You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

Induksi adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang belum mengalami inpartu,
belum ada pembukaan pada mulut rahim dan belum ada kontraksi baik secara operatif, tindakan
medisinal atau obat, untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan.
Induksi persalinan ini bisa gagal bila terjadi salah satu tanda komplikasi, baik dari ibu maupun
janin. Tanda komplikasi dari ibu seperti kelelahan, krisis emosional, inersia uteri - kelainan
his/tenaga yang kekuatannya tidak memadai untuk melakukan pembukaan serviks atau
mendorong janin keluar - pada partus lama, tetania uteri yang dapat menyebabkan solutio
plasenta, ruptur uteri dan laserasi jalan lahir serta infeksi intrauterine - infeksi akut pada cairan
ketuban, janin dan selaput korioamnion yang disebabkan oleh bakteri.1

Sedangkan tanda komplikasi dari janin di antaranya trauma pada janin karena tindakan,
prolaps tali pusat - suatu kondisi medis ditandai dengan masuknya tali pusat ke dalam vagina
sebelum atau sewaktu persalinan, infeksi intrapartal pada janin dan aspirasi air ketuban. Selain
itu, kegagalan juga bisa terjadi karena selama induksi tidak adanya respons atau kemajuan yang
dinilai dengan menggunakan partograf - catatan grafik kemajuan persalinan guna memantau
keadaan ibu dan janin.1,2

Pengamatan yang dicatat dalam patograf di antaranya, Kemajuan persalinan seperti
pembukaan serviks, turunnya kepala dan his (kontraksi) dengan frekuensi per sepuluh menit.
Keadaan janin seperti frekuensi denyut jantung janin, warna, jumlah dan lamanya ketuban
pecah serta molase kepala janin. Keadaan ibu seperti nadi, tekanan darah, dan suhu; volume,
protein dan aseton urine; obat-obatan dan cairan intravena serta pemberian oksitosin.2

Pada kasus ini akan dibahas tentang penangan yang tepat pada inertia uteri hipotonik
dan intervensi yang tepat pada saat mengobservasi pasien dengan inertia uteri hipotonis dengan
pemberian drip oxytocin yang benar serta penanganan sectio caesarea yang tepat atau tidak
dalam mengintevensi kasus dengan pasien G3P2A0 parturien aterm kala I fase aktif dengan
ketuban pecah dini 29 jam.

1

HPHT 20 juli 2017. riwayat keluar air- air dari jalan lahir sejak ± 29 jam saat masuk RSUD Jayapura. 4. BAB II LAPORAN KASUS 2.1 IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. bau (-). Keputihan saat hamil (+). Umur : 31 Tahun (07 Februari 1987) Alamat : Abepura Agama : Islam Suku/Bangsa : Serui Pendidikan : SMA Pekerjaan : Honorer Din. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien G3P2A0 datang membawa surat rujukan dari RSUD Abepura dengan diagnosa G3P2A0 gravida 38-39 minggu + PK I + KPD. S. Asma (-) . bau amis (-). Keluhan Utama: Mules-mules yang semakin sering dan bertambah kuat 2. keputihan (-). gerak janin dirasakan aktif . 3. Pasien mengeluh mules-mules yang semakin sering dan bertambah kuat disertai keluar lendir bercampur sedikit darah dan air-air dari jalan lahir ± 3 jam sebelum masuk RSUD Abepura. Riwayat Penyakit Sebelumnya : Hipertensi (-). DM (-). Z. gatal (-). infeksi kelamin (-). Malaria (-). riwayat sakit saluran pernapasan disangkal oleh ibu.2 ANAMNESIS 1. jernih. 2 . demam (-). Riwayat Penyakit Keluarga Hipertensi (-). DM (-). TP 27 april 2018 (38-39 minggu). riwayat abortus (-). S. penyakit jantung (-). riwayat operasi (-). asma (-). Hub Tanggal MRS : 19 April 2018 Nomor Rekam Medis : 44 27 61 2.

Riwayat Pernikahan  Usia pernikahan ♀: 31 Thn. Spontan Bidan 4000 gr ♂ 10 thn Hidup 3. Riwayat Menstruasi  Menarche : 13 Tahun  Siklus haid : Teratur (28 hari)  Dysmenorrhoea : (-)  HPHT : 20 Juli 2017  TP : 06 Juni 2018 8. Pendidikan SMA. Hub  Usia pernikahan ♂: 32 Thn.OG Imunisasi TT : 2 kali 9. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi Jenis kontrasepsi :- Berapa lama :- Rencana KB setelah melahirkan :- 3 . Vakum Dokter 3800 gr ♂ 11 thn Hidup ekstraksion 2. Riwayat Obstetri G3P2A0 Jenis BB Umur Hidup/ No. Hamil ini 6.Sp. Pemeriksaan Antenatal (PAN/ANC) Berapa kali : 5 kali PAN pertama kali pada umur kehamilan : 2 minggu Kapan : Oktober 2017 Dimana : di dr. Penolong JK Persalinan (Gram) Sekarang Meninggal 1.5. Pekerjaan: PNS  Suami : ke-1  Pernikahan dengan suami sekarang: Nikah sah 3 tahun 7. Pendidikan SMA. Pekerjaan: Honorer Din.

murmur tidak ada Abdomen : Datar. Riwayat sosial Ibu sehari-hari bekerja sebagai pegawai honorer dinas perhubungan. edema tungkai tidak ada 4 . 2. Jantung : Bunyi jantung I-II reguler.3 STATUS GENERALIS Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Tinggi Badan : 155 cm Berat Badan : 72 kg IMT : 23 kg/m2 Tanda-tanda vital :  Tekanan darah : 120/80 mmHg  Nadi : 98 x/m  Respirasi : 20 x/m  Suhu badan : 37 0C Kepala : Mata : Conjungtiva anemis -/-. gallop tidak ada. nyeri tekan (-) Ekstremitas : Akral teraba hangat. rhonki tidak ada. wheezing tidak ada. 10. sclera ikterik -/- Hidung : Deformitas (-) Telinga : Deformitas (-) Mulut : Deformitas (-) Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-) Thoraks : Paru : Suara nafas vesikuler.

taksiran berat janin klinis 2945 gr. punggung kanan.5 Hematokrit 35. tidak ada tanda-tanda peradangan. memanjang. sutura sagitalis melintang 2.5 Leukosit 16.000 DDR - 5 . arah aksial  Pembukaan : 4 cm  Ketuban : (-) Jernih  Station : -2. lunak. tidak ada bekas operasi. kontraksi 3x/10’/26”.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium 19 April 2018 Darah Lengkap Nilai Hemoglobin 12. penurunan kepala 3/5.4 STATUS OBSTETRI Pemeriksaan Luar  Inspeksi : abdomen tampak membesar.000 Trombosit 186. Palpasi : teraba tinggi fundus uteri 31 cm. Pemeriksaan Dalam  v/v : tidak ada kelainan  Portio : tebal.2.

00 4X/10’/35” 145 120/80 95 21 36.00 3X/10’/35” 140 130/80 100 21 36.7 Oxytocin 28 tpm 01.00 4X/10’/37” 140 130/80 95 22 36.6 OBSERVASI PERSALINAN His BJA TD N R SB Jam KET (x/10') (x/m) (mmHg) (x/m) (x/m) (°C) 17.7 - 21. lunak.7 - Pemeriksaan Dalam  v/v : Tidak ada kelainan  P : Tebal.00 4X/10’/37” 140 120/80 90 21 36.Observasi HIS.7 - 19. lunak.7 - 20.7 Oxytocin 20 tpm 00.6 Oxytocin 32 tpm Pemeriksaan Dalam  v/v : Tidak ada kelainan  P : Tebal.30 4X/10’/37” 143 120/80 95 21 36.6 - Pemeriksaan Dalam  v/v : Tidak ada kelainan  P : Tebal.7 Oxytocin 12 tpm 23.00 3X/10’/34” 147 120/80 91 21 36.00 3X/10’/30” 145 120/70 99 22 36.00 3X/10’/28” 140 120/80 90 21 36. sutura sagitalis melintang Diagnosis Kerja : G3P2A0 parturien aterm kala 1 fase aktif + KPD 29 jam Rencana Terapi : .7 Oxytocin 16 tpm 23. dalam 500 cc RL  8 tpm . sutura sagitalis melintang Diagnosis Kerja : G3P2A0 parturien aterm kala 1 fase aktif + KPD 29 jam Rencana Terapi : . KU. TTV His BJA TD N R SB Jam KET (x/10') (x/m) (mmHg) (x/m) (x/m) (°C) 22.30 3X/10’/35” 145 120/80 95 21 36. lunak.35 3X/10’/26” 150 120/80 98 21 36. KU TTV His BJA TD N R SB Jam KET (x/10') (x/m) (mmHg) (x/m) (x/m) (°C) 18.2.Observasi HIS. DJJ. arah aksial  Ø : 4 cm  Ket : (-) Jernih 6 .6 Oxytocin 24 tpm 00.30 4X/10’/37” 140 120/80 98 21 36. arah aksial  Ø : 4 cm  Ket : (-) Jernih  Pr : Station -2.00 3X/10’/35” 140 120/80 91 21 36.U. arah aksial  Ø : 4 cm  Ket : (-) Jernih  Pr : Station -2.IVFD RL 500 cc / 12 jam  13 tpm .Drip oxytocin 5 I.6 - 22. DJJ.

arah aksial  Ø : 5 cm  Ket : (-) Jernih  Pr : Station -2. DJJ. DJJ.  Pr : Station -2. sutura sagitalis melintang Diagnosis Kerja : G3P2A0 parturien aterm kala 1 fase aktif + KPD 29 jam Rencana Terapi : .6 - Pemeriksaan Dalam  v/v : Tidak ada kelainan  P : Tebal.7 - 03.00 4X/10’/39” 143 120/70 95 21 36. KU.00 4X/10’/37” 140 120/80 98 21 36. KU.Observasi HIS. lunak.Rencana Sectio Caesarea cito atas indikasi KPD 29 jam + Gagal drip oxytocin 7 . TTV .00 4X/10’/41” 140 120/80 90 21 36. sutura sagitalis melintang Diagnosis Kerja : G3P2A0 parturien aterm kala 1 fase aktif + KPD 29 jam Rencana Terapi : Observasi HIS. TTV His BJA TD N R SB Jam KET (x/10') (x/m) (mmHg) (x/m) (x/m) (°C) 02.00 4X/10’/39” 140 120/70 95 22 36.6 - 04.7 - 05.

Respirasi 20 x/m. Ketuban negatif. Palpasi teraba tinggi fundus uteri 31 cm. status generalis dalam batas normal. sutura sagitalis melintang.000. Station -2. trombosit 186. Status obstetri . Hemoglobin 12. lunak. Suhu badan 37 0C.6 RESUME Pasien G3P2A0 ( 38-39 minggu) datang dengan keluhan keluar lendir darah dari jalan lahir disertai air-air dari jalan lahir ± 29 jam SMRS Tekanan darah 120/80 mmHg Nadi 98 x/m. Pemeriksaan dalam vulva vaginatidak ada kelainan.5 g/dL. penurunan kepala 3/5. kontraksi 3x/10’/26”.Partograf 2. memanjang. hematokrit 35. abdomen tampak membesar.000.5. 8 . tidak ada bekas operasi. tidak ada tanda-tanda peradangan. leukosit 16. Portio tebal. Inspeksi. arah aksial. Jernih. punggung kanan. Pembukaan 4 cm. taksiran berat janin klinis 2945 gr.

Apgar Score: 8 (menit pertama) / 9( menit kelima). Ketorolac 30mg/8jam (i. Ceftriaxone 1gr/ 12 jam (i. Pasien tidur terlentang di atas meja operasi dalam anastesi spinal 2. Dilakukan penjahitan dinding abdomen dengan vycril 2.27 WIT. potong tali pusat. Insisi SBR secara semilunar.v) .0 dengan teknik jahitan simpel pada bagian lateral dextra dan sinistra. PB: 48cm. Dengan meluksir kepala pada pukul 09. dan jahitan continue pada bagian medial. selama.0.0 dengan teknik continue. Kemudian menjahit sub kutis dengan vycril 1. lalu menjahit kulit menggunakan vycril 2. 6. Instruksi Postoperasi . Dengan tarikan ringan lahir plasenta lengkap pada pukul 09. Setelah peritonium dibuka tampak uteri gravidarum. abdomen ditembus secara tajam dan tumpul.0 lapis demi lapis.8 TATALAKSANA Rencana sectio caesarea atas indikasi ketuban pecah dini 29 jam + gagal drip oksitosin 2.v) 9 . Perdarahan durante operasi ± 150cc.0 dengan teknik jahitan continue. KU ibu sebelum.v) . Klem tali pusat. Dilakukan penjahitan 1 lapis pada SBR menggunakan vycril 1. 4.25 WIT lahir bayi perempuan BB: 3200 gr. Operasi selesai. 10. 3.9 LAPORAN OPERASI 1. 9.2. Dilakukan asepsis dan antisepsis daerah operasi selanjutnya dilakukan insisi pfannenstiel 8cm.7 DIAGNOSIS KERJA P1A0 partus maturus dengan sectio caesarea atas indikasi gagal drip oksitosin + KPD ±29 jam 2. Metronidazol 500mg/8jam (drip) . SBR disayat dan ditembus secara tumpul 5. 7. 8. setelah operasi baik. Kalnex 500mg/8jam (i. fascia dijahit dengan vycril 2.

Observasi KU. Quo ad Vitam : Dubia . Quo ad Functionam : Dubia .10 PROGNOSIS . TTV dan balance cairan 2. Quo ad Sanationam : Bonam 10 . .

2. Apakah penanganan pada pasien ini sudah tepat? Penanganan pada pasien G3P2A0 dengan KPD 29 jam pada kasus ini dengan pemberian drip oxytocin lima satuan (5 I.) oxtocin dilarutkan ke dalam 500 cc glukosa 5% atau ringer laktat. Bila setelah pemberian keduakalinya pembukaan masih belum lengkap. Ini mengisyaratkan bahwa terdapat batas-batas minimal tertentu pada aktivitas uterus yang harus dicapai sebelum dilakukan sectio caesarea atas indikasi distosia. Maksimum jumlah tetesan per menit adalah 60 tetes per menit dan bila jumlah tetesan sudah 60 tetes per menit. American College of Obstetricians and Gynecologists menyarankan bahwa sebelum ditegakkan diagnosis kemacetan pada persalinan kala satu. dan lamanya memadai. Kemudian 4 jam 30 menit kemudian pada pasien dilakukan Sectio Caesarea tanpa dilanjutkan dengan pemberian drip oxytocin kedua.2. frekuensi.3 Agar induksi atau akselerasi persalinan dengan oksitosin efektif. 30 menit kemudian naik 4 tetes permenit sampai 32 tetes permenit oxytocin yang di drip sampai habis tetapi tidak di dapatkan his yang adekuat (4x/10”/38’).U. dan bila setelah istirahat 2 jam kualitas his masih jelek. Sudah terjadi pola kontraksi uterus sebesar 200 satuan montevideo atau lebih dalam periode 10 menit selama 2 jam tanpa perubahan pada serviks 11 .3 Jumlah tetesan per menit tidak dinaikkan lagi bila kualitas his sudah memadai.U. kedua kriteria ini harus dipenuhi:4 1. Bila hal ini sudah tercapai jumlah tetesan dipertahankan. Bila pemberian 1 botol belum menunjukkan hasil.) dalam cairan Ringer Laktat dimulai dengan 8 tetes per menit. dilakukan Sectio Caesarea. tidak boleh dinaikkan lagi meskipun his belum memadai. diberikan sebagai infus dengan kecepatan awal 8 tetes/menit. BAB III PEMBAHASAN 1. Faselaten telah selesai dengan serviks membuka 4 cm atau lebih 2. Tetesan dapat dinaikkan 4 tetes per menit dapat dinaikkan setiap 15-30 menit sampai diperoleh his yang kekuatan. terapi dapat diteruskan dengan drip oxytocin botol ke dua. kontraksi uterus harus mencapai 200 – 300 satuan montevideo. Penanganan atau terapi inersia uteri hipotonik adalah dengan pemberian lima satuan (5 I.

Bila hal ini sudah tercapai jumlah tetesan dipertahankan.U. Skor Bishop Skor Faktor 0 1 2 3 Pembukaan serviks (cm) 0 1-2 3-4 5-6 Pendataran serviks (%) 0-30 40-50 60-70 >80 Turunnya bagian -3 -2 -1 atau 0 +1 atau +2 terendah (station) Konsistensi serviks Kaku Kenyal Lunak Arah serviks Belakang Tengah Depan Skor bishop dengan nilai < 6 tidak bermanfaat dan kemungkinan keberhasilannya kecil.5 cm per jam 12 . Apakah ada kesalahan penanganan pada saat observasi? Observasi pada pasien G3P2A0 yang dilakukan selama 13 jam dimulai dari kala satu fase aktif atau pembukaan 4 cm.3 Tabel 3. Untuk multipara protraksi sebagai kecepatan pembukaan kurang dari 1. dan lamanya memadai. Tetesan dapat dinaikkan 4 tetes per menit dan dapat dinaikkan setiap 15- 30 menit sampai diperoleh his yang kekuatan. frekuensi. Pemberian drip oxytocin seharusnya dengan pemberian lima satuan (5 I. dan keduanya berlangsung bersamaan. Penurunan dimulai pada tahap akhir dilatasi aktif.1. Friedman membagi masalah fase aktif menjadi gangguan protraction (berkepanjangan/berlarut-larut) dan arrest (macet. Pemantauan persalinan pada pasien G3 menurut analisis Friedman tentang fase aktif bahwa kecepatan penurunan janin diperhitungkan selain kecepatan pembukaan serviks.1.1 Maka pada kasus inertia uteri hipotonik pada pasien G3P2A0 dengan ketuban pecah dini 29 jam di RSUD Jayapura penanganannya belum tepat dikarenakan pemberian drip oxytocin yang kurang tepat dan tidak dilakukannya penilaian kematangan serviks dengan menggunakan skor bishop. 2. tak maju). sedangkan skor bishop dengan nila > 6. diberikan sebagai infus dengan kecepatan awal 8 tetes/menit. Selain itu agar pemberian drip oxtocin dapat berhasil maka seharusnya dilakukan penilaian kematangan serviks menggunakan skor Bishop.) oxtocin dilarutkan ke dalam 500 cc glukosa 5% atau ringer laktat. faktor-faktor yang dinilai dalam menentukan kematangan serviks menggunakan skor Bishop dapat dilihat pada tabel di bawah ini. ibu dapat kemungkinan ibu dapat melahirkan pervaginam atau setelah di lakukan drip oxytocin akan berhasil.

jika pada kolf pertama sudah diberikan maksimal 60 tetes permenit tetapi tetap di dapatkan his pada pasien masih 4X/10’/37” seharusnya diberikan pemberiaan drip oxytocin kolf ke dua setelah 2 jam bebas drip oxytocin. tumor yang menghalangi jalan lahir. sectio ke tiga. resiko perlengketan organ. Sectio caesarea mempunyai indikasi. keadaan-keadaan dimana usaha untuk melahirkan anak pervaginam gagal. Apakah tindakan SC pada kasus ini sudah tepat? Pada kasus ini setelah di lakukan drip oxytocin selama tiga setengah jam. agar penialian dan intervensi Inersia uteri hipotonis atau kemacetan pembukaan karena kurangnya his dapat dilakukan dengan cepat dengan pemberian drip oxytocin sebagai augmentasi agar diharapkan terjadi kemajuan persalinan sehingga ibu dapat melahirkan spontan tanpa harus dilakuka sectio caesarea.30 WIT kemudian drip oxytocin tidak dilanjutkan sampai pada jam 09. 16 tetes. 20 tetes. Kemacetan pembukaan didefinisikan sebagai tidak adanya perubahan serviks dalam 2 jam. WHO mengajukan suatu partograf penatalaksanaan persalinan saat partus lama di definisikan sebagai pembukaan serviks yang kurang dari 1 cm/ jam selama minimal 4 jam.2. dimulai pada jam 22.00 WIT dengan pemberian oxytocin lima satuan (5 I. 13 . Bahaya sectio caesarea antaralain. kemudian naik menjadi 12 tetes. letak lintang. pada kehamilan setelah operasi vaginal. atau penurunan kurang dari 2 cm perjam.3.00 WIT dilakukan sectio caesarea. Diagnosis kemacetan fase aktif (tidak ada pembukaan selama 2 jam atau lebih) karena kontraksi uterus yang kurang kuat di definisikan sebagai kurang dari 180 satuan montevideo. peritonitis. panggul sempit absolut.00 WIT sudah dilakukan pemeriksaan dalam dikarenakan pada partograf dan observasi di dapatkan adanya inersia uteri hipotonis (his pasien 3X/10’/30’) yang merupakan indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan dalam. Sectio caesarea ialah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim.) dalam ringer laktat dimulai dengan 8 tetes per menit.5 Pada kasus ini seharusnya dilakukan pemberian drip oxytocin yang adekuat hingga maksimal 60 tetes permenit. 28 tetes dan terakhir 32 tetes pada jam 24. 3. Indikasi sectio antara lain plasenta previa totalis. 24 tetes.4 Maka pada kasus ini seharusnya dalam 2 jam awal pada jam 19. ruptura uteri pada kehamilan yang berikut.4 Terapi yang dianjurkan untuk persalinan yang berkepanjangan adalah penatalaksanaan menunggu.U. sedangkan oksitosin dianjurkan untuk persalinan yang macet tanpa disproporsi sefalopelvik.

bahkan ruptur uteri pada kehamilan berikutnya. Maka pada kasus ini sectio caesarea pada pasien G3P2A0 parturien aterm kala I fase aktif dengan ketuban pecah dini 29 jam kurang tepat. Sebisa mungkin sectio caesarea dihindari karena mempunyai efek pada ibu seperti peritonitis. 14 .dimulai dengan 60 tetes permenit setelah pemberian kolf ke dua tidak ada kemajuan pembukaan dan his masih tetap maka sectio caesarea dapat dilakukan dengan diagnosa gagal induksi atau karena usaha untuk melahirkan anak pervaginam gagal. perlengketan. dikarenakan pemberian drip oxytocin yang juga kurang tepat.

U. dikarenakan pemberian drip oxytocin yang juga kurang tepat. frekuensi.) oxtocin dilarutkan ke dalam 500 cc glukosa 5% atau ringer laktat diberikan sebagai infus dengan kecepatan awal 8 tetes/menit. Tetesan dapat dinaikkan 4 tetes per menit setiap 15-30 menit sampai diperoleh his yang kekuatan.00 WIT sudah dilakukan pemeriksaan dalam dikarenakan pada partograf dan observasi di dapatkan adanya inersia uteri hipotonis (his pasien 3X/10’/30’) yang merupakan indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan dalam. 15 . Maksimum jumlah tetesan per menit adalah 60 tetes per menit.1 Simpulan  Penanganan pada pasien G3P2A0 dengan ketuban pecah dini 29 jam adalah dengan pemberian Penanganan atau dengan pemberian lima satuan (5 I. bahkan ruptur uteri pada kehamilan berikutnya.  Pada kasus ini sectio caesarea pada pasien G3P2A0 parturien aterm kala I fase akktif dengan ketuban pecah dini 29 jam kurang tepat. Jumlah tetesan per menit tidak dinaikkan lagi bila kualitas his sudah memadai.  Pada kasus ini seharusnya dalam 2 jam awal pada jam 19. dan lamanya memadai. BAB IV PENUTUP 4. Bila hal ini sudah tercapai jumlah tetesan dipertahankan. agar penialian dan intervensi Inersia uteri hipotonis atau kemacetan pembukaan karena kurangnya his dapat dilakukan dengan cepat dengan pemberian drip oxytocin sebagai augmentasi agar diharapkan terjadi kemajuan persalinan sehingga ibu dapat melahirkan spontan tanpa harus dilakuka sectio caesarea. perlengketan. Sebisa mungkin sectio caesarea dihindari karena mempunyai efek pada ibu seperti peritonitis.

Edisi ke 3. 2015 3.semperi. 2011 16 . Rachimhadhi T. 2013 4. Jakarta. Seminars in perinatology 39 (2015) 483-487. Daftar Pustaka 1. Navate R. Konar H. Pt bina pustaka sarwono prawirohardjo.. Effendi J. Jaypee brothers medical publisher (P) Ltd. DC Dutta’s textbook of obstectrics including perinatology and contraception. EGC. Wiknjosastro G. Edisi ke 8..2015.org/10. Failed induction of labor.013 2.doi. Jakarta. Martaadisoebrata D. Obstetri operatif.. Scoen C. http://dx.1053/j. 2014 5. Wirakusumah F. Edisi ke 4. Bagian obstetri dan ginekologi FK UNPAD. Obstetri patologi ilmu kesehatan reproduksi.. Elsevier Inc. New delhi. Saifuddin A.07. Cetakan ke 4. Edisi ke 2. Ilmu kebidanan sarwono prawirohardjo..