You are on page 1of 18

TUGAS MATA KULIAH

PEMODELAN LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR DAN LAUT


PEMROGRAMAN OSEANOGRAFI
(MIKE 21 FLOW MODEL MODULE)

Oleh:
IVAN PUTRA IHSAAN F
26020215130082

DEPARTEMEN OSEANOGRAFI
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018
A. Domain 1 (Pulau), Skenario 1 dan
1. Pembuatan Domain dengan MESH Generator

2. Prediksi Pasang Surut di Modul di Modul Mike 21, MIKE Toolbox


Line Series
Prediksi 01-01-2018 – 04-01-2018

Simulation Periode

Boundary Condition
Inputan di open boundary berupa sinusoidal dan pasut.

A. Skenario 1 (Pembangkit Pasang Surut)


 Solution Technique
Time integration : Low order, fast algorithm
Space discretization : Low order, fast algorithm
 Flood and Dry : tidak diinputkan
 Density : default  barotropic
 Eddy Viscosity : default  Smagorinsky formulation 0.28
 Bed Resistance : default  Manning number
 Coriolis Forcing : Varying in domain
 Wind forcing : No Wind
 Ice Coverage : tidak diinputkan
 Tidal potential : tidak diinputkan
 Precipitation Eavporation : tidak diinputkan
 Wave Radiaton : tidak diinputkan

B. Skenario 2 (Pembangkit Pasang Surut dan Angin)


 Solution Technique
Time integration : Low order, fast algorithm
Space discretization : Low order, fast algorithm
 Flood and Dry : tidak diinputkan
 Density : default  barotropic
 Eddy Viscosity : default  Smagorinsky formulation 0.28
 Bed Resistance : default  Manning number
 Coriolis Forcing : Varying in domain
 Wind forcing : direction 90, speed 2.5 m/s
 Ice Coverage : tidak diinputkan
 Tidal potential : tidak diinputkan
 Precipitation Eavporation : tidak diinputkan
 Wave Radiaton : tidak diinputkan

3. Hasil Area Series


Skenario 1
Surface Elevation
Pasang Tertinggi, Time Step 240, 20:00

Surut Terendah, Time Step 151, 23:00


Current Speed
Pasang Tertinggi, Time Step 44, 20:00

Surut Terendah, Time Step 23, 23:00


Current Direction
Pasang Tertinggi, Time Step 44, 20:00

Surut Terendah, Time Step 23, 23:00

Analisis
Hasil pemodelan domain satu berupa pulau yang berada diantara dua bangunan pantai,
sehingga inputan perairan dari timur dan barat. Pembangkit dari perairan berupa pasang dan
surut. Hasil dari time series elevasi muka air tersebut dapat diketahui waktu perairan sedang
pasang dan sedang surut.
Hasil model dapat dilihat terdapat arus bolak-balik dari pasang dan surut perairan. Saat
pasang, arus yan kencang cenderung menuju arah timur, dan saat surut arus cenderung lemah
menuju arah barat.
Wilayah yang disebut dengan selat merupakan wilayah diantara pulau dan bangunan
pantai. Umumnya pada perairan yang lebih sempit dalam hal ini ialah selat dengan inputan
yang sama akan mengalami arus yang lebih besar. Hal tersebut dapat dilihat dari kecepatan
arus saat pasang, dominan vektor panjang yang menandakan kecepatan tinggi dan warna yang
menginterpretasikan kecepatan pada daerah selat menunjukan kecepatan yang cenderung besar
dominan pada daerah tersebut.
Kedalaman pada daerah dekat pulau lebih rendah dari daerah jauh dari pulau. Saat
pasang perairan dekat dengan pulau mengalami peningkatan elevasi muka air dan nilainya pun
lebih dari perairan jauh dari pulau. Sedangkan, pada saat surut, perairan cenderung rendah di
dekat pulau dan tinggi jauh dari pulau. Hal tersebut menunjukan arus bolak-balik dengan
inputan pasang surut, saat pasang menggenangi daerah dekat pulau dan sebaliknya saat surut.

Skenario 2
Surface elevation (-2214.393110, -248.445138) [m]
Surface elevation (-1163.547928, 631.749972) [m]
Surface elevation (399.247472, -176.592476) [m]
Surface elevation (-840.210948, -1119.658665) [m]

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

-0.1

-0.2

-0.3

-0.4

-0.5

-0.6

-0.7
00:00 02:00 04:00 06:00 08:00 10:00 12:00 14:00 16:00 18:00 20:00 22:00 00:00
2010-01-15 01-16
Surface Elevation
Pasang Tertinggi, Time Step 241, 20:00

Surut Terendah, Time Step 151, 23:00


Current Speed
Pasang Tertinggi, Time Step 44, 20:00

Surut Terendah, Time Step 23, 23:00


Current Direction
Pasang Tertinggi, Time Step 44, 20:00

Surut Terendah, Time Step 23, 23:00

Analisis
Hasil pemodelan dari skenario 2 umumnya memiliki hasil yang sama dengan sedikit
perbedaan dengan skenario 1. Pada skenario 2 ditemukan elevasi perairan ketika pasang
menggenangi daerah dekat pulau menjadi memiliki elevasi lebih tinggi, sedangkan saat surut
menjadi lebih rendah. Inputan yang berbeda dari skenario 2 yaitu ditambahkannya parameter
angin atau wind forcing dengan kecepatan dan arah konstan, 2.5 m/s dan 90˚. Pada hasil
pemodelan tersebut dapat terlihat dampak dari gesekan angin di permukaan perairan yaitu arus
perairan akan memiliki arah berbeda 90˚ ke kanan di BBU dan ke kiri di BBS. Hasil dari
pemodelan, arah dominan terjadi pada perairan yaitu 270˚ – 360˚ yaitu dari current direction.
Karna perbedaan arus yang dialami oleh perairan tersebut, arus bolak balik dengan berlawanan
arahnya arus tidak ditemukan. Hal ini dapat disebabkan oleh angin yang terjadi secara konstan
di permukaan perairan.

Domain 2 (Bangunan Pantai), Skenario 1 dan 2


1. Pembuatan Domain di Modul MIKE Zero, MESH Generator

2. Prediksi Pasang Surut di Modul di Modul Mike 21, MIKE Toolbox


Line Series
Prediksi 01-01-2018 – 04-01-2018

Simulation Periode

Boundary Condition
Inputan di open boundary berupa sinusoidal dan pasut.

A. Skenario 1 (Pembangkit Pasang Surut)


 Solution Technique
Time integration : Low order, fast algorithm
Space discretization : Low order, fast algorithm
 Flood and Dry : tidak diinputkan
 Density : default  barotropic
 Eddy Viscosity : default  Smagorinsky formulation 0.28
 Bed Resistance : default  Manning number
 Coriolis Forcing : Varying in domain
 Wind forcing : No Wind
 Ice Coverage : tidak diinputkan
 Tidal potential : tidak diinputkan
 Precipitation Eavporation : tidak diinputkan
 Wave Radiaton : tidak diinputkan

B. Skenario 2 (Pembangkit Pasang Surut dan Angin)


 Solution Technique
Time integration : Low order, fast algorithm
Space discretization : Low order, fast algorithm
 Flood and Dry : tidak diinputkan
 Density : default  barotropic
 Eddy Viscosity : default  Smagorinsky formulation 0.28
 Bed Resistance : default  Manning number
 Coriolis Forcing : Varying in domain
 Wind forcing : direction 90, speed 2.5 m/s
 Ice Coverage : tidak diinputkan
 Tidal potential : tidak diinputkan
 Precipitation Eavporation : tidak diinputkan
 Wave Radiaton : tidak diinputkan

3. Hasil Area Series


Skenario 1
Surface Elevation
Surface elevation (-1279.027627, -27.877231) [m]

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

-0.1

-0.2

-0.3

-0.4

-0.5

-0.6

-0.7

00:00 02:00 04:00 06:00 08:00 10:00 12:00 14:00 16:00 18:00 20:00 22:00 00:00
2010-01-15 01-16

Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00

Surut Terendah, Time Step 35, 11.00

Current Speed
Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00
Surut Terendah, Time Step 35, 11.00

Current Direction
Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00

Surut Terendah, Time Step 35, 11.00


Analisis
Hasil pemodelan domain satu berupa bangunan pantai dengan pembangkit arus ialah
pasang surut. Pada pemodelan ini dilihat time series dari elevasi muka air dan diketahui waktu
pasang dan waktu surut. Hasil time series satu hari, pada awal pemodelan terlihat
ketidakstabilan dari perairan. Padahal inputan perairan hanya berupa pasang surut dan hasil
yang diperoleh harusnya sinusoidal yang halus di perairan. Ketidakstabilan awal model diduga
akibat waktu pemodelan yang sangat singkat, tidak diberi awal inputan dan akhir inputan untuk
menghindari ketidakstabilan.
Hasil pemodelan dari keseluruhan wilayah tidak mengalami perbedaan jauh, karna
luasan yang luas, dan perubahan yang terjadi dengan luasan yang sangat kecil. Sehingga
simulasi model digunakan dengan men-zoom in daerah bangunan pantai. Berdasarkan
perolehan tersebut, dapat terlihat arus bolak balik saat pasang dan saat surut. Arus bolak balik
diketahui dari perbedaan letak kecepatan dominan dan arah kecepatan dominan yang berbeda
saat pasang dans saat surut. Saat pasang kecepatan dominan terjadi di timur dari bangunan
pantai dan saat surut terjadi di barat dari bangunan pantai.

Skenario 2
Surface Elevation
Surface elevation (-1437.615749, -273.688819) [m]
Surface elevation (-359.216521, 582.687038) [m]
Surface elevation (560.594584, -360.912286) [m]

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

-0.1

-0.2

-0.3

-0.4

-0.5

-0.6

-0.7
00:00 02:00 04:00 06:00 08:00 10:00 12:00 14:00 16:00 18:00 20:00 22:00 00:00
2010-01-15 01-16

Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00

Surut Terendah, Time Step 35, 11.00

Current Speed
Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00
Surut Terendah, Time Step 35, 11.00

Current Direction
Pasang Tertinggi, Time Step 21, 21:00

Surut Terendah, Time Step 35, 11.00

Analisis
Hasil pemodelan yang diperoleh menunjukan hal yang sama dengan skenario 1 yaitu
adanya ketidakstabilan diawal simulasi. Namun ketidakstabilan di model skenario 2 tidak
begitu lama. Inputan pemodelan skenario 2 yaitu pasang surut sebagai boundary condition dan
inputan wind forcing. Hasil dari inputan tambahan angin membuat arus bolak balik tidak
terlihat dari simulasi ini. Simulasi awal skenario 1 diketahui saat pasang kecepatan arus
dominan di barat bangunan pantai sedangkan saat surut kecepatan arus dominan di timur
bangunan pantai walaupun arah dari pergerakan arus hampir sama saat pasang dan saat surut.
Pada skenario 2, dengan ditambahnya kecepatan angin 2.5 m/s arah 90˚ atau berasal dari barat
ke timur membuat tidak adanya tanda arus bolak balik. Titik dominan kecepatan arus sama di
barat bangunan pantai, karena angin menggesekan dasar perairan di barat bangunan pantai dan
terbentur bangunan pantai . Sehingga pasang dan surut hanya berupa naik turunnya muka air
laut, dengan ditambahkan angin dari barat arus bolak balik tidak ditemukan.