You are on page 1of 6

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Hubungan Antara Energi Penggerusan dengan Reduction Ratio


Untuk mengetahui hubungan energi penggerusan dengan reduction ratio batu bata
dengan berat 300 gr, 400 gr, 500 gr dan 600 gr masing-masing dipotong bentuk kubus dengan
ukuran diameter awal 2,5 cm; 3,5 cm dan 4,5 cm. Kemudian hasil size reduction dihitung
diameter akhir dengan metode TAAD. Reduction ratio dihitung dengan membandingkan
diameter akhir dengan diameter awalnya. Hubungan antara Reduction ratio dengan energi
penggerusan disajikan pada gambar 4.1

25000

20000
Energi Penggerusan

15000
300 gr
400 gr
10000
500 gr

5000 600 gr

0
21.368 31.532 43.269
Reduction Ratio

Gambar 4.1 Hubungan Energi Penggerusan VS Reduction Ratio

Dari gambar 4.1 dapat dilihat grafik hubungan reduction ratio dengan Energi
penggerusan. Dari gambar tersebut semua variabel energi penggerusannya semakin naik
seiring dengan kenaikan reduction ratio. Hal ini sesuai dengan rumus:

𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛
𝑅𝑒𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘

Sedangkan besarnya energi penggerusan dipengaruhi oleh waktu penggerusan


Hammer Mill untuk mereduksi ukuran feed, hal ini sesuai dengan persamaan:

𝐸 = 𝑉 𝐼 𝑡 𝑐𝑜𝑠𝜃

dengan : E = energy penggerusan


V = tegangan listrik
I = arus listrik
t = waktu (Mc. Cabe, W.L. 1993)
Energi penggerusan berbanding lurus dengan waktu operasi, dimana semakin lama
waktu untuk mereduksi ukuran umpan maka energi yang dibutuhkan semakin besar. Hal ini
dikarenakan waktu yang dibutuhkan semakin meningkat seiring dengan diameter umpan yang
semakin besar. Sedangkan diameter umpan berbanding lurus dengan besarnya nilai reduction
ratio. Sehingga semakin besar reduction ratio maka energi penggerusannya akan semakin
besar.

4.2 Hubungan Antara Energi Penggerusan vs Reduction Ratio

Hubungan antara Konstanta Kick dan energi penggerusan pada variabel 300 gram,
400 gram, 500 gram dan 600 gram dapat dilihat pada gambar 4.2

25000.00
y = 34070x - 34890
20000.00
y = 23921x - 21524
300 gram
y = 23620x - 23913
15000.00 400 gram
y = 20869x - 21608
EP

500 gram
10000.00
600 gram
Linear (300 gram)
5000.00
Linear (400 gram)

0.00 Linear (500 gram)


1.20 1.40 1.60 1.80 Linear (600 gram)
log (Di/di)

Gambar 4.2 Hubungan antara Konstanta Kick dengan Energi Penggerusan

Dari grafik 4.2 maka didapat persamaan linear sehingga bias dihitung konstanta Kick,
sehingga didapat sebagai berikut

Tabel 4.2 Konstanta Kick pada Masing-masing Variabel

W (kg) Persamaan linear Konstanta


Rittinger
300 y = 20869x - 21608 20869

400 y = 23620x - 23913 23620

500 y = 23921x - 21524 23921

600 y = 34070x - 34890 34070


Konstanta Kick didapat dari hubungan antara energi penggerusan dengan ratio antara
feed dengan produk.

𝐷𝑖
𝐸 = 𝑘 log(𝑑𝑖 )

Dimana
E : Energi Penggerusan
k : Kontanta Kick
di : Diameter Rata-Rata Produk
Di : Diameter Rata-Rata Feed

Jika dibuatkan suatu hubungan linear dari persamaan kick, maka persamaan kick
analog dengan persamaan :

𝑌 = 𝑚𝑥 + 𝐶

Dimana Y = Energi sebagai fungsi 𝑙𝑜𝑔 (𝐷𝑖/𝑑𝑖)

m = k (konstanta kick)

x = 𝑙𝑜𝑔 (𝐷𝑖/𝑑𝑖)

C = Energi Awal Operasi Mesin

Dari hubungan antara energi penggerusan dengan diameter tersebut didapat konstanta
kick untuk variabel 300 gram, 400 gram, 500 gram dan 600 garm berturut-turut 20869; 23920;
23621; 30470. Pada variabel 600 gram memiliki harga konstanta kick terbesar. Hal ini sesuai
dengan teori dimana semakin besar berat umpan maka konstanta kick juga akan semakin
besar.

4.3 Hubungan Energi Penggerusan dengan Konstanta Rittinger

Hubungan antara energi penggerusan dengan konstanta rittinger untuk variabel 300
gram, 400 gram, 500 gram dan 600 gram dapat dilihat pada gambar 4.3
25000.00 variabel 300
y = 13780x - 108385 gram
20000.00 400 gram
y = 12557x - 99284

Energi penggerusan 15000.00 y = 14953x - 123621 500 gram

10000.00 y = 7730x - 59947


600 gram

5000.00
Linear
(variabel 300
0.00 gram)
8.20 8.70 9.20 Linear (400
gram)
1/di-1/Di

gambar 4.3 Hubungan Energi Penggerusan dengan konstanta Rittinger

Dari grafik 4.3 maka didapat persamaan linear sehingga bias dihitung konstanta
Rittinger, sehingga didapat sebagai berikut

Tabel 4.3 Konstanta Rittinger pada Masing-masing Variabel

W (kg) Persamaan linear Konstanta


Rittinger
300 y = 7730x - 59947 7730

400 y = 14953x - 123621 14953

500 y = 12557x - 99284 12557

600 y = 13780x - 108385 13780

Konstanta Rittinger dapat dihitung dengan persamaan:

1 1
𝐸 = 𝑘 (𝑑𝑖 − 𝐷𝑖)

Dimana
E : Energi Penggerusan
k : Kontanta Rittinger
di : Diameter Rata-Rata Produk
Di : Diameter Rata-Rata Feed
Persamaan di atas menunjukkan bahwa konstanta Rittinger berbanding lurus
denganenergi penggerusan. Sedangkan energi penggerusan dipengaruhi oleh variabel waktu
dimanasemakin berat partikel umpan yang masuk maka waktu yang dibutuhkan untuk
penggerusan semakin lama yang mengakibatkan energi penggerusan semakin tinggi. Hal ini
sesuai dengan persamaan:
𝐸 = 𝑉𝐼𝑡 𝑐𝑜𝑠∅
Dimana
E = energi yang dibutuhkan untuk operasi mesin
V = Voltase
I = Arus yang terbaca (ampere)
t = Waktu pengoperasian alat
𝑐𝑜𝑠∅ = 0.81
Nilai konstanta Rittinger yang didapat untuk variabel 300 gram, 400 gram, 500 gram
dan 600 gram berturut-turut adalah 5174.7; 14953, 12557; 13780. Konstanta Rittinger
meningkat seiring dengan bertambahnya masa umpan. Namun konstanta Rittinger terbesar
didapat pada variabel 400 gram. Hal ini disebabkan adanya kehilangan masa (loss mass) pada
saat proses size reduction maupun proses sieving.

4.4 Aplikasi Size Reduction pada Industri

Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai cara yang sesuai
dengan tujuannya. Size reduction diperlukan untuk memenuhi permintaan pasar maupun untuk
menyesuaikan dengan alat yang tersedia. Beberapa industri yang menggunakan size reduction
antara lain industri semen, batu bara, pertambangan, pupuk, keramik, dll. Pemilihan jenis alat
yang digunakan biasanya berdasarkan ukuran feed pada produk, sifat bahan, kekerasan bahan
dan kapasitasnya

Salah satu industri yang menerapkan size reduction adalah industri semen. Pada proses
pembuatan semen dari awal hingga menjadi semen yang siap pakai harus melewati tahapan-
tahapan seperti penambangan bahan material, penimbangan, pengeringan yang disertai dengan
penghancuran bahan material, pembakaran, pendinginan, dan yang terakhir penggilingan akhir
yang kemudian disimpan ditempat penampungan yang disebut Silo Aplikasi size reduction
dapat ditemukan dalam proses crushing atau penghancuran material limestone yang di lakukan
dengan mesin crusher . Crusher adalah suatu mesin yang dipergunakan untuk memperkecil
dimensi/ukuran suatu raw materials. Didalam industri semen, alat ini banyak digunakan untuk
memperkecil ukuran-ukuran/dimensi limestone, Clay dan lain-lain yang ditambang di Quarry
dengan cara peledakan yang ukuran atau dimensi raw material masih cukup besar. Untuk
mempermudah transportasi dan proses selanjutnya maka size atau ukuran material perlu
diperkecil (Hilman, 2011).
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Energi penggerusan akan semakin meningkat seiring dengan naiknya ratio umpan
dan produk.
2. Semakin besar energi penggerusan maka semakin besar pula konstanta Kick.
3. Semakin besar energi penggerusan akan meningkatkan konstanta Rittinger. Namun
terjadi penyimpangan akibat dari loss mass pada saat proses size reduction maupun
sieving.
4. Salah satu industri yang menerapkan aplikasi size reduction adalah industri semen.

5.2 Saran

1. Umpan yang digunakan harus dalam keadaan kering dan ukurannya seragam.
2. Gunakan Alat Pelindung Diri seperti masker dan goggle pada saat operasi size
reduction.
3. Proses sieving harus hati-hati agar tidak terjadi mass loss.