You are on page 1of 23

KONFLIK, SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA DI ACEH SINGKIL

Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Sosial dan Budaya
di Indonesia yang diampu oleh
Drs. Ayi Budi Santosa, M. Si.
Wildan Insan Fauzi, M. Pd.

Disusun Oleh:

NIM. 1605928 Ali Wahyudi

NIM. 1606517 Dhita Amelia

NIM. 1604262 Ira Dwilestari

NIM. 1601024 Ridho Dwi Adinugroho

DEPARTEMEN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Konflik, Sistem Sosial dan Budaya di Singkil Aceh .
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Konflik, Sistem
Sosial dan Budaya di Aceh Singkil dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Bandung, Maret 2018

Penyusun

i

Konflik Yang Terjadi dan Cara Penyelesaiannya di Aceh Singkil .................................................................................... 19 DAFTAR PUSTAKA ............................... 13 BAB 3 PENUTUP ...............1................................ 5 2.. Rumusan Masalah ............................ Latar Belakang ................................................................................. 10 2................................2.................. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR ...........................................................................................4.. Adat-istiadat di Aceh Singkil .................................... 18 3..................... Sistem Kehidupan Masyarakat di Aceh Berdasarkan Hukum Adat dan Hukum Agama ....................................................................................................................................................3...........3....... ii BAB 1 PENDAHULUAN .............................. 18 3.... Simpulan................................................................ Sistem Kekerabatan di Aceh Singkil ................................ 1 1.............................................. 4 1............................................................4... 4 BAB 2 PEMBAHASAN ......................................................................1................................................................................................2.............. 4 1..................... 9 2.................................. Tujuan Penulisan ............................ Saran ................... 1 1............................... 5 2..................1.......................... i DAFTAR ISI ................................. Manfaaat Penulisan ........................... 20 ii ..........2......................................................................................

Dengan demikian. Gampong merupakan kesatuan 1 .integrasi tersebut melahirkan sebuah adagium (hadiah maja) dalam masyarakat Aceh adat ngon agama lagee zat ngon sifeuet (adat dan agama seperti zat dan sifat).1. Mereka meyakini bahwa ajaran Islam akan menyejahterakan mereka di dunia dan di akhirat kelak. Aceh dimata sejarawan). melaksanakan ibadah dan tempat membangun jati diri masyarakat yang sesuai dengan ajaran islam.” (Sumber : Muliadi Kurdi. Bagi masyarakat Aceh agama sangat berperan penting sebagai sarana pemersatu dan menjadi rujukan masyarakat ketika kehilangan arah. “adat bak Po Teumeureuhom hukom bak Syiah Kuala. 2009. Lantas kedudukan mesjid dan meunasah dalam sistem sosial masyarakat Aceh adalah sebagai tempat duek pakat (Musyawarah). Hukom Ngon Agama lagee zat ngon sifeuet.Teori tersebut dikemukakan oleh Jalaluddin bin Syekh Muhammad Kamaluddin anak Bagindo Khatib dari Nagari Tarusan. Dalam masyarakat Aceh juga terdapat teori yang sangat melekat dalam kehidupan masyrakat Aceh sendiri. Oleh karena itu adat dan agama tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Aceh juga di kenal dengan sebutan Serambi Mekkah yang sangat kaya dengan mesjid-masjid yang megah. agama memiliki daya konstruktif. Latar Belakang Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang di kenal dengan kekentalan agamanya. Ini terlihat dari masyarakat Aceh yang hampir tidak mampu membedakan antara hukum dan adat. Aceh sebagai negeri yang penduduknya mayoritas beragama Islam sangat kental dengan adat istiadatnya. BAB 1 PENDAHULUAN 1. Di Aceh terdapat sistem pemerintahan yang sangat terintegrasi contohnya.regulatif dan formatif dalam membangun tatanan hidup masyarakat Aceh. Orang Aceh umumnya selalu patuh pada perintah-perintah Allah dan Rasul-nya. gampong dan mukim. Bagi orang Aceh agama itu telah di jadikan indikator yang mampu membentuk satu kesatuan sosial yang kuat di dalam masyarakat. terutama bagi yang berdomisili di desa-desa.

R Kohler yang tertembak di depan mesjid Baya Baiturrahman.lada dan hasil komoditi lainnya menyebabkan Aceh menjadi incaran Negara-negara Eropa. Bahkan Belanda mencatat bahwa perang melawan Aceh adalah perang yang paling melelahkan. Aceh pada masa itu seakan menjadi daerah tanpa penguasa. 2 masyarakat hukum sebagai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah mukim yang menempati wilayah tertentu dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. Sistem sosial ini telah menjadi adat turun temurun dalam masyarakat Aceh dan telah digunakan mulai dari masa kerajaan Aceh berdaulat dulunya. Pada saat itu tamping kekuasaan secara sengaja dirampas oleh belanda. Setelah Sultan Iskandar Muda mangkat Aceh seakan kehilangan marwahnya. Rakyat Aceh tetap meneruskan perjuangnya demi menjaga tanah leluhurnya. Akhirnya kerajaan Aceh menemui masa kelamnya setelah sultan terakhir Aceh Sultan Daud Syah berdaulat menyerah kepada belanda.H. Saat itu Aceh sangat dikenal dimata dunia. Tidak sedikit jendral-jendral besar belanda tewas ditangan pasukan Aceh. Ini membuktikan bawah rakyat Aceh adalah orang-orang yang pemberani dan tangguh. nama Aceh sedikit demi sedikit mulai buram. Pada masa itu Aceh di pimpin oleh seorang gobernur yang bernama van swithen. Nama Aceh seolah melambung. sedangkan Mukim adalah kesatuan masyarakat hukum dalam provinsi Aceh yang terdiri atas gabungan beberapa gampong yang memiliki batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri. Sampai saat ini kita bisa . Beliau berhasil membawa Aceh kedalam masa kejayaan dan menjadikan Aceh sebagai kerajaan islam terbesar di Asia Tenggara pada masa itu. apalagi di saat kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). kerajaan Aceh saat itu meliputi dua pertiga pulau Sumatra dan semenanjung melayu. Aceh dengan hasil alam yang melimpah menjalin hubungan bilateral dengan Negara-negara timur tengah dan Eropa. Perdagangan cengkeh. Contohnya saja J. serta berkedudukan langsung di bawah camat yang dipimpin oleh imeum mukim. apalagi Sejak Belanda resmi menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh. Namun ini semua tidak berarti memutuskan garis perjuangan rakyat Aceh.

Seperti dalam sebuah hadiah maja Aceh “Dari pada Sihet lebeh get roe” (dari pada miring lebih baik tumpah). Seharusnya saat ini Aceh harus melawan globalisasi untuk mampu mempertahankan identitas diri. Ini menunjukkan bahwa orang Aceh memiliki konsistenitas yang sangat tinggi.000 tewas dan didalammnya terdapat para petinggi Belanda tewas dan para pejuang Aceh”. Barang kali ini terjadi karena rakyat Aceh telah lelah dan cenderung bergeser dari nilai atau norma yang berlaku di bumi Aceh ini. Tentunya generasi ini menjadi generasi yang paling terpuruk sepanjang sejarah Aceh. 3 melihat bukti sejarah bahwa banyak para serdadu dan jendral-jendral belanda yang tewas tertembak dan terkubur di kerkoff. Ini sangat menunjukkan bahwa watak orang Aceh yang berani dan tidak takut pada kondisi apa pun. karena Aceh saat ini cenderung menjadi Aceh yang lemah sekaligus Aceh yang kehilangan arah. Kesengitan perang Aceh Bahkan tercatat dalam buku (Perang Aceh Kisah kegagalan Snouck Hurgronje) didalam buku ini tertulis bawah “lebih dari 100.Dari pada juleng leubeh get buta”. Aceh hari ini bukanlah aceh yang diharapkan oleh para leluhur. namun perjuangan di kalangan rakyat masih tetap di kobarkan. Ini semua tersirat dalam adagium orang Aceh yang mengatakan “Dari pada singet leubeh get roe. Orang Aceh saat ini cenderung pengecut dan memiliki nilai konsistenitas yang rendah. Kerkoff tercatat sebagai kuburan belanda yang terbesar yang ada di negri orang. Aceh yang dulunya terkenal dengan orang yang berperwatakan keras kini berubah menjadi Aceh yang lemah. Namun melihat Aceh sekarang sangat berbanding terbalik dengan Aceh tempo dulu. Orang Aceh tidak tanggung- tanggung dalam mengerjakan sesuatu. Aceh dikenal dengan bangsa yang berperwatakan keras sehinggah sangat sulit menaklukkan Aceh meskipun belanda berhasil menaklukkan kesultanan Aceh pada masa itu. Perang ini disebut oleh Belanda sebagai perang yang belum ada bandingannya bagi Belanda. Nilai Konsitenitas yang tinggi ini menyebabkan Belanda kewalahan melawan rakyat Aceh. Aceh harus bangkit mengembangkan ciri khas sendiri melalui apa yang telah diriwayatkan dari .

yaitu: 1. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas. . 1.2. Saatnya mengembalikan peradaban Aceh yang dahulu dikenal di mata dunia. maka disini kami dapat merumuskan beberapa permasalahan.4. Mengetahui bagaimana sistem kehidupan masyarakat di Aceh berdasarkan hukum adat dan hukum agama. Dalam makalah ini dijelaskan dan juga sistem kehidupan masyarakat di Aceh berdasarkan hukum adat dan hukum agama. Bagaimana konflik yang terjadi dan cara penyelesaiannya di daerah Singkil Aceh? 1. 4 dulu oleh para Endatu. Mengatahui bagaimana saja sistem-sistem kekerabatan di Aceh Singkil. Bagaimana kebudayaan adat istiadat yang berlaku di masyarakat Aceh Singkil? 3.3. Bagaimana sistem-sistem kemasyarakatan di Aceh Singkil? 4. 3. bagaimana adat-istiadatnya. yaitu: 1. 2. Menjelaskan kebudayaan dan adat istiadat yang ada di Aceh Singkil. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini. 4. Mengetahui konflik yang terjadi dan cara penyelesaiannya di Aceh Singkil. Bagaimana sistem kehidupan masyarakat di Aceh berdasarkan hukum adat dan hukum agama? 2. dan sistem kekerabatan di Singkil Aceh. Manfaaat Penulisan Untuk memberikan informasi mengenai konflik yang terjadi pada masyarakat Singkil Aceh dan bagaimana cara penyelesaian konflik yang terjadi di Singkil Aceh.

Ajaran Islam yang mendidik umatnya supaya teguh berjuang dalam menggapai kehidupan yang sejahtera dan mulia dunia dan akhirat telah menjadikan jiwa-jiwa orang Aceh sejak dulu gigih dalam mempertahankan harkat dan martabat serta memperjuangkan kemulian hidup sehingga kisah hidup mereka ditulis dalam lembaran emas sejarah dunia yang dapat dibaca oleh anak cucu mereka sampai hari ini. Dari sini dapat kita pahami bahwa Syari’at Islam bagi masyarakat Aceh bukanlah barang yang baru muncul kemaren sore. Dan Syari’at Islam itu bukanlah hanya sebatas kata-kata dimulut-mulut penguasa dan masyarakatnya dan bukan pula hanya sebatas simbol-simbol dalam pakaian dan kebudayaan masyarakat saja tapi Syari’at Islam itu sudah diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat Islam Aceh secara lahir dan batin 5 .Buktinya. Tanpa Tahun:203).dan Suny Ismail. Hasyimy.Ismail. Sistem Kehidupan Masyarakat di Aceh Berdasarkan Hukum Adat dan Hukum Agama Aceh merupakan satu-satunya kerajaan di Sumatera yang pernah mencapai kedudukan yang tinggi dalam politik dunia sehingga menjadi pokok pembicaraan dalam sejarah umum. Tanpa Tahun:27) Kegemilangan sejarah Aceh ini tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam yang telah dianut oleh orang Aceh sejak abad pertama hijriyah. ketika Marco Polo penjelajah Venetia yang termasyhur itu mengunjungi Aceh pada tahun 1292 ia melaporkan bahwa semua penduduk kerajaaan Peurlak telah memeluk agama Islam. Komentar ini dapat kita baca dalam buku “sejarah sumatera” yang diterbitkan di London tahun 1784 yang ditulis oleh William Marsden. yaitu kerajaan Islam Peurlak yang diproklamirkan pada tanggal 1 Muharram 225 H (840M) (A. (Suny.1. tapi merupakan warisan endatuyang diterima turun temurun sejak kerajaan Islam pertama di Nusantara tegak berdiri di tanah penuh berkah Allah ini. BAB 2 PEMBAHASAN 2.

merupakan realitas yang cukup positif bagi pencerdasan masyarakat Aceh untuk mendalami keberadaan Islam baik dalam tataran pemikiran maupun terapannya di tengah- tengah masyarakat dalam kehidupan beragama. terfregmentasi dalam dua pandangan. dalam bidang ideology dan pemikiran. Boland. tapi sudah menjiwai setiap gerak langkah orang Aceh. 6 dalam kehidupan sehari-harinya. sebab penduduk Aceh mayoritas Muslim dan orang/suku Aceh sendiri seratus persen Muslim. Syariat Islam dalam penerapannya mengalami pro-kontra karena penerapan syariat Islam di Aceh tidak semudah seperti apa yang dibayangkan. setelah membuat penelitian di Aceh. dalam bidang sastra dan bahasa. dan bernegara. B. Syari’at Islam itu juga bukan hanya tertulis dalam kitab Qanun atau Undang-Undang saja. pro-kontra penerapan syariat Islam menjadi lebih mengemuka. sebenarnya tidak hanya terjadi di Aceh. Nurjannah. sampai mengatakan bahwa bagi masyarakat Aceh being an Acehnese is equivalent to being a muslim (menjadi orang Aceh telah identic dengan menjadi Muslim (Ismail. karena Aceh yang notabene secara hukum diberikan status khusus.J. Syari’at Islam yang teraplikasi dalam bidang pendidikan. dalam bidang tata pergaulan dan akhlak. Keragaman pendapat justru membawa rahmat tersendiri sepanjang masih dapat saling menghargai perbedaan 13 di antara masing-masing pandangan. Perbedaan pendapat menyangkut syariat Islam. Dengan . Hanya saja. berbangsa. dalam bidang hukum dan undang-undang. mewarnai setiap tarikan nafasnya. Sehingga Syari’at Islam sudah menjadi tuntutan masyarakat Aceh dari dulu sampai sekarang. Munculnya polemik di level pemikiran para intelektual muda Aceh. bahkan dalam segala dimensi kehidupan masyarakatnya. Sedangkan kalangan konservatif melihat bahwa syariat Islam mutlak harus diformalisasikan. Dalam kaitan ini. Tanpa Tahun:32). yaitu kalangan moderat yang berpendapat bahwa syariat Islam tidak perlu diformalisasikan. ekonomi dan kebudayaan. secara umum perbedaan pandangan telah muncul di kalangan umat Islam. salah satunya karena masih adanya kontroversi di kalangan masyarakat Aceh sendiri. perbedaan pendapat tentang penerapan syariat Islam. Sehingga seorang antropolog Belanda.

1. adat. pemeluknya dapat menjalankan ajaran agamanya masing-masing ”. tetapi telah menjadi tugas dan tanggung jawab Negara (Pemerintah Daerah). tujuan dan Fungsi pasal 2 ayat 2 disebutkan bahwa:“ Keberadaan agama lain di luar agama Islam tetap diakui di daerah ini. Dalam Bab II. Bukankah ketika kita berikrar melaksanakan syariat Islam berarti kita harus melaksanakan secara sempurna dan menyeluruh. Penyebutan kata-kata kaffah dianggap perlu dan penting secara politis. dan peranan ulama. . pendidikan. tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh yang meliputi bidang agama. Dengan demikian terlaksananya syariat Islam di Aceh bukan hanya urusan pribadi pemeluk Agama Islam.1. Penyelenggaraan kehidupan beragama. Menurut pasal 3 ayat ( 2 ) Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 ada empat bidang keistimewaan yang diberikan kepada Daerah Aceh. Atau dengan kata lain. Pelaksanaan Syari’at Islam diatur dalam Peraturan Daerah Propinsi Daerah (Perda/Qanun) Istimewa Aceh nomor 5 tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syari’at Islam. secara tidak langsung kedua pendapat tersebut memunculkan pertanyaan tentang perlu tidaknya penerapan syariat Islam melibatkan kekuasaan negara. 2.2. Presiden BJ Habibi menandatangani UU Nomor 44 tahun 1999. Syariat Islam yang dicanangkan berlaku di bumi Aceh pada tanggal 1 Muharram 1423 hijriyah adalah syariat Islam secara kaffah (menyeluruh/ sempurna). 7 demikian. apakah negara turut campur untuk mengurus dan mengatur umat Islam dalam menjalankan syariatnya atau tidak. meskipun tanpa menyebut kata-kata kaffah seperti tertera dalam al-Qur ’an surat al-Baqarah ayat 208.1. Timbul pertanyaan mengapa harus ditambah kata-kata “ kaffah “?. Penyelenggaraan kehidupan adat. syari'at Islam didefenisikan dengan tuntunan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penyelenggara kehidpan beragama di daerah ini diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan syari'at Islam bagi pemeluknya. karena akan menentukan bagaimana peranan dan keterlibatan negara (Pemerintah Daerah) dalam upaya pelaksanaan syariat Islam di Aceh. yaitu: 2.

Nampaknya memang butuh kerja keras yang lebih padu dan lebih bersinergi lagi dari pihak-pihak yang terkait untuk penegakan syariat Islam di Aceh. Peradilan Umum.1. Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syari'at Islam bidang Aqidah.4. Peran Ulama dalam Penetapan Kebijakan Daerah. Untuk penerapan UU tersebut. dan belum menyentuh subtansi dasar dari pelaksanaan syariat Islam itu sendiri secara kaffah. baik pada tingkat rendah (Sagoe) atauapun tingkat tinggi (Nanggroe) yang wewenangnya dapat meliputi seluruh bidang syari'at yang berkaitan dengan peradilan. walau masyarakat sendiri juga harus punya kesadaran juga tentang pentingnya penerapan syariat Islam ini.1. Saat ini pelaksanaan syariat Islam di Aceh masih sebatas lip service. Presiden Megawati Soekarno Putri menandatangani UU Nomor 18 Tahun 2001. 8 2. yaitu. Sementara itu pada tanggal 9 Agustus 2001. Kedudukan peradilan tersebut sama dengan tiga saudaranya yang lain. karena penegakan syariat Islam . dan Qanun Nomor 23 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. dan 2. Qanun Nomor 33 Tahun 2001 tentang Pembentukan Susunan dan Tatakerja Dinas Syari'at Islam Propinsi Daerah Istiewa Aceh. Peradilan Militer dan Peradilan Administarsi Negara. Maka sudah saatnya Qanun Jinayah seperti hukuman potong tangan buat koruptor diundangkan. Penyelenggaraan pendidikan. yang lebih dikenal dengan UU Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam. sudah ditetapkan Perda Nomor 43 Tahun 2001 tentang Perubahan Pertama atas Perda Nomor 3 tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi dan Tatakerja MPU. dan Syi'ar Islam. yang terpenting mengenai penerapan Syariat Islam adalah membenarkan pembentukan Mahkamah Syar'iyah. Tentu ini menjadi lebih bermakna buat masyarakat. Masyarakat masih menunggu keseriusan Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). masih sibuk dengan kulit dan melupakan isi.3. Qanun Nomor 10 tahun 2002 tentang Peradilan syari'at Islam. Ibadah. Terlepas dari plus minusnya UU tersebut. karena pada umumnya masih sebatas razia jilbab terhadap kaum wanita. yang pembinaan yudisialnya dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Ali Geno. ada yang menambah dan ada yang mengurangi. Nakan Nggekhsing (nasi kuning) f. Seme Malum. Ndekhikih l. Klame Tabusiam m. 2014) 2. Jekhuk k. Pekacem Tubis 2) Keterampilan Tradisional Aceh Singkil . ada juga yang menyebutnya Nditak Talam c. 1) Beras 100 (sepuluh kaleng) 2) Kambing 1 ekor 3) Uang Hangus (jumlahnya tidak tertentu) atau disebut dengan Khukun damae artinya kebutuhan yang dibutuhkan dengan musyawarah 4) Obon (nasi kendang) yang dibawa oleh pengantin laki-laki (yang mengiringi) atau disebut dengan mengakhak dan jumlah obon 16 talam (tempat). Cemanis (pulut bekuah) g. Buah Belaka e.2. 9 tidak hanya kewajiban Dinas Syariat Islam tapi juga kesadaran individu (Berutu. Adat-istiadat di Aceh Singkil Adat Istiadat Dalam Perkawinan Adat istiadat dalam perkawinan di Subulusalam Aceh singkil yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. 1) Makanan Tradisional Aceh Singkil a. Bahkan ada yang sama sekali tidak memakai lagi adat seperti yang di sebutkan di atas. Pelita Talam. Ikan Kekhah i. Manuk Labakh. Nditak b. Ndalabakh d. Sanok Galuh Atau Garong j. Adat istiadat yang ada pada kategori A dan B diatas sudah banyak perubahan di Singkil. cenecah h.

(Panggilan Sopan untuk orang lebih tua) d. 10 a. Belagen yang dibuat dari daun pandan f.3. Kekerabatan Melalui Adat Istiadat Kekerabatan melalui adat istiadat dapat dilihat dalam berbagai upacara yang dilakukan oleh masyarakat aceh singkil. Tukhang (Panggilan Umum untuk perempuan lebih kecil) f. Tari Alas b.3. Rukak. Tari Dampeng c. Berikut akan dijelaskan beberapa kekerabatan yang terdapat di dalam kehidupan Etnis Singkil: 2. (sapaan terhadap sesama umur / teman biasa) 4) Seni dan budaya suku Singkil a. Contohnya upacara pernikahan. Dik. Pak (Panggilan Untuk Ibu Bapak) e. Tari Payung h. Pak. Sistem Kekerabatan di Aceh Singkil Kata kerabat berasal dari Bahasa Arab yaitu ‘Qaraba’ atau ‘Qarib’ yang artinya dekat atau akrab.1. (Panggilan Untuk Anak laki2) b. Tari Barat d. Berarti kekerabatan adalah kedekatan hubungan antar keluarga secara khusus dan antar warga masyarakat pada umumnya. Tari Biahat (Tari Harimau) g. mak. Pukak. Tari Sri Ndayong e. Sukak. Tari Piring f. Piso/pisau 3) Panggilan / Istilah di Di Subulussalam Salam dan Singkil. Pahar d. Senina. Bot e. dalam . Upik (Panggilan Untuk anak Perempuan) c. Ndulang c. Nungkak. Tari Lelambe 2. Buyung. Sumpit belopepinangen b. Gek. Abang. a.

atau dengan kata lain alang gegoh. 2. mendayung sampan atau dengan kata lain khentoktoh. hadiah. Umumnya kata kata yang digunakan oleh masyarakat singkil bisa langsung diketahui sasaran maksud tujuan dan tidak bersifat umum.pembagian tugas kerja.2.3. yang lebih uniknya dalam proses mendayung sampan mempunyai arti tersendiri yaitu : ketika laki laki duduk di depan dan perempuan dibelakang hal ini dapat diartikan bahwa perempuan dan laki laki tersebut bukan muhrim. 2. saudara laki laki ibu dan saudara perempuan ibu yang biasanya dibedakan berdasarkan urutan kelahiran. contoh dapat dilihat pada kegiatan pada saat mendirikan rumah. 11 upacara tersebut terdapat lambang keakraban yaitu Tudung Saji Tutup Dulang yang merupakan rakitan kain 16 lembar dan 16 warna yang dikenal dengan istilah sahokh 16. dan yang paling mencolok ialah saat memberi upah. Dan selain itu juga. kekerabatan dapat dirasakan pada saat pesta pernikahan atau sunat rasul. dan sebaliknya apabila perempuan di depan dan laki laki di belakang hal ini bertanda bahwa mereka memliki ikatan kekeluargaan atau ikatan pernikahan (Muhrim). saudara laki laki ayah. Kekerabatan Melalui Sosial Budaya Sosial budaya juga merupakan sebuah alat untuk menjalin kekerabatan yang sering dilakukan oleh masyarakat Aceh singkil. Selain itu juga dapat dilihat dari kegiatan sunatan rasul yang banyak mengandung upacara upacara yang bersifat sosial seperti adanya saling .3. menanam padi.3. Sahokh 16 melambangkan kekerabatan yang diwariskan oleh raja raja si 16 yaitu terdiri dari 8 kerajaan simpang kiri dan juga terdiri dari 8 kerajaan simpang kanan. Kekerabatan Melalui Tutur Bahasa Kekerabatan juga dapat dilihat dari tutur bahasa misal pengunaan kata sapaan yang berbeda beda terutama pada penggunaan kata sapaan seperti sapaan terhadap abang . saudara perempuan ayah. kakak. kado (oleh oleh) umtuk yang bekerja yang disebut dengan istilah “menjatoh/ temettok’’. keakrabatan yang bersifat langsung antar keluarga yamg dimulai dari rapat famili.

begitu juga sebaliknya keluarga penyelenggara upacara memberikan dengan jumlah yang sama kepada pemberi kado. Hal yang bersifat sosial lainnya dapat juga dilihat pada acara temetok atau pemberian kado pada upacara pernikahan dan sunatan rasul. Sedangkan tetangga hanya memberikan bantuan sesuai keadaan ekonomi masing masing. 1. dan lain lain. Pada penyelenggaraan pesta pernikahan dan upacara kematian lazimnya para tetangga dan sanak saudara memberikan bantuan berupa beras dan bahan pangan lainnya.3. Kekerabatan Melalui Keagamaan Nuansa keagamaan juga terasa kentara pada acara khatam al-quran dan kuliah agama pada upacara perkawinan dan sunah rasul. 2.4. kelapa. hal ini dapat kita lihat saat upacara sunatan. . kebudayaan dan lain lain sebagainya. Kemudian pada hari ketiga dilakukannya kuliah agama oleh guru mengaji didaerah tersebut. Sanak saudara memberikan minimal 1 karung beras dan bahan seperti ayam. 12 membantu antara satu dengan yang lainnya. Kado yang berupa barang dan uang yang telah diberikan oleh para tamu akan dibacakan jumlah beserta nama pemberinya. ini bisa kita buktikan dengan adanya nama Said. dan apabila ia tidak mampu memberikan jumlah uang yang diberikan maka keluarga penyelenggara mengupayakan agar paman tersebut dapat memberikan sejumlah uang tanpa diketahui oleh publik. Nuansa keagamaan juga terasa disetiap kegiatan upacara baik itu berupa acara sosial. Masyarakat Aceh Singkil juga terbiasa mengadakan pembacaan Yasiin setiap hari jum’at siang secara besama sama sehingga dapat menambah keakraban dan mempererat silaturrahmi antar warga. Seorang gadis yang akan berumahtangga wajib hukumnya mengkhatam alquran pada hari kedua upacara perkawinan.000.000.00. Pada upacara tersebut seorang paman harus memberikan uang tunai minimal Rp. Syarifah dan masakan khas Arab yang telah disesuaikan dengan lidah orang Aceh Singkil. Masyarakat Aceh Singkil sendiri juga mempunyai hubungan kekerabatan dengan bangsa Arab.

mulai dari tahun 1979 hingga bentrok yang terjadi pada Selasa. Konflik Yang Terjadi dan Cara Penyelesaiannya di Aceh Singkil Kronologis awal kerusuhan antar umat beragama di kabupaten Singkil tersebut. ternyata konflik antara umat beragama sudah berlangsung 36 tahun yang lalu. 13 2. aturan dan perjanjian yang telah disepakati. Muklish (60 tahun). 1 gereja di Desa Napagaluh Kecamatan Danau Paris dan 1 gereja di Desa Suka Marmur Kecamatan Gunung Meriah. tepatnya sejak tahun 1979. Undang-undang (rumah ibadah berukuran kecil. yaitu Gereja Kuta Kerangan dengan ukuran 12x24 meter dan tidak bertingkat. tapi malah memperbanyak bangunan gereja baru dan direhab. 13 Oktober 2015 (Amal. Hasil dialog tersebut adalah sebagai berikut: Gereja di Aceh Singkil hanya boleh satu unit. saat ini sudah 27 unit Gereja yang telah berdiri di Aceh Singkil. Dalam hal ini. yaitu: 1 gereja di Desa Keras Kecamatan Suro. Terbentuk satu kesepakatan untuk tidak melaksanakan ataupun membangun kembali (rehab) gereja sebelum mendapat izin dari Pemerintah Daerah Tingkat II. bukanya dibongkar.4. menguraikan secara detai kronologis kejadian dari awal konflik di kabupaten Aceh Singkil. Deny. 2016) Pada 11 Juli 1979 di Lipat Kajang. dan 1 gereja lagi di Desa Lae Gecih Kecamatan Simpang Kanan. Kenyataannya. sebuah perjanjian yang ditandatangani secara Bersama-sama oleh 8 ulama perwakilan umat Islam dan 8 pengurus gereja/perwakilan umat Kristen. Selanjutnya 13 oktober 1979 dibuatlah ikrar untuk menjaga kerukunan antar umat beragama dan mentaati perjanjian yang telah dibuat 11 Juli 1979. Kemudian dibuatlah ruang dialog dalam sebuah pertemuan yang difalisitasi muspida. Menurut catatan Forum Umat Islam Aceh Singkil. harus dibongkar oleh umat Kristen itu sendiri. . Salah seorang penduduk Aceh Singkil. umat Kristen harus menepati janji dan mentaati hukum. Apabila terdapat gereja atau undang-undang selain tersebut. Bahrul Khoir dan Setiawan. red) hanya boleh 4.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah. menghimbau kepada semua pihak di luar Aceh Singkil jangan membuat pernyataan menyesatkan yang menyudutkan umat Muslim Aceh Singkil yang tidak mengetahui akar permasalahan sebenarnya. Terkait peristiwa pembakaran tempat ibadah di Singkil. karena ada acara Hardiknas. sedangkan kedamaian itu akan memberikan kenyamanan dan ketentraman hidup. FUI mengeluarkan pernyataan sikap berisi 11 poin. Salah satunya. Adanya persaingan antar etnis dan suku yang tidak sehat akan memunculkan problem konflik yang setipe saat akan terjadi dan bias saja berulang terus menerus tanpa diketahui batas akhirnya. Walaupun dalam inside Aceh Singkil terdapat pembakaran tempat ibadah. Sebab. Tim penertiban turun ke lapangan dan berhasil menyegel 13 gereja. Pada 1 Mei 2012 Tim Penertiban yang dibentuk oleh Pemda Aceh Singkil turun ke lokasi untuk menyegel 5 unit gereja. di Aceh Singkil juga telah terbentuk komunitas multikultur dengan cara pandang dan cara berpikir yang sangat variative. . pasti akan bersikap sangat berhati-hati dalam membaca konflik di Aceh Singkil. Untuk itu sangat dibutuhkan cara pandang dan cara piker yang maju bagi suku-suku dan juga etnis-etnis yang tinggal menetap maupun yang tinggal sementara di Aceh Singkil. bukan berarti ada toleransi yang tumbuh subur di Aceh. Lima hari kemudian pada tanggal 8 Mei 2012 Tim Penertiban kembali turun ke lapangan dan berhasil menyegel 2 gereja. 14 Tanggal 30 April 2012 umat Islam di Kabupaten Aceh Singkil turun aksi ke jalan untuk menyampaikan protesnya ke kantor Bupati Kabupaten Singkil terkait maraknya bangunan gerej liar di Kabupaten Aceh Singkil sebanyak 27 unit yang tersebar di 7 Kecamatan. Sesungguhnya konflik itu akan menimbulkan kerusakan disana-sini. namun kenyataannya esok harinya tim penertiban itu tidak jadi turun ke lokasi. cukup kuat sebagai alat justifikasi adanya kebencian masyarakat Aceh pada agama tertentu di luar pemeluk agama mayoritas? Bagi orang yang paham dengan sejarah Aceh dan dinamika geo-politik di Aceh. benarkah masyarakat Aceh tidak memiliki tolereansi dalam menjalankan ibadah agama? Lantas. Pada tanggal 3 Mei 2012.

perkampungan Keling (India keturunan) di Kabupaten Pidie dan gampong Jawa di kota Banda Aceh. Dari fakta di atas terlihat bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat multikultural yang tersusun dari keanekaragaman etnis. budaya. Fakta adanya multikulturalisme di Aceh makin jelas di masa kini. secara historis. masa kesultanan misalnya. Dia berpendapat kalau ini merupakan konflik cultural juga. mereka dapat hidup rukun dalam keberagaman suku. Dia juga menjelaskan. Seorang tokoh masyarakat Aceh Singkil lainnya yang sangat berpengaruh (Muhammad Mukhlis. seperti Putroe Phang (dari negeri Pahang Malaysia). konflik di Aceh Singkil jangan dilihat secara sempit hanya dengan dasar adanya pembakaran tempat ibadah. masyarakat Aceh sebenarnya terbilang cukup terbuka dan bisa menerima adanya multikulturalisme. bahasa dan agama. tetapi milik semua etnis yang mendiami wilayah Aceh tanpa terkecuali. Kalau dilihat dari sisi budaya misalnya. etnis Melayu. Namun demikian memang perlu adanya pendewasaan dalam berinteraksi antara sesama manusia yang hidup dalam satu wilayah yang kental akan nuansa kulturnya. masyarakat Aceh sudah bisa menerima kehadiran orang India. 15 Konflik di Aceh Singkil harusnya tidak boleh dibaca secara parsial dengan perspektif yang amat dangkal. 62 tahun) menyampaikan kegeramannya dan juga kegundahannya atas terjadinya konflik yang berbau SARA ini. Proses pendewasaan inilah yang terus menerus mengalami pasang surut karena berbagai faktor kehidupan yang semakin hari semakin berat. sampai permaisuri kesultanan Aceh berasal dari etnis non-Aceh. Bahkan. ras maupun agama. dan etnis Tionghoa. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh bukanlah milik etnis Aceh saja. Faktanya. Tidak hanya itu. Ada juga perkampungan etnis Tionghoa (pecinan) di Kawasan Peunayong Banda Aceh. Dia sangat tidak setuju kalau konflik ini dikaitkan hanya dengan agama. Dia cenderung mengatakan bahwa ini merupakan proses pendewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. . multikulturalisme di Aceh telah dipraktikkan sejak lama tentang kerukunan umat beragama tersebut bahkan sejak era kesultanan Aceh pra-kolonial. Setidaknya. antara lain adanya sekolah non-muslim di Banda Aceh (seperti Perguruan Kristen Methodist dan Perguruan Katolik Budi Darma).

Menteri Agama justru mensinyalir. Sementara Wakil Ketua Komnas HAM. inilah yang menyebabkan konflik budaya itu muncul. Ketimpangan ekonomi antara penduduk asli dengan pendatang terlihat begitu jelas. Sayangnya. kemungkinan adanya sesuatu kepentingan lain di balik terjadinya insiden Aceh Singkil tersebut. 16 Salah seorang tokoh pemuda Muslim di Aceh Singkil (Abubakar. Dari berbagai wawancara yang dilakukan. 51 tahun) juga menyampaikan hal senada bahwa konflik di Aceh Singkil bukan hanya merupakan konflik agama tapi juga konflik budaya karena memang selama ini toleransi beragama itu sudah dibangun dan tebangun sejak lama. . Seorang pedagang di Aceh Singkil (Idu Sa’diah. Namun karena adanya perpindahan suku tertentu ke daerah Aceh Singkil yang memiliki budaya yang berbeda dengan karekter berbeda dan cara pandang yang berbeda pula dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Dia samping itu Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin juga telah mengatakan. 48 tahun) mengungkapkan bahwa kemiskinan yang terjadi bertahun-tahun di Aceh Singkil juga merupakan faktor penyebab terjadinya konflik meskipun faktor tersebut bukan dominan. Anshori Sinungan. Ketimpangan ekonomi yang tajam di tanah yang begitu subur dengan sumer daya alam yang melimpah bisa saja juga menjadi bagian dari munculnya konflik yang terjadi selama ini terjadi. Bahkan. Dia menambahkan bahwa seolah-olah kemiskinan sudah menjadi budaya yang pahit yang harus dijalani oleh masyarakat di sana. menduga adanya keterlibatan orang-orang luar di balik pembakaran tempat ibadah di Aceh Singkil. Sedang tujuannya kemungkinan untuk membuat gaduh bangsa Indonesia supaya menjadi lemah. insiden berdarah di Aceh Singkil itu tak sepenuhnya masalah agama. Menteri Agama tidak mengungkapan sinyalemen itu secara lengkap. ternyata ada informasi tambahan yang diperoleh dari masyarakat setempat yang mengeluhkan tentang kemiskinan yang bertahun-tahun yang merupakan juga faktor pendorong terjadinya konflik di Aceh.

Dia juga tidak manampik bahwa kerusuhan yang telah terjadi bisa saja akibat sulinya mencari nafkah. 37 tahun) juga mengamini apa yang disebutkan temannya tadi. 17 Seorang pedagang lainnya (Nurlela. semua pihak harus benar-benar bisa berpikir jernih agar konflik seperti ini tidak terulang kembali. . Oleh karena itu. Sulitnya perokonomian dan sulitnya lapangan pekerjaan telah menjadi komoditi politik bagi individu-individu maupun kelompok tertentu guna merusak stabilitas keamanan yang selama ini sudah terjalin. sehingga orang buat kerusuhan di sana-sini. Banyak pihak yang tidak senang dengan melihat kerumunan hidup terjalin begitu lama di Aceh Singkil. Dia merasakan begitu sulitnya untuk mengumpulkan rupiah demi rupih guna memenuhi kebutuhannya sehari=hari.

ras maupun agama. walau masyarakat sendiri juga harus punya kesadaran juga tentang pentingnya penerapan syariat Islam ini. Konflik di Aceh Singkil jangan dilihat secara sempit hanya dengan dasar adanya pembakaran tempat ibadah. Tentu ini menjadi lebih bermakna buat masyarakat. Bahkan. mereka dapat hidup rukun dalam keberagaman suku. Berbagai sumber mengatakan bahwa insiden berdarah di Aceh Singkil itu tak sepenuhnya masalah agama. BAB 3 PENUTUP 3. kerabat dan mayarakat. karena penegakan syariat Islam tidak hanya kewajiban Dinas Syariat Islam tapi juga kesadaran individu Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kekerabatan etnis singkil sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Nampaknya memang butuh kerja keras yang lebih padu dan lebih bersinergi lagi dari pihak-pihak yang terkait untuk penegakan syariat Islam di Aceh. nuansa gotong royong begitu terasa saat melakukan berbagai kegiatan. adat istiadat dan tutur bahasa. baik dalam urusan keagamaan. Faktanya. Simpulan Saat ini pelaksanaan syariat Islam di Aceh masih sebatas lip service. Faktor lain seperti sulitnya perokonomian dan 18 . Keunikan tutur bahasa juga mencerminkan ciri khas etnis singkil yang begitu menghargai hubungan sesama keluarga.1. karena pada umumnya masih sebatas razia jilbab terhadap kaum wanita. Kalau dilihat dari sisi budaya misalnya. sosial budaya. secara historis. masyarakat Aceh sebenarnya terbilang cukup terbuka dan bisa menerima adanya multikulturalisme. multikulturalisme di Aceh telah dipraktikkan sejak lama tentang kerukunan umat beragama tersebut bahkan sejak era kesultanan Aceh pra-kolonial. Maka sudah saatnya Qanun Jinayah seperti hukuman potong tangan buat koruptor diundangkan. dan belum menyentuh subtansi dasar dari pelaksanaan syariat Islam itu sendiri secara kaffah. Masyarakat masih menunggu keseriusan Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat. masih sibuk dengan kulit dan melupakan isi.

semua pihak harus benar- benar bisa berpikir jernih agar konflik seperti ini tidak terulang kembali.2. Selain itu menjalin komunikasi yang baik terhadap semua pihak serta kerja sama yang baik dapat menjaga keamanan. . Ketika hal tersebut sudah dipahami maka akan terciptalah kehidupan yang damai dan saling menghormati satu sama lain. Tentunya kita tidak boleh menilai suatu budaya berdasarkan standar budaya kita sendiri. 19 lapangan pekerjaan juga dapat memicu timbulnya konflik di Aceh Singkil. Faktor-faktor tersebut menjadi komoditi politik bagi individu-individu maupun kelompok tertentu guna merusak stabilitas keamanan yang selama ini sudah terjalin. Saran Sebaiknya sebagai masyarakat yang baik kita harus paham betul bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda dengan keunikan nya masing-masing. 3. hal inilah yang menyebabkan konflik budaya itu muncul. Hal itu disebabkan karena adanya perpindahan suku tertentu ke daerah Aceh Singkil yang memiliki budaya yang berbeda dan karekter berbeda serta cara pandang yang berbeda pula dengan masyarakat setempat dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Selain kedua faktor tersebut disebutkan juga bahwa budaya dapat menimbulkan konflik di Aceh Singkil. ketentraman serta perdamaian di daerah setempat. Banyak pihak yang tidak senang dengan melihat kerumunan hidup terjalin begitu lama di Aceh Singkil. Oleh karena itu.

Bunga rampai tentang Aceh. Jurnal: Al- Ulum. Pencerahan Intelektual. Aceh dimata Sejarawan. (2009). Jakarta: UIN Syarief Hidayatullah. (tanpa tahun). Membangun pemahaman multicultural dan multiagama guna menangkal radikalisme di Aceh Singkil. DAFTAR PUSTAKA Amal.348-367. referensi bagi khatib. I. I. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. N. Berutu. Hasyimy & Suny. M. Bunga rampai tentang Aceh.-. Hlm. penceramah dan da’I. Suny. K. D. & Setiawan. Banda Aceh: LKAS. (tanpa tahun). B. Aceh dan syariat Islam. Kurdi. A. (2016). (2014). (tanpa tahun). 20 . BRR Aceh Nias. Ismail.16(2). Jakarta: Bhratara Karya Aksara.