You are on page 1of 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemeriksaan IVA
1. Pengertian
IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat) merupakan cara
sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA
merupakan pemeriksaan leher rahim (servik) dengan cra melihat
langsung ( dengan mata telanjang) lehr rahim setelah memulas leher
rahim dengan larutan asam asetat 3-5 % (Nugroho, 2011).
Laporan hasil konsultsi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat
mendeteksi lesi tingkat pra kanker ( high-Grade Precanceraus Lesions)
dengan sensivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan
nilai prediksi positif ( positive predictive value ) dan nilai prediksi
negative (negative predictive value ) masing-masing antara 10-20% dan
92-97% .(Nugroho, 2011)
Pemeriksaan IVA merupakn pemeriksan sekrining alternatife dari
Pap Smear karena biasanya murah, praktis, sanagt mudah untuk
dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. (Nugroho, 2011).
Laporan hasil konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat
mendeteksi lesi tingkat pra kanker (high-Grade Precanceraus Lesions)
dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan
nilai prediksi positif (positive predective value) dan nilai prediksi negatif
(negative predective value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97%
(Nugroho, 2011).
2. Tujuan
untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan
pengbatan dini terhadap kasus-kasus yang di temukan. Untuk
mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim.
3. Keuntungan
Menurut Nugroho (2011) keuntungan IVA di bandingkan tes-tes
diagnose lainnya adalah :
a) Mudah, praktis, mampu laksana
b) Dapat dilaksanakan oleh seluruh tenaga kesehatan

5
c) Alat-alat yang di butuhkan sederhana
d) Sesuai untuk pusat pelayanan sederhana
e) Kinerja tes sam dengan tes lain
f) Memberikan hasil segera sehingga dapat diambil keputusan
mengenai penatalaksanaannya.
4. Jadwal IVA
Program skrining oleh WHO :
a) Skring pada setiap wanita minimal 1x pada usia 35-40 tahun
b) Kalau fasilitas memungkinkan lakukan setiap 10 tahun pada usia
35-55 tahun.
c) Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan 5 tahun pada usia 35-55 tahun
( Nugroho Taufan, 2011)
d) Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada
wanita usia 25-60 tahun.
e) Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur
hidupmemiliki dampak yang cukup signifikan.
f) Di Indonesia,anjuran untuk melaksanakan IVA bila: hasil positif (+)
adalah 1 tahun dan, bila hasil negaf (-) adalah 5 tahun.
5. Syarat Mengikuti Test IVA
a) Sudah pernah melakukan hubungan seksual
b) Tidak sedang datang bulan/ haid
c) Tidak sedang hamil
d) 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual
6. Pelaksanaan skrining IVA
Untuk melaksanakan skrining denganmetode IVA, di butuhkan tempat
dan alat sebagai berikut (Depkes RI, 2015):
a) Ruang tertutup,karena pasien di periksa dengan posisi litotomi
b) Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkanpasien berada pada
posisi litotomi
c) Terdapat sumber cahaya yang dapt melihat servik
d) Speculum vagina
e) Asam asetat (3-5 %)
f) Swab- lidi kapas
g) Sarung tangan

6
7. Cara kerjanya
Cara kerja pemeriksaan IVA menurut Buku panduan pemerikasaan IVA
(Depkes RI, 2015) yaitu :
a) Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan
mengenai prosedur yang akan dijalnkan.privasi dan kenyamanan
sanagt penting dalam pemeriksan ini.
b) Pasien di baringkan dengan posisi litotomi (berbaring dengan
dengkul ditekuk dan kaki melebar).
c) Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dengan
bantuan pencahyaan yang cukup.
d) Speculum (alat pelebar) akan di basuh dengan air hangat dan akan
dimasukan kedalan vagina pasien secra tertutup,lalu di buka untuk
melihat leher rahim.
e) Bila terdapat banyak cairan di leher rahim,di pakai kapas steril
basah untuk menyerapnya.
f) Dengan menggunakan pipet atau kapas,larutan asam asetat 3-5 %
di oleskan kedalam leher rahim.dalam waktu kurang lebih 1 menit,
reaksinya pada leher rahim dapat dilihat.
g) Bila leher rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan
positif terdapat kanker. Asam setat berfungsi dehidrasi sel yang
membuat penggumpalan protein, sehingga sel kanker yang
berkepadatan protein tinggi berubah warna menjadi putih
h) Bila tidak di dapatkan gambaran epitel putih pada daerah
tranformasi berarti hasilnya negatifve.
8. Kategori IVA
Menurut (Depkes RI, 2015) ada bebrapa kategori yang dapat di
pergunakan, salah satu kategori yang dpat di pergunakan adalah:
a) IVA Negatif : menunjukan leher rahim normal
b) IVA Radang : servik dengan radang (servisitis) atau kelainan jinak
lainnya (polip servik )
c) IVA positif : di temukan bercak putih (aceto white epithelium )
kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker servik
dengan metode IVA karena temuan mengarha pada diagnosis
serviks-pra kanker (dispalsia ringan –sedang-berat atau kanker
servik in situ

7
d) IVA- kanker servik : pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan
temuan stadium kanker servik, masih akan bermanfaat bagi
penurunan kematian akibat kanker servik bila di temukan masih
pada stadium invansif dini ( stadium IB-IIA.)
9. Penatalaksanaan IVA
Iva dilakukan dengan speculum melihat langsung leher rahin
yangtelah dipulas dengan larutan asam astat 3-5 % , jika ada muncul
perubahan warna atau tidak muncul plek putih,maka hasil pemeriksaan
dikatakan negative. Sebaliknya jika leher rahimberubah warna menjai
merah dan timbul plek putih, maka di nyatakan positif lesi atau kelainan
pra kanker. (Depkes RI, 2015)
Metode kriotrapi adalah membekukan servik yang terdapat lesi
pra kanker pada suhu yang amat dingin (dengan gas CO2 ) sehingga
sel-sel pada area tersebut mati dan luruh, dan selanutnya kan timbul
sel-sel baruyang sehat. (Depkes RI, 2015))
Kalau hasil dari tes IVA dideteksi adanya lesi prakanker,yang
terlihat dari adanya perubahan dinding leher rahim dari merah muda
menjadi putih,artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut baru terjadi di
sekitar epitel. Itu bisa diamati atau dihilangkan dengan di bakar atau
dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker yang disebabkan human
papilloma virus (HPV) itu tidak jadi berkembang dan merusak organ
tubuh lainnya. (Depkes RI, 2015)
10. Langkah-langkah melakukan IVA
Menurut (Depkes RI, 2015) keuntungan IVA di bandingkan tes-
tes diagnose lain adalah : mudah, praktis, mampu dan dapat dilakukan
oleh seluruh tenaga kesehatan.
Langkah –langkah melakukan IVA
a) Memberikan penjelasan kepada ibu atas tindakan yang akan
dilakukan informed consent
b) Menyiapkan alat dan bahan yang di perlukan
1) Handscone
2) Speculum cocor bebek
3) Tampon tang
4) Kom kecil steril
5) Kapas lidi asam asetat 3-5 % dalam botol

8
6) Kapas DTT dalam kom steril
7) Selimut
8) Lampu sorot
9) Tempat sampah basah
c) Letakkan alat secara ergonomis
d) Menyiapkan klien dengan posisi lithotomic pada tempat tidur
ginekologi, perhatikan privacy dan kenyamanan klien
e) Mengatur lampu sorot kearah vagina ibuagar sevik tampak jelas
f) Mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir dengan cuci
tangan tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk yang bersih.
g) Menggunakan handscone steril
h) Melakukan vulva hygiene dengan kapas sublimat
i) Memasukan spekulum kedalam vagina
j) Memasukan kapas lidi yang sudah diberikan asam asetat 3-5 % ke
dalam vagina sampai menyentuh portio
k) Mengoleskan kapas lidi keseluruh permukaan porsio degan searah
jarum jam, lihat hasilnya
l) Membersihkan porsio dengan kasa steril menggunakan tampon tang
m) Mengeluarkan spekulum dari vagina
n) Merapikan ibu dan merendm alat dalam laruan klorin 0,5 % selama 10
menitMencuci tangan dengan sabun dibawah air yang mengalir,
dengan cuci tangan tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk
yang bersih
o) Menjelaskan hasil pemeriksaan kepa klien
p) Melakukan dokumentasi

B. Kanker Servik
1. Pengertian kanker servik
Kanker servik atau yang lebih di kenal dengan istilah kanker
leher rahim adalah tumbuhnya sel-sel sel tidak normal pada leher
rahim.Sel- sel yang tumbuh tidak normal ini berubah menjadi sel kanker.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus ,suatu
daerah pada organ reproduksiwanita yang merupakan pintu masuk
kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama
(vagina). Waktu yang di perlukan bagi kanker servik untuk berkembang

9
cukup lama ,sekitar 10-15 tahun. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita
yang berusia antara 30 tahun sampai 50 tahun, yaitu pada puncak usia
reproduksi wanita sehinga akan menyebabkan gangguan kualitas hidup
secara fisik, kejiwaan,dan kesehatan seksual. (ACS, 2014)
Penyebab pasti kanker servik ini belum diketahui. Namun, virus
yang di sebut HPV (human papiloma virus)menyebabkan faktor resiko
seorang wanita untuk terkena kanker servik meningkat cepat. (ACS,
2014)
2. Faktor-faktor penyebab kanker servik
a. Menikah di usia muda
Menikah di usia muda merupakan faKtor pendukung
timbulnya kanker servik. Transisi dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa di tandai dengan menstruasi yang melibatkan berbagai
macam perubahan, terutama perubahan hormon. Munculnya
hormon estrogen pada masa itu membuat sel-sel pada dinding
vagina menebal. Selain, itu juga pada masa ini terdapat glikogen
yang oleh bakteri yang bermanfaatdi ubah menjadiasam vagina.
Pada dasarnya, asam vagina ini berfungsi melakukan proteksi
terhadap infeksi. Akibat Susana vagina yang menjadi asam,
jaringan epitel di sekitarnya menjadi berlapis-lapis. Apabila pada
situasi yang penuh perubahan itu masuk sperma, perubahan akan
semakin menjadi-jadi. Apalagi, bila terjadi luka akibat geekan. Sel-
sel epitel akan menjadi titik normal. Maka, wanita yang menikah di
usia muda lebih berpeluang terkena kanker servik. (ACS, 2014)
b. HPV ( Human Papiloma Virus )
HPV adalah virus penyebab kulit genetalia (kondiloma
akuminata) yang di tularkan melalui hubungan seksual. Varian yang
sangat berbahaya adalah HPV tipe 16,18,45, dan 56. (ACS, 2014)
c. Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi dan sering berganti-ganti
pasangan.
Seorang wanita sehat pun bisa terinveksi HIV dari pasangan
seksnya.Meskipun laki-laki memiliki virus tersebut, mereka tidak
mengidap kanker. Ada 80 jenis tipe HIV, namun yang menyebabkan
kanker serviks adalah tipe 16,18, dan 31. (ACS, 2014)

10
d. Kebersihan genetalia yang tidak terjaga
Kurang menjaga kebersihan alat kelamin dapat menjadikan
penyebab terjadinya kanker leher rahim.
e. Wanita yang merokok
Hondari rokok karena banyak bukti menunjukan penggunaan
tembakau dapat meningkatkan resiko terkena kanker servik.
f. Riwayat penyakit kelamin,seperti herpes dan kulit genital.
g. Kehamilan yang terlalu sering
Pada wanita yang memiliki banyak anak,apalagi dengan jarak
kelahiran yang terlalu dekat,berisiko tinggi terkena kanker servik.
h. Defisiensi zat gizi dan asam folat dapat meningkatkan resiko
terjadinya dysplasia rinagn dan sedang, serta mungkin juga
meningkatkan terjadinya kanker serviks pada wanita yang
mengkonsumsi beta karoken dan vitamin A dalam jumlah rendah.
i. Traumatic kronis pada serviks,seperti persalinan,infeksi dan iritasi
menahun,terkena mikroba, radiasi, atau pencemaran oleh bahan
kimia.
j. Hindari penggunaan antiseptik
Hindari kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-
obatan antiseptic maupun diodoran karena akan mengakibatkan iritasi
di mulut rahim yang merangsang terjadinya kanker.
k. Hindari pemakaian bedak
Hindari pemakaian bedak pada vagina wanita usia subur kaerena
pemakaian tersebut justru bisa mengakibatkan kanker ovarium
(indung telur). Jangan menggunakan estrogen pada wanita yang
terlambat menopause.
3. Gejala kanker mulut rahim ( kanker servik)
Pada setadium awal, kanker ini tidk terdeteksi. Bahkan sang
penderita pun tidak merasa bila dirinya sebenarnya sudah terkena
kanker serviks. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang
abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup kejaringan
sekitarnya. (ACS, 2014)
Jika kanker berkembang makin lanjut, akan timbul gejal-gejla seperti :
a. Keputihan yang semakin lama berbau busuk,berwarna kuning dan
kental

11
b. Pendarahan setelah melakukan hubungan seksual, yang lama-
kelamaan dapat terjadi pendrahan spontan walaupun tidak
melakukan hubungan seksual.
c. Timbulnya pendrahan setelah menopouse
d. Pada fase invasive,dapat keluar cairan berwarna
kekuningan,berbau dan bercampur dengan darah.
e. Anemia (kurang darah) karena pendarahan yang sering timbul
f. Rasa nyeri di sekitar genital
g. Timbul rasa nyeri di panggul atau perut bagian bawah bila ada
radang panggul
h. Berkurangnya nafsu makan, menurunnya berat badan, dan
kelelahan
i. Rasa nyeri di panggul,punggung, dan tungkai
j. Keluar air kemih tampa tinja dari vagina

12