You are on page 1of 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO (2001, dalam Hidayati, 2012). Kesehatan adalah keadaan sehat
fisik, mental dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Hal
ini berarti seseorang dikatakan sehat apabila seluruh aspek dalam dirinya dalam keadaan
tidak terganggu baik tubuh, psikis, maupun sosial. Apabila fisiknya sehat, maka mental
atau jiwa dan sosialpun sehat, demikian pula sebaliknya, jika mentalnya terganggu atau
sakit, maka fisik dan sosialnyapun akan sakit.Kesehatan jiwa adalah berbagai
karakteristik positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang
mencerminkan kedewasaan kepribadiannya (Kusumawati, 2010).
Sehat sakit dan adaptif-maladaptif merupakan konsep yang berbeda. Tiap konsep
berada pada rentang yang terpisah. Rentang sehat sakit berasal dari sudut pandang medis,
jadi seseorang yang mengalami sakit baik fisik maupun jiwa dapat beradaptasi terhadap
keadaan sakitnya. Kriteria kesehatan jiwa telah diidentifikasi dalam berbagai hal yaitu
dengan sikap positif terhadap diri sendiri, integrasi dan ketanggapan emosional,
pertumbuhan, perkembangan, dan aktualisasi diri (Stuart, 2007).
Menurut Yosep (2007, dalam Damaiyanti, 2010). Gangguan jiwa adalah
kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik,
maupun mental.Keabnormalan tersebut terlihat dalam berbagai macam gejala, yang
terpenting diantaranya ketegangan, seorang yang terkena neorosa masih mengetahui dan
merasakan kesukaranya serta kepribadianya tidak jauh dari realitas dan masih hidup
dalam alam kenyataan pada umumnya. Sedangkan orang yang terkena psikosa, tidak
memahami kesukaran-kesukaranya, kepribadianya yang dilihat dari segi tanggapan,
perasaan atau emosi, dan dorongan motivasinya sangat terganggu, selain itu tidak ada
integritas dan klien hidup jauh dari alam kenyataan.
Menurut WHO (2009, dalam Hidayati, 2012) memperkirakan 450 juta orang di
seluruh dunia mengalami gangguan mental, sekitar 10% orang dewasa mengalami
gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa
pada usia tertentu selama hidupnya. Usia ini biasanya terjadi pada dewasa muda antara

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Bila separuh dari mereka memerlukan perawatan dirumah sakit dan jika penduduk indonesia berjumlah 120 juta orang maka ini berarti bahwa 120 ribu orang dengan gangguan jiwa berat memerlukan perawatan dirumah sakit.Dalam masyarakat umum skizofrenia terdapat 0. 2004). Salah satu contohnya jika seorang dengan depresi mengalami gangguan tidur. Salah satu jenis skizofrenia adalah skizofrenia paranoid dan ciri-cirinya adalah waham yang sistematis atau halusinasi pendengaran. Diperkirakan bahwa 2 sampai 3% dari jumlah penduduk indonesia menderita gangguan jiwa berat.400. Perilaku kekerasan sering disebut gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol(Yosep. individu inidapat penuh curiga.2 % penduduk yang berusia 18 sampai 30 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa. dan agresif(Isaacs. maka dinegara kita terdapat kira kira 2. 2 usia 18 sampai 21 tahun. dan menginterpretasikan realitas. Gangguan jiwa yang paling menonjol adalah di psike (psikogenik). kemudian timbulah gangguan badan ataupun jiwa. 2007).000 orang anak yang mengalami gangguan jiwa (Maramis. 2007). 2007). menerima. Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkatnya prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun di berbagai negara. harga diri rendah. Menurut National institute of mental health (dalam Hidayati. Berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2004. 2012) angka kejadiangangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi 25% di tahun 2030. merasakan dan menunjukan emosi. waham dan depresi(Yosep. isolasi sosial. unsur yang saling mempengaruhi terjadi secara bersamaan. diperkirakan 26. Padahal yang tersedia sekarang hanya kira-kira 10.000 tempat tidur(Yosep.Secara umum klien skizofrenia akan mengalami beberapa masalah keperawatan seperti halusinasi. dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial. . perilaku kekerasan. argumentatif. baik kepada diri sendiri maupun orang lain. termasuk berpikir dan berkomunikasi.2 sampai 0.2004). kasar.8% dan retardasi mental 1 sampai 3%. gangguan skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhiberbagai area fungsi individu. Salah satu jenis gangguan jiwa adalah skizofrenia.

didapatkan bahwa klien yang kooperatif dan dapat membina hubungan saling percaya adalah Ny. Tujuan Umum Mampu melaksanakan asuhan keperawatan dan mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan yang terjadi pada psien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu. tangan mengepal. maupun lingkumgan (Keliat. 2. Tujuan khusus a. Tujuan Penulisan 1. . sebaliknya kalau keradangan yang melemah. Melihat dari dampak dan kerugiannya. maka daya tahan psikologinya akan menurun dan mungkin mengalami depresi. Mampu melaksanakan pengkajian keperawatan pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. b. serta nada suara tinggi. 2004). N. mata melotot. B. Jadi perilaku kekerasan dapat menimbulkan kerugian baik pada diri sendiri. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan dan ketika klien menceritakan apa penyebab klien masuk rumah sakit. Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. Sudah lama diketahui bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa(Maramis. perilaku kekerasan merupakan salah satu respon terhadap stresor yang dihadapi seseorang.2007). 3 karena kurang tidur daya tahan badaniahnya berkurang sehingga mengalami keradangan tenggorokan. klien menunjukkan tanda-tanda perilaku kekerasan seperti tegang. Salah satu masalah dari gangguan jiwa yang menjadi penyebab penderita di bawa ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan. orang lain. Observasi yang dilakukan tanggal 25 April 2013 pada klien dengan perilaku kekerasan di ruang Abimanyu Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.

Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. Bagi akademik Diharapkan kepada STIKes Dehasen Kota Bengkulu. 2. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. Manfaat Penulisan 1. d. Bagi Tempat Penelitian Dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi rumah sakit dalam memberikan pelayanankesehatan mengenai penyakit kejiwaan dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan. f. 3. Bagi peneliti lain . Mampu membandingkan dan menganalisa kesenjangan antara teori dan kasus pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. 4 c. Mampu melaksanakan dokumentasi keperawatan pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017. penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan pengajaran kepada mahasiswa terutama tentang kejiwaan dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan. g. e. C. Mampu melaksanakan evaluasi akhir pada pasien dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di Ruang Anggrek RSKJ Soeprapto Bengkulu tahun 2017.

5 Hasil penelitian ini berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian yang akan datang dengan permasalahan yang sama dan faktor-faktor yang lainnya. .

orang lain maupun lingkungan. & Daulay. baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2007). Pengertian Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Jenny. 2008). Purba. Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan yaitu ungkapan perasaan marah yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana individu bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri. Faktor Psikologis 1) Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi perilaku kekerasan. Resiko mencederai diri yaitu suatu kegiatan yang dapat menimbulkan kematian baik secara langsung maupun tidak langsung yang sebenarnya dapat dicegah (Depkes. disertai amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol (Farida & Yudi. 2011). 2007). Resiko perilaku kekerasan atau agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol (Yosep. Mahnum. 2007). Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Penyebab Menurut Direja (2011) faktor-faktor yang menyebabkan perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa antara lain 1. . B. Faktor Predisposisi a.

b. dan lobus temporal (untuk interpretasi indra . teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah. Budaya juga dapat mempengaruhi perilaku kekerasan. atau lingkungan. 6) Teori pembelajaran. Faktor ini dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi. Faktor Sosial Budaya Seseorang akan berespons terhadap peningkatan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respons yang dipelajarinya. dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan terjadi. dimana jika terjadi kerusakan fungsi limbik (untuk emosi dan perilaku). Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima. c. keluarga. 7 2) Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang tidak menyenangkan. Sesuai dengan teori menurut Bandura bahwa agresif tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Faktor Biologis Berdasarkan hasil penelitian pada hewan. 5) Teori psikoanalitik. Teori lainnya berasumsi bahwa perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan. 3) Rasa frustasi. lobus frontal (untuk pemikiran rasional). Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaiannya masalah perilaku kekerasan merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan. 4) Adanya kekerasan dalam rumah. perilaku kekerasan merupakan perilaku yang dipelajari. Agresi dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri serta memberikan arti dalam kehidupannya. adanya stimulus elektris ringan pada hipotalamus (pada sistem limbik) ternyata menimbulkan perilaku agresif. individu yang memiliki pengaruh biologik dipengaruhi oleh contoh peran eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi biologik.

baik berupa injury secara fisik. yang umumnya dimiliki oleh penghuni penjara tindak kriminal (narapidana) d) Gangguan otak. dan hendak menyerang objek yang ada di sekitarnya. Sistem limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif. Faktor Presipitasi Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam. pupil berdilatasi. epilepsi (epilepsi lobus temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan. tumor otak (khususnya pada limbik dan lobus temporal) trauma otak. 2. kehidupan yang penuh dengan agresif. dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. asetilkolin. Interaksi . a. sindrom otak organik berhubungan dengan berbagai gangguan serebral. dan masa lalu yang tidak menyenangkan. menurut penelitian perilaku agresif sangat erat kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XYY. c) Pengaruh genetik. Peningkatan hormon androgen dan norepinefrin serta penurunan serotonin dan GABA (6 dan 7) pada cairan serebrospinal merupakan faktor predisposisi penting yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif pada seseorang. b) Pengaruh biokimia. b. yaitu sebagai berikut a) Pengaruh neurofisiologik. atau ancaman konsep diri. psikis. apenyakit ensefalitis. menurut Goldstein dalam Townsend (1996) menyatakan bahwa berbagai neurotransmitter (epinefrin. keputusasaan. dopamine. Klien Kelemahan fisik. 8 penciuman dan memori) akan menimbulkan mata terbuka lebar. ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan. norepinefrin. beragam komponen sistem neurologis mempunyai implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut. ketidakberdayaan. Selain itu berdasarkan teori biologik.

c. 2. 5) Kematian anggota keluarga yang terpenting. konflik. kasar. 2) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu. Perilaku Menyerang orang lain. 3) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang yang dewasa. mengumpat dengan kata-kata kotor. 1) Kesulitan kondisi sosial ekonomi. C. berbicara dengan nada keras. 3. kekerasan. Fisik Mata melotot/pandangan tajam. tangan mengepal. Menurut Shives (1998) dalam Fitria (2009). wajah memerah dan tegang. kehilangan pekerjaan. merasa terancam baik internal dari permasalahan diri klien sendiri maupun eksternal dari lingkungan. kehilangan orang yang berarti. Verbal Mengancam. merusak lingkungan. 4) Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu mengontrol emosi pada saat menghadapi rasa frustasi. ketus. perubahan tahap perkembangan. padat. dan bising. Manifestasi Klinis Menurut Direja (2011) tanda dan gejala yang terjadi pada perilaku kekerasan terdiri dari : 1. atau perubahan tahap perkembangan keluarga. 9 Penghinaan. Lingkungan Panas. hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut. serta postur tubuh kaku. rahang mengatup. amuk/agresif. melukai diri sendiri/orang lain. .

5. Thrihexiphenidil. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. merasa terganggu. 2. ejekan. tidak aman dan nyaman. Nozinan. orang lain dan lingkungan E. 8. bermusuhan. kasar. dan menuntut. Penatalaksanaan Keperawatan a. 10 4. Psikoterapeutik b. menyalahkan. yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri. Spiritual Merasa diri berkuasa. Medis a. orang lain dan lingkungan. yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia. ingin berkelahi. Penatalaksanaan Yang diberikan pada klien yang mengalami gangguan jiwa amuk ada 2 yaitu: 1. dan kreativitas terhambat. dendam. Halloperidol. Perhatian Bolos. dan sindiran. Akibat Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. dan melakukan penyimpangan seksual D. yaitu mengontro perilaku merusak diri dan menenangkan hiperaktivitas. meremehkan. dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme. mengamuk. 7. Sosial Menarik diri. Emosi Tidak adekuat. keragu-raguan. kekerasan. pengasingan. cerewet. c. Lingkungan terapieutik . ECT (Elektro Convulsive Therapy). tidak bermoral. yaitu menenangkan klien bila mengarah pada keadaan amuk. penolakan. d.tidak berdaya. b. berdebat. 6. melarikan diri. Intelektual Mendominasi. jengkel. merasa diri benar.

2010) G. Mengepalkan tangan e. Orang Lain. Mengatupkan rahang dengan kuat d. dan Lingkungan Perilaku Kekerasan PPS : Halusinasi Regimen Terapeutik Inefektif Harga Diri Rendah Isolasi Sosial : Kronis Menarik Diri Koping Keluarga Berduka Disfungsional Tidak Efektif Gambar 2. Mengancam secara verbal atau fisik . Pendidikan kesehatan F. Mukamerah dan tegang b.2 Pohon Masalah Perilaku Kekerasan Sumber : (Fitria. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL) d. Pandangan tajam c. 11 c. Pengkajian Menurut Keliat (2014) data perilaku kekerasan dapat diperolah melalui observasi atau wawancara tentang perilaku berikut ini: a. Bicara kasar g. menjerit atau berteriak h. Jalan mondar-mandir f. Suara tinggi. Pohon Masalah Resiko Tinggi Mencederai. Asuhan Keperawatan 1.

Isolasi sosial. b) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. f. sosial. Rencana Tindakan Keperawatan Menurut Fitria (2010) rencana tindakan keperawatan yang digunakan untuk diagnosa perilaku kekerasan yaitu : a. c. 2. Resiko mencederai diri sendiri. Koping keluarga inefektif. dan terapi psikofarmaka. Daftar Masalah Menurut Keliat (2014) daftar masalah yang mungkin muncul pada perilaku kekerasan yaitu : a. b. e) Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya. spiritual. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif. h. g. 3. Merusak barang atau benda k. Harga diri rendah kronis. Melempar atau memukul benda /orang lain j. d) Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasannya. Perilaku Kekerasan. . 12 i. Tindakan keperawatan untuk klien 1) Tujuan a) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. orang lain. f) Klien dapat mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik. c) Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya. Tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah atau mengontrol perilaku kekerasan. d. dan lingkungan. Berduka disfungsional. Perubahan persepsi sensori: halusinasi. e.

serta akibat dari perilaku tersebut. b) Diskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan yang terjadi di masa lalu dan saat ini. b) Latih keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan perilaku kekerasan. waktu. berjabat tangan. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan baik secara fisik (pukul kasur atau bantal serta tarik napas dalam). b. ataupun spiritual (salat atau berdoa sesuai keyakinan klien). obat- obat-obatan. . orang lain maupun lingkungan. sosial atau verbal (dengan mengungkapkan kemarahannya secara asertif). spiritual maupun intelektual. sosial. psikologis. Diskusikan bersama klien mengenai tanda dan gejala perilaku kekersan. 13 2) Tindakan a) Bina hubungan saling percaya Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar klien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan Saudara. e) Diskusikan bersama klien akibat yang ditimbulkan dari perilaku marahnya. c) Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan. dan tempat setiap kali bertemu klien. Tindakan keperawatan untuk keluarga 1) Tujuan Keluarga dapat merawat klien di rumah 2) Tindakan a) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan meliputi penyebab. d) Diskusikan bersama klien perilaku secara verbal yang biasa dilakukan pada saat marah baik terhadap diri sendiri. menjelaskan tujuan interaksi. sosial. serta membuat kontrak topik. baik kekerasan fisik. perilaku yang muncul. Tindakan yang harus Saudara lakukan dalam rangka membina hubungan salig percaya adalah mengucapkan salam terapeutik. tanda dan gejala.

SP 3 Pasien Mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal d. 4. (3) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus klien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan. b. SP 5 Pasien Mengontrol perilaku kekerasan dengan obat f. SP 4 Pasien Mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual e. pengkajian perilaku kekerasan dan mengajarkan cara menyalurkan rasa marah. SP 2 Pasien Mengontrol perilaku kekerasan secara fisik c. 14 (1) Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien agar melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat. SP 1 Keluarga Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di rumah 5. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan . Evaluasi Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai tindakan keperawatan pada klien. SP I Pasien Membina hubungan saling percaya. c) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi klien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat. seperti melempar atau memukul benda/orang lain. (2) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada klien bila anggota keluarga dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Menurut Fitria (2010) strategi pelaksanaan tindakan keperawatan dengan diagnosa keperawatan perilaku kekerasan a.

15 keperawatanyang telah dilaksanakan. h. 2010). b. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang pernah dilakukan. i. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. e.Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan. g. Klien dapat mengontrol atau mengendalikan perilaku keekrasan. evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan. yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan. Klien dapat membina hubungan saling pecaya. sebagai pola pikir. Klien mendapatkan dukungan dari keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan. c. Adapun hasil tindakan yang ingin dicapai pada pasien dengan perilaku kekerasan antara lain a. d. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. . j. (Fitria. f. Klien menggunakan obat sesuai program yang telah ditetapkan. Klien dapat mengenal penyebab perilaku kekerasan yang dilakukakannya.