takar berwarna coklat 25 mL. Masing-masing sampel minyak goreng tersebut ditimbang dengan saksama sejumlah 1. Masing-masing sampel tersebut ditimbang dengan saksama sejumlah 2.4.5 mL n-pentana. dimasukkan ke dalam labu takar coklat 25 mL.5 gram.5 mL n-pentana.

kemudian dimasukkan ke dalam labu takar coklat 25 mL.5 mL n- pentana lalu dikocok sehingga minyak goreng sawit larut.5 mL larutan butil hidroksi toluena 0.1 M dalam 2-propanol.25 % dalam 2-propanol. 1 mL campuran larutan butil hidroksi anisol (BHA). tersier butil hidrokuinon (TBHQ).2 mL dan untuk akurasi tingkat kadar tinggi ditambahkan 1. 36 sebanyak 0.5 gram sampel minyak goreng sawit yang sama pada uji presisi (mengandung vitamin A dengan konsentrasi 45 IU/g). Masing-masing sampel dengan 3 tingkat konsentrasi yang berbeda dianalisis sebanyak 6 kali pengulangan. dengan menggunakan kurva kalibrasi baku selanjutnya dihitung jumlah total vitamin A. Akurasi metode dinyatakan sebagai % rekoveri yang dihitung dengan menggunakan rumus: Akurasi diterima bila memenuhi kriteria: rekoveri yang diperoleh pada rentang 80–110 % 3. propil galat.7 Uji selektivitas (spesifisitas) Larutan untuk uji selektivitas dibuat dengan cara menimbang dengan saksama sejumlah 2. kemudian larutan diencerkan dengan 2-propanol hingga tanda tera. Uji selektivitas (spesifisitas) dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji . ditambahkan 2. vitamin A dari sampel dan rekoveri vitamin A. untuk tingkat kadar menengah 1. lalu dikocok hingga homogen. Berdasarkan luas area yang didapat.2 µm dan dilakukan sonifikasi selama 10 menit. Kemudian larutan disaring menggunakan membran filter 0.4.6 mL. butil hidroksi toluena (BHT). ditambahkan 2. Uji akurasi dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan uji ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur penetapan kadar yang telah ditentukan dari hasil uji optimasi. vitamin D dan vitamin E masing-masing 1000 ppm serta beta karoten 100 ppm dalam 2- propanol dan 10 mL larutan tetra-n-butil amonium hidroksisida 0. Selanjutnya dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan larutan uji pada penetapan kondisi optimum KCKT.8 mL.

Uji robustness dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan uji ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi. dibandingkan kadar rata-rata dan SD yang diperoleh dari uji selektivitas (spesifisitas) dengan kadar rata-rata dan SD yang diperoleh dari perhitungan presisi. larutan antioksidan butil hidroksi toluena 3 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 10. Pada penelitian ini. Selektivitas (spesifisitas) diterima apabila nilai yang diperoleh dari perhitungan uji t seperti di atas memberikan hasil yang tidak berbeda bermakna.74 mL/menit.5 mL 3. kadar rata-rata dan SD dari masing-masing uji selektivitas (spesifisitas) dihitung.5 mL 2.8 Uji robustness Larutan untuk uji selektivitas dibuat dengan cara menimbang dengan saksama sejumlah 2. . Uji selektivitas (spesifisitas) dilakukan sebanyak 6 kali pengulangan. Pengurangan jumlah pereaksi n-pentana 2 mL. namun pada metode tersebut dilakukan sedikit perubahan kecil seperti: perubahan penambahan atau pengurangan jumlah pereaksi yang digunakan.5 gram sampel minyak goreng sawit yang sama pada uji presisi (mengandung vitamin A dengan konsentrasi 45 IU/g). larutan antioksidan butil hidroksi toluena 2 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 9. perubahan komposisi fase gerak.4.76 mL/menit. Perubahan komposisi fase gerak menjadi asetonitril : air (81:19) dan laju alir 1. Selanjutnya dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan uji pada presisi. 37 optimasi. dan perubahan merek kolom. Dengan menggunakan uji t. Perhitungan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi. 3. perubahan laju alir. Perubahan komposisi fase gerak menjadi asetonitri : air (79:21) dan laju alir 1. Penambahan jumlah pereaksi n-pentana 3 mL. 4. uji dilakukan dengan cara melakukan sedikit perubahan pada: 1.

Uji penentuan batas deteksi (LOD) dan batas kuantisasi (LOQ) dilakukan dengan cara menyuntikkan larutan uji ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi. tinggi noise (N). Perhitungan kadar dilakukan menggunakan kurva kalibrasi. kadar rata-rata dan SD dari masing-masing uji dihitung. dibandingkan kadar rata-rata dan SD yang diperoleh dari uji robustness dengan kadar rata-rata dan SD yang diperoleh dari perhitungan presisi. 3. 5 IU/g dan 10 IU/g. Perubahan penggunakan merek kolom yang berbeda: kolom C 18 panjang 250 mm. 1 IU/g. kemudian dihitung nilai LOD dan LOQ dengan menggunakan rumus: LOD = harga nilai X pada S/N = 3.25 IU/g. Jepang). Kromatogram yang diperoleh dianalisis dengan membuat data kadar spike yang berbeda-beda (X). diameter dalam 4. Dengan menggunakan uji t. sebelumnya disiapkan terlebih dahulu sampel minyak goreng sawit yang mengandung vitamin A dengan 7 tingkat konsentrasi yang berbeda yaitu: kadar 0.6 mm dan ukuran partikel 5 µm (Shimadzu Shim-pack. 0.4. 38 5.625 IU/g. Berdasarkan kurva linier tersebut. 1. 2. tinggi sinyal atau puncak (S) dan perbandingkan sinyal dengan noise (S/N). sedangkan nilai LOQ = harga nilai X pada S/N = 10 . Kemudian dibuat kurva hubungan antara konsentrasi spike (X) terhadap respon S/N (Y) dan dibuat persamaan garis regresi kurva linier: y = bx + a. Penyiapan larutan uji dilakukan dengan cara dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan uji pada presisi.5 IU/g. Uji robustness diterima apabila nilai yang diperoleh dari perhitungan uji t seperti di atas memberikan hasil yang tidak berbeda bermakna.9 Uji batas deteksi dan batas kuantisasi Untuk pembuatan larutan untuk penentuan uji batas deteksi dan batas kuantisasi. Masing-masing perubahan kondisi pada uji robutsness dilakukan sebanyak 6 kali pengulangan.5 IU/g.

Kromatogram yang dihasilkan diamati dan perhitungan kadar vitamin A dilakukan menggunakan kurva kalibrasi. Masing-masing larutan uji tersebut kemudian disuntikkan ke dalam sistem KCKT sesuai prosedur yang telah dipilih pada uji optimasi. sebelumnya dilakukan pembelian sampel beberapa merek minyak goreng sawit yang pada labelnya mengklaim akan kandungan vitamin A. . Masing-masing sampel dilakukan pengulangan pengujian minimal 2 kali. Penyiapan larutan uji dilakukan dengan cara dilakukan perlakuan yang sama seperti pada pembuatan larutan uji pada presisi.4. 39 3.10 Penetapan kadar vitamin A pada minyak goreng sawit yang beredar di pasaran Untuk penetapan kadar vitamin A pada minyak goreng sawit yang beredar di pasaran.

40 .

alat KCKT dapat segera dimatikan tanpa pencucian kolom terlebih dahulu menggunakan air. IV.1 Penetapan aktivitas baku vitamin A Sebelum penelitian ini dimulai.696. validasi dan uji coba metode analisis yang telah dilakukan oleh peneliti sebagai berikut: 4. Bila tidak dilakukan penetapan aktivitas baku vitamin A. Absorban Pengenceran Vit.699. Data hasil uji penetapan aktivitas baku vitamin A Bobot Baku (g) Faktor Kadar Baku No.000 0.51 RSD (%) 0. sehingga setelah penggunan selesai.670.94 Data yang dipereleh menunjukan kadar baku vitamin A adalah 1688729 IU/g dengan RSD 0. Penetapan ini perlu dilakukan karena sifat dari vitamin A yang mudah rusak oleh pengaruh udara dan cahaya.137 3 0.0720 10.6330 1.0699 10. Komposisi fase gerak yang digunakan terdiri dari pelarut organik dan air.632 2 0. perlu dilakukan penetapan aktivitas baku vitamin A menggunakan spektrofotometer UV-Vis yang sudah dikalibrasi. Penelitian hasil pengembangan. Dari data diperoleh dapat disimpulkan bahwa baku vitamin A tersebut dapat digunakan untuk penelitian tahap selanjutnya. A (IU/g) 1 0. Data uji penetapan aktivitas baku vitamin A dapat dilihat pada Tabel 8.6557 1.688. Tabel 8.0733 10. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini telah dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit secara KCKT menggunakan kolom C 18 dengan alasan karena kolom ini sudah umum digunakan dan sudah dimiliki oleh sebagian besar laboratorium pangan.94 %. .000 0.000 0. tanpa penambahan larutan buffer dan pasangan ion.417 Rata-rata (IU/g) 1. maka kadar baku vitamin A tidak sesuai dengan kadar yang sebenarnya dan akibatnya hasil pengujian tidak akurat.6240 1.729 SD (IU/g) 15954.

Tanpa adanya reaksi tersebut. 42 4.2 Pemilihan kondisi analisis optimum Sebelum disuntikkan ke dalam sistem KCKT. Minyak goreng sawit merupakan senyawa yang sangat non polar. Agar minyak goreng sawit mudah bercampur dengan 2- propanol. sehingga terjadi inter aksi yang kuat dengan fase diam dan akibatnya retinil palmitat tidak dapat dielusi oleh fase gerak yang digunakan. sedangkan 2-propanol bersifat semi polar. Pereaksi butil hidroksi toluena berfungsi untuk mencegah oksidasi vitamin A. Pereaksi tetra-n-butil ammonium hidroksida berfungsi untuk mengubah vitamin A palmitat atau retinil palmitat menjadi retinol. larutan baku dan larutan sampel disiapkan dengan cara menimbang. Oksidasi terjadi akibat pengaruh udara dan cahaya. Butil hidroksi toluena akan beraksi dengan radikal bebas tersebut. retinil palmitat sangat sulit untuk dianalisis dengan KCKT karena sifat dari retinil palmitat yang sangat non polar. sehingga mencegah terjadinya reaksi oksidasi vitamin A. . + Retinil palmitat Tetra-n-butil Retinol ammonium hidroksida Gambar 3. Adapunun maksud dari penambahan perekaksi- pereaksi tersebut adalah sebagai berikut: penambahan pereaksi n-pentana untuk membantu kelarutan minyak goreng sawit dalam pelarut 2-propanol. ditambahkan larutan butil hidroksi toluena dan tetra-n- butil ammonium hidroksida. maka minyak goreng sawit tersebut dilarutkan terlebih dahulu dengan pelarut lain (n-pentana) yang lebih mudah bercampur dengan minyak goreng sawit. lalu diencerkan dengan 2-propanol. yang akan membentuk yang selanjutnya radikal bebas tersebut dapat mengoksidasi vitamin A. Reaksi yang terjadi antara vitamin A palmitat dengan tetra-n-butil ammonium hidroksida dapat dilihat pada Gambar 3. lalu melarutkannya menggunakan n- pentana dan 2-propanol. Reaksi antara retinil palmitat dengan tetra-n-butil ammonium hidroksida menghasilkan retinol.

43 Untuk mendapatkan kondisi analisis optimum vitamin A dalam minyak goreng sawit.5. Dalam hal ini. Fase gerak yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari fase gerak berupa pelarut murni (asetonitril atau metanol) dan campuran pelarut organik (asetonitril atau metanol) dengan air. sedangkan laju alir mempengaruhi migrasi suatu komponen. Waktu retensi dikendalikan oleh koefesien distribusi (k). maka laju alirnya tidak boleh besar. Dalam penelitian ini digunakan kolom C18 yang bersifat non polar. maka daya elusinya semakin besar. laju alir juga divariasikan mulai dari 0. Daya elusi dalam sistem kromatografi ini berbanding terbalik dengan polaritas fase gerak. jika harga k besar maka komponen dalam fase diam lebih besar dari pada dalam fase gerak. jumlah lempeng teoritis ataupun tailing faktor) hingga diperoleh kondisi yang optimum. laju alir fase gerak dan detektor yang digunakan. Pada pencarian kondisi analisis optimum.75 mL/menit. air merupakan senyawa yang paling polar bila dibandingkan dengan asetonitril dan metanol. serta waktu retensi yang relatif singkat. Semakin kecil polaritas fase gerak. Laju alir berbanding lurus dengan waktu retensi. sedangkan optimasi detektor yang digunakan untuk menentukan spesifisitas dan selektivitas yang tinggi dalam analisis tanpa adanya gangguan dari matriks sampel. Pada optimasi laju alir dipilih yang mempunyai waktu terpendek tetapi tidak mengabaikan kapasitasnya. Kecepatan migrasi ditentukan oleh jumlah komponen yang terdapat dalam fase gerak. sehingga sistem kromotagrafi ini merupakan sistem kromatografi fase balik. Apabila jumlah air dalam komposisi fase gerak tersebut ditambah. faktor ikutan (Tf) yang mendekati satu. Dalam hal . beberapa parameter kondisi KCKT perlu dioptimasi antara lain: komposisi fase gerak. Untuk fase gerak yang viskositasnya besar akan menyebabkan peningkatan tekanan pada kolam. maka daya elusinya semakin rendah dan akibatnya waktu retensi analit semakin besar. resolusi (Rs) yang lebih besar dari 1.6 mL/menit sampai dengan 1. karena komponen hanya bergerak dibawa oleh fase gerak. Komposisi fase gerak dan laju alir yang optimum memberikan jumlah lempeng teoritis (N) yang besar. Namun dengan berkurangnya daya elusi dapat memperbaiki bentuk kromatogram tersebut (resolusi. sehingga komponen akan tinggal lebih lama dalam fase diam. sehingga bila menggunakan fase gerak dengan menggunakan pelarut yang mempunyai viskositas yang besar.

Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan metanol dengan detektor UV dapat dilihat pada Tabel 13. Detektor yang digunakan pada penelitian ini adalah detektor ultraviolet dan detektor fluoresens. Pada penelitian ini digunakan kolom C 18 (Waters Xbridge. laju alir dan detektor yang digunakan (detektor ultraviolet dan fluoresens). asetonitril merupakan pelarut yang mempunyai viskositas paling kecil bila dibandingkan denga air dan metanol. Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan komposisi fase gerak metanol dengan detektor UV dapat dilihat pada Tabel 9. Pada pencarian kondisi analisis optimum. dengan panjang 250 mm. Vitamin A dapat dideteksi baik dengan menggunakan detektor ultraviolet maupun menggunakan detektor fluoresens. Detektor fluoresens digunakan untuk mendeteksi komponen zat yang dapat menyerap cahaya dan kemudian memancarkan cahaya pada panjang gelombang yang lebih tinggi.0 µm). Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak metanol dan air dengan detektor UV dapat dilihat pada Tabel 11. 44 ini. bila komposisi fase gerak terdiri dari asetonitril dengan jumlah yang besar maka dalam analisis bila menggunakan laju alir yang besar tekanan kolom tetap rendah. Dalam hal ini. Detektor ultraviolet digunakan untuk mendeteksi komponen zat yang dapat menyerap cahaya di daerah ultraviolet (190 – 400 nm). . Keuntungan dari detektor ini adalah pemilihan panjang gelombang yang luas dan sensitivitas terhadap alat yang baik. sedangkan data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak metanol dan air dengan detektor fluoresens dapat dilihat pada Tabel 12.6 mm ukuran partikel 5. diameter 4. karena hanya komponen zat yang berfluoresensi saja yang dapat dideteksi. Dibandingkan dengan detektor ultra violet. detektor yang digunakan juga divariasikan. detektor flouresen lebih peka dan lebih selektif. Pemilihan kondisi optimum dilakukan dengan memvariasikn komposisi fase gerak. sedangkan data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak metanol dengan detektor fluoresens dapat dilihat pada Tabel 10.

75 mL/menit dengan detektor ultraviolet pada panjang gelombang 325 nm. Berdasarkan kromatogram yang dihasilkan dari berbagai kondisi optimasi percobaan dan dengan nilai skor yang diperoleh. Dari gambar 4 menunjukkan bahwa walaupun kromatogram matriks minyak goreng sawit memberikan banyak puncak. namun pada saat vitamin A keluar dari kolom dan dideteksi oleh detektor. laju alir 1. Data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan detektor UV dapat dilihat pada Tabel 15 dan Tabel 17. sehingga dengan kondisi KCKT tersebut matriks minyak goreng sawit dan pereaksi yang digunakan tidak mengganggu dalam analisis vitamin A dalam kondisi KCKT yang digunakan. sedangkan data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air dengan detektor fluoresens dapat dilihat pada Tabel 16 dan Tabel 18. .75 mL/menit dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm dapat dilihat pada Gambar 4. Kromatogram blanko (minyak goreng sawit yang tidak mengandung vitamin A) dan kromatogram baku vitamin A palmitat (dalam matriks minyak goreng sawit) yang dianalisis menggunakan KCKT kolom C18 pada kondisi optimum komposisi fase gerak yang terdiri dari campuran asetonitril dan air (80:20). 45 sedangkan data pengamatan kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan metanol dengan detektor fluoresens dapat dilihat pada Tabel 14. di sekitar puncak/kurva vitamin A tidak ada matriks atau perekasi yang mengganggu dan memberikan waktu retensi yang sama dengan vitamin A. laju alir 1. diperoleh 1 kondisi analisis yang paling optimum untuk analisis vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit yaitu: komposisi fase gerak yang terdiri dari campuran asetonitril dan air (80:20).

0 6.00 0.0 9. .0 4.0 2.25 1. maka data ini menunjukkan tidak terjadi perubahan yang signifikan dari waktu retensi dan luas area baku vitamin A dan sistem operasional yang digunakan teruji efektif untuk analisis dan dapat disimpulkan bahwa UKS sudah memberikan hasil yang baik dan sistem KCKT tersebut dapat digunakan untuk analisis vitamin A.841/149056 1.00 2.0 7. Data uji kesesuaian sistem dapat dilihat pada Tabel 19.75 1.0 8.25 2.0 %. yang dianalisis menggunakan KCKT kolom C18 pada kondisi optimum dengan komposisi fase gerak yang terdiri dari campuran asetonitril dan air (80:20).00 0.0 9.00 Vitamin A/7.0 3.50 1.25 0.3 Uji kesesuaian sistem (UKS) Uji kesesuaian sistem perlu dilakukan sebelum instrumen KCKT digunakan.50 Detector A:325nm 2. 4.0 7. Secara normal terdapat variasi dalam peralatan dan teknik analisis.0 5. Nilai RSD kurang dari 1.0 6.900 menit dengan standar deviasi relatif (RSD) 0.0 1.0 2.75 0. diperoleh waktu retensi (Rt) 7. Kromatogram A (blanko minyak goreng sawit yang tidak me- ngandung vitamin A) dan kromatogram B (baku vitamin A palmitat dalam matriks minyak goreng sawit).0 1.223 %.0 min A B Gambar 4.726 %. 46 mV(x10) mV(x10) 2.7 mL/menit dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.50 Detector A:325nm 2. luas area 169352 dengan RSD 0.0 4.25 0.50 1.00 1.25 1.0 5.25 2.50 0.50 0.00 0.0 3. laju alir 1. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada penyuntikan ulang larutan baku vitamin A dengan 6 kali pengulangan. maka uji kesesuaian sistem dilakukan untuk memastikan bahwa sistem operasional sudah sesuai dan memberikan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan analisis.75 1.0 min 0.0 8.75 0.

036 2 9 2 90:10 7.5 3.120 2 8 47 .106 2 8.205 2 8 2 0. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan: fase gerak metanol 100% dengan berbagai variasi laju alir detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm Jumlah Lempeng Laju Alir No.185 2 8 Tabel 11. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 85:15 14.112 3 6382 2 1.392 2 3673 1 1. detektor UV pada panjang gelombang 325 nm Jumlah Lempeng Komposis No.701 2 3239 1 1. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total (mL/menit) Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 1.8 5. Tabel 9.624 3 1.006 2 3579 1 1. laju alir: 1.030 2 10 3 95:5 4.021 3 2. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak metanol dan air.146 3 4931 1 1.515 3 3.276 2 3759 1 1.50 mL/menit.172 2 8 2 0. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan.6 7. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total (mL/menit) Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 1.273 3 8619 2 1.613 3 1.6 7.452 3 2. fase gerak metanol 100% dengan berbagai variasi laju alir.0 4.223 2 8 3 0.078 2 9 4 97.177 2 8 3 0.481 3 2.285 3 2.576 3 1. detektor UV pada panjang gelombang 325 nm Jumlah Lempeng Laju Alir No.8 5.380 2 4038 1 1.0 4.641 3 4.559 2 3878 1 1.887 2 3336 1 1.5:2.224 2 8 Tabel 10.

777 3 1. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan metanol.678 3 2. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak metanol dan air.108 2 8 4 97. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 85:15 14.130 2 8 Tabel 13.5 3.605 2 4063 1 1.0 mL/menit.293 2 Baik 3 8380 2 1.Tabel 12.150 2 4020 1 1.164 2 9 2 50:50 4. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 75:25 5. laju alir: 1.801 3 5203 1 1.50 mL/menit.035 3 3.514 2 3267 1 1.213 2 8 3 25:75 4.5:2.041 2 9 2 90:10 7.835 3 Baik 3 6138 2 1. detektor UV pada panjang gelombang 325 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.187 2 8 48 . laju alir: 1.623 3 1. detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm Jumlah Lempeng Komposis No.814 3 2.075 2 10 3 95:5 4.192 2 4413 1 1.

107 2 3515 1 1.163 2 Baik 3 10869 3 1.034 2 10 4 85:15 7.158 3 1. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air.572 3 3.046 2 8525 2 1.024 2 10 49 . laju alir: 1.0 mL/menit.5 mL/menit.487 3 4174 1 1.391 1 15301 1 1.206 3 2.412 3 2.059 2 9 6 75:25 13.777 3 7125 2 1.196 2 9 2 95:5 4.549 3 5589 1 1.047 2 10 5 80:20 9.634 3 2.Tabel 14.969 3 2. laju alir: 1. detektor fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.102 2 9 3 90:10 5.140 2 8 3 25:75 4. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan metanol. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 75:25 5.485 2 9317 3 1.622 1 6 2 50:50 4. detektor UV panjang 325 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.747 3 2.182 2 8 Tabel 15.537 3 2. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 100:0 3.220 2 3733 1 1.

028 2 11 6 75:25 11.5 mL/menit.397 3 2. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air.031 2 10 5 80:20 9.352 2 Baik 3 10254 3 1.096 2 9 3 90:10 4.259 2 Baik 3 9096 3 1. detektor UV pada panjang gelombang 325 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.778 3 Baik 3 6956 2 1.250 3 Baik 3 8556 2 1.377 2 10 6 75:25 13.607 3 1.239 1 7 2 95:5 3. laju alir: 1.025 2 10 4 85:15 6. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 100:0 3. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air.75 mL/menit.077 2 8 4 85:15 7.040 2 10 Tabel 17.789 3 Baik 3 5167 1 1.834 2 4534 1 1.703 3 1.123 2 8 2 95:5 4.879 3 7837 2 1.533 2 3916 1 1. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 100:0 3.700 2 3486 1 1.828 3 1.699 2 9536 3 1.799 3 1.026 2 10 5 80:20 8. dengan detector fluoresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.258 3 1.037 2 10 50 .251 1 4540 1 1.456 3 Baik 3 9830 3 1.Tabel 16. laju alir: 1.170 2 7 3 90:10 5.

148 2 7 2 95:5 3.023 2 9004 3 1. detektor fluoresens panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm Jumlah Lempeng Komposisi No.446 1 3337 1 1.560 3 7132 2 0.624 3 5.302 1 4230 1 1.036 2 9 51 .921 3 1. laju alir: 1.219 1 5868 1 0.943 3 1.5 mL/menit.Tabel 18.509 1 9 6 75:25 11.355 3 1. Waktu Retensi (Rt) Resolusi (Rs) Teoritis (N) Tailing Faktor (Tf) Total Fase Gerak Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Rata-rata Skor Skor 1 100:0 3.428 2 2.959 2 10 5 80:20 8.171 3 8150 2 1.305 3 3.120 2 7 3 90:10 4. Data pengamatan dan evaluasi kromatogram vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit menggunakan variasi komposisi fase gerak asetonitril dan air.995 2 7 4 85:15 6.

881 170247 3 UKS 3 7. Kurva kali- brasi vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dapat dilihat pada gambar 5.995 dan Vxo maksimal 5 % sehingga dapat disim- pulkan bahwa linieritas baku vitamin A memenuhi uji linieritas. Validasi ini diawali dengan pembuatan kurva kalibrasi dan linieritas dengan rentang konsentrasi 0.887 167634 Rata-rata 7.906 168218 4 UKS 4 7. 52 Tabel 19.931 169736 2 UKS 2 7. selanjut- nya dilakukan validasi terhadap metode analisis tersebut. Selan- jutnya dibuat kurva konsentrasi versus faktor respon detektor dan kurva konsentrasi versus residual. Kurva hubungan antara konsentrasi vitamin .223 0.899 169386 5 UKS 5 7.1 Kurva kalibrasi dan uji linieritas.99997 dan Vxo 2.726 Syarat RSD (%) ≤ 1.73 IU/g. Setelah diperoleh kondisi optimum untuk analisis dan uji kese- suaian sistem telah memenuhi sesuai dengan yang diinginkan.4.895 170891 6 UKS 6 7.5233 IU/mL. baku untuk pembuatan kurva kalibrasi diperlakukan sama terhadap larutan uji.0 ≤ 1.54 dimana kriteria linieritas yang dapat diterima adalah r minimal 0.279 RSD 0. Data hasil uji kesesuaian sistem (UKS) baku vitamin A No Kode Waktu Retensi (Rt) Luas Area 1 UKS 1 7. Untuk analisis vitamin A dalam minyak goreng sawit.4 Validasi metode analisis penetapan kadar vitamin A 4.0 4. Pemilihan rentang konsentrasi ini berdasarkan konsentrasi vitamin A yang ditambahkan ke dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran dan mencakup konsentrasi batas kuantisasi yaitu 5.018 1229. Dari hasil perhitungan statistik kurva kalibrasi memberikan nilai r 0. yaitu ditam- bahkan minyak goreng sawit yang tidak mengandung vitamin A.900 169352 SD 0.4443 IU/mL sampai dengan 13. Hal ini dimaksudkan untuk menyamakan adanya gangguan matriks dari minyak goreng sawit antara larutan uji dan larutan baku.

Dari kedua kurva tersebut dapat dilihat adanya penyebaran secara random antara konsentrasi vitamin A dengan faktor respon detektor dan konsentrasi vitamin A dengan residual yang mendekati garis tengah menunjukkan linieritas yang baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa linieritas baku vitamin A dengan rentang konsentrasi 0. Kurva kalibrasi baku vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit . 600000 500000 400000 Luas Area 300000 200000 100000 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Kons e ntr as i V itam in A (IU/m L) Gambar 5. 53 A terhadap faktor respon detektor dapat dilihat pada Gambar 6 dan kurva hubungan antara konsentrasi vitamin A terhadap residual dapat dilihat pada Gambar 7.5233 IU/mL memenuhi kritria uji linieritas dan dapat diterima untuk perhitungan analisis selanjutnya.4443 IU/mL sampai dengan 13.

Pada penelitian ini. konsentrasi sedang (46. 4. Presisi metode analisis diekspresikan sebagai fungsi dari konsentrasi melalui persamaan: Presisi suatu metode akan memenuhi syarat apabila %RSD yang diper- oleh dari percobaan lebih kecil dari 2/3 % RSD Horwitz dan berdasarkan persamaan Horwitz dapat dipastikan bahwa.74 IU/g) dan konsentrasi tinggi (71. semakin kecil konsentrasi suatu analit.2 Uji presisi Presisi pengukuran kuantitatif dapat ditentukan dengan mengana- lisis sampel yang sama secara berulang-ulang (minimal 6 x pengu- langan).28 IU/g). maka nilai presisi yang dapat diterima akan semakin besar. Hubungan antara konsen trasi vitamin A dengan sentrasi vitamin A terha- faktor respon detektor. 54 38897 8000 6000 37897 4000 36897 Faktor Respon Detektor 2000 Residual 35897 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 -2000 34897 -4000 33897 -6000 32897 0 2 4 6 8 10 12 14 16 -8000 Konsentrasi Vit.3. uji presisi dilakukan analisis terhadap tiga konsentrasi. Hubungan antara konse. Gambar 7. yaitu konsentrasi rendah ( 23. Dari nilai % RSD yang diperoleh diban- dingkan dengan % RSD Horwitz yaitu suatu kurva berbentuk terompet yang menghubungkan reprodusibilitas (presisi yang dinyatakan sebagai % RSD dengan konsentrasi analit). dari masing-masing . residual.48 IU/g). kemudian dihitung nilai standar deviasinya (SD) dan dari nilai standar deviasi tersebut dihitung nilai standar deviasi baku relatif (RSD) atau koefesien variasi (KV). A (IU/m L) Konsentrasi Vitam in A (IU/m L) Gambar 6.

. Nilai persen perolehan kembali yang mendekati 100 % menunjukkan bahwa metode tersebut memiliki ketepatan yang baik dalam menunjuk- kan tingkat kesesuaian dari rata-rata suatu pengukuran yang sebanding dengan nilai sebenarnya (true value). Data hasil uji presisi dapat dilihat pada Tabel 20. 55 konsentrasi tersebut selanjutnya dilakukan uji presisi sebanyak 6 kali pengulangan dan pengujian dilakukan oleh analis yang sama dan waktu yang hampir bersamaan (ripitabilitas). sehingga hasil pengukuran memiliki nilai presisi yang memenuhi persyaratan. Selanjutnya sam- pel dianalisis hingga diperoleh nilai persen perolehan kembalinya. pene- tapan dengan menggunakan bahan acuan bersertifikat atau standard reference material (SRM). Akurasi dapat ditetapkan dengan 3 cara yaitu. Pada penelitian ini digunakan metode penambahan standar adisi dan menghitung persen perolehan kembali. Presisi suatu metode dinyatakan memenuhi syarat keberterimaan jika % RDS lebih kecil dari 2/3 CV Horwitz. akurasi merujuk pada pengertian ketepatan (kecermatan). Uji perolehan kembali dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah baku pembanding vita- min A ke dalam sampel yang sebelumnya telah ditentukan kadar vitamin A-nya (sampel yang telah ditentukan nilai presisinya). 4. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai RSD untuk ripitabilitas yang dihasilkan tidak melebihi 2/3 dari nilai RSD berdasar- kan rumus Horwizt.3 Uji akurasi Berbeda halnya dengan presisi yang merujuk pada pengertian ketelitian. Penentuan akurasi metode untuk membuktikan kedekatan hasil analisis dengan nilai benar. Hal ini menunjukkan bahwa sistem operasional alat dan analis memiliki nilai presisi yang baik terhadap metode dengan respon yang relatif konstan.3. membandingkan menggunakan metode yang telah valid (metode resmi atau metode standar) dan menghitung uji perolehan kembali dengan menggunakan penambahan standar (standar adisi).

uji akurasi dilakukan analisis terhadap tiga konsentrasi yang berbeda. Pengujian akurasi dilakukan dengan cara penam- bahan standar adisi dan akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali.28 IU/g). Data hasil uji selektivitas (spesifisitas) dapat dilihat pada Tabel 22. kon- sentrasi sedang (46.39 %. tersier butil hidrokinon). vitamin yang larut dalam minyak (vitamin D dan vitamin E) dan senyawa kimia alami yang terdapat dalam minyak goreng sawit (beta karoten). yaitu konsentrasi rendah ( 23.4 Uji selektivitas (spesifisitas) Pada uji selektivitas (spesifisitas). Data hasil uji akurasi dapat dilihat pada Tabel 21. Kromatogram campuran senyawa kimia yang sedang dilakukan uji selektivitasnya (tanpa penambahan vitamin A) dan baku vitamin A dengan matriks sampel minyak goreng sawit dapat dilihat pada Gambar 8. Senyawa kimia tersebut dapat berupa: senyawa anti oksidan (butil hidroksi anisol. .48 IU/g).74 IU/g) dan konsentrasi tinggi (71.3. butil hidroksi toluena. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang digunakan memenuhi kriteria untuk uji akurasi dan dengan kata lain metode yang telah dikembangkan ini memberikan hasil akurasi yang tidak berbeda dengan metode standar atau metode resmi. secara keseluruhan nilai persen perolehan kembali berada dalam rentang 96. namun pada saat penyiapan larutan uji ditambahkan senyawa-senyawa kimia lainnya yang mungkin terdapat atau sengaja ditambahkan ke dalam minyak goreng sawit. Dari tabel hasil uji akurasi dapat dilihat. propil galat. dilakukan analisis terhadap sampel minyak goreng sawit yang sama pada uji presisi. dari masing-masing konsentrasi tersebut selanjutnya dilakukan uji akurasi sebanyak 6 kali pengulangan dan pengujian dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan.84–102. 56 Pada penelitian ini. dimana kriteria persen perolehan kembali yang dapat diterima adalah 80- 110 %. 4.

99 5 2.86 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan presisi vitamin A n a (Intersep) b (Slope) r 12 51.67 17 2.46 1. A Kadar Vit.5593 25 85028 23.48 0.73 6 2.09 16 2.84 4 2.54 4.5942 25 84535 22.5055 25 257386 71.84683 0.74 0.90 1.56 2 2.93 6.60 7 2.87 6.4904 25 261964 73.5104 25 167814 46.33 1.58 11 2.83 3 2.63 9 2.97 7.5147 25 84957 23.51 12 2.36 10 2. Bobot Sampel Luas Area Kadar Vit.86 13 2.5343 25 85764 23.5092 25 252020 70.00 46.83 8 2.28 1.5004 25 170554 47.5777 25 168170 45.5138 25 86478 23.5202 25 252344 69.4902 25 170849 47.14 4.17 23.4991 25 85404 23.4901 25 252416 70. A RSD 2/3 RSD Pengenceran SD (IU/g) RSD (%) (g) (IU/g) Rata-rata (IU/g) Horwitz (%) Horwitz (%) 1 2.999973 57 . Data uji presisi penetapan kadar vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit No.07 71.4914 25 167239 46.Tabel 20.5336 25 167056 46.5045 25 258306 71.72 18 2.9937563 35825.96 14 2.26 4.39 15 2.

Tabel 21. Data uji akurasi penetapan kadar vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit
Bobot Vit. A yang Luas Area Vit. A total Vit. A dari Rekoveri Rata-Rata
No Pengenceran SD (%) RSD (%)
Sampel (g) ditambahkan (IU) (IU) sampel (IU) Vit. A (%) Rekoveri (%)
1 1,2647 28,98 25 84610 59,0063 29,6952 101,15
2 1,2317 28,98 25 81711 56,9833 28,9203 96,84
3 1,2402 28,98 25 82138 57,2813 29,1199 97,18
98,40 1,87 1,90
4 1,2507 28,98 25 82822 57,7586 29,3664 97,98
5 1,2413 28,98 25 82067 57,2317 29,1457 96,92
6 1,2504 28,98 25 83783 58,4292 29,3594 100,31
7 1,2307 57,96 25 163743 114,2269 57,5229 97,94
8 1,2439 57,96 25 164669 114,8731 58,1399 97,89
9 1,2503 57,96 25 165772 115,6428 58,4390 98,70
98,76 1,81 1,83
10 1,2468 57,96 25 164814 114,9743 58,2754 97,83
11 1,2416 57,96 25 164546 114,7872 58,0324 97,93
12 1,2592 57,96 25 169434 118,1982 58,8550 102,39
13 1,2577 86,94 25 254429 117,5094 89,6489 101,06
14 1,2425 86,94 25 249940 174,3769 88,5654 98,71
15 1,2404 86,94 25 247577 172,7280 88,4157 96,98
98,29 1,50 1,52
16 1,2506 86,94 25 249957 174,3888 89,1428 98,06
17 1,2503 86,94 25 249607 174,1445 89,1214 97,80
18 1,2407 86,94 25 247784 172,8724 88,4371 97,12

Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan akurasi vitamin A

n a (Intersep) b (Slope) r
12 51,9937563 35825,84683 0,999973

58

59

mV(x10) mV(x10)
2.50 Detector A:325nm 2.50 Detector A:325nm

2.25 2.25

Vitamin A/7.879/169490
2.00 2.00

1.75 1.75

1.50 1.50

1.25 1.25

1.00 1.00

0.75 0.75

0.50 0.50

0.25 0.25

0.00 0.00

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 min 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 min

A B
Gambar 8. Kromatogram A (campuran senyawa kimia yang sedang di-
lakukan uji selektivitasnya: butil hidroksi anisol, butil
hidroksi toluena, propil galat, tersier butil hidrokuinon, vita-
min D, vitamin E dan beta karoten) dan kromatogram B
(baku vitamin A) dalam matriks sampel minyak goreng
sawit yang dianalisis menggunakan KCKT kolom C18
pada kondisi optimum dengan komposisi fase gerak yang
yang terdiri dari campuran asetonitril dan air (80:20)
laju alir 1,75 mL/menit dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa kromatogram yang dihasilkan
tidak diganggu oleh adanya senyawa-senyawa yang sengaja ditambahkan
ke dalam minyak goreng sawit dan pada uji t diperoleh hasil yang tidak
berbeda bermakna bila dibandingkan dengan hasil dari presisi yang telah
dilakukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang
digunakan memenuhi syarat uji selektivitas (spesifitas) terhadap analit:
senyawa anti oksidan (butil hidroksi anisol, butil hidroksi toluena, propil
galat, tersier butil hidrokinon), vitamin yang larut dalam minyak (vitamin
D dan vitamin E) dan senyawa kimia alami yang terdapat dalam minyak
goreng sawit (beta karoten).

4.3.5 Uji robustness.
Pada uji robustness, dilakukan analisis terhadap sampel minyak
goreng sawit yang sama pada uji presisi, namun pada metode tersebut
dilakukan sedikit perubahan kecil seperti: perubahan penambahan atau
pengurangan jumlah pereaksi yang digunakan, perubahan komposisi fase
gerak, perubahan laju alir, dan perubahan merek kolom. Data hasil uji
robustness dengan perubahan penambahan jumlah pereaksi menjadi: n-

60

pentana 3 mL, larutan antioksidan butil hidroksi toluena 3 mL dan larutan
tetra-n-butil amonium hidroksida 10,5 mL dapat dilihat pada Tabel 23.
Data hasil uji robustness dengan perubahan pengurangan jumlah pereaksi
n-pentana 2 mL, larutan antioksidan butil hidroksi toluena 2 mL dan
larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 9,5 mL dapat dilihat pada Tabel
24. Data hasil uji robustness dengan perubahan komposisi fase gerak
asetonitril:air (81:19) dan laju alir 1,74 mL/menit dapat dilihat pada Tabel
25. Data hasil uji robustness dengan perubahan komposisi fase gerak
asetonitril:air (79:21) dan laju alir 1,76 mL/menit dapat dilihat pada Tabel
26. Data hasil uji robustness dengan perubahan menggunakan merek
kolom yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 27. Dari Tabel 23–27
menunjukkan dalam uji t diperolah nilai t hitung lebih kecil dari t tabel,
sehingga dapat disimpulkan hasil pengujian kondisi normal dengan hasil
pengujian pada kondisi yang sedang diuji robutsnessnya memberikan
hasil uji yang tidak berbeda bermakna.

4.3.6 Uji batas deteksi dan batas kuantisasi
Pada penentuan uji batas deteksi dan batas kuantisasi dibuat
larutan vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan
konsentrasi 0,4988 IU/g sampai dengan 9,9970 IU/g. Kurva regresi
kadar vitamin A terhadap tinggi noise dengan sinyal pada penentuan
uji batas deteksi dan batas kuantisasi dapat dilihat pada Gambar 9.

18

16
Perbandingan tinggi noise terhadap tinggi sinyal (S/N)

14

12

10

8

6

4

2

0
0 2 4 6 8 10 12

Kadar V it. A (IU/g)

Gambar 9. Kurva regresi kadar vitamin A terhadap tinggi
noise dengan sinyal (S/N).

9937563 35825.5419 25 173729 47.228 4 2.68 3 2.5703 25 168767 45.5098 25 168382 46.36 0.99 1.80 6 2.5007 25 172544 48.4949 25 173673 48. A Kadar Vit.5087 25 169742 47.81 47. Data uji selektivitas (spesifisitas) vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.13 5 2.999973 61 .84683 0.609 2.20 2 2. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2. Tabel 22.56 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) r 12 51.

415 2.52 5 2.5989 25 170548 45.999973 Tabel 24.29 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) R 12 51.228 4 2.5995 25 173708 46.431 2.5996 25 169883 45.999973 62 . larutan antioksidan butil toluena 3 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 10.62 3 2.36 6 2.5 mL No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.27 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) R 12 51.24 0.46 3 2.9937563 35825.84683 0.78 46.4902 25 172393 48.228 4 2. Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan perubahan metode pengurangan jumlah pereaksi menjadi: n-pentana 3 mL.5442 25 173088 47. Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan perubahan metode pengurangan jumlah pereaksi menjadi: n-pentana 2 mL.Tabel 23.31 2 2. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2.5394 25 173671 47.84683 0.85 6 2.5097 25 170380 47. A Kadar Vit.07 47.5102 25 173697 48. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2. A Kadar Vit.9937563 35825.91 1.71 5 2.90 0.5 mL No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit. larutan antioksidan butil toluena 2 mL dan larutan tetra-n-butil amonium hidroksida 9.5491 25 173648 47.5994 25 170851 45.99 0.59 2 2.4957 25 168412 47.5047 25 169864 47.

9937563 35825.65 6 2.84683 0.5997 25 171587 45.74 mL/menit No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.5972 25 173804 46.46 3 2.86 1.59 3 2.27 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) R 12 51.71 5 2.4902 25 173647 48.Tabel 25. Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan perubahan metode perubahan komposisi fase gerak menjadi asetonitri: air (81:19) dan laju alir 1. A Kadar Vit.4966 25 173072 48.23 0.5908 25 175049 47.84683 0.5974 25 174505 47.228 4 2.5993 25 173576 46. A Kadar Vit.4907 25 172261 48.4989 25 169622 47.36 6 2.59 2 2.25 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) R 12 51.364 2.5989 25 174788 46.228 4 2.76 mL/menit No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.07 47.37 0.999973 63 .5892 25 173454 47.68 47.13 5 2.87 1.4907 25 171451 47.92 2 2.999973 Tabel 26. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2.9937563 35825.744 2. Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan perubahan metode perubahan komposisi fase gerak asetonitri menjadi: air (79:21) dan laju alir 1.

99 0.41 0.999973 64 .4902 25 181337 47.5448 25 180120 45.5389 25 180359 45.15 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan uji selektivitas (spesifisitas) n a (Intersep) b (Slope) R 12 51. Jepang: panjang 250 mm.228 4 2.4902 25 183651 47. A Kadar Vit. A SD Uji t (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) t Hitung t Tabel 1 2.75 2 2. Data uji robustness vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dengan perubahan metode penggunakan merek kolom C 18 yang berbeda (kolom merek Shimadzu Shim-pack.84683 0.99 5 2.5752 25 179055 45.46 mm dan ukuran partikel 5 µm) No Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.82 6 2.75 46.9937563 35825.5002 25 180532 46.02 3 2. diameter dalam 1.856 2.Tabel 27.

4. Hasil analisis terhadap minyak goreng sawit yang beredar di pasaran dan pada labelnya mengklaim akan kandungan vitamin A menunjukkan bahwa pada ke-empat sampel mengandung vitamin A berturut-turut sebesar 16.07 IU/g dan 66. Batas deteksi dan batas kuantisasi yang diperoleh sudah dapat diterima. karena untuk mengetahui apakah minyak goreng sawit yang diuji memenuhi syarat atau tidak dalam hal kandungan vitamin A adalah minimal 45 IU/g. Hasil evaluasi kromatogram dan SD yang diperoleh dari penetapan kadar vitamin A dapat disimpulkan bahwa matriks sampel yang terkandung dalam berbagai merek minyak goreng sawit yang beredar di pasaran tidak mengganggu dalam analisis penetapan kadar vitamin A. 65 Setelah dianalisis dan dibuat persamaan regresi linier.65 IU/g (75 % sampel tidak memenuhi persyaratan kadar vitamin A yang akan ditetapkan pemerintah). diperoleh nilai batas deteksi vitamin A dalam minyak goreng sawit adalah 1.4 Uji coba penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran.75 IU/g. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap metode analisis yang telah dikembangkan dan telah divalidasi oleh peneliti. 28. sedangkan batas deteksi dan batas kuantitasi yang diperolah jauh di bawah 45 IU/g.66 IU/g dan nilai batas kuantisasi vitamin A dalam minyak goreng sawit adalah 5. 29.89 IU/g. Dari tabel tesebut dapat disimpulkan bahwa kandungan vitamin A dalam sampel yang diuji masih banyak yang belum memenuhi persyaratan kadar vitamin A yang akan ditetapkan oleh pemerintah. sehingga metode yang telah dikembangkan dan telah divalidasi oleh peneliti dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk penetapan kadar vitamin A dalam berbagai merek minyak goreng sawit. dapat dibuat ringkasan hasil penelitian sebagai berikut: .39 IU/g. Data hasil analisis terhadap sampel minyak goreng sawit yang beredar di pasaran dapat dilihat pada tabel 28.

6. Hasil optimasi metode analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit secara KCKT menggunakan kolom C 18 diperoleh hasil yang optimal menggunakan komposis fase gerak asetonitril:air (80:20) dengan laju alir 1. Metode yang telah dikembangkan peneliti hasilnya sudah valid yang dibuktikan dengan hasil validasi dari metode tersebut yang sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan. 5. Metodenya selektif.75 mL/menit menggunakan detektor ultraviolet pada panjang gelombang 325 nm. . ekstraksi dan proses pemekatan atau penguapan pelarut) dari pengalaman yang pernah diperoleh peneliti diperlukan waktu sekitar 6 jam. tanpa proses ekstraksi dan tanpa proses pemekatan atau penguapan pelarut. sehingga metode ini lebih mudah dan praktis. tanpa proses ektraksi dan tanpa proses pemekatan atau penguapan pelarut. sehingga untuk sekali pengujian sampel menggunakan metode tersebut diperlukan waktu sekitar 2 jam. dibuktikan dengan perolehan skor yang tinggi dalam penilaian kromatogram KCKT. 66 1. misalnya: susu. tanpa diperlukan keahlian dan peralatan khusus untuk proses persiapan sampel. sedangkan bila menggunakan metode resmi yang sudah ada (dengan proses saponifikasi. 3. Metodenya mudah dan praktis. karena metode yang telah dikembangkan peneliti persiapan sampelnya tanpa proses saponifikasi. 4. namun kelemahannya metode ini hanya dapat digunanakan untuk penetapan kadar vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit dan tidak dapat digunakan untuk penetapan kadar vitamin A dalam produk pangan yang lain. Metodenya cepat. Metode yang sudah dikembangkan dan divalidasi oleh peneliti memiliki keunggulan-keunggulan seperti telah diuraikan di atas. 2. daging dan telur. dibuktikan dari hasil selektivitas pada bagian uji validasi yang telah dilakukan dan hasilnya sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan. dibuktikan dengan persiapan sampel pada metode yang telah dikembangkan peneliti tanpa proses saponifikasi.

18 0.39 0.94 29.4974 25 104545 29. A Kadar Vit.70 4.76 5 Sva A 2.5015 25 242568 67.4916 25 232286 65.65 66.999973 67 .24 16.9937563 35825.61 7 Snc A 2.17 3 Fvt 2.78 Kurva Kalibrasi yang digunakan untuk perhitungan kadar vitamin A n a (Intersep) b (Slope) r 12 51.78 2.75 0.20 6 Sva B 2.85 2.04 8 Snc B 2. A SD RSD (g) (IU/g) Rata-Rata (IU/g) (IU/g) (%) 1 Avn A 2.5892 25 107451 28.4917 25 99450 27.25 2 Avn B 2.07 0.84683 0.35 1.4907 25 58070 16.4989 25 103703 28.Tabel 28.84 4 Fvt 2.5928 25 64114 17.95 28. Data hasil analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit yang beredar di pasaran No Kode Bobot Sampel Pengenceran Luas Area Kadar Vit.

68 .

75 mL/menit dan menggunakan detektor ultraviolet pada panjang gelombang 325 nm. penetapan batas deteksi dan batas kuantisasi memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sehingga metode analisis ini valid. kecepatan alir 1. presisi. Hasil analisis terhadap 4 merek sampel minyak goreng sawit yang beredar di pasaran yang pada labelnya mengklaim kandungan vitamin A diperoleh 75 % mengandung vitamin A dibawah standar yang akan ditetapkan. 5. sehingga metode yang telah dikembangkan dan telah divalidasi oleh peneliti dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk penetapan kadar vitamin A dalam berbagai merek minyak goreng sawit. KESIMPULAN DAN SARAN 5.6 mm ukuran partikel 5. selanjutnya dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit. laju alir dan detektor ultraviolet dan atau detektor fluoresens yang memberikan nilai resolusi (Rs) dan nilai lempeng teoritis (N) yang baik. Hasil validasi metode analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa parameter validasi linieritas. Parameter yang digunakan pada pencarian kondisi analisis optimum pada penetapan kadar vitamin A dengan menggunakan KCKT kolom C 18 dengan variasi komposisi fase gerak.1 KESIMPULAN Kondisi optimum untuk analisis penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit menggunakan KCKT dengan kolom C-18 (Waters Xbridge. uji presisi . dapat digunakan sebagai konfirmasi identitas vitamin A dalam minyak goreng sawit. V. akurasi.0 µm) adalah menggunakan fase gerak asetonitril-air (80:20). diameter 4. robustness. panjang 250 mm.2 SARAN Terhadap metode ini agar dilakukan validasi lebih lanjut seperti: uji selektivitas menggunakan matriks minyak goreng sawit yang sudah mengalami penurunan mutu (bilangan asam dan bilangan peroksidanya tinggi). Matriks sampel yang terkandung dalam berbagai merek minyak goreng sawit yang beredar di pasaran tidak mengganggu dalam analisis penetapan kadar vitamin A. selektivitas.

Untuk penelitian selanjutnya agar dilakukan perhitungan estimasi ketidakpastian pengukuran dalam penetapan kadar vitamin A dalam minyak goreng sawit agar dapat mengetahui sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran. 70 antara (intermediate reproducibility) dan ketangguhan metode (ruggednes/ reproducibility) dengan cara melakuan uji kolaborasi yang melibatkan laboratorium lain. yang selanjutnya dapat menghindari terjadinya kesalahan yang besar dalam suatu analisis. sehingga kehandalan metode ini benar-benar diyakini dan untuk selanjutnya dapat diusulkan sebagai metode resmi dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). .

Food Comp. 16 Mar 2011. and J. http://pdf. Jakarta. J. 2005. Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi. New York: A Wiley-Interscience.gov/pdf_docs/PNACK055. Kodeks Makanan Indonesia. Jakarta. Di dalam: Hariyadi P. Ed ke-2. Vitamin Analysis for the Health and Food Sciences. 1991. Ed ke-4. 1998. DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. 2009. Di dalam: Workshop Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit. [CE] Council of Europe.usaid. Barbara PK. [Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. 2005. Studies on Fortification of Refined Soybean Oil with All-trans Retinyl Palmitate in Brazil: Stability During Cooking and Storage. J. British Pharmaco-poeia. 2008. Paul BV. Dutra de Oliveira. [Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985. I. Prinsif Dasar Ilmu Gizi. Favaro.pdf [1 Mar 2011] Berdanier et. Jakarta: . Gaithersburg. Suplemen I Farma-kope Indonesia. Jakarta. 2009a. 480 Vegetables Oil [terhubung berkala]. Bagriansky J dan P Ranum. Augustin J. 2002. Ferreira. Ed ke-18. Boca Raton: CRC Press. 2006. Jakarta. [AOAC International] Association of Official Analytical Chemist International. Desai. ISO/IEC 17025: 2005. Eitenmiller RR. 4: 237-244. Jakarta. [Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2009. Teknologi Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Sawit. 2009b. Deborah B. WO Landen Jr. Lin Ye. Anal. 2007. Ed ke-4. 1979. Official Methods of Analysis of AOAC International. Washington DC: CRC Press. Kategori Pangan. Jakarta. Farmakope Indo-nesia. Jakarta. Methods of Vitamin Assay. Strasbourg: European Directorate for the Quality of Medicine and Health Care. European Pharmacopoia. 2011. L. London. [Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. R. all. [BP Commision] British Pharmacopoeia Commision. [Badan POM] Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Vitamin A Fortification of P. Hanbook of Nutrion and Food. [BSN] Badan Standardisasi Nasional. Profil Kesehatan Indonesia 2008. 1995.

2007. Terjemahan dari: Basic Liquid Chromatography. Di dalam: Siregar CJP. Muchtadi TR. Bandung: Penerbit ITB. IPB Bogor. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungan-nya. Di dalam: Workshop Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit. Jakarta: PT Granedia Pustaka Utama. [Kemperin] Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. 1 No. Vol. http://www. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu dan Teknologi Pertanian. 1998. Teknologi Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Sawit. Koalisi Fortifikasi Indonesia for Japan Fund for Poverty Reduction Project. 2010. Martianto D. 117-135 Hariyadi P.com/berita-detail. Muhilal F. Hasil Laut dan Perikanan-Kementrian Perindustrian RI Gunzler H. Accreditation and Quality Assurance in Analytical Chemistry. Jalal.php? id=49585 [ 27 Feb 2011] Libman DD. Martianto D. Jakarta. 1996. Harmita. 2007. 2010. Jakarta.koran-jakarta. Springer. Jakarta: Direktorat Industri Makanan. 3. 2004. Vitamin Assay Tested Methods. Vitamin A Fortification of Cooking Oil at Distribution Site Gudeline. Pemahaman dan Penerapan ISO/IEC 17025-2005: Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi. RSNI 3 Minyak Goreng Sawit. Jakarta. Tomi H. Di dalam: Workshop Fortifikasi Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit. Majalah Ilmu Kefarmasian. Peranan Teknologi Pangan dalam Meningkatkan Nilai Tambah Produk Minyak Sawit Indonesia. Hardiansyah. Jakarta: Direktorat Industri Makanan. Robert S. 1996. Hasil Laut dan Perikanan-Kementrian Perindustrian RI. . 16 Mar 2011. 2011. Hadi A. 2011. Penanggulangan Kurang Vitamin A (KVA) di Indonesia Melalui Fortifikasi Minyak Goreng Sawit. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan. Praktik Sistem Manaje-men Laboratorium- Pengujian yang Baik (Good Testing-Laboratory Mana-gement System Practice). Menambahkan Vitamin A pada Minyak Goreng [terhubung berkala]. Jakarta. Direktorat Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1966. Di dalam: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. Hasil Laut dan Peri-kanan- Kementrian Perindustrian RI Johnson EL. Komari. SA Marliyati. Verlagsnummer: Omnitypie Geseeschaft Nachf.. Krisnamurthi B. Jakarta: EGC. 2007. 72 Direktorat Industri Makanan. 1991. Dasar Kromatografi Cair. 16 Mar 2011.

Soekirman. Twinbrook Parkway: United States Pharmacopeial Convention. 1998. 2000. The Royal Soci-ety of Chemistery. In: Friedlaender MH. USP 32/NF 27. Nollet LML. Stelnemann TL. Winarno FG. Analisis Makanan. International Opthalmology Clinics. Pangan Fungsional dan Minuman Energi. Oktavia E. Jakarta: Koalisi Fortifikasi Indonesia. [USP Convention] United States Pharmacopeial Convention. Koalisi Fortifikasi Indonesia. Efek Suplemen-tasi Vitamin A terhadap Sensitivitas Kontras Penderita Defisiensi Vitamin A [tesis]. 2007. 2004. Kimia Farmasi Analisis. Fortifikasi dalam Program Gizi. Di dalam: Handbook of Vitamins. New York: Marcel Dekker. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2007. Di dalam: Siregar CJP. Metode Kromatografi untuk Analisi Makanan. Bogor: M-Brio Press. Apa dan Mengapa. Jakarta: BASF. Ed ke-2. 2008. 73 Neil MJO. Nollet LML. New York: Marcel Dekker. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rohman A. Philadelphia. Whitehouse Station: Merck Research Labratories. Yogyakarta: Gadjah Mada Uni-versity Press. Rohman A. 23-28 Olson JA. Di dalam: Technical Seminar Quality Control of Vitamin A in Fortified Oil. United States Pharmacopoeia National Formulary. 2007. Buletin Teknik Pertanian Vol. 2007. 2009.11No. Vitamin A deficiency and The Eye. Nutrition. Di dalam: Sekarsari N. Tomi H. 2003. Lippincott Willimns. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Felicia K. 2000. Nielsen S. Food Analysis.1. 2007. Ed ke-2. Praktik Sistem Manajemen . Smith J. Ed ke-2. 26 Jan 2011. Rohman A. Bogor: M-Brio Press. Ed ke-14. Vitamin A LJ. 2004. 2011. Surabaya.Eds. et all. All. Sumantri. Machilin (Ed). Food Chemi-cal Codex. Twinbrook Parkway: United States Pharmacopeial Convention. Teknik Validasi Metode Analisis Kadar Ketopropen Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. New York: Springer Science. Wood R. Universitas Indonesia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Departemen Ilmu Penyakit Mata. Semi-quantitative Analysis of Vitamin A in Cooking Oil. Winarno FG. Ibnu GG. et. Quality in the Food Analysis Laboratory. 2006 The Merck Indeks. 2006. 2003. Food Analysis by HPLC. [USP Convention] United States Pharmacopeial Convention. 1990. New York: Marcel Dekker. Kimia Pangan dan Gizi. Soendegaard C. 2008. Handbook of Food Analysis.

Reposition Nutrition as Central to Development. 74 Laboratorium-Pengujian yang Baik (Good Testing-Labora-tory Management System Practice). 31 Jul 2008. Jakarta: EGC. 2006. . dikutip oleh Subdit Bina Gizi Mikro Direktorat Bina Gizi Masyarakat. World Bank. pada “Workshop Nasional tentang Standar Fortifikasi Pangan” Hotel Bumi Karsa Jakarta.

Lampiran .

Contoh menghitung aktivitas baku vitamin A Penimbangan baku (m) vitamin A : 0. 76 Lampiran 1.000 Absoban pada 326 nm (A326) : 0.6557 Maka aktivitas baku vitamin A dapat dihitung dengan menggunakan rumus: .0733 g Faktor pengenceran (V) : 10.

25 3.0 3.00 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.25 1.75 RT4.071/104362 0.00 2.724/1311 0.50 1.5 4.00 0.646/1895027 1.25 0.0 2.0 m in .5 2.5 5.039/4.50 /5.0 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.5 5.0 0.5 1.5 1.75 /4. laju alir 1.356/344490 3. laju alir 1. m V(x100) Detector B:Ex:325nm .50 Vitamin A/4.0 4.0 m in Lampiran 3.0 2. 77 Lampiran 2.784/23988 1.0 0.25 0.00 1.50 2. m V(x10) Detector A:325nm 3.00 0.0 mL/menit (memberikan tekanan 78 kgf) dengan detektor flouresens pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.5 2.0 3.50 1.25 2.5 3.0 1.5 3.25 /3.5 4.75 1.00 0.0 mL/ menit (memberikan tekanan 78 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.0 4.50 0.Em :470nm Vitamin A/4.359/14265 0.75 2.

25 /4.0 7.50 0.25 2. 78 Lampiran 4.25 0.50 1. .0 1.75 2.00 0.50 1.438/6.981/4.00 2.75 Detector A:325nm Vitamin A/5.25 0.0 3. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.75 RT4.25 1.00 0.0 5.610/2385948 1.422/12395 0.75 1.282/428019 3.0 9.50 2.8 mL/menit (memberikan tekanan 64 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm m V(x10) 3.00 0.0 9.00 0. laju alir 0.8 mL/menit (memberikan tekanan 64 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm m V(x100) Detector B:Ex:325nm .0 2.25 3. Lampiran 5.75 1.983/67496 RT6.50 3.0 4.0 6.0 6. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.639/28995 1.0 4.0 8.0 3.75 0.0 7.50 0.0 1.Em :470nm Vitamin A/5.0 2.0 m in .0 8. laju alir 0.0 m in .00 1.0 5.

020/568224 3.Em :470nm Vitamin A/7.50 3.0 9. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.25 1.0 3.0 3.00 1.0 8. laju alir 0. m V(x10) 3.50 RT8.596/6.0 9.25 3.0 8.0 5.75 Detector A:325nm Vitamin A/7.0 1.0 2.0 6.0 m in .50 0.75 1.609/95285 0.0 4.164/45068 1.75 2.6 mL/menit (memberikan tekanan 45 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.50 1.25 2.75 0.50 1.6 mL/menit (memberikan tekanan 45 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 5.75 RT6.0 2.0 7.00 0.25 /6.0 4.00 0.00 2. laju alir 0.25 0. m V(x100) 1.486/8.25 0.0 6.00 0.0 7.503/30760 0.453/3090686 1.0 m in Lampiran 7.75 Detector B:Ex:325nm . 79 Lampiran 6.50 2.0 1.00 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol 100 %.

0 8.0 8.0 10.3 0.75 2.0 7.612/2878 0.0 14.50 1.25 1.0 11.0 12.00 1.0 5.0 m in .50 3.0 1.0 m in Lampiran 9.0 15.0 14.2 /9.0 2.259/788493 3.0 13.0 6.128/219687 1.00 2. m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/14.0 6.0 11. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (85:15) laju alir 1.25 3.00 0.5 0.0 3.318/14.4 0. 80 Lampiran 8. m V(x10) Detector B:Ex:325nm .0 2.0 13.5 mL/menit (memberikan tekanan 200 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.1 0.5 mL/menit (memberikan tekanan 200 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.75 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (85:15) laju alir 1.0 1.0 3.0 7.8 0.0 0.50 0.9 0.75 0.50 2.0 9.0 9.00 0.0 0.0 4.0 4.0 12.0 10.6 0.25 0.0 5.0 15.7 0.Em :470nm RT14.25 2.

0 2.0 5.0 -0.Em :470nm Vitamin A/7.0 5.00 0.5 3.25 /5.0 7.0 2.830/928522 6.50 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 176 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm. m V(x10) Detector B:Ex:325nm .0 8.5 mL/menit (memberikan tekanan 176 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.50 0.5 0.0 4.0 1.0 8.0 m in .0 3. m V(x10) Detector A:325nm 1.713/6741 0.75 Vitamin A/7.0 3.5 0.0 9.5 6.0 m in Lampiran 11.0 6.0 1.5 4. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (90:10) laju alir 1.642/237597 1.0 7. 81 Lampiran 10.5 1.0 9.0 5. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (90:10) laju alir 1.75 0.0 1.0 0.0 2.0 3.0 4.25 1.00 0.5 2.0 4.5 5.0 6.

0 5.813/11278 0.0 4.626/3.00 1.5 m in Lampiran 13.00 0.479/9841 0.5 0.0 1.1 0.0 3.50 Detector A:325nm Vitamin A/4.2 0.25 0.5 mL/menit (memberikan tekanan 147 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 3.5 6.5 4.25 1.696/1094645 1.447/5.5 5.5 4.5 1.7 0.0 0. 82 Lampiran 12. m V(x100) Detector B:Ex:325nm .75 1.0 2.5 1.50 1.50 /5.462/224343 2.0 5.5 2.75 /3.Em :470nm Vitamin A/4. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (95:5) laju alir 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (95:5) laju alir 1.9 0.017/2164 0.00 0.0 1.0 2.0 0.5 5.0 0.0 0.3 RT5.5 3.8 0.0 m in .1 1.0 4.6 0.25 2.469/11021 0.5 2.4 RT3.5 3. m V(x10) 2.5 mL/menit (memberikan tekanan 147 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.

5 5. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (97.121/4.0 3.7 0.319/6153 0. m V(x10) 3.50 2.5 4.0 4.0 2.0 4. m V(x100) Detector B:Ex:325nm .8 0.5 RT4.50 /4.1 1.00 1.0 m in .2 /0.0 0.25 2.164/1620 0.0 3.0 1.799/15221 0.9 0.5 4.3 0.5 1.5:2.6 0.25 1.75 0.75 2.Em :470nm Vitamin A/3.5 3.0 m in Lampiran 15.319/3.0 2.5 mL/menit (memberikan tekanan 132 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 0.50 1.75 1.4 RT3.121/16814 0.796/1144504 1.5 1.5) laju alir 1.1 0.5 mL/menit (memberikan tekanan 132 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.5) laju alir 1.00 Detector A:325nm Vitamin A/3.0 0.5:2.00 0.608/230923 2.0 1.5 3. 83 Lampiran 14.00 /2.2 1.25 0.050/1510 0.5 5.5 2.0 0.5 2.3 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak metanol:air (97.

0 9.75 1. m V(x10) 3.327/951112 8.0 7.0 3.0 8.50 Detector A:325nm Vitamin A/5.0 6.25 3.25 1.0 mL/menit (memberikan tekanan 49 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 3.00 1.0 0.0 4.00 0.0 9.0 mL/menit (memberikan tekanan 49 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.0 1.0 0.0 3.0 m in .032/328196 3.0 5. m V(x10) Detector B:Ex:325nm .386/72724 2.0 /6. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (75:25) laju alir 1.00 /4.0 2.015/17054 0. 84 Lampiran 16.25 0.75 0.496/40664 1.0 2.0 6. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (75:25) laju alir 1.0 5.0 /4.0 4.0 7.50 2.0 6.25 2.0 m in Lampiran 17.0 1.50 0.00 2.0 7.0 4.75 2.0 5.0 8.Em :470nm Vitamin A/5.50 1.

75 2.0 8.00 1.75 /4. m V(x10) 9.0 mL/menit (memberikan tekanan 54 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.0 6.0 m in Lampiran 19.0 9.0 1. m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/4.0 4.700/340561 3.50 2.75 1.Em :470nm Vitamin A/4.0 4.0 8.25 3.0 RT4.25 2.0 9.0 5.50 3.647/5. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (50:50) laju alir 1.365/8652 0.0 3.763/26631 2.00 0.265/4.0 1.270/61254 3.00 0.25 0.50 0.0 7. 85 Lampiran 18.0 0.0 0.0 6.0 2.969/978572 8.0 mL/menit (memberikan tekanan 54 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 7.0 RT5.0 5.0 1.0 7.0 3.0 m in .0 Detector B:Ex:325nm .014/4113 /5.25 1.0 2.00 2. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (50:50) laju alir 1.50 1.0 5.0 4.0 6.

86

Lampiran 20. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (25:75) laju alir
1,0 mL/menit (memberikan tekanan 63 kgf) dengan detektor UV
pada panjang gelombang 325 nm.
m V(x10)
Detector A:325nm

Vitamin A/4.479/338198
3.50

3.25

3.00

2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
/3.777/21233

0.75

0.50 /4.928/3569

0.25

0.00

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

Lampiran 21. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:metanol (25:75) laju alir
1,0 mL/menit (memberikan tekanan 63 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm.
m V(x100)
Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
Vitamin A/4.742/1207183

1.1

1.0

0.9

0.8

0.7

0.6

0.5

0.4
RT4.163/4.163/47424

RT5.460/5.460/19711

0.3

0.2

0.1

0.0

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

87

Lampiran 22. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1,5
mL/menit (memberikan tekanan 71 kgf) dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm.
m V(x10)
Detector A:325nm

Vitamin A/3.575/228693
2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

/2.822/23825
0.75

0.50

/4.263/2512
0.25

0.00

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 m in

Lampiran 23. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1,5
mL/menit (memberikan tekanan 71 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm.
m V(x100)
Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
Vitamin A/3.769/614682

1.0

0.9

0.8

0.7
RT3.041/3.074/244988

0.6

0.5

0.4
RT4.360/4.187/65198

0.3

0.2

0.1

0.0

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 m in

88

Lampiran 24. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1,5
mL/menit (memberikan tekanan 75 kgf) dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm.
m V(x10)
2.75 Detector A:325nm

Vitamin A/4.407/219738
2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

/5.238/7938
0.25

0.00

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 m in

Lampiran 25. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1,5
mL/menit (memberikan tekanan 75 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm.
m V(x10)
Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
5.5
Vitamin A/4.601/504729

5.0

4.5

4.0

3.5

3.0

2.5

2.0
RT3.990/3.988/29121

RT5.059/5.071/23644

1.5

1.0

0.5

0.0

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 m in

25 0.5 7. m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/5.5 5.0 3.283/3208 1. 89 Lampiran 26.0 1.5 0.0 1.817/594221 5.5 2.25 1.00 0.00 0.5 4.5 5.5 6.0 2.5 3.0 1.283/5.75 1.5 6.0 6.0 2.618/223005 2.0 m in Lampiran 27.0 0.5 4.0 2.0 0.0 0.25 2.5 7.75 0.50 1.858/1763 /6. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1.618/1017 0.5 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1.0 5.0 4.0 3.0 6.5 3.0 0.50 /4.5 4.5 RT5.5 3.0 4.0 3.5 2.0 5.00 1.Em :470nm Vitamin A/5.5 mL/menit (memberikan tekanan 85 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm m V(x10) Detector B:Ex:325nm .0 4.5 2.0 m in .5 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 85 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.

0 4.0 6.25 3.350/400221 3.75 1.5 7.5 7.5 1.0 5.0 1.75 1.5 6.00 1.590/5.5 2.50 1.00 0.5 4.00 0.0 3.0 3.0 1.5 3.50 2.5 6.5 4.5 5.00 2.00 RT5.25 0.00 0.00 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1.5 5.5 1. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1.50 /7.25 1.0 0.50 1.75 0.0 4.25 2.798/2513 /6.75 0.5 m in Lampiran 29.Em :470nm Vitamin A/7.5 mL/menit (memberikan tekanan 94 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.0 0.25 1.50 Detector B:Ex:325nm .25 0. 90 Lampiran 28. m V(x10) 3.50 0.75 2.590/19097 RT7.202/215390 2. m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/7.0 7.5 m in .0 6.058/1430 0.0 5.0 2.5 3.0 7.850/7.5 2.5 mL/menit (memberikan tekanan 94 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 2.850/4203 0.

0 1.0 0.0 7.477/210769 1.0 4.7 0.5 1.0 10.0 2. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1.4 0.25 1.4 1.00 0.0 3. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1.75 1.688/340490 2.0 m in Lampiran 31. 91 Lampiran 30.0 2.00 1.0 11.Em :470nm Vitamin A/9.0 9.0 8.6 0.50 1.5 0.0 5.1 1.25 2.160/4251 /10.0 8.0 4.6 Vitamin A/9.8 0.306/2467 0.2 0. m V(x10) Detector A:325nm 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 103 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.2 1.50 2.0 6.0 6.5 mL/menit (memberikan tekanan 103 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm m V(x10) Detector B:Ex:325nm . .50 /9.598/2832 0.25 0.00 0.1 0.9 0.3 /10.75 0.0 3.0 7.0 0.0 9.0 10.0 11.3 1.0 1.0 5.0 m in .

75 1.6 0.0 2.Em :470nm Vitamin A/13.0 10.0 8.0 6.0 3. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1.0 m in .00 1.50 0.0 7.0 0.0 13.50 1.0 12.0 10.25 2.25 1.0 11.0 9.0 7.0 13.0 1.0 m in Lampiran 33.1 1.0 14.0 1.0 0.2 0.9 0.4 0.0 6.1 0.00 0.0 2.5 mL/menit (memberikan tekanan 113 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm. m V(x10) Detector B:Ex:325nm . m V(x10) 1.5 mL/menit (memberikan tekanan 113 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm.0 4.0 14.7 0. 92 Lampiran 32.347/337912 2.00 0.0 11.75 0.198/210780 1.3 0.0 8.2 Detector A:325nm Vitamin A/13.0 5.0 12.0 9.0 5.0 4.5 0.8 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1.25 0.0 3.

5 2.25 0. Lampiran 35.00 0.5 1.00 -0.50 2.6 0.5 2.0 2.0 3.2 0.75 /3.5 1.068/4.75 mL/menit (memberikan tekanan 83 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/3. m V(x100) 1.75 2.342/208224 2.5 m in .50 1.00 1.5 4.0 -0.50 /4.Em :470nm 1.105/7321 0.101/3.9 0.0 0.7 0.25 1.0 1.5 4.75 mL/menit (memberikan tekanan 83 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.1 0.0 0.0 4. 93 Lampiran 34.1 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1.4 0.0 3.0 2.0 4.101/75197 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (100:0) laju alir 1.8 0.5 3.1 Vitamin A/3.75 1.0 1.25 2.032/2842 0.2 Detector B:Ex:325nm .25 0.496/578087 1.5 3.3 RT4.068/22770 0.5 m in .5 RT3.0 0.

0 3.5 3. m V(x10) Detector A:325nm Vitamin A/3.0 2.50 2.358/3.5 4.5 5.0 0.0 0.5 2.5 5.25 2.75 0.0 4. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1.5 4.0 2. m V(x10) Detector B:Ex:325nm .5 m in .5 3.328/4.5 5.75 1.5 1.5 RT3.0 0.338/29191 1.50 /4.0 5.00 1.0 4.0 4.0 1.25 1.928/461890 5.0 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (95:5) laju alir 1.75 mL/menit (memberikan tekanan 90 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm. 94 Lampiran 36.0 RT4.50 1.0 5.5 0.760/186241 2.25 0.0 3.5 3.357/63474 2.5 1.0 3.5 4.5 1.0 2.464/4896 0.5 2.0 1.00 0.5 m in Lampiran 37.00 0.Em :470nm Vitamin A/3.75 mL/menit (memberikan tekanan 90 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.

95

Lampiran 38. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 100 kgf) dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm
m V(x10)
Detector A:325nm

Vitamin A/4.780/184194
2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

/5.192/2024
/4.123/1381
0.25

0.00

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5 m in

.

Lampiran 39. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (90:10) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 100 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm
m V(x10)
Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
Vitamin A/4.946/386419

4.5

4.0

3.5

3.0

2.5

2.0

1.5
RT5.269/5.363/14686

1.0
/4.480/3266

0.5

0.0

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 m in

.

96

Lampiran 40. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 111 kgf) dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm.
m V(x10)
2.00 Detector A:325nm

Vitamin A/6.255/183645
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

/5.413/2765

/7.070/1646
0.25

0.00

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

Lampiran 41. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (85:15) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 111 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm.

m V(x10)
3.50 Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
Vitamin A/6.420/372850

3.25

3.00

2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50
RT8.033/8.089/138907

1.25

1.00

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

97

Lampiran 42. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 123 kgf) dengan detektor UV pada
panjang gelombang 325 nm
m V(x10)
Detector A:325nm
1.5

Vitamin A/8.455/181518
1.4

1.3

1.2

1.1

1.0

0.9

0.8

0.7

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

.
Lampiran 43. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng
sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (80:20) laju alir 1,75
mL/menit (memberikan tekanan 123 kgf) dengan detektor pada
panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi
470 nm.
m V(x10)
3.00 Detector B:Ex:325nm ,Em :470nm
RT8.587/8.623/425937

2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
RT5.678/5.843/11848

0.75

0.50

0.25

0.00

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

7 0.0 6. 98 Lampiran 44.0 10.0 5.9 0.0m in .75 mL/menit (memberikan tekanan 130 kgf) dengan detektor UV pada panjang gelombang 325 nm m V(x10) 1.6 0.0 m in .8 0.0 7.830/6480 0.0 13.50 0.0 1.25 0.0 0.75 1.0 7.0 0.00 0.00 1.0 13.75 mL/menit (memberikan tekanan 130 kgf) dengan detektor pada panjang gelombang eksitasi 325 nm dan panjang gelombang emisi 470 nm.0 4.Em :470nm 2.1 Detector A:325nm Vitamin A/11.0 3.5 0.2 0.25 1.50 Vitamin A/11.0 12.0 4. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril: (75:25) laju alir 1.830/12.0 2.403/3675 RT12. Lampiran 45. m V(x10) Detector B:Ex:325nm .3 0.0 9.408/287427 2.00 0. Kromatogram KCKT vitamin A (dalam matriks minyak goreng sawit) menggunakan fase gerak asetonitril:air (75:25) laju alir 1.0 10.0 3.0 11.0 9.403/10.25 2.4 0.0 2.1 0.0 6.75 RT10.0 12.0 8.0 1.50 1.0 8.264/180871 1.0 5.0 11.

7276 279377 10 9.5914 414637 12 13. Data kurva kalibrasi baku vitamin A dalam matriks minyak goreng sawit No.7957 206279 8 6.84683 Lampiran 47. 99 Lampiran 46.99997 a (intersep) 51.8638 137995 6 4.99376 b (slope) 35825.8684 175886 7 5. Konsentrasi Vitamin A (IU/mL) Luas Area Rata-Rata 1 0.6595 346368 11 11.7617 240872 9 7.9660 34951 3 1.5233 484571 r (koefesien regresi) 0.9319 68853 4 2.8979 103539 5 3.4443 16237 2 0.4443 IU/mL Luas area : 16244 = 36520 . Contoh menghitung faktor respon detektor Konsentrasi vitamin A : 0.

8638 139322 36058 16 4.8684 176795 36315 18 4.9660 34958 36190 6 0.9319 68818 35622 8 1.8638 137852 35678 15 3.9660 35227 36469 7 1.7276 278054 35982 26 7.6595 346370 35858 30 9.7957 207952 35880 22 6.4443 16244 36520 2 0.7276 279671 36191 27 7.8979 104322 36000 11 2. 100 Lampiran 48.4443 16161 36371 4 0.7957 206575 35643 21 5.5914 415082 35809 33 11.9319 69031 35732 9 1. Data hubungan antara konsentrasi vitamin A dengan faktor respon detektor No.8684 175203 35988 17 4.5233 481595 35612 35 13.8979 103554 35735 13 3.6595 350039 36238 29 9.7617 238851 35324 23 6.8979 102741 35454 12 2.8638 136811 35408 14 3.7276 280405 36286 28 9.9660 34668 35890 5 0.5914 414102 35725 32 11.7957 204310 35252 20 5.9319 68710 35566 10 2.4443 16305 36695 3 0.5233 484637 35837 36 13.6595 342696 35478 31 11. Konsentrasi Vitamin A (IU/mL) Luas Area Faktor Respon 1 0.5233 487482 36047 Rata-rata 35897 .7617 244336 36135 25 7.7617 239429 35410 24 6.8684 175659 36081 19 5.5914 414728 35779 34 13.

9319 69031 67071 -1960 3841804 9 1. Data hubungan antara konsentrasi vitamin A dengan residual Konsentrasi Luas Area Luas Area Residual No.0948 7528695 7278615 -250080 2713203532 Rata-rata 5.5233 481595 468231 -13364 178606075 35 13.6595 342696 334511 -8185 66998420 31 11.5914 414102 401371 -12731 162086186 32 11.9660 34668 33641 -1027 1054783 5 0.8684 175659 168698 -6961 48454541 19 5.7957 207952 200791 -7161 51282128 22 6.8468 Vxo 2.7617 238851 234221 -4630 21438564 23 6.9660 35227 33641 -1586 2515480 7 1.8684 176795 168698 -8097 65560269 18 4.9319 68710 67071 -1639 2686491 10 2.8979 103554 100501 -3053 9321282 13 3.7957 206575 200791 -5784 33456439 21 5.4443 16305 15589 -716 512961 3 0.y)² = xi (IU/mL) Pengamatan = yi Teoritis (y^) (y^ .8979 102741 100501 -2240 5017947 12 2.8638 137852 133931 -3921 15375049 15 3.8360 209130 202184 -6947 75366765 r 0. 101 Lampiran 49.5233 484637 468231 -16406 269168595 36 13.8979 104322 100501 -3821 14600633 11 2.7617 244336 234221 -10115 102316859 25 7.8684 175203 168698 -6505 42314109 17 4.7276 279671 267651 -12020 144485333 27 7.5914 414728 401371 -13357 178417659 34 13. (y^ .54 .5914 415082 401371 -13711 187999948 33 11.4443 16161 15589 -572 327427 4 0.5233 487482 468231 -19251 370614799 Jumlah 210.9999 a 51.8638 136811 133931 -2880 8294994 14 3.4443 16244 15589 -655 429304 2 0.7276 280405 267651 -12754 162669750 28 9.9938 b 35825.7957 204310 200791 -3519 12384446 20 5.8638 139322 133931 -5391 29063992 16 4.6595 346370 334511 -11859 140641959 30 9.7617 239429 234221 -5208 27125135 24 6.9660 34958 33641 -1317 1734559 6 0.y) 1 0.6595 350039 334511 -15528 241126742 29 9.7276 278054 267651 -10403 108226678 26 7.9319 68818 67071 -1747 3052191 8 1.

Slope (b) : 35825. 102 Lampiran 50.84683 . Contoh menghitung kadar vitamin A dalam sampel (pada uji presisi) Bobot saepel : 2.9937563 .5147 g Faktor pengenceran : 25 Luas area : 84957 Persamaan kurva kalibrasi yang digunakan : . Intersept (a) : 51.

103 Lampiran 51.550 = 12. maka: .914 µg/g = 0.550 µg vitamin A palmitat Maka kadar vitamin A palmitat dalam minyak goreng sawit = 23.0000012914 g/g (fraksi konsentrasi = C). Contoh menghitung RSD Horwitz Kadar vitamin A palmitat rata-rata 23.48 IU/g 1 IU setara dengan 0.48 x 0.

Contoh menghitung akurasi vitamin A Bobot sampel : 1.14 % .48 IU/g (data dari hasil presisi) Vitamin A yang ditambahkan : 28.98 IU Faktor pengenceran : 25 Luas area : 84610 Persamaan kurva kalibrasi yang digunakan : . Intersept (a) : 51.3111 IU = 101.9937563 . 104 Lampiran 52.2647 g Kadar vitamin A dalam sampel : 23.84683 Vitamin A yang diperoleh kembali = Vitamin A total – Vitamin A dari sampel = 59.0063 IU – 29.6952 IU = 29. Slope (b) : 35825.

90 IU/g Jumlah data (N1) :6 Hasil pengujian Metode 2 (dari hasil presisi): Kadar rata-rata hasil pengujian ( ): 47. .99 IU/g Jumlah data (N2) :6 Nilai kritis dari tabel dengan derajat bebas = 10 (N1 + N2 -2). maka kedua metode tidak berbeda bermakna.36 IU/g Standar deviasi (S2) : 0. Contoh cara menghitung uji t Hasil pengujian Metode 1: Kadar rata-rata hasil pengujian ( ) : 46.228 (P=0.05) Karena nilai t-hitung lebih kecil dari t-tabel.74 IU/g Standar deviasi (S1) : 0. 105 Lampiran 53. maka diperoleh t10 = 2.

2496 2.66 IU/g = 5.32 5 2.9970 16.41 6 4.9372 1.0.38 3 0.543 16.2515 16. maka x adalah: Untuk S / N = 10.89 IU/g .4993 4.78 7 9.59 4 1.03 2 0.2515 b (slope) 1. maka x adalah: = y–a = y-a B b = 3 .0. Data hubungan antara konsentrasi vitamin A terhadap tinggi noise dengan tinggi sinyal (S/N) dan perhitungan batas deteksi (LOD) dan batas kuantisasi (LOQ) Kadar spike Vitamin A IU/g Perbandingan tinggi sinyal terhadap No.6543 Batas deteksi (LOD) : Batas kuantisasi (LOQ) : Untuk S / N = 3.9985 8.4998 1.9997 a (intersep) 0. 106 Tabel 54. (X) noise (S / N) ( Y ) 1 0.6248 1.67 r (koefesien regresi) 0.543 = 1.2515 = 10 .