You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi oleh
dokter dan perawat. Jenis yang berat memperlihatkan morbiditas dan
derajad cacat yang relatif tinggi dibanding dengan cedera oleh sebab lain.
Biaya yang dibutuhkan dalam penangananpun tinggi. Penyebab luka bakar
selain terbakar api langsung atau tak langsung, juga pajanan suhu tinggi
dari matahari, listrik, maupun bahan kimia.(Elizabeth,2009).
Statistik menunjukkan bahwa 60% luka bakar terjadi karena
kecelakaan rumah tangga, 20% karena kecelakaan kerja, dan 20% sisanya
karena sebab-sebab lain, misalnya bus terbakar, ledakan bom, dan gunung
meletus. (Moenajad, 2001) Penanganan dan perawatan luka bakar
(khususnya luka bakar berat) memerlukan perawatan yang kompleks dan
masih merupakan tantangan tersendiri karena angka morbiditas dan
mortalitas yang cukup tinggi. Di Amerika dilaporkan sekitar 2 – 3 juta
penderita setiap tahunnya dengan jumlah kematian sekitar 5 – 6 ribu
kematian per tahun.
Di Indonesia sampai saat ini belum ada laporan tertulis mengenai
jumlah penderita luka bakar dan jumlah angka kematian yang
diakibatkannya. Di unit luka bakar RSCM Jakarta, pada tahun 2008
dilaporkan sebanyak 107 kasus luka bakar yang dirawat dengan angka
kematian 37,38%. Dari unit luka bakar RSU Dr. Soetomo Surabaya pada
tahun 2008 didapatkan data bahwa kematian umumnya terjadi pada luka
bakar dengan luas lebih dari 50% atau pada luka bakar yang disertai
cedera pada saluran napas dan 50% terjadi pada 7 hari pertama
perawatan. (Irna Bedah RSUD Dr. Soetomo, 2001).
Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan
tindakan khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya,
penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan
permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih
dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang
lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang
panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis dan komplikasi dari
pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan radiasi

ionisasi. Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang
berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api.
Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih
besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada
kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan
memerlukan tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang
lain.
Pengetahuan umum perawat tentang anatomi fisiologi kulit,
patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal perbedaan dan
derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan
hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai. (Irna Bedah
RSUD Dr. Soetomo, 2001) Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar
berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain
seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat
mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai.
Klien luka bakar sering mengalami kejadian bersamaan yang merugikan,
seperti luka atau kematian anggota keluarga yang lain, kehilangan rumah
dan lainnya. Klien luka bakar harus dirujuk untuk mendapatkan fasilitas
perawatan yang lebih baik untuk menangani segera dan masalah jangka
panjang yang menyertai pada luka bakar tertentu. (Elizabeth,2009).

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan
permasalahan tentang “Bagaimana Asuhan Keperawatan Klien dengan
kegawatdaruratan Luka Bakar”.

1.3 Tujuan

1.3.1.Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami Asuhan Keperawatan Klien dengan
Kegawatdaruratan Luka Bakar.

1.3.2 Tujuan khusus Mahasiswa dapat menjelaskan kembali :

1).Pengertian luka bakar.

2).Penyebab terjadinya luka bakar.

6). 7). 9).Tingkat keparahan luka bakar.Patofisiologi luka bakar. Klasifikasi luka bakar.Fase terjadinya luka bakar 4). .3). Cara menghitung luas luka bakar. 5).Penatalaksanaan luka bakar.

Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. dan circulation (sirkulasi). Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. air panas. 3. ( Moenajat. bahan kimia. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas). Luka yang terjadi menyebabkan: 1. listrik. Konsep Medis Luka Bakar 1. Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar. o Fase sub akut. dan radiasi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. .Proses inflamasi dan infeksi. Disebut sebagai fase awal atau fase syok. namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. breathing (mekanisme bernafas). Etiologi  Luka Bakar Suhu Tinggi (Thermal Burn)  Luka Bakar Bahan Kimia (Chemical Burn)  Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)  Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury). Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas.Definisi Luka bakar (combustio) ‘kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api. 2001) 2. Fase Luka Bakar o Fase akut. Berlangsung setelah fase syok teratasi.

kering. kontak dengan arus listrik. Penampilan : Kering disertai kulit mengelupas. nyala api. 2. bila tekanan dilepas berisi kembali. hitam. pembuluh darah seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas. coklat tua. gelembung jarang. deformitas dan kontraktur. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik. Penampilan : Blister besar dan lembab yang ukurannya bertambah besar. Penampilan : Kering tidak ada gelembung. Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. sinar ultra violet. daerah merah coklat. Warna : Bertambah merah. pucat bila ditekan dengan ujung jari. tidak membesar. coklat. sinar ultra violet (terbakar oleh matahari). gangguan pigmentasi. berisi kembali bila tekanan dilepas. hitam. Perasaan : Tidak sakit. rambut mudah lepas bila dicabut. 4. dalam. tidak pucat bila ditekan.  Luka Bakar Tingkat I Kedalaman : Ketebalan partial superfisial Penyebab : Jilatan api. Penyebab : Kontak dengan bahan air atau bahan padat. . Keadaan hipermetabolisme o Fase lanjut. superfisial. dindingnya sangat tipis. jilatan langsung kimiawi. Perasaan : Sangat nyeri  Luka Bakar Tingkat III Kedalaman : Ketebalan sepenuhnya Penyebab : Kontak dengan bahan cair atau padat.Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional. Perasaan : Nyeri  Luka Bakar Tingkat II Kedalaman : Lebih dalam dari ketebalan partial. Warna : Berbintik-bintik yang kurang jelas. 2001). Warna: Putih. jilatan api kepada pakaian. keloid. oedem minimal atau tidak ada. merah. pucat bila ditekan dengan ujung jari. pink. sedikit sakit. Klasifikasi Luka Bakar ( Moenajat. 3. putih. kimia.

4) Umur klien. Dengan adanya komplikasi penafasan. b). 2) Kedalaman luka bakar. badan belakang 18%: 36% 4) Tungkai masing-masing 18%: 36% 5) Genetalia/perineum : 1% Total : 100% 5. 6) Trauma yang menyertai atau bersamaan. 5) Riwayat pengobatan yang lalu. c). 3) Anatomi lokasi luka bakar. Tingkat III pada tangan.  Luas Luka Bakar Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atau rule of wallace yaitu: 1) Kepala dan leher : 9% 2) Lengan masing-masing 9%: 18% 3) Badan depan 18%. Tingkat III : 10% atau lebih. soft tissue yang luas. fraktur. B. Tingkat II : 30% atau lebih. Sedang – moderate: . jantung. kaki dan wajah. Berat Ringannya Luka Bakar (Skeet. d). 2002) Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain : 1) Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. Parah – critical: a). American college of surgeon membagi dalam: A.

Kebutuhan faal: < 1 tahun : BB x 100 cc 1 – 3 tahun : BB x 75 cc 3 – 5 tahun : BB x 50 cc ½ à diberikan 8 jam pertama ½ à diberikan 16 jam berikutnya. 1996)  Resusitasi A. oksigen. Laboratorium. Tingkat II : 15 – 30% b). Tingkat III : 1 – 10% C. Hari kedua: Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin. kultur luka. Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal: RL : Dextran = 17 : 3 2 cc x BB x % LB. B. Penatalaksanaan (Long. a).  Resusitasi cairan Dewasa : Baxter. . CVP. Tingkat III : kurang 1% 6. kateter. Tingkat II : kurang 15% b).  Infus. Ringan – minor: a). RL 4 cc x BB x % LB/24 jam. Barbara C. C.

keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit. ( 3-x) x 80 x BB gr/hr 100 (Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.2. -Tutup kassa tebal. penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera. vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi. kulit putih dan dingin (syok listrik). o Analgetik : kuat (morfin.Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok). perubahan tonus. petidine) o Antasida : kalau perlu 2.Cuci luka dengan savlon : NaCl 0.  Obat – obatan: o Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian. tahanan. takikardia (syok/ansietas/nyeri).  Monitor urine dan CVP. .Tulle. gangguan massa otot.9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik. Pengkajian a. .KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. kecuali balutan kotor. disritmia (syok listrik). Aktifitas/istirahat: Tanda: Penurunan kekuatan. -Silver sulfadiazin tebal. .  Topikal dan tutup luka . Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal. o Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur. pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar). b.Evaluasi 5 – 7 hari.

penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. mual/muntah. indikasi cedera inhalasi. laserasi korneal. paralisis (cedera listrik pada aliran saraf). h. penurunan bising usus/tak ada. terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). mengindikasikan kerusakan otot dalam. gerakan udara dan perubahan suhu. anoreksia. i. menangis. d. Nyeri/kenyamanan: Gejala: Berbagai nyeri. Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum. diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi). kecacatan. penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). aktifitas kejang (syok listrik). Tanda: ansietas. . warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin.Integritas ego: Gejala: masalah tentang keluarga. kerusakan retinal.Neurosensori: Gejala: area batas. e. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. ketergantungan. perilaku. contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh. f. jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. Tanda: serak. Pernafasan: Gejala: terkurung dalam ruang tertutup. partikel karbon dalam sputum. batuk mengii. keuangan. stridor (oedema laringeal). Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat. marah. menarik diri. oedema laringeal). sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf. sekret jalan nafas dalam (ronkhi). khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik. luka bakar derajat tiga tidak nyeri. Tanda: perubahan orientasi. bunyi nafas: gemericik (oedema paru). ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis. kesemutan. g. luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri. menyangkal. ruptur membran timpanik (syok listrik). afek. pekerjaan. ditekan.

(2)Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Bulu hidung gosong. Keamanan: Tanda: Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. mukosa hidung dan mulut kering. kecelakaan sepeda motor. lepuh. Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab. k. j. Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung. luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. pucat. Cedera secara umum lebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus. dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik). Adanya fraktur/dislokasi (jatuh. nekrosis. Pemeriksaan diagnostik: (1) LED: mengkaji hemokonsentrasi. lepuh pada faring posterior. . Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif).oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. ulkus. atau jaringan parut tebal. merah. Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar.

kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada. (4). Luka bakar daerah leher. Pertahanan sekunder tidak adekuat. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat. Kehilangan perdarahan.BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik. (3)Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal. penekanan respons inflamasi. 2.edema mukosa dan hilangnya kerja silia. jaringan traumatik. (7). kerusakan perlinduingan kulit. (6). (5).Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas. . Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul sebagai berikut : (Marilynn E. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Doenges) Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial. (8).Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. ketidak cukupan pemasukan.Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif. penurunan Hb. khususnya pada cedera inhalasi asap.

Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. Tujuan dan Kriteria Hasil : Bersihan jalan nafas tetap efektif. RR dalam batas normal. nyeri/tak nyaman. Diagnosa Keperawatan I Resiko bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial. Kurang pengetahuan tentang kondisi. kompresi jalan nafas . kejadian traumatik peran klien tergantung. kecacatan dan nyeri. perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam). Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi. contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema. penurunan kekuatan dan tahanan. 8 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi tidak mengenal sumber informasi. . 3 Rencana Intervensi 1. pembentukan edema. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % – 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein. bebas dispnoe/cyanosis. oedema mukosa. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka. Kriteria Hasil : Bunyi nafas vesikuler.

batuk mengi. mengi/gemericik. bantal dapat menghambat pernafasan. perhatikan stridor. sianosis dan perubahan sputum menunjukkan terjadi distress pernafasan/edema paru dan kebutuhan intervensi medik. penggunaan otot bantu. Rasional : Dugaan adanya hipoksemia atau karbon monoksida. irama. Rasional : Takipnea. Perhatikan adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cidera. perhatikan adanya pucat/sianosis dan sputum mengandung karbon atau merah muda. perhatikan pengaliran air liur. serak.) Dorong batuk/latihan nafas dalam dan perubahan posisi sering. sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan ekspansi paru. Rasional : Dugaan cedera inhalasi 2) Awasi frekuensi. menyebabkan nekrosis pada kartilago telinga yang terbakar dan meningkatkan konstriktur leher. penurunan bunyi nafas. memobilisasi dan drainase sekret. Rasional : Obstruksi jalan nafas/distres pernafasan dapat terjadi sangat cepat atau lambat contoh sampai 48 jam setelah terbakar. batuk rejan. Bilakepala/leher terbakar. . Rasional : Meningkatkan ekspansi paru optimal/fungsi pernafasan. kedalaman pernafasan . ketidakmampuan menelan. 6. 5) Tinggikan kepala tempat tidur. 3). Hindari penggunaan bantal di bawah kepala.Intervensi : 1) Kaji refleks gangguan/menelan. 4).Auskultasi paru.

perhatikan variasi/perubahan. Rasional : Perpindahan cairan atau kelebihan penggantian cairan meningkatkan risiko edema paru. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. 8) Selidiki perubahan perilaku/mental contoh gelisah. resolusi oedema. Rasional : Peningkatan sekret/penurunan kemampuan untuk menelan menunjukkan peningkatan edema trakeal dan dapat mengindikasikan kebutuhan untuk intubasi. tetapi harus dilakukan kewaspadaan karena edema mukosa dan inflamasi. Rasional : Membantu mempertahankan jalan nafas bersih. elektrolit serum dalam batas normal. haluaran urine di atas 30 ml/jam. Hisapan (bila perlu) pada perawatan ekstrem. Intervensi : 1) Awasi tanda vital. 2. 7) Tingkatkan istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara dan/atau menelan sekret oral secara periodik. kacau mental. pertahankan teknik steril. 7). Teknik steril menurunkan risiko infeksi. ketidak cukupan pemasukan. Tujuan dan Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemostrasikan status cairan dan biokimia membaik. agitasi. CVP. . Kehilangan perdarahan. 9) Awasi 24 jam keseimbngan cairan. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik. Kriteria evaluasi: tak ada manifestasi dehidrasi. Perhatikan kapiler dan kekuatan nadi perifer. Rasional : Meskipun sering berhubungan dengan nyeri. perubahan kesadaran dapat menunjukkan terjadinya/memburuknya hipoksia. Rasional : Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler.

Rasional : Memungkinkan infus cairan cepat. Rasional : Penyimpangan pada tingkat kesadaran dapat mengindikasikan ketidak adequatnya volume sirkulasi/penurunan perfusi serebral. setiap 2 jam selama periode akut. Rasional : Stres (Curling) ulcus terjadi pada setengah dari semua pasien yang luka bakar berat(dapat terjadi pada awal minggu pertama). dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi. Pasang/ pertahankan ukuran kateter IV. perpindahan protein. . Rasional : Observasi ketat fungsi ginjal dan mencegah stasis atau refleks urine. 8) Hemates drainase NG dan feces secara periodik. Rasional : Penggantian cairan tergantung pada berat badan pertama dan perubahan selanjutnya. Observasi warna urine dan hemates sesuai indikasi.hematomesis.feces hitam. Rasional : Memperkirakan luasnya oedema/perpindahan cairan yang mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran urine. 10) Pantau: Tanda-tanda vital setiap jam selama periode darurat. Rasional : Peningkatan permeabilitas kapiler. proses inflamasi dan kehilangan cairan melalui evaporasi mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran urine. 9) Lakukan program kolaborasi meliputi : pertahankan kateter urine. Urine berwarna merah pada kerusakan otot masif karena adanyadarah dan keluarnya mioglobin. 7) Observasi distensi abdomen.2) Awasi pengeluaran urine dan berat jenisnya. 3) Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tampak. 6) Selidiki perubahan mental. Rasional : Penggantian cairan dititrasi untuk meyakinkan rata- 2 pengeluaran urine 30-50 cc/jam pada orang dewasa. 5) Ukur lingkar ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi. 4) Timbang berat badan setiap hari.

DX III. 11) Konsultasi doketr bila manifestasi kelebihan cairan terjadi. Kriteria evaluasi: RR 12-24 x/mnt. Inhalasi asap dapat merusak alveoli. Pasang atau bantu dengan selang endotrakeal dan tempatkan pasien pada ventilator mekanis sesuai pesanan bila terjadi insufisiensi pernafasan (dibuktikan dengan hipoksia. mempengaruhi pertukaran gas pada membran kapiler alveoli. Ventilasi mekanik diperlukan untuk pernafasan dukungan sampai pasie dapat dilakukan secara mandiri. rales. hiperkapnia. tak ada kesulitan bernafas. Rasional : Suplemen oksigen meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. 3. GDA dalam renatng normal. Tujuan dan Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan oksigenasi adekuat. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher. Intervensi : 1). Rasional : Pasien rentan pada kelebihan beban volume intravaskular selama periode pemulihan bila perpindahan cairan dari kompartemen interstitial pada kompartemen intravaskuler. bunyi nafas bersih. Rasional : Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Periode darurat (awal 48 jam pasca luka bakar) adalah periode kritis yang ditandai oleh hipovolemia yang mencetuskan individu pada perfusi ginjal dan jarinagn tak adekuat. 2) Berikan suplemen oksigen pada tingkat yang ditentukan. . warna kulit normal. Pantau laporan GDA dan kadar karbon monoksida serum. Rasional : Mengidentifikasi kemajuan dan penyimpangan dari hasil yang diharapkan. takipnea dan perubahan sensorium).

2) Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai pesanan. Kriteria evaluasi: tak ada demam. yang dapat ditutup dengan balutan vaseline atau op site. Pertahanan sekunder tidak adekuat. Berikan mandi kolam sesuai pesanan. penekanan respons inflamasi. Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan. 4. implementasikan perawatan yang ditentukan untuk sisi donor. Rasional : Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan. menurunkan resiko atelektasis. Intervensi : 1) Pantau: Penampilan luka bakar (area luka bakar. . 3) Anjurkan pernafasan dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam selama tirah baring. Tujuan dan Kriteria Hasil : Pasien bebas dari infeksi. beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai dengan takipnea. penurunan Hb. jaringan traumatik. Rasional : Pernafasan dalam mengembangkan alveoli. 5) Untuk luka bakar sekitar torakal. 4) Pertahankan posisi semi fowler. Mengupas kulit (eskarotomi) memungkinkan ekspansi dada. pembentukan jaringan granulasi baik. sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam. Suhu setiap 4 jam. Rasional : Luka bakar sekitar torakal dapat membatasi ekspansi adda. Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan. Rasional : Memudahkan ventilasi dengan menurunkan tekanan abdomen terhadap diafragma. kerusakan perlinduingan kulit.DX IV : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat. bila hipotensi tak ada.

7) Mulai rujukan pada ahli diet. 3) Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Kultur membantu mengidentifikasi patogen penyebab sehingga terapi antibiotika yang tepat dapat diresepkan. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan bakteri. Rasional : Antimikroba topikal membantu mencegah infeksi. Gunakan linen tempat tidur steril. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal . Teknik steril dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi. diet tinggi kalori. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan. Gunakan skort steril. Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan pasien pada kebosanan. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. Karena balutan siis tandur hanya diganti setiap 5-10 hari. berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet) sesuai pesanan. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka. handuk dan skort untuk pasien. sisi donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika IV sesuai ketentuan. Rasional : Melindungi terhadap tetanus. Gunakan sarung tangan steril dan beriakan krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Rasional : Temuan-temuan ini mennadakan infeksi. 4) Beritahu dokter bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar. beriakn protein tinggi. 5) Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang mengenai area luas tubuh. sisi ini memberiakn media kultur untuk pertumbuhan bakteri. Rasional : Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi. 6) Bila riwayat imunisasi tak adekuat. Rasional : Kulit adalah lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi.

Rasional : Menururnkan nyeri dengan mempertahankan berat badan jauh dari linen tempat tidur terhadap luka dan menurunkan pemajanan ujung saraf pada aliran udara. tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan. . Nutrisi adekuat membantu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi. 5.DX V: Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. 2) Pertahankan pintu kamar tertutup. menyebabkan hipotermia. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas. Tujuan dan Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan. Rasional : Panas dan air hilang melalui jaringan luka bakar. Kriteria evaluasi: menyangkal nyeri. melaporkan perasaan nyaman. Intervensi : 1) Berikan anlgesik narkotik yang diresepkan dokter dan diberikan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Tindakan eksternal ini membantu menghemat kehilangan panas. Absorpsi obat IM buruk pada pasien dengan luka bakar luas yang disebabkan oleh perpindahan interstitial berkenaan dengan peningkatan permeabilitas kapiler. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral. Rasional : Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penderita. ekspresi wajah dan postur tubuh rileks. dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Rasional : Analgesik narkotik diperlukan untuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. 3) Berikan ayunan di atas tempat tidur bila diperlukan. pembentukan edema.

Rasional : Menghilangkan tekanan pada tonjolan tulang dependen. khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan badan sendiri. .4) Bantu dengan pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan sesuai kebutuhan. Dukungan adekuat pada luka bakar selama gerakan membantu meminimalkan ketidaknyamanan.

B. (Smeltzer. Adapun Diagnosa keperawatan yang dapat muncul adalah  Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan. ( Potter & Perry. KESIMPULAN Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. cleaning. chemoprophylaxis. Penatalaksanaan secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing.  Nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar  Defisit volume cairan b/d output yang berlebihan. . 2001) Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik (Smeltzer. SARAN 1) Untuk mahasiswa sebaiknya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kegawatdaruratan luka bakar diharapkan mampu memahami konsep dasar luka bakar serta konsep asuhan keperawatan. BAB IV PENUTUP A. covering and comforting (contoh pengurang nyeri). 2006) Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama. cooling.  Bersihan jalan napas b/d Obstruksi trakeobronkial. 2) Untuk institusi pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan penyakit ini. 2001).

Sixth Edition. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lippincott Campany. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Doenges. (1998). (2000). Barbara C. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. volume 2.B. Surabaya. Volume I. 1293 – 1328. Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Daftar Pustaka Brunner and suddart. Hal. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Jakarta. J. Doenges M. Marylin E.E. (terjemahan). (1996). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. (1989). Engram. Bandung. . Philadelpia. Pengelolaan Luka Bakar. Perawatan Medikal Bedah. Airlangga University Press. Long. (terjemahan).