You are on page 1of 24

REFLEKSI KASUS Januari, 2018

SKABIES

NAMA : Firmansyah SY. L

STAMBUK : N 111 16 030

PEMBIMBING : dr. I Njoman Widajadnja M.Kes

dr. Rika Aprianti

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

BAB I

PENDAHULUAN

Budaya bersih merupakan cerminan sikap dan perilaku masyarakat dalam
menjaga dan memelihara kebersihan pribadi dan lingkungan dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Penyakit kulit infeksi yang menular berbasis lingkungan
dan perilaku seperti sabies merupakan masalah kesehatan yang masih saja
ditemukan di masyarakat. Terutama di lingkungan tempat tinggal yang terdiri dari
banyak indiviu, lembab dan kotor. Sumber infeksinya pun masih susah untuk
dimusnahkan (Muchtarudin, 2006).
Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain
keadaan sosial ekonomi yang rendah, tingkat higiene yang buruk, kurangnya
pengetahuan, dan kesalahan dalam diagnosis serta penatalaksanaan. Skabies
menduduki peringkat ke-7 dari sepuluh besar penyakit utama di puskesmas.
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh
Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6%-12,9%, dan skabies menduduki urutan
ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering. Di Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM
pada tahun 1988, dijumpai 734 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh
kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9%.
Prevalensi skabies sangat tinggi pada lingkungan dengan tingkat kepadatan
penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang memadai (Djuanda, 2007).
Skabies merupakan penyakit kulit endemik akibat infestasi tungau Sarcoptes
scabies ​var. hominis ke dalam lapisan epidermis. Skabies merupakan manifestasi
klinis yang disebabkan oleh penetrasi kutu parasit obligat pada manusia, Kutu
skabies ini adalah hewan Arthropoda yang awalnya diidentifikasi pada tahun
1600-an, namun tidak dikenal sebagai penyebab erupsi kulit hingga tahun

1

Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan primer memegang peranan penting pada penyakit skabies dalam hal penegakan diagnosis pertama kali. dimana banyak kasus dilaporkan pada saat-saat musim dingin daripada saat musim panas. melalui kegiatan promotif dan preventif. karena penyakit ini mudah sekali menular terutama pada pemukiman yang padat serta dalam suatu komunitas yang tinggal bersama. Insiden skabies telah meningkat dalam 2 dekade terakhir ini. yaitu melalui pakaian atau alat mandi yang digunakan bersama (Muchtarudin. terapi yang tepat. Hal tersebut dapat terjadi bila hidup dan tidur bersama. Salah satu program dari puskesmas untuk meningkatkan upaya kesehatan masyarakat yaitu upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang merupakan salah satu dari 6 upaya kesehatan wajib. 1997). dan edukasi komunitas dalam pencegahan penyakit dan menularnya penyakit ke komunitas. 2 . Terdapat bukti adanya variasi musim. Penyakit yang mempengaruhi semua jenis ras di dunia tersebut ditemukan hampir pada semua negara di seluruh dunia dengan angka prevalensi yang bervariasi. dan bangsal-bangsal rumah sakit (Muchtarudin. sehingga pengobatannya harus dilakukan secara serentak pada lingkungan yang terserang skabies. 2006). misalnya anak-anak yang mendapat infestasi tungau dari ibunya. Pengobatan skabies apabila dilakukan secara individu maka akan mudah tertular lagi (Buchart. Penyakit ini umumnya cenderung banyak ditemukan pada area urban. Selain itu perpindahan tungau juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung. penjara. Di beberapa negara berkembang prevalensinya dilaporkan 6-27% dari populasi umum dan insidens tertinggi pada anak usia sekolah dan remaja.1700-an. Perlunya pengobatan yang dilakukan secara serentak karena transmisi atau perpindahan antar penderita dapat berlangsung melalui kontak kulit langsung yang erat dari orang ke orang. terutama di rumah-rumah perawatan. hidup dalam satu asrama. atau tempat perawatan. khususnya pada area padat penduduk. 2006).

ANAMNESIS Keluhan utama : Gatal – gatal Riwayat Penyakit Sekarang​ : Pasien mengeluhkan sering gatal–gatal sejak 2 minggu yang lalu. S Umur : 8 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Desa Pewunu. Pada awalnya muncul bintik-bintik berwarna merah di kedua paha sebelah dalam sampai dengan lipat paha. BAB II LAPORAN KASUS I. Gatal – gatal terutama dikeluhkan pada malam hari sehingga pasien tidak bisa tidur. Riwayat Penyakit Dahulu​ : 3 . Kaleke Tanggal Pemeriksaan : 15 Januari 2018 II. IDENTITAS PASIEN Nama : An. kemudian bentol-bentol tersebut berisi cairan yang gatal sehingga sering digaruk yang kemudian pecah dan terkelupas.

Terdapat beberapa pakaian yang telah dicuci namun belum disetrika berserakan diatas tempat tidur. ● Tempat pembuangan sampah dibuang di sungai belakang rumah. ● Rumah yang dihuni saat ini terdiri dari 3 kamar tidur. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa. ekonomi dan Lingkungan : ● Pasien adalah anak kedua. di depannya terdapat jalan raya. pasien juga tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang berat yang menyebabkan pasien harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas. Menurut pengakuan ibu pasien. Riwayat Sosial. serta 1 kamar mandi. Kamar terakhir terletak di sebelah kamar kedua dekat dengan kamar mandi. ● Kamar tidur pasien merupakan kamar kedua terletak disebelah kamar utama yang merupakan kamar pasien dengan kakaknya. Kamar mandi terletak di dalam rumah dan tempat jemuran terletak dibelakang rumah. Tembok rumah tidak menyatu dengan tembok tetangga. Jarak rumah pasien dengan rumah tetangga hanya dibatasi tembok di sebelah timur. 1 ruang tamu. disebelah barat terdapat halaman kosong serta belakang rumah pasien berdekatan dengan rumah tetangga dengan jarak sekitar 10 meter. Riwayat Penyakit Keluarga : Anggota keluarga yang lain yang terdapat dalam satu rumah tidak ada yang menderita keluhan serupa dengan pasien. Rumah yang dihuni keluarga pasien merupakan rumah milik ayah dan ibunya. Sepupu pasien yang sering menginap dengan pasien menderita hal yang sama sejak 1 bulan yang lalu pada kedua telapak tangannya. terdapat cukup 4 . namun sepupu tersebut tidak tinggal satu rumah dengan pasien. Pasien tinggal dirumah berenam dengan nenek. Jarak terdekat antar rumah ke rumah di lingkungan tempat tinggal ​+ 3 meter. ibu dan kedua saudara perempuannya. ayah. Ventilasi baik. Suasana kamar pasien lembab dengan sedikit ventilasi.

1 handuk untuk pasien dan kakaknya. Riwayat minum obat-obatan selama hamil (-) ● Pasien lahir normal di Puskesmas Kaleke dengan BBL 3100 gr Riwayat Nutrisi 5 . serta 1 handuk untuk adik perempuan pasien yang masih bayi. Air PAM juga digunakan untuk memasak dan mandi. Tidak terdapat kandang hewan didekat rumah. atap rumah terbuat dari genteng. Penggunaan handuk di keluarga ini 1 handuk untuk ayah dan ibu. 1 handuk untuk nenek. ● Keluarga pasien rutin mengganti pakaian serta mencuci pakaian setiap hari. Tidak terdapat sumur. sepupu tersebut juga kerap menginap di rumah pasien dan tidur bersama dengan pasien. anak – anak tetangga banyak yang memiliki keluhan gatal-gatal yang sama dengan pasien. jendela di dalam rumah terutama di ruang keluarga dan ruang makan sehingga mampu membeikan penerangan pada siang hari. Pakaian dicuci dengan deterjen kemudian dijemur di bawar sinar matahari. Namun untuk 3 kamar tidur dalam rumah tersebut tidak memiliki jendela sehingga suasana kamar tidur lembab. plafon terbuat dari triplek. ● Keluarga pasien memiliki sebuah kamar mandi dengan jamban yang terletak di dalam rumah ● Menurut orang tua pasien. Selain itu pasien memiliki sepupu yang memiliki keluhan gatal-gatal yang serupa dengan pasien sejak 1 bulan yang lalu. Lantai rumah terbuat dari lantai. serta mereka sering bermain ke rumah pasien. ● Riwayat Kehamilan dan Persalinan : ● Ibu pasien 6 kali ANC di posyandu ● Riwayat sakit berat selama hamil (-). dinding rumah berupa tembok. ● Sumber air minum berasal dari air PAM.

dan mendapatkan paket makanan penambah gizi dari posyandu.8​0​ C Kepala Bentuk : Normocephali 6 . selanjutnya setelah usia 6 bulan diberikan ASI dan makanan tambahan misalnya bubur. pasien dikatakan gizi kurang setiap kali ditimbang di posyandu. Saat ini berat badan pasien 38 kg dengan tinggi badan 128 cm. III. Saat pasien balita. pasien mendapatkan imunisasi sesuai jadwal di posyandu Riwayat Tumbuh Kembang Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan anak – anak seusianya. Status Imunisasi Menurut pengakuan orang tua pasien dan berdasarkan buku KIA. sejak lahir pasien diberikan ​ASI sampai saat usia 6 bulan.Menurut pengakuan ibu pasien.PEMERIKSAAN FISIK Status generalis Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis BB : 38 kg TB : 135 cm Status Gizi : gizi baik Nadi : 88 x/menit Respirasi : 20 x/menit Suhu : 36.

bibir sianosis (-). THT : otorhea (-). rinorhea (-). . - Urogenital : dalam batas normal Kulit : lesi mirip terowongan disertai papula dan vesikel serta ekskoriasi pada femur medialis dextra et sinistra 7 . . Suara nafas vesicular (+)/(+). gerakan simetris Palpasi : Pergerakan simetris. reguler. murmur (-). H/L ttb Perkusi : timpani Ekstermitas​ : Tungkai Atas Tungkai bawah Kanan Kiri Kanan Kiri Akral hangat . - Edema . Gallop (-). batas kanan jantung parasternal line kanan.Mata : An -/-. faring hipemis (-). Edema palpebra -/- Mulut : lidah kotor (-). stridor (-) Abdomen Inspeksi : distensi (-) Auskultasi : BU (+) N Palpasi : NT (-). Ronchi (-)/(-). vocal premitus simetris Perkusi : Sonor di lapangan paru. Batas kiri jantung medial midclavicula line ICS 5. tonsil eutrofi. dan batas atas ICS 2 kiri Auskultasi : Suara jantung 1 dan 2 tunggal. . wheezing (-)/(-). ikt -/-. Leher : Pemb. meredup pada proyeksi jantung. . massa (-). KGB (-) Thoraks Inspeksi : Bentuk simetris.

PLANNING Rencana Terapi o Salep 2-4.IV. ● Melindungi orang-orang (kelompok) yang rentan 8 . sebagai sumber penyebaran penyakit dilakukan dengan mengisolasi penderita (pasien). yaitu menempatkan pasien ditempat yang khusus untuk mengurangi kontak dengan orang lain ● Memutus rantai penularan dengan meningkatkan sanitasi dan higiene perorangan merupakan usaha yang penting untuk memutuskan hubungan atau mata rantai penularan penyakit menularkan misalnya masing – masing anggota keluarga memiliki handuk mandi tersendiri. DIAGNOSIS BANDING Dermatitis Kontak Alergi VI. 3-4 kali dioleskan pada kulit yang sakit o CTM 3 x ½ tab Tujuan Terapi o Mengeradikasi parasit dan meringankan gejala o Edukasi kepada orang tua pasien : ● Eliminasi reservoar (sumber penyakit). memisahkan pakaian penderita dengan anngota keluarga lainnya yang tidak menderita skabies. DIAGNOSIS KERJA Skabies V.

Foto Pasien dan Kondisi Rumah Pasien 9 .

10 .

Sketsa Denah Rumah 11 .

Pengkajian Masalah Kesehatan Pasien 12 .

BAB V PEMBAHASAN A. pergelangan tangan. (Muchtarudin. 2006 & Barakbah. Lokasi lesi pada skabies terutama di bagian disela jari. dimana selain pasien juga terdapat banyak anak-anak yang menderita gejala gatal-gatal mirip dengan keluhan pasien yang tinggal satu kompleks pemukiman. 2005). sekitar pusat. hampir setiap hari mereka bermain bersama hingga menginap di rumah pasien. Hal ini didapatkan pada kasus ini. Rasa gatal-gatal yang dikeluhkan oleh pasien terutama sangat mengganggu pada malam hari. genetalia pria dan bokong. Salah satu dari 4 tanda kardinal adalah skabies menyerang manusia secara berkelompok. Rasa gatal pada malam hari dan tanpa disertai rasa terbakar merupakan salah satu dari 4 tanda kardinal untuk menegakkan diagnosis skabies. Sepupu pasien juga mengeluhkan gejala skabies. Efloresensi skabies berupa papul dan vesikel miliar sampai lentikular disertai ekskoriasi. ketiak. paha bagian dalam. Selain itu pasien sering berinteraksi bersama dengan penderita tersebut. yaitu menyerang manusia pada anggota keluarga lain dalam satu rumah dan juga pada perkampungan padat penduduk. Dengan demikian rasa gatal yang dikeluhkan oleh pasien ini dapat dibawa ke arah diagnosis skabies dan dapat menyingkirkan diagnosis banding yang lain (Djuanda. Aspek Klinik Pembahasan Anamnesa Pasien datang dengan keluhan gatal-gatal di kulit. Hampir semua penyakit kulit menimbulkan rasa gatal dilokasi lesi. Jika 13 . 2007). yaitu sebagai teman bermain. seperti dermtitis kontak alergi yang rasa gatalnya tidak tentu waktu dan sangat mudah dirangsang oleh bahan-bahan iritan atau keringat.

lesi yang khas adalah terowongan miliar. Pemeriksaan penunjang yang sebenarnya dapat dilakukan adalah dengan menemukan tungau pada ujung terowongan dengan menggunakan pinset. 14 . tidak ditemukan adanya pustula. Akhir/ujung kanalikuli adalah tempat persembunyian dan bertelur Sarcoptes scabiei​ betina (Djuanda. 2007). Dari anamnesis didapatkan bahwa gatal-gatal yang dikeluhkan oleh pasien sering dirasakan pada malam hari. Kakak dari sepupu pasien ada yang bersekolah di pondok pesantren dan memiliki keluhan gatal-gatal serupa dengan pasien. Diagnosis skabies ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. yaitu gatal-gatal terutama pada malam hari (pruritus nokturna) serta skabies menyerang manusia secara berkelompok dalam suatu rumah atau pemukiman padat penduduk. berwarna putih abu-abu. 2010 & Djuanda. Keluhan gatal-gatal tidak hanya dikeluhkan oleh pasien tetapi juga oleh saudara sepupunya yang sering menginap di rumah pasien dimana hubungan mereka cukup dekat yaitu sering bermain bersama. Pada sepupu pasien juga mengeluhkan gatal-gatal pada telapak tangannya sejak 1 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya lesi milier mirip terowongan disertai papula dan vesikel serta ekskoriasi pada bagian dalam paha kanan dan kiri. Dari anamnesis didapatkan 2 dari 4 tanda kardinal untuk menegakkan diagnosis skabies. 2007). tampak berasal dari satu papula atau vesikel. Lesi terdapat pada kedua paha sebelah dalam. 2010 & Djuanda.terjadi infeksi sekunder tampak pustula lentikular sedangkan pada pasien tidak sampai terjadi infeksi sekunder. Lokasi gatal di kedua bagian paha dalam pasien. Penemuan 2 dari 4 tanda kardinal ini sebagai syarat untuk menegakkan diagnosis skabies (Effendi. Tapi pemeriksaan ini tidak perlu dilakukan karena telah mendapat 2 dari 4 tanda kardinal karena dengan penemuan ini diagnosis skabies dapat dibuat (Effendi. tidur bersama dan terkadang memakai handuk pasien. panjang kira-kira 1 cm. dimana daerah tersebut merupakan tempat-tempat yang menjadi tempat tersering lesi skabies. 2007).

Skabies menjadi masalah di mayarakat disebabkan oleh karena faktor-faktor berikut : 1. obat lain yang dapat diberikan adalah CTM 3 x ½ tablet juga dapat diberikan untuk mengurangi gatal-gatal yang dikeluhkan pasien. bersih dan berdaya guna serta berhasil guna. institusi-institusi 15 . Penerapan prilaku hidup bersih dan sehat merupakan suatu kebiasaan baik. Penggunaan salep ini dilakukan dengan mengoleskannya pada daerah lesi sebanyak 3-4 kali perhari sesudah mandi. Perilaku pasien yang demikian meningkatkan risiko terinfeksi skabies sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya penyakit skabies berkembang pada kondisi prilaku sebagai berikut : kebersihan diri yang kurang. sprei tempat tidur.Pembahasan Terapi Terapi yang diberikan untuk pasien ini adalah salep 2-4. disarankan untuk memakai salep ini dikarenakan penggunaannya yang aman untuk anak-anak. seprai bantal dan guling dicuci 6 bulan sekali. serta pakain yang telah dicuci berserakan di tempat tidur. Penerapan prilaku hidup sehat ini sedapat mungkin diterapkan di rumah tempat tinggal. anak tidur bersama saudaranya dengan keluhan gatal-gatal. kebiasaan handuk yang dipakai bersamaan. Selain pemberian salep 2-4. Namun. penggunaan handuk. anak bermain bersama teman-temannya dengan keluhan gatal-gatal. dan segala hal yang dimiliki pasien secara bersamaan (Muchtarudin. sehingga tidak boleh digunakan kurang dari 3 hari. 2006). Kekurangan obat dari jenis ini adalah tidak efektif terhadap stadium telur. jarang menjemur kasur. Kekurangan yang lain adalah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Kandungan dari salep 2-4 ini salah satunya adalah sulfur presipitatum. Faktor perilaku Pada pasien didapatkan faktor perilaku pasien sebagai berikut. pasien memiliki kebiasaan mengompol.

terutama kebersihan diri (personal hygiene). bantal. sarung. Cara-cara tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka dapat mencegah berkembangan skabies di lingkungan tempat tinggal mereka.maupun tempat-tempat umum. Perilaku ini memberikan kesan bahwa masyarakat tersebut kurang memperhatikan penyakit yang sedang dideritanya ini terkait dengan kurangnya pengetahuan tentang skabies itu sendiri serta perilaku hidup bersih dan sehat. Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: ● Mandi dan berganti pakaian secara teratur 2 kali sehari ● Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain ● Mencuci pakaian. selimut dan lainnya secara teratur minimal 2 kali seminggu ● Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali ● Hindari kontak dekat dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi tungau skabies ● Menjaga kebersihan rumah dan ventilasi cukup Diperlukan kegiatan penyuluhan oleh petugas kesehatan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta penyuluhan kepada warga mengenai infeksi scabies itu sendiri seperti penyebab. cara penularan dan pencegahan penularan. Perilaku hidup bersih sangat diperlukan untuk menghentikan penyebaran dan perkembangan penyakit ini. Masyarakat awam secara luas menganggap bahwa skabies merupakan penyakit gatal-gatal biasa bahkan karena tidak menyebabkan kematian skabies tidak dianggap bermasalah hingga akhirnya gatal-gatal tersebut menimbulkan infeksi sehingga mengganggu aktifitas pasien barulah datang berobat ke puskesmas. seprei. Peran aktif masyarakat dalam hal ini sangat diperlukan untuk mencegah berkembangan skabies sebab skabies merupakan penyakit komunitas yang tidak cukup hanya mengobati satu 16 .

panti asuhan dan pesantren merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit menular 17 . Faktor Lingkungan Faktor lingkungan menjadi hal yang sangat erat kaitannya dengan penyebaran skabies di berbagai tempat. Tungau dapat hidup di kasur tempat tidur sekaligus kontak dengan seprei dan bantal. Keberadaan pasien dalam lingkungan seperti itu meningkatkan risiko penyebaran dan perkembangan skabies. serta ada sepupu pasien yang mengeluhkan gejala skabies sering menginap di rumah pasien serta kakak dari sepupu tersebut bersekolah di pondok pesantren. Daerah yang padat penghuninya seperti pemukiman padat penduduk. 2005). misalnya pakaian. Kontak erat yang dilakukan oleh pasien dengan penderita yaitu dengan bermain bersama bahkan sering tidur bersama ● Kontak tak langsung (melalui benda). Kontak tak langsung dengan penderita lain dapat terjadi melalui penggunaan seprei dan bantal. tempat-tempat yang padat penduduknya seperti asrama serta tempat-tempat yang lembab dan kurang mendapat sinar matahari. selain itu penularan dapat terjadi melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung: ● Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit). kamar tidur yang lembab. Cara penularan skabies erat hubungannya dengan kebersihan lingkungan. pasien saja tapi harus dilakukan pengobatan dan perbaikan perilaku menjadi perilaku hidup bersih dan sehat secara menyeluruh 2. Pada pasien didapatkan pasien tinggal di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dengan jarak rumah yang berdekatan ​+ 3 meter jarak antar rumah. seprei. asrama. bantal dan lain-lain. dimana pasien dan penderita kerap kali tidur bersama (Barakbah. handuk.

3. ventilasi yang cukup agar intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah dapat memperkecil risiko penyebaran dan penularan skabies. kadang-kadang penderita tidak melakukan dengan benar dan 18 . Faktor Budaya Masyarakat di kecamatan Kaleke menganggap bahwa skabies merupakan penyakit gatal biasa-biasa saja dan tidak berbahaya. pakaian dan handuk harus dijemur serta dicuci secara rutin dan berkala. Untuk mengurangi risiko terjadinya penyebaran dan penularan skabies adalah menciptakan pemukiman yang sehat dengan jarak antar rumah yang tidak terlalu dekat selain mengatur jarak antar rumah. Jarak antar rumah yang berdempetan atau hidup bersama dalam satu asrama atau pesantren berperan penting dalam mudahnya transmisi parasit skabies. 2006). seprei. seperti skabies ini. Namun dalam pelaksanaan pengobatan. Skabies lebih banyak menyerang anak-anak dan remaja. Kebanyakan dari mereka akan tertular skabies akibat kontak langsung maupun tidak langsung dengan teman bermainnya. misalnya karena malam hari tidak bias tidur karena gatal-gatal maka pagi harinya pada waktu bekerja akan sangat mengantuk karena tidur kurang efektif. Kedekatan yang sangat erat dan waktu kontak yang cukup lama diantara mereka memperbesar risiko penyebaran dan penularan skabies. Mereka hanya akan berobat ke puskesmas bila gatal-gatal yang mereka alami sangat mengganggu hingga infeksi sehingga berdampak pada kegiatan harian mereka seperti bekerja mencari nafkah. Jarak yang demikian memungkinkan para penghuni untuk berinteraksi lebih erat sehingga menyebabkan transmisi parasit skabies semakin mudah (Muchtaruddin. Skabies merupakan penyakit yang dapat disembuhkan secara total jika diobati dengan baik serta dibersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang kutu skabies misalnya kasur.

2006). Di tempat-tempat semacam inilah penularan dan penyebaran skabies dapat terjadi dengan mudah (Muchtarudin. tanpa memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya. Selain itu jenis obat inilah yang tersedia di 19 . Keluarga pasien harus secara rutin dan berkala mengganti seprei. Semua itu memerlukan dana yang tidak sedikit untuk pengadaan barang-barang tersebut serta perilaku individu sendiri yang tidak boleh malas dalam menjaga kebersihan diri sendiri maupun lingkungan. Faktor Pelayanan Kesehatan Diperlukan informasi serta program pemberantasan penyakit skabies agar kejadian skabies dapat ditanggulangi secara total. pengadaan obat-obatan di tempat-tempat pelayanan kesehatan merupakan hal mutlak yang harus diadakan dalam jumlah yang cukup. seperti skabies. Pengobatan simtomatis dan kausatif dapat diberikan kepada penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan di lokasi-lokasi target seperti kompleks perumahan padat penduduk asrama serta pondok pesantren. pakaian serta menjemur kasur untuk memperkecil risiko perkembangan dan penyebaran skabies. handuk. Selain mengadakan penyuluhan. Pengobatan kausatif dapat berupa pemberian salep 2-4 yang hingga kini dapat memberikan angka kesembuhan yang cukup baik untuk pasien skabies. sehingga penyakit ini dapat menyerangnya kembali dan bahkan dapat juga menyerang orang lain di lingkungan sekitarnya. 4. Hal ini karena beberapa orang menganggap hanya dirinya saja yang sakit. Pelayanan kesehatan sangat berperan penting terhadap pencegahan penularan ataupun penyebaran berbagai penyakit menular. sarung bantal. juga tidak memperhatikan lingkungannya. 5. Faktor Sosial Ekonomi Faktor sosial ekonomi juga mempunyai peran yang sangat penting untuk penularan dan penyebaran skabies. Untuk kasus skabies pelayanan kesehatan yang dimaksud meliputi KIE tentang penyebab. cara penularan dan cara pencegahan skabies.

dengan demikian akan memperbesar risiko infeksi sekunder sehingga diperlukan antibiotik spektrum luas. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang cukup seorang tenaga kesehatan. Antibiotik dapat juga diberikan karena infestasi parasit ini seringkali disertai dengan infeksi sekunder. Untuk mengurangi rasa gatal tersebut terutama pada malam hari dapat diberikan antihistamin yang tersedia di puskesmas. Efek lain yang diharapkan dari CTM adalah efek mengantuk sehingga dapat membantu pasien untuk mengurangi masalah kurang tidur yang dialaminya (Djuanda. terutama dokter dan perawat akan dapat menegakkan diagnosis skabies yang selanjutnya akan berpengaruh pada tata laksana skabies. Gatal-gatal yang sering dialami oleh penderita skabies sebagian besar disebabkan oleh sekret yang dikeluarkan oleh tungau skabies yang memicu reaksi inflamasi yang bermanifestasi sebagai rasa gatal. Terdapat beberapa penyakit kulit yang mirip dengan lesi yang ada pada skabies serta menimbulkan gejala gatal yang mirip dengan yang ada pada skabies. Penyuluhan dan pengadaan obat-obatan tidak lengkap bila tidak disertai dengan pengadaan tenaga kesehatan yang ahli dalam mendiagnosis penyakit ini. 20 . Pada saat menggaruk seringkali pasien tidak menyadari kuku tangannya kotor.puskesmas serta harga yang terjangkau bagi pasien ekonomi rendah dan menengah. yaitu CTM. 2007).

Kesimpulan ● Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi kejadian penyakit skabies pada pasien ini adalah faktor perilaku. serta faktor yankes menangani skabies belum maksimal ● Belum ada program khusus dari Puskesmas untuk menanggulangi permasalahan skabies B. Dalam hal ini. Saran 21 . dari faktor perilaku terkait PHBS tidak sepenuhnya diterapkan. faktor lingkungan yaitu lingkungan pemukiman padat penduduk dan rumah lembab. lingkungan. dan pelayanan kesehatan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.

An Epidemiologic Reassessment​.G. Pedoman Diagnostik dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit kulit dan Kelamin edisi III. Kaleke: Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Barakbah. Dkk. Jusuf. 2005. 2015. C. Buchart. 22 . 1997. DAFTAR PUSTAKA Agung IDGN. ​Skabies. Profil Puskesmas Kaleke. RSU Dokter Soetomo: Surabaya. Kunjungan ke rumah pasien skabies dan meningkatkan sistem penemuan penyakit skabies di tingkat masyarakat untuk dilaporkan ke pelayanan kesehatan. ● Meskipun skabies merupakan penyakit menular yang tidak membahayakan tetapi perlu diadakan suatu program khusus untuk menanggulangi penyebab dan faktor resiko skabies ● Peningkatan edukasi terhadap pasien dan kontak serumah mengenai PHBS dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini dan pencegahannya. Majalah Kedokteran Indonesia 47 (1) : 117 – 123.

Jakarta : Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.. 2006.. 2010. ​Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin​. 1995. Jakarta: IDI Sungkar S. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Effendi. Kementrian Ketenagakerjaan. E H. Upah Minimum Provinsi Tahun 2014 Muchtarudin Mansyur. 2007. Skabies. 23 .Djuanda. Dkk. A. 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM. Skabies. Edisi Kelima. Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Penatalaksanaan Skabies Anak Usia Pra-Sekolah.