You are on page 1of 61

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang.

Diare didefinisikan sebagai meningkatnya frequensi buang air besar dan berubahnya
frekuensi konsistensi menjadi lebih lunak atau bahkan cair. Diare hingga kini masih
merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi dan balita di negara
yang sedang berkembang. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada
tahun 2000 dan 2.2 juta diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah 5
tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 diperoleh bahwa diare masih merupakan
penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% dibandingkan pneumonia 24%.
Data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2008 dilaporkan KLB diare di 15 provinsi
dengan jumlah penderita 8.443 orang jumlah kematian sebanyak 209 orang. Salah
satu faktor risiko menurut faktor anak yang berperan dalam kejadian diare adalah
pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif. Menyusui eksklusif untuk 6 bulan pertama
dapat menurunkan diare sebanyak 3 kali dan pneumonia sebanyak 2,5 kali. Penelitian
untuk melihat apakah terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan
kejadian diare pada bayi berusia 6-12 bulan di kelurahan Bendungan, Kecamatan
Cilegon pada bulan Agustus 2010 menyimpulkan bahwa pada bayi yang diberi ASI
eksklusif, kejadian diare sebesar 12,5% sedangkan pada bayi yang tidak diberi ASI
eksklusif kejadian diare sebesar 66,0%. Peluang kejadian diare pada bayi yang tidak
diberi ASI eksklusif 13 kali lebih besar terkena diare dibandingkan dengan bayi yang
diberi ASI eksklusif.

Secara umum masalah gizi di Indonesia terutama KEP (Kurang Energi Protein) masih
lebih tinggi daripada Negara ASEAN lainnya. Di tingkat dunia dikatakan ada
sedikitnya 17.289 balita meninggal setiap hari karena kelaparan dan kurang gizi
dengan segala akibat yang ditimbulkannya. Hasil survei sensus nasional diketahui
bahwa persentase balita yang bergizi baik sebesar 71,88% pada tahun 2002 dan pada
tahun 2003 turun menjadi 69,59%. Balita dengan gizi kurang/buruk sebesar 25,82%
pada tahun 2002 dan meningkat menjadi 28,17% pada tahun 2003. Malnutrisi

1
merupakan masalah gizi yang sering dijumpai di negara- negara berkembang.
Peningkatan kemampuan health workers dalam melaksanakan penyuluhan dan
komunikasi mampu meningkatkan status gizi balita usia 2-5 tahun di Brazil dan dapat
diterapkan di Negara berkembang lainnya. Penelitian untuk melihat hubungan
pemberian ASI sampai usia 2 tahun dengan status gizi balita usia 2- 5 tahun di
Kelurahan Kampung Kajanan Kecamatan Buleleng menyimpulkan ada hubungan
antara pemberian ASI hingga usia 2 tahun dengan status gizi balita usia kurang dari 2-
5 tahun, dimana ibu yang memberikan ASI hingga usia 2 tahun akan semakin baik
status gizi balitanya dari pada ibu yang tidak memberikan ASI hingga usia 2 tahun
kepada balita yang berusia 2-5 tahun. Dari penelitian di Kelurahan Kampung Kejanan
Kecamatan Buleleng menyumpulkan bahwa ibu yang tidak memberikan ASI hingga 2
tahun, sebanyak 9 % memiliki balita dengan status gizi baik dan 1,3 % memiliki balita
dengan status gizi buruk, sedangkan pada ibu yang memberikan ASI hingga usia 2
tahun, sebanyak 74,4 % memiliki balita dengan status gizi baik dan 15,4% memiliki
balita dengan status gizi buruk.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui


Pengaruh Penyuluhan ASI Eksklusif dan ASI Dua Tahun Terhadap Pengetahuan dan
Sikap Pada Ibu yang Mempunyai Baduta di Puskesmas Kecamatan Tempuran pada
Februari 2018, mengingat belum pernah dilakukannya penelitian terkait di wilayah
tersebut.

1.2 Rumusan Masalah.

2
Berdasarkan latar belakang diatas maka dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:

- Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 diperoleh diare merupakan penyebab


kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% dibandingkan pneumonia 24%
- Data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2008 dilaporkan KLB diare di 15
provinsi dengan jumlah penderita 8.443 orang jumlah kematian sebanyak 209
orang.

- Kecamatan Cilegon pada bulan Agustus 2010 menyimpulkan bahwa pada bayi
yang diberi ASI eksklusif, kejadian diare sebesar 12,5% sedangkan pada bayi
yang tidak diberi ASI eksklusif kejadian diare sebesar 66,0%. Peluang
kejadian diare pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif 13 kali lebih besar
terkena diare dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI eksklusif

- Di tingkat dunia dikatakan ada sedikitnya 17.289 balita meninggal setiap hari
karena kelaparan dan kurang gizi dengan segala akibat yang ditimbulkannya.

- Hasil survei sensus nasional diketahui bahwa persentase balita yang bergizi
baik sebesar 71,88% pada tahun 2002 dan pada tahun 2003 turun menjadi
69,59%. Balita dengan gizi kurang/buruk sebesar 25,82% pada tahun 2002 dan
meningkat menjadi 28,17% pada tahun 2003

- Peningkatan kemampuan health workers dalam melaksanakan penyuluhan dan


komunikasi mampu meningkatkan status gizi balita usia 2-5 tahun di Brazil
dan dapat diterapkan di Negara berkembang lainnya

- Dari penelitian di Kelurahan Kampung Kejanan Kecamatan Buleleng


menyumpulkan bahwa ibu yang tidak memberikan ASI hingga 2 tahun,
sebanyak 9 % memiliki balita dengan status gizi baik dan 1,3 % memiliki
balita dengan status gizi buruk, sedangkan pada ibu yang memberikan ASI
hingga usia 2 tahun, sebanyak 74,4 % memiliki balita dengan status gizi baik
dan 15,4% memiliki balita dengan status gizi buruk

3
1.3 Tujuan Penelitian.

1.3.1 Tujuan Umum.

Mengetahui Pengaruh Penyuluhan ASI Eksklusif dan ASI Dua Tahun Terhadap
Pengetahuan dan Sikap Pada Ibu yang Mempunyai Baduta di Puskesmas
Kecamatan Tempuran pada Februari 2018.

1.3.2 Tujuan Khusus.

- Diketahuinya sebaran tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian ASI


eksklusif dan ASI dua tahun sebelum dilakukan penyuluhan di puskesmas
Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang pada Februari 2018.

- Diketahuinya sebaran tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian ASI


eksklusif dan ASI dua tahun sesudah dilakukan penyuluhan di puskesmas
Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang pada Februari 2018.

- Diketahuinya sebaran sikap ibu tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI
dua tahun sebelum dilakukan penyuluhan di puskesmas Kecamatan
Tempuran, Kabupaten Karawang pada Februari 2018.

- Diketahuinya sebaran sikap ibu tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI
dua tahun sesudah dilakukan penyuluhan di puskesmas Kecamatan
Tempuran, Kabupaten Karawang pada Februari 2018.

- Diketahuinya perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap pada ibu yang


mempunyai Baduta terhadap ASI eksklusif dan ASI 2 tahun sebelum dan
sesudah penyuluhan.

1.4 Hipotesis Penelitian.

Terdapat perbedaan dalam pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta
tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI dua tahun sebelum dan sesudah dilakukan
penyuluhan di puskesmas Kecamatan Tempuran periode Februari 2018.

4
1.5 Manfaat Penelitian.
1.5.1 Bagi Peneliti.

- Menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah untuk merumuskan


dan memecahkan masalah yang ada di masyarakat.

- Diharapkan penelitian ini akan memberikan wawasan dan pengetahuan


baru tentang pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif dan ASI
dua tahun sebelum dan sesudah penyuluhan.

- Mengembangkan daya nalar, minat, dan kemampuan dalam bidang


penelitian.

- Meningkatkan kemampuan berpikiran analitis dan sistematis dalam


mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan.

- Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

- Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi


dan pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.

1.5.2 Bagi Perguruan Tinggi.

Sebagai masukan dan acuan bagi mahasiswa fakultas kedokteran untuk


penelitian penelitian berikutnya dan diharapkan dapat menjadi data dasar atau
pembanding serta masukan bagi peneliti yang lain berkaitan dengan
pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta terhadap pemberian ASI
eksklusif dan ASI dua tahun sebelum dan sesudah penyuluhan.

1.5.3 Bagi Puskesmas.

- Adanya dukungan pendidikan sehingga dapat meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat, khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan
Tempuran tentang pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta
terhadap pemberian ASI eksklusif dan ASI dua tahun sebelum dan
sesudah penyuluhan.
5
- Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas
kesehatan khususnya dokter puskesmas dan bidan puskesmas.

1.5.4 Bagi Masyarakat.

- Meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta


tentang dampak pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun terhadap
kesehatan anak.

- Sebagai informasi untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan


masyarakat terutama anak.

6
Bab II

Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi ASI.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi mulai 0-6 bulan dalam rangka
mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan
bayi. ASI dapat membentuk sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Sistem imun
merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk mempertahankan
keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh
berbagai bahan dilingkungan sekitar. Di dalam ASI, sebagian besar komponen sistem
imun sudah lengkap tersedia, sehingga sangat baik untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi.1

Kolostrum, ASI yang pertama keluar sewaktu IMD mengandung protein dan
imunoglobulin yang akan membantu tubuh bayi membentuk daya tahan terhadap
infeksi sekaligus penting untuk pertumbuhan usus dimana kolostrum akan membuat
lapisan yang melindungi dan mematangkan dinding usus bayi.2

Kolostrum kaya akan zat antibody terutama IgA. Selain itu, di dalam kolostrum
terdapat lebih dari 50 proses pendukung perkembangan imunitas termasuk faktor
pertumbuhan dan perbaikan jaringan.3

ASI mengandung dalam jumlah tinggi tidak hanya vitamin A saja tetapi juga bahan
bakunya beta karoten. Vitamin A selain berfungsi untuk kesehatan mata juga berfungsi
untuk pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan.4

ASI mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai pertahanan non spesifik
maupun spesifik. Pertahanan non spesifik diperankan oleh sel seperti makrofag dan

7
neutrofil serta produknya dan faktor protektif larut, sedangkan sel spesifik oleh sel
limfosit dan produknya.5

Sel limfosit T merupakan 80% dari sel limfosit yang terdapat dalam ASI. Sel limfosit
T dapat menghancurkan kapsul bakteri E-coli dan mentransfer kekebalan seluler dari
ibu ke bayi yang disusuinya.3

2.1.1 Manfaat Pemberian ASI Eksklusif.

ASI mengandung zat anti infeksi, bersih, dan bebas kontaminasi yang disebut
imunoglobulin A (IgA). ASI berperan untuk memperkuat sistem imun lokal
usus. Kondisi ini dikarenakan faktor dalam kolostrum merangsang
perkembangan sistem imun lokal bayi. ASI diberikan kepada bayi karena
mengandung banyak manfaat dan kelebihan, diantaranya ialah menurunkan
risiko terjadinya penyakit otitis media, pneumonia, bekteriemia, meningitis
dan infeksi traktus urinarius pada bayi yang memperoleh ASI ketimbang bayi
yang mendapatkan PASI. Fakta tersebut lebih nyata pada 6 bulan pertama,
namun bisa tampak hingga tahun kedua. Angka kematian yang memperoleh
ASI lebih rendah daripada bayi yang memperoleh PASI. Selain itu ASI dapat
meningkatkan IQ dan EQ anak.6

Manfaat air susu ibu ( ASI ) bagi bayi:2

- Merupakan makanan alamiah yang sempurna.


- Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan
perkembangan yang sempurna.

- Mengandung DHA dan asam amino yang bermanfaat untuk kecerdasan


bayi.

- Mengandung zat kekebalan untuk mencegah bayi dari berbagai penyakit


infeksi (diare, batuk pilek, radang tenggorkan, dan gangguan pernafasan).

- Melindungi bayi dari alergi.

- Aman dan terjamin kebersihannya, karena langsung disusukan kepada


bayi dalam keadaan segar.

8
- Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat, dapat diberikan
kapan saja dan dimana saja.

- Membantu memperbaiki refleks menghisap , menelan dan pernafasan


bayi.

Manfaat memberikan air susu ibu ( ASI ) bagi ibu:2

- Menjaga hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi.


- Mengurangi perdarahan setelah persalinan.Mempercepat pemulihan
kesehatan ibu.

- Menunda kehamilan berikutnya.

- Mengurangi risiko kanker payudara.

- Lebih praktis karena ASI lebih mudah diberikan setiap saat bayi
membutuhkan.

- Menumbuhkan rasa percaya diri ibu untuk menyusui.

Manfaat pemberian air susu ibu ( ASI ) bagi keluarga:2

- Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk susu formula dan perlengkapannya.


- Tidak perlu waktu dan tenaga untuk menyediakan susu formula, misalnya
merebus air dan pencucian peralatan.

- Tidak perlu biaya dan waktu untuk merawat dan mengobati anak yang
sering sakit karena pemberian susu formula.

- Mengurangi biaya dan waktu untuk pemeliharaan kesehatan ibu.

2.1.2 Kerugian Tidak Memberikan ASI.

Akibat tidak memberikan air susu ibu ( ASI ) pada bayi yaitu bayi tidak
memperoleh zat kekebalan tubuh, sehingga mudah mengalami sakit, bayi tidak
mendapat makanan yang bergizi dan berkualitas tinggi sehingga akan
menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecerdasannya, hubungan kasih
sayang bayi dan ibu tidak terjalin secara dini. Akibat tidak memberikan air
9
susu ibu ( ASI ) pada ibu adalah perdarahan setelah persalinan terjadi lebih
lama, cepat terjadinya kehamilan kembali, beresiko terkena kanker payudara
dan kanker rahim, waktu ibu banyak tersita karena harus menyiapkan susu
botol dan merawat bayi yang sering sakit, dan pengeluaran keluarga
bertambah.2

2.1.3 Cara Pemberian ASI.

Posisi menyusui yang baik dan benar yaitu ibu harus duduk atau berbaring
dengan santai, pikiran ibu dalam keadaan tenang (tidak tegang), pegang bayi
pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala,upayakan wajah bayi
menghadap kepada ibu, rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian
bawah payudara ibu, tempelkan dagu bayi pada payudara ibu dengan posisi
seperti ini maka telinga bayi akan berada pada satu garis dengan leher dan
lengan bayi, jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara mendorong
pantat bayi dengan lengan ibu bagian dalam. Tanda-tanda posisi menyusui
yang benar yaitu tubuh bayi menempel pada tubuh ibu kemudian dagu bayi
menempel pada payudara ibu, dada bayi menempel pada dada ibu yang berada
pada payudara bagian bawah, telinga bayi berada pada satu garis dengan leher
dan lengan bayi, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terbuka lebar,
sebagian besar aerola tidak nampak, bayi menghisap dalam dan perlahan, bayi
puas dan tenang pada akhir menyusui, terkadang terdengar suara bayi
menelan, puting susu tidak terasa sakit atau tidak lecet. Tanda-tanda posisi
menyusui yang salah adalah mulut tidak terbuka lebar, dagu tidak menempel
pada payudara, dada bayi tidak menempel pada dada ibu, sehingga leher bayi
terputar, sebagian besar daerah aerola masih terlihat, bayi menghisap sebentar-
sebentar, bayi tetap gelisah pada akhir menyusui, kadang-kadang bayi minum
berjam-jam, puting ibu lecet dan sakit.2

2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ASI.

Produksi ASI yang berkurang menjadi masalah pada ibu yang baru
melahirkan, dan terdapat faktor yang mempengaruhi produksi ASI tersebut.7

10
Produksi dan keluarnya ASI terjadi setelah bayi dilahirkan yang disusul
kemudian dengan peristiwa penurunan kadar hormon estrogen yang
mendorong naiknya kadar prolaktin untuk produksi ASI. Maka dengan
naiknya kadar prolaktin tersebut, mulailah aktivitas produksi ASI
berlangsung.8

- Status Kesehatan Ibu.

Kondisi fisik yang sehat akan menunjang produksi ASI yang optimal baik
kualitas maupun kuantitasnya.11

Oleh karena itu maka pada masa menyusui ibu harus menjaga
kesehatannya. Ibu yang sakit, pada umumnya tidak mempengaruhi
produksi ASI. Tetapi akibat kekhawatiran ibu terhadap kesehatan bayinya
maka ibu menghentikan menyusui bayinya. Kondisi tersebut
menyebabkan tidak adanya rangsangan pada puting susu sehingga
produksi ASI pun berkurang atau berhenti.12

- Nutrisi dan Asupan Cairan.

Jumlah dan kualitas ASI dipengaruhi oleh nutrisi dan masukan cairan
ibu.13

Selama menyusui ibu memerlukan cukup banyak karbohidrat, protein,


lemak, vitamin dan mineral. Jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan
oleh ibu menyusui pada enam bulan pertama adalah + 700 kalori per
hari.14

Untuk menjaga produksi ASI dibutuhkan juga asupan cairan yang


memadai. Kebutuhan air ibu menyusui 8 -12 gelas ( 2.000 – 3.0000 ml)
per hari. Makanan yang dimakan oleh ibu tidak secara langsung
memnpengaruhi jumlah dan kualitas ASI. Dalam tubuh ibu terdapat
berbagai zat makanan yang diperlukan untuk produksi ASI. Akan tetapi
apabila ibu kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang cukup lama
maka produksi ASI juga akan berkurang dan akhirnya berhenti.16

11
- Merokok.

Ibu yang merokok, asap rokok yang dihisap oleh ibu dapat mengganggu
kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga akan menghambat produksi
ASI. Dalam waktu tiga bulan berat badan bayi dari ibu yang merokok
tidak menunjukan pertumbuhan yang optimal.17

- Alkohol.

Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu
merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun
disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Kontraksi rahim
saat menyusui merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol
0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62%
dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32%
dari normal.18

- Umur dan Paritas.

Umur ibu berpengaruh terhadap produksi ASI. Ibu yang umurnya muda
lebih banyak memproduksi ASI dibandingkan dengan ibu yang sudah
tua.14

Bahwa ibu-ibu yang lebih muda atau umurnya kurang dari 35 tahun lebih
banyak memproduksi ASI daripada ibu-ibu yang lebih tua.15

Ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya produksi ASI lebih
banyak dibandingkan dengan kelahiran anak yang pertama.14

- Bentuk dan Kondisi Puting Susu.

Kelainan bentuk puting yaitu bentuk puting yang datar (flatt) dan puting
yang masuk (inverted) akan menyebabkan bayi kesulitan untuk menghisap
payudara. Hal tersebut menyebabkan rangsangan pengeluaran prolaktin
terhambat dan produksi ASI pun terhambat.12

Puting susu lecet sering dialami oleh ibu-ibu yang menyusui bayinya.
12
Kondisi tersebut pada umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam posisi
menyusui. Pada keadaan ini, ibu-ibu umumnya memustuskan untuk
menghentikan menyusui karena puting susu yang lecet apabila dihisap
oleh bayi menimbulkan rasa sakit. Payudara yang tidak dihisap oleh bayi
atau air susu yang tidak dikeluarkan dari payudara dapat mengakibatkan
berhentinya produksi ASI.14

- Nyeri.

Ibu post partum dengan seksio sesarea tentunya akan mengalami


ketidaknyaman, terutama luka insisi pada dinding abdomen akan
menimbulkan rasa nyeri. Keadaan tersebut menyebabkan ibu akan
mengalami kesulitan untuk menyusui karena kalau ibu bergerak atau
merubah posisi maka nyeri yang dirasakan akan bertambah berat. Rasa
sakit yang dirasakan oleh ibu akan menghambat produksi oksitisin
sehingga akan mempengaruhi pengaliran.12

- Hisapan Bayi.

Pada puting dan areola payudara terdapat ujung-ujung saraf yang sangat
penting untuk refleks menyusui. Apabila puting susu dihisap oleh bayi
maka rangsangannya akan diteruskan ke hipothalamus untuk
mengeluarkan prolaktin dan oksitosin. Hal tersebut menyebabkan air susu
diproduksi dan dialirkan.20

- Dukungan Keluarga.

Peranan suami pada masa laktasi sangat diperlukan. Keyakinan suami


terhadap kelebihan dan manfaat pemberian ASI, peran aktif dalam
memberikan dorongan secara emosional dan bantuan-bantuan praktis
lainnya sangat penting dalam menunjang kesuksesan pemberian ASI.
Bantuan praktis yang dapat dikerjakan seorang suami adalah mengganti
popok bayi, membantu isterinya agar mendapat waktu istirahat yang
cukup, mengerjakan sebagian pekerjaan rumah. Hal tersebut membuat
isteri mendapat istirahat yang cukup dan merasa tenang sehingga produksi

13
ASI akan lancar. Bantuan dan dukungan dari anggota keluarga yang
lainnya akan membantu ibu. Bila keluarga membantu tugas ibu tentunya
ibu mempunyai waktu untuk dapat beristirahat. Dibutuhkan ibu karena
kelelahan merupakan salah satu penyebab berkurangnya produksi ASI.21

- Psikologis Ibu.

Ibu yang melahirkan dengan tindakan seksio sesarea akan menghadapi


masalah yang berbeda dengan ibu yang melahirkan secara normal. Pada
ibu post seksio sesarea selain menghadapi masa nifas juga harus menjalani
masa pemulihan akibat tindakan operatif. Masa pemulihan pun berangsur
lebih lambat dibandingkan dengan yang melahirkan secara normal.
Beberapa hari setelah tindakan seksio sesarea mungkin ibu masih
merasakan nyeri akibat luka insisi, sehingga ibu akan merasakan kesulitan
untuk merawat bayinya ataupun melaksanakan aktifitas sehari-harinya.
Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan ibu merasa tidak berdaya dan
cemas terhadap kesehatan dirinya dan bayinya.18

Kecemasan ini menyebabkan pikiran ibu terganggu dan ibu merasa


tertekan ( stress). Bila ibu mengalami stres maka akan terjadi pelepasan
adrenalin yang menyebabkan vasokonstriki pembuluh darah pada alveoli.
Akibatnya terjadi hambatan dari let-down refleks sehingga air susu tidak
mengalir dan mengalami bendungan ASI.14

Keberhasilan menyusui didukung oleh persiapan psikologis, yang


dipersiapkan sejak masa kehamilan. Keinginan dan motivasi yang kuat
untuk meyusui bayinya akan mendorong ibu untuk selalu berusaha
menyusui bayinya dalam kondisi apapun. Dengan motivasi yang kuat,
seorang ibu tidak akan mudah menyerah meskipun ada masalah dalam
proses menyusui bayinya. Dengan demikian maka ibu akan selalu
menyusui bayinya sehingga rangsangan pada puting akan mempengaruhi
let-down refleks sehingga aliran ASI menjadi lancar .11

- Berat Badan Lahir.

14
Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI
yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).
Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan
lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang
akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam
memproduksi ASI.22

- Status Kesehatan Bayi.

Bayi yang sakit pada umumnya malas untuk menghisap puting susu
sehingga tidak ada let-down refleks. Akibatnya tidak ada rangsangan pada
puting susu sehingga menyebabkan rangsangan produksi ASI dan
pengaliran ASI terhambat.22

- Frekuensi dan Lamanya Menyusui.

Pemberian ASI pada bayi sebaiknya tidak dijadualkan. Bayi disusui sesuai
dengan permintaan bayi (on demand). Pada umumnya bayi yang sehat
akan menyusui 8 – 12 kali perhari dengan lama menyusui 15 – 20 menit
pada masing-masing payudara.16 Semakin sering menyusui sampai kosong
maka produksi ASI pun akan semakin banyak.23

- Metoda-Metoda yang Dapat Memperlancar Produksi ASI.

Ada beberapa metode atau tehnik yang dapat memeperlancar produksi


ASI. Tehinik-tehnik tersebut diantaranya adalah pijat oksitosin, areolla
massage, rolling massage dan tehnik marmet.22

2.1.5 Program ASI.

Program pemberian ASI merupakan salah satu program pemerintah yang


bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi. Dukungan
pemerintah terhadap pemberian ASI sangat tinggi. Hal tersebut terealisasi
dengan adanya gerakan nasional peningkatan penggunaan ASI pada tanggal 22
Desember 1990 yang telah dicanangkan oleh Presiden Soeharto.14

15
Berbagai upaya untuk mensukseskan program pemberian ASI terus
dikembangkan, misalnya dengan cara mengadakan lomba rumah sakit sayang
bayi pada tahun 1991 yang diselenggarakan oleh Departeman Kesehatan. Yang
dimaksud dengan rumah sakit sayang bayi adalah rumah sakit yang
melaksanakan sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui yang
direkomendasikan oleh WHO dan isinya dikembangkan oleh Departeman
Kesehatan.22

Kebijakan yang telah ada tentunya perlu didukung oleh kemampuan dari
petugas kesehatan. Petugas kesehatan khususnya yang bekerja ditatanan
keperawatan maternitas perlu menyadari sepenuhnya pentingnya menyusui.
Dengan demikian maka petugas kesehatan sebaiknya memiliki pengetahuan,
kemampuan dan sikap yang mendukung terhadap program pemberian ASI
sehingga mampu memberikan penyuluhan atau konseling dan malaksanakn
manajemen laktasi dengan benar.22

2.1.6 Pengertian Pengetahuan.

Pengetahuan merupakan hasil dari proses belajar yang melibatkan indra


penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapan. Pengetahuan akan
memberikan penguatan kepada individu dalam mengambil keputusan.
Pengetahuan memiliki 6 tingkat, yaitu: tahu, memahami, aplikasi , analisis,
sintesis dan evalusi.24

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan


penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, raba
dan rasa. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang. Sementara keterampilan merupakan tindakan
akibat adanya suatu respon. Pengetahuan.25

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan.

- Usia.

16
Usia adalah lama hidup dari suatu individu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat
kemampuan dan kematangan seseorang akan lebih baik dalam berpikir
dan menerima informasi. Jadi, semakin bertambah umur akan meningkat
pengalaman dirinya dan pengalaman akan berpengaruh pada tingkat
pendidikan. Namun perlu diketahui bahwa seseorang yang berumur lebih
tua tidak mutlak memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan seseorang yang lebih muda.26

Dari beberapa penelitian tersebut dapat dilihat usia rerata ibu dari
beberapa penelitian didapatkan bahwa usia termuda 20 tahun dan usia
tertua 35 tahun. mengemukakan bahwa sebagian tua usia seseorang maka
proses perkembangan mentalnya baik akan tetapi pada usia- usia tertentu.
Dengan demikian dapat disimpulkan faktor usia akan mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang yang akan mengalami puncaknya pada
usia-usia tertentu dan akan menurun kemampuan penerimaan atau
mengingat sesuatu seiring dengan usia semakin lanjut.27

Orang tua muda terutama ibu, cenderung kurang memiliki pengetahuan


dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka
mengasuh dan merawat anak menggunakan pengalaman orang terahulu.
Dengan demikian pengasuhan gizi terhadap anak berdasarkan pengalaman
yang diperoleh oleh orang tua mereka. Selain itu pada umumnya orang tua
muda lebih mendahulukan kepentingannya sendiri dibandingkan
kewajibannya untuk mengurus dan mengasuh anak. Hal ini menyebabkan
secara kualitas dan kuantitas pengasuhan yang dilakukan yang dilakukan
kurang terpenuhi. Sebaliknya orang tua yang berumur lebih cenderung
untuk melaksanakan kewajibannya dalam mengasuh anak semaksimal
mungkin dan sepenuh hati.28

- Tingkat Pendidikan.

Pendidikan merupakan sebuah proses bertahap yang terlaksana secara


terstruktur dan ada aturan yang mengikat, yang dalam pelaksanaannya
melibatkan pihak-pihak tertentu yang merupakan komponen utama di
17
dalam proses belajar mengajar. Pendidikan tidak dapat dilaksanakan
secara asal-asalan karena hal itu nantinya dapat berimbas buruk bagi
proses belajar mengajar tersebut., yang juga merupakan bagian dari proses
pendidikan. Pendidikan sendiri merupakan suatu usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana pembelajaran dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiriual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.22

Pendidikan dalam prosesnya mempunyai tingkatan-tingkatan tertentu


yang menjadi simbol tentang level seseorang individu telah menguasai
atau menyelesaikan tingkatan pendidikan tertentu. Menurut UU RI No. 20
tahun 2003 pasal 14 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa
jenjang atau tingkatan pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.29

Salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi keluarga
adalah pendidikan orang tua terutama ibu. Pendidikan ibu adalah faktor
yag sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak. Ibu yang
memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah dalam
menerima pesan dan informasi gizi dan kesehatan anak. Pendidikan ibu
berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan
kesehatan, hygiene, dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan
keluarga.22

- Kondisi Kesehatan Jasmani dan Mental.

Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat


seutuhnya,berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata
bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas
tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi
fisiologi tubuh berjalan normal. Sehat Mental dan sehat jasmani selalu
dihubungan satu sama lain dalam pepatah kuno “Jiwa yang sehat terdapat
dalam tubuh yang sehat” (Men Sana In Corpore Sano).30
18
- Budaya.

Definisi kebudayaan dalam 6 kategori pokok, masing-masing menurut


pendekatan ilmu tertentu yaitu:31

 Ilmu sosiologi menekankan kebudayaan sebagai keseluruhan


kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dan lain-lain) yang
dimiliki manusia, manusia sebagai subyek masyarakat.
 Ilmu sejarah menekankan bahwa kebudayaan warisan dari generasi
ke generasi.

 Filsafat menekankan normatif, nilai-nilai, realisasi cita-cita dan


way of life.

 Antropologi budaya menekankan aspek tingkah laku, tata kelakuan


manusia sebagai makhluk sosial.

 Ilmu psikologi menekaknkan pada proses-proses penyesuaian,


belajar dan pembentukan kebiasaan-kebiasaan manusia terhadap
lingkungan alam dan sosial.

 Ilmu bangsa-bangsa menyatakan bahwa kebudayaan adalah


bangunan ideologis yang mencerminkan pertentangan kelas.

- Sumber Informasi.

Semakin sering seseorang mendapatkan informasi baik melalui promosi


kesehatan ataupun media massa maka akan semakin meningkat
pengetahuannya dan akan mempengaruhi sikapnya.29

Menurut Maulana (2009) menjelaskan bahwa informasi yang diperoleh


seseorang akan diproses dan menghasilkan pengetahuan. Semakin sering
seseorang mendapatkan informasi maka akan semakin meningkat
pengetahuannya dan akan mempengaruhi sikapnya. Informasi adalah
sumber kekuatan keluarga dalam menjaga kesehatan anaknya.32

19
Sumber informasi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, sumber
informasi dapat didapatkan dari pendidikan kesehatan ,radio, televisi,
majalah, koran, dan buku. Departemen kesehatan RI (2005) menyatakan
pendidikan kesehatan merupakan penambahan pengetahuan serta
kemampuan seseorang dengan cara praktek belajar bertujuan mengubah
atau bersikap baik secara individu, maupun masyarakat untuk lebih
mandiri dalam mencapai tujuan.22

2.2 Hubungan Antara Usia, Pendidikan dan Pekerjaan Ibu dengan Pengetahuan dan
sikap ibu yang mempunyai Baduta Dalam Memberikan ASI Eksklusif.

Pemberian ASI dipengaruhi oleh usia dalam pemberian ASI. Umur yang kurang dari
20 tahun merupakan masa pertumbuhan termasuk organ reproduksi (payudara),
semakin muda usia ibu maka pemberian ASI kepada bayi cenderung semakin kecil
karena tuntutan social, kejiwaan ibu dan tekanan social yang dapat mempengaruhi
produksi ASI. Umur 20-35 tahun merupakan usia yang ideal untuk memproduksi ASI
yng optimal dan kematangan jasmani dan rohani dalam diri ibu sudah tebentuk. Umur
lebih dari 35 tahun organ reproduksi sudah lemah dan tidak optimal dalam pemberian
ASI ekslusif .33

Kondisi fisik ibu sangat memengaruhi jumlah produksi ASI, terutama ibu yang
mempunyai penyakit yang menyebabkan ibu tidak dapat menyusui. Alasan ibu yang
sering untuk tidak menyusui adalah karena ibu sakit, sebentar atau lama. Akan tetapi,
jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui, kecuali jika ibu
mengonsumsi obat yang dapat memengaruhi produksi ASI.34

Sebagian besar ibu dengan kondisi fisik yang sakit berhenti memberikan ASI secara
penuh pada bayi dengan alasan ASI sedikit atau sama sekali tidak keluar atau karena
merasa kesakitan akibat penyakit yang diderita oleh ibu. Kesehatan ibu dapat
memengaruhi keputusan menyusui terutama bagi yang melakukan operasi caesar, ada
peningkatan untuk tidak menyusui. secara eksklusif.35

20
Jika seorang ibu hamil tidak pernah mendapatkan informasi atau penyuluhan
mengenai pemberian ASI eksklusif, dapat berpengaruh dalam pemberian ASI ekslusif
pada bayi di kemudian hari.36

Banyak ibu dengan pengetahuan yang cukup cenderung memberikan ASI secara
penuh lebih lama jika daripada ibu yang mempunyai pengetahuan yang kurang. Rata-
rata ibu dengan pengetahuan cukup memperoleh informasi dari kegiatan penyuluhan
dan konsultasi tentang menyusui dari bidan dan kader posyandu. Pengetahuan yang
cukup tentang menyusui bayi yang penting dapat mendorong ibu untuk memberikan
ASI secara penuh.37

Dilihat dari tingkat pendidikan, seharusnya ibu dengan tingkat pendidikan tinggi
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang memberikan ASI kepada bayi daripada
ibu dengan tingkat pendidikan rendah dan menengah.38

Ternyata kelompok ibu dengan tingkat pendidikan rendah dan pendidikan menengah
cenderung untuk memberikan ASI lebih lama daripada kelompok ibu yang
mempunyai tingkat pendidikan tinggi karena rata-rata ibu yang mempunyai tingkat
pendidikan tinggi mempunyai pekerjaan sehingga proporsi untuk memberikan ASI
menjadi berkurang.39

Proporsi ibu yang pendidikan tinggi yang menyusui lebih rendah daripada ibu dengan
pendidikan yang lebih rendah. Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa ibu
yang bekerja di luar rumah merupakan salah satu faktor penyebab penurunan proporsi
menyusui tersebut. Di banyak negara berkembang, tenaga kerja perempuan yang
melahirkan anak setiap tahun meningkat pesat, menjadi tantangan baru bagi
perempuan yang mencoba menggabungkan peran mereka sebagai pekerja dan ibu.
Rata-rata ibu yang bekerja tetap memberikan susu formula kepada bayi karena anak
ditinggal di rumah ketika ibu pergi, susu formula diberikan sebagai pengganti ASI
hingga ibu pulang ke rumah. Ada pula ibu yang tidak bekerja memberikan susu
formula kepada anak karena merasa anak tidak kenyang jika hanya diberikan ASI.
Pola pikir ini juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan ibu tentang menyusui. Di
Pekalongan dan Nairobi, perkembangan sikap ibu dalam pemberian ASI mengalami
pergeseran pada golongan ibu pekerja. Proporsi pemberian ASI cenderung
menurun.39,40
21
2.2.1 Definisi Penyuluhan.

Istilah penyuluhan seringkali diasosiasikan dengan penerangan atau


propaganda oleh khalayak, padahal makna penyuluhan tidaklah sedangkal itu.
Penyuluhan dapat dipandang sebagai sebuah ilmu dan tindakan praktis.
Sebagai sebuah ilmu, pondasi ilmiah penyuluhan adalah ilmu tentang sikap
(attitude science). Di dalamnya ditelaah pola pikir, tindak, dan sikap manusia
dalam menghadapi kehidupan. Jadi, subyek telaah ilmu penyuluhan adalah
manusia sebagai bagian dari sebuah sistem sosial, obyek materi ilmu
penyuluhan adalah sikap yang dihasilkan dari proses pendidikan dan atau
pembelajaran, proses komunikasi dan sosial. Sebagai sebuah ilmu, penyuluhan
merupakan organisasi yang tersusun dari bangunan pengetahuan dan
pengembangan ilmu. Ilmu penyuluhan mampu menjelaskan secara ilmiah
transformasi sikap manusia yang dirancang dengan menerapkan pendekatan
pendidikan orang dewasa, komunikasi, dan sesuai dengan struktur sosial,
ekonomi, budaya masyarakat, dan lingkungan fisiknya. Sebagai sebuah
tindakan praktis, penyuluhan merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk
mendorong terjadinya perubahan sikap pada individu, kelompok, komunitas,
ataupun masyarakat agar mereka tahu, mau, dan mampu menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi. Tujuan penyuluhan tidak lain adalah hidup dan
kehidupan manusia yang berkualitas dan bermartabat. Bagi pembelajar ilmu
penyuluhan, tentu makna dan peran penyuluhan dalam transformasi sikap
manusia sudah sepenuhnya dipahami. Permasalahannya adalah, tidak semua
elemen masyarakat memahami esensi penyuluhan, dan lebih mengartikan
penyuluhan secara dangkal sebagai sebuah aktivitas sesaat. Penyuluhan sering
digambarkan sebagai aktivitas petugas dari lembaga tertentu datang ke sebuah
pertemuan, berceramah, lalu tanya jawab, dan akhirnya pergi. Di kalangan
awam, hal inilah yang dianggap sebagai sebuah penyuluhan, hanya pada
tataran orang baru “tahu” akan sesuatu. Nah, menjadi tanggung jawab kita
bersamalah sebagai insan cendikia di bidang ilmu penyuluhan, untuk bersama-
sama membangun dan mengembangkan citra yang benar dan utuh tentang
penyuluhan sebagai sebuah ilmu dan sebuah gerakan transformasi masyarakat
22
melalui pengembangan potensi yang dimiliki dengan pendekatan edukasi,
melakukan upaya penyelesaian masalah, menuju tatanan kehidupan yang lebih
bermutu dan bermartabat.41

2.3 Definisi Sikap.

Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini
mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Menurut Fishbein dalam Ali
“Sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespons secara
konsisten terhadap suatu objek”. Sedangkan menurut Secord dan Backman dalam
Saifuddin Azwar (2012:88) “Sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan
(afeksi), pemikiran (kognitif), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap
suatu aspek di lingkungan sekitarnya”. Menurut Randi dalam Imam (2011:32)
mengungkapkan bahwa “Sikap merupakan sebuah evaluasi umum yang dibuat
manusia terhadap dirinya sendiri atau orang lain atas reaksi atau respon terhadap
stimulus (objek) yang menimbulkan perasaan yang disertai dengan tindakan yang
sesuai dengan objeknya”. Sikap yang menjadi suatu pernyataan evaluatif, penilaian
terhadap suatu objek selanjutnya yang menentukan tindakan individu terhadap
sesuatu. Sikap mempunyai 4 fungsi, antara lain sebagai berikut:

- Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.

Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. Disini sikap adalah sarana mencapai
tujuan. Fungsi ini disebut fungsi manfaat (utility), yaitu sejauh mana manfaat
objek sikap dalam rangka pencapaian tujuan. Fungsi ini juga disebut fungsi
penyesuaian karena dengan sikap yang diambil seseorang, orang akan dapat
menyesuaikan diri dengan baik terhadap sekitarnya.

- Fungsi pertahanan ego.

Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan
ego atau akunya dan pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan
dirinya dan egonya.

- Fungsi ekspresi nilai.


23
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk
mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan diri
seseorang akan mendapatkan kepuasan dapat menunjukkan keadaan dirinya.

- Fungsi pengetahuan.

Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti, dengan pengalaman-


pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. Elemen-elemen dari
pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu,
akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa hingga menjadi konsisten. Ini
berarti bila seorang mempunyai sikap tertentu terhadap sesuatu objek,
menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut terhadap objek sikap yang
bersangkutan.

Sikap merupakan suatu kebiasaan atau tingkah laku dari seseorang untuk dapat
mengekspresikan sesuatu hal atau perasaan melalui perbuatan baik yang sesuai
dengan norma yang berlaku, sikap juga merupakan cerminan jiwa seseorang.42

2.4 Kerangka Teori.

24
Umur Tingkat Pekerjaan Tingkat Sumber
Pendidikan Ekonomi Info

Budaya Pengetahuan dan Sikap Kondisi


Kesehatan
Jasmani dan
mental

Penyuluhan

2.5 Kerangka Konsep.

Pengetahuan Penyuluhan Pengetahuan


dan sikap ibu dan sikap ibu
yang yang
mempunyai mempunyai
Baduta Baduta
mengenai mengenai
pemberian pemberian
ASI eksklusif ASI eksklusif
dan ASI 2 dan ASI 2
tahun tahun sesudah
sebelum penyuluhan
penyuluhan

Bab III

25
Metode Penelitian

3.1 Desain Penelitian.

Desain penelitian yang digunakan adalah desain analitik Pre-Experimental dengan


pendekatan one group pretest-posttest mengenai pengetahuan dan sikap ibu yang
mempunyai Baduta tentang penyuluhan sebelum dan sesudah penyuluhan pada ibu-
ibu menyusui di Puskesmas Kecamatan Tempuran pada Februari 2018.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Kecamatan Tempuran pada tanggal 12 Februari


2018 sampai dengan 24 Februari 2018.

3.3 Populasi.

3.3.1 Populasi Target.

Semua ibu menyusui yang mempunyai Baduta di Puskesmas Kecamatan


Tempuran.

3.3.2 Populasi Terjangkau.

Ibu-ibu menyusui yang mempunyai Baduta yang diundang dan datang ke


penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran tanggal 14 Februari 2018.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi.

3.4.1 Kriteria Inklusi.


26
- Ibu-ibu menyusui yang mempunyai Baduta yang diundang dan datang ke
penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran tanggal 14 Februari 2018.
- Ibu yang bersedia menjadi responden.

- Ibu yang hadir saat penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran.

- Ibu yang mengisi kuesioner sesudah dan sebelum penyuluhan.

- Ibu yang bisa membaca dan menulis.

3.4.2 Kriteria Eksklusi.

- Ibu yang tidak mengisi kuisioner dengan lengkap.

3.5 Sampel.

3.5.1 Besar Sampel.

Sampel adalah bagian dari populasi yang ingin diteliti. Penelitian dilakukan
terhadap ibu-ibu yang mempunyai Baduta di Puskesmas Kecamatan
Tempuran, Kabupaten Karawang pada tanggal 14 Februari 2018. Besar sampel
ditentukan melalui rumus seperti dibawah, maka didapatkan sampel dalam
penelitian ini sebagai berikut:

27
Keterangan:

N1 : Besar sampel minimal

N2 : Jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen

responden yang mungkin keluar atau drop out)

Zα : Nilai konversi pada table kurva normal, dengan nilai α = 5%

didapatkan Zα pada kurva normal = 1.96

Zβ : Nilai konversi pada table kurva normal, dengan nilaiβ 20%

didapatkan Zα pada kurva normal = 0,84

S : Simpang Baku

X1- X2: Effect size (perbedaan rerata). Selisih minimal rerata yang dianggap

bermakna

Menurut Aguitiawan A (2014) tentang Pengaruh Penyuluhan ASI Terhadap


Pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta di Puskesmas Kecamatan
Bojongsari Depok didapatkan standar deviasi sebesar 24,033.43

2
N1 = N2 = (1,96 - 0,84) 24,033

4,05

N1 = [(1,12 x 24,033) / 4,05] 2

N1 = (6,64533) 2

N1 = 44,15824 dibulatkan menjadi 44

Jadi, jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 44 orang

3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel.

28
Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode non probability
sampling dengan cara purposive sampling pada ibu-ibu menyusui yang
mengikuti penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran yaitu mengambil
sampel dengan subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi dan
eksklusi peneliti sendiri berdasarkan tujuan penelitian.

3.6 Cara Kerja.

- Mengumpulkan bahan ilmiah. Studi literatur dan jurnal untuk memperoleh teori
yang akurat mengenai permasalahan yang akan diteliti.
- Merencanakan desain penelitian dan menentukan populasi serta jumlah sampel
yang mau diteliti.

- Menentukan lokasi Puskesmas yang akan dijadikan tempat penelitian dengan


cara purposive sampling.

- Mempersiapkan materi penyuluhan dan kuisioner pretest serta posttest yang


menjadi instrument pengumpulan data.

- Menghubungi Kepala Puskesmas yang menjadi lokasi penelitian untuk


melaporkan, meminta ijin dan persetujuan bahwa akan diadakannya penyuluhan
di daerah tersebut.

- Menghubungi Kepala Puskesmas agar dapat membantu kegiatan penelitian


dengan mengundang ibu-ibu sekitar puskesmas.

- Mengumpulkan ibu-ibu di ruang tunggu dan memberikan pretest terlebih dahulu.

- Memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

- Memberikan posttest untuk mengukur keberhasilan intervensi yang dilakukan dan


untuk mengetahui peningkatan pemahamam ibu-ibu menyusui tentang ASI
eksklusif dan ASI 2 tahun.

- Melakukan pengumpulan data primer yang didapatkan melalui pengisian


kuesioner oleh responden.Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data

29
dengan menggunakan program komputer IBM Statistical Package for Social
Science (SPSS) versi 16.

- Penulisan laporan penelitian.

- Pelaporan penelitian.

3.7 Identifikasi Variabel.

3.7.1 Variabel Dependen

Variabel dependen (terikat) pada penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap
ibu-ibu menyusui yang mempunyai Baduta di Puskesmas Kecamatan
Tempuran tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun sesudah
penyuluhan pada bulan Februari 2018.

3.7.2 Variabel Independen.

Variabel independen (bebas) pada penelitian ini adalah penyuluhan ASI


eksklusif dan ASI 2 tahun terhadap ibu-ibu menyusui yang mempunyai Baduta
di Puskesmas Kecamatan Tempuran pada bulan Februari 2018.

3.8 Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini terdiri dari data primer yang diperoleh peneliti dengan
metode kuesioner yang diisi oleh responden.

30
3.9 Definisi Operasional.

3.9.1 Pengetahuan.

Definisi : Pemahaman ibu-ibu menyusui tentang pemberian ASI eksklusif dan

ASI 2 tahun.

Alat Ukur : Metode kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan

Cara ukur : Menilai total skor dari kuisioner mengenai pengetahuan tentang

ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

Hasil ukur :

Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah
disediakan.

1. Apa yang ibu ketahui tentang ASI eksklusif ?


a. Air susu ibu saja yang diberikan pada anak sampai usia 6 bulan.

b. Air susu ibu yang diberikan pada anak sampai usia 1 tahun.

c. Air susu ibu yang diberikan pada anak sampai usia 6 bulan disertai pemberian
makanan tambahan.

d. Tidak tahu.

Jawab : A.

31
2. Apa yang ibu ketahui tentang ASI 2 tahun ?

a) ASI yang diberikan dari usia anak 6 – 24 bulan dengan makanan tambahan
pendamping ASI.

b) ASI yang diberikan dari usia anak 0 – 24 bulan dengan makanan tambahan
pendamping ASI.

c) ASI yang diberikan dari usia anak 6 – 24 bulan tanpa makanan pendamping.

d) Menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama dalam masa emas 2


tahun pertama kehidupan seorang anak.

Jawab : A.

3. Selain protein, material apa saja yang terkandung dalam ASI eksklusif ?

a) Zat kekebalan tubuh yang akan membantu tubuh bayi membentuk daya tahan
terhadap infeksi.

b) Vitamin A selain berfungsi untuk kesehatan mata juga berfungsi untuk


kekebalan tubuh, dan pertumbuhan anak.

c) Lemak yang mudah dicerna oleh pencernaan bayi.

d) Vitamin A, karbohidrat, lemak, zat kekebalan tubuh.

Jawab : D.

4. Penyakit yang dapat dicegah dengan memberikan ASI eksklusif ?

a) Penyakit jantung keturunan.

b) Buta warna.

c) Diare, infeksi saluran pernapasan akut.

d) Demam berdarah dengue.

Jawab : C.

32
5. Kerugian tidak memberikan ASI dua tahun di bawah ini adalah ?

a) Anak tidak bisa sekolah.

b) Anak dapat menderita gizi buruk.

c) Mudah mengalami kejang demam.

d) ASI akan habis.

Jawab : B.

6. Manakah cara pemberian ASI yang benar ?

a) Bayi dalam posisi terlentang saat disusui.

b) Pegang bayi pada belakang bahunya, upayakan wajah bayi menghadap kepada
ibu.

c) Memegang bayi dengan menggunakan satu tangan saja.

d) Boleh menyusui sampai ibu dan anak sama-sama tertidur.

Jawab : B.

7. Dibawah ini manakah pernyataan yang benar tentang faktor-faktor yang


mempengaruhi ASI ?

a) Menyusui setiap satu jam sekali menambah volume ASI.

b) Menyusui pada malam hari memiliki kandungan nutrisi yang lebih banyak
daripada di siang hari.

c) Asap rokok dapat mengganggu produksi ASI.

d) Stres dapat meningkatkan volume ASI.

33
Jawab : C.

8. Menurut ibu, pada umur berapa sebaiknya pemberian makanan pendamping ASI?

a) Usia lebih dari 6 bulan.

b) Saat bayi lahir.

c) Anak di atas 2 tahun.

d) Bayi lahir prematur.

Jawab : A.

9. Sampai usia berapa sebaiknya ASI diberikan ?

a) Dua jam setelah lahir.

b) Anak berumur satu tahun.

c) Saat anak berusia enam bulan.

d) Hingga anak berusia dua tahun.

Jawab : D.

10. Apa yang mempengaruhi kelancaran ASI ?

a) Pendidikan ibu.

b) Pekerjaan suami.

c) Ukuran payudara ibu.

34
d) Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung hormon.

Jawab : D.

11. Makanan apa yang bagus untuk ASI ?

a) Tapai.

b) Makan pedas.

c) Ayam, sayuran, dan daging.

d) Mie instan.

Jawab : C.

12. Kapan bayi harus segera diberikan ASI pertamanya ?


a. Segera setelah lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir.
b. Menunggu ibu untuk benar-benar siap memberikan ASI.
c. Setelah bayi diberikan susu formula untuk latihan menghisap barulah
diberikan ASI pertama.
d. Menunggu bayi menangis terus karena kelaparan.

Jawab : A.

13. Dimana ASI disimpan dan berapa lama ASI bisa disimpan ?

a) Tas pendingin tertutup pada suhu -15 sampai dengan -4 derajat celcius dan
lama penyimpanan selama 72 jam.

b) Freezer lemari es 2 pintu pada suhu -18 dapat disimpan sampai 10 bulan.

c) Freezer lemari es 1 pintu pada suhu -15 dapat disimpan selama 4 minggu.

d) Pada botol susu di suhu ruangan maksimal 25 derajat celcius dapat bertahan 6-
8 jam.

Jawab : D.

35
14. Dibawah ini apa saja yang menentukan kualitas ASI ?

a) Makan sekali perhari.

b) Minum 8-12 gelas perhari.

c) Pemijatan payudara.

d) Kondisi ibu tetap sehat.

Jawab : D

15. Dibawah ini apa saja herbal yang bagus untuk ASI ?

a) Ekstrak daun katuk.

b) Bawang putih

c) Jus buah belimbing.

d) Ekstrak daun jambu.

Jawab : A.

Penilaian :

Skor maksimum : 15

Skor minimum :0

Interval : 15-0  15

Skor Ukur : Numerik.

36
3.9.2 Sikap.

Definisi : Respon yang masih tertutup dari masyarakat terhadap suatu stimulus

dalam hal ini adalah tentang ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

Alat ukur : Metode kuesioner yang terdiri dari 6 pertanyaan.

Cara ukur : Menilai total skor dari kuisioner tentang ASI eksklusif dan ASI 2

tahun.

Hasil ukur :

Isilah pernyataan di bawah inidengan tanda centang ( ) pada jawaban yang ibu
anggap paling sesuai dengan pilihan ibu.

No Sikap Sangat Setuju Cukup Tidak Sangat tidak


setuju Setuju setuju setuju
1 ASI adalah sumber 5 4 3 2 1
nutrisi utama pada bayi
di bawah 2 tahun
2 Makanan pendamping 1 2 3 4 5
ASI diberikan sejak
awal lahir
3 Menyusui dapat 5 4 3 2 1
mempererat hubungan
ibu dan bayi
4 Pemberian ASI dapat 5 4 3 2 1
mencegah diare
5 Pemberian ASI saja 1 2 3 4 5
tanpa disertai makanan
lain dapat menyebabkan
gizi buruk
6 Pemberian ASI dapat 1 2 3 4 5
menyebabkan ISPA

37
Penilaian :

Skor maksimum : 6 x 5 = 30

Skor minimum :6x1=6

Interval : 30-6 = 24

Skala ukur : Numerik.

3.10 Data.

3.10.1 Pengumpulan Data.

Data primer dikumpul dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada


ibu-ibu menyusui yang memiliki Baduta dan datang ke Puskesmas Kecamatan
Tempuran pada tanggal 14 Februari 2018.

3.10.2 Pengolahan Data.

Data-data yang telah dikumpulkan diolah melalui proses editing, verifikasi dan
coding, kemudian data diolah dengan menggunakan program komputer yaitu
IBM SPSS version 16.

3.10.3 Pengelompokan Data.

Setelah dilakukan pengolahan data, hasil tersebut dikelompokkan berdasarkan


kelompok-kelompok data.

3.10.4 Penyajian Data.

Data yang didapatkan disajikan secara tekstular dan tabular.

38
3.10.5 Analisis Data.

Terhadap data yang telah diolah dilakukan analisis data sesuai dengan ujian
statistic menggunakan uji Kolmogorov Smirnov.

- Analisis Univariat.

Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masing-masing variabel


dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.

- Analisis Bivariat.

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel


dependen dan independen. Karena desain penelitian ini adalah Pre
Experimental, dicari perbedaan antara variabel independen dengan
variabel dependen setelah diintervensi. Teknis analisis data yang
menggunakan uji Pair T-Test dengan tingkat kemaknaan untuk
pengetahuan (α)=0,00 tingkat kemaknaan untuk sikap (α)= 0,00 yang
digunakan untuk menguji 2 variabel yang disusun dalam tabel b x k
(b=baris, k=kolom).

3.10.6 Interpretasi Data.

Data yang diinterpretasikan secara deskriptif analitik antara variabel-variabel


yang telah ditentukan.

3.10.7 Pelaporan Data.

Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan


dipresentasikan di hadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana pada bulan Maret 2018 dalam Forum Pendidikan Ilmu Kesehatan
Komunitas FK Ukrida.

3.11 Etika Penelitian.


39
Pada penelitian ini, subjek penelitian diberikan jaminan bahwa data-data yang mereka
berikan, dijamin kerahsiaannya dan berhak menolak menjadi sampel.

3.12 Sarana Penelitian.

3.12.1 Tenaga.

Penelitian dilakukan oleh 4 orang mahasiswa kepaniteraan Ilmu Kedokteran


Masyarakat (IKM) dengan dibantu oleh satu orang pembimbing yaitu dosen
IKM.

3.12.2 Fasilitas.

Fasilitas yang tersedia berupa ruang perpustakaan, ruang diskusi, lembar


kuesioner, komputer, printer, program SPSS, internet, dan alat tulis.

40
Bab IV

Hasil Penelitian

Proses pengumpulan data yang dilakukan pada bulan Februari 2018 didapatkan
sampel sebanyak 52 orang ibu-ibu yang mengikuti penyuluhan tentang pemberian ASI
eksklusif dan ASI 2 tahun di Puskesmas Kecamatan Tempuran. Diketahui sebaran ibu
berdasarkan tingkat pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah penyuluhan tentang ASI
eksklusif dan ASI 2 tahun. Selain itu dapat juga diketahui perbedaan nilai rata-rata
pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta sebelum dan sesudah diberikan
penyuluhan tentang ASI eksklusif dan ASI 2 tahun di Puskesmas Kecamatan Tempuran.
Berikut ini adalah hasil penelitian yang disajikan dalam tabel sebagai berikut:

41
Tabel 4.1. Sebaran Tingkat Pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta
tentang Pemberian ASI Eksklusif dan ASI 2 Tahun Sebelum dan Sesudah Diberikan
Penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran.

Pengetahuan Sebelum
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 6 11.5 11.5 11.5
1 3 5.8 5.8 17.3
2 2 3.8 3.8 21.2
3 4 7.7 7.7 28.8
4 3 5.8 5.8 34.6
5 9 17.3 17.3 51.9
6 10 19.2 19.2 71.2
7 6 11.5 11.5 82.7
8 4 7.7 7.7 90.4
9 4 7.7 7.7 98.1
10 1 1.9 1.9 100.0
Total 52 100.0 100.0

42
Sikap Sebelum
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 12 13 25.0 25.0 25.0
13 9 17.3 17.3 42.3
14 6 11.5 11.5 53.8
15 2 3.8 3.8 57.7
16 4 7.7 7.7 65.4
17 4 7.7 7.7 73.1
18 2 3.8 3.8 76.9
19 3 5.8 5.8 82.7
20 6 11.5 11.5 94.2
21 3 5.8 5.8 100.0
Total 52 100.0 100.0

43
Sebelum Penyuluhan

Variabel Jumlah Minimum Maksimum Rata-rata Standar


deviasi
Pengetahuan 60 0 10 4,92 2,778
Sikap 60 12 21 15,29 3,127
Pengetahuan Sesudah

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 11 19 36.5 36.5 36.5
12 18 34.6 34.6 71.2
13 10 19.2 19.2 90.4
14 5 9.6 9.6 100.0
Total 52 100.0 100.0

44
45
Sikap Sesudah
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 23 6 11.5 11.5 11.5
24 7 13.5 13.5 25.0
25 6 11.5 11.5 36.5
26 6 11.5 11.5 48.1
27 4 7.7 7.7 55.8
28 7 13.5 13.5 69.2
29 2 3.8 3.8 73.1
30 14 26.9 26.9 100.0
Total 52 100.0 100.0

Sesudah Penyuluhan

Variabel Jumlah Minimum Maksimum Rata-rata Standar


deviasi
Pengetahuan 60 11 14 12,02 0,980
Sikap 60 23 30 26,81 2,536

Tabel 4.2 Uji Normalitas Pengetahuan dan Sikap Ibu di Puskesmas Kecamatan
Tempuran pada Februari 2017 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan ASI 2 Tahun
Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan.

46
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pengetahuan Sebelum
N 52
Normal Parametersa Mean 4.92
Std. Deviation 2.778
Most Extreme Absolute .165
Differences Positive .094
Negative -.165
Kolmogorov-Smirnov Z 1.189
Asymp. Sig. (2-tailed) .118
a. Test distribution is Normal.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pengetahuan Sesudah
N 52
Normal Parametersa Mean 12.02
Std. Deviation .980
Most Extreme Absolute .219
Differences Positive .219
Negative -.149
Kolmogorov-Smirnov Z 1.582
Asymp. Sig. (2-tailed) .013
a. Test distribution is Normal.

47
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Sikap Sebelum
N 52
Normal Parametersa Mean 15.29
Std. Deviation 3.127
Most Extreme Absolute .198
Differences Positive .198
Negative -.146
Kolmogorov-Smirnov Z 1.430
Asymp. Sig. (2-tailed) .033
a. Test distribution is Normal.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Sikap Sesudah
N 52
Normal Parametersa Mean 26.81
Std. Deviation 2.536
Most Extreme Absolute .165
Differences Positive .127
Negative -.165
Kolmogorov-Smirnov Z 1.191
Asymp. Sig. (2-tailed) .117
a. Test distribution is Normal.

Tabel 4.3. Uji Statistik Perbedaan Tingkat Pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai
Baduta tentang ASI Eksklusif dan ASI 2 Tahun Sebelum dan Sesudah Diberikan
Penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran.

Variabel Pre Test Post Test Uji Statistik p value


Mean SD Mean SD
Pengetahuan 4,92 2,778 12,02 0,980 Pair T-test 0,000
Sikap 15,29 3,127 26,81 2,536 Pair T-test 0,000

48
Bab V

Pembahasan

5.1 Analisis Univariat Pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta tentang
Pemberian ASI Eksklusif dan ASI 2 Tahun Sebelum dan Sesudah Diberikan
Penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran.

49
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui pengetahuan responden sebelum diberikan
penyuluhan dengan jumlah responden 52 orang, didapatkan hasil pengetahuan
responden dengan nilai minimum 0 dan nilai maksimum 10, nilai rata-rata 4,92 dan
standar deviasi 2,778. Pengetahuan responden setelah mendapatkan penyuluhan
tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun dengan jumlah responden 52 orang
didapatkan hasil nilai minimum 11 dan nilai maksimum 14 dengan nilai rata-rata
12,02 dan standar deviasi 0,980. Dari data tersebut didapatkan peningkatan skor
pengetahuan setelah diberikan penyuluhan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa
penyuluhan berdampak positif terhadap pengetahuan responden mengenai pemberian
ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

Berdasarkan tabel 4.1 juga dapat diketahui sikap responden sebelum diberikan
penyuluhan dengan jumlah responden 52 orang, didapatkan hasil sikap responden
dengan nilai minimum 12 dan nilai maksimum 21, nilai rata-rata 15,29 dan standar
deviasi 3,127. Sikap responden setelah mendapatkan penyuluhan tentang pemberian
ASI eksklusif dan ASI 2 tahun dengan jumlah responden 52 orang didapatkan hasil
nilai minimum 23 dan nilai maksimum 30 dengan nilai rata-rata 26,81 dan standar
deviasi 2,536. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai maksimum, rata-
rata, dan standar deviasi sikap setelah diberikan penyuluhan. Hal ini juga
menunjukkan bahwa penyuluhan berdampak positif terhadap sikap responden
mengenai pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

5.2 Analisis Bivariat Perbedaan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pemberian ASI
Eksklusif dan ASI 2 Tahun Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan di
Puskesmas Kecamatan Tempuran.

Sebelum dilakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas untuk
mengetahui apakah sebaran distribusi suatu data normal atau tidak. Uji normalitas
data berupa uji Kolmogorov Smirnov, karena besar sampel dalam penelitian >50.
Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk p
dan diasumsikan normal. Jika nilainya di atas 0,05 maka distribusi data dinyatakan
memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya di bawah 0,05 maka diinterpretasikan
sebagai tidak normal.
50
Berdasarkan uji normalitas, didapatkan bahwa data pengetahuan sebelum penyuluhan
adalah normal (p = 0,118) dan data pengetahuan sesudah penyuluhan adalah normal
(p = 0,013) sehingga uji statistik yang digunakan adalah uji Pair T-test.

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui adanya perbedaan pengetahuan ibu tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun sebelum dan sesudah penyuluhan. Uji
statistik dengan Pair T-test didapatkan p value = 0,000 maka didapatkan bahwa
p<0,05, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan nilai rata-rata
pengetahuan ibu sebelum dan sesudah penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif
dan ASI 2 tahun.

Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Widha Ayu Rima
Merdhika dkk pada tahun 2013, berdasarkan hasil analisis statistik pengaruh
penyuluhan pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun terhadap pengetahuan ibu di
Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar diperoleh bahwa hasil uji statistik didapatkan
nilai t-hitung > tabel ( 31.893 > 2.355) dengan nilai p-value 0.000 bahwa terdapat
pengaruh penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun terhadap
pengetahuan antara kelompok kontrol yang tidak diberi penyuluhan tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun dengan kelompok intervensi. Informasi
yang diberikan pada penyuluhan dapat menambah pengetahuan ibu, semakin sering
ibu mendapat informasi kesehatan semakin baik pula pengetahuan ibu tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

Berdasarkan hasil analisis kami, sebelum dilakukan penyuluhan didapatkan bahwa


masih banyak ibu di sekitar Puskesmas Kecamatan Tempuran pada Februari 2018
yang masih kurang pengetahuannya tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2
tahun, manfaat pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun, serta cara memberikan ASI
eksklusif dan ASI 2 tahun yang benar. Namun setelah dilakukan penyuluhan, rata-rata
ibu di sekitar Puskesmas Kecamatan Tempuran sudah mulai mengerti pemberian ASI
eksklusif dan ASI 2 tahun, manfaat pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun, serta
cara memberikan ASI eksklusif dan ASI 2 tahun yang benar. Mekanisme adanya
perbedaan pengetahuan secara bermakna ini disebabkan adanya faktor informasi dan
komunikasi yang mempengaruhi pembentukan pengetahuan pada ibu di sekitar

51
Puskesmas Kecamatan Tempuran pada Februari 2018 yang mengikuti penyuluhan
tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

5.3 Analisis Bivariat Perbedaan Tingkat Sikap Ibu tentang Pemberian ASI Eksklusif
dan ASI 2 Tahun Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan di Puskesmas
Kecamatan Tempuran.

Sebelum dilakukan uji statistik, dilakukan terlebih dahulu uji normalitas untuk
mengetahui sebaran distribusi suatu data apakah normal atau tidak. Uji normalitas
data berupa uji Kolmogorov Smirnov, karena besar sampel dalam penelitian >50.
Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk p
dan diasumsikan normal. Jika nilainya di atas 0,05 maka distribusi data dinyatakan
memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya di bawah 0,05 maka diinterpretasikan
sebagai tidak normal.

Dari hasil uji kenormalan untuk sikap sebelum penyuluhan (p = 0,033) dan sikap
sesudah penyuluhan (p = 0,117), didapatkan p-value lebih dari 0,05 maka data yang
ada merupakan kelompok data distribusi normal. Sehingga uji statistik yang
digunakan dalam analisis bivariat adalah uji Pair T-test.

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui adanya perbedaan sikap ibu di sekitar
Puskesmas Kecamatan Tempuran pada Februari 2018 sebelum dan sesudah
penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun. Uji statistik dengan
menggunakan Pair T-test didapatkan p value = 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa
ada perbedaan signifikan nilai rata-rata sikap ibu di sekitar Puskesmas Kecamatan
Tempuran sebelum dan sesudah penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan
ASI 2 tahun.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Uji Pair T-test yang telah dilakukan,
didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara ibu di sekitar Puskesmas
Kecamatan Tempuran pada Februari 2018 sebelum dan sesudah penyuluhan tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun. Hal ini dapat diketahui dari hasil skor p =

52
0,000 dimana p < 0,05 sehingga ada perbedaan signifikan antara sikap sebelum dan
sesudah diberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widha Ayu Rima Merdhika
dkk tahun 2013 tentang pengaruh penyuluhan terhadap pemberian ASI eksklusif dan
ASI 2 tahun, didapatkan ada pengaruh penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif
dan ASI 2 tahun terhadap pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai Baduta di
kecamatan Kanigoro kabupaten Blitar yang ditunjukkan dengan nilai signifikan dan p
= 0.020 dan alfa = 0.05

Terdapat perbedaan antara sikap sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun yakni ada peningkatan nilai rata-rata sikap
dari 20,03 menjadi 30,43. Perbedaan sikap sebelum dan sesudah diberikan
penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun tersebut ternyata
signifikan setelah uji wilcoxon signed ranks test menunjukkan nilai p sebesar 0,000
(p < 0,05).

Bab VI

Penutup

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai perbedaan pengetahuan dan sikap ibu yang
mempunyai Baduta tentang ASI eksklusif dan ASI 2 tahun sebelum dan sesudah
penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang pada 31
Februari 2018 dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata
pengetahuan tentang pengaruh penyuluhan terhadap pemberian ASI eksklusif dan ASI

53
2 tahun setelah penyuluhan dari 4,92 menjadi 12,02 dan nilai rata-rata sikap tentang
pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun dari 15,29 menjadi 26,81.

Terdapat perbedaan signifikan nilai rata-rata pengetahuan dan sikap ibu yang
mempunyai Baduta tentang pengaruh penyuluhan terhadap pemberian ASI eksklusif
dan ASI 2 tahun sebelum dan sesudah penyuluhan di Puskesmas Kecamatan
Tempuran masing-masing dengan nilai p = 0,000.

Terdapat hubungan yang bermakna antara usia terhadap pengetahuan melalui uji
Kendall dengan hasil analisis p value <0.05 yaitu 0.000 pada ibu di Puskesmas
Kecamatan Tempuran.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap sikap ibu di sekitar Puskesmas Kecamatan


Tempuran sebelum penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun
didapatkan bahwa masih banyak responden yang tidak setuju dengan pernyataan
bahwa tidak ada manfaat pemberian ASI sampai usia 2 tahun. Hampir setengah dari
responden tidak setuju bahwa pemberian ASI sampai 2 tahun memberikan banyak
manfaat. Namun setelah dilakukan penyuluhan, responden mulai mengerti bahwa
pemberian ASI 2 tahun sangat bermanfaat terutama untuk ibu, anak dan keluarga. Hal
ini dapat disebabkan proses dari menerima informasi kesehatan setelah mengikuti
penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun.

6.2 Saran

- Bagi ibu dari baduta, perlunya pemberian air susu ibu kepada anaknya sampai
umur dua tahun, serta tidak memberi makanan tambahan kecuali air susu ibu
sampai anaknya berumur 6 bulan dan hal ini dilakukan secara konsisten agar
gizi anak terpenuhi dan derajat kesehatan meningkat

- Bagi petugas kesehatan di Puskesmas Kecamatan Tempuran, sebaiknya


dilakukan penyuluhan tentang manfaat dari pemberian air susu ibu eksklusif
dan air susu ibu dua tahun secara konsisten setiap bulannya supaya
pengetahuan ibu meningkat dan terbentuk sikap yang baik

- Bagi peneliti, berdasarkan hasil penelitian diatas, penulis berharap dapat


dilakukan penelitian lanjut, mengenai pengaruh penyuluhan air susu ibu
54
eksklusif dan air susu ibu dua tahun terhadap pengetahuan dan sikap pada ibu
yang mempunyai anak bawah dua tahun dengan populasi yang lebih besar dan
penyuluhan yang lebih baik, guna pengembangan ilmu pengetahuan dan
penelitian mengenai pengaruh penyuluhan air susu ibu eksklusif dan air susu
ibu dua tahun

6.3 Kelemahan

- Terdapat beberapa responden yang kurang serius dalam menjawab kuesioner


- Pada penelitian ini tidak dilakukan follow up untuk menilai sikap peserta karena
keterbatasan waktu.

Daftar Pustaka

1. Merdika WAR, Mardji, Devi M. Pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap


pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan sikap ibu menyusui di kecamatan
Kanigoro kabupaten Blitar. Malang: Universitas Negeri Malang; 2014
2. Kementrian Kesehatan RI. Materi penyuluhan inisiasi menyusui dini. Jakarta: Dirjen
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak; 2014. hal 15.

3. Munasir Z, Kurniati N. Air susu ibu dan kekebalan tubuh. In : IDAI. Bedah ASI :
Kajian dari berbagai sudut pandang ilmiah. Jakarta : Balai penerbit FKUI ; 2008. Hal
69 – 79.

55
4. Hendarto A. Pringgadini K. Nilai nutrisi air susu ibu. In : IDAI. Bedah ASI : kajian
dari berbagai sudut pandang ilmiah. Jakarta : Balai penerbitan FKUI ; 2008. Hal 46.

5. Matondang CS, Munasir Z , Sumadiono. Aspek imunologi air susu ibu. In : Akib
A.A.P, Munasir Z, Kurniati N (eds ). Buku ajar alergi-imunologi anak, edisi II. Jakarta
: Badan penerbit IDAI ; 2008. Hal 189 – 202.

6. Roesli U. Inisiasi menyusui dini plus ASI eksklusif. Jakarta : Pustaka Bunda ; 2008.

7. Rahayu DP, Mahanani SN. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI pada ibu
nifas. Kediri : STIKES RS Baptis Kediri; 2014.

8. Suhemi, Widyasih H, Rahmawati A. Perawatan masa nifas. Yogyakarta:


Fitramaya;2009.

9. Waliyani ES, Purwoastuti E. Asuhan kebidanan masa nifas dan menyusui. Yogyakarta:
Pustaka Baru Press; 2015.

10. Haryono R, Setianingsih S. Manfaat ASI eksklusif untuk buah hati anda. Yogyakarta:
Gosyen Publishing; 2014.

11. Poedinato.D.H. Kiat sukses menyusui. Jakarta : aspirasi pemuda ; 2002

12. Suradi, Tobing. Manajemen laktasi. Jakarta : perinasia ; 2004

13. Bobak, I.M, Lowdermilk, D.L , Jensen, M.D. Buku ajar keperawatan maternitas .
( Wijayarini, M.A dan Anugerah, P.I. ). Jakarta : EGC edisi 4 ; 2005

14. Soetjiningsih. ASI, petunjuk untuk tenaga kesehatan. Jakarta : EGC ; 2005

15. Piliteri, A. Maternal and child health nursing : Care of the childbearing & childbearing
family. ( 4th Ed ). Philadelphia : Lippincott ; 2003

16. Siregar, A. Pemberian ASI ekslusif dan factor-faktor yang mempengaruhinya, Bagian
gizi kesehatan masyarakat fakultas kesehatan masyarakat universitas sumatera utara,
tidak dipublikasikan. 2004

17. Saputri ( 2009 ). Faktor yang mempengaruhi ASI, http://www.sehatgroup.web.id.,


diperoleh tanggal 20 Februari 2018

56
18. Nichol, K.P. Panduang menyusui. ( Wilujeng. T.A., Penerjemah ). Jakarta : Prestasi
pustakaraya ; 2005

19. Biancusso. Breastfeeding the newborn : clinical strategi es for nurse. ( 2 th Ed ). St.
Louis : Mosby ; 2003

20. Coad , Dunstall. Anatomy and physiology for midwifves. ( 2th Ed ). St. Louis Sydney :
Elsevier limited ; 2005

21. Poedianto, D.H. Kiat sukses menyusui. Jakarta : Aspirasi pemuda ; 2002

22. Nurliawati, E. Faktor-faktor yang berhubungan dengan produksi air susu ibu pada ibu
pasca seksio sesarea di wilayah kota dan kabupaten tasikmalaya. Jakarta : Universitas
Indonesia ; 2010

23. Roesly, U. Mengenal ASI eksklusif. Jakarta : trubus agriwidya ; 2005

24. Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta Edisi


Revisi; 2002.

25. Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat. Statistik survei kemiskinan. Jakarta Pusat: Badan
Pusat Statistik; 2015.

26. Fitriani S. Promosi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu: 2011.h. 119-40.

27. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan bersikap sehat. Jakarta: PT Rineka Citra; 2007.

28. Gunawan E. Pengetahuan gizi ibu dan kebiasaan jajan siswa serta kaitannya dengan
status gizi siswa sekolah dasar negeri cipicung 01 kecamatan cijeruk kabupaten bogor.
Bogor : Institut Pertanian Bogor; 2012. h. 5-10.

29. Sriyono. Pengaruh tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat tentang ikan
berformalin terhadap kesehatan masyarakat. Jakarta : Faktor Exacta; 2015. h. 79-91.

30. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan & komunitas. Jakarta : EGC; 2009.hal 5

31. Mudji, Sutrisno, Filsafat Kebudayaan- Ihtiar Sebuah Teks, Jakarta: Cetekan Pertama,
Hujan Kabisat; 2008.hal 3

32. Maulana, H.D.J. Promosi kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.

57
33. Rahmayani RO, Isgianto A, Wulandari E. Hubungan usia ibu dengan pemberian asi
eksklusif pada bayi di wilayah kerja puskesmas Bentiring kota Bengkulu. Bengkulu :
STIKES Tri Mandiri Sakti ; 2016.

34. Abdullah MT, Maidin A., Amalia ADL. Kondisi fisik, pengetahuan, pendidikan,
pekerjaan ibu, dan lama pemberian ASI secara penuh. Makasar : Bagian Biostatik
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin ; 2013

35. Duong V, Colin Binns W, Andy Lee H. Breastfeeding initiation and ex-clusive
breastfeeding in rural Vietnam. Vietnam : Public Health Nutrition ; 2003. Hal 795-9

36. Eka M. Faktor – faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI eksklusif. Depok :
Universitas Indonesia ; 2009.

37. Camurdan A, Mustafa IN, Ufuk B, dkk. How to achieve long-term breastfeeding :
factors associated with early discontinuation. Public Health Nutrition ; 2007. Hal
1173-9

38. Al akour AN, Khassawneh MY, Khader YS, dkk. Factors affecting intention to
breastfeed among Syirian and Jordanian mothers : a comparative cross-sectional
study. International breastfeeding journal ; 2010. Hal 5-6

39. Falah N. Beberapa faktor yang mempengaruhi lamanya pemberian air susu ibu pada
ibu bekerja bagian produksi di PT. Pisma Putra Tekstil Pekalongan. Semarang :
Universitas Dipenegoro ; 2004.

40. Lakati A, Binns C, Stevenson M. Breastfeeding and the working mother in Nairobi.
Public Health Nutrition ; 2005. Hal 715-8

41. Amanah S. Makna penyuluhan dan transformasi manusia. Bogor : Institut Pertanian
Bogor ; 2007.

42. Azwar, S. Sikap manusia, teori dan pengukurannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2005.

43. Agistiawan A. Kusharisupeni. Pengaruh Penyuluhan ASI Terhadap Pengetahuan dan


sikap ibu yang mempunyai Baduta Menyusui Di Puskesmas Kecamatan Bojongsari,
Depok: Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Indonesia.
2014.
58
LAMPIRAN

Lampiran I.

Data Responden.

Sikap Sikap
No Nama Pengetahuan Sebelum Pengetahuan Sesudah Sebelum Sesudah
1 Dewi 5 11 12 29
2 Alin 6 12 15 24
3 Devi 8 11 21 25
4 Nimas 10 11 14 28
5 Putri 3 13 12 27
6 Prihartini 7 12 12 30
7 Sari 6 11 13 27
8 Ningsih 5 12 14 30
9 Neni 1 12 13 25
10 Siska 5 14 13 30
11 Lia 7 13 19 30
12 Lamena 6 13 14 30
13 May 0 11 12 25
14 Ivana 0 11 19 24
15 Lina 6 12 13 26
16 Nacia 6 11 16 30
17 Anastasya 4 12 13 23
18 Nurhayati 0 11 20 26
19 Melinda 3 11 13 27
20 Aslimah 8 13 12 26
21 Via 7 13 12 23
22 Tinah 5 12 13 25
23 Cindy 9 11 14 28
24 Ayu 1 11 14 25
25 Natania 1 12 12 26
26 Citra 0 12 17 30
27 Ameli 6 11 13 28
28 Intan 9 14 20 29
29 Feby 0 13 16 28
30 Anisah 0 14 18 23
31 Cahaya 4 11 12 28
32 Sela 8 12 17 30
59
33 Nurlaela 5 13 17 30
34 Suci 6 12 20 23
35 Selia 9 11 13 26
36 Mina 3 11 12 24
37 Salsa 2 12 18 30
38 Mia 2 12 20 28
39 Dian 8 13 20 24
40 Tea 6 12 12 24
41 Nice 7 13 16 23
42 Elvira 6 11 15 25
43 Nunung 5 12 12 23
44 Suwarni 4 14 12 30
45 Cintia 5 11 20 24
46 Rahayu 7 12 17 30
47 Naya 3 12 21 30
48 Dea 5 11 21 27
49 Serina 6 14 19 28
50 Siti 7 13 14 30
51 Indri 9 11 12 24
52 Ela 5 12 16 26

Lampiran II

Informed Consent

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

PERSETUJUAN UNTUK MENJADI RESPONDEN

Perkenalkan kami mahasiswa fakultas kedokteran UKRIDA, kami sedang melakukan


studi tentang pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap ibu yang mempunyai
Baduta pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun di Puskesmas Kecamatan Tempuran. Kami
meminta kesediaan ibu secara sukarela untuk mengisi kusesioner dan mendengarkan
penyuluhan dalam studi ini. Hasil studi ini sangat tergantung pada informasi yang didapat
60
dari ibu sebagai informan. Diharapkan ibu dapat berpartisipasi dengan mengemukakan
pendapat, pikiran, dan perasaannya dengan sejujurnya dan apa adanya. Jawaban yang bapak
dan ibu berikan sangat penting untuk penelitian ini. Tidak ada penilaian benar atau salah
terhadap jawaban yang diberikan. Jawaban yang ibu berikan juga tidak akan mempengaruhi
penilaian dalam kehidupan bapak dan ibu sehari-hari. Ibu berhak untuk menolak menjawab
pertanyaan atau tidak bersedia sebagai informan, apabila tidak menginginkannya. Pengisian
kuesioner dan penyuluhan akan berlangsung kurang lebih 60 menit. Informasi ibu hanya akan
digunakan dalam penelitian ini saja. Ibu tidak akan mendapatkan keuntungan langsung dari
penelitian ini, namun informasi ibu akan sangat berguna untuk perbaikan program kesehatan
terkait dalam pemberian ASI eksklusif dan ASI 2 tahun. Kami akan memberikan sedikit
kompensasi untuk waktu yang sudah ibu berikan serta sebagai bentuk ucapan terimakasih
atas partisipasi dalam penelitian ini. Mohon ibu menandatangani form di bagian bawah ini
bila ibu setuju sebagai informan atau sumber informasi.

Jakarta, 14 Februari 2018

Responden

(Tanda tangan & Inisial)

61