You are on page 1of 8

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

A. Deskripsi data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil Hubungan Antara Kecerdasan


Spiritual Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Ahklak Madrasah
Tsanawiyah Se-Kecamatan Bohorok.

Tabel 9 : Rangkuman Hasil Analisis Statistik Variabel Kecerdasan Spiritual (X1)


Kecerdasan Spiritual (X2), serta Hasil Belajar (Y)

Statistics

Variables
T. Scor e HASIL
Statistics KECERDASAN
KECERDASAN BELAJAR.
EM OSIONAL Data M entah
SPIRITUAL ( X1) AQIDAH. AHLK
(X2)
(Y )
Va lid 26 1 26 1 26 1 26 1
N
Mi ssing 0 0 0 0
Me an 10 7.39 11 5.39 7.8 470 50 .0000 019
Me dian 10 7.00 11 6.00 7.8 000 49 .4271 000
Mo de 10 1a 11 1 7.7 0 48 .2072 0
Std . Deviatio n 9.9 31 10 .120 .81 971 9.9 9999 661
Va riance 98 .616 10 2.417 .67 192 99 .9999 3229
Ra nge 60 52 4.0 0 48 .7977 0
Mi nimu m 79 87 5.9 0 26 .2482 0
Ma ximu m 13 9 13 9 9.9 0 75 .0459 0
Su m 28 029 30 118 20 48.06 13 050.0 0050
a. Mu ltiple mod es exist. T he sm alle st val ue is shown

1. Kecerdasan Spiritual (X1)


Berdasarkan dari butir pertanyaan yang saya berikan sebanyak 40 soal kepada para
siswa dengan indikator motivasi diri, kesadaraan diri, menghidupkan visi dan nilai,
mandiri dan bertanggung jawab. Para siswa menjawab dengan bervariasi, sebagian siswa
menjawab jarang memotivasi diri mereka, serta kurangnya kesadaran pada diri mereka untuk
belajar mandiri dan bertanggung jawab serta mereka malas untuk menghidupkan visi dan
nilai yang ada pada diri mereka. Hal ini disebabkan dari berbagai faktor, yaitu para siswa
masih ingin banyak bermain dengan temannya ke warnet, ke pasar, ke pantai dan lain-lain.
Jika mereka bisa memanfaatkan waktu mereka di warnet dengan membuka situs-situs
pelajaran yang menambah motivasi mereka dalam belajar itu sangat bagus untuk mereka
lakukan, tetapi kebanyakan dari siswa pergi ke warnet untuk bermain point blank, facebook,
twiter dan lain sebagainya, sehingga fikiran mereka tidak termotivasi untuk belajar, mereka
asyik bermain didunia maya, bahkan mereka kecanduan ke warnet, hal ini mengecewakan
orang-orang terdekatnya. Bahkan mereka belum memiliki kesadaran sepenuhnya pada diri
mereka, mereka tidak berfikir jika mereka keseringan bermain kapan waktu belajar?
Sehingga mereka kecapekan dan istirahat waktu belajar pun terabaikan, kemudaian
kemandirian dan rasa tanggung jawab jarang mereka gunakan untuk kesadaran mereka dalam
belajar, mereka menganggap masih anak-anak yang masih dibimbing setiap pekerjaannya,
contohnya saja mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, padahal mereka tahu
jawabannya, tetapi mereka malas mengerjakannya mereka lebih suka mencontek kepada
teman di sekolah dan mereka lebih suka dihukum oleh guru, ini disebabkan mereka
kebanyakan bermain, serta kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap
anaknya, karena anak se-usia mereka memang masih butuh bimbingan dan arahan, tetapi
jangan sampai semua pekerjaannya orang tus yang mengerjakan. Penyebab lainnya yaitu,
pengaruh teman sebaya mereka, mereka kurang tepat untuk meilih teman dalam
menghidupkan visi dan nilai yang ada pada diri mereka, mereka lebih suka diajak bermain,
bersenang-senang dari pada belajar, sehingga fikiran mereka hanya untuk main-main saja
tanpa ada rasa sedikit pun untuk belajar.
Dari quesioner yang saya berikan sebanyak 40 butir kepada 261 siswa di Madrasah
Tsanawiyah se-Kecamatan Bahorok saya mendapat kesimpulan bahwa, jawaban mereka
sangat bervariasi. Para siswa menjawab selalu memotivasi diri mereka dalam belajar, serta
mereka memiliki kesadaran bahwa mereka harus belajar demi kesuksesan mereka untuk
mencapain itu mereka harus memiliki kemandirian serta tanggung jawab dan menghidupkan
visi dan nilai yang telah tertanam di hati mereka. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu
pada zaman sekarang alat-alat teknologi sudah canggih, tempat belajar, dengan menggunakan
kecerdasan spiritual yang mereka miliki, mereka mampu untuk menggunaka alat-alat
teknologi canggih tersebut dengan sebaik mungkin, para siswa yang tidak tahu pelajaran
akidah akhlak membuka situs akidah akhlak, sehingga mereka jadi termotivasi untuk terus
belajar akidah akhlak dengan menimbulkan banyak pertanyaan, contoh ada berapa sifat wajib
bagi Allah? Bagaimana perjalan hidup Rasulullah?, dengan rasa keingin tahuan yang dimiliki
para siswa tentu mereka akan terus mencari informasi tersebut, sehingga mereka
menggunakan teknologi canggih yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, para siswa juga
telah memiliki kesadaran bahwa jika ingin sukses mereka harus memiliki kemandirian serta
rasa tanggung jawab yang penuh dalam setip tugas yang diberikan guru kepada mereka,
setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru, mereka kerjakan semaksimal mungkin,
mereka berusaha dengan kerja kelompok, bahkan mereka merelakan dirinya untuk pulang
sore jika ada tugas yang harus diselesaikan, kebiasaan mereka saat ada tugas yaitu belajar
kelompok dirumah teman mereka, atau ada juga yang kerja kelompok di sekolah di bawah
pohon rindang, disaat belajar mereka juga menghidupkan visi dan nilai yang ada pada diri
mereka, mereka saling menyemangati teman yang lain, serta saling membantu teman yang
sedang kesulitan saat menerima pelajaran akidah akhlak.
Dari data yang saya lihat jawaban para siswa sangat bervariasi. Ada juga para siswa
yang menjawab tidak pernah menggunakan kecerdasan spiritual mereka untuk memotivasi
mereka dalam belajar, dan meningkatkan kesadaran mereka untuk lebih mandiri dan
bertanggung jawab serta untuk menghidupkan visi dan nilai yang mereka miliki. Hal ini
disebabkan para siswa salah dalam memilih teman, mereka memilih teman yang suka
bermain, ribut dikelas, melawan guru, tugas diabaikan, serta malas untuk sekolah, sehingga
mereka juga ikut-ikutan untuk bermalas-malasan. Pada saat pembelajaran di mulai mereka
asyik bicara di belakang tanpa termotivasi oleh guru yang sedang menjelaskan di depan,
ketika guru memberikan tugas kepada mereka, mereka asyik bernain handphone yang mereka
miliki tanpa memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang
telah diberikan guru kepada mereka, kemudian pada saat ujian pelajaran akidah akhlak
mereka lebih memilih libur sekolah daripada ikut ujian, mereka lebih suka tidur dirumah,
bermain bersama temannya, menonton televisi. Para siswa yang seperti ini memang sangat
keterlaluan, tetapi mereka butuh orang-orang terdekat untuk merubah sikap mereka, bisa saja
orang tua mereka tidak memperdulikan kelakuan anaknya disekolah, orang tua sibuk dengan
pekerjaannya, sehingga para siswa yang memiliki orang tua seperti ini akan sesuka hatinya
dalam memilih teman.
Dari jawaban para siswa memang bervariasi, para siswa juga menjawab kadang-
kadang dalam menggunakan kecerdasaan spiritual yang mereka miliki dalam belajar, dan
meningkatkan kesadaran mereka untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab serta untuk
menghidupkan visi dan nilai yang mereka miliki. Hal ini disebabkan para siswa masih banyak
bermain daripada belajar, pada saat belajar para siswa memang memperhatikan pelajaran
yang dijelaskan oleh guru, tetapi saat guru memberikan tugas mereka tidak mau bekerja keras
semaksimal mungkin untuk mendapat nilai yang terbaik, saat guru memberikan pekerjaan
rumah tentang pelajaran akidah ahklak tentan sifat wajib Allah mereka belum termotivasi
dengan pelajaran itu, para siswa juga belum sepenuhnya mengakui kelemahan yang mereka
miliki, mereka merasa malu jika teman-teman mereka mengetahui kelemahan yang mereka
miliki, tetapi hal ini tidak menjadika diri mereka selalu mandiri dan memiliki rasa tanggung
jawab dalam setiap tugas mereka, mereka lebih baik pura-pura mengerti pada pelajaran
tersebut daripada harus bertanyak kepada guru, hal ini menyebabkan mereka kalah bersaing
dengan teman yang lain. Para siswa belum menggunakan kecerdasan spiritual mereka dengan
semaksimal mungkin.

2. Kecerdasan Emosional (X2)


Dari data yang saya lihat, dapat diambil kesimpulan bahwa jawaban dari para siswa
bervariasi menurut quesiner sebanyak 40 butir yang diberikan kepada 261 siswa Madrasah
Tsanawiyah se-Kecamatan Bahorok. Para siswa ada yang memberikan jaban jarang
menggunakan kecerdasan emosional yang ada pada diri mereka dalam meningkatkan hasil
belajar mereka, mereka kurang termotivasi dalam belajar, serta kurangnya kesadaran untuk
mandiri dan bertanggung jawab, dan menghidupkan visi dan nilai yang mereka miliki. Hal ini
disebabkan para siswa jarang mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya, orang tua
mereka sibuk dengan pekrjaan rumah, pekerjaan yang lainnya, bahkan ada orang tua yang
pekerjaannya lembur, sehingga pekerjaan para siswa tidak ada yang mengontrol, mereka
asyik bermain sendiri sesuka hati mereka, pada saat proses pembelajaran dimulai tentang
pelajaran akidah akhlak, tetapi mereka tidak paham dengan pelajaran tersebut, tetapi mereka
tidak mau bertanya kepada guru atau kepada teman mereka yang lain, karena mereka belum
termotivasi dengan pelajaran tersebut, mereka asyik bermain lupa dengan pelajaran bahkan di
dalam kelas mereka selalu diam, dan ketika teman mereka tertimpa musibah respon mereka
biasa saja, mereka belum memiliki sepenuhnya kesadaran diri seperti rasa kesetiakawanan,
karena mereka asyik dengan kesendirian mereka, sehingga mereka jarang untuk
menghidupkan nilai saling tolong-menolong didalam diri mereka, penyebab lainnya adalah
mereka belum sepenuhnya sadar dengan intelektual yang mereka miliki, tetapi mereka tidak
mau untuk mencari hal-hal yang dapat memotivasi mereka dalam belajar, mereka lebih suka
menghabiskan waktu mereka untuk bermain daripada menghabiskan waktu mereka untuk
mencari hal-hal yang belum mereka mengerti.
Para siswa juga menjawab selalu menggunakan kecerdasan emosional yang mereka miliki
dalam meningkatkan hasil belajar mereka, hal ini diketahui dari hasil quesioner yang dijawab
oleh para siswa. Penyebnya adalah, para siswa selalu mendengarkan penjelasan yang
diberikan oleh guru mereka, mereka dengan taat dan penuh rasa tanggung jawab untuk
memperoleh informasi yang disampaikan guru kepada mereka, mereka tidak mau sedikit pun
tertinggal dengan informasi-informasi yang diberikan guru, sehingga pada saat proses
pembelajaran mereka, mereka memiliki kesadaran penuh untuk tetap diam, tenang,
konsentrasi dalam belajar agar apa yang disampaikan oleh guru dapat mereka cerna dengan
baik, para siswa juga memiliki rasa tanggung jawab pada teman yang terkena musibah,
mereka meliki kesadaran rasa kesetiakawanan yang kuat bahwa mereka tidak bisa berjuang
sendiri tanpa teman-teman mereka. Untuk memotivasi para siswa dalam belajar, mereka terus
mengoreksi tugas-tugas mereka yang salah dan memperbaikinya dengan jawaban yang benar,
mereka selalu berusaha jadi yang terbaik, para siswa juga memiliki rasa kemandirian yang
tinggi untuk meningkatkan hasil belajar mereka dengan mencari hal-hal yang baru yang dapat
menunjang dan meningkatkan prestasi mereka. Di dala ruangan mereka memiliki nilai
akhkak yang tinggi, meskipun mereka pintar mereka tetap sopan terhadap guru maupun
terhadap teman mereka, karena mereka sudah menumbuhkan nilai keagamaan yang baik pada
diri mereka, serta mereka sudah mampu untuk menjalankan emosional mereka pada saar
belajar, serta rasa ingin tahuan mereka yang tinggi membuat mereka untuk terus belajar jadi
yang terbaik dan semua ini tidak lepas dari peran orang tua, serta orang-orang terdekat
mereka.
Dari jawaban para siswa juga ada yang menjawab tidak pernah, hal ini disebabkan karena
para siwa tidak menggunakan kecerdasan emosinalnya dalam meningkatkan hasil belajar
mereka. Pada saat proses pembelajaran mereka tidak mampu menerima penjelasan yang
diberikan oleh guru, tetapi mereka tiadak mau bertanya kepada teman, karena mereka tidak
termotivasi untuk menjadi yang terbaik, sehingga pada saat belajar mereka lebih suka ribut
dan mengganggu teman yang lain, tanpa mereka sadari hal itu sangat mengganggu teman
mereka, mereka tidak memiliki nilai sopan santun yang baik, hidup mereka penuh dengan
masalah karena ulah mereka sendiri, sehingga orang tua mereka selalu memarahi mereka
karena kelakuan mereka selalu meresahkan guru dan teman yang lain. Mereka tidak
memanfaat waktu yang mereka miliki dengan sebaik mungkin, mereka lebih suka pergi ke
warnet bermai pont blank, facebook sehingga mereka merasa terlepas dari semua tanggung
jawab yang diberikan guru kepada mereka, tugas mereka terlantar, mereka bolos sekolah.
Penyebab lainnya yaitu, mereka belum mengenal diri mereka, mereka tidak berfikir untuk
masa depan mereka, mereka selalu membuat keributan terhadap orang lain, sehingga orang
lain tidak nyaman dengan mereka, namun kejadian tersebut tidak menjadikan mereka siswa
yang mau berusaha memotivasi dirinya untuk sukses dan memiliki kemandirian utuk
membahagiakan orang-orang yang mereka sayangi serta belum memiliki kesadaran untuk
menggapai hari yang lebih cerah serta menanamkan sikap yang mulia demi kesuksesan
mereka, mereka hanya ingin hidup bersenang-senang, bermain sehingga hasil belajar mereka
terlantar dengan sia-sia.
Jawaban para siswa menang bervariasi, hal ini diketahui dari quesioner yang diberikan
kepada para siswa, mereka juga menjawab kadang-kadang menggunakan kecerdasan
emosional mereka dalam meningkatkan motivasi, serta kesadaran mereka dalam belajar, dan
memiliki rasa tanggung jawab dan mandiri dalam semua kegiatan yang mereka lakukakan,
serta menghidupkan visi dan nilai yang mereka miliki demi cita-cita yang mereka inginkan.
Hal ini disebabkan mereka kurang menggunakan kecerdasan emosional mereka untuk
mengenali diri mereka sendiri agar mereka tahu cara memotivasi diri mereka dalam belajar,
mereka lebih suka mengenali permainan baru, teknologi baru, film-film terbaru daripada
mengenali diri mereka sendiri sehingga mereka kurang termotivasi untuk belajar, kemudian
para siswa saat proses pembelajaran juga belum memiliki kesadaran, mereka masih sering
ribut dan sibuk sendiri sehingga mereka menghiraukan penjelasan guru mereka dan mereka
masih malas untuk bertanya kepada guru maupun teman tentang pelajaran akidah akhlak
yang telah dijelaskan oleh oleh guru mereka, hal ini menyebabkan mereka belum sepenuhnya
mandiri dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, terkadang mereka mau mengerjakan
sendiri, namun kebanyakan tugas mereka, mereka kerjakan dengan mencontek teman yang
lain, dalam hal ini rasa tanggung jawab mereka masih kurang, mereka masih mengharapkan
hasil pekerjaan orang lain tanpa memikirkan jerih payah yang dilakukan teman mereka untuk
menjadi yang terbaik, mereka juga masih belum sepenuhnya menghidupkan visi dan nilai
yang ada pada diri mereka untuk menjadi yang terbaik juga sama seperti teman yang lain
yang ingin sukses demi masa depan yang bahagia. Mereka belum memikirkan bahwa teman
yang pintar dan sopan bisa memotivasi mereka untuk belajar, tetapi kebanyakan mereka
memilih teman yang suka bermain, sehingga mereka belum mncapai hasil belajar yang
maksimal.

3. Hasil Belajar Siswa(Y)


Hasil penelitian pada mata pelajaran Akidah Ahlak yang mempengaruhi perubahan
tingkah laku, pola pikir yang dari tidak tahu menjadi tahu dan memiliki akidah yang benar,
dapat saya peroleh kesimpulan di Madrasah Tsanawiyah se-Kecamatan Bahorok, bahwa
kesimpul dari peneltian yang saya lakukan kepada 261 siswa Tsanawiyah yang ada
dikecamatan Bahorok dengan 40 pertayaan yang saya berikan dengan indikator yaitu
pemahaman, pengetahuan, dan penerapan tentang mata pelajaran aqidah ahlak. Maka
berdasarkan penelitiaan yang saya lakukan dapat diketahui bahwa rata-rata siswa Tsanawiyah
dikecamatan Bahorok jarang menggunakan pemahaman serta menerapkan pengetahuan
pelajaran akidah ahklak pada saat proses pembelajaran serta dalam kehidupan mereka sehari-
hari. Hal ini disebabkan kurang nya minat baca serta kurangnya minat ingin tahuan siswa
tentang pelajaran akidah ahklak, mereka tidak mengenali diri mereka bahwa mereka
membutuhkan pelajaran akidah akhlak untuk menjadikan mereka manusia yang beriman,
manusia yang tahu cara bersyukur dan manusia yang taat kepada Allah, namun mereka masih
mengabaikan pelajaran ini, mereka lebih suka belajar komputer, pelajaran komputer memang
bagus untuk zaman sekarang karena dengan mahir berkomputer seakan-akan dunia
digenggaman kita, tetapi berbeda dengan mereka, mereka menggunakan komputer hanya
untuk bermain bukan untuk menambah pengetahuan mereka, hal ini yang menyebabkan
rusaknya fikiran mereka untuk be;ajar kaidah akhlak.
Dari jawaban para siswa, Maka dapat diketahui jawaban mereka bervariasi, karena ada
sebagian para siswa juga selalu menerapkan pengetahuan dan pelajaran aqidah akhlak pada
diri mereka sendiri dan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini diebabkan pada saat
mereka belajar di dalam kelas, mereka dengan serius, dan dengan tenang mendengarkan
informasi yang disampaikan oleh guru mereka, sehingga mereka termotivasi dalam
meningkatkan belajar mereka dan terbukti hasil belajar mereka memuaskan dan
membanggakan, mereka terus menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dan pengetahuan
yang mereka tahu sehingga teman-teman mereka senang bergaul dengan mereka, teman-
teman mereka selalu bertanya kepada merea, sehigga mereka harus belajar lebih baik lagi
agar tidak mengecewakan orang-orang yang ada disekitar mereka. Kedekatan mereka kepada
sang pencipta juga sudah maksimal, karena mereka sudah menerapkan pelajaran akidah
akhlak dengan baik didalam kehidupan mereka, karena mereka sudah meyakini bahwa tidak
ada pertolongan yang mulia kecuali pertolongan Allah, mereka yakin bahwa dengan belajar
akidah akhlak akan membawa mereka pada kehidupan yang bahagia.
Para siswa juga menjawab tidak pernah menerapkan pengetahuan dan pelajaran akidah
akhlak dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan mereka tidak termotivasi dalam belajar
akidah ahklak, mereka tidak peduli dengan pelajaran akidah akhlak dan menganggap remeh
pelajaran tersebut, sehingga mereka tidak mau belajar akidah akhlak dan lebih memilih
pelajaran lain. Para siswa tida memiliki kesadaran sebagai seorang muslim, bahwa mereka
harus tahu cara beriman kepada Allah, tetapi mereka sibuk dengan keadan dunia tanpa
mementingkan akhirat, sehingga mereka tidak mau belajar akidah ahklak. Disekolah mereka
sangat tertinggal dengan teman yang lain, dari mulai sikap mereka, akhlak mereka bahkan
rasa kepedulian mereka terhadap sesama tidak pernah mereka tunjukkan sedikitpun, hali ini
sangat mengecewakan orang-orang yang ada di dekat mereka. Mereka hanya sibuk dengan
pelajaran dunia tanpa memikirkan bekal mereka ke akhirat kelak. Penyebab lainnya yaitu,
mereka tidak mau berkomunikasi dengan temannya yang tahu pelajaran akidah akhlak,
sehingga pengetahuan mereka tentang akidah ahklak sangat dikecewakan, beribadah kepada
Allah saja mereka tidak pernah, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka ada di dunia
ini karena kehendak Allah, mereka tidak befikir tentang bumi dan isi nya dan mereka tidak
perduli dengan akhirat, hal ini disebabkan kurangnya motivasi orang tua terhadap anaknya,
dan memang mereka sudah terkenal dengan kebandalannya ditambah lagi tidak ada motivasi
dari orang tua maupun orang-orang terdekat mereka, sehingga hal ini membuat mereka
semakin merajalela dengan pelajaran akidah ahklak, mereka tidak perduli dengan pelajaran
tersebut, sehingga hasil belajar mereka sangat mengecewakan.