You are on page 1of 23

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOMORFOLOGI

BENTUK LAHAN DENUDASIONAL

Disusun Oleh :
Restu Purnomo
21100115120012

LABORATORIUM PALEONTOLOGI, GEOLOGI
FOTO, DAN GEOOPTIK
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
MARET 2016

i

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum Geomorfologi Acara : “Bentuk Lahan Denudasional”
yang disusun oleh praktikan yang bernama Restu Purnomo telah disahkan pada :
Hari :
Tanggal :
Waktu :
Sebagai tugas laporan praktikum matakuliah Geomorfologi.

Semarang, 14 Maret 2015

Asisten Acara, Praktikan,

Al Fauzi Hanifudin Restu Purnomo
NIM. 21100113140096 NIM. 21100115120012

ii

......2 STA 2.............................................................3 STA 3................1 1....................................4 2...............................................................................................3 Waktu dan Tempat.4 STA 4................................................13 3.....................................................4 STA 4..........................................................iii DAFTAR GAMBAR...........ii DAFTAR ISI.....................................3 STA 3...........................................10 3.........1 1..............................................................14 BAB IV PENUTUP 4...........................................................................................1 STA I............................................1 Kesimpulan........................................................................................2 Tujuan...................................................................16 4..2 STA 2.................................iv BAB I PENDAHULUAN 1.........................1 STA I.....................................................................................................11 3.....................................................................................................................................8 BAB III PEMBAHASAN 3....6 2............1 Maksud.............2 2..................................................16 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................1 BAB II HASIL DESKRIPSI 2.................2 Saran................................................................................................................................................18 iii ......................................................................................................................................................... DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN........................................................17 LAMPIRAN.....

.............6 Gambar 4............................................................................. STA 3....8 iv .................2 Gambar 2........................... STA 1............................................................................................................ STA 2.......... DAFTAR GAMBAR Gambar 1........................ STA 4.........................................................4 Gambar 3............................................

00 WIB (Lapangan I) 17.1 STA 1 Lokasi: Kali Pengkol Tanggal : 10-03-2016 Cuaca : Mendung Waktu : 16. 8 Maret 2016 Kamis.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari/Tanggal : Selasa.1 Maksud  Mengetahui definisi dari bentang alam denudasional  Mengetahui pengertian dari gerakan tanah dann macam-macam dari gerakan tanah  Melakukan pengamatan dan pendeskripsian terhadap daerah denudasional yang terdapat pergerakan tanah 1.00 WIB 1 . BAB I PENDAHULUAN 1.00 WIB (Lapangan II) Tempat : Laboratorium Petrologi. 10 Maret 2016(Lapangan I) Sabtu. Gedung Pertamina Sukowati Teknik Geologi Universitas Diponegoro.00 WIB 16. BAB II HASIL DESKRIPSI 2.2 Tujuan  Mampu menjelaskan pengertian dari bentang alam denudasional dan proses denudasi  Mampu menyebutkan dan menjelaskan tentang perbedaan pelapukan dan erosi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya  Dapat mendeskripsikan macam-macam gerakan tanah pada masing- masing STA serta perbedaannya 1. 12 Maret 2016 (Lapangan II) Waktu : 19.

1922) Tingkat pelapukan : IB ( 90-100% batuan) Jenis pergerakan tanah : Runtuhan Batuan Vegetasi : Rerumputan. Arah Gerakan Tanah U Gambar 1. akan menyebabkan hancurnya porositas 2 . STA 1 Kesampaian Daerah : Perjalanan menuju STA 1 yaitu di Kali Pengkol ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dari Tembalang selama 15 menit. 1922) Bentuk butir : Rounded Sortasi : well sorted Kemas : Tertutup Komposisi : Fragmen : Material halus berukuran lempung Matriks : - Semen : - Penamaan : Batulempung (Wentworth. Bentuk lahan : Denudasional Morfologi : Tebing Dimensi : 10 x 5 m Litologi : Jenis : Batuan Sedimen Warna : Coklat kekuningan Struktur : Non struktur Tekstur : Ukuran butir : Lempung (<1/256mm) (Wentworth. Arah perjalanan ke arah Bukit Kencana. pohon bambu Tata guna lahan : perkebunan Potensi : (+) Observasi Geologi (-) Longsor Genesa : Terjadinya gerakan ini diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi. Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan. Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi.

sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastistanah dan akhirnya pun tidak sekuat sebelum adanya erosi terjadi untuk menahan benda di atasnya termasuk batuan. tingkat kemiringan singkapan yang besar yaitu 80º menyebabkan batuan yang terletak diatas akhirnya jatuh kebawah karena tanah sudah tidak kuat untuk menahan batuan tersebut ditambah dengan adanya gaya gravitasi bumi. 3 . Dengan terjadinya erosi di bagian depan singkapan. Selain itu pada singkapan ini terdapat vegetasi yang cukup banyak yaitu rerumputan dan pohon bambu yang akar-akarnya tersebut sangat mempengaruhi tingkat ketahanan tanah. Ditambah lagi dengan kemiringan lereng pada singkapan ini termasuk dalam kategori terjal yaitu 80º. vegetasi yang banyak.tanah karena tersumbatnya pori-pori.

1922). 1977) Jenis pergerakan tanah : Flows / Aliran Fragmen Batuan Vegetasi : Tumbuhan tegalan ( Pisang. Fragmen memiliki warna coklat.2 STA 2 Lokasi: Bukit Cinta Tanggal : 10-03-2016 Cuaca : Mendung Waktu : 16. kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 5menit. kemas tertutup dan sortasinya wellsorted. maka dapat dikatakan bahwa aliran fragmen tersebut berupa batupasir.2.30 WIB Arah Gerakan Tanah U Gambar 2 . serta bentuk butirnya rounded. Bentuk lahan : Denudasional Morfologi : Tebing Dimensi : 7x3 m Litologi : Pada STA 2 yang terletak di Bukit Cinta ditemukan adanya gerakan tanah. Tingkat pelapukan : III (50-70% batuan) (Geological society. Singkong) Tata guna lahan : Tegalan Potensi : (+) tempat untuk bercocoktanam (-) longsor 4 . Gerakan tanah tersebut berupa aliran dengan tipe aliran fragmen. Berdasarkan sifat yang dimiliki. STA 2 Kesampaian Daerah : STA 2 yaitu di Bukit Cinta di tempuh dengan menggunakan sepeda motor dari STA 1 selama 25 menit. dengan ukuran butir 2-4 mm (Wentworth.

Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan akan menyebabkan hancurnya porositas tanah karena tersumbatnya pori-pori.Genesa : Terjadinya aliran fragmen batuan diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi. akhirnya pelumpuran tadi dimana diatasnya juga terdapat fragmen-fragmen batuan terseret kebawah mengikuti aliran lumpur. sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastis. Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi. Ditambah dengan adanya kemiringan lereng. Aliran tersebut mengalir ke tempat lebih rendah karena adanya gaya gravitasi bumi dan demikian dengan fragmen batuan yang berada didalam lumpur ikut terbawa arus pada akhirnya fragmen batuan tersebut berpindah tempat dari elevasi yang tinggi menuju yang lebih rendah. 5 .

vegetasi dan curah hujan. dengan kemas tertutup dan sortasinya wellsorted dan ukuran butir nya 2-4 mm (Wentworth. Pada STA 3 ini penyebab terjadinya amblesan lebih disebabkan oleh pembebanan.3 STA 3 Lokasi: Rowosari Tanggal : 10-03-2026 Cuaca : Mendung Waktu : 17. maka dapat dikatakan bahwa litologi yang terdapat di STA ini adalah batupasir. ilalang Tata guna lahan : Berupa lahan kosong Potensi : (+) Jembatan (-) Longsor Genesa : Terjadinya gerakan tanah ini bisa disebabkan oleh adanya pembebanan massa diatas soil yang terlalu berat ataupun litologi yang terdapat di dalamnya. Bentuk lahan : Denudasional Morfologi : Dimensi : 6x4 m Litologi : Pada STA 3 terdapat litologi dengan warna coklat. STA 3 Kesampaian Daerah : STA 3 yaitu di daerah Rowosari. Litologi 6 .2. bentuk butirnya rounded. Tingkat pelapukan : II (80-90% batuan) Jenis pergerakan tanah : Kompleks dengan tipe Amblesan Vegetasi : Rerumputan. Berdasarkan sifat yang dimiliki. perjalanan ditempuh selama 50 menit dari STA 2 menggunakan sepeda motor. 1922).33 WIB Arah Gerakan Tanah U Gambar 3. litologinya.

sedangkan vegetasi hanya berupa rerumputan dan ilalang yang kurang efektif dalam menahan air hujan dengan curah hujan yang tinggi.yang terdapat dalam STA 3 ini adalah batupasir. Saat terjadi pelapukan. Saat hujan terjadi. 7 . air meteorit tersebut masuk ke dalam tanah dan menyebabkan litologi yang terdapat di dalamnya lama kelamaan mengalami pelapukan. dengan otomatis massa litologi menjadi lebih ringan dibandingkan dengan soil diatasnya dan akhirnya terjadi amblesan.

1922) Tingkat pelapukan : II (80-90% batuan) Jenis pergerakan tanah : Slide / Longsoran batuan Vegetasi : Pohon Albasiah 8 . tepatnya di desa Pengkol. STA 4 Kesampaian Daerah : Pada STA 4 yang terletak di daerah Gunung Pati. Bentuk lahan : Denudasional Morfologi : Tebing Dimensi : 6x3 m Litologi : Jenis : Batuan Sedimen Warna : Coklat kekuningan Struktur : Non struktur Tekstur : Ukuran butir : Lempung (<1/256mm) (Wentworth. STA 4 di tempuh dengan perjalanan dari Tembalang ke Gunung Pati menggukan sepeda motor selama 45 menit.00 WIB Arah Gerakan Tanah U Gambar 4.4 STA 4 Lokasi: Gunung Pati Tanggal : 12-03-2016 Cuaca : Mendung Waktu :17.2. 1922) Bentuk butir : Rounded Sortasi : well sorted Kemas : Tertutup Komposisi : Fragmen : Material halus berukuran lempung Matriks :- Semen :- Penamaan : Batulempung (Wentworth.

9 .Tata guna lahan : Potensi : (+) Perkebunan (-) Rawan Longsor Genesa : Terjadinya longsoran batuan diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi. tanah tersebut sudah kuat antar ikatanan di dalam pori-porinya dan akhirnya terjadilan longsor batuan. Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan akan menyebabkan hancurnya porositas tanah karena tersumbatnya pori-pori. Dengan adanya kemiringan lereng yang cukup terjal. Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi. sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastis.

BAB III PEMBAHASAN Pada hari Selasa. bentuk butir rounded karena cenderung mebundar. Singkapan dengan morfologi tebing ini memiliki panjang 10 meter dan lebar 5 meter. 8 Maret 2016 telah diadakan praktikum mata kuliah Geomorfologi dan Geologi dengan acara Bentuk Lahan Denudasional di ruang 301. Tekstur yang terlihat pada litologi ini yaitu memiliki ukuran butir <1/256 mm (Wentworth. Sehingga dapat disimpulkan bahwa singkapan ini merupakan bentuklahan denudasional. 1922) dengan tingkat pelapukan termasuk dalam tingkat IB yaitu 90-100% masih berupa batuan. sedangkan jika dilihat dari pemilahan atau sortasinya. Struktunya adalah non struktur atau masif. Litologi di STA 1 ini memiliki ciri-ciri yaitu berwarna coklat kekuningan. litologi ini termasuk kemas tertutup karena tidak terlihat kontak atau batas antar butirnya. Berikut adalah hasil observasi terhadap beberapa singkapan bentuklahan denudasional: 3. Pada praktikum ini dijelaskan mengenai bentuk lahan denudasional dengan output mencari singkapan yang di dalamnya terdapat gerakan tanah. maka litologi ini termasuk kedalam well sorted karena ukuran butirnya yang secara keseluruhan hampir seragam. Singkapan ini terletak di tepi sungai Kali Pengkol dengan kondisi tanah yang cukup memadai. Kabupaten Semarang. 10 . Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dari Tembalang selama kurang lebih 15 menit. Jika dilihat dari hubungan antar butirnya atau kemas.1 STA 1 Pada STA 1 ini terletak di kawasan Kali Pengkol. Sampai di STA 1 pukul 16. Teknik Geologi. Universitas Diponegoro. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki maka dapat dikatakan bahwa litologi tersebut adalah Batulempung (Wentworth. Gedung Pertamina Sukowati.00 WIB dengan kondisi cuaca mendung. 1922). Vegetasi di singkapan ini cukup banyak dengan kemiringan lereng yang cukup terjal sehingga menyebabkan terjadinya pelapukan. hal tersebut dikarenakan tidak terdapatnya aliran gas ataupun perlapisan.

Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi. 11 .2 STA 2 Pada STA 2 ini terletak di kawasan Bukit Cinta. litologi. Ditambah lagi dengan kemiringan lereng pada singkapan ini termasuk dalam kategori terjal yaitu 80º. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis gerakan tanah atau mass wasting di STA 1 ini adalah termasuk dalam jenis runtuhan batuan. Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan. sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastistanah dan akhirnya pun tidak sekuat sebelum adanya erosi terjadi untuk menahan benda di atasnya termasuk batuan. 3. tingkat pelapukan.30 WIB dengan kondisi cuaca mendung. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dari STA 1 selama kurang lebih 25 menit lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 5 menit. Denga terjadinya erosi di bagian depan singkapan. akan menyebabkan hancurnya porositas tanah karena tersumbatnya pori-pori. dan kemiringan lereng. Terjadinya gerakan ini diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi. gerakan tanah atau mass wasting. tingkat kemiringan singkapan yang besar yaitu 80º menyebabkan batuan yang terletak diatas akhirnya jatuh kebawah karena tanah sudah tidak kuat untuk menahan batuan tersebut ditambah dengan adanya gaya gravitasi bumi.seperti iklim. Proses terjadinya bentuklahan denudasional ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada singkapan ini didapati adanya batuan yang jatuh dari batuan batuan induk yang berada di atas tebing dengan kemiringan lereng 80º. Kabupaten Semarang. vegetasi yang banyak. vegetasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di STA 1 terdapat salah satu jenis gerakan tanah atau mass wasting yaitu runtuhan batuan. Sampai di STA 2 pukul 16. curah hujan. Selain itu pada singkapan ini terdapat vegetasi yang cukup banyak yaitu rerumputan dan pohon bambu yang akar- akarnya tersebut sangat mempengaruhi tingkat ketahanan tanah.

tingkat pelapukan. litologi. Tekstur yang terlihat pada litologi ini yaitu memiliki ukuran butir 2-4 mm (Wentworth. curah hujan. seperti iklim. dan kemiringan lereng. vegetasi. Singkapan dengan morfologi tebing ini memiliki panjang 7 meter dan lebar 3 meter. maka litologi ini termasuk kedalam well sorted karena ukuran butirnya yang secara keseluruhan hampir seragam. 1977). Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan akan menyebabkan hancurnya porositas tanah karena 12 . hal tersebut dikarenakan tidak terdapatnya aliran gas ataupun perlapisan. Vegetasi di singkapan ini yaitu berupa tanaman tegalan seperi pisang dan singkong dengan kemiringan lereng yang cukup terjal sehingga menyebabkan terjadinya pelapukan dan erosi. Struktunya adalah non struktur atau masif. Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi. litologi ini termasuk kemas tertutup karena tidak terlihat kontak atau batas antar butirnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa singkapan ini merupakan bentuklahan denudasional. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya bentuklahan denudasional pada STA 2 ini. 1922). bentuk butir rounded karena cenderung mebundar. 1922) dengan tingkat pelapukan termasuk dalam tingkat III yaitu 50-70% masih berupa batuan (Geological society. Selain ini didapati juga terdapatnya bekas-bekas perpindahan batuan tersebut. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki maka dapat dikatakan bahwa litologi tersebut adalah Batupasir (Wentworth. Litologi di STA 2 ini berupa fragmen batuan dengan ciri-ciri yaitu berwarna coklat. Pada singkapan ini didapati adanya batuan yang telah mengalami perpindahan tempat yang elevasinya lebih tinggi yaitu dengan kemiringan 45º. Terjadinya aliran fragmen batuan diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi.Singkapan ini terletak samping bukit Cinta dengan kondisi tanah yang tidak memadai. sedangkan jika dilihat dari pemilahan atau sortasinya. Jika dilihat dari hubungan antar butirnya atau kemas. gerakan tanah atau mass wasting. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di STA 2 ini terdapat jenis gerakan tanah atau mass wasting yaitu aliran fragmen batuan.

Struktunya adalah non struktur atau masif. akhirnya pelumpuran tadi dimana diatasnya juga terdapat fragmen-fragmen batuan terseret kebawah mengikuti aliran lumpur. sedangkan jika dilihat dari pemilahan atau sortasinya. Aliran tersebut mengalir ke tempat lebih rendah karena adanya gaya gravitasi bumi dan demikian dengan fragmen batuan yang berada didalam lumpur ikut terbawa arus pada akhirnya fragmen batuan tersebut berpindah tempat dari elevasi yang tinggi menuju yang lebih rendah. Kabupaten Semarang. bentuk butir rounded karena cenderung mebundar. Vegetasi yang terdapat hanya berupa rerumputan dan ilalang dengan kemiringan lereng 85º. 3. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dari STA 2 selama kurang lebih 50 menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa singkapan ini merupakan bentuklahan denudasional. tersumbatnya pori-pori.3 STA 3 Pada STA 3 ini terletak di daerah Rowosari. 1977). Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki maka dapat dikatakan bahwa litologi tersebut adalah Batupasir (Wentworth. 13 . Litologi di STA 3 ini berupa batuan dengan ciri-ciri yaitu berwarna coklat. maka litologi ini termasuk kedalam well sorted karena ukuran butirnya yang secara keseluruhan hampir seragam. 1922) dengan tingkat pelapukan termasuk dalam tingkat II yaitu 80-90% masih berupa batuan (Geological society. Sampai di STA 3 pukul 17. Tekstur yang terlihat pada litologi ini yaitu memiliki ukuran butir 2-4 mm (Wentworth. litologi ini termasuk kemas tertutup karena tidak terlihat kontak atau batas antar butirnya. Objek yang diamati memiliki dimensi 6x4 meter. Jika dilihat dari hubungan antar butirnya atau kemas. 1922).33 WIB dengan kondisi cuaca mendung. Ditambah dengan adanya kemiringan lereng. hal tersebut dikarenakan tidak terdapatnya aliran gas ataupun perlapisan. sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastis. Pada obyek ini terdapat soil yang telah mengalami pergerakan akibat adanya pembebanan diatasnya serta litologi yang terdapat.

Kabupaten Semarang. vegetasi. seperti pembebanan massa diatas soil. Litologi di STA 4 ini memiliki ciri-ciri yaitu berwarna coklat kekuningan. sedangkan vegetasi hanya berupa rerumputan dan ilalang yang kurang efektif dalam menahan air hujan dengan curah hujan yang tinggi. litologi. Saat terjadi pelapukan. Litologi yang terdapat dalam STA 3 ini adalah batupasir.4 STA 4 Pada STA 4 ini terletak di daerah Gunung Pati. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di STA 3 ini terdapat salah satu jenis gerakan tanah atau mass wasting yaitu amblesan. 14 . Pada singkapan ini didapati adanya tanah yang ambles. dengan otomatis massa litologi menjadi lebih ringan dibandingkan dengan soil diatasnya dan akhirnya terjadi amblesan. 3. iklim. Vegetasi di STA 3 berupa pohon albasiah dengan kemiringan lereng yang cukup terjal sehingga menyebabkan terjadinya pelapukan dan erosi. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dari Tembalang selama kurang lebih 45 menit. vegetasi dan curah hujan. Proses terjadinya bentuklahan denudasional di STA 3 ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Terjadinya gerakan tanah ini bisa disebabkan oleh adanya pembebanan massa diatas soil yang terlalu berat ataupun litologi yang terdapat di dalamnya. Tekstur yang terlihat pada litologi ini yaitu memiliki ukuran butir <1/256 mm (Wentworth. Sehingga dapat disimpulkan bahwa singkapan ini merupakan bentuklahan denudasional. tingkat pelapukan. air meteorit tersebut masuk ke dalam tanah dan menyebabkan litologi yang terdapat di dalamnya lama kelamaan mengalami pelapukan. Sampai di STA 4 pukul 17. litologinya. Struktunya adalah non struktur atau masif. curah hujan.00 WIB dengan kondisi cuaca mendung. hal tersebut dikarenakan tidak terdapatnya aliran gas ataupun perlapisan. Saat hujan terjadi. Pada STA 3 ini penyebab terjadinya amblesan lebih disebabkan oleh pembebanan. dan gerakan tanah atau mass wasting. Obyek yang diamati memiliki dimensi 6x3 meter.

tingkat pelapukan. vegetasi. Terjadinya longsoran batuan diawali oleh proses eksogen yang bersifat destruktif atau merusak yaitu pelapukan dan erosi. dan kemiringan lereng. 1977). Proses selanjutnya dipengarui oleh media perantara erosi terjadi. Pada saat erosi yang disebabkan oleh air hujan akan menyebabkan hancurnya porositas tanah karena tersumbatnya pori-pori. gerakan tanah atau mass wasting. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di STA 2 ini terdapat jenis gerakan tanah atau mass wasting yaitu longsoran batuan. litologi ini termasuk kemas tertutup karena tidak terlihat kontak atau batas antar butirnya. Selain ini didapati juga terdapatnya batuan-batuan yang menyebar di kemiringan tersebut. tanah tersebut sudah kuat antar ikatanan di dalam pori-porinya dan akhirnya terjadilan longsor batuan. 1922) dengan tingkat pelapukan termasuk dalam tingkat II yaitu 80-90% masih berupa batuan (Geological society. 15 . litologi. bentuk butir rounded karena cenderung mebundar. Jika dilihat dari hubungan antar butirnya atau kemas. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki maka dapat dikatakan bahwa litologi tersebut adalah Batupasir (Wentworth. Pada singkapan ini didapati adanya batuan yang telah mengalami perpindahan tempat yang elevasinya lebih tinggi yaitu dengan kemiringan 50º. sedangkan jika dilihat dari pemilahan atau sortasinya.1922). maka litologi ini termasuk kedalam well sorted karena ukuran butirnya yang secara keseluruhan hampir seragam. seperti iklim. Dengan adanya kemiringan lereng yang cukup terjal. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya bentuklahan denudasional pada STA 4 ini. sehingga daya infiltrasi berkurang maka terjadilah pelumpuran yang mengakibatkan penurunan daya infiltrasi lebih drastis. curah hujan.

2 Saran  Wilayah-wilayah longsoran terutama didaerah pemukiman harus lebih diperhatikan karena sewaktu-waktu dapat membahayakan penduduk.  Dalam praktikum ditampilkan banyak gambar singkapam contoh-contoh gerakan tanah agar praktikan tidak terlalu asing saat melihat langsung ke lapangan. Hal ini diawali dengan adanya tenaga geomorfik yang ada diluar permukaan bumi berupa proses  Pada STA 2 terdapat . 4. terlepas dari batuan induknya dan merupakan tebing yang terjal. bidang sesar.1 Kesimpulan  Pada STA 1 terdapat jenis gerakan tanah yaitu runtuhan batu (Verstappen) karena adanya suatu masa batuan yang jatuh kebawah karena pengaruh gravitasi. BAB IV PENUTUP 4.  Pada STA 4 terdapat jenis gerakan tanah pada daerah ini adalah longsoran batuan karena terjadinya gerakan massa batuan ke arah bawah yang biasanya melalui bidang perlapisan. rekahan – rekahan. 16 .jenis gerakan tanah aliran fragmen batuan (Verstappen) karena terjadinya gerakan secara mengalir dari masa batuan yang berupa fragmen-fragmen dengan kecepatan sedang sampai cepat dalam keadaan kering.  Pada STA 3 memiliki jenis gerakan tanah yaitu amblesan kekuatanan litologi di dalam tanah sudah lapuk sehingga tidak mampu lagi menampung bobot di atasnya.

Buku Panduan Praktikum Geomorfologi dan Geologi Foto. DAFTAR ISI Tim Asisten Geomorfologi dan Geologi Foto. Semarang: Universitas Diponegoro 17 . 2014.

LAMPIRAN 18 .

19 .