You are on page 1of 4

Surabaya sebagai kota terbesar ke dua setelah Jakarta.

Salah satu dampak dari


pembangunan kota Surabaya adalah terjadinya pertambahan penduduk yang semakin pesat,
yang diantaranya dapat diakibatkan oleh besarnya arus urbanisasi dan pertumbuhan alami
(kelahiran) penduduk kota Surabaya itu sendiri yang mengakibatkan kerusakan lingkungan,
seperti polusi udara akibat dari karbondioksida kendaraan bermotor dan industri serta drainase
yang buruk sehingga dapat menjadi pemicu terjadinya banjir di kota Surabaya.

Maka dengan adanya masalah tersebut tidak hanya berakibat dengan naiknya
permintaan kebutuhan akan sarana dan prasarana perkotaan, tapi permasalahan yang dihadapi
perkotaan juga semakin dan samakin kompleks. Seperti, penghijauan kota, dan kebersihan
kota, merupakan masalah-masalah yang utama yang dihadapi kota-kota di Indonesia, begitu
juga dengan kota Surabaya. Dari segi nonfisik, masalah yang timbul seperti lemahnya
pelaksanaan ketertiban hukum, dan hal ini berdampak pada kondisi sosial dan budaya dan
sosial psikologi bagi masyarakat.

Berdasarkan fakta tersebut diatas, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya


membuat suatu program Ruang Terbuka Hijau melalui pengelolaan taman kota karena
berdasarkan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 1 Tahun 2006 tentang penjabaran tugas dan
fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan adalah Dinas mempunyai tugas melaksanakan
kewenangan daerah di bidang kebersihan dan pertamanan serta melaksanakan tugas
pembantuan yang diberikan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Provinsi. (1) Merumuskan
kebijakan teknis di bidang kebersihan dan pertamanan, (2) Menyelenggarakan urusan
kebersihan dan pertamanan, (3) Pembinaan dan pelaksanaan tugas, (4) Pengelolaan
ketatausahaan Dinas, (5) Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah
sesuai tugas dan fungsinya.

Menurut Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 07 tahun 2002, tentang pengelolaan
ruang terbuka hijau disebutkan bahwa ruang terbuka hijau tak hanya berupa hutan kota,
melainkan kawasan hijau yang berfungsi sebagai pertamanan, rekreasi, permakaman,
pertanian, jalur hijau, dan pekarangan. Pemerintah mengelola Ruang Terbuka Hijau (RTH)
untuk mengatasi berbagai masalah berupa kejadian yang membuat resah masyarakat beberapa
tahun terakhir ini. Kejadian seperti banyaknya penyakit yang menyerang masyarakat, suhu
perkotaan yang semakin tinggi akibat kepadatan penduduk, banyaknya kendaraan bermotor
yang menghasilkan asap dan kebisingan serta pabrik-pabrik disekitar perkotaan yang
mengakibatkan pencemaran udara (Taufikurahman, 2008).
Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota Surabaya
juga merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia
bagian timur. Di tengah hiruk pikuk Kota Surabaya dengan segala aktivitas, mobilitas, deru
knalpot kendaraan, dan gedung-gedung tingginya, masyarakat perlu melepaskan diri sejenak
dari kepenatan rutinitas mereka. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyediakan suatu ruang
terbuka hijau dalam bentuk taman kota.

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, menjadi dasar penulis tertarik untuk meneliti
tentang bagaimana pelaksanaan dan apa saja yang menjadi hambatan dalam Pelaksanaan
Pengaturan Ruang Terbuka Hijau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah di Kota Metro.

Permasalahan yang muncul akhir-akhir ini mengenai lingkungan adalah


kurangnya penerapan ruang terbuka hijau di suatu perkotaan. Ruang terbuka hijau
merupakan salah satu elemen penting dalam suatu kota. Ruang terbuka hijau berfungsi
untuk menyeimbangakn keadaan ekologi pada suatu kawasan agar terjadi
keseimbangan antara ekosistem dan perkembangan pembangunan di era modern. Kota
mempunyai luas lahan terbatas,permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus
berkembang untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan baik pemukiman ,
industri dan pertumbuhan jalur transportasi yang perlahan akan menyita lahan-lahan
atau ruang terbuka lainnya di wilayah perkotaan.
Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup sulit untuk
diatasi. Perkembangan pembangunan perkotaan selain mempunyai dampak positif bagi
kesejahteraan warga juga menimbulkan dampak negatif pada beberapa aspek termasuk
aspek lingkungan. Pada mulanya,sebagian besar lahan kota merupakan ruang terbuka
hijau. Namun adanya peningkatan kebutuhan ruang untuk menampung penduduk dan
aktiivitasnya,ruang terbuka hijau tersebut cenderung mengalami alih fungsi lahan
menjadi ruang terbangun. Pertumbuhan penduduk dengan aktivitas yang tinggi di
kawasan perkotaan berdampak pada perubahan cirri khas sebuah kota, baik berupa
fisik,sosial, dan budaya.
Realisasi konsep penataan ruang yang dituangkan dalam Raperda RTRWP Jawa
Timur Tahun 2005-2020, sebagai perwujudan konsep penataan ruang kota dalam
mencapai tujuan perkembangan berkelanjutan dibidang lingkungan,adalah dengan
menyediakan Ruang Terbuka Hijau yang akan dikenal dengan RTH. Yang dimaksud
dengan RTH yaitu Kawasan –Kawasan hijau dalam bentuk taman-taman kota,hutan
kita,jalur-jalur hijau di tepi atau ditengah jalan,bantaran tepi sungai atau tepi jalur
kereta,halaman setiap bangunan dari semua fungsi yang termasuk dalam Garis
Sempadan bangunan dan Koefisien Dasar Bangunan. Tujuan pembentukan RTH
diperkotaan adalah untuk meningkatkan mutu lingkungan perkotaan yang
nyaman,segar,indah,bersih dan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan serta
menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi
masyarakat yang tinggal. RTH diharapkan dapat mewujudkan tata lingkungan yang
serasi antara sumber daya alam ,sumber daya buatan,sumber daya manusia bagi kualitas
hidup penduduk kota. Di Jawa Timur ,RTH bagi perkotaan,yang diterapkan pada
RTRWP Jawa Timur Tahun 2005-2020 ,minimal 20% dari luas kota,dimana 10%
berupa hutan kota.
Kota Surabaya merupakan ibu kota Propinsi Jawa Timur, Indoinesia dan kota
metropolitan kedua setelah Jakarta. Kota pahlawan ini mengalami perkembangan pesat
terutama di daderah Surabaya Barat dan Surabaya Timur. Hal ini terjadi karena
kemajuan Kota Surabaya terutama dalam bidang ekonomi yang menjadi dayat tarik
sendiri bagi masyarakat sekitarnya. Akibatnya jumlah penduduk yang tinggal di Kota
Surabaya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini berpengaruh terhadap
meningkatnya kebutuhan penduduk akan hunian,perkantoran,sarana dan prasarana
transportasi,serta fasilitas publik lainnya. Sehingga mengakibatkan perubahan
peruntukan lahan yang semakin signifikan ditunjukkaan dengan berkurangnya kawasan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) / Green openspaces. Oleh karena itu penulis akan
membahas mengenai penerapan prinsip hukum administrasi lingkungan dalam
pengelolaan ruang terbuka hijau khususnya di Kota Surabaya.
Ruang terbuka hijau merupakan salah satu komponen yang tingkat ketersediannya baik secara
kualitas maupun kuantitas harus selalu diperhitungkan dalam proses perencanaan kota
(Roswidyatmoko Dwihatmojo, 2013). Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau karena
keterbatasan lahan akan menimbulkan permasalahan lingkungan di wilayah perkotaan karena
polusi yang meningkat. Menurut Budiharjo (1993) menyatakan bahwa hilangnya ruang terbuka
hijau didaerah perkotaan menyebabkan ketidakstabilan psikologis, emosional, dan
dimensional, sehingga ruang gerak masyarakat untuk beraktifitas dan berpikir menjadi sangat
terbatas.

Ketersedian Ruang Terbuka Hijau (RTH) khususnya pada wilayah perkotaan sangat penting
dan bermanfaat. Keberaan RTH pada wilayah perkotaan akan meningkatkan produksi oksigen
dan menyerap karbondioksida, menjadi habitat hewan liar seperti kupu-kupu dan burung serta
menjaga air tanah dan mengurangi resiko terjadinya banjir.