You are on page 1of 15

1.

Ibu hamil yang mual muntah pada pagi hari diberi penkes tentang nutrisi (makan
sedikit tapi sering) dan anjurkan minum the manis dan makan krekels/roti kering yang
tidak mengandung susu

2. Ibu hamil yang kekurangan nutrisi di tandai dengan mengeluh nyeri sendi dan sakit
gigi

3. Pada Leopold IV untuk mengetahui apakah sudah masuk PAP atau belum yaitu
apabila masih bisa digoyangkan berarti belum masuk PAP tetapi apabila sudah tidak
bisa bergoyang berarti sudah masuk PAP

4. Pada insiasi menyusui dini, bayi diletakkan di dada ibu minimal sejam agar panas
tubuh ibu disalurkan ke bayi karena bayi baru lahir rentan Hipotermi dan juga dapat
mengurangi stress bayi terhadap perubahan lingkungan dengan mendengarkan detak
jantung ibu serta memberi kenyamanan pada bayi. Saat kaki bayi menendang-
nendang dapat merangsang kontraksi

5. Peningkatan hormone estrogen selama kehamilan  retensi cairan (30-50%)
bertambah sedangkan sel darah merah yang diproduksi 20-30%  produksi plasma
dan sel darah merah tidak seimbang  terjadi penurunan Hb/anemia ( < 11)

6. Pemberian tablet Fe bertujuan untuk mengatasi anemia ibu dimana pemberiannya
minimal 90 tablet dalam 3 bulan karena pemberian tablet Fe menyebabkan mual
sehingga pemberiannya saat ibu hamil tidak sedang mual atau mualnya berkurang dan
dianjurkan untuk dikonsumsi sebelum tidur agar mualnya tidak terasa dan sebaiknya
pemberian Fe dibarengi dengan mengkonsumsi vitamin C dan tidak dianjurkan
mengkonsumsi teh.

7. Pada trimester III terjadi pembesaran uterus  diafragma terdesak  ibu sesak napas
 ibu hamil menarik napas lebih dalam

Primigravida = hamil pertama Multigravida = hamil kedua dan selanjutnya 12. Para = kehamilan > 20 minggu . April) = Tanggal +7. TFU (cm) x 2/7 = …. leher. TFU (cm) x 8/7 = …. banyak minum air putih dan aktivitas tidak perlu dikurangi asal ibu tidak lelah 9. Rumus usia kehamilan menurut McDonald . Juni. Peningkatan hormone melanosit  kulit daerah wajah. Preterm = kehamilan < 37 minggu . tahun +1 .. ketiak..8. Aterem = kehamilan > 37 minggu . Rumus usia kehamilan menurut HPHT . November. bulan . Juli. Bulan di bawah April ( Januari. Agustus. tahun tetap 14. Maret. Peningkatan estrogen menyebabkan HCL di lambung  peristaltic usus  Konstipasi  Hemoroid Penatalaksanaannya dengan memberikan makanan tinggi serat. Februari. Bulan di atas April ( Mei. Pembesaran uterus  menekan kandung kemih  reflex BAK (trimester I dan III) 10. Abortus = kehamilan < 20 minggu 13. bulan -3. selangkangan dan perut menghitam 11. bulan +9. Klasifikasi : . minggu . September. Oktober. Desember) = Tanggal + 7.

Plasenta previa dan solusio plasenta biasanya terjadi pada kehamilan Trimester II dan III . kunjungan tanggal 14 Maret 2015. Pembukaan 4. Penghitungan DJJ menggunakan dopler selama 1 menit penuh sedangkan menggunakan monorel = 5 detik 5 detik 5 detik x 4 DJJ Normal = 120-160x. Tetapi bila ketuban telah pecah. Pengisian patograf menurut WHO di isi dari pembukaan 4 . nadi ibu dan kontraksi. Rumus lain dalam minggu Urutkan bulan berawal dari HPHT hingga bulan kunjungan x 4. bandingkan tanggal kunjungan dengan HPHT Contoh : Ibu HPHT 21 Oktober 2014. . 5. Uterus lembek  pendarahan ( normal < 500cc)  atonia uteri lakukan masasae uterus 20. setiap 3 bulan + 1. suhu diperiksa perjam . Uterus lembek  distensi kandung kemih anjurkan ke kamar mandi mendengarkan air mengalir untuk merangsang reflex BAK 21. Penanganan nyeri pada ibu hamil saat pembukaan .mnt 17. Pembukaan 8. 9 dan 10 lakukan counter pressure 19. Pembukaan dan suhu .15. Per30 menit diobservasi DJJ. Tekanan Darah diperiksa perjam pada ibu dengan riwayat preeklamsi 18. 6 dan 7 ajarkan teknik napas dalam . Per4jam TD. Usia kehamilan ? 21-10-2014 14-03-15  Hasil 21 minggu 16.

Mengenali Gejala dan Tanda Kala Dua 1. 3. Menyiapkan Pertolongan Persalinan 2. Saat perawatan tali pusar posisikan Treedelenburg 26. 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering. Langkah 2 Pastikan kelengkapan peralatan. tempat resusitasi dan ganjal bahu bayi  Siapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set. Sebelum pemeriksaan Leopold ibu dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih 25. bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi  Gelarlah kain di atas perut ibu. . 22. Asuhan Persalinan Normal 58 langkah : I. Langkah 1 Dengarkan. Untuuk memeriksa reflex mengisap bayi dengan cara meletakan jari ke mulut bayi 24. II. lihat dan periksa gejala dan tanda Kala Dua  Ibu merasakan dorongan kuat dan meneran  Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina  Perineum tampak menonjol  Vulva dan sfinger ani membuka. Langkah 3 Kenakan atau pakai celemek plastik. Saat ibu diberikan terapi infuse RL+MGSO4 harus diobserasi reflex tendon setiap jam dan apabila reflex tendon tidak ada mengindikasikan keracunan 23. Untuk asfiksia: tempat tidur datar dan keras.

Langkah 7 Bersihkan vulva dan perineum. Pastikan tidak terkontaminasi pada alat suntik). Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Baik 7. 5. Langkah 6 Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (Gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril. Langkah 8 Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.  Bila selaput ketuban dalam belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi. Langkah 4 Lepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai.5% – Langkah 9) 8. . 6. 4. bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang  Buang kapas atau pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia  Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi. lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0. seka dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang dibasahi air DTT  Jika introitus vagina. cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering. perineum atau anus terkontaminasi tinja. III. Langkah 5 Pakai sarung tangan DTT untuk melakukan pemeriksaan dalam.

Langkah 12 Pinta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran (Bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat. Langkah 9 Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0. 9. 10. Langkah 11 Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya  Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran. DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf. IV.5% selama 10 menit. 12. bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman). Cuci kedua tangah setelah sarung tangan dilepaskan. Menyiapkan Ibu dan Keluarga Untuk Membantu Proses Bimbingan Meneran 11. lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan sesuai temuan yang ada  Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar. . Langkah 10 Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi/ saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/ menit)  Ambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal  Dokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam.5% kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan 0.

Langkah 17 Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan . jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit. 13. V. Langkah 15 Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu. jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm. Langkah 14 Anjurkan ibu untuk berjalan. 14. Langkah 16 Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu 17. berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman. Mempersiapkan Pertolongan Kelahiran Bayi 15. Langkah 13 Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasakan ada dorongan kuat untuk meneran:  Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif  Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai  Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)  Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi  Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu  Berika cukup asupan cairan per-oral (minum)  Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai  Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam) meneran (multigravida). 16.

Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Langkah 20 Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi. lepaskan lewat bagian atas kepala bayi  Jika tali pusat melilit leher secara kuat. klem tali pusat di dua tempat dan potong diantara klem tersebut. Langkah 22 Setelah kepala melakukan putaran paksi luar. 18. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. 20. pegang secara biparental. Lahirnya bahu 22. Langkah 21 Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. Langkah 18 Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan VI. dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi  Jika tali pusat melilit leher secara longgar. . Dengan lembut gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi Lahirnya kepala 19. Langkah 19 Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. 21.

Langkah 27 Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi lain dalam uterus (hamil tunggal). Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas. Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).Lahirnya badan dan tungkai 23. Langkah 25 Lakukan penilaian (selintas):  Apakah bayi menangis kuat dan/ atau bernapas tanpa kesulitan?  Apakah bayi bergerak dengan aktif? Jika bayi tidak bernapas atau megap-megap segera lakukan tindakan resusitasi (Langkah 25 ini berlanjut ke langkah-langkah prosedur resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksi). Langkah 24 Setelah tubuh dan lengan lahir. 24. 26. bokong dan kaki. kepala. . dan bagian tubuh lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan  Ganti handuk basah dengan handuk kering  Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu. geser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala. VII. penelusuran tangan atas berlanjut ke punggung. Langkah 23 Setelah kedua bahu lahir. Penanganan Bayi Baru Lahir 25. 27. lengan dan siku sebelah bawah. Langkah 26 Keringkan dan posisikan tubuh bayi di atas perut ibu  Keringkan bayi mulai dari muka.

Langkah 28 Beritahukan pada ibu bahwa penolong akan menyuntikkan oksitosin (agar uterus berkontraksi baik). Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu. Langkah 31 Pemotongan dan pengikatan tali pusat  Dengan satu tangan. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu. Langkah 32 Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi. Langkah 33 Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi. 28. Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu. 30. Langkah 30 Dengan menggunakan klem. 33. 32. Langkah 29 Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir. jepit tali pusat (dua menit setelah bayi lahir pada sekitar 3 cm dari pusar (umbilikus) bayi. angkat tali pusat yang telah dijepit kemudian lakukan pengguntingan tali pusat (lindungi perut bayi) di antara 2 klem tersebut  Ikat tali pusat dengan benang DTT/ steril pada satu sisi kemudian lingkarkan kembali benang ke sisi berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan benang dengan simpul kunci  Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan. suntikkan oksitosin 10 unit (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin). Dari sisi luar klem penjepit. 29. 31. . dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan lakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.

36. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh 3. Penatalaksanaan Aktif Kala Tiga 34. Langkah 36 Setelah uterus berkontraksi.VIII. minta ibu. 35. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan 4. Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir . Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya 5. di tepi atas simfisis. Langkah 35 Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu. suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu. minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas.  Jika uterus tidak segera berkontraksi. Langkah 37 Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik. Mengeluarkan plasenta 37. hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas. mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)  Jika tali pusat bertambah panjang. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM 2. tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Langkah 34 Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 – 10 cm dari vulva. untuk mendeteksi. pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta  Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat: 1. Tangan lain menegangkan tali pusat.

letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar secara lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)  Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/ masase. Masukkah plasenta ke dalam kantung plastik atau tempat khusus. Bila terjadi perdarahan. 41. Langkah 40 Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Rangsangan taktil (masase) uterus 39. lakukan masase uterus. 38. lakukan plasenta manual. Langkah 38 Saat plasenta muncul di introitus vagina.  Jika selaput ketuban robek. 6. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan. Menilai Perdarahan 40. Langkah 41 Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal. Langkah 39 Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir. . IX. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. lahirkan plasenta dengan kedua tangan.

Langkah 42 Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam. Evaluasi 46.X. Langkah 44 Lakukan penimbangan/ pengukuran bayi. Langkah 46 Lanjutkan permantauan kontraksi dan mencegah perdarahan per vaginam  2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan  Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan  Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan . Langkah 43 Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu – bayi (di dada ibu paling sedikit 1 jam)  Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30- 60 menit. dan vitamin K1 1mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah satu jam kontak kulit ibu – bayi. 44.  Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan  Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu. 45. Langkah 45 Berikan suntikan imunisasi Hepatitis B (setelah satu jam pemberian Vitamin K1) di paha kanan anterolateral. 43. beri tetes mata antibiotik profilaksis. Bayi cukup menyusu dari satu payudara  Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu. Melakukan Asuhan Pasca Persalinan 42. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit.

Langkah 49 Periksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama 2 jam pertama persalinan  Periksa temperatur ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.5% untuk dekontaminasi (10 menit).5 – 37. 47. 50. Kebersihan dan keamanan 51. Langkah 48 Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangann darah. 48. Langkah 51 Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0. Cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi. Langkah 47 Ajarkan ibu/ keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi. .5). Langkah 52 Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai. Langkah 50 Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 kali/ menit) serta suhu tubuh normal (36. 49. melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.  Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik. 52.

. 56.5%. periksa tanda vital dan asuhan kala IV. Langkah 54 Pastikan ibu merasa nyaman.5% selama 10 menit. Langkah 58 Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang). Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkannya. Bersihkan sisa cairan ketuban. Langkah 56 Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0. balikkan bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0. lendir dan darah. 57. Langkah 55 Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0. Dokumentasi 58. Langkah 57 Cuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan dengan tissue atau handuk yang kering dan bersih. 55. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering. 54.5%. Bantu ibu memerikan ASI. 53. Langkah 53 Bersihkan badan ibu menggunakan air DTT.