You are on page 1of 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yaitu upaya kesehatan jiwa
yang bertujuan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual
maupun sosial. Pelayanan “Tri Upaya Bina Jiwa” dalam pelayan kesehatan jiwa
meliputi usaha promotif yaitu pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa yaitu
pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa. Upaya
kesehatan jiwa tesebut dapat di lakukan perorangan, lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat yang di dukung
sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti keluarga serta lingkungan
sosial.

Menurut WHO 2013, skizofrenia merupakan bentuk yang parah dari penyakit
mental yang mempengaruhi sekitar 7 dari per seribu dari populasi orang dewasa,
terutama dari kelompok usia 15 – 35 tahun. Prevalensi penderita skizofrenia antara
laki – laki dan perempuan sama. Tetapi dua jenis kelamin tersebut menunjukkan
perbedaan dalam onset lebih tinggi dan perjalanan penyakit. Laki – laki mempunyai
onset lebih awal dari pada perempuan. Meskipun insiden rendah (3 – 10.000),
prevalensinya tinggi disebabkan oleh kronisitas. Skizofrenia diseluruh dunia di
derita kira – kira 24 juta orang. Lebih dari 50% pasien skizofrenia tidak
mendapatkan penanganan dan 90% penderita berada di negara berkembang.
Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Departemen
Kesehatan dan World Health Organization (WHO) 2010 memperkirakan tidak
kurang dari 450 juta penderita gangguan jiwa ditemukan di dunia. Bahkan
berdasarkan data studi World Bank dibeberapa negara menunjukkan 8,1% dari
kesehatan global masyarakat (Global Burden Disease) menderita gangguan jiwa.

Gangguan jiwa menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2010,
menyatakan jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta. Dari

1

150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan
(Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional, sedangkan 4
% dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya
layanan untuk penyakit kejiwaan ini.

Keliat, (2010) mengatakan, skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang
ditandai dengan gangguan realitas (halusinasi dan waham), di mana ketidak
mampuan berkomunikasi dan efek yang tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif
(tidak mampu berfikir abstrak) serta mengalami kesukaran melakukan aktivitas
sehari-hari.

Penyakit gangguan jiwa skizofrenia ini juga merupakan masalah kesehatan umum
di seluruh dunia. Prevalensi skizofrenia di Indonesia sendiri adalah tiga sampai lima
perseribu penduduk. Bila diperkirakan jumlah penduduk sebanyak 220 juta orang
akan terdapat gangguan jiwa dengan skizofrenia kurang lebih 660 ribu sampai satu
juta orang. Hal ini merupakan angka yang cukup besar serta perlu penanganan yang
serius (Sulistyowati, 2006 dalam Isnaeni,2008).

Di mana menurut data Riskesdas 2013, Indonesia menyebutkan rata – rata
prevalensi gangguan jiwa berat dan kronis atau skizofrenia yang dicerita
masyarakat Indonesia tanpa batas umur sekitar menunjukkan bahwa penderiata
gangguan jiwa berat di Indonesia adalah 1,7 per 1.000 orang. Penelitiaan yang sama
mencatat dari total populasi beresiko besar 1.093.150 orang, hanya 3.5% atau
38.260 orang yang terlayani dengan perawatan yang memadai di berbagai fasilitas
kesehatan. Kondisi tersebut berkolerasi langsung dengan perawatan yang salah
terhadap penyakit tersebut, Riskesdas 2013, turut mencatat proporsi rumah tangga
dengan minimal salah satu anggota rumah tangga mengalami gangguan jiwa berart
dan pernah di pasung mencapai 18,2 % di daerah pedesaan. Sementara di daerah
perkotaan, proporsinya mencapai 10,7 %.

2

Peneliti Yosep,(2009) halusinasi merupakan persepsi sensorik yang salah dimana
tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya dimana dapat berwujud
penginderaan kelima indera yang keliru, tetapi yang paling sering adalah halusinasi
pendengaran (auditory) dan halusinasi penglihatan (visual) seperti merasa
mendengar suara suara yang mengajak berbicara padaha tidak ada atau melihat
sesuatau yang pada kenyataan nya tidak ada. Pasien merasakan stimulus suara tidak
ada, melihat bayangan orang atau sesuatu padahal tidak ada, membaui bauan
tertentu padahal tidak ada, merasakan sensasi rabaan padahalal tidak ada.

Peneliti Damayanti, (2008) halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa
di mana klien mengalami perubahan sensorik persepsi, merasakan sensasi palsu
berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghidua. Klien merasakan
stimulus yang sebetul nya tidak ada.

Terjadinya halusinasi berdasarkan penelitian Suryani (2013) dengan judul proses
terjadinya halusinasi : sebagian diungkapkan oleh penderita skizoprenia dengan
pendekatan collaixi diketahui bahwa terdapat lima proses individu mengalama
halusinasi yaitu : adanya serangkaian masalah yang difikirkan, adanya situasi/
kondisi sebagai pencetus, terjadi nya secara bertahap, membutuhkan waktu lama
sebelum terjadi halusinasi, adanya theme pendekatan spiritual dan penggunaan
koping yang konstruktif sebagai upaya pencegahan halusinasi bagai secara individu
maupun suport keluarga (Yosep, 2012).

Peneliti Kusumawati (2011) mengatakan halusinasi merupakan hilangnya
kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan
ransangan exkternal (dunia luar). Klien memberikan persepsi atau pendapat tentang
lingkungan tanpa adaobjek atau ransangan yang nyata. Sebagai contoh klien
mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang berbicara.

3

Halusinasi pendengaran disebut sebagai berbicara atau tertawa sendiri tanpa lawan
bicara, marah-marah tanpa sebab, mencondongkan telinga ke arah kearah tertentu
dan menutup-nutup telinga. Dan tanda-tanda halusinasi pendengaran ini seperti
mendengarkan suara-suara atau kegaduhan, mendengarkan suara yang mengajak
bercakap-cakap, mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang
berbahaya (Keliat, 2011).

Tindakan mengontrol halusinasi keperawatan untuk membantu klien mengatasi
halusinasi di mulai dengan membina hubungan saling percaya dengan klien. Saling
percaya sangat penting di jalin sebelum mengintervensi klien lebih lanjut.Pertama –
tama klien harus di fasilitasi untuk memperoleh rasa nyaman untuk menceritakan
pengalaman halusinasinya sehingga informasi tentang halusinasinya dapat
konprehensif. Hindari menyalahkan atau respon tertawa saat klien menceritakan
pengalaman aneh yang mengelikan di mana tahap tahap dalam mengontrol
halusinasi seperti dengan menghadik halusinasi, berbicara dengan orang lain,
mengatur jadwal aktifitas harian, menggunakan obat secara teratur (Kusumawati,
2011).

Berdasarkan survey awal, data bulan Maret tahun 2017 diruang rawat inap Rumah
Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem medan 2017 , terhitung jumlah pasien
dengan gangguan halusinasi sebanyak564 orang pasien , hargadiri rendah sebanyak
290 orang pasien, menarik diri ebanyak 418 orang pasiendan resiko perilaku
kekerasan terhadap sebanyak 257, waham terdapat banyak 198 orang,deficit
perawatan iri terdapat sebanyak 440 orang . Dan tercatat total jumlah pasien di
rumah sakit jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem medan sumatra utara adalah 2.167
orang.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik mengambil judul penelitian
“Apakah ada hubungan pelaksanaan tindakan keperawatan dengan kemampuan
klien mengontrol halusinasi pendengaran di RSJ Prof.Dr. Muhammad Ildream
medan Tahun 2017”.

4

Muhammad Ildrem medan tahun 2017. Dr. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubunganpelaksanaan tindakan keperawatan dengankemampuan mengotrol halusinasi pendengaran klien di rumah sakit jiwa Prof. “Apakah ada hubunganpelaksanaan tindakan keperawatan halusinasi dengan kemampuan klien mengontrol halusinasi pendengaran di rumah sakit jiwa Prof. merawat. Dr. Muhammad Ildrem medan tahun 2017. . Tujuan Penelitian 1. Untuk mengidentifikasi kemampuan pasien mengontrol halusinasi pendengaran di rumah sakit jiwa Prof. Muhammad Ildrem medan tahun 2017?” C. Bagi klien Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penderita agar mempercepat penyembuhan halusinasi pendengaran di mana biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu dapat mengetahui serta klien tahu cara menangani. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah peneliti adalah. Tujuan khusus a. Muhammad Ildrem medan tahun 2017. Dr. D. 2. dan mencegah kekambuhan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. 5 . b. Mengidentifikasipelaksanan tindakan keperawatan pada pasien halusinasi pendengaran di rumah sakit jiwa Prof. Dr. Manfaat Penelitian 1.B.

muhammad Ildream dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan jiwa khususnya dengan kasus gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. 4. Bagi Petugas Kesehatan Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan atau kebijaksanaan untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengankejiwaan khususnya dalam memberikan tindakan pada pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran 3. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran 6 .2.Dr. Bagi Profesi Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan khususnya tentang asuhan keperawatan jiwa pada pasien dan sebagai bahan masukan dan informasi bagi perawat yang ada di rumah sakit jiwa Prof.

Halusinasi visual melibatkan indra penglihatan.” Halusinasi pendengaran umumnya melibatkan pendengaran suara. jenis paling umum dari halusinasi. Kadang-kadang. atau “melihat sesuatu. kata Yunani untuk tubuh). BAB II TINJAUAN TEORITIS A.” Mencium adanya bau atau merasakan ada sesuatu di kulit seseorang yang sebenarnya tidak ada adalah bentuk-bentuk halusinasi somatik (berasal dari soma. pendengaran. 7 . penciuman.Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang berbicara (Kusumawati.Klien memberikan persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata. atau perabaan). Halusinasi dapat terjadi pada setiap panca indra (yaitu penglihatan. ada juga saat-saat di mana ia dianggap normal atau umum. Halusinasi a. halusinasi dapat mencakup pengalaman suara dan visual profesional kesehatan mental menggambarkannya sebagai “halusinasi auditori-visual. Meskipun halusinasi adalah bagian dari banyak penyakit. misalnya ketika tertidur atau selama pengalaman religius. Landasan Teoritis 1. Halusinasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk yang paralel dengan indra manusia. Pengertian Halusinasi Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan ransangan internal (pikiran) dan ransangan eksternal (dunia luar). perasa. Perbedaan halusinasi dengan delusi adalah bahwa delusi merupakan kesalahpahaman atas hal-hal yang secara objektif hadir. 2011).

namun dialami sebagai suatu realitas. melihat orang yang dirobek-robek dan dianiaya. selalu melihat iringan-iringan kranda orang mati. Dalam hal ini mempunyai ciri-ralitas nyata yang betul-betul dialami atau dihayati oleh subjek. namun perangsang fisik dari peristiwa tadi sama sekali tidak ada.Orang yang mengalami halusinasi itu melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa tertentu. alkohol. terkena racun-racun tertentu (candu. Pseudo-halusinasi adalah peristiwa yang dihayati sebagai tanggapan. mendengar suara-suara ancaman yang mengandung maut. akan tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari “tangkapan” cakar-cakar tanggapan yang serba mengerikan yang tampaknya akan menerkam 8 . bahan narkotik). dan penderita psikosa berat.halusinasi biasanya berlangsung pada: orang yang sakit berat.Halusinasi merupakan pengamatan yang sebenarnya tidak ada. Jadi padanya ada nilai perasaan yang tinggi sekali. melihat api neraka yang menyala berkobar-kobar yang akan membakar dirinya. Contohnya. Pseudo-halusinasi ini siring muncul sendiri diluar kontrol kemauan kita. Pseudo-halusinasi itu pada umumnya dimuati oleh emosi-emosi yang kuat. Dia menyadari bahwa gambaran- gambaan tanggapan tadi tidak ada. Halusinasi tersebut dialami sebagai satu pengamatan sedangpseudo- halusinasi dialamiorangsebagai tanggapan. dan lain-lain. dan bukan sebagai sebagai “sepertinya satu pengamatan” (pengamatan semu) merupakan satu tanggapan spontan. Seorang penderita pseudo-halusinasi itu mengetahui bahwa segala sesuatu yang dilihat atau didengar itu bukanlah kenyataan. dengan bagian-bagian detail indrawi yang sangat jelas. seorang pasien deprsif dengan kecemasan-kecemasan kronis. Akan tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu-belenggu tanggapan tersebut. dan bukan merupakan kenyataan.

Gejala psikis yang dekat atau mirip dengan halusinasi ialah mimpi. 2007). mendengarkan suara yang mengajak bercakap-cakap. Mimpi itu bahkan mempunyai arti tertentu bagi adaptasi yaitu sebagai penyaluran atau peletupan bagi kecemasan- kecemasan dan harapan-harapan tertentu. terjadinya secara bertahap membutuhkan 9 . mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya (Keliat. yaitu : adanya rangkaian masalah byang difikirkan. adanya situasi/kondisi sebagai pencetus. dan hanya ada dalam mimpi itu sendiri. akan hilanglah semua halusinasi dan pseudo-halusinasinya. tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. dirinya. 2011) Halusinasi pendengaran adalah paling sering di jumpai bunyi menderingi atau suara bising yang tidak mempunyai arti. Semua gambaran itu segaris dengan fantasi-fantasi kecemasannya. 2. Halusinasi pendengaran Halusinasi pendengaran disebut sebagai berbicara atau tertawa sendiri tanpa lawan bicara. Namun pada peristiwa mimpi itu tidak menunjukkan adanya penyakit jiwa atau gangguan fungsi serta gangguan adaptasi. Biasanya suara tersebut di tunjukkan pada penderita sehingga tidak jarang pejnderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut (Yosep. kita melihat orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang tidak ada. Dalam mimpi. Dan tanda-tanda halusinasi pendengaran ini seperti mendengarkan suara-suara atau kegaduhan. Maka apabila si penderita menjadi sembuh. mencondongkan telinga ke arah kearah tertentu dan menutup-nutup telinga. marah-marah tanpa sebab. Terjadinya halusinasi berdasarkan penelitian Suryani (2013) dengan proses terjadinya halusinasi : sebagai di ungkapkan oleh penderita skizoprenia dengan pendekatan collazi diketahui bahwq terdapat lima proses individu mengalami halusinasi.

bahkan merusak lingkungan. membunuh orang lain (homicide).waktu lama sebelum halusinasi baik secara individu maupun suport keluarga (Yosep. dibutuhkan penanganan halusinasi yang tepat (Hawari 2009. Cenderung menghindari dari interaksi agar dirinya terhindar dari stressor - stressor yang mengancap pada akhirnya individu merasa sangat nyaman dengan kondisi menyendiri sehingga dapat mengganggu metabolism neukokimia seperti Bufotamin dan Dimetyltransferase hal ini merangsang timbulnya halusinasi (Sunaryo 2004. Yosep 2010). Cenderung menghindari dari interaksi agar dirinya terhindar dari stressor - stressor yang mengancap pada akhirnya individu merasa sangat nyaman dengan kondisi menyendiri sehingga dapat mengganggu metabolism neukokimia seperti Bufotamin dan Dimetyltransferase hal ini merangsang timbulnya halusinasi (Sunaryo 2004. membunuh orang lain (homicide). 2012). Untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan. Pelaksanaan pengenalan dan pengontrolan halusinasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara kelompok dan individu. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (suicide). 2009 di kutip dari anggriani. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (suicide). Dampak yang dapat di timbulkan oleh pasien yang mengalami halusinasi adalah kehilangan kontrol diri. dikutip dari Anggriani 2012). Dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami halusinasi adalah kehilangan kontrol dirinya. Secara kelompok selama ini 10 . Untuk memperkecil dampak yang di timbulkan di butuhkan penangana halusinasi yang tepat (Hawari. Dimana pasien mengalami panik dan perilakunya di kendalikan oleh halusinasi nya. bahkan merusak lingkungan. 2011). Yosep 2010). Dimana pasien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya.

1984 dikutip dari Anggriani. kesepian. dikenal dengan istilah Terapi Aktivitas kelompok (TAK) dan secara individu dengan cara face to face (Gunderson.2012). Faktor predisposisi Menurut Yosep (2010) faktor predisposisi klien dengan halusinasiadalah: 1. Faktor Perkembangan Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil. 2. Faktor Psikologis Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. hilangnya percaya diri dan lebih rentan terhadap stres. Etiologi Halusinasi a. dan tidak percaya pada lingkungannya. 11 . Adanya stres yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia. 4. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Faktor sosiokultural Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi akan merasa disingkirkan. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal. 3. 3. mudah frustasi. Akibat stres berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak. Faktor Biologis Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.

tetapi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi pendengar. halusinasi dapat ditimbulkan dari beberapa kondisi seperti kelelahan yang luar biasa. Menurut Rawlins& Heacock 1988 (Damaiyanti. perilaku menarik diri.Etiologi halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi. sehingga menyebabkan klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut. Faktor presipitasi 1. c) Dimensi intelektual Penunjukkan penurunan fungsi ego. Awalnya halusinasi merupakanusaha ego sendiri melawan implus yang menekandan 12 . Pengguna obat-obatan. intoksikasi. 2012).kurang perhatian. demam tinggi hingga terjadi delirium. tidak mampu mengambil keputusan serta tidakdapat membedakan keadaan nyat dan tidak nyata. yaitu : a) Dimensi fisik Halusinasi dapat meliputi kelima indera.perasaan tidak aman. ketkutan. b) Dimensi emosional Perasaan cemas yang berlebih yang tidak dapat diatasi. 5. Faktor Genetik dan Pola Asuh Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Isi halusinasi berupa perintah memaksa dan menakutkan yang tidak dapat dikontrol dan menentang. b. gelisah dan bingung. alkohol dan kesulitan-kesulitan untuk tidur dan dalam jangka waktu yang lama. Perilaku Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit.

d) Dimensi sosial Halusinasi dapat disebabkan oleh hubungan interpersonal yang tidak memuaskan sehingga koping yang digunakan untuk menurunkan kecemasan akibat hilangnya kontrol terhadap diri. Isolasi sosial . Menarik diri . Distorsi pikiran . hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spritual untuk menyucikan diri. maupun interaksi sosial dalam dunia nyata sehingga klien cenderung menyendiri dan hanya bertuju pada diri sendiri. Sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput rejeki. tidak bermakna. karena ia sering tidur larut malam dan bangun sangat siang. Sulit berespons denganpengalaman . Perilaku tidak biasa . Saat terbangaun terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. 4. Perilaku sesuai . Halusinasi . irama sirkandiannya terganggu. harga diri. menimbulkan kewaspadaan mengontrol perilaku dan mengambil seluruh perhatian klien. Persepsi Akurat ilusi . Emosi konsistensi . Pikiran logis . Hubungan sosial 13 . e) Dimensi spiritual Secara spritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup. Reaksi emosi >/< . menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan takdirnya memburuk. Perilaku disorganisasi . rutinitas. Waham . Rentang Respon Halusinasi Rentang adaptif Respons maladaptif .

Proses Pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkangangguan g. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur o. Pikiran logis yaitu pandangan yang mengarah pada kenyataan. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsieksternal yangtidak realita atau tidak ada m. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.Keterangan rentang respon menurut Yosep (2010) yaitu : a. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati n. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul daripengalaman ahli d. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain danlingkungan f. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan social l. c. 14 . Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterimasebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam. Emosi berlebihan atau berkurang i. Menarik Diri adalah percobaan untuk mengindari interaksi dengan orang lain k. Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentangpenerapan yang benar-benar terjadi karena rangsangan panca indra h. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran j. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam bataskewajaran e. b.

gambar atau bayangan yang rumit dan kompleks. 15 . c. Halusinasi penglihatan: Stimulus visual dalam bentuk kilatan atau cahaya. farfum. Ini sering terjadi pada seseorang pasca serangan stroke. e. Halusinasi kinestetika: Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerakan. pencernaan makanan atau pembentukan urine. Halusinasi penghidungan: Membantu bau-bauan tertentu seperti bau darah. di mana terkadang suara-suara tersebut seperti mengajak berbicara klien dan kadang memerintah klien untuk melakukan sesuatu. Halusinasi pendengaran: Mendengarkan suara atau kebisingan yang kurang jelas ataupun yang kurang jelas. g.(Kusumawati. 2011). urine. f. fases. dimensia d. Halusinasi perabaan: Merasa mengalami nyeri. atau yang lainnya.5. Halusinasi cenesthetic: Merasa fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri. Halusinasi pengecapan: Merasa mengecap rasa seperti darah. atau bau yang lain. urine.Bayangan biasa menyenangkan atau menakutkan. rasa tersetrum atau ketidak amanan tanpa stimulus yang jelas. fases. Jenis-jenis halusinasi a. kejang atau. b.

takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. d. masalah dikampus. perasaan berdosa.suara atau sensori abnormal yang datang. Masalah terasa menekan karena terakumulasi sedangkan support sistem kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk. b. drop out. Controling severe level of anxiety (Fungsi sensori menjadi tidak relevan dengan kenyataan) Klien mencoba melawan suara. kesepian. Ia beranggapan bahwa pengalaman pikiran dan sensorinya dapat dia kontrol bila kecemasannya diatur. terlibat narkoba. dengan intensitas waktu yang lama. dalam tahap ini ada kecenderungan klien merasa nyaman dengan halusinasinya. Condemning ( secara umum halusinasi sering mendatangi klien) Klien merasa tidak mampu lagi mengontrolnya dan mulai berupaya menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan klien mulai menarik diri dari orang lain. ingin menghindar dari lingkungan. Masalah makin terasa sulit karena berbagai stressor terakumulasi. Klien menganggap lamunan- lamunan tersebut sebagai pemecahan masalah. ketakutan dan mencoba memusatkan pemikiran pada timbulnya kecemasan. Dari sini lah dimulai fase gangguan psikotik. misalnya kekasih hamil. c. Sulit tidur berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal. Klien dapat merasakan kesepian bila halusinasi nya berakhir.6. dihianati kekasih. Comforting (halusinasi secara umum ia diterima sebagai sesuatu yang alami) Klien mengalami emosi yang berlanjut seperti adanya perasaan cemas. Tahapan Halusinasi Pendengaran Menurut Yosep (2010) tahapan halusinasi ada lima fase yaitu: a. 16 . Sleep disorder (Fase awal sebelum muncul halusinasi) Klien merasa banyak masalah.

Klien mulai melamun dan memikirkan hal . 17 . Karekteristik: pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. e. dan suka menyendiri. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Perilaku klien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai. respons verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya. pergerakan mata cepat. cemas. Conquering panic level of anxiety (Klien mengalami gangguan dalam menilai lingkungannya pengalaman sensorinya terganggu). cara ini hanya menolong sementara. dan berfikir sendiri jada dominan. yaitu sebagai berikut : a. melamun. 7. Mulai dirsakan ada bisikan yang tidak jelas. Termasuk dalam psikotik ringan. dan ia tetap dapat mengontrolnya. kesepian yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan. Karekteristik: klien mengalami stress. salah bersalah.hal yang tidak menyenangkan. Perilaku klien: meningkatnya tanda-tanda saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. b. perasaan perpisahan. Klien mulai terasa terancam dengan datangnya suara . kecemasan meningkat. Proses terjadinya halusinasi pendengaran Halusinasi berkembang melalui empat fase. Fase pertama Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase yang menyenangkan. Fase kedua Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikkan.suara terutama bila klien tidak dapat menuruti ancaman atau perintah yang ia dengar dari halusinasinya. menggerakkan bibir tanpa suara. Klien tidak ingin orang lain tahu. Halusinasi dapat berlangsung selama minimal empat jam atau seharian bila klien tidak mendapatkan komunikasi terapeutik. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bias membedakan realitas.

2012). suara. Perilaku klien: kemauan dikendalikan halisinasi. Perilaku klien: perilaku terror akibat panik. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. potensi bunuh diri. Klien menjadi takut. Fase kempat Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya. Termasuk dalam gangguan psikotik. Fase ketiga Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa. memerintah. 18 . dan tidak mampu mematuhi perintah. Karakteristik: halusinasinya berubah menjadi mengancam. c. Termasuk dalam psikotik berat. 2005). 8. hilang control. Kondisi yang timbul karena kondisi di atas adalah klien cenderung akan menarik diri dari lingkungan dan terjadilah isolasi sosial. Karekteristik: bisikan. Proses terjadinya halusinasi Halusinasi terjadi karena klien tersebut pada dasarnya memiliki koping yang tidak efektif terhaap berbagai stresor yang menimpanya. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat. menguasai dan mengontrol klien. tremor. isi halusinasi semakin menonjol. d. menarik diri atau katatonik. tidak berdaya. dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan. Kesendirian tersebut jika berlangsung lama akan menimbulkan halusinasi dan semakin lama klien akan semakin menikmati dan asik dengan halusinasinya itu. agitasi. perilaku kekerasan. tidak mampu merespons terhadap perintah kompleks. Karena adanya hal yang tidak nyata akan muncul perintah yang bisa menyuruh klien merusak diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya (Keliat dkk. rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. dan tidak mampu merespons lebih dari satu orang (Kusumawati. dan memarahi klien.

2. dan lain sebagainya. SP 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya. Waktu munculnya halusinasi : waktu sebelum tidur. Isi halusinasi: halusinasi pendengaran. Diskusikan cara mengendalikan halusinasi. Identifikasi cara yang dilakukan klien untuk mengendalikanhalusinasi. pergi dari saya". b. Tindakakan Keperawatan Pasien Halusinasi Tujuan tindakan untuk pasien meliputi: a. Menghardik halusinasi: Contoh :“Saya tidak mendengar kamu. SP 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya.9. Beberapa cara untuk mengontrol halusinasi adalah sebagai berikut: a. SP 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal. Pasien mengenal halusinasi yang dialaminya. Pasien dapat mengontrol halusinasinya c. Rencana Tindakan Keperawatan Dimana Strategi pelaksanaan tindakan keperawatn yang akan di lakukan. c. Diskusikan cara yang digunakan klien untuk mengendalikanhalusinasi. atau saat makan. c. 19 . a. Klien memamfatkan obat sesuai program 10. Klien mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol halusinasi e. d. Berbicara dengan orang lain: Saat halusinasi dating klien mengabaikan dan langsung mengajak berbincang orang di sekitarnya atau di dekatnya. 1. pengelihatan. saat sendirian. dan saat klien marah. b. pagi hari. Hal yang menimbulkan halusinasi muncul : saat melamun. saat sendiri. Frekuensi: seberapa banyak halusinasi muncul dalam satu hari. b.

tidak mengikutihalusinasi. c. SP 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. Peran serta keluarga dalam merawat halusinasi adalah sebagai berikut : 1. cegah isolasi. Bantu menurunkan kecemasan dan ketakutan. misalnya: "saya percaya anda mendengar. 2. Terima halusinasi klien tanpa mendukung danmenyalakan. dan lemah lembut 4. 3.tetapi saya sendiri tidak dengar. a. a. Beri kesempatan untuk mengungkapkan. Diskusikan kapan muncul situasi yang menyebabkan (jikasendiri). 20 . kalem. Bicara dengan klien secara sering dan singkat. Temani. Mengatur jadwal aktivitas: Mengatur kegiatan sesuai dengan kegiatan sehari . b. b. dan menarik diri. a. Menggunakan obat secara teratur: 5. Menganjurkan klien untuk tidak putus obat dan efek jika obat harus dijelaskan. e. a. b. 4. Bantu mengenal halusinasi. 3. Tetap semagat. Lakukan perlindungan b. SP 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi. Diskusikan hasil observasi anda. Mencegah klien melukai diri sendiri dan orang lain.empati. Berbicara tentang topik yang nyata. Bina saling percaya. Ajak bicara jika tampak klien sedang berhalusinasi. Buat jadwal kegiatan sehari-hari untuk menghindarikesendirian. c. Meningkatkan kontak dengan realitas. isi dan frekuensi. Kontak yang sering secara personal. d.hari dan sesuai dengan kegiatan yang disukainya sehingga tidak ada kesempatan klien sendiri.

Pedoman tindakan keperawatan dibuat untuk tindakan pada klien baik secara individual. dan memulihkan kesehatan fisik dan mental. Identifikasi kemampuan klien dan beri kegiatan yangsesuai. perawat kesehatan jiwa menggunakan tindakan yang luas dan dirancang untuk mencegah penyakit meningkatkan. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1. b. c. 2008). mempertahankan. keluarga. Dorong berespons pada situasi nyata. Tingkatkan harga diri a. kelompok maupun yang terkait dengan ADL atau Activity Daily Living (Keliat dan Kemat. (Damaiyanti. a. 2009). Dengan adanya perincian kebutuhan waktu. Beri kesempatan sukses dan beri pujian atas kesuksesanklien. B. Pengertian Tindakan Keperawatan Tindakan keperawatan merupakan suatu tindakan yang dilakukan langsung kepala klien. Kebutuhan klien terhadap pelayanan keperawatan dan dirancang pemenuhan kebutuhannya melalui standar peleyanan dan asuhan keperawatan. dan komunitas berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat. Perawat kesehatan jiwa membuat rencana tindakan/intervensi keperawatan bertujuan spesifik dan unik untuk setiap kebutuhan klien. 5. 21 . Dalam mengimplementasikan tindakan. 2009). diharapkan pada setiap perawat memiliki jadwal harian untuk masing masing klien sehingga waktu kerja perawat menjadi lebih efektif dan efisiensi (Keliat dan Akemat. Kriteria struktur: 1) Tindakan keperawatan secara mandiri dipromosikan pada sarana pelayanan keperawatan. 2) Pola penetapan tentang di sarana pelayanan keperawatan ditemukan sesuai dangan kebutuhan masyarakat yang dilayani.

3) Mekanisme penilaian dan perbaikan perbandingan jumlah perawat klien disesuaikan agar standar dapat dilaksanakan pada sarana pelayanan kesehatan. Kriteria hasil: 1) Catatan tindakan/pelaksanaan keperawatan berasal dari rencana/rencana keperawatan. terdiri dari subjek. dapat diukur /diobservasi. 3) Perawat dan sejawat memastikan bahwa tindakan asuhan keperawatan dilakukan sesuai tindakan/rencana tindakan keperawatan dan bersifat teraupetik. 2012). perilaku pasien. Kriteria tujuan (standar V asuhan keperawatan) meliputi: rumusan singkat dan jelas. disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. realistik/dapat dicapai. Kriteria proses: Perawat: 1) Memastikan bahwa kebutuhan klien dipenuhi melalui tindakan keperawatan atau bantuan. 2. 3) Meninjau dan memodifikasi tindakan berdasarkan perkambangan klien. c. b. kondisi. Tujuan tindakan keperawatan Tujuan keperawatan adalah perubahan perilaku kien yang diharapkan oleh perawat setelah tindakan berhasil dilakukan. 22 . 2) Bertindakan sebagai advocate klien jika diperlukan untuk memfasilitasi pencapaian kesehatan. spesifik. dan kriteria tujuan (Damaiyanti. 2) Tindakan/pelaksanaan keperawatan divalidasi bersama klien dan perawatan/tim kesehatan lain yang terlibat.

1 Kerangka Konsep Variabel Independen Variabel dependen Pelaksanaan Tindakan Halusinasi Pendengaran Keperawatan 1. : Berbicara dengan 3. Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi “hubungan pelaksanaan tindakan keperawatan dengan kemampuan mengontrol halusinasipendengaran klien di rumah sakit jiwa Prof. Jenis-jenis halusinasi orang lain 4. Tanda dan gejala 4.1 : Menghardik 2. SP 4 : Menggunakan halusinasi Obat secara teratur D. SP 3 : Mengatur jadwal pendengaran aktivitas 5.Muhammad Ildream medan Tahun 2017”.Dr. Skema 2. SP.C.Dr. Hipotesis Ha : “Ada Hubungan pelaksanakan tindakan keperawatan dengan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran klien di Rumah Sakit Jiwa Prof. Mengenal halusinasi halusinasi Pasien pendengaran 2. Mengenal halusinasi 1. Penyebab halusinasi 3. Muhammad Ildream medan tahun 2015”. SP. 23 .

.

Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasi dengan metode cross sectional. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi. B. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) (Sugiyono. Sampel penelitian Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Populasi pada penelitian ini yaitupasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Prof. kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Penelitian Cross Sectional adalah pengumpulan data yang hanya dilakukan satu kali pada populasi tertentu dan hasilnya merupakan tentang apa yang terjadi hari itu tanpa ada follow up (Notoadmodjo.Dr.Apa yang dipelajari dari sampel itu. Muhammad Ildream medan Tahun 2017 sebanyak 564orang. tenaga danwaktu. misalnya karena keterbatasan dana. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek di mana akan dilakukan suatu penelitian (Notoadmojo. 2010). 2010). Muhammad Ildream Medan 2017. 2013). Dr. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dimana purposive sampling suatu metode pemilihan sampel yang . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan hubungan pelaksanaan tindakan keperawatan dengan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran klien Di Rumah Sakit Jiwa Prof. Populasi Dan Sampel 1. 2.BAB III METODE PENELITIAN A.

167 orang. Dr. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. C. 2009). Muhammad Ildrem Medan pada bulan maret 2017 . Muhammad Ildream medan Tahun 2017 Rumus dalam pengambilan sampel berdasarkan rumus Arikunto (2006) apabila populasi lebih dari 100 maka dapat diambil rumus antara 10-15% atau 20-25% atau 30 %. Alasan peneliti memilih Rumah Sakit Jiwa Prof. Kriteria inklusi yang diambil oleh peneliti yaitu pasien yang masih aktif di rumah sakit jiwa Prof. berdasarkan ciri dan sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya dengan jumlah seluruh pasien halusinasi yang ada di Rumah Sakit Jiwa Prof. pada bulan Maret 2017. Muhammad Ildrem Medan sebanyak 2. Dari populasi diambil 20 % sehingga jumlah sampelnya adalah 20%x 564orang = 113 orang. Dr. Muhammad Ildrem Medan merupakan Rumah Sakit yang memiliki lokasi yang strategis dan memiliki kapasitas yang memadai dan sesuai dengan kriteria sampel yang di inginkan untuk penelitian ini serta Rumah Sakit pendidikan. Kriteria inklusi merupakan kriteria di mana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat. Muhammad Ildrem Medan. Dr.Dr. Lokasi dan waktu penelitian 1. Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian di Rumah Sakit Jiwa Prof. dilakukan berdasarkan maksud atau tujuan tertentu yang ditentukan oleh peneliti. 2.

Sangatsering skor tindakan standar asuhan (SS): 4 . marah.Tidak (14-20) pendengaran aaran tanpa sebab.Kadang-kadang: yang dilakukan oleh . dan mendengar suara . di (TP): 1 .Kadang-kadang . Definisi Operasional Tabel 3.1 Defenisi Operasinal Penelitian Variabel Defenisi Alat Ukur Skor Skala Ukur Independen Merupakan Kuesioner Meningkat Ordinal Pelaksanaan standar dari . mendengar suara-suara yang menyuruh melakukan sesuatu y ang berbahaya. D.Tidakpernah 35-44 perawat.SangatSetuju : keperawatan yang berhubungan .Ya Tidak Baik<20 halusinasi lawan bicara.Setuju:45-54 keperawatan (KK):2 . mencondongkan telinga.Sering(S): 3 55-65 dengan aktivitas .. Dependen Berbicara atau Observasi Baik>20 (21-28) Nominal Mengontrol tertawa sendiri tanpa .Tidak pernah: mana pelaksanaan 25-34 dilakukan pada pasien berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat.

Aspek Pengukuran 1.kadang (KK=2). sering (S=3). Dr. Muhammad Ildrem Medan. Adapun kuesioner yang digunakan adalah terdiri dari: bagian pertama instrumen penelitian adalah kuesioner pelaksanaan tindakan keperawatan dimana jumlah kuesioner sebanyak 17 dengan pilihan jawaban tidak perna (TP=1). yang mengajak bercakap-cakap E. Peneliti menggunakan data berupa kuesioner yang dimodifikasi sendiri oleh peneliti dengan berpedoman pada konsep dan tinjauan pustaka. kadang. Tindakankeperawatan Untuk mendapatkan informasi dari responden tentang pelaksanaan tindakan keperawatan dengan mengontrol halusinasi pendengaran klien di Rumah Sakit Jiwa Prof.Nilai terendah yang akan dicapai adalah 15 dan nilai tertinggi 65 dengan menggunakan rumus interval : R p= BK 65 − 25 p= 4 p = 10 Keterangan : P = panjang kelas R = rentang (skor tertinggi-skor terendah) BK = banyak kelas (banyak kategori) . sangat sering (SS=4).

SangatSetuju : 55-65 b. Kadang-kadang:35-44 d. BAik : jika skor >20 b. Jawaban untuk pernyataan positiif adalah ya diberi skor 2dan tidak diberi skor 1. Jawaban untuk pernyataan negatif (nomor ganjil) adalah ya diberi skor 1dan tidak diberi skor 2. Tidak pernah:25-34 2. Setuju:45-54 c. Berdasakan hasil di atas maka variabel pola asuh orang tua dapat dikategorikan menjadi : a. Nilai terendah yang akan dicapai adalah 14 dan nilai tertinggi 28 dengan menggunakan rumus interval: R p= BK 28 − 14 p= 2 p=7 Keterangan : P = panjang kelas R = rentang (skor tertinggi – skor terendah) BK = banyak kelas (banyak kategori) Berdasakan hasil di atas maka variabel sibling rivalry dapat dikategorikan menjadi : a. Masing-masing kuisioner terdiri dengan menggunakan 2 pilihan jawabanya dan tidak. Mengontrol halusinasi pendengaran Untuk mengukur mengontrol halusinasi pendengaran yang terdiri dari 10 pernyataan. Tidak Baik : jika skor <20 .

Kemudian calon responden yang bersedia di minta untuk menandatangani informed consent. Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data tersebut meliputi wawancara berstruktur. Metode Pengambilan Data& Pengumpulan Data 1. atau melihat data statistic (data sekunder) seperti dokumentasi (Hidayat. Selama pengisian kuesioner. misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono. manfaat dan cara pengisian kuesioner penelitian. Pengambilan data Pengambilan data pada penelitian ini diperoleh dari: a. 2010). Selanjunta peneliti memberi kuesioner yang telah di persiapkan untuk diisi oleh responden. 2010).Muhammad Ildrem Medan. Muhammad Ildrem Medan 2017. Dalam penelitian ini data primer yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan kuesioner responden pada saat mengontrol halusinasi pendengaran klien. Data primer. Dalam penelitian ini data sekunder yang di dapat berasal dari institusi Rumah Sakit Jiwa Prof. 2.Dr.F. setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data dengan perhitungan statistika deskriptif untuk pelaksanaan tindakan keperawatan. adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpulan data (Sugiyono. . observasi. 2010). b. dengan sebelumnya mengutarakan tujuan. adalah teknik pengumpulan data dengan cara yang tidak langsung memberikan data. Peneliti menentukan responden sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. responden di beri kesempatan jika ada yang kurang jelas. Data sekunder. Dr. pengukuran. Pengumpulan data di lakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof. angket.

Dr. Peneliti mendapatkan surat pengantar dari Universitas Sari Mutiara Medan untuk kemudian diserahkan kepada Direktur dan pendidikan Rumah Sakit Jiwa Prof. 2008). Setelah mendapat persetujuan dari ruangan. Subjek memiliki hak asasi dan kebebasan untuk menuntukan pilihan ikut atau menolak penelitian (autonomy). Terdapat tiga prinsip utama dalam etik keperawatan. resiko penelitian. makan peneliti memulai untuk studi pendahuluan untuk melengkapi data-data.Muhammad Ildream Medan dan diteruskan kepada kepala instalasi rawat inap.Dr. . Dalam penelitian ini. peneliti melakukan rivisi terakhir sebelum diajukan untuk siap diujikan. Setelah disetujui oleh pembimbing. responden diberikan informed consent.G. Ildream Medan. mengeluarkan surat izin studi pendahuluan dan penelitian kepada kepala instalasi rawat inap di setiap ruangan di Rumah Sakit Jiwa Prof. maka peneliti mangajukan skripsi dari Bab 1 sampai Bab 3. Etika Penelitian Penelitian yang menggunakan manusia sebagai subjek tidak boleh bertentangan dengan etik.Oleh karena itu peneliti memahami prinsip-prinsip etika penelitian supaya tidak melanggar hak-hak otonomi perawat yang juga menjadi klien (Nursalam. peneliti terlebih dahulu memberikan informasi kepada calon responden yaitu : tentang pelaksanaan penelitian. Menghormati Harkat dan Martabat Manusia. sebelumnya penelitian disertai dengan studi pendahuluan dengan konsultasi kepada pembimbing. Tujuan penelitian harus etis dalam arti hak responden harus dilindungi. maka peneliti pertama mengajurkan judul kepada pembimbing. keuntungan yang mungkin didapat dan kerahasiaan informasi. Setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap dan mempertimbangkan dengan baik. Kemudian setelah disetujui oleh pembimbing. Pada penelitian ini. meliputi : 1.

pada tahap ini mengolah data dengan menggunakan teknik komputerisasi dengan program SPSS for Windows. 2. Analisa Data Di lakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dan variabel dependen dilakukan uji satistik dengan analisa data menggunakan uji statistic yaitu spearman's rho (p < 0. Pengolahan Data Setelah semua data terkumpul. pada tahap ini di tentukan nilai tertinggi dan nilai terendah setiap pernyataan (menentukan kriteria pada tiap pernyataan). maka dilakukan analisa data melalui bebrapa tahapan: 1. I. Prinsip ini dapat diterapkan dengan cara meniadakan identitas subjek dan diganti dengan kode tertentu. Coding. 2012). 3. 4.2. Editing. Tabulating. 3. Scoring. kelengkapan identitas dan memastikan tidak ada pernyataan yang tidak di jawab. Sedangkan prinsip keadilan mengandung makna bahwa penelitian memberikan keuntungan dan beban secara merata sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan subjek. cermat dan hati-hati serta professional. pada tahap ini di lakukan pengkodean kuesioner. . Menghormati Privasi dan Kerahasiaan Subjek (respect for privacy and confidentiality) Peneliti merahasiakan berbagai informasi yang menyangkut privasi responden yang tidak ingin identitas dan segala informasi tentang dirinya diketahui oleh orang lain. tahap ini dilakukan untuk memeriksa data yang telah di peroleh. H. Menghormati Keadilan dan Inklusivitas (respect for justice inclusiveness) Prinsip keterbukaan dalam penelitian mengandung makna bahwa penelitian dilakukan secara jujur. tepat.05) dengan hipotesis sebagai berikut: (Sugiyono.

yaitu (1) relevan isi instrument yaitu isi istrumen harus disesuaikan dengan tujuan penelitian (tujuan khusus) agar dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Hasil uji validitas dalam statistik disajikan dakam item-total statistics yang ditunjukkan melalui kolom corrected item-total correlation. Muhammad Ildrem Medan 2017. Pernyataan yang valid akan dimodifikasi dan digunakan untuk penelitian. Untuk mengetahui soal mana yang valid dan yang tidak vallid dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien validitas (Sugiono. J.Ha : Ada hubungan pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap mengontrol halusinasi pendengaran klien di Rumah Sakit Jiwa Prof. Uji validitas dan Uji Reliabilitas 1. Apabila ada pernyataan dalam kuesioner tidak valid maka pernyataan itu tidak digunakan dalam penelitian. Instrument harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Dr. Validitas ini akan dilaksanakan sebelum melakukan pengumpulan data. 2013). Uji validitas Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrument dalam mengumpulkan data instrument harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (Nursalam. (2) relevan sasaran subjek dan cara pengukuran yaitu instrument yang di susuun harus dapat memberikan gambaran terhadap perbedaan subjek penelitian (Nursalam. 2. 2011). 2013). Uji reliabilitas Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati sama-sama memengang . Ada dua hal penting yang harus dipenuhi dalam menentukan validitas pengukuran.

reliabilitas suatu pengukuran ataupun pengalaman lebih mudah dikendalikan daripada penelitian keperawatan. Dalam suatu penelitian non sosial. Perlu di perhatikan bahwa reliable belum tentu akurat. .peranan penting dalam waktu yang bersamaan. terutama dalam aspek psikososial (Nursalam. 2008).

Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika Setiadi. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta : EGC Wahyuni. W dan Karlina. Keliat. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Asuhan Keperawatan Jiwa. Penerbit ALFABETA Videbeck. B. Jakarta : Salemba medica Hidayat. Epidemiologi. Metode Penelitian Kesehatan: Paradigma Kuantitatif. Jakarta: Salemba Medika.Keperwatan Kesehatan Jiwa Komunitas.Hubungan Lama Rawat Dengan Kemampuan Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi . Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif. B. 2007. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam. Aziz Alimul. 2012. Jakarta: EGC Kusumawati F. Buku Ajaran Keperawatan Jiwa. 2011.B. Jakarta : EGC Keliat. (2010). Jakarta : Salemba Medica Noor. Jakarta : Rineka Cipta Notoadmodjo. Jakarta: EGC Keliat. B. Bandung. DAFTAR PUSTAKA Hidayat. Keperawatan Jiwa : Terapi Aktivitas Kelompok. 2013. Jakarta : Salemba Medica Purwaningsih. A. 2010. S. 2008. 2010. Riset Keperawatan dan teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta Notoadmojo. A. 2007. Jakarta: EGC Keliat. 2005. 2008. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. 2012. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jogyakarta : Graha Ilmu Sugioyono. Metodologi Penelitian Kesehatan. dkk. 2011.

2010. Keperawatan Jiwa Cetakan kedua. Bandung : PT Rafika Aditama .Yosep.

Pendidikan : Keterangan : 1. Tidakpernah (TP) . Bila ada yang kurang dimengerti dapat pada penelitian Kuesioner Data Demografi Isilah data dengan baik serta jawablah semua pertanyaan yang ada sesuai dengan petunjuk 1.Dr. Sangatsering (SS) 2. Setiap pentanyaan di isi dengan satu jawaban 4. KUESIONER PENELITIAN DUKUNGAN PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN TERHADAP MENGONTROL HALUSINASI PENDENGARAN KLIEN DI RUMAH SAKIT JIWA Prof. ILDREAM MEDAN TAHUN 2017 Petunjukpengisian : 1. Kadang-kadang (KK) 4. Umur : 3. Semua pernyataan harus dijawab 2. Nama : 2. Berilah tanda checklist () 3. Sering (S) 3.

Mengajarkan pasien menghardik halusinasi 8. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien 5. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap- cakap kedalam jadwal kegiatan harian SP 3. Bercakap – cakapdengan orang lain 9. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardikhalusinasi kedalam jadwal kegiatan harian SP 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur 17. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan pasien di rumah) 14. Menghardikhalusinasipendengaran 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 13. Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien 2. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 10. Menggunakanobatsecarateratur 15. Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien 4. Mengidentifikasi respons pasien terhadap halusinasi 7. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi 6. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan untuk mengendalika halusinasi kedalam jadwal kegiatan harian SP 4. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengancara bercakap-cakap dengan orang lain 11. Menganjurkan pasien memasukkan aktivitas minum obat kedalam jadwal kegiatan harian TOTAL . Mengidentifikasi isi halusinasi pasien 3. Melakukanaktivitas yang terjadwal 12.No OBSERVASI SS S KK TP PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN SP 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 16.

Umur : 3. Nama : 2. Menggunakan obat secara teratur TOTAL . Melakukan kegiatan harian sesuai jadwal 10. Bila ada yang kurang dimengerti dapat pada penelitian Kuesioner Data Demografi Isilah data dengan baik serta jawablah semua pertanyaan yang ada sesuai dengan petunjuk 1. Semua pernyataan harus dijawab 2. Mengenal frekuensi halusinasi 5. Mampu menghardik halusinasi 7. Tidak No. Mengenal waktu halusinasi 4. OBSERVASI YA TIDAK 1. Mampu bercakap-cakap jika terjadi halusinasi 8.OBSERVASI PENELITIAN DUKUNGAN PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN MENGONTROL HALUSINASI PENDENGARAN KLIEN DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2017 Petunjukpengisian : 1. Mengenal situasi yang menimbulkan halusinasi 6. Pendidikan : Keterangan : 1. Membuat jadwal kegiatan harian 9. Mengenal jenis halusinasi 2. Ya 2. Mengenal isi halusinasi 3. Berilah tanda checklist () 3. Setiap pentanyaan di isi dengan satu jawaban 4.