You are on page 1of 124

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 87 TAHUN 1999


TENTANG
RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL PEGAWAI NEGERI SIPIL
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang :
a. Bahwa untuk mewadahi keberadaan dan sekaligus sebagai landasan bagi penetapan jabatan-
jabatan fungsional yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan, dipandang perlu
menetapkan Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
b. Bahwa berdasarkan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil Presiden menetapkan rumpun jabatan Fungsional atas usul
Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara;
c. Bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a dan b, dipandang perlu menetapkan
Keputusan Presiden tentamg Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;

Mengingat :
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara
Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil
(Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 11 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3098)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Perarturan Pemerintah Nomor 6 Tahun
1997 (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 19);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1980 tentang Pengangkatan Dalam Pangkat Pegawai
Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3156);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1991 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil
secara langsung (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3438);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil
(Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3547);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :
KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL PEGAWAI
NEGERI SIPIL

11
BAB I BAB II
KETENTUAN UMUM TUJUAN PENETAPAN RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL

Pasal 1 Pasal 2
Dalam Keputusan Presiden ini yang dimaksud dengan : Rumpun jabatan fungsional ditetapkan untuk mewadahi keberadaan dan sekaligus sebagai landasan
1. Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden ini disebut bagi penetapan jabatan fungsional keahlian dan/atau jabatan fungsional ketrampilan yang diperlukan
jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan oleh pemerintah dalam rangka terselenggaranya tugas umum pemerintahan.
hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan
tugasnya didasarkan pada keadilan dan/atau ketrampilan tertentu serta bersifat mandiri.
2. Rumpun jabatan fungsional adalah himpunan jabatan fungsional keahlian dan / atau jabatan BAB III
fungsional ketrampilan yang mempunyai fungsi dan tugas yang berkaitan erat satu sama lain dalam JENIS RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL DAN
melaksanakan salah satu tugas umum pemerintahan. JENJANG JABATAN FUNGSIONAL
3. Jenis rumpun jabatan fungsional adalah perumpunan jabatan fungsional ditinjau dari perpaduan
pendekatan antara jabatan dan bidang ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai dasar untuk Bagian Pertama
melaksanakan tugas dan fungsi jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan. Jenis Rumpun Jabatan Fungsional
4. Jabatan fungsional Keahlian adalah jabatan fungsional kualifikasi profesional yang pelaksanaan
tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Pasal 3
keahliannya. Tugas utama Jabatan Fungsional Keahlian meliputi pengembangan pengetahuan, (1) Jenis rumpun jabatan fungsional disusun dengan menggunakan perpaduan pendekatan antara
penerapan konsep dan teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah, dan pemberian pengajaran jabatan dan bidang ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tugas
dengan cara yang sistematis. dan fungsi jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan.
5. Jabatan Fungsional Ketrampilan adalah jabatan fungsional kualifikasi teknisi atau penunjang (2) Jenis rumpun jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagaimana
profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis tersebut dalam Lampiran Keputusan Presiden ini.
di satu bidang ilmu pengetahuan atau lebih. Tugas utama Jabatan Fungsional Ketrampilan meliputi
pelaksanaan kegiatan teknis yang berkaitan dengan penerapan konsep dan metode operasional di Bagian Kedua
bidang ilmu pengetahuan tersebut serta pemberian pengajaran di tingkat pendidikan tertentu. Jenjang Jabatan Fungsional
6. Bobot jabatan adalah nilai kumulatif faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya jenjang
jabatan antara lain pendidikan, pengalaman, upaya fisik dan mental yang diperlukan untuk Pasal 4
melakukan kegiatan dalam suatu jabatan. Jabatan-jabatan yang dihimpun dalam rumpun jabatan fungsional dapat dikategorikan dalam jabatan
7. Kualifikasi profesional adalah kualifikasi yang bersifat keahlian yang didasarkan pada ilmu fungsional keahlian atau jabatan fungsional ketrampilan :
pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan yang berkelanjutan secara sistematis yang
pelaksanaan tugasnya meliputi penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan dan
penerapan konsep, teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah serta memberikan Pasal 5
pengajarannya dan terikat pada etika profesi. (1) Jabatan fungsional keahlian adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan tugasnya :
Kualifikasi teknisi atau penunjang profesional adalah yang bersifat ketrampilan yang didasarkan a. Mensyaratkan kualifikasi profesional dengan pendidikan serendah-rendahnya berijasah
pada ilmu pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan kejuruan dan pelatihan teknis yang Sarjana (Strata-1);
pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis operasional berdasarkan prosedur standar b. Meliputi kegiatan yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan, peningkatan dan
operasional serta melatihkannnya dan terikat pada etika profesi. penerapan konsep dan teori serta metode operasional dan penerapan disiplin ilmu
pengetahuan yang mendasari pelaksanaan tugas dan fungsi jabatan fungsional yang
bersangkutan;
c. Terikat pada etika profesi tertentu yang ditetapkan oleh ikatan profesinya.
(2) Berdasarkan penilaian terhadap bobot jabatan fungsional, maka jabatan fungsional keahlian dibagi
dalam 4 (empat) jenjang jabatan yaitu :

22 3
BAB I BAB II
KETENTUAN UMUM TUJUAN PENETAPAN RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL

Pasal 1 Pasal 2
Dalam Keputusan Presiden ini yang dimaksud dengan : Rumpun jabatan fungsional ditetapkan untuk mewadahi keberadaan dan sekaligus sebagai landasan
1. Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden ini disebut bagi penetapan jabatan fungsional keahlian dan/atau jabatan fungsional ketrampilan yang diperlukan
jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan oleh pemerintah dalam rangka terselenggaranya tugas umum pemerintahan.
hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan
tugasnya didasarkan pada keadilan dan/atau ketrampilan tertentu serta bersifat mandiri.
2. Rumpun jabatan fungsional adalah himpunan jabatan fungsional keahlian dan / atau jabatan BAB III
fungsional ketrampilan yang mempunyai fungsi dan tugas yang berkaitan erat satu sama lain dalam JENIS RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL DAN
melaksanakan salah satu tugas umum pemerintahan. JENJANG JABATAN FUNGSIONAL
3. Jenis rumpun jabatan fungsional adalah perumpunan jabatan fungsional ditinjau dari perpaduan
pendekatan antara jabatan dan bidang ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai dasar untuk Bagian Pertama
melaksanakan tugas dan fungsi jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan. Jenis Rumpun Jabatan Fungsional
4. Jabatan fungsional Keahlian adalah jabatan fungsional kualifikasi profesional yang pelaksanaan
tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Pasal 3
keahliannya. Tugas utama Jabatan Fungsional Keahlian meliputi pengembangan pengetahuan, (1) Jenis rumpun jabatan fungsional disusun dengan menggunakan perpaduan pendekatan antara
penerapan konsep dan teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah, dan pemberian pengajaran jabatan dan bidang ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tugas
dengan cara yang sistematis. dan fungsi jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan.
5. Jabatan Fungsional Ketrampilan adalah jabatan fungsional kualifikasi teknisi atau penunjang (2) Jenis rumpun jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagaimana
profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis tersebut dalam Lampiran Keputusan Presiden ini.
di satu bidang ilmu pengetahuan atau lebih. Tugas utama Jabatan Fungsional Ketrampilan meliputi
pelaksanaan kegiatan teknis yang berkaitan dengan penerapan konsep dan metode operasional di Bagian Kedua
bidang ilmu pengetahuan tersebut serta pemberian pengajaran di tingkat pendidikan tertentu. Jenjang Jabatan Fungsional
6. Bobot jabatan adalah nilai kumulatif faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya jenjang
jabatan antara lain pendidikan, pengalaman, upaya fisik dan mental yang diperlukan untuk Pasal 4
melakukan kegiatan dalam suatu jabatan. Jabatan-jabatan yang dihimpun dalam rumpun jabatan fungsional dapat dikategorikan dalam jabatan
7. Kualifikasi profesional adalah kualifikasi yang bersifat keahlian yang didasarkan pada ilmu fungsional keahlian atau jabatan fungsional ketrampilan :
pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan yang berkelanjutan secara sistematis yang
pelaksanaan tugasnya meliputi penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan dan
penerapan konsep, teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah serta memberikan Pasal 5
pengajarannya dan terikat pada etika profesi. (1) Jabatan fungsional keahlian adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan tugasnya :
Kualifikasi teknisi atau penunjang profesional adalah yang bersifat ketrampilan yang didasarkan a. Mensyaratkan kualifikasi profesional dengan pendidikan serendah-rendahnya berijasah
pada ilmu pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan kejuruan dan pelatihan teknis yang Sarjana (Strata-1);
pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis operasional berdasarkan prosedur standar b. Meliputi kegiatan yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan, peningkatan dan
operasional serta melatihkannnya dan terikat pada etika profesi. penerapan konsep dan teori serta metode operasional dan penerapan disiplin ilmu
pengetahuan yang mendasari pelaksanaan tugas dan fungsi jabatan fungsional yang
bersangkutan;
c. Terikat pada etika profesi tertentu yang ditetapkan oleh ikatan profesinya.
(2) Berdasarkan penilaian terhadap bobot jabatan fungsional, maka jabatan fungsional keahlian dibagi
dalam 4 (empat) jenjang jabatan yaitu :

2
66 33
a. Jenjang Utama, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya d. Jenjang Pelaksana Pemula, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan
bersifat strategis nasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat tertinggi dengan fungsi utamanya sebagai pembantu pelaksana dan mensyaratkan pengetahuan teknis
kepangkatan mulai dari Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d sampai dengan pembina operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan
utama, golongan ruang IV/e. kepangkatan Pengatur Muda, golongan ruang II/a.
b. Jenjang Madya, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya
a. bersifat
Jenjang strategis
Utama, yaitu sektoral
jenjangyang mensyaratkan
jabatan fungsionalkualifikasi
keahlian profesional
yang tugas tingkat
dan fungsi tinggiutamanya
dengan Pasal 7
kepangkatan
bersifat mulainasional
strategis dari Pembina, golongan ruang
yang mensyaratkan IV/a sampai
kualifikasi dengantingkat
profesional Pembina Utamadengan
tertinggi Muda, Jenjang jabatan fungsional keahlian atau jabatan fungsional ketrampilan sebagaimana dimaksud dalam
golongan ruang
kepangkatan IV/c.dari Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d sampai dengan pembina
mulai Pasal 5 dan Pasal 6 didasarkan pada penilaian bobot masing – masing jabatan fungsional dan
c. utama,
Jenjanggolongan
Muda, yaituruangjenjang
IV/e. jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.
b. bersifat
Jenjang taktis
Madya, operasional
yaitu jenjang yangjabatan
mensyaratkan
fungsional kualifikasi
keahlianprofesional
yang tugas tingkat lanjutan
dan fungsi dengan
utamanya
kepangkatan
bersifat mulai
strategis dari Penata,
sektoral golongan ruang
yang mensyaratkan III/c sampai
kualifikasi dengan
profesional Penata
tingkat tinggiTingkat
dengan I, Pasal 8
golongan ruang
kepangkatan III/d.dari Pembina, golongan ruang IV/a sampai dengan Pembina Utama Muda,
mulai (1) Kepada Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan fungsional keahlian atau jabatan
d. golongan
Jenjang Pertama,
ruang IV/c. yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya fungsional Keterampilan diberikan tunjangan jabatan fungsional.
bersifat Muda,
c. Jenjang operasional yang mensyaratkan
yaitu jenjang jabatan fungsional kualifikasi
keahlianprofesional
yang tugastingkatdan fungsidasarutamanya
dengan (2) Besarnya tunjangan jabatan fungsional masing – masing jenjang jabatan fungsional keahlian
kepangkatan
bersifat taktis mulai dari Penata
operasional muda, golongan
yang mensyaratkan ruang III/a
kualifikasi sampaitingkat
profesional dengan Penatadengan
lanjutan Muda adalah :
Tingkat I, golongan
kepangkatan mulairuang
dari III/b.
Penata, golongan ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I, a. Jenjang Utama, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon Ia;
golongan ruang III/d. b. Jenjang Madya, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIa;
d. Jenjang Pertama, yaitu jenjang jabatan fungsional Pasal 6 keahlian yang tugas dan fungsi utamanya c. Jenjang Muda, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
(1) Jabatan fungsional
bersifat ketrampilan
operasional yang adalah jabatan fungsional
mensyaratkan kualifikasi yang pelaksanaan
profesional tugasnya
tingkat :
dasar dengan d. Jenjang Pertama, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IVa.
a. kepangkatan
Mensyaratkanmulai kualifikasi teknisimuda,
dari Penata profesional
golongan danruang/atauIII/apenunjang
sampai denganprofesional
PenatadenganMuda (3) Besarnya tunjangan jabatan fungsional untuk masing - masing jenjang jabatan fungsional
pendidikan serendah-rendahnya
Tingkat I, golongan ruang III/b. Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan keterampilan adalah :
dan setinggi-tingginya setingkat Diploma III (D-3); a. Jenjang Penyelia, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
b. Meliputi kegiatan teknis operasional yangPasal berkaitan
6 dengan penerapan konsep atau metode b. Jenjang Pelaksana Lanjutan, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural
(1) operasional
Jabatan dari ketrampilan
fungsional suatu bidang profesi;
adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan tugasnya : eselon IVa;
c. Terikat
a. pada etika
Mensyaratkan profesi tertentu
kualifikasi teknisiyang ditetapkandan
profesional oleh /atau
ikatan penunjang
profesinya. profesional dengan c. Jenjang Pelaksana, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon Va;
(2) Berdasarkan
pendidikan penilaian bobot jabatan Sekolah
serendah-rendahnya fungsional, maka jabatan
Menengah Umumfungsional ketrampilan
atau Sekolah Menengah dibagi dalam
Kejuruan d. Jenjang Pelaksana Pemula, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural
4 (empat) jenjang jabatan yaitu
dan setinggi-tingginya :
setingkat Diploma III (D-3); eselon Vb.
a. Meliputi
b. Jenjang kegiatan
Penyelia,teknis
adalah jenjang jabatan
operasional fungsional
yang berkaitan ketrampilan
dengan penerapan yang tugasatau
konsep danmetode
fungsi
utamanya sebagai
operasional dari suatupembimbing,
bidang profesi; pengawas, dan penilai pelaksanaan pekerjaan pejabat
fungsional
c. Terikat padatingkat dibawahnya
etika profesi tertentuyang mensyaratkan
yang ditetapkan oleh pengetahuan
ikatan profesinya.dan pengalaman teknis BAB IV
(2) operasional
Berdasarkan penunjang
penilaian bobot beberapa cabang ilmu
jabatan fungsional, makapengetahuan
jabatan fungsional tertentu dengan kepangkatan
ketrampilan dibagi dalam KETENTUAN PERALIHAN
mulai dari
4 (empat) Penata,
jenjang jabatangolongan
yaitu : ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
b. Jenjang
a. Jengjang Penyelia,
PelaksanaadalahLanjutan, adalahjabatan
jenjang jenjangfungsional
jabatan fungsional
ketrampilan keterampilan
yang tugas yangdan tugas dan
fungsi Pasal 9
fungsi
utamanyautamanya
sebagaisebagai pelaksana
pembimbing, tingkat lanjutan
pengawas, dan penilai dan mensyaratkan pengetahuan
pelaksanaan pekerjaan dan
pejabat Jabatan fungsional yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku
pengalaman teknis operasional
fungsional tingkat dibawahnya penunjang yang didasari
yang mensyaratkan oleh suatu cabang
pengetahuan ilmu pengetahuan
dan pengalaman teknis sebelum ditetapkannya Keputusan Presiden ini, tetap berlaku dengan ketentuan harus sudah
tertentu,
operasionaldengan kepangkatan
penunjang beberapa mulai dari Penata
cabang Muda, golongan
ilmu pengetahuan ruangdengan
tertentu III/a sampai dengan
kepangkatan disesuaikan selambat – lambatnya 3 (tiga) tahun terhitung setelah Keputusan Presiden ini ditetapkan.
Penata
mulai Muda
dari Tingkat
Penata, I, golongan
golongan ruangruang III/b. dengan Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
III/c sampai
c. Jenjang
b. JengjangPelaksana,
Pelaksana adalah
Lanjutan, jenjang
adalah jabatan
jenjang fungsional keterampilan
jabatan fungsional yang tugasyang
keterampilan dan tugas
fungsinya
dan
utamanya
fungsi sebagaisebagai
utamanya pelaksana dan mensyaratkan
pelaksana tingkat lanjutanpengetahuan
dan mensyaratkan dan pengalaman
pengetahuanteknis dan
operasional penunjang
pengalaman yang didasari
teknis operasional penunjang olehyangsatudidasari
cabangoleh ilmusuatu
pengetahuan
cabang ilmu tertentu dengan
pengetahuan
kepangkatan
tertentu, denganmulai dari Pengatur
kepangkatan Muda
mulai Tingkat
dari Penata I, golongan ruang II/b
Muda, golongan sampai
ruang III/adengan
sampaiPengatur
dengan
Tingkat Muda
Penata I, golongan
Tingkat ruang II/d.
I, golongan ruang III/b.
c. Jenjang Pelaksana, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsinya
utamanya sebagai pelaksana dan mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis
operasional penunjang yang didasari oleh 44 satu cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan 5
65
kepangkatan mulai dari Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b sampai dengan Pengatur
Tingkat I, golongan ruang II/d.

4
a. Jenjang Utama, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya d. Jenjang Pelaksana Pemula, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan
bersifat strategis nasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat tertinggi dengan fungsi utamanya sebagai pembantu pelaksana dan mensyaratkan pengetahuan teknis
kepangkatan mulai dari Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d sampai dengan pembina operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan
utama, golongan ruang IV/e. kepangkatan Pengatur Muda, golongan ruang II/a.
b. Jenjang Madya, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya
bersifat strategis sektoral yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat tinggi dengan Pasal 7
kepangkatan mulai dari Pembina, golongan ruang IV/a sampai dengan Pembina Utama Muda, Jenjang jabatan fungsional keahlian atau jabatan fungsional ketrampilan sebagaimana dimaksud dalam
golongan ruang IV/c. Pasal 5 dan Pasal 6 didasarkan pada penilaian bobot masing – masing jabatan fungsional dan
c. Jenjang Muda, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.
bersifat taktis operasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat lanjutan dengan
kepangkatan mulai dari Penata, golongan ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I, Pasal 8
golongan ruang III/d. (1) Kepada Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan fungsional keahlian atau jabatan
d. Jenjang Pertama, yaitu jenjang jabatan fungsional keahlian yang tugas dan fungsi utamanya fungsional Keterampilan diberikan tunjangan jabatan fungsional.
bersifat operasional yang mensyaratkan kualifikasi profesional tingkat dasar dengan (2) Besarnya tunjangan jabatan fungsional masing – masing jenjang jabatan fungsional keahlian
kepangkatan mulai dari Penata muda, golongan ruang III/a sampai dengan Penata Muda adalah :
Tingkat I, golongan ruang III/b. a. Jenjang Utama, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon Ia;
b. Jenjang Madya, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIa;
Pasal 6 c. Jenjang Muda, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
(1) Jabatan fungsional ketrampilan adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan tugasnya : d. Jenjang Pertama, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IVa.
a. Mensyaratkan kualifikasi teknisi profesional dan /atau penunjang profesional dengan (3) Besarnya tunjangan jabatan fungsional untuk masing - masing jenjang jabatan fungsional
pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan keterampilan adalah :
dan setinggi-tingginya setingkat Diploma III (D-3); a. Jenjang Penyelia, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
b. Meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan dengan penerapan konsep atau metode b. Jenjang Pelaksana Lanjutan, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural
operasional dari suatu bidang profesi; eselon IVa;
c. Terikat pada etika profesi tertentu yang ditetapkan oleh ikatan profesinya. c. Jenjang Pelaksana, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural eselon Va;
(2) Berdasarkan penilaian bobot jabatan fungsional, maka jabatan fungsional ketrampilan dibagi dalam d. Jenjang Pelaksana Pemula, setinggi - tingginya sama dengan tunjangan jabatan struktural
4 (empat) jenjang jabatan yaitu : eselon Vb.
a. Jenjang Penyelia, adalah jenjang jabatan fungsional ketrampilan yang tugas dan fungsi
utamanya sebagai pembimbing, pengawas, dan penilai pelaksanaan pekerjaan pejabat
fungsional tingkat dibawahnya yang mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis BAB IV
operasional penunjang beberapa cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan kepangkatan KETENTUAN PERALIHAN
mulai dari Penata, golongan ruang III/c sampai dengan Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
b. Jengjang Pelaksana Lanjutan, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan Pasal 9
fungsi utamanya sebagai pelaksana tingkat lanjutan dan mensyaratkan pengetahuan dan Jabatan fungsional yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku
pengalaman teknis operasional penunjang yang didasari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan sebelum ditetapkannya Keputusan Presiden ini, tetap berlaku dengan ketentuan harus sudah
tertentu, dengan kepangkatan mulai dari Penata Muda, golongan ruang III/a sampai dengan disesuaikan selambat – lambatnya 3 (tiga) tahun terhitung setelah Keputusan Presiden ini ditetapkan.
Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b.
c. Jenjang Pelaksana, adalah jenjang jabatan fungsional keterampilan yang tugas dan fungsinya
utamanya sebagai pelaksana dan mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman teknis
operasional penunjang yang didasari oleh satu cabang ilmu pengetahuan tertentu dengan
kepangkatan mulai dari Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b sampai dengan Pengatur
Tingkat I, golongan ruang II/d.

4
64 55
BAB V LAMPIRAN
KETENTUAN PENUTUP KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 87 TAHUN 1999
Pasal 10 TANGGAL 30 JULI 1999
Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan Keputusan Presiden ini, ditetapkan oleh Menteri yang
bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. DAFTAR RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL DAN PENJELASANNYA

1. Rumpun Fisika, Kimia dan yang berkaitan.


Pasal 11
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Rumpun Fisika, Kimia dan jabatan yang berkaitan adalah runpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan
konsep, teori dan metode operasional serta pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan
dengan penerapan ilmu pengetahuan di bidang ilmu fisika, astronomi, meteorologi, kimia, geologi
dan geofisika.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 30 Juli 1999 Contoh jabatan fungsional keahlian :
a. Pranata Nukli;
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, b. Pengamat Meteorologi dan Geofisika;
c. Pengawas Radiasi.
Ttd.
Contoh jabatan fungsional keterampilan :
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE a. Asisten Pranata Nuklir;
b. Asisten Pengamat Meteorologi dan Geofisika;
c. Asisten Pengawas Radiasi.

2. Rumpun Matematika, Statistik dan yang berkaitan.

Rumpun Matematika, Statistik dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan
konsep, teori matematika aktuaria atau konsep statistik dan mengaplikasikannya pada bidang
teknik, ilmu pengetahuan alam dan sosial serta melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan
dengan penerapan konsep, prinsip dan metode operasional ilmu matematika, statistik dan aktuaria.

Contoh jabatan fungsional keahlian :


Statistisi.

Contoh jabatan fungsional keterampilan :


Asisten Statistisi.

66 7
63
BAB V LAMPIRAN
KETENTUAN PENUTUP KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 87 TAHUN 1999
Pasal 10 TANGGAL 30 JULI 1999
Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan Keputusan Presiden ini, ditetapkan oleh Menteri yang
bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. DAFTAR RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL DAN PENJELASANNYA

1. Rumpun Fisika, Kimia dan yang berkaitan.


Pasal 11
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Rumpun Fisika, Kimia dan jabatan yang berkaitan adalah runpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan
konsep, teori dan metode operasional serta pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan
dengan penerapan ilmu pengetahuan di bidang ilmu fisika, astronomi, meteorologi, kimia, geologi
dan geofisika.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 30 Juli 1999 Contoh jabatan fungsional keahlian :
a. Pranata Nukli;
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, b. Pengamat Meteorologi dan Geofisika;
c. Pengawas Radiasi.
Ttd.
Contoh jabatan fungsional keterampilan :
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE a. Asisten Pranata Nuklir;
b. Asisten Pengamat Meteorologi dan Geofisika;
c. Asisten Pengawas Radiasi.

2. Rumpun Matematika, Statistik dan yang berkaitan.

Rumpun Matematika, Statistik dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan
konsep, teori matematika aktuaria atau konsep statistik dan mengaplikasikannya pada bidang
teknik, ilmu pengetahuan alam dan sosial serta melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan
dengan penerapan konsep, prinsip dan metode operasional ilmu matematika, statistik dan aktuaria.

Contoh jabatan fungsional keahlian :


Statistisi.

Contoh jabatan fungsional keterampilan :


Asisten Statistisi.

6
62 77
3. Rumpun Kekomputeran : 5. Rumpun Penelitian dan perekayasaan.

Rumpun Kekomputeran adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang kegiatannya Rumpun Penelitian dan Perekayasaan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
berhubungan dengan penelitian peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep , teori dan
operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang perencanaan, pengembangan dan metode operasional yang berhubungan dengan bidang penelitian dan perekayasaan dan
peningkatan sistem yang berbasis komputer, pengembangan perangkat lunak, prinsip dan metode melakukan kegiatan teknis yang berhubungan dengan penelitian dan perekayasaan.
operasional, pemeliharaan kamus data dan sistem manajemen, database untuk menjamin
integritas dan keamanan data, serta membantu pengguna komputer dan perangkat lunak standar, Contoh jabatan fungsional keahlian :
mengontrol dan mengoperasikan komputer dan peralatannya , melaksanakan tugas – tugas a. Peneliti;
pemrograman yang berhubungan dengan pemasangan dan pemeliharaan perangkat keras dan b. Perekayasa.
perangakat lunak.
Contoh Jabatan fungsional ketrampilan :
Contoh jabatan fungsional keahlian : Teknisi Penelitian dan Perekayasaan ( Litkayasa ).
Pranata Komputer
6. Rumpun Ilmu Hayat
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Rumpun Ilmu Hayat adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya adalah
Asisten Pranata Komputer
melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, pengembangan teori dan metode
operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang biologi, mikrobiologi, botani, ilmu hewan,
4. Rumpun Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan.
ekologi, anatomi, bakteorologi, biokimia, fisiologi, citologi, genetika, agronomi, fatologi, atau
Rumpun Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri farmakologi serta melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pelaksanaan
Sipil yang tugasnya melakukan penelitian, meningkatkan dan mengembangkan konsep, teori dan penelitian, penerapan konsep prinsip dan metode operasional di bidang biologi, ilmu hewan,
metode operasional, menerapkan pengetahuan dan kegiatan teknis yang berhubungan dengan agronomi, dan kehutanan.
penerapan konsep, prinsip dan metode operasional di bidang arsitektur, dan teknologi serta
Contoh jabatan fungsional keahlian :
efisiensi dalam proses produksi.
a. Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan;
b. Pengendali Hama dan Penyakit Ikan;
Contoh Jabatan fungsional keahlian :
c. Pengawas Benih Tanaman;
a. Teknik Pengairan;
d. Pengawas Benih Ikan;
b. Teknik Jalan dan Jembatan;
e. Pengawas Bibit Ternak;
c. Teknik Penyehatan dan lingkungan;
f. Medik Veteriner;
d. Teknik Tata Bangunan dan Perumahan;
g. Penyuluh Pertanian;
e. Surveyor dan Pemeta;
h. Penyuluh Kehutanan.
f. Penyelidik Bumi.
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : a. Asisten Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan;
a. Asisten Teknik Pengairan; b. Asisten Pengendali Hama dan Penyakit Tumbuhan;
b. Asisten Teknik Jalan dan Jembatan; c. Asisten Pengawas Benih Tanaman;
c. Asisten Teknik Penyehatan dan Lingkungan; d. Asisten Pengawas Benih Ikan;
d. Asisten Teknik Tata Bangunan dan Perumahan e. Asisten Pengawas Bibit Ternak;
e. Asisten Surveyor dan Pemeta . f. Paramedik Veteriner;
g. Asisten Penyuluh Pertanian;
h. Asisten Penyuluh Kehutanan.

88 9
61
3. Rumpun Kekomputeran : 5. Rumpun Penelitian dan perekayasaan.

Rumpun Kekomputeran adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang kegiatannya Rumpun Penelitian dan Perekayasaan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
berhubungan dengan penelitian peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep , teori dan
operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang perencanaan, pengembangan dan metode operasional yang berhubungan dengan bidang penelitian dan perekayasaan dan
peningkatan sistem yang berbasis komputer, pengembangan perangkat lunak, prinsip dan metode melakukan kegiatan teknis yang berhubungan dengan penelitian dan perekayasaan.
operasional, pemeliharaan kamus data dan sistem manajemen, database untuk menjamin
integritas dan keamanan data, serta membantu pengguna komputer dan perangkat lunak standar, Contoh jabatan fungsional keahlian :
mengontrol dan mengoperasikan komputer dan peralatannya , melaksanakan tugas – tugas a. Peneliti;
pemrograman yang berhubungan dengan pemasangan dan pemeliharaan perangkat keras dan b. Perekayasa.
perangakat lunak.
Contoh Jabatan fungsional ketrampilan :
Contoh jabatan fungsional keahlian : Teknisi Penelitian dan Perekayasaan ( Litkayasa ).
Pranata Komputer
6. Rumpun Ilmu Hayat
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Rumpun Ilmu Hayat adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya adalah
Asisten Pranata Komputer
melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, pengembangan teori dan metode
operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang biologi, mikrobiologi, botani, ilmu hewan,
4. Rumpun Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan.
ekologi, anatomi, bakteorologi, biokimia, fisiologi, citologi, genetika, agronomi, fatologi, atau
Rumpun Arsitek, Insinyur dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri farmakologi serta melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pelaksanaan
Sipil yang tugasnya melakukan penelitian, meningkatkan dan mengembangkan konsep, teori dan penelitian, penerapan konsep prinsip dan metode operasional di bidang biologi, ilmu hewan,
metode operasional, menerapkan pengetahuan dan kegiatan teknis yang berhubungan dengan agronomi, dan kehutanan.
penerapan konsep, prinsip dan metode operasional di bidang arsitektur, dan teknologi serta
Contoh jabatan fungsional keahlian :
efisiensi dalam proses produksi.
a. Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan;
b. Pengendali Hama dan Penyakit Ikan;
Contoh Jabatan fungsional keahlian :
c. Pengawas Benih Tanaman;
a. Teknik Pengairan;
d. Pengawas Benih Ikan;
b. Teknik Jalan dan Jembatan;
e. Pengawas Bibit Ternak;
c. Teknik Penyehatan dan lingkungan;
f. Medik Veteriner;
d. Teknik Tata Bangunan dan Perumahan;
g. Penyuluh Pertanian;
e. Surveyor dan Pemeta;
h. Penyuluh Kehutanan.
f. Penyelidik Bumi.
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : a. Asisten Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan;
a. Asisten Teknik Pengairan; b. Asisten Pengendali Hama dan Penyakit Tumbuhan;
b. Asisten Teknik Jalan dan Jembatan; c. Asisten Pengawas Benih Tanaman;
c. Asisten Teknik Penyehatan dan Lingkungan; d. Asisten Pengawas Benih Ikan;
d. Asisten Teknik Tata Bangunan dan Perumahan e. Asisten Pengawas Bibit Ternak;
e. Asisten Surveyor dan Pemeta . f. Paramedik Veteriner;
g. Asisten Penyuluh Pertanian;
h. Asisten Penyuluh Kehutanan.

8
60 99
7. Rumpun Kesehatan Contoh jabatan fungsional keahlian :
Guru Ahli.
Rumpun Kesehatan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya adalah
melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
teori dan metode operasional, penerapan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan kegiatan teknis di Guru Trampil.
bidang peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit manusia, pengobatan dan rehabilitasi,
kesehatan gigi dan mulut, farmasi, serta perawatan orang sakit dan kelahiran bayi. 10. Rumpun Pendidikan Lainya.

Contoh jabatan fungsional keahlian : Rumpun Pendidikan Lainya adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya
a. Dokter; berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode
b. Dokter Gigi; operasional di bidang pendidikan dan pengajaran umum serta pendidikan dan pelatihan yang tidak
c. Apoteker; berhubungan dengan pengajaran sekolah formal, memberikan saran tentang metode dan bantuan
d. Perawat; pengajaran, menelaah serta memeriksa hasil kerja yang telah dicapai oleh guru dalam penerapan
e. Penyuluh Kesehatan Masyarakat. kurikulum, memberikan pelatihan penggunaan teknologi tinggi.

Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Contoh jabatan fungsional keahlian :


a. Asisten Apoteker; a. Pengawas Sekolah;
b. Asisten Penyuluh Kesehatan Masyarakat; b. Ahli Kurikulum;
c. Terapis Wicara; c. Ahli Pengujian;
d. Asisten Perawat. d. Pamong Belajar;
e. Widyaiswara.
7. Tingkat
8. Rumpun Pendidikan Rumpun Kesehatan
Pendidikan Tinggi
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Rumpun
Rumpun Pendidikan Tingkat Kesehatan
Pendidikan adalah
Tinggi rumpun
adalah rumpunjabatan
jabatanfungsional Pegawai
fungsional Negeri
Pegawai Sipil yang tugasnya adalah
Negeri Asisten Pamong Belajar.
melakukan
Sipil yang tugasnya melakukan kegiatanyang
kegiatan yangberkaitan
berkaitandengan
dengan penelitian,
penelitian, peningakatan
peningkatan atau
ataupengembangan konsep,
pengembangan konsep,teori
teoridan
danmetode
metodeoperasional,
operasional penerapan
disiplin ilmuilmu pengetahuan
khusus di bidangdan pelaksanaan kegiatan teknis di
pendidikan 11. Rumpun Operator Alat-alat Optik dan Elektronik.
bidang
tinggi, melaksanakan tugas peningkatan
mengajar pada kesehatan, pencegahan
pendidikan tinggi disampingpenyakit manusia,
penyiapan bukupengobatan
dan dan rehabilitasi,
tulisan ilmiah. kesehatan gigi dan mulut, farmasi, serta perawatan orang sakit dan kelahiran bayi. Rumpun Operator Alat-alat Optik dan Elektronik adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri
Sipil yang mempunyai tugas melakukan pemotretan, mengontrol gambar yang bergerak dan video
Contoh
Contoh jabatan fungsional jabatan
keahlian : fungsional keahlian : kamera dan peralatan lain untuk merekam dan menyempurnakan citra dan suara, mengontrol
Dosen. a. Dokter; penyiaran dan sistim alat telekomunikasi, mengontrol penggunaan alat untuk keperluan diagnosa
b. Dokter Gigi; medis dan perawatan.
c. Apoteker;
9. Rumpun Pendidikan Tingkat Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan Sekolah Khusus
d. Perawat; Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
e. Penyuluh
Rumpun Pendidikan Tingkat Kesehatan Masyarakat.
Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan Sekolah Khusus adalah a. Pemantau frekuensi radio;
rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya melakukan kegiatan yang berkaitan b. Pengatur frekuensi radio;
Contoh jabatan
dengan penelitian, peningkatan fungsional ketrampilan
atau pengembangan konsep,: teori dan metode operasional di c. Operator Transmisi Sandi.
bidang pendidikan dana.pengajaran
Asisten Apoteker;
pada Tingkat Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan
b. Asisten
Sekolah Khusus serta mengajar Penyuluhatau
anak-anak Kesehatan Masyarakat;
orang dewasa yang cacat fisik dan cacat mental 12. Rumpun Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat.
c. belajar
atau mempunyai kesulitan Terapis Wicara;
pada tingkat pendidikan tertentu.
d. Asisten Perawat. Rumpun Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang mempunyai tugas memberi komando dan menavigasi kapal serta pesawat,
8. Rumpun Pendidikan Tingkat Pendidikan Tinggi

10
10
Rumpun Pendidikan Tingkat Pendidikan Tinggi adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri 11
59
Sipil yang tugasnya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, peningakatan atau
pengembangan konsep, teori dan metode operasional disiplin ilmu khusus di bidang pendidikan
tinggi, melaksanakan tugas mengajar pada pendidikan tinggi disamping penyiapan buku dan
tulisan ilmiah.
7. Rumpun Kesehatan Contoh jabatan fungsional keahlian :
Guru Ahli.
Rumpun Kesehatan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya adalah
melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
teori dan metode operasional, penerapan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan kegiatan teknis di Guru Trampil.
bidang peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit manusia, pengobatan dan rehabilitasi,
kesehatan gigi dan mulut, farmasi, serta perawatan orang sakit dan kelahiran bayi. 10. Rumpun Pendidikan Lainnya
Lainya.

Contoh jabatan fungsional keahlian : Rumpun Pendidikan Lainnya


Lainya adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya
a. Dokter; berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode
b. Dokter Gigi; operasional di bidang pendidikan dan pengajaran umum serta pendidikan dan pelatihan yang tidak
c. Apoteker; berhubungan dengan pengajaran sekolah formal, memberikan saran tentang metode dan bantuan
d. Perawat; pengajaran, menelaah serta memeriksa hasil kerja yang telah dicapai oleh guru dalam penerapan
e. Penyuluh Kesehatan Masyarakat. kurikulum, memberikan pelatihan penggunaan teknologi tinggi.

Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Contoh jabatan fungsional keahlian :


a. Asisten Apoteker; a. Pengawas Sekolah;
b. Asisten Penyuluh Kesehatan Masyarakat; b. Ahli Kurikulum;
c. Terapis Wicara; c. Ahli Pengujian;
d. Asisten Perawat. d. Pamong Belajar;
e. Widyaiswara.
8. Rumpun Pendidikan Tingkat Pendidikan Tinggi
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Rumpun Pendidikan Tingkat Pendidikan Tinggi adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Asisten Pamong Belajar.
Sipil yang tugasnya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, peningakatan atau
pengembangan konsep, teori dan metode operasional disiplin ilmu khusus di bidang pendidikan 11. Rumpun Operator Alat-alat Optik dan Elektronik.
tinggi, melaksanakan tugas mengajar pada pendidikan tinggi disamping penyiapan buku dan
tulisan ilmiah. Rumpun Operator Alat-alat Optik dan Elektronik adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri
Sipil yang mempunyai tugas melakukan pemotretan, mengontrol gambar yang bergerak dan video
Contoh jabatan fungsional keahlian : kamera dan peralatan lain untuk merekam dan menyempurnakan citra dan suara, mengontrol
Dosen. penyiaran dan sistim alat telekomunikasi, mengontrol penggunaan alat untuk keperluan diagnosa
medis dan perawatan.
9. Rumpun Pendidikan Tingkat Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan Sekolah Khusus
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Rumpun Pendidikan Tingkat Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan Sekolah Khusus adalah a. Pemantau frekuensi radio;
rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya melakukan kegiatan yang berkaitan b. Pengatur frekuensi radio;
dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode operasional di c. Operator Transmisi Sandi.
bidang pendidikan dan pengajaran pada Tingkat Taman Kanak-kanak, Dasar, Lanjutan dan
Sekolah Khusus serta mengajar anak-anak atau orang dewasa yang cacat fisik dan cacat mental 12. Rumpun Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat.
atau mempunyai kesulitan belajar pada tingkat pendidikan tertentu.
Rumpun Teknisi dan Pengontrol Kapal dan Pesawat adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri Sipil yang mempunyai tugas memberi komando dan menavigasi kapal serta pesawat,

10
58 11
11
melaksanakan fungsi teknis untuk menjamin efisiensi dan keselamatan pelayaran serta
penerbangan.

Contoh jabatan fungsional ketrampilan :


a. Teknisi Penerbangan;
b. Teknisi Pelayaran.
melaksanakan fungsi teknis untuk menjamin efisiensi dan keselamatan pelayaran serta 15. Rumpun Asisten Profesional yang berhubungan dengan Keuangan dan Penjualan
penerbangan. 13. Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan.
Rumpun Asisten Profesional yang berhubungan denagan Keuangan dan Penjualan adalah rumpun
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai tugas melakukan kegiatan teknis dalam
a. Teknisi Penerbangan; Sipil yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori analisis kecenderungan pasar dibidang keuangan dan devisa, menaksir nilai komoditi, real estate
b. Teknisi Pelayaran. dan metoda operasional serta memeriksa pengimplementasian peraturan perundang – undangan atau properti lain atau menjual lewat lelang atas nama pemerintah.
yang berhubungan dengan pencegahan kebakaran dan bahaya lain, keselamatan kerja,
13. Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan. perlindungan kesehatan dan lingkungan, kesehatan proses produksi, barang dan jasa yang Contoh jabatan fungsional keahlian :
dihasilkan dan juga hal-hal yang berhubungan dengan standar kualitas dan spesifikasi pabrik. Penilai Pajak Bumi Dan Bangunan.
Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri
Sipil yang tugasnya berkaitan dengan penelitian,
Contohpeningkatan atau pengembangan
jabatan fungsional Keahlian : konsep, teori Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
dan metoda operasional serta memeriksa pengimplementasian peraturan perundang – undangan
a. Pengawas Ketenagakerjaan; Asisten Penilai Pajak Bumi Dan Bangunan.
yang berhubungan dengan pencegahan b.kebakaran danBarang;
Penguji Mutu bahaya lain, keselamatan kerja,
perlindungan kesehatan dan lingkungan, c. kesehatan
Penera; proses produksi, barang dan jasa yang 16. Rumpun Imigrasi, Pajak Dan Asisten Profesional yang berkaitan
dihasilkan dan juga hal-hal yang berhubungand. dengan standar
Pengawas kualitas
Farmasi dan spesifikasi pabrik.
dan Makanan.
Rumpun Imigrasi, Pajak dan Asisten Profesional yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional
Contoh jabatan fungsional Keahlian : Contoh jabatan fungsional Ketrampilan : Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai tugas memberlakukan dan menerapkan peraturan
a. Pengawas Ketenagakerjaan; a. Asisten Pengawas Ketenagakerjaaan; Perundangan Pemerintah yang berhubungan dengan batas negara, pajak-pajak, jaminan sosial,
b. Penguji Mutu Barang; b. Asisten Penguji Mutu; ekspor dan impor barang, pembentukan usaha, pendirian gedung serta kegiatan lain yang
c. Penera; c. Asisten Penera; berhubungan dengan penerapan Peratutaran Pemerintah.
d. Pengawas Farmasi dan Makanan. d. Asisten Pengawas Farmasi dan Makanan.
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Contoh jabatan fungsional Ketrampilan : 14. Rumpun Akuntan dan Anggaran a. Pemeriksa Bea Dan Cukai;
a. Asisten Pengawas Ketenagakerjaaan; b. Pemeriksa Pajak.
b. Asisten Penguji Mutu; Rumpun Akuntan dan Anggaran adalah rumpun jabata fungsional Pegawai Negeri Sipil yang
c. Asisten Penera; kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan Contoh jabatan fungsional kerampilan :
d. Asisten Pengawas Farmasi dan Makanan. metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pemberian saran, penyeliaan Asisten pemeriksa Bea Dan Cukai.
atau melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan dengan akuntansi anggaran dan
14. Rumpun Akuntan dan Anggaran manajemen keuangan. 17. Rumpun Manajemen

Rumpun Akuntan dan Anggaran adalah rumpun jabata fungsional


Contoh jabatan fungsional keahlian
Pegawai : Negeri Sipil yang Rumpun manajemen adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang kegiatannya
kegiatannya berhubungan dengan penelitian,
a. peningkatan
Akuntan; atau pengembangan konsep, teori dan berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan
b. Auditor. di bidang pemberian saran, penyeliaan operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang sistem, pemberian saran atau pengelolaan,
atau melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan dengan akuntansi anggaran dan pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan sumber daya
manajemen keuangan. Contoh jabatan fungsional ketrampilan : manajemen.
Assisten Auditor.
Contoh jabatan fungsional keahlian : Contoh jabatan fiungsional keahlian :
a. Akuntan; a. Analis Manajemen;
b. Auditor. 12 b. Analis kepegawaian.

Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Contoh jabatan fungsional ketrampilan :


Assisten Auditor. Asisten Analais Kepegawaian.

12
12 13
57
b. Pemeriksa Pajak.

Contoh jabatan fungsional kerampilan :


Asisten pemeriksa Bea Dan Cukai.

17. Rumpun Manajemen

Rumpun manajemen adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang kegiatannya
melaksanakan fungsi teknis untuk menjamin efisiensi dan keselamatan pelayaran serta berhubungan dengan penelitian,
15. Rumpun peningkatan atau pengembangan
Asisten Profesional konsep, teori
yang berhubungan dengandanKeuangan
metode dan Penjualan
penerbangan. operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang sistem, pemberian saran atau pengelolaan,
pengambilan keputusan dan Rumpun
pelaksanaan kegiatan
Asisten teknis yang
Profesional yang berhubungan
berhubungandenagan
dengan sumber daya
Keuangan dan Penjualan adalah rumpun
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : manajemen. jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai tugas melakukan kegiatan teknis dalam
a. Teknisi Penerbangan; analisis kecenderungan pasar dibidang keuangan dan devisa, menaksir nilai komoditi, real estate
b. Teknisi Pelayaran. Contoh jabatan fiungsional keahlian :
atau properti lain atau menjual lewat lelang atas nama pemerintah.
a. Analis Manajemen;
13. Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan. b. Analis kepegawaian. Contoh jabatan fungsional keahlian :
Penilai Pajak Bumi Dan Bangunan.
Rumpun Pengawas Kualitas dan Keamanan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Sipil yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori Asisten Analais Kepegawaian.Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
dan metoda operasional serta memeriksa pengimplementasian peraturan perundang – undangan Asisten Penilai Pajak Bumi Dan Bangunan.
yang berhubungan dengan pencegahan kebakaran dan bahaya lain, keselamatan kerja,
perlindungan kesehatan dan lingkungan, kesehatan proses produksi, barang dan jasa yang 13Pajak Dan Asisten Profesional yang berkaitan
16. Rumpun Imigrasi,
dihasilkan dan juga hal-hal yang berhubungan dengan standar kualitas dan spesifikasi pabrik.
Rumpun Imigrasi, Pajak dan Asisten Profesional yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional
Contoh jabatan fungsional Keahlian : Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai tugas memberlakukan dan menerapkan peraturan
a. Pengawas Ketenagakerjaan; Perundangan Pemerintah yang berhubungan dengan batas negara, pajak-pajak, jaminan sosial,
b. Penguji Mutu Barang; ekspor dan impor barang, pembentukan usaha, pendirian gedung serta kegiatan lain yang
c. Penera; berhubungan dengan penerapan Peratutaran Pemerintah.
d. Pengawas Farmasi dan Makanan.
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Contoh jabatan fungsional Ketrampilan : a. Pemeriksa Bea Dan Cukai;
a. Asisten Pengawas Ketenagakerjaaan; b. Pemeriksa Pajak.
b. Asisten Penguji Mutu;
c. Asisten Penera; Contoh jabatan fungsional kerampilan :
d. Asisten Pengawas Farmasi dan Makanan. Asisten pemeriksa Bea Dan Cukai.

14. Rumpun Akuntan dan Anggaran 17. Rumpun Manajemen

Rumpun Akuntan dan Anggaran adalah rumpun jabata fungsional Pegawai Negeri Sipil yang Rumpun manajemen adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang kegiatannya
kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pemberian saran, penyeliaan operasional, penerapan ilmu pengetahuan di bidang sistem, pemberian saran atau pengelolaan,
atau melaksanakan kegiatan teknis yang berhubungan dengan akuntansi anggaran dan pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan sumber daya
manajemen keuangan. manajemen.

Contoh jabatan fungsional keahlian : Contoh jabatan fiungsional keahlian :


a. Akuntan; a. Analis Manajemen;
b. Auditor. b. Analis kepegawaian.

Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Contoh jabatan fungsional ketrampilan :


Assisten Auditor. Asisten Analais Kepegawaian.

12
56 13
13
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang hukum, perancangan peraturan
perundang-undangan serta pemberian saran dan konsultasi pada para klien tentang aspek hukum,
penyelidikan kasus, pelaksanaan peradilan.

Contoh jabatan fungsional keahlian :


a. Perancang peraturan perundang-undangan;
b. Jaksa.

19.
18. Rumpun Hak Cipta,
Hukum DanPaten dan Merek
Peradilan konsep, teori dan metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pengembangan
dan pemeliharaan koleksi arsip, perpustakaan, museum, koleksi benda seni dan yang sejenis serta
Rumpun Hak Cipta,
Hukum danPaten dan merek
Peradilan adalahadalah rumpun
rumpun jabatan
jabatan fungsional
fungsional PegawaiNegeri
Pegawai NegeriSipil
Sipil Yang
yang pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan kearsipan dan kepustakaan.
kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan
metode operasional
operasionalserta
serta penerapan
penerapan ilmu pengetahuan
ilmu pengetahuan di bidang di bidang
hukum, pemberianperaturan
perancangan saran, Contoh jabatan fungsional keahlian :
pengadministrasian, penyeliaan,
perundang-undangan serta pemberianserta
saranpelaksanaan
dan konsultasipekerjaan yangtentang
pada para klien berkaitan
aspek dengan
hukum, a. Arsiparis;
pengatalogan, registrasi
penyelidikan kasus, dari hakperadilan.
pelaksanaan cipta, penetapan hak paten, pendaftaran merek dagang sesuai b. Pustakawan.
dengan aturan yang berlaku.
Contoh jabatan fungsional keahlian : Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
a. Pemeriksa
Perancang Paten ; perundang-undangan;
peraturan a. Asisten Arsiparis;
b. Jaksa.
Pemeriksa Merek. b. Asisten Pustakawan.

19. Contoh
Rumpun jabatan fungsional
Hak Cipta, Patenketrampilan
dan Merek:
Asisten Pemeriksa Merek. 22. Rumpun Ilmu Sosial dan yang berkaitan
Rumpun Hak Cipta, Paten dan merek adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang
20. kegiatannya
Rumpun Penyidik dan Detektif
berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan Rumpun ilmu sosial dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pemberian saran, yang kegiatannya berhubungan dengan pelaksanaan penelitian, pengembangan konsep dan
Rumpun Penyidik danpenyeliaan,
pengadministrasian, Detektif adalah
sertarumpun jabatan fungsional
pelaksanaan pekerjaan Pegawai Negeri Sipil
yang berkaitan yang
dengan metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan filosofi,
mempunyai
pengatalogan, tugas menyelidiki
registrasi dari hakfakta
cipta,yang berhubungan
penetapan dengan
hak paten, tindak kriminal
pendaftaran dalam rangka
merek dagang sesuai sosiologi, psiokologi dan ilmu sosial lainnya, memberikan pelayanan sosial untuk memenuhi
membuktikan
dengan aturan pihak yang bersalah, mengumpulkan informasi tentang seseorang yang diduga
yang berlaku. kebutuhan perorangan dan keluarga dalam masyarakat.
berbuat kriminal,
Contoh jabatan melakukan
fungsional penyelidikan
keahlian : tindakan yang mencurigakan di perusahaan, toko
ataupun ditempat
a. Pemeriksa umum.
Paten ; Contoh jabatan fungsional keahlian :
b. Pemeriksa Merek. a. Pekerja sosial;
Contoh jabatan fungsional keahlian : b. Penyuluh KB.
Agen.
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Asisten Pemeriksa Merek. Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
21. Rumpun Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan a. Asisten Pekerja Sosial;
20. Rumpun Penyidik dan Detektif b. Asisten penyuluh KB.
Rumpun Arsiparis, pustakawan dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai
Negeri
RumpunSipil yang kegiatannya
Penyidik dan Detektifberhubungan
adalah rumpun dengan penelitian,
jabatan peningkatan
fungsional Pegawaiatau pengembangan
Negeri Sipil yang 23. Rumpun Penerangan dan Seni Budaya
mempunyai tugas menyelidiki fakta yang berhubungan dengan tindak kriminal dalam rangka
membuktikan pihak yang bersalah, mengumpulkan informasi tentang seseorang yang diduga Rumpun Penerangan dan Seni Budaya adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
berbuat kriminal, melakukan penyelidikan tindakan 14 yang mencurigakan di perusahaan, toko yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, pengamatan, penciptaan, peningkatan atau
ataupun ditempat umum. pengembangan konsep, teori dan metode operasional di bidang pelaksanaan kegiatan
pemeliharaan karya seni, museum, bahasa, sejarah, antropologi dan arkeologi serta pelaksanaan
Contoh jabatan fungsional keahlian : kegiatan teknis yang berhubungan dengan pekerjaan penerangan kepada masyarakat,
Agen. pengamatan dan penciptaan serta pemeliharaan karya seni, benda seni, benda bersejarah
( museum ).
21. Rumpun Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Rumpun Arsiparis, pustakawan dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Pamong budaya
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan

14
14 15
55
18. Rumpun Hukum Dan Peradilan konsep, teori dan metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pengembangan
dan pemeliharaan koleksi arsip, perpustakaan, museum, koleksi benda seni dan yang sejenis serta
Rumpun Hukum dan Peradilan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil Yang pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan kearsipan dan kepustakaan.
kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang hukum, perancangan peraturan Contoh jabatan fungsional keahlian :
perundang-undangan serta pemberian saran dan konsultasi pada para klien tentang aspek hukum, a. Arsiparis;
penyelidikan kasus, pelaksanaan peradilan. b. Pustakawan.

Contoh jabatan fungsional keahlian : Contoh jabatan fungsional ketrampilan :


a. Perancang peraturan perundang-undangan; a. Asisten Arsiparis;
b. Jaksa. b. Asisten Pustakawan.

19. Rumpun Hak Cipta, Paten dan Merek


22. Rumpun Ilmu Sosial dan yang berkaitan
Rumpun Hak Cipta, Paten dan merek adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang
kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan Rumpun ilmu sosial dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan di bidang pemberian saran, yang kegiatannya berhubungan dengan pelaksanaan penelitian, pengembangan konsep dan
pengadministrasian, penyeliaan, serta pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan metode operasional serta penerapan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan filosofi,
pengatalogan, registrasi dari hak cipta, penetapan hak paten, pendaftaran merek dagang sesuai sosiologi, psiokologi dan ilmu sosial lainnya, memberikan pelayanan sosial untuk memenuhi
dengan aturan yang berlaku. kebutuhan perorangan dan keluarga dalam masyarakat.
Contoh jabatan fungsional keahlian :
a. Pemeriksa Paten ; Contoh jabatan fungsional keahlian :
b. Pemeriksa Merek. a. Pekerja sosial;
b. Penyuluh KB.
Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
Asisten Pemeriksa Merek. Contoh jabatan fungsional ketrampilan :
a. Asisten Pekerja Sosial;
20. Rumpun Penyidik dan Detektif b. Asisten penyuluh KB.

Rumpun Penyidik dan Detektif adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang 23. Rumpun Penerangan dan Seni Budaya
mempunyai tugas menyelidiki fakta yang berhubungan dengan tindak kriminal dalam rangka
membuktikan pihak yang bersalah, mengumpulkan informasi tentang seseorang yang diduga Rumpun Penerangan dan Seni Budaya adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil
berbuat kriminal, melakukan penyelidikan tindakan yang mencurigakan di perusahaan, toko yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, pengamatan, penciptaan, peningkatan atau
ataupun ditempat umum. pengembangan konsep, teori dan metode operasional di bidang pelaksanaan kegiatan
pemeliharaan karya seni, museum, bahasa, sejarah, antropologi dan arkeologi serta pelaksanaan
Contoh jabatan fungsional keahlian : kegiatan teknis yang berhubungan dengan pekerjaan penerangan kepada masyarakat,
Agen. pengamatan dan penciptaan serta pemeliharaan karya seni, benda seni, benda bersejarah
( museum ).
21. Rumpun Arsiparis, Pustakawan dan yang berkaitan
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Rumpun Arsiparis, pustakawan dan yang berkaitan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Pamong budaya
Negeri Sipil yang kegiatannya berhubungan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan

14
54 15
15
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
Asisten Pamong budaya. NOMOR 193/XIII/10/6/2001

24. Rumpun Keagamaan TENTANG

Rumpun Keagamaan adalah rumpun fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya berkaitan
PEDOMAN UMUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode operasional serta
JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pembinaan rohani dan moral masyarakat
sesuai dengan agama yang dianutnya.
KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA,
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Penyuluh Agama Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara dan
kepemerintahan yang baik (good governance), sesuai dengan tuntutan
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : nasional dan tantangan global, maka diperlukan Sumber Daya Manusia
Asisten Penyuluh Agama. aparatur yang memiliki kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara
dan pembangunan.
25. Rumpun Politik dan Hubungan Luar Negeri
b. bahwa untuk membentuk Sumber Daya Manusia aparatur yang memiliki
Rumpun Politik dan Hubungan Luar Negeri adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil kompetensi sebagaimana dimaksud, diperlukan pembinaan pendidikan dan
yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang lebih efektif, maka peraturan pemerintah
metode operasional, pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan perumusan, Nomor 14 tahun 1994 disempurnakan dengan ditetapkan-nya Peraturan
pengevaluasian, penganalisisan serta penerapan kebijaksanaan dibidang politik, pemerintahan dan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan pelatihan
hubungan internasional. Pegawai Negeri Sipil ;

Contoh jabatan fungsional keahlian : C. bahwa untuk melaksanakan butir b tersebut di atas, dipandang perlu
Diplomat penyempurnaan Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan dengan keputusan Ketua
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Lembaga Administrasi Negara Nomor : 304 A/IX/6/4/1995 sebagai
Asisten Analis Politik implementasi Peraturan Pemerintah Nomor : 101 tahun 2000 dengan
orientasi lebih meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pembinaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri sipil.

Mengingat: : 1. Undang–undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA sebagaimana telah diubah dengan Undang–undang Nomor 43 Tahun 1999
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan lembaran Negara
Nomor 3890);
2. Undang–undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Ttd (Lembaran Negara Tahun 1999 nomor 60, Tambahan lembaran Negara
Nomor 3390);
3. Undang–undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE (Lembaran Negara Tahun1999 Noor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3839);

16
16 27
53
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
Asisten Pamong budaya. NOMOR 193/XIII/10/6/2001

24. Rumpun Keagamaan TENTANG

Rumpun Keagamaan adalah rumpun fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya berkaitan
PEDOMAN UMUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan metode operasional serta
JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pembinaan rohani dan moral masyarakat
sesuai dengan agama yang dianutnya.
KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA,
Contoh jabatan fungsional keahlian :
Penyuluh Agama Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara dan
kepemerintahan yang baik (good governance), sesuai dengan tuntutan
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : nasional dan tantangan global, maka diperlukan Sumber Daya Manusia
Asisten Penyuluh Agama. aparatur yang memiliki kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara
dan pembangunan.
25. Rumpun Politik dan Hubungan Luar Negeri
b. bahwa untuk membentuk Sumber Daya Manusia aparatur yang memiliki
Rumpun Politik dan Hubungan Luar Negeri adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil kompetensi sebagaimana dimaksud, diperlukan pembinaan pendidikan dan
yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori dan pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang lebih efektif, maka peraturan pemerintah
metode operasional, pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan perumusan, Nomor 14 tahun 1994 disempurnakan dengan ditetapkan-nya Peraturan
pengevaluasian, penganalisisan serta penerapan kebijaksanaan dibidang politik, pemerintahan dan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan pelatihan
hubungan internasional. Pegawai Negeri Sipil ;

Contoh jabatan fungsional keahlian : C. bahwa untuk melaksanakan butir b tersebut di atas, dipandang perlu
Diplomat penyempurnaan Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan dengan keputusan Ketua
Contoh jabatan fungsional ketrampilan : Lembaga Administrasi Negara Nomor : 304 A/IX/6/4/1995 sebagai
Asisten Analis Politik implementasi Peraturan Pemerintah Nomor : 101 tahun 2000 dengan
orientasi lebih meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pembinaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri sipil.

Mengingat: : 1. Undang–undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA sebagaimana telah diubah dengan Undang–undang Nomor 43 Tahun 1999
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan lembaran Negara
Nomor 3890);
2. Undang–undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Ttd (Lembaran Negara Tahun 1999 nomor 60, Tambahan lembaran Negara
Nomor 3390);
3. Undang–undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE (Lembaran Negara Tahun1999 Noor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3839);

16
52 27
17
4.
4.
4.4. Peraturan
Peraturan
PeraturanPemerintah
Peraturan Pemerintah
PemerintahNomor
Pemerintah Nomor
Nomor16
Nomor 16
1616Tahun
Tahun
Tahun1994
Tahun 1994
1994tentang
1994 tentang
tentangJabatan
tentang Jabatan
JabatanFungsional
Jabatan Fungsional
Fungsional
Fungsional BAB I
Pegawai
Pegawai
PegawaiNegeri
Pegawai Negeri
NegeriSipil
Negeri Sipil
Sipil((( Lembaran
Sipil (Lembaran
LembaranNegara
Lembaran Negara
Negara tahun1994
Negara tahun1994
tahun1994Nomor
tahun1994 Nomor
Nomor22,Tambahan
Nomor 22,Tambahan
22,Tambahan
22,Tambahan KETENTUAN UMUM
Lembaran
Lembaran
Lembaran
Lembaran Negara
Negara
Negara
Negara Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 3547);
3547);
3547);
3547);
5.
5.
5.5. Peraturan
Peraturan
Peraturan Pemerintah
Peraturan Pemerintah
Pemerintah Nomor
Pemerintah Nomor
Nomor 16
Nomor 1616 Tahun
16 Tahun
Tahun 2000
Tahun 2000
2000 Tentang
2000 Tentang
Tentang Kewenangan
Tentang Kewenangan
Kewenangan
Kewenangan Pasal 1
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintahdan
Pemerintah dan
danKewenangan
dan Kewenangan
KewenanganPropinsi
Kewenangan Propinsi
PropinsiSebagai
Propinsi Sebagai
SebagaiDaerah
Sebagai Daerah
DaerahOtonom
Daerah Otonom
Otonom(Lembaran
Otonom (Lembaran
(Lembaran
(Lembaran
Negara
Negara
Negara
Negara Tahun
Tahun
Tahun
Tahun 2000
2000
2000
2000 Nomor
Nomor
Nomor54,
Nomor 54,
54,
54, Tambahan
Tambahan
Tambahan
Tambahan Lembaran
Lembaran
Lembaran
Lembaran Negara
Negara
Negara
Negara Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 3952);
3952);
3952);
3952); Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
6.
6.
6.6. Peraturan
Peraturan
PeraturanPemerintah
Peraturan Pemerintah
PemerintahNomor
Pemerintah Nomor
Nomor84
Nomor 84
8484Tahun
Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000tentang
2000 tentang
tentangpedoman
tentang pedoman
pedomanOrganisasi
pedoman Organisasi
Organisasi
Organisasi 1. Pedoman Umum Pendidikan dan Pelatihan ( Diklat ) ini, merupakan acuan umum bagi setiap
Perangkat
Perangkat
PerangkatDaerah
Perangkat Daerah
Daerah(((Lembaran
Daerah (Lembaran
LembaranNegara
Lembaran Negara
NegaraTahun
Negara Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000Nomor
2000 Nomor
Nomor165,
Nomor 165,
165,Tambahan
165, Tambahan
Tambahan
Tambahan Lembaga Diklat dalam penyelenggaraan Diklat Pegawai Negeri Sipil ( PNS ).
Lembaran
Lembaran
Lembaran
Lembaran Negara
Negara
Negara
Negara Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 4018)
4018)
4018)
4018) ;;; ; 2. Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS yang selanjutnya disebut Diklat adalah proses belajar
7.
7.
7.7. Peraturan
Peraturan
PeraturanPemerintah
Peraturan Pemerintah
PemerintahNomor
Pemerintah Nomor
Nomor100
Nomor 100
100100Tahun
Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000Tentang
2000 Tentang
TentangPengangkatan
Tentang Pengangkatan
Pengangkatan
Pengangkatan mengajar guna meningkatkan kompetensi PNS.
Pegawai
Pegawai
PegawaiNegeri
Pegawai Negeri
Negeri Sipil
Negeri Sipil
SipilDalam
Sipil Dalam
DalamJabatan
Dalam Jabatan Struktural
JabatanStructural
Jabatan Structural
Structural(Lembaran
Structural (Lembaran
(LembaranNegara
(Lembaran Negara
NegaraTahun
Negara Tahun
Tahun
Tahun 3. Pembinaan Diklat adalah kegiatan yang dilakukan agar penyelenggaraan Diklat, dan capaian
2000
2000
2000
2000 Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 12,Tambahan
12,Tambahan
12,Tambahanlembaran
12,Tambahan lembaran
lembaran
lembaran Negara
Negara
Negara
Negara Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 3546);
3546);
3546);
3546); kinerja Diklat sesuai dengan standar kualitas dan sasaran yang ditetapkan.
8.
8.
8.8. Peraturan
Peraturan
PeraturanPemerintah
Peraturan Pemerintah
PemerintahNomor
Pemerintah Nomor
Nomor101
Nomor 101
101Tahun
101 Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000tentang
2000 tentang
tentangPendidikan
tentang Pendidikan
Pendidikandan
Pendidikan dan
dan
dan 4. Instansi Pembina Diklat yang selanjutnya disebut Instansi Pembina adalah Lembaga Administrasi
Pelatihan
Pelatihan
PelatihanJabatan
Pelatihan Jabatan
JabatanPegawai
Jabatan Pegawai
PegawaiNegeri
Pegawai Negeri
NegeriSipil
Negeri Sipil
Sipil((( (Lembaran
Sipil Lembaran
LembaranNegara
Lembaran Negara
NegaraTahun
Negara Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000
2000 Negara yang secara fungsional bertanggung jawab atas pengaturan, koordinasi, dan terjaganya
Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 198,
198,
198,
198, Tambahan
Tambahan
Tambahan
Tambahan Lembaran
Lembaran
Lembaran
Lembaran Negara
Negara
Negara
Negara Nomor
Nomor
Nomor4019
Nomor 4019
4019
4019 );););); kualitas dan produktivitas penyelenggaraan Diklat.
9.
9.
9.9. Keputusan
Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor34
Nomor 34
3434tahun
tahun
tahun1972
tahun 1972
1972tentang
1972 tentang
tentangTanggung
tentang Tanggung
TanggungJawab
Tanggung Jawab
Jawab
Jawab 5. Pengendalian Diklat adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menjamin keserasian program
Fungsional
Fungsional
Fungsional
Fungsional Pendidikan
Pendidikan
Pendidikan
Pendidikan dan
dan
dan
dan Latihan;
Latihan;
Latihan;
Latihan; Diklat dengan standar kompetensi jabatan Pegawai Negeri Sipil, serta optimalisasi pemanfaatan
10.
10.
10.Keputusan
10. Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor5555Tahun
Nomor Tahun
Tahun1996
Tahun 1996
1996tentang
1996 tentang
tentangPendidikan
tentang Pendidikan
Pendidikandan
Pendidikan dan
danPelatihan
dan Pelatihan
Pelatihan
Pelatihan lulusannya.
Prajabatan
Prajabatan
Prajabatan
Prajabatan Calon
Calon
Calon
Calon Pegawai
Pegawai
Pegawai
Pegawai Negeri
Negeri
Negeri
Negeri Sipil;
Sipil;
Sipil;
Sipil; 6. Instansi Pengendali Diklat yang selanjutnya disebut Instansi Pengendali adalah Badan
11.
11.
11.Keputusan
11. Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor87
Nomor 87
8787Tahun
Tahun
Tahun1999
Tahun 19991999tentang
1999 tentang
tentangRumpun
tentang Rumpun
RumpunJabatan
Rumpun Jabatan
Jabatan
Jabatan Kepegawaian Negara yang secara fungsional bertanggungjawab atas pengembangan dan
Fungsional
Fungsional
Fungsional
Fungsional Pegawai
Pegawai
Pegawai
Pegawai Negeri
Negeri
Negeri
Negeri Sipil;
Sipil;
Sipil;
Sipil; pengawasan standar kompetensi jabatan serta pengendalian pemanfaatan lulusan Diklat.
12.
12.
12.Keputusan
12. Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor166
Nomor 166
166Tahun
166 Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000tentang
2000 tentang
tentangKedudukan,
tentang Kedudukan,
Kedudukan,Tugas,
Kedudukan, Tugas,
Tugas,
Tugas, 7. Instansi Pembina Jabatan Fungsional adlah lembaga pemerintah yang bertanggungjawab atas
Fungsi,
Fungsi,
Fungsi, Kewenangan,
Fungsi, Kewenangan,
Kewenangan, Susunan
Kewenangan, Susunan
Susunan Organisasi
Susunan Organisasi
Organisasi dan
Organisasi dandan Tata
dan Tata
Tata Kerja
Tata Kerja
Kerja Lembaga
Kerja Lembaga
Lembaga
Lembaga pembinaan Jabatan Fungsional menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemerintah
Pemerintah
PemerintahNon
Pemerintah Non
NonDepartemen
Non Departemen
Departemensebagaimana
Departemen sebagaimana
sebagaimanatelah
sebagaimana telah
telahdiubah
telah diubah
diubahdengan
diubah dengan
denganKeputusan
dengan Keputusan
Keputusan
Keputusan 8. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut PNS adalah Pegawai sebagaimana dimaksud dalam
Presiden
Presiden
Presiden
Presiden Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 16
16
16
16 Tahun
Tahun
Tahun
Tahun 2001;
2001;
2001;
2001; Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah
13.
13.
13.Keputusan
13. Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor178
Nomor 178
178Tahun
178 Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000tentang
2000 tentang
tentangSusunan
tentang Susunan
SusunanOrganisasi
Susunan Organisasi
Organisasi
Organisasi diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999
dan
dan
danTugas
dan Tugas
TugasLembaga
Tugas Lembaga
LembagaPemerintah
Lembaga Pemerintah
PemerintahNon
Pemerintah Non
NonDepartemen,
Non Departemen,
Departemen,sebagaimana
Departemen, sebagaimana
sebagaimanatelah
sebagaimana telah
telah
telah 9. Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagaimana pejabat fungsional oleh Pejabat yang
diubah
diubah
diubah
diubah dengan
dengan
dengan
dengan Keputusan
Keputusan
Keputusan
Keputusan Presiden
Presiden
Presiden
Presiden Nomor
Nomor
Nomor
Nomor 17
17
1717 Tahun
Tahun
Tahun
Tahun 2001;
2001;
2001;
2001; berwenang dengan tugas, tanggungjawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau memilih
14.
14.
14.Keputusan
14. Keputusan
KeputusanPresiden
Keputusan Presiden
PresidenNomor
Presiden Nomor
Nomor159
Nomor 159
159Tahun
159 Tahun
Tahun2000
Tahun 2000
2000tentang
2000 tentang
tentangBadan
tentang Badan
BadanKepegawaian
Badan Kepegawaian
Kepegawaian
Kepegawaian PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah.
Daerah;
Daerah;
Daerah;
Daerah; 10. Lembaga Diklat Pemerintah adalah satuan organisasi pada Departemen, Lembaga Pemerintah
Non Departemen, Kesekretarisan Lembaga Tertinggi, Tinggi Negara dan Perangkat Pemerintah
MEMUTUSKAN
MEMUTUSKAN
MEMUTUSKAN
MEMUTUSKAN ::: : Daerah yang bertugas melakukan pengelolaan Diklat.
Menetapkan
Menetapkan
Menetapkan::: :
Menetapkan KEPUTUSAN
KEPUTUSAN
KEPUTUSAN KEPALA
KEPUTUSAN KEPALA
KEPALA LEMBAGA
KEPALA LEMBAGA
LEMBAGA ADMINISTRASI
LEMBAGA ADMINISTRASI
ADMINISTRASI NEGARA
ADMINISTRASI NEGARA
NEGARA TENTANG
NEGARA TENTANG
TENTANG
TENTANG 11. Pengelolaan Diklat adalah merupakan proses kegiatan berupa perencanaan, pelaksanaan,
PEDOMAN
PEDOMAN
PEDOMANUMUM
PEDOMAN UMUM
UMUMPENDIDIKAN
UMUM PENDIDIKAN
PENDIDIKANDAN
PENDIDIKAN DAN
DANPELATIHAN
DAN PELATIHAN
PELATIHANJABATAN
PELATIHAN JABATAN
JABATANPEGAWAI
JABATAN PEGAWAI
PEGAWAINEGERI
PEGAWAI NEGERI
NEGERI
NEGERI pengawasan dan pengendalian monitoring dan evaluasi guna meningkatkan
SIPIL.
SIPIL.
SIPIL.
SIPIL. kompetensi/kemampuan PNS dalam suatu jabatan untuk menyelenggarakan pemerintah dan
pembangunan secara efesien dan efektif.
12. Kurikulum adalah susunan mata pendidikan dan pelatihan beserta uraian yang diperlukan untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta Diklat sesuai dengan tujuan dan
sasaran program Diklat.
13. Akreditasi Lembaga Diklat PNS adalah penilaian tingkat kelayakan suatu lembaga Diklat dalam
menyelenggarakan jenis dan jenjang Diklat tertentu.

28
28
28
1828 29
51
4. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional BAB I
Pegawai Negeri Sipil ( Lembaran Negara tahun1994 Nomor 22,Tambahan KETENTUAN UMUM
Lembaran Negara Nomor 3547);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pasal 1
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran
Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
6. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang pedoman Organisasi 1. Pedoman Umum Pendidikan dan Pelatihan ( Diklat ) ini, merupakan acuan umum bagi setiap
Perangkat Daerah ( Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165, Tambahan Lembaga Diklat dalam penyelenggaraan Diklat Pegawai Negeri Sipil ( PNS ).
Lembaran Negara Nomor 4018) ; 2. Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS yang selanjutnya disebut Diklat adalah proses belajar
7. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 Tentang Pengangkatan mengajar guna meningkatkan kompetensi PNS.
Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Structural (Lembaran Negara Tahun 3. Pembinaan Diklat adalah kegiatan yang dilakukan agar penyelenggaraan Diklat, dan capaian
2000 Nomor 12,Tambahan lembaran Negara Nomor 3546); kinerja Diklat sesuai dengan standar kualitas dan sasaran yang ditetapkan.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan 4. Instansi Pembina Diklat yang selanjutnya disebut Instansi Pembina adalah Lembaga Administrasi
Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil ( Lembaran Negara Tahun 2000 Negara yang secara fungsional bertanggung jawab atas pengaturan, koordinasi, dan terjaganya
Nomor 198, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4019 ); kualitas dan produktivitas penyelenggaraan Diklat.
9. Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1972 tentang Tanggung Jawab 5. Pengendalian Diklat adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menjamin keserasian program
Fungsional Pendidikan dan Latihan; Diklat dengan standar kompetensi jabatan Pegawai Negeri Sipil, serta optimalisasi pemanfaatan
10. Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1996 tentang Pendidikan dan Pelatihan lulusannya.
Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil; 6. Instansi Pengendali Diklat yang selanjutnya disebut Instansi Pengendali adalah Badan
11. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Kepegawaian Negara yang secara fungsional bertanggungjawab atas pengembangan dan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil; pengawasan standar kompetensi jabatan serta pengendalian pemanfaatan lulusan Diklat.
12. Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, 7. Instansi Pembina Jabatan Fungsional adlah lembaga pemerintah yang bertanggungjawab
bertanggung Jawab atas
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga pembinaan Jabatan Fungsional menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah dengan Keputusan 8. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut PNS adalah Pegawai sebagaimana dimaksud dalam
Presiden Nomor 16 Tahun 2001; Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah
13. Keputusan Presiden Nomor 178 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999
dan Tugas Lembaga Pemerintah Non Departemen, sebagaimana telah 9. Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagaimana pejabat fungsional oleh Pejabat yang
diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2001; berwenang dengan tugas, tanggung
tanggungjawab,
Jawab wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau memilih
14. Keputusan Presiden Nomor 159 Tahun 2000 tentang Badan Kepegawaian PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah.
Daerah; 10. Lembaga Diklat Pemerintah adalah satuan organisasi pada Departemen, Lembaga Pemerintah
Non Departemen, Kesekretarisan Lembaga Tertinggi, Tinggi Negara dan Perangkat Pemerintah
MEMUTUSKAN : Daerah yang bertugas melakukan pengelolaan Diklat.
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA TENTANG 11. Pengelolaan Diklat adalah merupakan proses kegiatan berupa perencanaan, pelaksanaan,
PEDOMAN UMUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JABATAN PEGAWAI NEGERI pengawasan dan pengendalian monitoring dan evaluasi guna meningkatkan
SIPIL. kompetensi/kemampuan PNS dalam suatu jabatan untuk menyelenggarakan pemerintah dan
pembangunan secara efesien dan efektif.
12. Kurikulum adalah susunan mata pendidikan dan pelatihan beserta uraian yang diperlukan untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta Diklat sesuai dengan tujuan dan
sasaran program Diklat.
13. Akreditasi Lembaga Diklat PNS adalah penilaian tingkat kelayakan suatu lembaga Diklat dalam
menyelenggarakan jenis dan jenjang Diklat tertentu.

28
50 29
19
14. Lembaga Diklat Pemerintah yang terakreditasi adalah unit penyelenggara Diklat Pemerintah yang Pasal 4
mendapatkan pengakuan tertulis secara formal ( sertifikasi ) dari Instansi Pembina untuk (1) Identifikasi kebutuhan Diklat dilakukan melalui analisa kebutuhan Diklat dengan membandingkan
menyelenggarakan Diklat. kompetensi yang dipersyaratkan dalam jabatan dengan kompetensi yang dimiliki pegawai yang
15. Sertifikasi adalah pernyataan tertulis tentang kewenangan Lembaga Diklat untuk bersangkutan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan.
menyelenggarakan jenis dan jenjang Diklat tertentu yang dinyatakan dalam Surat Keputusan (2) Identifikasi kebutuhan Diklat mengungkapkan gambaran kekurangan kompetensi dalam
Instansi Pembina. melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
16. Pengelola Lembaga Diklat pemerintah adalah PNS yang bertugas pada lembaga Diklat instansi (3) Identifikasi kebutuhan Diklat, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatas, merupakan dasar untuk
Pemerintah yang secara fungsional merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan, merancang suatu program Diklat.
memonitor dan mengevaluasi Diklat. (4) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan analisa kebutuhan Diklat, diatur dalam Pedoman
17. Tenaga Kependidikan dan pelatihan lainnya adalah pejabat atau seseorang yang bukan yang ditetapkan oelh Instansi Pembina.
Widyaiswara, bukan pengelola lembaga Diklat pemerintah tetapi karena kemampuan, atau
kedudukannya diikutsertakan dalam kegiatan pencapaian tujuan Diklat.
18. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS, berupa BAB III
wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas PEMBINAAN DAN PENYELENGARAAN DIKLAT
jabatannya.
19. Kompetensi teknis adalah kemampuan PNS dalam bidang-bidang teknis tertentu untuk Pasal 5
pelaksanaan tugas masing-masing. Pembinaan Diklat meliputi kegiatan perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi serta pelaporan
20. Jabatan Fungsional adalah jabatan-jabatan fungsional tertentu sebagaimana ditetapkan dengan Diklat.
Keputusan Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.
21. Peserta Diklat adalah PNS yang ditugaskan/ditetapkan oleh Pimpinan Instansi atau pejabat Pasal 6
pembina kepegawaian untuk mengikuti Diklat dalam rangka meningkatkan kompetensi dan/atau (1) Pembinaan perencanaan Diklat adalah fasilitasi untuk meningkatkan kapasitas dalam menyusun
memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan. rencana Diklat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3).
(2) Pembinaan penyelenggaraan Diklat adalah fasilitasi mengenai pelaksanaan Diklat agar program
Diklat yang direncanakan sesuai dengan standar kualitas, dan dapat mencapai sasaran Diklat yang
BAB II telah ditetapkan.
PERENCANAAN DIKLAT (3) Pembinaan evaluasi Diklat adalah fasilitasi penilaian ketercapaian tujuan dan sasaran Diklat,
agenda pembelajaran, kesesuaian widyaiswara, ketersediaan sarana dan prasarana, serta
Pasal 2
kesesuaian pembiayaan dan kinerja Diklat.
(1) Perencanaan Diklat merupakan kegiatan Pembina PNS yang berorientasi pada peningkatan
(4) Pembinaan pelaporan Diklat adalah fasilitasi penyusunan laporan dan pertanggungjawaban
kompetensi jabatan PNS.
tentang kinerja penyelenggara Diklat.
(2) Perencanaan Diklat didasarkan pada kebutuhan Diklat dan rencana pembinaan karir PNS.
(3) Perencanaan Diklat mencakup penetapan peserta, penentuan tujuan dan sasaran spesifik,
Pasal 7
penentuan jenis dan jenjang Diklat, penetapan agenda pembelajaran, penyiapan widyaiswara,
Penyelenggara Diklat meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Diklat oleh
serta sarana dan prasarana, pembiayaan, evaluasi dan pelaporan.
instansi penyelenggara Diklat kepada pimpinan dan Instansi Pembina.
Pasal 3
(1) Perencanaan kebutuhan
kebuthan Diklat dilakukan oleh unit kerja ( Biro/ Bagian Kepegawaian ) yang secara Pasal 8
fungsional bertanggungjawab
bertanggung Jawab dalam pembinaan kepegawaian. (1) Perencanaan penyelenggaraan Diklat meliputi penetapan jenis dan jenjang Diklat, program Diklat,
(2) Dalam penyusunan rencana kebutuhan Diklat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilibatkan : peserta Diklat, widyaiswara, sarana dan prasarana Diklat, bahan Diklat, jadwal pelaksanaan,
a) Atasan langsung; pembiayaan, dan surat keterangan Diklat.
b) Unit yang secara
scara fungsional bertanggungjawab dalam pengelolaan Diklat;
c) Tim Seleksi Peserta Diklat Instansi (TSPDI );
d) Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (BAPERJAKAT).

30
20 31
49
14. Lembaga Diklat Pemerintah yang terakreditasi adalah unit penyelenggara Diklat Pemerintah yang Pasal 4
mendapatkan pengakuan tertulis secara formal ( sertifikasi ) dari Instansi Pembina untuk (1) Identifikasi kebutuhan Diklat dilakukan melalui analisa kebutuhan Diklat dengan membandingkan
menyelenggarakan Diklat. kompetensi yang dipersyaratkan dalam jabatan dengan kompetensi yang dimiliki pegawai yang
15. Sertifikasi adalah pernyataan tertulis tentang kewenangan Lembaga Diklat untuk bersangkutan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan.
menyelenggarakan jenis dan jenjang Diklat tertentu yang dinyatakan dalam Surat Keputusan (2) Identifikasi kebutuhan Diklat mengungkapkan gambaran kekurangan kompetensi dalam
Instansi Pembina. melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
16. Pengelola Lembaga Diklat pemerintah adalah PNS yang bertugas pada lembaga Diklat instansi (3) Identifikasi kebutuhan Diklat, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatas, merupakan dasar untuk
Pemerintah yang secara fungsional merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan, merancang suatu program Diklat.
memonitor dan mengevaluasi Diklat. (4) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan analisa kebutuhan Diklat, diatur dalam Pedoman
17. Tenaga Kependidikan dan pelatihan lainnya adalah pejabat atau seseorang yang bukan yang ditetapkan oleh
oelh Instansi Pembina.
Widyaiswara, bukan pengelola lembaga Diklat pemerintah tetapi karena kemampuan, atau
kedudukannya diikutsertakan dalam kegiatan pencapaian tujuan Diklat.
18. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS, berupa BAB III
wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas PEMBINAAN DAN PENYELENGARAAN DIKLAT
jabatannya.
19. Kompetensi teknis adalah kemampuan PNS dalam bidang-bidang teknis tertentu untuk Pasal 5
pelaksanaan tugas masing-masing. Pembinaan Diklat meliputi kegiatan perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi serta pelaporan
20. Jabatan Fungsional adalah jabatan-jabatan fungsional tertentu sebagaimana ditetapkan dengan Diklat.
Keputusan Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.
21. Peserta Diklat adalah PNS yang ditugaskan/ditetapkan oleh Pimpinan Instansi atau pejabat Pasal 6
pembina kepegawaian untuk mengikuti Diklat dalam rangka meningkatkan kompetensi dan/atau (1) Pembinaan perencanaan Diklat adalah fasilitasi untuk meningkatkan kapasitas dalam menyusun
memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan. rencana Diklat sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3).
(2) Pembinaan penyelenggaraan Diklat adalah fasilitasi mengenai pelaksanaan Diklat agar program
Diklat yang direncanakan sesuai dengan standar kualitas, dan dapat mencapai sasaran Diklat yang
BAB II telah ditetapkan.
PERENCANAAN DIKLAT (3) Pembinaan evaluasi Diklat adalah fasilitasi penilaian ketercapaian tujuan dan sasaran Diklat,
agenda pembelajaran, kesesuaian widyaiswara, ketersediaan sarana dan prasarana, serta
Pasal 2
kesesuaian pembiayaan dan kinerja Diklat.
(1) Perencanaan Diklat merupakan kegiatan Pembina PNS yang berorientasi pada peningkatan
(4) Pembinaan pelaporan Diklat adalah fasilitasi penyusunan laporan dan pertanggungjawaban
kompetensi jabatan PNS.
tentang kinerja penyelenggara Diklat.
(2) Perencanaan Diklat didasarkan pada kebutuhan Diklat dan rencana pembinaan karir PNS.
(3) Perencanaan Diklat mencakup penetapan peserta, penentuan tujuan dan sasaran spesifik,
Pasal 7
penentuan jenis dan jenjang Diklat, penetapan agenda pembelajaran, penyiapan widyaiswara,
Penyelenggara Diklat meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Diklat oleh
serta sarana dan prasarana, pembiayaan, evaluasi dan pelaporan.
instansi penyelenggara Diklat kepada pimpinan dan Instansi Pembina.
Pasal 3
(1) Perencanaan kebuthan Diklat dilakukan oleh unit kerja ( Biro/ Bagian Kepegawaian ) yang secara Pasal 8
fungsional bertanggungjawab dalam pembinaan kepegawaian. (1) Perencanaan penyelenggaraan Diklat meliputi penetapan jenis dan jenjang Diklat, program Diklat,
(2) Dalam penyusunan rencana kebutuhan Diklat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilibatkan : peserta Diklat, widyaiswara, sarana dan prasarana Diklat, bahan Diklat, jadwal pelaksanaan,
a) Atasan langsung; pembiayaan, dan surat keterangan Diklat.
b) Unit yang scara fungsional bertanggungjawab dalam pengelolaan Diklat;
c) Tim Seleksi Peserta Diklat Instansi (TSPDI );
d) Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (BAPERJAKAT).

30
48 31
21
(2) Pelaksanaan Diklat meliputi keseluruhan proses pembelajaran, serta kegiatan widyaiswara, peserta
dan penyelenggara sesuai posisi, tugas dan fungsi masing-masing. Pasal 13
(3) Evaluasi pelaksanaan Diklat meliputi ketercapaian tujuan dan sasaran Diklat, ketepatan agenda (1) Jenjang Diklat Kepemimpinan terdiri dari :
pembelajaran, kesesuaian widyaiswara dan peserta, ketersediaan sarana dan prasarana Diklat, a. Diklat Kepemimpinan Tingkat IV ( Diklatpim Tingkat IV ) merupakan Diklat untuk mencapai
serta kesesuaian pembiayaan , bahan pelatihan dan metode pembelajaran. persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon
(4) Laporan pelaksanaan Diklat merupakan pertanggungjawaban tentang kinerja Diklat. IV;
b. Diklat Kepemimpinan Tingkat III ( Diklatpim III ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon III;
BAB IV c. Diklat Kepemimpinan Tingkat II ( Diklatpim II ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
JENIS DAN JENJANG DIKLAT kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon II;
d. Diklat Kepemimpinan Tingkat I ( Diklatpim I ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
Pasal 9 kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon I.
Jenis Diklat terdiri dari : (2) Diklat Kepemimpinan tingkat di bawahnya tidak merupakan persyaratan untuk mengikuti Diklat
a. Diklat Prajabatan; Kepemimpinan tingkat diatasnya.
b. Diklat Kepemimpinan; (3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan setiap jenjang Diklatpim diatur dalam Pedoman
c. Diklat Fungsional ; yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina.
d. Diklat Teknis.
Pasal 14
Pasal 10 (1) Diklat Fungsional merupakan Diklat untuk memenuhi ataupun meningkatkan kompetensi PNS yang
(1) Diklat Prajabatan adalah Diklat untuk membentuk wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika akan atau telah menduduki Jabatan Fungsional.
PNS serta memberikan pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara (2) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Diklat Fungsional diatur dalam Pedoman yang
dan tentang bidang tugas serta budaya organisasinya agar mampu melaksanakan tugas jabatan ditetapkan oleh Instansi Pembina, Jabatan Fungsional dengan mengacu pada Pedoman yang
PNS. ditetapkan oleh Instansi pembina.
(2) Diklat Prajabatan merupakan bagian dari persyaratan pengangkatan Calon PNS menjadi PNS.
Pasal 15
Pasal 11 (1) Diklat Teknis merupakan Diklat untuk meningkatkan kompetensi teknis dalam jabatan PNS sesuai
(1) Jenjang Diklat Prajabatan terdiri dari : bidang tugasnya.
a. Diklat Prajabatan Golongan I merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS (2) Program Diklat Teknis dirancang dan ditetapkan oleh Instansi Teknis yang bersangkutan dengan
Golongan I; memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
b. Diklat Prajabatan Golongan II merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS (3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan Diklat Teknis diatur dalam Pedoman yang
Golongan II; ditetapkan oleh Instansi Teknis dengan mengacu pada Pedoman yang telah ditetapakan oleh
c. Diklat Prajabatan Golongan III merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS Instansi Pembina.
Golongan III.
(2) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Diklat Prajabatan diatur dalam Pedoman yang
ditetapkan oleh Instansi Pembina. BAB V
PESERTA DAN TIM SELEKSI DIKLAT
Pasal 12
(1) Diklat Kepemimpinan merupakan Diklat untuk memenuhi atau meningkatkan kompetensi PNS yang Pasal 16
akan atau telah menduduki jabatan struktural. (1) Penetapan peserta Diklat bersifat selektif dan merupakan penugasan Instansi yang bersangkutan
(2) Diklat Kepemimpinan adalah Diklat yang memberikan wawasan, pengetahuan, keahlian, untuk memenuhi persyaratan kompetensi jabatan.
ketrampilan, sikap dan perilaku dalam bidang kepemimpinan aparatur sehingga mencapai (2) Persyaratan umum bagi calon peserta Diklat adalah sebagai berikut :
persyaratan kompetensi kepemimpinan dalam jenjang jabatan struktural tertentu. a. memiliki potensi untuk dikembangkan;

32
22 33
47
(2) Pelaksanaan Diklat meliputi keseluruhan proses pembelajaran, serta kegiatan widyaiswara, peserta
dan penyelenggara sesuai posisi, tugas dan fungsi masing-masing. Pasal 13
(3) Evaluasi pelaksanaan Diklat meliputi ketercapaian tujuan dan sasaran Diklat, ketepatan agenda (1) Jenjang Diklat Kepemimpinan terdiri dari :
pembelajaran, kesesuaian widyaiswara dan peserta, ketersediaan sarana dan prasarana Diklat, a. Diklat Kepemimpinan Tingkat IV ( Diklatpim Tingkat IV ) merupakan Diklat untuk mencapai
serta kesesuaian pembiayaan , bahan pelatihan dan metode pembelajaran. persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon
(4) Laporan pelaksanaan Diklat merupakan pertanggungjawaban tentang kinerja Diklat. IV;
b. Diklat Kepemimpinan Tingkat III ( Diklatpim III ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon III;
BAB IV c. Diklat Kepemimpinan Tingkat II ( Diklatpim II ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
JENIS DAN JENJANG DIKLAT kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon II;
d. Diklat Kepemimpinan Tingkat I ( Diklatpim I ) merupakan Diklat untuk mencapai persyaratan
Pasal 9 kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah dalam Jabatan Struktural Eselon I.
Jenis Diklat terdiri dari : (2) Diklat Kepemimpinan tingkat di bawahnya tidak merupakan persyaratan untuk mengikuti Diklat
a. Diklat Prajabatan; Kepemimpinan tingkat di atasnya.
diatasnya.
b. Diklat Kepemimpinan; (3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan setiap jenjang Diklatpim diatur dalam Pedoman
c. Diklat Fungsional ; yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina.
d. Diklat Teknis.
Pasal 14
Pasal 10 (1) Diklat Fungsional merupakan Diklat untuk memenuhi ataupun meningkatkan kompetensi PNS yang
(1) Diklat Prajabatan adalah Diklat untuk membentuk wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika akan atau telah menduduki Jabatan Fungsional.
PNS serta memberikan pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara (2) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Diklat Fungsional diatur dalam Pedoman yang
dan tentang bidang tugas serta budaya organisasinya agar mampu melaksanakan tugas jabatan ditetapkan oleh Instansi Pembina, Jabatan Fungsional dengan mengacu pada Pedoman yang
PNS. ditetapkan oleh Instansi pembina.
(2) Diklat Prajabatan merupakan bagian dari persyaratan pengangkatan Calon PNS menjadi PNS.
Pasal 15
Pasal 11 (1) Diklat Teknis merupakan Diklat untuk meningkatkan kompetensi teknis dalam jabatan PNS sesuai
(1) Jenjang Diklat Prajabatan terdiri dari : bidang tugasnya.
a. Diklat Prajabatan Golongan I merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS (2) Program Diklat Teknis dirancang dan ditetapkan oleh Instansi Teknis yang bersangkutan dengan
Golongan I; memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
b. Diklat Prajabatan Golongan II merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS (3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan Diklat Teknis diatur dalam Pedoman yang
Golongan II; ditetapkan oleh
ditetapkan oleh Instansi Teknis dengan mengacu pada Pedoman yang telah ditetapakan
c. Diklat Prajabatan Golongan III merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS Instansi Pembina.
Golongan III.
(2) Hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Diklat Prajabatan diatur dalam Pedoman yang
ditetapkan oleh Instansi Pembina. BAB V
PESERTA DAN TIM SELEKSI DIKLAT
Pasal 12
(1) Diklat Kepemimpinan merupakan Diklat untuk memenuhi atau meningkatkan kompetensi PNS yang Pasal 16
akan atau telah menduduki jabatan struktural. (1) Penetapan peserta Diklat bersifat selektif dan merupakan penugasan Instansi yang bersangkutan
(2) Diklat Kepemimpinan adalah Diklat yang memberikan wawasan, pengetahuan, keahlian, untuk memenuhi persyaratan kompetensi jabatan.
ketrampilan, sikap dan perilaku dalam bidang kepemimpinan aparatur sehingga mencapai (2) Persyaratan umum bagi calon peserta Diklat adalah sebagai berikut :
persyaratan kompetensi kepemimpinan dalam jenjang jabatan struktural tertentu. a. memiliki potensi untuk dikembangkan;

32
46 33
23
b. memliki motivasi tinggi untuk pengembangan diri; (2) Kurikulum Diklatpim Tingkat IV, Diklatpim Tingkat III, Diklatpim Tingkat II, dan Diklatpim Tingkat I
c. mampu menjaga reputasi dan kredibilitas sebagai PNS; disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.
d. memiliki dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan organisasi; (3) Kurikulum Diklat Fungsional disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina Jabatan Fungsional
e. berprestasi baik dalam melaksanakan tugas; dengan mengacu pada Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
f. sehat jasmani dan rohani. (4) Kurikulum Diklat Teknis disusun dan ditetapkan oleh Instansi Teknis yang bersangkutan dengan
(3) Persyaratan khusus bagi calon peserta Diklat diatur lebih lanjut dalam Pedoman Diklat yang mengacu pada Pedoman yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina.
bersangkutan. (5) Kurikulum Program PEN disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.

Pasal 17 Pasal 21
(1) Seleksi peserta Diklat dilakukan oleh Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat ) (1) Metode Diklat menggunakan cara pembelajaran bagi orang dewasa (ondragogi), serta disesuaikan
bersama Tim Seleksi Peserta Diklat Instansi (TSPDI) dan ditetapkan oleh Pejabat Pembina dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang menggambarkan :
Kepegawaian. a. kebutuhan praktis dan pengembangan diri peserta;
(2) Tata cara seleksi dan penetapan peserta Diklat diatur dalam Pedoman Penyelenggara Diklat yang b. interaktif antara peserta dengan widyaiswara dan antar peserta;
bersangkutan. c. suasana belajar orang dewasa yang menyenangkan, dinamis dan fleksibel.
(2) Metode Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan dalam bentuk kegiatan
Pasal 18 pembelajaran :
(1) PNS yang telah memiliki keseluruhan dan/atau sebagian kompetensi dalam suatu suatau jabatan a. ceramah;
struktural tertentu dapat dibebaskan untuk tidak mengikuti secara keseluruhan dan/atau sebagian b. diskusi;
program Diklat yang bersangkutan dengan ditandai pemberian "Sertifikat” berdasarkan Pedoman c. praktek/latihan;
yang ditetapkan oleh Instansi Pembina dan Instansi Pengendali. d. studi banding;
(2) PNS yang telah memiliki keseluruhan dan/atau sebagian kompetensi dalam suatu jabatan e. studi kasus;
fungsional tertentu dapat dibebaskan untuk tidak mengikuti secara keseluruhan dan/atau sebagian f. simulasi
program Diklat yang bersangkutan dengan ditandai pemberian “Sertifikat” berdasarkan Pedoman g. bermain peran;
yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina, Instansi Pengendali dan Instansi Pembina Jabatan h. belajar dengan menggunakan media.
Fungsional yang bersangkutan. (3) Metode Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , dipilih dan diterapkan secara seimbang pada
setiap proses Diklat.

BAB VI
KURIKULUM DAN METODE DIKLAT BAB VII
WIDYAISWARA
Pasal 19
(1) Kurikulum Diklat PNS disusun berdasarkan kebutuhan kompetensi untuk suatu jabatan PNS. Pasal 22
(2) Setiap jenis jenjang Diklat mempunyai Tujuan Kurikulum Umum (TKU) dan Tujuan Kurikuler (1) Seseorang yang dapat ditugasi memberikan fasilitasi dalam agenda pembelajaran Diklat PNS,
Khusus (TKK) yang mengacu pada kompetensi jabatan. terdiri dari Widyaiswara dan Widyaiswara Luar Biasa.
(3) Kurikulum Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat struktural kurikulum, mata-mata (2) Penugasan Widyaiswara dan/atau Widyaiswara Luar Biasa dalam suatu jenis, jenjang dan program
Diklat, dan ringkasan materi dari setiap mata Diklat yang terdiri dari deskripsi singkat, Tujuan Diklat tertentu didasarkan pada :
Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), pokok bahasan, waktu (sesi dan jam a. kesesuaian penguasaan materi;
metode.
pelajaran) dan metoda. b. kesesuaian penguasaan metodologi;
c. mempunyai kredibilitas, dedikasi dan reputasi yang baik.
Pasal 20 (3) Tugas, Kewajiban dan pendayagunaan Widyaiswara untuk setiap jenis, jenjang dan program Diklat
(1) Kurikulum Diklat Prajabatan Golongan I, Prajabatan Golongan II, dan Prajabatan Golongan III tertentu mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.
disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.

34
24 35
45
b. memliki motivasi tinggi untuk pengembangan diri; (2) Kurikulum Diklatpim Tingkat IV, Diklatpim Tingkat III, Diklatpim Tingkat II, dan Diklatpim Tingkat I
c. mampu menjaga reputasi dan kredibilitas sebagai PNS; disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.
d. memiliki dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan organisasi; (3) Kurikulum Diklat Fungsional disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina Jabatan Fungsional
e. berprestasi baik dalam melaksanakan tugas; dengan mengacu pada Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
f. sehat jasmani dan rohani. (4) Kurikulum Diklat Teknis disusun dan ditetapkan oleh Instansi Teknis yang bersangkutan dengan
(3) Persyaratan khusus bagi calon peserta Diklat diatur lebih lanjut dalam Pedoman Diklat yang mengacu pada Pedoman yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina.
bersangkutan. (5) Kurikulum Program PEN disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.

Pasal 17 Pasal 21
(1) Seleksi peserta Diklat dilakukan oleh Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat ) (1) Metode Diklat menggunakan cara pembelajaran bagi orang dewasa (andragogi)
(ondragogi), serta disesuaikan
bersama Tim Seleksi Peserta Diklat Instansi (TSPDI) dan ditetapkan oleh Pejabat Pembina dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang menggambarkan :
Kepegawaian. a. kebutuhan praktis dan pengembangan diri peserta;
(2) Tata cara seleksi dan penetapan peserta Diklat diatur dalam Pedoman Penyelenggara Diklat yang b. interaktif antara peserta dengan widyaiswara dan antar peserta;
bersangkutan. c. suasana belajar orang dewasa yang menyenangkan, dinamis dan fleksibel.
(2) Metode Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan dalam bentuk kegiatan
Pasal 18 pembelajaran :
(1) PNS yang telah memiliki keseluruhan dan/atau sebagian kompetensi dalam suatau jabatan a. ceramah;
struktural tertentu dapat dibebaskan untuk tidak mengikuti secara keseluruhan dan/atau sebagian b. diskusi;
program Diklat yang bersangkutan dengan ditandai pemberian "Sertifikat” berdasarkan Pedoman c. praktek/latihan;
yang ditetapkan oleh Instansi Pembina dan Instansi Pengendali. d. studi banding;
(2) PNS yang telah memiliki keseluruhan dan/atau sebagian kompetensi dalam suatu jabatan e. studi kasus;
fungsional tertentu dapat dibebaskan untuk tidak mengikuti secara keseluruhan dan/atau sebagian f. simulasi ;
program Diklat yang bersangkutan dengan ditandai pemberian “Sertifikat” berdasarkan Pedoman g. bermain peran;
yang telah ditetapkan oleh Instansi Pembina, Instansi Pengendali dan Instansi Pembina Jabatan h. belajar dengan menggunakan media.
Fungsional yang bersangkutan. (3) Metode Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , dipilih dan diterapkan secara seimbang pada
setiap proses Diklat.

BAB VI
KURIKULUM DAN METODE DIKLAT BAB VII
WIDYAISWARA
Pasal 19
(1) Kurikulum Diklat PNS disusun berdasarkan kebutuhan kompetensi untuk suatu jabatan PNS. Pasal 22
(2) Setiap jenis jenjang Diklat mempunyai Tujuan Kurikulum Umum (TKU) dan Tujuan Kurikuler (1) Seseorang yang dapat ditugasi memberikan fasilitasi dalam agenda pembelajaran Diklat PNS,
Khusus (TKK) yang mengacu pada kompetensi jabatan. terdiri dari Widyaiswara dan Widyaiswara Luar Biasa.
(3) Kurikulum Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat struktural kurikulum, mata-mata (2) Penugasan Widyaiswara dan/atau Widyaiswara Luar Biasa dalam suatu jenis, jenjang dan program
Diklat, dan ringkasan materi dari setiap mata Diklat yang terdiri dari deskripsi singkat, Tujuan Diklat tertentu didasarkan pada :
Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), pokok bahasan, waktu (sesi dan jam a. kesesuaian penguasaan materi;
pelajaran) dan metoda. b. kesesuaian penguasaan metodologi;
c. mempunyai kredibilitas, dedikasi dan reputasi yang baik.
Pasal 20 (3) Tugas, Kewajiban dan pendayagunaan Widyaiswara untuk setiap jenis, jenjang dan program Diklat
(1) Kurikulum Diklat Prajabatan Golongan I, Prajabatan Golongan II, dan Prajabatan Golongan III tertentu mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.
disusun dan ditetapkan oleh Instansi Pembina.

34
44 35
25
BAB VIII BAB X
PENGELOLA LEMBAGA DIKLAT PEMERINTAH SARANA DAN PRASARANA DIKLAT

Pasal 23 Pasal 28
(1) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah adalah PNS yang bertugas pada lembaga lembag Diklat instansi (1) Sarana dan Prasarana Diklat merupakan alat bantu dan fasilitas penunjang yang digunakan untuk
pemerintah yang secara fungsional mengelola Diklat pada instansi yang bersangkutan. menjamin efektifitas agenda pembelajaran.
(2) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah mempunyai tugas dan kewajiban mengelola serta (2) Sarana dan Prasarana Diklat dapat dimiliki sendiri dan/ atau memanfaatkan sarana dan prasarana
mengembangkan kapasitas kelembagaan, program, SDM Penyelenggara dan Widyaiswara. Diklat Lembaga Diklat instansi lain dengan memperhatikan kesesuaian standar persyaratan setiap
(3) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah dalam mengembangkan kapasitas kelembagaan, program, jenis, jenjang dan program Diklat serta jumlah peserta Diklat.
SDM Penyelenggara dan Widyaiswara dapat melakukan kerjasama dengan lembaga kediklatan (3) Sarana dan Prasarana Diklat yang dimiliki oleh setiap instansi dapat didayagunakan secara optimal
lainnya. baik oleh lembaga Diklat Instansi yang bersangkutan maupun lembaga-lembaga Diklat Instansi
lainnya dengan dukungan Sistem Informasi Diklat PNS yang dikembangkan oleh Instansi Pembina.
(4) Hal-hal yang berkenaan dengan sarana dan prasarana Diklat diatur dalam Pedoman yang
BAB IX ditetapkan oleh Instansi Pembina.
PENYELENGGARAAN DIKLAT

Pasal 24 BAB XI
(1) Diklat dapat diselenggarakan secara klasikal dan/atau non klasikal; PEMBIAYAAN DIKLAT
(2) Penyelenggara Diklat secara klasikal dilakukan dengan tatap muka;
(3) Penyelenggara Diklat secara non klasikal dapat dilakukan dengan pelatihan di alam bebas, Pasal 29
pelatihan di tempat kerja, dan pelatihan dengan sistem jarak jauh; (1) Pembiayaan Diklat bersumber dari :
(4) Cara penyelenggara untuk setiap jenis, jenjang dan program tertentu diatur dalam Pedoman a. Anggaran Belanja Rutin;
Penyelenggara Diklat yang bersangkutan. b. Anggaran Belanja Pembangunan;
c. Swadana;
Pasal 25 d. Hibah dan/atau Bantuan Luar Negeri;
Penyelenggara Diklat Prajabatan dan Diklatpim Tingkat IV, III, dan II diatur dalam Pedoman yang e. Sumber lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan oleh Instansi Pembina dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang berlaku.
terakreditasi. (2) Penyusunan dan penggunaan pembiayaan program Diklat dilakukan oleh Lembaga Diklat
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan prinsip
Pasal 26 efesiensi dan efektifitas penyelenggara Diklat.
Diklatpim Tingkat I dan program Pengembangan Eksekutif Nasional diatur dalam Pedoman yang
ditetapkan dan diselenggarakan oleh Instansi Pembina.
BAB XII
Pasal 27 AKREDITASI DAN SERTIFIKASI LEMBAGA DIKLAT
(1) Penyelenggara Diklat Fungsional diatur dalam Pedoman Penyelenggara yang ditetapkan oleh
Instansi Pembina Jabatan Fungsional dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang Pasal 30
terakreditasi. (1) Akreditasi dan Sertifikasi Lembaga Diklat merupakan penilaian dan pengakuan formal mengenai
(2) Penyelenggara Diklat Teknis diatur dalam Pedoman Penyelenggaraan yang ditetapkan oleh kelayakan suatu lembaga Diklat untuk melaksanakan kegiatan Diklat tertentu.
Instansi Teknis yang bersangkutan dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang (2) Penilaian kelayakan Lembaga Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur
terakreditasi. Kelembagaan Diklat, Program Diklat, Widyaiswara, dan Sumber Daya Manusia Penyelenggara
Diklat.

36
26 37
43
BAB VIII BAB X
PENGELOLA LEMBAGA DIKLAT PEMERINTAH SARANA DAN PRASARANA DIKLAT

Pasal 23 Pasal 28
(1) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah adalah PNS yang bertugas pada lembag Diklat instansi (1) Sarana dan Prasarana Diklat merupakan alat bantu dan fasilitas penunjang yang digunakan untuk
pemerintah yang secara fungsional mengelola Diklat pada instansi yang bersangkutan. menjamin efektifitas agenda pembelajaran.
(2) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah mempunyai tugas dan kewajiban mengelola serta (2) Sarana dan Prasarana Diklat dapat dimiliki sendiri dan/ atau memanfaatkan sarana dan prasarana
mengembangkan kapasitas kelembagaan, program, SDM Penyelenggara dan Widyaiswara. Diklat Lembaga Diklat instansi lain dengan memperhatikan kesesuaian standar persyaratan setiap
(3) Pengelola Lembaga Diklat Pemerintah dalam mengembangkan kapasitas kelembagaan, program, jenis, jenjang dan program Diklat serta jumlah peserta Diklat.
SDM Penyelenggara dan Widyaiswara dapat melakukan kerjasama dengan lembaga kediklatan (3) Sarana dan Prasarana Diklat yang dimiliki oleh setiap instansi dapat didayagunakan secara optimal
lainnya. baik oleh lembaga Diklat Instansi yang bersangkutan maupun lembaga-lembaga Diklat Instansi
lainnya dengan dukungan Sistem Informasi Diklat PNS yang dikembangkan oleh Instansi Pembina.
(4) Hal-hal yang berkenaan dengan sarana dan prasarana Diklat diatur dalam Pedoman yang
BAB IX ditetapkan oleh Instansi Pembina.
PENYELENGGARAAN DIKLAT

Pasal 24 BAB XI
(1) Diklat dapat diselenggarakan secara klasikal dan/atau non klasikal; PEMBIAYAAN DIKLAT
(2) Penyelenggara Diklat secara klasikal dilakukan dengan tatap muka;
(3) Penyelenggara Diklat secara non klasikal dapat dilakukan dengan pelatihan di alam bebas, Pasal 29
pelatihan di tempat kerja, dan pelatihan dengan sistem jarak jauh; (1) Pembiayaan Diklat bersumber dari :
(4) Cara penyelenggara untuk setiap jenis, jenjang dan program tertentu diatur dalam Pedoman a. Anggaran Belanja Rutin;
Penyelenggara Diklat yang bersangkutan. b. Anggaran Belanja Pembangunan;
c. Swadana;
Pasal 25 d. Hibah dan/atau Bantuan Luar Negeri;
Penyelenggara Diklat Prajabatan dan Diklatpim Tingkat IV, III, dan II diatur dalam Pedoman yang e. Sumber lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan oleh Instansi Pembina dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang berlaku.
terakreditasi. (2) Penyusunan dan penggunaan pembiayaan program Diklat dilakukan oleh Lembaga Diklat
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan prinsip
Pasal 26 efesiensi dan efektifitas penyelenggara Diklat.
Diklatpim Tingkat I dan program Pengembangan Eksekutif Nasional diatur dalam Pedoman yang
ditetapkan dan diselenggarakan oleh Instansi Pembina.
BAB XII
Pasal 27 AKREDITASI DAN SERTIFIKASI LEMBAGA DIKLAT
(1) Penyelenggara Diklat Fungsional diatur dalam Pedoman Penyelenggara yang ditetapkan oleh
Instansi Pembina Jabatan Fungsional dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang Pasal 30
terakreditasi. (1) Akreditasi dan Sertifikasi Lembaga Diklat merupakan penilaian dan pengakuan formal mengenai
(2) Penyelenggara Diklat Teknis diatur dalam Pedoman Penyelenggaraan yang ditetapkan oleh kelayakan suatu lembaga Diklat untuk melaksanakan kegiatan Diklat tertentu.
Instansi Teknis yang bersangkutan dan diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Pemerintah yang (2) Penilaian kelayakan Lembaga Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur
terakreditasi. Kelembagaan Diklat, Program Diklat, Widyaiswara, dan Sumber Daya Manusia Penyelenggara
Diklat.

36
42 37
27
BAB XIII (2) Evaluasi Diklat dilakukan terhadap antara lain :
SURAT KETERANGAN DIKLAT a. Kurikulum;
b. Peserta;
Pasal 31 c. Widyaiswara;
(1) Kepada setiap peserta Diklat, penyelenggara dan Widyaiswara diberikan “Surat Keterangan Diklat”. d. Pembiayaan Diklat;
(2) Surat Keterangan Diklat sebagaiamana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : e. Saran dan Prasarana;
a. Surat Tanda Tamat Pendidikan Dan Pelatihan ( STTPP ); f. Penyelenggara;
b. Sertifikasi; g. Bahan Diklat;
c. Piagam. h. Metode Diklat
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan Surat Keterangan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) i. Jangka Waktu.
diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina. (3) Hal-hal yang berkenaan dengan evaluasi Diklat diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh
Instansi Pembina.

BAB XIV Pasal 34


SISTEM INFORMASI DIKLAT (1) Laporan Diklat merupakan media pertanggungjawaban yang mengemukakan informasi tentang
perkembangan pelaksanaan dan tingkat capaian kinerja, disertai analisis keberhasilan yang dicapai
Pasal 32 ataupun kelemahan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan Diklat.
(1) Sistem Informasi Diklat (SID) merupakan media infomasi pada penyelenggara Diklat yang (2) Laporan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
meliputi : a. Kurikulum;
a. jenis, jenjang dan program diklat; b. Peserta;
b. kepesertaan dalam suatu program diklat; c. Widyaiswara;
c. kalender penyelenggaraan program diklat; d. Pembayaan Diklat;
d. widyaiswara; e. Saran dan Prasarana;
e. sumber daya manusia penyelenggara diklat; f. Penyelenggara;
f. sarana dan prasarana diklat; g. Bahan Diklat;
g. bahan dan/atau modul-modul diklat: h. Metode Diklat;
h. lembaga diklat yang terakreditasi: i. Jangka Waktu.
i. alumni diklat. (3) Hal-hal yang berkenaan dengan laporan Diklat diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh
(2) Setiap Lembaga Diklat yang terakreditasi, menyampaikan pokok-pokok informasi Diklat di Instansi Instansi Pembina.
yang bersangkutan kepada Instansi Pembina untuk digunakan sebagai bahan dalam rangka
pengembangan Sitem Informasi Diklat PNS.
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikelola oleh lembaga-lembaga Diklat
(3) Sitem Informasi Diklat sebagaiaman BAB XVI
Instansi bersama Instansi Pembina dan dapat diakses oleh setiap Lembaga Diklat. PROGRAM PENGEMBANGAN EKSEKUTIF NASIONAL

Pasal 35
BAB XV (1) Program Pengembangan Eksekutif Nasinal (ProgramPEN) adalah media pembelajaran unutk
EVALUASI DAN PELAPORAN DIKLAT membangun konsesus, komitmen, kesamaan pandangan dan persepsi mengenai visi, misi dan
strategi tentang kebijakan nasional serta pengembangan alternatif langkah-langkah kebijakan
Pasal 33 dalam menghadapi masalah-masalah aktual; dan untuk membangun kompetensi kenegarawanan
(1) Evaluasi Diklat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Diklat Instansi yang peserta.
bersangkutan dan/ atau Instansi Pembina untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan dan (2) Peserta Program PEN adalah pejabat struktural Eselon I dan/atau sederajat, serta pejabat politis
tingkat capaian kinerja penyelenggara Diklat. tertentu.

38
28 39
41
BAB XIII (2) Evaluasi Diklat dilakukan terhadap antara lain :
SURAT KETERANGAN DIKLAT a. Kurikulum;
b. Peserta;
Pasal 31 c. Widyaiswara;
(1) Kepada setiap peserta Diklat, penyelenggara dan Widyaiswara diberikan “Surat Keterangan Diklat”. d. Pembiayaan Diklat;
(2) Surat Keterangan Diklat sebagaiamana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : e. Saran dan Prasarana;
a. Surat Tanda Tamat Pendidikan Dan Pelatihan ( STTPP ); f. Penyelenggara;
b. Sertifikasi; g. Bahan Diklat;
c. Piagam. h. Metode Diklat
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan Surat Keterangan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) i. Jangka Waktu.
diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina. (3) Hal-hal yang berkenaan dengan evaluasi Diklat diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh
Instansi Pembina.

BAB XIV Pasal 34


SISTEM INFORMASI DIKLAT (1) Laporan Diklat merupakan media pertanggungjawaban yang mengemukakan informasi tentang
perkembangan pelaksanaan dan tingkat capaian kinerja, disertai analisis keberhasilan yang dicapai
Pasal 32 ataupun kelemahan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan Diklat.
(1) Sistem Informasi Diklat (SID) merupakan media infomasi pada penyelenggara Diklat yang (2) Laporan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
meliputi : a. Kurikulum;
a. jenis, jenjang dan program diklat; b. Peserta;
b. kepesertaan dalam suatu program diklat; c. Widyaiswara;
c. kalender penyelenggaraan program diklat; d. Pembayaan Diklat;
d. widyaiswara; e. Saran dan Prasarana;
e. sumber daya manusia penyelenggara diklat; f. Penyelenggara;
f. sarana dan prasarana diklat; g. Bahan Diklat;
g. bahan dan/atau modul-modul diklat: h. Metode Diklat;
h. lembaga diklat yang terakreditasi: i. Jangka Waktu.
i. alumni diklat. (3) Hal-hal yang berkenaan dengan laporan Diklat diatur dalam Pedoman yang ditetapkan oleh
(2) Setiap Lembaga Diklat yang terakreditasi, menyampaikan pokok-pokok informasi Diklat di Instansi Instansi Pembina.
yang bersangkutan kepada Instansi Pembina untuk digunakan sebagai bahan dalam rangka
pengembangan Sitem Informasi Diklat PNS.
(3) Sitem Informasi Diklat sebagaiaman dimaksud pada ayat (1), dikelola oleh lembaga-lembaga Diklat BAB XVI
Instansi bersama Instansi Pembina dan dapat diakses oleh setiap Lembaga Diklat. PROGRAM PENGEMBANGAN EKSEKUTIF NASIONAL

Pasal 35
BAB XV (1) Program Pengembangan Eksekutif Nasinal (ProgramPEN) adalah media pembelajaran unutk
EVALUASI DAN PELAPORAN DIKLAT membangun konsesus, komitmen, kesamaan pandangan dan persepsi mengenai visi, misi dan
strategi tentang kebijakan nasional serta pengembangan alternatif langkah-langkah kebijakan
Pasal 33 dalam menghadapi masalah-masalah aktual; dan untuk membangun kompetensi kenegarawanan
(1) Evaluasi Diklat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Diklat Instansi yang peserta.
bersangkutan dan/ atau Instansi Pembina untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan dan (2) Peserta Program PEN adalah pejabat struktural Eselon I dan/atau sederajat, serta pejabat politis
tingkat capaian kinerja penyelenggara Diklat. tertentu.

38
40 39
29
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan program PEN diatur dalam pedoaman yang BAB XIX
ditetapkan oleh Instansi Pembina. PENUTUP

Pasal 38
BAB XVII (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan ditetapkan dengan keputusan tersendiri.
KETENTUAN LAIN-LAIN (2) Dengan berlakunya Pedoman ini, maka Pedoman Umum Penyelenggaraan Diklat Jabatan PNS
yang diatur dalam Keputusan Ketua LAN Nomor 304 A/IX/6/4/1995 dan ketentuan lainnya yang
Pasal 36 bertentangan dengan pedoman ini, dinyatakan tidak berlaku lagi.
(1) Suatu program Diklat PNS dapat diikuti oleh pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan (3) Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Usaha Milik Daerah (BUMD) dan peserta dari negara-negara sahabat sebagai suatu bentuk
kerjasama.
(2) Bagi Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Anggota Kepolisian Republik Indonesia
(POLRI) yang telah menduduki Jabatan Struktural PNS wajib mengikuti Diklat sebagaimana yang
dipersyaratkan bagi PNS. Ditetapkan di : Jakarta
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Pada tanggal : 30 Maret 2001
Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
KEPALA
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
BAB XVIII
KETENTUAN PERALIHAN ttd

Pasal 37 MUSTOPADIDJAJA AR
(1) Pada saat berlakunya Pedoman ini, semua Pedoman yang mengatur tentang penyelenggaraan
program Diklat Jabatan PNS yang telah ada, sepanjang tidak bertentangan, belum diubah atau
diatur kembali dengan Pedoman yang baru, dinyatakan tetap berlaku.
(2) Lembaga Diklat Pemerintah yang belum terakreditasi tetap dapat menyelenggarakan Diklat sampai
adanya penetapan akreditasi oleh Instansi Pembina.

40
30 41
39
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan program PEN diatur dalam pedoaman yang BAB XIX
ditetapkan oleh Instansi Pembina. PENUTUP

Pasal 38
BAB XVII (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan ditetapkan dengan keputusan tersendiri.
KETENTUAN LAIN-LAIN (2) Dengan berlakunya Pedoman ini, maka Pedoman Umum Penyelenggaraan Diklat Jabatan PNS
yang diatur dalam Keputusan Ketua LAN Nomor 304 A/IX/6/4/1995 dan ketentuan lainnya yang
Pasal 36 bertentangan dengan pedoman ini, dinyatakan tidak berlaku lagi.
(1) Suatu program Diklat PNS dapat diikuti oleh pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan (3) Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Usaha Milik Daerah (BUMD) dan peserta dari negara-negara sahabat sebagai suatu bentuk
kerjasama.
(2) Bagi Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Anggota Kepolisian Republik Indonesia
(POLRI) yang telah menduduki Jabatan Struktural PNS wajib mengikuti Diklat sebagaimana yang
dipersyaratkan bagi PNS. Ditetapkan di : Jakarta
(3) Hal-hal yang berkenaan dengan Diklat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Pada tanggal : 30 Maret 2001
Pedoman yang ditetapkan oleh Instansi Pembina.
KEPALA
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
BAB XVIII
KETENTUAN PERALIHAN ttd

Pasal 37 MUSTOPADIDJAJA AR
(1) Pada saat berlakunya Pedoman ini, semua Pedoman yang mengatur tentang penyelenggaraan
program Diklat Jabatan PNS yang telah ada, sepanjang tidak bertentangan, belum diubah atau
diatur kembali dengan Pedoman yang baru, dinyatakan tetap berlaku.
(2) Lembaga Diklat Pemerintah yang belum terakreditasi tetap dapat menyelenggarakan Diklat sampai
adanya penetapan akreditasi oleh Instansi Pembina.

40
38 41
31
Petunjuk Pelaksanaan keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Menteri Kesehatan
dan Kesejahteraan Sosial dan Kepala Badan Kepegawaian Negara.
Pasal 31
Apabila ada perubahan mendasar, sehingga dimggap tidak sesuai lagi dengan
ketentuan dalam keputusan ini dapat diadakan peninjauan kembali.
Pasal 32
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan : di Jakarta
Pada tanggal : 4 April 2001

MENTERI NEGARA
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
PELAKSANA TUGAS,

MARSILAM SIMANDJUNTAK

32 37
Pasal 27
Nutrisionis diberhentikan dari jabatannya apabila:
KUMPULAN
1. Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat 1, tidak dapat mengumpulkan KEPUTUSAN TENTANG
angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi;
atau JABATAN FUNGSIONAL NUTRlSlONlS
2. Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari
jabatannya sebagaimana di maksud dalam Pasal 25 ayat 2, tidak dapat
mengumpulkan angka kredit yang ditentukan; atau
3. Dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil dengan tingkat hukuman
disiplin berat dan telah mempunyai ekuatan hukum tetap, kecuali hukuman
disiplin berat berupa penurunan pangkat.

BAB XI
PERPINDAHAN JABATAN
Pasal 28
Untuk kepentingan dinas dan atau menambah pengetahuan, pengalaman dan
pengembangan karier, Nutrisionis dapat dipindahkan kerjabatan struktural atau
jabatan fungsional lainnya sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Pasal 29
Nutrisionis Terampil yang memperoleh gelar Sarjana (S1)/ Diploma IV dapat
diangkat dalam jabatan Nutrisionis Ahli apabila
1. Ijazah yang diperoleh sesuai dengan kualifikasi Jabatan Nutrisionis Ahli;
2. Telah memperoleh sertifikat penyesuaian dalam jabatan Nutrisionis Ahli.

BAB XII KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PENUTUP DIREKTORAT JENDERAL BlNA GlZl DAN KIA

Pasal 30 DIREKTORAT BlNA GlZl


2014
36
Nutrisionis dibebaskan sementara dari jabatannya, apabila:
1. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak diangkat dalam pangkat terakhir
tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi bagi :
a. Wutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur golongan ruang Wc sampai
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA dengan Nutrisionis Penyelia pangkat Penata golongan ruang III/c;
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA b. Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda golongan ruarig III/a sampai
dengan Nutrisionis Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang
IV/b; atau
NOMOR : 23/KEP/M.PAN/4/2001
2. Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diangkat dalam pangkat terakhir
TANGGAL : 4 APRIL 2001 tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya:
a. 10 (sepuluh) bagi Nutrisionis Penyelia pangkat Penata Tingkat I
golongan ruang II/d.

b. 20 (dua puluh) bagi Nutrisionis Madya pangkat Pembina Utama Muda


golongan ruang IV/c; atau
TENTANG 3. Ditugaskan secara penuh di luar jabatan Nutrisionis; atau
JABATAN FUNGSIONAL NUTRlSlONlS 4. Tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan; atau

DAN ANGKA KREDITNYA 5. Dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil dengan tingkat hukuman
disiplin sedang atau berat; atau
6. Diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil; atau
7. Cuti di luar tanggungan negara.
BUKU : I Pasal 26
(1) Nutrisionis yang telah selesai menjalani pembebasan sementara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25, dapat diangkat kembali pada jabatan semula.
(2) Nutrisionis yang telah diangkat kembali dalam jabatan semula sebagaimana
dimaksud dalam ayat (I), dapat menggunakan angka kredit terakhir yang
dimiliki dan dari prestasi baru di bidang pelayanan gizi, makanan dan
dietetik yang diperoleh selama tidak menduduki jabatan Nutrisionis setelah
ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

35
Nutrisionis Ahli harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berijazah serendah rendahnya Sarjana (S1) / Diploma IV Gizi.

b. Pangkat serendah rendahnya Penata Muda golongan ruang IIIa;

c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bemilai baik Cetakan I Tahun 2003
dalam 2 (dua) tahun terakhir. Cetakan II Tahun 2006
(3) Untuk menentukan jenjang jabatan Nutrisionis sebagaimana dimaksud Cetakan III Tahun 2008
dalam ayat (1) dan ayat (2), digunakan angka kredit yang berasal dari
pendidikan, pelayanan gizi, makanan dan dietetik, pengembangan profesi Cetakan IV Tahun 2014
dan penunjang kegiatan Nutrisionis setelah ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang menetapkan angka kredit.
Pasal 24
(1) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dari jabatan lain ke dalam jabatan
Nutrisionis dapat dipertimbangkan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal23
ayat (1) atau ayat (2);

b. Memiliki pengalaman dalam pelayanan gizi, makanan dan dietetik


sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun;

c. Usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai usia pensiun


dari jabatan terakhir yang didudukinya.

(2) Pangkat yang ditetapkan bagi Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) adalah sama dengan pangkat yang dimilikinya dan jenjang
jabatan Nutrisionis ditetapkan sesuai dengan angka kredit yang dimiliki
Pegawai Negeri Sipil yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
menetapkan angka kredit.
BAB X
PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN
KEMBALI DAN PEMBERHENTIAN JABATAN
Pasal 25

34
1. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana (Sl)/Diploma IV;

2. Pangkat serendah rendahnya Penata Muda golongan ruang III/a;

3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang kurangnya bemilai


baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;

(2) Angka kredit kumulatif untuk penyesuaian dalam jabatan Nutrisionis


sebagaimana dimaksud dalam ayat (I), adalah :
a. Untuk Nutrisionis Terampil sebagaimana tersebut pada Lampiran V
Keputusan ini;

b. Untuk Nutrisionis Ahli sebagaimana tersebut pada Lampiran VI


Keputusan ini.

BAB IX
SYARAT PENGANGKATAN DALAM JABATAN
Pasal 22
(1) Untuk dapat diangkat dalam jabatan Nutrisionis, seorang Pegawai Negeri
Sipil harus memenuhi angka kredit kumulatif minimal yang ditentukan.
(2) Disamping harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), pengangkatan jabatan Nutrisionis didasarkan pada formasi jabatan yang
ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Pendayagunaan
Aparatur Negara.
Pasal 23
(1) Pegawai Negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan
Nutrisionis Terampil harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berijazah serendah rendahnya Diploma III Gizi;

b. Pangkat serendah rendahnya Pengatur golongan ruang II/c;

c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang kurangnya bemilai baik


dalam 1 (satu) tahun terakhir.

(2) Pegawai Negeri Sipil yarig diangkat untuk pertama kali dalam jabatan

33
Pasal 19
(1) Angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana KATA PENGANTAR
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (I), digunakan untuk mempertimbangkan
kenaikan jabatadpangkat Nutrisionis sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang undangan yang berlaku. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga
(2) Terhadap keputusan pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit Kesehatan telah ditetapkan bahwa Nutrisionis merupakan salah satu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (I), tidak dapat diajukan jabatan fungsional tenaga kesehatan.
keberatan oleh Nutrisionis yang bersangkutan. Pembinaan jabatan fungsional Nutrisionis mengacu pada: Keputusan
BAB VII Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001
tentang Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka Kreditnya; Keputusan
PEJABAT YANG BERWNANG MENGANGKAT DAN
Bersama Menteri Kesehatan Nomor 894/Menkes/SKB/VIII/2001 dan
MEMBERHENTIKAN DALAM DAN DARI JABATAN Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 35 Tahun 2001 tentang
Pasal 20 Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka
Kreditnya; dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1306/Menkes/
Pengangkatan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dalam dan dari jabatan SK/XII/2001 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Nutrisionis.
Nutrisionis ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam rangka pembinaan teknis jabatan fungsional Nutrisionis,
Kementerian Kesehatan telah menerbitkan buku ‘Kumpulan Keputusan
BAB VIII
Tentang Jabatan Fungsional Nutrisionis”, yang terdiri dari dari: (1)
PENYESUAIAN DALAM JABATAN DAN ANGKA KREDlT Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 231KEPlM.
Pasal 21 PAN1412001 tentang Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka
Kreditnya; (2) Keputusan Bersama Menteri Kesehatan Nomor 894/
(1) Pegawai Negeri Sipil yang pada saat ditetapkan keputusan ini telah Menkes/SK/IVIII/2001 dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor
melaksanakan tugas pelayanan gizi, makanan dan dietetik berdasarkan 35 Tahun 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional
keputusan pejabat yang berwenang, dapat diangkat dan disesuaikan dalam
Nutrisionis dan Angka Kreditnya; dan (3) dan Keputusan Menteri
jabalan Nutrisionis dengan ketentuan :
Kesehatan Nomor 1306/Menkes/SK/X11/2001 tentang Petunjuk Teknis
a. Untuk Nutrisionis Terampil harus memenuhi syarat: .Jabatan Fungsional Nutrisionis. Buku tersebut pertama kali dicetak
pada tahun 2003, kemudian cetakan ke-2 tahun 2006 dan cetakan
1. Berijazah serendah rendahnya Diploma III Gizi;
ke-3 tahun 2008.
2. Pangkat serendah rendahnya Pengatur golongan ruang IIc; dan Direktorat Bina Gizi, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang kurangnya bemilai dan Anak, Kementerian Kesehatan, merupakan satuan kerja yang
baik dalam 1 (satu) tahun terakhir. terkait dalam upaya pembinaan tenaga kesehatan dalam jabatan
fungsional Nutrisionis, turut mempublikasikan dan mensosialisasikan
b. Untuk Nutrisionis Ahli harus memenuhi syarat :

32
buku “Kumpulan Keputusan Tentang Jabatan Fungsional Nutrisionis”. Pasal 18
Buku ini merupakan cetak ulang yang ke4, tanpa perbedaan isi dengan Usul Penetapan Angka Kredit Nutrisionis diajukan oleh:
cetakan sebelumnya.
1 . Direktur Gizi Masyarakat, Pimpinan Unit Kerja, Kepala Dinas Kesehatan
Kiranya buku ini dapat dimanfaatkan semua pihak yang terkait dengan Propinsi, Kepala Dinas Kesehatan KabupatenlKota kepada Direktur Jenderal
upaya pembinaan tenaga kesehatan, khususnya tenaga fungsional Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan
Nutrisionis di Indonesia. Sosial untuk angka kredit Nutrisionis Madya yang berada di lingkungan
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan Intansi Pusat dan
Daerah di luar Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.
2. Pimpinan unit kerja Nuuisionis kepada Direktur Gizi Masyarakat untuk
Jakarta, Mei 2014 angka kredit Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan
Direktur Bina Gizi, Nutrisionis Pertama sampai Nutrisionis Muda yang berada di lingkungan
Departemen Kesehatan dan Kesejahteman Sosial.
3. Kepala Sub Bagian Kepegawaian Nutrisionis kepada Pimpinan Unit
Ir. Doddy Izwardi, MA Kerja masing masing setingkat eselon II untuk angka kredit Nutrisionis
Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta
Nutrisionis Muda yang bekerjb pada institusi pelayanan gizi, makanan dan
dietetik instansi masing masing.
4. Kepala Bagian Kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi untuk
angka kredit Nutrisionis Pelaksana sarnpai dengan Nutrisionis Penyelia
dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yang bekerja pada Institusi
Pelayanan Gizi, Makanan dan Dietetik di lingkungan Pemerintah
5. Kepala Bagian KepgawaianKepala Sub Bagian Kepegawaian atau pejabat
lain yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota untuk angka kredit Nutrisionis Pelaksana sampai
dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis
Muda yang bekerja pada Institusi Pelayanan Gizi, Makanan dan Dietetik di
lingkungan Pemerinlah Daerah Kabupaten/Kota.

31
(4) Masa jabatan Tim Penilai Pusat, Tim Pemiai Direktorat, xm Penilai Instansi, NIP 196302161 986031005
Tim Penilai Propinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah 3 (tiga) tahun.
(5) Berdasarkan alasan yang sah, pejabat yang berwenang sebagaimana dimlksud
dalam ayat (2) dapat memberhentikan dan mengganti Anggota Tim Penilai
sebelum masa jabatan berakhir.
(6) ApabilaTim Penilai Direktorat belum dapat dibentuk karena belum
memenuhi kriteria Tim Penilai yang ditentukan, maka penilaian prestasi
kerja Nutrisionis dilaksanakan oleh Tim Penilai Pusat; KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
(7) Apabila Tim Penilai Instansi belum dapat dibentuk karena belum memenuhi NOMOR: 1306/Menkes/SK/XII/2001
kriteria Tim Penilai yang ditentukan, maka penilaian prestasi kerja Nutrisionis
dilaksanakan oleh Tim Penilai Pusat/ Direktorat/Propinsi/Kabupaten/Kota TENTANG
yang bersangkutan; PETUNJUK TEKNIS JABATAN FUNGSIONAL NUTRISIONIS
(8) Apabila Tim Penilai Propinsi belum dapat dibentuk karena belum memenuhi MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
kriteria Tim Penilai yang ditentukan, maka penilaian prestasi kerja Nutrisionis
dilaksanakan oleh Tim Penilai Pusat/ Direktorat;
(9) Apabila Tim Penilai Kabupatenkota belum dapat dibentuk karena belum Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran dan tertib administrasi
memenuhi kriteria Tim Penilai yang ditentukan, maka penilaian prestasi Jabatan Fungsional Nutrisionis telah ditetapkan
kerja Nutrisionis dilaksanakan oleh Tim Penilai Propinsil Direktorat. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan
Pasal 16 Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 894/
MENKES/SKB/VIII/2001 dan Nomor 35 Tahun
(1) Pegawai Negeri Sipil yang telah menjadi anggotaTim Penilai Pusat, Tim 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan
Penilai Direktorat, Tim Penilai Instansi, Tim Penilai Propinsi, dan Tim Penilai Fungsional Nutrisionis dan Angka Kreditnya;
Kabupaten/Kota dalam 2 (dua) masa jabatan berturut-turut, dapat diangkat
kembali dalam keanggotaan Tim Penilai yang sama setel& melampaui masa b. bahwa dalam rangka operasionalisasi keputusan
tenggang waktu 1 (satu) masa jabatan.
bersama tersebut, dipandang perlu menetapkan
(2) Dalslm ha1 terdapat Anggota Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat Tim Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Petunjuk
Penilai Instansi, Tim Penilai Propinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota ikut Teknis Jabatan Fungsional Nutrisionis.
dinilai, maka Ketua Tim Penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat
(1) dapat mengangkat pengganti anggota Tim Penilai.
Pasal 17
Tata kerja dan tata cara penilaian Tim Penilai.Dsat, Tim Penilai Direktorat, Tim
Penilai Instansi, Tim Penilai Propinsi, dan Tim Penilai Kabupaten/ Kota ditetapkan
oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.

30 i
Tim Penilai Propinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota terdiri dari Pegawai
Mengingat : 1. Undang - undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Negeri Sipil dengan susunan sebagai berikut:
Pokok-pokok Kepegawaian, sebagaimana telah a. Seorang Ketua merangkap anggota;
diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun
1999; b. Seorang Wakil Ketua merangkap anggota;

c. Seorang Sekretaris merangkap anggota;


2.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan; (Lembaran Negara Nomor d. Sekurang kurangnya 4 (empat) orang anggota.
100,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);
(2) Pembentukan dan susunan anggota Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat,
3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Tim Penilai Instansi, Tim Penilai Propinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota
ditetapkan masing masing oleh :
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Nomor
60 Tahun 1999 Tambahan Lembaran Negara a. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan
Nomor 3839); dan Kesejahteraan Sosial untuk Tim Penilai Pusat.

b. Direktur Gizi Masyarakat untuk Tim Penilai Direktorat.


4. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994
tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; c. Pimpinan Instansi yang bersangkutan untuk Tim Penilai Instansi.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 d. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi untuk Tim Penilai Propinsi.
tentang Tenaga Kesehatan; e. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk Tim Penilai Kabupaten/
Kota.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan (3) Anggota Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim Penilai Instansi, Tim
Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Penilai Propinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah Nutrisionis dan
Negara Nomor 54 Tahun 2000 Tambahan Lembaran pejabat lain di lingkungan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Negara Nomor 3952); dan instansi lain di luar Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial di
Tingkat Pusat, Propinsi dan KabupatentKota yang menguasai bidang gizi,
makanan dan dietetik dengan ketentuan:
a. Jabatanlpangkat serendah rendahnya sama dengan jabatan/pangkat
Nutrisionis yang dinilai;

b. Memiliki keahlian atau kemampuan untuk menilai prestasi kerja


Nutrisionis;

c. Dapat aktif melakukan penilaian.

ii 29
bagi Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia
dan Nutrisionis Pertama serta sampai dengan Nutrisionis Muda 7. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000
yang bekerja pada institusi pelayanan gizi. makanan dan dietetik di tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan
lingkungan Instansi Pusat di luar Departemen Kesehatan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;
d. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi bagi Nutrisionis Pelaksana sampai
dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama sampai dengan 8. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000
Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi pelayanan gizi, makanan tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil;
dan dietetik di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi.
9. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang
e. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bagi Nutrisionis Pelaksana Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta
Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi pelayanan gizi, makanan
dan dietetik di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 10. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan
Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 8941
(2) Dalam menjalankan kewenangannya, pejabat sebagaimana dimaksud dalam Menkes/SKB/VIII/2001 dan Nomor 35 Tahun
ayat (1) dibantu oleh : 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan
a. Tim Penilai Jabatan Nutrisionis ‘Iingkat Pusat bagi Direktur Jenderal Fungsional Nutrisionis dan Angka Kreditnya.
Bina Kesehatan masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan
Sosial, selanjutnya disebut Tim Penilai Pusat.

b. Tim Penilai Jabatan Nutrisionis Tingkat Direktorat bagi Direktur Gizi MEMUTUSKAN
Masyarakat yang bersangkutan atau pejabat yang ditunjuk, selanjutnya
disebut Tim Penilai Direktorat.
Menetapkan
: KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
c. Tim Penilai Jabatan Nutrisionis Tingkat Instansi bagi Pimpinan Unit INDONESIA TENTANG PETUNJUK TEKNIS JABATAN
Kerja di lingkungan Instansi Pusat di luar Departemen Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial, selanjutnya disebut Tim Penilai Instansi.
Pertama : Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Nutrisionis
d. Tim Penilai Jabatan Nutrisionis Tingkat Propinsi bagi Kepala Dinas sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan
Kesehatan Propinsi selanjutnya disebut mm Penilai Propinsi. ini menjadi acuan bagi semua institusi kesehatan
e. Penilai Jabatan Nutrisionis Tingkat Kabupaten/Kota bagi Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota selanjutnya disebut Tim Penilai Kabupaten/
Kota.

Pasal 15
(1 ) Keanggotaan Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim Penilai Instansi,

28 iii
seluruh Indonesia; sebagai berikut :
a. 60 % (enam puluh persen) bagi penulis utama;
Kedua : Segala pembiayaan pelaksanaan keputusan ini
b. 40% (empat puluh persen) bagi semua penulis pembantu.
dibebankan pada anggaran masing-masing institusi
kesehatan, sesuai dengan fungsi mata anggarannya; (2) Jumlah penulis pembantu sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b
sebanyak banyaknya terdiri dari 3 (tiga) orang.
Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan,
dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan
diadakan perbaikan seperlunya. BAB VI
PENILAIAN DAN PENERAPAN ANGKA KREDlT
Ditetapkan di : Jakarta Pasal 13
Pada tanggal : 5 Desember 2001 (1) Penilaian prestasi kerja Nutrisionis oleh Tim Penilai dilakukan setelah
Menteri Kesehatan Republik Indonesia menurut perhitungan sementara Nutrisionis yang bersangkutan telah
memenuhi jumlah angka kredit yang diisyaratkan untuk kenaikan
jabatantpangkat setingkat lebih tinggi
(2) Penilaian prestasi kerja Nutrisionis dilakukan sekurang kurangnya 4 (empat)
Dr. Achmad Sujudi kali dalam satu tahun, yaitu 3 (tiga) bulan sebelum periode kenaikan pangkat
Pegawai Negeri Sipil.
Pasal 14
Keputusan ini disampaikan kepada yth :
(1) Pejabat yang berwenang menetapkan angkakredit Nutrisionis adalah:
1. Menteri Sekretaris Negara
a. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan
2. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kesejahteraan Sosial bagi Nutrisionis Madya yang berada
3. Kepala Badan Kepegawaian Negara di lingkungan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
dan Instansi Pusat dan Daerah di luar Departemen Kesehatan dan
4. Sesjen/Iden/para Diden/Para Kepala Badan di lingkungan Depkes Kesejahteraan Sosial.
5. Para Kepala Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia b. Direktur Gizi Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
6. Para Kepala Bin, di lingkungan Depkes Masyarakat bagi Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis
Penyelia dan Nutrisionis Pertarna serta Nutrisionis Muda yang beke
7. Para Kepala Pusat di lingkungan Depkes j a pada institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik yang berada di
8. Para DirekturJKepala Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Depkes lingkungan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.

9. Para Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara di seluruh c. Pimpinan Unit Kerja yang bersangkutan atau pejabat lain yang ditunjuk

iv 27
unsur penunjang. Indonesia.
(2) Untuk kenaikan jabatanlpangkat setingkat lebih tinggi menjadi Nutrisionis BAB I
Madya pangkat PembinaTingkat I golongan ruang IV/b dan pangkat Pembina
PENDAHULUAN
Utama Muda golongan ruang IV/c, diwajibkan mengumpulkan sekurang
kurangnya 12 (dua belas) angka kredit dari kegiatan unsur pengembangan
profesi.
A. Latar Belakang
(3) Nutrisionis yang telah mencapai angka kredit melebihi angka kredit yang
Dalam rangka upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada
ditentukan untuk kenaikan jabatanlpangkat setingkat lebih tinggi, kelebihan
masyarakat khususnya dibidang pelayanan gizi, makanan
angka kredit tersebut diperhitungkan untuk kenaikan jabatadpangkat
berikutnya. dan dietetik, telah ditetapkan jabatan fungsional Nutrisionis
berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
(4) Nutrisionis yang telah mencapai angka kredit untuk kenaikan jabatanl Negara Nomor23/KEP/M.PAN/4/2001 tentang Jabatan Fungsional
pangkat pada tahun pertama dalam masa jabatadpangkat yang didudukinya, Nutrisionis dan Angka Kreditnya. Keputusan Meneg PAN ini telah
pada tahun berikutnya diwajibkan mengumpulkan angka kredit sekurang pula ditindak lanjuti dengan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan
kurangnya 20% (dua puluh persen) dari jumlah angka kredit yang disyaratkan (Menkes) dan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor
untuk kenaikan jabatanlpangkat setingkat lebih tinggi yang berasal dari
894/MENKES/SKB/VIII/2001 dan Nomor : 35 TAHUN 2001 tentang
kegiatan Nutrisionis.
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan angka
(5) Nutrisionis Penyelia pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang III/d, setiap kreditnya.
tahun diwajibkan mengumpulkan angka kredit sekurangkurangnya 10
(sepuluh) yang berasal dari kegiatan unsur utama. Keputusan Meneg PAN serta Keputusan Bersama Menkes dan
Kepala BKN tersebut di atas merupakan tindak lanjut pula dari
(6) Nutrisionis Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IVlc setiap Peraturan Pemerintah Nomor 99 tahun 2000 tentang kenaikan
tahun diwajibkan mengumpulkan angka kredit sekurangkurangnya 20 (dua pangkat pegawai negeri sipil.
puluh) yang berasal dari kegiatan unsur utama.
Untuk menjamin kelancaran dan keseragaman pelaksanaan
Pasal 12 jabatan. fungsional Nutrisionis ma ka Departemen Kesehatan
(1) Nutrisionis yang secara bersama sarna membuat karya tulis/karya ilmiah di memandang perlu adanya PetunjukTeknis (juknis) Jabatan
bidang gizi, makanan dan dietetik, pembagian angka kreditnya ditetapkan Fungsional Nutrisionis.

B. Ruang Lingkup
Juknis ini meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan
jabatan fungsional Nutrisionis yaitu pengangkatan, kenaikan
pangkat, pemberhentian dari jabatan Nutrisionis, fungsi dan tugas,
tata cara dan kriteria penilaian, serta pejabat yang berwenang

26 1
dalam pembinan dan penilaian pejabat Nutrisionis. tersebut dalam Lampiran I dan I1 Keputusan ini.
Pasal 10

C. Tujuan (1) Unsur kegiatan yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri dari :

Juknis ini digunakan sebagai pedoman bagi pejabat yang a. Unsur utarna;
berkepentingan dalam pelaksanaan penilaian, Penetapan Angka b. Unsur penunjang.
Kredit, pengangkatan, kenaikan pangkat, pembebasan sementara
dan pemberhentian pejabat Nutrisionis. (2) Unsur utama terdiri dari
a. Pendidikan;
D. Pengertian b. Pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
1. Nutrisionis adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, c. Pengembangan profesi.
tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat
yang berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional (3) Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung peltiksanaan kegiatan
di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik baik di pelayanan gizi, makanan dan dietetik sebagaimana dimaksud dalam Pasal5
masyarakat maupun rumah sakit, pada perangkat Pemerintah angka 4.
Propinsi, Kabupaten, Kota dan unit pelaksana kesehatan (4) Rincian kegiatan dan angka kredit masing masing unsur sebagaimana
lainnya. dimaksud dalam ayat (1) adalah:
2. Upaya pelayanan gizi, makanan dan dietetik adalah suatu a. Nutrisionis Terampil sebagaimana tersebut dalam Lampiran I Keputusan
usaha yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang ini;
meliputi peugumpulan, pengolahan, analisis, simpulan,
b. Nutrisionis Ahli sebagaimana tersebut dalam Lampiran II Keputusan
anjuran, implementasi dan evaluasi gizi,makanan dan dietetik
ini.
dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam
kondisi sehat atau sakit serta melindungi masyarakat dari Pasal 11
malpraktek di bidang gizi, makanan dan dietetik.
(1) Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap
3. Masyarakat adalah sekelompok orang-orang yang mempunyai Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat dalam jabatan dan kenaikan
keinginan yang sama dalam bidang gizi, makanan dan jabatanlpangkat Nutrisionis Terampil adalah sebagaimana tersebut dalam
dietetik, berada di bawah suaty wadah atau institusi seperti Lampiran I11 Keputusan ini, dan untuk Nutrisionis Ahli adalah sebagaimana
Rumah sakit, Klinik, Puskesmas, pusat pemugaran, pusat tersebut dalam Lampiran IV Keputusan ini, dengan ketentuan:
latihan, lembaga pemasyarakatan, panti, dan lain-lain, untuk a. Sekurang kurangnya 80% (delapan puluh persen) angka kredit berasal
mencapai status kesehatan optimal khususnya yang berkaitan dari unsur utama; dan

b. Sebanyak banyaknya 20%(dua puluh persen) angka kredit berasal dari

2 25
45. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pelayanan gizi RS; dengan gizi, makanan dan dietetik.
46. Menganalisa hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan pelayanan gizi, 4. Gizi adalah pengetahuan tentang makanan, mekanisme
makanan dan dietetik pada Puskesmas dan RS di akhir kegiatan;
pencernaan makanan di dalam tubuh manusia serta
47. Menyajikan evaluasi kegiatan pelayanan gizi, makanan dan keterkaitan makanan dengan kesehatan.
dietetik pada Puskesmas dan RS;
48. Membuat laporan kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik 5. Makanan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber
pada Puskesmas dan RS. hayati dan air, yang dimasak atau diolah, atau tanpa
(3) Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia yang melaksanakan di masak/diolah yang dipergunakan untuk konsumsi
kegiatan pengembangan profesi dan penunjang kegiatan pelayanan gizi, manusia.
makanan dan diatetik diberikan nilai angka kredit sebagaimana tersebut
dalam Lampiran I Keputusan ini. 6. Dietetik adalah kegiatan praktek dan penerapan ilmu dan seni
pengaturan macam dan jumlah makanan berdasarkan kondisi
(4) Nutrisionis Pertama sampai dengan Nutrisionis Madya yang melaksanakan kesehatan, status medis, kebutuhan gizi dan sosial ekonomi
kegiatan pengembangan profesi dan penunjang kegiatan pelayanan gizi, klien, baik untuk individu sehat atau sakit yang bertujuan
makanan dan diatetik diberikan nilai angka kredit sebagaimana tersebut memberikan terapi gizi medis.
dalam Lampiran II Keputusan ini.
Pasal8 7. Peraturan adalah ketentuan-ketentuan yang mengikat dan
mempunyai sanksi hukum yang ditetapkan oleh pejabat yang
Apabila pada suatu unit kerja tidak terdapat Nutrisionis yang sesuai dengan jenjang berwenang.
jabatannya untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasai
7, ayat (1) dan (2). maka Nutrisionis yang satu tingkat di atas atau satu tingkat 8. Pedoman adalah suatu acuan yang bersifat umum yang dalam
di bawah jenjang jabatannya dapat melakukan kegiatan tersebut berdasarkan penggunaannya harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat
penugasan secara tertulis dari pimpinan unit pelaksana teknislunit kerja yang disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah
bersangkutan. setempat atau institusi pengguna.
Pasal 9 9. Standard adalah suatu acuan yang bersifat khususlteknis dan
Penilaian angka kredit pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, dibakukan, digunakan sebagai dasar atau patokan untuk
ditetapkan sebagai berikut : melakukan tindakan lebih lanjut. Sebagai contoh adalah
1. Nutrisionis yang melaksanakan tugas pelayanan gizi, makanan dan dietetik standard gizi, standard diet khusus, standard kebutuhan
di atas jenjang jabatannya, angka kredit yang diperoleh ditetapkan sebesar makanan dan lain-lain.
80 % (delapan puluh .persen) dari angka kredit setiap butir kegiatan yang
10. Standard diet Khusus adalah suatu acuan diet yang bersifat,
dilakukan, sebagaimana tersebut dalam Lampiran I dan I1 Keputusan ini;
khususlteknis dan dibakukan, digunakan sebagai dasar
2. Nutrisionis yang melaksanakan tugas pelayanan gizi, makanan dan dietetik penentuan pengaturan makanan yang bersifat khusus sesuai
di bawah jenjang jabatannya, angka kredit yang diperoleh ditetapkan sama
dengan angka kredit dari setiap butir kegiatan yang dilakukan, sebagaimana

24 3
kondisi klien. 25. Menyempurnakan hasil pengamatan keadaan gizi, makanan dan
dietetik;
11.
Standatd Kebutuhan Makanan adalah rincian macam dan 26. Menetapkan prioritas penanggulangan masalah gizi, makanan dan
jumlah bahan makanan yang diperhitungkan berdasarkan dietetik pada kelompok sasaran;
kebutuhan gizi klien dan sesuai dengan pola makan klien dan
27. Membuat rancangan penanggulangan masalah gizi, makanan dan
demografi setempat. dietetik pada kelompok sasaran;
12. Diet adalah pengaturan macam dan jumlah makanan yang 28. Menyusun urutan dan jadwal pelayanan gizi, makanan dan
disusun berdasarkan kebutuhan gizi individu dan bertujuan dietetik;
untuk memenuhl gizi klien sesuai dengan kondisi klien. 29. Menghimpun dan mendayagunakan sumber-sumber yang ada;
30. Melakukan konsultasi diet khusus dengan tiga komplikasi;
13.
Juklak adalah petunjuk pelaksanaan yaitu petunjuk yang
31. Melakukan konsultasi diet KEP berat dengan dua komplikasi;
digunakan untuk mengarahkan kegiatan.
32. Melakukan penyuluhan gizi bagi karyawan RS;
14. Juknis adalah petunjuk teknis yaitu petunjuk rinci untuk 33. Melakukan pengawasan pada pengumpulan data pola konsumsi
melaksanakan suatu pekerjaan. dan makanan;
15.
Studi kelayakan adalah suatu rangkaian kegiatan yang 34. Melakukan pemeriksaan pada penyediaan diet standar khusus;
meliputi pengumpulan, pengolahan, dan analisis data untuk 33. Melakukan pengawasan pada konsultasi diet standar khusus; .
menerapkan suatu metodafintervensi secara berhasil guna 36. Menyusun prioritas jenis penelitian terapan dalam bidang gizi dan
dan berdayaguna. dietetik;
37. Menyusun proposal penelitian terapan dalam bidang gizi dan
16. Anamnesa adalah suatu kegiatan penggalian informasi yang dietetik;
mempengaruhi keadaan gizi individu meliputi sosial, medis, 38. Menyajikan proposal penelitian terapan dalam bidang gizi dan
dan diet yang berkaitan dengan klien bertujuan untuk dietetik;
melakukan diagnosa status gizi, makanan dan dietetik klien.
39. Menyempumakan proposal penelitian terapan dalam bidang gizi
17. Diagnosa adalah kesimpulan dari hasil kegiatan anamnesa dan dietetik;
dan penilaian kondisi status gizi atau kesehatan atau diet klien 40. Menyajikan hasil penelitian terapan dalam bidang gizi dan dietetik;
baik individu atau kelompok. 41. Menyempurnakan laporan penelitian terapan dalam bidang gizi
dan dietetik;
18. Penggalian informasi’klien adalah suatu kegiatan yang dapat
42. Mengevaluasi materihhan peralatan kegiatan pelayanan gizi,
dilakukan dengan cara wawancara atau tertulis untuk makanan dan dietetik di desa, kecamatan pada akhir tahun;
mengumpulkan data tentang klien. 43. Mengevaluasi perangkat lunak kegiatan pelayanan gizi lapangan
dan RS pada akhir tahun;
44. Mengevaluasi hasil penyuluhan kegiatan pelayanan gizi, makanan
dan dietetik pada akhir tahun;

4 23
9. Menyempurnakan rancangan rencana bulanan kegiatan gizi, 19. Sasaran adalah target kegiatan yang telah diperhitungkan.
makanan dan dietetik;
10. Menyajikan rancangan petunjuk pelaksanaanlpetunjuk teknis di 20.
Menghitung kandungan gizi makanan adalah kegiatan
bidang gizi, makanan dan dietetik; menterjemahkan bahan makanan yang digunakan dalam
makanan ke dalam zat-zat gizi dengan bantuan suatu daftar
11. Menyempurnakan rancangan petunjuk pelaksanaanl petunjuk
teknis di bidang gizi, makanan dan dietetik; bahan makanan yang berlaku pada saat itu.
12. Menyusun rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik untuk 21. Pengawasan kegiatan adalah kegiatan pemantauan mutu
penyakit dengan komplikasi; pelaksanaan dengan menggunakan standar performance
13. Menyajikan rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik untuk yang ditetapkan untuk setiap tahap pelaksanaan.
pen yakit dengan komplikasi;
14. Menyempurnakan rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik 22. Menyiapkan sasaran adalah rangkaian kegiatan pengumpulan
untuk penyakit dengan komplikasi; data, penilaian data, pemeriksaan data ke lapangan untuk
menetapkan target yang tepat.
15. Menyajikan rancangan standar di bidang gizi, makanan dan
dietetik untuk penyakit dengan komplikasi; 23. Intervensi gizi adalah bentuk penanggulangan masalah gizi
16. Menyempurnakan rancangan standar di bidang gizi, makanan dan seperti penyuluhan gizi, konseling gizi, PMT penyuluhan, PMT
dietetik untuk penyakit dengan komplikasi; pemulihan, diet khusus, tablet besi, vitamin A dosis tinggi,
17. Menyajikan rancangan kebutuhan di bidang gizi, makanan dan kapsul beryodium, paket pertolongan gizi, makanan balita.
dietetik;
24. Penilaian diet adalah suatu kegiatan pengukuran intakelasupan
18. Menyempurnakan rancangan kebutuhan di bidang gizi, makanan
dan dietetik; dan daya terima diet yang diberikan kepada klien sesuai
dengan penya kit dan kondisi klien.
19. Menyajikan TOR studi kelayakan rancangan petunjuk
pelaksanaatdpetunjuk teknis / pedoman / standar /kebutuhan gizi, 25. Evaluasi adalah proses penilaian suatu kegiatan/proyek dalam
makanan dan dietetik; menetapkan relevansi, hasil guna, daya guna, dan dampak
20. Menetapkan pelaksanaan studi kelayakan rancangan petunjuk suatu kegiatanlproyek secara sistimatis dan objektif berkaitan
pelaksanaan / petunjuk teknis / pedoman / standar / kebutuhan dengan tyjuan kegiatanlproyek tersebut.
gizi, makanan dan dietetik;
21. Menetapkan kelayakan rancangan’ petunjuk pelaksanaan/ 26. Monitoring adalah suatu kegiatan pengumpulan data umum
petunjuk teknis / pedoman / standarn kebutuhang gizi, makanan atau khusus selama proses pelaksanaan kegiatan dan
dan dietetik; pelaporan yang dilakukan secara rutin atau terus menerus
22. Menetapkan instrumen pengamatan keadaan gizi, makanan dan tentang kegiatan/proyek sebagai bahan informasi yang
dietetik; berguna untuk membuat keputusan selanjutnya.
23. Menyusun hasil pengamatan keadaan gizi, makanan dan dietetik;
24. Menyajikan hasil pengamatan keadaan gizi, makanan dan dietetik;

22 5
27. Peningkatan mutu adalah adalah suatu usaha yang dilakukan 45. Menyusun laporan hasil penelitian terapan dalam bidang gizi dan
untuk mencapai sesuatu yang lebih baik sesuai dengan target dietetik;
yang telah ditetapkan. 46. Melakukan rujukan gizi sesuai kasus pelayanan gizi, makanan dan
dietetik untuk penyakit dengan komplikasi;
28.
Pelatihan kesehatan masyarakat, adalah suatu upaya
47. Menyusun laporan rujukan dalam bidang pelayanan gizi, makanan
meningkatkan kesehatan masyarakat di bidang gizi, makanan dan dietetik;
dan dietetik dengan metode beldjar dimana para peserta
48. Memantau penggunaan dana kegiatan pelayanan gizi, makanan
diberi masukan teori dan keterampilan praktis tentang gizi,
dan dietetik di RS atau institusi lain secara triwulan;
makanan dan dietetik.
49. Mengevaluasi hasil kegiatan PMT lbu hamil (Bumil) I di desa,
29. Pencegahan penyakit, adalah upaya pencegahan khususnya kecamatan di tengah dan akhir kegiatan;
melalui gizi, makanan dan dietetik agar perorangan, keluarga 50. Mengevaluasi pelatihan pelaksanaan gizi, makanan dan dietetik
dan masyarakat terhindar dari penyakit. meliputi, macam, jumlah dan institusi di akhir kegiatan di desa
dan di kecamatan;
30. Daerah terpencil dan atau rawan, adalah daerah yang sukar
51. Mengevaluasi satuan biaya diet terhadap standar pada akhir
dijangkau oleh transportasi dan komunikasi yang disebabkan kegiatan;
antara lain oleh keadaan geografis, distribusi penduduk yang
52. Melakukan evaluasi kegiatan konsultasi diet pada akhir kegiatan;
terpencar dan jarang sehingga mempersulit tugas-tugas
pelayanan gizi, makanan dan dietetik. c. Nutrisionis Madya :
1 . Menyusun rancangan rencana lima tahunan kegiatan gizi, makanan
31. Resiko pekerjaan, adalah ancaman terhadap keselamatan atau
dan dietetik;
kesehahn petugas sebagai akibat tugas di sarana kesehatan
atau daerah tertentu. 2. Menyajikan rancangan rencana lima tahunan kegiatan gizi, makanan
dan dietetik; O
32. Pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian 3. Menyempumakan rancangan rencana lima tahunan, kegiatan gizi,
di bidang gizi, makanan dan dietetik adalah upaya menyadarkan makanan dan dietetik;
masyarakat akan masalah gizi, makanan dan dietetik yang 4. Menyajikan rancangan rencana tahunan kegiatan gizi, makanan dan
dihadapi dengan memberdayakan masyarakat dalam proses dietetik;
perencanaan dan upaya penanggulanggannya. 5. Menyempurnakan rancangan rencana tahunan kegiatan gizi, makanan
dan dietetik;
33. Kaderisasi adalah melatih kader yang berasal dari masyarakat
maupun nutrisionis yang lebih junior dalam bidang gizi, 6. Menyajikan rancangan rencana triwulan kegiatan gizi, makanan
makanan dan dietetik dengan mentransfer pengetahuan dan dan dietetik ;
keterampilan dalam bidang gizi, makanan dan dietetik melalui 7. Menyempurnakan rancangan rencana triwulan kegiatan gizi,
kegiatan-kegiatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat makanan dan dietetik;
di bidang gizi, makanan dan dietetik. 8. Menyajikan rancangan rencana bulanan kegiatan gizi, makanan
dan dietetik;

6 21
dan dietetik secara analitik; 34. Pengem bangan profesi, adalah pengem bangan pengetahuan,
25. Melakukan identifikasi bentuk pelayanan gizi, makanan dan dietetik keahlian, dan bakat yang bermanfaat bagi profesi tenaga
sesuai dengan kelompok sasaran; nutrisionis dalam melaksanakan tugas.
26. Menyusun bentuk penanggulangan gizi, berdasarkan masalah
gizi, makanan dan dietetik pada kelompok sasaran tertentu; 35. Pendidikan dan Pengajaran adalah kegiatan mempersiapkan,
menyampaikan dan mengevaluasi informasi ilmiah.
27. Melakukan pendekatan lintas program dan lintas sektor yang
memiliki sumber daya; 36. Informasi ilmiah adalah segala sesuatu yang rnenyangkut
28. Menghimpun sumbei daya untuk penanggulangan gizi melalui penyampaian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
pertemuan;
29. Melakukan pelatihan bagi instansi unit kerja terkait lintas program 37. Ilmu pengetahuan, adalah kumpulan pengetahuan hasil
dan lintas sektor; penelitian dengan menggunakan metoda ilmiah penelitian dan
pengembangan yang memberikan pemahaman dan informasi
30. Melakukan penilaian hasil pengukuran BB, TB, umur sesuai
standar; tentang gejala alam dan sosial.
31. Melakukan penilaian hasil pengukuran LILA sesuai standar; 38. Teknologi.adalah kumpulan pengetahuan hasil penelitian yang
32. Melakukan penilaian hasil IMT; memberikan pemahaman dan informasi tentang bagaimana
33. Melakukan penilaian pengumpulan data pola konsumsi sesuai ilmu pengetahuan dipergunakan untuk tujuan praktis.
juknis;
39. Penelitian, adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan
34. Melakukan penilaian palpasi sesuai standar;
menurut metoda ilmiah yang sistimatik untuk menemukan
35. Melakukan penilaian kekurangan Vitamin A sesuai standar; informasi ilmiah dan atau teknologi yang baru, membuktikan
36. Melakukan konsultasi diet khusus dengan dua komplikasi; kebenaran atau ketidakbenaran hipotesa atau pendapat
37. Melakukan konsultasi diet KEP berat dengan qatu komplikasi; sehingga dapat dirumuskan teori dan atau proses gejala alam
38. Melakukan pemeiiksaan pada penyediaan PMT I, Balita, Anak dan atau sosial.
Sekolah dan Bumil;
40. Metoda ilmiah penelitian dan pengembangan, adalah suatu
39. Melakukan pemeriksaan pada penyediaan makanan cair;
cara pelaksanaan yang sistimatik dan objektif dengan
40. Melakukan pengawasan konsultasi gizi khusus; mengikuti tahapan sebagai berikut :
41. Melakukan pengawasan konsultasi gizildiet kelompok;
42. Menyusun perencanaan diet sesuai penyakit dan preskripsi diet - melakukan observasi dan menetapkan masalah dan
dengan tiga komplikasi; tujuan;
43. Menganalisa pelaksanaan kegiatan layanan gizi, makanan dan - menyusun hipotesa;
dietetik aspek pengelolaan dan teknologi;
44. Menganalisis data hasil penelitian terapan dalam bidang gizi dan - menyusun rancangan penelitian;
dietetik;

20 7
- melaksanakan percobaan berdasarkan metoda yang pedoman gizi, makanan dan dietetik;
direncanakan; 10. Menyusun rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik untuk
penyakit tanpa komplikasi;
- melaksana kan pengamatan dan menggumpulkan data;
11. Menyajikan rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik untuk
- menganalisa dan menginterpretasikan data; penyakit tanpa komplikasi;
12. Menyempurnakan rancangan pedoman gizi, makanan dan dietetik
- merumuskan kesimpulan dan atau teori; untuk penyakit tanpa komplikasi;
- melaporkan hasilnya. 13. Menganalisis data dengan standar khusus dalam rangka menyusun
standar gizi, makanan dm dietetik;
41.
Pengabdian masyarakat, adalah pengamalan ilmu 14. Menyajikan rancangan standar gizi, makanan dan dietetik untuk
pengetahuan, teknologi dan seni yang dilakukan oleh penyakit tanpa komplikasi;
nutrisionis secara melembaga, yang hasilnya bermanfaat bagi 15. Menyempurnakan rancangan standar gizi, makanan dandietetik
usaha mencerdaskan kehidupan barlgsa. untuk penyakit tanpa komplikasi;
42. Secara melembaga, adalah mendapat izin atau mendapat 16. Menyusun rancangan standar gizi, makanan dan dietetik untuk
tugas dari pejabat yang berwenang dengan maksud agar penyakit dengan komplikasi;
dapat mengendalikan program dan kegiatan yang dilakukan. 17. Menyusun rancangan kebutuhan gizi, dietetik individu;
18. Menyusun laporan studi kelayakan rancangan petunjuk
43. Bidang pokok, adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni pelaksanaanlpetunjuk teknis / pedoman / standar /kebutuhan gizi,
yang merupakan tugas pokok, sedang luar bidang pokok makanan dan dietetik;
adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bukan 19. Menyajikan laporan studi kelayakan rancangan petunjuk
merupakan tugas pokok dosen yang bersangkutan. pelaksanaanlpetunjuk teknislpedomanlstandarkebutuhan gizi,
makanan dan dietetik;
44. Ujian akhir, adalah ujian untuk menyelesaikan suatu stratum
pendidikan. 20. vMenyusun Term Of Reference (TOR) pelaksanaan studi kelayakan
dalam rangka menyusun rancangan petunjuk pelaksanaan /
45. Stratum, adalah tingkat program pendidikan tinggi yang terdiri petunjuk teknis / pedoman / standar /kebutuhan gizi, makanan dan
atas jenjang Stratum 1 (Sl), Stratum 2 (S2), Stratum 3 (S3), dietetik;
DI, DII, DIII, DIV, Spl, Sp2. b 21. Menyajikan proposal penyusunan instrumen pengamatan keadaan
gizi, makanan dan dietetik;
46. Jalur pendidikan tinggi, adalah jalur gelar (S1, S2, dan S3)
22. Menyusun rancangan instrumen pengamatan keadaan gizi, makanan
dan jalur non gelar (DI, DII, DIII, Spl, Sp2). dan dietetik;
23. Melakukan perbaikan rancangan instrumen pengamatan keadaan
gizi, makanan dan dietetik;
24. Menganalisis data pengamatan masalah di bidang gizi, makanan

8 19
38. Memantau konsultasi diet khusus, standar khusus meliputi sasaran, 47. Laporan akhir/skripsi/tesis/disertasi/katya tulis, adalah katya
macam dan jumlah diet; tulis ilmiah di bidang gizi, makanan, dietetik dan kesehatan
39. Memantau penyuluhan gizi khusus, individu, kelompok meliputi yang terkait untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai
sasaran, macam dan jumlah diet; pendidikan pada stratum tertentu.
40. Mengevaluasi hasil kegiatan pelayanan gizi terhadap pengukuran
TB, BB, umur pada akhir kegiatan secara analitik; 48. Karya ilmiah yang dipublikasikan adalah informasi ilniiah yang
diterbitkan dan disebarluaskan kepada masyarakat.
41. Mengevaluasi hasil kegiatan PMT di desa, kecamatan di tengah dan
di akhir kegiatan pada PMT anak sekolah; 49. Karya ilmiah yang didokumentasikan adalah inforrnasi ilmiah
42. Mengevaluasi hasil distribusi pelayanan gizi meliputi kapsul yang dicatat dan disimpan dalam perpustakaan perguruan
yodium, kapsul vit. A, pi1 besi, obat gizi di desa, kecamatan di tinggi.
tengah dan diakhir kegiatan;
43. Mengevaluasi hasil penyuluhan gizi umum dan khusus meliputi 50. Makalah adalah karya tulis ilmiah yang disampaikanldisajikan
sasaran, macam dan jumlah di akhir kegiatan; pada pertemuan ilmiah yang mendapat akreditasi.
44. Melakukan evaluasi penggunaan dana kegiatan pelayanan gizi, 51. Pertemuan ilmiah, adalah pertemuan yang membahas masalah
makanan dan dietetik di kecamatan di akhir kegiatan. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
b. Nutrisionis Muda: 52. Tulisan asli, adalah karya tulis yang merupakan hasil dari buah
1. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya pikiran sendiri.
secara analitik dalam rangka menyusun rencana lima tahunan;
2. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya 53. Terjemahan/Saduran, adalah karya tulis atau terjemahan
secara analitik dalam rangka menyusun rencana tahunan; secara bebas atau meringkas atau menyederhana kan atau
3. Menyusun rancangan rencana tahunan pelayanan gizi, makanan mengembangkan tulisan tanpa mengubah intisari asal. Dalam
dan dietetik; pengertian ini termasuk juga kegiatan penyuntingan.
4. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya 54. Diktat, adalah catatan tertulis suatu mata pelajaran/kuliah
secara analitik ddam rangka menyusun rencana triwulanan; yang disajikan dalam perkuliahan.
5. Menyusun rancarigan rencana triwulanan pelayanan gizi, makanan
dan dietetik; 55. Penulis utama, adalah seorang yang memprakarsai penulisan,
6. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya pemilik ide tentang hal yang akan ditulis, pembuat outline,
secara analitik dalam rangka menyusun rencana bulanan; penyusun konsep, serta pembuat konsep akhir dari tulisan
7. Menyusun rancangan rencana bulanan pelayanan gizi, makanan tersebut.
dari dietetik;
8. Menyusun rancangan petunjuk pelaksanaanlpetunjuk teknis di
bidang gizi, makanan dan dietetik;
9. Menganalisis data secara analitik dalam rangka menyusun

18 9
56. Penulis pembantu, adalah seseorang yang memberi kan bantuan 19. Melakukan inventarisasi fisik bahan, materi, pangan, peralatan &
kepada penulis utama misalnya dalam hal : pengumpulan sarana pelayanan gizi setiap triwulan;
data, pengolahan data, analisa data, penyempurnaan konsep, 20. Melakukan pengukuran palpasi di unit atau wilayah kerja tahunan;
tambahan bahan. 21. Mengumpulkan data deteksi dini kekurangan vitamin A d unit atau
wilayah kerja tahunan;
57.
Melakukan tugas sebagai intruktur adalah penugasan
22. Mengumpulkan data prevalensi anemi gizi besi (AGB) di unit atau
nutrisionis oleh atasan untuk melakukan bimbingan kepada
wilayah kerja tahunan;
bawahan dan atau praktikan dalam bidang manajemen atau
penerapan gizi, makanan dan dietetik dalam pekerjaan sehari- 23. Melakukan penilaian hasil pengumpulan data prevalensi anemi
gizi besi;
hari.
24. Melakukan penilaian pemeriksaan penunjang meliputi
58. Melakukan tinjauan adalah suatu rangkaian kegiatan ke salah laboratorium, klinik dll;
satu objek masalah atau lebih di lapangan untuk mengetahui 25. Melakukan konsultasi diet khusus dengan satu komplikasi;
kebenaran data dan atau mencari jalan keluar permasalahan 26. Melakukan konsultasi diet KEP berat tanpa komplikasi;
yang lebih tepat. 27. Melakukan penyuluhan gizildiet kelompok;
59. Bimbingan teknis, adalah suatu kegiatan terinci yang bertujuan 28. Melakukan pemeriksaan pada penyediaan makanan biasa;
untuk memberikan cara-cara penanganan suatu masalah gizi, 29. Melakukan pemeriksaan pada penyediaan makanan khusus;
makanan, dietetik dan yang terkait. 30. Melakukan pengawasan harian mutu makanan dan PMT meliputi
standar porsi, standar bumbu, standar resep, standar menu,
60.
Kegiatan pengabdian masyarakat, adalah kegiatan yang keamanan dan cita rasa;
dilakukan tenaga nutrisionis dalam bidang gizi,makanan dan
31. Menyusun perencanaan diet sesuai penyakit dan preskripsi diet
dietetik yang hasilnya bermanfaat bagi usaha peningkatan
dengan 2 (dua) komplikasi;
dan atau perbaikan kesehatan melalui gizi, makanan dan
dietetik dimasyarakat. 32. Melakukan penilaian diet klien dalam tim kerja pada kunjungan
keliling;
61. Tugas lapangan, adalah suatu upaya gizi, makanan dan 33. Mengolah data penelitian terapan dalam bidang gizi dan dietetik;
dietetik di luar instansi tempat bekerja yang ditujukan kepada 34. Melakukan rujukan gizi sesuai kasus pelayanan gizi, makanan dan
individul perorangan, keluarga, kelompok masyarakat yang dietetik terhadap penyakit tanpa komplikasi;
meliputi kegiatan pengabdian masyarakat. 35. Melakukan rujukan tenagadalam’klayanan gizi, makanan dan
dietetik;
36. Memantau kegiatan pengukuran LILA, IMT, Palpasi, deteksi
vitamin A meliputi sasaran, perawatan gizi, standar gizi di tingkat
desa dan kecamatan secara tahunan;
37. Memantau penggunaan dana kegiatan pelayanan gizi, makanan
dan dietetik di RS atau institusi lain secara bulanan;

10 17
4. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik dan penunjangnya 62. Pengamabn gizi, makanan dan dietetik adalah suatu rangkaian
secara deskriptif dalam rangka menyusun rencana bulanan; kegiatan yang menyelidiki hubungan antara faktor-faktor yang
5. Menganalisis data dalam rangka menyusun juklak/juknis di bidang dapat menimbulkan penyakit dan penyebarannya melalui gizi
gizi, makanan dan dietetik; dan makanan.
6. Menganalisis data secara deskriptif dalam rangka menyusun
pedoman gizi, makanan dan dietetik; 63. Tanda jasa, adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh
pemerintah Republik Indonesia, Negara Asing atau organisasi
7. Menganalisis data secara standar umum dalam rangka menyusun
ilmiah Nasional/Internasional yang mempunyai reputasi baik
standar gizi, makanan dan dietetik;
dikalangan masyarakat ilmiah.
8. Menyusun rancangan standar gizi, makanan dan dietetik pada
penyakit tanpa komplikasi; 64. Mengikuti kegiatan pendidikan -gizi berkelanjutan adalah
9. Menganalisis data dalam rangka menyusun kebutuhan gizi, mengikuti kegiatan ilmiah di bidang gizi, makanan, dietetik
makanan dan diete~ikin dividu; dan kesehatan yang diakui atau disyahkan oleh organisasi
10. Menganalisis uji coba studi kelayakan rancangan juklak/ juknis/ profesi gizi dalam rangka memperoleh dan meningkatkan
pedoman/standar/kebutuhan gizi, makanan dan dietetik; pengetahuan, kemampuan, keterampilan pada tingkat khusus
11. Melaksanakan studi kelayakan rancangan juklak/juknis/ pedoman/ dan memberikan saran yang dapat menunjang, memecahkan
standar/kebutuhan gizi, makanan dan dietetik; masalah yang dibahas, serta mempererat tali persaudaraan
12. Menyusun laporan pelaksanaan studi kelayakan rancangan juklak/ sesama peserta dan profesi.
juknis/pedoman/standar/kebutuhan gizi, makanan dan dietetik;
13. Menyusun proposal untuk menyusun instrumen pengamatan
keadaan gizi, makanan dan dietetik;
14. Melakukan uji coba instrumen pengamatan keadaan gizi, makanan
dan dietetik;
15. Menganalisis data pengamatan keadaan gizi, makanan dan dietetik
secara deskriptif;
16. Mengumpulkan data tentang sumber daya untuk penanggulangan
masalah di bidang gizi, makanan dan dietetik;
17. Mengumpulkan data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya
untuk melaksanakan koordinasi kegiatan gizi, pemantauan dan
penilaian kegiatan gizi, pembinaan kegiatan perbaikan gizi,
makanan dan dietetik pada kegiatan kelompok sasaran tertentu,
pencatatan dan pelaporan;
18. Melakukan pelatihan bagi pengelola institusi pelayanan di bidang
gizi, makanan dan dietetik;

16 11
BAB II 27. Melakukan pengawasan pada hasil anamnese diet;
28. Melakukan pengawasan pada recall makanan 24 jam yang lalu;
29. Melakukan pengawasan pada konsultasi gizi umum;
UNIT KERJA, TUGAS POKOK
30. Melakukan pengawasan pada konsultasi diet sederhana;
DAN KRITERIA PENIIAIAN NUTRISIONIS 31. Melakukan pencatatan harian untuk penyediaan diet standar
khusus;
32. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan PMT I,
A. Unit Keja Balita, Anak Balita, Bumil;
Kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik dilakukan Unit Gizi 33. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan diet khusus;
di Rumah Sakit atau di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). 34. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan makanan
Unit Gizi adalah unit kerja yang bertanggung jawab melaksanakan cair;
pelayanan di bidang gizi, makanan dan dietetik meliputi penyusunan 35. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan diet standar
program, pelaksanaan program, penilaian gizi bagi perorangan khusus;
dan masyarakat serta melakukan pengamatan. 36. Menyusun perencanaan diet sesuai penyakit dan preskripsi diet
dengan 1 komplikasi;
37. Mengumpulkan data penelitian terapan dalam bidang gizi dan
B. Tugas pokok Nutrisionis
dietetik;
Tugas pokok Nutrisionis adalah melaksanakan pelayanan di bidang 38. Memantau pelaksanaan pelayanan penyelenggaraan diet di RS
gizi, makanan dan dietetik yang meliputi pengamatan, penyusunan atau di Instansi lain secara bulanan;
program, pelaksananan, penilaian gizi bagi perorangan, kelompok 39. Memantau pelayanan penggunaan bahan makanan secara bulanan;
di masyarakat dan di Rumah Sakit. 40. Memantau konsultasi diet secara sederhana meliputi sasaran,
macam dan jumlah diet;
41. Memantau penyuluhan gizi umum meliputi sasaran, macam dan
C. Kriteria Penilaian Nutrisionis
jumlah diet;
Penilaian Jabatan Fungsional Nutrisionis didasarkan pada hasil (2) Rincian kegiatan Nutrisionis Ahli adalah sebagai berikut:
kerja dua jenis keprofesian dan keahlian, yaitu : a. Nutrisionis Pertabma:
- Nutrisionis Terampil : yaitu mereka yang menduduki golongan 1 . Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik dan penunjangnya
II/c sampai dengan golongan III/d, atau Nutrisionis Pelaksana, secara deskriptif dalam rangka menyusun rencana lima tahunan;
Nutrisionis Pelaksana Lanjutan dan Nutrisionis Penyelia. 2. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik dan penunjangnya
secara deskriptif dalam rangka menyusun rencana tahunan;
- Nutrisionis Ahli : yaitu mereka yang menduduki golongan
3. Menganalisis data gizi, makanan dan dietetik dan penunjangnya
III/a sampai dengan golongan IV/c, atau Nutrisionis Pertama,
secara deskriptif dalam rangka menyusun rencana triwulan;
Nutrisionis Muda, dan Nutrisionis Madya.

12 15
menyusun standar gizi, makanan dan dietetik; Tim penilai memberikan angka kredit berdasarkan usul pejabat
9. Mengolah data dalam rangka menyusun kebutuhan gizi dan yang bewenang dan atasan langsung Nutrisionis yang dinilai.
dietetik; Usulan dari dua pejabat ini kemudian dinilai meliputi berbagai
10. Mengolah data untuk melaksanakan studi kelayakan rancangan aspek yaitu:
petunjuk pelaksanaantpetunjuk teknistpedomant standart a) Pendidikan;
peraturan di bidang gizi, makanan dan dietetik;
b) Pelayanan Gizi, Makanan, dan Dietetik;
11. Melaksanakan uji coba untuk melaksanakan studi kelayakan
rancangan petunjuk pelaksanaantpetunjuk teknistpedomant c) Pengembangan Profesi; dan
standartperaturan di bidang gizi, makanan dan dietetik; d) Kegiatan Penunjang Pelayanan Gizi, Makanan dan Dietetik.
12. Mengolah data untuk menyusun instrumen pengamatan keadaan
1. Pendidilcan
gizi, makanan dan dietetik;
13. Mengolah data pengamatan masalah di bidang gizi, makanan dan Pedoman pemberian angka kredit untuk asp& pendidikan adalah
dietetik dengan tabulasi silang; apabila calon Nutrisionis atau Nutrisionis mengikuti pendidikan
14. Mengumpulkan data kebutuhan pelatihan gizi, makanan dan formal atau pelatihan kedinasan, maka angka kredit dapat diberikan
dietetika meliputi sumber daya manusia, dana dan teknologi; bilamana materi yang diterimanya berhubungan langsung dengan
15. Mengumpulkan data tentang pelaksanaan posyandu konsumsi bidang pelayanan gizi, ma kanan dan dietetik yang dibuktikan
gizi, VMS balita, SKDN, Balok SKDN, bahan pangan setempat berdasarkan ijazah/SlTB/SlTPL yang diperoleh. Pemberian angka
untuk keperluan penyusunan dan pengembangan resep makanan kreditnya adalah sebagai berikut :
PMT, penyuluhan dan pemulihan; a. Bukti ijazah/SlTB yang sesuailada kaitannya dengan kegiatan
16. Mencatat dan melaporkan bahan, materi, pangan, peralatan dan pelayanan gizi, makanan dan dietetik. Untuk ijazah/SllB yang
sarana di ruang penyimpanan makanan secara triwulan; belum pemah dihitung angka kreditnya, maka pemberian
17. Menyalurkan bahan, materi, pangan, peralatan dan sarana sesuai angka kreditnya adalah :
permintaan unit atau wilayah kerja secara triwulan; - Diploma III/ Sarjana Muda / Akademi Gizi = 50 angka kredit (ak)
18. Memeriksa ruang penyimpanan makanan secara bulanan;
- Sarjana/Diploma IV Gizi dihargai = 75 ak
19. Melakukan pengukuran TB, BB, umur di unit atau wilayah kerja
- Pasca Sarjana Gizi dihargai = 100 ak
secara tiga tahunan;
20. Menyediakan diet khusus; - Doktor Gizi dihargai = 150 ak
21. Menyediakan makanan cair khusus; b. Apa bila Nutrisionis kemudian memperoleh kesempatan
22. Menyediakan diet standar khusus; mengikuti pendidikan yang lebih tinggi dibidang pelayanan
23. Melakukan konsultasi gizi khusus : balita, buteki, remaja dan usia; gizi, makanan dan dietetik memperoleh ijazah/SlTB, maka
24. Melakukan pengawasan pada hasil pengukuran TB, BB, umur; pemberian angka kreditnya diperoleh dari selisih antara
25. Melakukan pengawasan pada hasil pengukuran LILA; harga ijazah/STTB pertama dengan harga ijazah/STTB
26. Melakukan pengawasan pada hasil pengukuran IMT; yang lebih tinggi tersebut.

14 13
Contoh : standar gizi secara triwulanan;
48. Memantau pelaksanaan kegiatan distribusi pelayanan gizi meliputi
Seorang Nutrisionis lulusan Akademi/DIII Gizi yang ijazahnya kapsul yodiurnlpil besitkapsul Vit.A, obat gizi secara triwulanan;
dihargai dengan angka kredit 50, kemudian kuliah lagi dan
49. Memantau pelaksanaan penyuluhan gizi meliputi sasaran, macam
mendapat ijazah SI/DIV Gizi yang mempunyai harga 75/DIV,
dan jumlah penyuluhan sarana secara triwulanan;
maka angka kredit selanjutnya yang diperhitungkan untuk
50. Memantau jumlah kaderlpelaksana gizi, makanan dan dietetik
kenaikan pangkat dan jabatan adalah 75-50/60 = 15 kredit.
secara triwulanan;
c. Bagi Nutrisionis yang memperoleh STTPL atau bukti telah 51. Memantau penggunaan dana kegiatan pelayanan gizi, makanan
mengikuti pendidikan dan latihan maka perhitungan angka dan dietetik di tingkat desa kecarnatan;
kreditnya digunakan pada jenjangljuknis pendidikan dan 52. Memantau pelayanan penyelenggaraan diet di RS atau di institusi
latihan yang diikutinya. lain secara mingguanllo harian;
53. Memantau bulanan mutu diet dan PMT;
Contoh :
54. Mengevaluasi di bidang layanan gizi, makanan dan dietetik hasil
Bukti mengikuti pendidikan dan latihan berupa STTPL antara kegiatan pelayanan gizi terhadap pengukuran TB, BB, umur pada
401 - 640 jam, maka ia mendapat angka kredit 6 (enam). akhir kegiatan secara deskriptif;
Bila kemudian ia mendapat STTPL dengan jenjang yang lebih 55. Mengevaluasi hasil kegiatan di bidang layanan gizi, makanan dan
tinggi maka pemberian angka kredit selanjutnya adalah selisih dietetik terhadap PMT balita.
dan STTPL sebelumnya. c. Nutrisionis Penyelia:
1. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan
tabulasi silang dalam rangka menyusun rencwa lima tahunan;
2. Kegiatan Pelayanan gizi, Makanan dan Dietetik. 2. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan
tabulasi silang dalam rangka menyusun rencana tahunan;
Bagi kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik yang
dilaksanakan Nutrisionis, pemberian angka kreditnya berdasarkan 3. Mengolah pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan tabulasi
bukti hasil kegiatan yang dituangkan dalam surat pernyataan silang dalam rangka menyusun rencana triwulan;
melaksanakan kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik. Buku 4. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan
kerja Nutrisionis adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tabulasi silapg dalam rangka menyusun rencana bulanan;
bukti kerja Nutrisionis. Meskipun anggota Tim Penilai memberikan 5. Menganalisis data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dalam
angka kredit pada usulan pejabat yang bewenang, namun buku rangka menyusun rencana harian;
kerja Nutrisionis, dan bukti kegiatan pelayanan gizi, makanan dan 6. Menyusun rancangan pelayanan gizi, makanan dan dietetik dalam
diektik merupakan alat pembuktian bilamana diminta Tim Penilai. rangka menyusun rencana harian;
7. Mengolah data dengan tabulasi silang dalam rangka menyusun
pedoman gizi, maka&n dan dietetik;
8. Mengolah data dengan menggunakan standar khusus dalam rangka

14 13
30. Melakukan pengukuran terhadab IMT pada orang dewasa di unit 3. Pengembangan profesi Nutrisionb, meliputi:
atau wilayah keja secara tahunan;
a. Membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang gizi, makanan dan
31. Mengumpulkan data pola konsumsi makanan tiap 20 RT di unit
dietetiklkesehatan terkait; .
atau wilayah kerja secara tahunan;
32. Mencatat dan melaporkan hasil pengukuran palpasi; b. Mente jemahkan/menyadur buku dan bahan lainnya di bidang
33. Mencatat dan melaporkan trasil pengumpulan data pola konsumsi gizi, makanan dan dietetik;
makanan;
c. Memberikan bimbingan teknis di bidang gizi, makanao dan
34. Mencatat dan pelaporan hasil pengumpulan data anemi gizi besi;
dietetik;
35. Menyediakan makanan tambahan bagi anak sekolah atau
pemulihan gizi; d. Membuat buku pedoman/petunjuk;
36. Menyediakan makanan tambahan bagi bumil dan buteki;
e. Mengembangkan teknologi tepat guna di bidang gizi, makanan
37. Melakukan konsultasi gizi umum kqena Gangguan Akibat Kurang dan dietetik setta kesehatan terkait;
Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), Kekurangan Energi
Protein (KEP), dan Kekurangan Vitamin A (KV A); f. Merumuskan sistim pelayanan gizi, makanan atau dietetik
38. Melakukan konsultasi diet sederhana sesuai standar; yang paling tepat dan mutahir;
39. Melakukan pencatatan harian, penyediaan Program Makanan
g. Membuat buku standar/peraturan di bidang gizi, makanan
Tambahan I (PMT I) bagi balita, anak sekolah, bumil;
dan dietetik.
40. Melakukan pencatatan harian terhadap penyediaan diet khusus;
41. Melakukan pencatatan harian terhadap pen yediaan makanan cair; 4. Penunjang keglatan pelayanan gizl, makanan dan dktetik
42. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan makanan meiiputi:
biasa; a. Mengajar atau melatih yang berkaitan dengan bidang gizi,
43. Melakukan pencatatan triwulan terhadap penyediaan diet makanan dan dieteti k serta kesehatan terkait;
sederhana;
44. Menyusun perencanaan diet sesuai penyakit dan preskripsi diet b. Mengikuti kegiatan seminar/lokakarya dalam bidang gizi,
sesuai standar; makanan dan dietetik setta kesehatan terkait;
45. Memantau pelaksanaan kegiatan pengukuran BB, TB, umur c. Menjadi anggota organisasi profesi di bidang gizi, makanan
di tingkat desa meliputi sasaran, status gizi dan SKDN secara dan dieteti k serta kesehatan terkait;
triwulan bagi SLTPISLTA;
46. Memantau pelaksanaan kegiatan pengukuran BB, TB, umur di d. Menjadi anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Nutrisionis;
tingkat desa melip& sasaran, status gizi dan SKDN secara empat
bulanan bagi SD/Ml; e. Memperoleh gelar kesa janaan lainnya;
47. Memantau pelakSanaan kegiatan pengukuran LILA, BIT, palpasi f. Mendapat penghargaan/.tanda jasa.
meliputi, deteksi Vitamin A melipuli sasaran, perawatan gizi, dan

12 15
BAB III 12. Mengumpulkan data dalam rangka menyusun instrumen
pengamatan keadaan gizi, makanan dan dietetik;
13. Mengumpulkan data untuk melakukan pengamatan primer (per 1
MUTASI KEPEGAWAIAN JABATAN FUNGSIONAL 0 jenis);
NUTRISIONIS 14. Mengolah data dengan tabulasi untuk melakukan pengamatan
masalah keadaan gizi, makanan dan dietetik;
15. Menyiapkan bahan materi pelatihan gizi, makanan dan dietetik
Mutasi Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional Nutrisionis untuk petugas gizi pada kelompok sasaran tertentu;
meliputi penyesuaian/inpassing, pengang katan, pembebasan
16. Mengumpulkan data biokimia gizi sesuai kelompok sasaran
sementara, kenaikan pangkatljabatan, pengangkatan kembali,
tertentu;
pemberhentian dan perpindahan dari jabatan strilkturaI/fungsionaI
17. Mengumpulkan data dasar calon kader gizi bagi keperluan
lain ke dalam Jabatan, Fungsicral Nutrisionis.
pelatihan gizi, makanan dan dietetik untuk kader;
18. Menyiapkan kegiatan pelayanan makanan dan dietetik kegiatan di
A. Penyesuaian/inpassing Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan bidang gizi, makanan dan dietetik;
Fungsional Nutrisionis 19. Menetapkan pelaksanaan pelayanan makanan dan dietetik kegiatan
di bidang gizi, makanan dan dietetik;
1. Persyaratan
20. Menyiapkan pertemuan lintas program dan lintas sektor + C50;
a. Nutrisionis Terampil, harus memenuhi persyaratan 21. Melakukan pelatihan bagi pelaksana pelayanan gizi, makanan dan
sebagai berikut : dietetik;
1) Berpendidikan, serendah-rendahnya program 22. Menyusun kebutuhan bahan, materi, pangan, peralatan dan sarana
Diploma III Gizi; pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
23. Menyediakan bahan, materi pangan, peralatan dan sarana
2) Pangkat serendah-rendahnya pengatur golongan
pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
ruang II/c;
24. Mencatat dan melaporkan bahan, materi, pangan, peralatan dan
3) Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang- sarana di ruang penyimpanan secara bulanan;
kurangnya bernilai baik dalam l(satu) tahun terakhir.
25. Menyalurkan bahan, materi, pangan, peralatan dan sarana sesuai
b. Nutrisionis Ahli, harus memenuhi persyaratan sebagai permintaan unit atau wilayah ke j a secara bulanan;
berikut : 26. Memeriksa ruang penyimpanan secara mingguan;
27. Melakukan pengukuran terhadap TB, BB, umur bagi anak
1) Berpendidikan serendah-rendahnya Sarjana (SI)/ sekolah1SLTP di unit atau wilayah ke j a secara triwulah;
Diploma IV Gizi;
28. Melakukan pengukuran terhadap TB, Anak Baru Sekolah (ABS)
2) Pangkat serendah-rendahnya Penata Muda golongan secara tahunan;
ruang III/a; 29. Melakukan pengukuran tahunan terhadap IMT;

16 11
38. Memantau kegiatan PMT Balita, anak sekolah dm Burnil meliputi 3) Setiap unsur penilaian prestasi keja sekhrangkurangnya
sasaran, status gizi dm SKDN terhadap macam jumlah PMT; bernilai baik dalam l(satu) tahun tetakhir.
39. Memantau kegiatan pengukuran BB, TB, umur di Rumah Sakit 2. Kelengkapan berkas
(RS) dan masyarakat secara bulanan;
Kelengkapan berkas untuk pengangkatan ke dalam jabatan
40. Memantau pelayanan penyelenggaraan diet di RS dan institusi lain
secara harian; Fungsional Nutrisionis meliputi :
41. Memantau penggunaan bahan makanan secara harian; a. Foto copy Ijazah pendidikan Diploma III Diploma IV/
42. Memantau penggunaan bahan makanan secara mingguan/sepuluh Sarjana (S1) Gizi yang telah dilegalisir oleh pejabat yang
harian. berwenang ;
b. Nutrisionis Pelaksana Lanjutan:
b. Foto copy Surat Keputusan Kenaikan Pangkat tetakhir;
1. Mengumpulkan data dalam rangka menyusun rencana lima
tahunan; c. Foto copy Kartu Pegawai;
2. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan cara
menabulasi dalam rangka menyusun rencana lima tahunan; d. Foto copy DP3 dalam 1 (satu) tahun terakhir.
3. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan cara 3. Tata cara Penyesuaian/Inpassing
menabulasi dalam rangka menyusun rencana tahunan;
4. Mengolah data pelayanan gizi, makanan dan dietetik dengan cara a. Prosedur pengajuan usul penyesuaian/in passing
menabulasi dalam rangka menyusun rencana triwulan;
1) Calon Nutrisionis yang bekerja di institusi pelayanan
5. Mengolah data gizi, makanan dan dietetik dengan cara menabulasi gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Departemen
dalam rangka menyusun rencana bulanan; Kesehatan mengajukan permohonan tertulis kepada
6. Mengolah data gizi. makanan dan dietetik dalam rangka menyusun Menteri Kesehatan melalui unit kerjanya.
rencana harian;
2) Calon Nutrisionis yang bekerja di institusi pelayanan
7. Mengolah data dalam rangka menyusun juklakljuknis di bidang gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
gizi, makanan dan dietetik;
Daerah Provinsi mengajukan permohonan tertulis
8. Mengolah data gizi, makanan dan dietetik dengan cara menabulasi kepada Gubemur melalui unit kerjanya.
untuk menyusun pedoman gizi, makanan dan dietetik;
3) Calon Nutrisionis yang bekerja di institusi pelayanan
9. Mengolah data menurut standar umum dalam rangka menyusun
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
standar gizi, makanan dan dietetik;
Daerah Kab/Kota mengajukan permohonan tertulis
10. Mengumpulkan data dalam rangka menyusun kebutuhan gizi, kepada BupatilWalSkota melalui unit kerjanya.
dietetik individu;
b. Pejabat yang bewnang untuk menetapkan pengangkatan
11. Menyiapkan sasaran pelaksanaan studi kelayakan rancangan
melalui penyesuaian/inpassing dalam Jabatan Fungsional
petunjuk pelaksanaanlpetunjuk teknis/pedoman/standar/
kebutuhan di bidang gizi, makman dan dietetik;
Nutrisionis adalah :

10 17
1). Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional 17. Melakukan pengukuran TB, BB, umur di unit atau wilayah kerja
Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi secara 4 bulanan bagi anak sekolah SD;
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen 18. Melakukan pengukuran TB, BB, unsur di unit atau wilayah kerja
Kesehatan; sesuai kebutuhan;
2) Sekretaris Jendetal a.n. Menteri Kesehatan atau 19. Melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) di unit atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan wilayah kerja;
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana 20. Melakukan pengukuran Indeks Massa ‘hbuh (IMT) pada orang
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama dewasa di unitlwilayah kerja sesuai kebutuhan;
dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit 21. Melakukan anamnese diet klien (food frekuensi dan rata rata
Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan contoh hidangan);
Departemen Kesehatan; 22. Melakukan recall, makanan 24 jam lewat bagi klien;
3) Kepala Biro Kepegawaian a.n. Menteri Kesehatan atau 23. Melakukan perhitungan kandungan gizi makanan klien;
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan 24. Mencatat dan melaporkan atas hasil pengukuran BB, TB, dan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang Umur;
berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan 25. Mencatat dan melaporkan atas hasil pengukuran IMT;
di lingkungan Departemen Kesehatan; 26. Mencatat dan melaporkan atas hasil pengukuran LILA;
4) Gubernur untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis 27. Mencatat dan melaporkan anarnnese diet;
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di 28. Menyediakan makanan tambahan untuk balita atau penyuluhan
lingkungan Dinkes Provinsi; gizi;
5) Sekretaris Wilayah Provinsi a.n. Gubernur atau 29. Menyediakan makanm biasa tambahan;
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk 30. Menyediakan kapsul vitamin A;
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana Lanjutan,
31. Menyediakan kapsul yodium; -
Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama dan
IVutrisionis Muda yang betada pada Unit Pelaksana 32. Menyediakan preparat besi;
Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi; 33. Menyediakan obat gizi;
6) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a.n. Gubernur 35. Melakukan pencatatan harim, penyediaan makanan biasa;
atau pejabat lain yang ditunjukoleh Gubernur untuk 34. Melakukan pencatatan harian, penyediaan diet sederhana;
Jabatan, Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang 36. Memantau diet klien selarna dirawat;
betada pada Unit Pelaksana Teknis lingkungan Dinkes 37. Memantau kegiatan pengukuran BB, TB, umur di tingkat desa
Provinsi; meliputi sasaran, status gizi dan SKDN jumlah balita yang
7) Bupati/Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis addterdaftar, jumlah balita yang memiliki Kartu Menuju
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di Sehat, jumlah balita yang ditimbang, jumlah balita yang naik
lingkungan Dinkes Kab/Kota; timbangannya) secara bulanan pada posyandu;

18 9
1. Mengumpulkan data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya 8) Sekretaris Wilayah Kab/Kota a.n. Bupati/Walikota
dalam rangka menyusun rencana tahunan; atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota
2. Mengumpulkan data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
dalam rangka menyusun rencana 3 bulanan; Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama
3. Mengumpulkan data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
dalam rangka menyusun rencana bulanan; Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota;
4. Mengumpulkan data gizi, makanan dan dietetik serta penunjangnya 9) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n. Bupati/
dalam rangka menyusun rencana harian; Walikota atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/
5. Mengumpulkan data dan literatur dalam rangka menyusun Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
juklaldjuknis di bidang gizi, makanan dan dietetik; Pelaksana yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
6. Mengumpulkan data dalam rangka menyusun pedoman gizi, lingkungan Dinkes Kab/Kota.
makanan dan dietetik;
7. Mengumpulkan data dalam rangka menyusun standar gizi, B. Pengangkatan untuk pertama kali dalam Jabatan
makanan dan dietetik;
8. Mengumpulkan data untuk pengamatan masalah dibidang gizi,
Fungsional Nutrisionis
makanan dan dietetik secara sekunder; 1. Persyaratan
9. Mengumpulkan data anak balita, bumil dan buteki untuk pemberian
makanan tambahan, penyuluhan dan pemulihan pada anak balita a. PNS yang bersangkutan untuk pertama kali dalam Jabatan
dengan status gizi kurang; Fungsional Nutrisionis Terampil, harus memenuhi syarat
10. Mengumpulkan data makanan kelompok sasaran setempat untuk sebagai berikut :
penilaian mutu gizi, makanan dan dietetik;
1) Berpendidikan, serendah-rendahnya program
11. Memeriksa dan menerima bahan materi, pangan, peralatan dan Diploma III Gizi;
sarana pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
2) Pangkat serendah-rendahnya pengatur golongan
12. Menyimpan bahan, materi, pangan, peralatan dan sarana kegiatan
ruang II/c;
pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
13. Mencatat dan melaporkan bahan, materi, pangan, peralatan dan
3) Setiap unsur penilaian prestasi kerja
sarana diruang penyimpanan sarana harian; sekurangkurangnya bernilai baik dalam l(satu) tahun
terakhir.
14. Menyalurkan bahan, materi pangan, peralatan, dan sarana sesuai
permintaan unit atau wilayah kerja secara harian mingguan; b. PNS yang diangkat untuk pertama kali dalam Jabatan
15. Memeriksa ruang penyimpanan makanan, secara harian (tiap 10 Fungsional Nutrisionis Ahli, harus memenuhi syarat
harian); sebagai berikut :
16. Melakukan pengukuran Tinggi Badan (TB), Beran Badan (BB). 1) Berpendidikan serendah-rendahnya Sarjana (SI)/
umur di unit atau wilayah kerja secara bulanan bagi anak balita; Diploma IV Gizi;

8 19
2) Pangkat serendah-rendahnya Penata Muda golongan (3) Jenjang pangkat dan golongan ruang Nutrisionis Terampil sebagaimana
nrang III/a; dimaksud dalam ayat (2) huruf a dari yang terendah sampai dengan tertinggi,
3) Setiap unsur penilaian prestasi kerja yaitu:
sekurangkurangnya bemilai baik dalam 2(dua) tahun a. Nutrisionis Pelaksana:
terakhir. 1. Pengatur, golongan ruang III/c.
2. Kelengkapan berkas 2. Pengatur Tingkat I, golongan ruang III/d.
b. Nutrisionis Pelaksana Lanjutan :
Kelengkapan berkas untuk pengangkatan ke dalam jabatan 1. Penata Muda, golongan ruang III/a.
Fungsional Nutrisionis meliputi : 2. Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b.
c. Nutrisionis Penyelia:
a. Foto copy SK Pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil 1. Penata, golongan ruang III/c.
atau SK Kenaikan pangkat terakhir; 2. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
b. Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) disertai (4) Jenjang pangkat dan golongan ruang Nutrisionis Ahli sebagaimana dimaksud
bu kti fisi knya; dalam ayat (2) huruf b dari yang terendah sampai dengan tertinggi yaitu :
c. Surat pernyataan melaksanakan kegiatan pelayanan gizi, a. Nutrisionis Pertama:
makanan dan dietetik yang ditandatarlgani oleh Kepala 1. Penata Muda, golongan ruang III/a.
Unit Kerja yang bersangkutan; 2. Penata Muda Tingkat. I, golongan ruang III/b.
d. Surat pernyataan bersedia melaksanakan kegiatan b. Nutrisionis Muda :
pelayanan gizi, makanan dan dietetik dari Pegawai Negeri 1. Penata, golongan ruang III/c.
Sipil yang bersangkutan; 2. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d.
e. Foto copy DP3 dalam f (satu) tahun terakhir; c. Nutrisionis Madya:
1. Pembina, golongan ruang IV/a.
f. Foto copy Kartu Pegawai. 2. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b.
3. Tata cara pengangkatan 3. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c.

a. Prosedur pengajuan usul pengangkatan


BAB V
1) Calon Nutrisionis yang bekeja di institusi pelayanan RINCIAN KEGIATAN DAN UNSUR YANG DINILAI
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Departemen
Kesehatan mengajukan permohonan tertulis kepada DALAM MEMBERIKAN ANGKA KREDIT
Menteri Kesehatan melalui unit kerjanya. Pasal 7
2) Calon Nutrisionis yang bekerja di institusi pelayanan (1) Rincian kegiatan Nutrisionis Terampil adalah sebagai berikut:
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
Daerah Provinsi mengajukan permohonan tertulis a. Nutrisionis Pelaksana :
kepada Gubemur melalui unit kerjanya.

20 7
g. Membuat buku standar/peraturan di bidang gizi, makanan dan dietetik. 3) Calon Nutrisionis yang bekeja di institusi pelayanan
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
4. Penunjang kegiatan pelayanan gizi,makanan dan dietetik, meliputi:
Daerah Kab/Kota mengajukan permohonan tertulis
a. Mengajar atau melatih yang berkaitan dengan bidang gizi, makanan dan kepada Bupati/Walikota melalui unit kerjanya.
dietetik serta kesehatan terkait; b. Pejabat yang berwenang untuk menetapkan pengangkatan
b. Mengikuti kegiatan seminar/lokakarya dalam bidang gizi, makanan dan pertama dalam Jabatan Fungsional Nutrisionis adalah :
dietetik serta kesehatan terkait;
1) Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional
c. Menjadi anggota organisasi profesi di bidang gizi, makanan dan dietetik Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi
serta kesehatan terkait; Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen
d. Menjadi anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Nutrisionis; Kesehatan;
e. Memperoleh gelar kesarjanaan lainnya; 2) Sekretaris Jenderal a.n. Menteri Kesehatan atau
f. Mendapat penghargaan / tanda jasa. pejabat lain yang ditunjukoleh Menteri Ksehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Peftama
BAB IV dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan
JENJANG JABATAN DAN PANGKAT
Departemen Kesehatan;
Pasal 6 3) Kepala Biro Kepegawaian a.n. Menteri Kesehatan atau
(1) Jabatan Nutrisionis terdiri dari Nuti-isionis Terampil dan Nutrisionis Ahli. pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutr~sionisP elaksana
(2) Jenjang Jabatan Nutrisionis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dari yang
yang berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan
terendah sampai dengan yang tertinggi yaitu:
Kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan;
a. Nutrisionis Terampil, terdiri dari 4) Gubernur untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
1. Nutrisionis Pelaksana; Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
2. Nutrisionis Pelaksana Lanjutan; lingkungan Dinkes Provinsi;
3. Nutrisionis Penyelia. 5) Sekretaris Wilayah Provinsi a.n. Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
b. Nutrisionis Ahli, terdiri dari
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana Lanjutan,
1. Nutrisionis Pertama; Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama dan
2. Nutrisionis Muda; Nutrisionis Muda yang berada pada Unit Pelaksana
3. Nutrisionis Madya; Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi;
6) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a.n.Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjukoleh Gubernur untuk

6 21
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang BAB III
berada pada Unit Pelaksana Teknis di lingkungan UNSUR DAN SUB UNSUR KEGIATAN
Dinkes Provinsi;
Pasal 5
7) Bupati/Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di Unsur dan sub unsur kegiatan Nutrisionis yang dinilai angka kreditnya
lingkungan Dinkes Kab/Kota; terdiri dari :
8) Sekretaris Wilayah Kab/Kota a. n.Bupati/Walikota 1. Pendidikan, meliputi:
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana a. Mengikuti pendidikan sekolah dan mendapat gelarlijazah;
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama b. Mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional di bidang gizi atau
dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit makanan dan dietetik serta mendapatkan Surat Tanda Tarnat Pendidikan
Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota; dan Latihan (STTPL) atau sertifikat.
9) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n.Bupati/Walikota 2. Pelayanan gizi, makanan dan dietetik meliputi;
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang a. Mempersiapkan perangkat lunak pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
berada pada Unit Pelaksana Teknis di lingkungan b. Melaksanakan pengamatan masalah gizi, makanan dan dietetik;
Dinkes Kab/Kota; c. Menyiapkan penanggulangan masalah gizi, makanan dan dietetik;
c. Angka kredit untuk pengangkatan pertama dalam Jabatan d. Melaksanakan pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
Fungsional Nutrisionis adala h angka kredit yang berasal e. Memantau pelaksanaan pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
dari pendidikan formal, pendidikan atau latihan kedinasan f. Melakukan evaluasi dibidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
dan Unsur Utama yang diperoleh sebelum diangkat dalam
Jabatan Fungsional Nutrisionis. 3. Pengembangan profesi, meliputi:
a. Membuat karya tulislkarya ilmiah dibidang gizi, makanan dan
dietetikfkesehatan terkait;
C. Kenalkan pangkat dan jabatan b. Menterjemahkanlmenyadur buku dan bahan lainnya dibidang gizi,
1. Persyaratan makanan dan dietetik;
c. Mernberikan bimbingan teknis di bidang gizi, makanan dan dietetik;
a. Seorang pejabat Nutrisionis dapat naik pangkat/jabatan
d. Membuat buku pedomanlpetunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis
apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
dibidang gizi, makanan dan dietetik;
1) Sekurang-kurangnya telah 2 (tahun) dalam pangkat/ e. Mengembangkan teknologi tepat guna dibidang gizi. makanan dan
jabatan terakhir; dietetik serta kesehatan terkait;
f. Merumuskan sistem pelayanan gizi, makanan atau dietetik yang paling
tepat dan mutakhir;

22 5
6. Makanan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, yang 2) Telah memperoleh angka kredit kumulatif minimal
dimasak, diolah, tanpa dimasaktdiolah yang dipergunakan untuk konsumsi yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat
manusia. lebih tinggi, dengan ketentuan:
7. Dietetik adalah praktek dan penerapan ilmu dan seni pengaturan macam dan a) Sekurang-kurangnya 80 % berasal dari unsur
jumlah makanan berdasarkan kondisi kesehatan, kebutuhan gizi dan sosial utama; dan
ekonomi klien. b) Sebanyak-banyaknya 20 % berasal dari unsur
8. Angka Kredit adalah angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas penunjang.
prestasi yang telah dicapai oleh seorang Nutrisionis dalam mengerjakan 3) Setiap umur penilaian pelaksanaan pekerjaan
butir kegiatan dan digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dalam Daftar Pelaksanaan Pekerjaan (DP3)
dan kenaikan jabatantpangkat Nutrisionis. sekurangkurangnya bemilai baik dalam 2(dua) tahun
9. Tim Penilai Angka Kredit adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh terakhir.
pejabat yang berwenang bertugas menilai prestasi kerja Nutrisionis. 2. Kelengkapan berkas
Kelengkapan berkas untuk kenaikan pangkat/jabatan
BAB II Nutrisionis meliputi :
RUMPUN JABATAN, KEDUDUKAN DAN TUGASPOKOK a. SK Kenaikan pangkat terakhir;
Pasal 2 b. Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) disertai
Jabatan Fungsional Nutrisionis termasuk dalam Rumpun Kesehatan. bukti flsiknya;
c. DP3 2 (dua) tahun terakhir;
Pasal 3
d. Foto copy Kartu Pegawai.
(1) Nutrisionis berkedudukan sebagai pelaksana teknis Fungsional.
dibidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Departemen 3. Tata cara kenaikan pangkat/jabatan
Kesehatan dan Kesejahteraan S~siaalt au instansi di luar Departemen Kesehatan
dan Kesejahteraan Sosial. a. Pejabat yang berwenang untuk menetapkan kenaikan
pangkat / jabatan fungsional Nutrisionis adalah :
(2) Nutrisionis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1 ), adalah jabatan karier
yang hanya ‘dapat diduduki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil. 1) Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional
Pasal 4 Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen
Tugas pokok’Nutrisionis adalah melaksanakan Hayanan di bidang gizi, makanan Kesehatan;
dan dietetik yang meliputi pengamatan, penyusunan program, pelaksanaan,
penilaian gizi bagi perorangan, kelompok di masyarakat dan di Rumah Sakit. 2) Sekretaris Jenderal a.n. Menteri Kesehatan atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama

4 23
dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit MEMUTUSKAN:
Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN
Departemen Kesehatan; APARATUR NEGARATENTANG JABATAN FUNGSIONAL
3) Kepala Biro Kepegawaian a.n. Menteri Kesehatan atau NUTRISIONIS DAN ANGKA KREDITNYA.
pejabat lain yang ditunjukoleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang BAB I
berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan
di lingkungan Departemen Kesehatan; KETENTUAN UMUM
4) Gubernur untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pasal 1
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di Dalarn keputusan ini yang dimaksud dengan :
lingkungan Dinkes Provinsi;
1. Nutrisionis adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab
5) Sekretaris Wilayah Provinsi a.n. Gubernur atau dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk kegiatan teknis fungsipnal di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana Lanjutan, baik di masyarakat maupun rumah sakit.
Nutrisionis Penyelia, utrisionis Pertama dan Nutrisionis
Muda yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di 2. Nutrisionis Terampil adalah Jabatan Fungsional Nutrisionis keterampilan yang
lingkungan Dinkes Provinsi; pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan
dengan penerapan prinsip, konsep, dan metode operasional kegiatan di
6) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a. n. Gubernur bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik.
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang 3. Nutrisionis Ahli adalah Jabatan Fungsional Nutrisionis keahlian
berada pada Unit Pelaksana Teknis di lingkungan yang pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan yang berkaitan dengan
Dinkes Provinsi; pengembangan pengetahuan, penerapan konsep, teori, ilmu, dan seni untuk
mengelola kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik serta pemberian
7) Bupati/Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis pengajaran dengan cara sistematis dan tepat guna di bidang pelayanan gizi,
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di makanan dan dietetik.
lingkungan Dinkes Kab/Kota;
4. Pelaksanaan pelayanan gizi, makanan dan dietetik adalah rangkaian kegiatan
8) Sekretaris Wilayah Kab/Kota a.’n. Bupati/Walikota pelayanan gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota optimal dalam bidang gizi, makanan dan dietetik yang tepat dalam kondisi
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana sehat atau sakit serta melindungi masyarakat dari malpraktek di bidang gizi,
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama makanan dan dietetik.
dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota; 5. Gizi adalah pengetahuan tentang makanan, rnekanisme pencemaan makanan
di dalam tubuh manusia serta keterkaitan makanan dengan kesehatan.

24 3
3. Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang 9) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n. Bupati/
Pemerintahan Daerah; Walikota atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/
4. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Sebagaimana Pelaksana yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
telah beberapa kali di ubah terakhir dengan Peraturan lingkungan Dinkes Kab/Kota.
Pemerintah Nomor 6 Tahun 1997;
b. Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi
5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang
Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; oleh setiap PNS yang menduduki Jabatan Fungsional
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Nutrisionis adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran
Tenaga Kesehatan; II Kep. Meneg PAN no.23/KEP/M.PAN/4/2001 tanggal 4
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang April 2001.
Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah
c. Apabila beberapa Nutrisionis secara bersama-sama
Otonom;
membuat suatu karya tulis atau karya ilmiah di bidang
8. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 tentang
pelayanan gizi, makanan dan dietetik, maka pembagian
Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian
Pegawai Negeri Sipil; angka kreditnya ditetapkan sebagai berikut:
9. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Contoh :
Formasi Pegawai Negeri Sipil;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Tommi, Andri dan Wawan bersama-sama membuat karya
Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil; ilmiah di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik yang
11. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang diterbitkan dan diedarkan seqra nasional. Tommi adalah
Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; penulis utama, sedang Andri dan Wawan adalah sebagai
12. Keputusan Presiden Nomor 163 Tahun 2000 tentang penulis pembantu. Dalam hal demikian, pembagian angka
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan kredit bagi mereka adalah sebagai berikut:
Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara;
13. Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000 tentang a). Tommi 60% x 12,50 = 7,50 angka kredit
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan b). Andri 112 x 40% x 12,50 = 2,5 angka kredit
Organisasi dan Tata Kerja Departemen;
c). Wawan 112 x 40% x 12,50 = 2, 5 angka kredit
Memperhatikan : 1. Usul Menteri Kesehatdn dan Kesejahteraan Sosial
Republik Indonesia dengan suratnya Nomor 67A/Menkes- Jumlah = 12,50 angka kredit
Kesos/II/2001 tanggal 31 Januari 2001;
d. Nutrisionis yang pangkatnya lebih tinggi dari Jabatan
2. Pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara dengan
suratnya Nomor K.26-14/V.4-28/28 tanggal 27 Februari Fungsionalnya, maka usul kenaikan jabatan setingkat
2001. lebih tinggi dapat dilakukan setiap 1 (satu) tahun sekali
dengan ketentuan angka kredit yang diperlukan telah
ditetapkan;

2 25
e. Pangkat Nutrisionis sebagaimana dalam butir d di
atas baru dapat diusulkan kembali bilamana pangkat
dan jabatan fungsionalnya sudah sejajar dan angka
kredit yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkat
berikutnya dalam jangka waktu 2 (dua) tahun atau
lebih telah terpenuhi;
KANTOR MENTERI NEGARA
f. Apabila seorang Nutrisionis dalam pengangkatan PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
pertama merniliki angka kredit melebihi jumlah yang REPUBLIK INDONESIA
ditentukan untuk tingkat jabatan yang diparrgkunya,
maka untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi, KEPUTUSAN MENTERI NEGARA
yang bersangkutan hanya memerlukan ang ka PENDAYAGUNAAN AFARATUR NEGARA
kredit sejumlah selisih angka kredit untuk kenaikan
pangkavja batan berikutnya dengan angka kredit NOMOR: 23/KEP/M.PAN/4/2001
yang ditetapkn dalam pengangkatan pertarna.
TENTANG
g. Bagi Nutrisionis yang telah mencapai angka kredit
JABATAN FUNGSIONAL NUTRISIONIS
untuk kenaikan pangkat berikutnya pada tahun
DAN ANGKA KREDITNYA
pertama dalam jenjang pangkat/jabatannya, yang
bersangkutan diharuskan mengumpulkan 20% angka MENTERI NEGARA
kredit lagi dari unsur utama pada tahun berikutnya. PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
Contoh :
Sdr. Sugianto pada tanggal 1 Oktober 2001 diangkat
dalam Jabatan Furrgsional Nutrisionis Pelaksana Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
Lanjutan dengan pangkat Penata Muda Tk.1 (III/b). perbaikan gizi, diperlukan adanya Pegawai Negeri
Tanggal 1 Oktober 2001 telah memperoleh angka Sipil yang ditugaskan secara penuh sebagai Nutrisionis
untuk melaksanakan perbaikan gizi masyarakat secara
kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan parrgkat
professional;
menjadi Penata (III/c) yaitu 50 angka kredit. Karena
b. bahwa untuk menjarnin pembinaan karier kepangkatan,
kenaikan pangkat paling cepat dapat dilakukan I
jabatan dan peningkatan profesionalisme Nutrisionis,
Oktober 2003, maka pada tanggal 1 Oktober 2002 dipandang perlu menetapkan Jabatan Fungsional
sampai dengan 1 Oktober 2003 Sdr. Sugianto Nutrisionis dan angka kreditnya I
diwajibkan mengumpulkan 20% dari 80/100 x 50 Mengingat : 1. Undang undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-
angka kredit = 8 angka kredit. pokok Kepegawaian, sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999;
2. Undang undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;

26 1
h. Nutrisionis yang memperoleh ijazah yarrg lebih tinggi
dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya sebagai
penyesuaian ijazah, apabila memenuhi syarat yang
telah ditentukan :
(1) Pengetahuan atau keahlian yang diperolehnya
sesuai dengan jabatanltugas pokoknya;
(2) Sekurang-kurangnya telah 1 tahun dalam
pangkat terakhir;
(3) Memenuhi jumlah angka kredit minimal yang
telah ditentukan untuk pangkat/jabatan yang
baru;
(4) Setiap unsur dalam DP3 kurang-kurangnya
bernilai baik dalam tahun terakhir.
i. Nutrisionis sebagaimana dimaksud dalam petunjuk
teknis Jabatan Fungsional Nutrsionis ini, dikecualikan
atau dibebaskan dari :
(1) Ujian Dinas Tingkat II untuk kenaikan pangkat
dari Pengatur Tk. I gol. II/d menjadi Penata
Muda gol. III/a.
(2) Ujian Dinas Tingkat III untuk kenaikan pangkat
dari Penata Tk.1 gol.III/d merrjadi Pembina gol.
IV/a.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: ll/
MENPAN/1988 tanggal 16 Pebruari 1988 jo Surat
Edaran Kepala BAKN Nomor ll/SE/1988 tanggal 27
Mei 1988 tentang Pengecualian dari Ujian Dinas.
j. Nutrisionis yang dibebaskan sementara karena
sedang menjalani tugas belajar lebih dari 6 (enam)
bulan, selama tugas belajar dapat dipertimbangkan
kenaikan pangkatnya, apabila memenuhi syarat
sebagai berikut :

27
(1) Sekurang-kurangnya telah 4 tahun dalam
pangkat terakhir.
(2) Masih dalam jenjang pangkat berdasarkan
pendidikan tertinggi yang dimiliki.
(3) Semua unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan KEPUTUSAN
dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik.
MEN’TERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
D.
Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsionai
Nutrisionis
NOMOR : 1306/MENKES/SK/XII/2001
1. Persyaratan
a. Nutrisionis dibebaskan sementara dari jabatannya apabila
tidak dapat memenuhi angka kredit sebagai berikut :
1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak diangkat
dalam pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan
angka kredit kumulatif minimal untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi bagi Nutrisionis TENTANG
Pelaksana pangkat Pengatur golongan mang II/c PETUNJUK TEKNIS
sampai dengan Nutrisionis Penyelia pangkat Penata
golongan rudng III/c dan Nutrisionis Pertama pangkat JABATAN FUNGSIONAL NUTRlSlONlS
Penata Muda golongan ruang III/a sampai dengan
Nutrisionis Madya pangkat Pembina Tk. I golongan
ruang N/b; dan BUKU : III
2) Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diangkat
dalam pangkat terakhir, tidak dapat rnengumpulkan
angka kredit sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) bagi
Nutrisionis Penyelia pangkat Penata Tk I golongan
ruang III/d, dan 20 (Dua puluh) bagi Nutrisionis
Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan
ruang N/c, yang berasal dari unsur utama.
b. Nutrisionis dibebaskan sernentara dari jabatannya karena
alasan lain sebagai berikut:

28
1) Dijatul’li hukuman disiplin tingkat sedang atau
tingkat berat berupa penurunan pangkat bedasarkan
Perahrran Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980;
2) Diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri
Sipil bedasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Ta
hun 1966 tentang Pem berhentianlpem berhentian
Sementara Pegawai Negeri;
3) Ditugaskan secara penuh di luar Jabatan Nutrisionis;
4) Cuti di luar tanggungan negara kecuali untuk
persalinan keem pat dan seterusnya;
5) Menjalani tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan.

2. Kelengkapan berkas
Kelengkapan berkas untuk pembebasan sementara meliputi :
a. Foto copy Surat Keputusan Pengangkatan ke dalam
Jabatan Nutrisionis terakhir;
b. Foto copy Surat Keputusan Kenaikan Pangkat terakhir;
c. Surat Keputusan Tugas Belajar bagi tugas belajar yang
lebih dari 6 (enam) bulan;
d. Surat Kepuu~sanh ukuman disiplin sedang atau berat
bagi yang terkena hukuman disiplin sedang atau berat;
e. Foto copy Kartu Pegawai;
f. Surat Keputusan pemberian angka kredit terakhir.
3. Tata cara pembebasan sementara dari jabatan Nutrisionis
karena tidak dapat mengumpulkan angka kredit
a. Ketua Tim Penilai Pusat, Ketua Tim Penilai Direktorat,
Ketua Tim Penilai Instansi, Ketua Tim Penilai Provinsi
dan Ketua Tim Penilai Kabl~otaJabatan Fungsional
Nutrisionis sesuai dengan fungsi dan tugasnya memberi

84 29
peringatan tertulis kepada Nutrisionis yang tidak dapat
mengumpulkan angka kredit minimal yang ditentukan.
b. Peringatan terakhir untuk pembebasan Nutrisionis
tersebut di atas diberikan selambat-lambatnya 6 bulan
sebelum batas waktu tersebut berakhir, dan tembusan
kepada pimpinan unit kerja Nutrisionis yang bersangkutan
dan Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit;
c. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis Madya yang berada pada Institusi Pelayanan
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Departemen
Kesehatan dan Instansi Pusat dan Daerah di luar
Departemen Kesehatan ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat atas nama Menteri Kesehatan.
d. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia
dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yang
bekerja pada Institusi Pelayanan gizi, makanan dan
dietetik di lingkungan Departemen Kesehatan ditetapkan
oleh Direktur Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas atas
nama Menteri Kesehatan.
e. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia
dan Nutrisionis Pertama sampai dengan Nutrisionis Muda
yang bekerja pada Institusi Pelayanan gizi, makanan dan
dietetik di lingkungan Insbnsi Pusat di luar Depertemen
Kesehatan ditetapkan oleh Pimpinanthit Kerja atas nama
Pimpinan Instansi.

30 83
f. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis yang berada pada Institusi Pelayanan gizi,
makanan dan dietetik di lingkungan Dinkes Provinsi
ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atas
nama Gubemur.
g. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis yang berada pada Institusi Pelayanan gizi,
makanan dan dietetik di lingkungan Dinkes Kabupaten/
Kota ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota
atas nama Bupati/Wali kota.
4. Tata cara pembebasan sementara lainnya.
a. Apabila te jadi pembebasan sementara Jabatan Fungsional
Nutrisionis dengan alasan (butir 1-b) tersebut diatas,
maka pimpinan unit kerja Nutrisionis yang bersangkutan
mengajukan usul kepada Ketua Tim Penilai Pusat, Ketua
Tim Penilai Direktorat, Ketua Tim Penilai Instansi, Ketua
Tim Penilai Provinsi dan Ketua Tim Penilai Kab/Kota.
Setelah dipelajari secara seksama, Ketua Tim meneruskan
kepada Pejabat yang berwenang untuk menetapkan surat
keputusan pembebasan sementara Jabatan Fungsional
Nutrisionis
b. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen
Kesehatan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bind
Kesehatan Masyarakat atas nama Menteri Kesehatan.
c. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia
dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yang
bekerja pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan
di lingkungan Departemen Kesehatan ditetapkan oleh

82 31
Direktur Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas atas nama
Menteri Kesehatan.
d. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional Nutrisionis
Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis
Pertama sampai dengan Nutrisionis Muda yang bekerja
pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan
Instansi Pusat diluar Depertemen Kesehatan ditetapkan oleh
Pimpinan Unit Kerja atas nama Pimpinan Instansi.
e. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis yang berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan
Kesehatan di lingkungan Dinkes Provinsi ditetapkan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atas nama Gubernur.
f. Pembebasan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis yang berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan
Kesehatan di lingkungan Dinkes KabupatenfKota
ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota atas
nama Bupati/Walikota.

E. Pemberhentian dad Jabatan Fungsional Nutrisionis


1. Persyaratan
a. Nutrisionis diberhentikan dari jabatannya apabila tidak
dapat memenuhi angka kredit sebagai berikut :
1) Dalam waktu 1 (satu) tahun sejak ditetapkan
pembebasan sementara Nutrisionis Pelaksana
pangkat Pengatur golongan ruang II/c sampai dengan
Nutrisionis Penyelia pangkat Penata golongan ruang
III/c dan I Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda
golongan ruang III/a sampai dengan Nutrisionis
Madya pangkat Pembina Tk. I golongan ruang IV/b
tidak dapat mengumpulkan angka kredit kumulatif

32 81
minimal untuk kenaikan pangkat setingkat lebih
tinggi;
2) Dalam waktu I [satu) tahun sejak pembebasan
sementara, tidak dapat mengumpulkan angka kredit
sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) bagi Nutrisionis
Penyelia pangkat Penata Tk I golongan ruang III/d,
dan 20 (Dua puluh ) bagi Nutrisionis Madya pangkat
Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c, yang
berasal dari unsur utama.
b. Nutrisionis dibehentikan dari jabatannya karena alasan
lain sebagai berikut:
1) Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa
pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil,
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun
1980 yang dijalaninya dan telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap;
2) Pembehentian Sementara sebagai Pegawai Negeri
Sipil berdasarkan Peraturan Pemeiintah Nomor
4 Tahun 1966 yang dijalaninya telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap berdasarkan Keputusan
Pengadilan dan yang bersang kutan dinyatakan
bersala

2. Kelengkapan berkas.
Kelengkapan berkas untuk pemberhentian dari jabatan Nutrisionis
meliputi:
a. Surat Keputusan Pembebasan Sementara;
b. Surat Keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap;
c. Foto copy kartu Pegawai.

80 33
3. Tata cara pemberhentian dari jabatan Nutrisionis
a. Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim Penilai
Instansi, Ketua Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai
Kab/Kota Jabatan Fungsional Nutrisionis sesuai dengan
fungsi dan tugasnya memberi catatan mengenai tidak
tercapainya angka kredit kumulatif minimal dalam waktu
yang telah ditetapkan, dan pertimbangan pemberhentian
bagi Nutrisionis sebagaimana tersebut dalam butir 1 (a)
tersebut di atas, kepada pejabat yang berwenang;
b. Kepala Unit Kerja mengusulkan pemberhentian dari
jabatan Nutrisionis dengan catatan pertimbangan
pemberhentian berdasarkan Surat Keputusan pengadilan
yang telah mempunyai ketetapan hukum yang tetap
sebagaimana tersebut dalam butir 1 (b) tersebut di atas
kepada pejabat yang berwenang;
c.
Pejabat yang berwenang untuk menetapkan
pemberhentian dari Jabatan Fungsional Nutrisionis
adalah:
1) Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional
Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen
Kesehatan;
2) Sekretaris Jenderal a.n. Menteri Kesehatan atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama
dan Nutrisionis Muda yad berada pada Unit Gizi
Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan
Departemen Kesehatan;
3) Kepala Biro Kepegawaian a.n. Menteri Kesehatan atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan

34 79
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yarlg
berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan
di lingkungan Departemen Kesehatan;
4) Gubernur untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Dinkes Provinsi;
5) Sekretaris Wilayah Provinsi a.n. Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana Lanjutan,
Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama dan
Nutrisionis Muda yang betada pada Unit Pelaksana
Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi;
6) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a.n. Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubemur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana yang
betada pada Unit Pelaksana Teknis di lingkungan
Dinkes Provinsi;
7) Bupati/Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Dinkes Kab/Kota;
8) Sekretaris Wilayah Kab/Kota a.n. Bupati/Walikota
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
Lanjutan, Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis Pertama
dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota;
9) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n. Bupati/
Walikota atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/
Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Pelaksana yang betada pada Unit Pelaksana Teknis
di lingkungan Dinkes Kab/Kota.

78 35
F. Perpindahan dari jabatan lain ke dalam Jabatan Fungsional
Nutrisionis
1. Persyaratan
Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural/
jabatan fungsional lainnya untuk dapat diangkat dalam
jabatan Nutrisionis harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Memenuhi angka kredit kumulatif minimal yang
ditentukan;
b. Tersedia formasi yang ditetapkan oleh Menteri yang
bertanggung jawab dalam Pendayagunaan Aparatur
Negara;
c. Berijazah serendah-rendahnya Diploma III Gizi bagi
Nutrisionis terampil dan Sarjana/Diploma IV Gizi bagi
Nutrisionis Ahli;
d. Pangkat serendah-rendahnya Pengatur golongan ruang III
c bagi Nutrisionis Terampil dan Penata Muda golongan
ruang IIIJa bagi Nutrisionis Ahli;
e. Memiliki pengalaman dalam pelayanan gizi, makanan dan
dietetik sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun;
f. Usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai
usia pensiun.
g. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya
bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.
2. Kelengkapan berkas
Kelengkapan berkas untuk perpindahan dari jabatan struktural/
jabatan fungsional lain menjadi pejabat Nutrisionis meliputi :

36 77
a. Foto copy SK Pemberhentian dari jabatan struktural/
jabatan fungsional lainnya;
b. Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) disertai
bukti fisiknya;
c. Surat Pernyataan rnelaksanakan tugas pelayanan gizi,
makanan dan dietetik yang ditandatangani oleh Pirnpinan
Unit Kerja yang bersangkutan;
d. Foto copy DP3 dalam 1 (satu) tahun terakhir;
e. Foto copy Kartu Pegawai.
3. Tata cara perpindahan dari jabatan struktural/jabatan
fungsional lain rnenjadi pejabat Nutrisionis
a. Prosedur pengajuan usul perpindahan
1) Calon Nutrisionis yang bekeja di institusi pelayanan
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Departemen
Kesehatan. Mengajukan permohonan tertulis kepada
Menteri Kesehatan melalui unit kejanya.
2) Calon Nutrisionis yang bekerja di institusi pelayanan
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
Daerah Provinsi mengajukan permohonan tertulis
kepada Gubernur melalui unit kejanya.
3) Calon Nutrisionis yang bekeja di institusi pelayanan
gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
Daerah Kab/Kota mengajukan permohonan tertulis
kepada Bupati/Walikota melalui unit kerjanya.
b. Pejabat yang berwenang untuk rnenetapkan pengangkatan
melalui perpindahan dari jabatan struktural/jabatan
fungsional lain rnenjadi pejabat Nutrisionis:
1) Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan
Kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan;

76 37
2) Sekretaris Jenderal an. Menteri Kesehatan atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Penyelia,
Nutrisionis Pertama dan Nutrisionis Muda yang
berada pada Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan
di lingkungan Departemen Kesehatan;
3) Kepala Biro Kepegawaian a.n. Menteri Kesehatan atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana dan
Nutrisionis Pelaksana Lanjutan yang berada pada
Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan
Departemen Kesehatan;
4) Gubernur untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Dinkes Provinsi;
5) Sekretaris Wilayah Provinsi a.n. Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Penyelia, Nutrisionis
Pertama dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi.
6) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a.n.Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana dan
Nutrisionis Pelaksana Lanjutan yang berada pada
Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi;
7) Bupati/Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Madya yang berada pada Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Dinkes Kab/Kota;
8) Sekretaris Wilayah Kab/Kota a.n. Bupati/Walikota atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Penyelia, Nutrisiohis
Pertama dan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota;

38 75
9) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n. Bupati/
Walikota atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/
Walikota untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis
Pelaksana dan Nutrisionis Pelaksana Larljutan yang
berada pada Unit Pelaksana Teknis di lingkungan
Dinkes Kab/Kota.
c. Perqindahan Pegawai Negeri Sipil dari jabatan struktural/
jabatan fungsional lain ke dalam Jabatan Fungsional
Nutrisionis dapat dilakukan dengan ketentuan harus
memenuhi syarat sebagaimana tersebut pada butir 1.
Contoh :
Ir. Arifin adalah seorang Nutrisionis. la telah memiliki
angka kredit 170. Selama di luar Jabatan Nutrisionis, ia
telah memperoleh kenaikan pangkat (go1 III/c). Dalam
hal demikian, pengangkatan Ir. Arifin dalam Jabatan
Nutrisionis dengan syarat sebagai berikut :
1) Pangkatnya ditetapkan sebagai Penata (gol. III/c)
2) Jabatan ditetapkan sama dengan jumlah angka kredit
dimilikinya.
G. Pengangkatan Kembali Jabatan Fungsional Nutrisionis
1. Persyaratan
a. Nutrisionis akan diangkat kembali ke dalam jabatannya
apabila sudah dapat memenuhi ang ka kredit sebagai
berikut:
1) Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan
sementara sudah dapat mengumpulkan angka kredit
kumulatif minimal untuk kenaikan pangkat setingkat
lebih tinggi bagi Nutrisionis Pelaksana pangkat
Pengatur golongan ruang II/c sampai dengan
Nutrisionis Penyelia pangkat Penata golongan ruang

74 39
III/c dan Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda
golongan ruang III/a sampai dengan Nutrisionis
Madya pangkat Pembina Tk. I golongan ruang IV/b;
2) Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan
sementara sudah dapat mengumpulkan angka kredit
sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) bagi Nutrisionis
Penyelia pangkat Penata Tk I golongan ruang III/d,
dan 20 (Dua puluh ) bagi Nutrisionis Madya pangkat
Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c;
b. Nutrisionis akan diangkat kembali ke dalam jabatannya
karena alasan lain sebagai berikut:
1) Telah selesai menjalani hukuman disiplin tingkat
sedang atau tingkat berat berupa penurunan pangkat
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun
1980;
2) Berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap pejabat
Nutrisionis yang dikenakan pemberhentian sebagai
PNS berdasarkan. Peraturan Pemerintah Nomor
4 Tahun 1966 dinyatakan tidak bersalah dan telah
diangkat kembali sebagai PNS oleh Pejabat Yang
Berwenang Mengangkat dan Memberhentikan PNS;
3) Telah selesai menjalani tugas di luar Jabatan
Nutrisionis;
4) Telah selesai menjalani cuti di luar tanggungan
negara dan telah diaktifkan kembali;
5) Telah selesai menjalani tugas belajar.

40 73
2. Kelengkapan berkas.
Kelengkapan berkas untuk pengangkatan kembali meliputi :
a. Surat Keterangan Selesai Tugas Belajar, atau Pengangkatan
Kembali sebagai PNS setelah Cuti di luar Tanggungan
Negara atau Surat Keputusan Pengadilan atau bukti fisik
Pengumpulan Angka Kredit;
b. Surat Keputusan pengangkatan ke dalam Jabatan
Nutrisionis terakhir;
c. Surat Keputusan Kenaikan Pangkat terakhir;
d. Surat Keputusan Pembebasan Sementara;
e. Penetapan Angka Kredit (PAK) terakhir;
f. Foto copy Kartu Pegawai.
3. Tata cara pengangkatan kembali ke dalam jabatan Nutrisionis
1) Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak Nutrisionis
Pelaksana dengan pangkat Pengatur golongan ruang
II/c sampai dengan Nutrisionis Madya pangkat Penata
golongan ruang N/c dibebaskan sementara sudah dapat
mencapai angka kredit kumulatif minimal untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi, maka Nutrisionis yang
bersangkutan menyampaikan DLIPAK dan berkas yang
dipersyaratkan kepada Kepala Unit Kerjanya untuk
pengusulan pengangkatan kembali;
2) Telah selesai menjalani sebagaimana tersebut dalam butir
1 (b) di atas.
3) Pejabat yang bewenang untuk menetapkan pengangkatan
kembali dalam Jabatan Fungsional Nutrisionis adalah:
a) Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat atas
narna Menteri Kesehatan untuk Jabatan Fungsional
Nutrisionis Madya yang berada pada Unit Gizi Institusi
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen

72 41
Kesehatan dan Instansi Pusat dan Daerah di luar
Departemen Kesehatan;
b) Direktur Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas atas
nama Menteri Kesehatan atau pejabat lain yang
ditunjuk oleh Menteri Kesehatan untuk Jabatan
Fungsional Nutrisionis Pelaksana sampai dengan
Nutrisionis Mads yang berada pada Unit Gizi Institusi
Pelayanan Kesehatan di lingkungan Departemen
Kesehatan;
c) Pimpinan Unit Keja atas nama Pimpinan Instansi
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
sampai dengan Nutrisionis Muda yang berada pada
Unit Gizi Institusi Pelayanan Kesehatan di lingkungan
Instansi Pusat di luar Departemen Kesehatan;
d) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi a.n. Gubernur atau
pejabat lain yang ditunjuk oleh Gubernur untuk
Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana sampai
dengan Nutrisionis Muda yang berada pada Unit
Pelaksarld Teknis di lingkungan Dinkes Provinsi;
e) Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota a.n.Bupati/Walikota
atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota
untuk Jabatan Fungsional Nutrisionis Pelaksana
sampai dengan Nutrisionis Muda yang berada pada
Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Dinkes Kab/Kota.
3. Pegawai Negeri Sipil yang diangkat kembali dalam
Jabatar, Nutrisionis, dapat nlenggunakan angka kredit
yang pernah dimilikinya.
Contoh:
Drs; Susilo, Sarjana Administrasi STIA LAN adalah PNS
Departemen Kesehatan dengan pangkat Penata Tk.1
(go1 III/d). Jabatin terakhir sebagai Kepala Bagian Umum
Departemen Kesehatan. Lahir 6 Juni 1957. Pada Juni

42 71
2001 usianya 44 tahun. Dia dicalonkan untuk diangkat
dalam Jabatan Fungsional Nutrisionis terhitung mulai
1 Oktober 2001. Dengan demikian, pengangkatan Drs.
Susilo sebagai Nutrisionis dilakukan sebagai berikut :
a) Pangkat dan golongan ruang ditetapkan sama yaitu
Penata Tk.1 gol. III/d.
b) Mernenuhi syarat teknis Jabatan Fungsional
Nutrisionis.
c) Jabatan Nutrisionis ditetapkan berdasarkan jumlah
angka kredit yang dirniliki sesuai dengan hasil penilai
Tim Penilai.

H. Jenjang Jabatan Nutrisionis, Panglcat dan Golongan


Ruang
Jenjang Jabatan Nutrisionis, pangkat dan golongan ruang yang
terendah sarnpai dengan yang tertinggi adalah sebagai berikut :

70 43
BAB IV

PEMBINAAN DAN PENILAIAN


JAMTAN FUNGSIONAL NUTRISIONIS

A. Strategi Pembinaan Pejabat Nutrisionis


1. Pejabat yang berwenang dalam pembinaan.
a. Ditjen Bina Kesmas selaku penanggung jawab pembinaan
Jabatan Fungsional Nutrisionis
b. Sekretaris Ditjen Bina Kesmas sela ku koordinator
pelaksanaan pembinaarl jabatan Fungsional Nutrisionis
c. Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Kesehata-n selaku
penanggung jawab atas pendidikan dan latihan pejabat
Nutrisionis
d. Kepala Biro Hukum dan Organisasi selaku penanggung
jawab atas pengembangan dan evaluasi sistem pembinaan
Jabatan Fungsional Nutrisionis
e. Kepala Biro Kepegawaian selaku penanggurrg jawab
dalam pernbinaan aspek kepegawaian Jabatan Fungsional
Nutrisionis
f. Direktur Gizi Masyarakat bertanggung jawab dalam
memberikan bimbingan teknis dalam tugas dan fungsi
Nutrisionis.
2. Tata kerja Nutrisionis.
a. Setiap Nutrisionis mencatat hasil kegiatan atau
pelaksanaan, bimbingan yang diterimanya dalam “buku
kerja Nutrisionis”

44 69
b. Nutrisionis meminta pengesahan hasil kerja dengan cara
mengisi buku kerja Nutrisionis dan melampirkan bukti-
bukti kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik
yang dilakukannya kepada Kepala Institusi Pelayanan
gizi, makanan dan dietetik setiap akhir bulan Juni dan
Desember
c. Apabila Kepala Institusi pelayanan gizi, makanan dan
dietetik meragukan pengisian buku kerja Nutrisionis, maka
ia wajib melakukan pengecekan mengenai kebenarannya
kepada Nutrisionis yang bersangkutan
d. Buku Ke rja Nutrisionis tersebut di atas oleh Kepala
Institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik dijadikan
bahan dalam mengisi Pernyataan Melakukan Kegiatan
Pelayanan gizi, makanan dan dietetik.
B. Tata cara pengajuan, penilaian dan Penetapan Angka
Kredit (PAK)
1. Tata cara Pengajuan usul Penetapan Angka Kredit
a. Usul Penetapan Angka Kredit diajukan oleh :
1) Nutrisionis yang bersangkutan kepada atasannya
langsung;
2) Atasan langsung Nutrisionis mengajukan kepada
Kepala institusi yang bersangkutan;
3) Kepala institusi yang bersangkutan mengajukan
usul Penetapan Angka Kredit Nutrisionis kepada
Tim Penilai Angka Kredit Nutrisionis sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
b. Usul Penetapan Angka Kredit dilampiri dengan :
1) Salinan sah ijazah/sertifikat (pendidikan formal atau
latihan kedinasan) apabila ada;

68 45
2) Surat pernyataan melakukan kegiatan pelayanan
gizi, makanan dan dietetik;
3) Surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan
profesi Nutrisionis;
4) Pernyataan melakukan kegiatan penunjang kegiatan
pelayanan gizi, makanan dan dietetik;
5) Surat keterangan tanda kehormatanltanda jasa yang
pernah diterima Nutrisionis;
6) Foto copy SK. Kenaikan pangkat terakhir;
7) Foto copy SK. Pengangkatan dalam jabatan Nutrisionis
terakhir;
8) Daftar rekapitulasi perhitungan angka kredit yang
diusulkan yang diketahui atasan langsung;
9) Foto copy bukti keja Nutrisionis (disahkan);
10) Foto copy daftar pertelaan Nutrisionis kegiatan
pelayanan gizi, makanan dan dietetik (disahkan);
11) Foto copy SK Penetapan Angka Kredit terakhir.
c. Penyampaian usul Penetapan Angka Kredit (PAK)
dilakukan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum
periode kenaikan pangkat. Penetapan angka kredit
dilakukan setelah yang bersang kutan secara kumulatif
cukup untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.
2. Tata cara penilaian dan Penetapan Angka Kredit.
a. Usul Penetapan Angka Kredit dinilai secara seksama oleh
Tim Penilai Jabatan Fungsional Nutrisionis
b. Angka kredit bagi Nutrisionis yqng diusulkan tersebut,
ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang.

46 67
C. Pejabat yang berwenang dalam Penetapan Angka Kredit
1. Pejabat yang berwenang untuk menetapkan angka kredit
adalah :
a. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen
Kesehatan bagi Nutrisionis Madya yang berada di
lingkungan Departemen Kesehatan, serta Instansi Pusat
dan Daerah diluar Departemen Kesehatan.
b. Direktur Gizi Masyarakat Direktorat Jenderal Bina
Kesehatan Masyarakat bagi Nutrisionis Pelaksana sampai
dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta
Nutrisionis Muda yang bekerja pada Institusi pelayanan
gizi, makanan dan dietetik yang berada di lingkungan
Departemen Kesehatan.
c. Pimpinan unit keja yang bersangkutan atau pejabat lain
yang ditunjuk bagi Nutrisionis Pelaksana sampai dengan
Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta sampai
dengan Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi
pelayanan gizi, makanan dan dietetik di lingkungan
instansi pusat di luar Departemen Kesehatan.
d. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi bagi Nutrisionis Pelaksana
sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis
Pertama sampai dengan Nutrisionis Muda yang bekerja
pada institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik di
lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi.
e. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bagi Nutrisionis
Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan
Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yang bekerja
pada institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik di
lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

66 47
2. Keputusan pejabat yang bewenang tersebut bersifat tetap
dan tidak dapat diajukan keberatan.
3.
Dalam menjalankan kewenangannya pejabat yang
bersangkutan dibantu oleh Tim Penilai Jabatan Nutrisionis.

D. Tata cara permintaan, pemberian dan penghentian


tunjangan Jabatan Fungsional Nutrisionis
1. Tata cara permintaan dan pemberian tunjangan Jabatan
Fungsional Nutrisionis. Yang berhak menerima tunjangan
Jabatan Fungsional Nutrisionis adalah Pegawai IVegeri Sipil
yang telah diangkat dalam Jabatan Fungsional Nutrisionis
dengan surat Keputusan Pejabat yang bewenang berdasarkan
peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Permintaan
pembayaran tunjangan Jabatan Fungsional Nutrisionis
diajukan oleh Pejabat pembuat daftar gaji bersamaan
dengan pengajuan permintaan gaji. Tunjangan Jabatan
Fungsional Nutrisionis dibayarkan pada bulan berikutnya
setelah bersangkutan secara nyata melaksanakan tugas yang
dinyahkan denganl’Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas”
dari Pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang, pada
setiap permulaan tahun anggaran membuat surat pernyataan
masih menduduki jabatan.
2. Pemberhentian tunjangan Jabatan Fungsional Nutrisionis
Pembayaran tunjangan Jabatan Fungsional Nutrisionis
diberhentikan apabila Nutrisionis yang bersangkutan
diberhentikanldibebaskan sementara dari Jabatan Fungsional
Nutrisionis, menjalankan cuti besarlcuti diluar tanggungan
negara atau tidak ada surat pernyataan masih menduduki
jabatan dari pejabat bewenang. Apabila surat keputusan
pembebasan sementara, cuti besar atau cuti diluar
tanggungan negara berlaku pada tanggal 1 bulan berjalan,

48 65
maka tunjangannya diberhentikan terhitung mulai bulan
berikutnya. Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam Jabatan
Fungsional Nutrisionis yang dibebaskan sementara dari
jabatannya karena menjalankan tugas belajar dan lain-lain
yang serupa dengan itu selama lebih dari 6 (enam) bulan,
pembayaran tunjangannya dihentikan sementara mulai bulan
ke 7 (tujuh).

64 49
BAB V
PENUTUP

Dengan adanya Petunjuk teknis Jabatan Fungsional Nutrisionis


ini diharapkan adanya kesatuan pengertian para Pejabat dalam
pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis baik di Pusat maupun
Daerah.
Diharapkan petunjuk ini dapat pula meningkatkan motivasi bagi para
pejabat fungsional Nutrisionis untuk meningkatkan prestasi kerja baik
di tingkat Pusat dan Daerah.
Petunjuk teknis ini dapat disempurnakan sesuai dengan perkembangan
ilmu di bidang gizi, makanan dan dietetik maupun perkembangan
organisasi institusi di bidang kesehatan.

50 63
KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
DAN
KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

NOMOR : 894/MENKES/SKB/VIII/2001
NOMOR : 35 TAHUN 2001

TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL
NUTRlSlONlS DAN ANGKA KREDITNYA

BUKU : II

62 51
KANTOR MENTERI NEGARA
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 22/D.III/PAN/04/2001 Jakarta, 6 April 2001


Lampiran : 2 (dua) berkas
Perihal : Penyampaian Keputusan MENPAN
Tentang Jabatan Fungsional di lingkungan
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Kepada Yth.
1. Sdr. Sekretaris Jenderal
Dep. Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
2. Kepala Badan Kepegawaian Negara
u.p. Deputi Pembinaan BKN

di
Jakarta
Sebagai tindak lanjut usul Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial tentang
Jabatan Fungsional Perawat Gigi dan Jabatan Fungsional Nutrisionis sebagaimana
disampaikan kepada MENPAN masing-masing dengan Surat Nomor 32/Menkes Kesos/I/2001
tanggal 12 Januari 2001 dan Nomor 67A/Menkes Kesos/II/2001 tanggal 31 Januari 2001,
bersama ini kami sampaikan kepada Saudara:
1. Keputusan MENPAN Nomor 22/KEP/M.PAN/4/2001 tentang Jabatan Fungsional
Perawat Gigi dan Angka Kreditnya.
2. Keputusan MENPAN Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001 tentang Jabatan Fungsional
Nutrisionis dm Angka Kreditnya.
Sesuai dengan surat menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor 32/
Menkes Kesos/I/2001 tanggal 12 Januari 2001 dan Nomor 67A/Menkes Kesos/II/2001
tanggal 31 Januari 2001 sepanjang kemampuan keuangan negara belum rnemungkinkan,
pemberian tunjangan jabatan fungsional bagi Perawat Gigi dan Nutrisionis dibayarkan
melalui Tunjangan Tenaga Kesehatan.
Demikian, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Deputi III MENPAN
Bidang SDM Aparatur,

Hardijanto

52 61
KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DAN
KEPALA BADAN KEPECAWAIAN NECARA

NOMOR : 894/MENKES/SKBNIIU2001
NOMOR : 35 TAHUN 2001

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANMN JABATAN FVNGSIONAL


NUTRISIONIS DAN ANGKA KREDFTNYA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DAN


KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

Menimbang : a. bahwa dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan


Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001 telah
ditetapkan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka
kreditnya;
b. bahwa untuk kelancaran dan tertib administrasi dalam
pelaksanaan keputusan tersebut, dipandang perlu
menetapkan Keputusan Bersarna Menteri Kesehatan Republik
Indonesia dan Kepala Badan Kepegawaian Negara tentang
Petuhjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan
Angka kreditnya.
Mengingat : 1. Undang - undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian, sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang Nomor 43 Tahun 1999;
2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, 9
(Lembaran Negara Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara
‘Nomor 3495);
60 1
3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2000 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Nomor 60 Tahun 1999, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3839);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966 tentang
Pemberhentiaflemberhentian Sementara Pegawai Negeri;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan
Gaji Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah beberapa kali di
ubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun
2001;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai
Daerah Otonom (Lembaran Negara Nomor 54 Tahun 2000,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 tentang
Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian
Pegawai Negeri Sipil;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan
Pangkat Pegawai Negeri Sipil;
11. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun
Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
12. Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Departemen sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 2001;
13. Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2001;
14. Keputusan Presiden Nomor 178 Tahun 2000 tentang Susunan
Organisasi dan Tugas Lembaga Pemerintah Non Departemen,
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2001;
2 59
MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK


INDONESIA DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA
TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL
NUTRISIONIS DAN ANGKA KREDITNYA

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan Bersarna ini yang dimaksud dengan:
1. Nutrisionis, adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab,
wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan
kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, miakanan dan dietetik.
2. Tim penilai angka kredit, adalah Tim penilai yang dibentuk dan ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang dan bertugas menilai prestasi kerja Nutrisionis.
3. Angka kredit, adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai
butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Nutrisionis dalam rangka
pembinaan karier kepangkatan dan jabatan.
4. Pejabat yang berwenang mengangkat, membebaskan sementara dan
memberhentikan dalam dan dari jabatan Nutrisionis adalah pimpinan instansi
masing-masing atau pejabat lain yang ditunjuk sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
5. Pemberhentian, adalah pemberhentian dari jabatan Nutrisionis, bukan
pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil.
6. Pimpinan unit kerja, adalah pejabat yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang,
dan hak oleh pejabat yang berwenang untuk memimpin suatu unit kerja sebagai
bagian dari organisasi yang ada.
7. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat, adalah Menteri, Jaksa Agung, Sekretaris
Negara, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Militer, Sekretaris Presiden, Sekretaris
Wakil Presiden, Kepala Kepolisian Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah Non

58 3
Departemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga TertinggiITinggi Negara.
8. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi, adalah Gubernur.
9. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah KabupatenKota, adalah Bupati/Walikota.

BAB II
USUL DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT
(1) Usul Penetapan Angka Kredit Nutrisionis disampaii setelah menurut perhitungan
Nutrisionis yang bersangkutan, jumlah angka kredit yang disyaratkan untuk
kenaikan jabatadpangkat setingkat lebih tinggi telah dapat dipenuhi, dan dibuat
menurut contoh formulir sebagai berikut :
a. Untuk Nutrisionis Terampil sebagaimana tersebut pada Larnpiran I;

b. Untuk Nutrisionis Ahli sebagaimana tersebut pada Lampiran 11;

(2) setiap usul Penetapan Angka Kredit Nutrisionis dilampiri dengan :


a. Surat pernyataan melakukan kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik,
dan bukti fisiknya, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut
pada Lampiran III;

b. Surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi dan bukti


fisiknya, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut pada
Lampiran IV;

c. Surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang kegiatan pelayanan gizi,


makanan dan dietetik dan bukti fisiknya, dibuat menurut contbh formulir
sebagaimana tersebut pada Lampiran V;

d. Salinan atau fotokopi ijazahtsurat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan dan
atau keterangadpenghargaan yang pernah diterima yang disahkan oleh
pejabat yang berwenang mengesahkan, apabila ada.

(3) Usul Penetapan Angka Kredit untuk kenaikan pangkat, dilakukan selambatlambatnya
3 (tiga) bulan sebelum periode kenaikan pangkat sebagai berikut :
a. Untuk kenaikan pangkat periode Januari, angka kredit ditetapkan selambat-

4 57
lambatnya pada bulan Oktober tahun sebelumnya.

b. Untuk ke’naikan pangkat periode April, angka kredit ditetapkan


selambatlambatnya pada bulan Januari tahun yang bersangkutan.

c. Untuk kenaikan pangkat periode Juli, angka kredit ditetapkan


selambatlambatnya pada bulan April tahun yang bersangkutan.

d. Untuk kenaikan pangkat periode Oktober, angka kredit ditetapkan


selambatlambatnya pada bulan Juli tahun yang bersangkutan.

Pasal 3

(1) Setiap usul Penetapan Angka Kredit bagi Nutrisionis harus dinilai secara seksama
oleh Tim Penilai, dengan berpedoman pada Lampiran I dan Lampiran II Keputusan
Meueri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001.
(2) Hasil penilaian Tim Penilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit dengan menggunakan contoh
formulir sebagaimana tersebut pada Lampiran VI, dengan ketentuan :
a. Asli Penetapan Angka Kredit (PAK) disampaikan kepada Kepala Badan
Kepegawaian Negara (BKN) atau Kepala Kantor Regional BKN yang
bersangkutan.

b. Tembusan disampaikan antara lain kepada :

1). Nutrisionis yang bersangkutan;


2). Pimpinan Unit Kerja Nutrisionis yang bersangkutan; .-
3). Sekretaris Tim Penilai Nutrisionis yang bersangkutan;
4). Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

(3) Apabila pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit berhalangan sehingga
tidak dapat menetapkan angka kredit sampai batas waktu yang telah ditetapkan
dalam Pasal2 ayat (3). maka pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit
tersebut dapat mendelegasikan kepada pejabat lain satu tingkat lebih rendah
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 14 ayat (1) Keputusan Menteri Negara
Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001.
(4) Spesimen tanda tangan pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit

56 5
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 23/KEP/M.PAN/4/2001, disampaikan
kepada Kepala BKN atau Kepala Kantor Regional BKN yang bersangkutan.
(5) Apabila terdapat pergantian pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit,
maka spesimen Wnda tangan pejabat baru dimaksud disampaikan kepada Kepala
BKN atau Kepala Kantor Regional BKN yang bersangkutan.

BAB III
TIM PENILAI
(1) Syarat pengangkatan untuk menjadi anggota Tim Penilai Pusat, Tim Penilai
Direktorat, Tim Penilai Instansi, Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/
Kota sebagai berikut :
a. Sehuang-kurangnya menduduki jabatanlpangkat setingkat dengan jabatad
pangkat Nutrisionis yang dinilai;

b. Mempunyai kompetensi untuk menilai prestasi kerja Nutrisionis; dan

c. Dapat aktif melakukan penilaian.

(2) Masa jabatan Tim ~enilaPi usat, ‘Iim Penilai Direktorat, Tim Penilai Instansi, Tim
Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah 3 (tiga) tahun.
(3) Jumlah Anggota Tim Penilai Pusat, xm Penilai Direktorat, Tim Penilai Instansi,
Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota yang berasal dari Nutrisionis
pada dasarnya harus lebih banyak dari pada anggota Tim Penilai yang berasal dari
Pejabat lain diluar Nutrisionis. .-
(1) Tugas Pokok Tim Penilai Pusat adalah :
a. Membantu Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dalam menetapkan
angka kredit Nutrisionis Madya yang berada di lingkungan dan instansi
lai’nnya baik Pusat maupun Daerah.

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal Bina


Kesehatan Masyarakat yang berhubungan dengan Penetapan Angka Kredit
bagi Nutrisionis Madya yang berada di lingkungan Instansi lainriya baik
Pusat dan Daerah.

6 55
(2) Tugas pokok Tim Penilai Direktorat, adalah :
a. Membantu Direktur Gizi Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat dalam menetapkan angka kredit Nutrisionis Pelaksana sarnpai
dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda
yang bekeria pada institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik tingkat
pusat di linekungan Departemen Kesehatan RI;

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direktur Gizi Masya rakat
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat yang berhubungan dengan
Penetapan Angka Kredit bagi Nutrisionis sebagaimana dirnaksud huruf a.

(3) Tugas pokok Tim Penilai Instansi adalah :


a. Mernbantu Pirnpinan Unit Kerja yang bersangkutan (serendah- rendahnya
eselon 11) atau pejabat lain yang ditunjuk dalam rnenetapkan angka kredit
Nutrisionis Pelaksana sarnpai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis
Pertama serta Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi pelayanan gizi.
makanan dan dietetik yang berada di luar Departemen Kesehatan RI;

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Pirnpinan Unit Kerja yang
bersangkutan atau pejabat lain yang ditunjuk yang berhubungan dengan
Penetapan Angka Kredit bagi Nutrisionis sebagaimana dimaksud huruf a.

(4) Tugas pokok Tim Penilai Provinsi, adalah :


a. Mernbantu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dalam menetapkan angka kredit
Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis
Pertama serta Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi pdayanan gizi,
makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi;

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan


Provinsi yang berhubungan deng& penetapan angka kredit bagi Nutrisionis
sebagaimana dirnaksud huruf a.

(5) Tugas pokok Tim Penilai Kabupaten Kota, adalah :


a. Mernbantu Kepala Dinas Kesehatan Kabupateflota yang bersangkutan dalam
rnenetapkan angka kredit Nutrisionis Pelaksana sampai dengan Nutrisionis
Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yang bekerja pada

54 7
institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemerintah
Daerah Kabupaten/kota;

b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan


Kabupateflota yang bersangkutan yang berhubungan dengan Penetapan
Angka Kredit bagi Nutrisionis sebagaima dimaksud huruf a.

(6) Dalam hal komposisi anggota Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim Penilai
Instansi Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota yang berasal dari
Nutrisionis dak rnemenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal4 ayat
(3). rnaka anggota Tim Penilai dapat diangkat dari pejabat lain yang mempuayai
kompetensiipengalaman di bidang Nutrisionis.
(7) Dalam hal Tim Penilai KabupatenKota belum dapat dibentuk karena belum ada
yang memenuhi persyaratan Anggota Tim Penilai, maka penilaian dan Penetapan
Angka Kredit dapat dimintakan kepada Tim Penilai Direktorat Tim Penilai Pusat
demikian pula apabila Tim Penilai Provinsi belum dapat dibentuk dapat dimintakan
penilaian dan Penetapan Angka Kredit kepada Tim Penilai Direktoraflim Penilai
Pusat.
(8) Dalam hal terdapat anggdta Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim Penilai
Instansi, Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai KabupatenKota yang berhalangan
sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan atau pensiun, maka ketua Tim Penilai
dapat mengusulkan penggantian Tim Penilai kepada Pejabat yang berwenang
menetapkan Tim Penilai.
(9) Dalam hal terdapat anggota Tim Penilai yang turut dinilai, ketua Tim Penilai dapat
mengangkat pengganti anggota Tim Penilai yang bersangkutan.
(10) Tata kerja dan tata cara penilaian Tim Penilai Pusat, Tim Penilai Direktorat, Tim
Penilai Instansi, Tim Penilai Provinsi dan Tim Penilai Kabupaten/Kota ditetapkan
oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Pasal 6
(1) Untuk membantu ?Tm Penilai dalam melaksanakm tugasnya, dibentuk Sekretariat
Tim Penilai yang dipimpin oleh seorang Sekretaris.
(2) Sekretaris Tim Penilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), secara fungsional
dijabat oleh pejabat di bidang kepegawaian.

8 53
(3) Sekretariat Tim Penilai dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan pejabat yang
berwenang sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15 ayat (2) Keputusan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001.
Pasal 7
(1) Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit, dapat membentuk Xm
Penilai Teknis yang anggotanya terdiri dari para ahli, baik yang berkedudukan
sebagai Pegawai Negeri Sipil atau bukan Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai
kemampuan teknis yang diperlukan.
(2) Tugas pokok Tim Penilai Teknis adalah memberikan saran dan pendapat kepada
Ketua Xm Penilai dalam hal memberikan penilaian kegiatan yang bersifat khusus
atau keahlian tertentu.
(3) Tim Penilai Teknis menerima tugas dari dan bertanggung jawab kepada Ketua Tim
Penilai.

BAB IV
KENAIKAN JABATAN DAN PANGKAT
Pasal 8
(1) Penetapan angka kredit sebagaimana dimaksud dalam Pasal3 ayat (2), digunakan
_ sebagai dasar untuk mempertimbangkan kenaikan jabatan dan kenaikan
pangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Kenaikan jabatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (I), setiap kali dapat
dipertimbangkan apabila :
a. Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam jabatan terakhir;

b. Memenuhi angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan jabatan setingkat


lebih tinggi; dan

c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam


1 (satu) tahun terakhir.

(3) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). setiap kali dapat 5
dipertimbangkan apabila :

52 9
a. Sekurang-kurangnya telah 2 (dua) tahun dalam pangkat terakhir;

b. Memenuhi angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat


lebih tinggi; dan

c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2


(dua) tahun terakhir.

(4) Kenaikan pangkat bagi Pegawai Negeri Sipil Pusat yang menduduki jabatan
Nurisionis Madya, pangkat Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b untuk menjadi
~embinUa pma Muda golongan ruang IV/c ditetapkan dengan Keputusan Presiden
setelah mendapat pertimbangan teknis Kepala Badan Kepegawaian Negara.
(5) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Pusat yangt menduduki jabatan :
a. Nutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur, golongan ruang II/c untuk menjadi
Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d sampai dengan Nutrisionis Penyelia
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d, dan

b. Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a untuk menjadi
Penata Muda Tingkat I golongan ruang IIIh sampai dengan Nutrisionis
Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b., ditetapkan oleh
pejabat Pembina kepegawaian Pusat yang bersangkutan setelah mendapat
pertimbangan teknis Kepala BKN.

(6) Penetapan kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud ayat (5) dapat didelegasikan
atau dikuasakan kepada pejabat lain di lingkungannya sepanjang untuk kenaikan
pangkat:
a. Nutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur, golongan ruang Wc menjadi
Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d; sarnpai dengan Nutrisionis Penyelia
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d; dan

b. Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a; menjadi


Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b; sampai dengan Nutrisionis
Muda pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d;

(7) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah yang menduduki jabatan :
a. Nutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur, golongan ruang lYc menjadi
Pengatur Tingkat I, golongan ruang IYd sampai dengan Nutrisionis Penyelia

10 51
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang IIYd; dan

b. Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a; untuk


menjadi Penata Muda Tingkat I golongan ruang IIYb sampai dengan
Nutrisionis Madya pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IVIc
ditetap kan oleh pejabat pembina Kepegawaian Daerah setelah mendapat
pertimbangan teknis Kepala Kantor Regional BKN.

(8) Penetapan kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud ayat (7) dapat didelegasikan
atau dikuasakan kepada pejabat lain di lingkungannya sepanjang untuk kenaikan
pangkat :
a. Nutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur, golongan ruang II/c menjadi
Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d; sampai dengan Nutrisionis Penyelia
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d;, dan

b. Nutrisionis Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a; menjadi


Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b; sampai dengan Nutrisionis
Muda pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d;

Pasal 9
(1) Nutrisionis yang menduduki pangkat Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d
ke bawah yang memperoleh ijazah SarjanaDiploma IV, dapat dipertimbangkan
kenaikan pangkatnya sebagai penyesuaian ijazah, dengan ketentuan :
a. PendidikadijazahISurat Tanda Tamat Belajar yang diperoleh sesuai dengan
jabatan Nutrisionis;

b. Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir;

c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang- kurangnya bernilai baik


dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan

d. Memenuhi jumlah angka kredit kumulatif minimal yang ditentukan untuk


pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a.

(2) Nutrisionis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dipertimbangkan untuk
diangkat dalam jabatan Nutrisionis Ahli.

50 11
Pasal 10
Nutrisionis yang memiliki angka kredit melebihi angka kredit yang ditentukan untuk
kenaikan jabatadpangkat setingkat lebih tinggi, kelebihan angka kredit tersebut dapat
diperhitungkan untuk kenaikan jabatanlpangkat berikutnya.

BAB V
PENGANGKATAN, PEMBEBASAN SEMENTARA DAN
PEMBERHENTIAN DALAM DAN DARI JABATAN
Pasal 11
Pengangkatan, pernbebasan sementara dan pemberhentian dalam dan dari jabatan
Nutrisionis, ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Pengangkatan pertama kali dan pengangkatan kembali dalam jabatan Nutrisionis
ditetapkan dengammenggunakan contoh forrnulir sebagaimana tersebut pada
lampiran VII;
2. Pembebasan sementara dari jabatan Nutrisionis ditetapkan dengan rnenggunakan
contoh formulir sebagaimana tersebut pada lampiran VIII.
Pasal 12
(1) Untuk menjamin tingkat kine rja Nutrisionis dalam mencapai angka kredit
untuk kenaikan jabatantpangkat, maka dalam pengangkatan Nutrisionis harus
memperhitungkan keseimbangan antara rasio beban kerja dengan jumlah
Nutrisionis sesuai dengan jenjang jabatan.
(2) Di samping harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(I), pengangkatan Nutrisionis dapat dilakukan apabila formasi’jabatannya telah
ditetapkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan setelah
mendapat pertimbangan teknis Kepala Badan Kepegawaian Negara.
Pasal 13
(1) Nutrisionis dibebaskan sementara dari jabatannya apabila :
a. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak diangkat dalan pangkat terakhir

12 49
tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi bagi :

1) Nutrisionis Pelaksana pangkat Pengatur, golongan ruang IYc sampai


dengan Nutrisionis Penyelia pangkat Penata golongan ruang III/c.

2) Nutrisionis Pertarna pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a


sampai dengan Nutrisionis Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan
ruang IV/b;

b. Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diangkat dalam pangkat terakhir
tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang - kurangnya:

1) 10 (sepuluh) bagi Nutrisionis Penyelia pangkat Penata Tingkat I


golongan ruang III/d;

2) 20 (dua puluh) bagi Nutrisionis Madya pangkat Pembina Utama Muda,


golongan ruang IV/c;

c. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat berat berupa


penurunan pangkat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun
1980;

d. Diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Pera


turan Pemerintah Nomor 4 tahun 1966; atau

e. Ditugaskah secara penuh di luar jabatan Nutrisionis;

f. Cuti diluar-tanggungan negara, kecuali untuk persalinan keempat dan


seterus nya; atau

g. Tugas belajar lebih dari 6 (enarn) bulan.

(2) Nutrisionis yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf c, selama menjalani masa hukuman disiplin tetap melaksanakan tugas
pokoknya, tetapi kegiatan tersebut tidak diberi angka kredit.
(3) Nutrisionis yang dibebaskan sementara karena tugas belajar lebih dari 6 (enam)
bulan, selama pembebasan sementara dapat dipertimbangkan kenaikan
pangkatnya secara pilihan sesuai dengan peratum perundang-undangan yan’g
berlaku, apabila :
48 13
a. Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir; dan

b. setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam


2 (dua) tahun terakhir.

Pasal 14
Nutrisionis diberhentikan dari jabatannya apabila :
1. dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat dan telah mempunyai kekuatan hukum
tetap, kecuali jenis hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat;
2. dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a, tidak dapat mengumpulkan
angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi; atau
3. dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan sementara dari jabatannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b, tidak dapat mengumpulkan
angka kredit yang ditentukan.

BAB VI
PENGANGKATAN KEMBALI DALAM JABATAN
Pasal 15
(1) Nutrisionis yang dijatuhi hukuman disiplin tingkat- sedang . dapat diangkat
kembali dalam jabatannya, apabila masa berlakunya hukuman disiplin tersebut
telah berakhir.
(2) Nutrisionis yang dibebaskan sementara karena diberhentikan sementara
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 1966, dapat diangkat kembali
dalam jabatan Nutrisionis apabila berdasarkan keputusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dinyatakan tidak bersalah atau dijatuhi pidana
percobaan.
(3) Nutrisionis yang ditugaskan diluar jabatan Nutrisionis dapat diangkat kembali
dalam jabatannya, apabila telah selesai melaksanakan tugas jabatan Nutrisionis.
(4) Nutrisionis yang dibebaskan sementara karena cuti diluar tanggungan negara

14 47
dan telah diangkat kembali pada instansi semula, dapat diangkat kembali dalam
jabatan Nutrisionis.
(5) Nutrisionis yang telah selesai tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan, dapat di
suigkat kembali dalam jabatan Nutrisionis.

Pasal 16
Pengangkatan kembali dalam jabatan Nutrisionis sebagaimana tersebut dalam Pasal
15, ditetapkan berdasarkap angka kredit terakhir yang dimiliki.

BAB VII
PENYESUAIAN DALAM JABATAN DAN ANGKA KREDIT
Pasal 17
(1) Pegawai Negeri Sipil yang telah melaksanakan tugaskegiatan pelayanan gizi,
makanan dan dietetik berdasarkan keputusadsurat pernyataan melakukan
tugas dari pejabat yang berwenang dan pada saat Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.PAN/4/2001 ditetapkan masih
melaksanakan tugaskegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik dapat diangkat
dalam jabatan Nutrisionis melalui penyesuaian/inpassing denkan ketentuan
sebagai berikut :
a. Untuk Nutrisionis Terampil harus memenuhi syarat :
1. Berijazah serendah-rendahnya Diploma III Gizi;
2. Pangkat serendah-rendahnya Pengatur golongan ruang Wc; dan
3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik
dalam 1 (satu) tahun terakhir.

b. Untuk Nutrisionis Ahli harus memenuhi syarat :


1. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana (S1)/Diploma IV,
2. Pangkal skrendah-rendahnya Penata Muda golongan ruang III/a; dan
3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik
dalam 1 (satu) tahun terakhir.

46 15
(2) Jenjang jabatan dan jumlah angka kredit penyesuaian sebagaimana dimaksud
dalam ayat (I), didasarkan pada pendidikan, pangkat dan masa kerja dalam
pangkat terakhir sebagaimana tersebut dalam lampiran V dan Lampiran VI
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23/KEP/M.
PAN/4/2001.
(3) Masa kerja dalam pangkat terakhir unauk penyesuaian sebagaimana dimaksud
Lampiran V dan Lampiran VI Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor 23/KEP/’.PAN/4/2001 dihitung dalam pembulatan ke bawah, yaitu
:
a. kurang 1 (satu) tahun, dihitung kurang 1(satu) tahun;
b. 1 (satu) tahun sampai dengan kurang dari 2 (dua) tahun, dihitungl (satu)
tahun;
c. 2 (dua) tahun sampai dengan kurang dari 3 (tiga) tahun, dihitung 2 (dua)
tahun;
d. 3 (tiga) tahun sampai dengan kurang dari 4 (empat) tahun, dihitung 3 (tiga)
tahun; dan

e. 4 (empat) tahun atau lebih, dihitung 4 (empat) tahun.

(4) Penyesuaian dalam jabatan dan angka kredit Nutrisionis, ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Nutrisionis dengan
menggunakan contoh formulir sebagaimana tersebut dalam lampira IX.
(5) Pegawai Negeri Sipil yang tidak memenuhi ketentuanlsyarat sebagaimana dimaksud
dalam ayat (I), tidak dapat diangkat dalam jabatan Nutrisionis melalui inpassing/
penyesuaian.

Pasal 18
(1) Penyesuaian dalam jabatan dan angka kredit Nutrsionis di lingkungan Insfansi
Pusat dan Daerah ditetapkan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2001 dan harus
sudah selesai ditetapkan selambat-lambatnya pada akhir Desember 2001.
(2) Pegawai Negeri Sipil yang dalam masa penyesuaiantinpassing (Oktober 2001) telah

16 45
dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya,-maka sebelum disesuaikan dalam
jabatan dan angka kredit terlebih dahulu dipertimbangkan kenaikan pangkatnya
dan dalam penyesuaian jabatar dan angka kredit digunakan pangkat yang terakhir.
(3) Terhitung mulai Griode kenaikan pangkat Januari 2002, kenaikan pangkat semua
Nutrisionis di lingkungan Instansi pusit dm Daerah sudah ditetapkan dengan
angka kredit di samping memenuhi syarat lain yang sudah ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 19
Pegawai Negeri Sipil yang ada pada saat penyesuaian (Oktober 2001) telah memiliki
pangkat tertinggi berdasarkan pendidikan/jabatan terakhir, kenaikan pangkat setingkat
lebih tinggi dapat dipertimbangkan mulai periode kenaikan Pangkat Januari 2001.
Pasal 20
Nutrisionis yang pada saat menjalani pembebasan sementara karena :
a. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat (kecuali pemberhentian
sebagai Pegawai Negeri Sipil);
b. Ditugaskan secara penuh di luar jabatan; atau
c. Cuti diluar tanggungan negara; mencapai batas usia pensiun Pegawai Negeri Sipil,
diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan mendapat hak-
hak kepegawaian sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
BAB IX
PENUTUP
Pasal 21
Pelaksanaan teknis yang belum diatur dalam Keputusan Bersama ini akan diatur
kemudian oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara baik secara bersama-sama atau serrdiri-sendiri sesuai dengan bidang tugas
masing-masing.

44 17
sebagai mana pada X.
(2) Untuk adanya persamaan persepsi dan pola pikir pola tindak
dalam pembinaan Nutrisionis, maka Instansi Pembina wajib melaksanakan
sosialisasi dan fasilitasi kepada pejabat yang berkepentingan dan kepada
Nutrisionis baik di Instansi maupun di Instansi Daerah.
Pasal 22
Pasal 23
(1) Untuk memperjdas dan mempermudah pelaksanaan Keputusan Bersama ini,
dilampirkan
Keputusan BersamaKeputusan Menteri
ini mulai Negara
berlaku pada Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
ditetapkan.
23/KEP/M.PAN/4/2001 sebagai mana tersebut pada Lampiran X.
(2) Untuk menjamin adanya persamaan Pasal 24 dan pola pikir serta pola tindak dalam
persepsi
pembinaan Nutrisionis, maka Instansi Pembina wajib melaksanakan sosialisasi
Keputusan Bersama
dan fasilitasi inipejabat
kepada disampaikan kepada yangdanberkepentingan
yang berkepentingan kepada Nutrisionisuntuk
baik di
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Instansi Pusat maupun di Instansi Daerah.
Pasal 23
Keputusan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Pasal 24
Ditetapkan di : Jakarta
Keputusan Bersama ini disampaikan kepada yang berkepentingan untuk dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya.
Pada 16 2001
Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 16 Agustus 2001

Menteri

Dr. Achmad

18 43
42 19
20 41
40 21
22 39
38 23
24 37
36 25
26 35
34 27
28 33
32 29
30 31