You are on page 1of 11

MAKALAH BAHAYA DAN BENCANA GEOLOGI

DENGAN CARA PENANGGULANGANNYA

TANAH LONGSOR
PENYEBAB DAN REKOMENDASI SOLUSI
Studi kasus peristiwa longsor yang terjadi di Desa Semen,
Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

NAMA : ALAN SAPUTRA


I MADE WIRAWAN
STAMBUK : 14.31.1.396
14.31.1.407

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2018
Pendahuluan
Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering menimbulkan kerugian,
baik berupa korban jiwa maupun materi. Longsor sendiri merupakan perpindahan
material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material
campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor sangat
dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Menurut Vulcanological Survey of Indonesia (2010),
proses terjadinya longsor diawali oleh meresapnya air yang akan menambah berat
tanah. Jika air menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang
gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng.

Penyebab longsor dapat karena aktivitas manusia maupun terjadi secara alami.
Meskipun demikian, aktivitas manusia disinyalir sebagai penyebab longsor terbesar
yang terjadi di Indonesia termasuk yang terjadi di Desa Semen, Kecamatan
Windusari, Kabupaten Magelang. Pada lokasi tersebut, terdapat tebing tinggi dengan
kelerengan sangat curam. Namun, penutup lahannya bukan hutan. Hal ini tentu saja
disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman. Oleh
karena itu, meskipun faktor alam penyebab longsor dominan berada disana, yakni
kelerengan yang curam, namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penjarahan hutan oleh
manusia menjadi pemicu terjadinya longsor tersebut.

Untuk meminimalkan terjadinya tanah longsor di Indonesia, maka perlu dilaksanakan


tindakan pencegahan (mitigasi). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah
atau mengurangi dampak tanah longsor, seperti menanam pohon di tempat-tempat
yang berpotensi terjadi longsor agar akar tanaman dapat mengikat tanah, atau
membuat tembok penahan pada tebing-tebing yang memiliki kelerengan curam
hingga sangat curam, dan lain sebagainya. Untuk mendukung tindakan tersebut, perlu
disusun perundangan dan panitia pengawas. Karena tanpa panitia pengawas,
perundangan yang telah disusun akan menjadi sia-sia.

Pengawasan dan usaha pencegahan tanah longsor dapat dilakukan dengan


kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat khususnya masyarakat yang
tinggal di daerah rawan longsor. Hal ini karena masyarakat merupakan penyebab
sekaligus korban dalam bencana tanah longsor. Sebagai penyebab, masyarakat
berperan dalam turut meluasnya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian meskipun
di daerah-daerah berlereng curam karena desakan ekonomi yang menjadi salah satu
pemicu terjadinya tanah longsor. Sebagai korban, karena masyarakat yang
merasakan dampak secara langsung akibat bencana tanah longsor baik berupa
kerugian materi, psikologis, hingga korban jiwa. Oleh karena itu, masyarakat harus
disiapkan untuk pencegahan dan penanganan bencana tanah longsor

Tujuan penulisan ini untuk mengkaji penyebab longsor yang terjadi di Desa Semen,
Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Setelah mengetahui penyebabnya,
maka dapat diberikan rekomendasi solusi bencana tersebut baik secara fisik maupun
secara kelembagaan. Harapanya, dari kajian bencana yang ada di lokasi studi dapat
memberikan gambaran melakukan mitigasi bencana tanah longsor dan penanganan
bencana.
Pembahasan
Studi peristiwa longsor
Studi didasarkan pada peristiwa longsor yan terjadi di Desa Semen, Kecamatan
Windusari, Kabupaten Magelang pada Senin, 31 Oktober 2011 pukul 22.00 WIB.
Peristiwa longsor ini terjadi setelah hujan deras yang mengguyur lokasi tersebut
selama beberapa hari. Akibatnya, tebing setinggi 10 m runtuh. Beruntung tidak ada
korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya saja akses jalan alternatif dari Magelang
ke Temanggung putus disebabkan oleh material longsor yang menutup badan jalan
hingga 60 m. Berikut adalah gambar kejadian longsor yang ada di lokasi studi.
(Sumber: Detik.com edisi Selasa, 1 November 2011).
Identifikasi jenis longsor di lokasi studi
Terdapat berbagai macam jenis longsor (Vulcanological Survey of Indonesia, 2010),
yaitu:

1. Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2. Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.

3. Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir
berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

4. Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak
ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal
hingga menggantung, terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh
dapat menyebabkan kerusakan yang parah.

5. Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak
dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama, longsor jenis rayapan ini bisa
menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6. Aliran bahan rombakan terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air.
Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air,
dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu
mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter,
seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi.

Peristiwa longsor yang terjadi di lokasi studi merupakan longsoran rotasi, yaitu
bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Hal ini
dikarenakan longsoran terjadi di tebing yang memiliki kelerengan curam sebagai
bidang gelincir dan runtuhnya massa tanah membentuk cekungan yang cukup dalam.
Namun, tidak dapat dikatakan runtuhan batu karena tidak ada indikasi massa tanah
yang jatuh langsung tanpa melewati bidang gelincirnya. Artinya, massa tanah tidak
tercampur antara bagian atas dan bawah, melainkan bagian atas tetap berada di atas
bagian bawah meskipun letaknya berpindah di bawah tebing.
Identifikasi penyebab longsor di lokasi studi
Pada prinsipnya, longsor terjadi karena gaya pendorong pada lereng lebih besar
daripada gaya penahan. Gaya penahan dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan
kepadatan tanah, sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh kelerengan, air, dan
berat jenis tanah batuan (Vulcanological Survey of Indonesia, 2010). Adapun faktor-
faktor penyebab tanah longsor adalah alam dan manusia. Faktor alam yang
menyebabkan longsor antara lain:

1. Perubahan pola hujan, ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada musim
penghujan seiring meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang panjang
akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah
besar. Hal ini menyebabkan muncul pori-pori atau rongga tanah, kemudian
terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat hujan, air akan
menyusup ke bagian yang retak. Tanah mengembang kembali dengan cepat.
Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu
singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena
melalui tanah yang merekah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar
lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di
permukaan, longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar
tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.
2. Komposisi mineralogi dan bentuk struktural yang dapat memperlemah kekuatan
batuan atau lapisan kedap air
3. Kemiringan lereng yang tajam, lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar
gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai,
mata air, air laut, dan angin.
4. Sistem hidrologi, sistem hidrologi yang menyebabkan longsor terkait dengan
muka air tanah dan drainase internal.
5. Gempa bumi dan letusan gunung berapi, peristiwa tersebut menyebabkan
getaran pada tanah yang dapat menyebabkan rekahan.

Sedangkan faktor manusia yang menyebabkan longsor antara lain:

1. Hilangnya penutupan vegetasi, vegetasi di atas tanah berfungsi untuk


mencengkeram dan menjangkar tanah. hilangnya vegetasi menyebabkan tidak
ada yang mengikat tanah, akibatnya bila gaya pendorong meningkat, maka
mudah terjadi longsor.

2. Perubahan kemiringan lereng, hal tersebut menyebabkan lereng menjadi lebih


terjal sehingga daya pendorong lebih tinggi.

3. Arus aliran sungai yang cepat

4. Pembangunan jalan dan bangunan pada lokasi rawan longsor, hal tersebut
menyebabkan gaya pendorong meningkat akibatnya mudah terjadi longsor.

5. Penambangan bahan galian C, hal tersebut menyenankan perubahan lereng,


bahkan menjadi cekungan-cekungan ke dalam lereng sehingga gaya pendorong
meningkat.
Longsor terjadi ketika ketika pengaruh gaya gravitasi lebih besar dari pada resistensi
lereng untuk bertahan. Gaya penahan (resisting forces) yang mengontrol kestabilan
lereng meliputi beberapa komponen antara lain: kekuatan (strength) dan kohesi
(cohession) material penyusun lereng, fraksi antar butiran dan pendukung eksternal
lereng lain. Longsor yang terjadi di lokasi studi diketahui berawal hujan deras yang
terjadi selama beberapa hari. Selain itu, lokasi studi merupakan tebing tinggi, setinggi
10 m dan memiliki kelerengan sangat curam. Di bawah tebing tersebut adalah jalan
alternatif yang menghubungkan Magelang dengan Temanggung, sehingga
diperkirakan tebing tersebut juga dipertajam oleh manusia untuk tujuan pelebaran
jalan. Bila diidentifikasi, faktor yang menyebkan longsor di lokasi studi, yaitu:

1. Faktor alam
2. Perubahan curah hujan

Longsor terjadi akhir bulan Oktober 2011 pada musim penghujan. Longsor didahului
oleh hujan lebat yang terjadi selama beberapa hari. Sehingga, bisa dipastikan bahwa
curah hujan merupakan faktor utama yang memicu terjadinya longsor di lokasi
tersebut.

1. Kemiringan lereng yang tajam


Telah dijelaskan di atas bahwa lokasi longsor berupa tebing setinggi 10 m,
bahwa kelerengan tebing tersebut sangat curam, mendekati 90o, hal tersebut
merupakan salah satu pemicu longsor karena lereng merupakan salah satu gaya
pendorong longsor.

Penggunaan lahan pada lokasi longsor bukan hutan alami, karena di dekat
tebing terdapat rumpun bambu dan pohon kelapa. Penutupan vegetasi semacam
itu tidak cukup kuat untuk menahan tanah karena sistem perakarannya tidak sama
dengan pohon yang memiliki sistem perakaran tunggang dan dalam. Bambu dan
kelapa tidak memiliki daya jangkar akar sekuat hutan alami, sehingga bila gaya
pendorong meningkat, sementara penahan tidak mampu mengikat tanah maka
dapat terjadi longsor.

2. Perubahan kemiringan lereng


Lokasi longsor merupakan tebing yang di bawahnya adalah jalan alternatif.
Sehingga, sangat mungkin tebing tersebut mengalami perubahan kemiringan
lereng akibat pembuatan dan pelebaran jalan. Hal ini mengakibatkan lereng
semakin terjal sehingga meningkatkan gaya pendorong karena kelerengan
berbanding lurus dengan kejadian longsor.

Rekomendasi solusi secara teknis


Solusi penanganan longsor secara umum bertujuan untuk mencegah air agar tidak
terkonsentrasi di atas bidang luncur, mengikat massa tanah agar tidak mudah hancur,
dan merembeskan air ke lapisan tanah yang lebih dalam dari lapisan kedap (bidang
luncur). Dalam merekomendasikan penanganan longsor perlu memperhatikan
proses-proses penyebab longsor agar penganan dapat tapat sasaran. Dalam
menanggulangi longsor yang terjadi di lokasi studi dapat dilakukan dengan 2 cara,
yaitu cara vegetatif dan mekanik. Berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk
menanggulangi longsor di lokasi studi (Balai penelitian dan pengembangan pertanian,
2007):

1. Cara vegetatif
Cara vegetatif dapat dilakukan dengan menanam pohon, semak, dan rumput
sehingga menghasilkan kanopi multistrata. Pohon sebagai kanopi strata pertama,
semak sebagai kanopi strata kedua, dan rumput strata ketiga. Fungsi menanam
pohon, semak, dan rumput, antara lain:

 Media intersepsi hujan


 Seresahnya melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan secara
langsung
 Menyalurkan air ke sekitar perakaran dan merembeskannya ke lapisan yang
lebih dalam serta melepasnya secara perlahan-lahan.
 Mengikat massa tanah
 Menghasilkan eksudat akar sebagai pemantap agregat

Agar cara vegetatif ini berhasil, maka perlu dilakukan pemilihan tanaman yang akan
dikombinasikan. Tanaman yang dipilih harus mudah beradaptasi, memiliki
perakaran rapat dan dalam sehingga memiliki daya cengekream dan daya jangkar
akar tinggi, memiliki kanopi yang relatif rapat, relatif cepat tumbuh, dan sebisa
mungkin memiliki fungsi ekonomi bagi masyarakat.

2. Secara mekanis
Karena lokasi studi adalah di tebing curam yang berada di tepi jalan, maka
penanganan tanah longsor secara mekanis dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
membuat trap-trap terasering dan bangunan penguat tebing.

 Membuat trap-trap terasering


Trap-trap terasering ini memiliki fungsi menahan longsoran tanah pada tebing
atau lahan yang curam, memperkuat bidang berteras, serta melengkapi dan
memperkuat cara vegetatif. Bangunan ini dibuat dengan cara membentuk teras-
teras dan memperkuat tampingannya dengan semen atau batu yang disusun,
untuk mengalirkan air maka dibuat saluran drainase dengan membuat lubang-
lubang dengan pipa, serta pada bidang olah ditanami pohon untuk memperkuat
dan membantu meresapkan air ke lapisan tanah yang lebih dalam.

 Membuat bangunan penguat tebing


Bangunan ini berfungsi untuk menahan longsoran tanah pada tebing yang
sangat curam yang tidak mampu dikendalikan dengan cara vegetatif. Adapun
pembuatan dan pemeliharaan bangunan ini adalah:

 Tebing diperkuat dengan teras-teras


 Diperkuat dengan semen atau batu yang disusun rapat
 Jika dibuat dari semen maka diberikan lubang-lubang dengan pipa paralon untuk
mengalirkan kelebihan air.
 Pada bagian atas dinding tebing ditanami pepohonan untuk memperkuat dan
membantu meresapkan air ke lapisan tanah yang lebih dalam.

Mitigasi tanah longsor


Pada dasarnya tanah longsor tidak terlepas dari gerakan tanah. Direktorat vulkanologi
dan mitigasi bencana geologi membagi zona kerentanan gerakan tanah berdasarkan
tingkat kerentanannya sebagai berikut:

1. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi


Gerakan tanah besar hingga sangat kecil telah sering terjadi dan akan sering
terjadi

2. Zona kerentanan gerakan tanah menengah


Gerakan tanah besar hingga kecil dapat terjadi terutama di daerah yang
berbatasan dengan lembah sungai, tebing pemotong jalan, dan pada lereng
yang mengalani gangguan.

3. Zona kerentanan gerakan tanah sedang


Gerakan tanah jarang terjadi kecuali pada daerah yang lerengnya mengalami
gangguan

4. Zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah


Tidak ditemukan gejala gerakan tanah lama maupun baru kecuali pada daerah
sekitar tebing sungai

Faktor terjadinya gerakan tanah dapat disebabkan oleh alam dan manusia. Oleh
karena itu, perlu tindakan pencegahan atau mitigasi agar dapat mencegah terjadinya
bencana tanah longsor yang menyebabkan berbagai macam kerugian.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik secara
fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam
menghadapi ancaman bahaya (UU No. 24 Th. 2007). Adapun tahapan mitigasi
bencana tanah longsor menurut Vocanological Survey of Indonesia (2010) adalah
sebagai berikut:

1. Pemetaan
Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di
suatu wilayah untuk masukan kepada masyarakat dan pemerintah sebagai
dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana
longsor.

2. Penyelidikan
Mempelajari penyebab dan dampak dari suatu bencana sehingga dapat
digunakan dalam perencanaan penanggulangan bencana dan rencana
pengembangan wilayah.
3. Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan saat dan sesudah terjadi bencana, sehingga dapat
diketahui penyebab dan cara penanggulangannya

4. Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis, agar
diketahui tingkat bahayanya.

5. Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada pemerintah dan masyarakat tentang
bencana tanah longsor dan akibat yang ditimbulkan.

Strategi penumbuhan partisipasi masyarakat


Tanpa partisipasi masyarakat, kelembagaan mitigasi bencana tanah longsor tidak
dapat berjalan secara optimal. Akibatnya, kegiatan mitigasi tanah longsor pun tidak
dapat berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, peran masyarakat sangat
penting dalam kegiatan ini. Namun, terkadang sulit untuk mendapatkan dukungan
masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi agar dapat menumbuhkan
partisipasi masyarakat. Adapun stratetegi tersebut berupa:

1. Mengajak masyarakat untuk merumuskan ide dalam kegiatan mitigasi bencana.

2. Mengajak masyarakat dalam merumuskan masalah dan cara penyelesaiannya.

3. Mengajak masyarakat memilih alternatif pemecahan masalah.

4. Bersama-sama dengan masyarakat menjalankan kegiatan sesuai dengan


pilihan yang telah ditentukan bersama.

Dengan demikian masyarakat akan merasa program tersebut adalah milik mereka
sehingga akan turut menjaga dan berpartisipasi aktif dalam melakukan mitigasi
bencana longsor.

Contoh mitigasi bencana tanah longsor yang berbasis partisipasi masyarakat


dilaksanakan di Desa Kalitlaga, Kecamatan Pagetan, Kabupaten Banjarnegara.
Kegiatan mitigasi bencana tanah longsor dilakukan dengan memasang alat sistem
peringatan dini gerakan tanah. Alat ini menggabungkan beberapa alat, yaitu
extensometer, alat penakar curah hujan, dan sirine. Tujuan utama dipasangnya alat
tersebut adalah untuk memantau adanya pergerakan tanah hingga batas kondisi kritis
sirine berbunyi. Saat sirine (I) berbunyi berartii hujan kritis terjadi. Sirine (I) dibuat
untuk mengkondisikan masyarakat agar siaga. Sirine (II) berbunyi bila air hujan telah
meresap ke dalam tanah dan mengakibatkan retakan tanah melebar hingga mencapai
batas kritis yang ditentukan alat, yaitu 5 cm. Saat sirine (II) berbunyi, maka masyarakat
yang sudah siaga harus segera meninggalkan rumah. Dengan sistem peringatan dini
maka diharapkan lokasi rawan telah bebas dari hunian saat longsor terjadi
(Parlindungan, 2008).

Adapun partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini adalah dengann memberikan public
education, yaitu dengan mengadakan sosialidasi dan pelatihan tentang bencana
alam, berbaikan jalan dan lingkungan yang berfungsi sebagai jalur evakuasi, gladi
evakuasi, pembuatan peta rawan bencana, pemasangan alat sistem pperingatan dini
yang murah dan sederhana, serta relokasi. Pemasangan alat dilakukan dengan
melibatkan masyarakat sehingga akan timbul kepedulian dan rasa memiliki.
Kesimpulan

Lokasi studi terletak di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.


Lokasi studi memiliki jenis longsoran rotasi yang disebabkan oleh perubahan pola
hujan, kelerengan yang tajam, dan vegetasi. Untuk menangani longsor secara
vegetasi dilakukan dengan menanam pohon, semak, dan rumput. Sedangkan secara
mekanis dilakukan pembuatan trap-trap terasering dan bangunan penguat tebing.

Untuk melakukan mitigasi bencana tanah longsor dilakukan kerjasama multipihak


antara masyarakat, pemerintah, LSM, dan pihak luar. Hal ini karena semua pihak
tersebut memiliki kepentingan sehingga diharapkan mereka dapat menjalankan
perannya masing-masing untuk mitigasi bencana tanah longsor. Agar mitiasi dapat
berjalan optimal, maka dialakukan dengan partisipasi masyarakat. Kegiatan mitigasi
berupa pemetaan, penyelidikan, pemeriksaan, pemantauan, sosialisasi.
Daftar Pustaka
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2007. Petujuk Teknis Teknologi
Pengendalian Longsor. Departemen Pertanian. Bogor

Nasution, M. Safii. 2005. Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas. IPB. Bogor

Parlindungan, Ranto et al. 2008. Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat pada Daerah
Rawan Longsor di Desa Kalitlaga Kecamatan Pagetan Kabupaten Banjarnegara Jawa
Tengah. Dalam Jurnal Teknik Sipil No. XVIII/ 3 September 2008.

Pool. 2011. Hujan Deras, Tebing Setinggi 10 Meter Longsor.


Dalam www.detik.com edisi 1 November 2011.
Priyono, Dwi Kuswaji dan Priyono. 2008. Analisis Morfometri dan Morfostruktur Lereng
Kejadian Longsor di Kecamatan Banjarmangu Kecamatan Banjarnegara. Dalam
jurnal Forum Geografi, Vol. 22 No. 1 Juli 2008.

Sadisun, Imam A. 2005. Usaha Pemahaman terhadap Stabilitas Lereng dan


Longsoran sebagai Langkah Awal dalam Mitigasi Bencana Longsor. Dalam Workshop
Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung, 15-16 Desember 2005.

Vulcanological Survey of Indonesia. 2010. Pengenalan Gerakan Tanah. Departemen


Energi dan Sumberdaya Mineral

Widodo, Amin. 2011. Tanah Longsor, Bencana Alamkah?.


Dalam www.geologi.iagi.or.id. Tanggal akses 4 Februari 2012